Anda di halaman 1dari 20

PARASITOLOGI

PROTOZOA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Farmakologi Kemoterapi
Dosen pengampu
Nur rahayuningsing M.si.,Apt

Nama / NIM : Amelia Maulidasari (31116152)


Kelas : Farmasi 3D

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA
2018
PROTOZOA

1. Definisi Protozoa
Protozoa adalah hewan bersel satu yang hidup sendiri atau dalam bentuk koloni
(proto (J)= pertama; zoon=hewan). Tiap protozoa merupakan kesatuan lengkap yang
sanggup melakukan semua fungsi kehidupan yang pada jasad lebih besar dilakukan
oleh sel khusus. Sebagian besar protozoa hidup bebas di alam, tetapi beberapa jenis
hidup sebagai parasit pada manusia dan binatang (Sutanto, 2008)
2. Karakteristik Umum
Protozoa termasuk mikroorganisme, besarnya antara 3 mikron sampai 100
mikron. Protozoa merupakan penghuni tempat berair atau tempat basah, bila keadaan
jadi kering, akan membuat cyste(kristal). Kegiatan hidup dilakukan oleh sel itu sendiri.
Didalam sel terdapat alat-alat yang melakukan hidup. Alat-alat itu misalnya
inti(nukleus), butir inti(nukleolus), rongga(vacuola), mitokondria.
Pada umumnya protozoa bersel satu, tetapi ada beberapa spesies yang
membentuk koloni. Umumnya didalam satu sel terdapat satu inti, tetapi dari beberapa
spesies secara generatif berkonjugasi karena individu jantan dan betina belum jelas
perbedaannya. Sesuai dengan sifat sel binatang, umumnya protozoa ada yang selalu
berubah-ubah ada juga yang tetap bentuk bola atau bulat panjang dengan atau tidak
dengan suatu flagel atau silia.
Protozoa hanya dapat hidup dari zat-zat organik, merupakan konsumen dalam
komunitas, mereka memakai bakteri atau mikroogranisme lain atau sisa – sisa
organisme. Di perairan umumnya merupakan zoo plankton.
3. Morfologi
Pada umumnya protozoa mempunyai dua stadium vegetative atau stadium trofozoit
(trophos = makan) dan stadium kista (cyst = kantong) yang tidak aktif. Ukurannya kecil
sekali, hanya beberapa micron sampai 40 mikron. Protozoa yang terbesar adalah
Balantidium coli yang berukuran 70 mikron. Bentuk protozoa ada yang bulat, lonjong,
simetris, bilateral atau tidak teratur. Protozoa terdiri atas (satu atau lebih) inti dan
sitoplasma. Inti merupakan bagian penting yang diperlukan untuk mempertahankan
hidup dan untuk reproduksi. Inti terdiri atas selaput inti (membran inti) yang meliputi
reticulum halus (serabut inti) yang akromatik, cairan inti, kariosom (karyosoma,
endosome, nekleolus) dan butir kromatin. (Srisasi, 2008)
Sitoplasma terdiri dari ektoplasma (bagian luar) yang bersifat padat dan
mempunyai struktur yang elastis. Ektoplasma berfungsi untuk pergerakan, mengambil
makanan, pernapasan, ekskresi, dan melindungi bagian yang lebih dalam. Endoplasma
(bagian dalam) merupakan bahan yang keruh atau konsisten seperti sirup dan
didalamnya banyak terdapat vakuola, seperti vakuola kontraktil, vakuola makanan, dan
sebagainya (Muslim, 2009).
4. Taksonomi Protozoa
Protozoa yang merupakan parasite pada manusia dibagi dalam empat kelas:
1. Rhizopoda (rhiz (J) = akar; podium = kaki)
2. Mastigophora = Flagellata (mastix (J) = cambuk; phoros = mengandung)
3. Ciliophora = Ciliata
4. Sporozoa (Sutanto, 2008)
A. Rhizopoda
Kelas rhizopoda merupakan golongan protozoa yang memiliki pseudopodi
sebagai alat motoric. Terdapat empat genus yang penting, yaitu genus Entamoeba
dengan spesies Entamoeba histolytica, Entamoeba coli, dan Entamoeba
ginggivalis; genus Endomalix dengan spesiesnya Endomalix nana; genus
Iodomoeba dengan spesiesnya Iodomoeba butschlii; genus Dientamoeba dengan
spesiesnya Dientamoeba fragilis.
Sampai saat ini hanya spesies Entamoeba histolytica saja yang dapat
menimbulkan sakit pada manusia.
1) Entamoeba histolytica
Entamoeba histolytica merupakan suatu parasite yang sering ditemukan
dalam usus besar manusia, primate tingkat tinggi tertentu, beberapa binatang
jinak rumahan dan komensal. Sebagian besar kasusnya bersifat asimtomatik,
kecuali pada manusia atau binatang yang hidup dalam keadaan tertekan atau
dalam keadaan yang tidak alamiah (misal pada primate yang ada di kebun
binatang). Entamoeba histolytica dapat menimbulkan penyakit disentri
amoeba. Disamping itu, penyakit disentri juga terjadi karena bakteri atau basil
yang disebut dengan disentri basiler (shigellosis).
 Morfologi dan siklus hidup
Entamoeba histolytica memiliki tiga bentuk, yaitu trofozoit, prekista,
dan kista. Bentuk trofozoit merupakan bentuk invasive dan umumnya
terdapat di usus besar (dalam jaringan mukosa atau sub mukosa), mampu
bertahan selama 5 jam dalam suhu 37ºC, 16 jam dalam suhu 25ºC, 96 jam
dalam suhu 5ºC. bentuk kista berada di lumen usus, dapat bertahan selama
2 hari dalam suhu 37ºC, 9 hari dalam suhu 22ºC, dan 60 hari dalam suhu
0ºC, selama 5 menit dalam suhu 37ºC, 7 jam dalam suhu 28ºC, dan dalam
15-30 menit pada 4 ppm chlor. Penderita terinfeksi oleh Entamoeba
histolytica karena tertular bentuk kista matang berinti empat. Proses
reproduksi Entamoeba histolytica adalah dengan cara :
a) Ekskistasi, kista berinti empat yang masuk kedalam tubuh membentuk
delapan amubula kemudian menjadi bentuk trofozoit, proses ini terjadi
di sekum/ileum.
b) Enkistasi, dari bentuk trofozoit menjadi kista
c) Multiplikasi, terjadi pembelahan dari trofozoit

Bentuk trofozoit memiliki ekstoplasma (ecto), berwarna jernih dan


homogeny, berfungsi untuk pergerakan (psd=pseudopodi), menangka
makanan dan membuang sisa-sisa makanan, sebagai alat pernafasan, dan
alat proteksi. Endoplasma (endo) berwarna keruh, di dalamnya banyak
terdapat granula-granula, vakuola (vac), butir-butir kromatin dan eritrosit,
berfungsi mencerna makanan dan menyimpan makanan. Di dalam nucleus
terdapat nucleolus “endosom” atau “kariosom” dan letaknya di tengah-
tengah. Halo merupakan zona jernih yang mengelilingi kariosom. Selaput
inti, merupakan kromatin granula yang tersusun halus dan rata.
Bentuk prekista memiliki ektoplasma yang tidak kelihatan, pseudopodi
pendek yang dibentuk secara perlahan-lahan dan memiliki bentuk trofozoit
yang bulat serta merupakan stadium peralihan pada inkistatik. Stadium ini
dalam keadaan pasif. Pada bentuk kista, nukleusnya mempunyai lensa yang
terletak di tepi karena terdesak glikogen vakuola yang besar yang
dikelilingi kromidial (cb,cromidial bars) berbentuk batang. Dinding
dibentuk dari ektoplasma dan berfungsi sebagai alat pelindung. Kista tidak
bergerak dan tidak makan, kista berkembang biak dengan jalan membelah,
mula-mula kista berinti 1, kemudian berinti 2, selanjutnya berinti 4. Kista
tersebut berfungsi infeksius dan biasanya tidak memiliki glikogen vakuola.
Stadium kista merupakan stadium menular dan berperan sebagai penyebar
penyakit disentri amebiasis.

 Epidemiologi dan pencegahan


Entamoeba histolytica bersifat kosmopolit, tersebar di seluruh dunia
terutama di daerah tropik dan subtropik dengan prevalensi pada daerah tropic
dan subtropik 0,5-50%, di Indonesia (endemis) 10-18%, sedangkan di RRC,
Mesir, India, Belanda sebesar 10,1-11,5% di Eropa Selatan 20-51%.
Indonesia merupakan salah satu Negara daerah endemis kasus amoeba
dengan prevalensi lebih tinggi di daerah pedesaan jika dibanding dengan
perkotaan.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan secara perorangan terhadap
penularan amebiasis adalah dengan mencegah tercemarnya makanan dan
minuman dari kista Entamoeba histolytica yang dibawa oleh lalat, lipas, atau
tikus; menjaga kebersihan perorangan dan alat-alat makan dan minum;
memasak makanan dan minuman dengan benar. Pencegahan masyarakat
adalah dengan melakukan pengobatan terhadap carrier, membuat sumber air
yang baik dan bebas terhadap pencemaran feses, serta pembuangan feses
tidak di sungai dan mengendalikan penggunaan pupuk feses.
 Pengobatan
Obat untuk mengobati amebiasis, diantaranya adalah:
1. Metronidazol (Flagyl, Mebazid, Trikacide): dewasa 2x1 gram selama 3-
5 hari atau 3x750 mg selama 5-10 hari; anak 50 mg/kg BB/hari selama
5-10 hari.
2. Nimorazol (Naxogin): dewasa 2 gram selama 5 hari (amebiasis usus).
Untuk amebiasis hati diberikan selama 10 hari.
3. Ornidazol (tiberal): dewasa 2x1 gram/hari selama 3 hari. Anak: 50
mg/kg BB/hari selama 3 hari.
4. Tinidazol (Fasigyn): 2 gram (dosis tunggal) selama 2-3 hari.
5. Seknidazol (Flagentyl): dewasa 3x500 mg selama 3 hari (amebiasis
usus). Anak: 25 mg/kg BB selama 3 hari. Untuk amebiasis hati
diberikan selama 5-10 hari.
6. Dehidroemiten dihidroklorida (DH Emetin 30): 1-1,5 mg/kg BB/hari
injeksi.
7. Clefamid (Mebinol): 3x500 mg selama 10-20 hari.
B. Ciliata
Kelas ciliata merupakan protozoa yang memiliki silia. Salah satu spesies adalah
Balantidium coli.
1. Balantidium coli
Balantidium coli merupakan protozoa usus manusia yang terbesar dan
satu-satunya golongan ciliata manusia yang patogen, menimbulkan
balantidiasis atau ciliate dysenteri. Penyakit zoonis yang sumber utamanya
adalah babi sebagai hospes reservoar, hidup dalam usus besar manusia, babi,
dan kera. Balantidium coli dalam siklus hidupnya memilki 2 stadium, yaitu
stadium trofozitdan kista. Lingkaran hidup Balantidium coli dan E. histolytica
sama, hanya saja bentuk kista dari Balantidium coli tidak dapat membelah diri.
 Morfologi dan Siklus Hidup
Trofozoid berbentuk lonjong, ukuran 60-70 x 40-50 µm. Tubuh tertutup
silia pendek, kecuali di daerah mulut silia lebih panjang (adoral cilia).
Bagian anterior terdapat cekungan yang dinamakan peristom dan terdapat
mulut (sitosom), tidak memiliki usus, tetapi di bagian posterior memiliki
anus (cyh; cytoyge). Terdapat 2 inti yang terdiri dari makronukleus (maN
yang terbentuk ginjal) dan mikronukleus (miN yang berbentuk bintik
kecil) yang terdapat pada cekungan makronukleus. Terdapat vakuola
makanan (berisi sisa makanan, bakteri, leukosit, eritrosit, dll) dan vakuola
kontraktil (cv).
Kista berbentuk bulat, berukuran 50-60 µ, dinding dua lapis, sitoplasma
bergranul, terdapat makro dan mironukleus serta sebuah badan
refraktil.trofozoid hidup dalam mukosa dan submukosa usus besar,
terutama didaerah sekum bagian terminal. Bergerak ritmis dengan
perantaraan silia. Trofozoit tidak hidup lama i luar badan, tetapi kista
tetap hidup selama beberapa minggu. Kista yang dapat hidup di luar
badan adalah bentu infektif. Apabila tertelan oleh hospes baru, dinding
kista hancur dan trofozoit yang dilepaskan masuk kedinding usus dan
memperbanyak diri.
Stadium kista dan trofozoit dapat berlangsung di dalam satu jenis
hospes. Hospes alami adalah babi, sedangkan manusia merupakan hospes
insidentil. Kista infektif yang tertelan akan berubah menjadi trofozoit di
dalam usus besar. Di lumen usus atau di submukosa usus, trofozoit
tumbuh dan memperbanyak diri (multiaplikasi). Jika lingkungan usus
kurang sesuai, trofozot akan berubah menjadi kista.
Reproduksi berlangsung secara binary transverse fission (belah diri
melintang) yaitu trofozoit melakukan pembelahan diri dan secara
konjugasi. 2 trofozoit membentuk kista bersama, dan kemudian bertukar
materi dari inti dan berpisah kembali menjadi 2 trofozoit baru.
 Patologi dan Gejala Klinis
Pada umumnya balantidiasis tidak menampakkan gejala klinis dan
infeksi pada manusia terjadi karena kisa infektif tertelan bersama air atau
makanan yang sudah tercemar feses babi atau penderita lainnya. Pada usus
besar utamanya menimbulkan ulserasi sehingga menimbulkan perdarahan
dan pembentukan lendir di feses penderita. Penderita tidak mengalami
demam pada kasus balantidiasis usus besar.
Mukosa dan submukosa usus diinvasi dan dirusak oleh jasad yang
memperbanyak diri. Invasi berhasil dengan bantuan fermen-fermen
sitolitik dan penerobosan secara mekanik. Parasit memperbanyak diri
dengan membentuk sarang dan abses kecil yang kemudian pecah menjadi
ulkus yang lonjong dan tidak teratur dengan tepi mera yang menggaung.
Dengan kelainan mulai dari hiperemia kataral yang sederhana sampai ulkus
yang jelas. Masing-masing tukak mungkin terpisah denga mukosa yang
normal atau hiperemik diantaranya atau ulkus-ulus itu menjadi satu dengan
sinus-sinus yang saling berhubungan.
Sediaan histologik menunjukkan daerah-daerah hemoragik, infiltrasi sel
bulat, abses, ulkus nekrotik, dan terdapat invasi parasit, tanda utama ialah
sel inti satu yang mencolok, kecuali jika ada infeksi bakteri sekunder. Pada
eksaserbasi infeksi kronis terdapat pada ulkus-ulkus kecil dan tidak jelas.
Mukosa mengalami peradangan merata dan mungkin terdapat daerah-
daerah kecil yang diliputi suatu membran dan dibawahnya ada jaringan
yang terkelupas. Pada infeksi sedang yang akut mungkin terdapat feses
yang encer sebanyak 6-15 kali sehari dengan lendir, darah dan nanah. Pada
keadaan kronis mungkin terdapat diare yang timbul-hilang diselingi oleh
konstipasi, nyeri pada kolon, anemia, dan kakesia.
 Diagnosis
Secara klinis balantidiasis dapat disalah artikan dengan disentri lain dan
demam usus. Diagnosis bergantung pada ditemukannya trofozoit dalam
feses encer dan jarang bergantung pada temuan kista dalam feses padat,
dan feses harus diperiksa beberapa kali karena pengeluaran parasit dari
badan manusia berbeda-beda. Diagnosis laboratorium dapat ditentukan
dengan pengecekan feses untuk menemukan bentuk kisa atau trofozoit
Balantidium coli.
 Pengobatan
Obat-obatan yang sering digunakan adalah dari golongan
diiodihidroksikinolin (diiodokin), sediaan arsen (karbarson), dan
oksitetrasiklin.
 Epidemiologi dan Pencegahan
Frekuensi Balantidium coli pada manusia redah, sedangkan pada babi
tinggi berkisar 63-91%. Babi mengandung Balantidium coli dan
Balantidium suis. Spesies Balantidium coli dapat menular pada manusia
sedangkan Balantidium suis tidak dapat menular pada manusia. Bukti
epidemiologik menyokong pendapat bahwa babi bukan sumber utama
infeksi manusia, dan ini bertentangan dengan pendapat sebelumnya.
Frekuensi infeksi penyakit ini rendah pada manusia yang bekerja pada
daerah yang manusianya memiliki hubungan erat dengan babi dan manusia
yang refrakter terhadap infeksi dengan “strain” babi. Apabila terjadi
wabah, manusia menjadi sumber utama infeksi penularan yang terjadi dari
tangan kemulut dan dari makanan yang terkena kontaminasi. Pencegahan
dilakukan dengan menghindari mekanan dan minuman dari kontaminasi
feses penderita atau babi.
C. Mastigophora (Flagelata)
Protozoa yang termasuk dalam kelas Mastigophora (Flagelata) memiliki satu
atau lebih flagel yang berfungsi untuk bergerak. Berdasarkan tempat hidupnya,
flagelata ini dapat dikelompokkan menjadi hemoflagelata yang habitatnya
didalam sistem peredaran darah dan jaringan, dan kelompok lain adalah flagelata
usus, mulut dan genital. Kelompok hemoflagelata diantaranya adalah genus
Trypanosoma dan Leishmania, sedangkan yang termasuk dalam kelompok
flagelata usus adalah Chilomastix mesnili, Trichomonas hominis, Embadomonas
intestinalis, dan Giardia lamblia. Sedangkan Trichomonas tenax termasuk
flagelata mulut dan Trichomonas vaginalis termasuk kelompok flagelata genital.
 Flagelata, Usus, Mulut, dan genital
Flagelata yang berhabitat di usus, mulut dan genital ini umumnya
mempunyai 2 macam bentuk yaitu trofozoit dan kista. Hanya genis
Trichomonas yang memiliki bentuk trofozoit. Pada bentuk trofozoit, lebih dari
satu flagel keluar dari blefaroplas. Tidak semua genus flagelata mempunyai
ciri khas. Reproduksi terjadi melalui membelah diri(binary fission). Dalam
penularannya, bentuk kista flagelata merupakan bentuk yang infektif. Untuk
keperluan siklus hidupnya flagelata golongan ini hanya membutuhkan satu
hospes (monoksen). Giardia lamblia dan Trichomonas vaginalis sampai saat
ini dapat menimbulkan sakit pada manusia.
1. Giardia lamblia
Manusia adalah hospes alami ( Giardia lamblia). Spesies dan morfologi
yang sama ditemukan pada berbagai hewan, dan penyakit yang
disebabkannya disebut giardiasis atau lamblias. Distribusi geografik
bersifat kosmopolit dan lebih sering ditemukan didaerah beriklim panas
daripada di daerah beriklim dingin. Parasit ini juga ditemukan di
Indonesia.
 Morfologi
Giardia lamblia mempunyai bentuk trofoit dan kista, hidup di
duodenum dan proksimal jejunum. Makanan diambil dari usus,
meskipun parasit ini mungkin mendapat makanan melalui batik
isapnya dari sel-sel epitel. Sedangkan cara berkembang biaknya
dengan pembelahan mitosis selama terbentuk kista. Trofozoit
berbentuk simetris, ukuran 15-20x5-15μ dan rata-rata 14x7μ,
mempunyai 2 inti/nukleus (Nu) dan kariosom (k) letaknya ditengah.
Bagian dorsal bentuknya konveks(cembung) sedangkan bagian ventral
bentuknya mendatar dan terdapat 2 buah alat isap(AD, afhezive
disk;sucking disk) yang berfungsi sebagai alat melekatkan diri pada
dinding mukosa. Dibagian anterior terdapat blefaroplas. Sitoplasma
terdapat bintik-bintik halus, terdapat aksonema (Ax;2 axonema).
Ujung posterior terdapat parabasal body(MB, median bodies);
mempunyai 4 pasang flagel(Fg), yang terdiri dari dua pasang cros
lateral flagel (bagian anterior) , sepasang uncros lateral flagel(tubuh
bagian lateral),sepasang dan sepasang uncros flagel (terletak bagian
posterior)
Bentuk kista berukuran 12x8μ, dengan dinding tebal sebagai alat
pelindung, sitoplasma granuler. Flagelnya masuk kedalam kosta dan
kosta yang mengandung flagel ini disebut sebagai bristle, pada bagian
tengahnya terdapat aksonema, dan mempunyai nukleus antara 2-4
buah.(Muslim, 2009)
 Epidemiologi
G. lamblia ditemukan kosmopolit dan penyebarannya
tergantung dari golongan umur yang diperiksa dan sanitasi
lingkungan. Prevalensi yang pernah ditemukan di jakarta adalah 4,4%.
Prevalansi G. Lamblia di Jakarta antara tahun 1983 hingga 1990 adalah
2,9%.
 Siklus hidup
G. lamblia hidup dirongga usus halus, yaitu duodenum dan
proksimal jejunum dan kadang-kadang saluran dan kandung empedu.
Infeksi terjadi setelah teringesti bentuk kista. Ekskistasi terjadi setelah
kista secara terpajan oleh HCl dan enzim pankreas saat melewati
lambung dan usus halus. Ekskitasi merupakan aktivasi kista berinti
empat dorman untuk mengeluarkan parasit motil yang membelah
menjadi dua tropozoit. Tropozoit motil tersebut menempel dipermukaan
sel epitel usus dengan menggunakan batil isap. Setelah melekat pada sel
epitel, organisme tersebut akan berkembang biak dengan cara belah
pasang longitudinal.
Sebagian tropozoit akan mengalami enkistasi saat menuju
kolon. Kondisi yang dapat menstimulasi proses ini tidak diketahui
secara pasti tetapi secara in vitro, enkistasi dapat diinduksi oleh pajanan
terhadap empedu dan peningkatan pH. Setelah enkistasi, parasit tersebut
akan keluar bersama tinja. Kista resisten terhadap penggunaan kimia
ringan seperti air berklorin dan pendidihan air serta tahan dalam air
dingin hingga berbulan-bulan. Kista dapat dimustahkan dengan
pembekuan atau pengeringan. (Maulinisa, 2009)
 Pencegahan
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan mencegah
tercemarnya makanan dan minuman dari kista yang dibawa oleh lalat,
lipas atau tikus; menjaga kebersihan perorangan dan alat-alat makan dan
minum; dan memasak makanan dan minuman dengan benar.
Pengobatan masyarakat adalah dengan melakukan pengobatan terhadap
carrier, membuat sumber air yang baik dan bebas terhadap pencemaran
feses, serta pembuangan feses tidak disungaindan mengendalikan
penggunaan pupuk feses.
 Pengobatan
Pengobatan dengan kuinakrin aman dan efektif. Semua infeksi
diobati secara rutin dengan dosis :
 Dewasa : 100 mg x 3/hari selama 5 hari
 Anak-anak : 8 mg/kg BB/hari selama 5 hari(Muslim, 2009)
2. Trichomonas vaginalis
Menurut tempat hidupnya genus Trichomonas pada manusia ada 3
spesies, yaitu Trichomonas hominis pada usus, Trichomonas tenax pada
rongga mulut, dan Trichomonas vaginalis pada saluran urogenital. Di
antara ketiga spesies ini hanya Trichomonas vaginalis saja yang
menimbulkan penyakit pada manusia, sedangkan dua spisies lainnya
apatogen. Genus Trichomonas hanya memiliki bentuk trofozoit dan tidak
memiliki bentuk kista. Meskipun diantara Trichomonas ada perbedaan
dalam ukuran, ciri-ciri inti, dan flagel, tetapi pemeriksaan labolatorium
sulit memastikan diagnosis spesies berdasarkan morfologi sehingga
penting diperhatikan tempat pengambilan specimen sebagai tempat hidup
parasite untuk mrmudahkan dalam menentukan spesies Trichomonas.
Trichomonas vaginalis ditemukan pada genitalia wanita dan
pria,terutama pada saluran kemh. Frekuensi terjadinya lebih banyak pada
wanita daripada pria, dan penyakit ini bersifat komopolit.
 Morfologi dan siklus hidup
Ukuran antara 15-20x10 mikron, tidak bewarna dan bentuknya
kuboid, sitoplasmanya bergranula yang pada umumnya terletak
disekitar kusta dan aksostil (ax, axostyle), membrane bergelombang
(um, undulating membrane) berakhir pada pertengahan tubuh, tidak
mempunyai flagel bebas (fg), sitostoma tidak nyata (cy, sytostoma ),
nucleus (nu), makanannya adalah kuman, sel-sel vagina, hnaya dapat
hidup pada pH di atas 5,5-7,5.
Pada wanita tempat hidup parasite ini di vagina, sedangkan pada
pria di uterus dan postat. Parasite ini hidup di mukosa vagina, memakan
bakteri dan leukosit. Trichomonas vaginalis bergerak dengan cepat,
berputar-putar di antara sel-sel epitel dan leukosit dengan menggerakan
flagel anterior dan membrane bergelombang. Di luar habitatnya,parasite
mati pada suhu 50ºC, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 0ºC.
Dalam biakan, parasite ini mati pada ph kurang dari 4,9. Oleh karena itu
parasite tidak dapat hidup di sekitar vagina yang asam (ph 3,8-4,4).
Parasite ini tidak tahan terhadap disinfektan dan antibiotic.
Infeksi terjadi secara langsung saat koitus, melalui bentuk
trofozoit pada keadaan lingkugan sanitasi kurang baik (banyak orang
hidup bersama dalam satu rumah). Infeksi terjadi secara tidak langsung
melalui alat mandi, seperti lap mandi atau alat sanitasi, seperti dudukan
toilet (pernah dilaporkan).
 Pengobatan
Dasar pengobatan infeksi ini adalah memperbaiki keadaan
vagina dengan membersihkan mukoa vagina dan menggunakan obat-
obat per oral dan local. Pada saat ini metronidazole merupakan obat
yang efektif untuk pengobatan trikomoniasis, baik untuk pria maupun
wanita. Dosis obat per oral 2x250 mgsehari selama 5-7 hari untuk suami
atau istri. Dosis local untuk wanita adalah 500 mg metronidazole dalam
bentuk tablet vagina sehari selama 5-7 hari.
 Epidemiologi dan pencegahan
Trikomoniasis vagina ditemukan di mana-mana. Penelitian
menunjukan bahwa parasit ini ditemukan pada semua bangsa/ras dan
pada semua musim. Penentuan frekuensi ini di suatu daerah atau Negara
sulit dilakukan karena kebanyakan penelitian dilakukan pada golongan
tertentu saja, seperti golongan wanita hamil (18-25% di amerika serikat)
dan dari klinik ginekologi (30-40% di eropa timur). Di Indonesia
berdasarkan hasil penelitian di RSCM-Jakarta terdapat 16% dari klinik
kebidanan dan 25% wanita dari klinik ginekologi (sampel sebanyak
1146 orang). Cara pemeriksaan yang berbeda akan memberikan hasil
yang berbeda. Pada pria umumnya angka-angka yang ditemukan lebih
kecil,mungkin karena parasite lebih sukar ditemukan dank arena infeksi
sering berlangsung pada gejala. Pada wanit, parasite lebih sering
ditemukan pada kelompok usia 20-49 tahun, berkurang pada usia muda
atau usia lanjut dan jarang pada anak gadis. Sebagai pencegahan, kasus-
kasus tanpa gejala pada pria perlu mendapat pengobatan yang tuntas.
Demikian pula suami dari wanita yang menderita trikomoniasis perlu
diberikan pengobatan yang sama seperti istrinya sampai parasite tidak
ditemukan lagi pada pembiakan control.
Tindakan pengobatan pada penderita dilakukan sebagai
tindakan pencegahan agar tidak menularkan pasangannya. Selain itu
hygiene pribadi dan kebersihan alat-alat toilet dijaga untuk menghindari
penularan tidak langsung.
D. Sporozoa
Kelas Sporozoa berkembang biak secara aseksual (skizogoni) dan seksual
(sporogoni) secara bergantian. Kedua cara berkembang biak ini dapat berlangsung
dalam satu hospes, seperti yang terjadi pada Coccidia, sedangkan yang
berlangsung pada dua hospes yang berbeda terdapat pada Haemosporidia
(Plasmodium).
1. Genustoxoplasma
Toksoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditularkan
dari binatang ke manusia dan sebagai sumber utama infeksi ini adalah kucing.
Penyakit ini ditemukan didaerah tropis dan disebabkan Toxoplasma gondii.
Penyakit ini jarang menimbulkan gejala klinis, tetapi akibatnya sangat
merugikan atau bahkan dapat membahayakan jiwa. Manifestasi klinis
penyakit ini sangat bervariasi yang pada umumnya tidak khas sehingga sulit
diduga. Kerusakan jaringan yang ditimbulkan oleh parasit ini juga tidak khas,
dan protozoanya juga sulit ditemukan sehingga diagnosis toksoplasmosis
sering ditegakkan setelah kerusakan jaringan yang terjadi tidak mungkin
diperbaiki lagi.
Didalam tubuh manusia parasit terdapat dalam sel-sel retikuloendotel
dan juga didalam sel-sel parenkim. Pembesaran kelenjar getah bening
terutama pada leher bagian belakang sering disebabkan oleh Toxoplasma.
Gambaran kelenjar getah bening pada toksoplasmosis sudah cukup khas,
walaupun protozoanya sangat sulit ditemukan. Hospes definitif T. Gondii
adalah kucing dan sejenisnya (Felidae), dan hospes perantaranya adalah
manusia, mamalia lainnya dan burung. Penyakit ini menyebabkan
toksoplasmosis kongenital dan toksoplasmosis akuisita.
 Morfologi Dan Siklus Hidup
Morfologi Toxoplasma gondii berdasarkan pada tempat hidupnya
terdiri dari bentuk ekstraselluler seperti bulan sabit dan intraseluler yang buat
dan ini sulit dibedakan dengan bentuk Leishmania. Bentuk trofozoit seperti
bulan sabit, kadang-kadang oval, panjang 4-8 µ, ujung yang satu lebih tumpul
daripada yang lainnya. Satu inti dengan letak kariosom eksentrik di bagian
yang tumpul, mungkin mempunyai suatu stadium dengan satu flagel. Bentuk
kista mengandung beberapa organisme, kista besar berukuran 200µ dan berisi
kira-kira 3000 organisme. Kista yang ditemukan di otak membentuk lonjong/
bulat dan diotot mengikiti bentuk otot.
Penularan Toxoplasma gondii dapat terjadi secara kongenital, terjadi
infeksi primer in utero melalui plasenta dari ibu kepada bayinya. Toxoplasma
gondii akuisita (dapatan) terjadi apabila memakan daging mentah atau kurang
matang yang mengandung kista jaringan atau takizoit. Penularan melalui
laboratorium terjadi pada orang yang bekerja dengan binatang percobaan yang
terinfeksi Toxoplasma gondii, melalui jarum suntik dan alat lain yang
terkontaminasi. Penularan dapat terjadi melalui transplantasi organ donor
yang menderita toksoplasmosis laten, dan melalui transfusi darah lengkap.
 Pengobatan Dan Pencegahan
Pengobatan dengan menggunakan kombinasi pitimetamin dan
sulfadiasin umumnya efektif untuk mengobati toksoplasmosis, dan pada orang
dewasa digunakan kombinasi pirimetamin 50 mg per oral dilanjutkan 6 jam
kemudian dengan dosis 25 mg/hari selama 14 hari, dan sulfadiasin dengan
dosis awal 2 gram, kemudian 4x1 gram/hari selama 14 hari.
Prognosis toksoplasmosis akut pada bayi umumnya fatal, meskipun
ibunya tidak menunjukan gejala apapun. Pada anak-anak yang lebih besar dan
orang dewasa pronosis bergantung pada jenis organ yang mengalami
kerusakan. Pada infeksi prenatal yang tidak mematikan, anak-anak akan
mengalami cacat yang bersifat permanen.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memasak makanan dan minuman
dengan benar, hewan peliharaan yang sakit segera diobati, sumber penularnya
harus diberantas, upaya kebersihan pribadi dan lingkungan tetap
ditingkatkan.(Muslim, 2009)
 Epidemiologi
Di Indonesia prevalansi zat anti T. Gondi yang positif pada manusia berkisar
antara 2% dan 63%. Pada orang Eskimo prevalensinya 1% dan di Salvador,
Amerika Tengah 90%. Prevalansi zat anti T. Gondii pada binatang di
Indonesia adalah sebagai berikut: pada kucing 35-73%, babi 11-36%,
kambing 11-61%, anjing 75% dan pada ternak lain kurang dari 10%. Pada
umumnya prevalansi zat yang positif meningkat dengan umur, tidak ada
perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Di dataran tinggi prevalansi lebih
rendah, sedangkan daerah tropik prevalansi lebih tinggi.
Prevalensi toksoplasmosiskongenital dibeberapa negara diperkirakan
sebagai berikut : Belanda 6,5 dari 1000 kelahiran hidup, New work 1,3%,
Paris 3% dan Vienna 6-7%.
Keadaan toksoplasmosis disuatu daerah dipengaruhi oleh banyak faktor,
seperti kebiasaan makan daging kurang matang, adanya kucing yang
dipelihara sebagai binatang kesayangan, tikus dan burung sebagai hospes
perantara yang merupakan binatang buruan kucing dan adanya vektor seperti
lipas atau lalat yang memindahkan ookista dari tinja kucing ke makanan.
Cacing tanah juga berperan untuk memindahkan ookista dari lapisan dalam ke
permukaan tanah.
Walaupun makan daging kurang matang merupakan cara transmisi yang
penting untuk T. Gondii, transmisi melalui ookista tidak dapat diabaikan.
Seekor kucing dapat mengeluarkan 10 juta butir ookista sehari selama 2
minggu. Ookista menjadi matang dalam waktu 1-5 hari dan dapat hidup lebih
dari setahun ditanah yang panas dan lembab. Ookista mati pada suhu 45◦-
55◦C, juga mati bila dikeringkan atau bila bercampur formalin, amonia atau
larutan iodium. Transmisi melalui ookista menunjukkan infeksi T. Gondii
pada orang yang tidak suka makan daging atau terjadi pada binatang
herbivora.
Untuk mencegah infeksi T. Gondii(terutama pada ibu hamil) harus
menghindari makan daging kurang matang yang mungkin mengandung kista
jaringan dan menelan ookista matang yang terdapat dalam tinja kucing.
Kista jaringan dalam daging tidak infektif lagi bila sudah dipanaskan
sampai 66◦C atau diasap. Setelah memegang daging mentah(tukang jagal,
tukang masak), sebaiknya tangan dicuci bersih dengan sabun. Makanan harus
ditutup untuk menghindari lalat atau lipas. Sayur-mayur sebagai lalap harus
dicuci bersih atau dimasak. Kucing peliharaan sebaiknya diberi makanan
matang dan dicegah berburu tikus atau burung. (Sutanto, 2008)
2. Genus Isospora
Parasit genus Isospora ini mempunyai dua spesies utama yang terdapat
didalam usus manusia. Sifat satu-satunya yang jelas berbeda adalah ukuran
ookista yang lebih besar pada I. belli, yang merupakan parasit yang lebih
umum, dan juga sering dikacaukan dengan genus Elimeria.
 Morfologi dan siklus hidup
Ditemukan bentuk ookista yang bujurnya memanjang (bentuk oval),
ukuran I. bell (25-33 µm) lebih besar dari ukuran I. hominis (25-30 µm),
dinding transparan, sitoplasma bergranul, ookista terdapat 2 sporoblas,
sporoblas matang menjadi 2 sporokista, dan tiap sporokista berkembang
menjadi 4 sporozoit.
 Patologi dan gejala klinis
Penularan terjadi melalui makanan dan air yang terkontaminasi dengan
ookista atau sporokista. Infeksi umumnya berlangsung tanpa menunjukkan
gejala atau dengan gejala usus ringan. Infeksi berat dapat menimbulkan
diare.
 Diagnosis
Diagnosis laboratorium berdasarkan pada ditemukannya ookista
dewasa dan sporokista dalam bahan feses segar. Biasanya diperlukan
teknik konsentrasi feses.
 Pengobatan
Pengobatan dengan kemoterapi tidak diperlukan karena penyakitnya
dapat sembuh sendiri.
 Epidemiologi
Parasit genus ini mempunyai area penyebaran yang luas, walaupun
jarang ditemukan. Daerah endemis ditemukan di Afrika Selatan; Amerika
Selatan (Brazilia, Chili, dan Venezuela), RRC, India, Jepang, Filipina,
Indonesia, dan pulau-pulau di Pasifik Selatan.
Sebarannya di seluruh dunia, khususnya daerah beriklim tropis dan
subtropis, walaupun jarang ditemukan. Infeksi yang terjadi dapat bersifat
imunodepresan pada individu, dan kejadian luar biasa pernah dilaporkan di
negara-negara Amerika. Daerah endemis ditemukan di Afrika Selatan,
Amerika Selatan, RRC, India, Jepang, Filipina, Indonesia dan pulau-pulau
di Pasifik Selatan.

 Pencegahan
Pendidikan kesehatan, untuk mencegah penyebaran penyakit parasit
Isospora, terutama daerah yang endemis dengan penyakit ini. Yakni dengan
memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang cara-
cara penularan dan cara pemberantasan penyakit ini. Persediaan air minum,
air untuk mandi dan mencuci pakaian hendaknya diambil dari sumber yang
bebas ookista atau sporokista. Mengurangi kebiasaan masyarakat
membuang tinja di sembarang tempat. Pengawasan higienis dan sanitasi
yakni dengan menjaga kebersihan perorangan dan kebersihan lingkungan
untuk menghindari kontak dengan tinja penderita yang mengandung
ookista.(Muslim, 2009)
DAFTAR PUSTAKA

Maulinisa, Sinta Chaira. 2009.Infeksi campur blastocytis hominis dan Giardia lamblia
pada Balita di Kecamatan Jatinegara: Kaitannya dengan Kejadian diare.
Jakarta: FK UI
Muslim. 2009. PARASITOLOGI untuk keperawatan. Jakarta: EGC
Sutanto, inge.dkk. 2008. PARASITOLOGI KEDOKTERAN. Jakarta: EGC