Anda di halaman 1dari 87

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sistem saraf adalah salah satu dari dua sistem kontrol tubuh, selain sistem endokrin. Sistem saraf, melalui transmisi impuls yang cepat, umumnya mengkoordinasi aktivitas- aktivitas tubuh yang cepat, misalnya gerak otot. Meskipun kedua sistem kontrol tersebut dengan jelas berbeda, namun keduanya secara umum banyak bekerja sama. Keduanya mempengaruhi sel-sel target dengan membebaskan zat kimia duta (chemical messenger) yang akan berinteraksi dengan cara khusus dengan reseptor khusus dari sel target. Jarak yang ditempuh oleh zat kimia duta pada saraf hanya pendek yaitu melalui celah sinaps. Sinyal untuk membebaskan zat kimia duta pada saraf adalah potensial aksi. Suatu zat kimia duta tertentu, misalnya norepineprin, dapat merupakan suatu neurotransmitter bila dibebaskan dari ujung saraf. Sistem saraf juga melakukan fungsi-fungsi kontrol yang penting terhadap sekresi banyak hormon. Pada waktu sama, banyak hormon bekerja sebagai neuromodulator untuk merubah keefektifan sinaps. Pada makalah ini akan dibahas akan dibahas lebih mendalam lagi mengenai organisasi sistem saraf, berbagai tipe sel saraf, sel-sel glial dan pelindung sistem saraf pusat, struktur sistem saraf pusat dan mekanisme kerjanya, struktur sistem saraf tepi dan mekanisme kerjanya, sistem saraf otonom dan somatik, persinyalan listrik di sel saraf, sinaps pada sel saraf, berbagai reseptor di alat indera, mekanisme muncul sensasi, serta berbagai penyakit gangguan pada sistem saraf dan alat indera.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana organisasi sistem saraf?

2. Apa saja tipe-tipe sel saraf?

3. Apa saja sel-sel glial dan pelindung sistem saraf pusat?

4. Bagaimana struktur sistem saraf pusat?

5. Bagaimana struktur sistem saraf tepi?

6. Bagaimana mekanisme kerja sistem saraf tepi?

7. Bagaimana sistem saraf otonom dan somatik?

8. Bagaimana persinyalan listrik di sel saraf?

9. Apa yang dimaksud sinaps pada sel saraf?

10. Apa saja reseptor di alat indera?

11. Bagaimana mekanisme muncul sensasi?

12. Apa saja gangguan pada sistem saraf dan alat indera?

C. Tujuan Pembahasan

1. Mengetahui organisasi sistem saraf

2. Mengetahui berbagai tipe sel saraf

3. Mengetahui sel-sel glial dan pelindung sistem saraf pusat

4. Mengetahui struktur sistem saraf pusat

5. Mengetahui struktur sistem saraf tepi

6. Mengetahui mekanisme kerja sistem saraf tepi

7. Mengetahui sistem saraf otonom dan somatik

1

8.

Mengetahui persinyalan listrik di sel saraf

9. Mengetahui sinaps pada sel saraf

10. Mengetahui reseptor di alat indera

11. Mengetahui mekanisme muncul sensasi

12. Mengetahui penyakit karena gangguan pada sistem saraf dan alat indera

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Organisasi Sistem Saraf Berdasarkan perbedaan struktur, tempat dan fungsinya sistem saraf diorganisasi menjadi: (l) sistem saraf pusat (Central Nervous System = CNS), yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang (korda spinalis), dan (2) sistem saraf tepi (Peripherai Nervous System = PNS), yang terdiri dari serabut-serabut saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan bagian tepi tubuh (reseptor dan efektor). Sistem saraf tepi dibagi lebih lanjut menjadi (1) kelompok saraf aferen dan (2) kelompok saraf eferen. Serabut saraf aferen (aferen = membawa ke) membawa informasi ke sistem saraf pusat. Serabut saraf eferen (eferen = membawa dari) membawa perintah dari sistem saraf pusat ke organ efektor, yaitu ke sel-sel otot atau kelenjar-kelenjar.

organ efektor, yaitu ke sel-sel otot atau kelenjar-kelenjar. Gambar 2.1 Organisasi Sistem Saraf, (Fundamentals of Human

Gambar 2.1 Organisasi Sistem Saraf, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012)

Sistem saraf eferen dibagi menjadi (1) sistem saraf somatik, yang terdiri dari saraf motorik yang menginervasi otot-otot rangka, dan (2) sistem saraf otonom, yang menginervasi otot polos, otot jantung, dan kelenjar-kelenjar. Sistem saraf otonom dibagi lagi menjadi (1) sistem saraf simpatetik dan (2) sistem saraf parasimpatetik. 1

B. Berbagai Tipe Sel Saraf

1. Berdasarkan Fungsinya Berdasarkan fungsinya sel-sel saraf dibedakan menjadi 3 macam, yaitu (1) sel saraf aferen (sel saraf sensorik), (2) sel saraf eferen (sel saraf motorik), dan (3) sel saraf interneuron (sel saraf asosiasi sel/ saraf perantara). Sel-sel saraf aferen menyusun sistem saraf aferen, yang bentuknya berbeda dari sel saraf eferen dan sel saraf interneuron. Pada ujung perifernya, suatu sel saraf aferen memiliki suatu reseptor yang berfungsi

membangkitkan potensial dalam merespon stimulus tertentu. Sel saraf aferen yang

1 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 60

3

termasuk sel saraf unipolar, badan selnya terletak dalam akar belakang medula spinalis, tonjolan yang keluar dari badan sel dianggap sebagai akson, yang dibedakan menjadi akson perifer dan akson pusat. Akson perifer memanjang dari reseptor sampai badan sel, dan akson pusat melintas dari badan sel ke medula spinalis. Ujung akson pusat bercabang-cabang dan bersinapsis dengan sel-sel saraf lain di dalam medula spinalis. Sel saraf aferen terutama terletak dalam sistem saraf perifer, dan hanya sebagian kecil dari akhir ujung akson pusat saja yang masuk ke medula spinalis.

akhir ujung akson pusat saja yang masuk ke medula spinalis. Gambar 2.2 Struktur dan Letak Tiga

Gambar 2.2 Struktur dan Letak Tiga Kelas Sel Saraf, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012)

Sel saraf eferen (sel saraf motorik) juga terletak terutama dalam sistem saraf tepi. Badan sel-sel saraf eferen berasal dari sistem saraf pusat, di mana banyak terdapat input prasinaptik mengumpul pada badan sel ini untuk mempengaruhi output ke organ efektor. Akson eferen meninggalkan sistem saraf pusat ke otot-otot atau kelenjar- kelenjar yang diinervasi. Sel saraf interneuron (neuron asosiasi/neuron perantara) terletak seluruhnya di dalam sistem saraf pusat. Sekitar 99% dari semua sel saraf termasuk jenis sel saraf ini. Sel saraf interneuron mempunyai dua fungsi utama. Pertama, berfungsi penting dalam pengintegrasian respon periferal ke informasi periferal, misalnya bila tangan kita menyentuh benda panas, maka informasi ini akan disampaikan melalui sel saraf aferen kemudian saraf interneuron akan meneruskan sinyal tersebut ke otot tangan dan lengan melalui sel saraf eferen. Dengan jalan ini, tangan akan kita tarik dari benda yang panas tadi. Kedua, hubungan antara dua saraf interneuron bertanggung jawab meneruskan informasi ke otak. 2

2. Berdasarkan Strukturnya Setiap sel saraf terdiri dari 3 bagian, yaitu (l) badan sel, (2) dendrit dan (3) akson. Dendrit adalah penonjolan/percabangan badan sel yang membawa ke badan sel, sedangkan akson adalah penonjolan yang membawa impuls dari badan sel. Badan- badan sel terletak di dalam substansia kelabu dari sistem saraf pusat atau di dalam ganglion dari sistem saraf tepi, sementara dendrit-dendrit dan akson-akson membentuk saraf tubuh dan substansia putih dari sistem saraf pusat. Kebanyakan dendrit sel saraf aferen panjang, kadang-kadang sampai beberapa puluh cm, mulai dari tangan atau kaki sampai ganglia spinal. Dendrit sel saraf eferen

2 Ibid., hlm. 61-62

4

dan sel saraf interneuron biasanya pendek dan banyak, aksonnya tunggal, tetapi sering memiliki satu atau lebih cabang (kolateral).

tetapi sering memiliki satu atau lebih cabang (kolateral). Gambar 2.3 Struktur Sel Saraf, (Principles of Anatomy

Gambar 2.3 Struktur Sel Saraf, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

Berdasarkan strukturnya sel saraf dibedakan ménjadi tiga macam: (1) sel saraf unipolar, (2) sel saraf bipolar, dan (c) sel saraf multipolar. Sel saraf bipolar adalah sel saraf yang memiliki dua penonjolan, satu sebagai dendrit dan satu lagi sebagai akson. Sel saraf unipolar adalah sel saraf yang hanya memiliki satu penonjolan yang dianggap sebagai akson. Ada yang menyebut unipolar sebagai pseudounipolar. Sel saraf multipolar adalah sel saraf yang memiliki banyak penonjolan yang keluar dari badan sel. Beberapa penonjolan sebagai dendrit dan satu penonjolan sebagai akson. 3

sebagai dendrit dan satu penonjolan sebagai akson. 3 Gambar 2.4 Macam-macam Sel Saraf Berdasarkan Strukturnya,

Gambar 2.4 Macam-macam Sel Saraf Berdasarkan Strukturnya, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

C. Sel-Sel Glial dan Pelindung Sistem Saraf Pusat

1. Sel-Sel Glial Sekitar 90% sel di dalam sistem saraf pusat adalah sel-sel glia atau neuroglia. Meskipun jumlahnya besar, neuroglia menempati hanya sekitar separuh dari volume

3 Ibid., hlm. 62

5

otak, sebab neuroglia tidak bercabang-cabang seperti pada sel saraf. Neuroglia tidak menghantarkan impuls berbeda dengan sel saraf yang bisa menghantarkan impuls. 4 Secara umum, neuroglia lebih kecil dari neuron, dan jumlahnya 5 hingga 50 kali lebih banyak. Berlawanan dengan neuron, glia tidak menghasilkan atau menyebarkan potensi aksi, dan mereka dapat berkembang biak dan membelah dalam sistem saraf dewasa. Neuroglia di SSP dapat diklasifikasikan berdasarkan ukuran, proses sitoplasma, dan organisasi intraseluler menjadi empat jenis yaitu astrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel ependimal. 5

astrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel ependimal. 5 Gambar 2.5 Sel Glial pada Sistem Saraf Pusat. (Fundamentals

Gambar 2.5 Sel Glial pada Sistem Saraf Pusat. (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012)

a. Oligodendrosit Membentuk insulasi sarung myelin akson dalam sistem saraf pusat. Suatu oligodendrosit memiliki beberapa proyeksi yang memanjang, masing-masing seperti gulungan jeli menyelubungi suatu bagian dari akson interneuron untuk membentuk segmen-segmen mielin.

b. Mikroglia Merupakan sel-sel kecil dengan proses ramping yang menghasilkan banyak

proyeksi seperti spinel. Fungsi mikroglia sebagai fagosit. Seperti makrofag jaringan, mereka menghilangkan puing seluler yang terbentuk selama perkembangan normal sistem saraf dan memfagositosis mikroba dan jaringan saraf yang rusak. 6

c. Astrosit Sel-sel berbentuk bintang ini memiliki banyak proses dan merupakan yang terbesar dan paling banyak di neuroglia. Ada dua jenis astrosit. Astrosit protoplasma memiliki banyak proses percabangan pendek. Astrosit berserat memiliki banyak proses panjang yang tidak bercabang. Proses-proses astrosit melakukan kontak dengan kapiler darah, neuron, dan pia mater (selaput tipis di sekitar otak dan sumsum tulang belakang). Fungsi astrosit meliputi yang berikut:

Astrosit mengandung mikrofilamen yang memberi mereka kekuatan yang besar,

yang memungkinkan mereka untuk mendukung neuron. 2) Proses astrosit melilit kapiler darah mengisolasi neuron dari SSP dari berbagai

zat yang berpotensi berbahaya dalam darah dengan mengeluarkan bahan kimia yang mempertahankan karakteristik permeabilitas selektif yang unik dari sel

1)

4 Ibid., hlm. 63

5 Gerard J. Tortora and Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 421

6 Ibid., hlm. 422

6

endotel kapiler. Efeknya, endotel sel-sel menciptakan penghalang otak-banjir, yang membatasi pergerakan zat antara darah dan cairan interstitial dari SSP. 3) Dalam embrio, astrosit mengeluarkan bahan kimia yang tampaknya mengatur pertumbuhan, migrasi, dan interkoneksi antar neuron di otak.

Astrosit membantu mempertahankan bahan kimia yang sesuai lingkungan untuk

generasi impuls saraf. Sebagai contoh, mereka mengatur konsentrasi ion-ion penting seperti K meningkatkan kelebihan neurotransmitter; dan berfungsi sebagai saluran untuk petikan nutrisi dan zat lain antara kapiler darah dan neuron. 5) Astrosit juga dapat berperan dalam pembelajaran dan memori yang mempengaruhi pembentukan sinapsis saraf. 7

4)

memori yang mempengaruhi pembentukan sinapsis saraf. 7 4) Gambar 2.6 Bentuk astrosit yang seperti bintang yang

Gambar 2.6 Bentuk astrosit yang seperti bintang yang telah tumbuh dalam kultur jaringan, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012)

d. Sel Ependimal Sel ependimal adalah sel berbentuk kuboid hingga kolumnar disusun dalam satu lapisan yang memiliki mikrovili dan silia. Sel-sel ini melapisi ventrikel otak dan kanal sentral dari sumsum tulang belakang (ruang diisi dengan cairan serebrospinal, yang melindungi dan menutrisi otak dan sumsum tulang belakang). Secara fungsional, sel ependimal menghasilkan, mungkin memonitor, dan membantu sirkulasi cairan serebrospinal. Mereka juga terbentuk penghalang cairan darah- serebrospinal.

juga terbentuk penghalang cairan darah- serebrospinal. Gambar 2.7 Neuroglia (A) Oligodendrocyte (B) Microglia (C)

Gambar 2.7 Neuroglia (A) Oligodendrocyte (B) Microglia (C) Astrocytes (D) Ependymal cells, (Essentials of Anatomy and Physiologhy, 2015)

7 Ibid., hlm. 421

7

2.

Pelindung Sistem Saraf Pusat

Jaringan saraf pusat bersifat halus karena karakteristik ini dan karena sel-sel saraf yang rusak tidak dapat diganti, jaringan rapuh dan tak tergantikan ini harus dilindungi dengan baik SSP yang halus terlindungi dengan baik. Empat lapisan yang membantu melindungi SSP dari cedera:

a. Tulang kepala dan tulang belakang Berfungsi melindungi otak, dan yang melindungi medulla spinalis (sumsum tulang belakang). Tulang tengkorak dan tulang belakang merupakan pelindung otak dan sumsum tulang belakang paling luar yang melindungi dari gangguan mekanis seperti benturan dan tekanan.

b. Meninges Membran yang berfungsi melindungi dan penyuplai makanan bergizi, yang terletak di antara penutup tulang dan jaringan saraf. Meninges terdiri dari tiga lapisan membran yaitu:

1) Dura meter merupakan suatu jaringan yang kuat karena tersusun atas jaringan ikat padat. Dura mater langsung berhubungan dengan periosteum tulang tengkorak dan tulang belakang. Pada umumnya, dura meter berlekatan dengan

membran arahnoid, tetapi di tempat-tempat tertentu perlekatan tadi longgar untuk membentuk suatu rongga yang disebut sinus dural (sinus venosus bila besar). Darah vena dari otak disalurkan ke rongga ini yang akan di kembalikan ke cairan cerebrospinal juga dikembalikan ke darah ini. 2) Arahnoid mater adalah lapisan membran yang halus/lembut, kaya pembuluh darah. Ruang antara membran arahnoid dan pia mater yang disebut rongga subarahnoid diisi dengan cairan cerebrospinal. Penonjolan arahnoid ke sinus dural disebut vili arahnoid. Melalui vili ini cairan cerebrospinal direabsorbsi ke dalam sirkulasi darah dalam sinus dural. 3) Pia mater adalah lapisan yang mudah rusak dan banyak mengandung pembuluh darah. Pia mater melekat pada permukaan luar otak dan sumsum tulang belakang mengikuti lekuk-lekuknya. 8

c. Cairan Serebrospinal (CSF) Berfungsi sebagai bantalan cair untuk melindungi sumsum tulang belakang. CSF bersirkulasi di seluruh ventrikel dan kanal sentral, serta di seluruh permukaan otak dan sumsum tulang belakang di ruang antara lapisan meningeal. CSF memiliki kepadatan yang sama dengan otak itu sendiri, jadi otak pada dasarnya tergantung di lingkungan cairan khusus ini. Fungsi utama CSF adalah menjadi penyerap goncangan cairan untuk mencegah otak menabrak interior tengkorak keras ketika kepala mengalami tiba-tiba, menggelegar gerakan. 9 Fungsi lain adalah memegang peranan dalam pertukaran zat antara cairan tubuh dengan otak. Komposisi cairan interestrial otak terutama lebih di pengaruhi oleh perubahan komposisi cairan cerebrospinal daripada oleh plasma darah, sebab terdapat pertukaran zat yang bebas antara cairan cerebrospinal dan cairan interestrial otak.

8 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 58

9 Lauralee Sherwood, Fundamentals of Human Physiologhy, (USA: Graphic Word, Inc., 2012), hlm. 112

8

Cairan cerebrospinal diproduksi oleh pleksus khoroid yang terletak pada bagian tertentu dari dinding rongga ventrikel otak. Pleksus khoroid terdiri dari masa seperti bunga kol dari jaringan pia mater, kaya akan pembuluh darah, yang menjorok ke ringga ventrikel. Cairan cerebrospinal yang dihasilkan akan mengalir mengisi ventrikel-ventrikel otak yang saling berhubungan, sentral kanan, ruang subarachnoid dan juga mengalir diantara lapisan-lapisan meninges di seluruh permukaan otak dan tulang belakang. Dibagian atas otak, cairan cerebrospinal direabsorbsi dari ruang subarachnoid ke vena melalui vili-arachnoid. d. Pengatur darah-otak yang sangat selektif / penghalang darah otak (BBB) Mengatur pertukaran antara darah dan otak, sehingga membatasi akses bahan- bahan yang terbawa darah ke jaringan otak yang rentan. Secara kasar, bahan bisa ditukar antara darah dan cairan interstial hanya melintasi dinding kapiler. Dinding kapiler dibentuk oleh satu lapisan sel. Lubang atau pori-pori biasanya hadir di antara sel-sel yang membentuk suatu dinding kapiler memungkinkan pertukaran yang agak bebas di seluruh kapiler di tempat lain. Namun, sel-sel itu membentuk dinding otak kapiler bergabung dengan persimpangan yang rapat. Persimpangan yang kedap air menutup dinding kapiler sehingga tidak ada yang bisa terjadi dipertukarkan melintasi dinding dengan melewati sel. Hanya pertukaran yang diizinkan terjadi melalui sel- sel kapiler diri. Hanya bursa terpilih yang diatur dengan hati-hati yang bisa dibuat melintasi penghalang ini. Oleh karena itu, transportasi melintasi dinding kapiler otak antara sel-sel pembentuk dinding secara anatomis dicegah dan transportasi melalui sel-sel secara fisiologis dibatasi. Bersama-sama, mekanisme ini membentuk BBB. Astrosit menginduksi pembentukan BBB dengan memberi sinyal sel yang membentuk kapiler otak untuk "melaju" dan dengan berpromosi produksi protein pembawa spesifik dan saluran ion yang mengatur pengangkutan zat yang dipilih melalui sel-sel kapiler ini. Dengan membatasi pertukaran antara darah dan darah otak, BBB melindungi otak halus dari fluktuasi kimia dalam darah. Misalnya, jika K + level dalam darah berlipat ganda, sedikit perubahan terjadi pada K + konsentrasi dari cairan memandikan neuron sentral. Ini bermanfaat karena perubahan dalam cairan interstitial K + akan merugikan fungsi saraf. Juga, BBB meminimalkan kemungkinan itu zat berbahaya yang dapat ditularkan melalui darah dapat mencapai jaringan saraf pusat. Lebih lanjut mencegah hormon sirkulasi tertentu yang dapat bertindak sebagai neurotransmiter dari mencapai otak, di mana mereka dapat menghasilkan aktivitas saraf yang tidak terkendali. Di sisi negatif, BBB membatasi penggunaan obat untuk pengobatan gangguan otak dan sumsum tulang belakang, karena banyak obat tidak dapat menembus penghalang ini. 10

D. Struktur Sistem Saraf Pusat Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Diperkirakan 100 miliar neuron di otak dirangkai menjadi kompleks jaringan yang memungkinkan anda untuk (1) secara tidak sadar mengatur lingkungan internal dengan cara saraf, (2) mengalami emosi, (3) mengendalikan gerakan anda secara sukarela, (4) memahami (menjadi sadar akan) tubuh anda sendiri dan lingkungan anda, dan (5) terlibat dalam proses kognitif tinggi

10 Ibid., hlm. 112

9

lainnya seperti pikiran dan memori. Istilah kognisi mengacu pada tindakan atau proses mengetahui,termasuk kesadaran dan penilaian. Tidak ada bagian otak yang bertindak secara terisolasi dari daerah otak lain, karena jaringan neuron secara anatomis saling terkait sinapsis dan neuron di seluruh otak berkomunikasi secara luas satu sama lain dengan cara listrik dan kimia. Namun, neuron yang bekerja bersama akhirnya mencapai suatu pemberian fungsi cenderung diatur dalam lokasi yang terpisah. Karena itu, meskipun otak beroperasi secara keseluruhan, otak itu teratur ke daerah. Bagian otak dapat dikelompokkan dalam berbagai bagian cara berdasarkan perbedaan anatomi, spesialisasi fungsional, dan perkembangan evolusi. 11

spesialisasi fungsional, dan perkembangan evolusi. 1 1 Gambar 2.8 Struktur Komponen utama sistem otak,

Gambar 2.8 Struktur Komponen utama sistem otak, (Fundamental of Human Physiologhy, 2012)

1.

Otak Otak itu terbuat dari sekitar 100 miliar neuron dan berisi triliunan sinapsis, yang semuanya berfungsi sebagai satu kesatuan yang terintegrasi. Bagian utama otak adalah medula, pons, dan otak tengah (secara kolektif disebut batang otak), otak kecil, hipotalamus, thalamus, dan otak besar. Mereka semua saling berhubungan, melalui triliunan itu sinapsis, dan bekerja bersama. 12 Berat otak orang dewasa kira-kira 3 pound (1400 gram). Ukuran otak bervariasi, dan dipengaruhi antara lain lain oleh jenis kelamin, umur, dan ukuran fisik seseorang. Ukuran otak mencapai maksimum pada usia 18 tahun, dan pada periode umur 9 tahun pertama, otak mengalami pertumbuhan dengan cepat. 13 Pengelompokannya adalah sebagai berikut:

cepat. 1 3 Pengelompokannya adalah sebagai berikut: Gambar 2.9 Struktur Otak Manusia, (Principles of Anatomy

Gambar 2.9 Struktur Otak Manusia, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

11 Ibid., hlm. 114

12 Valerie C. Scanlon, Essentials of Anatomy and Physiologhy, (New York: Davis F.A Company, 2015),

hlm. 198

13 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 61

10

Pembagian diatas didasarkan pada letak secara anatomi serta kerumitan fungsinya

dari tingkat khusus yang terendah sampai tertinggi, dan tertua sampai termuda. Suatu sistem saraf pusat yang primitif secara komparatif terdiri dari beberapa interneuron yang menyebar di antara sel saraf aferen dan eferen. Selama perkembangan secara evolusi, komponen interneural secara cepat meluas, membentuk interneuron-interneuron yang lebih kompleks, dan menjadi terlokalisasi pada ujung kepala dari sistem saraf, dan membentuk otak. Perkembangan selanjutnya, suatu lapisan otak yang lebih maju ditambahkan pada bagian yang lebih tua (lapisan yang lebih primitif) sampai mencapai puncak perkembangannya sekarang pada otak manusia. 14

a. Batang Otak (Brainstem) Batang otak menghubungkan sumsum tulang belakang dengan sisa tulang belakang otak. Batang otak terdiri dari tiga bagian medula oblongata, pons, dan otak tengah. Selain anatomi ini divisi, formasi reticular adalah unit fungsional yang mencakup semua tiga divisi. Batang otak bertanggung jawab atas banyak hal yang fungsinya esensial. Kerusakan pada area kecil sering menyebabkan kematian, karena banyak refleks penting untuk bertahan hidup terintegrasi dalam batang otak, sedangkan area otak atau otak kecil yang relatif besar bisa rusak tanpa konsekuensi yang mengancam jiwa. 15 Semua serabut saraf yang melintas antara tepi dan otak yang lebih tinggi harus melewati batang otak, sebagian meneruskan informasi sensori ke otak, sebagian yang lain membawa sinyal perintah dari otak ke tepi. Hanya sedikit serabut yang melewati begitu saja, namun kebanyakan serabut saraf berhenti atau mengirim cabang-cabangnya ke dalam batang otak untuk proses sinaptik. 16 1) Medulla Oblongata Sering disebut medula, panjangnya sekitar 3 cm, ini adalah bagian paling rendah dari batang otak dan inferior tersambung dengan sumsum tulang belakang. Medula oblongata mengandung sensorik dan saluran motorik, inti saraf kranial, dan inti terkait. Secara dangkal, sumsum tulang belakang menyatu dengan medulla oblongata, tetapi secara internal ada beberapa perbedaan. Dalam medulla oblongata, materi abu-abu disusun menjadi diskrit inti, kelompok materi abu-abu sebagian besar terdiri dari badan sel neuron. Pengaturan ini kontras dengan yang ada di materi abu-abu dari sumsum tulang belakang, yang memanjang sebagai massa kontinu di tengah kabelnya. Beberapa nukleus medula berfungsi sebagai pusat-pusat refleks vital, seperti yang terlibat dalam pengaturan tingkat jantung, diameter pembuluh darah, pernapasan, menelan, muntah, cegukan, batuk, dan bersin. 17

14 Ibid., hlm. 61 15 Cinnamon VanPutte, Jennifer Regarn, dkk. Selley’s Anatomy and Physiologhy, (New York: The McGraw-Hill Companies, Inc, 2014), hlm. 433

16 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm.71 17 Cinnamon VanPutte, Jennifer Regarn, dkk. Selley’s Anatomy and Physiologhy, ( New York: The McGraw-Hill Companies, Inc, 2014), hlm. 433

11

Gambar 2.10 Bagian melintang dan permukaan anterior medula oblongata, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

Gambar 2.10 Bagian melintang dan permukaan anterior medula oblongata, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

Dua pembesaran menonjol di permukaan anterior medula oblongata disebut piramida karena lebih luas dekat pons dan lancip ke arah sumsum tulang belakang. Piramida itu dibentuk oleh saluran turun besar yang terlibat dalam kontrol sadar otot rangka. Dekat ujung inferior mereka, sebagian besar serat dari traktus desakan turun ke sisi yang berlawanan, atau decussate. Dua bulat, struktur oval, yang disebut zaitun, menonjol dari permukaan anterior medula oblongata hanya lateral ke superior ujung piramida. Zaitun adalah inti yang terlibat dalam fungsi seperti keseimbangan, koordinasi, dan modulasi suara dari telinga bagian dalam. Nukleus saraf kranial V (trigeminal), VII (wajah), IX (glossopharyngeal), X (vagus), XI (aksesori), dan XII (hipoglosal) juga terletak

di dalam medula oblongata. Perhatikan bahwa beberapa saraf kranial, seperti V,

VII, dan X, memiliki lebih dari satu nukleus di batang otak dan itu beberapa

2)

nuklei, seperti nukleus soliter dan nukleus ambiguus, berfungsi sebagai inti untuk beberapa saraf kranial. 18 Pons

 

Pons berisi saluran naik dan turun dan beberapa inti. Inti pons, terletak

 

di

bagian anterior pons, menyampaikan informasi dari otak besar ke otak kecil.

3)

Nukleus untuk saraf kranial V (trigeminal), VI (abducens), VII (wajah), dan VIII (vestibulocochlear) terkandung dalam pons posterior. Daerah pontine penting lainnya adalah tidur pontine pusat, yang memulai tidur gerakan mata cepat, dan pusat pernapasan pontine, yang bekerja dengan pernapasan berpusat di medula oblongata untuk membantu mengendalikan gerakan pernapasan. Midbrain Otak tengah atau mesencephalon, adalah wilayah terkecil dari batang otak. Letaknya lebih unggul dari pons dan mengandung inti saraf kranial III (okulomotor), IV (trochlear), dan V (trigeminal). Tektum terdiri dari otak tengah dari empat inti yang membentuk gundukan pada permukaan dorsal, secara kolektif disebut korpora. Setiap gundukan disebut colliculus dan dua gundukan superior adalah colliculi superior, dan dua inferior gundukan adalah colliculi inferior. Colliculi superior menerima input indera dari indera penglihatan, pendengaran, dan sentuhan sistem dan terlibat dalam gerakan refleks kepala, mata, dan tubuh ke arah rangsangan ini, seperti suara keras, berkedip lampu,

18 Ibid., hlm. 433

12

atau sakit yang mengejutkan. Misalnya, ketika sebuah benda terang tiba-tiba muncul di bidang penglihatan seseorang, refleks mengubah mata untuk fokus di atasnya, ketika seseorang mendengar suara keras yang tiba-tiba, sebuah refleks mengubah suara kepala dan mata ke arah itu. Colliculi superior juga menerima masukan dari colliculi inferior dan otak besar. Colliculi inferior terlibat dalam pendengaran dan merupakan bagian integral bagian dari jalur pendengaran di SSP. Melakukan neuron potensi aksi dari struktur telinga bagian dalam ke sinaps otak di colliculi inferior. Serat jaminan dari colliculi inferior ke superior colliculi menyediakan pendengaran input yang merangsang refleks visual.

pendengaran input yang merangsang refleks visual. Gambar 2.11 Posisi midbrain , (Selley’s Anatomy and

Gambar 2.11 Posisi midbrain, (Selley’s Anatomy and Physiologhy, 2014)

Tegmentum dari otak tengah sebagian besar terdiri dari traktus asendens, seperti traktus spinothalamic dan lemniscus medial, yang membawa informasi sensorik dari sumsum tulang belakang ke otak. Tegmentum juga mengandung warna merah nuklei, tangkai serebral, dan substantia nigra. Inti merah berpasangan dinamakan demikian karena di otak baru. Spesimen mereka berwarna merah muda karena berlimpah suplai darah. Inti merah membantu dalam regulasi bawah sadar dan koordinasi kegiatan motorik. Tangkai serebral yang merupakan bagian dari ventral otak tengah ke tegmentum. Mereka terdiri terutama dari traktat descending, yang membawa informasi motorik dari otak ke batang otak dan sumsum tulang belakang. Substansi nigra adalah massa nuklir antara batang tegmentum dan serebral yang mengandung butiran melanin sitoplasma yang memberikan warna abu-abu gelap atau hitam. 19

yang memberikan warna abu-abu gelap atau hitam. 1 9 Gambar 2.12 Inti batang otak. Inti sensorik

Gambar 2.12 Inti batang otak. Inti sensorik ditampilkan di sebelah kiri (hijau). Inti motor ditunjukkan di sebelah kanan (ungu), (Selley’s Anatomy and Physiologhy, 2014)

19 Ibid., hlm. 433

13

Saraf kranial Saraf kranial kebanyakan merupakan serabut saraf campuran, yaitu campuran antara serabut sensoris dan motoris, namun ada yang murni serabut saraf sensoris. 20 Badan sel serabut sensoris berada dalam ganglia di luar otak, sedangkan badan sel serabut motoris berada dalam nuklei di dalam otak. Saraf- saraf kranial tersebut adalah:

a) Saraf kranial I (saraf olfaktori) merupakan serabut sensoris murni, membawa impuls dari mukosa olfaktori yang berhubungan dengan bau.

impuls dari mukosa olfaktori yang berhubungan dengan bau. Gambar 2.13 Olfactory (I) nerve, (Principles of Anatomy

Gambar 2.13 Olfactory (I) nerve, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

b) Saraf kranial II (saraf optik), juga merupakan saraf sensoris murni, membawa impuls dari retina mata yang berhubungan dengan penglihatan.

c) Saraf kranial III (saraf okulomator), merupakan serabut saraf campuran. Serabut motor somatik menginervasiotot-otot mata ekstrinsik, yaitu otot obliq inferior dan superior, otot rektus inferior dan medial, dan otot levator palpebra pelupuk mata. Serabut parasimpatetik menginervasi otot mata intrinsik, yaitu otot iris dan otot penggantung lensa. Sedangkan serabut sensoris membawa impuls propioseptif dari otot-otot mata ekstrinsik ke otak.

d) Saraf kranial IV (saraf troklear), merupakan serabut saraf campuran. Serabut motor somatik menginervasi otot obliq superior, sedangkan serabut sensoris menyampaikan impuls proprioseptif dari otot tersebut ke otak. 21

e) Saraf kranial V (saraf trigeminal), merupakam serabut saraf campuran. Serabut sensoris utama menyampaikan impuls sensori dari kulit muka dan kulit kepala, mukosa mulut dan hidung, serta permukaan mata. Sedangkan devisi mandibular yang mengandung serabut motoris menginversi otot-otot pengunyah dan otot dasar mulut.

f) Saraf kranial VI (saraf abdusen), merupakan serabut saraf campuran. Serabut motor somatik menginervasiotot rektus lateral bola mata, sedangkan serabut sensoris menyampaikan impuls proprioseptif dari otot tersebut ke otak.

20 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 72

21 Ibid., hlm. 72-73

14

Gambar 2.14 Oculomotor (III), trochlear (IV), and abducens (VI) nerves, (Principles of Anatomy and Physiologhy,

Gambar 2.14 Oculomotor (III), trochlear (IV), and abducens (VI) nerves, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

g) Saraf kranial VII (saraf fasial), merupakan serabut saraf campuran. Serabut motor somatik menginversi otot-otot muka, sedangkan serabut parasimpatetik menginervasi kelenjar air mata dan kelenjar ludah. Serabut sensoris membawa impuls dari reseptor pengecap bagian anterior lidah.

h) Saraf kranial VIII (saraf vestibulokoklear), adalah murni sensoris. Cabang vestibular menyampaikan impuls yang berhubungan dengan keseimbangan dari organ vestibular dan kanalis semisirkularis, sedangkan cabang koklear menyampaikan impuls yang berhubungan dengan pendengaran dari koklea.

impuls yang berhubungan dengan pendengaran dari koklea. Gambar 2.15 Vestibulocochlear (VIII) nerve, (Principles of

Gambar 2.15 Vestibulocochlear (VIII) nerve, (Principles of Anatomy and Physiologhy,

2009)

i) Saraf kranial IX (saraf glosofaringeal), merupakan serabut campuran. Serabut motor somatik menginervasi otot-otot faring, dan serabut parasimpatetik menginversi kelenjar ludah. Sedangkan serabut sensoris membawa impuls dari faring, tonsil, lidah bagian posterior dan reseptor tekanan pada atreri karotid.

j) Saraf kranial X (saraf vagus), merupakan serabut saraf campuran. Serabut motor somatik menginervasi faring dan laring, sedangkan serabut parasimpatetik menginervasi jantung dan otot-otot polos organ pencernaan. Serabut sensoris membawa impuls dari faring dan laring ke otak.

k) Saraf kranial XI (saraf asesori), merupakan serabut saraf campuran. Serabut motor somatik menginervasi otot klaidomastoid, otot trapezius, dan otot

15

langit-langit lunak mulut, otot faring, dan otot laring. Sedangkan serabut sensoris membawa impuls propioseptif dari otot-otot tersebut ke otak. l) Saraf kranial XII (saraf hipoglosal), merupakan serabut saraf campuran. Serabut motor somatik menginervasi otot-otot lidah, sedangkan serabut sensoris membawa impuls dari lidah ke otak. 22

serabut sensoris membawa impuls dari lidah ke otak. 2 2 Gambar 2.17 Hypoglossal (XII) nerve, (Principles

Gambar 2.17 Hypoglossal (XII) nerve, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

b.

Cerebellum Otak kecil penting dalam keseimbangan, perencanaan, dan pelaksanaan gerakan yang disadari. Otak kecil melekat pada bagian belakang atas dari batang otak, terletak di bawah korteks lobus osipitalis. Otak kecil terutama berhubungan dengan aktivitas motorik, seperti basal nuklei otak kecil tidak mempunyai pengaruh langsung pada saraf eferen motor. Fungsinya secara tidak langsung mengubah output sistem motor utama. 23

tidak langsung mengubah output sistem motor utama. 2 3 Gambar 2.18 Tampilan otak kecil, (Principles of

Gambar 2.18 Tampilan otak kecil, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

Secara khusus, berbagai bagian otak kecil melakukan hal berikut fungsi:

1) Vestibulocerebellum penting untuk menjaga keseimbangan dan mengontrol gerakan mata. 24 2) Spinocerebellumen meningkatkan kecepatan otot dan mengkoordinasi gerakan sadar yang terlatih. Wilayah otak ini sangat penting dalam memastikan ketepatan waktu berbagai variasi kontraksi otot untuk mengoordinasikan gerakan yang melibatkan banyak sendi. Misalnya, gerakan sendi bahu, siku, dan pergelangan tangan harus disinkronkan bahkan tindakan sederhana seperti meraih pensil. Ketika daerah motor kortikal mengirim pesan ke otot-otot untuk

22 Ibid., hlm. 72-73

23 Ibid., hlm. 70

24 Lauralee Sherwood, Fundamental of Human Physiologhy, (USA: Graphic World, 2012), hlm. 128

16

melakukan gerakan tertentu, spinocerebellum menginformasikan tentang perintah motor yang dimaksud. Wilayah ini juga menerima input dari reseptor perifer yang menginformasikannya tentang gerakan tubuh dan posisi yang sebenarnya sedang terjadi. Spinocerebellum pada dasarnya bertindak sebagai "Manajemen menengah," membandingkan "niat" atau "pesanan" dari pusat yang lebih tinggi dengan "kinerja" otot dan kemudian memperbaiki "kesalahan" atau penyimpangan dari yang dimaksud gerakan. Spinocerebellum bahkan tampaknya dapat memprediksi posisi bagian tubuh dalam fraksi detik berikutnya selama gerakan yang kompleks dan untuk membuat penyesuaian yang sesuai. 3) Cerebrocerebellum memainkan peran dalam perencanaan dan memulai aktivitas sadar dengan memberikan input ke motor kortikal area. Ini merupakan wilayah serebelar yang menyimpan prosedur mengingat. Sederet gejala berikut menandai penyakit pada otak kecil yang dihubungkan dengan hilangnya fungsi- fungsi ini: keseimbangan yang buruk, gerakan mata yang berirama, berkurangnya kecepatan otot tetapi bukan kelumpuhan, ketidakmampuan untuk melakukan gerakan bolak-balik cepat dengan lancar, dan ketidakmampuan untuk berhenti dan memulai kerangka aksi otot dengan cepat. Yang terakhir ini menimbulkan tremor niat ditandai dengan gerakan berayun ke sana kemari dari anggota tubuh seperti itu mendekati tujuan yang dituju. Otak kecil dan inti basal keduanya memantau dan menyesuaikan aktivitas motor diperintahkan dari korteks motorik, dan seperti nukleus basal, otak kecil tidak secara langsung mempengaruhi neuron motorik eferen. Walaupun mereka melakukan peran yang berbeda (misalnya, otak kecil meningkatkan kecepatan otot, sedangkan basal nuclei menghambatnya), keduanya berfungsi secara tidak langsung dengan memodifikasi output sistem motorik utama di otak. Perintah motor untuk kegiatan sadar tertentu muncul dari korteks motorik, tetapi pelaksanaan aktual dari aktivitas itu dikoordinasikan secara tidak sadar oleh wilayah subkortikal ini. 25

secara tidak sadar oleh wilayah subkortikal ini. 2 5 Gambar 2.19 Cerebellum, (Fundamental of Human Physiologhy,

Gambar 2.19 Cerebellum, (Fundamental of Human Physiologhy, 2012)

25 Ibid., hlm 128-129

17

c.

Otak Depan (Forebrain)

1)

Diencephalon Diencephalon adalah bagian dari otak di antara keduanya batang otak dan otak. Komponen utamanya adalah thalamus, subthalamus, epithalamus, dan hipotalamus.

adalah thalamus, subthalamus, epithalamus, dan hipotalamus. Gambar 2.20 Lokasi thalamus dan hypothalamus, (Fundamental

Gambar 2.20 Lokasi thalamus dan hypothalamus, (Fundamental of Human Physiologhy,

2012)

a)

Thalamus

Thalamus sejauh ini merupakan bagian terbesar dari diencephalon, yang merupakan sekitar empat perlima dari beratnya. Terdiri dari sekelompok nuklei yang berbentuk agak seperti yo-yo, dengan dua bagian lateral yang besar terhubung di tengah oleh tangkai kecil disebut adhesi interthalamic, atau massa perantara. Jarak antar ruang mengelilingi adhesi interthalamic dan memisahkan dua besar bagian dari talamus yaitu ketiga ventrikel otak. Kecuali untuk neuron penciuman, semua neuron sensorik itu memproyeksikan ke sinapsis serebrum pertama di thalamus. Neuron di thalamus kemudian mengirim proyeksi ke area otak yang sesuai korteks tempat input sensorik dilokalisasi. Dalam hal ini, thalamus dianggap sebagai pusat pancaran indra otak. Akson membawa sinapsis informasi pendengaran di medial geniculate nukleus thalamus. Akson membawa informasi visual sinapsis di nukleus geniculate lateral impuls sensorik lainnya sinapsis di nukleus posterior ventral. Akson yang berasal dari proyek inti nukleus ventral ke inti nukleus dorsal, yang mencatat nyeri. Akson lainnya memproyeksikan ke korteks serebral di mana input sensorik dilokalisasi. Inti anterior ventral dan lateral ventral nucleus terlibat dengan fungsi motorik, berkomunikasi di antara inti basal, otak kecil, dan korteks motorik. Thalamus juga memengaruhi suasana hati dan tindakan yang terkait emosi yang kuat, seperti ketakutan dan amarah. Anterior dan medial nuklei terhubung ke sistem limbik dan ke prefrontal korteks. Nuklei terlibat dalam modifikasi suasana hati. Inti dorsal lateral, yang terhubung ke inti talamik lainnya dan ke otak korteks, terlibat dalam mengatur emosi. Posterior lateral nuklei dan pulvinar juga memiliki koneksi ke inti thalamik yang lain dan terlibat dalam integrasi sensorik. 26

26 Cinnamon VanPutte, Jennifer Regarn, dkk. Selley’s Anatomy and Physiologhy, (New York: The McGraw-Hill Companies, Inc, 2014), hlm. 437

18

Gambar 2.21 Thalamus sebagai relay utama stasiun impuls sensorik, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

Gambar 2.21 Thalamus sebagai relay utama stasiun impuls sensorik, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

b)

Subthalamus Subthalamus adalah daerah kecil yang langsung lebih rendah dari thalamus berisi beberapa jalan naik dan turun dan inti subthalamic. Porsi kecil dari inti merah dan substantia nigra dari otak tengah meluas ke daerah ini. Inti subthalamic berhubungan dengan inti basal dan terlibat dalam mengendalikan fungsi motorik.

c)

Epithalamus

d)

Epithalamus adalah wilayah kecil superior dan posterior thalamus. Ini terdiri dari kelenjar pineal dan inti habenular. Kelenjar pineal seperti ukuran kacang polong kecil dan menonjol dari garis tengah posterior ketiga ventrikel. Kelenjar pineal dianggap sebagai bagian dari sistem endokrin karena mengeluarkan hormone melatonin. Melatonin tampaknya berkontribusi pada pengaturan jam biologis tubuh, yang dikendalikan oleh nukleus suprachiasmatic dari hipotalamus. Karena lebih banyak melatonin dibebaskan selama kegelapan daripada dalam cahaya, hormon ini dianggap mempromosikan kantuk. Menanggapi input visual dari mata (retina), inti suprachiasmatic merangsang kelenjar pineal (melalui koneksi saraf dengan neuron simpatik) sistem saraf otonom) untuk mengeluarkan hormon melatonin dalam pola ritmis, dengan kadar melatonin yang rendah dikeluarkan pada siang hari dan kadar yang secara signifikan lebih tinggi dikeluarkan pada malam. Inti terlibat dalam penciuman, terutama respons emosional terhadap bau. 27 Hyphotalamus Hipotalamus adalah bagian kecil dari diencephalon yang terletak lebih rendah dari thalamus. Terdiri dari adozen atau lebih inti di empat wilayah utama:

1. Daerah mammillary (berbentuk puting susu), berdekatan dengan otak tengah, adalah bagian paling posterior dari hipotalamus. Ini termasuk

27 Gerard J. Tortora and Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology, (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 513

19

badan mammillary dan hipotalamus posterior nuklei. Tubuh mammillary

dua, kecil, proyeksi bulat yang berfungsi sebagai stasiun pemancar untuk refleks yang berkaitan dengan indera penciuman.

2. Wilayah umbi, bagian terluas dari hipotalamus, termasuk nukleus dorsomedial, nukleus ventromedial, dan nukleus arkuata, ditambah infundibulum seperti tangkai (fun-DIBu¯-lum corong), yang menghubungkan kelenjar hipofisis ke hipotalamus. Median eminence sedikit daerah terangkat yang mengelilingi infundibulum.

3. Daerah supraoptik terletak lebih unggul dari chiasm optik (titik persilangan saraf optik) dan mengandung inti paraventrikular, inti supraoptik, nukleus hipotalamus anterior, dan nukleus suprachiasmatic. Akson dari paraventrikular dan supraoptik nukleus membentuk saluran hipotalamohypophyseal, yang memanjang melalui infundibulum ke lobus hipofisis posterior.

memanjang melalui infundibulum ke lobus hipofisis posterior. Gambar 2.22 Hipofisis posterior, (Principles of Anatomy and

Gambar 2.22 Hipofisis posterior, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

4. Wilayah preoptik yang lebih rendah dari wilayah supraoptik biasanya

dianggap bagian dari hipotalamus karena berpartisipasi dengan hipotalamus dalam mengatur kegiatan otonom tertentu. Daerah preoptik berisi medial dan lateral preoptik nuklei. Hipotalamus mengendalikan manusia aktivitas tubuh dan merupakan salah satunya pengatur utama homeostasis. Impuls sensorik terkait dengan baik indera somatik dan visceral tiba di hipotalamus, seperti lakukan impuls dari reseptor untuk penglihatan, rasa, dan bau. Reseptor lain dalam hipotalamus sendiri terus memantau tekanan osmotik, kadar glukosa, konsentrasi hormon tertentu, dan suhu darah. Hipotalamus memiliki beberapa koneksi yang sangat penting dengan kelenjar hipofisis dan menghasilkan berbagai hormon. 28 Beberapa fungsi dapat dikaitkan dengan spesifik inti hipotalamus, tetapi yang lain tidak begitu tepat dilokalisasi. Fungsi penting dari hipotalamus meliputi:

Kontrol ANS. Hipotalamus mengontrol dan mengintegrasikan aktivitas sistem saraf otonom, yang mengatur kontraksi otot polos dan otot jantung.dan sekresi banyak kelenjar. Akson memanjang dari hipotalamus menjadi inti parasimpatis dan simpatis di batang otak dan sumsum tulang belakang. Melalui ANS, hipotalamus adalah pengatur

28 Ibid., hlm. 513

20

utama aktivitas visceral, termasuk pengaturan detak jantung, pergerakan makanan melalui saluran pencernaan, dan kontraksi urin kandung kemih.

Produksi hormon. Hipotalamus menghasilkan beberapa hormon dan memiliki dua jenis koneksi penting dengan kelenjar hipofisis, kelenjar endokrin terletak lebih rendah ke hipotalamus. Pertama, hipotalamus hormon yang dikenal sebagai pelepasan hormon dan hormon penghambat dilepaskan ke jaringan kapiler di median keunggulan. Aliran darah membawa hormon-hormon ini langsung ke lobus anterior hipofisis, di mana mereka merangsang atau menghambat sekresi anterior hormon hipofisis Kedua, akson memanjang dari inti paraventrikular dan supraoptik melalui infundibulum ke lobus posterior hipofisis. Badan sel neuron ini membuat satu dari dua hormon (oksitosin atau hormon antidiuretik). Akson mereka mengangkut hormon ke hipofisis posterior, di mana mereka dilepaskan.

Pengaturan pola emosi dan perilaku dengan sistem limbik, hipotalamus berpartisipasi dalam ekspresi kemarahan, agresi, rasa sakit, dan kesenangan, dan pola perilaku yang berhubungan dengan gairah seksual.

Pengaturan makan dan minum. Hipotalamus mengatur asupan makanan. Ini berisi pusat makan, yang mempromosikan makan, dan pusat kenyang, yang menyebabkan sensasi kepenuhan dan berhentinya makan. Hipotalamus juga mengandung pusat haus. Ketika sel-sel tertentu dalam hipotalamus dirangsang oleh meningkatnya tekanan osmotik dari cairan ekstraseluler, mereka menyebabkan sensasi kehausan. Asupan air dengan minum mengembalikan tekanan osmotik menjadi normal, menghilangkan stimulasi dan menghilangkan rasa haus.

Kontrol suhu tubuh. Hipotalamus juga berfungsi sebagai termostat tubuh. Jika suhu darah mengalir melalui hipotalamus di atas normal, hipotalamus mengarahkan sistem saraf otonom untuk merangsang kegiatan yang mempromosikan hilangnya panas. Ketika suhu darah di bawah normal, sebaliknya, hipotalamus menghasilkan impuls yang meningkatkan produksi dan retensi panas

Pengaturan ritme sirkadian dan kondisi kesadaran. Inti suprachiasmatic dari hipotalamus berfungsi sebagai jam biologis internal tubuh karena ia membentuk ritme sirkadian, pola aktivitas biologis (seperti siklus tidur- bangun) yang terjadi pada sirkadian jadwal (siklus sekitar 24 jam). Inti ini menerima input dari mata (retina) dan mengirimkan output ke yang lain inti hipotalamus, pembentukan reticular, dan kelenjar pineal. 29

29 Ibid., hlm. 513

21

Gambar 2.23 Bagian sagital otak yang menunjukkan inti hipotalamus, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

Gambar 2.23 Bagian sagital otak yang menunjukkan inti hipotalamus, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

2)

Cerebrum Serebrum yang merupakan bagian terluas dari otak manusia terbagi menjadi dua belahan (hemisfer), yaitu belah otak kanan dan otak kiri. Kedua belah otak tersebut dihubungkan oleh korpus kalosum, suatu pita tebal yang diperkirakan terdiri dari 300 jutaan akson dari sel saraf yang melintasi antara dua belah kotak tersebut. 30 Otak besar adalah bagian otak yang kebanyakan orang pikirkan ketika istilah brainis disebutkan. Otak besar untuk bagian terbesar dari total berat otak, yaitu sekitar 1200 g betina dan 1400 g pada jantan. Ukuran otak terkait dengan ukuran tubuh. Otak dihubungkan dengan tubuh yang lebih besar, bukan dengan kecerdasan yang lebih besar. Serebrum dibagi menjadi hemisfer kiri dan kanan oleh celah longitudinal. 31

hemisfer kiri dan kanan oleh celah longitudinal. 3 1 Gambar 2.24 Cerebrum, ( Selley’s Anatomy and

Gambar 2.24 Cerebrum, (Selley’s Anatomy and Physiologhy, 2014)

Setiap hemisfer memiliki suatu bagian luar berwarna kelabu yang disebut substansi kelabu, yang disebut pula sebagai korteks serebral, dan bagian dalam yang berwarna putih yaitu substansi putih. Di bagian dalam substansia putih ada bagian dari substansi kelabu yang disebut basal nuklei. Pada keseluruhan sistem saraf pusat substansia kelabu terutama tersusun atas badan badan sel dan dendrit. Berkas atau traktus serabut saraf yang bermielin (akson) menyusun substansia putih.Warna putih dari substansia ini ditimbulkan oleh adanya lipid atau lemak yang menyusun myelin. Traktus-traktus dalam substansia putih mentransmisikan sinyal dari satu bagian korteks serebral ke bagian yang lain

30 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 62 31 Cinnamon VanPutte, Jennifer Regarn, dkk. Selley’s Anatomy and Physiologhy, (New York: The McGraw-Hill Companies, Inc, 2014), hlm. 440

22

atau antara korteks dan bagian lain dari sistem saraf pusat. Komunikasi

demikian memungkinkan integrasi antara daerah korteks yang berbeda. Hal demikian sangat penting, bahkan suatu hal yang relatif sederhana pun, misalnya memetik bunga terjadi koordinasi seperti itu. Melihat bunga akan diterima oleh suatu bagian korteks yang lain, pengenalan indahnya bunga akan diterima oleh bagian korteks yang lain, dan gerakan mengambil diolah oleh bagian korteks yang lain lagi.

a) Cerebral cortex Korteks serebral dibagi menjadi 6 lobus, yaitu:

1. Lobus Frontal Di dalam lobus frontal adalah motor yang menghasilkan impuls untuk gerakan sadar. Porsi terbesar adalah untuk gerakan tangan dan wajah, area-area dengan banyak otot yang mampu melakukan gerakan yang sangat halus atau presisi. Hal tersebut merupakan ukuran besar area motor yang dikhususkan untuk mereka memberikan otot-otot ini ketepatannya. Area motor kiri mengontrol gerakan di sisi kanan tubuh, dan kanan area motor mengontrol sisi kiri tubuh. Inilah mengapa seorang pasien yang mengalami kecelakaan serebrovaskular, atau stroke, di lobus frontal kanan akan memiliki kelumpuhan otot sisi kiri. Anterior ke area motor adalah area premotor, yang berkaitan dengan keterampilan motorik yang dipelajari yang membutuhkan urutan gerakan. Namun, bukan refleks melainkan korteks premotor memiliki urutannya dengan baik sehingga dapat mengulanginya tanpa secara sadar memikirkannya. 32

2. Lobus Pariental Lobus parentalis terutama berfungsi menerima dan memproses input sensori dari permukaan tubuh, seperti sentuhan, tekanan, panas, dingin, dan rasa sakit. Sensasi-sensasi tersebut bersama-sama disebut sensasi somestetik (perasaan tubuh). Lobus parietalis juga menyadari posisi tubuh, suatu fenomena yang mengacu kepada propriosepsi. 33 Bagian terbesar dari area ini adalah untuk sensasi di tangan dan wajah, bagian- bagian tubuh dengan reseptor kulit dan otot yang paling banyak reseptor. Area rasa, yang tumpang tindih dengan parietal dan lobus temporal, menerima impuls dari perasa pada lidah dan tempat lain di rongga mulut.

3. Lobus Temporal Daerah penciuman di impuls lobes temporal temporal dari reseptor di rongga hidung untuk rasa bau. Area asosiasi penciuman mempelajari artinya bau seperti bau susu asam, atau api, atau memanggang brownies dalam oven, dan memungkinkan otak berpikir menggunakan informasi itu secara efektif. Area pendengaran, seperti menerima impuls dari reseptor di telinga bagian dalam untuk mendengar. Area asosiasi pendengaran cukup besar. Sebagian dari itu terkait dengan makna kata-

32 Valerie C. Scanlon, Essentials of Anatomy and Physiologhy, (New York: Davis F.A Company, 2015),

hlm. 204

33 Soewolo, Soedjono Basuki, Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 63

23

kata yang kita dengar, yaitu dengan ucapan. Bagian lain adalah untuk interpretasi suara seperti guntur saat badai, sirene ambulans, atau bayi yang menangis. Tanpa interpretasi yang tepat, kita akan mendengar suaranya tetapi tidak akan tahu apa artinya atau indra lain dapat mengintegrasikannya dan tidak bisa merespons dengan tepat.

4. Lobus oksipital Impuls dari retina mata berjalan di sepanjang saraf optik ke area visual di lobus oksipital. Daerah ini merupakan area asosiasi visual menafsirkan apa yang dilihat dan memungkinkan otak berpikir untuk menggunakan informasi tersebut. Korteks serebral memiliki karakteristik plastisitas saraf, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan, untuk merekrut neuron yang berbeda untuk fungsi tertentu, seperti yang mungkin terjadi selama masa kecil atau pemulihan dari stroke. Contohnya adalah korteks visual seseorang yang dilahirkan buta. 34 Neuron di lobus oksipital yang seharusnya digunakan untuk penglihatan akan sering digunakan untuk fungsi lain, beberapa mungkin menjadi bagian dari area pendengaran yang digunakan untuk melokalisasi suara dan memperkirakan jarak mereka. Kita yang bisa melihat mungkin tidak mengandalkan pendengaran untuk lokalisasi, kita hanya melihat di mana kita berada dan berpikir suara itu berasal. Orang buta tidak bisa melakukan ini, dan mungkin memiliki katalog mental yang luas tentang suara, arti suara, jarak suara, dan sebagainya. Beberapa dari ini di bagian korteks yang biasanya untuk penglihatan. Semakin muda orang, semakin banyak plastis otak. Otak anak-anak sangat mudah beradaptasi. Seperti yang kita dapatkan lebih tua, plastisitas agak berkurang, tetapi masih ada.

5. Lobus insularis dan lobus limbikus merupakan korteks serebral yang terletak di bagian dasar dari serebrum, sehingga tidak nampak dari luar. 35

dasar dari serebrum, sehingga tidak nampak dari luar. 3 5 Gambar 2.25 Belahan otak kiri menunjukkan

Gambar 2.25 Belahan otak kiri menunjukkan beberapa area fungsional yang telah dipetakan, (Essentials of Anatomy and Physiologhy, 2015)

34 Valerie C. Scanlon, Essentials of Anatomy and Physiologhy, (New York: Davis F.A Company, 2015),

hlm. 205

35 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 63

24

Korteks somatosensori, yaitu tempat untuk mengenali proses kortikal dari input somestetik dan proprioseptif, terletak pada bagian depan dari setiap lobus parietalis, persis dibelakang sulkus sentralis. Setiap daerah di dalam korteks somatosensori, menerima input dari sensori suatu daerah khusus pada tubuh. Ingat bahwa bagian ini juga disebut homunkulus sensori (homunkulus = manusia kecil) yang tubuhnya berada di atas korteks somatosensori, dan lebih penting lagi, bagian-bagian tubuh yang berbeda itu tidak digambarkan secara sama. Ukuran setiap bagian tubuh dalam homunkulus itu menunjukkan proporsi relatif dari korteks somatosensori yang bertumpu pada daerah ini. Ukuran yang dibesarkan dari muka, lidah, tangan, dan genitalia, menunjukkan tingkat yang tinggi dari persepsi sensori yang berhubungan dengan bagian-bagian tubuh bagian-bagian tubuh tersebut. 36 Korteks somatosensori pada setiap sisi otak sebagian besar menerima input sensori dari sisi tubuh yang berlawanan, sebab kebanyakan jalur naik yang membawa informasi sensori diataskorda spinalis menyilang ke sisi berlawanan sebelum berakhir pada korteks. Jadi kerusakan pada sisi kiri korteks somatosensori menghasilkan pengurangan sensori pada tubuh bagian kanan, di mana kehilangan sensori pada sisi kiri diasosiasikan dengan kerusakan pada sisi kanan korteks.

kiri diasosiasikan dengan kerusakan pada sisi kanan korteks. Gambar 2.26 Peta sensorik somatik dan motorik somatik

Gambar 2.26 Peta sensorik somatik dan motorik somatik di korteks serebral, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

Kesadaran sederhana yang dari sentuhan, tekanan, suhu deteksi oleh talamus, suatu tingkat yang lebih rendah dari otak. Talamus membuat kita sadar bahwa sesuatu yang panas atau dingin telah ditentukan ke tubuh kita, tetapi tidak memberitahu kita di mana atau bagaimana intensitasnya. Korteks somatosensori mampu melokalisasi sumber input sensori dan mengetahui tingkat stimulus. Demikian juga bagian ini mampu membedakan dan memahami bentuk benda dan di bagian mana benda bersentuhan dengan tubuh. 37

36 Ibid., hlm. 63

37 Ibid., hlm. 63

25

Daerah bagian belakang lobus frontalis persis di depan sulkus sentralis berdampingan dengan korteks somatosensori adalah korteks motor primer Bagian ini mengontrol gerakan-gerakan sadar yang dihasilkan oleh otot rangka. Seperti halnya proses sensori, korteks motor pada setiap sisi otak terutama mengontrol otot-otot pada sisi yang berlawanan dari tubuh. Traktus saraf yang bermula pada korteks motor dari hemisfer kiri, bersilang sebelum masuk ke korda spinalis yang berakhir pada sel saraf motor eferen yang memicu kontraksi otot kerangka pada sisi kanan tubuh. Kerusakan pada motor korteks otak sebelah kiri menghasilkan gelembung pada sisi kanan. Stimulasi dari daerah motor korteks primer yang berbeda menyebabkan terjadinya gerakan pada bagian tubuh yang berbeda. Seperti korteks somatosensori, homunkulus motor juga menggambarkan lokasi dan jumlah relatif dari korteks motor bertumpu pada output ke otot-otot setiap alat bagian tubuh, terbalik dan putar balik. Jari-jari dan ibu jari seperti halnya otot yang penting dalam bicara terutama pada bibir dan lidah, sangat-sangat dibesarkan, hal ini menunjukkan tingkat kontrol motor yang lebih baik terhadap bagian- bagian tubuh tersebut. Jadi penampilan pada korteks motor adalah proposional berdasarkan pada keutamaan dan kekompleksan dari keterampilan motor yang diperlukan untuk masing-masing bagian.

motor yang diperlukan untuk masing-masing bagian. Gambar 2.27 Area fungsional otak besar, (Principles of

Gambar 2.27 Area fungsional otak besar, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

b) Basal Nuclei Basal nuklei berperan penting dalam inhibitory kontrol motor. Basal nuklei yang disebut juga ganglia basal terdiri dari beberapa masa substansia kelabu yang terletak didalam substansia putih dari serebrum. Suatu nukleus (jamak = nuklei) adalah suatu agregrasi fungsional dari badan-badan sel saraf. Pengetahuan tentang bahasa nuklei masih sedikit (misalnya peranan dalam fungsi non-motor, meskipun diketahui memegang peranan yang kompleks dalam mengontrol gerakan. Basal nuklei berperan penting antara lain dalam:

o Penghambatan tonus otot di seluruh tubuh. (Tonus otot yang tepat secara normal dipelihara keseimbangan input eksitatori dan inhibitori ke sel saraf yang otot rangka).

26

o Membantu memonitor dan mengkoordinasi kontraksi yang dijaga lambat khususnya kontraksi yang berhubungan dengan postur dan penyangga tubuh.

o Menekan pola gerakan yang tidak berguna. 38 Untuk menunjang fungsi integratif yang kompleks tersebut, basal nuklei yang menerima dan mengirim banyak informasi, hal ini ditandai oleh jumlah serabut saraf yang banyak sekali yang menghubungkannya dengan daerah lain pada otak. Satu jalur penting terdiri dari interkoneksi strategis yang membentuk suatu lengkung umpan balik yang kompleks, menghubungkan korteks serebral (khususnya daerah motornya), basal nuklei, dan talamus. Diperkirakan bahwa talamus memperkuat secara positif perilaku gerakan sadar yang di inisiasi oleh korteks, dimana basal nukei mengendalikan kegiatan ini dengan suatu pengaruh penghambatan pada talamus untuk mengurangi gerakan yang antagonistik atau tidak perlu. Basal nuklei juga menggunakan efek inhibitori pada aktivitas motor dengan mempengaruhi sel saraf pada batang otak. 39

motor dengan mempengaruhi sel saraf pada batang otak. 3 9 Gambar 2.28 Basal Nuclei, (Principles of

Gambar 2.28 Basal Nuclei, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

c) Sistem Limbik Sistem limbik (perbatasan limbik) merupakan bagian atas batang otak dan corpus callosum yang melingkari cincin struktur di perbatasan bagian dalam otak besar dan lantai diencephalon. Komponen utama dari sistem limbik adalah sebagai berikut:

Lobus limbik yang disebut tepi korteks serebral permukaan medial setiap belahan. Ini termasuk cingulate gyrus (cingul belt), yang terletak di atas corpus callosum, dan gyrus parahippocampal, yang ada di lobus temporal di bawah. Hippocampus adalah bagian dari gyrus parahippocampal yang memanjang ke lantai lateral ventrikel.

38 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 66

39 Ibid., hlm. 66-67

27

The dentate gyrus (dentate toothed) terletak di antara hippocampus dan gyrus parahippocampal.

Amygdala (berbentuk amygda-almond) terdiri dari beberapa kelompok neuron terletak dekat dengan ekor nukleus berekor.

Inti septum terletak di dalam area septum yang terbentuk oleh daerah di bawah corpus callosum dan paraterminal gyrus (a gebrus serebral).

Badan mammillary dari hipotalamus adalah dua putaran massa dekat dengan garis tengah di dekat gagang serebral.

Dua nukleus thalamus, nukleus anterior dan nukleus inti medial, berpartisipasi dalam sirkuit limbik

Umbi olfaktorius meratakan tubuh olfaktorius jalur yang bersandar di piring berkisi.

Fornix, stria terminalis, stria medullaris, medial bundel otak depan, dan saluran mammillothalamic dihubungkan oleh bundel interkoneksi akson mielin. Sistem limbik kadang-kadang disebut "otak emosional" karena memainkan peran utama dalam berbagai emosi, termasuk kesenangan, kesakitan, kepatuhan, kasih sayang, ketakutan, dan kemarahan. Ini juga terlibat dalam penciuman (penciuman) dan memori. Seseorang yang amigdalanya rusak gagal melakukan mengenali ekspresi ketakutan pada orang lain atau untuk mengekspresikan rasa takut dalam situasi yang sesuai. Hippocampus, bersama dengan bagian lain dari otak besar, fungsi dalam memori. Orang dengan kerusakan pada struktur sistem limbik tertentu melupakan peristiwa baru-baru ini dan tidak dapat melakukan apa pun ke memori. 40

ini dan tidak dapat melakukan apa pun ke memori. 4 0 Gambar 2.29 Sistem Limbik, (Principles

Gambar 2.29 Sistem Limbik, (Principles of Anatomy and Physiologhy, 2009)

2. Sumsum Tulang Belakang Sumsum tulang belakang berada di dalam saluran tulang belakang (kanalis vertebralis), dan berhubungan dengan saraf-saraf spinal. Sumsum tulang belakang merupakan jaringan saraf berbentuk silinder lunak, panjanganya kurang lebih 45 cm, dengan diameter kira-kira 2 cm. Sumsum tulang belakang berada dan terlindung di dalam saluran tulang belakang. Saraf spinal yang berpasang-pasang muncul dari sumsum tulang belakang melalui permukaan lateral batas antara dua tulang vertebra

40 Gerard J. Tortora dan Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology, (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 517

28

yang berdekatan, merupakan lengkung seperti sayap. Saraf spinal diberi nama menurut daerah vertebrata di mana dia muncul yaitu: 8 pasang saraf servikalis; 12 pasang saraf torakalis; 5 pasang saraf lumbalis; 5 pasang saraf sakralis; dan 1 pasang saraf koksigeal. 41

saraf sakralis ; dan 1 pasang saraf koksigeal . 4 1 Gambar 2.30 Saraf-saraf spinal, (Fundamental

Gambar 2.30 Saraf-saraf spinal, (Fundamental of Human Physiologhy, 2012)

Selama pertumbuhan, kolumna vertebralis tumbuh sekitar 25 cm lebih panjang daripada sumsum tulang belakang, sehingga sumsum tulang belakang hanya sebatas ruas 1 vertebra lumbalis. Serabut-serabut saraf lumbalis, sakralis dan kosigeal harus turun dulu sebelum keluar dari kolumna vertebralis. Akibatnya pada ujung sumsum tulang belakang terbentuk serabut saraf yang secara keseluruhan seperti ekor kuda. Oleh karena itu bagian ini disebut “cauda equina”. Daerah ini merupakan tempat yang lebih aman untuk melakukan “spinal taps”, yaitu mengambil sampel cairan serebrospinal dengan menyedot. Biasanya tempat penyedotan tersebut di bawah vertebra lumbalis kedua.

Meskipun ada variasi, namun potongan melintang sumsum tulang belakang menunjukkan bagian-bagian yang secara umum sama. Tidak seperti pada otak. Maka, substansia kelabu pada sumsum tulang belakang berada di bagian dalam yang dikelilingi oleh substansia putih. Pada potongan melintang tersebut substansia kelabu nampak seperti gambar kupu-kupu. Seperti pada otak, susbtansia kelabu pada sumsum tulang belakang terutama terdiri dari badan-badan sel saraf bersama dendritnya, antarneuron pendek dan sel-sel glial. Substansi putih diorganisasi menjadi trakus-trakus yang merupakan berkas-berkas serabut saraf (akson dari saraf antarneuron yang panjang) yang mempunyai fungsi yang sama. Berkas-berkas tersebut berkelompok- kelompok menjadi kolom-kolom yang memanjang sepanjang sumsum tulang belakang. Setiap traktus mulai atau berakhir di dalam suatu daerah tertentu pada otak, dan masing- masing menyampaikan tipe informasi yang khusus. Traktus-traktus ini dibedakan menjadi traktus naik (ascending tracts) dan traktus turun (descending tracts). Traktus naik membawa sinyal dari input aferen ke otak, traktus turun membawa sinyal dari otak ke saraf eferen. Traktus-traktus tersebut umumnya diberi nama yang menunjukkan darimana asalnya dan dimana berakhirnya.

41 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 73

29

Misalnya, traktus kortikospinal, adalah traktus turun, yang badan-badan selnya terutama berada di dalam korteks serebral dan akson-aksonnya berjalan ke bawah dan berakhir pada badan sel saraf eferen (saraf motorik) di dalam korda spinalis (sumsum tulang belakang). 42 Substansia kelabu yang berada di tengah juga diorganisasi secara fungsinal. Di tengah-tengah substansial kelabu ini terdapat sentral kanal, yang berisi cairan serebrosspinal. Setiap paroh dari substansia kelbau dibagi menjadi bagian-bagian: (a) tanduk belakang atau (dorsal horn), (b) tanduk depan (ventarl horn), dan (c) tanduk lateral (lateral horn). Pada tanduk belakang terdapat badan-badan sel saraf interneuron yang akan bersinapsis dengan saraf-saraf aferen. Pada tanduk depan terdapat badan- badan sel saraf eferen (saraf motoris) ayng aksonnya akan menuju ke otot-otot rangka. Badan-badan sel saraf otonom yang menginervasi otot-otot polos, otot jantung, dan kelenjar-kelenjar eksokrin, berada di dalam tanduk lateral. Saraf-saraf spinal melekat pada setiap sisi sum-sum tulang belakang sebagai akar belakang (dorsal root) dan akar depan (ventral root). Serabut aferen masuk sumsum tulang belakang melalui akar dorsal, sedangkan serabut aferen meninggalkan sumsum tulang belakang melalui akar depan. Badan- badan sel saraf aferen pada setiap tingakt per kelompok dalam ganglion akar dorsal (ganglion adalah sekumpulan badan sel yang terletak di luar sistem saraf pusat, dimana sekumpulan fungsional badan-badan sel di dalam sistem saraf pusat disebut basal nuklei. Badan-badan sel saraf eferen berada di dalam tanduk depan dan mengirim aksonnya keluar melalui akar ventral. Akar depan dan akar belakang akan bergabung bersama membentuk saraf spinal yang keluar dari kolumnya vertebralis. Jadi, suatu saraf spinal terdiri dari saraf aferen dan eferen yang memanjang mulai dari sum-sum tulang belakang ke bagian tubuh tertentu. Jadi disini ada dua istilah yang dibedakan, yaitu saraf (nerve) dan sel saraf (neuron). Saraf adalah suatu berkas yang umumnya merupakan gabungan dari beberapa sel saraf aferen dan eferen yang terbungkus jaringan ikat (analog dengan kabel listrik). Suatu saraf tidak mengandung sel saraf yang lengkap. Mungkin hanya merupakan gabungan dari bagian banyak dendrit saraf aferen dan bagian dari banyak akson saraf eferen saja. 43

aferen dan bagian dari banyak akson saraf eferen saja. 4 3 Gambar 2.31 Saraf spinal, (Fundamental

Gambar 2.31 Saraf spinal, (Fundamental of Human Physiologhy, 2012)

42 Ibid., hlm. 75

43 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 76

30

E. Struktur Sistem Saraf Tepi Sistem saraf tepi merupakan sistem saraf yang menghubungkan semua bagian tubuh dengan sistem saraf pusat. Sistem saraf perifer (PNS) mencakup semua jaringan saraf di luar sistem saraf pusat (SSP). Komponen PNS termasuk saraf kranialis dan cabangnya, saraf

tulang belakang dan cabangnya, ganglia, dan reseptor sensorik. Sistem saraf tepi ini terdiri atas reseptor sensorik dan efektor motorik. Komponen utama sistem saraf tepi adalah saraf, ganglia, dan ujung saraf. Saraf adalah berkas serabut saraf (akson) yang dikelilingi sel glia dan jaringan ikat.

1. Serabut Saraf Saraf perifer terdiri dari kumpulan serabut saraf. Pada serabut saraf perifer, akson diselubungi oleh sel Schwann, yang juga disebut neurolemmosit. Serabut saraf yang dapat atau tidak dapat membentuk selubung mielin bergantung pada diameternya. Akson berdiameter kecil umumnya adalah serabut saraf tak bermielin. Akson yang lebih tebal umumnya diselubungi oleh lebih banyak lapisan konsentris sel penyelubung yang membentuk selubung mielin. Serabut-serabut ini dikenal sebagai serabut saraf bermielin. 44

ini dikenal sebagai serabut saraf bermielin. 4 4 Gambar 2.32 Struktur ultra serabut bermielin dan tidak

Gambar 2.32 Struktur ultra serabut bermielin dan tidak bermielin, (Histologi Dasar Junqueira edisi 12, 2011)

Selubung mielin terbentuk dari balutan sebuah sel schwan (neurolemmosit) yang menyelubungi akson. Pada awalnya, sebuah neurolemosit (menyelubungi suatu bagian di sepanjang akson. Membran sel schwann menyatu di sekeliling akson dan memanjang saat sel tersebut menjadi terbalut di sekitar akson ketika badan sel mengelilingi badan sel beberapa kali. Balutan membran neurolemmosit membentuk selubung mielin dengan badan sel pada permukaan luarnya. Lapisan mielin kaya akan lipid dan memberikan insulasi dan mempermudah pembentukan kerja potensial aksi di sepanjang aksolemma. 45

44 Anthony L Mescher, Histologi Dasar Junqueira: Teks & Atlas, Alih bahasa Frans Dany, editor edisi bahasa Indonesia Huriawati Hartanto, Ed. 12, (Jakarta: EGC, 2011), hlm. 150

45 Ibid., hlm. 155

31

Gambar 2.33 Mielinasi akson saraf perifer berdiameter besar dan Kecil, (Histologi Dasar Junqueira edisi 12,

Gambar 2.33 Mielinasi akson saraf perifer berdiameter besar dan Kecil, (Histologi Dasar Junqueira edisi 12, 2011)

Adapun akson yang tidak dilengkapi selubung mielin adalah akson berdiameter kecil.Selama perkembangan, bagian dari sejumlah akson berdiameter kecil diselubungi sebuah neurolemmosit (sel Schwann). 1Kemudian, akson terpisah dan terselubungi di dalam lipatannya sendiri atau kantong permukaan sel Schwann. Tidak terdapat mielin yang dibentuk.oleh sebab itu akson yang berdiameter kecil tidak memiliki selubung mielin. Akson berdiameter kecil menggunakan potensial aksi dengan pembentukan dan pemeliharaan yang tidak bergantung pada insulasi yang diberikan selubung mielin yang diperlukan oleh akson berdiameter besar. 46

mielin yang diperlukan oleh akson berdiameter besar. 4 6 Gambar 2.34 Saraf tak bermielin, (Histologi Dasar

Gambar 2.34 Saraf tak bermielin, (Histologi Dasar Junqueira edisi 12, 2011)

2. Jaringan ikat saraf perifer Saraf perifer dilindungi oleh tiga lapisan jaringan ikat. Jaringan tersebut yaitu Epineurium luar terdiri atas regio superfisial padat dan regio di dalam yang lebih longgar dan mengandung pembuluh darah dan fasciculus dengan berkas serabut saraf. Setiap fasciculus dikelilingi oleh perineuriur, yang terdiri atas beberapa lapisan sel fibroblastik mirip-epitel. Kemudian jaringan yang lebih dalam selanjutnya adalah selapis tipis endoneurium dan yang paling dalam adalah, perineurium dapat terjulur sebagai septa ke dalam fasciculus yang tebih besar. Biasanya dalam fasciculus terdapat endoneurium yang mengelilingi kapiler dan berhubungan langsung dengan lamina eksternal yang dihasilkan sel Schwann.

46 Ibid., hlm. 157

32

Gambar 2.35 Jaringan ikat perifer, (Histologi Dasar Junqueira edisi 12, 2011) 3. Sel Glia Sel

Gambar 2.35 Jaringan ikat perifer, (Histologi Dasar Junqueira edisi 12, 2011)

3. Sel Glia Sel glia adalah sel yang terdiri dari massa jaringan saraf dalam tubuh. Massa ini dikenal senagai ganglia. Sel-sel itu sendiri terdiri dari akson dan struktur dendrit yang mengirim dan menerima impuls saraf. Sel-sel ini membantu mengirimkan informasi ke seluruh tubuh. Oleh sebab itu, sel ganglia kebanyakan adalah neuron sensorik. Jenis yang paling umum dari sel ganglion yang ditemukan dalam kelenjar adrenal dan dalam retina mata. Sel glia ini juga terlokalisasi di seluruh saraf parasimpatik dan simpatik, daerah yang mengontrol tubuh dalam istirahat dan aktivitas masing-masing. Sel glia mempunyai suatu simpai jaringan ikat khusus dan kerangka internal yang bersifat kontinu dengan epineurium dan komponen lain saraf perifer. Sel glia memiliki inti yang bundar dan kecil yang disebut sel satelit. Fungsi sel satelit adalah memproduksi penjuluran sitoplasma yang tipis dan berbentuk lembaran sepenuhnya menyelubungi setiap perikaryon neuronal besar dan beberapa mengandung lipofuksin. Kumpulan sel ganglion dan sel neuron yang ditunjang jaringan ikat yang biasanya berstruktur lonjong akan membentuk ganglia. Ganglia saraf simpatis lebih kecil daripada kebanyakan ganglia sensorik, tetapi serupa karena memiliki badan sel neuronal yang besar, dan beberapa mengandung lipofuksin. Lembaran dari sel satelit menyelubungi setiap badan sel neuronal dengan morfologi yang sedikit berbeda dari morfologi ganglia sensorik. Ganglia otonom biasanya memiliki lebih sedikit simpai jaringan ikat. 47

biasanya memiliki lebih sedikit simpai jaringan ikat. 4 7 Gambar 2.36 Ganglia, (Histologi Dasar Junqueira edisi

Gambar 2.36 Ganglia, (Histologi Dasar Junqueira edisi 12, 2011)

F. Mekanisme Kerja Sistem Saraf Tepi Sistem saraf tepi meliputi semua saraf yang menuju maupun yang dari arah sistem saraf pusat ke efektor. Sistem saraf yang menuju otak disebut sistem saraf aferen dan yang dari arah otak disebut sistem saraf eferen. Mekanisme kerja sistem saraf tepi meliputi

47 Ibid., hlm. 156-160

33

keterlibatan neuron sensorik dan motorik yang akan menghasilkan sebuah respon dari integrasi otak oleh sebuah stimulus. Sebuah stimulus yang diterima reseptor akan dibawa sebagai impuls oleh saraf sensorik ke sumsum tulang belakang dan otak di sepanjang dua rute utama. Jalur tersebut yaitu dari saluran spinothalamic dan kolom posterior. Jalur spinothalamic menyampaikan impuls saraf untuk rangsangan nyeri, panas, dingin, gatal, dan geli. Kolom posterior terdiri dari dua saluran: gracile fasciculus dan fasciculus cuneate. Jalur kolom posterior menyampaikan impuls saraf untuk sentuhan, tekanan, getaran, dan gerakan sadar (kesadaran akan posisi dan gerakan otot, tendon, dan sendi). Sistem sensorik memberi informasi kepada SSP tentang perubahan di lingkungan eksternal dan internal. Informasi sensorik diintegrasikan (diproses) oleh interneuron di sumsum tulang belakang dan otak. Respons terhadap keputusan integratif (penerjemahan) dihasilkan oleh aktivitas motorik (kontraksi otot dan sekresi kelenjar). 48

motorik (kontraksi otot dan sekresi kelenjar). 4 8 Gambar 2.37 Jalur pusat saraf sensorik dan motoric,

Gambar 2.37 Jalur pusat saraf sensorik dan motoric, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

Bagian otak luar, tepatnya korteks serebral memainkan peran besar dalam mengendalikan gerakan otot disadari. Adapun bagian otak lainnya berfungsi menyediakan integrasi penting untuk pengaturan gerakan otomatis (refleks). Hasil penerjemahan impuls dari SSP dibawa oleh neuron motorik menuruni sumsum tulang belakang dalam dua jenis jalur menurun yaitu langsung dan tidak langsung. Jalur langsung melewati kortikospinal lateral, kortikospinal anterior, dan kortikobulbar. Semua bagian tersebut menyampaikan impuls saraf yang berasal dari korteks serebral dan ditujukan untuk menghasilkan gerakan disadaripada otot rangka. Jalur tidak langsung meliputi rubrospinal, tectospinal, vestibulospinal, reticulospinal lateral yang menghasilkan respon gerakan refleks. Biasanya yang mengatur tonus otot, postur, keseimbangan, dan orientasi kepala dan tubuh.

Gerakan reflex Impuls saraf yang berjalan yang menuju atau keluar dari SSP mengikuti jalur spesifiknya, tergantung pada jenis stimulus, asal-usulnya, dan tujuannya. Gerakan refleks akan melewati jalur refleks yang mencakup lima komponen fungsional. Jalur tersebut yaitu:

1. Reseptor sensorik Ujung distal neuron sensorik (dendrit) atau struktur sensorik yang terkait berfungsi sebagai reseptor sensorik akan menanggapi rangsangan spesifik. Rangsangan dapat berupa perubahan dalam lingkungan internal atau eksternal dengan menghasilkan potensi bertingkat yang disebut potensi generator (atau

48 Ibid., hlm. 481-482

34

reseptor). Jika potensi generator mencapai tingkat ambang depolarisasi, itu akan memicu satu atau lebih impuls saraf di neuron sensorik.

2. Neuron sensorik Impuls saraf merambat dari reseptor sensorik sepanjang akson neuron sensorik ke terminal akson, yang terletak di bagian abu-abu dari sumsum tulang belakang atau batang otak.

3. Pusat integrasi (SSP) Satu atau lebih wilayah bagian abu-abu dalam CNS bertindak sebagai pusat integrasi. Pada tipe refleks yang paling sederhana, pusat pengintegrasian adalah sinaps tunggal antara neuron sensorik dan neuron motorik. Jalur refleks yang hanya memiliki satu sinaps di SSP disebut busur refleks monosinaptik (monone). Pusat integrasi terdiri dari satu atau lebih interneuron, yang dapat menyampaikan impuls ke interneuron lain serta ke neuron motorik. Busur refleks polisinaptik melibatkan lebih dari dua jenis neuron dan lebih dari satu sinaps SSP.

4. Neuron motorik Impuls yang dipicu oleh pusat penyatuan merambat keluar dari SSP sepanjang neuron motorik ke bagian tubuh yang akan merespons.

5. Efektor Bagian tubuh yang merespons impuls saraf motorik adalah otot, kelenjar dan efektor. Aksinya disebut refleks. Jika efektornya adalah otot rangka, refleksnya adalah refleks somatik. Jika efektornya adalah otot polos, otot jantung, atau kelenjar, refleksnya adalah refleks otonom (visceral/tak sadar). 49

adalah refleks otonom ( visceral /tak sadar). 4 9 Gambar 2.38 Jalur gerakan reflex, (Principles of

Gambar 2.38 Jalur gerakan reflex, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

G. Sistem Saraf Otonom dan Somatik

1. Sistem Saraf Otonom Sistem saraf otonom yaitu sistem saraf yang rangsangannya tidak disampaikan ke otak. Artinya sistem ini merupakan sekumpulan saraf bertugas mengatur aktivitas yang tidak disadari. Misalnya saja pergerakan jantung dan paru-paru. Sistem saraf autonom mengatur fungsi otot-otot halus, otot jantung, dan kelenjar-kelenjar tubuh. Otot-otot halus terdapat di bagian kulit (berkaitan dengan folikel-folikel rambut di tubuh, di pembuluh-pembuluh darah, di mata (mengaturukuran pupil dan akomodasi lensa mata), di dinding serta jonjot usus, di kantung empedu dan di kandung kemih. Jadi

49 Ibid., hlm. 482-483

35

dapat disimpulkan bahwa organ-organ yang dikontrol oleh sistem saraf autonom memiliki fungsi untuk melangsungkan “proses vegetatif” (proses mandiri dan paling dasar) di dalam tubuh. Sistem saraf autonom terdiri dari dua sistem yang berbeda secara anatomis, yaitu bagian sympatetik dan bagian parasympatetik. Organ dalam tubuh dikontrol oleh kedua bagian tersebut meskipun tiap bagian memberikan efek yang berlawanan. Saraf simpatik berfungsi mempercepat kerja organ tubuh, sedangkan saraf parasimpatik memperlambat kerja organ tubuh. Contohnya, bagian simpatetik meningkatkan detak jantung, sedangkan bagian parasimpatetik menurunkan detak jantung. Efek yang berbeda dari kerja bagian simpatik dan parasimpatik disebabkan karena neurotransmitter yang dihasilkan. Neurotransmitter saraf simpatik mengarah ke nonadrenalin sedangkan neurotransmitter saraf parasimpatik adalah asetilkolin.

neurotransmitter saraf parasimpatik adalah asetilkolin. Gambar 2.39 Sistem Saraf Autonom dan Organ-organ yang

Gambar 2.39 Sistem Saraf Autonom dan Organ-organ yang dikontrolnya, (Carlson, 1992)

Divisi simpatik sering disebut divisi fight-or-flight. Aktivitas simpatik menghasilkan peningkatan kewaspadaan dan aktivitas metabolisme untuk mempersiapkan tubuh menghadapi situasi darurat. Respons terhadap situasi seperti itu, yang dapat terjadi selama aktivitas fisik atau stres emosional, termasuk detak jantung yang cepat, laju pernafasan yang lebih cepat, pelebaran pupil. Penyempitan pembuluh darah ke organ-organ yang tidak terlibat dalam memerangi stres (misalnya, saluran pencernaan dan ginjal), dan pelepasan glukosa dari hati. Divisi parasimpatis sering disebut sebagai divisi restandestro karena aktivitasnya menghemat dan memulihkan energi tubuh selama waktu istirahat atau mencerna makanan. Divisi parasimpatis menghemat energi dan mengisi kembali cadangan nutrisi. Meskipun divisi simpatik dan parasimpatis peduli dengan menjaga kesehatan, keduanya melakukannya dengan cara yang sangat berbeda. 50

50 Ibid., hlm. 460-466

36

Gambar 2.40 Sistem Saraf Autonom, (Principles of Anatomy and Physiology 12 t h ed., 2009)

Gambar 2.40 Sistem Saraf Autonom, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

Dua komponen yang pertama dari neuron motorik dalam setiap jalur otonom disebut neuron preganglionik dan postganglionik. Tubuh selnya ada di otak atau sumsum tulang belakang, dan aksonnya keluar dari SSP sebagai bagian dari saraf kranial atau tulang belakang. Akson dari neuron preganglionik adalah serat tipe B berdiameter kecil dan bermielin yang biasanya meluas ke ganglion otonom, di mana saraf ini bersinkronisasi dengan neuron postganglionik, neuron kedua di jalur motor otonom. Neuron postganglionik terletak sepenuhnya di luar SSP. Tubuh sel dan dendritnya terletak di ganglion otonom, yang membentuk sinapsis dengan satu atau lebih akson preganglionik. Akson dari neuron postganglionik adalah serat tipe C berdiameter kecil dan tidak bermielin yang berakhir pada efektor visceral. Jadi, neuron preganglionik menyampaikan impuls saraf dari SSP ke ganglia otonom, dan neuron postganglionik meneruskan impuls dari ganglia otonom ke efektor visceral.

a. Neuron Preganglionik Pada divisi simpatis, neuron preganglionik memiliki sel tubuh mereka di tanduk lateral 12 segmen thoraks dan dua segmen lumbar sumsum tulang belakang yang pertama (dan terkadang tiga). Untuk alasan ini, divisi simpatik juga disebut divisi thoracolumbar dan akson dari neuron preganglionik simpatik dikenal sebagai aliran keluar thoracolumbar. Badan sel neuron preganglionik dari divisi parasimpatis terletak di nukleus dari empat saraf kranial di batang otak (III, VII, IX, dan X) dan dalam materi abu-abu lateral dari segmen sakral kedua hingga keempat dari sumsum tulang belakang). Oleh karena itu, divisi parasimpatis juga dikenal sebagai divisi kraniosakral, dan akson dari neuron preganglionik parasimpatis disebut sebagai aliran craniosacral.

b. Ganglia Autonom Ada dua kelompok utama ganglia otonom: (1) ganglia simpatik, yang merupakan komponen dari divisi simpatik ANS dan (2) ganglia parasimpatis, yang merupakan komponen divisi parasimpati. Ganglia simpatis adalah situs sinapsis antara neuron preganglionik dan postganglionik simpatik. Ada dua jenis utama ganglia simpatik: ganglia simpatik trunklia dan ganglia prevertebral. Ganglia trunkus simpatis (juga disebut ganglia rantai vertebral atau ganglia paravertebral) terletak pada baris vertikal di kedua sisi kolom vertebra. Ganglia ini memanjang dari

37

pangkal tengkorak ke tulang ekor. Akson postganglionik dari ganglia trunkus simpatis terutama organ bawaan di atas diafragma. Ganglia batang simpatik di leher memiliki nama tertentu. Namanya adalah ganglia serviks superior, tengah, dan inferior.

c. Neuron Postganglionik Setelah akson neuron preganglionik simpatis kemudian komponen selanjutnya adalah ganglia trunkus simpatis, yang dapat terhubung dengan neuron postganglionik dengan salah satu cara berikut:

1. Sebuah akson dapat bersinergi dengan neuron postganglionik di ganglion yang pertama kali dijangkau.

2. Suatu akson dapat naik atau turun ke ganglion yang lebih tinggi atau lebih rendah sebelum disinkronkan dengan neuron postganglionik. Akson dari neuron preganglionik simpatis yang masuk naik atau turun dari batang simpatik secara kolektif membentuk rantai simpatik, serat tempat ganglia digantung.

3. Suatu akson dapat berlanjut, tanpa synapsing, melalui ganglion trunkus simpatik hingga berakhir pada ganglion prevertebral dan sinapsis dengan neuron postganglionik di sana.

4. Sebuah akson juga dapat lewat, tanpa synapsing, melalui ganglion trunkus simpatis dan ganglion prevertebral dan kemudian meluas ke sel kromafin dari medullae adrenal yang secara fungsional mirip dengan neuron postganglionik simpatik. Serat preganglionik simpatik tunggal memiliki banyak agunan akson (cabang) dan dapat disinkronkan dengan 20 atau lebih neuron postganglionik. Pola proyeksi ini adalah contoh divergensi dan membantu menjelaskan mengapa banyak respons simpatik memengaruhi hampir seluruh tubuh secara bersamaan. Setelah keluar dari ganglia mereka, akson postganglionik biasanya berakhir pada beberapa efektor visceral. Akson neuron preganglionik dari divisi parasimpatis melewati ganglia terminal dekat atau di dalam efektor visceral. Dalam ganglion, neuron presinaptik biasanya bersinapsis dengan hanya empat atau lima neuron pascasinaps, yang semuanya memasok efektor visceral tunggal, yang memungkinkan respons parasimpatis dilokalisasi ke efektor tunggal. 51

51 Ibid., hlm. 167-169

38

Gambar 2.41 Tipe Jalur Antara Ganglia dan Postganglionik Saraf Autonom (Principles of Anatomy and Physiology

Gambar 2.41 Tipe Jalur Antara Ganglia dan Postganglionik Saraf Autonom (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

d. Neuron dan Reseptor Adrenergik Dalam sistem saraf otonom, neuron adrenergik melepaskan norepinefrin (NE), juga dikenal sebagai noradrenalin. Seperti ACh, NE disintesis dan disimpan dalam vesikel sinaptik dan dirilis oleh eksositosis. Molekul NE berdifusi melintasi celah sinaptik dan berikatan dengan reseptor adrenergik spesifik pada membran postsinaptik, menyebabkan eksitasi atau penghambatan sel efektor.

menyebabkan eksitasi atau penghambatan sel efektor. Gambar 2.42 Neuron kolinergik dan neuron adrenergik pada

Gambar 2.42 Neuron kolinergik dan neuron adrenergik pada divisi simpatis dan parasimpatis. Neuron kolinergik melepaskan asetilkolin; neuron adrenergik melepaskan norepinefrin. Reseptor kolinergik (nikotinat atau muskarinik) dan reseptor adrenergik adalah protein membran integral yang terletak di membran plasma dari neuron pascasinaps atau sel efektor, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

39

Reseptor adrenergik mengikat norepinefrin dan epinefrin. Norepinefrin dapat dilepaskan sebagai neurotransmitter oleh neuron postganglionik simpatik atau dilepaskan sebagai hormon ke dalam darah oleh sel-sel kromafin dari medullae adrenal; epinefrin dilepaskan sebagai hormon. Dua jenis utama dari reseptor adrenergik adalah reseptor alfa (α) dan reseptor beta (β), yang ditemukan pada efektor viseral yang dipersarafi oleh akson postganglionik yang paling simpatik. Reseptor-reseptor ini selanjutnya diklasifikasikan menjadi subtipe 1, 2, 1, 2, dan 3 berdasarkan respons spesifik yang mereka peroleh dan melalui pengikatan obat selektif yang mengaktifkan atau memblokirnya. Meskipun ada beberapa pengecualian, aktivasi reseptor 1 dan 1 umumnya menghasilkan eksitasi, dan aktivasi reseptor 2 dan 2 menyebabkan penghambatan jaringan efektor. Tiga reseptor hanya ada pada sel-sel jaringan adiposa coklat, di mana aktivasi mereka menyebabkan termogenesis (produksi panas). Sel-sel dari sebagian besar efektor mengandung reseptor alfa atau beta, beberapa sel efektor visceral mengandung keduanya. Norepinefrin menstimulasi reseptor alfa lebih kuat daripada reseptor beta, epinefrin adalah stimulator ampuh dari reseptor alfa dan beta. Aktivitas norepinefrin pada sinaps dihentikan baik ketika NE diambil oleh akson yang melepaskannya atau ketika NE dinonaktifkan secara enzimatik oleh catechol- O-methyltransferase (COMT) atau monoamine oksidase (MAO). Dibandingkan dengan ACh, norepinefrin bertahan di celah sinaptik untuk waktu yang lebih lama. Dengan demikian, efek yang dipicu oleh neuron adrenergik biasanya lebih tahan lama daripada yang dipicu oleh neuron kolinergik.

2. Sistem Saraf Somatik Sistem saraf somatik meliputi neuron sensorik dan motorik. Neuron sensorik menyampaikan input dari reseptor untuk indera somatik (sensasi sentuhan, termal, nyeri, dan proprioseptif) dan dari reseptor untuk indra khusus (penglihatan, pendengaran, rasa, bau, dan keseimbangan). Semua sensasi ini biasanya dirasakan secara sadar. Pada gilirannya, neuron motorik somatik menginervasi otot rangka - efektor sistem saraf somatik - dan menghasilkan gerakan yang disadari. Ketika neuron somatik menstimulasi otot, otot akan berkontraksi, efeknya menimbulkan suatu gerakan. Jika neuron motorik somatik berhenti menstimulasi otot, hasilnya adalah otot yang lumpuh dan lemas yang tidak memiliki tonus otot.

a. Neuron sensorik Jalur sensorik somatik menyampaikan rangsangan dari reseptor menuju ke area somatosensorik primer di korteks serebral dan ke otak kecil (SSP) untuk

diterjemahkan. Jalur menuju korteks serebral terdiri dari ribuan set tiga neuron:

neuron tingkat pertama, neuron tingkat kedua, dan neuron tingkat ketiga.

1. Neuron tingkat pertama membawa impuls dari reseptor somatik ke batang otak atau sumsum tulang belakang. Dari wajah, mulut, gigi, dan mata, impuls sensorik somatik merambat di sepanjang saraf kranial ke batang otak. Dari leher, batang, tungkai, dan aspek posterior kepala, impuls sensoris somatik merambat sepanjang saraf tulang belakang ke sumsum tulang belakang.

2. Neuron orde kedua membawa impuls dari batang otak dan sumsum tulang belakang ke thalamus. Akson neuron orde kedua menyeberang ke sisi yang berlawanan di batang otak atau sumsum tulang belakang sebelum naik ke inti

40

posterior ventral thalamus. Dengan demikian, semua informasi sensorik somatik dari satu sisi tubuh mencapai thalamus di sisi yang berlawanan. 3. Neuron urutan ketiga membawa impuls dari thalamus ke area somatosensori primer korteks di sisi yang sama. Saat terdapat rangsangan stimulus akan diterima neuron sensorik untuk meneruskannya dalam bentuk impuls yang akan diterjemahkan di otak. Tahap tersebut melibatkan beberapa neuron pembawa pesan. Antara lain melewati jalur Trigeminothalamic neuron orde pertama meluas dari reseptor sensorik somatik pada wajah, rongga hidung, rongga mulut, dan gigi ke dalam pons melalui saraf trigeminal (V). Badan sel neuron tingkat pertama ini ada di ganglion trigeminal. Terminal akson dari beberapa neuron orde pertama bersinaps dengan neuron orde kedua di pons. Akson dari neuron tingkat pertama lainnya turun ke dalam medula untuk disinkronkan dengan neuron tingkat kedua. Akson dari neuron orde dua menyeberang ke sisi berlawanan dari pons dan medula dan kemudian naik sebagai traktus trigeminothalamik ke nukleus posterior ventral thalamus. Di thalamus, terminal akson dari neuron orde kedua bersinaps dengan neuron orde ketiga, yang memproyeksikan akson mereka ke area somatosensori primer di sisi yang sama dari korteks serebral seperti thalamus. Jalur motorik somatik saraf di otak dan sumsum tulang belakang mengatur semua gerakan disadari dan tidak disadari. Pada akhirnya, semua sinyal rangsang dan penghambatan yang mengontrol gerakan menyatu pada neuron moorik yang memanjang keluar dari batang otak dan sumsum tulang belakang untuk menginervasi otot rangka dalam tubuh.

tulang belakang untuk menginervasi otot rangka dalam tubuh. Gambar 2.43 Jalur Trigeminothalamic Impuls , ( Principles

Gambar 2.43 Jalur Trigeminothalamic Impuls, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed.,

2009)

b. Neuron motorik Neuron motorik adalah neuron yang menerima penerjemahan impuls dari otak dan menyampaikannya ke organ efektor yang bersangkutan. Pada akhirnya, semua sinyal rangsang dan penghambatan yang mengontrol gerakan menyatu pada motor

41

neuron yang memanjang keluar dari batang otak dan sumsum tulang belakang untuk menginervasi otot rangka dalam tubuh. Neuron-neuron ini, juga dikenal sebagai neuron motorik bawah (LMN), memiliki tubuh sel mereka di batang otak dan sumsum tulang belakang. Dari batang otak, akson LMN meluas melalui saraf kranial untuk menginervasi otot rangka wajah dan kepala. Dari sumsum tulang belakang,

akson dari LMN meluas melalui saraf tulang belakang untuk menginervasi otot rangka tungkai dan belalai. Neuron dalam empat sirkuit saraf yang berbeda tetapi sangat interaktif, secara kolektif disebut jalur motorik somatik, berpartisipasi dalam kontrol gerakan dengan memberikan input ke neuron motorik:

1. Neuron sirkuit lokal. Input tiba di neuron motorik bawah dari interneuron terdekat yang disebut neuron sirkuit lokal. Neuron-neuron ini terletak dekat dengan sel-sel neuron motorik bawah di batang otak dan sumsum tulang belakang. Neuron sirkuit lokal menerima input dari reseptor sensorik somatik, seperti nosiseptor dan spindel otot, serta dari pusat yang lebih tinggi di otak. Mereka membantu mengoordinasikan aktivitas ritmik dalam kelompok otot tertentu, seperti fleksi bergantian dan ekstensi tungkai bawah selama berjalan.

2. Neuron motorik atas. Baik neuron jalur lokal dan neuron motorik bawah menerima input dari neuron motorik atas (UMN). Sebagian besar neuron motorik atas bersinaps dengan neuron jalur lokal, yang pada gilirannya akan menyebabkan sinaps dengan neuron motorik yang lebih rendah. UMNs dari korteks serebral sangat penting untuk pelaksanaan gerakan sukarela tubuh. UMN lain berasal dari pusat motorik batang otak: nukleus merah, nukleus vestibular, colliculus superior, dan pembentukan reticular. UMN dari batang otak mengatur tonus otot, mengontrol otot postural, dan membantu menjaga keseimbangan dan orientasi kepala dan tubuh.

3. Neuron ganglia basal. Neuron ganglia basal membantu pergerakan dengan memberikan input ke neuron motorik atas. Sirkuit saraf menghubungkan ganglia basal dengan area motorik korteks serebral (melalui thalamus) dan batang otak. Sirkuit ini membantu memulai dan menghentikan gerakan, menekan gerakan yang tidak diinginkan, dan membentuk tingkat otot yang normal.

4. Neuron serebelar. Neuron serebelar juga membantu pergerakan dengan mengendalikan aktivitas neuron motorik atas. Jalur saraf menghubungkan otak kecil dengan area motorik korteks serebral (melalui thalamus) dan batang otak. Fungsi utama otak kecil adalah untuk memantau perbedaan antara gerakan yang dimaksudkan dan gerakan yang sebenarnya dilakukan. Kemudian, mengeluarkan perintah ke neuron motorik atas untuk mengurangi kesalahan dalam gerakan. Otak kecil dengan demikian mengoordinasikan gerakan tubuh dan membantu mempertahankan postur dan keseimbangan normal juga sebuah gerakan. 52

52 Ibid., hlm. 480-490

42

Gambar 2.45 Jalur motorik somatic, (Principles of Anatomy and Physiology 12 t h ed., 2009)

Gambar 2.45 Jalur motorik somatic, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

H. Persinyalan Listrik di Sel Saraf Neuron bersifat elektrik seperti halnya dengan serat otot. Keduanya berkomunikasi satu sama lain menggunakan dua jenis sinyal listrik yaitu potensi bertingkat dan potensial tindakan. Potensial bertingkat (berdegradasi) digunakan hanya untuk komunikasi jarak pendek, sedangkan potensial tindakan memungkinkan komunikasi jarak jauh di dalam tubuh. Sedangkan potensi aksi dalam serat otot disebut potensi aksi otot. Ketika potensial aksi terjadi dalam neuron (sel saraf), itu disebut potensial aksi saraf (impuls saraf). Potensi bergradasi dan potensial aksi terjadi karena membran neuron mengandung berbagai jenis saluran ion yang membuka atau menutup sebagai respons terhadap rangsangan tertentu. Karena lipid bilayer dari membran plasma adalah isolator listrik yang baik, jalur utama arus untuk mengalir melintasi membran adalah melalui saluran ion. 53

a) Saluran Ion Ketika saluran ion terbuka, saluran tersebut memungkinkan ion spesifik untuk bergerak melintasi membran plasma, menurunkan gradien elektrokimianya- perbedaan konsentrasi (kimia) ditambah perbedaan listrik. Ion bergerak dari area dengan konsentrasi lebih tinggi ke area dengan konsentrasi lebih rendah (bagian kimia dari gradien). Juga, kation bermuatan positif bergerak menuju area bermuatan negatif, dan anion bermuatan negatif bergerak menuju area bermuatan positif (aspek listrik dari gradien). Saat ion bergerak, saluran ion menciptakan aliran arus listrik yang dapat mengubah potensial membran. Saluran ion membuka dan menutup karena adanya “gerbang”. Gerbang ion adalah bagian dari protein saluran yang dapat menutup saluran pori-pori atau bergerak ke samping untuk membuka pori-pori. Sinyal listrik yang dihasilkan oleh neuron dan serat otot bergantung pada empat jenis saluran ion. Saluran ion tersebut antara lain:

1. Gerbang saluran kebocoran Gerbang ini bergantian secara acak antara posisi terbuka dan tertutup. Biasanya, membran plasma memiliki lebih banyak saluran kebocoran ion kalium (K) daripada saluran kebocoran ion natrium (Na), dan saluran kebocoran ion kalium lebih

53 Gerard J. Tortora dan Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., (USA:

Graphic World, 2012), hlm. 428

43

berbahaya daripada saluran kebocoran ion natrium. Dengan demikian, permeabilitas membran terhadap K jauh lebih tinggi daripada permeabilitasnya terhadap Na.

2. Saluran ligan-gated Saluran ligan-gated membuka dan menutup sebagai respons terhadap stimulus kimia tertentu. Berbagai macam ligan kimia (termasuk neurotransmiter, hormon, dan ion) tertentu dapat membuka atau menutup saluran yang diikat oleh ligan. Asetilkolin neurotransmitter, misalnya, membuka saluran kation yang memungkinkan Na dan Ca 2 berdifusi ke dalam dan K untuk berdifusi ke luar.

3. Saluran berpagar mekanis Saluran berpagar mekanis membuka atau menutup sebagai respons terhadap stimulasi mekanis dalam bentuk getaran (seperti gelombang suara), sentuhan, tekanan, atau peregangan jaringan. Gaya mendistorsi saluran dari posisi istirahatnya, membuka gerbang. Contoh saluran berpagar mekanis adalah yang ditemukan pada reseptor pendengaran di telinga, reseptor yang memantau peregangan organ internal, dan reseptor sentuhan dan reseptor tekanan di kulit.

4. Saluran tegangan-terbuka Saluran tegagan terbuka terbuka akan bekerja saat terjadi respons terhadap perubahan potensial membran (tegangan). Saluran tegangan-gated berpartisipasi dalam pembangkitan dan konduksi potensi aksi.

berpartisipasi dalam pembangkitan dan konduksi potensi aksi. Gambar 2.46 Saluran Ion dalam membran plasma, (Principles

Gambar 2.46 Saluran Ion dalam membran plasma, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

b) Potensi Membran Beristirahat Potensi membran istirahat terjadi karena penumpukan kecil ion negatif dalam sitosol di sepanjang bagian dalam membran, dan penumpukan ion positif yang sama dalam cairan ekstra seluler di sepanjang permukaan luar membran. Pemisahan muatan listrik positif dan negatif semacam itu adalah bentuk energi potensial, yang diukur

44

dalam volt atau millivolt (1 mV - 0,001 V). Semakin besar perbedaan muatan melintasi membran, semakin besar potensial membran (tegangan). Faktor utama yang berkontribusi terhadap potensial membran istirahat adalah distribusi yang tidak merata dari berbagai ion dalam cairan ekstraseluler dan sitosol. Cairan ekstraseluler kaya akan ion Na dan klorida (Cl). Namun, dalam sitosol, kation utamanya adalah K, dan dua anion dominan adalah fosfat yang melekat pada molekul, seperti tiga fosfat dalam ATP, dan asam amino dalam protein. Karena membran plasma biasanya memiliki saluran kebocoran K lebih banyak daripada saluran kebocoran Na, jumlah ion kalium yang mendifusikan gradien konsentrasi mereka keluar dari sel ke dalam ECF lebih besar daripada jumlah ion natrium yang menyebar gradien konsentrasi mereka dari ECF ke dalam sel. Semakin banyak ion kalium positif keluar, bagian dalam membran menjadi semakin negatif, dan bagian luar membran menjadi semakin positif. Faktor kedua yaitu ketidakmampuan sebagian besar anion untuk meninggalkan sel. Faktor lain berkontribusi pada potensial membran istirahat negatif adalah kebanyakan anion di dalam sel yang tidak bebas meninggalkan sel. Mereka tidak dapat mengikuti K keluar dari sel karena mereka melekat pada molekul yang tidak dapat digunakan seperti ATP dan protein besar. Faktor ketiga yaitu Sifat elektrogenik dari ATPase Na / K (pompa Na/K). Permeabilitas membran untuk Na sangat rendah karena hanya ada beberapa saluran kebocoran natrium. Namun demikian, ion natrium perlahan menyebar ke dalam, menurunkan gradien konsentrasi mereka. Jika dibiarkan, kebocoran ke dalam seperti Na akhirnya akan merusak potensial membran istirahat. Kebocoran Na ke dalam yang kecil dan kebocoran K ke luar diimbangi oleh ATPase Na / K (pompa kalium natrium). Pompa-pompa ini membantu menjaga potensi membran istirahat dengan memompa Na secepat kebocorannya. ATPASE Na / K mengeluarkan tiga Na untuk masing-masing dua K yang diimport. Karena pompa ini menghilangkan lebih banyak muatan positif dari sel daripada yang mereka bawa ke dalam sel, mereka adalah elektrogenik, yang berarti mereka berkontribusi terhadap negatifitas potensial membran istirahat.

terhadap negatifitas potensial membran istirahat. Gambar 2.47 Resting Membran, (Principles of Anatomy and

Gambar 2.47 Resting Membran, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

45

a. Potensi Bergradasi Potensi bergradasi adalah penyimpangan kecil dari potensi membran yang membuat membran lebih terpolarisasi (di dalam lebih negatif) atau kurang terpolarisasi (di dalam lebih sedikit negatif). Ketika respon membuat membran lebih terpolarisasi (di dalam lebih negatif), ini disebut potensial bertingkat hiperpolarisasi. Ketika respon membuat membran kurang terpolarisasi (di dalam lebih sedikit negatif), itu disebut potensial bertingkat depolarisas. Potensi bertingkat terjadi ketika suatu stimulus menyebabkan saluran-saluran yang terjaga keamanannya secara teknis atau terbuka untuk membuka atau menutup dalam membran plasma sel yang tereksitasi.

atau menutup dalam membran plasma sel yang tereksitasi. Gambar 2.48 Grafik potensial berdegradasi, (Principles of

Gambar 2.48 Grafik potensial berdegradasi, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed.,

2009)

Biasanya, saluran gated mekanis dan saluran gigan ligand dapat hadir dalam dendrit neuron sensorik, dan saluran gigan ligand banyak terdapat dalam dendrit dan badan sel dari terneuron dan neuron motor. Oleh karena itu, potensi bertingkat terjadi terutama di dendrit dan sel tubuh neuron. Untuk mengatakan bahwa sinyal- sinyal listrik ini dinilai berarti mereka bervariasi dalam amplitudo (ukuran), tergantung pada kekuatan stimulus. Mereka lebih besar atau lebih kecil tergantung pada berapa banyak saluran ligan-gated atau secara mekanis telah dibuka (atau ditutup) dan berapa lama masing-masing tetap terbuka. Potensi bertingkat memiliki nama yang berbeda tergantung pada jenis stimulus yang menyebabkannya dan di mana mereka terjadi. Sebagai contoh, ketika potensial bertingkat terjadi dalam dendrit atau badan sel neuron sebagai respons terhadap neurotransmitter, itu disebut potensi post-sinaptik. 54

b. Generasi Potensi Tindakan Potensi aksi Potensial aksi atau impuls adalah urutan peristiwa yang terjadi dengan cepat yang menurunkan dan membalikkan potensial membran dan kemudian mengembalikannya ke keadaan istirahat. Potensi aksi memiliki dua fase utama: fase depolarisasi dan fase repolarisasi. Selama fase depolarisasi, potensial membran negatif menjadi kurang negatif, mencapai nol, dan kemudian menjadi positif. Selama fase repolarisasi, potensi membran dikembalikan ke keadaan istirahat 70 mV. Setelah fase repolarisasi mungkin ada fase setelah-hiperpolarisasi, di mana potensi membran untuk sementara menjadi lebih negatif daripada tingkat istirahat.

1. Fase Depolarisasi Ketika potensial bertingkat depolarisasi atau stimulus lain menyebabkan membran akson terdepolarisasi ke ambang batas, saluran Na yang terjaga

54 Ibid., hlm. 430-432

46

tegangannya terbuka dengan cepat. Gradien listrik dan kimia mendukung pergerakan ke dalam Na, dan lonjakan Na yang dihasilkan menyebabkan fase

depolarisasi potensi aksi. Aliran Na mengubah potensi membran dari 55 mV menjadi 30 mV. Pada puncak potensial aksi, bagian dalam membran adalah 30

mV lebih positif daripada bagian luar. Setiap saluran Na tegangan-gated

memiliki dua gerbang terpisah, gerbang aktivasi dan gerbang inaktivasi. Dalam keadaan istirahat dari saluran Na yang terjaga tegangannya, gerbang inaktivasi terbuka, tetapi gerbang aktivasi ditutup. Akibatnya, Na tidak bisa bergerak ke dalam sel melalui saluran ini. Pada ambang batas, saluran Na yang terjaga tegangannya diaktifkan. Dalam keadaan teraktivasi dari saluran Na yang terjaga tegangannya, baik gerbang aktivasi maupun in-aktivasi dalam saluran terbuka dan pemasukan Na dimulai. Ketika lebih banyak saluran terbuka, aliran Na meningkat, membran mendepolarisasi lebih lanjut, dan lebih banyak saluran Na membuka. Ini adalah contoh dari mekanisme umpan balik positif.

2. Fase Repolarisasi Tidak lama setelah gerbang aktivasi dari saluran Na yang diberi tegangan terbuka, gerbang inaktivasi tertutup, saluran Na tegangan-gated dalam keadaan

tidak aktif. Selain membuka saluran Na yang terjaga tegangannya, depolarisasi tingkat ambang batas juga membuka saluran K yang diberi tegangan-gated. Karena saluran K-tegangan-g dibuka lebih lambat, pembukaannya terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dengan saluran Na yang diberi tegangan-tertutup. Pembukaan saluran K yang diberi tegangan lebih lambat dan penutupan saluran Na yang diberi tegangan terbuka sebelumnya menghasilkan fase repolarisasi potensial aksi. Karena saluran Na tidak aktif, aliran Na melambat. Pada saat

yang sama, saluran K membuka, mempercepat arus keluar K. Perlambatan aliran

masuk Na dan percepatan aliran keluar K menyebabkan potensi membran berubah dari 30 mV menjadi 70 mV. Repolarisasi juga memungkinkan saluran Na yang tidak aktif untuk kembali ke keadaan istirahat.

3. Fase Hiperpolarisasi Sementara saluran K yang diberi tegangan terbuka, aliran keluar K

mungkin cukup besar untuk menyebabkan fase setelah-hiperpolarisasi potensi aksi. Selama fase ini, saluran K yang terjaga tegangannya tetap terbuka dan potensi membran menjadi lebih negatif (sekitar 90 mV). Ketika saluran K yang tertutup tegangan menutup, potensial membran kembali ke level istirahat 70 mV. Tidak seperti saluran Na yang diberi tegangan, sebagian besar saluran K

yang diberi tegangan tidak menunjukkan keadaan tidak aktif. Sebagai gantinya,

mereka bergantian antara kondisi tertutup (istirahat) dan terbuka (diaktifkan).

4. Periode Refraktori

Perioderefraktori adalah waktu setelah potensi aksi dimulai selama sel

yang tidak dapat dieksitasi tidak dapat menghasilkan potensial aksi lain sebagai

respons terhadap stimulus ambang normal. Selama periode refraktori absolut, bahkan stimulus yang sangat kuat tidak dapat memulai potensi aksi kedua. Periode ini bertepatan dengan periode aktivasi dan inaktivasi saluran Na. Saluran Na yang tidak aktif tidak dapat dibuka kembali, pertama-tama harus kembali ke keadaan istirahat. Berbeda dengan potensi aksi, potensi bertingkat tidak menunjukkan periode refraktori. Akson berdiameter besar memiliki luas

47

permukaan yang lebih besar dan memiliki periode refraktori absolut singkat sekitar 0,4 msec. Karena impuls saraf kedua dapat muncul dengan sangat cepat, hingga 1000 pulsa per detik adalah mungkin. Periode refraktori relatif adalah periode waktu di mana potensi aksi kedua dapat dimulai, tetapi hanya dengan stimulus yang lebih besar dari normal. Itu bertepatan dengan periode ketika saluran K yang diberi tegangan masih terbuka setelah saluran Na yang tidak aktif kembali ke keadaan istirahatnya. 55

Na yang tidak aktif kembali ke keadaan istirahatnya. 5 5 Gambar 2.49 Fase dalam Potensial Aksi

Gambar 2.49 Fase dalam Potensial Aksi Membran, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

I. Sinaps pada Sel Saraf Suatu sel saraf mungkin akan bersambungan atau berakhir pada salah satu daripada tiga struktur berikut: (1) otot, (2) suatu kelenjar, atau (3) sel saraf yang lain. Persambungan antara saraf dengan otot disebut persambungan saraf otot (myoneural junctions) dan persambungan antara dua sel saraf disebut sinaps. Umumnya sinaps pada sel saraf melibatkan suatu sambungan antara suatu ujung akson dari suatu sel saraf dengan dendrit atau badan sel saraf kedua. Sel saraf pertama sebelum sinaps disebut sel saraf prasinaps sedangkan sel saraf kedua setelah sinaps disebut sel saraf pascasinaps. Jarang sekali terjadi hubungan antara akson dengan akson atau dendrit dengan dendrit. Kebanyakan badan sel saraf dan dendritnya menerima ribuan masukan sinaps, yaitu ujung akson dari banyak sel saraf yang lain. Diperkirakan bahwa beberapa sel saraf khusus di dalam sistem saraf pusat tertutup rapat oleh bonggol sinaps yang diperkirakan dapat mencapai 10.000 masukan sinaps.

55 Ibid., hlm. 432-437

48

Berdasarkan mekanisme transmisi impuls pada suatu sinaps dikenal ada dua macam

sinaps, yaitu sinaps listrik (electrical synapses) dan sinaps kimia (chemical synapses). Sedangkan berdasarkan fungsinya dikenal juga dua macam sinaps, yaitu sinaps eksitori dan sinaps inhibitori. 56

1. Sinaps listrik Pada sinaps listrik antara membran prasinaps dengan membran pascasinaps disambung sangat erat oleh persambungan gap junction dengan ketebalan sekitar 2 nm. Gap junction ini memiliki tahanan listrik yang sangat rendah sehingga impuls (yang berupa sinyal listrik) dari sel saraf prasinaps ke sel saraf pascasinaps dapat merambat secara konduksi sederhana hampir tanpa mengalami penundaan sama sekali. Transmisi informasi terjadi sebagai listrik murni tanpa keterlibatan neurotransmiter sama sekali. Jenis sinaps ini ditemukan pada invetebrata dan sangat tidak umum bila dibandingkan dengan sinaps kimia khususnya pada hewan tinggi. Kebanyakan sinaps listrik dapat mengonduksikan impuls ke kedua arah sama baiknya, tetapi beberapa yang lain hanya memungkinkan impuls merambat ke satu arah, yaitu dari sel saraf prasinaps ke sel saraf pascasinaps. Jadi beberapa sinaps listrik menunjukkan sifat penyearah, yaitu mengizinkan impuls melintasi sinaps hanya satu arah seperti terjadi pada sinaps kimia. 57

2. Sinaps kimia Struktur sinaps kimia berbeda dari struktur sinaps listrik. Pada sinaps kimia, ujung akhir dari akson prasinaps agak membengkak membentuk “bonggol sinaptik(synaptic knob). Di dalam bonggol sinaptik ini terdapat banyak vesikel kecil yang diameternya berkisar antara 20-100 nm. Masing-masing vesikel berisi sekitar 1x10 sampai 5x10 molekul neurotransmitter yang disintesis oleh sel saraf prasinaps. Adanya vesikel- vesikcl tersebut merupakan ciri khas dari semua sinaps kimia. Bonggol sinaptik dari sel saraf prasinaps tidak langsung melekat pada sel saraf namun antara keduanya terdapat suatu celah yang disebut dengan celah sinaps yang memiliki lebar sekitar 20 nm. Celah sinaps ini cukup lebar untuk tersebarnya arus dari satu sel ke sel lain. Bagian membran pascasinaps di bawah bonggol sinaps disebut membran pascasinaps (membran subsinaps). Sinaps kimia terdapat antara lain pada sinaps-sinaps sistem saraf otonom dan persambungan saraf otot (neuromuscular junction). Contoh neurotransmitcr pada sinaps kimia adalah asetikholin dan adrenalin atau noradrenalin. Transmisi suatu impuls dari bonggol sinaps ke sel saraf pascasinaps dicapai melalui pembebasan neurotransmiter dari vesikeI-vesikel di dalam bonggol sinaps ke celah sinaps dan kemudian mempengaruhi membran pascasinaps. Dengan adanya tersebut, transmisi impuls pada sinaps kimia akan mengalami penundaan (dalam ukuran mikrodetik). Dengan adanya pembebasan neurotransmiter dari sel saraf prasinaps ke sel saraf pascasinaps, maka sinaps kimia bekerja sebagai penyearah rambatan impuls, yaitu dari sel saraf prasinaps ke sel saraf pascasinaps, dan tidak sebaliknya.

56 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 112

57 Gerard J. Tortora and Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 441

49

Gambar 2.50 Sinaps Kimia, (Principles of Anatomy and Physiology 12 t h ed., 2009) Proses

Gambar 2.50 Sinaps Kimia, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

Proses transmisi impuls melalui sinaps kimia dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Bila impuls dalam suatu akson prasinaps telah dihantarkan sampai ke bonggol sinaps, maka perubahan potensial membran secara cepat memicu membukanya saluran-saluaran Ca ++ pada bonggol sinaps.

b) Karena Ca ++ dalam cairan ekstraseluler jauh lebih tinggi daripada dalam bonggol sinaps, maka Ca ++ akan berdifusi ke dalam bonggol sinaps.

c) Kemudian menginduksi pembebasan neurotransmiter secara eksositosis dari sejumlah vesikel sinaps ke dalam celah sinaps.

d) Neurotransmiter yang dibebaskan ini berdifusi melintasi celah sinaps dan diterima oleh reseptor protein khusus yang terdapat pada membran subsinaps.

e) Perlekatan neurotransmiter pada reseptor ini akan memicu membukanya saluran ion

khusus (misalnya N + dan K + ) pada membran pascasinaps yang selanjutnya akan menimbulkan depolarisasi untuk mencapai potensial aksi baru pada sel saraf pascasinaps. Suatu saluran ion yang membukanya dipengaruhi oleh neurotransmiter (suatu zat kimia) seperti saluran Na + dan K + pada membran pascasinaps di atas. Dikenal sebagai saluran berpintu-zat kimia (chemically-gated channels), yang berbeda dengan saluran berpintu-voltase (voltage gated channels) yang membukanya dipengaruhi oleh perubahan voltase membran, misalnya saluran Ca ++ pada bonggol sinaps. Ketergantungan pembebasan neurotransmiter terhadap konsentrasi Ca ++ ekstraseluler telah dipelajari dengan membuat variasi konsentrasi Ca ++ di dalam medium percobaan. Pada konsentrasi Ca ++ medium rendah, ternyata sedikit atau tidak ada neurotransmiter yang dibebaskan sebagai respon terhadap suatu impuls saraf, namun bila konsentrasi Ca ++ medium dinaikkan, maka pembebasan neurotransmiter lebih banyak. Studi ini juga telah memberikan suatu estimasi mengenai beberapa jumlah vesikel membebaskan neurotransmiter pada sinaps tunggal pada suatu proses transmisi impuls. Pada sambungan saraf otot (neuromuscular junction) sekitar 300 vesikel membebaskan neurotransmiter untuk setiap impuls saraf. 58

3. Sinaps pembangkit dan sinaps penghambat Berdasarkan perubahan permeabilitas membran sel saraf pascasinaps akibat interaksi neurotransmiter dengan reseptor pada membran pascasinaps, dikenal dua tipe

58 Ibid., hlm. 441-442

50

sinaps. Kedua tipe sinaps tersebut adalah sinaps pembangkit (sinaps eksitatori) dan sinaps penghambat (Sinaps inhibitori).

eksitatori) dan sinaps penghambat (Sinaps inhibitori). Gambar 2.51 Potensial pascasinaps pembangkit (excitatory
eksitatori) dan sinaps penghambat (Sinaps inhibitori). Gambar 2.51 Potensial pascasinaps pembangkit (excitatory
eksitatori) dan sinaps penghambat (Sinaps inhibitori). Gambar 2.51 Potensial pascasinaps pembangkit (excitatory

Gambar 2.51 Potensial pascasinaps pembangkit (excitatory postsynaptic potensial = EPSP) dan potensial penghambat pascasinaps (inhibitory postsynaptic potensial = IPSP), (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

Pada suatu sinaps pembangkit, respon terhadap interaksi respektor neurotransmiter adalah terbukanya saluran Na + dan K + pada membran subsinaps sehingga meningkatkan permeabilitas terhadap dua ion tersebut. Baik gradien konsentrasi maupun gradien kelistrikan untuk Na + menyebabkan perpindahan K + keluar dalam sel saraf pascasinaps pada potensial istirahat, sedangkan perpindahan ini keluar hanya disebabkan oleh gradien konsentrasinya saja. Sehingga perubahan permeablilitas mengakibatkan suatu perpindahan simultan, sedikit K + ke luar sel saraf pascasinaps dan lebih banyak Na + masuk. Kejadian ini menghasilkan suatu kelebihan perpindahan ion positif masuk sel saraf, membuat bagian sebelah dalam membran kurang negatif daripada saat istirahat, membran sel saraf pascasinaps mengalami depolarisasi kecil (membran dibangkitkan). Pengaktifan dari satu sinaps pembangkit jarang dapat mendepolarisasi membran pascasinaps ke potensial ambang, sebab sangat sedikit saluran terlibat pada membran subsinaps tunggal untuk dapat mengubah potensial ke ambang. Namun depolarisasi yang sedikit ini bagaimanapun juga dapat membawa sel saraf pascasinaps lebih dekat ke potensial ambang, yang berarti dapat meningkatkan kecenderugan dicapainya potensial ambang yang akan dilanjutkan ke potensial aksi. Oleh karena itu perubahan suatu potensial pascasinaps yang terjadi pada suatu sinaps pembangkit disebut potensial pascasinaps pembangkit (excitatory postsynaptic potensial = EPSP). Pada sinaps penghambat (sinaps inhibitori), interaksi antara neurotransmiter dengan reseptor subsinaps akan meningkatkan permeabilitas membran subsinaps terhadap K + dan Cl - dengan mengubah konformasi dari masing-masing saluran tersebut. Dalam kasus ini hasil gerakan ion menyebabkan suatu hiperpolarisasi kecil dari sel saraf pascasinaps (bagian dalam sel lebih negatif dari saat istirahat). Pada kasus peningkatan permeabilitas K + (PK + ), lebih banyak muatan positif meninggalkan sel secara difusi. sehingga meninggalkan lebih banyak muatan negatif di sebelah dalam sel. Dalam kasus peningkatan permeabilitas Cl - (PCl - ), muatan negatif masuk sel dalam bentuk ion Cl - , sebab konsentrasi Cl - sangat tinggi di sebelah luar sel. Hiperpolarisasi kecil ini

51

menggerakkan potensial membran menjauhi potensial ambang, merupakan pengurangan kemampuan sel saraf pascasinaps itu mencapai ambang dan potensial aksi. Membran dalam keadaan ini disebut dihambat, dan hiperpolarisasi kecil dari sel pascasinaps disebut suatu potensial penghambat pascasinaps (inhibitory postsynaptic potensial = IPSP). 59 Perubahan sinyal listrik (suatu potensial aksi) pada sel saraf prasinaps (melalui interaksi reseptor - neurotransmiter) menjadi sinyal listrik dalam sel saraf pascasinaps (baik suatu EPSP atau IPSP), memerlukan waktu kurang lebih 0,5-1 milidetik. Penundaan ini disebut penundaan sinaptik (synaptic delay). Sering suatu sinyal harus melalui serangkaian sel saraf. Sehingga semakin kompleks rangkaian sel saraf, makin banyak penundaan sinaptik dan semakin lama waktu reaksi total (waktu yang diperlukan untuk merespon suatu kejadian khusus). Lebih dari 30 zat kimia diketahui atau diduga berperan sebagai neurotransmiter. Bahkan diketahui pula bahwa antara satu sinaps dengan sinaps yang lain memiliki neurouansmiter yang berbeda, neurotransmiter yang sama selalu dibebaskan pada sinaps tertentu. Selanjutnya, sel saraf prasinaps tertentu akan selalu membebaskan neurotransmiter yang sama dari semua ujung sinaps, sebab setiap sel saraf genetik dikode untuk mensintesis neurotransmiter tertentu. Hal penting dari neurotransmiter terletak pada kemampuan mempengaruhi membran pascasinaps melalui interaksinya dengan reseptor subsinaps. Suatu neurotransmiter tertentu akan selalu menimbulkan EPSP, di mana yang lain akan selalu menimbulkan IPSP. Namun ada neurotransmiter lain bahkan menimbulkan suatu EPSP pada satu sinaps dan suatu IPSP pada sinaps yang lain. Yang penting adalah bahwa pengaruh yang diberikan oleh interaksi reseptor-neurotransmiter adalah selalu tetap. Suatu sinaps tertentu akan selalu tetap sebagai pembangkit atau penghambat. Tidak pernah terjadi kombinasi reseptor-transmiter itu pada suatu saat menghasilkan EPSP dan saat yang lain IPSP. Selama neurotransmiter tetap menempel pada reseptor, maka perubahan permeabilitas membran yang menghasilkan EPSP atau IPSP akan terus berlangsung. Agar sel saraf pascasinaps siap menerima pesan baru dari sel saraf prasinaps yang sama atau yang lain, maka neurotransmiter harus dipindahkan dari tempat reseptor. Ada tiga cara untuk memindah neurotransmiter tersebut:

a) Membuat neurommsmiter inaktif dengan menggunakan enzim khusus dalam membran subsinaps.

b) Difusi pasif dari neurotransmiter keluar dari celah sinaps.

c) Pengambilan kembali neurotransmiter ke dalam ujung akson dengan mekanisme

transpor aktif pada membran prasinaps. Di dalam bonggol sinaps, neurtransmiter tersebut dapat disimpan dan dibebaskan kembali di lain waktu atau dirusak dengan enzim di dalam bonggol sinaps. 60

4. Potensial pascasinaps Peristiwa yang terjadi pada suatu sinaps tunggal menghasilkan suatu EPSP atau IPSP pada sel saraf pascasinaps. Bila suatu EPSP tunggal tidak cukup membawa sel

59 Ibid., hlm. 443 60 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 117

52

saraf pascasinaps ke potensial ambang, dan suatu IPSP menyebabkan makin menjauhi potensial ambang. Badan sel suatu sel saraf menerima ribuan masukan prasinaps dari banyak sel saraf yang lain. Beberapa dari masukan prasinaps tersebut mungkin membawa informasi sensori dari lingkungan, beberapa lagi mungkin sinyal perubahan internal dalam keseimbangan homeostasis, yang lain lagi mungkin merambatkan sinyal dari pusat pengontrol di otak, dan masih banyak lagi. Pada saat yang sama sejumlah sel saraf prasinaps tersebut (mungkin ratusan) bersama-sama membawa sinyal ke sel saraf pascasinaps. Potensial total dalam sel saraf pascasinaps yang disebut “the grand postsynaptic potential(GPSP) adalah jumlah dari semua EPSP dan IPSP yang terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Ada dua cara membawa sel saraf pascasinaps ke ambang: (1) sumasi temporal, dan (2) sumasi spasial. Untuk menggambarkan dua cara sumasi ini, kita akan mengamati kemungkinan interaksi dari 3 input prasinaps, misalnya saja dua sinaps eksitatori (E1 dan E2), dan satu sinaps inhibitori (I1) pada suatu sel saraf pascasinaps hipoletik.

inhibitori (I1) pada suatu sel saraf pascasinaps hipoletik. Gambar 2.52 Cara membawa sel saraf pascasinaps ke

Gambar 2.52 Cara membawa sel saraf pascasinaps ke ambang: (a) sumasi spasial dan (b) sumasi temporal, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., 2009)

Sekarang misalnya E1 memiliki potensial aksi yang menyebabkan dibebaskannya neurotransmiter dari beberapa vesikel sinaptik yang menimbulkan suatu EPSP pada sel saraf pascasinaps. Karena EPSPnya (demikian juga IPSP) adalah potensial bertingkat maka, EPSP tersebut tersebar hanya pada jarak yang pendek kemudian mati. Bila potensial aksi yang lain secara berurutan terjadi pada E1 suatu EPSP dengan kekuatan yang sama akan mengikutinya. Dugaan berikutnya bahwa E1 memiliki dua potcnsial aksi berurutan sangat dekat dengan yang lain. Potensial aksi pertama pada E1 memproduksi suatu EPSP pada sel saraf pascasinaps. Sementara membran pascasinaps mengalami depolarisasi parsial dari EPSP pertama ini (scbelum ini kembali ke istirahat) potensial aksi pascasinaps kedua memproduksi EPSP kedua pada sel saraf pascasinaps EPSP kedua akan menambah EPSP pertama membawa membran ke ambang sehingga potensial aksi dapat terjadi pada sel saraf pasca sinaps. Potensial bertingkat tidak memiliki periode refraktori sehingga memungkinkan adanya pengaruh tambahan. Jumlah beberapa EPSP yang terjadi sangat dekat pada waktu yang bersamaan karena dilepas secara berurutan dari sel saraf prasinaps tunggal, disebut sebagai sumasi temporal (tempus=waktu).

53

Peristiwa yang sebenarnya jauh sangat kompleks daripada penjelasan tadi. Sebetulnya lebih dari 50 EPSP yang dijumlah untuk membawa membran pascasinaps ambang. Setiap potensial aksi pada suatu sel saraf prasinaps mengosongkan sejumlah vesikel prasinaps tertentu. Jumlah neurotransmiter yang dibebaskan, dan resultan besarnya perubahan pada potensial pascasinaps, secara langsung tergantung pada frekuensi dari potensial aksi prasinaps. Suatu potensial aksi baik pada E1 atau E2 akan memproduksi suatu EPSP pada sel saraf pascasinaps, bagaimanapun juga bila sendiri-sendiri tidak akan membawa membran ke ambang. Potensial aksi secara simultan pada E1 dan E2, akan menghasilkan EPSP yang saling memperkuat dan membawa membran pascasinaps ke ambang sehingga terjadi potensial aksi. Sumasi EPSP yang berasal secara simultan dari beberapa input prasinaps yang berbeda seperti ini disebut sebagai sumasi spasial (spasial summation). Cara kedua untuk menimbulkan potensial aksi pada suatu sel pascasinaps melalui aktivasi yang bersamaan dari beberapa input eksitatori. Sekali lagi pada kenyataannya lebih dari 50 EPSP secara simultan sampai pada membran pascasinaps yang diperlukan untuk mencapai ambang. IPSP-IPSP dapat menimbulkan sumasi temporal dan sumasi spasial. Bila lPSP-IPSP ditambahkan bersama, mereka secara progresif memindahkan potensial menjauhi ambang. Bila suatu input eksitatori dan inhibitori diaktifkan secara simultan EPSP dan IPSP secara bersamaan akan saling

mengurangi.

Jadi the grand pestsinaptic potensialtergantung pada jumlah aktivitas pada semua input prasinaps. Terdapat 4 kemungkinan hasil dari GPSP:

a. Bila input prasinaps yang menonjol adalah eksitatori, baik dari input eksitatori kuat (sumasi temporal) atau dari beberapa input, eksitatori yang diaktifkan secara simultan (sumasi spasial), maka sel saraf pascasinaps akan mencapai ambang dan menjadi potensial aksi. Potensial aksi ini akan menyebabkan sel saraf pascasinaps membebaskan neurotransmiter yang akan mempengaruhi semua sel yang diinervasi oleh sel saraf tersebut.

b. Bila input eksitatori lebih besar dari input inhibitori, tetapi membran masih tidak cukup terdepolarisasi untuk mencapai ambang, membran dikatakan digalakkan (to be facilitated). Pada komisi ini tentunya membran lebih mudah menuju ke potensial aksi.

c. Sebaliknya, jika input inhibitori lebih kuat diaktitkan, sel pascasinaps akan menjadi lebih jauh dari ambang, yang berarti menghalangi terjadinya potensial aksi, yang selanjutnya tidak terjadi pengaruh terhadap sel yang diinervasi.

d. Bila terdapat kcseimbangan antara input eksitatori dan input inhibitori yang diaktifkan, pengaruhnya akan saling mengurangi satu dengan yang lain, dan sel saraf pascasinaps tidak terpengaruh sama sekali.

5. Fasilitasi dan inhibisi prasinaps Kadang-kadang suatu sel saraf ketiga mempengaruhi aktivitas antara suatu ujung prasinaps dan suatu sel saraf pascasinaps. Suatu ujung akson prasinaps mungkin diinervasi oleh ujung akson yang lain yang dapat memodifikasi jumlah pembebasan neurotransmiter dari ujung prasinaps A. Bila neurotransmiter dibebaskan dari ujung akson B ke reseptor pada ujung akson A, maka jumlah transmiter yang dibebaskan dari ujung A dalam merespon potensial aksi berubah. Bila jumlah transmiter yang

54

dibebaskan dari ujung A dikurangi, fenomena ini disebut inhibisi prasinaps. Bila pengaruhnya meningkatkan pembebasan transmiter, fenomena ini disebut fasilitasi prasinaptik. Mekanisme pengaruh ini tidak jelas, tetapi nampaknya melibatkan Ca 2+ dalam sitoplasma, sebab jumlah Ca 2+ dalam bonggol sinaps menentukan lamanya vesikel sinaps membebaskan neurotransmiter. Jumlah transmiter yang dibebaskan dari ujung prasinaps A mempengaruhi potensial dalam sel saraf prasinaps C. Misalnya bila A merupakan input eksitatori ke C, yang pembebasan neurotransmiternya dihambat oleh inhibisi prasinaps melalui B, maka pembentukan EPSP pada membran pascasinaps C oleh input A secara khusus akan dicegah. Hasilnya pada A tidak terjadi potensial aksi, yang selanjutnya tidak akan terjadi perubahan potensial pada sel saraf pascasinaps. Hal yang sama tidak selalu dapat dihasilkan oleh suatu produksi simultan dari suatu IPSP melalui aktivasi dari suatu input inhibitori untuk mengurangi EPSP yang diproduksi oleh aktivasi A. Seluruh membran pascasinaps dihiperpolarisasi oleh IPSP. IPSP dengan demikian pengurangan informasi eksitatori yang masuk ke dalam setiap bagian sel terjadi pada setiap input prasinaps. Di samping itu inhibisi prasinaps (atau fasilitasi prasinaps), dapat berarti bahwa input tertentu ke sel saraf pascasinaps dapat dirubah secara selektif tanpa mempengaruhi kontribusi dari setiap input yang lain. Misalnya peledakan B tidak berpengaruh apa-apa pada input eksitatori prasinaps yang lain. Keefektifan sinaps dapat ditekan atau diperbesar secara tajam melalui neuromodulasi. Neuromodulatornya adalah zat duta yang melekat ke reseptor saraf pada daerah nonsinaps. Dalam kerjanya, mereka mengaktifkan sistem duta kedua yang memproduksi pengaruh zat kimia intraseluler jangka panjang yang mengubah keefektifan aktivitas sinaps. Neuromodulator mungkin bekerja pada daerah prasinaps maupun pascasinaps. Misalnya, suatu neuromodulator mungkin mempengaruhi tingkat kritis suatu enzim dalam sintesis neurotransmiter khusus oleh suatu sel saraf prasinaps, atau mengubah sensitivitas reseptor pascasinaps terhadap neurotransmiter khusus. Jadi neuromodulasi adalah cara lain menyelaraskan respon sinaptik secara halus.

6. Potensial aksi dimulai pada akson hilok Potensial ambang pada semua bagian sel saraf pascasinaps ternyata tidak sama, yang paling rendah ambangnya adalah pada akson hilok, sebab daerah ini memiliki pintu saluran Na + yang sangat banyak, yang membuatnya menjadi lebih sensitif potensial ambang yang lebih besar daripada akson hilok. Karena aliran arus lokal mengubah potensial membran di bagian mana saja dari badan sel atau dendrit, maka EPSP atau lPSP akan menyebar ke badan sel, dendrit, dan akson hilok. Bila sumasi EPSP terjadi, maka akson hilok akan mencapai ambang yang pertama, sedangkan badan sel dan dendrit belum/tidak mencapainya. Akibatnya potensial aksi dimulai pada akson hilok dan disebarkan ke bagian lain dari sel saraf. 61

7. Hubungan konvergen dan divergen Dua cara hubungan penting antara beberapa sel saraf adalah konvergen dan divergen. Setiap sel saraf mungkin menerima banyak sinaps dari sel saraf lain. Hubungan semacam ini dikenal sebagai hubungan konvergen. Melalui input konvergen ini, suatu sel tunggal dipengarui oleh ribuan sel yang lain. Selanjutnya sel tunggal ini

61 Ibid., hlm. 123

55

mempengaruhi tingkat aktivitas sel yang lain dengan output divergen. Divergen mengacu kepada percabangan ujung akson sehingga suatu sel tunggal bersinapsis dengan banyak sel saraf yang lain. Perlu dicatat bahwa suatu sel saraf tertentu merupakan sel saraf pascasinaps terhadap neuron-sel saraf konvergen kcpadanya, tetapi merupakan sel saraf prasinaps terhadap sel saraf yang dilekati ujung aksonnya. Jadi istilah prasinaps dan pascasinaps mengacu hanya pada suatu sinaps tunggal. Kebanyakan sel saraf adalah prasinaps terhadap sekelompok sel saraf dan pascasinaps terhadap kelompok sel saraf yang lain. 62

8. Pengaruh zat kimia terhadap sistem saraf

lain. 6 2 8. Pengaruh zat kimia terhadap sistem saraf Gambar 2.53 Molekul kecil neurotransmitter, (Principles
lain. 6 2 8. Pengaruh zat kimia terhadap sistem saraf Gambar 2.53 Molekul kecil neurotransmitter, (Principles
lain. 6 2 8. Pengaruh zat kimia terhadap sistem saraf Gambar 2.53 Molekul kecil neurotransmitter, (Principles

Gambar 2.53 Molekul kecil neurotransmitter, (Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed.,

2009)

Zat-zat kimia seperti insektisida, zat anestetik, kafein, kokain, dan sebagainya, dapat mempengaruhi sistem saraf dengan cara yang berbeda-beda. Namun pada umumnya zat-zat tersebut berpengaruh terhadap transmisi impuls pada sinapsisnya. Pengaruh tersebut dapat bersifat menghambat atau melemahkan transmisi sinaptik, ada yang bersifat mempercepat transmisi sinaptik, dan ada yang bersifat melemahkan kerja reseptor. Neurotransmiter pada suatu sinaps berfungsi menimbulkan impuls pada membran pascasinaps dengan jalan berinteraksi dengan protein reseptor pada membran pascasinaps. Setelah timbul impuls pada saraf pascasinaps, maka neurotransmiter dipecah oleh enzim esterase menjadi senyawa yang tidak mempengaruhi reseptor pada membran pascasinaps. Bila neurotransmiter dibiarkan tetap berada dalam celah sinaps, maka dimungkinkan membran pascasinaps terus distimulasi lagi kebanyakan insektisida yang biasa digunakan, mengganggu kerja dari asetilkholin esterase enzim yang terdapat dalam celah sinaps yang berfungsi memecah asetilkholin (suatu neurotransmiter) menjadi kholin dan asetat. Pada manusia yang biasa menyemprotkan insektisida dapat mengalami keracunan sampai kematian. Insektisida tersebut akan menghambat kerja asetilkholin esterase, sehingga asetikholin akan terakumulasi di dalam celah sinaps, menyebabkan serabut saraf pascasinaps distimuli secara cepat,

62 Ibid., hlm. 123

56

sehingga otot akan berkontraksi secara tidak sadar. Biasanya orang yang keracunan insektisida tubuhnya kejang-kejang. Pada kadar rendah, insektisida dapat menimbulkan pandangan kabur, sakit kepala, denyut jantung cepat, dan banyak berkeringat. Beberapa zat kimia juga berpengaruh terhadap saraf dan transmisi saraf. Beberapa zat anestetik misalnya, yang sangat penting untuk pembedahan dapat melemahkan transmisi sinaptik, sehingga impuls tidak dapat diteruskan ke otak. Zat yang lain dapat mempengaruhi pori-pori protein pada membran plasma sel saraf. Pori-pori ini meregulasi aliran ion natrium ke dalam atau keluar sel saraf. Dengan menghentikan aliran natrium, zat-zat anestetik tersebut melumpuhkan saraf sensori yang membawa pesan sakit ke otak. Kafein dan kokain juga mempengaruhi fungsi sel saraf. Kafein meningkatkan transmisi sinapstik, selanjutnya meningkatkan aktivitas sel saraf. Sehingga tidak mengherankan bahwa kopi membuat beberapa orang menjadi begitu gugup disertai denyut jantung cepat. Kokain mempengaruhi neurotransmiter. Pada otak misalnya, kokain mencegah pengambilan neurotransmiter oleh bonggol sinaps, sehingga menyebabkan suatu peningkatan aktivitas sistem saraf. Peningkatan transmisi saraf pada otak menghasilkan suatu keadaan meningginya tingkat kesiapan dan euforia (rasa siap kerja), yang secara umum dikenal sebagai suatu “high”, yang akan berakhir sekitar 20 sampai 40 menit kemudian. Euforia bagaimanapun juga akan diikuti oleh periode depresi dan rasa khawatir, yang menyebabkan banyak orang mencari “high” yang lain. Kelebihan penggunaan kokain dapat mengakibatkan suatu kekacauan mental yang serius, khususnya merasa bahwa orang lain membenci dan memusuhi dia. Dalam keadaan seperti ini pengguna kokain berat mungkin dapat mengamuk. 63

J. Berbagai Reseptor di Alat Indera Organ-organ indera merupakan satu-satunya saluran komunikasi antara dunia luar dengan sistem saraf pusat. Proses mengindera itu dimulai pada organ-organ indera, lebih tepatnya pada sel-sel reseptor di dalam organ indera tersebut. Suatu reseptor mungkin (1) bagian dari sel saraf aferen, misalnya ujung-ujung sel saraf di bawah kulit; mungkin (2) sel- sel khusus yang berhubungan baik dengan ujung periferal sel-sel saraf aferen, misalnya sel- sel pengecap pada lidah. Secara umum, setiap tipe reseptor sangat sensitif terhadap satu jenis stimulus tertentu saja, yaitu stimulus khususnya daripada terhadap stimuli yang lain. Misalnya reseptor- reseptor pada mata sangat sensitif terhadap cahaya, reseptor dalam telinga sangat sensitif terhadap gelombang bunyi, dan reseptor panas pada kulit sangat sensitif terhadap energi panas. Kita tidak dapat melihat" dengan telinga atau “mendengar” dengan telinga dikarenakan perbedaan sensitivitas reseptor terhadap stimulus khususnya. Prinsip ini dikenal sebagai hukum kekhususan energi saraf”. Meskipun kebanyakan reseptor tidak akan merespon stimulus selain stimulus khususnya, namun ada beberapa reseptor dapat merespon (walau secara lemah) stimulus di luar stimulus khususnya. Contohnya adalah fotoreseptor pada mata yang sensitif terhadap cahaya dapat merespon (walaupun kabur) terhadap stimulus mekanik, misalnya bila seseorang dipukul pada matanya, maka orang tersebut seakan-akan melihat “bintang”, karena fotoreseptor merespon stimulus mekanik.

63 Ibid., hlm. 123-124

57

Di atas sudah dijelaskan bahwa reseptor itu mungkin suatu ujung saraf aferen atau sel khusus yang berhubungan baik dengan ujung periferal dari saraf aferen. Karena satu- satunya cara reseptor menyampaikan informasi ke sistem saraf pusat hanya dalam bentuk potensial aksi yang dirambatkan melalui serabut saraf, maka reseptor harus mengubah berbagai bentuk energi stimulus menjadi energi listrik (potensial aksi). Proses pengubahan energi stimulus menjadi energi listrik ini dikenal sebagai transduksi. Proses tersebut melalui proses depolarisasi reseptor yang menghasilkan perubahan potensial membran. Potensial membran ini dikenal sebagai potensial reseptor pada reseptor sel khusus, dan disebut potensial generator bila reseptor merupakan ujung saraf aferen. Bagaimana proses pengubahan energi stimulus menjadi potensial reseptor potensial generator, dan selanjutnya menjadi potensial aksi. Stimulasi pada suatu reseptor akan mengubah permeabilitas membrannya biasanya melalui suatu pembukaan nonselektif dari semua saluran-saluran ion kecil. Karena gradien elektrokimia Na + lebih besar daripada ion-ion kecil yang lain, maka Na + akan berdifusi masuk ke dalam sel, mendepolarisasi membran (perkecualian ada fotoreseptor akan mengalami hiperpolarisasi). Depolarisasi lokal ini akan mengubah potensial membran pada reseptor menjadi potensial reseptor (untuk reseptor yang berupa sel khusus) dan potensial generator (pada reseptor yang berupa ujung saraf aferen). Potensial reseptor maupun potensial generator merupakan suatu potensial bertingkat yang amplitudo dan durasinya dapat bervariasi, tergantung pada kekuatan stimulus dan kecepatan perpindahan stimulus, semakin kuat stimulus, semakin besar perubahan permeabilitas dan semakin besar potensial reseptomya. Perlu diketahui bahwa semua potensial bertingkat termasuk potensial reseptor, tidak memiliki periode refraktori, sehingga dimungkinkan terjadi penjumlahan respon terhadap stimuli yang cepat. Karena daerah reseptor memiliki ambang yang sangat tinggi, maka potensial aksi tidak terjadi pada reseptor. Untuk transmisi jarak jauh, potensial reseptor harus dirubah menjadi potensial aksi yang dapat dirambatkan sepanjang saraf aferen. Pada reseptor yang berupa sel khusus, suatu potensial reseptor akan memicu pembebasan neurotransmiter yang kemudian berdifusi melintasi celah yang akan memisahkan reseptor dari ujung saraf aferen, mirip pada suatu sinaps. Interaksi neurotransmiter dengan protein reseptor pada ujung saraf aferen akan membuka saluran Na + yang menyebabkan masuknya ion Na+ ke dalam neuron aferen sehingga, terjadilah depolarisasi untuk memulai potensial aksi yang akan dirambatkan pada neuron aferen. Dalam hal potensial generator aliran arus lokal dari ujung reseptor yang diaktifkan ke membran sel yang berdekatan menyebabkan terbukanya saluran Na + berpintu voltase di daerah tersebut. Sekali potensial ambang dicapai, suatu potensial aksi dimulai dan dirambatkan sepanjang serabut saraf, (selanjutnya potensial reseptor dan potensial generator akan disebut sebagai potensial reseptor). Jadi suatu reseptor dapat berfungsi sebagai pengubah (transducer) bentuk energi. yaitu mengubah energi stimulus khususnya menjadi energi elektrokimia impuls saraf, atau sebagai pembangkit potensial aksi. Apabila stimulus yang mengenai reseptor tidak cocok, maka reseptor tidak akan merespon, artinya tidak akan terjadi potensial reseptor yang selanjutnya tidak terjadi potcnsial aksi yang dirambatkan pada saraf aferen.

58

Berdasarkan bentuk energi stimulus khususnya, maka reseptor diklasifikasikan menjadi:

1. Khemoreseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap zat-zat kimia khusus termasuk di dalamnya reseptor untuk bau dan rasa; reseptor untuk konsentrasi O 2 dan CO 2 di dalam darah.

2. Mekanoreseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap energi mekanik. Termasuk di dalamnya reseptor untuk gelombang bunyi, reseptor tekanan darah (baroreseptor), reseptor regangan otot, reseptor rabaan, dan reseptor untuk tekanan

3. Fotoreseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap energi cahaya.

4. Termoreseptor, yaitu reseptor yang sensintif terhadap suhu (panas dan dingin).

5. Nosiseptor atau reseptor sakit, yaitu reseptor yang sensitif terhadap kerusakan jaringan, seperti kerusakan jaringan akibat tertusuk,terbakar, tercubit, dan sebagainya. 64

K. Mekanisme Muncul Sensasi Sensasi adalah interpretasi otak terhadap impuls yang datang kepadanya dari saraf sensoris. Pada otak terdapat berbagai macam pusat sensasi yang akan memberitahukan tentang sensasi tertentu kepada kita apabila pusat tadi menerima impuls dari reseptor. Misalnya pusat dingin akan memberikan sensasi dingin apabila ada impuls sampai ke pusat tersebut. Secara normal setiap reseptor akan dihubungkan oleh serabut saraf dengan pusatnya. Sehingga misalnya reseptor suhu menerima stimulus dingin, maka reseptor tersebut akan mengubah energi suhu menjadi impuls saraf yang akan disampaikan ke pusat sensasi suhu oleh serabut saraf sensoris, dan kita akan merasakan dingin. Demikian pula untuk reseptor-reseptor yang lain. Namun umpamanya serabut saraf untuk reseptor peraba dipertukarkan dengan serabut saraf dari reseptor dingin dan apabila reseptor peraba distimulus, maka kita akan merasakan sensasi dingin dan sebaliknya. Jadi rupanya yang menentukan macam sensasi itu bukan jenis stimulus atau darimana impuls berasal, tetapi terletak pada pusat sensasi apa yang menerima. Beberapa sensasi dapat merupakan sensasi majemuk dalam arti bahwa suatu sensasi yang muncul merupakan integrasi dari beberapa input sensori. Misalnya sensasi ”basah" merupakan integrasi input dari reseptor sentuhan, tekanan, dan suhu, sebab tidak ada reseptor basah". Setiap bagian tubuh memiliki daerah sensorinya sendiri pada otak. Jadi serabut saraf dari ibu jari tangan misalnya akan berhubungan dengan daerah tertentu pada otak, serabut saraf dari lutut akan berhubungan dengan daerah tertentu yang lain pada otak. Sehingga seandainya ibu jari tangan ditusuk, maka kita akan merasakan sakit pada jari tangan. Namun seandainya serabut-serabut saraf dari daerah ibu jari dipertukarkan arahnya ke pusat sensori lutut dan sebaliknya, dan apabila ibu jari ditusuk, maka kita akan merasakan sakit pada lutut. Jadi nampak di sini bahwa ekspresi sensoris (sansasi) itu ditentukan oleh pusat-pusat sensori, dan pusat-pusat sensori tersebut bertanggung jawab untuk bagian tertentu dari tubuh kita secara tetap. 65 Persepsi, kesadaran sadar akan sensasi, pada dasarnya adalah fungsi korteks serebral. Misalnya ingin menggunakan pena untuk menulis surat. Sistem saraf akan merespons dengan cara berikut:

64 Ibid., hlm. 123-124

65 Ibid., hlm. 129-132

59

Stimulus di otak menyebabkan potensi bergradasi terbentuk dendrit dan sel tubuh neuron motorik atas, jenis neuron motorik yang sinapsis dengan motor yang lebih rendah neuron lebih jauh ke bawah di SSP untuk berkontraksi otot rangka. Potensi yang dinilai kemudian menyebabkan aksi saraf berpotensi terjadi pada akson neuron motorik atas, diikuti oleh pelepasan neurotransmitter.

Neurotransmitter menghasilkan potensi bertingkat di tingkat yang lebih rendah motor neuron, sejenis motor neuron yang secara langsung memasok serat otot rangka. Potensi bertingkat memicu pembentukan potensial aksi saraf dan kemudian melepaskan neurotransmitter di persimpangan neuromuskuler dibentuk dengan serat otot rangka yang mengontrol gerakan jari.

Neurotransmitter merangsang serat otot yang mengontrol gerakan jari untuk membentuk potensi aksi otot. Itu potensi aksi otot menyebabkan serat otot ini berkontraksi, yang memungkinkan Anda menulis dengan pena. 66

yang memungkinkan Anda menulis dengan pena. 6 6 Gambar 2.54 Tinjauan fungsi sistem saraf, (Principles of

Gambar 2.54 Tinjauan fungsi sistem saraf, (Principles of Anatomy and Physiology ,2009)

Alat Indera

1. Indera Umum Rasa sakit, sentuhan ringan, tekanan, sensasi suhu, proriosepsi (sensasi anggota

tubh dan posisi tubuh), merupakan indera umum tubuh. Dikelompokkann menjadi indera umum sebab reseptor indera terdapat di seluruh tubuh, di permukaan tubuh, pada organ-organ dalam, persendian, dan otot-otot. Berdasarkan strukturnya, reseptor indera umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

a. Ujung saraf telanjang, merupakan dendrit dari saraf sensoris. Reseptor ini bertanggung jawab paling tidak terhadap tiga sensasi sakit, pahit, dan sentuhan ringan (rabaan).

b. Ujung saraf berkapsul, merupakan ujung saraf yang dibungkus oleh lebih dari satu lapisan sel. Reseptor berkampul pertama dan terbesar adalah badan Pacini (Pacinian corpuscle), terletak pada lapisan kulit terdalam merupakan reseptor tekanan, misalnya tekanan yang dirasakan saat duduk di kursi. Reseptor berkapsul kedua

66 Gerard J. Tortora dan Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology, (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 428

60

adalah badan Meissner (Meissner's corpuscle), lebih kecil daripada badan pacini, berbentuk oval terdiri dari dua atau tiga ujung dendrit yang berspiral dan dibungkus oleh kapsul yang tipis. Badan Meissner terletak di dalam dermis tepat di bawah epidermis, dan diduga merupakan melanoreseptor yang merespon terhadap sentuhan ringan, sebab pada bagian tubuh yang sangat sensitif terhadap sentuhan ringan banyak dijumpai badan Meissner ini. Misalnya pada bibir dan ujung-ujung jari. Reseptor berkapsul ketiga dan keempat adalah badan Krause (Krause's end bulb) dan badan Ruffini (Ruffini's corpuscle). Diduga badan krause merupakan reseptor dingin dan badan ruffini merupakan reseptor panas. Namun ahli ada yang berpendapat bahwa kedua reseptor tersebut hanya merupakan bentuk lain (variasi) dari badan Meissner yang merupakan reseptor rabaan dan menurut mereka reseptor panas dan dingin adalah ujung-ujung saraf telanjang. Propriosepsi (sensasi posisi tubuh) didukung oleh reseptor berkapsul yang terletak lada persendian tubuh, menyerupai badan Meissner. Reseptor ini memberitahu tentang posisi anggota badan dan menjaga posisi tubuh pada saat bergerak. Propriosepsi didukung juga oleh dua mekanoreseptor berkapsul yang lain, yaitu reseptor gelendong otot (muscle spindles) dan organ golgi tendon. Gelendong otot atau gelendong neuromuscular terletak dalam otot otot rangka tubuh, yang merupakan serabut otot yang termodifikasi yang dililiti oleh ujung-ujung saraf motor dan seluruh bentukan tersebut dibungkus oleh suatu kapsul tipis. Serabut otot yang menyusun gelendong otot ini disebut serabut otot intrafusal. Reseptor gelendong otot menerima stimulus pada saat otot memanjang atau meregang yang impulsnya diteruskan oleh saraf sensori ke sumsum tulang belakang dan juga korteks otak dan otak kecil.

a) Indera sakit Reseptor alat indera sakit merupakan ujung dendrit saraf telanjang dan terdapat dalam kulit, tulang, persendian, dan organ-organ dalam (viseral). Dua tipe sensasi sakit yaitu sensasi sakit somatik (sakit tubuh) dan sensasi sakit viseral (sakit organ dalam). Sensasi sakit somatik terjadi apabila reseptor sakit yang ada di kulit, tulang, persendian, otot, dan tendon mendapat rangsangan. Reseptor sakit somatik merespon stimuli mekanik dan kimia. Sensasi sakit viseral terjadi karena stimulasi terhadap reseptor sakit pada organ organ dalam. Reseptor ini juga merespon stimuli mekanik dan kimia, misalnya pembesaran organ dan anoksia (lekungan oksigen) akan menimbulkan sensasi sakit pada organ tersebut.

b) Indera peraba Rabaan ditentukan oleh dua mekanoreseptor yang secara anatomi berbeda. Mekanoreseptor pertama terletak pada pangkal dari rambut kulit, yang merupakan saraf (dendrit) telanjang yang membelit pangkal rambut. Mekanoreseptor yang kedua adalah cawan merkel (merkel disc). Cawan merkel merupakan sel sel kecil berbentuk cawan pada ujung ujung saraf telanjang yang terletak pada lapisan luar dari kulit dan menerima stimulus tekanan ringan kulit

61

Gambar 2.55 Reseptor sensasi umum pada kulit, (Essentials of Anatomy and Physiologhy, 2015) 2. Indera

Gambar 2.55 Reseptor sensasi umum pada kulit, (Essentials of Anatomy and Physiologhy, 2015)

2. Indera khusus

a. Indera pengecap Pada manusia dan mamalia, lidahnya mangandung kuncup pengecap yang merupakan reseptor untuk rasa. Kuncup pengecap tersebut berbentuk seperti bawang kecil, terletak pada permukaan epiteliun dan pada tonjolan kecil (papila) pada permukaan atas lidah. Kuncup pengecap juga dijumpai meskipun sedikit sekali pada langit langit rongga mulut (pada palatum lunak dan keras) pada faring dan laring. Kuncup reseptor tergolong kemoreseptor yang menerima rangsangan zat zat kimia dalam makanan. Zat zat kimia tersebut mencapai kuncup pengecap melalui pori pengecap (taste pores). Kuncup pengecap tersusun atas dua macam sel, yaitu sel reseptor dan sel penyokong. Pada ujung sel reseptor yang menghadap ke lubang pengecap dilengkapi dengan mikrofili yang disebut serabut pengecap (rambut gustatori). Sel sel reseptor tersebut akan berhubungan dengan ujung dendrit saraf pengecap yang akan meneruskan impulsnya ke korteks otak. Kuncup pengecap merespon emoat rasa dasar, yaitu manis, asam, pahit, dan asin. Diketahui bahwa permukaan atas lidah terbagi menjadi empat daerah yang sensitif terhadap rasa tertentu, pangkal lidah sensitif terhadap rasa pahit, bagian kanan dan kiri sensitif terhadap rasa masam, bagian samping depan sensitif terhadap rasa asin, dan ujung lidah sensitif terhadao rasa manis.

rasa asin, dan ujung lidah sensitif terhadao rasa manis. Gambar 2.56 Reseptor pengecap, (Principles of Anatomy

Gambar 2.56 Reseptor pengecap, (Principles of Anatomy and Physiology, 2009)

62

b. Indera pembau Indera pembau terletak pada langit langit rongga hidung, pada bagian yang

disebut epitelium olfaktori. Epitelium olfaktori terdiri dari sel-sel reseptor dan sel- sel penyokong. Sel reseptor olfaktori merupakan sel saraf yang badan selnya terletak

di dalam membran olfaktori. Dendrit sel saraf ini menjulur ke permukaan membran,

dengan ujung dendrit berisilia yang disebut rambut olfaktori. Stimulus reseptor

olfaktori berupa gas atau uap suatu zat. Bila uap zat mengenai reseptor olfaktori, maka pada reseptor tersebut akan timbul impuls yang diteruskan ke pusat pembau

di otak melalui saraf pembau (saraf olfaktori).

Pembau dan pengecap saling bekerja sama, rangsangan bau dari makanan dalam rongga mulut dapat mencapai rongga hidung dan diterima reseptor olfaktori. Bila sedang pilek maka hubungan antara rongga hidung dan rongga mulut terganggu sehingga uap bahan makanan dari mulut tidak dapat mencapai rongga hidung dan makanan seakan-akan kehilangan rasanya.

rongga hidung dan makanan seakan-akan kehilangan rasanya. Gambar 2.57 Reseptor pembau, (Principles of Anatomy and

Gambar 2.57 Reseptor pembau, (Principles of Anatomy and Physiology, 2009)

c. Indera penglihatan Alat penglihatan adalah mata yang mengandung fotoreseptor. Mata berbentuk suatu bola yang terletak dalam rongga mata yang dibatasi oleh tulang tulang kepala. Bola mata dibagi menjadi dua ruang, yaitu:

Ruang anterior terletak antara kornea dan lensa, berisi cairan bening yang disebut aqueus humor, mirip cairan serebrospinal. Cairan ini disekresikan ke dalam ruang anterior oleh pleksus koroid dari badan siliari dibelakang iris. Ruang interior masih dibagi menjadi dua bilik, yaitu bilik yang dibatasi oleh kornea dan iris disebut bilik anterior dan bilik posterior yang terletak antara iris dan lensa. Cairan aqueus humor yang terus menerus diproduksi oleh pkeksus koroid dan diserap oleh saluran schlemm (yang analog dengan sinus yenosus dalam dura meter) untuk dialirkan ke pembuluh darah. Dengan demikian volume aqueus humor dalam ruang anterior relatif konstan. Aqueus humor berfungsi memasok makanan ke lensa dan kornea sebab baik lensa maupun kornea tidak mengandung pembuluh darah.

Ruang posterior adalah ruang yang terletak dibelakang lensa dan berisi cairan kental bening disebut pitreus humor, berfungsi menyumbang pada tekanan bola mata. Tekanan dalam bola mata yang disebut tekanan intraokuler menjaga agar

63

bola mata tidak mengempis dan retina tetap menempel secara baik pada koroid. Pitreus humor tidak pernah diganti sejak terbentuknya pada saat perkembangan embrionik. Bola mata diikat dan digerakkan oleh enam otot mata ekstrinsik, yaitu otot lurus atas dan otot lurus bawah, otot lurus samping dan otot lurus tengah, otot serong atas dan otot serong bawah. Dinding bola mata terdiri dari tiga lapis jaringan, yaitu sklera, koroid, dan retina. Sklera merupakan lapisan dinding bola mata yang paling luar tersusun dari jaringan fibrosa yang kuat. Lapisan sklera tersebut di bagian depan berubah menjadi bening dan tembus cahaya yang disebut kornea. Koroid, merupakan lapisan tengah dari dinding bola mata. Lapisan ini berpigmen dan merupakan lapisan yang penuh dengan pembuluh darah. Pada bagian deoan koroid ini berubah bentuk menjadi badan siliari dan iris. Fungsi pigmen pada lapisan koroid ini adalah untuk menyerap cahaya yang menyebar (seperti bagian dalam yang gelap dari suatu kamera). Pembuluh darah berfungsi memasok makanan dan oksigen ke jaringan mata. Badan siliari tersusun atas serabut otot polos, yang berfungsi mengatur bentuk lensa mata sedemikian rupa sehingga bayangab benda yang dilihat jatuh tepat pada retina, proses itu disebut akomodasi lensa. Iris merupakan bagian terdepan darinkoroid, berwarna gelap, di bagian tengahnya berlubang yang disebut pupil. Dengan adanya pupil ini memungkinkan cahaya masuk ke bagian dalam mata. Seperti halnya badan siliari, iris tersusun atas otot polos sirkuler dan radier. Dengan adanya dua macam otot polos ini memungkinkan pupil dipersempit atau diperlebar untuk mengatur jimlah cahaya yang masuk ke bagian dalam mata, proses ini disebut akomodasi pupil. Pupil menjadi sempit apabila otor sirkuler kontraksi dan otot radier relaksasi, sedangkan apabila otor sirkuler relaksasi dan otot radier kontraksi maka pupil akan menjadi melebar. Retina, merupakan lapisan paling dalam dari bola mata yang tersusun dari luar ke dalam: a) suatu lapisan berpigmen yang melengkapi fungsi koroid untuk menyerap cahaya, b) lapisan fotoreseptor, c) lapisan bipolar, dan d) lapisan ganglion. Perlekatan retina pada koroid sangat lemah, sehingga mudah terpisah misalnya karena kecelakaan. Fotoreseptor merupakan modifikasi dari sel saraf. Ada dua tipe fotoreseptor, yaitu sel batang (rods) dan sel kerucut (cones). Setiap mata mengandung sekitar 100 juta sel batang dan sekitar 3 juta sel kerucut. Sel batang sensitif terhadap cahaya lemah sehingga sel sel batang ini berfungsi untuk melihat ditempat yang bercahaya remang-remang. Sel kerucut sensitif terhadap cahaya terang dan warna. Ada tiga macam sel kerucut, yaitu 1) sel kerucut untuk warna merah, b) sel kerucut intuk warna biru, dan c) sel kerucut untuk warna hijau. Cahaya yang masuk ke mata melalui kornea akan diproyeksikan oleh lensa tepat pada retina. Sebelum mencapai fotoreseptor, cahaya tadi melewati lapisan ganglion dan lapisan bipolar. Akson sel sel ganglion akan merambat pada permukaan dalam retina dan akan mengumpul menjadi satu pada bagian belakang bola mata, membentuk saraf penglihatan. Tempat menyatunya akson sel ganglion pada permukaan dalam retina ini disebut diskus optikus atau bintik buta (blind spot). Disebut bintik buta karena pada tempat ini tidak ada fotoreseptornya sehingga tidak

64

sensitif terhadap cahaya. Masuk dan keluarnya pembuluh darah adalah pada tempat yang sama dengan masuknya saraf penglihatan. Pada bagian lateral dari diskus optikus terdapat bagian yang disebut bintik kuning (macula lutea) yang ditengahnya terdapat bagian yang disebut cekungan pusat (fovea centralis). Cekungan pusat hanya mengandung sel swl kerucut saja, sedangkan jumlah sel batang oada rerina akan meningkat semakin menjauhi cekungan pusat dan sebaliknya untuk sel kerucut. Bayangan benda yang kita lihat akan jatuh tepat pada retina dan impulsnya akan disampingkan ke pusat penglihatan pada lobus osipitalis untuk diinterpretasikan.

penglihatan pada lobus osipitalis untuk diinterpretasikan. Gambar 2.58 Bola mata dan bagian-bagiannya, (Principles of

Gambar 2.58 Bola mata dan bagian-bagiannya, (Principles of Anatomy and Physiology, 2009)

1)

Fotoreseptor dan fotopigmen Setiap reseptor terdiri dari tiga segmen, yaitu: (1) segmen luar yang berbatasan dengan koroid dan berfungsi untuk mendeteksi sinar; (2) segmen dalam yang mengandung mesin-mesin metabolik untuk sel; dan (3) ujung sinaptik yang merambatkan sinyal ke sel-sel bipolar. Segmen luar sel batang yang berbentuk batang dan segmen luar sel kerucut yang berbentuk kerucut, tersusun dari tumpukan “cawan-cawan” dari membran yang banyak mengandung molekul fotopigmen. Setiap fotopigmen terdiri dari suatu protein yang bersifat enzim yang disebut opsin yang berkombinasi dengan retinal suatu deruvat vitamin A. Ada empat macam fotopigmen yang berbeda, yaitu: satu fotopigmen yang berada di dalam sel batang yang disebut rodpsin, dan masing- masing satu fotopigmen dalam setiap jenis sel kerucut. Retina pada semua fotopigmen adalah sama, tetapi opsinnya sangat berbeda. Opsin inilah yang membedakan masing-masing fotopigmen dapat menyerap panjang gelombang sinar yang berbeda. Rhodopsin yang merupakan fotopigmen sel batang, tidak dapat membedakan panjang gelombang, spektrum warna, dengan demikian sel batang tidak dapat membedakan warna. Fotopigmen pada ketiga tipe sel kerucut (untuk warna merah, hijau, dan biru) dapat merespon secara selektif panjang gelombang cahaya yang sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian kita dapat mengenal berbagai warna.

65

2)

Mekanisme eksitasi fotopigmen Pada dasarnya mekanisme eksitasi pada semua fotopigmen adalah sama. Bila molekul fotopigmen menyerap sinar, maka bagian retinalnya akan berubah bentuk. Perubahan bentuk dari fotopigmen ini akan menyebabkan terbukanya saluran Na + berpintu zat kimia pada membran segmen luar. Tidak seperti saluran berpintu zat kimia yang lain yang merespon zat kimia duta dari luar, maka saluran ini merespon zat kimia duta kedua dalam (internal second messenger), yaitu GMP siklik (cyclic guanosine monophosphate), yang menghubungkan absorpsi sinar dengan membukanya saluran Na +. GMP siklik diaktifkan oleh serangkaian reaksi enzimatik yang dimulai dari eksitasi fotopigmen oleh sinar, serupa dengan pengaktifan AMP siklik duta kedua oleh suatu zat kimia duta pertama ekstraseluler (extracelluler first messenger). Biasanya saluran Na + akan terbuka bila ada stimulus. Pada fotorespton ini agak lain, saluran Na + pada segmen luar akan terbuka justru pada saat tidak ada stimulus yaitu pada saat gelap. Akibatnya, pada saat gelap pada reseptor akan terjadi depolarisasi yang merambat sampai ke ujung sinaptik. Depolarisasi ini akan membukan saluran Ca ++ pada ujung sinaptik, menyebabkan Ca ++ masuk ke ujung sinaptik yang selanjutnya merangsang pembebasan neurotransmiter ke celah sinaps. Neurotransmiter ini justru akan menghambat timbulnya impuls baru pada sel bipolar. Karena tidak ada impuls yang diteruskan ke pusat penglihatan, maka pada saat gelap tidak terjadi peristiwa melihat.

maka pada saat gelap tidak terjadi peristiwa melihat. Gambar 2.59 Fotopigmen, (Fundamentals of Human Physiologhy,

Gambar 2.59 Fotopigmen, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012)

3)

Sel batang Setiap mata mengandung kurang lebih 100 juta sel batang. Sel batang sensitif terhadap cahaya lemah, mengandumg fotopigmen yang disebut rodopsin. Rodopsin sangat sensitif terhadap sinar, sehingga memungkinkan sel batang dapat berfungsi meskipun dalam cahaya remang-remang. Karena rodopsin begitu mudahnya terurai, maka pada cahaya terang jumlah rodopsin pada sel batang akan cepat mengalami pengurangan, yang selanjutnya sel batang tidak efektif bekerja pada cahaya terang. Pada cahaya gelap dan atau remang- remang rodopsin akan secara cepat dibentuk kembali, dan sel batang akan

66

4)

berfungsi kembali. Apabila kita masuk ke ruang bioskop pada siang hari, mula- mula pandangan kita sangat terganggu, namun beberapa detik kemudian pandangan akan normal kembali. Hal ini dikarenakan sel batang yang baru terkena sinar kuta di luar ruangan memerlukan sekitar 20 detik untuk membentuk kembali rodopsin sehingga sel batang dapat kembali normal. Penguraian dan pembentukan kembali rodopsin terjadi melalui suatu siklus yang kontinyu. Sel kerucut Setiap mata mengandung sekitar tiga juta sel kerucut. Sel kerucut mengandung fotopigmen yang sensitif terhadap sinar terang dan sinar berwarna yang berbeda-beda. Fotopigmen yang berada di dalam sel kurucut akan mengurai bila terkena sinar berwarna. Sama juga pada sel batang, penguraian fotopigmen akan menurunkan pembebasan zat transmiter kimia yang berarti menghilangkan hambatan pada sel bipolar, dan pada sel bipolar akan timbul impuls.

5)

Setiap jenis sel kerucut akan merespon secara optimal hanya kepada panjang gelombang spektrum warna yang sesuai dengannya. Sel kerucut warna merah akan merespon panjang gelombang sinar merah, sel kerucut warna hijau akan merespon panjang gelombang warna hijau, dan sel kerucut warna biru akan merespon panjang gelombang warna biru. Bagaimana kita dapat melihat selain ketiga warna dasar tersebut, misalnya warna kuning? Sinar kuning memiliki panjang gelombang antara sinar merah dan hijau. Jadi sinar kuning akan menstimulus sel kerucur merah dan hijau dan impuls yang disampaikan oleh kedua macam sel kerucut tersebut akan diinterpretasikan oleh otak sebagai warna kuning. Demikian pula untuk warna- warna yang lain. Pembentukan bayangan pada retina Pembentukan bayangan pada retina memerlukan 4 proses dasar yang semua bersangkutan dengan pemfokusan cahaya, yaitu: (1) refraksi cahaya, (2) akomodasi lensa, (3) konstriksi pupil, (4) kovergensi bola mata. Refraksi dan akomodasi. Bila cahaya merambat dari suatu medium transparan, misalnya udara, ke medium transparan kedua yang kerapatannya berbeda, misalnya air, maka cahaya akan dibelokkan. Dalam keadaan demikian dikatakan cahaya mengalami refraksi. Mata memiliki 4 media refraksi, yaitu:

kornea, aqueus humor, lensa, dan vitreus humor. Cahaya lurus dari udara yang masuk mata akan direfraksi pada titik-titik berikut : (1) pada permukaan anterior kornea, begitu cahaya berpindah dari udara yang lebih renggang ke kornea yang lebih rapat, (2) pada permukaan posterior kornea, begitu cahaya berpindah dari kornea ke aqueus humor yang kurang rapat, (3) pada permukaan anterior lensa, begitu cahaya berpindah dari aqueus humor ke lensa yang lebih rapat, dan (4) pada permukaan posterior lensa, begitu cahaya berpindah dari lensa ke vitreus humor yang kurang rapat. Bila kita melihat suatu benda yang berjarak 6 m atau lebih dari kita, maka cahaya lurus akan dipantulkan dari benda tersebut hampir paralel satu dengan yang lain. Dengan mengalami 4 kali proses refraksi, maka bayangan benda akan jatuh tepat pada fovea sentralis, di mana bayangan akan nampak paling jelas.

67

Supaya bayangan benda tepat jatuh pada fovea sentralis, maka dari keempat proses refraksi yang masih dimungkinkan untuk diatur adalah refraksi ketiga dan keempat, yaitu dengan menebalkan atau memipihkan lensa mata melalui kontraksi-relaksasi otot penggantung mata. Aktivitas menebal dan memipihkan lensa mata ini dikenal sebagai akomodasi lensa. Konstriksi pupil. Konstriksi pupil menghasilkan penyempotan pada pupil. Tujuannya adalah untuk membatasi cahaya tepi agar tidak masuk ke bagian tepi lensa. Cahaya tepi ini akan menhasilkan bayangan buram karena tidak dapat difokuskan ke retina. Biasanya konstriksi pupil ini terjadi bersamaan dengan akomodasi lensa. Konvergensi bola mata. Burung mampu melihat dua benda di sebelah kanan dan kiri matanya dalam waktu bersamaan. Ini berari bahwa burung mampu memfokuskan kedua bola mata kepada dua obyek yang berbeda pada saat bersamaan. Hal demikia tidak dapat dilakukan oleh manusia. Manusia pada saat melihat suatu benda, kedua bola matanya akan terfokus pada satu benda tersebut. Keadaan demikian dikenal sebagai “single binocular vision”. Single binocular vision adalah kemampuan mengarahkan cahaya dari suatu benda agar jatuh pada titik-titik sesuai (corresponding points) pada retina kedua mata. Bila kita melihat benda yang relatif jauh, maka cahaya yang datang melewati pupil akan dapat langsung sampai ke titik sesuai pada kedua retina mata tanpa menggerakkan kedua bola mata ke medial sebab cahaya yang datang relatif sejajar. Bila benda kita dekatkan ke mata, agar bayangan jatuh pada titik- titk sesuai, maka kedua bola mata harus diputar kearah medial. Menggerakkan kedua bola mata kearah medial ini disebut konvergensi bola mata.

d. Indera pendengaran Alat pendengaran adalah telinga. Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga dalam merupakan tempat dua sistem sensori yang berbeda yaitu koklea yang mengandung reseptor yang mampu mengubah gelombang bunyi menjadi impuls saraf, sehingga bisa mendengar, dan organ vestibular yang mengandung alat-alat keseimbangan. Telinga luar, terdiri dari daun telinga atau aurikula, dan saluran telinga luar (meatus ukustikus eksternus). Bagian dalam saluran telinga luar mengandung kelenjar yang menghasilkan minyak telinga atau serumen. Serumen berfungsi “menangkap” debu dan mencegah infeksi. Telinga tengah, terletak di dalam tulang temporalis, terdiri dari membran timpani dan tiga tulang pendengaran: maleus inkus, stapes. Membran timpani berfungsi menerima getaran suara dari luar, yang selanjutnya akan diteruskan ke telinga dalam melalui tulang-tulang pendengaran. Stapes akan berhubungan dengan telinga dalam melalui jendela lonjong (fenestra ovalis). Telinga tengah berhubungan dengan rongga faring melalui Saluran Eustakius. Telinga dalam, juga disebut labirin, yang merupakan struktur yang kompleks dan terdiri dari serangkaian rongga-rongga tulang dan saluran branosa yang berisi cairan. Saluran-saluran membranosa membentuk labirin membranosa dan berisi cairan endolimfe, sedangkan rongga-rongga tulang yang didalamnya berada labirin membranosa disebut labirin tulang (labirin osseosa). Labirin tulang berisi cairan perilimfe. Rongga yang terisi perilimfe ini merupakan terusan dari rongga

68

subarahnoid selaput otak, sehingga susunan perilimfe mirip dengan cairan serebrospinal. Labirin membranosa dilekatkan pada periousteum oleh lembaran- lembaran jaringan ikat tipis yang mengandung pembuluh darah. Labirin membranosa sendiri tersusun oleh selapis epitel gepeng dikelilingi oleh jaringan ikat tipis. Telinga dalam terdiri dari kolklea dan organ vestibular. Koklea merupakan saluran yang berbentuk seperti rumah siput, yang di dalamnya berisi organ korti sebagai reseptor getaran. Organ vestibular terdiri dari dua bagian yaitu: saluran setengah lingkaran (kanalis semisirkularis), dan vestibulum. Saluran setengah lingkaran ada tiga buah yang tersusun sedemikian rupa sehingga saluran tadi saling tegak lurus satu terhadap yang lain. Pada pangkal setiap saluran setengah lingkaran terjadi penggelembungan, dan bagian ini disebut ampula. Di dalam ampula ini terdapat alat keseimbangan dinamis yang disebut krista ampularis atau krista. Vestibulum terbagi menjadi dua bagian, yaitu sakulus dan utrikulus yang di dalamnya terdapat alat keseimbangan status yang disebut makula akustika atau makula.

status yang disebut makula akustika atau makula. Gambar 2.60 Struktur telinga, (Essentials of Anatomy and

Gambar 2.60 Struktur telinga, (Essentials of Anatomy and Physiologhy, 2015)

Koklea dan Proses Mendengar Penampang melintang koklea menunjukkan bahwa koklea terdiri dari tiga saluran yang berisi cairan. Tiga saluran tersebut adalah: saluran vestibular (skala vestibular), saluran koklear (skala koklear), dan saluran timpani (skala timpani). Saluran vestibular dan saluran timpani berisi perilimfe, sedangkan saluran koklear yang merupakan saluran membranosa berisi endolimfe. Membran penyusun saluran koklea terdiridari membran basilaris yang mengandung reseptor getaran. (Organ Korti), dan membran vestibular. Diantara kedua membran tersebut terdapat membran lain yang disebut membran tektorial. Organ korti merupakan sel berambut (disebut sel rambut). Rambut Organ Korti tersebut mengaral ke membran tektorial. Getaran bunyi yang diterima oleh membran timpani dan diteruskan ke koklea melalui tulang pendengaran akan menggetarkan jendela lonjong dan getaran ini akan menimbulkan gelombang cairan perilimfe di dalam saluran vestibular dan saluran timpani. Gelombang getaran dalam saluran vestibular juga melintasi membran vestibular masuk ke saluran koklear, yanh selanjutnya melintasi membran

69

basilaris ke saluran timpani. Tekanan gelombang ini akan menggetarkan membran basilaris ke atas ke bawah yang mengakibatkan ujung rambut organ korti bersentuhan dengan membran tektorial. Sentuhan ini merupakan stimulus bagi organ Korti yang akan segera meresponnya dalam bentuk pembebasan neurontransmiter ke ujung dendrit saraf pendengaran (saraf koklear) yang berada pada pangkal organ korti. Impuls saraf yang terjadi pada ujung dendrit ini, akan diteruskan melalui serabut saraf koklear ke pusat pendengaran, sehingga terjadi proses mendengar. Bunyi yang kita dengar mempunyai frekuensi getaran berbeda-beda, mulai dari frekuensi rendah sampai frekuensi tinggi. Membran basilaris mempunyai lebar dan fleksibilitas yang berbeda-beda pula. Membran basilaris di dekat jendela lonjong sempit dan lebih kaku. Daerah ini berfungsi menerima dan merespon getaran yang berfrekuensi tinggi. Membran basilaris di tengah lebih besar dan lebih fleksibel, dan berfungsi menerima serta merespon getaran berfrekuensi sedang. Daerah membran basilaris paling ujung adalah lebar dan paling fleksibel; daerah ini berfungsi menerima dan merespon getaran suara berfrekuensi rendah.

menerima dan merespon getaran suara berfrekuensi rendah. Gambar 2.61 Koklea, (Fundamentals of Human Physiologhy,

Gambar 2.61 Koklea, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012)

e. Indera keseimbangan Seperti telah diutarakan di atas, kita memiliki dua macam alat keseimbangan, yaitu alat keseimbangan dinamis (krista ampularis) dan alat keseimbangan statis (makula akustika). Krista ampularis, terletak di dalam ampula. Jadi pada setiap telinga kita memililo tiga krista ampularis yang posisinya saling tegak lurus satu sama lain. Krista ampularis merupakan jaringan yang melengkung dan mengandung sel-sel reseptor. Setiap sel reseptor memiliki dua kelompok rambut, pertama kelompok yang terdiri dari banyak mikrovili yang disebut stereosilia, dan kedua hanya terdiri dari satu silium yang disebut kinosilium. Rambut-rambut sel reseptor tadi secara bersama dilapisi oleh zat gelatin, sehingga secara keseluruhan bagian ini berupa tudung disebut kupula. Jadi kupula menonjol ke ruang ampula yang berisi

70

endolimfa. Di bagian dasar sel-sel reseptor melekat ujung-ujung dendrit saraf sensoris. Perputaran kepala menyebabkan endolimfe di dalam (paling tidak salah satu) saluran semi sirkularis bergerak. Aliran endolimfe tersebut akan mendorong kupula sehingga kupula akan condong ke arah tertentu. Gerakan kupula ini akan menggerakan pula rambut sel-sel reseptor. Apabila gerakan rambut condong ke arah kinosilium, maka pada sel reseptor akan terjadi depolarisasi, dan bila arah gerakan rambut condong menjauhi kinosilium, maka pada sel reseptor akan terjadi hiperpolarisasi. Depolarisasi pada sel reseptor akan diikuti dengan dilepaskannya neurontransmiter, yang selanjutnya akan membangkitkan impuls pada ujung saraf sensoris. Impuls tersebut selanjutnya disampaikan ke pusat keseimbangan di dalam otak. Posisi krista ampularis saling tegak lurus satu sama lain, dan masing-masing berpasang-pasangan pada telinga kanan dan kiri. Setiap gerakan kepala akan dideteksi oleh paling tidak dua krista ampularis, di mana sel-sel reseptor salah satu krista akan mengalami depolarisasi dan sel-sel reseptor yang satunya akan mengalami hiperpolarisasi. Akibat dari mekanisme ini, maka setiap gerakan rotasi kepada dan tubuh akan disadari, sehingga keseimbangan kita waktu bergerak akan terjaga. Makula akustika terletak di dalam sakulus dan utrikulus. Makula akustika merupakan alat keseimbangan statis, yang memberitahukan posisi kepala pada saat kita diam atau melakukan gerak lurus beraturan. Setiap makula terdiri dari sekumpulan sel-sel reseptor yang strukturnya mirip reseptor pada krista ampularis. Seperti pada krista ampularis, rambut sel reseptor makula yang berupa silia dan mikrofili dilapisi oleh zat gelatinous. Di atas lapisan gelatin tersebut terdapat sejumlah kristal kalsium karbonat, yang dikenal sebagai otolit (otolith). Otolit tersebut menyebabkan lapisan gelatin lebih berat dari cairan di sekitarnya. Meskipunreseptot dalam sakulus dan utrikulus pada dasarnya sama, namun masing- masing berorientasi terhadap arah yang berbeda. Bila seseorang dalam posisi tegak, maka rambut sel reseptor dalam utrikulus berorientasi vertikal dan rambut sel reseptor dalam sakulus berorientasi horizontal. Untuk menjelaskan kerja dari alat keseimbangan statis ini, kita ambil contoh makula dalam utrikulus bila kepala kita tundukkan: karena gaya berat, maka lapisan gelatin akan melengkung ke depan. Dalam utrikulus pada setiap sisi kepala, sebagian rambut sel reseptor terdepolarisasi dan sebagian yang lain hiperpolarisasi. Sel reseptor yang terdepolarisasi akan membebaskan neurotransmiter yang selanjutnya diikuti terjadinya impuls pada ujung saraf sensoris untuk diteruskan ke pusat keseimbangan di otak. Dengan demikian kita sadar akan posisi kepala kita pada saat diam. Rambut reseptor dalam utrikulus juga mengalami perubahan bila kita melakukan gerak lurus horizontal.

71

Gambar 2.62 Makula dari utrikulus, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012) L. Berbagai Penyakit karena Gangguan
Gambar 2.62 Makula dari utrikulus, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012) L. Berbagai Penyakit karena Gangguan

Gambar 2.62 Makula dari utrikulus, (Fundamentals of Human Physiologhy, 2012)

L. Berbagai Penyakit karena Gangguan pada Sistem Saraf dan Alat Indera Gangguan pada sistem saraf akan berakibat gangguan pada pola gerak maupun memori seseorang. Berbagai gangguan tersebut dapat disebabkan oleh faktor usia, bakteri, virus, atau kerusakan akibat kecelakaan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Alzheimer’s Merupakan penyakit akibat gangguan fungsi otak yang ditandai oleh kehilangan memori, pengenalan kepribadian, dan kekuatan mental. Umumnya penyakit ini terjadi pada manusia lanjut usia. Gejalanya sangat bervariasi dari satu orang ke orang lain, biasanya ditandai dari kehilangan memori kecil tentang kejadian yang baru saja dialami. Lupa semacam itu dapat terjadi setiap saat dan makin hari semakin parah. Seseorang dapat lupa nama anggota keluarganya, lupa jalan pulang kerumah, lupa kalau sudah makan, menanyakan sesuatu yang sama meskipun baru saja di jawab, dan sebagainya. Meskipun pada permulaannya penyakit ini secara fisik tidak menggangu, namun bila berlanjut penderita tidak dapat beristirahat, selalu bergerak, mengulang-ulang aktivitas tertentu seperti membuka menutup laci, dan pada beberapa orang dapat menjadi sangat buas dengan tanpa sebab tertentu. Alzheimer’s disebabkan oleh artrofi korteks serebral. Artrofi tersebut diduga disebabkan oleh slow viruses sejenis virus yang memerlukan waktu yang lama untuk merusak. Infeksinya terjadi pada waktu muda dan akibatnya baru muncul setelah dewasa. 67 Pada otopsi, otak penderita Alzheimer menunjukkan tiga struktur yang berbeda kelainan:

67 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 85

72

a. Hilangnya neuron yang membebaskan asetilkolin. Pusat neuron utama yang membebaskan ACh adalah nukleus basalis, yang berada di bawah globus pallidus. Akson dari neuron ini diproyeksikan secara luas di seluruh korteks serebral dan sistem limbik. Kerusakan mereka adalah ciri khas penyakit Alzheimer.

b. Plak Bet-aamiloid, kelompok protein abnormal yang diendapkan neuron luar.

c. Neurofibrillary kusut, kumpulan filament abnormal di dalam neuron daerah otak yang terkena. Filamen ini terdiri dari protein disebut tahu yang telah mengalami hipersfosforilasi (terlalu banyak gugus fosfat yang ditambahkan kedalamnya). 68

Plank Amiloid Belitan Neurofblier
Plank Amiloid
Belitan
Neurofblier

Gambar 2.63 Tanda-tanda mikroskopik penyakit Alzheimer, (Campbell Jilid ke-3, 2010)

2. Kecelakaan cerebrovaskular (CVA) atau Stroke Merupakan kerusakan pembuluh darah di otak, akibatnya kekurangan oksigen ke bagian otak. Kemungkinan jenis kerusakan pembuluh darah adalah trombosis atau pendarahan. Trombus adalah gumpalan darah yang merupakan konsekuensi dari aterosklerosis, abnormal deposit lipid di arteri serebral. Permukaan kasar merangsang pembentukan gumpalan yang menghalangi aliran darah ke bagian otak yang disediakan oleh arteri. Gejala-gejalanya tergantung pada bagiannya otak yang terpengaruh dan mungkin timbul secara bertahap jika pembentukan bekuan darah lambat. Sekitar 80% dari CVA adalah tipe ini. Perdarahan akibat dari arteriosklerosis atau aneurisma arteri serebral, memungkinkan darah keluar ke dalam jaringan otak yang menghancurkan neuron otak dengan memberi tekanan berlebihan juga merampas oksigen. Timbulnya gejala di CVA jenis ini biasanya cepat. Misalnya, jika CVA ada di frontal kiri lobus, kelumpuhan pada sisi kanan tubuh akan terjadi. Hal tersebut juga dapat terpengaruh jika area bicara terlibat. Beberapa CVA akan mengalami kerusakan fatal yang menyebabkan tersebar luas atau memengaruhi pusat-pusat vital di medula atau pons. Untuk CVA dari jenis trombus, obat pelarut gumpalan dapat membantu membangun kembali aliran darah. Pemulihan dari CVA tergantung pada lokasinya dan tingkat kerusakan serta faktor-faktor lainnya. Dua diantaranya adalah redundansi otak dan plastisitasnya. Redundansi berarti pengulangan atau melebihi apa yang diperlukan. Korteks serebral memiliki lebih banyak neuron daripada kita sebenarnya digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Plastisitas berarti bahwa neuron ini tersedia

68 Gerard J. Tortora and Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed., (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 540

73

3.

untuk digunakan, terutama pada orang yang lebih muda (lebih muda dari 50 tahun usia tetapi bahkan pada orang yang jauh lebih tua). Ketika seorang pasien pulih dari stroke yang melumpuhkan, yang sering terjadi adalah otak telah membentuk jalur baru, berbeda dari sebelumnya, sekarang neuron membawa impuls penuh waktu. Pemulihan individual sangat mungkin memakan waktu berbulan-bulan. Namun faktor penting lainnya adalah pasien CVA diarahkan serta diberikan dorongan dan mulai menjalani terapi rehabilitasi segera setelah kondisinya memungkinkan. 69 Skizofrenia Sekitar 1% dari populasi di dunia menderita skizofrenia (schizophrenia), suatu gangguan mental parah yang dicirikan oleh episode-episode psikotik ketika para pasien memperoleh persepsi realitas yang terdistorsi. Para pengidap skizofrenia biasanya menderita halusinasi (misalnya suara-suara yang hanya bisa didengar oleh mereka) dan delusi (misalnya, pikiran bahwa orang lain bersepakat melukai atau menciderai mereka). Terlepas dari anggapan yang banyak dipercaya, skizofrenia tidak selalu menghasilkan kepribadian ganda. Bahkan nama skizofrenia (dari kata Yunani schizo, pecah dan phren, benak) tersebut mengacu pada fragmentasi fungsi-fungsi otak yang normalnys terintegrasi. Ada dua bukti yang menyatakan bahwa skizofrenia mempengaruhi jalur-jalur neuronal yang menggunakan dopamin sebagai neurotransmiter. Pertama, obat anfetamin (speed), yang merangsang pelepasan dopamin, dapat menghasilkan perangkat gejal-gejala yang sama dengan skizofernia. Kedua, banyak obat-obatan yang meredakan gejala-gejala skizofrenia memblokir reseptor-reseptor dopamin. Skizofrenia juga bisa mengubah persinyalan glutamat, karena obat-obatan terlarang (angel dust) atau PCP, memblokir reseptor-reseptor glutamat dan menginduksi gejala-gejala mirip skizofrenia yang kuat. Untungnya, obat-obatan seringkali dapat meredakan gejala- gejala utama skizofrenia. Walaupun penanganan-penanganan yang pertama kali dilakukan sering memiliki efek samping negatif, obat-obatan terbaru memiliki efektivitas yang sama dan jauh lebih aman untuk digunakan. Penelitian yang sedang berlangsung bertujuan untuk mengidentifikasi mutasi-mutasi genetik yang bertanggung jawab terhadap skizofrenia, bisa menghasilkan wawasan baru tentang penyebab kelainan ini dan mengarah dan penemuan terapi-terapi yang lebih efektif. 70

69 Valerie C. Scanlon, Essentials of Anatomy and Physiologhy, (New York: Davis F.A Company, 2015),

hlm. 203

70 Neil A. Campbell and Jane B. Reece, CAMPBELL Biologi Jilid ke-3, (Jakarta: Erlangga, 2010), hlm.

253

74

Gambar 2.64 Kontribusi Genetis terhadap Skizofrenia, (Campbell Jilid ke-3, 2010) 4. Ataksia Merupakan gangguan sistem

Gambar 2.64 Kontribusi Genetis terhadap Skizofrenia, (Campbell Jilid ke-3, 2010)

4. Ataksia Merupakan gangguan sistem saraf yang ditandai oleh gangguan koordinasi gerak otot seperti gerakan tubuh yang tidak teratur dan tidak akurat. Gangguan tersebut dapat berupa cara berjalan yang kaku dan gerak salah satu kaki melebar, kurang keseimbangan, termor pada tangan, dan sebagainya. Ataksia dapat bersifat sementara maupun permanen. Penyebab atasia adalah setiap kejadian yang mengganggu pusat pengontrol gerak di otak atau jalur saraf yang menuju otak. Minuman keras dapat menyebabkan serangan ataksia sementara, sedangkan ataksia permanen disebabkan oleh kerusakan otak, korda spinalis atau saraf spinal. 71

5. Tumor otak Tumor otak adalah pertumbuhan abnormal jaringan di otak yang mungkin menjadi ganas atau jinak. Tidak seperti kebanyakan tumor lain dalam tubuh, tumor ganas dan jinak mungkin sama seriusnya, menekan jaringan yang berdekatan dan menyebabkan penumpukan tekanan di tengkorak. Tumor ganas yang paling umum adalah tumor sekunder yang bermetastasis dari kanker lain dalam tubuh, seperti yang ada di paru-paru, payudara, kulit (melanoma ganas), darah (leukemia), dan limfatik organ (limfoma). Sebagian besar tumor otak primer (yang berasal dalam otak) adalah glioma, yang berkembang di neuroglia. Gejala-gejala tumor otak tergantung pada ukuran, lokasi, dan laju pertumbuhan. Diantara gejalanya adalah sakit kepala, keseimbangan dan koordinasi, pusing, penglihatan ganda, bicara cadel, mual dan muntah, demam, denyut nadi dan laju pernapasan tidak normal, perubahan kepribadian, mati rasa dan kelemahan tungkai, dan kejang. Pilihan pengobatan untuk tumor otak bervariasi sesuai dengan ukuran, lokasi, dan jenis dan mungkin termasuk pembedahan, terapi radiasi, dan kemoterapi. Sayangnya, agen kemoterapi tidak mudah melewati darah-penghalang otak. 72

71 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 86

72 Gerard J. Tortora and Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology, (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 540

75

6. Parkinson Penyakit Parkinson dicirikan oleh kesulitan menginisiasi gerakan-gerakan, pergerakan yang lambat, dan kekacuan tubuh. Para penderita seringkali mengalami tremor otot dan jalan yang tertatih-tatih. Otot-otot wajahnya menjadi sangat kaku, sehingga menyebabkan mereka sulit mengubah-ubah ekspresi wajahnya. Seperti penyakit Alzeimer, penyakit Parkinson merupakan kelainan otak progresif dan semakin umum terjadi seiring bertambahnya usia. Kejadian penyakit Parkinson adalah 1% pada usia 65 dan sekitar 5% pada usia 85. Gejala-gejala penyakit Parkinson diakibatkan oleh kematian neuron-neuron pada otak tengah yang normalnya melepaskan dopamin pada sinapsis-sinapsis di nukleus basal. Seperti pada penyakit Alzheimer, agregat-agregat protein akan berakumulasi. Saat ini tidak ada penyembuh untuk penyakit Parkinson. Pendekatan- pendekatan yang digunakan untuk menangani gejala-gejala penyakit Parkinson mencakup operasi otak, perangsangan deep-brain, dan obat-obatan seperti L-dopa, suatu molekul yang dapat melintasi penghalang darah-otak dan dapat diubah menjadi dopamin dalam SSP. Salah satu penyembuh potensial adalah penanaman neuron-neuron penyekresi-dopamin, baik di otak tengah maupun nukleus basal. 73

7. Afasia

Kerusakan pada area bicara atau area interpretasi otak besar dapat merusak satu atau lebih aspek kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa, disebut afasia. Afasia mungkin merupakan konsekuensi dari kecelakaan serebrovaskular atau trauma fisik tengkorak dan otak seperti cedera kepala yang berkelanjutan dalam kecelakaan mobil. Jika area motor berbicara rusak, orang itu masih mampu memahami kata-kata tertulis dan lisan dan tahu apa yang ingin dia katakan, tetapi dia tidak bisa katakan. Tanpa koordinasi dan impuls dari area motorik bicara, otot yang digunakan untuk ucapan tidak dapat membuat kontrak untuk membentuk kata-kata dengan benar. Afasia pendengaran adalah kata tuli,” disebabkan oleh kerusakan pada area interpretasi. Orang masih dapat mendengar tetapi tidak dapat memahami apa itu kata-kata berarti. Afasia visual adalah “kebutaan kata,” orang itu masih bisa melihat dengan baik tetapi tidak dapat memahami kata-kata tertulis (orang tersebut mempertahankan kemampuan untuk memahami kata-kata yang diucapkan). 74

8. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Adalah gangguan belajar ditandai dengan rentang perhatian yang buruk atau pendek, tingkat yang konsisten hiperaktif, dan tingkat impulsif yang tidak pantas untuk usia anak-anak. ADHD diyakini mempengaruhi sekitar 5% anak-anak dan didiagnosis 10 kali lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. Kondisi biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan berlanjut hingga remaja dan dewasa. Gejala ADHD berkembang pada anak usia dini, sering sebelum usia empat tahun, dan termasuk kesulitan dalam mengatur dan menyelesaikan tugas, kurang memperhatikan detail, rentang perhatian pendek dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, kesulitan mengikuti instruksi, berbicara berlebihan dan sering mengganggu orang lain, sering

73 Neil A. Campbell and Jane B. Reece, CAMPBELL Biologi Jilid ke-3, (Jakarta: Erlangga, 2010), hlm.

256

74 Valerie C. Scanlon, Essentials of Anatomy and Physiologhy, (New York: Davis F.A Company, 2015),

hlm. 203

76

berlari atau memanjat berlebihan, ketidakmampuan untuk bermain diam-diam sendirian, dan kesulitan menunggu atau bergiliran. Penyebab ADHD tidak sepenuhnya dipahami, tetapi memiliki komponen genetik yang kuat. Beberapa bukti juga menunjukkan bahwa ADHD terkait dengan masalah dengan neurotransmitter. Selain itu, studi pencitraan baru-baru ini menunjukkan bahwa orang dengan ADHD memiliki lebih sedikit jaringan saraf di daerah otak tertentu seperti frontal dan lobus temporal, nukleus ekor, dan otak kecil. Perawatan mungkin melibatkan pendidikan remedial, teknik modifikasi perilaku, restrukturisasi rutinitas, dan obat-obatan yang menenangkan anak dan membantu fokus perhatian. 75

9. Shingles (penyakit ruam pada saraf) Herpes zoster disebabkan oleh virus yaitu cacar air, yang dulunya umum penyakit anak-anak (sekarang ada vaksin). Kapan seseorang sembuh dari cacar air, virus mungkin bertahan hidup dalam keadaan tidak aktif (tidak aktif) di punggung akar ganglia dari beberapa saraf tulang belakang. Bagi kebanyakan orang, sistem kekebalan mampu mencegah reaktivasi virus. Namun, seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh tidak efektif, dan virus dapat menjadi aktif dan menyebabkan zoster, atau sinanaga. Virus ini hadir di neuron sensorik, sering orang-orang dari bagasi, tetapi kerusakan yang disebabkan oleh virus terlihat di kulit di atas saraf yang terkena.

oleh virus terlihat di kulit di atas saraf yang terkena. Gambar 2.65 Penyakit Herpes, (Essentials of

Gambar 2.65 Penyakit Herpes, (Essentials of Anatomy and Physiologhy, 2015)

Luka merah herpes zoster seringkali sangat menyakitkan dan mengikuti jalannya saraf pada kulit eksternal. Nyeri dapat berlanjut bahkan setelahnya ruam sembuh, ini merupakan neuralgia postherpetic. Kadang-kadang virus dapat mempengaruhi saraf kranial dan menyebabkan kelumpuhan wajah yang disebut Bell's palsy (Tengkorak ke- 7) atau lesi wajah yang luas atau jarang kebutaan. Meski bukan obat, beberapa antivirus obat-obatan mengurangi lamanya penyakit. Vaksin tersedia untuk orang dewasa, terutama mereka lebih dari 60 tahun, dan meskipun mungkin tidak sepenuhnya mencegah herpes zoster, itu dapat mengurangi peluang neuralgia postherpetic. 76

10. Multiple sclerosis (MS) Multiple sclerosis (MS) adalah penyakit demielinasi yang melibatkan kemunduran selubung mielin neuron di saraf pusat sistem. Tanpa selubung mielin, impuls dari neuron ini mengalami hubungan pendek dan tidak mencapai tujuan yang tepat. Karenanya, neuron akson rusak dan secara bertahap mati. Multiple sclerosis adalah gangguan autoimun yang disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Bagaimana tepatnya gen meningkatkan seseorang kerentanan terhadap penyakit

75 Gerard J. Tortora and Bryan Derrickson, Principles of Anatomy and Physiology, (USA: John Wiley & Sons, Inc, 2009), hlm. 540

76 Valerie C. Scanlon, Essentials of Anatomy and Physiologhy, (New York: Davis F.A Company, 2015),

hlm. 196

77

autoimun masih belum diketahui. Faktor lingkungan yang meningkatkan risiko untuk MS termasuk infeksi dengan virus Epstein-Barr dan kekurangan vitamin D. 77 Pada MS, autoantibodi yang diproduksi menghancurkan oligodendrosit, neuroglia penghasil mielin dari pusat. Sistem saraf yang menghasilkan formasi sklerosis, atau plak jaringan parut, tidak menyediakan isolasi listrik atau melindungi akson. Karena kehilangan mielin dapat terjadi di banyak bagian sistem saraf pusat, gejalanya bervariasi, tetapi biasanya termasuk kelemahan atau kelumpuhan otot, mati rasa atau hilangnya sensasi parsial, visi ganda, dan hilangnya refleks sumsum tulang belakang, termasuk itu untuk buang air kecil dan buang air besar. Gejala pertama biasanya muncul diantara usia 20 dan 40 tahun, dan penyakitnya mungkin mengalami kemajuan baik secara lambat atau cepat. Beberapa pasien MS mengalami remisi, periode waktu kapan gejalanya berkurang, tetapi remisi dan perkembangan penyakit tidak dapat diprediksi. Masih belum ada obat untuk MS, tetapi terapi termasuk penekanan respon imun, dan interferon, yang tampaknya memperpanjang remisi pada beberapa pasien. Kemungkinan merangsang remielinasi neuron juga sedang diselidiki. 11. Depresi Depresi adalah suatu kelainan yang dicirikan oleh suasana hati yang tertekan, serta abnormalitas dalam tidur, nafssu makan, dan tingkat energi. Ada dua bentuk dari penyakit depresi yaitu gangguan depresi mayor dan gangguan bipolar. Gangguan depresi mayor (major depressive disorder) mengalami periode-periode yang seringkali berlangsung berbulan-bulan. Ketika aktivitas yang dahulu menyenangkan tidak lagi memberikan bahagia dan tidak menarik minat. Sebagai salah satu kelainan sistem saraf paling umum, depresi mayor menyerang sekitar satu diantara setiap tujuh orang dewasa, dan jumlahnya dua kali lebih besar pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Gangguan bipolar (bipolar disorder) atau gangguan mania depresif (manic- depressive disorder) melibatkan perubahan suasana hati yang naik turun dan menyerang sekitar 1% populasi dunia. Seperti Skizofrenia, gangguan depresi mayor mempunyai komponen-komponen genetis dan lingkungan. Dalam fase gangguan bipolar, fase mania dicirikan oleh rasa percaya diri tinggi, energi yang meningkat, ide yang mengalir deras, banyak bicara, keberanian yang tinggi dan berani untuk mengambil resiko. Dalam bentuknya yang ringan fase ini terkadang terkait dengan kreativitas yang besar, sejumlah sastrawan, seniman dan musisi mengalami periode produktif selama fase mania. 78 Fase depresif mendatangkan penurunan kemampuan untuk merasa bahagia, kehilangan motivasi, gangguan tidur dan perasaan tak berharga. Gejala-gejala ini bisa sedemikian parah sehingga penderita mencoba bunuh diri. Gangguan depresi mayor dan bipolar tergolong kelainan sistem saraf yang memliki terapi paling efektif. Berbagai jenis obat-obatan yang digunakan untuk menangani gangguan depresi, termasuk fluoxetine (Prozac), meningkatkan aktivitas amin biogenik di otak. Gangguan-gangguan depresif juga terkadang ditangani dengan obat-obatan anti kejang atau litium. 79

77 Ibid., hlm. 188

78 Neil A. Campbell and Jane B. Reece, CAMPBELL Biologi Jilid ke-3, (Jakarta: Erlangga, 2010), hlm.

254

79 Ibid., hlm. 254

78

12. Kecanduan obat dan sistem reward otak Kecanduan obat adalah kelainan yang dicirikan oleh konsumsi suatu obat yang kompulsif dan kehilangan kontrol untuk membatasi asupan obat. Obat apapun dengan berbagai macam efek di SSP dapat bersifat aditif. Misalnya kokain dan amfetamin bekerja sebagai stimulan (perangsang), sementara heroin adalah sedative (penenang) yang meredakan nyeri. Akan tetapi semua obat-obatan serta alkohol dan nikotin bersifat aditif karena meningkatkan aktivitas sistem reward otak (brain’s reward system), sirkuit neural yang normalnya berfungsi dalam rasa bahagia, motivasi, dan pembelajaran. Tanpa adanya kecanduan obat, sistem reward memberikan motivasi untuk aktivitas- ativitas yang meningkatkan kesintasan dan reproduksi, misalnya respon terhadap rasa lapar, minum ketika haus dan lain-lain. Pada pecandu rasa ingin tahu malah diarahkan ke konsumsi obat lebih jauh. Masukan ke sistem reward akan diterima oleh neuron-neuron di wilayah dekat dasar otak yang disebut area tegmental ventral (ATV). Saat teraktivasi, neuron-neuron ini mengarahkan potensial-potensial aksi disepanjang akson bersinapsis dengan neuron- neuron di wilayah spesifik serebrum. Akson akan melepaskan dopamin. Obat-obatan adiktif mempengaruhi sistem reward dalam beberapa cara. Pertama setiap obat memiliki efek langsung yang meningkatkan aktivitas jalur dopamin. Saat kecanduam berkembang, adapula perubahan-perubahan yang bertahan lama dalam sirkuit reward. Hasilnya adalah perasaan sangat meninginkan obat tersebut yang hadir secara terpisah dari kesenangan apapun yang terkait dengan konsumsi. 80

dari kesenangan apapun yang terkait dengan konsumsi. 8 0 Gambar 2.66 Efek obat-obatan penyebab kecanduan pada

Gambar 2.66 Efek obat-obatan penyebab kecanduan pada jalur reward otak manusia, (Campbell jilid ke-3, 2010)

13. Lumbar puncture

Tusukan lumbal (spinal tap) adalah diagnostik prosedur yang melibatkan

pengangkatan cairan serebrospinal untuk menentukan tekanan dan konstituennya.

Seperti namanya, penghapusan menggunakan sebuah jarum suntik, dibuat di daerah

80 Ibid., hlm. 254

79

lumbar. Karena sumsum tulang belakang berakhir antara tanggal 1 dan 2 vertebra

lumbar, jarum biasanya dimasukkan antara vertebra lumbal ke-4 dan ke-5. Kantung

meningeal yang berisi cairan serebrospinal meluas sampai ke ujung vertebra lumbar,

memungkinkan akses ke cairan serebrospinal dengan sedikit kemungkinan merusak

sumsum tulang belakang. Cairan serebrospinal adalah cairan yang bersirkulasi dan

memiliki tekanan normal 70 hingga 200 mm H 2 O. Tekanan abnormal biasanya

mengindikasikan adanya obstruksi dalam sirkulasi, yang mungkin disebabkan oleh

infeksi, tumor, atau cedera mekanik. Diagnostik lainnya tes akan diperlukan untuk

menentukan sebab yang tepat. Mungkin alasan paling umum untuk tusukan lumbar yang

diduga meningitis, yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis bakteri. Jika pasien

memang memiliki meningitis, cairan serebrospinal akan berawan daripada jernih dan

akan diperiksa untuk keberadaan bakteri dan sedikit pun sel darah. Beberapa WBC di

CSF adalah normal karena leukosit ditemukan di semua cairan jaringan. Konstituen

abnormal lain dari cairan serebrospinal adalah sel darah merah. Kehadiran mereka

menunjukkan berdarah di suatu tempat di sistem saraf pusat. Mungkin ada banyak

penyebab, dan sekali lagi, pengujian lebih lanjut diperlukan. 81

dan sekali lagi, pengujian lebih lanjut diperlukan. 8 1 Gambar 2.67 Cairan serebrospinal yang terinfeksi

Gambar 2.67 Cairan serebrospinal yang terinfeksi meningitis, (Essentials of Anatomy and Physiologhy,

2015)

14. Katarak Merupakan gangguan pada mata yang sering menyebabankan kebutaan. Gangguan ini disebabkan oleh lensa mata atau kapsul pembungkusnya tampak seperti berkabut, sehingga lensa tidak transparan lagi. Penyebabnya belum diketahui dengan jelas, umumnya dijumpai pada orang tua, namun meskipun jarang katarak dapat diderita oleh anak yang baru lahir. Disamping faktor ketuaan, katarak juga dapat disebabkan oleh diabetes, glukoma, dan terlepasnya retina dari koroid. Luka pada lensa, penggunaan obat dalam jangka panjang. Radiasi sinar X, dosis tinggi, diduga dapat memicu katarak.

81 Valerie C. Scanlon, Essentials of Anatomy and Physiologhy, (New York: Davis F.A Company, 2015),

hlm. 209

80

15. Konjungtivitis Adalah peradangan pada konjungtiva, yaitu membrane tipis yang melapisi kornea dari bagian dalam pelupuk mata. Penyebab utamanya adalah bakteri atau virus, namun alergi, zat kimia, asam, dan benda asing yang lain yang mengiritasi konjungtiva mungkin dapat menimbulkan konjungtivitis. Konjungtivitis dapat menyerang segala umur, namun anak-anak lebih banyak terserang daripada orang dewasa.

16. Buta malam Merupakan gangguan pada mata dimana seseorang tidak dapat melihat jelas pada cahaya remang-remang. Penyebabnya adalah devisiensi vitamin Aberat, atau karena pigmentosa retinitis, yaitu suatu keadaan degenerasi dari retina. Dalam hal kekurangan vitamin A berat, kornea mungkin menjadi lunak atau mata mata menjadi sangat kering.

17. Buta warna Sekitar 5% populasi manusia menderita buta warna. Buta warna merupakan gangguan herediter yang lazim diderita pria dari pada wanita. Buta warna bervariasi antara buta satu warna tertentu (buta warna parsial) sampai dengan buta warna total. Terjadinya buta warna ini disebabkan oleh tidak adanya atau ada tetapi sedikit sel kerucut warna merah dan hijau. Bila tidak ada sel kerucut merah, maka warna merah akan nampak hijau, dan begitu juga sebaliknya. Jika sel kerucut hijau tidak ada, maka benda hijau akan Nampak merah. Bila ketiga macam sel kerucut (warna merah, hijau, dan biru) itu tidak ada, maka semua benda akan nampak hitam, dan seseorang akan menderia buta warna total. Buta warna dapat dites dengan cara yang sederhana, yaitu dengan menggunakan kartu tes buta warna, kartu ishihara, atau menggunakan benang warna-warni. Kartu tes buta warna, merupakan suatu kartu yang ditempeli bulatan-bulatan kecil berwarna merah membentuk angka 29. Disekeliling angka 29 tersebut ditempeli bulatan-buatan kecil lain berwarna hijau dan biru yang tersebar secaraa acak. Seseorang yang buta warna merah atau hijau tidak bisa melihat angka 29 tersebut. Kartu Ishihara merupakan kartu warna-warni (merah, hijau, dan biru) dengan jumlah masing-masing kartu sama. Adapun cara menggunakannya yaitu dengan menunjukkan kartu-kartu tersebut kepada testee. Testee diminta untuk menyebutkan setiap warna kartu yang ditunjukkan dengan waktu yang tidak lebih dari tiga detik. Tester mencatat semua jawaban, dan kemudian membandingkan jumlah jawaban benar dan salah. Kesalahan menjawab sebesar 25% mengindikasikan bahwa testee terkena buta warna parsial. Sedangkan kesalahan jawaban ≥ 50% mengindikasikan testee menderita buta warna total/ dan dengan cara yang sama, kartu-kartu yang berwarna- warna diganti dengan benang yang berwarna-warni.

18. Cacat mata umum Pada mata normal (emetropia), bayangan benda yang berjarak lebih dari 6 meterakan jatuh tepat pada retina, mata dalam keadaan relaks atau tanpa akomodasi. Dengan kemampuan akomodasi, sinar yang datang dari benda dekat akan difokuskan tepat pada retina. Ada orang yang memiliki ukuran bola mata yang tidak normal atau lensa mata yang terlalu kuat atau terlalu lemah. Keadaan ini menyebabkan terjadinya cacat penglihatan seperti:

81

a) Myopia (penglihatan dekat) Myopia (penglihatan dekat) dapat terjadi bila bola mata terlalu panjang atau lensa mata teralu kuat (cembung). Tanpa menggunakan bantuan lensa atau kacamata, sinar sejajar yang datang dari benda yang jauh akan jatuh pada fokus didepan retina. Untuk dapat melihat dengan jelas, maka benda yang dilihat harus diletakkan ke mata, yang berarti pula menggeser fokus bayangan ke belakang sehingga jatuh tepat pada retina. Miopia ada sejak lahir dan dapat dikoreksi dengan lensa yang mempunyai daya menyebarkan sinar (lensa cekung = lensa konkaf). Disamping dengan bantuan lensa, para dokter juga sudah mengembangkan suatu metode untuk mengurangi daya refraksi kornea yang disebut keratotomi radial. Keratotomi radial dilakukan dengan mengadakan operasi kecil untuk membuat permukaan kornea lebih datar yang bertujuan untuk mengurangi daya refraksinya.

b) Hiperopia (penglihatan jauh) Hiperopia (penglihatan jauh) terjadi bila bola mata terlalu pendek atau lensa mata terlalu lemah (pipih). Pada hiperopia ini sinar sejajar yang datang akan difokuskan di belakang retina. Untuk dapat melihat dengan jelas, maka benda yang dilihat harus digeser menjauhi mata, yang berarti menggeser titik fokus bayangan supaya jatuh tepat pada retina. Hiperopia dapat dikoreksi dengan lensa yang mempunyai daya mengumpulkan sinar (lensa cembung = lensa konveks). Hiperopia umumnya ada sejak lahir dan ketahuan pada masa kanak-kanak.

c) Astigmatisme Astigmatisme terdapat pada mata normal yang memiliki kornea dan atau lensa yang permukaannya tidak rata. Mislanya pada permukaan kornea, pada cacat ini permukaan kornea memiliki lengkung pada bidang vertical berbeda dengan pada bidang horizontal. Lengkung yang tidak sama ini disebut astigmatisme. Benda yang dilihat menjadi kabur sebab sinar yang jatuh padaa baagian kornea atau bagian lensa yang berbeda akan dibelokkan kea rah yang berbeda-beda. Astigmatisme biasanya diderita sejak lahir, dan dapat gitolong dengan lensa silindris.

d) Presbiopia Presbiopia terdapaat pada orang tua, yang ditandai dengan adanya kebiasaan menjauhkan benda yang dilihat. Hal ini disebabkan karena kekenyalan lensa pada orang tua telah menurun, sehingga akomodasi lensa tidak dapat berjalan. Bayangan benda dekat jatuh dibelakang retina. Supaya dapat melihat dengan jelas, maka benda yang dilihat harus digeser menjauhi mata, atau dibantu dengan lensa cembung (konveks).

82

Gambar 2.68 a) mata normal, b) myopia, dan c) hyperopia, (Essentials of Anatomy and Physiologhy,

Gambar 2.68 a) mata normal, b) myopia, dan c) hyperopia, (Essentials of Anatomy and Physiologhy,

2015)

19. Trakoma Merupakan konjungtivitis yang sangat menular disebabakan oleh suatu organisme yang disebut TRIC agent. Organisme tersebut memiliki ciri bakteri dan virus. Trakoma ditandai oleh adanya banyak benjolan-benjolan bulat kecil pada bagian dalam kelopak mata. Bila tidak diobati benjolan-benjolan kecil ini menjadi sangat gatal dan meradang ke kornea sehingga mengurangi ketajaman penglihatan. Disamping itu penyakit ini dapat menimbulkan tumbuhnya jaringan dibawah konjungtiva dan invasi pembuluh darah ke dalam bagian depan kornea. Jaringan ini dapat terus tumbuh sampai menutupi seluruh kornea sehingga penderita tidak dapat melihat lagi. 82

20. Tuli

Adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kehilangan pendengaran sebagian atau total. Ada tiga macam tuli, yaitu:

a. Tuli konduktif Adalah tuli yang disebabkan oleh suatu kerusakan pada telinga luar atau telinga tengah. Tuli konduktif dapat terjadi sejak bayi lahir sebagai hasil dari suatu kerusakan turunan, suatu keabnormalan pada pertumbuhan, atau infeksi pada fetus dalam kandungan. Tuli konduktif disebabkan oleh rusaknya gendang dengar, misalnya berlubangatau rusaknya tulang pendengaranyang berfungsi untuk merambatkan getaran dari gendang dengar ke telinga dalam. Penyebab lain adlah

82 Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani, Fisiologi Manusia, (Malang: Universitas Negeri Malang, 1999), hlm. 154-155

83

peradangan pada telinga tengah yang biasa disebut otitis media. Infeksi pada saluran pernapasan bagian atas misalnya sakit tenggorokan atau influenza dapat menghasilkan tekanan pada telinga tengah samai merusak gendang dengar. Atau penymbatan saluran Eustakius dapat memerangkap cairan dalam telinga tengah dan dapat menimbulkan tuli sementara. Tuli konduktif ini juga dapat disebabkan oleh ostosklerosis, yaitu suatu kondisi dimana terdapat tulang spongiosa yang tumbuh kearah tulang stapes, sehingga tulang stapes tidak mampu bergetar. Dengan demikian tidak mampu meneruskan getaran dari gendang ke koklea.

b. Tuli sensorineural

Adalah suatu jenis ketulian yang terjadi karena kerusakan struktur telinga dalam, yairu pada serabut saraf pendengaran bahkan pada pusat pendengaranya sendiri. Tuli jenis ini dapat disebabkan oleh luka pada kepala pada saat lahir, demam, infeksi bakteri atau virus seperti meningitis atau sifilis tingkat tersier, tumor, multiple sclerosis, penggumpalan darah dalam telinga dalam atau efek samping obat-obatan tertentu.

c. Tuli campuran Merupakan campuran dari tuli konduktif dan tuli sensorineural. 21. Infeksi telinga tengah Biasa disebut otitis media, disebabkan oleh virus atau bakteri dari hidung atau tenggorokan masuk ke telinga tengah melalui saluran eustakius, atau dapat pula pada telinga luar melalui gendang dengar yang berlubang ke telinga tengah. Gejalanya antara lain sakit dalam telinga, demam tinggi, tuli, menggigil, mual, muntah atau sakit tenggorokan. 83

83 Ibid., hlm. 155-156

84

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan perbedaan struktur, tempat dan fungsinya sistem saraf diorganisasi menjadi: (l) sistem saraf pusat (Central Nervous System = CNS), yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang (korda spinalis), dan (2) sistem saraf tepi (Peripherai Nervous System = PNS) yang terdiri dari serabut-serabut saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan bagian tepi tubuh (reseptor dan efektor). Berdasarkan fungsinya sel-sel saraf dibedakan menjadi 3 macam, yaitu (1) sel saraf aferen (sel saraf sensorik), (2) sel saraf eferen (sel saraf motorik), dan (3) sel saraf interneuron (sel saraf asosiasi sel/ saraf perantara). Sel saraf terdiri atas akson, dendrit dan badan sel. Berdasarkan strukturnya sel saraf dibedakan ménjadi tiga macam: (1) sel saraf unipolar, (2) sel saraf bipolar, dan (c) sel saraf multipolar. Sel glial pada sistem saraf terbagi atas oligodendrosit, mikroglia, astrosit dan sel ependymal.Otak terdiri atas beberapa bagian batang otak (brainstem), cerebellum, otak depan (forebrain). Sumsum tulang belakang berada di dalam saluran tulang belakang (kanalis vertebralis), dan berhubungan dengan saraf-saraf spinal. Pada sum-sum tulang belakang terdapat substansia putih dan kelabu. Komponen PNS termasuk saraf kranialis dan cabangnya, saraf tulang belakang dan cabangnya, ganglia, dan reseptor sensorik. Sistem saraf otonom yaitu sistem saraf yang rangsangannya tidak disampaikan ke otak. Dua komponen yang pertama dari neuron motorik dalam setiap jalur otonom disebut neuron preganglionik dan postganglionik. Neuron bersifat elektrik seperti halnya dengan serat otot. Keduanya berkomunikasi satu sama lain menggunakan dua jenis sinyal listrik yaitu potensi bertingkat dan potensial tindakan. Potensial bertingkat (berdegradasi) digunakan hanya untuk komunikasi jarak pendek, sedangkan potensial tindakan memungkinkan komunikasi jarak jauh di dalam tubuh. Sedangkan potensi aksi dalam serat otot disebut potensi aksi otot. Suatu sel saraf akan bersambungan atau berakhir pada salah satu daripada tiga struktur berikut otot, suatu kelenjar, atau sel saraf yang lain. Persambungan antara saraf dengan otot disebut persambungan saraf otot (myoneural junctions) dan persambungan antara dua sel saraf disebut sinaps. Berdasarkan mekanisme transmisi impuls pada suatu sinaps dikenal ada dua macam sinaps, yaitu sinaps listrik (electrical synapses) dan sinaps kimia (chemical synapses). Sedangkan berdasarkan fungsinya dikenal juga dua macam sinaps, yaitu sinaps eksitori dan sinaps inhibitori. Reseptor berdasarkan bentuk energi stimulus khususnya, maka diklasifikasikan menjadi khemoreseptor, mekanoreseptor, fotoreseptor, termoreseptor, dan nosiseptor atau reseptor sakit. Sensasi adalah interpretasi otak terhadap impuls yang datang kepadanya dari saraf sensoris. Pada otak terdapat berbagai macam pusat sensasi yang akan memberitahukan tentang sensasi tertentu kepada kita apabila pusat tadi menerima impuls dari reseptor. Alat indera dibedakan menjadi dua, yaitu indera umum dan indera khusus. Indera umum berupa indera sakit dan indera peraba. Pada indera umum, reseptornya dibedakan menjadi dua, yaitu ujung saraf telanjang dan ujung saraf berkapsul. Sedangkan indera khusus dibedakan menjadi indera penglihatan, indera pendengaran, indera pengecap, indera pembau, dan indera keseimbangan.

85

Gangguan pada sistem saraf akan berakibat gangguan pada pola gerak maupun memori seseorang. Berbagai gangguan tersebut dapat disebabkan oleh faktor usia, bakteri, virus, atau kerusakan akibat kecelakaan. Diantaranya adalah alzheimer’s, kecelakaan cerebrovaskular (CVA) atau stroke, skizofrenia, ataksia, tumor otak, parkinson, afasia, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Shingles (penyakit ruam pada saraf), Multiple Sclerosis (MS), depresi, kecanduan obat dan sistem reward otak, lumbar puncture, katarak, kongjungtivitis, buta malam, buta warna, miopi, hyperopia, astigmatisme, presbyopia, trakoma, tuli, infeksi telinga tengah dan sebagainya.

B. Saran Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis berharap kepada para penulis berikutnya untuk membahas materi ini dengan lebih lengkap. Semoga makalah ini berguna bagi penulis khususnya dan kepada para pembaca umum.

86

DAFTAR RUJUKAN

Campbell, Neil A. and Jane B. Reece. 2010. CAMPBELL Biologi Jilid ke-3. Jakarta: Erlangga Mescher, Anthony L. 2011. Histologi Dasar Junqueira: Teks & Atlas, Alih bahasa Frans Dany, editor edisi bahasa Indonesia Huriawati Hartanto, Ed. 12. Jakarta: EGC Scanlon, Valerie C. 2015. Essentials of Anatomy and Physiologhy. New York: Davis F.A Company Sherwood, Lauralee. 2012. Fundamentals of Human Physiologhy. USA: Graphic Word, Inc. Soewolo, Soedjono Basuki, dan Titi Yudani. 1999. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang Tortora, Gerard J. and Bryan Derrickson. 2009. Principles of Anatomy and Physiology 12 th ed. USA: John Wiley & Sons, Inc. VanPutte, Cinnamon, Jennifer Regarn, dkk. 2014. Selley’s Anatomy and Physiologhy. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

87