Anda di halaman 1dari 11

RMK 8

AKUNTANSI DANA DESA


MANAJEMEN LOGISTIK DAN KEKAYAAN DESA

Oleh:
Made Ayu Vikananda Narensi Sutela (1707532127)
Luh Putu Arwati Cahyaningrum (1707532142)
Anak Agung Istri Sintya Pradnyawati (1707532145)

AKUNTANSI-NON REGULER

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
Semester Genap 2018/2019
PEMBAHASAN

A. Pengertian Singkat Tentang Logistik


Menurut Bowersox (2000:13) mendefinisikan logistik era tahun 1950
sebagai: “ proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan
penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi supplier, diantara fasilitas-
fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan.” Kemudian sesudah tahun 1978
sampai sekarang, menurut Bowersox (2000:24) berkembang konsep logistik
terpadu yang terdiri dari:
1) Operasi logistik terdiri dari;
a. Manajemen distribusi fisik
b. Manajemen material
c. Transfer persediaan barang di dalam perusahaan
2) Koordinasi logistik meliputi empat bidang manjerial, yakni;
a. Peramalan pasar produk
b. Pengolahan pesanan
c. Perencanaan operasi
d. Perencanaan kebutuhan material

B. Manajemen logistik dan logistik desa

Manajemen logistik

Manajemen logistik secara fundamental malaksanakan berbagai fungsi


manajemen yang menggambarkan sebuah siklus. Awal siklus dimulai dari
perencanaan kebutuhan logistik untuk jangka waktu tertentu untuk setiap unit
organisasi. Berdasarkan perencanaan logistik disediakan anggaran dilanjutkan
dengan tahap pengadaan, baik melalui pembelian secara langsung, melalui
lelang maupun penunjukan secara langsug berdasarkan kebutuhan organisasi,
sedangkan untuk kalangan pemerintah didasarkan pada peraturan
perundangan yang berlaku. Tahap selanjutnya dari siklus logistik adalah
penyimpanan dan atau penyaluran untuk digunakan oleh unit-unit yang
membutuhkan sesuai perencanaan. Tahap berikutnya dari siklus logistik
adalah pemeliharaan, baik untuk barang bergerak seeprti mesin-mesin
produksi maupun barang tidak bergerak seperti Gedung. Pada siklus terakhir,
dilaksanakan tahap penghapusan baik untuk barang bergerak maupun barang
tidak bergerak apabila nilai ekonomisnya sudah tidak memadai. Siklus logistik
mulai dari perencanaan, pengadaan dan terutama pemeliharaan tidak
dijalankan secara benar, sehingga menimbulkan pemborosan keuangan
Negara.
Secara teoritis ada lima komponen yang tergabung dalam membentuk
sistem logistik yang meliputi:
1) Struktur fasilitas
Struktur fasilitas yang dipilih oleh suatu organisasi adalah fundamental
bagi hasil akhir logistiknya. Jumlah, besar dan pengaturan geografis dari
fasilitas-fasilitas yang dioperasikan atau digunakan itu mempunyai
hubungan langsung dengan kemampuan pelayanan terhadap pelanggan
organisasi dan terhadap biaya logistiknya.
2) Transportasi
Ada tiga aspek transportasi yang harus diperhatikan karena berhubungan
dengan sistem logistik. Aspek Pertama adalah kecepatan/waktu pelayanan
yang dibutuhkan untuk memindahkan barang dari tempat yang satu
ketempat yang lain. Aspek kedua adalah aspek biaya transportasi. Sistem
logistik hendaklah dirancang untuk meminimumkan biaya transportasi
dalam hubungannya dengan biaya sistem secara keseluruhan. Aspek
ketiga adalah konsistensi.Konsistensi menunjukan prestasi waktu yang
teratur dan tempat yang tetap dari sejumlah pengangkutan
barang/material.
3) Pengadaan persediaan
Pengadaan persediaan diperhitungkan berdasarkan besarnya permintaan
atau demand pelanggan.
4) Komunikasi
Kekurangan dalam mutu informasi dapat menimbulkan banyak masalah.
Kekurangan tersebut adalah informasi yang diterima tidak betul, kurang
lengkap dan informasi yang diterima sudah tidak dibutuhkan lagi atau
kadaluwarsa. Jadi, komunikasi yang cepat dan akurat mempengaruhi
prestasi logistik.
5) Penanganan dan penyimpanan
Dalam arti luas, penanganan dan penyimpanan meliputi pergerakan,
pengepakan, dan pengemasan. Jadi, makin sedikit produk yang ditangani
dalam keseluruhan proses itu, maka makin terbatas dan efisien arus total
fisiknya.
6) Pemeliharaan informasi
Mengumpulkan informasi, menyimpan, dam memanipulasi melakukan
analisis data serta menetapkan prosedur pengendalian.

Logistik Desa

Siklus logistik seharusnya digunakan pula pada pemerintahan desa,


meskipun skalanya terbatas karena jumlah dan jenis logistik yang dikelola masih
sangat terbatas. Agar pemerintah desa nantinya tidak mengalami gegar budaya,
maka manajemen pemerintahan desa, termasuk manajemen logistiknya perlu
dibangun dengan menggunakan paradigma modern. Kelemahan manajemen
logistik yang dialami oleh pemerintah supra desa sudah seharusnya tidak terjadi
pada pemerintah desa, apabila ada keinginan untuk menyiapkannya secara baik,
terprogram dan berkelanjutan. Tahapan dalam siklus logistik tidak dijalankan
dengan baik atau hanya sekedarnya saja. Pada tahap perencanaan, umumnya
pemerintah desa hanya merencanakan kebutuhan logistik untuk satu tahun saja.
Selain karena keterbatasan anggaran juga karena minimnya kemampuan prakiraan
kebutuhan dari perangkat desanya. Proses sangat sederhana, yakni ada kebutuhan-
ada uang-beli, praktis tanpa perencanaan jangka panjang.Perencanaan logistik
desa seharusnya disiapkan oleh sekretaris desa berdasarkan usulan kebutuhan dari
perangkat desa dan pelaksana teknis lapangan serta unsur kewilayahan.
Berdasarkan usulan tersebut disusun skala prioritas pengadaan logistik desa untuk
jangka waktu tertentu.

Tahap kedua dari siklus logistik adalah penganggaran dilanjutkan dengan


tahap ketiga, yakni pengadaan. Berdasarkan rencana kebutuhan logistik yang
disusun oleh sekertaris desa, diajukan usulan penganggarannya kepada kepala
desa untuk dibahas bersama-sama BPD yang kemudian dituangkan dalam
APBDesa. Proses pengadaan barang dan atau jasa di tingkat pemerintah daerah
provinsi, dengan panitia pengadaan barang dan jasa pemerintah sebagai unit yang
memegang peran utama. Untuk tingkat pemerintah desa, mekanisme pengadaan
barang dan jasa tentu tidak serumit pada tingkat provinsi karena jumlah dan
jenisnya memang relatif terbatas.

Tahap selanjutnya dari siklus logistik adalah penyimpanan dan penyaluran


kepada unit-unit yang membutuhkan sesuai dengan rencana kebutuhan barang
yang telah diajukan sebelumnya. Tahap penyaluran mungkin merupakan tahap
yang relative mudah, apalagi untuk ruang lingkup pemerintah desa yang jumlah
unitnya sangat terbatas. Tahap yang perlu memperoleh perhatian adalah tahap
penyimpanan, baik untuk barang habis pakai dan terutama untuk barang modal
berupa mesin, tanah, bangunan, alat-alat kantor dan lain sebagainya. Kelemahan
pada tahap penyimpanan akan menimbulkan pemborosan atau bahkan kerugian
keuangan desa kerena barang menjadi cepat rusak, hilang atau dipindah tangankan
menjadi milik orang lain. Tahap terakhir dari siklus logistik setelah tahap
penyaluran/pendistribusian adalah tahap penghapusan. Tahap ini sering kali
kurang memperoleh perhatian padahal penghapusan yang tidak sesuai ketentuan
dapat menimbulkan potensi kerugian keuangan desa.

C. Manajemen kekayaan desa yang dikelola oleh pemerintah desa


Seperti dikatakan oleh Boeke (1971:9) bahwa desa adalah sebagai
persekutuan hukum pribumi yang terkecil, merupakan persekutuan pribumi yang
paling kecil dengan:
a. Kekuasaan sendiri
b. Daerah (teritorium) sendiri
c. Kekayaan/pendapatan sendiri

Kekayaan desa adalah barang milik desa yang berasal dari kekayaan asli
desa, dibeli atau diperoleh atas beban anggaran pendapatan dan belanja desa atau
perolehan hak lainnya yang sah. Demikian pula di peraturan Menteri dalam
Negeri tentang pedoman Administrasi Desa, tidak ada bagian khusus yang
mengatur tentang manajemen logistik desa. Pengelolaan kekayaan desa
dimasukan kategori administrasi umum, yang dicatat dalam dua bentuk buku,
yakni buku inventaris desa dan buku tanah milik desa/tanah kas desa.Dalam Pasal
2 Permendagri No 1 tahun 2016 tentang Aset Desa ini dijelaskan tentang jenis dan
kekayaan aset Desa. Pasal 2 ayat 1 Menyebutkan Jenis Aset Desa adalah:

1. Kekayaan asli desa;

2. Kekayaan milik desa yang dibeli atau diperoleh atas beban APBDesa;

3. Kekayaan desa yang diperoleh dari hibah dan sumbangan atau yang sejenis;

4. Kekayaan desa yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak


dan/atau diperoleh berdasarkan ketentuan peraturan undang-undang;

5. Hasil kerja sama desa; dan

6. Kekayaan desa yang berasal dari perolehan lain yang sah.

Pasal 2 ayat 2 menyebutkan tentang kekayaan asli desa yaitu, terdiri atas:

1. tanah kas desa;

2. pasar desa;

3. pasar hewan;

4. perahu;

5. bangunan desa;

6. pelelangan ikan yang dikelola oleh desa;

7. pelelangan hasil pertanian;

8. milik desa;

9. mata air milik desa;

10. pemandian umum; dan

11. lain-lain kekayaan asli desa.


Dalam Pasal 2 Permendagri No 1 tahun 2016 tentang Aset Desa ini dijelaskan
tentang jenis dan kekayaan aset Desa. Pasal 2 ayat 1 Menyebutkan Jenis Aset Desa
adalah:

1. Kekayaan asli desa;


2. Kekayaan milik desa yang dibeli atau diperoleh atas beban APBDesa;
3. Kekayaan desa yang diperoleh dari hibah dan sumbangan atau yang sejenis;
4. Kekayaan desa yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak
dan/atau diperoleh berdasarkan ketentuan peraturan undang-undang;
5. Hasil kerja sama desa; dan
6. Kekayaan desa yang berasal dari perolehan lain yang sah.

Berkaitan dengan manajemen kekayaan desa yang dijalankan oleh pemerintah


desa, ada beberapa peraturan pada tingkatan peraturan pemerintah dalam negeri
yang mengaturnya, mengenai pengelolaan kekayaan desa dengan prinsip-prinsip
sebagai berikut.

1) Pengelolaan kekayaan desa dilaksanakan baerdasarkan asas fungsional,


kepastian hukum, keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai.
2) Pengelolaan kekayaan desa harus berdaya guna dan berhasil guna untuk
meningkatkan pendapatan desa.
3) Pengelolaan kekayaan desa sebagaimana di maksud pada ayat (1) harus
mendapatkan persetujuan BPD

Dalam manajemen kekayaan desa terdapat 5 asas yakni;

1. Asas fungsional
Asas fungsional dalam manajemen logistik desa adalah bahwa kekayaan yang
dimiliki oleh desa harus digunakan sesuai status, fungsi serta kegunaanya.
2. Asas kepastian hukum
Asas kepastian hukum pada permendagri tersebut adalah agar semua
kekayaan desa baik cara-cara memilikinya maupun bukti kepemilikannya
sudah memenuhi kaidah-kaidah hukum, sehingga tidak menimbulkan masalah
di kemudian hari.
3. Asas keterbukaan
Maksud dari asas ini ialah bahwa dalam proses memiliki, menyimpan dan
menggunakan kekayaan desa, bersifat terbuka, sehingga para pemangku
kepentingan memperoleh informasi yang cukup dan mereka menjadi tahu.
4. Asas efisiensi
Maksud dari asas ini adalah bahwa dalam memperoleh menggunakan dan
menghapus kekayaan desa harus bersifat efisisen, sehingga dapat dikurangi
terjadinya pemborosan kekayaan desa, yang pada gilirannya akan membuat
nilai kekayaan tersebut dari waktu ke waktu menjadi semakin menurun.
5. Asas akuntabilitas dan kepastian nilai
Maksud dari asas ini yaitu bahwa dalam proses memiliki, menggunakan,
menyimpan, dan menghapus kekayaan desa harus memperhatikan
pertanggung gugatannya kepada para pemangku kepentingan sebab prinsip
dasar mekanisme pengelolaan kekayaan desa mengikuti mekanisme
pengelolaan kekayaan negara.
Prinsip dasar lainnya dalam pengelolaan kekayaan desa adalah bahwa biaya
yang diperlukan untuk mengadakan, memelihara, menggunakan serta menghapus
kekayaan desa dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja desa.
Selanjutnya diatur pula ketentuan bahwa:” kekayaan desa dikelola oleh
pemerintah desa dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan
penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat desa.”
Terdapat 5 hal dalam manajemen kekayaan desa yakni;
1. Proses perencanaan dan perolehan kekayaan desa
Perencanaan kebutuhan adalah kegiatan merumuskan rincian kebutuhan
kekayaan desa untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah ada
dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar melakukan tindakan yang
akan datang. Perencanaan kebutuhan kekayaan desa disusun dalam rencana
kerja dan anggaran pendapatan dan belanja desa stelah memperhatikan
ketersediaan barang milik desa yang ada.
2. Pemanfaatan kekayaan desa
Pemanfaatan kekayaan desa melalui cara sewa menyewa dilakukan dengan
dasar:
a. Menguntungkan desa
b. Jangka waktu paling lama 3 tahun sesuai dengan jenis kekayaan desa
dan dapat diperpanjang
c. Penetapan tarif sewa ditetapkan dengan keputusan kepala desa setelah
mendapat persetujuan BPD.

Pemanfaatan kekayaan desa dapat dilakukan melalui cara lainnya yakni


bangun-serah-guna dan bangun-guna-serah. Menurut pasal 1 butir nomor (21)
permendagri no 4 tahun 2007 disebutkan bahwa: “bangun serah guna adalah
pemanfaatan kekayaan desa berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan
bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai
pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam
jangka waktu tertentu yang disepakati.” Istilah bangun-guns-serah atau BGS
didefinisikan menurut pasal 1 butir nomor (20) permendagri no 4 tahun 2007,
yaitu sebagai berikut “bangun guna serah adalah pemanfaatan kekayaan desa
berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana
berikut fasilitasnya, kemudian di dayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam
jangka waktu tertentu yang telah disepakati oleh selanjutnya diserahkan kembali
tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya
jangka waktu tertentu tersebut.”

3. Hasil pemanfaatan kekayaan desa


Pemanfaatan kekayaan desa baik melalui cara sewa, pinjam pakai, kerja sama
pemanfaataan maupun bangun serah guna dan bangun guna serah bertujuan untuk
meningkatkaan nilai dari kekayaan desa itu sendiri. Oleh karen aitu, hasil
penerimaan dari pemanfaatan kekayaan desa berupa penerimaan atau pendapatan
wajib disetor seluruhnya pada rekening desa, bukan rekening pejabat desa.

4. Pengelolaan pasar desa


Dengan gaya pengelolaan ekonomi nasional yang noliberal, membuat berbagai
pasar desa kemudian mati tergilas oleh usaha retail atau eceran yang dimiliki oleh
penguasa kelas kakap, yang memonopoli penjualan mulai dari hulu sampai ke
hilir. Ketentuan penting lainnya yang diatur dalam permendagri no 42 th 2007
bahwa pengelolaan pasar desa dilaksanakan oleh pemerintah desa tetapi
manajemennya dibuat secara terpisah dengan manajemen pemerintah desa.
5. Cadangan pangan pemerintah desa
Pemerintah pusat melalui peraturan Menteri dalam negeri no 30 th 2008 tentang
cadangan pangan pemerintah desa telah membuat kebijakan yang bertujuan untuk
menjamin ketersediaan pangan yang cukup, bermutu, aman, merata, dan
terjangkau di desa. Berdasarkan permendagri tersebut, pemerintah desa
diwajibkan menyelenggarakan caadangan pangan sebagai salah satu sumber
penyediaan pangan bagi masyarakat desa. Mekanisme penyediaan pangan desa
pada dasarnyaa juga menggunakan siklus dalam menejemen logistik sebagaimana
telah dijelaskan pada kegiatan belajar sebelumnya.
Daftar Pustaka

Permendagri No 1 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan Aset Desa


http://mbieadministrasipemererintahandesa.blogspot.com/2018/04/modul-6-
manajemen-logistik-dan-kekayaan.html?m=1 diaksees pada tanggal 21/4/2019