Anda di halaman 1dari 14

2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Nama : Mia Diniati


NPM : 0806331720
Welding
Pengajar : Dr.Ir. Winarto M.Sc

1. Jelaskan jenis besi tuang yang saudara ketahui dan perbedaan masing-masing.
Jawab:
Tabel 1. Perbedaan Besi Tuang
Jenis Besi Tuang Bentuk σ Ductility Perlakuan Keterangan
Graphite tambahan
Besi tuang putih Tidak ada Tidak Pendinginan cepat
Besi tuang Flake 10 – 30 Kg/mm2 Tidak Pendinginan lambat Machinability↑
kelabu ε < 1%
Besi tuang Berbentuk 40-47 Kg/mm2 Ya Besi tuang putih 
malleable kapas/agregat ε: 15-20% temper 50 jam

Besi tuang Nodular 45-55 Kg/mm2 Ya Penambahan unsur


nodular ε: 3-20% pembulat graphite
(nodulizer) yaitu
unsur Mg
Austempered Bulat 100 Kg/mm2 Ya Transformasi Matriks berupa
Ductile Iron ε: 4-7% isotermal pada suhu ausferrite
300-400oC

Compacted grafit Pita pendek 30-40 Kg/mm2 Ya Desulfurisasi yang


tebal tidak ε: 2-5% gagal
teratur seperti
cacing

Welding “Tugas 10” 1


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Gambar 1. Skematis Perbedaan Tipe Besi Tuang

2. Jelaskan weldability dari besi tuang (cast iron). Jenis mana yang paling buruk weldability-
nya.
Jawab:
Weldability atau biasa disebut juga joinability merupakan kemampuan suatu material
untuk di las. Hampir semua material dapat dilas namun terdapat material yang lebih
mudah untuk dilas dibanding material lainnya.
Dari seluruh besi cor yang paling memiliki weldability paling baik adalah besi cor
nodular. Semakin rendah kekuatan tarik suatu jenis besi cor maka weldability nya juga

Welding “Tugas 10” 2


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

akan semakin meningkat. Sedangkan besi cor putih merupakan jenis besi cor yang tidak
dapat dilas dengan metode pengelasan konvensional. Hal tersebut disebabkan karena
pada besi tuang putih grafit tidak dalam bentuk bebas namun dalam cementit yang
memiliki kekerasan sangat tinggi, sehingga akan meningkatkan kekuatan tarik nya dan
menurunkan weldability nya.

Gambar 2. Kemampulasan Besi Tuang

3. Jelaskan mengapa unsur nikel umumnya dipakai untuk pengelasan besi tuang.
Jawab:
Syarat dari jenis elektroda yang akan digunakan untuk pengelasan besi cor adalah weld
yang terbentuk harus mampu mengkomodir karbon dan menghindari retak. Unsur nikel
umumnya digunakan untuk pengelasan besi tuang karena dengan adanya unsur nikel
daerah las akan menjadi cukup lunak karena unsur nikel tidak sensitif terhadap carbon
pick up. Karena seperti yang diketahui apabila menggunakan elektoda baja mild akan
menyebabkan logam las mengandung karbon hasil dilusi logam induk sehingga akan
terbentuk logam las yang keras dan getas. Dengan adanya paduan nikel juga akan
meningkatkan hardenability hingga 4,5% Ni-Fe, menstabilkan austenite, meningkatkan
kekuatan pearlite dan menghasilkan grafit. Namun harus diperhatikan karena

Welding “Tugas 10” 3


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

penggunaan kawat las nikel akan menghasilkan daerah las yang sangat lunak akan lebih
baik menggunakan kawat las nikel paduan misalnya Ni-Fe.

4. Jelaskan hubungan antara morfologi grafit besi tuang dengan kemampulasannya.


Jawab:
Tabel 2. Pengaruh Struktur Mikro dan Morfologi Grafit Besi tuang terhadap Weldability

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa semakin rendah kekuatan tarik suatu
jenis besi cor maka weldability nya juga akan semakin meningkat dimana kekuatan tarik
yang semakin rendah berarti kadar karbonnya juga semakin rendah. Tidak hanya kadar
karbon, morfologi dari grafit besi tuang juga akan mempengaruhi weldability dari besi
tuang, hal tersebut dapat terlihat pada tabel 2 dimana grafit berbentuk flake tidak
semua metode pengelasan dapat digunakan untuk mengelas besi tuang yang memiliki
grafit flake namun apabila bentuk grafit besi tuang berupa spheroidal metode
pengelasan OFW, SMAW, GAW, dan FCAW dapat digunakan. Hal tersebut disebabkan
oleh beberapa alasan yaitu bentuk grafit memiliki bagian yang tajam yang kontinyu di
sekeliling grafit dimana dapat dapat menurunkan plastisitas material secara drastis.
Untuk bentuk grafik berupa rossete dimana biasanya ditemukan pada besi tuang mampu
tempa, plastisitas yang dimiliki cukup tinggi yaitu sekitar 10% dimana akan menghasilkan
weldability yang cukup baik pula. Weldability paling baik dimiliki oleh bentuk grafit

Welding “Tugas 10” 4


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

spheroid karena memiliki plastisitas yang paling baik dan tegangan sisi yang paling kecil
sehingga weldability juga akan semakin meningkat pula.

5. Jelaskan hubungan antara struktur mikro besi tuang dengan kemampulasannya.


Jawab:
Hubungan antara struktur mikro besi tuang dengan kemampulasannya dapat dilihat
pada tabel 2. Dapat dilihat pada tabel 2 bahwa besi tuang dengan matriks cementit dan
martensit memiliki kemampulasan paling buruk dimana tidak bisa dilas baik dengan
metode OFW, SMAW, GAW, dan FCAW. Sedangkan besi tuang yang memiliki matriks
ferrite memiliki kemampulasan yang paling baik. Hal tersebut disebabkan matrik ferrite
memiliki plastisitas tertinggi. Jika logam las dapat dibuat dalam besi cor feritik tanpa
melibatkan inklusi grafit, HAZ yang terbentuk akan sama dengan HAZ baja karbon
rendah dan dengan semakin banyaknya ketersediaan karbon dalam struktur mikro, HAZ
yang terbentuk cenderung mengandung fasa keras seperti besi karbida dan martensit.
Jika ferit diganti dengan perlit, mampu las menjadi menurun dan kekerasan HAZ
meningkat, sehingga kecenderungan retak akan meningkat.

6. Jelaskan bagaimana cara menentukan besarnya preheating & post heating pada
pengelasan besi tuang.
Jawab:
Masalah utama dalam pengelasan besi cor adalah retak karena tingginya kandungan
karbon dalam bentuk grafit. Siklus termal pada pengelasan besi cor menghasilkan
struktur mikro yang tidak diinginkan seperti terbentuknya karbida pada logam las dan
martensit karbon tinggi pada HAZ. Sehingga diperlukan preheat dan post heating pada
pengelasan besi tuang dimana preheat merupakan prosedur yang disarankan untuk
menurunkan laju pendinginan.
Berdasarkan AWS Standard Welding Terms and Definition, proses preheating adalah ketika
terdapat panas yang diberikan ke base metal atau substrat untuk mencapai dan

Welding “Tugas 10” 5


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

mempertahankan temperatur preheat. Temperatur preheat merupakan temperatur di


sekeliling base metal sebelum pengelasan dimulai. Preheating dapat dilakukan dengan
menggunakan gas burners, oxy-gas flames, electric blankets, induction heating atau dengan
pemanasan dapur. Untuk hasil yang sangat baik harus diperhatikan untuk pemanasan yang
seragam di daerah penyambungan. Karena pemanasan yang tidak seragam daat
menyebabkan peningkatan tegangan sisa, distorsi, atau perubahan secara metalurgi yang
tidak diinginkan.
Sedangkan Post Weld Heat Treatment merupakan serangkaian perlakuan panas setelah
welding yang berfungsi untuk meningkatkan sifat fisik. Seperti yang diketahui setelah proses
pengelasan biasanya terdapat tegangan sisa yang menyebabkan kegetasan yang dapat
mengakibatkan distorsi pada saat permesinan atau menginisiasi untuk terjadinya stress
corrosion.
Untuk menentukan besarnya preheat dan post heating pada pengelasan besi tuang kita
dapat melihat tabel 3 atau dapat melihat dari parameter berikut ini:
Ketebalan suatu material  menerapkan sumber pemanasan yang berbeda pada sisi
yang tebalnya tidak sama
Interpass temperatur  harus terdapat di WPS. Ketika interpass temperatur telah
ditentukan maka area pengelasan harus diinspeksi sebelum mendeposisikan weld
bead selanjutnya. Pengelasan tidak akan terjadi apabila temperatur yang telah
dihitung melebihi maksimum interpass temperature oleh sebab itu lasan harus
didinginkan hingga suhu tertentu sebelum proses pengelasan di lanjutkan
Kadar Carbon Equivalent suatu material
Berdasarkan metalurgi  sifat mekanik suatu material.
Untuk aplikasi yang tidak membutuhkan special service maka temperatur preheat
dan interpass yang digunakan dapat seminimum mungkin tergantung dari ketebalan
material tersebut.

Welding “Tugas 10” 6


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Tabel 3. Rekomendasi Temperatur Preheat dan Temperatur Interpass untuk Besi Tuang

7. Jelaskan weldability dari aluminium dan paduannya. Sebutkan faktor apa saja yang
berpengaruh pada kemampulasan aluminium dan paduannya.
Jawab:
Aluminium memiliki berat jenis yang rendah yaitu 2,7 gr/cm3 dimana berat jenis tersebut
hanya 1/3 dari baja sehingga membuat aluminium menjadi sangat ringan. Aluminium
juga memiliki struktur kristal FCC dimana hal tersebut menyebabkan aluminium memiliki
keuletan yang cukup baik dan mudah untuk dibentuk. Temperatur lebur dari aluminium
adalah 660oC dimana temperatur tersebut menyebabkan peralatan peleburan dari
aluminium akan lebih sederhana. Bila dibandingkan dengan baja, aluminium memiliki
daya hantar panas yang baik yaitu 2,5 kali daya hantar baja dan koefisien muai panas 2
kali koefisien muai baja. Aluminium juga memilki sifat mampu mesin yang baik,
permukaan yang baik setelah diproses, ketahanan korosi yang baik, konduktor listrik
yang baik, mudah dipadu dengan unsur lain dan yang tidak kalah pentingnya aluminium
memiliki sifat mampu cor yang baik terutama di dekat komposisi eutektik. Namun
aluminium juga memiliki sifat negatif pada saat digunakan untuk pengecoran karena
berat jenis yang rendah sehingga aluminium cair(berat jenis 2,3 gr/mm 3) mudah
tercampur dengan pengotor oksida misalnya Al2O3 (berat jenis 2,1 gr/mm3). Selain itu
aluminum juga sangat mudah mengikat gas hidrogen dalam kondisi cair sehingga dapat

Welding “Tugas 10” 7


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

menimbulkan cacat pada hasil pengecoran dan aluminium juga akan mengalami
penyusutan yang cukup tinggi yaitu sekitar 6%.
Weldability dari aluminium merupakan ketahanan terhadap retak panas dimana
terdapat dua jenis retak tergantung dari mekanismenya yaitu solidification cracking dan
liquation cracking. Untuk mengetahui kemampulasan dari aluminium dengan paduannya
dapat dilihat dari gambar 3.

Gambar 3. Kemampulasan Aluminium dan Paduannya

Dari gambar 3 dapat dilihat bahwa paduan Al-Cu memiliki kemampulasan paling buruk.
Kemampulasan dari aluminium dan paduannya ditentukan oleh komposisi kimia dan
kondisi awalnya (pure, anneal, work hardened, atau precipitation hardened). Selain itu
mikrostruktur dari logam induk dan tingkat sensitifitas retakan juga akan
mempengaruhi kemampulasan aluminium dimana sensitifitas retakan ini dipengaruhi
oleh paduan dari logam pengisi dimana kombinasi antara logam pengisi dan logam dasar
akan mengurangi keretakan.
Terdapat beberapa sifat aluminium yang mempengaruhi kemampulasan aluminium,
yaitu:

Welding “Tugas 10” 8


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Lapisa oksida  harus dihilangkan sebelum pengelasan berlangsung


Konduktifitas panas yang tinggi  panas yang diterapkan harus 4 kali lebih besar
dibanding pada saat pengelasan baja
Koefisien muai tinggi  mudah retak
Titik leleh ↓  menyebabkan tidak adanya perubahan warna ketika temperatur
berubah

8. Jelaskan mengapa pada pengelasan Al dengan las TIG lebih disukai menggunakan arus
AC dengan frekuensi tinggi.
Jawab:
Pada umumnya pengelasan aluminium menggunakan metode pengelasan MIG atau TIG
namun metode pengelasan TIG lebih disukai. Seperti yang diketahui pada pengelasan
aluminium umumnya sulit memperoleh penetrasi yang tinggi dan juga dapat mengalami
penurunan kekuatan akibat panas las yang akan menghilangkan pengaruh work
hardening dan distribusi presipitat.
Dengan menggunakan metode pengelasan TIG yang menggunakan arus AC dengan
frekuensi tinggi pada pengelasan aluminium maka dapat menghasilkan heat balance
pada busur dimana 50% pada benda kerja dan 50% pada elektroda. Dengan adanya
panas pada benda kerja dapat membersihkan lapisan oksida yang mudah terbentuk
pada aluminium dan panas pada elektroda akan menghasilkan penetrasi yang baik dan
elektroda juga akan lebih tahan lama.

9. Jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi pemilihan jenis kawat las yang dipakai
untuk mengelas aluminium dan paduannya.
Jawab:
Berikut ini merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis kawat las
yang akan dipakai untuk mengelas aluminium dan paduannya:
 Kemampulasan dari logam induk.

Welding “Tugas 10” 9


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

 Syarat kekeuatan, keuletan, dan sifat mekanis lainnya.


 Ketahanan terhadap korosi.
 Anodic coating untuk kesamaan warna.
 Kebutuhan sesuai aplikasi terutama untuk mencegah solidificatian cracking.

Tabel 4. Pemilihan Logam Pengisi

Tabel 5. Logam Pengisi yang disarankan untuk kebutuhan yang spesifik

Welding “Tugas 10” 10


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

10. Jelaskan penyebab utama terjadinya cacat porositas pada aluminium dan paduannya
dan bagaimana cara penanggulangannya.
Jawab:
Porositas lasan terjadi selama proses pembekuan akibat terperangkapnya gas yang
terlarut. Secara metalurgi pada proses pembekuan aluminium murni transisi cairan dan
padatan berlangsung sangat cepat sehingga adanya penyusutan lubangan tidak dapat
diisi kembali oleh aliran cairan logam sehingga porositas terbentuk. Sedangkan pada
paduan aluminium porositas juga dapat terjadi dimana porositas tersebut terjadi dimana
penyusutan lubang terjadi diantara cabang – cabang dendrit.
Penyebab utama porositas lasan aluminium adalah adanya gas hidrogen yang larut di
leburan aluminium dimana adanya gas yang terperangkpa selama proses pembekuan
oleh akibat pelindung gas yang terkontaminasi oleh udara luar yang terakumulasi di
daerah leburan.
Terdapat beberapa cara ntuk menanggulangi terjadinya porositas pada lasan yaitu
logam induk dan logam pengisi harus dihindari dari sumber – sumber hidrogen dan gas
pelindungnya harus benar – benar murni. Selain itu adanya oli atau gemuk di permukaan
material harus dihilangkan sebelum pengelasan.

Gambar 4. Porositas pada Pengelasan Aluminium

11. Jelaskan proses pengelasan aluminium dan paduannya saat ini banyak digunakan
Friction Stir Welding (FSW). Jelaskan skematis gambarnya dan keuntungan serta
kerugian dari proses ts dibandingkan dengan TIG atau GMAW.
Jawab:

Welding “Tugas 10” 11


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Metode Friction Stir Welding (FSW) pada saat ini banyak digunakan untuk pengelasan
alulminium. Hal tersebut disebabkan metode pengelasan FSW ini dalam kondisi solid
state atau pada metode pengelasan dingin karena seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya apabila menggunakan metode pengelasan biasa maka panas las dapat
menghilangkan pengaruh work hardening dan distribusi presipitat sehingga kekuatannya
akan menurun.
Friction stir welding ditemukan di welding institute pada tahun 1991. Prinsip kerja dari
friction stir welding ini adalah:
1) Pin yang berputar dengan kecepatan 3000-4000rpm diletakkan pada material
2) Material dipanaskan karena adanya friksi
3) Material yang telah dipanaskan tersebut akan mencapai temperatur plastisasi (800F
untuk aluminum)
4) Material yang telah terplastisasi tersampir kembali ke pin
5) Material tersebut mengalami pendinginan dengan terbentuknya butir – butir yang
lebih halus dibandigkan dengan material induknya.

Gambar 5. Proses pengelasan dengan friction welding

Welding “Tugas 10” 12


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Keuntungan dari metode FSW dibanding TIG dan GMAW:


Lebih kuat dan lebih bersih bila dibandingkan dengan fusion welds
Keuletan tinggi pada las
Energi efisiensi
Simpel dan bersih (no fume,arcs,spatter)

Gambar 6(a). Hasil pengelasan dengan friction stir welding

Perlakuan sesudah dan straightening tidak diperlukan

Gambar 6(b). Hasil pengelasan dengan friction stir welding

Low distrosi dan shrinkage

Gambar 6(c). Hasil pengelasan dengan friction stir welding,kiri: distorsi rendah, kanan: penyusutan
rendah

Welding “Tugas 10” 13


2011 Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Tidak ada porosity, lack of fusion, perubahan komposisi pada material

Gambar 6(d). Hasil pengelasan dengan friction stir welding

Kerugian dari metode FSW bila dibandingkan dengan GMAW dan TIG adalah:
Investasi besar
Extensive clamping
Membutuhkan backing support
Toleransi kritis

Welding “Tugas 10” 14

Anda mungkin juga menyukai