Anda di halaman 1dari 4

III.

Dasar Teori

Proses humidifikasi merupakan proses yang dapat menambah kadar air di


dalam gas. Sebaliknya, untuk mengurangi uap air dalam aliran gas sering disebut
proses dehumidifikasi. Dalam humidifikasi, kadar dapat ditngkatkan dengan
melewatkan aliran gas di atas cairan yang kemudian akan menguap ke dalam
aliran gas. Perpindahan ke aliran utama berlangsung dengan cara difusi dan pada
perbatasan (interface) perpindahan panas dan massa yang berlangsung terus
menerus, sedangkan dalam dehumidifikasi dilakukan pengembunan (kondensasi)
parsial dan uap yang terkondensasi dibuang.
Penggunaan yang paling luas dari proses humidifikasi dan dehumidifikasi
menyangkut system udara air. Contoh paling sederhana adalah pengeringan
padatan basah dengan pengurangan jumlah kandungan air sebagai tujuan utama
dan dehumidifikasi aliran gas sebagai efek sampingan. Pemakaian AC dan
pengeringan gas juga menggunakan proses humidifikasi dan dehumidifikasi.
Sebagai contoh kandungan uap air harus dihilangkan dari gas klor basah, sehingga
gas ini bias digunakan pada peralatan baja untuk menghindari korosi.
Demikian juga pada proses pembuatan asam sulfat, gas yang digunakan
dikeringkan sebelum masuk ke konventor bertekanan yaitu dengan jalan
melewati pada bahan yang menyerap air (dehydrating agent) seperti silica gel,
asam sulfat pekat, dan lain-lain. Contoh proses humidifikasi adalah pada menara
pendingin, air panas dialirkan berlawanan arah dengan media pendingin yaitu
udara.

Istilah dalam proses humidifikasi


1. Kelembaban yaitu massa uap yang dibawa oleh satu satuan massa gas
bebas uap, karena itu humidity hanya bergantung pada tekanan bagian uap
di dalam campuran bila tekanan total tetap.
2. Suhu bola basah yaitu suhu pada keadaan tunak dan tidak
berkesetimbangan yang dicapai bila suatu massa kecil dari zat cair
dikontakkan dalam keadaan adiatik di dalam arus gas yang kontinu.
3. Kelembaban jenuh yaitu udara dalam uap air yang berkesetimbangan
dengan air pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam campuran ini, tekanan
parsial uap air dalam campuran udara-air adalah sama tekanan uap air
murni pada temperatur terntentu.
4. Kelembaban relatif yaitu ratio antara tekanan bagian dan tekanan uap zat
cair pada suhu gas. Besaran ini dinyatakan dalam persen (%) sehingga
kelembaban 100% berarti gas jenuh sedang kelembaban 0% berarti gas
bebas uap.
5. Kalor lembab yaitu energi kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu
satu satuan massa beserta uap yang dikandungnya sebesar satu derajat
satuan suhu.
6. Entalpi lembab adalah entalpi satu satuan massa gas ditambah uap yang
terkandung di dalamnya.
7. Volume lembab adalah volume total stu satuan massa bebas uap beserta
uap yang dikandungnya pada tekanan 1 atm.
8. Titik embun campuran udara-uap air adalah temperatur pada saat gas telah
jenuh oleh uap air.

Proses Humidifikasi dengan proses Dehumidifikasi mempunyai perbedaan


dalam arah alirannya. Semua itu tergantung dari cara mengatur valve yang ada.
Gas yang masuk mengalir pada pipa orifice mempunyai beda tekan tertentu.
Adapun perbedaan antara proses humidifikasi dengan dehumidifikasi sbb :
Proses humidifikasi, merupakan suatu proses yang dapat menambah kadar
air dalam gas. Dalam prosesnya ada dua cara yaitu dengan pemanasan dan tanpa
pemanasan. Arah aliran kedua proses tersebut berbeda tergantung bagaimana kita
dapat mengatur buka tutupnya valve. Pada proses ini, gas dikontakan dengan air
yang berada di dalam labu secara counter current dimana air mengalir dari atas
dan gas/udara menngalir ke atas dari bawah, dengan laju alir sirkulasi air tertentu.
Data yang diambil dari percobaan ini seperti, suhu air di dalam labu, suhu gas
masuk (Tdin dan Twin), suhu gas keluar ( Tdout dan Twout), dan beda tekanan di
dalam labu.
Proses Dehumidifikasi, yang merupakan proses pengurangan kadar air
dalam gas, sama dengan proses humidifikasi mempunyai dua cara proses, yaitu
dengan pemanasan dan tanpa pemanasan. Kesemuanya itu tergantuk cara
mengatur valve yang ada. Pada proses ini, gas dilewatkan pada sebuah kolom
yang didalamnya terdapat zat penyerap (absorbent) dan juga dengan memperbesar
tekanan. Data yang diambil pada percobaan ini seperti, suhu gas masuk (T din dan
Twin), suhu gas keluar (Tdout dan Twout), beda tekanan pada kolom ( P), dan
suhu keluaran kolom bagian (A, B, C, dan D) yang menempel pada kolom.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kelembapan :


1. Ketingian Tempat
Apabila semakin tinggi tempat maka tingkat kelembabannya juga tinggi
karena suhunya rendah dan sebaliknya semakin rendah tempat suhunya semakin
tinggi dan kelembabannya pun menjadi rendah.
2. Kerapatan Udara Kerapatan udara.
Ini juga berkaitan dengan suhu dimana apabila kerapatan udara pada
daerah tertentu rapat maka kelembabanya tinggi. Sedangkan apabila kerapatan
udara di suatu daerah renggang maka tinggkat kelembabannya juga rendah.
Diketahui pula antara kerapatan,suhu,dan ketinggian tempat juga saling
berkaitan..
3. Tekanan Udara.
Tekanan udara juga mempengaruhi kelembaban udara dimana apabila
takanan udara pada suatu daerah tinggi maka kelembabanya juga tinggi, hal ini
disebabkan oleh kapasitas lapang udaranya yang rendah.
4. Radiasi Matahari.
Dimana adanya radiasi matahari ini menyebabkan terjadinya penguapan air
di udara yang tingkatannya tinggi sehingga kelembaban udaranya semakin besar.
5. Angin
Adanya angin ini memudahkan proses penguapan yang terjadi pada air
laut menguap ke udara. Besarnya tingkat kelembaban ini dapat berubah menjadi
air dan terjadi pembentukan awal.
6. Suhu
Apabila suhu suatu tempat tinggi maka kelembabanya rendah dan
sebaliknya apabila suhu rendah maka kelembaban tinggi. Dimana hal ini antara
suhu dan kelembaban ini juga berkaitan dengan ketinggian tempat.
7. Kerapatan Vegetasi
Jika tumbuhan tersebut kerapatannya semakin rapat maka kelembabannya
jugatinggi hal ini di sebabkan oleh adanya seresah yang menutupi pada
permukaan tanah sangat besar sehingga berpengaruh pada kelembabannya.Bahkan
sebaliknya apabila kerapatannya jarang maka tinggkat kelembabannya juga
rendah karena adanya seresah yang menutupi permukaan tanah ini sedikit.