Anda di halaman 1dari 117

Pedoman Ketentuan Impor Produk Kehutanan

Mulai tanggal 1 Januari 2016, 411 HS produk kehutanan akan diatur pelaksanaan ketentetuan impornya. Peraturan mengenai ketentuan impor produk kehutanan diatur oleh dua peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan mengatur tentang mekanisme impor produk kehutanan dan Peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatur tentang mekanisme penerbitan rekomendasi baik sebagai Importir yang memiliki Angka Pengenal Impor Produsen (API-P) dan Angka Pengenal Impor Umum (API-U). Kedua peraturan tersebut saling berkaitan dalam proses pengurusan izin impor. Kedua peraturan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 78/M-DAG/PER/10/2014 jo Nomor 7/M-DAG/PER/1/2015 jo Nomor 63/M-DAG/PER/8/2015 Tentang

Ketentuan Impor Produk Kehutanan. Secara garis besar isi dari Permendag mengenai ketentuan Impor Produk Kehutanan adalah sebagai berikut:

a. Definisi mengenai istilah yang digunakan dalam Permendag 78/M- DAG/PER/10/2014 jo Nomor 7/M-DAG/PER/1/2015 jo Nomor 63/M-

DAG/PER/8/2015;

b. Ruang lingkup produk kehutanan yang diatur mekanisme impornya;

c. Persyaratan dan mekanisme pengajuan sebagai Importir Produsen;

d. Persyaratan dan mekanisme pengajuan sebagai Importir Terdaftar;

e. Kewajiban pelaporan bagi Importir Produsen dan Importir Terdaftar;

f. Sanksi akibat pelanggaran sebagai Importir Produsen dan Importir

Terdaftar;

2. Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor 7/PHPL-

Tentang Tata Cara Pelaksanaan Uji Tuntas (Due Diligence),

Penerbitan Deklarasi Impor Dan Rekomendasi Impor Produk Kehutanan. Secara

garis besar, isi dari Perdirjen PHPL tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tata cara pelaksanaan uji tuntas dan penerbitan deklarasi impor;

b. Tata cara permohonan rekomendasi impor produk kehutanan;

c. Tata cara permohonan hak akses untuk rekomendasi impor;

d. Tata cara penerbitan rekomendasi impor produk kehutanan;

e. Penerbitan Deklarasi Kesesuaian Pemasok (DKP) pada barang impor;

f. Tata cara pengawasan dan pengendalian;

g. Lampiran berupa Petunjuk Teknis (Juknis) mengenai Tata Cara Pelaksanaan Uji Tuntas (Due Diligence), Penerbitan Deklarasi Impor Dan Rekomendasi Impor Produk Kehutanan.

SET/2015

Banyaknya ruang lingkup produk kehutanan yang diatur mekanisme impornya membawa konsekwensi penerapan peraturan impor produk kehutanan tidak hanya bagi industri kehutanan tetapi industri non kehutanan. Bagi industri non kehutanan, beberapa mekanisme dalam pengajuan izin impor produk kehutanan mungkin baru diketahui dan tentunya akan membawa tantangan tersendiri dalam mempelajarinya. Buku ini akan menjelaskan bagaimana cara melakukan pengajuan izin impor produk kehutanan.

Toolbox 1.

Terdapat dua dasar hukum pelaksanaan impor produk kehutanan, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan Nomor Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 78/M-DAG/PER/10/2014 jo Nomor 7/M-DAG/PER/1/2015 jo Nomor 63/M- DAG/PER/8/2015 yang mengatur tentang ketentuan pelaksanaan impor produk kehutanan dan Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor 7/PHPL-SET/2015 yang mengatur tentang pengajuan rekomendasi impor dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

REKOMENDASI IMPOR

Proses pengurusan rekomendasi impor dilakukan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dilakukan secara online. Pada bab ini akan dijelaskan bagaimana proses pengajuan rekomendasi impor baik oleh API-P dan API-U. Proses rekomendasi pada kedua izin importir tersebut adalah sama, namun yang membedakan hanya pada syarat pengajuan hak akses. Proses pengajuan rekomendasi impor dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Bisnis Proses Pengajuan Rekomendasi Impor 4

Gambar 1.

Bisnis Proses Pengajuan Rekomendasi Impor

1. Persiapan 1.a. Proses Pengurusan Sertifikat Legalitas Kayu. Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK) merupakan salah satu syarat bagi API-P maupun API-U yang akan mengajukan rekomendasi impor, namun tidak semua API-P maupun API-U yang diwajibkan. Berikut adalah karakteristik API-P yang wajib menyertakan SLK pada saat pengajuan rekomendasi impor adalah sebagai berikut:

1. Menghasilkan produk sesuai Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan (Permendag No 97/M-DAG/PER/12/2014), walaupun tidak melakukan impor; dan atau

2. Industri yang wajib memiliki SLK berdasarkan Permenhut No 43/Menhut- II/2014 jo Permenhut No 95/Menhut-II/2014 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang Izin atau Hutan Hak.

Apabila pemegang izin API-P tidak termasuk kedalam tiga kategori tersebut maka tidak perlu menyampaikan SLK sebagai syarat mengajukan rekomendasi impor. Sedangkan untuk pemegang izin API-U yang wajib menyertakan SLK pada saat pengajuan rekomendasi impor adalah sebagai berikut:

1. Memiliki izin sebagai Tempat Penampungan Terdaftar (TPT);

2. Menjual hasil produk impornya ke industri yang wajib memiliki SLK berdasarkan Permenhut No 43/Menhut-II/2014 jo Permenhut No 95/Menhut-II/2014 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang Izin atau Hutan Hak.

Pelaksanaan SLK pada pemegang izin API-P dan API-U dapat merujuk kepada dua peraturan yaitu sebagai berikut:

1. Permenhut No 43/Menhut-II/2014 jo Permenhut No 95/Menhut-II/2014 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang Izin atau Hutan Hak.

2. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor P.14/VI-BPPHH/2014 jo P.15/VI-BPPHH/2014 Tentang Standar Dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK)

1.b. Persiapan Pengajuan Hak Akses Hak Akses adalah hak yang diberikan untuk melakukan interaksi dengan sistem elektronik yang berdiri sendiri atau dengan jaringan. Pengajuan hak akses oleh Importir kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah langkah pertama dalam melakukan pengurusan izin Importir Produsen. Permohonan Hak Akses ditujukan kepada Direktur Jenderal secara elektronik melalui portal SILK dengan alamat http://silk.dephut.go.id.

Persiapan Pengajuan Hak Akses untuk Pemegang Izin API-P Tahapan persiapan pengajuan hak akses untuk pemegang izin API-P adalah sebagai berikut:

a. Identifikasi jenis permohonan yang akan diajukan. Permohonan yang dilakukan yang diajukan dapat bersifat baru atau perubahan/pergantian. Bersifat baru artinya pemegang API-P baru pertama kali melakukan pengajuan hak akses, sedangkan perubahan/pergantian adalah bila mana terjadi perubahan pada informasi pengajuan hak akses yang pertama;

b. Syarat-syarat yang ada harus dipenuhi, diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Identitas importir berupa nama dan alamat importir. API-P memastikan informasi identitas importir yang akan diinput sesuai dengan dokumen lainnya, seperti nama, alamat, penanggung jawab dan produk yang dihasilkan sama dan sesuai dengan dokumen lainnya. 2) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). API-P memastikan mengisi informasi nomor NPWP dan alamat perusahaan dengan benar dan sesuai dengan dokumen lainnya termasuk dengan dokumen API-P. 3) Nomor IUIPHHK, IUI, atau TDI, serta masa berlakunya. API-P memastikan mengisi informasi nomor dan masa berlakunya sesuai informasi yang tertera

di IUIPHHK, IUI, atau TDI serta masa berlaku pada saat pendaftaran masih valid. Bagi industri non kehutanan maka izin dapat diganti dengan izin industri yang dimiliki. Hal yang penting diperhatikan dari dokumen izin industri dalam melakukan permohonan hak akses adalah produk yang dihasilkan yang tertera didalam izin sesuai dengan dokumen lainnya termasuk sertifikat legalitas kayu. 4) Angka Pengenal Importir Produsen (API-P). Pemilik API-P yang akan mendaftarkan hak akses harus memastikan bahwa informasi yang terdapat didalam API-P sesuai dengan yang disampaikan pada saat pengajuan hak akses seperti nomor NPWP, alamat dan lainnya. 5) Nomor Identitas Kepabeanan (NIK). Pemilik API-P yang akan mendaftarkan hak akses harus memastikan bahwa informasi yang terdapat didalam NIK sesuai dengan yang disampaikan pada saat pengajuan hak akses seperti nomor NPWP, alamat dan penanggung jawab. 6) Nomor S-LK, tanggal terbit, dan masa berlakunya. Kewajiban Sertifikat Legalitas Kayu sebagai syarat untuk mengajukan hak akses tidak berlaku untuk semua API-P seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. 7) Nama dan spesimen tanda tangan Pemohon yang diberi kewenangan dalam hak akses. Setelah hak akses diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maka tanggung jawab penggunaan hak akses berada ditangan pemegang izin API-P, untuk menghindari terjadi penyalahgunaan oleh oknum maka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hanya mensyaratkan personil tertentu yang ditunjuk oleh manajemen pemegang API-P untuk dapat melakukan permohonan hak akses.

Persiapan Pengajuan Hak Akses untuk Pemegang Izin API-U Tahapan persiapan pengajuan hak akses untuk pemegang izin API-U adalah sebagai berikut:

a. Identifikasi jenis permohonan yang akan diajukan. Permohonan yang dilakukan yang diajukan dapat bersifat baru atau perubahan/pergantian. Bersifat baru artinya pemegang ITbaru pertama kali melakukan pengajuan hak akses,

sedangkan perubahan/pergantian adalah bila mana terjadi perubahan pada informasi pengajuan hak akses yang pertama;

b. Syarat-syarat yang ada harus dipenuhi, diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Identitas importir berupa nama dan alamat importir; 2) Nomor IT-Produk Kehutanan serta masa berlakunya; 3) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 4) Nomor Izin TPT serta masa berlakunya atau bukti penguasaan gudang sesuai dengan jenis Produk Kehutanan yang diimpor; 5) Angka Pengenal Importir Umum (API-U) sebagai IT yang mencantumkan bagian Produk Kehutanan (II, IX, X, XX, dan/atau XXI); 6) Nomor Identitas Kepabeanan (NIK); 7) Nomor S-LK, tanggal terbit, dan masa berlakunya (dalam hal memiliki S-LK); 8) Nama dan spesimen tanda tangan Pemohon yang diberi kewenangan dalam hak akses; 9) Nama dan spesimen tanda tangan Pemohon yang diberi kewenangan dalam hak akses. Setelah hak akses diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maka tanggung jawab penggunaan hak akses berada ditangan pemegang izin IT, untuk menghindari terjadi penyalahgunaan oleh oknum maka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hanya mensyaratkan personil tertentu yang ditunjuk oleh manajemen pemegang IT untuk dapat melakukan permohonan hak akses.

Setelah semua persyaratan selesai maka seluruh dokumen yang menjadi persyaratan di scan dan diberi nama sesuai dengan informasi yang diminta maka importir dapat mengajukan hak akses secara online melalui http://silk.dephut.go.id. Sesuai Pasal 8 ayat (7), hak akses akan diberikan selambat-lambatnya dalam lima hari kerja.

2. Pengajuan Hak Akses

Setelah semua dokumen dan persyaratan selesai dipersiapkan sesuai penjelasan sebelumnya, maka pemegang API-P atau API-U melakukan pengajuan hak akses

Lembar

pernyataan yang sudah ditandatangani dan dicap di atas materai serta surat kuasa disampaikan kepada Direktur Jenderal melalui Subdit Pusat Notifikasi Ekspor dan Impor Produk Kehutanan, Gedung Manggala Wanabakti Blok II Lt. 2 Jln. Gatot Subroto Senayan Jakarta, Indonesia 10270. Secara prinsip sepanjang seluruh persyaratan tersedia, seluruh informasi yang terdapat didalam antar dokumen sama dan seluruh persyaratan masih berlaku maka hak akses dapat diberikan.

melalui

Khusus

untuk

3. Pemilik Hak Akses

Setelah API-P dan API-U memperoleh hak akses maka perlu memperhatikan hak dan kewajiban karena hak akses memiliki fungsi penting untuk memperoleh rekomendasi

dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Merujuk pada Pasal 9 ayat 1 Perdirjen No 7/PHPL-SET/2015, kewajiban pemegang hak akses adalah sebagai berikut:

1) Menjaga keamanan dan kerahasiaan atas penggunaan Hak Akses yang telah diterima; 2) Melakukan aktivasi sesuai dengan persetujuan aktivasi Hak Akses; 3) Menyediakan informasi yang benar untuk keperluan Rekomendasi Impor sesuai dengan Hak Aksesnya; 4) Kerahasiaan data User-ID dan password Hak Akses sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemegang Hak Akses dan hanya boleh digunakan oleh Pemegang Hak Akses yang bersangkutan.

Sedangkan hak dari pemegang hak akses berdasarkan Pasal 9 ayat 2 Perdirjen No 7/PHPL-SET/2015 adalah sebagai berikut:

Mengakses informasi untuk keperluan Rekomendasi Impor sesuai dengan hak aksesnya.

Mendapatkan dukungan dari Pengelola Portal SILK, dalam pengoperasian Portal SILK.

Pemegang Hak Akses diberi kebebasan untuk membuat password sendiri dan dapat melakukan perubahan dan penggantian password melalui Portal SILK apabila ada kecurigaan password tersebut telah diketahui oleh pihak lain;

Apabila User-ID dan password Hak Akses disalahgunakan oleh pihak lain, maka Pemegang Hak Akses dapat memberitahukan secara tertulis kepada Pengelola Portal SILK untuk dilakukan pemblokiran hak akses.

Apabila User-ID dan password Hak Akses tidak dapat diingat, maka Pemegang Hak Akses dapat memanfaatkan fasilitas ubah password di portal SILK.

Hak akses yang dimiliki oleh pemegang API-P dan API-U tidak berlaku selamanya namun dapat diakhiri hak akses yang dimilikinya. Hak akses dapat diakhiri apabila hal-hal yang diatur dalam pasal 11 ayat 1 Perdirjen No 7/PHPL-SET/2015 terjadi. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

a. Hak Akses telah dicabut;

b. Pemegang Hak Akses mengajukan permohonan kepada Pengelola Portal SILK untuk melakukan pengakhiran Hak Akses atas pelayanan Portal SILK;

c. Pengelola Portal SILK melaksanakan suatu keharusan untuk melakukan pengakhiran Hak Akses atas dasar pelaksanaan ketentuan perundang- undangan;

d. Pemegang Hak Akses tidak menggunakan Hak Aksesnya berturut-turut selama 12 (dua belas) bulan.

Sehubungan dengan aturan apabila hak akses tidak digunakan selama berturut-turut selama 12 (dua belas) bulan, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan karena masa berlaku rekomendasi adalah maksimal 1 tahun sehingga sebelum masa berlaku tersebut habis maka pemegang hak akses pasti akan menggunakan hak akses tersebut.

4. Persiapan Penyampaian Data dan Informasi Terkait Uji Tuntas

Persiapan penyampaian data dan informasi terkait uji tuntas dilakukan pada setiap pemasok (industri/manufaktur) produk kehutanan yang memasok kepada importir.

Pada prinsipnya informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan uji tuntas diperoleh importir dari pemasok, oleh sebab itu salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan uji tuntas adalah komunikasi dengan pemasok. Walaupun informasi diperoleh dari pemasok namun importir perlu memastikan validitas informasi yang diperlukan karena tanggung jawab pelaksanaan uji tuntas berada di importir, oleh sebab itu importir perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai uji tuntas. Langkah- langkah yang diperlukan untuk melakukan uji tuntas adalah sebagai berikut:

1) Identifikasi pemasok Importir pasti sudah memiliki database mengenai identitas dari pemasoknya, dalam

hal pembuatan data dan informasi terkait ujituntas identifikasi pemasok pada tingkat industri, apabila importir membeli dari trader atau distributor maka importir harus dapat mengindentifikasi industri penghasil produknya. Pada penyampaian data dan informasi identitas pemasok terdapat dua informasi penting yang harus diketahui, yaitu:

a. Produsen, yang dimaksud produsen disini adalah industri yang membuat produk kehutanan yang akan di impor ke Indonesia. Informasi yang dibutuhkan dari produsen adalah nama produsen, alamat lengkap, nomor telepon dan fax, email dan izin industri.

b. Eksportir, yang dimaksud dengan eksporter adalah lembaga atau perusahaan yang mengekspor produk kehutanan ke Indonesia namun yang dimaksud disini bukan perusahaan ekspedisi. Eksportir ini bisa merupakan industri atau produsen juga, apabila kegiatan eksport langsung dilakukan oleh industri. Trader atau distributor dapat juga menjadi eksportir apabila trader tersebut yang melakukan ekspor, pada kondisi ini trader membeli barang dari industri kemudian disimpan di gudang trader dan kemudian diimpor. Informasi yang dibutuhkan dari eksportir adalah nama eksporter, alamat lengkap, nomor telepon dan fax, email dan izin ekspor.

Gambar 2. Industri sebagai produsen dan eksportir Gambar 3. Industri sebagai produsen dan trader sebagai

Gambar 2. Industri sebagai produsen dan eksportir

Gambar 2. Industri sebagai produsen dan eksportir Gambar 3. Industri sebagai produsen dan trader sebagai eksportir

Gambar 3. Industri sebagai produsen dan trader sebagai eksportir

2) Korespondensi dengan pemasok Setelah semua pemasok terindetifikasi maka pekerjaan selanjutnya adalah korespondensi dengan pemasok untuk memperoleh data dasar yang dibutuhkan dari pemasok. Importir melakukan korespodensi dengan pemasok untuk meminta beberapa informasi yang dibutuhkan untuk melakukan uji tuntas. Contoh email yang disampaikan kepada supplier adalah sebagai berikut:

Dear Supplier, Referring to the regulation regarding the provision of imported forest products applied by the Government of the Republic of Indonesia Number 78 / M-DAG / PER / 10/2014 jo No. 7 / M-DAG / PER / 1/2015 jo No. 63 / M-DAG / PER / 8 / 2015 about imports of forest products. in order to comply with the regulations, we require further information from the related imported products and the data we need is the data of the industry / manufacturer. The information required are as follows: (attach data form, information with regards to the due diligence, see attachment).

Form data dan informasi terkait uji tuntas dapat dilihat pada lampiran 1 buku ini.

Beberapa informasi yang dibutuhkan oleh importir adalah sebagai berikut.

a. Informasi Pemasok dan Rencana Impor

Informasi pemasok dan rencana impor adalah sebagai berikut:

1. Nama Importir = Diisi nama importir yang akan melakukan import sesuai dengan izin API-P. Nomor Register = Diisi nomor register hak akses yang dimiliki oleh importir setelah melakukan registrasi pemasok

Informasi

yang melakukan ekspor ke Importir. Penentuan nama eksportir dan produsen dapat merujuk pada ilustrasi Gambar 2 serta Gambar 3. Sebagai contoh PT A membeli kertas dari trader X di Singapura dimana trader X membeli kertas dari industri Y di Tiongkok. Pengiriman barang dilakukan langsung dari industri Y. Maka yang dicantumkan sebagai negara eksportir adalah industri Y.

eksportir

2. Nama eksportir

=

nama

perusahaan

Alamat eksportir = Informasi alamat perusahaan eksportir yang melakukan pengiriman kepada importir di Indonesia. Dalam hal contoh pada informasi nama eksportir diatas maka alamat eksportir adalah alamat industri Y. Legalitas eksportir = Informasi legalitas eksportir dapat diisi dengan izin sebagai eksportir dinegara asal eksportir, jika pada negara eksportir tidak ada aturan yang mewajibkan memiliki izin sebagai eksportir maka dapat diisi izin perusahaan eksportir. Analogi izin eksportir yang dimaksud di Indonesia adalah izin ETPIK (Eksportir Terdaftar Produk Kehutanan). Informasi yang diperlukan dari legalitas eksportir adalah nomor izin, masa berlakunya dan scan izin tersebut. Negara pengekspor = Informasi mengenai nama negara tempat barang akan diekspor barang.

3. Nama Produsen = Diisi nama perusahaan produsen barang yang akan diekspor ke Indonesia.

Alamat Produsen

Legalitas Produsen = Diisi nomor perijinan/register sebagai

produsen dan masa berlakunya (bila ada semacam IUI di Indonesia, dan bila tidak ada semacam IUI di Indonesia maka diisi dengan legalitas perusahaannya atau register perusahaan). Hasil scan dilampirkan. Negara Produsen = Diisi nama negara tempat produsen

=

Diisi alamat perusahaan produsen

memproduksi barang yang akan diekspor.

4.

Nama dan Negara Pelabuhan muat

= Informasi nama pelabuhan yang menjadi tempat muat barang yang akan diekspor ke Indonesia. Informasi yang dibutuhkan adalah nama pelabuhan dan negara. Nama pelabuhan dapat diisi lebih dari satu.

6.

Rencana

Impor

Tahun

= Informasi rencana impor tahun berjalan

Berjalan

diisi oleh importir mengenai rencana impor dari importir bukan hanya dari importir yang akan dilakukan uji tuntas. Apabila rencana impor lebih dari satu barang dari satu pemasok maka dapat diisi lebih dari satu barang. Rencana impor diisi dalam satuan ton sebagai satuan wajin dan satu pilihan satuan dalam bentuk satuan m 3 /set/pcs/roll/batang, dst).

b.

Informasi Produk yang akan diimpor

Informasi produk yang akan diimpor yang dibutuhkan untuk melakukan uji tuntas

adalah sebagai berikut:

(1)

Nama bahan baku kayu /produk kayu dan turunannya yang akan diimpor dari

(2)

pemasok. Pos tarif bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diimpor

(3) Nama dagang dan nama latin spesies tanaman atau pohon yang digunakan sebagai bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diimpor. Apabila produk yang diimpor terdiri dari lebih dari satu spesies (produk komposit) maka informasi yang dibutuhkan adalah tiga nama dagang dan nama latin yang digunakan sebagai bahan baku. Dalam hal bahan baku/produk kayu

berasal dari recycle yang sudah tidak bisa ditentukan spesiesnya maka dapat diisi (not applicable). Selain nama dagang dan nama latin dari spesies yang digunakan sebagai bahan baku, informasi yang dibutuhkan dari spesies bahan baku lainnya adalah sebagai berikut:

(a)

Nama negara asal panen bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diimpor. Informasi ini wajib diisi bagi produk kehutanan yang diekspor ke Indonesia berupa kayu bulat dan produk lainnya yang tercantum dalam Lampiran Permendag Nomor 78/M-DAG/PER/10/2014.

(b)

Nama daerah asal panen (negara bagian/provinsi) bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diimpor. Informasi ini wajib diisi bagi produk kehutanan yang diekspor ke Indonesia berupa kayu bulat.

(c)

Nama pemegang konsesi/pemilik asal panen bahan baku yang akan diimpor beserta izin yang dimilikinya (izin wajib di scan). Apabila bahan baku/produk kayu berasal dari recycle maka tidak perlu diisi. Informasi ini wajib diisi bagi produk kehutanan yang diekspor ke Indonesia berupa kayu bulat.

(4) Jaminan legalitas asal bahan baku yang terdiri dari beberapa pilihan (cukup pilih salah satu), yaitu:

(a)

Surat keterangan dari otoritas Negara asal panen atau Negara asal produk yang menyatakan bahwa bahan baku kayu yang digunakan oleh eksportir merupakan bahan baku yang legal sesuai peraturan di negara eksportir berada. Apabila produk yang diekspor ke Indonesia merupakan kayu bulat maka surat keterangan otoritas dari negara asal panen, sedangkan apabila produk yang diimpor adalah bukan kayu bulat maka surat keterangan berasal dari otoritas negara asal produsen.

(b)

Sertifikat dari lembaga sertifikasi yang salah satu dari indikator penerbitan sertifikatnya terkait legalitas dan kelestarian sumber bahan baku dan ketelusaran bahan baku. Dalam dunia sertifikasi kehutanan, sertifikasi jenis ini adalah dikenal dengan nama Chain of Costudy (CoC). Contoh

skema sertififikasi CoC yang saat ini sudah dikenal adalah skema FSC dan PEFC.

(c)

Pedoman khusus negara atau Country Spesific Guidelines (CSG), yaitu suatu regulasi dari negara eksportir yang mensyaratkan penggunaan kayu legal sebagaimana Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) di Indonesia yang sistem tersebut telah diakui oleh Pemerintah Indonesia. Jika suatu saat nanti ada CSG yang diakui oleh Indonesia maka barang yang diimpor dari negara tersebut tidak memerlukan surat keterangan otoritas dan sertifikat dari lembaga sertifikasi.

(d)

Mutual Recognation Agreement (MRA), yaitu perjanjian kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Negara lain yang saling mengakui sistem legalitas kayunya. Jika suatu saat nanti ada MRA yang diakui oleh Indonesia maka barang yang diimpor dari negara tersebut tidak memerlukan surat keterangan otoritas dan sertifikat dari lembaga sertifikasi.

(e)

FLEGT License, yaitu pengakuan dari Uni Eropa terhadap suatu skema kebijakan legalitas produk kayu dari suatu negara yang disamakan dengan FLEGT License.

c. Ketentuan aturan negara ekspor atau negara panen

Importir perlu mengetahui kebijakan ekspor produk kehutanan dari negara ekspor untuk produk non kayu bulat atau kebijakan mengenai panen dari negara asal panen untuk kayu bulat. Informasi mengenai ketentuan atau regulasi mengenai ekspor produk kehutanan di negara ekspor yang perlu diminta dari eksportir adalah sebagai

berikut:

a) Daftar produk kehutanan yang dilarang untuk ekspor di negara ekspor;

b) Daftar spesies tanaman kehutanan yang dilarang untuk ekspor di negara ekspor;

c) Larangan penebangan terhadap spesies tanaman kehutanan di suatu negara bagian/propinsi/distrik di negara ekspor untuk kayu bulat.

Toolbox 2.

Metode yang dapat digunakan dalam korespondensi dengan pemasok adalah importir mengirimkan form uji tuntas yang telah ditranslate ke dalam bahasa Inggris untuk diisi oleh pemasok, namun pada tabel 1 form uji tuntas tidak perlu mencatumkan mitigasi resiko, analisa resiko dan catatan karena ketiga informasi tersebut merupakan hasil analisa importir.

3) Pembuatan Data dan Informasi Terkait Uji Tuntas oleh Importir

Setelah memperoleh informasi dari pemasok maka importir dapat melakukan pelaksanaan data dan informasi dari pemasok tersebut untuk pelaksanaan uji tuntas. Selain informasi eksportir, hal yang menjadi pekerjaan utama dari pelaksanaan uji tuntas adalah melakukan analisa resiko, mitigasi resiko dan catatan pada informasi mengenai spesies bahan baku, dan asal bahan baku. Penjelasan menganai analisa resiko, mitigasi resiko dan catatan adalah sebagai berikut:

(1) Analisa resiko, Definisi analisa resiko berdasarkan Perdirjen No 7/PHPL- SET/2015 adalah uji silang (cross check) atas dokumentasi informasi yang resmi di negara asal produk kehutanan (dan negara asal panen untuk kayu bulat atau kayu olahan yang sama jenisnya dengan Indonesia), untuk menghindari importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal, diperdagangkan secara ilegal, dan/atau ada penipuan atau penyembunyian informasi. Output dari analisa resiko adalah sebagai berikut:

a. Neglibile Risk (NR), apabila hasil analisa resiko tidak berpotensi untuk terjadinya importasi produk kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau diperdagangkan secara ilegal sehingga resiko tersebut dapat diabaikan apabila berdasarkan hasil analisa diperoleh hasil bahwa resiko terhadap penggunaan bahan baku illegal dapat diabaikan.

b. Significant Risk (SR), apabila berdasarkan hasil analisa resiko berpotensi untuk terjadinya importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau diperdagangkan secara illegal.

Pada saat menentukan resiko dari produk yang diimpor, importir harus memiliki argumen mengapa pilihan resikonya SR atau NR dengan dilengkapi data, literatur atau sumber informasi dan analisanya.

(2) Mitigasi Resiko, Definisi mitigasi resiko berdasarkan Perdirjen No 7/PHPL- SET/2015 adalah proses atau langkah-langkah sewajarnya melalui sumber- sumber yang dapat dipercaya untuk memastikan keandalan dan akurasi informasi, serta memastikan tidak ada penipuan atau penyembunyian informasi. Output dari mitigasi resiko adalah sebagai berikut:

a. Hasil mitigasi bernilai Baik (B), apabila diperoleh hasil analisa sebagai berikut:

Hasil analisa resiko SR dan hasil catatan mitigasi berisikan langkah- langkah serta justifikasi yang dapat mencegah terjadinya importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau diperdagangkan secara ilegal, termasuk penipuan/penyembunyian informasi;

Hasil analisa resiko NR tetapi hasil catatan mitigasi berisikan langkah- langkah serta justifikasi yang dapat mencegah terjadinya importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau

diperdagangkan secara ilegal, termasuk penipuan/penyembunyian informasi.

b. Hasil mitigasi tidak bernilai baik (T), apabila diperoleh hasil analisa sebagai berikut:

Hasil analisa resiko SR tetapi tidak terdapat langkah-langkah serta justifikasi yang dapat mencegah terjadinya importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau diperdagangkan secara ilegal pada kolom catatan hasil mitigasi, termasuk penipuan/penyembunyian informasi;

Hasil analisa resiko NR serta tidak terdapat langkah-langkah serta justifikasi yang dapat mencegah terjadinya importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau

diperdagangkan secara ilegal pada kolom catatan hasil mitigasi, termasuk penipuan/penyembunyian informasi; Hasil analisa resiko NR tetapi langkah-langkah serta justifikasi yang disampaikan tidak tepat atau tidak sesuai untuk mencegah terjadinya importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau diperdagangkan secara ilegal, termasuk penipuan/penyembunyian informasi.

(3) Catatan, Kolom catatan hasil mitigasi diisi dengan informasi mengenai langkah-langkah yang dilakukan oleh importir untuk memastikan keandalan serta akurasi informasi dan memastikan bahwa importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan/atau diperdagangkan secara ilegal terkait (i) kolom yang terdapat analisa resikonya, (ii) kolom H atau I atau J atau K atau L, dan (iii) M atau N.

Toolbox 3.

Analisa resiko, mitigasi resiko dan catatan dilakukan pada informasi mengenai spesies bahan baku dan asal bahan baku. Kolom catatan mitigasi digunakan sebagai media untuk menuliskan proses mitigasi resiko.

Dalam membuat form pengajuan terhadap data dan informasi uji tuntas sebaiknya importir membuat format form sesuai kenyamanan importir mengingat tabel pada form uji tuntas cukup panjang karena pengajuan dilakukan secara on line.

Setelah memahami konteks analisa resiko, mitigasi resiko dan catatan maka proses pembuatan uji tuntas dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

(1) Mengisi identitas pemasok yang meliputi informasi nama eksportir, alamat eksportir, legalitas eksportir, negara pengekspor, nama dan negara pelabuhan muat, serta rencana impor; (2) Mengisi tabel 1 form penyampaian data dan informasi terkait uji tuntas, hal yang perlu diperhatikan dalam mengisi tabel 1 tersebut adalah kolom diisi untuk setiap jenis barang berdasarkan kode HS dan spesies bahan baku. Sebagai contoh untuk barang pulp dengan kode HS 4702.00.00.00 dibutuhkan

tiga spesies maka untuk barang impor pulp maka pada tebel tersebut diisi tiga kali untuk ketiga spesies tersebut. Tata cara pengisian tabel 1 data dan informasi terkait uji tuntas adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Data dan informasi terkait uji tuntas

     

Bahan Baku

 

No.

 

Pos Tarif

 

Uraian barang

(6 digit)

 

(A)

(B)

(C)

Uraian

Diisi

nomor urut mulai

Diisi uraian nama bahan baku kayu

Diisi pos tarif bahan baku kayu/produk kayu

dari angka 1 (satu) dan

/produk kayu yang akan diimpor.

dan turunannya yang akan diimpor

seterusnya.

Apabila importir melakukan impor

produk kehutanan yang memiliki kode

HS dan nama barang yang sama

namun spesifikasinya berbeda, cukup

dituliskan satu. Sebagai contoh:

industri membeli bahan baku berupa

MDF Board dengan spesifikasi (3MMT,

4'W,8'L), (3MMT,3'W,8'L), dan

(3MMT,3'W,7'L). Ketiga MDF Board

tersebut sama-sama memiliki HS

4411.12.00.00, maka pada kolom ini

cukup mengisi dengan nama MDF

Board.

Analisa Resiko

Tidak diisi

Tidak diisi

Tidak diisi

Catatan

Tidak diisi

Tidak diisi

Tidak diisi

Hasil Mitigasi

Tidak diisi

Tidak diisi

Tidak diisi

Lanjutan 1 Tabel 1. Data dan informasi terkait uji tuntas

Jenis (species)

Nama dagang dan nama ilmiah

(D)

Uraian

Diisi nama dagang dan nama ilmiah dari jenis (species) bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diimpor. Dalam hal produk komposit, diisikan 3 (tiga) jenis yang dominan. Setiap spesies dilakukan uji tuntas. Dalam hal produk kayu berasal dari recycle yang sudah tidak bisa ditentukan spesiesnya maka kolom D diisi n/a

(not applicable).

Apabila spesies bahan baku yang digunakan lebih dari satu (maksimal tiga dominan), maka penulisan pada kolom D ditulis satu persatu, contohnya importir melakukan impor MDF dengan kode HS 4411.12.00.00 berdasarkan hasil verifikasi MDF tersebut terbuat dari tiga spesies. Contoh penulisan pada tabelnya adalah sebagai berikut:

Bahan Baku

Jenis (species) Nama dagang dan nama ilmiah

No

Uraian barang

Pos Tarif (10 digit)

(A)

(B)

(C)

(D) Karet (Hevea brasiliensis) [NR]

1

MDF

4411.12.00.00

       

…………

 

1B

 

MDF

4411.12.00.00

Akasia (Acacia mangium)

2

[NR]

…………

1B

 

MDF

4411.12.00.00

Akasia (Acacia mearnsii)

3

[NR]

…………

1B

Daftar nama dagang dan nama ilmiah beserta sebarannya dapat dilihat pada Lampiran 2.

Analisa Resiko

(1) Diisi dengan ‟NRbeserta justifikasinya apabila merupakan spesies yang tidak tumbuh atau tidak terdapat di Indonesia; atau (2) Diisi dengan „SRbeserta justifikasinya apabila merupakan spesies yang tumbuh atau terdapat di Indonesia. “Pilih salah satunya”

Justifikasi yang dapat diberikan oleh importir adalah sebagai berikut:

 

(1) Verifikasi kebenaran spesies yang di deklarasikan oleh pemasok. Bagi importir yang melakukan transaksi impor dengan industri yang memiliki sertifikat FSC dapat melakukan validasi informasi bahan baku yang digunakan pada info di website FSC. Contoh proses validasi dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Verifikasi kebenaran informasi spesies dengan informasi didalam sertifikat (2) Verifikasi kesesuai lokasi negara

Gambar 6. Verifikasi kebenaran informasi spesies dengan informasi didalam sertifikat

(2) Verifikasi kesesuai lokasi negara spesies dengan sebaran spesies tersebut. Importir dapat melihat sebaran informasi dari internet melalui beberapa database sebagai berikut:

a) The Global Invasive Species Database is managed by the Invasive Species Specialist Group (ISSG) of the IUCN Species Survival Commission.

b) BioNET-EAFRINET Regional

c) GRIN Taxonomy for Plants

d) Index of Species Information by USDA

e) Fire Effects Information System by USDA Forest Service

Contoh analisa resiko adalah sebagai berikut:

Hasil analisa resiko: [NR] Spesies Pinus silvestris merupakan jenis pinus yang tidak tumbuh di Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada dua literature sebagai berikut:

 

1. Jurnal Ilmiah yang berjudul Kimia Terpentin dari Getah Tusam (Pinus merkusii) Asal Kalimantan Barat. Ditulis oleh Dahlian, E., dan Hartoyo ada Jurnal Info Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor. 4(1):38-39. Pada Jurnal tersebut disebutkan bahwa Pinus merkusii merupakan satu-satunya jenis pinus yang tumbuh asli di Indonesia” 2. Berdasarkan the Gymnosperm Database yang dikeluarkan oleh Christopher J. Earle, sebaran Pinus silvestris adalah Albania, Andorra, Armenia, Austria, Azerbaijan, Belarus, Bosnia & Herzegovina, Bulgaria, China, Croatia, Czech Republic, Estonia, Finland, France, Georgia, Germany, Greece, Hungary, Italy, Kazakhstan, Latvia, Lithuania, Macedonia, Mongolia, Montenegro, Norway, Poland, Portugal, Romania, Russia, Serbia, Slovakia, Slovenia, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, Ukraine, and the United Kingdom. “Tidak terdapat Indonesia didalam daerah sebaran populasi Pinus silvestris. Berdasarkan literature tersebut maka resiko spesies Pinus silvestris adalah dapat diabaikan atau Negligible Risk (NR).

Catatan hasil

(1)

Diisi metode dan data yang digunakan untuk memitigasi resiko terjadinya penggunaan spesies bahan baku kayu/produk kayu yang dipanen secara ilegal dan/atau diperdagangkan secara ilegal; dan

mitigasi

(2)

Dalam hal hasil analisis resiko merupakan spesies yang juga terdapat di Indonesia, diisi dengan metode dan data yang digunakan untuk memastikan bahwa spesies tersebut benar bukan berasal dari Indonesia.

Beberapa metode yang digunakan untuk melalukan mitigasi resiko terkait spesies adalah sebagai berikut:

(1)

Verifikasi kebenaran spesies yang di deklarasikan oleh pemasok melalui penelusuran pada informasi sertifikat;

 

(2)

Verifikasi sebaran spesies melalui beberapa literature atau database.

Contoh hasil mitigasi resiko adalah sebagai berikut:

Hasil mitigasi resiko yang dilakukan terhadap jenis (spesies) adalah sebagai berikut:

1. Memastikan bahwa Pinus silvestris tidak tumbuh di Indonesia melalui dua literature yang kredibel dan dapat dipercaya;

2. Melakukan verifikasi daerah asal bahan baku dengan database dan hasil verifikasi telah menunjukan bahwa

Finlandia merupakan habitat dari tumbuhnya Pinus silvestris. Dengan demikian spesies Pinus silvestris dapat dilakukan mitigasi resiko sehingga hasil mitigasi baik (B)

Hasil Mitigasi

(1)

Kriteria hasil mitigasi B adalah sebagai berikut:

(a)

Hasil analisa resiko NR dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat serta menguatkan; atau

(b)

Hasil analisa resiko SR tetapi hasil catatan mitigasi dapat menunjukan bahwa spesies tersebut benar tidak berasal dari Indonesia.

(2)

Kriteria hasil mitigasi T adalah sebagai berikut:

(a)

Hasil analisa resiko NR namun tidak dapat didukung dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat serta menguatkan; atau

(b)

Hasil analisa resiko SR; dan hasil catatan mitigasi tidak dapat menunjukan bahwa spesies tersebut tidak

 

berasal dari Indonesia.

“Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila hasil mitigasi bernilai T maka rekomendasi impor untuk produk
“Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila hasil mitigasi bernilai T maka rekomendasi impor untuk produk

“Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila hasil mitigasi bernilai T maka rekomendasi impor untuk produk ini tidak dapat diberikan”.

Berdasarkan contoh pada kolom analisa resiko dan catatan hasil mitigasi maka diperoleh hasil mitigasi B.

Lanjutan 2 Tabel 1. Data dan informasi terkait uji tuntas

   

Asal Panen

Negara Asal

Daerah Asal

(E)

(F)

Uraian

Diisi negara asal panen dari spesies bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diimpor. Dalam hal bahan baku/produk kayu berasal dari recycle yang sudah tidak bisa ditentukan informasinya maka kolom F diisi n/a (not applicable).

Diisi nama daerah asal panen (negara bagian/provinsi) kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia. Kolom ini hanya wajib diisi apabila bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diekspor ke Indonesia berupa kayu bulat atau log.

Analisa

(1) Diisi dengan „NR‟ beserta justifikasinya apabila di negara tersebut terdapat distribusi atau populasi spesies yang menjadi bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya; atau

(1) Diisi dengan „NRbeserta justifikasinya apabila di negara bagian atau provinsi tersebut terdapat sebaran spesies tersebut; atau (2) Diisi dengan „SRbeserta justifikasinya apabila di

Resiko

(2) Diisi dengan „SRbeserta justifikasinya apabila

 

spesies yang menjadi bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya tidak tumbuh atau tidak terdapat di negara asal panen tersebut.

Importir dapat mengetahui sebaran populasi suatu spesies di suatu negara melalui berbagai macam sumber data seperti internet, buku dan jurnal ilmiah serta hasil risk assesment proses sertifikasi FSC. Contoh analisa resiko terkait negara asal adalah sebagai berikut:

Asal bahan baku yang digunakan oleh industri X (eksportir) adalah dari Negara Finlandia. Hal tersebut ditegaskan berdasarkan bukti sebagai berikut:

(1) Hasil risk assessment proses sertifikasi CoC skema

negara bagian atau provinsi tersebut tidak terdapat sebaran spesies tersebut.

Importir dapat mengetahui sebaran populasi suatu spesies di suatu negara melalui berbagai macam sumber data seperti internet, buku dan jurnal ilmiah serta hasil risk assesment proses sertifikasi FSC. Contoh analisa resiko terkait negara asal adalah sebagai berikut:

Berdasarkan hasil verifikasi, diketahuti asal bahan baku yang digunakan oleh industri X (eksportir) adalah dari Propinsi Hyvinkaa. Hal tersebut ditegaskan berdasarkan bukti sebagai berikut:

1. Hasil risk assessment proses sertifikasi CoC skema FSC PT X;

FSC PT X; (2) Surat pernyataan dari industri X; (3) Berdasarkan hasil uji silang atau verifikasi dengan literature yang ada di jurnal ilmiah dan the

2. Surat pernyataan dari industri X;

3. Berdasarkan hasil uji silang atau verifikasi dengan literature yang ada di jurnal ilmiah dan the Gymnosperm Database, bahwa sebaran spesies

 

Gymnosperm Database, bahwa sebaran spesies Pinus silvestris tersebar di Finlandia. Berdasarkan analisa tersebut maka resiko dari asal negara bahan baku adalah dapat diabaikan atau Negligible Risk (NR) karena negara Finlandia asal bahan baku tersebut terdapat populasi Pinus silvestris.

Pinus silvestris tersebar di Finlandia. Berdasarkan analisa tersebut maka resiko dari asal daerah bahan baku adalah dapat diabaikan atau Negligible Risk (NR) karena negara Finlandia asal bahan baku tersebut terdapat populasi Pinus silvestris.

Catatan hasil

(1) Diisi metode dan data yang digunakan untuk memitigasi resiko terjadinya importasi Produk Kehutanan yang ditebang/dipanen secara ilegal dan diperdagangkan secara ilegal dari segi negara asal panen/produsen; dan (2) Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan hasil mitigasi dari segi negara asal panen/produsen dan dapat menguatkan hasil analisa resiko.

(1) Diisi metode atau langkah-langkah yang harus dilakukan dan data yang digunakan untuk melakukan verifikasi mengenai kesesuaian asal spesies kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia dengan sebaran spesies tersebut pada tingkat negara bagian atau provinsi; dan (2) Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa pada negara bagian atau provinsi tersebut terdapat spesies kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia.

mitigasi

Contoh

catatan

hasil

mitigasi

terkait

negara

asal

 
 

adalah sebagai berikut:

 

Mitigasi resiko yang dilakukan terhadap negara asal bahan baku yang digunakan oleh industri X adalah sebagai berikut:

(1) Melakukan pengumpulan informasi mengenai asal bahan baku yang ditelusuri berdasarkan risk assessment pada saat proses sertifikasi CoC FSC PT X; (2) Melakukan verifikasi lokasi asal bahan baku dengan sebaran populasi dari spesies Pinus silvestris berdasarkan database atau literature yang ada. Berdasarkan hasil verifikasi dalam rangka mitigasi resiko, spesies Pinus silvestris terdapat di negara Finlandia.

Contoh catatan hasil mitigasi terkait daerah asal bahan baku adalah sebagai berikut:

Mitigasi resiko yang dilakukan terhadap negara asal bahan baku yang digunakan oleh industri X adalah sebagai berikut:

(1) Melakukan pengumpulan informasi mengenai asal bahan baku yang ditelusuri berdasarkan risk assessment pada saat proses sertifikasi CoC FSC PT X; (2) Melakukan verifikasi lokasi daerah asal bahan baku dengan sebaran populasi dari spesies Pinus silvestris berdasarkan database atau literatur yang ada. Berdasarkan hasil verifikasi dalam rangka mitigasi resiko, spesies Pinus silvestris terdapat di propinsi Hyvinkaa.

Hasil Mitigasi

(1)

Kriteria hasil mitigasi B adalah sebagai berikut:

(1) Kriteria hasil mitigasi B adalah sebagai berikut:

(a)

Hasil analisa resiko NR dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat; atau

(a) Hasil analisa resiko NR dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat serta menguatkan; atau (b) Hasil analisa resiko SR tetapi hasil catatan mitigasi menunjukan hasil bahwa terdapat

(b)

Hasil analisa resiko SR tetapi hasil catatan mitigasi menunjukan hasil bahwa spesies

 

bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya benar berasal dari negara asal panen tersebut. Kriteria hasil mitigasi T adalah sebagai berikut:

sebaran atau populasi dari spesies di negara bagian atau propinsi tersebut dan memiliki lisensi FLEGT atau lisensi Negara MRA atau

(2)

(a) Hasil analisa resiko NR namun tidak dapat didukung dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat serta menguatkan; atau (b) Hasil analisa resiko SR; dan hasil catatan mitigasi tidak diisi atau langkah-langkah serta justifikasi yang disampaikan pada catatan tidak tepat atau tidak sesuai sehingga tidak dapat menunjukan bahwa spesies bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya

adalah benar berasal dari negara asal panen tersebut.

Pedoman Khusus Negara (CSG) skema sertifikasi PHPL yang kredibel. (2) Kriteria hasil mitigasi T adalah sebagai berikut:

(a) Hasil analisa resiko NR namun tidak dapat didukung dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat serta menguatkan; atau Hasil analisa resiko SR; dan hasil catatan mitigasi tidak diisi atau langkah-langkah serta justifikasi yang disampaikan pada catatan tidak tepat atau tidak sesuai sehingga tidak dapat menunjukan bahwa kayu bulat tersebut berasal dari negara asal panen tersebut.

Contoh dari hasil mitigasi terkait negara asal panen adalah sebagai berikut:

Dengan mempertimbang hasil analisa resiko dan

Contoh dari hasil mitigasi terkait negara asal panen adalah sebagai berikut:

Dengan mempertimbang hasil analisa resiko dan catatan hasil mitigasi maka mitigasi resiko terkait daerah asal

catatan hasil mitigasi maka mitigasi resiko terkait negara asal panen adalah baik (B). panen adalah

catatan hasil mitigasi maka mitigasi resiko terkait negara asal panen adalah baik (B).

panen adalah baik (B).

Lanjutan 3 Tabel 1. Data dan informasi terkait uji tuntas

Asal Panen

Konsesi/Pemilik

(G)

Uraian

Diisi sesuai dengan nama pemegang konsesi/pemilik asal panen (dapat berupa bukti kepemilikan), izin konsesi yang meliputi nomor dan masa berlaku serta penerbit bukti legalitas konsesi/pemilik asal kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia. Apabila asal kayu bulat dari private forest maka dapat diisi bukti kepemilikan dari pemilik private forest. Scan bukti legalitas wajib diupload.

Kolom ini wajib diisi apabila bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diekspor ke Indonesia berupa kayu bulat atau log.

Contoh uraian konsesi pemilik adala sebagai berikut:

Kayu bulat yang diekspor ke Indonesia bersumber dari private forest dengan bukti legalitas berupa register tanah pada otoritas pertanahaan di Provinsi Hyvinkaa.

Analisa

(1)

Diisi dengan „NR‟ beserta justifikasinya apabila nama pemegang konsesi/pemilik asal panen, nomor

Resiko

dan masa berlaku serta penerbit bukti legalitas konsesi/pemilik asal kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia sesuai dan valid; atau (2) Diisi dengan „SRbeserta justifikasinya apabila nama pemegang konsesi/pemilik asal panen, nomor dan masa berlaku serta penerbit bukti legalitas konsesi/pemilik asal bahan baku yang akan diekspor ke Indonesia tidak sesuai dan valid. Contoh analisa resiko terkait konsesi/pemilik adalah sebagai berikut:

Nama pemilik private forest terdapat pada laporan risk assesment hasil audit CoC sertifikat FSC, selain itu industri X sebagai pemilik sertifikat CoC dijamin legalitas asal bahan bakunya sesuai klausul FSC

nomor 1.5.2 point a disebutkan bahwa “ The

organization shall declare not be directly or indirectly

involved in the following activities: (a) Illegal logging or the trade in illegal wood or forest products”.

Dengan demikian resiko dari pemegang konsesi/pemilik dapat diabaikan atau Negligible Risk (NR).

Catatan Hasil

(1) Diisi metode atau langkah-langkah yang harus dilakukan dan data yang digunakan untuk melakukan verifikasi kesesuaian dan validitas legalitas konsesi/pemilik asal kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia; dan (2) Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa pada negara bagian atau provinsi tersebut terdapat spesies kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia.

Contoh analisa resiko terkait konsesi/pemilik adalah sebagai berikut:

Mitigasi

 

Mitigasi yang dilakukan terhadap asal produsen adalah sebagai berikut

(1)

Melakukan verifikasi terhadap jaminan legalitas asal bahan baku yang dibuktikan dengan dimilikinya

(2)

sertifikat CoC; Memastikan standard mengenai legalitas berada pada sertifikat CoC.

Hasil Mitigasi

(1) Kriteria hasil mitigasi B adalah hasil analisa resiko NR dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat dan menguatkan; atau

(2)

Kriteria hasil mitigasi T adalah sebagai berikut:

(a) Hasil analisa resiko NR namun tidak dapat didukung dengan justifikasi dan hasil mitigasi yang tepat serta menguatkan; atau (b) Hasil analisa resiko SR dan hasil catatan mitigasi resiko tidak diisi atau langkah-langkah serta justifikasi yang disampaikan pada catatan hasil mitigasi tidak tepat atau tidak sesuai sehingga tidak dapat menunjukan validitas dari legalitas konsesi/pemilik asal kayu bulat yang akan diekspor ke Indonesia

Dengan mempertimbang hasil analisa resiko dan catatan hasil mitigasi maka mitigasi resiko terkait konsesi atau pemilik adalah baik (B).

Lanjutan 4 Tabel 1. Data dan informasi terkait uji tuntas

 

Surat keterangan otoritas Negara asal panen atau Negara asal produk

 

Sertifikat dari lembaga sertifikasi

(H)

 

(I)

Uraian

Dapat diabaikan bila kolom I/J/K/L yang akan diisi. (1) Diisi nomor dan tanggal surat keterangan serta masa berlakunya dari otoritas negara asal panen untuk kayu bulat dan asal produsen untuk selain kayu bulat serta ruang lingkup dari surat keterangan. Dalam hal bahan baku/produk kayu berasal dari recycle, maka surat keterangan otoritas dan/atau laporan LS (Lembaga Surveyor) yang mencantumkan keterangan tentang produk recycle; dan (2) Scan keterangan dari otoritas Negara asal panen atau Negara asal produk harus disertai.

Dapat diabaikan bila kolom H/J/K/L yang akan diisi. (1) Diisi nama skema sertifikasi, nomor, ruang lingkup sertifikasi dan masa berlaku sertifikat dari lembaga sertifikasi. Apabila yang akan diekspor ke Indonesia adalah kayu bulat maka sertifikasi yang digunakan adalah sertifikasi pemegang konsesi atau sertifikasi pemilik lahan; (2) Diisi keterangan tentang indikator yang digunakan skema tersebut terkait legalitas dan/atau kelestarian sumber bahan baku (dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa Inggris); dan

(3)

Scan sertifikasi harus disertai.

Contoh uraian dari sertifikat dari lembaga sertifikasi

   

adalah sebagai berikut:

Contoh uraian dari surat keterangan otoritas negara asal panen atau negara asal produk adalah sebagai berikut:

Industri X telah memiliki sertifikat COC dari Lembaga Sertifikasi “A” dengan nomor sertifikat A-COC- 830176. Ruang lingkup sertifikasi CoC adalah P2.4.1 Impregnated papers. Produk yang diimpor sesuai dengan ruang lingkup produk yang ada didalam sertifikat. Masa berlaku sertifikat adalah dari tanggal 18 Desember 2013 sampai 17 Desember 2018.

Industri X telah memiliki surat keterangan dari Kementerian Lingkungan, Pertanian dan Kehutanan nomor 001/MoAaF/2015 yang menyatakan seluruh bahan baku Pinus bersumber

dari Private Forest dan legal.

 

Analisa

Tidak diisi

Tidak diisi

Resiko

Catatan hasil

(1) Diisi metode atau langkah-langkah yang dilakukan dan data yang digunakan untuk melakukan verifikasi ruang lingkup surat keterangan otoritas dan validitas surat keterangan legalitas otoritas; dan (2) Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa surat keterangan

(1) Diisi metode atau langkah-langkah yang dilakukan dan data yang digunakan untuk melakukan verifikasi ruang lingkup sertifikat dan validitas sertifikat; (2) Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa sertifikat telah mencakup produk kayu yang akan diekspor ke Indonesia

mitigasi

 

otoritas negara telah mencakup produk kayu yang akan diekspor ke Indonesia dan valid.

dan valid.

Contoh catatan hasil mitigasi dari surat keterangan otoritas negara asal panen atau negara asal produk adalah sebagai berikut:

Contoh catatan hasil mitigasi sertifikat dari lembaga sertifikasi adalah sebagai berikut:

Validasi sertifikat CoC dari Industri X dapat dilihat pada website FSC.

Mitigasi yang dilakukan terhadap asal produsen adalah sebagai berikut (1) Melakukan verifikasi kebenaran fungsi dan tugas dari otoritas; (2) Memastikan bahwa surat tersebut benar dibuat dengan dilengkapi surat pernyataan dari industri X

Hasil Mitigasi

Tidak diisi

Tidak diisi

Lanjutan 5 Tabel 1. Data dan informasi terkait uji tuntas

 

Pedoman Khusus Negara

   

(CSG)

 

MRA

FLEGT License

(J)

 

(K)

(L)

Uraian

Dapat diabaikan bila kolom H/I/K/L yang akan diisi. (1) Diisi nama diisi dokumen khusus negara penerbit, nomor dan tanggal terbit serta masa berlaku; (2) Diisi keterangan tentang indikator yang digunakan CSG tersebut terkait legalitas dan kelestarian sumber bahan baku (dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa Inggris); dan (3) Scan dokumen CSG harus disertai. Sampai buku ini di cetak belum ada CSG yang diakui oleh Indonesia.

Dapat diabaikan bila kolom H/I/J/L yang akan diisi. (1) Diisi dokumen negara penerbit lisensi MRA, nomor dan tanggal terbit serta masa berlaku lisensi MRA; dan

Dapat diabaikan bila kolom H/I/J/K yang akan diisi. Diisi nama negara penerbit lisensi FLEGT dan masa berlaku

Voluntary Partnership Agreement

(VPA).

(2)

Diisi Keterangan tentang isi MRA yang menyebutkan pengakuan terhadap legalitas dan kelestarian sumber bahan baku yang akan diekspor ke Indonesia (dalam bahasa Indonesia atau Inggris).

Sampai buku ini di cetak belum ada MRA yang diakui oleh Indonesia.

Analisa

Tidak diisi

Tidak diisi

Tidak diisi

Resiko

     

Catatan hasil

(1) Diisi metode atau langkah- langkah yang dilakukan dan data yang digunakan untuk melakukan verifikasi ruang lingkup produk pada CSG; dan (2) Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa kepatuhan terhadap CSG mencakup produk kayu yang akan diekspor ke Indonesia dan valid.

Sampai buku ini di cetak belum

Diisi

hasil

catatan

mitigasi

Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa kepatuhan terhadap FLEGT License mencakup produk kayu yang akan diekspor ke Indonesia dan valid.

mitigasi

berdasarkan metode dan data yang

digunakan

sehingga

dapat

disimpulkan

bahwa

kepatuhan

terhadap MRA

mencakup produk

kayu

yang

akan

diekspor

ke

Indonesia dan valid.

Sampai buku ini di cetak belum ada MRA yang diakui oleh Indonesia.

 

ada

CSG

yang

diakui

oleh

Indonesia.

 

Hasil Mitigasi

Tidak diisi

 

Tidak diisi

 

Tidak diisi

Lanjutan 6 Tabel 1. Data dan informasi terkait uji tuntas

   

Kesesuaian Aturan *)

 

Negara ekspor

Negara panen

 

(M)

(N)

Uraian

Wajib diisi apabila bahan baku kayu/produk kayu dan turunannya yang akan diekspor ke Indonesia bukan merupakan kayu bulat atau log. (1) Diisi dengan nama dan nomor peraturan negara eksportir yang mengatur perdagangan kayu yang meliputi batasan/cakupan spesies dan/atau produk; dan (2) Diisi kesesuaian aturan negara eksportir dengan ketentuan sebagai berikut:

Diisi dengan „Sesuaiapabila produk yang diekspor tidak dilarang (produk dan spesies) dan sesuai dengan regulasi negara eksportir; atau

(a)

Wajib diisi apabila bahan baku kayu yang akan diekspor ke Indonesia berupa kayu bulat atau log. (1) Diisi dengan nama dan nomor peraturan negara panen yang mengatur perdagangan kayu dan atau pemanen hasil hutan.

(2) Diisi kesesuaian aturan negara eksportir dengan ketentuan sebagai berikut

a) Diisi dengan „Sesuaiapabila produk yang diekspor tidak dilarang (kayu bulat dan spesies) dan sesuai dengan regulasi negara asal penen; atau

b) Diisi dengan „Tidak Sesuai‟ apabila produk yang diekspor dilarang (kayu bulat dan spesies) dan sesuai dengan regulasi negara asal panen.

(b)

Diisi dengan „Tidak Sesuai‟ apabila produk yang diekspor dilarang (produk dan

 

spesies) dan sesuai dengan regulasi negara eksportir. Contoh uraian dari kesesuaian aturan negara ekspor adalah sebagai berikut:

 

Berdasarkan Peraturan Export Control List SOR/89- 202 Tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Ministry of Foreign Affairs, Trade and Development Canada Tidak ada larangan ekspor Pulp dan spesies Maple

Analisa

Tidak diisi

Tidak diisi

Resiko

Catatan hasil

Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa produk yang diekspor ke Indonesia telah mematuhi ketentuan negara eksportir. Contoh catatan hasil mitigasi resiko dari kesesuaian aturan negara ekspor adalah sebagai berikut:

Melakukan verifikasi terkait ketentuan asal ekspor terkait Tidak ada larangan ekspor log dan atau jenis kayu dan atau spesifikasi produk berdasarkan

Diisi hasil catatan mitigasi berdasarkan metode dan data yang digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa kayu bulat yang diekspor ke Indonesia telah mematuhi ketentuan negara asal panen.

mitigasi

 

peraturan yang diterbitkan oleh Canada

 

Hasil Mitigasi

Tidak diisi

Tidak diisi

5.

Penyampaian Data dan Informasi terkait Uji Tuntas (Due Diligence)

Setelah mengisi data dan informasi terkait uji tuntas, importir menyampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara online. Metode pengisian data dan informasi terkait uji tuntas adalah melakukan input data pada website bukan dengan cara upload.

Apabila terdapat pemasok baru bagi importir maka importir dapat mengajukan kembali data dan informasi terkait uji tuntas untuk pemasok tersebut, dengan demikian perubahan akan berlanjut pada tahapan-tahapan selanjutnya yaitu deklarasi impor dan rekomendasi impor. Kondisi yang menyebabkan harus menambahkan data dan informasi terkait uji tuntas adalah sebagai berikut:

1)

Apabila terdapat pemasok baru yang tidak termasuk dalam deklarasi impor dan

2)

uji tuntas belum pada saat pengajuan rekomendasi impor maka Pemegang Izin API-P atau API-U harus melakukan perbaikan rekomendasi impor. Apabila seluruh pemasok telah terdaftar namun pemegang API-P atau API-U

3)

melakukan impor yang berasal dari spesies baru dari suatu pemasok yang telah terdaftar dalam deklarasi impor maka pemegang API-P atau API-U harus melakukan perbaikan terhadap deklarasi impor dan uji kepatuhan pada pemasok tersebut. Sebagai contoh, Pemegang API-P melakukan impor pulp dari Canada dengan jenis spesies Oak, namun pada suatu waktu pemegang IP melakukan impor pulp dengan jenis spesies dominan baru berupa Pinus radiata maka Pemegang API-P tersebut harus memperbaiki rekomendasi impor sesuai deklarasi impor dan uji kepatuhan terbaru. Hal ini merujuk pada mekanisme pembuatan uji kepatuhan. Selain poin 2 dan 3, perbaikan rekomendasi impor dilakukan apabila terjadi perubahan informasi yang terdapat didalam deklarasi impor dan uji tuntas lainnya.

6.

Penelaahan Data dan Informasi Uji Tuntas

Setelah data dan informasi terkait uji tuntas diisi seluruhnya oleh pemegang izin API- P atau API-U dilakukan penelaahan oleh personil Kementerian Lingkungan Hidup dan

Kehutanan. Berdasarkan Pasal 3 ayat 2, Perdirjen PHPL Nomor 7/PHPL-SET/2015 lama pelaksanaan uji tuntas adalah selamat tujuh hari sejak diterimanya permohonan. Dalam melakukan penelaahan, penelaah memiliki prosedur dan parameter yang disesuiakan dengan pentunjuk teknis yang ada di Perdirjen PHPL Nomor 7/PHPL-SET/2015.

7. Hasil Uji Tuntas

Output penelaahan data dan informasi terkait uji tuntas adalah uji tuntas. Hasil uji tuntas belum tentu meluluskan seluruh data dan informasi yang diajukan, oleh

sebab itu ada kemungkinan tidak semua pemasok memperoleh uji tuntas, tidak semua produk yang diajukan menjadi uji tuntas dan tidak semua spesies yang diajukan dapat menjadi uji tuntas. Oleh sebab itu, importir harus mengisi sesuai petunjuk pengisian yang ada di Perdirjen PHPL Nomor 7/PHPL-SET/2015.

8. Persiapan Deklarasi Impor

Penyusunan deklarasi impor dilakukan setelah API-P atau API-U memperoleh hasil uji tuntas yang diperoleh melalui hak akses yang dimiliki. Proses penyusunan deklarasi impor dibuat, ditelaah dan diajukan oleh importir. Oleh sebab itu, isi dari deklarasi impor merupakan tanggung jawab dari importir. Deklarasi impor terdiri dari informasi identitas API-P dan API-U, rencana dan realiasasi impor pada tahun sebelumnya untuk setiap produk serta hasil uji tuntas dari seluruh supplier.

Deklarasi Impor Pemegang Izin API-P Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membuat deklarasi impor adalah sebagai berikut:

(1) Isi informasi identitas API-P sesuai informasi 1. Nama Importir : Diisi nama perusahaan importir. Nama importir disesuiakan dengan akta, API-P, izin industri dan NPWP.

Alamat Kantor : Diisi alamat perusahaan importir seuai dengan alamat, telepon dan fax yang tertera di dalam API-P. Alamat email diisi alamat email perusahaan atau alamat email

2.

dari personal yang bertanggung jawab didalam kegiatan

ekspor-impor

3.

Alamat Pabrik Diisi alamat perusahaan importir seuai dengan alamat, telepon dan fax yang tertera di dalam izin industri (IUIPHHK/IUI/TDI)

4.

Nomor IUIPHHK/IUI/TDI*)

:

Diisi nomor izin pertama dan perubahan terakhir.

 

5.

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

 

:

Diisi nomor NPWP milik importir

 

6.

Nomor API-P

:

Diisi nomor API-P terakhir yang dimiliki oleh importir

 

7.

Nomor Induk Kepabeanan (NIK)

:

Diisi NIK dari Importir

 

8.

Nomor S-LK (bagi yang wajib S-LK)

:

Bagi industri yang mengahasilkan produk kehutanan sebagaimana yang tercantum pada Permendag

 

Ketentuan Ekspor Produk Kehutanan maka wajib mencantumkan nomor S-LK beserta masa berlakunya. Pastikan juga bahwa produk yang akan didaftarkan pada poin 9 telah termasuk pada ruang lingkup S-LK.

9.

Kapasitas Izin Produksi dan Pos Tarif yang diproduksi berdasarkan izin

 
 

Kelompok

 

Kapasitas Izin

 

Uraian Produk

HS Code (10 digit)

Realisasi Produksi

No

Produk

Produksi

Tahun

sesuai Izin

(m

3 /set/pcs/roll/btg

 

Sebelumnya

 
 

)

 

1

Diisi produk

 

Diisi uraian barang

Diisi 10 kode HS dari setiap produk yang dihasilkan berdasarkan izin. Satu produk dapat lebih dari satu HS apabila perbedaan

Diisi kapasitas

Realisasi produksi

2

sesuai izin

yang dihasilkan

produksi per

diisi

realiasi

oleh

importir

produk

produksi

per

3

 

berdasarkan izin

berdasarkan izin

produk

pada

terakhir

tahun sebelumnya dengan periode 1

HS

nya

januari

s/d

31

disebabkan karena

Desember

ukuran

10.

Tanggal Pelaksanaan Uji Tuntas

 

:

Diisi

tanggal

pelaksanaan

uji

tuntas

mulai

dari

 

persiapan sampai dengan hasil uji

tuntas selasai

11. Nama Pelabuhan

Bongkar

12. Informasi hasil Uji

Tuntas/Due Diligence

dilaksanakan termasuk jika ada proses QC atau review

: Diisi nama pelabuhan bongkar pertama kali di

Indonesia, lengkap dengan propinsi.

: Diisi nama supplier dan nomor supplier, informasi ini

diisi berdasarkan sistem.

(2)

Isi tabel informasi bahan baku impor

No.

 

Bahan baku

Uraian barang

Pos tarif (10 digit)

(A)

(B)

(C)

1

Diisi dengan daftar produk

 

2

kehutanan yang akan diimpor. Diisi

Diisi kode HS dari barang-barang yang akan diimpor.

3

daftar produk kehutanan yang

4

terdapat pada Lampiran Permendag

5

tentang Ketentuan Impor.

 

dst

   

Jumlah (ton)

 

Jenis (species)

Nama dagang

Nama ilmiah

(D)

(E)

Diisi nama dagang dari spesies bahan baku tersebut. Setiap produk pada Kolom B harus didefinisikan spesies dari bahan bakunya. Jika satu produk pada berasal lebih dari tiga spesies. Sebagai contoh impor kertas yang terdiri dari 10 Spesies, maka cukup diisi 3 spesies dominan. Dengan demikian kolom ini akan diisi maksimal tiga spesies untuk satu produk yang akan diimpor. Penulisan tiga spesies dilakukan dengan memberikan tanda koma (,). Sebagai contoh suatu produk kertas diimpor dengan bahan baku dominan Oak, Beech dan Basswod.

Diisi nama ilmiah setiap spesies bahan baku. Sama seperti nama dagang, apabila lebih dari satu spesies maka dituliskan menggunakan koma (,) dan berurutan sesuai dengan urutan yang dituliskan pada nama dagang Querqus

rubra, Fagus grandifolia, Tilia americana

[jati]

[Tectona grandis]

[Jati]

[Tectona grandis]

[Jati]

[Tectona grandis] [Switenia macrophyla) [Dalbergia latifolia]

[Mahoni]

[Sonokeling]

 
 

Tahun Sebelumnya

 

Rencana Pemenuhan BB Impor

Realisasi Impor

 

(F1)

(F2)

(G1)

 

(G2)

ton

***

ton

***

Diisi rencana pemenuhan bahan baku per produk dalam ton

Diisi rencana pemenuhan bahan baku per produk dalam satuan selain ton seperti

Diisi realisasi pemenuhan bahan baku per produk dalam ton untuk periode Januari-Desember tahun sebelumnya

Diisi

realisasi

pemenuhan

bahan

baku

per

produk

dalam

ton

untuk

 

periode

Januari-

m3/set/pcs/rol/btg)

Desember

tahun

sebelumnya

dalam

satuan

lain

selain

 

ton

seperti

m3/set/pcs/roll/btg)

[500]

 

[400]

 

“Pada pengajuan pertama, kolom F1,F2,G1,G2 tidak perlu diisi”

 

Penggunaan Impor

 

Stok Impor

(H1)

(H2)

 

(I1)

(I2)

ton*

**

ton*

**

Diisi penggunaan realisasi impor per produk pada periode Januari-Desember tahun sebelumnya dalam satuan ton

Diisi penggunaan realisasi impor per produk pada periode Januari-Desember tahun sebelumnya selain satuan ton seperti

m3/set/pcs/rol/btg)

Diisi

sisa stok

Diisi sisa stok impor per produk per 31 Desember tahun sebelumnya selain satuan ton seperti

m3/set/pcs/rol/btg)

impor per produk per 31 Desember tahun sebelumnya dalam satuan ton. Rumus perhitungan stok impor diperoleh

   
 

dari

Realisasi

Impor

(G1)-

Penggunaan Impor

(H1)

[300]

   

[100]

 

“Pada pengajuan pertama, kolom H1,H2,I1,I2 tidak perlu diisi”

Tahun berjalan

Rencana Pemenuhan BB Impor*)

Keterangan

(J1)

(J2)

(K)

ton

***

 

Diisi rencana impor setiap produk pada tahun berjalan dalam satuan ton

Diisi rencana impor setiap produk pada tahun berjalan dalam satuan ton

Keterangan dapat diisi dengan informasi lainnya yang menerangkan informasi lain terkait produk

[600]

   

Deklarasi Impor Pemegang Izin API-U

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membuat deklarasi impor adalah

sebagai berikut:

(1)

Isi informasi identitas IT sesuai informasi

1.

Nama Importir : Diisi nama perusahaan importir. Nama importir

 

disesuiakan dengan akta, IT, izin industri dan

NPWP.

2.

Alamat Kantor : Diisi alamat perusahaan importir seuai dengan

 

alamat, telepon dan fax yang tertera di dalam

IT. Alamat email diisi alamat email perusahaan

atau alamat email dari personal yang

bertanggung jawab didalam kegiatan ekspor-

impor

3.

Alamat Gudang Diisi alamat gudang importir sesuai dengan

 

kondisi lapangan dan izin yang meliputi

alamat, telepon dan fax yang tertera di dalam

izin industri (IUIPHHK/IUI/TDI)

4.

NomorTPT/Bukti

: Diisi nomor izin pertama dan perubahan

Penguasaan Gudang

terakhir atau bukti penguasaan gudang.

(TDG/IMB)

5.

Nomor Pokok Wajib

:

Diisi nomor NPWP milik importir

Pajak (NPWP)

6.

Nomor API-U : Diisi nomor API-U terakhir yang dimiliki oleh

importir dan bagian produk II / IX / X / XX /

XXI*) yang tercantum pada APIU

7. Nomor IT Produk

Kehutanan

8. Nomor Induk

Kepabeanan (NIK)

9. Nomor S-LK (bagi

yang wajib S-LK)

10. Tanggal Pelaksanaan

Uji Tuntas

11. Nama Pelabuhan

Bongkar

: Diisi Nomor IT Produk Kehutana dari Importir

: Diisi NIK dari Importir

: Bagi pemilik IT yang memiliki izin TPT maka

kolom ini wajib diisi dengan nomor SLK milik

IT.

: Diisi tanggal pelaksanaan uji tuntas mulai dari

persiapan sampai dengan hasil uji tuntas

selasai dilaksanakan termasuk jika ada proses

QC atau review

: Diisi nama pelabuhan bongkar pertama kali di

Indonesia, lengkap dengan propinsi.

12.

Informasi hasil Uji

: Diisi nama supplier dan nomor supplier,

Tuntas/Due Diligence

informasi ini diisi berdasarkan sistem.

(2)

Isi tabel informasi barang impor impor

 

No.

 

Bahan baku

Uraian barang

Pos tarif (10 digit)

(A)

(B)

(C)

1

Diisi dengan daftar produk

 

2

kehutanan yang akan diimpor.

3

Diisi daftar produk kehutanan

Diisi kode HS dari barang-barang yang akan diimpor.

4

yang terdapat pada Lampiran Permendag tentang Ketentuan Impor.

5

 

dst

   

Jumlah (ton)

   

Jenis (species)

 

Nama dagang

 

Nama ilmiah

(D)

 

(E)

Diisi nama dagang dari spesies bahan baku tersebut. Setiap produk pada Kolom B harus didefinisikan spesies dari bahan bakunya. Jika satu produk pada berasal lebih dari tiga spesies. Sebagai contoh impor kertas yang terdiri dari 10 Spesies, maka cukup diisi 3 spesies dominan. Dengan demikian kolom ini akan diisi maksimal tiga spesies untuk satu produk yang akan diimpor. Penulisan tiga spesies dilakukan dengan memberikan tanda koma (,). Sebagai contoh suatu produk kertas diimpor dengan bahan baku dominan Oak, Beech dan Basswod.

Diisi

nama

ilmiah

setiap

spesies

bahan

baku.Sama

seperti

nama

dagang,

apabila

lebih

dari

satu

spesies

maka

dituliskan

menggunakan

koma

(,)

dan

berurutan

sesuai

dengan

urutan

yang dituliskan pada nama dagang

Querqus rubra, Fagus grandifolia, Tilia americana

[jati]

[Tectona grandis]

 

[Jati]

[Tectona grandis]

 

[Jati]

[Tectona grandis] [Switenia macrophyla) [Dalbergia latifolia]

 

[Mahoni]

[Sonokeling]

 
 

Tahun Sebelumnya

 

Rencana Pemenuhan BB Impor

Realisasi Impor

(F1)

(F2)

(G1)

 

(G2)

ton

***

ton

***

Diisi rencana pemenuhan bahan baku per produk dalam ton

Diisi rencana pemenuhan bahan baku per produk dalam

Diisi realisasi

Diisi

realisasi

pemenuhan

pemenuhan bahan

bahan baku

baku

per produk

per produk

dalam

ton untuk

 

satuan selain ton seperti

dalam ton

periode Januari-

untuk periode

Desember

tahun

m3/set/pcs/rol/bt

Januari-

sebelumnya dalam

g)

Desember

satuan lain selain

tahun

ton

seperti

sebelumnya

m3/set/pcs/roll/btg

)

[500]

 

[400]

 

“Pada pengajuan pertama, kolom F1,F2,G1,G2 tidak perlu diisi”

Penggunaan Impor

Stok Impor

(H1)

(H2)

(I1)

(I2)

ton*

**

ton*

**

Diisi penggunaan realisasi impor per produk pada periode Januari-Desember tahun sebelumnya dalam satuan ton

Diisi penggunaan realisasi impor per produk pada periode Januari- Desember tahun

Diisi sisa stok impor per produk per 31 Desember tahun sebelumnya dalam satuan ton. Rumus

Diisi sisa stok impor per produk per 31 Desember tahun sebelumnya selain satuan ton seperti

sebelumnya selain satuan ton seperti

m3/set/pcs/rol/btg)

 

m3/set/pcs/rol/bt

g)

perhitungan stok impor diperoleh dari Realisasi Impor (G1)- Penggunaan Impor (H1)

[300]

 

[100]

 

“Pada pengajuan pertama, kolom H1,H2,I1,I2 tidak perlu diisi”

Tahun berjalan

 

Rencana Pemenuhan BB Impor*)

Keterangan

(J1)

(J2)

(K)

ton

***

Diisi rencana impor setiap produk pada tahun berjalan dalam satuan ton

Diisi rencana impor setiap produk pada tahun berjalan dalam satuan ton

Keterangan dapat diisi dengan informasi lainnya yang menerangkan informasi lain terkait produk

[600]

   

9. Rekomendasi Impor

Penerbitan rekomendasi impor oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

didasarkan pada deklarasi impor sesuai Pasal 12 ayat 1 Perdirjen PHPL Nomor

7/PHPL-SET/2015 Penerbitan Rekomendasi Impor didasarkan pada Deklarasi Impor

dan hasil uji tuntas Produk Kehutanan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa

deklarasi impor adalah kunci untuk mendapatkan rekomendasi impor sehingga perlu diperhatikan kebenaran isinya. Rekomendasi impor akan dikeluarkan paling lambat 3 hari setelah pengajuan permohonan rekomendasi impor. Setelah importir memperoleh rekomendasi impor maka selanjutnya importir mengajukan permohonan sebagai IP kepada Kementerian Perdagangan.

DEKLARASI KESESUAIAN PEMASOK (DKP)

Penggunaan Deklarasi Kesesuaian Pemasok (DKP) dalam proses impor produk kehutanan tertuang didalam Pasal 6 ayat 11 Perdirjen PHPL Nomor 7/VI-SET/2015, yaitu: Importir Pemilik API-P atau Importir sebagai IT wajib menerbitkan DKP

terhadap barang yang diimpornya. DKP dibuat untuk setiap barang yang masuk dan dibuat ketika barang akan masuk kedalam industri untuk IP dan gudang untuk IT. DKP dibuat oleh importir untuk setiap kali impor dan rekamannya wajib dijaga minimal 1 (satu) tahun. DKP sendiri tidak dilampirkan pada saat pengajuan rekomendasi impor tetapi menjadi rekaman importir. Apabila importir wajib memiliki S-LK maka menjadi salah satu verifier yang di verifikasi, sedangkan bagi yang tidak wajib maka hanya akan menjadi rekaman. Informasi DKP yang ada didalam DKP dapat menggunakan informasi yang terdapat didalam uji tuntas dan deklarasi impor. Tahapan pembuatan DKP adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan informasi produk kehutanan yang diimpor. Informasi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

a. Nama jenis kayu/produk kayu (nama latin dan nama perdagangan)

b. Uraian barang dan HS Code (4 digit)

c. Jumlah barang (keping/m3/kg/batang/kemasan)

d. Waktu tiba di Indonesia (Tgl/bln/thn)

e. Dokumen Impor (Nomor Bill of Lading (B/L), Nomor Invoice, Nilai Invoice,

Nomor Packing List)

f. Penerima dan alamat penerima kayu dan/atau produk kayu

g. Nomor dan tanggal Nota Angkutan

h. Asal usul Kayu dan Produk Kayu yang dideklarasikan:

1)

2) Sertifikat negara panen (jenis product claim, nomor sertifikat, nama penerbit, masa berlaku sertifikat) bila ada.

Negara panen.

3)

Eksportir (nama, alamat, negara).

4)

Pelabuhan ekspor.

2. Pengisian form deklarasi kesesuaian pemasok dilakukan pada form seperti pada

Gambar 9.

Gambar 9. Form Deklarasi Kesesuaian Pemasok 56

Gambar 9. Form Deklarasi Kesesuaian Pemasok

BEBERAPA KETENTUAN EKSPOR PRODUK KEHUTANAN DI BEBERAPA NEGARA

Pemahaman mengenai beberapa regulasi ekspor produk kehutanan di beberapa negara dibutuhkan untuk melakukan uji tuntas, dengan mengetahui peraturan tersebut maka importir dapat melakukan justifikasi apakah barang yang diimpor

sesuai dengan aturan di negara asal atau tidak. Beberapa informasi yang perlu diketahui dari aturan ekspor produk kehutanan di negara eksportir adalah sebagai berikut:

a. Aturan di negara pengekspor yang berisikan daftar produk yang dilarang untuk diekspor;

b. Aturan di negara pengekspor mengenai pemberlakuan proses tambahan terhadap produk yang akan di ekspor;

c. Aturan di negara pengekspor yang berisikan daftar spesies yang dilarang untuk diekspor;

Aturan disetiap negara tentunya berbeda satu dengan yang lain. Pada bab ini akan dijelaskan beberapa aturan dibeberapa negara.

Filipina • Larangan ekspor rotan , spesies mangrove dan Canada bantalan • Larangan kereta api
Filipina
• Larangan
ekspor
rotan ,
spesies
mangrove dan
Canada
bantalan
• Larangan
kereta api
ekspor
untuk
softlumber
product
USA
• Kayu
bulat
Cambodia
dari
negara
• 6 H S produk
bagian Alaska
kayu
dilarang
dilarang
di
ekspor
ekspor
India
• 17 H S produk
kayu
dilarang
ekspor
Peru
Australia
• Kayu
dari
Brazil
• Izin dari DAFF
hutan
alam
• Larangan
untuk
ekspor
dilarang untuk
ekspor mahoni
lebih
dari
2
di ekspor
• Virola sp dan
ton ;
untuk
Ocoteaporosa
woodchips,
perlu
surat
log,
dari IBAMA

Gambar 7. Peraturan Ekspor Produk Kehutanan di Beberapa Negara

1.

Amerika Serikat

1.1 Peraturan Ekspor di Amerika Serikat

Seluruh Ekspor produk di Amerika Serikat harus mendapatkan persetujuan dari U.S. Department of State Directorate of Defense Trade Controls (DDTC). Persetujuan dapat diperoleh apabila eksporter telah memenuhi persyaratan dari Departemen teknis dan untuk produk kayu berada dibawah Departement of Agriculture (USDA). Departement of Agriculture

memiliki Badan Animal and Plant Health Inspection Service (APHIS) yang bertugas untuk

memfasilitasi proses perdagangan yang legal, memonitor pergerakan material yang berisiko, melindungi dan mengindetifikasi hama, mengatur impor dan ekspor tanaman, dan membantu eksportir memenuhi persyaratan masuk dari negara lain.

Berdasarkan Export Program Manual yang diterbitkan oleh United State Departement of Agriculture (USDA) yang diterbitkan pada Bulan Maret 2010 pada Bab 4 dijelaskan bahwa untuk produk kayu (lumber) wajib dilaksanakan inspeksi sebelum memasuki container oleh Authorized Certification Officials (ACOs) sehingga setiap produk lumber akan memiliki hasil inspeksi tersebut.

1.2 Produk dan spesies yang dilarang Ekspor

Peraturan mengenai legalitas produk hasil hutan mengikuti aturan Lacey Act yang berlaku untuk ekspor dan impor. Aturan didalam Lacey Act sendiri melarang melakukan ekspor dari kayu illegal, yang meliputi:

1. Kayu yang diambil dari kawasan lindung atau kawasan yang dilarang oleh pemerintah, termasuk taman nasional atau suaka margasatwa;

2. Kayu diambil dari hutan di mana penebangan dilakukan secara legal tetapi disahkan oleh otorisasi yang tidak tepat;

3. Kayu yang dipanen tanpa membayar semua pajak yang diperlukan serta biaya mengenai pemanenan, pengangkutan dan penjualan kayu;

4. Produk hutan yang dikirim melanggar peraturan ekspor (misalnya, larangan ekspor kayu).

5. Hasil hutan curian.

Peraturan mengenai larangan spesies untuk di ekspor, Amerika Serikat mengikuti aturan dari CITES. Sedangkan untuk larangan penebangan, terdapat beberapa aturan mengenai larangan penebangan di Amerika Serikat, yaitu:

1)

Berdasarkan Undang-undang federal AmerikaSerikat melarang ekspor kayu (log) dari

seluruh tanah publik (Negara dan Federal) di daratan barat bujur 100

berdasarkan

2)

peraturan Forest Resources Conservation and Shortage Relief Amendment Act of 1993. Alaska tidak diperbolehkan untuk mengirim kayu dalam bentuk log yang berasal dari tanah publik diluar batas kekuasaannya berdasarkan Undang-Undang Organic Act 1927

1.3

Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di

Amerika Serikat adalah sebagai berikut:

1.

Export Program Manual United State Departement of Agriculture (USDA), March 2010

2.

USA forest products legalty legislation and FSC

3.

2.

Canada

2.1

Peraturan Ekspor di Canada

Ketentuan ekspor di Canada secara umum diatur dalam Customs Act yang dipublikasikan

oleh Ministry of Justice Canada pada tahun 1986 .

2.2 Produk dan spesies yang dilarang Ekspor

Dalam menentukan spesies yang dilarang ekspor, Canada mengacu pada dua peraturan yaitu aturan CITES dan Canadian Species at Risk Act. Secara umum tidak ada jenis pohon komersil Canada tercantum dalam lampiran CITES atau yang tercantum di Canadian Species at Risk Act. Terkait produk yang dilarang, didalam Custom Act tidak disampaikan produk kehutanan yang dilarang, namun negara bagian dapat menerapkan aturan-aturan tertentu terhadap produk kehutanan yang dihasilkan seperti Pemerintah Negara Bagian dari British Columbia yang menerapakn aturan untuk semua ekspor log dari British Columbia harus memperoleh izin export setelah memenuhi aturan yang dipersyaratkan.

2.3 Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di Canada adalah sebagai berikut:

(1)

Custom

act

yang

dapat

diunduh

pada

 

(2)

Country specific guidelines Canada pada skema ILPA Australia yang dapat diunduh pada

(3)

3.

China

3.1

Peraturan Ekspor di China

 

Jenis-jenis produk ekspor dari China dapat dilihat pada List Of Articles Prohibited From

Import AndExport By Customs Of The People's Republic Of China yang dikeluarkan oleh

General Customs Administration yang dikeluarkan pada tanggal 1 Januari 1982.

3.2 Produk yang dilarang Ekspor

Tidak ada produk kehutanan yang dilarang untuk diekspor di China

3.3 Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di

China adalah List Of Articles Prohibited From Import AndExport By Customs Of The People's

Republic Of China yang dikeluarkan oleh General Customs Administration yang dapat diunduh di http://www.opbw.org/nat_imp/leg_reg/China/export_control_list.pdf

4.

Australia

4.1

Peraturan Ekspor di Australia

Peraturan ekspor produk kehutanan di Australia diatur dalam Export Control Volume 12 yang di keluarkan oleh Australian Custom and Border Protection Service. Berdasarkan peraturan tersebut bagi produk tertentu yang akan diekspor lebih dari 2 ton wajib memiliki izin dari

Department of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF). Barang-barang tersebut adalah:

1. Woodchips

2. Kayubulat yang harus diproses setelah ekpor

3. Kayu degan luas penampang (cross sectional area) 225 cm 2 yang harus di proses setelah ekspor

4. Sandalwood yang bersumberdari Queensland dan Australia barat

Bahan bersumber dari sebelas wilayah yang dicakup oleh Regional Forest Agreement (RFA) dibebaskan dari kewajiban lisensi ekspor.

4.2 Produk yang dilarang Ekspor

Produk yang dilarang untuk diekspor di Australia adalah Woodchips yang kayunya bersumber dari hutan asli di luar daerah RFA.

4.3 Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di Australia adalah Peraturan ekspor produk kehutanan di Australia diatur dalam Export Control Volume 12

5.

Malaysia

5.1

Peraturan Ekspor di Malaysia

Aturan ekspor di Malaysia diatur berdasarkan Peraturan Akta Perdagangan Strategik 2010 telah diwartakan pada 10 Jun 2010 dan akta beacukai Malaysia 1967 (akta 235). Pihak yang

berwenang melakukan memproses permohonan peraturan seperti yang tercatat dalam Perintah Perdagangan Strategik (Barang Strategik) 2010 adalah seperti berikut:

1. Kementerian Perdagangan Antarabangsa dan Industri

2. Lembaga Perlesenan Tenaga Atom

3. Suruhanjaya Komunikasi dan Multimedia Malaysia (Malaysian Multimedia and

Communications Commission)

4. Pharmaceutical Services Division, Ministry of Health

Pihak yang akan melakukan eksport yang termasuk dalam bagian 1 dan 2 Akta Perdagangan Strategik 2010 adalah wajib memperolehi izin di bawah Akta ini. Disamping itu, izin khusus harus dimiliki untuk barang strategik jika ke negara tujuan tercantum di bagian 3 Jadual Pertama Perintah Perdagangan Strategik 2010. Selain itu eksportir wajib mengisi Borang Kastam No. 22.

5.2 Produk yang dilarang Ekspor

Sejak tahun 1992 sampai hari ini Malaysia menetapkan kuota eksporbagikayu bulat dari Sabah dan Sarawak (40 persen dari total volume panen dapat diekspor), serta adanya larangan ekspor bagi kayu bulat yang berasar Semenanjung Malaysia.

Berdasarkan akta bea cukai Malaysia 1967 (akta 235) mengenai larangan ekpor 2012 yang di publikasi oleh Attorney General's Chambers of Malaysia berikut adalah produk kehutanan yang dilarang untuk di ekpor kecuali dengan adanya ijin ekspor dari Malaysian Timber Industry Board:

1)

Bambu (Kode HS 1401.10 000)

2)

Rotan (HS 1401.20)

3)

kayu chip atau partikel (HS 4401.21 dan 4401.22)

4)

Kayuarang (HS 4402.90 000)

5)

Kayubulat (HS 4403)

6)

Hopwood (HS 4404)

7)

Wol kayu atau tepungkayu (HS 4405)

8)

Rail ways atau trem ways sleeper (HS 4406)

9)

Kayu gergajian (HS 4407)

10)

Lembaran veneer (HS 4408)

11)

Papan partikel (HS 4410)

12)

Plywood (HS 4412)

13)

Kayu yang di padatkan (HS 4413. 00 000)

5.3

Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di

Malaysia adalah sebagai berikut:

1)

Akta Perdagangan Strategik 2010 telah diwartakan pada 10 Jun 2010

2)

Akta Beacukai Malaysia 1967 (akta 235)

 

f

6.

India

6.1

Ketentuan Ekspor di India

Ketentuan ekspor di India mengacu kepada ITC (HS) 2012 Schedule 2 Export Policy yang berisikan mengenai catatan umum kebijakan ekspor yang di muat di situs Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri India.

6.2 Produk dan Spesies yang dilarang Ekspor

Berdasarkan ketentuan ITC (HS) 2012 Schedule 2 Export Policy, produk kehutanan dan

spesies yang dilarang untuk di ekspor adalah sebagai berikut:

1) Kayu dan produk kayudalam bentuk log, kayu, tunggul, akar, kulit kayu, chip, bubuk, serpih, debu, dan arangselainkayusaiondibuat khususdariimporlog/kayu (HS 44011000, 44012100, 44013000). 2) Kayu bakar, berbentuk log,billet, ranting,ikatan cabangatau dalambentuk semacam itu;Kayudalam chipatau partikel; Serbuk gergaji danlimbah kayudanskrap, diaglomerasi maupun tidakdilog, briket, pelet atau bentuk serupa (HS 44011010, 44011090).

3)

4) Kayu gergajian atau terkelupas memanjang, diiris atau dikuliti, direncanakan maupun tidak direncanakan, diampelas atau disambung, atau ketebalan melebihi 6mm selain

kayu gergajian yang dibuat secara eksklusif dari imporlog/kayu (44071010, 44071020, 44071090, 44072910, 44072990, 44079910, 44079920, 44079990). 5) Cendana dalam bentuk apapun, tetapi tidak termasuk produk kerajinan cendana yang sudah jadi, mesin produk jadicendana, minyak cendana (HS 12119050, 44039922).

Kayu arang, diaglomerasi maupun tidak (HS 4402 0010, 44020090 ).

6.3 Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di

India

adalah

dapat

dilihat

pada

link

7.

Filipina

7.1

Ketentuan Ekspor di Filipina

Biro pengelolaan hutan di Filipina yang biasa disebut Forest Management Bureau (FMB) telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang mengatur larangan untuk ekspor produk kehutanan. Kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:

1) R. A. No. 7161"An Act incorporating certain sections of the National Internal Revenue Code of 1977, as amended, to Presidential decree No. 705, as amended, other-wise

known as the "Re-vised Forestry Code of the Philippines", and providing amendments thereto by increasing the forest charges on timber and other products." Section 4. (October 10, 1991). Revised Rules and Regulations Implementing P. D. No. 930

3) Executive Order (E.O.) No. 23 “Moratorium on the cutting and harvesting of Timber in

2)

the natural and residual forests” (1 February 2011) P.D. No. 705 "Forestry Reform Code of the Philippines" (May 19, 1975)

4)

5) DENR Administrative Order No. 1988-34 "Guidelines on Certificate of Timber Origin (CTO)" (May 16, 1988).

7.2 Produk dan spesies yang dilarang Ekspor

Produk kehutanan yang dilarang untuk di Ekspor dari Filipina adalah Mangrove"Bakawan"; Monkeypod"Acacia"; Rotan mentah termasuk tiang; Kayu bulat, tiang dan tumpukan termasuk log inti dan flitches/penghubung kereta api yang dihasilkan dari pohonyang tumbuh secara alami baik dari lahan hutan maupun lahan pribadi. Kayu bulat yang ditanam di hutantanaman diperbolehkan untuk di ekspor.

7.3 Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di

Filipina

dapat

dilihat

pada

link

sebagai

berikut

8.

Vietnam

8.1

Ketentuan Ekspor di Vietnam

Peraturan di Vietnam yang mengatur tentang barang yang dilarang untuk di ekspor dan impor di atur pada regulasi Keputusan No. 187/2013 / ND-CP berlaku pada tanggal 20 Februari 2014,. Peraturan tersebut menggantikan Keputusan Pemerintah Nomor 12/2006 / ND-CP tanggal 23 Januari 2006 yang merinci pelaksanaan Hukum komersial sehubungan dengan pembelian internasional dan penjualan barang; dan kegiatan agen untuk jual beli, pengolahan dan transit barang dengan pihak asing.

8.2 Produk dan Spesies yang dilarang Ekspor

Produk kehutanan yang dilarang untuk di Ekspor dari Vietnam adalah produk kayu bulat dan kayu gergajian yang dihasilkan dari hutan alam dalam negeri.

8.3 Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di Vietnam dapat dilihat pada link berikut: http://vietlaw4u.com/vietnam-prohibited-goods- export-import/

9.

Finlandia

9.1

Ketentuan Ekspor di Finlandia

Ketentuan ekspor produk kehutanan di Finlandia mengacu kepada European Timber Regulation (EUTR) Nomor 995 tahun 2010. Legalitas kayu asal Finlandia dibuktikan dengan sistem kontrol yang ditetapkan dalam Forest Act. EUTR telah diterapkan untuk setiap negara Uni Eropa, termasuk Finlandia, sejak 3 Maret 2013. Pihak yang berwenang dari EUTR di Finlandia adalah Rural Agency, Maaseutuvirasto. Sistem kontrol yang digunakan di Finlandia

adalah Forest Use Declaration dan Certificate of Measurement on Delivery. Kedua dokumen tersebut merupakan sistem due diligence dari operator dan Dokumen-dokumen ini harus

disimpan

setidaknya

selama

lima

tahun.

9.2 Produk dan Spesies yang dilarang di Finlandia

Tidak ada jenis produk kehutanan yang dilarang di Finlandia, sedangkan untuk spesies yang dilarang mengikuti ketentuan yang berada di CITES.

9.3 Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di Finlandia dapat dilihat pada link sebagai berikut:

2)

F

10.

New Zealand

10.1Ketentuan Ekspor di New Zealand Ketentuan ekspor di New Zealand diatur didalam Customs and Excise Tahun 1999. Peraturan ekspor tersebut mengatur tentang tata cara proses ekspor dan impor serta kewenangan dari Bea Cukai.

10.2Produk dan Spesies yang dilarang di New Zealand Berdasarkan peraturan Forest Act 1949, terdapat beberapa ketentuan atau larangan yang diterapkan pada produk kehutanan. Berdasarkan peraturan tersebut dilaran ekspor kayu yang berasal dari hutan adat di New Zealand, selain itu dilakukan kontrol terhadap spesies asli New Zealand pada kayu bulat, kayu gergajian, furniture dan wood chips.

10.3Literatur yang digunakan Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di New Zealand dapat dilihat pada link sebagai berikut:

11.1 Ketentuan Ekspor di Thailand Ketentuan ekspor di Thailand mengacu pada aturan nomor CUSTOMS ACT, B.E. 2469 tahun

1926 yang telah diamandemen pada tahun 2006.

11.2 Produk dan Spesies yang dilarang di New Zealand

Berdasarkan larangan umum dan pembatasan impor dan ekspor yang merujuk pada article Articles 27 and 27 bis of the Customs Act B.E. 2469 yang dimuat pada situs Bea Cukai Thailand, tidak ada produk kehutanan yang tercantum di daftar barang yang dilarang untuk

di ekspor. Sedangkan untuk spesies tidak ada larangan kecuali species yang terdaftarpada

CITES.

11.3

Literatur yang digunakan

Literatur yang digunakan untuk menganalisa peraturan terkait ekspor produk kehutanan di

Finladia dapat dilihat pada link sebagai berikut:

2)

Selain informasi dari 10 negara tersebut, terdapat rekapitulasi daftar ekspor produk

kehutanan yang dilarang termasuk kayu bulat pada yang dikeluarkan oleh Forest Legality

Alliance pada tahun 2012. Secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3.

Lampiran 1 Form Due Diligience yang diisi oleh exporter dan menjadi data dasar bagi importir di Indonesia untuk penyusunan Data dan Informasi terkait Uji Tuntas

DATA AND INFORMATIAON OF DUE DILIGIENCE

1

Exporter Name

:

Address

:

City

 

Phone

Fax

Email

 

Exporter Legality/Exporter license

:

Country of Export

:

2

Manufacturer Name

:

Address

:

City

 

Phone

Fax

Email

 

Legality of Manufacturer

:

Country of Manufacturer

:

3

Loading Port Name and Country of

: (1)

Loading Port (Origin)

(2) ………………………………………

 

Table of Due Diligience

 

Goods

Species of Raw Material

Origin of Harvest

Letter of

       

Compliance of

Recommenda

FLEGT

Regulation

           

tion from

Certificat

Country

License

   

authority

e from

Specific

Mutual

Trade name and scientific name

Provinc

Concession or Private of Forest

country of

Certificati

Guidlines

recogna

Goods

HS Code

Country

e/distri

harvest or

on

tion

Country

Country of

No.

description

(10 digits)

 

of Origin

ct of

origin

Institutio

Agreem

of Export

harvest

Origin

country of

n

ent

 

the product

(A)

(B)

(C)

(D)

(E)

(F)

(G)

(H)

(I)

(J)

(K)

(L)

(M)

(N)

Guidance Due Diligence filling

Column A (Number) = filled the serial number from the number 1 (one)

Column B (Product discription) = filled the description name war material wood / wood products and derivatives that to be imported

Column C (HS Code) = filled HS Code raw material wood / wood products and derivatives that to be imported.

Column D ( Trade and scientific Name) = filled category (species) trade name and scientific namae raw material wood/ wood products and derivatives that to be imported. If the composite product called 3 (three) types dominan.

Column E (Country of origin harvest) = filled country of origin harvest (raw material wood / wood products and derivatives to be imported

Column F (Province or District of origin harvest)= This colomn only for log. filled area of origin harvest (state / province) raw material wood / wood products and derivatives to be imported

Column G (Consessionaire/Owner) = This colomn only for log. filled concession concessionaire‟s name / owner of origin harvest of raw materials to be imported and filled number and expiry date as well as the legality of the concession certificate issuer / owner of the origin if raw materials (if applicable, attach the scan results)

Column H (letter of authority of the country of origin or country of origin product harvest) = filled number and date of letter of authority of the country of origin harvest, and also be added to the country of origin product (attach scan results). For a composite product is filled with country of origin product. Required if column I/J/K/L can not be filled.

Column I (certificate of the certification body) = filled certification scheme name, number, and a valid certificate from a certification body. Log certificate from the country of origin harvest, wood products and their derivatives for the certificate can be derived from the country of origin (attach scan result). Scan certification must be accompanied by a description of the indicators used the scheme related to the legality and sustainability of raw materials (in Indonesian or English). Required if column H/J/K/L can not be filled.

Column J (Country Specific Guidlines) = filled CSG scheme name, number, and a valid. As off today, Indonesia has not acknowledge CSG from any country. Required if column H/I/K/L can not be filled.

Column K (Mutual Recognation Agreement) = filled MRA scheme name, number, and

a valid. As off today, Indonesia has not acknowledge MRA from any country.

Required if column H/I/J/L can not be filled.

Column L (FLEGT License) = filled name of Country issue FLEGT License and number

of VPA, Required if column H/I/J/K can not be filled.

Column M (Compliance of export country regulation) = filled with export country regulation of timber trade and or products. Filled with "appropriate" when there is no export prohibition concern from the country ; filled with "unappropriate" if there are rules on the prohibition of export types (species) and / or specific products of the country concerned (eg; prohibition on log exports from Indonesia).

Column N (Compliance regulation of country of origin harvest) = filled with the country of origin harvest that regulate trading in timber and or products. Filled with "appropriate" when there is no prohibition on exports from that country; filled with "unappropriate" if there are regulations on the prohibition of export types (species) and / or specific products of that country (eg; prohibition on log exports from Indonesia).

Lampiran 2. Sebaran nama spesies yang sering diimpor ke Indonesia

 

Nama

       

No

Dagang/Lokal

Nama Latin

Distribution/sebaran

Status

Sumber

1

Akasia

Acacia

Australia, Bangladesh, Brazil,Cameroon,China, Costa Rica,French Guiana, Indonesia, Lao People`s Democratic Republic, Malaysia, Mayotte, Myanmar (Burma), Nepal, Philippines, Thailand,United States (USA), Vietnam.

Not Listed in

The Global Invasive Species Database is managed by the Invasive Species Specialist Group (ISSG) of the IUCN Species Survival Commission.

Link:

mangium

CITES No Restricted List

 

Native Range Australia Indonesia Papua New Guinea

 

2

Akasia

Acacia mearnsii

Acacia

mearnsii

Not Listed in CITES No Restricted List

BioNET-EAFRINET Regional

include Australia (outside its native range), China, Japan, Taiwan, India, Israel, southern Europe, southern Africa, Madagascar, New Zealand, south-western USA and some oceanic islands with warm

Link:

 
 

Nama

       

No

Dagang/Lokal

Nama Latin

Distribution/sebaran

Status

Sumber

     

climates

   

3

American

Tilia americana

Canada, USA dan Mexico

Not Listed in CITES No Restricted List

GRIN Taxonomy for Plants

Basswood/Linden

Link:

 

4

American Elm

Ulmus

Eastern North America

Its

Not Listed in CITES No Restricted List

Index of Species Information by USDA Link:

americana

range extends from southern Newfoundland westward through southern Quebec and Ontario, northwest through Manitoba into eastern Saskatchewan, then south on the upper floodplains and protected slopes of the Dakotas. It is found in the canyons and floodplains of

northern and eastern Kansas and in eastern Oklahoma and central Texas

 

5

Ash (White Ash)

Fraxinus

Eastern North America, White ash grows naturally from Cape Breton Island, Nova Scotia, to northern Florida in the east, and to eastern Minnesota south

Not Listed in CITES No Restricted List

Plants for A Future

americana

Link:

 
 

Nama

       

No

Dagang/Lokal

Nama Latin

Distribution/sebaran

Status

Sumber

     

to eastern Texas at the western edge of its range

 

a

 

6

Ash (Green Ash)

Fraxinus

Green ash is widely distributed in the United States and Canada. Its native range extends from Nova Scotia west to southeastern Alberta and south through central Montana to southeastern Texas, Florida, and the east coast

No Listed in CITES “Green ash is restricted to riparian areas in the westernmost portion of its range”

Fire Effects Information System by USDA Forest Service

pennsylvanica

Link

 

NCE

</