Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN GERONTIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA


DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL

Dosen Pembimbig : Tri Prabowo,S.Kp,M.Sc.

Disusun Oleh :
1. Pangestika Ardea Wati (P07120116045)
2. Aulia Barry Al Muswir (P07120116056)
3. Ratna Yuli Astuti (P07120116061)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN REGULER B


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN YOGYAKARTA
TAHUN 2019
BAB I
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Perkembangan psikososial lanjut usia adalah tercapainya integritas diri yang
utuh. Pemahaman terhadap makna hidup secara keseluruhan membuat lansia berusaha
menuntun generasi berikut (anak dan cucunya) berdasarkan sudut pandangnya. Lansia
yang tidak mencapai integritas diriakan merasa putus asa dan menyesali masa lalunya
karena tidak merasakan hidupnya bermakna (Anonim, 2006). Sedangkan menurut
Erikson yang dikutip oleh Arya (2010) perubahan psikososial lansia adalah perubahan
yang meliputi pencapaian keintiman, generatif dan integritas yang utuh.

B. Teori Psikososial
Dalam teori ini terdapat beberapa teori antara lain : teori kepribadian, teori tugas
perkembangan, teori disengagement, teori aktivitas, dan teori kontinuitas.
1. Teori Kepribadian
Kepribadian manusia adalah aspek yang berkembang pesat pada tahun akhir
perkembangannya. Penuaan juga berpengaruh pada kepribadian lansia tersebut.
Teori pengembangan kepribadian yang dikembangkan oleh Jung menyebutkan
bahwa terdapat dua tipe kepribadian yaitu introvert dan ekstrovert. Lansia akan
cenderung menjadi introvert kerenan penurunan tanggungjawab dan tuntutan dari
keluarga dan ikatan sosial (Stanley, 2007).
2. Teori Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah aktivitas dan tantangan yang harus dipenuhi oleh
seseorang sebagai tahap-tahap spesifik dalam kehidupannya. Pencapaian dan
kepuasan yang pernah dicapai akan mempengaruhi perasaan lansia. Pada kondisi
tidak adanya pencapaian perasaan bahwa ia telah menikmati kehidupan yang baik,
maka lansia tersebut berisiko untuk memiliki rasa penyeselan atau putus asa
(Stanley, 2007).
3. Teori Disengagement
Teori Disengagement (pemutusan hubungan) menjelaskan bahwa lansia akan
mengalami suatu tahapan menarik diri dari kegiatan bermasyarakat dan tanggung
jawabnya. Lansia akan merasa bahagia apabila perannya dalam masyarakat telah
berkurang dan tanggung jawabnya sudah dilanjutkan oleh generasi muda. Pada
kondisi tidak danya pencapaian perasaan bahwa ia telah menikmati kehidupan yang
baik, maka lansia tersebut berisiko untuk memiliki rasa penyeselan atau putus asa
(Stanley, 2007).
4. Teori Aktivitas
Teori ini merupakan teori lawan dari teori disengagement, menurut teori ini untuk
menuju lansia yang sukses diperlukan aktivitas yang terus berlanjut. Selain itu,
aktivitas juga sangat penting untuk mencegah kehilangan dan pemeliharaan
kesehatan sepanjang kehidupan manusia. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya
fungsi peran lansia secara negatif mempengaruhi kepuasan hidup, dan aktivitas
mental serta fisik yang berkesinambungan akan memelihara kesehatan sepanjang
kehidupan (Stanley, 2007).
5. Teori Kontinuitas
Teori ini juga dikenal sebagai teori perkembangan. Teori ini menjelaskan tentang
dampak dari kepribadian pada kebutuhan untuk tetap melakukan aktivitas atau
memisahkan diri agar mencapai kebahagiaan dimasa tua. Perilaku hidup yang
membahayakan kesehatan dapat berlangsung hingga usia lanjut dan akan semakin
menurunkan kualitas hidup (Suhartin, 2010).

C. Faktor yang mempengaruhi kesehatan psikososial lansia


Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan psikososial
lansia menurut Kuntjoro (2002), antara lain :
1. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah memasuki masa lansia umumnya mulai mengalami kondisi fisik yang
bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi
menurun, kulit makin keriput, gigi mulai ompong, tulang makin rapuh, dsb. Secara
umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami
penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau
kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat
menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan
lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan
kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau
tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir
fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik,
misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan
dengan berbagai gangguan fisik seperti:
a) Gangguan jantung
b) Gangguan metabolisme, misal diabetes millitus
c) Vaginitis
d) Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi
e) Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan
sangat kurang
f) Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid,
tranquilizer
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :
a) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia
b) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat
oleh tradisi dan budaya
c) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya
d) Pasangan hidup telah meninggal
e) Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa
lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
3. Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan
fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi,
pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan
perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif)
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.
Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia
sebagai berikut:
a. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini
tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
b. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia
tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
c. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya
sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu
harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup
meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika
tidak segera bangkit dari kedukaannya.
d. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah
memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak
keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga
menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
e. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini
umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain
atau cenderung membuat susah dirinya.
4. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan
ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari
tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering
diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan,
status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung
dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa
senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap
pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi
masing-masing individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih
menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan
hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan
pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan
diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh
gaji penuh.
5. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia.
Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan
kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu
sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama
yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.
Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi
dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta
merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya
seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang
memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat
beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan
kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan
pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara
karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan
pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali
menjadi terlantar.

D. Macam-Macam Perubahan Psikososial yang Terjadi pada Lansia


Ada beberapa macam perubahan psikososial yang terjadi pada lansia menurut Anonim
(2006) antara lain :
1. Perubahan fungsi sosial
Perubahan yang dialami oleh lansia yang berhubungan dengan aktivitas-aktivitas
sosial pada tahap sebelumnya baik itu dengan lingkungan keluarga atau masyarakat
luas
2. Perubahan peran sesuai dengan tugas perkembangan
Kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas
perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap
sebelumnya. Apabila pada tahap perkembangan sebelumnya melakukan kegiatan
sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan
orang di sekitarnya, maka pada usia lanjut ia akan tetap melakukan kegiatan yang
biasa ia lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya.
3. Perubahan tingkat depresi
Tingkat depresi adalah kemampuan lansia dalam menjalani hidup dengan tenang,
damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh
kasih saying
4. Perubahan stabilitas emosi
Kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan atau konflik
akibat perubahan – perubahan fisik, maupun sosial – psikologis yang dialaminya
dan kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan
tuntutan dari lingkungan, yang disertai dengan kemampuan mengembangkan
mekanisme psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan
dirinya tanpa menimbulkan masalah baru.

E. Tugas Perkembangan Lansia


Menurut Erickson yang dikutip oleh Maryam (2008), kesiapan lansia untuk
beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut
dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya.
Apabila seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya melakukan kegiatan
sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan orang-
orang di sekitarnya, maka pada usia lanjut ia akan tetap melakukan kegiatan yang biasa
ia lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya seperti olahraga, mengembangkan
hobi bercocok tanam, dan lain-lain.
Adapun tugas perkembangan lansia adalah sebagai berikut :
1) Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun.
2) Mempersiapkan diri untuk pensiun.
3) Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya.
4) Mempersiapkan kehidupan baru.
5) Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial atau masyarakat secara santai
6) Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan.
F. Pathway Masalah Psikososial Pada Lansia

Lansia

Degeneratif

Perubahan Perubahan Perubahan Perubahan


Kognitif Peran Tingkat Fungsi Sosial
(Dimensia) Depresi

Berkurangnya Malu dan


Fungsi organ / kehilangan Pengisolasian Ketidakberdayaan
menurun peran keluarga, berisolasi
(otak) tiadanya
sanak
Perubahan saudara,
Kesulitan perubahan
struktur sosial
mengingat, fisik
/ pensiun
bingung,
mengulang
kegiatan Keikutsertaan
yang sama Menyendiri, menghindar dari orang
lansia di
lain, berdiam diri dikamar, menolak
masyarakat,
interaksi dengan orang lain
lingkungan,
Hambatan
dan keluarga
Memori
berkurang
Isolasi Sosial

Ketidakefektifan
Performa Peran
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Lansia dengan Masalah Psikososial


1. Identitas Klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tangggal MRS,
informan, tangggal pengkajian dan alamat klien.
2. Orang-orang terdekat
Status perkawinan, kebiasaan pasien di dalam tugas-tugas keluarga dan fungsi-
fungsinya, pengaruh orang terdekat, proses interaksi dalam keluarga.
3. Kultural
Latar belakang etnis, tingkah laku mengusahakan kesehatan (sistem rujukan penyakit),
nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan dan keperawatan, faktor-faktor kultural
yang dihubungkan dengan penyakit secara umum dan respons terhadap rasa sakit,
kepercayaan mengenai perawatan dan pengobatan.
4. Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang
atau tidak ada, berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain, tidak
melakukan kegiatan sehari-hari, dependen.
5. Faktor predisposisi
Kehilangan, perpisahan,harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan /frustasi
berulang, tekanan dari kelompok sebaya, perubahan struktur sosial. Terjadi trauma
yang tiba tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan, dicerai pasangan, putus sekolah,
PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN,
dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan
negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
6. Aspek fisik / biologis
Hasil pengukuran tanda vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan, TB, BB) dan keluhan fisik
yang dialami oleh klien.
7. Aspek Psikososial
a. Genogram yang menggambarkan tiga generasi
8. Konsep diri
a. Citra tubuh
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima
perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan
perubahan tubuh, persepsi negatif tentang tubuh. Preokupasi dengan bagian tubuh
yang hilang, mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.
b. Identitas diri
Ketidakpastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu
mengambil keputusan
c. Peran
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua,
PHK atau pensiun
d. Ideal diri
Mengungkapkan keputusasaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan
yang terlalu tinggi.
e. Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan
hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri, dan kurang percaya diri.
9. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubungan sosial dengan
orang lain terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
10. Keyakinan klien terhadap tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual).
a. Status Mental
Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat
memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan
denga orang lain , Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.
11. Mekanisme Koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang
orang lain ( lebih sering menggunakan koping menarik diri)
12. Aspek Medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor,therapy
okopasional, TAK, dan rehabilitas.
13. Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)

Nama Pasien : (L / P)
Umur :
Tanggal :
Nama
:
Pewawancara

Benar Salah Nomor Pertanyaan


1 Tanggal berapa hari ini ?
2 Hari apa sekarang ?
3 Apa nama tempat ini ?
4 Dimana alamat anda ?
5 Berapa umur anda ?
6 Kapan anda lahir ?
7 Siapa Presiden Indonesia ?
8 Siapa nama Presiden Indonesia sebelumnya ?
9 Siapa nama ibu anda ?
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari setiap
10
angka yang baru , semua secara menurun.
Jumlah

Interpretasi

Salah 0-3 : Fungsi Intelektual Utuh

Salah 4-5 : Fungsi Intelektual Kerusakan Ringan

Salah 6-8 : Fungsi Intelektual Kerusakan Sedang

Salah 9-10 : Fungsi Intelektual Kerusakan Berat


14. Mini-Mental State Exam ( MMSE )

Nama (Initial) : (L / P)

Umur :

Nilai Nilai
No. Aspek kognitif Kriteria
Maksimal Klien

Menyebutkan dengan benar :

1. Tahun
1 Orientasi 5
2. Musim
3. Tanggal
4. Hari
5. Bulan
Dimana sekarang kita berada ?

5 1. Negara
2. Propinsi
3. Kabupaten
4. Kecamatan
Orientasi 5. Desa
2
Registrasi Sebutkan tiga nama Objek (Kursi , Meja,
Kertas) kemudian ditanyakan kepada
Klien ,menjawab ;
3
1. Kursi
2. Meja
3. Kertas
Meminta Klien berhitung dari 100, kemudian
Perhatian dan
3 5 dikurangi 7 sampai lima tingkat
Kalkulasi
1. 100, 93, 86 , ..
Meminta klien untuk mengulangi 3 objek
pada Poin 2
4 Mengingat 3
1. Kursi
2. Meja
3. Kertas
Menanyakan kepada klien tentang benda
(Sambil menunjuk benda tersebut)

1. Jendela
2. Jam dinding
Meminta klien untuk mengulangi kata
berikut “tak ada jika , dan ,atau ,tetapi”
Klien menjawab _ “dan , atau , tetapi”.

Minta klien untuk mengikuti perintah berikut


yang terdiri dari tiga langkah :

5 9 “Ambil bulpoint di tangan anda, ambil


Bahasa
kertas , menulis saya mau tidur”.

1. Ambil bolpen
2. Ambil kertas
3. ..
Perintahkan Klien untuk hal berikut (bila
aktifitas sesuai perintah nilai 1 point)

“Tutup mata anda”

1. Klien menutup mata


Perintahkan pada klien untuk menulis
kalimat atau menyalin gambar

Total 30 ...

Skor Nilai 24-30 : Normal

Nilai 17-23 : Probable Gangguan Kognitif

Nilai 0-16 : Definitif Gangguan Kognitif


15. Skala Pengukuran Depresi pada Lanjut Usia

GDS menggunakan format laporan sederhana yg diisi sendiri dengan menjawab “ya atau
“tidak” setiap pertanyaan, yang memerlukan waktu sekitar 20-30 menit untuk
menyeleseikannya.GDS merupakan alat psikomotorik dan tidak mencakup hal-hal somatik
yang tidak berhubungan dengan pengukuran mood lainnya.
a. Skor 0-10 : menunjukkan tidak ada depresi
b. Skor 11-20 : Depresi Ringan
c. Skor 21-30 : Depresi Sedang/Berat
Pada Depresi sedang/berat membutuhkan rujukan guna mendapatkan evaluasi
psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci karena GDS hanya merupakan alat penapisan.

Spesifikasi rancangan pernyataan perasaan (mood) depresi spt pada tabel berikut :

Tabel 1.1 Spesifikasi rancangan kuesioner GDS

Butir soal
Favorable Unfavorable
Parameter
Minat aktifitas 2, 12, 20, 28 27

Perasaan sedih 16, 25 9, 15, 19

Perasaan sepi dan bosan 3, 4

Perasaan tidak berdaya 10, 17, 24

Perasaan bersalah 6, 8, 11, 1, 23 1

Perhatian/konsentrasi 14, 26, 30 29

Semangat atau harapan thdp masa depan 13, 22 5, 7, 21

Skoring nilai 1 diberikan pada pernyataan favourable untuk jawaban “ya” dan nilai 0
untuk jawaban “tidak” sedangkan untuk pernyataan unfavourable, jawaban “tidak” diberi
nilai 1 dan jawaban “ya” diberi nilai 0
Assesment Tool geriatric depression scale (GDS) untuk mengkaji depresi pada lansia
sebagai berikut :

No Pernyataan Ya Tidak

Apakah bapak/ibu sekarang merasa puas dengan 0) 1)


1.
kehidupannya ?

Apakah bapak/ibu telah meninggalkan banyak kegiatan atau 1) 0)


2.
kesenangan akhir-akhir ini ?

3. Apakah bapak/ibu merasa hampa/kosong dalam hidup ini ? 1) 0)

4. Apakah bapak/ibu sering merasa bosan ? 1) 0)

Apakah bapak/ibu merasa mempunyai harapan yang baik 0) 1)


5.
dimasa depan ?

Apakah bapak/ibu mempunyai pikiran jelek yang 1) 0)


6.
mengganggu terus menerus ?

7. Apakah bapak/ibu memiliki semangat yang baik setiap saat ? 0) 1)

Apakah bapak/ibu takut bahwa sesuatu yang buruk akan 1) 0)


8.
terjadi pada anda ?

Apakah bapak/ibu merasa bahagia pada sebagian besar 0) 1)


9.
waktu ?

Apakah bapak/ibu sering merasa tidak mampu untuk berbuat 1) 0)


10.
apa-apa ?

11. Apakah bapak/ibu sering merasa resah dan gelisah ? 1) 0)

Apakah bapak/ibu senang tinggal dirumah daripada keluar 1) 0)


12.
rumah dan mengerjakan sesuatu ?

Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa 1) 0)


13.
depan ?

1) 0)
14. Apakah bapak/ibu akhir-akhir ini sering lupa ?

0) 1)
Apakah bapak/ibu pikir bahwa hidup bapak/ibu sekarang
15.
menyenangkan ?

16. Apakah bapak/ibu sering merasa sedih dan putus asa ? 1) 0)

17. Apakah bapak/ibu merasa tidak berharga akhir-akhir ini ? 1) 0)

Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa 1) 0)


18.
lalu ?
1)
19. Apakah bapak/ibu merasa hidup ini menggembirakan ? 0)

20. Apakah bapak/ibu untuk memulai kegiatan yang baru ? 1) 0)

21. Apakah bapak/ibu merasa penuh semangat ? 0) 1)

Apakah bapak/ibu merasa situasi sekarang ini tidak ada 1) 0)


22.
harapan ?

Apakah bapak/ibu berpikir bahwa orang lain lebih baik 1) 0)


23.
keadaannya daripada bapak/ibuk ?

24. Apakah bapak/ibu sering marah karena hal-hal yang sepele ? 1) 0)

25. Apakah bapak/ibu sering merasa ingin menangis ? 1) 0)

26. Apakah bapak/ibu sering sulit berkonsentrasi ? 1) 0)

1)
27. Apakah bapak/ibu merasa senang waktu bangun tidur ? 0)

Apakah bapak/ibu tidak suka berkumpul di pertemuan 1) 0)


28.
sosial ?

29. Apakah mudah bagi bapak/ibu membuat suatu keputusan ? 0) 1)

Apakah pikiran bapak/ibu masih tetap mudah dalam 1) 0)


30.
memikirkan sesuatu seperti dulu ?
16. Apgar Keluarga

NO ITEMS PENILAIAN SELALU KADANG- TIDAK


KADANG PERNAH
(2) (1) (0)

1 A : Adaptasi
Saya puas bahwa saya dapat kembali pada
keluarga ( teman-teman ) saya untuk
membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya

2 P : Partnership
Saya puas dengan cara keluarga ( teman-
teman ) saya membicarakan sesuatu
dengan saya dan mengungkapkan masalah
saya.

3 G : Growth
Saya puas bahwa keluarga ( teman-teman )
saya menerima & mendukung keinginan
saya untuk melakukan aktifitas atau arah
baru.

4 A : Afek
Saya puas dengan cara keluarga ( teman-
teman ) saya mengekspresikan afek dan
berespon terhadap emosi-emosi saya,
seperti marah, sedih atau mencintai.

5 R : Resolve
Saya puas dengan cara teman-teman saya
dan saya menyediakan waktu bersama-
sama mengekspresikan afek dan berespon
JUMLAH
Penilaian :
Nilai : < 3 : Disfungsi keluarga tingkat tinggi
Nilai : 4-6 : Disfungsi keluarga menengah
Nilai : >6 : tidak terjadi disfungsi sosial
B. Diagnosa Keperawatan Masalah Psikososial Pada Lansia
1. Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan kesulitan membina hubungan,
ketidakmampuan menjalin hubungan yang memuaskan, minat tidak sesuai dengan
perkembangan. (SDKI : D.0121)
2. Ketidakefektifan performa peran berhubungan dengan tingkat perkembangan tidak
sesuai dengan harapan peran (NANDA :00055)
3. Gangguan memori berhubungan dengan proses penuaan, faktor psikologis (depresi,
stres berlebih, berduka) (SDKI : D.0062)
C. INTERVENSI
1. Isolasi social menarik diri berhubungan dengan kesulitan membina hubungan, ketidakmampuan menjalin
hubungan yang memuaskan, minat tidak sesuai dengan perkembangan.
Tujuan Intervensi Rasional
Setelah dilakukan tindakan 1. Bina hubungan saling percaya
keperawatan selama ... x pertemuan, dengan prisip komunikasi 1. Hubungan saling percaya sebagai dasar
diharapkan isolasi sosial teratasi terapiutik interaksi yang terapeutik antara perawat
dengan kriteria hasil : 2. Kaji penyebab pasien menarik dan klien
1. Dapat membina hubungan diri 2. Mengetahui koping pasien dalam
saling percaya 3. Kaji pengetahuan pasien tentang berinteraksi sosial, serta strategi apa
2. Pasien dapat menyebutkan manfaat dan keuntungan yang akan diterapkan kepada pasien.
penyebab menarik diri berhubungan dengan orang lain 3. Pasien akan termotivasi berinteraksi
3. Pasien dapat menyebutkan 4. Edukasi pada pasien tentang dengan orang lain.
keuntungan dan kerugian kerugian dan keuntungan 4. Meningkatkan pengetahuan pasien
berhubungan dengan orang berhubungan dengan orang lain tentang kerugian dan keuntungan
lain berhubungan dengan orang lain
4. Pasien dapat melaksanakan 5. Anjurkan pasien untuk 5. Mendorong pasien untuk melihat dan
hubungan social secara bersosialisasi berhubungan merasakan langsung manfaat
bertahap dengan orang lain.
5. Keluarga mampu
mengembangkan
kemampuan pasien untuk
berhubungan dengan orang
lain

2. Ketidakefektifan performa peran berhubungan dengan tingkat perkembangan tidak sesuai dengan harapan peran
(NANDA :00055)
Tujuan Intervensi Rasional
1. Kaji kesulitan yang dialami
Setelah diberikan intervensi
dalam menjalankan peran 1. Mengetahui kesulitan pasien untuk
Keperawatan selama .... x
2. Identifikasi kekuatan diri pasien merencanakan intervensi
pertemuan diharapkan performa
2. Mengetahui potensi untuk
peran lansia efektif dengan kriteria
3. Bantu pasien untuk menyesuaikan kegiatan baru
hasil :
mengidentifikasi berbagai peran 3. Mengikutsertakan pasien dalam
1. Pasien dalam menyebutkan
dalam hidup dan keluarga mengidentifikasi peran
kesulitan yang diamali
4. Ajarkan kegiatan baru yang
dalam menjalankan peran
dibutuhkan untuk memenuhi 4. Terpenuhinya ebutuhan peran yang
2. Pasien dapat menyebutkan
peran sesuai
kekuatan diri
3. Pasien dapat
mengidentifikasi dan
menjalankan peran dalam
hidup dan keluarga
4. Pasien dapat menjalankan
kegiatan baru yang
dibutuhkan

3. Gangguan memori berhubungan dengan proses penuaan, faktor psikologis (depresi, stres berlebih, berduka)
Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1. Beri kesempatan bagi pasien
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Melatih kemampuan klien untuk
untuk mengenal barang milik
selama .. x masalah gangguan memori mengingat barang miliknya
pribadinya misalnya tempat
lansia teratasi dengan kriteria hasil :
tidur, lemari, pakaian dll.
1. Mengenal/berorientasi terhadap 2. Melatih kemampuan klien untuk
2. Beri kesempatan kepada pasien
waktu orang dan tempat mengingat waktu
untuk mengenal waktu dengan
2. Meklakukan aktiftas sehari-hari
menggunakan jam besar,
secara optimal.
kalender yang mempunyai
3. Pasien mampu mengingat
lembar perhari dengan tulisan
aktibitas 24 jam terakhir.
besar.
4. Pasien mampu membuat jadwal 3. Beri kesempatan kepada pasien 3. Melatih kemampuan klien untuk
aktivitas untuk menyebutkan namanya mengingat nama
dan anggota keluarga terdekat
4. Beri kesempatan kepada klien 4. Melatih klien untuk mengingat
untuk mengenal dimana dia tempat
berada.
5. Pujian dapat meningkatkan harga
5. Berikan pujian jika pasien bila
diri klien
pasien dapat menjawab dengan
benar.
6. Kaji kemampuan pasien dalam 6. Mengetahui kemampuan pasien
mengingat aktivitas yang telah dalam mengingat
dilakukan selama 24 jam
terakhir
7. Beri kesempatan kepada pasien 7. Pasien mengerti pentingnya
untuk memilih aktifitas yang aktivitas
dapat dilakukannya.
8. Mempermudah pasien dalam
8. Bantu pasien untuk melakukan
melakukan kegiatan
kegiatan yang telah dipilihnya
9. Pujian dapat meningkatkan harga
9. Beri pujian jika pasien dapat
diri pasien
melakukan kegiatannya.
10. Tanyakan perasaan pasien jika 10. Pasien merasa diperhatikan
mampu melakukan
kegiatannya.
11. Bersama pasien membuat 11. Untuk menentukan kegiatan yang
jadwal kegiatan sehari-hari. akan dilakukan
12. Ajarkan keluarga untuk 12. Mengikutsertakan keluarga dalam
melatih pasien dalam meningkatkan memori pasien
mengingat memori jangka
panjang dan pendek
DAFTAR PUSTAKA
Rahmianti. 2014. Askep Lansia Dengan Masalah Sosial Kultural. Fakultas Keperawatan
Universitas Erlangga. Jurnal. Diakses pada tanggal https://ww.unair.ac.id

Andreas, T. 2014. Skala Depresi Geriatri. Kalimantan Timur.

Dwisaputra, Y. 2013. Short Portebele Mental Status dan Mini Mental State Exam pada
Lansia. Ungaran. Stikes Ngudi Waluyo.

Nanda International. 2018. Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi 2015-2017


edisi 11. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Stanley, M. & Bearce, P.G. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta :
EGC
Tim pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar diagnosis keperawatan indonesia definisi dan
indikator diagnostik edisi 1. Jakarta : dewan pengurus pusat PPNI