Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH BIOKIMIA 2

ANALISA KUALITATIF KANDUNGAN URIN

OLEH:
KELOMPOK : 1 (SATU)
ANGGOTA : 1.RENI OKTARINA
2.RIMA JUMALIA
3.RIZKI ANGGI SUHAIRAH NASUTION
4. SELFI MONICA AURA

DOSEN :1.Dra. Iryani, M.Si


2.Faizah Qurrata Aini, S.Pd,M.Pd

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNVERSITAS NEGERI PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah Biokimia tentang “ANALISA KUALITATIF
KANDUNGAN URIN” dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya. Penulisan makalah
ini didasarkan pada hasil literatur-literatur yang ada baik dari buku maupun sumber lainnya.

Dengan ini, mahasiswa juga menyampaikan terima kasih kepada :

1. Orang tua yang telah memberikan dukungan baik materil maupun spiritual.

2. Dosen yang mengajar mata kuliah BIOKIMIA 2

3. Rekan-rekan mahasiswa yang membantu dalam pengerjaan makalah dan dalam


penulisan makalah ini.

Makalah ini merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan hasil yang telah dicari. Tentu
ada kelemahan dalam teknik pelaksanaan maupun dalam tata penulisan makalah ini. Maka
saran-saran dari pembaca dibutuhkan dalam tujuan menemukan refleksi untuk peningkatan
mutu dari makalah serupa di masa mendatang. Akhir kata, selamat membaca dan terima
kasih.

Padang, 28 April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................................................iii

Daftar Tabel..........................................................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................................1

1.3 Tujuan Percobaan.......................................................................................................................2

1.4 Manfaat Penelitian.......................................................................................................................2

BAB II..................................................................................................................................................3

TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................................................3

BAB III.................................................................................................................................................6

PELAKSANAAN PRAKTIKUM.......................................................................................................6

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum.................................................................................................6

3.2 Alat dan Bahan..........................................................................................................................6

3.3 Langkah Kerja Dan Hasil Pengamatan.................................................................................10

BAB IV...............................................................................................................................................12

HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................................................12

iii
Daftar Tabel

BAB I
PENDAHULUAN

iv
1.1 Latar Belakang
Salah satu komponen penting yang terdapat dalam tubuh yaitu cairan tubuh. Cairan
tubuh dibagi dalam dua kelompok, yaitu cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan
intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel-sel tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler
adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok, yaitu cairan
intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan traseluler. Komposisi cairan intra dan
ekstrasel memiliki perbandingan sebesar 40 L adalah 25 L untuk volume intra dan : 15 L
untuk volume ekstra. Cairan intrasel banyak mengandung ion K+, Mg2+, dan HPO42-,
sedangkan cairan intrasel bersifat tidak homogen dalam tubuh dan mewakili kesatuan cairan
dari seluruh sel berbeda.Cairan intraseluler mengandung enzim yang berperan dalam
mendegradasi senyawa ROS, seperti enzim superoksida dismutase, enzim katalase dan
glutation peroksidase. Cairan ekstrasel banyak mengandung ion Na+, Cl- dan HCO3-. Salah
satu contoh cairan ektraseluler adalah urin.
Urinalisis adalah pemeriksaan atau analisa yang dilakukan untuk mengetahui adanya
infeksi pada saluran kemih (ISK). Metode ini juga ditujukan untuk mengetahui bahan-bahan
atau zat-zat yang terkandung dalam urine. Urine adalah cairan hasil metabolisme yang
diekskreasikan oleh ginjal dan dikeluarkan oleh tubuh melalui proses urinalisasi. Peranan
urin sangat penting karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh melalui eksresi urin
dapat mempertahankan homeostatis tubuh. Komposisi zat dalm urin bervariasi, tergantung
pada jenis makanan serta air yang diminum. Urin normal manusia mengandung air, urea,
asam urat, amoniak, kreatin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, klorida dan garam NaCl
serta zat yang berlebihan dalam darah, seperti vitamin C dan obat-obatan (Whiting
2006).Urin diproduksi oleh tubuh melalui beberapa tahap yaitu filtrasi, rearbsorbsi, dan
augmentasi.

Pemeriksaan terhadap urine merupakan salah satu cara untuk mengetahui kondisi
kesehatan seseorang, yang dilakukan dengan menganalisis kandungan kimia yang terdapat
pada urin,diantaranya kandungan darah, protein, glukosa, leukosit, nitrit, keton, urobilin,
bilirubin, berat jenis dan pH kemih. Manfaat dari urinalisis adalah dapat digunkan untuk
mengetahui adanya potensi gangguan hati, diabetes mellitus, infeksi ginjal, atau saluran
kemih. Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan suatu proses patofisiologi dengan etiologi
beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan umumnya berakhir
dengan gagal ginjal. Gangguan pada ginjal juga dapat berupa uremia yang merupakan suatu
sindrom klinik dan laboratorik yang dapat terjadi pada semua organ karena penurunan
fungsi ginjal, dimana terjadi retensi sisa pembuangan metabolisme protein, di tandai oleh
homeostasis cairan yang abnormal dan elektrolit dengan kekacauan metabolik dan
endokrin.

Kelainan lain pada ginjal lainnya yaitu Acute Kidney Injury (AKI) yang merupakan
kelainan fungsional dan struktural pada ginjal termasuk kelainan pada darh, urin atau
jaringan sekitar ginjal. Kelainan pada ginjal tersebut dapat diminimalisir dengan
mengetahui jumlah zat terlarut dalam urin. Kondisi urin dapat diketahui salah satunya
dengan menggunakan tes celup (dipstick). Dipstick merupakan alat diagnostik yang praktis
untuk mendeteksi adanya bakteriuria dibandingkan kultur urin, dengan sensitivitas 75% dan
spesifisitas 82%. Alat ini dapat digunakan untuk menilai kadar pH, adanya protein, nitrit
dan leukosite esterase pada urin dengan menggunakan dasar reaksi kimia yang dideteksi
dengan perubahan warna pada panel pemeriksaan. Adanya infeksi pada saluran kemih
ditandai dengan hasil leukosite esterase dan nitrit yang positif.

v
Pratikum ini bertujuan melakukan berbagai macam pengujian urin dan hubungannya
dengan diagnosis suatu penyakit, serta mengetahui prinsip-prinsip dalam pengujian urin dan
interpretasinya.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana kandungan kimia dalam urin ?

1.3 Tujuan Percobaan


Mahasiswa dapat melakukan analisa kualitatif kandungan urin.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Dapat mengetahui kandungan kimia urin

2. Dapat mengetahui kandungan urin melalui uji glukosa, protei, dan uji keton.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

vi
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Hari / Tanggal : Senin, 22 APRIL 2019
Waktu : 07.00 – 09.40 WIB
Tempat : LABORAORIUM BIOKIMIA, FMIPA,KIMIA,
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

3.2 Alat dan Bahan


1. Alat
Tabel 1 Alat- alat yang digunakan dalam praktikum :

vii
2. Bahan
Tabel 2 bahan- bahan yang digunakan

3.3 Langkah Kerja Dan Hasil Pengamatan


Tabel 3 langkah kerja dan hasil pengamatan

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada percobaan analisa kualitatif kandungan urin, urin diproduksi oleh ginjal. Sifat
dan susunan urin dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor fisiologis (seperti masukan diet,
suhu lingkungan, proses dalam tubuh, stress mental dan fisik) dan faktor patologis (seperti
adanya gangguan metabolisme, penyakit ginjal). Pemeriksaan urin berguna untuk
pemeriksaan suatu penyakit dan untuk mengetahui suatu keaadaan seperti tes kehamilan,
pengujian seseorang untuk mengetahui menggunakan narkotika dan zat lainnya. Dimana
hasilnya sangat akurat, biasanya menggunakan suatu alat yaitu berupa biosensor.
Dalam keadaan normal, urin pada orang dewasaakan dibentuk 1.200 sampai 1.500
ml urin dalam satu hari. Pembentukan urin tersebut dipengaruhi oleh jenis makanan dan
minuman yang dikonsumsi. Urin normal berwarna kuning pucat dan memiliki Ph 6 serta
berbau amoniak.
Pada urin normal terdapat kandungan zat dalam bentuk padat selama 24 jam. Yaitu
berupa Cl sebagai NaCl, ion Ca2+, Mg2+, iodium, urea, amoniak. Sedangkan pada urin
abnormal akan terkandung protein, glukosa , keton, senyawa lain seperti pigmen empedu,
darah. Jika zat tersebut terdeteksi maka seseorang mengalami gangguan metabolisme atau
viii
mengidap penyakit tertentu. Jika didalam urin seseorang mengandung glukosa, maka
seorang tersebut mengidap penyakit diabetes melitus. Sedangkan jika dalam urin seseorang
terdapat protein atau albumin disebut juga proteinuria yaitu suatu kondisi dimana urin
mengandung jumlah protein yang tidak normal. Biasanya hal ini ditandakan dengan
penyakit ginjal kronis yang dapat mengakibatkan diabetes, tekanan darah tinggi dan
penyakit yang dapat menyebabkan peradangan pada ginjal.
Jika urin mengandung gula, berarti tubulus ginjal tidak menyerap kembali gula
dengan sempurna. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada tubulus ginjal,
tetapi dapat pula disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam darah sehingga tubulus ginjal
tidak dapat menyerap kembali semua yang ada pada filtrat glomerulus. Kadar gula darah
yang tinggi disebabkan oleh terhambatnya proses pengubahan gula menjadi glikogen,
akibatnya produksi hormon insulin terhambat. Kelainan ini dikenal sebagai penyakit
kencing manis ( diabetes melitus).
Selanjutnya yaitu keton merupakan produk sampingan dari metabolisme lemak.
Ketika tubuh tidakmemiliki cukup glukosa, hati mengubah lemak menjadi aseton yang
digunakan sebagai bahan bakar otot, seadangkan urin atau air kencing merupakan cairan
sisa yang diekskresikan oleh ginjal dalam bentuk urin dengan melalui beberapa tahap
sehingga dikeluarkan tubuh melalui uretra. Jika keadaan normal keton sedikit
dimetabolisme dalam tubuh sehingga kecil kemungkinan terdeteksi dalam urin. Kondisi ini
biasanya jika seseorang berpuasa pada waktu yang berkepanjangan.
Uji yang praktikan lakukan yaitu uji glukosa atau uji benedict, uji protein dalam urin
atau uji heller, uji senyawa keton atau uji pother.

Pada uji glukosa yaitu menghasilkan warna biru pada urin normal, sedangkan
berwarna endapan merah bata pada urin patologis. Dimana urin patologis ini adalah urin
normal yang ditambahkan dengan sampel glukosa dengan variasi konsentrasinya,hasil yang
kami dapatkan sama sekali tidak mengandung glukosa karena warna tanpa perlakuan.
Seperti yang terlampir pada tabel pengamatan. Larutan benedict berfungsi sebagai indikator
dalam pengujian urin. Kandungan zat yang ada didalam larutan benedict bereaksi dengan
glukosa sehingga menghasilkan endapan merah bata. Pada percobaan ini dilakukan
pemanasan yaitu berfungsi untuk mempercepat reaksi dan didinginkan untuk menstabilkan
kembali keadaan normal urin sehingga didapatkan endapan merah bata, hasil yang kami
dapatkan yaitu berwarna hijau.
Selanjutnya yaitu uji protein, dimana protein yang praktikan ujikan yaitu albumin
dari putih telur yang nantinya menghasilkan uji positif yaitu berupa cincin putih. Jika
didalam urin mengandung protein memungkinkan terjadinya terlalu banyak lisis protein.
Penambahan HNO3 berfungsi untuk mendenaturasi protein. Hasil yang didapatkan yaitu
pada penambahan asam nitrat pekat pada urin yang jika terdapat protein akan membentuk
suatu lapisan terpisah dan dengan ditunjukkannya terbentuk cincin putih. Namun pada
praktikum yang kami lakukan tidak adanya endapan dan cincin putih , hal ini menunjukkan
bahwa urin yang diperiksa tidak mengandung protein.
Uji terakhir yaitu uji senyawa keton dalam urin, dimana urin ditambahkan dengan
dengan aseton dan nantinya akan menghasilkan warna ungu. Sampel yang diberikan larutan
ix
aseton dan natrium nitroposid , amonium klorida, dan amonia, akan membentuk warna
violet. Penambahan natrium 5% adalah untuk mempercepat reaksi dan penambahan
amonium hidroksida adalah untuk mengabsorbsi zat-zat yang ada didalam urin sehingga
menunjukkan uji positif berwarna ungu. Dari praktikum yang kami lakukan hasilnya negatif
dimana urin menunjukkan tidak adanya senyawa keton di urin.

BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Penentuan analisa kualitatif dari kandungan urin dari hasil yang kami
dapatkan yaitu:
 Tidak ditemukannya glukosa di dalam urin.
 Tidak ditemukan protein dalam urin.
 Tidak ditemukan keton dalam urin.
Urin yang normal berwarna pucat dan memiliki Ph 6 dan juga berbau
amonia. Adapun uji positif untuk urin yang mengandung glukosa berwarna endapan
merah bata, uji positif protein yaitu terbentuknya cincin putih, dan uji keton dengsn
berupa warna ungu.
2. Saran
Untuk melakukan analisa kualitatif kandungan urin diharapkan perlu
mengetahui kondisi klinis melalui sifat fisik, visual dan zat yang terkandung dalam
urin.

x
DAFTAR PUSTAKA

xi
JAWABAN PERTANYAAN

.
1. Tuliskan reaksi antara glukosa dan benedict!
Jawab:
2. Berdasarkan percobaan apakah kadar glukosa yang trdapat dalam sampel yang
dianalisis termasuk kedalam keadaan normal atau tidak?
Jawab :
3. Apa yang dapat menyebabkan kadar glukosa dalam darah bervariasi?
Jawab: tergantung jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah hormon insulin yang
dihasilkan oleh pankreas yang berguna untuk mengubah glukosa menjadi gula
darah.

4. Apakah uji heller spesifik terhadap protein, dan tuliskan reaksinya!


Jawab : iya.

5. Dalam kondisi bagaimanakah kadar protein tinggi dalam urin?


Jawab : ketika seseorang kelebihan mengkonsumsi protein, sehingga produksi urin
akan meningkat.

6. Berdasarkan percobaan, produksi urin manakah yang mengandung senyawa keton


tertinggi? Dan pada keadaan bagaimana senyawa keton ditemukan dalam urin?
Jawab : pada hasil yang didapatkan , dapat diketahui bahwa dalam sampel urin yang
praktikan ujikan tidak terdapat kandungan senyawa keton didalam urin. Senyawa
keton didalam urin ditandai dengan adanya warna ungu.

xii

Anda mungkin juga menyukai