Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Insiden kira – kira 8000 orang terkena gigitan ular berbisa setiap tahun di
Amerika Serikat, dengan lebih 98% dari gigitan mengenai ekstremitas. Sejak tahun
1960, rata- rata 14 korban setiap tahun meninggal di Amerika Serikat karena
gigitan ular, dengan 70% kebanyakan di lima daerah serikat termasuk Texas,
Georgia, Florida, Alabama, dan California Selatan.
Di Amerika Utara ular beracun merupakan anggota keluarga Crotalidae atau pit
viper atau dari keluarga elipidae atau ular karang. Keluarga ular Rattle bertanggung
jawab atas kira-kira 70% kematian karena gigitan ular, sementara kematian karena
gigitan ular jenis kepala kuning tembaga (copperhead) sangat jarang.
Ular berbisa dibandingkan ular tak berbisa pit viper dinamakan demikian karena
memiliki ciri lekukan yang sensitif terhadap panas terletak antara mata dan lubang
hidung pada tiap sisi kepala. Pit viper juga memiliki pupil berbentuik elips,
berlainan dengan pupil bulatyang memiliki ular jenis tak bebahaya. Sebaliknya, ular
karang memiliki pupil bulat dan sedikit lekukan pada muka. Pit viper memiliki gigi
taring panjang dan sederet gigi subkaudal. Ular tak berbisa banyak memiliki gigi
dibanding dengan taring dan mempunyai dua deret gigi subkaudal. Untuk
membedakan ular karang berbisa dengan ular lain yang mirip warnanya, harus
diingat bahwa ular karang memiliki hidung berwarna hitam dan memiliki juga
guratan cincin warna merah yang berdampingan dengan warna kuning.
Bisa dari ular berbisa mengandung hialuronidase, yang menyebabkan bisa dapat
menyebar dengan cepat melalui jaringan limfatik superfisisal. Toksin lain yang
terkandung dalam bisa ular, antara lain neurotoksin, toksin hemoragik dan
trombogenik, toksin hemolitik, sitotoksin, dan antikoagulan.

II. Tujuan Penulisan


1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu memahami tentang gigitan ular dan mampu memberikan
asuhan keperawatan pada klien tersebut dalam kegawat daruratan.
2. Tujuan khusus
a. Memahami tentang definisi ggigitan ular
b. Memahami tentang etiologi gigitan ular
c. Memahami tentang patofisiologi gigitan ular
d. Memahami tentang manifestasi klinis gigitan ular
e. Memahami tentang komplikasi klien gigitan ular
f. Memahami tentang penatalaksanaan gigitan ular
g. Melakukan pengkajian gawat darurat pada klien dengan gigitan ular
h. Memberikan asuhan keperawatan gawat darurat pada klien dengan gigitan
ular

III. Manfaat
Semoga dapat Membantu meningkatkan pengetahuan tentang keperawatan
gawat darurat, khususnya yang berhubungan dengan proses asuhan keperawatan
dalam bentuk KGD yang mengulas tentang gigitan ular. Sehingga dapat
mengaplikasikanya dalam masyarakat yang berhubungan dengan keperawatan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Racun ular adalah racun hewani yang terdapat pada ular berbisa. Daya toksin
bisa ular tergantung pula pada jenis dan macam ular. Racun binatang adalah
merupakan campuran dari berbagai macam zat yang berbeda yang dapat
menimbulkan beberapa reaksi toksik yang berbeda pada manusia.
Sebagian kecil racun bersifat spesifik terhadap suatu organ ; beberapa
mempunyai efek pada hampir setiap organ. Kadang-kadang pasien dapat
membebaskan beberapa zat farmakologis yang dapat meningkatkan keparahan
racun yang bersangkutan. Komposisi racun tergantung dari bagaimana binatang
menggunakan toksinnya. Racun mulut bersifat ofensif yang bertujuan
melumpuhkan mangsanya;sering kali mengandung factor letal. Racun ekor bersifat
defensive dan bertujuan mengusir predator; racun bersifat kurang toksik dan
merusak lebih sedikit jaringan.
Racun binatang adalah merupakan campuran dari berbagai macam zat yang
berbeda yang dapat menimbulkan beberapa reaksi toksik yang berbeda pada
manusia. Sebagian kecil racun bersifat spesifik terhadap suatu organ, beberapa
mempunyai efek pada hampir setiap organ. Kadang-kadang pasien dapat
membebaskan beberapa zat farmakologis yang dapat meningkatkan keparahan
racun yang bersangkutan. Komposisi racun tergantung dari bagaimana binatang
menggunakan toksinnya. Racun mulut bersifat ofensif yang bertujuan
melumpuhkan mangsanya, sering kali mengandung faktor letal. Racun ekor bersifat
defensive dan bertujuan mengusir predator, racun bersifat kurang toksik dan
merusak lebih sedikit jaringan
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa
dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan
ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang
mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak
di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Bisa ular tidak hanya terdiri
atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein,
yang memiliki aktivitas enzimatik.

B. Etiologi
Terdapat 3 famili ular yang berbisa, yaitu Elapidae, Hidrophidae, dan Viperidae.
Bisa ular dapat menyebabkan perubahan lokal, seperti edema dan pendarahan.
Banyak bisa yang menimbulkan perubahan lokal, tetapi tetap dilokasi pada anggota
badan yang tergigit. Sedangkan beberapa bisa Elapidae tidak terdapat lagi dilokasi
gigitan dalam waktu 8 jam.
Daya toksik bisa ular yang telah diketahui ada beberapa macam :
a. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic)
Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, yaitu bisa ular yang menyerang
dan merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan jalan menghancurkan
stroma lecethine (dinding sel darah merah), sehingga sel darah menjadi hancur
dan larut (hemolysin) dan keluar menembus pembuluh-pembuluh darah,
mengakibatkan timbulnya perdarahan pada selaput tipis (lender) pada mulut,
hidung, tenggorokan, dan lain-lain.
b. Bisa ular yang bersifat saraf (Neurotoxic)
Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel saraf
sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf tersebut mati
dengan tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru-biruan dan hitam
(nekrotis). Penyebaran dan peracunan selanjutnya mempengaruhi susunan saraf
pusat dengan jalan melumpuhkan susunan saraf pusat, seperti saraf pernafasan
dan jantung. Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh, ialah melalui pembuluh
limfe.
c. Bisa ular yang bersifat Myotoksin
Mengakibatkan rabdomiolisis yang sering berhubungan dengan
maemotoksin. Myoglobulinuria yang menyebabkan kerusakan ginjal dan
hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel otot.
d. Bisa ular yang bersifat kardiotoksin
Merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot jantung.
e. Bisa ular yang bersifat cytotoksin
Dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat
terganggunya kardiovaskuler.
f. Bisa ular yang bersifat cytolitik
Zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrose di jaringan pada
tempat gigitan.
g. Enzim-enzim
Termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada penyebaran bisa.

C. Patofisiologi
Bisa ular yang masuk ke dalam tubuh, menimbulkan daya toksin. Toksik
tersebut menyebar melalui peredaran darah yang dapat mengganggu berbagai
system. Seperti, sistem neurogist, sistem kardiovaskuler, sistem pernapasan. Pada
gangguan sistem neurologis, toksik tersebut dapat mengenai saraf yang
berhubungan dengan sistem pernapasan yang dapat mengakibatkan oedem pada
saluran pernapasan, sehingga menimbulkan kesulitan untuk bernapas.
Pada sistem kardiovaskuler, toksik mengganggu kerja pembuluh darah yang
dapat mengakibatkan hipotensi. Sedangkan pada sistem pernapasan dapat
mengakibatkan syok hipovolemik dan terjadi koagulopati hebat yang dapat
mengakibatkan gagal napas.
D. Manifestasi Klinis
Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua gigitan
ular. Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit kegelapan
karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit). Sindrom kompartemen
merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular berbisa, yaitu terjadi oedem
(pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan 5P: pain (nyeri), pallor (muka
pucat), paresthesia (mati rasa), paralysis (kelumpuhan otot), pulselesness
(denyutan).
Tanda dan gejala khusus pada gigitan family ular :
1. Gigitan Elapidae
Misal: ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular
cabai, coral snakes, mambas, kraits), cirinya:
a. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut,
kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
b. Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.
c. 15 menit setelah digigit ular muncul gejala sistemik. 10 jam muncul paralisis
urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah
menelan, otot lemas, kelopak mata menurun, sakit kepala, kulit dingin,
muntah, pandangan kabur, mati rasa di sekitar mulut dan kematian dapat
terjadi dalam 24 jam.
2. Gigitan Viperidae/Crotalidae
Misal pada ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
a. Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam berupa
bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan.
b. Gejala sistemik muncul setelah 50 menit atau setelah beberapa jam.
c. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam
waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.
3. Gigitan Hydropiidae
Misalnya, ular laut, cirinya:
a. Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan muntah.
b. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri
menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot, mioglobulinuria
yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini penting untuk diagnosis),
ginjal rusak, henti jantung.
4. Gigitan Crotalidae
Misalnya ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
a. Gejala lokal ditemukan tanda gigitan taring, pembengkakan, ekimosis, nyeri
di daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya pemberian polivalen crotalidae
antivenin.
b. Anemia, hipotensi, trombositopeni.
Tanda dan gejala lain gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam beberapa
kategori:
a. Efek lokal, digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa kobra menimbulkan
rasa sakit dan perlunakan di daerah gigitan. Luka dapat membengkak hebat
dan dapat berdarah dan melepuh. Beberapa bisa ular kobra juga dapat
mematikan jaringan sekitar sisi gigitan luka.
b. Perdarahan, gigitan oleh famili viperidae atau beberapa elapid Australia dapat
menyebabkan perdarahan organ internal, seperti otak atau organ-organ
abdomen. Korban dapat berdarah dari luka gigitan atau berdarah spontan dari
mulut atau luka yang lama. Perdarahan yang tak terkontrol dapat
menyebabkan syok atau bahkan kematian.
c. Efek sistem saraf, bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung pada
sistem saraf. Bisa ular kobra dan mamba dapat beraksi terutama secara cepat
menghentikan otot-otot pernafasan, berakibat kematian sebelum mendapat
perawatan. Awalnya, korban dapat menderita masalah visual, kesulitan bicara
dan bernafas, dan kesemutan.
d. Kematian otot, bisa dari russell’s viper (Daboia russelli), ular laut, dan
beberapa elapid Australia dapat secara langsung menyebabkan kematian otot
di beberapa area tubuh. Debris dari sel otot yang mati dapat menyumbat
ginjal, yang mencoba menyaring protein. Hal ini dapat menyebabkan gagal
ginjal.
e. Mata, semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara tepat mengenai mata
korban, menghasilkan sakit dan kerusakan, bahkan kebutaan sementara pada
mata.

E. Derajat Gigitan luar


1. Derajat 0
Dengan tanda-tanda tidak keracunan, hanya ada bekas taring dan gigitan ular,
nyeri minimal dan terdapat edema dan eritema kurang dari 1 inci dalam 12 jam,
pada umumnya gejala sistemik yang lain tidak ada

2. Derajat 1
Terjadi keracunan minimal, terdapat bekas taring dan gigitan, terasa sangat
nyeri dan edema serta eritema seluas 1-5 inci dalam 12 jam, tidak ada gejala
sistemik
3. Derajat 3
Terjadi keracunan tingkat sedang terdapat bekas taring dan gigitan, terasa
sangat nyeri dan edema serta eritemayang terjadi meluas antara 6-12 inci dalam
12 jam. Kadang- kadang dijumpai gejala sistemik seperti mual, gejalaneurotoksi,
syok, pembesaran kelenjar getah beningregional
4. Derajat 3
Terdapat gejala keracunan yang hebat, bekas taring dan gigitan, terasa sangat
nyeri, edema dan eritema yang terjadi luasnya lebih dari 12 inci dalam 12 jam.
Juga terdapat gejala sistemik seperti hipotensi, petekhiae, dan ekimosis serta
syok
5. Derajat 4
Gejala keracunan sangat berat, terdapat bekas taring dan gigitan yang
multiple, terdapat edema dan lokal pada bagian distal ekstremitas dan gejala
sistemik berupa gagal ginjal, koma sputum berdarah.

F. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan tergantung derajat keparahan envenomasi; dibagi menjadi
perawatan di lapangan dan manajemen di rumah sakit
1. Perawatan di Lapangan
Seperti kasus-kasus emergensi lainnya, tujuan utama adalah untuk
mempertahankan pasien sampai mereka tiba di instalasi gawat darurat. Sering
penatalaksanaan dengan autentisitas yang kurang lebih memperburuk daripada
memperbaiki keadaan, termasuk membuat insisi pada luka gigitan, menghisap
dengan mulut, pemasangan turniket, kompres dengan es, atau kejutan listrik.
Perawatan di lapangan yang tepat harus sesuai dengan prinsip dasar emergency
life support. Pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah
pergi segera cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban. Selanjutnya
lakukan prinsip RIGT, yaitu:
a. R: Reassure: Yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan korban,
kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga racun akan lebih
cepat menyebar ke tubuh. Terkadang pasien pingsan/panik karena kaget.
b. I: Immobilisation: Jangan menggerakan korban, perintahkan korban untuk
tidak berjalan atau lari. Jika dalam waktu 30 menit pertolongan medis tidak
datang, lakukan tehnik balut tekan (pressure-immoblisation) pada daerah
sekitar gigitan (tangan atau kaki) lihat prosedur pressure immobilization
(balut tekan).
c. G: Get: Bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
d. T: Tell the Doctor: Informasikan ke dokter tanda dan gejala yang muncul
ada korban.
2. Tenangkan pasien untuk menghindari hysteria selama implementasi ABC
(Airway, Breathing, Circulation); pertolongan pertama :
a. Cegah gigitan sekunder atau adanya korban kedua. Ular dapat terus mengigit
dan menginjeksikan bisa melalui gigitan berturut-turut sampai bisa mereka
habis.
b. Buat korban tetap tenang, yakinkan mereka bahwa gigitan ular dapat
ditangani secara efektif di instalasi gawat darurat. Batasi aktivitas dan
imobilisasi area yang terkena (umumnya satu ekstrimitas), dan tetap posisikan
daerah yang tergigit berada di bawah tinggi jantung untuk mengurangi aliran
bisa.
c. Jika terdapat alat penghisap, (seperti Sawyer Extractor), ikuti petunjuk
penggunaan. Alat penghisap tekanan-negatif dapat memberi beberapa
keuntungan jika digunakan dalam beberapa menit setelah envenomasi. Alat
ini telah direkomendasikan oleh banyak ahli di masa lalu, namun alat ini
semakin tidak dipercaya untuk dapat menghisap bisa secara signifikan, dan
mungkin alat penghisap dapat meningkatkan kerusakan jaringan lokal.
d. Buka semua cincin atau benda lain yang menjepit / ketat yang dapat
menghambat aliran darah jika daerah gigitan membengkak. Buat bidai
longgar untuk mengurangi pergerakan dari area yang tergigit.
e. Monitor tanda-tanda vital korban — temperatur, denyut nadi, frekuensi nafas,
dan tekanan darah – jika mungkin. Tetap perhatikan jalan nafas setiap waktu
jika sewaktu-waktu menjadi membutuhkan intubasi.
f. Jika daerah yang tergigit mulai membengkak dan berubah warna, ular yang
mengigit kemungkinan berbisa.
g. Segera dapatkan pertolongan medis. Transportasikan korban secara cepat dan
aman ke fasilitas medis darurat kecuali ular telah pasti diidentifikasi tidak
berbahaya (tidak berbisa). Identifikasi atau upayakan mendeskripsikan jenis
ular, tapi lakukan jika tanpa resiko yang signifikan terhadap adanya gigitan
sekunder atau jatuhnya korban lain. Jika aman, bawa serta ular yang sudah
mati. Hati-hati pada kepalanya saat membawa ular – ular masih dapat
mengigit hingga satu jam setelah mati (dari reflek). Ingat, identifikasi yang
salah bisa fatal. Sebuah gigitan tanpa gejala inisial dapat tetap berbahaya atau
bahkan fatal.
h. Jika berada di wilayah yang terpencil dimana transportasi ke instalasi gawat
darurat akan lama, pasang bidai pada ekstremitas yang tergigit. Jika
memasang bidai, ingat untuk memastikan luka tidak cukup bengkak sehingga
menyebabkan bidai menghambat aliran darah. Periksa untuk memastikan jari
atau ujung jari tetap pink dan hangat, yang berarti ekstrimitas tidak menjadi
kesemutan, dan tidak memperburuk rasa sakit.
i. Jika dipastikan digigit oleh elapid yang berbahaya dan tidak terdapat efek
mayor dari luka lokal, dapat dipasang pembalut dengan teknik imobilisasi
dengan tekanan. Teknik ini terutama digunakan untuk gigitan oleh elapid
Australia atau ular laut. Balutkan perban pada luka gigitan dan terus sampai
ke bagian atas ekstremitas dengan tekanan seperti akan membalut
pergelangan kaki yang terpeleset. Kemudian imobilisasi ekstremitas dengan
bidai, dengan tetap memperhatikan mencegah terhambatnya aliran darah.
Teknik ini membantu mencegah efek sistemik yang mengancam nyawa dari
bisa, tapi juga bisa memperburuk kerusakan lokal pada sisi gigitan jika gejala
yang signifikan terdapat di sana.
3. Penatalaksanaan selanjutnya
a. Margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 78.0pt; margin-
right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: -35.45pt;"> 5)
ABU 2 flacon dalam NaCl diberikan per drip dalam waktu 30 – 40 menit.
b. Heparin 20.000 unit per 24 jam.
c. Monitor diathese hemorhagi setelah 2 jam, bila tidak membaik, tambah 2
flacon ABU lagi. ABU maksimal diberikan 300 cc (1 flacon = 10 cc).
d. Bila ada tanda-tanda laryngospasme, bronchospasme, urtikaria atau hipotensi
berikan adrenalin 0,5 mg IM, hidrokortisone 100 mg IV.
e. Kalau perlu dilakukan hemodialise.
f. Bila diathese hemorhagi membaik, transfusi komponen
g. Observasi pasien minimal 1 x 24 jam
4. Catatan: Jika terjadi syok anafilaktik karena ABU, ABU harus dimasukkan
secara cepat sambil diberi adrenalin dengan pemberian ABU (Anti bisa ular).

G. Komplikasi
Sindrom kompartemen adalah komplikasi tersering dari gigitan ular pit viper.
Komplikasi luka lokal dapat meliputi infeksi dan hilangnya kulit. Komplikasi
kardiovaskuler, komplikasi hematologis, dan kolaps paru dapat terjadi. Jarang
terjadi kematian. Anak-anak mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadinya
kematian atau komplikasi serius karena ukuran tubuh mereka yang lebih kecil, juga
gejaala sistemik berupa gagal ginjal, shock, koma dan bisa menyebabkan kematian.
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dasar, pemeriksaaan kimia darah, hitung sel darah
lengkap, penentuan golongan darah dan uji silang, waktu protrombin, waktu
tromboplastin parsial, hitung trombosit, urinalisis, penentuan kadar gula darah, BUN
dan elektrolit. Untuk gigitan yang hebat, lakukan pemeriksaan fibrinogen, fragilitas
sel darah merah, waktu pembekuan dan waktu retraksi bekuan.

I. Terapi
Dimana proses terapi/pengobatan yaitu :
1. Pemberian antibiotik dan diuretika untuk mempertahankan di uresis
2. Pemberian sedase atau analsesit untuk menghilangkan rasa takut cepat
mati/panik
3. Hidrokortison 100 mg/iv
4. Adrenalin 0,2 mg 9untuk anak dosis di kurangi, dan pada penyakit jantung
pemberianya harus hati-hati
5. Pemberian serum anti bisa
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

A. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien Ditikam Ular


1. Pengkajian
Pada gigitan ular dapat ditemukan data :
a. Tampak kebiruan
b. Pingsan
c. Lumpuh
d. Sesak nafas
e. syok hipovolemik
f. nyeri kepala
g. mual dan muntah
h. nyeri perut
i. diare
j. keluarnya darah terus menerusdari tempat gigitan
k. flaccid paralysis
l. Miotoksisitas
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan proses toksikasi
b. Syok berhubungan dengan tidak adekuatnya peredaran darah ke jaringan
c. Rasa gatal, bengkak dan bintik – bintik merah berhubungan dengan proses
inflamasi
d. Gangguan Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan reaksi endotoksin
e. Hipertermia berhubungan dengan efek langsung endotoksin pada hipotalamus
f. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh tak
adekuat
3. Intervensi
a. Nyeri berhubungan dengan proses toksikasi
Tujuan : Meredakan nyeri
Intervensi :
1) Sengat kalau masih ada dicabut dengan pinset
2) mengeluarkan sengat serangga yang masih tertinggal
3) Berikan kompres dingin
4) meredakan nyeri dan mengurangi bengkak
5) Lakukan tehnik distraksi relaksasi
6) mengurangi nyeri
7) Kolaborasi dalam pemberian antihistamin seperti diphenhidramin
(Benadryl) dalam bentuk krim/salep atau pil, losion Calamine
8) mengurangi gatal – gatal
b. Syok berhubungan dengan tidak adekuatnya peredaran darah ke jaringan
Tujuan : Menangani penyebab, Memperbaiki suplai darah ke jaringan
Intervensi :
1) Atasi setiap penyebab shock yang mungkin dapat di atasi(perdarahan luar)
2) Mengurangi keparahan
3) Pasien dibaringkan kepala lebih rendah.
4) Kepala lebih rendah supaya pasien tidak hilang kesadaran
5) Kaki di tinggikan dan di topang
6) Meningkatkan suplai darah ke otak
7) Longgarkan pakaian yang ketat atau pakaian yang menghalangi
8) Sirkulasi tidak terganggu
9) Periksa dan catat pernapasan nadi dan tingkat reaksi tiap 10 menit
10) Mengetahui tingkat perkembangan pasien
c. Rasa gatal, bengkak dan bintik – bintik merah berhubungan dengan proses
inflamasi
Tujuan : Mencegah peradangan akut
Intervensi :
1) Pasang tourniket pada daerah di atas gigitan
2) Mencegah tersebarnya racun ke seluruh tubuh
3) Bersihkan area yang terkena gigitan dengan sabun dan air untuk
menghilangkan partikel yang terkontaminasi oleh serangga (seperti
nyamuk).
4) Untuk menghindari terkontaminasi lebih lanjut pada luka
5) Kolaborasi dalam pemberian antihistamin dan serum Anti Bisa Ular
(ABU) polivalen i.v dan disekitar luka. ATS dan penisilin procain 900.000
IU
6) Mencegah terjadinya infeksi
d. Gangguan Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan reaksi endotoksin
1) Auskultasi bunyi nafas
2) Pantau frekuensi pernapasan
3) Atur posisi klien dengan nyaman dan atur posisi kepala lebih tinggi
4) Motivasi / Bantu klien latihan nafas dalam
5) Observasi warna kulit dan adanya sianosis
6) Kaji adanya distensi abdomen dan spasme otot
7) Batasi pengunjung klien
8) Pantau seri GDA
9) Bantu pengobatan pernapasan (fisioterapi dada)
10) Beri O2 sesuai indikasi (menggunakan ventilator)
e. Hipertermia berhubungan dengan efek langsung endotoksin pada hipotalamus
1) Pantau suhu klien, perhatikan menggigil atau diaforesis
2) Pantau suhu lingkungan, batasi linen tempat tidur
3) Beri kompres mandi hangat
4) Beri antipiretik
5) Berikan selimut pendingin
f. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh tak
adekuat
1) Berikan isolasi atau pantau pengunjung sesuai indikasi
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas terhadap klien
3) Ubah posisi klien sesering mungkim minimal 2 jam sekali
4) Batasi penggunaan alat atau prosedur infasive jika memungkinkan
5) Lakukan insfeksi terhadap luka alat infasif setiap hari
6) Lakukan tehnik steril pada waktu penggantian balutan
7) Gunakan sarung tangan pada waktu merawat luka yang terbuaka atau
antisipasi dari kontak langsung dengan ekskresi atau sekresi
8) Pantau kecenderungan suhu mengigil dan diaforesis
9) Inspeksi flak putih atau sariawan pada mulut
10) Berikan obat antiinfeksi (antibiotic)
4. Evaluasi
a. Menunjukan GDA dan frekuensi dalam batas normal dengan bunyi nafas
vesikuler
b. Tidak mengalami dispnea atau sianosis
c. Mendemontrasikan suhu dalam batas normal
d. Tidak mengalami komplikasi yang berhubungan
e. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gigitan ular merupakan suatu keadaan gawat darurat yang apabila tidak segera
ditandatangani, dapat menyebabkan kematian, korban gigitan ular adalah pasien
yang digigit ular atau iduga digigit ular.
Ada tiga famili ular berbisa, yaitu Elapidae, Hydropidae, dan Viperidae Bila
tergigit ular yang berbisa tinggi efeknya berbeda beda sesuai jenis racun yang
terkandung di dalam bisa ular, efek gigitan pada umumnya yaitu : Pembengkakan
pada luka, diikuti perubahan warna, Rasa sakit di seluruh persendian tubuh, Mulut
terasa kering, Pusing, mata berkunang – kunang, Demam, menggigil, Efek lanjutan
akan muntah, lambung dan liver (hati) terasa sakit, pinggang terasa pegal, akibat
dari usaha ginjal membersihkan darah, Reaksi emosi yang kuaat, Penglihatan
kembar/kabur, mengantuk, Pingsan, Mual dan atau muntah dan diare, Rasa sakit
atau berat didada dan perut,Tanda-tanda tusukan gigi, gigitan biasanya pada
tungkai/kaki, Sukar bernafas dan berkeringat banyak, Kesulitan menelan serta kaku
di daerah leher dan geraham.

B. Saran
Diharapkan semoga dengan Askep Pada Klien Dengan Gigitan Ular ini yang
merupakan bagian dari Keperawatan Dawat darurat dapat bermanfaat bagi kami
dan teman-teman dalam melaksanakan asuhan keperawatan, sehingga perawat
mengetahui atau mengerti tentang gangguan yang berhubungan dengan gangguan
intergumen pada klien yang terkena gigtan ular, Dalam rangka mengatasi masalah
resiko pada klien dengan gigitan ular maka tugas perawat yang utama adalah sering
mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami gigitan ular. Serta kami
menyadari bahwa Askep yang kami buat ini masih jauh dari kesempurnaan,
sehingga saran dan kritik yang sifatnta membangun sangat kami butuhkan, baik itu
dari teman-teman ataupun para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Daley eMedicine – Snakebite : Article by Brian James, MD, MBA, FACS, 2006
available at URL : http://www.emedicine.com/med/topic2143.htm

Hafid, Abdul, dkk., editor : Sjamsuhidajat,R. dan de Jong, Wim, Bab 2 : Luka, Trauma,
Syok, Bencana., Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC : Jakarta, Mei 1997. Hal.
99-100. 2.

http://aniza92.blogspot.com/2011/11/askep-gadar-gigitan-ular.html

Sartono, 1999, racun dan keracunan, jakarta: EGC

http://www.slideshare.net/septianraha/askep-gigitan-ular-27495411

http://www.slideshare.net/septianraha/askep-gigitan-ular

http://alifatunkhasanah.blogspot.co.id/2015/04/asuhan-keperawatan-gigitan-ular.html
http://lukitomemo.blogspot.com/2016/04/asuhan-keperawatan-gigitan-ular.html

http://nerssyamsi.blogspot.com/2012/01/konsep-kegawatdaruratan-pada-pasien.html

Anda mungkin juga menyukai