Anda di halaman 1dari 3

KEBIJAKAN DIVIDEN DALAM KEUANGAN SYARIAH

Oleh Indah Fadilah

1601270088

Pengertian Dividen

Kebijakan dividen merupakan persentase laba yang dibayarkan kepada para pemegang saham dalam
bentuk dividen tunai, penjagaan stabilitas dividen dari waktu ke waktu, pembagian dividen saham,
dan pembelian kembali saham. Rasio pembayaran dividen (dividend pay out ratio), ikut menentukan
besarnya jumlah laba yang ditahan perusahaan harus dievaluasi dalam kerangka tujuan
pemaksimalan kekayaan para pemegang saham. Dividen adalah pembagian laba dari perusahaan
kepada pemegang saham.

Dividen Dalam Perspektif Syariah

Kerjasama dalam bentuk syirkah amwal biasanya dikenal dengan syirkah musahammah. Syirkah
musahammah adalah penyertaan modal usaha yang dihitung dengan jumlah lembar saham yang
diperdagangkan di pasar modal sehingga pemiliknya dapat berganti-ganti dengan mudah dan cepat.
Sehubungan dengan hal ini, al-Mishri menegaskan bahwa pertanggung jawaban pemegang saham
sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki, keuntungan dan kerugian yang diterima oleh pemegang
saham sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki.

Makna Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen merupakan rencana tindakan yang harus diikuti dalam membuat keputusan
dividen. Suatu perusahaan akan tumbuh dan berkembang dan pada waktunya akan memperoleh
keuntungan atau laba. Laba disini terdiri dari laba ditahan dan laba yang dibagikan. Laba ditahan
merupakan salah satu sumber dana yang paling penting untuk pembiayaan pertumbuhan
perusahaan. Semakin besar pembiayaan perusahaan yang berasal dari laba ditahan ditambah
penyusutan aktiva tetap, maka semakin kuat pula posisi financial perusahaan tersebut. Kemudian,
seluruh laba yang diperoleh perusahaan sebagian dibagikan kepada pemegang saham berupa
dividen. Perusahaan dengan kemampuan tingkat laba yang tinggi dan prospek kedepan yang
cerahlah yang mampu membagikan dividen.

Kebijakan Dividen dalam Keuangan Syariah

Kebijakan merupakan suatu langkah atau cara dalam meminimalisir suatu masalah. Dividen
merupakan suatu pembagian laba atau keuntungan dari perusahaan kepada pemegang saham.
Syariah merupakan ketentuan islam. Jadi, kebijakan dividen syariah merupakan suatu kebijakan
dalam pembagian laba yang sesuai dengan ketentuan islam yang dilakukan dari perusahaan kepada
pemegang saham. Dari seluruh laba yang diperoleh yang diperoleh perusahaan sebagian dibagikan
kepada pemegang saham berupa dividen. Mengenai penentuan besarnya dividen ditentukan
merupakan suatu kebijakan dividen dari pemimpin perusahaan.

Faktor- faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen, diantaranya :

1. Undang-Undang

Terkait peraturan pemerintah yang menekankan kepada peraturan laba bersih, larangan
pengurangan modal, dan peraturan kepailitan.

2. Posisi Likuiditas

Laba ditahan ditahun lalu sudah diinvestasikan dalam bentuk aktiva dan tidak disimpan dalam
bentuk kas. Jadi, suatu perusahaan akan mempunyai catatan mengenai laba, perusahaan tidak
mungkin membayar tunai dividen karena posisi likuiditas.

3. Pembatasan Dalam Perjanjian Utang

Larangan membuat bentuk perlindungan pemberian pinjaman diyatakan bahwa dividen dimasa
datang hanya dapat dibayar dri laba yang dieroleh dan dividen tidak dapat dibayarkan apabila modal
bersih berada dibawah suatu jumlah yang telah ditentukan.

4. Tingkat Ekspansi Aktiva

Hal ini terkait dengan perkembangan suatu perusahaan, bila kebutuhan di masa depan semakin
besar maka akan cenderung menahan laba daripada membayarkan.

5. Tingkat Laba dan Stabilitas Laba

Tingkat hasil pengembalian yang diharapkan akan menentukan pilhan relative untuk membayar laba
tersebut dalam bentuk dividen pemegang saham atau menggunakan di perusahaan.

6. Akses ke Pasar Modal

Catatan profitabilitas dan stabilitas akan mempunyai akses yang mudah ke pasar modal dan
mempunyai pendanaan yang lain.

7. Pajak atas Laba yang diakumulasikan secara salah

Perusahaan penyimpan uang yang dapat digunakan untuk menghindari tariff penhasilan pribadi yang
tinggi, peraturan perpajakan perusahaan menentukan suatu pajak tambahan khusu penghasilan
yang diakumulasi tidak benar.
STRUKTUR MODAL DALAM KEUANGAN SYARIAH

Menurut Zainal Arifin, modal adalah sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik dalam suatu
perusahaan. Modal juga merupakan kekayaan bersih yaitu selisih antara nilai buku dari aktiva
dikurangi dengan nilai buku dari kewajiban. Modal bank mempunyai funsi, diantaranya :

1. Sebagai penyangga untuk menyerap kerugian operasional dan kerugian lainnya. Dlam hal ini
modal memberikan perlindungan terhadap kegagalan atau kerugian bank dan perlndungan terhadap
deposan.

2. Sebagai dasar bagi penetapan batas maksimum pemberian kredit.

3. Modal menjadi dasar perhitungan bagi para partisipan pasar untuk mengevaluasi tingkat
kemampuan bank secara relative untuk menghasilkan keuntungan.

Kedudukan modal merupakan sesuatu yang amat penting yang harus dipenuhi terutama oleh pendiri
bank dan para manajemen bank selama beroperasi. Fungsi bank sendiri adalah menhimpun dana
dari masyarakat dan menyalurka kembali serta menyediakan berbagai jenis jasa yang dibutuhkan
para nasabah.

Dalam kaidah islam, pemberian pinjaman tidak boleh meminta imbalan atas pemberian pinjaman
tersebut, karena setiap pemberian pinjaman disertai dengan permintaan imbalan disebut sebagai
riba. Sumber utama modal bank syariah adalah modal inti dan kuasi ekuitas. Dimana modal inti
adalah modal yang berasal dari pemilik bank yang terdiri dari modal yan disetor oleh pemegang
saham, cadangan, dan laba ditahan. Sedangkan kuasi ekuitas adalah dana-dana yang tercatat dalam
rekening bagi hasil.

Tingkat kecukupan modal dapat diukur dengan cara, yaitu :

*Membandingkan modal dengan dana-dana pihak ketiga, yaitu dilihat sudut perlindungan
kepentingan deposan, perbandingan antara modal dengan pos-pos passiva.

*Membandingkan modal dengan aktiva beresiko, dimana organisasi bank sentral dari negara-negara
maju yang disponsori oleh AS, Kanada, Jepang, dan negara-negara Eropa Barat.

CAR (Capital Adequacy Ratio) merupakan aspek terpenting dalam perbankan baik untuk bank
nasional maupun internasional harus memenuhi rasio kecukupan.