Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KELOMPOK

EKONOMI MANAJERIAL

“Praktik Penentuan Harga”


(RPS 12)

Oleh:
Kelompok 4 / Ruang Kelas E III 2
Dosen Pengempu: Drs. I Wayan Mudiartha Utama, M.M.

Anggota Kelompok:
1. Ida Ayu Gede Tantyani Dhaniswari (1707522023)
2. Anak Agung Wulan Kumala (1707522028)
3. Dyajeng Yuning Surya Savira (1707522030)
4. Ni Putu Ayu Sri Kusuma Dewi (1707522036)

MANAJEMEN NON REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
PEMBAHASAN MATERI

12.1 Penentuan Harga Berbagai Jenis Produk Memiliki Keterkaitan Permintaan


Penentuan harga berbagai jenis produk yang memiliki keterkaitan permintaan Produk-
produk yang dijual oleh sebuah perusahaan bias memiliki keterkaitan sebagai barang
subtitusi atau barang komplementer. Dalam menentukan harga pokok yang memiliki
keterkaitan, sebuah perusahaan mempertimbangkan dampak dari perubahaan harga salah
satu produknya terhadap permintaan produk lainnya. Alasannya adalah karena
pengurangan harga sebuah produk menyebabkan turunnya perusahaan yang sama dan
permintaan produk subtitusi yang dijual oleh naiknya permintaan terhadap produk
menyebabkan komplementer.
Dengan demikian untuk memaksimalkan laba, perusahaan harus menetapkan tingkat
output dan harga dari berbagai jenis produk yang dihasilkan secara bersamaan dan tidak
secara terpisah. Hubungan antara permintaan (demand interrelationship) mempengaruhi
keputusan penentuan harga yang dilakukan oleh perusahaan penghasil beberapa jenis
produk, melalui dampaknya terhadap penerimaan marjinal. Pemanfaatan kapasitas pabrik
dan penentuan harga produk yang optimal Salah satu alasan penting bagi perusahaan untuk
mengahsilkan lebih dari satu jenis produk adalah agar bias lebih memanfaatkan kapasitas
pabrik dan kapasitas produksinya. Sebuah perusahaan yang memiliki kapasitas berlebihan,
bisa mencari produk lain untuk dihasilkan sehingga bisa lebih maksimal memanfaatkan
kapasitas pabrik dan kapasitas produksinya. Sepanjang penerimaan marjinal dari produk-
produk ini lebih tinggi dari biaya marginalnya, laba perusahaan akan meningkat. Jadi,
ketimbang menghasilkan sebuah produk tunggal pada tingkat MR=MC dan menyisakan
banyak kapasitas berlebih, perusahaan akan memperkenalkan produk baru, sesuai dengan
urutan tingkat laba yang dihasilkannya, sampai dimana penerimaan marginal dan biaya
marginal dari unit terakhir produk yang paling kecil labanya, mencapai nilai yang sama
Penentuan harga optimal untuk produk gabungan yang diproduksi dalam proporsi tetap
Produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan bisa memiliki keterkaitan tidak hanya
dalam hal permintaan, tetapi juga dalam hal produksi. Keterkaitan produksi muncul ketika
produk dihasilkan secara gabungan. Produk bisa dihasilkan secara gabunhgan dalam
proporsi yang tetap atau berubah-ubah.
12.2 Diskriminasi Harga
Diskriminasi harga adalah penentuan harga yang berbeda – beda, pada kuantitas yang
berbeda pada sebuah produk, pada waktu yang berbeda untuk setiap pelanggan yang
berbeda, atau pasar yang berbeda tetapi bukan berdasarkan perbedaan biaya. Contohnya
perusahaan telepon biasanya menerapkan tarif tertentu per panggilan untuk sejumlah
panggilan tertentu dan tarif yang lebih murah bagi sekumpulan panggilan berikutnya. Ada
tiga kondisi agar perusahaan bisa menerapkan diskriminasi harga yaitu :
1. Perusahaan harus memiliki kemampuan mengendalikan harga poduk
2. Elastisitas harga permintaan terhadap produk tersebut harus berbeda untuk jumlah
produk yang berbeda, pada waktu yang berbeda , untuk kelompok pelanggan yang
berbeda, atau dalam pasar yang berbeda.
3. Jumlah produk atau jasa tersebut, kapan waktu digunakan atau dikonsumsinya
produk tersebut, dan kelompok pelanggan atau pasar bagi produk tersebut harus
dapat dipisahkan.
Ada tiga jenis diskriminasi harga yaitu :
1. Diskriminasi harga derajat 1
Diskriminasi harga derajat 1 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang
berbeda-beda untuk setiap konsumen berdasarkan reservation price (Willingness
To Pay) masing-masing konsumen dibedakan pada kemampuan daya beli masing-
masing konsumen. Contoh: seorang dokter memberlakukan tarif konsultasi yang
berbeda-beda pada setiap pasiennya. Diskriminasi harga derajat 1 juga dijelaskan
kedalam grafik yang tersaji pada gambar 1.

Gambar 1. Grafik Diskriminasi Harga Derajat 1


Pada gambar 1 menjelaskan tentang grafik diskriminasi harga derajat 1. Pada
grafik tersebut terdapat hubungan antara P (harga) dan Q (output) yang dimisalkan
harga terdapat P1, P2 dan P3 dan output terdapat Q1, Q2 dan Q3. Pada grafik
terlihat apabila P tinggi maka Q rendah. Hal ini apabila dikaitkan pada kemampuan
daya beli konsumen berarti apabila produsen menawarkan harga yang tinggi maka
terdapat sedikit konsumen yang akan membeli produk tersebut, Dan begitu
sebaliknya, apabila produsen menawarkan harga yang rendah maka terdapat banyak
konsumen yang dapat membeli barang tersebut. Jadi, dalam hal ini perusahaan
harus mengetahui kemampuan daya beli pada masing-masing konsumen.
2. Diskriminasi harga derajat 2
Diskriminasi harga derajat 2 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang
berbeda-beda pada jumlah batch atau lot produk yang dijual. Diskriminasi harga ini
dilakukan karena perusahaan tidak memiliki informasi mengenai reservation price
konsumen. Contoh: perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian
eceran, pembeli yang membeli mie instan 1 bungkus dan 1 kardus akan berbeda
harganya. Diskriminasi harga derajat 2 juga dijelaskan kedalam grafik yang tersaji
pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik Diskriminasi Harga derajat 2


Pada gambar 2 diatas menjelaskan tentang diskriminasi harga derajat 2. Pada
grafik tersebut pelaku usaha menetapkan harga (P1, P2 dan P3) berdasarkan jumlah
konsumsi. Kebijakan ini dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen karena
jumlah output bertambah dan harga jual semakin murah. Hal ini dikarenakan pelaku
usaha menggunakan sistem perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan
pembelian eceran. Harga eceran lebih tinggi dari pada harga per pak, sehingga
konsumen lebih baik membeli barang langsung per pak daripada membeli barang
eceran.
3. Diskriminasi harga derajat 3
Diskriminasi harga derajat 3 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang
berbeda untuk setiap kelompok konsumen berdasarkan reservation price masing-
masing kelompok konsumen. Diskriminasi harga derajat 3 dilakukan karena
perusahaan tidak mengetahui reservation price masing-masing konsumen, tapi
mengetahui reservation price kelompok konsumen. Kelompok konsumen dapat
dibedakan atas lokasi, geografis, maupun karakteristik konsumen seperti umur,
jenis kelamin, pekerjaan, dan lain-lain. Contoh : barang yang dijuala di pedesaan
dan di perkotaan akan berbda harganya. Diskriminasi harga derajat 3 juga
dijelaskan kedalam grafik yang tersaji pada gambar 3.

Gambar 3. Grafik Diskriminasi Harga Derajat 3


Pada gambar 3 diatas menjelaskan tentang grafik diskriminasi harga derajat 3.
Diskriminasi harga ditetapkan berdasarkan perbedaan elastisitas harga. Permintaan
yang lebih inelastis dikenakan harga yang lebih tinggi.
12.3 Penentuan Harga dalam Praktek Bisnis
Harga Dua Bagian
Harga dua bagian merujuk pada praktik penentuan harga ketika konsumen membayar
biaya awal untuk mendapatkan hak membeli suatu produk atau jasa, selain juga biaya
penggunaan atau harga untuk setiap unit yang konsumen beli.
Contohnya yaitu penentuan harga dalam taman hiburan dimana pengunjung dikenakan
biaya umum untuk masuk selain biaya atau harga untuk setiap permainan yang mereka
nikmati, perusahaan telepon yang memakai biaya bulanan ditambah biaya percakapan per
unit, perusahaan komputer yang memakai biaya sewa bulanan ditambah biaya pemakaian
komputer mainframe yang mereka sewakan serta klub golf dan tenis yang menentukan
biaya keanggotaan tahunan ditambah biaya untuk setiap babak yang dilakukan.
Harga paket barang seragam
Pemaketan sejumlah barang yang sama merupakan strategi penetapan harga utk
meningkatkan laba. Beberapa produk yg biasa dipaket 4 atau 5 satuan misalnya pakaian,
mi instan, sabun mandi, sampo dll. Laba perusahaan sama dengan surplus yang didapatkan
konsumen.
Harga paket barang beragam
Merupakan pemaketan thd produk yg berbeda dalam satu paket kemudian menjualnya
dalam harga ‘paket’. Contoh penjualan perangkat komputer, monitor, program komputer
dijual dlm satu paket.

Harga tertinggi power


Calon pembeli Harga tertinggi AC
steering
Konsumen A 2 juta 2,5 juta

Konsumen B 1,5 juta 4 juta

Harga puncak
Beberapa produk atau jasa mengalami permintaan yg sangat besar pada waktu-waktu tt
dan saat yg lain permintaan turun drastic. Penetapan harga puncak dilakukan dgn
menetapkan harga rendah pd saat permintaan rendah dan menetapkan harga mahal pd saat
permintaan tinggi. Contoh tarif telepon : jam 23.00-06.00 diberikan potongan 75% dari
tarif normal, jam 06.00-08.00 diberikan potongan 50% dari tarif normal, jam kerja tarifnya
100%

12.4 Strategi Penetapan Harga Produk yang Sudah Mapan


Penetapan Harga Prestise
Tingkat harga umum yang ada di dalam pasar Mapan adalah harga yang tujuannya
memenuhi harga – harga tertinggi atau perusahaan – perusahaan tersebut secara umum.
Faktor yang menyebabkan perusahaan harus menunjau kembali strategi penetapan harga
produknya yang ada dipasar Menurut Tjiptono (2001 : 174) adalah :
1. Perubahan dalam lingkungan pasar, contohnya pesaing besar menurunkan harga.
2. Pergeseran permintaan, yaitu contohnya terjadinya perubahan selera konsumen.
Untuk melakukan peninjauan kembali terhadap penetapan harga yang telah dilakukan,
perusahaan mempunyai tiga strategi lain, yaitu :
1. Mempertahankan Harga (Prestige Pricing / Harga) strategi ini dilaksanakan dengan
tujuan mempertahankan posisi dalam pasar dan untuk meningkatkan citra yang baik
di masyarakat.. Contoh : roll royce, rolex, guess, gianni versace, prada, vertu, dan
lain sebagainya.
2. Menurunkan Harga, Strategi ini sulit untuk dilaksanakan karena perusahaan harus
memiliki kemampuan finansial yang besar, sementara konsekuensi yang harus
ditanggung, perusahaan menerima margin laba dengan tingkat yang kecil. Ada tiga
alasan atau penyebab perusahaan harus menurunkan harga produk yang sudah
mapan :
a. Strategi Defensif, dimana perusahaan memotong harga guna menghadapi
persaingan yang makin ketat.
b. Strategi Ofensif, di mana perusahaan mempunyai tujuan untuk memenangkan
persaingan dengan produk kompetiter.
c. Respon terhadap kebutuhan pelanggan yang disebabkan oleh perusahaan
lingkungan. Misalnya inflasi yang berkelanjutan Dan adanya kenaikan harga
yang makin melonjak yang menyebabkan konsumen makin selektif dalam
berbelanja dan dalam penentuan harga.
3. Menaikan Harga, suatu perusahaan melakukan kebijakan menaikan harga dengan
tujuan untuk mempertahankan profitabilitas dalam periode inflasi dan untuk
melakukan segmentasi pasar tertentu. Agar strategi ini dapat memberikan hasil
yang memuaskan, ada dua persyaratan yang harus dilakukan oleh perusahaan,
antara lain :
a. Elastisitas harga relatif rendah, namun elastisitas tetap tinggi bila berkaitan
dengan kualitas dan distribusi.
b. Dorongan (reinforcement) dari unsur bauran pemasaran lainnya tetap
menunjang.

Penetapan Harga Promosi


Perusahaan menggunakan berbagai teknik penetapan harga untuk mendorong
pembelian awal.
1. Harga pemimpin rugi (loss-leader pricing)
2. Harga peristiwa khusus (special-event pricing)
3. Rabat tunai (cash rebates)
4. Pembiayaan berbunga rendah (low interest financing)
5. Syarat pembayaran yang lebih lama (longer payment terms)
6. Garansi dan kontrak jasa (warranties and service contracts)
7. Diskon psikologis (psychological discounting)
Stratetgi harga promosi ini sering merupakan suatu zero – sum game yang artinya
mengambil keuntungan dari derita pihak lain. Kalau berhasil, pesaing akan menirunya.
Kalau tidak berhasil, tentunya menghabiskan uang perusahaan yang pada sebenarnya bisa
digunakan perusahaan untuk keperluan - keperluan pemasaran yang berdampak jangka
panjang seperti misalnya meningkatkan mutu dan pelayanan, juga meingkatkan citra
produk dengan periklanan.

12.5 Penetapan Harga Produk Baru


1. Harga Perdana
Harga perdana ialah strategi yang menentukan harga awal yang tinggi pada suatu
produk yang baru diluncurkan dan secara bertahap harganya akan diturunkan. Strategi
ini dilakukan bertujuan guna menutupi biaya riset dan biaya promosi melalui margin
yang besar, kemudian melayani konsumen yang tidak begitu peka terhadap harga, saat
persaingannya tidak terlalu ketat. Sering kali sulit untuk menentukan dengan sangat
tepat kekuatan dalam permintaan saat suatu produk diperkenalkan ke pasar dan karena
hal tersebut maka sulit untuk menentukan harga terbaik yang dikenakan. Dengan
perusahaan memulai harga awal yang tinggi, maka ia bisa menjual suatu produk
tersebut ke konsumen yang mau untuk membayar harga yang cukup tinggi tersebut.
Lalu perusahaan menurunkan harga, karena untuk dapat meningkatkan penjualan
ataupun untuk memperlambat masuknya pesaing baru jika harga perkenalan nya mahal
dapat yang dapat meakibatkan adanya keuntungan yang lebih besar. Strategi ini
berguna saat perusahaan yang pada awalnya mempunyai kapasitas produksi yang
terbatas, karena dapat menguntungkan bagi perusahaan untuk bisa menjual output
yang terbatas pada harga yang paling tinggi yang bisa dicapai. Dan disaat perusahaan
yakin akan penjualan dalam jumlah yang besar dengan harga yang lebih rendah bisa
dilakukan, perusahaan akan memperbesar kapasitas produksinya dan menurunkan
harga tiap produknya.
2. Harga Penetrasi
Harga Penetrasi ialah Strategi yang menentukan harga pada setiap produk dengan
harga yang paling rendah untuk dapat mencapai volume penjualan yang paling tinggi
di dalam segmen pasar. Dalam penetrasi harga, harga yang ditentukan relatif lebih
rendah di tahap awal siklus hidup produk. Dilakukannya hal seperti itu bertujuan untuk
dapat mencapai market share yang cukup besar dan bisa juga untuk mengurangi para
pesaing yang masuk, kemudian dengan mempertaruhkan keuntungan jangka pendek
bermanfaat untuk dapat meraih keunggulan yang kompetitif dan berkelanjutan untuk
masa mendatang.
Strategi penetrasi harga bisa diterapkan saat kondisi kompetitif yang sangat ketat
atau bisa dikatakan ketika kondisi dan situasi pasar menampakkan kejenuhan, lalu
ketika suatu produk yang diproduksi mempunyai daya tarik tersendiri bagi pasar, saat
banyaknya segmen pasar yang bisa dibilang sensitif pada harga, kemudian dalam harga
di awal yang rendah dapat mengurangi minat para pesaing untuk bisa masuk pasar.
Selain itu, pentingnya suatu hal dalam strategi penetrasi harga supaya dapat
terlaksana dengan baik juga harus diperhatikan seperti misalnya, adanya elastisitas
permintaan yang cukup tinggi, potensi sumber daya yang bisa dibilang cukup mampu
untuk bertahan dalam kerugian operasional awal yang bisa ditutupi lalu melalui skala
ekonomi, dan perlu adanya pasar yang peka terhadap harga.
Dengan mampunya melaksanakan strategi ini, maka keinginan perusahaan untuk
sebuah hasil yang didapat pun akan muncul. Maka perusahaan mengharapkan sebuah
hasil yang dapat mencapai tingkat produksi dan penjualan yang tinggi, market share
yang luas, dapat memimpin harga di dalam suatu produk, dan mendapat rugi di awal
tetapi dapat berguna untuk membentuk suatu market share.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. 2011. Ekonomi Manajerial. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.


Henry Faizal. 2011. Ekonomi Manajerial. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Gaspersz, Vincent. 1997. Ekonomi Manajerial Pembuatan Keputusan Bisnis. Edisi Revisi.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Salvatore, Dominick. 2011. Ekonomi Manajerial dalam Perekonomian Global. Edisi Kelima
Buku 2 (Terjemahan). Jakarta: Salemba Empat.
Mubarok, E. Saefuddin. 2015. Ekonomi Manajerial dan Strategi Bisnis. Jakarta: In Media.
Noor.