Anda di halaman 1dari 8

PEMBAHASAN

Uji Iod

Uji Iod merupakan metode pengujian untuk molekul polisakarida yang terdiri
dari pati dan amilum. Pengujian iod pada percobaan ini menggunakan
glukosa,sukrosa, fruktosa, suspensi amilum, kentang, pisang, dan ubi sebagai bahan
uji. Pati merupakan polisakarida yang mengandung dua komponen utama, yaitu
amilosa dan amilopektin. Amilosa adalah polimer rantai lurus dari glukosa dengan
ikatan α-1,4 glikosidik. Bila ditambahkan dengan sejumlah iodine, amilosa akan
membentuk kompleks amilosa-iodine berwarna biru kehitaman, dengan cara Iodin
masuk ke dalam rongga –rongga molekul amilosa. (Jati 2006).

Pada percobaan ini diperoleh hasil bahwa glukosa, sukrosa dan fruktosa
setelah ditetesi larutan iodium maka menghasilkan warna kuning. Hal ini
mengindikasikan bahwa glukosa, sukrosa dan fruktosa negatif terhadap uji iod yang
bertujuan untuk mendeteksi adanya polisakarida dengan membentuk ikatan komplek
antara pati dengan iodium dan menghasilkan warna biru. Ketika glukosa, sukrosa dan
fruktosa yang telah ditetesi iodium tersebut dipanaskan, maka akan berubah menjadi
bening. Hasil ini menandakan bahwa adanya kesalahan pada pada saat praktikum atau
percobaan karena hasil yang seharusnya adalah menghasilkan warna kuning dan
setelah didinginkan, maka hasil yang didapat sama dengan ketika ketiga bahan
tersebut dipanaskan. Setelah ketiga bahan tersebut ditambahkan larutan NaOH, maka
hasil yang didapatkan adalah berwarna bening hal ini diakibatkan oleh adanya
pelepasan molekul iodin sehingga warna menghilang.

Pada percobaan berikutnya menggunakan bahan suspensi amilum, pisang, dan


ubi yang merupakan bagian dari amilum. Pada percobaan bahan amilum ini selain
ditetesi reagen iod, juga dilakukan pemanasan yang menghasilkan perubahan warna
dari biru kehitaman menjadi bening kekuningan, hal ini menunjukkan reaksi negatif
uji iod. Setelah itu sampel pada tabung reaksi di dinginkan yang menghasilkan
perubahan warna dari bening kekuningan menjadi biru keunguan, hal ini menujukkan
adanya reaksi positif uji iod pada sampel. Setelah dingin sampel dalam tabung reaksi
di tetesi NaOH yang menyebabkan perubahan warna dari biru keunguan menjadi
tidak berwarna (bening), hal ini menunjukkan reaksi negatif uji iod pada sampel
amilum.

Hasil perubahan warna pada larutan yang dipanaskan, hanya bahan pisang
saja yang sesuai dengan teori yaitu menghasilkan endapan kuning, Sedangkan pada
bahan suspensi amilum dan ubi menghasilkan perubahan warna secara berurutan
yaitu warna biru bening dan cokelat. Setelah bahan pengamatan didinginkan,
suspensi amilum menghasilkan warna biru sesuai dengan teori sedangkan hasil pada
bahan pisang dan ubi tidak sesuai teori karena menghasilkan warna kuning dan
coklat.

Penambahan NaOH pada suspensi amilum, pisang dan ubi mengakibatkkan


ketiga bahan tersebut menjadi bening. Hal ini menandakan bahwa hasil yang
diperoleh sesuai dengan teori.

Adanya ketidaksesuaian hasil pengamatan dengan teori diakibatkan oleh


beberapa faktor, yaitu ketidaksesuaian perbandingan antara iodium dan NaOH yang
diteteskan dengan banyaknya larutan yang diuji, tertukarnya pipet tetes yang
digunakan untuk mengambil iodium sehingga memungkinkan adanya pencampuran
dengan zat lain, selain itu juga terdapat kesalahan praktikan yang meneteskan iodium
tidak langsung mengenai larutan yang akan diuji melainkan meneteskannnya melalui
dinding tabung reaksi.

Peragian
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan
karbohidrat pada glukosa 1 %, sukrosa 1 %, fruktosa 1 %, dan suspensi amilum 1 %
oleh ragi roti sehingga menghasilkan alkohol dan membebaskan CO2 yang ditandai
dengan terbentuknya gelembung udara. Fermentasi merupakan salah satu aktivitas
biokimia yang dilakukan oleh mikroba. Fermentasi adalah proses pengubahan
senyawa makromolekul organik menjadi senyawa yang lebih sederhana oleh aktivitas
mikrobia pada kondisi anaerob. Fermentasi dapat menghasilkan berbagai senyawa
akhir, contohnya fermentasi karbohidrat yang dapat menghasilkan berbagai senyawa
asam seperti asam laktat dan propionet, ester-ester, keton dan gas (Pelczar, 2008).
Berdasarkan percobaan peragian yang sudah dilakukan menggunakan 4
sampel yaitu glukosa, sukrosa, fruktosa, dan suspensi amilum. Masing- masing
sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 3 ml. Setiap 3 ml sampel di
tambahkan 3 ml suspensi ragi roti kemudian dipanaskan hingga suhu campuran naik
menjadi 37℃. Selanjutnya masing-masing campuran tersebut ditutup dengan tissue
agar tidak ada O2 yang masuk dan di fermentasi selama 1 jam terhadap masing-
masing tabung. Adanya gelembung gas menunjukkan reaksi positif (Utomo, 1999).
Pada tabung pertama menggunakan sampel berupa suspensi amilum 1%.
Larutan amilum 1% sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi setelah itu
ditambahkan 3 ml suspensi ragi roti ke dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan
amilum 1%. Kemudian suhu campuran sampel dinaikkan sampai 37oC, dan tabung
reaksi ditutup menggunakan tissue dan di tunggu selama 1 jam. Berdasarkan hasil
percobaan setelah difermentasi selama 1 jam, didapatkan data bahwa pada larutan
amilum 1% tidak timbul gelembung gas. Hal ini menunjukkan bahwa pada amilum
tidak terjadi proses fermentasi. Hal ini telah sesuai dengan teori bahwa ragi roti tidak
dapat menghidrolisis amilum menjadi glukosa karena amilum termasuk polisakarida,
tetapi hanya mampu menghidrolisis glukosa dan monosakarida lainnya menjadi
etanol dan CO2(Gandjar, 2002)
Pada tabung kedua menggunakan sampel berupa larutan fruktosa 1%. Larutan
fruktosa 1% sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi setelah itu
ditambahkan 3 ml suspensi ragi roti ke dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan
fruktosa 1%. Kemudian suhu campuran sampel dinaikkan sampai 37oC, dan tabung
reaksi ditutup menggunakan tissue dan di tunggu selama 1 jam. Berdasarkan hasil
percobaan setelah difermentasi selama 1 jam, didapatkan data bahwa pada larutan
fruktosa 1% menghasilkan banyak gelembung gas. Hal ini menunjukkan bahwa pada
fruktosa terjadi proses fermentasi. Hal ini telah sesuai dengan teori bahwa ragi roti
mampu menghidrolisis fruktosa dan monosakarida lainnya menjadi etanol dan CO2
(Gandjar, 2002).
Pada tabung ketiga menggunakan sampel berupa glukosa 1%. Larutan glukosa
1% sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi setelah itu ditambahkan 3 ml
suspensi ragi roti ke dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan glukosa 1%.
Kemudian suhu campuran sampel dinaikkan sampai 37oC, dan tabung reaksi ditutup
menggunakan tissue dan di tunggu selama 1 jam. Berdasarkan hasil percobaan setelah
difermentasi selama 1 jam, didapatkan data bahwa pada campuran timbul gelembung
gas yang lebih banyak dari campuran pada tabung pertama dan kedua. Hal ini
menunjukkan bahwa pada glukosa terjadi proses fermentasi. Hal ini telah sesuai
dengan teori bahwa glukosa yang termasuk golongan monosakarida lebih mudah di
fermentasi oleh ragi roti. Ragi roti menghidrolisis glukosa dan monosakarida lainnya
menjadi etanol dan CO2 (Hutagalung,2004)
Pada tabung keempat menggunakan sampel berupa larutan sukrosa1%.
Larutan sukrosa 1% sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi setelah itu
ditambahkan 3 ml suspensi ragi roti ke dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan
sukrosa 1%. Kemudian suhu campuran sampel dinaikkan sampai 37oC, dan tabung
reaksi ditutup menggunakan tissue dan di tunggu selama 1 jam. Berdasarkan hasil
percobaan setelah difermentasi selama 1 jam, didapatkan data bahwa pada sukrosa
1% menghasilkan banyak gelembung gas seperti pada larutan glukosa 1% dan
menhasilkan gelembung gas lebih banyak dari fruktosa 1% yang merupakan
kelompok monosakarida. Hal ini menunjukkan bahwa pada sukrosa terjadi proses
fermentasi yang lebih cepat dari fruktosa 1%. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa
ragi roti hanya mampu menghidrolisis glukosa dan monosakarida lainnya menjadi
etanol dan CO2 (Morrison,1983).
Kesalahan pada hasil percobaan ini, dikarenakan kurang teliti nya praktikan
dalam melakukan perhitungan waktu juga dapat disebabkan karena kurang teliti
dalam menambahkan takaran suspensi ragi pada masing-masing sampel.
Monosakarida lebih reaktif dari disakarida ataupun polisakarida. Selain itu,
polisakarida dan disakarida merupakan molekul yang relatif lebih besar dibandingkan
dengan monosakarida sehingga kemampuan ragi untuk mencerna, mengubah amilum
tersebut menjadi etil alkohol dan karbondioksida lebih banyak memerlukan energi
dan waktu yang lebih lama.
Uji molisch

Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan menunujukkan semua larutan
uji yaitu fruktosa, glukosa, sukrosa, suspensi amilum, pisang, ubi positif mengandung
karbohidrat. Hasil uji yang positif ini berdasar prinsip kerja dalam uji molisch yaitu
apabila suatu bahan mengandung karbohidrat bahan tersebut akan membentuk cincin
ungu karena ikatan sakarida yang ada pada karbohidrat akan mengalami dehidrasi
oleh H2SO4 pekat yang akan menghasilkan furfural dan derivat (turunan) dari
karbohidrat. Furfural inilah yang bereaksi dengan larutan α-naftol yang kemudian
akan membentuk cincin berwarna ungu. Oleh karena itulah uji molisch akan
menunjukkan uji positif jika larutan yang diuji membentuk cicin berwarna ungu. Pada
keenam bahan yang diujikan semuanya membentuk cincin berwarna ungu hal ini
sesuai dengan teori. Uji negatif terjadi jika tidak terbentuk cincin berwarna ungu pada
larutan uji karena tidak terjadi dehidrasi pada larutan uji oleh H₂SO₄ sehingga tidak
menghasilkan furfural dan derivat karbohidrat. Oleh karena tidak adanya furfural
dan derivat karbohidrat yang terbentuk maka larutan alfa-naftol pun tidak akan
memberikan reaksi terbentuknya cincin ungu.
Uji benedict

Monosakarida memiliki sifat dapat mereduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+ yang
ada pada larutan Benedict sehingga menjadi Cu2O yang terbentuk endapan. Semakin
meningkatnya konsentrasi glukosa pada uji Benedict ini, endapan yang terjadi makin
banyak. Hal ini menandakan bahwa makin reduksi gula mereduksi larutan benedict.
Pereaksi benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan
natrium sitrat. Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat peraksi benedit
bersifat basa lemah.
Pada bahan uji sukrosa hasilnya adalah perubahan warna menjadi hijau
dengan sedikit endapan warna orange. Pada fruktosa berubah warna menjadi orange
dengan sedikit endapan warna merah bata. Pada glukosa terjadi perubahan warna
menjadi orange dengan sedikit endapan. Pada umbi perubahan warna menjadi orange.
Pada pisang perubahan warna menjadi orange kekuningan dan terbentuk endapan.
Pada semua bahan yang diuji menunjukan reaksi positif berarti semua sampel
mengandung gula pereduksi sesuai dengan teori. Adanya endapan merah bata pada
keenam sampel tersebut berarti keenam sampel mempunyai gugus aldehid dan keton
bebas.
Uji Barfoed
Pereaksi barfoed adalah larutan barfoed yang teridiri atas 13.3 g Cu-asetat
dalam 200 ml air, ditambah 1,9 ml asam asetat glacial. Penambahan Cu-asetat
dilakukan untuk dapat mereduksi karbohidrat karena karbohidrat dapat mereduksi
sutu ion logam (Poedjiadi,2005). Dan penambahan asam asetat glacial adalah untuk
membuat reaksi bersifat asam. Reaksi uji barfoed terjadi karena adanya gugus
karbonil bebas yaitu monosakarida pereduksi yang bereaksi dengan larutan
selliwanof yang mengandung Cu2+ yang direduksi oleh monosakarida pereduksi yang
dalam suasana asam akan membentuk Cu2O atau endapan merah bata.

Reaksi redoks uji barfoed

Berdasarkan pada percobaan uji barfoed yang dilakukan dengan bahan uji glukosa,
sukrosa, fruktosa. Hasilnya adalah ketiga sampel bahan uji berubah warna menjadi
biru lebih jernih dan idak terbentuk endapan merah bata. Hal ini tidak sesuai dengan
teori. Ketidaksesuaian antara teori dan hasil praktikum disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya kurang lamanya waktu pemanasan.
Perbedaaan uji barfoed dengan uji benedict adalah pada uji barfoed dilakukan dalam
suasana asam dan tujuannya untuk mengetahui adanya gula monosakarida pereduksi
sehingga hanya akan terbentuk endapan warna merah bata sedangkan pada uji
benedict dilakukan dalam suasana asam dan tujuannya untuk mengetahui adanya gula
pereduksi sehingga terbentuk endapan merah bata. Pada uji barfoed dilakukan
pemanasan selama 15 menit dan lebih lama daripada uji benedict karena pada uji
barfoed dilakukan untuk mengetahui adanya gula monosakarida pada bahan pangan
sehingga pemanasan dilakukan untuk melihat perubahan warna yang terjadi antara
karbohidrat dalam bentuk gula monosakarida pereduksi yang mereduksi Cu2+
menjadi Cu2O dan juga karena pemanasan dilakukan dalam suasana asam sehingga
memerlukan waktu yang lebih lama karena karbohidrat (monosakarida dan
disakarida) lebih stabil dalam suasana basa (Poedjiadi,2005). Sedangkan pada uji
benedict dilakukan untuk megetahui adanya gula pereduksi pada bahan pangan
sedangkan gula pereduksi itu terdiri atas monosakarida dan disakarida jadi dilakukan
pemanasan yang lebih cepat karena hanya untuk membedakan monosakarida dengan
disakarida. Monosakarida dan beberapa disakarida mempunyai sifat dapat mereduksi,
terutama dalam suasana basa. Sifat sebagai reduktor ini dapat digunakan untuk
keperluan indentifikasi karbohidrat maupun analisis kuantitatif. Sifat mereduksi ini
disebabkan oleh adanya gugus aldehida / keton bebas dalam molekul karbohidrat.
Sifat ini tampak pada reaksi reduksi ion-ion logam misalnya ion Cu2+ dan ion Ag+
yang terdapat pada pereaksi-pereaksi tertentu (Poedjiadi,2005)
Uji seliwannof
Uji Seliwanoff adalah sebuah uji kimia yang membedakan gula aldosa dan
ketosa. Ketosa dibedakandari aldosa via gugus fungsi keton/aldehida gula tersebut.
Jika gula tersebut mempunyai gugusketon, ia adalah ketosa. Sebaliknya jika ia
mengandung gugus aldehida, ia adalah aldosa. Uji inididasarkan pada fakta bahwa
ketika dipanaskan, ketosa lebih cepat terdehidrasi daripada aldosa. Reagen uji
Seliwanoff ini terdiri dari resorsinol dan asam klorida pekat:

-Asam reagen ini menghidrolisis polisakarida dan oligosakarida menjadi gula


sederhana.
-Ketosa yang terhidrasi kemudian bereaksi dengan resorsinol, menghasilkan zat
berwarnamerah tua. Aldosa dapat sedikit bereaksi dan menghasilkan zat berwarna
merah muda.Fruktosa dan sukrosa merupakan dua jenis gula yang memberikan uji
positif.

Sukrosa menghasilkanuji positif karena ia adalah disakarida yang terdiri dari furktosa
dan glukosa

Pada bahan uji di dapatkan kesimpulan bahwa pada sukrosa, fruktosa dan
pisang mengandung ketosa yang tinggi sedangkan pada hati ayam, ubi dan glukosa
mengandung gugus aldosa.

Anda mungkin juga menyukai