Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit jantung koronari disebut sebagai penyakit pembunuh nomor satu di
dunia dan dianggap musuh nomor satu dalam kehidupan yang paling ditakuti.
Isu-isu yang dikaitkan dengan penyakit ini lebih banyak berkisar kepada aspek
pencegahan yang termasuk gaya hidup sehat, makanan yang seimbang,
olahraga dan sebagainya. Namun, statistik kematian mengenai penyakit jantung
tetap mencatatkan peningkatan yang membimbangkan. (Noer, Sjaifoellah,
1996).

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan organisasi Federasi Jantung


Sedunia (World Heart Federation) jantung akan menjadi penyebab utama
kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010. Saat ini, sedikitnya 78%
kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan masyarakat
miskin dan menengah. Berdasarkan kondisi itu, dalam keadaan ekonomi
terpuruk maka upaya pencegahan merupakan hal terpenting untuk menurunkan
penyakit kardiovaskuler pada tahun 2010.

Di negara berkembang dari tahun 1990 sampai 2020, angka kematian akibat
penyakit jantung akan meningkat 137% pada laki-laki dan 120% pada wanita,
sedangkan di negara maju peningkatannya lebih rendah yaitu 48% pada laki-
laki dan 29% pada wanita. Ditahun 2020, diperkirakan penyakit kardiovaskuler
menjadi penyebab kematian 125 orang setiap tahunnya. Oleh karena itu
penyakit jantung penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di dunia. (Vany
Yany, 2010).

Di Indonesia, angka kematian karena penyakit jantung koroner dalam 10 tahun


terakhir ini meningkat mencapai 53,5% per 100.000 penduduk Indonesia
(Surevei Kesehatan Rumah Tangga Nasional, 2004).

Berdasarkan data pola penyakit di rumah sakit se-Jakarta tahun 2005, penyakit
jantung dan pembuluh darah menempati urutan ketiga. Kejadian kasus
penyakit jantung koroner mengalami peningkatan di Jakarta. Berdasarkan data

1
rumah sakit se-Jakarta Timur pada tahun 2007 sebanyak 24,92%, tahun 2008
sebanyak 26.85%. (Vany Yany, 2010).

Data dari RS Harapan Kita ternyata pasien penderita Penyakit Jantung Koroner
baik yang rawat jalan maupun rawat inap terjadi pengingkatan 10% setiap
tahun. Bahkan dalam setahun terdapat 500 orang pasien bedah jantung. (Novi
Herdiyani, 2010).

Memberikan layanan berupa asuhan keperawatan secara langsung kepada


pasien (individu, keluarga, maupun komunitas) sesuai dengan kewenangannya,
sebagai pengelola (manager) yaitu perawat mempunyai peran dan tanggung
jawab dalam mengelola layanan keperawatan disemua tatanan layanan
kesehatan, sebagai pembela (advokad) berfungsi membela kepentingan pasien,
sebagai Pendidik (edukator) yaitu dengan memberikan informasi kesehatan
melalui upaya perawat secara promotif yang merupakan upaya untuk
meningkatkan derajat kesehatan. Upaya preventif dengan menyarankan agar
menjalani pola hidup sehat antara lain makan-makanan yang rendah lemak,
kurangi merokok dan rajin berolahraga. Upaya kuratif yaitu memberi saran
pasien agar kooperatif yaitu dengan mentaati peraturan perawatan dan terapi
yang dianjurkan dokter. Dan upaya rehabilitatif yaitu dengan menganjurkan
pasien agar tetap kontrol ke dokter secara rutin, menjaga diet jangan memakan
yang tinggi kolesterol, penyesuaian gaya hidup rajin belorah raga dan tidak
melakukan aktifitas fisik yang berat.

Berdasarkan uraian di atas, meningkatnya angka kematian setiap tahunnya dan


pentingnya peran perawat dari segi upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif sehingga penulis tertarik untuk menerapkan pendekatan proses
keperawatan secara komprehensif.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan kelompok memilih judul tersebut adalah kelompok mendapatkan
contoh kasus dalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan
Coronary Artery Disease.
2. Tujuan Khusus

2
Setelah menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan Coronary
Artery Disease maka kelompok diharapkan mampu:
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan Coronary Artery
Disease.
b. Menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Coronary Artery
Disease.
c. Merencanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Coronary Artery
Disease.
d. Mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus pada
pasien dengan Coronary Artery Disease.
e. Membuat kesimpulan asuhan keperawatan pada pasien dengan Coronary
Artery Disease.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Penyakit arteri koroner (CAD) adalah penyempitan atau penyumbatan arteri
koroner, arteri yang menyalurkan darah ke otot jantung. Bila aliran darah
melambat, jantung tak mendapat cukup oksigen dan zat nutrisi. Hal ini
biasanya mengakibatkan nyeri dada yang disebut angina. Bila satu atau lebih
dari arteri koroner tersumbat sama sekali, akibatnya adalah serangan jantung
(kerusakan pada otot jantung). (Brunner and Sudarth, 2001).

3
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah penebalan dinding dalam pembuluh
darah jantung (pembuluh koroner). Di dalam kondisi seperti ini, darah yang
mengalir ke otot jantung berkurang, sehingga organ yang berukuran sekitar
sekepalan tangan itu kekurangan darah.

Penyakit jantung koroner/penyakit arteri koroner merupakan suatu manifestasi


khusus dan aterosklerosis pada arteri koroner. Plak terbentuk pada percabangan
arteri yang ke arah arteri kiri, arteri koronaria kanan dan agak jarang pada arteri
sirkumflek.
Aliran darah ke distal dapat mengalami obstruksi secara permanen maupun
sementara yang disebabkan oleh akumulasi plak atau penggumpalan. Sirkulasi
kolateral berkembang di sekitar obstruksi arteromasus yang menghambat
pertukaran gas dan nutrisi ke miokardium.

(Joanne and Gloria. 1995)


Gagal jantung sering disebut dengan gagal jantung kongestif adalah
ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah yang adekuat untuk
memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi.Istilah gagal jantung
kongestif sering digunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri dan kanan
(Brunner & Suddarth, 2002).

Penyakit jantung koroner/penyakit arteri koroner (penyakit jantung


artherostrofik) merupakan suatu manifestasi khusus dan arterosclerosis pada
arteri koroner. Unsur lemak yang disebut palque dapat terbentuk didalam arteri,

4
menutup dan membuat aliran darah dan oksigen yang dibawanya menjadi
kurang untuk disuplai ke otot jantung. Plaque terbentuk pada percabangan
arteri yang ke arah aterion kiri, arteri koronaria kanan dan agak jarang pada
arteri sirromflex. Aliran darah ke distal dapat mengalami obstruksi secara
permanen maupun sementara yang di sebabkan oleh akumulasi plaque atau
penggumpalan. Sirkulasi kolateral berkembang di sekitar obstruksi arteromasus
yang menghambat pertukaran gas dan nutrisi ke miokardium.
Kegagalan sirkulasi kolateral untuk menyediakan supply oksigen yang adekuat
ke sel yang berakibat terjadinya penyakit arteri koronaria, gangguan aliran
darah karena obstruksi tidak permanen (angina pektoris dan angina preinfark)
dan obstruksi permanen (miocard infarct) (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Dep.kes, 1993).

Kegagalan sirkulasi kolateral untuk menyediakan suplai oksigen yang adekuat


ke sel yang berakibat terjadinya penyakit arteri koronaria, gangguan aliran
darah karena obstruksi tidak permanen (angina pektoris dan angina preinfark)
dan obstruksi permanen (miocard infarct). (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Dep.kes, 1993).

B. Etiologi
Penyakit arteri koroner bisa menyerang semua ras, tetapi angka kejadian paling
tinggi ditemukan pada orang kulit putih. Tetapi ras sendiri tampaknya bukan
merupakan bourgeois penting dalam gaya hidup seseorang. Secara spesifik,
faktor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit arteri koroner
adalah:
1. Berusia lebih dari 45 tahun (bagi pria)
Sangat penting bagi kaum pria mengetahui usia rentan terkena penyakit
jantung koroner. Pria berusia lebih dari 45 tahun lebih banyak menderita
serangan jantung ketimbang pria yang berusia jauh di bawah 45 tahun.
2. Berusia lebih dari 55 tahun atau mengalami menopause dini sebagai akibat
operasi (bagi wanita)
Wanita yang telah berhenti mengalami menstruasi (menopause) secara
fisiologis ataupun secara dini (pascaoperasi) lebih kerap terkena penyakit

5
jantung koroner apalagi ketika usia wanita itu telah menginjak usila (usia
lanjut).
3. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga
Riwayat penyakit jantung di dalam keluarga sering merupakan akibat dari
profil kolesterol yang tidak normal, dalam artian terdapat kebiasaan yang
"buruk" dalam segi diet keluarga.
4. Diabetes
Kebanyakan penderita diabetes meninggal bukanlah karena meningkatnya
level gula darah, namun karena kondisi komplikasi ke jantung mereka.
5. Merokok
Merokok telah disebut-sebut sebagai salah satu faktor risiko utama penyakit
jantung koroner. Kandungan nikotin di dalam rokok dapat merusak dinding
(endotel) pembuluh darah sehingga mendukung terbentuknya timbunan
lemak yang akhirnya terjadi sumbatan pembuluh darah.
6. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma
langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga
memudahkan terjadinya arterosklerosis koroner (faktor koroner) yang
merupakan penyebab penyakit arteri/jantung koroner.
7. Kegemukan (obesitas)
Obesitas (kegemukan yang sangat) bisa merupakan manifestasi dari
banyaknya lemak yang terkandung di dalam tubuh. Seseorang yang obesitas
lebih menyimpan kecenderungan terbentuknya plak yang merupakan cikal
bakal terjadinya penyakit jantung koroner.
8. Gaya hidup buruk
Gaya hidup yang buruk terutama dalam hal jarangnya olahraga ringan yang
rutin serta pola makan yang tidak dijaga akan mempercepat seseorang
terkena pneyakit jantung koroner.
9. Stress
Banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa bila menghadapi situasi
yang tegang, dapat terjadi aritmia jantung yang membahayakan jiwa.

6
C. Patofisiologi

Aterosklerosis dimulai ketika kolesterol, lemak tetimbun di intima arteri.


Timbunan ini akan mengakibatkan terganggunya absorbsi nutrient sel-sel
endotel yang menyusun lapisan dalam pembuluh darah dan menyumbat aliran
darah karena timbunan ini menonjol ke lumen pembuluh darah. Sel-sel endotel
pembuluh darah yang terkena akan mengalami nekrotik dan menjadi jaringan
parut.

Selanjutnya lumen bertambah sempit dan aliran darah bisa terhambat. Pada
lumen yang menyempit dan berdinding kasar, akan cenderung terjadinya
pembentukan bekuan darah. Hal ini menjelaskan bagaiman terjadinya
koagulasi intravaskuler yang diikuti oleh penyakit tromboemboli.
1. CAD ditandai oleh penyempitan koroner arteri akibat
aterosklerosis, spasme atau, jarang, emboli.

7
2. Perubahan aterosklerosis pada arteri koroner hasil kerusakan ke
lapisan dalam arteri koroner dengan kekakuan pembuluh darah dan respon
lalai berkurang.
3. Akumulasi deposit lemak dan lipid, bersama dengan
perkembangan plak fibrosa atas kawasan yang rusak di pembuluh darah,
menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga mengurangi ukuran
lumen pembuluh darah dan menghambat aliran darah ke jaringan miokard.
4. Penurunan pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan
menyebabkan iskemia miokard transien dan nyeri.
5. Penyebab plak arteri mengeras keras, sedangkan plak lembut dapat
menyebabkan pembentukan bekuan darah.

D. Jenis CAD
1. Stabil
a. Jenis yang paling umum, dipicu oleh aktivitas fisik, stres emosional,
paparan suhu panas atau dingin, makanan berat dan merokok.
b. Terjadi dalam pola yang teratur, biasanya berlangsung 5 menit atau
kurang dan mudah hilang dengan obat-obatan.
2. Labil
a. Mungkin onset baru nyeri dengan pengerahan tenaga atau saat istirahat,
atau percepatan terbaru dalam keparahan nyeri.
b. Terjadi pada tidak ada pola teratur, biasanya berlangsung lebih lama (30
menit), umumnya tidak lega dengan istirahat atau obat-obatan.
c. Kadang-kadang dikelompokkan dengan infark miokard (MI) di bawah
diagnosis sindrom koroner akut (ACS).
3. Variant (prinzmetal)
a. Langka , biasanya terjadi saat istirahat - tengah malam hingga dini hari
nyeri mungkin parah.
b. Elektrokardiogram (EKG) berubah karena koroner spasme arteri.

E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis menurut Price & Lorraine (2001) seperti:
1. Dada terasa tak enak (digambarkan sebagai mati rasa, berat, atau terbakar,
dapat menjalar ke pundak kiri, lengan, leher, punggung, atau rahang)

8
2. Sesak napas
3. Berdebar-debar
4. Denyut jantung lebih cepat
5. Pusing
6. Mual
7. Kelemahan yang luar biasa

F. Komplikasi
1. Aritmia
Merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan. Aritmia yaitu
gangguan dalam irama jantung yang bisa menimbulkan perubahan
eloktrofisiologi otot-otot jantung.
Perubahan elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk
potensial aksi yaitu rekaman grafik aktivitas listrik sel. Misalnya
perangsangan simpatis akan meningkatkan kecepatan denyut jantung.
2. Gagal Jantung Kongestif
Merupakan kongesti sirkulasi akibat disfungsi miokard. Disfungsi ventrikel
kiri atau gagal jantung kiri akan menimbulkan kongesti pada vena

9
pulmonalis sedangkan pada disfungsi ventrikel kanan akan menimbulkan
kongesti pada vena sistemik.
3. Syok kardikardiogenik
Syok kardiogenik diakibatkan oleh disfungsi nyata ventrikel kiri sesudah
mengalami infark yang massif. Timbulnya lingkaran setan perubahan
hemodinamik progresif hebat yang irreversible yaitu penurunan perfusi
perifer, penurunan perfusi koroner, peningkatan kongesti paru yang bisa
berakhir dengan kematian.
4. Disfungsi Otot Papillaris
Disfungsi iskemik atau rupture nekrotik otot papilaris akan mengganggu
fungsi katup mitralis. Inkompetensi katup mengakibatkan aliran balik dari
ventrikel kiri ke atrium kiri sebagai akibat pengurangan aliran ke aorta dan
peningkatan kongesti pada atrium kiri dan vena pulmonalis.
5. Ventrikuler Aneurisma
Aneurisma ini biasanya terjadi pada permukaan atrium atau apek jantung.
Aneurisma ventrikel akan mengembang bagaikan balon pada setipa sistolik,
teregang secara pasif oleh sebagian curah sekuncup. Aneurisma ventrikel
dapat menimbulkan 3 masalah yaitu gagal jantung kongestif kronik,
embolisasi sistemik dari thrombus mural dan aritmia ventrikel refrakter.
6. Perikarditis
Infark transmural dapat membuat lapisan epikardium yang langsung
berkontak dengan pericardium menjadi kasar, sehingga merangsang
permukaan pericardium dan menimbulkan reaksi peradangan.

7. Emboli Paru
Emboli paru bisa menyebabkan episode dipsnea, aritmia atau kematian
mendadak. Trombosis vena profunda lebih lazim pada pasien payah jantung
kongestif yang parah.

G. Pemeriksaan Laboratorium Dan Diagnostik Penunjang

10
1. Analisa gas darah (AGD)
2. Pemeriksaan darah lengkap
3. Hb, Ht
4. Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran elektrokardiogram
(EKG) adalah pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk adanya PJK.
Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui apakah sudah ada tanda-
tandanya. Dapat berupa serangan jantung terdahulu, penyempitan atau
serangan jantung yang baru terjadi, yang masing-masing memberikan
gambaran yang berbeda.
5. Foto Rontgen Dada
Dari foto rontgen dada dapat menilai ukuran jantung, ada-tidaknya
pembesaran (Kardomegali). Di samping itu dapat juga dilihat gambaran
paru. Kelainan pada koroner tidak dapat dilihat dalam foto rontgen ini. Dari
ukuran jantung dapat dinilai apakah seorang penderita sudah berada pada
PJK lanjut. Mungkin saja PJK lama yang sudah berlanjut pada payah
jantung.
6. Pemeriksaan laboratorium
Dilakukan untuk mengetahui kadar trigliserida sebagai factor resiko
meningkat. Dari pemeriksaan darah juga diketahui ada-tidaknya serangan
jantung akut dengan melihat kenaikan enzim jantung
7. Treadmill
Berupa ban berjalan serupa dengan alat olah raga umumnya, namun
dihubungkan dengan monitor dan alat rekam EKG. Prinsipnya adalah
merekam aktifitas fisik jantung saat latihan. Dapat terjadi berupa gambaran
EKG saat aktifitas, yang memberi petunjuk adanya PJK.
Hal ini disebabkan karena jantung mempunyai tenaga serap, sehingga pada
keadaan sehingga pada keadaan tertentu dalam keadaan istirahat gambaran
EKG tampak normal.
8. Kateterisasi Jantung
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam selang
seukuran ujung lidi. Selang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi

11
(arteri). Bisa melalui pangkal paha, lipatanlengan atau melalui pembuluh
darah di lengan bawah. Kateter didorong dengan tuntunan alar rontgen
langsung ke muara pembuluh koroner. Setelah tepat di lubangnya, kemudian
disuntikkan cairan kontras sehingga mengisi pembuluh koroner yang
dimaksud. Setelah itu dapat dilihat adanya penyempitan atau malahan
mungkin tidak ada penyumbatan.

Penyempitan atau penyumbatan ini dapat saja mengenai beberapa tempat


pada satu pembuluh koroner. Bisa juga sekaligus mengenai beberapa
pembuluh koroner. Atas dasar hasil kateterisasi jantung ini akan dapat
ditentukan penanganan lebih lanjut. Apakah apsien cukup hanya dengan
obat saja, disamping mencegah atau mengendalikan factor resiko. Atau
mungkin memerlukan intervensi yang dikenal dengan balon. Banyak juga
yang menyebut dengan istilah ditiup atau balonisasi. Saat ini disamping
dibalon dapat pula dipasang stent, semacam penyangga seperti cincin atau
gorng-gorong yang berguna untuk mencegah kembalinya penyempitan. Bila
tidak mungkin dengan obat-obatan, dibalon dengan atau tanpa stent, upaya
lain adalah dengan melakukan bedah pintas koroner.

H. Penatalaksanaan
Berbagai obat-obatan membantu pasien dengan penyakit arteri jantung. Yang
paling umum diantaranya:
1. Aspirin / Klopidogrel / Tiklopidin
Obat-obatan ini mengencerkan darah dan mengurangi kemungkinan
gumpalan darah terbentuk pada ujung arteri jantung menyempit, maka dari
itu mengurangi resiko serangan jantung.

2. Beta-bloker (e.g. Atenolol, Bisoprolol, Karvedilol)


Obatan-obatan ini membantu untuk mengurangi detak jantung dan tekanan
darah, sehingga menurunkan gejala angina juga melindungi jantung.
3. Nitrates (e.g. Isosorbide Dinitrate)
Obatan-obatan ini bekerja membuka arteri jantung, dan kemudian
meningkatkan aliran darah ke otot jantung dan mengurangi gejala nyeri

12
dada. Bentuk nitrat bereaksi cepat, Gliseril Trinitrat, umumnya diberikan
berupa tablet atau semprot di bawah lidah, biasa digunakan untuk
penghilang nyeri dada secara cepat.
4. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (e.g. Enalapril, Perindopril)
and Angiotensin Receptor Blockers (e.g. Losartan, Valsartan)
Obatan-obatan ini memungkinkan aliran darah ke jantung lebih mudah, dan
juga membantu menurunkan tekanan darah.
5. Obatan-obatan penurun lemak (seperti Fenofibrat, Simvastatin,
Atorvastatin, Rosuvastatin)
Obatan-obatan ini menurunkan kadar kolesterol jahat (Lipoprotein Densitas-
Rendah), yang merupakan salah satu penyebab umum untuk penyakit
jantung koroner dini atau lanjut. Obat-obatan tersebut merupakan andalan
terapi penyakit jantung koroner.
6. Intervensi Jantung Perkutan
Ini adalah metode invasif minimal untuk membuka arteri jantung yang
menyempit. Melalui selubung plastik ditempatkan dalam arteri baik
selangkang atau pergelangan, balon diantar ke segmen arteri jantung yang
menyempit, dimana itu kemudian dikembangkan untuk membuka
penyempitan. Kemudian, tube jala kabel kecil (cincin) disebarkan untuk
membantu menahan arteri terbuka. Cincin baik polos (logam sederhana)
atau memiliki selubung obat (berlapis obat). Metode ini seringkali
menyelamatkan jiwa pasien dengan serangan jantung akut. Untuk penyakit
jantung koroner stabil penyebab nyeri dada, ini dapat meringankan gejala
angina dengan sangat efektif. Umumnya, pasien dengan penyakit pembuluh
darah single atau double mendapat keuntungan dari metode ini.
Dengan penyakit pembuluh darah triple, atau keadaan fungsi jantung buruk,
prosedur bedah dikenal dengan Bedah Bypass Arteri Jantung sering
merupakan alternatif yang baik atau pilihan pengobatan yang lebih baik.
7. Operasi
a. Bedah Bypass Arteri Jantung (CABG)
CABG melibatkan penanaman arteri atau vena lain dari dinding dada,
lengan, atau kaki untuk membangun rute baru untuk aliran darah

13
langsung ke otot jantung. Ini menyerupai membangun jalan tol parallel
ke jalan yang kecil dan sempit. Ini adalah operasi yang aman, dengan
rata-rata resiko kematian sekitar 2%. Pasien tanpa serangan jantung
sebelumnya dan melakukan CABG sebagai prosedur elektif, resiko dapat
serendah 1 persen.
b. Revaskularisasi Transmiokardia
Untuk pasien dengan pembuluh darah yang terlalu kecil untuk melakukan
CABG, prosedur disebut Revaskularisasi Transmiokardia juga tersedia di
NHCS. Pada prodesur ini, laser digunakan untuk membakar banyak
lubang kecil pada otot jantung. Beberapa lubang ini berkembang ke
pembuluh darah baru, dan ini membantu mengurangi angina.

I. Asuhan Keperawatan Pada Pasien CAD Secara Teori


1. Pengkajian Keperawatan
a. Aktifitas
1) Dilaporkan:
a) Kelemahan Umum
b) Tidak mampu melakukan aktifitas hidup
2) Ditandai dengan:
a) Tekanan darah berkisar antara 124/91 sampai dengan 137/97 mmhg
b) Denyut nadi berkisar antara 100-112 x/menit
c) Pernapasan sekitar 16-20 x/menit
d) Terjadi perubahan sesuai dengan aktifitasnya dan rasa nyeri yang
timbul sekali-sekali saat batuk.

b. Sirkulasi
1) Dilaporkan:
a) Riwayat adanya Infark Miokard Akut, tiga atau lebih penyakit
arteri koronaria, kelainan katub jantung, hipertensi.
2) Ditandai dengan:
a) Tekanan darah yang tidak stabil, irama jantung teratur
b) Disritmia / Perubahan EKG

14
c) Bunyi jantung abnormal: S3 / S4 murmur
d) Sianosis pada membrane mukosa/kulit
e) Dingin dan kulit lembab
f) Edema / JVD
g) Penurunan denyut nadi perifer
h) Perubahan status mental
c. Status Ego
1) Dilaporkan:
a) Merasa tidak berdaya atau pasrah
b) Marah atau ketakutan
c) Ketakutan akan kematian, menjalani operasi dan komplikasi yang
timbul
d) Takut akan perubahan gaya hidup atau fungsi peran
2) Ditandai dengan:
a) Kelemahan yang sangat
b) Insomnia
c) Ketegangan
d) Menghindari kontak mata
e) Menangis
f) Perubahan tekanan darah
g) Perubahan pola napas
d. Makan/Minum
1) Dilaporkan:
a) Perubahan berat badan
b) Hilangnya nafsu makan
c) Nyeri abdomen
d) Nausea atau muntah
e) Perubahan frekuensi miksi atau meningkat
2) Ditandai dengan:
a) Menurunnya berat badan
b) Kulit kering, turgor kulit menurun
c) Hipotensi postural

15
d) Bising usus menurun
e) Edema (umum/lokal)
e. Sensoris
1) Dilaporkan:
a) Sering pusing
b) Vertigo
2) Ditandai dengan:
a) Perubahan orientasi atau kadang berbicara tidak relefan
b) Mudah marah, tersinggung, apatis
f. Nyeri/kenyamanan
1) Dilaporkan:
a) Nyeri dada atau angina
b) Nyeri post operasi
c) Ketidaknyamanan karena adanya luka operasi
2) Ditandai dengan:
a) Post operatif
b) Wajah tampak kesakitan
c) Perilaku tidak tenang
d) Membatasi gerakan
e) Gelisah
f) Kelemahan
g) Perubahan tekanan darah, nadi dan pernapasan
g. Pernapasan
1) Dilaporkan:
a) Napas cepat dan pendek
b) Post operatif
c) Ketidakmampuan untuk batuk dan napas dalam
2) Ditandai dengan:
a) Post operatif
b) Penurunan pengembangan rongga dada
c) Sesak napas (normal karena torakotomi)
d) Tanpa suara napas (atelektasis)

16
e) Kecemasan
f) Perubahan pada ABGs / pulse oxymetri
h. Rasa Aman
1) Dilaporkan:
a) Periode infeksi perbaikan katub
2) Ditandai dengan:
a) Post operatif: perdarahan dari daerah dada atau berasal dari insisi
daerah donor
i. Penyuluhan
1) Dilaporkan:
a) Factor resiko seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi,
stroke
b) Penggunaan obat-obat kardiovaskuler yang bervariasi
c) Memperbaiki kegagalan atau kekurangan

2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko Tinggi Penurunan Cardiac Output dengan faktor resiko:
1) Penurunan kontraktilitas miokardium sekunder akibat pembedahan
dinding ventrikel, Miokard Infark, respon pengobatan
2) Penurunan preload (hipovolemia)
3) Penurunan dalam konduksi elektrikal (distritmia)
b. Gangguan rasa nyaman: Nyeri (akut) sehubungan dengan:
1) Sternotomi (insisi mediastinum) dana tau insisi pada daerah donor.
2) Miokardial iskemia (MI akut angina)
3) Peradangan pada jaringan atau edema
4) Trauma saraf pada intra operatif
5) Kecemasan, gelisah, mudah tersinggung
6) Gangguan perilaku
7) Peningkatan denyut nadi
c. Perubahan Peran sehubungan dengan:
1) Sehubungan dengan:
a) Krisis Situasi atau proses penyembuhan

17
b) Ketidakpastian akan masa depan
2) Ditandai dengan:
a) Kemunduran atau perubahan kemampuan fisik untuk
mengembalikan peran
b) Perubahan peran yang sesuai atau biasanya atau tanggung jawab
c) Perubahan dalam diri atau persepsi lain terhadap perannya
d. Resiko tinggi tidak efektifnya jalan napas sehubungan dengan:
1) Ventilasi yang tidak adekuat (nyeri atau kelemahan otot)
2) Penurunan kapasitas pengangkutan oksigen (kehilangan darah)
3) Penurunan pengembangan paru (atelektasis/pneumothorak/
hematotorak)
e. Aktual kerusakan integritas kulit
1) Sehubungan dengan:
a) Insisi pembedahan
b) Lokasi jahitan luka
2) Ditandai dengan:
Luka atau koyaknya permukaan kulit
f. Kurang pengetahuan tentang keadaan dan pemeliharaan post operasi
1) Sehubungan dengan:
Kurang terbuka, misalnya interprestasi informasi, kurang daya ingat.
2) Ditandai dengan:
a) Bertanya atau meminta informasi
b) Mengungkapkan tentang masalahnya
c) Adanya kesalahpahaman persepsi
d) Tidak adekuat mengikuti instruksi
3. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Faktor yang Batasan Intervensi


mempengaruhi karakteristik
1. Penurunan curah 1. Perubahan 1. Perubahan 1. Observasi
jantung afterload frekuensi irama a. Identifikasi tanda ge
2. Perubahan
jantung: primer penurunan cu
kontraktilitas a. Bradikardia

18
3. Perubahan b. Perubahan jantung
b. Identifikasi tanda sekun
frekuensi EKG
c. Palpitasi curah jantung
jantung
c. Monitor tekanan darah
4. Perubahan irama jantung
d. Monitor intake dan ou
d. Takikardia
jantung
2. Perubahan cairan
5. Perubahan
e. Monitor BB setiap hari
preload:
preload f. Monitor saturasi oksigen
a. Penurunan
6. Perubahan g. Monitor keluhan nyeri da
tekanan vena h. Monitor EKG 12 sadapan
volume
i. Monitor aritmia.
sentral
sekuncup j. Monitor nilai laborator
b. Penurunan
jantung
PAWP
k. Monitor fungsi alat jantun
c. Oedema
l. Periksa TD dan freku
d. Keletihan
e. Murmur nadi sebelum dan sesu
jantung aktifitas
f. Peningkatan m. Periksa TD dan reku
cvp nadi sebelum pembe
g. Peningkatan
obat
PAWP
2. Terapeutik
h. Peningkatan
a. Posisikan pasien s
vena jugular
i. Peningkatan fowler/fowler dengan k
berat badan ke bawah atau po
3. Perubahan
nyaman
afterload: b. Berikan diit jantung y
a. Perubahan
sesuai
warna kulit c. Gunakan stok
yang abnormal elastis/pneumatik interm
b. Perubanhan
sesuai indikasi
tekanan darah d. Fasilitasi pasien
c. Kulit lembab
keluarga untuk modifi
d. Penurunan nadi
gaya hidup sehat
perifer
e. Berikan terapi relak
e. Penurunan
untuk mengurangi sterss
resistensi
perlu
vascular paru
f. Berikan dukungan emosi
f. Penurunan
dan spiritual
resistensi

19
vaskular g. Berikan oksigen un
sistemik mempertahankan satu
g. Dispnea
oksigen > 94 %
h. Peningkatan
3. Edukasi
PVR
i. Peningkatan a. Anjurkan beraktifitas f
SVR sesuai toleransi
j. Oliguria b. Anjurkan beraktifitas f
k. Pengisian
secara bertahap
kapiler c. Anjurkan berhenti merok
d. Ajarkan pasien dan kelua
memanjang
4. Perubahan mengukur BB/hari
e. Ajarkan pasien dankelua
kontraktilitas:
a. Bunyi nafas mengukur intake dan ou
tambahan cairan
b. Penurunan
4. Kolaborasi
indeks jantung
a. Kolaborasi pembe
c. Penurunan
aritmia jika perlu
fraksi ejeksi
b. Rujuk ke prog
d. Penurunan
rehabilitasi jantung
LVSWI
e. Penurunan
stroke volume
index (SVI)
f. Ortopnea
g. Dispnea
paroksimal
noktural
h. Ada bunyi S3
i. Ada bunyi S4
5. Perilaku/emosi
a. Ansietas
b. Gelisah

2. Bersihan jalan 1. Kondisi yang 1. Tanda minor 1. Observasi


nafas tidak terkait a. Dispnea a. Monitor pola na
b. Sulit bicara
efektif a. Gullian barre (frekuensi, kedalaman, us
c. Ortopnea
syndrome d. Gelisah napas)
b. Sklerosis e. Gelisah b. Monitor bunyi na
f. Sianosis

20
multipel g. Bunyi napas tambahan (mis, gurgl
c. Myasthenia
menurun mengi, wheezing, ron
gravis h. Frekuensi
kering)
d. Prosedur
napas berubah c. Monitor sputum
diagnostik i. Pola napas
2. Therapeutik
(mis. Echo, berubah
a. Pertahankan jalan na
bronkoskopi,
dengan head-tiit dan chin-
transesophage b. Posisikan semi fowler a
2. Tanda mayor
al) fowler
a. Batuk tidak
c. Berikan minum hangat
e. Depresi efektif d. Lakukan fisioterapi d
b. Tidak mampu
sistem saraf jika perlu
batuk e. Lakukan penghisapan le
pusat
c. Sputum
f. Cedera kepala kurang dari 15 detik
g. Stroke berlebih f. Lakukan hiperoksige
h. Kuadriplegia d. Mengi,
sebelum penghisa
i. Sindrom
wheezing
endotrakeal
aspirasi
dan/atau ronkhi g. Keluarkan sumbatan be
mekonium
kering padat dengan forcep McG
j. Infeksi
e. Mekonium di h. Berikan oksigenasi,
saluran napas
jalan napas perlu
(pada 3. Edukasi
neonatus) a. Anjurkan asupan cairan 2
ml/hari,jika tidak
kontraindikasi
b. Ajarkan tehnik batuk efek
4. Kolaborasi
Kolaborasi pembe
bronkodilator, ekspekto
mukolitik, jika perlu

3. Risiko infeksi 1. AIDS 1. Penyakit kronis 1. Observasi


2. Luka bakar 2. Efek prosedur
a. Identifikasi riw
3. Penyakit paru
invasif
hipertermi kegana
obstruktif kronis 3. Malnutrisi
4. Diabetes militus 4. Peningkatan gangguan otot, atau dem
5. Tindakan invasif
paparan pasca operatif

21
6. Kondisi organisme b. Monitor tanda-tanda v
penggunaan terapi patogen termasuk suhu inti tubuh
c. Monitor tanda-ta
steroid lingkungan
7. Penyalahgunaan hipertermi (mis hipercar
obat hipertermia, takikar
5. Ketidak adekuatan
8. Ketuban pecah
takipnea, asisd
pertahanan tubuh
sebelum waktunya
metabolik,aritmia,sianosi
9. Kanker primer
10. Gagal ginjal a. Gangguan kulit bengkok, kekak
11. Imunosupresi
peristaltik otot, keringat banyak,
12. Lymphedema
b. Kerusakan
13. Leukositopenia tekanan darah yang ti
14. Gangguan fungsi integritas kulit
stabil)
hati d. Monitor nilai laboratorium
e. Monitor EKG
f. Monitor tanda-ta
komplikasi
g. Monitor keluaran urine
2. Terapeutik
a. Pasang matras pendingin
bawah badan
b. Berikan kompres dingin
c. Pasang IV dua jalur
d. Berikan hiperventi
dengan oksigen 100% al
tinggi
e. Pasang NGT dan kat
urine, jika perlu
f. Minimalkan rangsan
lingkungan
g. Sediakan
kegawatdaruratan.
3. Edukasi
Jelaskan penyebab
mekanisme terjadi
hipertermia maligna
4. Kolaborasi
a. Kolaborasi uji diagnosa (

22
uji kontraktur otot,
genetik molekuler) jika pe
b. Kolaborasi penggunaan a
anastesi non nitrogen (
opioid, benzodiaze
anastetik lokal, nitrous ox
dan barbiturat).

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
1. Identitas Diri Pasien Dan Penanggung Jawab
Nama Pasien : Tn. T

23
Umur : 74 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat pasien : Kp. Nusa Indah No.8 Rt 009 Rw 010
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pensiunan
Tanggal Masuk RS : 18-9-2017
: Diseksi Aorta Stanford A De Bakey I ,
Diagnosa Medis CAD 1 VD
Sumber Informasi : Anak Kandung
Tanggal Pengkajian : 16-9-2017
Ruang : ICU
Keluarga dekat yang dapat-
segera dihubungi (PJ) : Tn. B
Nama PJ : TN. A
Pekerjaan PJ : Pegawai swasta
Alamat PJ : Bojong Indah No.3 Rt 002 Rw 005
Telp PJ : 0895099xxx

2. Anamnesa
a. Alasan masuk RS
Post Repair Diseksi Aorta (IMH), CABG 1 x
a. Masuk dari: ICU
b. Alat yang digunakan saat masuk: Ventilasi
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Keluhan Utama:
(Tidak dapat dikaji, pasien terintubasi dan tersedasi)
b. Riwayat Penyakit Sekarang
1) Pasien post op repair diseksi aorta (IMH) dan CABG I x (SVG-LAD)
2) Masalah Pre op:
Kardiogenik Shock.
3) Masalah intra op:
a) Post off CPB hemodinamik tidak stabil, desaturasi
b) On CPB II
c) Koreksi elektrolit
d) Off CPB

24
e) Hemodinamik tidak stabil, desaturasi
f) On CPB III
g) Maksimal support inotropik + pasang IABP
h) Off CPB
i) Hemodinamik tidak stabil, desaturasi
j) On CPB IV
k) Elekrolit terkoreksi, support inotropik sudah maksimal, IABP bocor
l) IABP di aff
m)Masuk protamine melalui kanul aorta, perdarahan di rawat,
weaning CPB lancar.
c. Riwayat Penyakit Sebelumnya
1) Penyakit pada masa anak-anak dan penyakit infeksi yang pernah
dialami: Tidak ada
2) Imunisasi: Tidak tahu
3) Kecelakaan yang pernah dialami: Tidak pernah
4) Prosedur operasi dan perawatan rumah sakit :
AP post Angiografi dengan komplikasi diseksi aorta dan shock
kardiogenik.

5) Allergi (makanan, obat-obatan, zat/substansi): Tidak ada


6) Pengobatan dini (konsumsi obat-obatan bebas), lamanya:
a.
Obat-Obatan
Dosis Dosis Terakhir Frekuensi
(Resep/obat bebas)
Tidak
Metformin 3x500 mg Tidak terkontrol
terkontrol

d. Faktor Resiko: Dislipidemia dan Hipertensi.


e. Riwayat Penyakit Keluarga
1) Penyakit yang pernah diderita : Tidak ada
2) Orang Tua : Tidak tahu
3) Saudara kandung : Tidak ada

25
4) Anggota keluarga lain : Tidak tahu
5) Penyakit yang sedang diderita:
a) Orang tua : Tidak tahu
b) Saudara kandung : Tidak tahu
c) Anggota keluarga lain : Tidak tahu
6) Riwayat penyakit genetik/keturunan/herediter : Tidak tahu
7) Genogram: (gambarkan silsilah keluarga 3 generasi)

Genogram: (gambarkan silsilah keluarga 3 generasi)

Keterangan:

: Laki-laki : Ikatan perkawinan

4. Pengkajian Pola Kesehatan (Model Gordon)


a. Pola Persepsi dan Penanganan / Manajemen Kesehatan: Ikatan keturunan
: Perempuan
1) Persepsi terhadap penyakit : Tidak dapat dikaji
2) Arti sehat dan sakit bagi pasien : Tidak dapat dikaji
3) Pengetahuan status kesehatan pasien saat ini : Tidak dapat dikaji

26
4) Perlindungan terhadap kesehatan: program skrining, kunjungan ke
pusat pelayanan kesehatan, diet, latihan dan olahraga, manajemen
stress, faktor ekonomi: Anak pasien mengatakan pasien malas untuk
pergi ke dokter, pasien tidak memperhatikan pola makan, pasien tidak
pernah olah raga karena sering merasa lelah, semua kebutuhan pasien
terpenuhi.
5) Pemeriksaan diri sendiri: payudara, riwayat medis keluarga,
pengobatan yang sudah dilakukan: sesekali pasien pergi ke apotik
untuk tes gula darah.
6) Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan:

Tembakau : ( √) Tidak ( ) Ya Berhenti (Tanggal) : 10 9 17 ( ) Pipa ( ) Cerutu (√)


<1 bks/hari (√) 1-2 bks/hari ( ) >2 bks/hari Riwayat bks/tahun : 365 Bks
Alkohol : (√) Tidak ( ) Ya Jenis/jumlah : -/hari /minggu /bulan
Penggunaan : Obat pengontrol
Obat lain : () Tidak (√ ) Ya Jenis :
gula darah
Alergi (obat-obatan, makanan, plester, zat warna):
Anak pasien mengatakan pasien tidak mem punyai alergi obat
Reaksi: Tidak ada reaksi
Obat-obatan warung/tanpa resep dokter: Bodrex, puyer bintang toedju

b. Pola Nutrisi / Metabolisme


1) Kebiasaan jumlah makanan:
Jenis dan jumlah (makanan dan minuman): Anak pasien mengatakan
pasien makan 3 kali sehari 1 porsi dengan nasi+ikan asin +tahu 2
potong telur 1
2) Di RS:
a) Jenis = Pasien mendapatkan diet cair susu
b) Jumlah = 4x200ml
c) Pola makan 3 hari terakhir atau 24 jam terakhir, porsi yang
dihabiskan, nafsu makan: Pasien mendapatkan diet cair susu,
jumlah = 4x200ml
d) Kepuasan akan berat badan: Tidak dapat terkaji
e) Persepsi akan kebutuhan metabolik: Tidak dapat terkaji
f) Faktor pencernaan: Nafsu makan Tidak dapat terkaji

27
g) Ketidaknyamanan: Tidak dapat terkaji
h) Rasa dan bau Tidak dapat terkaji
i) Gigi caries: Tidak ada
j) Mukosa mulut: Lembab
k) Mual atau muntah: Pasien terpasang NGT tertutup
l) Pembatasan makanan pasien hanya mendapatkan diet cair
m)Alergi makanan: Anak pasien mengatakan pasien tidak ada alergi
makanan.
3) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (berat badan saat ini dan
SMRS):
Diet/Suplemen Khusus:
Tidak ada, Diit rendah lemak pasien mendapat diet cair susu
Instruksi Diet Sebelumnya : ( )Ya ( √)Tidak
Nafsu makan : ( ) Normal ( )Meningkat ( ) Menurun ( ) diet cair melallui NGT (√)
Penurunan Sensasi Kecap (√ ) tidak ada ( ) Mual ( ) Muntah ( ) Stomatitis
TB 165 Cm. BB 55 Kg ...... .... .... .... ....
IMT 20,2
Perubahan BB 6 bulan terakhir : (√ )Tak
ada ( )Ada ___ kg (Peningkatan / Penurunan)
Kesulitan Menelan (Disfagia) : ( ) Tidak ( ) Makanan Padat (√) Makanan Cair
Gigi : Atas (Parsial) Bawah ( √Parsial ___Lengkap)
Riwayat Masalah Kulit / Penyembuhan (√) Tak ada ( ) Penyembuhan
abnormal ( ) Ruam Kering ( ) Keringat Berlebihan ( saat sesak )
Gambaran diet pasien dalam sehari: Pasien mendapatkan diet cair susu
Jumlah = 4x200ml
Makan pagi : Diet cair susu 200ml
Makan siang : Diet cair susu 200ml
Makan malam : Diet cair susu 200ml
Pantangan/Alergi : Diet nasi biasa, diet saring/tidak ada alergi

c. Pola Eliminasi

28
1) Kebiasaan pola buang air kecil: Pasien terpasang dower catheter no:
14, produksi urine 50-80 ml/jam, wama urine kuning jernih, tanda
infeksi (-).
2) Kebiasaan pola buang air besar: Frekuensi, 1 x sehari jumlah (± 50
cc), warna kuning kecoklatan, adanya perubahan lain (√) Tgl
defekasi terakhir 18-9-17 Konstipasi (-), Diare (-) penggunaan obat
pencahar (-).

3) Kemampuan perawatan diri: Kebersihan diri : Pasien tampak bersih,


dimandikan 3x sehari oleh perawat
4) Penggunaan bantuan untuk ekskresi: Pasien terpasang dower
catheter no: 14
5) Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (abdomen, genitalia,
rektum, prostat): Mual muntah (-), bentuk simetris (√ ), asites (-),
nyeri tekan (√) , pembesaran hati atau limfe(-), Bising usus : 12
x/menit

d. Abdomen (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)


1) Inspeksi
Pada pemeriksaan abdomen didapat hasil, bentuk abdomen terlihat
simetris, teraba supel, bising usus (+), asites (-), tidak terdapat
pelebaran pembuluh darah, tidak terdapat lesi maupun jaringan parut.
2) Palpasi: Teraba supel diseluruh lapang perut, hepatomegali (-).
3) Perkusi: Timpani di 4 kuadran
4) Auskultasi: Bising usus : 12 x/menit

e. Endokrin
Palpasi: Tidak teraba pembesaran hepar dan tidak teraba pembesaran
limpa.

f. Sistem Integumen

29
Terdapat luka operasi di sternum panjang ± 10 cm, dan luka di sekitar
femoralis kanan ± 3 cm, tanda infeksi (-) tertutup dengan kasa.

g. Pola Aktivitas / Olahraga


1) Aktivitas kehidupan sehari-hari:
Anak pasien mengatakan pasien lebih banyak duduk di depan rumah
sambil membaca koran dan sesekali beres-beres rumah.
2) Olahraga: Tipe, frekuensi, durasi dan intensitas:
Anak pasien mengatakan pasien tidak pernah olah raga.
3) Aktivitas menyenangkan:
Anak pasien mengtakan pasien senang membaca Koran.
4) Keyakinan tentang latihan dan olahraga: Tidak dapat terkaji
5) Kemampuan untuk merawat diri sendiri (berpakaian, mandi, makan,
kamar mandi) Penggunaan alat bantu:
Pasien memerlukan bantuan perawat untuk memenuhi perawatan diri

h. Data pemeriksaan fisik (pernapasan, kardiovaskular, muskuloskeletal,


neurologi):
1) Sistem Kardiovaskular (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi):
TD: 110/60 mmHg, N: 140 x/menit; irama: teratur, kekuatan: teraba
kuat, S: 37,8˚C, CRT: >2 detik, Monitor EKG: ST, CVP 14 mmHg,
akral teraba dingin.
a) Inspeksi:
Terpasang alat CV line di vena subclavia sinistra, tanda infeksi (-).
Side port di vena jugularis dextra , tanda infeksi (-). Arteri line di
arteri radialis sinistra dan femoralis sinistra, tanda infeksi (-). Wire
ventrikel 2 buah, tanda infeksi (-).
b) Palpasi:
Palpasi iktus kordis terdapat di linea midclavicula intercosta 5,
pemeriksaan paru-paru dengan palpasi lapang paru didapat hasil;
traktil premitus getaran kedua lapang paru sama bergetar.

30
c) Perkusi:
Perkusi didapat redup pada ICS Dextra 2 linea sternalis, ICS
sinistra 2 linea sternalis, ICS sinistra 5 diantara linea midclavicula
dan axila.
d) Auskultasi:
S1 dan S2 normal, S3 (-), S4 (-).
2) Sistem Respirasi (inspeksi, palpasi, auskultasi):
a) Inspeksi:
Pasien terpasang ETT no 8 (tip 20 cm) yang dihubungkan dengan
ventilator, modus PCV Fi02 50 %, PEEP 7, P control 15, RR 16
x/m, TV 445 ml, MV 7,2 ml, saturasi O2 100 %. Pergerakan dada
simetris, suara nafas vesicular (+), whezing (-), Ronchi (+), Slem
jumlah banyak, kental dan merah.
Terpasang drain substernal dan intrapericard, produksi drain 10-20
ml/jam, seruse, tanda infeksi (-).
b) Palpasi:
Tidak teraba krepitasi diseluruh lapang dada.
c) Auskultasi:
Suara nafas vesicular (+), wheezhing (-), Ronchi (+)
3) Sistem Muskuloskeletal (inspeksi, palpasi, perkusi):
a) Tonus Otot: 1
b) Menggunakan alat bantu: Pasien tampak bedrest total
c) Kekuatan otot:
1 1
1 1
d) Keluhan Saat Beraktivitas: Tidak dapat dikaji
4) Sistem Neurologi (saraf kranial, refleks):
a) Ku lemah, kesadaran SAS 3 ( 2/4/ETT), pasien gelisah dan dalam
kondisi tersedasi miloz 1 mg /jam dan dipasang restrain.
b) Pupil 2++/2++.
c) Skala nyeri BPS 4/12
d) Kemampuan perawatan diri:

31
Aspek Dinilai Score
0 1 2 3 4
Makan/Minum √
Mandi √
Berpakaian/berdandan √
Mobilisasi di tempat tidur √
Berpindah √
Berjalan √
Menaiki Tangga √

i. Pola Istirahat Tidur


1) Kebiasaan tidur sehari-hari jumlah waktu tidur:
a) Anak pasien mengatakan pasien sebelum sakit tidur 8 Jam/malam.
Tidur siang (√) tidur sore (-).
b) Saat dikaji pasien tidur dalam pengaruh obat
2) Masalah/gejala gangguan pola tidur:
(√)Tidak ada (-)Terbangun (-)Terbangun dini
3) Regio nyeri: Pada luka post operasi
4) Skala nyeri: 9 dari skala nyeri (1-10)
5) Time/ waktu nyeri: terus menerus
6) Penalaksanaan nyeri: pasien mendapatkan terapi Morpine 20
mcg/KgBB/jam (IV)
7) Keyakinan budaya terhadap nyeri: tidak dapat dikaji
8) Tingkat pengetahuan pasien terhadap nyeri dan pengetahuan untuk
mengontrol dan mengatasi nyeri: Tidak dapat dikaji
9) Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (neurologis,
ketidaknyamanan). Tingkat kesadaran: SAS GCS: 3

j. Pola Peran Hubungan


1) Pekerjaan: Pasien seorang pensiunan
2) Status Pekerjaan: Bekerja ( ) Tidak bekerja (√ )
3) Sistem Pendukung / Pentingnya keluarga:
Ada (√) Tidak Ada (√) Pasangan telah meninggal Tetangga (√) Teman
(√) Keluarga serumah (√) Keluarga tinggal berjauhan

32
k. Pola Seksualitas / Reproduksi
1) Pemeriksaan payudara/testis mandiri bulanan: ( ) Ya (√) Tidak
2) Jumlah anak 9, jumlah istri: 1 (Istri pasien sudah meninggal)
3) Pengetahuan yang berhubungan dengan seksualitas dan reproduksi:
Tidak dapat dikaji.
4) Riwayat yang berhubungan dengan masalah fisik dan atau psikologi:
Anak pasien mengatakan sebelumnya tidak mengeluh masalah fisik
maupun psikologi.
5) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (Genetalia, rektum)
a) Genetalia: Terlihat bersih, kedua testis tidak teraba masa pasien
terpasang dower kateter dan tidak terlihat tanda infeksi.
b) Rektum: Terlihat bersih dan tidak terdapat benjolan.

l. Pola Keyakinan-Nilai
1) Latar belakang budaya/etnik: Pasien berasal dari suku jawa.
2) Status ekonomi, perilaku kesehatan yang berkaitan dengan kelompok
budaya/etnik: Anak pasien mengatakan semua kebutuhan pasien
terpenuhi.
3) Tujuan kehidupan bagi pasien: Tidak dapat terkaji.
4) Pentingnya agama/spiritualitas: Anak pasien mengatakan pasien
merupakan muslim yang taat.
5) Keyakinan dalam budaya (mitos, kepercayaan, larangan, adat) yang
dapat mempengaruhi kesehatan: Anak pasien mengatakan pasien
pantang mandi saat sakit.
6) Agama: Islam.
7) Pantangan Keagamaan: Tidak ada.
8) Pengaruh agama dalam kehidupan: Tidak dapat dikaji.
9) Permintaan kunjungan rohaniawan pada saat ini: Tidak.

m. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala dan leher Kepala nampak simetris.

33
Pada palpasi kelenjar tiroid tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid
maupun kelenjar paratiroid. Penulis tidak melihat distensi/peningkatan
jugularis vena preasure (JVP), palpasi arteri karotis kekuatan nadi
teraba kuat dengan frekuensi 140 kali/menit. Pada palpasi trachea
tidak teraba deviasi, trachea teraba ditengah leher dan tidak terdapat
masa.
2) Mata (bola mata, kelopak mata, konjungtiva, sklera, kornea, pupil,
lapang pandang, ketajaman penglihatan)
Pada kedua conjungtiva nampak merah muda, palpasi kedua kedua
bola mata sama besar, reflek kedua pupil pasien terhadap sinar
penlight positif (mengecil), besar kedua pupil nampak isokor.
3) Telinga (daun telinga, lubang, membran tympani, fungsi pendengaran)
a) Daun telinga terlihat bersih dan tidak terdapat masa
b) Lubang telinga terlihat sedikit serumenn tidak terdapat cairan
maupun massa
c) Membran tympani saat dikaji terlihat dapat memantulkan cahaya
dari pen light
d) Fungsi pendengaran tidak dapat terkaji
4) Hidung dan sinus
Bentuk hidung pasien nampak simetris, tidak terlihat pernapasan
cuping hidung. Rongga hidung; mukosa kedua lubang hidung nampak
lembab, tidak ditemukan sekret di kedua lubang hidung, tes kepatenan
kedua lubang hidung kuat, tes penciuman pasien dapat
mengidentifikasi bau minyak kayu putih tanpa melihat objek. Sinus;
tidak didapat nyeri tekan pada sinus.
5) Mulut, lidah, dan tonsil
Bibir pasien terlihat lembab, warna bibir merah muda, tidak terdapat
lesi dan tidak nampak cyanosis. Pada cavum oris terlihat bersih,
lembab, nampak merah muda, tidak ditemukan lesi, tidak terlihat
pucat maupun cyanosis. Pharyng: terlihat merah, tidak nampak pucat,
tidak terdapat pembesaran tonsil, tidak terdapat oedema.
6) Payudara

34
Nampak terlihat simetris dan tidak teraba massa.
7) Imunologi
Tidak teradapat pembesaran kelenjar limfe maupun kelenjar limpa.

n. Pemeriksaan penunjang dan diagnostik (tanggal, hasil, dan interpretasi)


1) EKG tanggal 18-9-2017
Irama teratur, HR: 130 x/m, gelombang P semua diikuti gelombang
QRS. PR interval 0,14 detik, gelombang QRS 0,08 detik, Q's di
VI,V2,V3, gelombang T inverted di V I ,V2,V3. Axis normal.
2) Laboratorium
Tanggal/ jam 18/9/17 jam 05.00 WIB
Pemeriksaan Hasil
Hasil AGD (Fi02 60%)
PH 7,38
P02 143,2
PCO2 42,7
HCO3 25,7
BE 0,9
Saturasi O2 99,40%
Lactat 4,2
K 4,9
Na/C1 152/109
Ca/ Mg 1,24/0,55
GDS 171
Hb / HT 9,26 /27,8
Leukosit 11.560
Trombosit 56.000
Ureum 53,7
Creatinin 2,11

35
APTT/NK 31,8/30,8
PT/INR 13,4/11,0/1,21
Fibrinogen 297
Alburnin 2,4

3) Rontgen thorak tanggal 18-9-2017


CTR 45%, segmen Aorta normal, segmen pulmonal normal, pinggang
jantung normal, tanda kongestif (-), infilirate (+), posisi ETT di ICS 3,
CV line di ICS 4, Drain substernal ICS 6 dan intrapericard di ICS 5.
4) ECHO tanggal 18-9-2017
Fungsi kontraktilitas LV turun EF 30%. Fungsi kontraktilitas RV
turun, efusi pericard (-). RV 1/2 LV. IVC 21/19, LVOT VT1 9,1 cm, SV
28,5 ml, Co 3,8 L/m, SVR 1094, MAP 64 mmHg.
5) CT-scan tanggal 16-9-2017
Hasil sementara CT scan cito menunjukan adanya disesksi aorta di
asendens.

o. Pengobatan (nama, dosis, rute)


1) Adrenalin 0,02 mcg/KgBB/m (IV)
2) Vascon 0,4 mcg/KgBB/m (I V)
3) Morpine 20 mcg/KgBB/jam (IV)
4) Miloz 1 mg / jam (IV)
5) Humulin 0,5 unit/jam (IV)
6) Citicolin 2 gr / 24 jam (IV)
7) Lasix 10 mg/jam (IV)
8) Ranitidine 2 x I amp (IV)
9) Ondansentron 2 x 4 mg (IV)
10) Cefepime 1 x 2 gr (IV)
11) Ciprofloxacin 1 x 750 mg (IV)
12) Parasetamol 3 x 1 gr (IV)
13) Halloperidol 3 x I amp (IV)
5. Analisa Data

36
Intrepretasi Data dan Masalah
Data
Kemungkinan Penyebab Keperawatan
DS : Tidak dapat dikaji Penyempitan pembuluh darah Penurunan curah
DO : jantung jantung
1. TD: 110/60 mmHg, N:
140 x/menit; irama: Hilangnya jaringan
teratur ; kekuatan: teraba kontraktil
kuat
2. CRT: >2 detik
Kontraktilitas miokard
3. Akral teraba dingin
4. EKG: Gelombang T
inverted di V I,V2,V3 Penurunan curah jantung
5. Hasil sementara CT scan
cito menunjukan adanya
disesksi aorta di asendens.

DS : Tidak dapat dikaji Hipersekeresi mukus Gangguan bersihan jalan


DO : nafas
Secret tertahan disaluran jalan nafas
1. RR 16 x/m
2. Hasil auskultasi pada
lapang paru Ronchi (+). Ronchi
3. Slem jumlah banyak,
kental dan merah. Gangguan bersihan jalan nafas
4. Rontgen thorax: infilirate

DS : Tidak dapat dikaji Prosesdur Terputusnya Resiko infeksi


DO : kontinuitas

1. Terpasang alat CV line di Infasif jaringan

vena subclavia sinistra,


tanda infeksi (-).

2. Side port di vena jugularis


dextra , tanda infeksi (-). Peningkatan jalan masuknya
3. Arteri line di arteri mikroorganisme
radialis sinistra dan
femoralis sinistra, tanda

37
infeksi (-) Resiko infeksi
4. Wire ventrikel 2 buah,
tanda infeksi (-).
5. Pasien terpasang ETT no
8 (tip 20 cm)
6. Drain substernal ICS 6
dan intrapericard di ICS 5
7. Leukosit 11.560

B. Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan yang timbul dari kasus diatas antara lain:
1. Penurunan curah jantung
2. Gangguan bersihan jalan nafas
3. Resiko infeksi

C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Penurunan curah Setelah dilakukan 1. Observasi: Identifikasi tanda gejala
jantung tindakan keperwatan primer penurunan curah jantung
selama 2x24 jam 2. Identifikasi tanda sekunder curah
Efektifitas pemompaan jantung:
jantung adekuat, status a. Monitor tekanan darah
b. Monitor intake dan output cairan
sirkulasi adekuat.
c. Monitor BB setiap hari
Ditandai dengan: d. Monitor saturasi oksigen
e. Monitor keluhan nyeri dada
f. Monitor EKG 12 sadapan
1. Tekanan darah dan g. Monitor aritmia.
h. Monitor nilai laboratorium jantung
nadi dalam batas
i. Monitor fungsi alat jantung
normal j. Periksa TD dan frekuensi nadi
2. Akral teraba hangat
sebelum dan sesudah aktifitas
k. Periksa TD dan rekuensi nadi
sebelum pemberian obat
3. Posisikan pasien semi fowler/fowler
dengan kaki ke bawah atau posisi
nyaman
4. Kolaborasi pemberian aritmia jika

38
perlu

2. Gangguan Setelah dilakukan 1. Observasi


bersihan jalan tindakan keperawatan a. Monitor pola napas (frekuensi,
nafas selama 1x24 jam kedalaman, usaha napas)
b. Monitor bunyi napas tambahan
gangguan bersihan jalan
(mis, gurgling, mengi, wheezing,
napas teratasi.
ronkhi kering)
Ditandai dengan:
c. Monitor sputum
1. RR dan saturasi O2
2. Therapeutik
dalam batas normal
a. Pertahankan jalan napas dengan
2. Tidak tedapat slime
head-tiit dan chin-tiit
3. Tidak terdengar
b. Posisikan semi fowler atau fowler
ronchi c. Berikan minum hangat

d. Lakukan fisioterapi dada, jika


perlu
e. Lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
f. Lakukan hiperoksigenasi sebelum
penghisapan endotrakeal
g. Keluarkan sumbatan benda padat
dengan forcep McGill
h. Berikan oksigenasi, jika perlu
3. Kolaborasi
Kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik, jika perlu

3. Resiko Infeksi Setelah dilakukan 1. Monitor tanda-tanda vital termasuk


tindakan keperawatan suhu tubuh
2. Monitor tanda-tanda hipertermi (mis
selama 3x24 jam
hipercarbia, hipertermia, takikardia,
resiko infeksi tidak
takipnea, asisdosis
terjadi.
metabolik,aritmia,sianosis, kulit
Ditandai dengan:
bengkok, kekakuan otot, keringat
1.TTV dalam batas
banyak, dan tekanan darah yang tidak
normal
2.Nilai laboratorium stabil)

39
dalam batas normal 3. Monitor nilai laboratorium
3.Tidak ada tanda- 4. Monitor EKG
5. Monitor tanda-tanda komplikasi
tanda infeksi seperti
6. Monitor keluaran urine
tumor, rubor, dolor, 7. Terapeutik
a. Berikan hiperventilasi dengan
kalor dan
oksigen 100% aliran tinggi
fungsiolaesa
b. Pasang NGT dan kateter urine, jika
perlu
c. Minimalkan rangsangan
lingkungan
d. Sediakan alat kegawatdaruratan
8. Kolaborasi penggunaan agen
antimikroba jika perlu

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini kelompok ingin menguraikan kesenjangan antara kasus Tn. T dan
teori yang dihubungkan berdasarkan konsep mulai dari pengkajian, perumusan
masalah dan perencanaan.

A. Kesenjangan Antara Teori dan Kasus Pada Pengkajian Keperawatan


Data pada pengkajian sudah sesuai antara teori dan kasus seperti pasien
mengalami kelemahan umum, tidak mampu melakukan aktifitas hidup,
takikardi, disritmia / perubahan EKG, dingin dan kulit lembab, edema / JVD,
post operatif, ketidakmampuan untuk batuk dan napas dalam karena pasien
dalam pengaruh obat sedasi (DPO), adanya faktor resiko seperti diabetes
mellitus, penyakit jantung, hipertensi, penggunaan obat-obat kardiovaskuler
yang bervariasi.

Namun ada data-data yang ada pada teori namun tidak ada pada kasus seperti
bunyi jantung abnormal: S3/S4 murmur, kecemasan, perubahan pada ABGs /
pulse oxymetri dan status ego tidak dapat dikaji karena pasien dibawah
pengaruh obat (DPO).

B. Kesenjangan Antara Teori dan Kasus Pada Diagnosa Keperawatan


Diagnosa yang ada pada teori yaitu Resiko Tinggi Penurunan Cardiac Output,
Gangguan rasa nyaman: Nyeri (akut), Perubahan Peran, Resiko tinggi tidak

40
efektifnya jalan napas, Aktual kerusakan integritas kulit, Kurang pengetahuan
tentang keadaan dan pemeliharaan post operasi.

Diagnosa berdasarkan kasus pada Tn. T yaitu Penurunan curah jantung,


Gangguan bersihan jalan nafas dan Resiko infeksi.

Diagnosa yang diangkat pada kasus Tn. T sudah sesuai dengan teori yang ada,
namun ada 1 diagnosa yang ada pada kasus namun tidak ada pada teori yaitu
diagnosa resiko infeksi mengingat pasien post operasi dan terdapat luka.

C. Kesenjangan Antara Teori dan Kasus Pada Intervensi Keperawatan


Seluruh intervensi keperawatan yang diberikan kepada Tn. T sudah sesuai
dengan konsep asuhan keperawatan.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit arteri koroner (CAD) adalah penyempitan atau penyumbatan arteri
koroner, arteri yang menyalurkan darah ke otot jantung. Bila aliran darah

41
melambat, jantung tak mendapat cukup oksigen dan zat nutrisi. Hal ini
biasanya mengakibatkan nyeri dada yang disebut angina. Bila satu atau lebih
dari arteri koroner tersumbat sama sekali, akibatnya adalah serangan jantung
(kerusakan pada otot jantung). (Brunner and Sudarth, 2001).

Penyakit arteri koroner (CAD) atau Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah
penyakit yang menyerang organ jantung. Gejala dan keluhan dari PJK hampir
sama dengan gejala yang dimiliki oleh penyakit jantung secara umum.
Penyakit jantung koroner juga salah satu penyakit yang tidak menular.
Kejadian PJK terjadi karena adanya faktor resiko yang antara lain adalah
tekanan darah tinggi (hipertensi), tingginya kolesterol, gaya hidup yang kurang
aktivitas fisik (olahraga), diabetes, riwayat PJK pada keluarga, merokok,
konsumsi alkohol dan faktor sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantung koroner
ini dapat dicegah dengan melakukan pola hidup sehat dan menghindari fakto-
faktor resiko. seperti pola makan yang sehat, menurunkan kolesterol,
melakukan aktivitas fisik dan olehraga secara teratur, menghindari stress kerja.

B. Saran
Kelompok berharap makalah ini dapat digunakan oleh perawat untuk
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan intervensi
keperawatan pada pasien CAD sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan
keperawatan yang diberikan dan perbaikan kondisi pasien.

Kelompok juga berharap makalah ini dapat digunakan oleh mahasiswa


keperawatan untuk meningkatkan pemahaman tentang CAD dan asuhan
keperawatan pada pasien CAD sehingga dapat menjadi bekal pengetahuan
untuk meningkatkan prestasi akademik maupun ketrampilan saat terjun ke
klinik. Apabila dalam penulisan makalah ini ada kesalahan maupun
kekurangan, maka kelompok mengharapkan kritik dan saran untuk
memperbaiki makalah ini di masa yang akan datang.

42
DAFTAR PUSTAKA

Adam Sagan, 2009. Coronary Heart Disease Risk Factors and Cardiovascular
Risk in Physical Workers and Managers.

Anwar, B. 2004. Dislipidemia sebagai Faktor Risiko Penyakit Jantung


Koroner. www.library.usu.ac.id.

Christian Sandi, Saryono, Dian Ramawati. (2013). Penelitian Tentang Perbedaan


Kadar Kolesterol Darah Pada Pekerja Kantoran dan Pekerja Kasar.

Corwin J. Elizabeth, ( 2009 ), Buku Saku Patofisiologi, Edisi Revisi 3, Penerbit :


Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Corwin Elizabeth J. Buku saku patofisiologi : Sistem kardiovaskular. Edisi 1.


Jakarta : EGC, 2009.

43
Davidson Christopher. (2003), Penyakit Jantung Koroner. Penerbit Dian Rakyat,
Jakarta.

Diah Krisnatuti dan Rina Yenrina. (1999). Panduan Mencegah & Mengobati
Penyakit Jantung. Jakarta: Pustaka Swara

Hendriantika, H. (2012), Penelitian Tentang Studi Komparatif Aktivitas Fisik


dengan Faktor Resiko Terjadinya Penyakit jantung Koroner.

Hermansyah, Citrakesumasari, Aminuddin. (2009). Aktifitas Fisik dan Kesehatan


Mental Terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner.

Hariadi, Ali Arsad Rahim, (2005). Hubungan Obesitas dengan Beberapa Faktor
Risiko Penyakit Jantung Koroner.

Kurniastuti, Y. (2009). Faktor Resiko Penyakit Janting Koroner di Indonesia.

Marianna Virtanen, (2012). Long Working Hours and Coronary Heart Disease: A
Systematic Review and Meta-Analysis.

Marianna Virtanen, (2010). Overtime Work and Incident Coronary Heart


Disease:The Whitehall II Prospective Cohort Study.

Mika Kivimäki, (2013). Associations of job strain and lifestyle risk factors with
risk of coronary artery disease: a meta-analysis of individual participant data.

Tracey C. C. W. Rompas, A. Lucia Panda, Starry H. Rampengan.


(2012), Hubungan Obesitas Umum dan Obesitas Sentral dengan Penyakit
Jantung Koroner

Sallim Annisa Yuliana, (2013), Hubungan Olahraga dengan Kejadian Penyakit


Jantung Koroner.

44
Sivaramakrishna, R., Nancy A., William, A., Gilda, C., dan Kimerly, A.
2000. Powell American Journal of Roentgenology, 175, 45-51

Sulistiani, W. (2005). Analisis factor Resiko Yang Berkaitan Dengan Penyakit


Jantung. Universitas Diponegoro.

Kuswadji, S. 2009. Kadar Lemak Darah pada Pekerja Bergilir di Suatu Instalasi
Pengeboran Minyak dan Gas Bumi.www.cerminduniakedokteran.com [diakses 18
Mei 2014].

Yuet Wai Kan. 2000. Adeno-associated viral vector-mediated vascular

www.digilib.unimus.ac.id Diakses tanggal 15 Mei 2014

www.americanhearth.org. (2009). Aktivitas Penderita Kardiovaskular. Diakses


tanggal 15 Mei 2014

www.ipaq.com.(2005). Diakses tanggal 16 Mei 2014

www.searo.who.int.(2002). Physical Activity Fundamental. Diakses tanggal 16


Mei 2014

Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 1987.

Donna D, Marilyn. V, Medical Sugical Nursing, WB Sounders, Philadelpia 1991.

Marylin Doenges, Nursing Care Plans, F.A Davis Company, Philadelpia, 1984.

Sylvia Anderson Price, Ph D. R.N. dan L.Mc. Carty Wilson, Ph D. R.N,


Pathofisiologi proses-proses penyakit, edisi I, Buku ke empat.

45
https://kumpulan-askep-ari.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-pasien-
dengan-cad.html

46