Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KONVERSI

ENERGI SURYA

VARIASI SUDUT TERHADAP RADIASI MATAHARI

Dosen Pembimbing:

Dr. Bayu Rudiyanto, ST, M.Si

Oleh:

1. Yosua Martua Purba (H41160166)


2. Abidin Fajar Ashari (H41160173)
3. Anggit Ramadhani P. (H41160188)
4. Ahmad Dzaky Maulana (H41160189)
5. Irfandi Muslim Amin (H41160273)
6. Awang Fajar Bachtiar (H41160336)

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

JEMBER

2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Matahari adalah pabrik tenaga nuklir yang dengan memakai proses fusi
mengubah sejumlah empat ton massa hidrogen yang banyak terdapat di jagad raya
menjadi helium tiap detiknya dan menghasilkan energi dengan laju 1020 kW-
Jam/detik. Berbeda dengan proses fusi nuklir yang berbahaya, proses yang terjadi
merupakan yang paling bersih dan gratis, selain itu energi ini tidak memerlukan
sarana angkutan atau transmisi jarak jauh, tidak berisik serta memiliki potensi
yang besar di berbagai lokasi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Energi yang berasal dari matahari merupakan potensi energi terbesar dan
terjamin keberadaannya di muka bumi. Berbeda dengan sumber energi lainnya,
energi matahari bisa dijumpai diseluruh permukaan bumi. Pemanfaatan radiasi
matahari sama sekali tidak menimbulkan polusi ke atmosfer. Perlu diketahui
bahwa berbagai sumber energi seperti tenaga angin, bio-fuel, tenaga air
sesungguhnya juga berasal dari energi matahari. Pemanfaatan radiasi matahari
umumnya terbagi dalam dua jenis, yaitu termal dan photovoltaic.
Dalam peningkatan produksi pertanian, salah satu faktor yang paling
berpengaruh adalah faktor iklim, antara lain radiasi matahari dan Suhu. Cahaya
matahari adalah salah satu syarat suatu tanaman dapat berfotosintesis. Radiasi
matahari berpengaruh langsung terhadap sifat tanaman, yaitu terhadap kecepatan
pertumbuhan, kecepatan transpirasi, dan dapat menyebabkan pembakaran, pada
periode kritis tanaman. Radiasi matahari mempengaruhi pertumbuhan tanaman
melalui tiga aspek. Pertama, intensitas cahaya yaitu jumlah cahaya yang diterima
persatuan luas, karena semakin tinggi intensitas cahaya semakin tinggi laju
fotosintesis. Kedua adalah kualitas cahaya yaitu mutu cahaya yang dicerminkan
dari panjang gelombang cahaya. Ketiga, dipengaruhi oleh peiriodisitas yaitu lama
penyinaran matahai atau panjang hari. Setiap tanaman membutuhkan intensitas,
kualitas, dan lama penyinaran matahari yang berbeda-beda. Untuk mengetahui
lama penyinaran matahari, perlu dilakukan pengukuran.

1.2 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai setelah melaksanakan praktikum ini adalah adalah
sebagai berikut :

1. Mengetahui alat-alat yang digunakan untuk mengukur radiasi matahari


2. Mengetahui fungsi dan prinsip kerja dari alat-alat pengukur radiasi
matahari.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Radiasi Matahari
Radiasi adalah suatu istilah yang berlaku untuk banyak proses yang
melibatkan pindahan tenaga oleh gejala gelombang elektromagnetik. Gaya radiatif
pemindahan kalor dalam dua pengakuan penting dari yang memimpin dan
konvektif gaya (1) tidak ada medium diperlukan dan (2) pindahan tenaga adalah
sebanding kepada kuasa ke lima atau keempat dari temperatur menyangkut badan
melibatkan(Pitts and Sissom, 2001).Pada waktu radiasi surya memasuki sistem
atmosfer menuju permukaan bumi (darat dan laut), radiasi tersebut akan
dipengaruhi oleh gas-gas aerosol, serta awan yang ada diatmosfer. Sebagian
radiasi akan dipantulkan kembali keangkasa luar, sebagian akan diserap dan
sisanya diteruskan kepermukaan bumi berupa radiasi langsung (dircet) maupun
radiasi baur (diffuse). Jumlah kedua bentuk radiasi ini dikenal dengan “Radiasi
Global”. Alat pengukur radiasi surya yang terpasang pada station. Station
klimatologi (Solarimeter atau Radiometer) untuk mengukur radiasi global.
(Monteith, j. L. 1975)
Penerimaan radiasi surya dipermukaan Bumi sangat bervariasi menurut
tempat dan waktu. Menurut tempat khususnya disebabkan oleh perbedaan letak
lintang serta keadaan atmosfir terutama awan. Pada skala mikro arah lereng sangat
menentukan jumlah radiasi yang diterima. Menurut waktu perbedaan radiasi
terjadi dalam sehari (dari pagi sampai sore hari) maupun secara musiman (dari
hari ke hari), karena sebaran energi radiasi menurut panjang gelombang sekitar
λm, maka secara umum dapat dikatakan bahwa panjang gelombang semakin
pendek bila suhu permukaan yang memancarkan radiasi tersebut lebih tinggi.
(Handoko, 1993)
Radiasi matahari merupakan proses penyinaran matahari sampai
kepermukaan bumi dengan intensitas yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan
sekitarnya. Radiasi matahari yang diterima dipermukaan bumi lebih rendah dari
konstanta mataharinya. Radiasi matahari yang terjadi diatmosfer mengalami
berbagai penyimpangan, sehingga kekuatannya menuju bumi lebih kecil. Bagian
dari radiasi matahari yang dihisap (absorbsi) akan berubah sama sekali sifatnya.
Perubahan dari sudut jatuhnya sinar dapat menyebabkan perubahan dari
panjangnya jalan yang dilalui oleh sinar tersebut (Nasir, A, 1990).
Lama penyinaran akan berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup
misalnya pada manusia dan hewan. Juga akan berpengaruh pada metabolisme
yang berlangsung pada tubuh makhluk hidup, misalnya pada tumbuhan.
Penyinaran yang lebih lama akan memberi kesempatan yang lebih besar bagi
tumbuha tersebut untuk memanfaatkanya melalui proses fotosintesis ( Benyamin
Lakitan, 1994 ) .
Pergeseran garis edar matahari menyebabkan perubahan panjang hari ( lama
penyinaran ) yang diterima pada lokasi-lokasi di permukaan bumi. Perubahan
panjang hari tidak begitu besar pada daerah tropis yang dekat dengan garis
ekuator. Semakin jauh letak tempat dari garis ekuator maka fluktuasi lama
penyinaran akan semakin besar ( Benyamin Lakitan, 1994).
Radiasi matahari yang diterima permukaan bumi persatun luas dan satuan
waktu disebut isolasi atau kadang-kadang disebut radiasi global, yaitu radiasi
langsung dari matahari dan radiasi yang tidak langsung ( dari langit ) yang
disebabkan oleh hamburan dari partikel atmosfer. ( Bayong Tjasyono, 2004 ).
Radiasi matahari yang diterima oleh bumi akan diterima dengan cara diserap
dan tidak tertangkis oleh atmosfer sampai ke permukaan bumi, karena bumi
sangat padat, maka radiasi ini bukan ditangkis, melainkan dikembalikan satu arah
ke atmosfer (proses ini biasanya disebut refleksi). Es dan salju merefleksi hamper
kebanyakan dari radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi, sedangkan
laut merefleksi sangat sedikit.Pada waktu radiasi surya memasuki system atmosfer
menuju permukaan bumi (daratan dan lautan), radiasi tersebut akan dipengaruhi
oleh gas-gas, aerosol, serta awan yang ada di atmosfer. Sebagian akan diserap dan
sisanya diteruskan ke permukaan bumi berupa radiasi langsung (direct) maupun
radiasi baur (diffuse). Radiasi langsung adalah radiasi yang tidak mengalami
proses pembauran oleh molekul-molekul udara, uap dan butir-butir air serta debu
di atmosfer seperti yang terjadi pada radiasi baur. Jumlah kedua bentuk radiasi ini
dikenal dengan “radiasi global”. Alat pengukur radiasi surya yang terpasang pada
stasiun-stasiun klimatologi (Handoko, 2003).
Radiasi cahaya dari permukaan benda tersebut akan dipancarkan ke segala
arah. Jika radiasi yang dipancarkan oleh benda ini menerpa suatu permukaan lain,
maka energi cahaya tersebut dapat diserap, dipantulkan, atau diteruskan oleh
permukaan penerima tersebut. Cahaya dapat bergerak melintasi benda padat
(misalnya kaca, plastic), cair (misalnya air, minyak), gas (misalnya udara), dan
ruang hampa udara atau vakum (misalnya pada ruang angkasa luar). Salah satu
ciri cahaya adalah panjang gelombang. Panjang gelombang adalah jarak per siklus
gelombang cahaya, biasanya diberi symbol λ (Benyamin Lakitan, 1994).
BAB III
METODELOGI

3.1. Waktu dan tempat praktikum

Praktikum agroklimat ini dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2018 digedung


teknik, Politeknik Negeri Jember pada pagi hari pukul 09.30 WIB
3.2. Alat dan Bahan Praktikum

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis
, solar meter, busur, stopwatch
3.3. Prosedur kerja
Adapun cara kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Melakukan pengukuran 300 kemudian solar meter diletakkan pada busur yang
menunjukkan angka 300
2. Melakukan pengukuran 600 kemudian solar meter diletakkan pada busur yang
menunjukkan angka 60
3. Mengulangi langkah diatas dengan perselang waktu 5 menit
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data

RADIASI MATAHARI (W/m2)


PERCOBAAN JAM
300 600

1 09.30 965 1308

2 09.35 1139 383

3 09.40 906 286

4 09.45 340 559

4.2 Pembahasan
Pada kegiatan praktikum pengukuran radiasi matahari dengan variasi sudut
didapatkan bahwa pada jam 09.30 posisi ketinggian matahari berada lebih dari
300 terhadap bumi hal ini dapat terlihat bahwa nilai radiasi matahari terbesar
berada pada sudut 600. Salah satu faktonya juga mengapa nilai radiasi
matahari terbesar pada sudut tersebut, karena sensor radiasi matahari pada alat
solar meter tersebut mendekati tepat pada arah cahaya matahari.
Tetapi data kami menemui ketidak akuratan dikarenakan beberapa sumber
mengatakan bahwa seharusnya semakin siang maka tingkat radiasi matahari
semakin tinggi, tetapi data kami tidak berlaku seperti para sumber katakan
dikarenakan cuaca tidak mendung atau mendung saat pengukuran radiasi
matahari sehingga data yang kami dapatkan tidak sesuai dengan sumber yang
ada.
BAB V
KESIMPULAN

V.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah dijelaskan, maka dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut
1. Alat yang dapat digunakan sebagai pengukur radiasi matahari adalah solar
meter
2. Prinsip kerja dari solar
3. Radiasi sinar matahari terdiri dari dua yaitu sinar gelombang pendek dan sinar
gelombang panjang lalu faktor yang mempengaruhi intensitas radiasi ada
empat yaitu jarak matahari , intensitas radiasi matahari , panjang hari &
pengaruh atmosfer.
4. Dari pengukuran intensitas cahaya yang telah kami lakukan di dapatkan rata
rata bahwa intensitas radiasi surya berbeda beda tergantung sudut kemiringan
saat pengukuran , cahaya yang dapat di tangkap & kondisi cuaca.