Anda di halaman 1dari 3

Jawaban pertanyaan diskusi MK

1) Mengapa dalam perhitungan resiko sering dipakai standar deviasi, apa kegunaannya.
Jelaskan!
 Selain menggunakan analisis statistik, standar deviasi juga dapat digunakan
untuk menentukan jumlah risiko dan volatilitas terkait dengan investasi tertentu.
Investor dapat menghitung standar deviasi tahunan pengembalian investasi dan
menggunakan angka itu untuk menentukan seberapa stabil investasi tersebut.
Sebuah standar deviasi yang lebih besar akan berarti investasi yang lebih
berisiko, dengan asumsi stabilitas itu adalah hasil yang diinginkan. Intinya
standar deviasi mengukur seberapa banyak nilai-nilai tersebar dari mean atau
rata-rata.
 Dalam melakukan investasi perlu diukur resiko nya. Resiko selalu melekat pada
return investasi. Resiko dan Return bersifat searah. Semakin besar resiko suatu
investasi semakin besar return nya. Semakin kecil resiko suatu investasi
semakin kecil return nya. Para investor selalu menghitung resiko investasinya
dengan standard deviasi. Standard deviasi menghitung berapa jauh individual
data dari mean nya. Varian sendiri adalah range dan volatility dari original data,
varian merupakan kuadrat dari selisih data individual dengan mean nya.
Standard deviasi adalah akar pangkat dari variance sehingga unit
pengukurannya dikembalikan ke status awal yaitu tidak dipangkatkan sehingga
memudahkan interpretasi.
Misalnya saham A mempunyai mean Rp 1.000 dan standard deviasinya Rp 150.
Dengan tingkat kepercayaan 95% maka harga closing saham akan berkisar Rp
850-Rp 1.150. Bila harga saham turun atau naik dari range tersebut maka saham
tersebut mempunyai volatility yang tinggi dan resiko yang tinggi.
2) Mengapa semua investor lebih berprilaku sebagai seorang risk adverse atau penghindar
resiko?
Risk adverse merupakan kebalikan dari risk seeker (menyukai resiko) yaitu perilaku
investor yang cenderung tidak menyukai risiko atau bahkan menghindari risiko.
Seorang risk adverse akan cenderung mengambil keputusan yang mana memiliki risiko
yang lebih kecil, hal ini karena ia tidak ingin menanggung risiko yang besar dan sebagai
konsekuensinya return yang didapat pun tidak seberapa.
Mengapa investor cendrung menghindari resiko Hal ini dikarenakan sifat dasar atau
tujuan dari pebisnis(investor) itu sendiri yaitu profit oriented. Mereka mengharapkan
keuntungan pada setiap investasi yang dilakukannya. Mereka cenderung menghindari
risiko karena mereka tidak ingin menanggung kerugian yang timbul dimasa yang akan
datang.
3) Apakah benar semua spekulan adalah seorang yang risk seeker atau menyukai resiko?
Ya, seorang spekulan merupakan seorang risk seeker atau menyukai resiko. Seorang
spekulan akan terlibat dalam transaksi keuangan untuk memperoleh laba dan perubahan
harga yang diharapkan. Makin tinggi laba yang diharapkan oleh spekulan, makin besar
risiko yang dihadapi. Seorang spekulan akan cenderung mengharapkan laba yang
tinggi.Oleh karena itu, mereka dapat disebut sebagai risk seeker.
4) Apakah keterkaitan antara Risk and Return selalu linear?
Menurut kami kelompok 4, risk dan return tidak selamanya memiliki hubungan yang
linier (searah). Terkadang kedua hal tersebut bertindak sebaliknya (non-liner).
Contoh: seorang pekerja konstruksi bangunan. Dalam melakukan pekerjaannya
tersebut, mereka dihantui oleh risiko yang sangat besar besar yaitu kecelakaan kerja
yang dapat berujung pada kematian. Tentu risiko ini tidak setimpal dengan bayaran
yang akan didapat oleh pekerja tersebut dengan asumsi bahwa tidak ada asuransi
keselamatan kerja karyawan dalam perusahaan konstruksi tersebut.
5) Bagaiman bentuk keputuasan investasi oleh seorang yg Risk Seeker dan Risk Adverse.
Jelaskan dan berikan contoh!
Risk Seeker merupakan perilaku investor yang cenderung menyukai risiko. Seorang
risk seeker akan cenderung mengambil keputusan yang mana memiliki risiko yang
lebih tinggi, hal ini karena mereka percaya bahwa semakin tinggi risiko, maka akan
semakin tinggi return yang dihasilkan.
Contoh: seorang investor memilih untuk melakukan investasi pada saham Perusahaan-
perusahaan Go Public, yang tentunya memiliki sangat tinggi dalam hal penurunan harga
dan lain sebagainya.
Sedangkan risk adverse merupakan kebalikan dari risk seeker yaitu perilaku investor
yang cenderung tidak menyukai risiko atau bahkan menghindari risiko. Seorang risk
adverse akan cenderung mengambil keputusan yang mana memili kirisiko yang lebh
kecil, hal ini karena ia tidak ingin menanggung risiko yang besar dan sebagai
konsekuensinya return yang didapat pun tidak seberapa.
Contoh: seorang investor memilih untuk menggunakan bank sebagai sarana
investasinya atau ia berinvestasi pada obligasi Pemerintah yang mana memiliki kategori
risiko terkecil di antara sekuritas-sekuritas lainnya.