Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan praktikum
kosmetologi “Krim Pelembab” dengan tepat waktu.
Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan kepada para dosen
pembimbing praktikum kosmetologi, rekan-rekan kelompok dan pihak lainnya
yang turut berpartisipasi dalam terselesaikannya laporan praktikum kosmetologi
ini.
Kami sudah berusaha sebaik mungkin dalam mengerjakan laporan ini,
namun mustahil apabila laporan yang kami buat tidak ada kekurangan maupun
kesalahan, maka dari itu kami berharap kritik dan saran dari para pengoreksi juga
pembaca yang bersifat membangun, sehingga kedepannya kami dapat menjadi
lebih baik lagi dalam menyusun laporan praktikum..
Kami berharap dari penyusunan praktikum ini dapat memberikan manfaat
bagi kami serta para pembaca.

Penulis
Jakarta, April 2019

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... 1


DAFTAR ISI......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 4
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 5
2.1 Dasar Teori ................................................................................................ 5
2.2 Preformulasi Zat Aktif .............................................................................. 8
2.3 Preformulasi Bahan Tambahan ............................................................... 10
BAB III METODOLOGI KERJA .................................................................. 20
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ................................................................ 20
3.2 Alat dan Bahan ........................................................................................ 20
3.3 Formulasi ................................................................................................ 21
3.4 Penimbangan Bahan ................................................................................ 21
3.5 Cara Kerja ............................................................................................... 22
3.6 Evaluasi ................................................................................................... 22
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 24
4.1 Hasil Praktikum ...................................................................................... 24
4.2 Pembahasan ............................................................................................. 24
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 30
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 30
5.2 Saran ....................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 31
LAMPIRAN ....................................................................................................... 33

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pelembab (moisturizers) merupakan kosmetik perawatan yang bertujuan
untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh
seperti udara kering, sinar matahari terik, angin keras, umur lanjut, berbagai
penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan
air sehingga kulit menjadi lebih kering (Wasitaatmadja, 1997). Krim adalah
sediaan setengah padat,berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari
60% dimaksudkan untuk pemakaian luar.Bahan yang digunakan mencakup
zat emolien,zat sawar (barier),zat pengental dan pembentuk lapisan tipis,zat
penutup kulit yang berpori lebar,zat pengemulsi,zat pengawet, parfum dan
zat warna (Ditjen POM,1985).
Kulit merupakan organ esensial dan vital yang mengandung lapisan lemak
tipis yang berfungsi untuk melindungi kulit dari kelebihan penguapan air
yang menyebabkan dehidrasi kulit. Kulit mengeluarkan lubrikan alami yaitu
sebum untuk mempertahankan agar permukaan kulit tetap lembut, lunak, dan
terlindung. Jika sebum hilang maka permukaan kulit akan mudah pecah, kulit
menjadi kering dan bersisik. Oleh karena itu, dibutuhkan perlindungan
tambahan yaitu dengan cara memberikan kosmetik pelembab kulit (Ditjen
POM, 1985). Pada dasarnya, sumber-sumber nabati yang ada di lingkungan
kita selain mengandung komponen dasar untuk sumber pangan, sandang dan
industri, juga memiliki manfaat bagi dunia farmasi, khususnya untuk
kepentingan obat-obatan dan kosmetik.Oleh karena itu bahan alamiah sangat
cocok dalam pengolahan bahan baku kosmetik, bahan alamiah ini
mengandung bahan yang dapat melindungi kulit dan telah banyak digunakan
dalam formulasi produk-produk kecantikan untuk masker, pelembab, body
lotion, dan sebagainya. (Jaelani, 2009).

3
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa saja formulasi yang digunakan dalam pembuatan krim
pelembab?
1.2.2 Bagaimana cara pembuatan krim pelembab?

1.3 Tujuan
1.3.1 Menjelaskan formulasi sediaan krim pelembab
1.3.2 Menjelaskan cara pembuatan sediaan krim pelmbab

4
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka


Krim adalah bentuk sediaan semisolida yang viskos dan pada
umumnya merupakan emulsi minyak dalam air dan air dalam minyak. Emulsi
adalah sistem termodinamika yang tidak stabil terdiri paling sedikit dua fase
cairan yang tidak bercampur dimana fase satu terdispersi sebagai globul (fase
terdispersi) dan fase yang lainnya sebagai fase cair (fasa kontinyu),
distabilisasi dengan adanya agen pengemulsi. Pada sistem emulsi pada
umumnya ukuran globul yang terbentuk antara 100-100.000 nanometer
(Martin,1993 :186).
Ditinjau dari sifat fisiknya, krim dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu:
a. Emulsi air dalam minyak atau emulsi A/M
b. Emulsi minyak dalam air atau M/A

Penetrasi krim jenis air dalam minyak atau A/M jauh lebih kuat
dibandingkan dengan M/A karena komponen minyak menjadikan bentuk
sediaan bertahan lama di atas permukaan kulit dan mampu menembus lapisan
kulit lebih jauh. Namun krim A/M kurang disukai secara kosmetik karena
komponen minyak yang lama tertinggal di atas permukaan kulit. Krim minyak
dalam air atau M/A memiliki daya pendingin lebih baik dari krim A/M,
sementara daya emolien A/M lebih besar dari M/A (Djuanda A, 1994:65).
Krim adalah produk kosmetik yang mudah dan praktis penggunaannya
dan didefinisikan sebagai sediaan setengah padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Umumnya produk krim terbentuk dari minyak yang dimasukkan ke dalam air
pada fase minyak dan humektan yang lebih banyak dari produk lotion. Krim
terdiri dari 15% - 40% fase minyak dan 5% - 15% fase humektan, dengan
karakteristik penampakannya hampir sama dengan produk lotion (Windarwati,
2011). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan

5
berbagaiprodusen krim muka membuat inovasi untuk menambahkan zat lain
yang bermanfaat bagi kesehatan wajah. Penambahan bahan aktif tertentu pada
krim muka dapat mengurangi jumlah kerutan pada kulit muka dan bintik
hitam atau flek serta melindungi kulit wajah dari paparan sinar matahari.
Pelembab dapat membantu untuk meningkatkan hidrasi kulit dan
mungkin memperbaiki dan mengembalikan fungsi sawar melalui penggunaan
bahan kimia yang mirip dengan faktor pelembab alami kulit atau oklusi kulit
untuk mencegah kehilangan air.
Ketika kulit rusak, perbaikan tergantung pada upaya untuk
memperlambat hilangnya kelembaban dari kulit. Pelembab didefinisikan
sebagai bahan kimia yang meningkatkan kadar air dari lapisan korneum dan
hydrating agen. Pelembab bekerja dengan menggunakan bahan-bahan yang
oklusi dan agen humektan. Bahan-bahan yang sama atau mirip dengan
komponen alami di kulit. Bahan oklusif bekerja secara fisik menghalangi
hilangnya air dari kulit. Bahan hidrofobik membentuk sebuah film oklusif
pada kulit yang mengurangi TEWL dengan mencegah penguapan air dari
stratum korneum. Bahan-bahan ini juga dapat membantu mengembalikan
fungsi penghalang lipid kulit. Contoh zat oklusif termasuk petrolatum, lilin
lebah, lanolin dan minyak (Isriany Ismail, 2013 : 155).
Bahan humektan bekerja dengan menarik air ke kulit. Humektan ini
meniru peran humektan hidrofilik alam di stratum korneum. Bahan kimia
termasuk asam amino, asam laktat, asam alpha hidroksi, propilen glikol,
gliserin dan urea. Beberapa bahan ini adalah komponen faktor pelambab alami
kulit. Pelembab mengandung lipid yang mirip dengan lipid antarsel kulit.
Kombinasi asam lemak, ceramida dan kolesterol dalam pelembab dapat
membantu untuk memperbaiki lipid bilayers terkena sabun, pelarut dan cuaca
ekstrim. Pelembab dapat mengandung bahan-bahan lain selain humektan dan
agen oklusif. Bahan ini harus dapat meningkatkan kelembutan kulit dengan
suatu bahan emolien dan mengisi ruang antara sel-sel kulit kering. Bahan-
bahan ini biasanya terdapat dalam formula untuk fungsi melarutkan dan
menstabilkan emulsi. Kebanyakan pelembab mengandung 65-85% air. Kadar

6
air yang tinggi berfungsi untuk memungkinkan penyerapan beberapa
komponen dan penguapan pelembab (Isriany Ismail,2013 : 156).
Menurut Gabard (1994), pelembab adalah emulsi yang mengandung
substansi aktif yang dioleskan pada kulit dengan tujuan untuk rehidrasi atau
regenerasi kulit kering, kasar dan bersisik akibat xerosis, iritasi atau oleh
sebab lain. Sediaan pelembab adalah, lotion, krim, salep dan bath oil.
Pelembab bekerja dengan komposisi yang bersifat oklusif dan atau humektan
seperti halnya komponen pada NMF.
Komposisi yang bersifat oklusif secara fisik memblokir kehilangan air
dari permukaan kulit (Hannon and Maibach, 2005 : 573).
a. Substansi hidrofobik ini akan membentuk lapisan oklusif pada kulit
yang akan menurunkan TEWL dengan mencegah penguapan air.
b. Menjaga kadar lipid barrier kulit.
c. Contoh : petrolatum, beeswax, lanolin.
Komposisi yang bersifat humektan bekerja dengan menarik air ke
dalam kulit (Hannon and Maibach, 2005 : 573).
a. Air yang diambil untuk mempertahankan kelembaban kulit
berasal dari lapisan epidermis yang lebih dalam, jarang dari
lingkungan.
b. Hidrasi stratum korneum akan menormalkan lipid interselular
dan proses deskuamasi alami.
c. Kulit menjadi lebih resisten terhadap kondisi kekeringan.

7
2.2 Preformulasi Zat Aktif
2.2.1 Morfologi Lidah Buaya
Menurut Furnawanthi (2003), Aloe barbadensis Miller mempunyai
sinonim binomial dengan Aloe barbadensis dan Aloe vulgaris.
Taksonomi Aloe barbadensis Miller sebagai berikut:
Dunia : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledone
Bangsa : Liliflorae
Suku : Liliacea
Marga : Aloe
Species : Aloe vera Linn.
Tanaman lidah buaya termasuk semak rendah, tergolong tanaman
yang bersifat sukulen, dan menyukai hidup di tempat kering. Batang
tanaman lidah buaya berserat atau berkayu. Pada umumnya sangat
pendek dan hamper tidak terlihat karena tertutup oleh daun yang
rapat dan sebagian terbenam dalam tanah. Namun, ada juga beberapa
spesies yang berbentuk pohon dengan ketinggian mencapai 3-5 m.
Seperti halnya tanaman berkeping satu lainnya, daun lidah buaya
berbentuk tombak dengan helaian memanjang. Daunnya berdaging
tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan dan mempunyai
lapisan lilin di permukaan, serta bersifat sukulen, yakni mengandung
air, getah, atau lender yang mendominasi daun. Bagian atas daun rata
dan bagian bawahnya membulat (cembung). Bunga lidah buaya
berbentuk terompet atau tabung kecil sepanjang 2-3 cm, berwarna
kuning sampai orange, tersusun sedikit berjuntai melingkari ujung
tangkai yang menjulang ke atas sepanjang 50-100 cm. Lidah buaya
mempunyai system perakaran yang pendek dengan akar serabut yang
panjangnya bisa mencapai 30-40 cm

8
2.2.2 Kandungan Lidah Buaya
Kandungan gizi lidah buaya (Aloe vera L.) per 100 gram menurut
Depkes (1992) dapat dilihat pada tabel berikut.

Kandungan per
Zat Gizi
100 gram
Energi (kal) 4.00
Protein (g) 0.10
Lemak (g) 0.20
Serat (g) 0.30
Abu (g) 0.10
Kalsium (mg) 85.00
Fosfor (mg) 186.00
Besi (mg) 0.80
Vitamin C (mg) 3.476
Vitamin A (IU) 4.594
Vitamin B1 0.01
(mg)
Kadar air (g) 99.20

Menurut Wijayakusuma (2007), beberapa zat kandungan yang


terdapat dalam tanaman lidah buaya adalah:
1) Antakuinon dan Kuinon memiliki efek menghilangkan rasa sakit
(analgetik dan menghilangkan pusing).
2) Lignin atau Selulosa dalam gel lidah buaya mampu menembus dan
meresap ke dalam kulit, menahan hilangnya cairan tubuh dari
permukaan kulit, sehingga kulit tidak cepat kering dan menjaga
kelembabannya.
3) Acetylated Mannose merupakan imunostimulan yang kuat, yang
berfungsi meningkatkan fungsi fagositik dari sel makrofag, respon sel
T terhadap phatogen serta produksi interferon dan zat kimia yang
meningkatkan sistem imun untuk menstimulasi atau merangsang
antibodi.

9
4) Gel atau Lendir lidah buaya mempunyai kemampuan untuk
menyembuhkan luka, luka bakar, eksim, memberikan lapisan
pelindung pada bagian yang rusak dan mempercepat tingkat
penyembuhan. Reaksi tersebut dikarenakan adanya Aloectin B yang
menstimulasi sistem imun.
5) Aloin, Aloe-Emodin menyebabkan usus besar berkontraksi
(mengkerut) sehingga bersifat sebagai pencahar yang kuat (laxative).

2.2 Preformulasi Bahan Tambahan


2.2.1 Minyak Kelapa

Nama senyawa BP: Minyak Kelapa


JP: Minyak Kelapa
PhEur: Minyak Kelapa, Dimurnikan
USP-NF: Minyak Kelapa
(Raymond c rowe, 2009)
pemerian Minyak kelapa umumnya terjadi sebagai massa putih
hingga kuning muda atau Minyak bening tidak berwarna
atau kuning muda, dengan sedikit karakteristik bau kelapa
dan rasanya yang ringan. Minyak kelapa olahan berwarna
putih atau hampir massa putih tidak berbahaya.
Bentuk minyak kelapa tergantung pada suhu; terjadi
sebagai kuning pucat untuk cairan tidak berwarna antara
280C dan 300C,
sebagai semi-padat pada 200C, dan sebagai padatan kristal
keras rapuh di bawah 150C. (Raymond c rowe, 2009)

10
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air; bebas larut dalam
diklorometana
dan dalam minyak bumi ringan (bp: 65–700C); larut dalam
eter,
karbon disulfida, dan kloroform; larut pada 600C dalam 2
bagian
etanol (95%) tetapi kurang larut pada suhu yang lebih
rendah. (Raymond c rowe, 2009)
Titik lebur >4500C. (Raymond c rowe, 2009)

Titik leleh 23 – 260C. (Raymond c rowe, 2009)

stabilitas Minyak kelapa tetap bisa dimakan, dan berasa ringan serta
tidak enak, untuk beberapa orang tahun dalam kondisi
penyimpanan biasa. Namun, pada paparan udara, minyak
mudah teroksidasi dan menjadi tengik, memperoleh bau
tidak enak dan rasa asam kuat.
Simpan dalam wadah yang sempit dan terisi penuh,
terlindung dari cahaya disuhu tidak melebihi 258C. Minyak
kelapa mungkin mudah terbakar pada suhu tinggi, dan
dapat secara spontan panas dan terbakar jika disimpan
dalam kondisi panas dan basah. (Raymond c rowe, 2009)
Inkompatibilitas Minyak kelapa bereaksi dengan zat pengoksidasi, asam dan
alkali.
Polietilen mudah ditembus minyak kelapa. (Raymond c
rowe, 2009)

11
Fungsi emollient dan dasar salep .
konsentrasi penggunaan
- Sabun padat: 4 – 20%
- Sabun: 60 – 75%
(Raymond c rowe, 2009)

2.2.2 Asam Stearat


Nama Senyawa Asam Stearat (Rowe,2009)

Struktur Kimia

C18H36O2 BM 284.47 (Rowe,2009)


Padat, putih atau agak kekuningan, mengkilap, kristalin atau
Pemerian serbuk putih kekuningan. Agak berbau dan rasa seperti lemak
(Rowe,2009).
Sangat mudah larut dalam benzene, karbon tetraklorida,
Kelarutan kloroform, dan eter; larut dalam etanol 95%, heksana, dan
propilen glikol; praktis tidak larut air (Rowe,2009).
Suhu leleh 69-70ºC (Rowe,2009)
Asam stearate merupakan material stabil dan dapat
Stabilitas
ditambahkan dengan antioksidan (Rowe,2009).
Inkompatibel dengan logam hidroksida dan juga dengan basa,
Inkompatibilitas
agen pereduksi dana gen pengoksidasi (Rowe,2009).
Fungsi Emulsifying agent, Solubilizing agent (Rowe,2009)
Konsentrasi Salep dan Krim : 1-20% (Rowe,2009)

12
2.2.3 Gliserin
Nama Senyawa Gliserin (Rowe, 2009).

Struktur Kimia

C3H8O3 BM = 92.09
(Rowe, 2009)
Cairan; jernih seperti sirup; tidak berwarna; rasa
manis; hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau
Pemerian
tidak enak). Higroskopik; netral terhadap lakmus.
(FI V,2014)
Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol,
tidak larut dalam kloroform, dalam eter, dalam
Kelarutan
minyak lemak dan dalam minyak menguap (FI
V,2014).
Titik leleh 17.8° C (Rowe, 2009)
Gliserin bersifat higroskopis. Gliserin murni tidak
teroksidasi dalam kondisi penyimpanan.
Gliserin murni tidak mudah mengalami oksidasi
Stabilitas atmosfer di bawah kondisi penyimpanan biasa, tapi
terurai pada pemanasan dengan evolusi akrolein
beracun.Campuran dari gliserin dengan air, ethanol
(95%) dan PPG stabil secara kimiawi (Rowe, 2009).
Gliserin dapat meledak jika dicampur dengan
oksidasi agent seperti chromium trioxide, kalium
klorat atau kalium permanganate. Dalam larutan
Inkompatibilitas encer, reaksi lebih lambat dengan pembentukan
produk oksidasi. Perubahan warna hitam pada
gliserin terjadi dengan adanya cahaya, atau kontak
dengan seng oksidaatau bismut nitrat

13
dasar.Kontaminan dengan besi pada gliserin dapat
menyebabkan penggelapan pada campuran warna
mengandung fenol,salisilat dan tannin. Gliserin
terdiri dari asam boric kompleks, asam gliseroboric,
dimana lebih asam dari asam boric. (Rowe,2009).
Antimicrobial preservative, kosolven, emollient,
Fungsi
humektan. (Rowe,2009)
 Antimicrobial preservatives < 20%
Konsentrasi  Emollient ≤ 30%
 Humektan ≤ 30% (Rowe,2009)

2.2.4 Nipagin
Nama Senyawa
Methylparaben (PUBCHEM, Methylparaben)

Struktur Kimia
C8H8O3 (PUBCHEM,
Methylparaben)

Berat Molekul 152.149 g/mol (PUBCHEM, Methylparaben)

Pemerian Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih: tidak
berbau atau berbau khas lemah, sedikit rasa terbakar
(FI V, 2014).
Kelarutan Sukar larut dalam air, dalam benzene dan dalam karbon
tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam eter (FI V,
2014).
Titik Leleh 131 °C (PUBCHEM, Methylparaben)

14
pH 8.4 dalam 228°C (PUBCHEM, Methylparaben)

Stabilitas Larutan encer methylparaben pada pH 3-6 dapat disterilkan


dengan autoclaving pada 120°C selama 20 menit, tanpa
dekomposisi. Larutan berair pada pH 3-6 stabil (kurang dari
10% dekomposisi) sampai sekitar 4 tahun pada suhu kamar,
sementara larutan berair pada pH 8 atau di atas tunduk pada
hidrolisis yang cepat (10% atau lebih setelah penyimpanan
sekitar 60 hari pada suhu kamar) (Rowe, 2009).
Inkompatibilitas Tidak kompatibel dengan zat lain, seperti bentonite,
magnesium trisilicate, tragacanth, Natrium alginat, minyak
esensial, sorbitol, dan atropin. Bereaksi dengan berbagai gula
dan gula alkohol terkait (Rowe, 2009).
Fungsi Pengawet (Antimicrobial preservative).

(Rowe, 2009)

2.2.5 TEA
Nama senyawa Trietanolamin; TEA (Rowe, 2009)
Struktur molekul

(Rowe, 2009)
Rumus molekul C6H15NO3 (Rowe, 2009)
Berat molekul 149.19 g/mol (Rowe, 2009)
Pemerian Larutan kental jernih tidak berwarna hingga kuning pucat,

15
berbau amoniak sedikit dan higroskopik (Rowe, 2009)
Kelarutan Larut dalam diklorometana, dapat bercampur dengan air dan
alkohol (Rowe, 2009)
Titik leleh 20-21 oC (Rowe, 2009)
Titik didih 335 oC (Rowe, 2009)
Keasaman pH: 10.5 (Rowe, 2009)
Stabilitas Trietanolamin akan berubah warna menjadi kecoklatan saat
terkena uadara dan cahaya. Akan menjadi keras bila
disimpan dalam suhu dibawah 15 oC, akan tetapi dapat
kembali seperti semula bila dipanaskan dan dicampur
kembali sebelum digunakan. Simpan dalam wadah tertutup
yang terlindungi dari cahaya dan simpan di tempat yang
kering (Rowe, 2009).
Inkompatibilitas Trietanolamin merupakan amina tersier yang memiliki grup
hidroksi sehingga dapat mengalami reaksi dengan amina
tersier lainnya dan alkohol. TEA akan bereaksi dengan asam
mineral membentuk Kristal garam dan ester. Dengan asam
lemak yang lebih tinggi, TEA akan membentuk garam yang
larut di dalam air dan memiliki karakteristik seperti sabun.
TEA juga akan bereaksi dengan tembaga membentuk garam
kompleks. Penghilangan warna dan presipitasi akan terjadi
dengan adanya garam logam. TEA akan bereaksi dengan
reagen seperti tionil klorisa untuk menggantikan hidroksi
dengan halogen, menghasilkan produk yang sangat beracun.
(Rowe, 2009)
Fungsi Emulsifying agent: 2-4% v/v dan 2-5 kali jumlah dari asam
lemak menghasilkan O/W.
Emulsifying agent: 5% v/v untuk mineral oil menghasilkan
O/W.
Alkalizing agent (Rowe, 2009)

16
2.2.6 Setil Alkohol
Nama Senyawa Cetil Alkohol (Rowe,2009)

Struktur Kimia

C16H34O BM 242.44 (Rowe,2009)


Lunak, lempengan putih, granul, kubus. Memiliki bau
Pemerian
lemah dan rasa hambar (Rowe,2009).
Sangat mudah larut dalam etanol 95% dan eter;
Kelarutan meningkat dengan adanya pemanasan ;
Kelarutan praktis tidak larut air ; Dapat bercampur jika
dilelehkan bersamaan dengan lemak, larutan, dan
parafin padat (Rowe,2009).
Suhu leleh 45-52ºC (Rowe,2009)
Cetil alcohol stabil dengan adanya asam, basa, cahaya,
Stabilitas
dan udara serta tidak tengik. (Rowe,2009).
Inkompatibel dengan agen pengoksidasi kuat
Inkompatibilitas
(Rowe,2009).
Fungsi Emulsifying agent, Stiffening agent (Rowe,2009)
Emollient : 2-5%
Emulsifying agent : 2-5%
Konsentrasi
Stiffening agent : 2-10%
(Rowe,2009)

17
2.2.7 Vitamin E
Nama Senyawa Vitamin E, alpha-tocoferol (Rowe, 2009)
Struktur Kimia

C29H50O2 430.72 (Rowe, 2009)


Pemerian Praktis tidak berbau, dan tidak berasa. Bentuk alfa
tokoferol dan tokoferol asetat berupa minyak kental jernih,
warna kuning atau kuning kehijauan (FI V, 2014).
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etaanol (95%),
dapat dicampur dengan aseton, kloroform, eter, dan minyak
nabati (Rowe, 2009).
Titik Leleh 2,5 – 3,58°C. (Rowe, 2009)
Stabilitas Tokoferol dioksidasi perlahan oleh oksigen atmosfer dan
cepat dengan garam besi dan perak. Tokoferol ester lebih
stabil oksidasi dari tokoferol bebas tetapi akibatnya kurang
antioksidan yang efektif. Tokoferol harus disimpan dalam
wadah kedap udara, ditempat yang sejuk, kering dan
terlindungi dari cahaya (Rowe, 2009).
Inkompatibilitas Tokoferol inkompatibel dengan peroksida dan ion logam,
terutama besi, tembaga, dan perak. Tokoferol dapat diserap
oleh plastic. (Rowe, 2009).
Fungsi Antioxidant (0.001-0.05%), Therapeutic agent (Rowe,
2009).

18
2.2.8 Aquadest
Nama senyawa aquadest/air murni/ purified water (Depkes RI, 2014)
Aqua; hydrogen oxide (Raymond C, 2009).
Struktur Kimia
(Pubchem, Aquadest)

Berat Molekul 18,02 g/mol (Depkes RI, hal 64; 2014)


Pemerian cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau (Depkes RI,
hal 64; 2014)
Kelarutan tercampur dengan pelarut polar (Raymond C, 2009).
Titik Leleh 0° C (Pubchem)
Keasaman atau pH 5,0-7,0 (Depkes RI, hal 64; 2014)
kebasaan
Inkompatibilitas Dalam formulasi farmasi, air dapat bereaksi dengan
eksipien obat terlarang yang rentan terhadap hidrolisis
(penguraian dengan adanya air atau uap air) pada suhu
sekitar dan tinggi. Air dapat bereaksi keras dengan
logam alkali dan cepat dengan logam alkali dan oksida
mereka, seperti kalsium oksida dan magnesium oksida.
Air juga bereaksi dengan garam anhidrat untuk
membentuk hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan
bahan organik dan kalsium karbida tertentu (Raymond
C, 2009).
Stabilitas Air stabil secara kimiawi di semua keadaan fisik (es,
cairan, dan uap) (Raymond C, 2009).
Fungsi Pelarut. (Raymond C, 2009).

19
BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Farmasi yaitu di Laboratorium
Penelitian II (PBB) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 9 April 2019.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
 Gelas ukur
 Gelas Beaker
 Cawan porselen besar
 Cawan penguap
 Hotplate
 Kaca arloji
 Batang pengaduk
 Spatel
 Thermometer
 Neraca analitik
 Wadah kemasan
3.2.2 Bahan
 Ekstrak lidah buaya
 Minyak kelapa
 Asam stearate
 Gliserin
 TEA
 Setil Alkohol
 Vitamin E
 Nipagin
 Parfum
 Aquadest

20
3.3 Formulasi
Formulasi Krim Pelembab
Nama Bahan Jumlah
Ekstrak Lidah buaya 2%
Minyak kelapa 15 %
Asam stearat 7%
Gliserin 10 %
Nipagin 0.1 %
TEA 2%
Setil alcohol 2%
Vitamin E 0,5%
parfume qs
Aquadest ad. 100%

3.4 Penimbangan Bahan


Nama Bahan Perhitungan Jumlah
Ekstrak Lidah buaya 2 1 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
Minyak kelapa 15 7,5 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 7,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
Asam stearat 7 3,5 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 3,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
Gliserin 10 5 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 5 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
Nipagin 0.1 0,05 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 0,05 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
TEA 2 1 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
Setil alcohol 2 1 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
Vitamin E 0,5 0,25 gram
× 50 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 0,25 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
parfume qs qs
Aquadest ad. 50 g – ( 1 + 7,5 + 3,5 + 5 + 0,05 30,7 gram 

21
+ 1 + 1 + 0,25 ) g = 50 g - 19,3 g 31 gram
= 30,7 gram  31 gram

3.5 Cara Kerja


1. Fase minyak (minyak kelapa, asam stearat, setil alkohol) dilebur diatas
penangas air hingga suhu 70oC
2. Pada saat yang sama fase air (Gliserin, TEA, Nipagin, Air) dipanaskan di atas
penangas air hingga suhu 70oC
3. Campurkan fase minyak dan fase air ke dalam mortir yang sebelumnya telah
dihangatkan. Aduk hingga tebentuk massa putih sepeti susu
4. Setelah dingin 40oC ditambahkan vitamin E dan ekstrak aloe vera, aduk
hingga homogen
5. Tambahkan parfum kenudian aduk terus hingga homogeny
6. Masukkan krim ke dalam wadah

3.6 evaluasi
3.6.1 Evaluasi organoleptis
Pemeriksaan terhadap organoleptik penampilan krim yang
dilakukan meliputi tekstur, warna dan bau yang diamati secara visual
dan dilakukan penyimpanan.
3.6.2 Evaluasi homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan cara sampel krim
dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok,
sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat
adanya butiran kasar (Ditjen POM,1985). Dapat juga dengan cara
mengoleskan sampel krim pada kaca objek yang bersih dan kering
sehingga membentuk lapisan tipis, kemudian dikatupkan dengan
kaca preparat (cover glass). krim dinyatakan homogen apabila pada
pengamatan menggunakan mikroskop, krim mempunyai tekstur yang
tampak rata dan tidak menggumpal

22
3.6.3 Evaluasi pH
Uji pH dilakukan untuk menjamin sediaan krim pelembab tidak
menyebabkan iritasi kulit. Formula krim pelembab diukur pHnya
menggunakan kertas indikator universal. Formula masker gel harus
memenuhi kriteria pH kulit yaitu dalam internal 4,5 - 6,5.
Pemeriksaan pH dilakukan sesaat setelah pembuatan sediaan.
(Putri,2012)

3.6.4 Uji hedonic terhadap kelompok lain


Uji hedonic disebut juga uji kesukaan. Dalam uji hedonik,
kelompok lain diminta tanggapan pribadinya mengenai kesukaan
atau ketidaksukaan, yang disebut skala hedonik. Misalnya, dalam hal
suka dapat mempunyai skala hedonic seperti sangat suka sekali,
sangat suka, suka, dan agak suka. Sebaliknya, jika tanggapan itu
tidak suka dapat berupa amat berupa sangat tidak suka, sangat tidak
suka, tidak suka, dan agak tidak suka. (Ditjen POM, 1985). Subjek
pada evaluasi uji hedonic ini yaitu kelompok lain dari praktikum
kosmetologi. Krim dicoba oleh perwakilan tiap kelompok kemudian
diberikan nilai berdasarkan kenyamanan, homogenitas, dan
organoleptik

23
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Krim pelembab yang dihasilkan bewarna putih, beraroma
Organoleptis
lemon
Uji Ph pH: 7
Uji homogenitas Krim pelembab yang dihasilkan homogen.
Kelompok 1: mudah meyebar, tidak terlalu lengket, wangi,
homogen.
Uji hedonic terhadap Kelompok3: susah meresap, lengket, wangi, homogen
kelompok lain Kelompok4: berminyak, agak lengket, wangi, homogen
Kelompok5: agak berminyak, lembut, kurang wangi,
homogen.

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kosmetologi ini kami membuat sediaan krim pelembab
dengan menggunakan bahan utama Coconut oil dan ekstrak Lidah Buaya.
Kosmetik pelembab (moisturizers) merupakan kosmetik perawatan yang
bertujuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai
pengaruh seperti udara kering, sinar matahari terik, angin keras, umur lanjut,
berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat
penguapan air sehingga kulit menjadi lebih kering. Pelembab yang kami buat
merupakan sediaan dengan basis vanishing cream, dimana dalam basis ini
terdapat lebih banyak fase air daripada fase minyak. Krim didefinisikan
sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam
minyak atau minyak dalam air, dan termasuk dalam sediaan setengah padat
berupa emulsi kental yang mengandung tidak kurang dari 60% air,
dimaksudkan untuk pemakain luar. Proses pembuatan sediaan krim, yaitu
bahan sebagai fase minyak dicampurkan kemudian dilelehkan dan bahan
sebagai fase air dilarutkan dalam air. Kedua campuran tersebut kemudian

24
dicampurkan secara bersamaan dalam kondisi suhu ± 70oC dengan
pengadukan yang kuat dan konstans hingga terbentuk basis krim. Selanjutnya
ditambahkan fase aktif dan dilakukan pengadukan hingga homogen.
Lidah buaya atau aloe vera mengandung senyawa fl avonol seperti
kaempeferol, quercetin dan merycetin masing-masing sebanyak 257,7; 94,80
dan 1283,50 mg/kg. Senyawa tersebut termasuk dalam kelompok polifenol
yang dipercaya bersifat antioksidatif (Sultana and Anwar, 2008). Menurut
Chang dkk. (2006) tanaman ini banyak digunakan sebagai makanan
kesehatan, kosmetik, dan obat-obatan dan dipercaya dapat berfungsi sebagai
antitumor, antidiabetes dan pelembab. Lidah buaya mengandung polisakarida
(acylated manan) yang disebut aloin (barbaloin) yaitu C-glukosida aloe
emodin sebanyak 30 % (bk) daun dan terdapat pada bagian kulit. Aloin
dipercaya sebagai zat antiinfl amantory (anti radang). Daun lidah buaya juga
mengandung zat gizi seperti vitamin C, E dan A serta kaya akan serat
(Miranda dkk., 2009).
Menurut Hu dkk. (2003), aktivitas antioksidasi lidah buaya ditentukan
oleh kandungan senyawa fl avonoidnya. Kandungan fl avonoid lidah buaya
mencapai maksimal pada umur panen 3 tahun. Pada umur panen tersebut
aktivitas antioksidasi lidah buaya lebih besar daripada BHT. Pada umur panen
kurang dari 2 tahun kandungan fl avonoid lidah buaya masih belum optimal.
Padahal pada penelitian ini digunakan daun lidah buaya dengan umur panen
1,5 tahun, oleh karena itu aktivitas antioksidasi ekstrak lidah buaya lebih
rendah daripada BHT. Besarnya aktivitas antioksidasi ditunjukkan pula dari
kemampuan menghambat peroksidasi lemak dari pengujian menggunakan
FTC (ferrythyocyanate).
Minyak kelapa merupakan mineral oil, dan biasa digunakan pada sediaan
krim pelembab, krim pembersih atau lotion sebagai pembawa fase minyak
serta emollient. Minyak kelapa dilaporkan memiliki aktivitas antifungi pada
spesies Candida sp sehingga pada saat penambahan antimikroba pada sediaan
cukup ditambahkan nipagin yang aktif menghambat bakteri gram positif.
Asam stearat digunakan dalam formulasi sebanyak 7% dan ditambahkan
sebagai emulgator dan solubilizing agent. dengan konsentrasi ini, cukup

25
membuat sediaan akhir menjadi emulsi karena rentang penggunaan asam
stearat untuk krim ialah 1-20%. Gliserin ditambahkan pada formula sebanyak
10% sebagai humektan dan emollient. Hal ini dibutuhkan karena humektan
berfungsi untuk mengikat air dai udara dan dalam kulit sehingga kulit tetap
terhidrasi dam tidak menjadi kering (tetap lembab). Trietanolamin digunakan
sebagai zat pengemulsi dan alkalizing agent. trietanolamin digunaan bersama
dengan asam lemak seperti minyak kelapa dan asam stearat akan membentuk
sabun anionic dengan pH 8 dan membentuk emulsi dengan hasil akhir produk
emulsi minyak dalam air yang stabil. Trietanolamin akan menghasilkan emulsi
yang stabil bila digunakan dalam rentang konsentrasi 2-4%. Hal ini terlihat
dari hasil sediaan yang bagus (konsistensi krim yang homogen dan terbentuk
emulsi yang baik) karena penggunaan trietanolamin 2%. Setil alkohol
ditambahkan dalam formula sebagai stiffening agent dan memberikan hasil
akhir emulsi yang stabil pada emulsi minyak dalam air. Vitamin E
ditambahkan sebagai antioksidan untuk mencegah terjadinya ketengikan pada
fase minyak yang disebabkan oleh reaksi oksidasi minyak dengan udara serta
sebagai zat aktif untuk mencegah penuaan dini.

26
Selanjutnya dilakukan pengerjaan pembuatan sediaan krim pelembab.
Tahap pertama yang dilakukan pada pembuatan krim pelembab adalah
peleburan dan pencampuran fase minyak di atas penangas. Eksipien fase
minyak berupa minyak kelapa, asam stearat, dan setil alkohol. Fase minyak

27
dilebur pada suhu 70°C di atas cawan karena salah satu bahan fase minyak
yaitu asam stearate memiliki titik leleh tinggi, yaitu 69-70°C. Asam stearate
dan cetil alkohol yang telah melebur kemudian dicampurkan dengan minyak
kelapa dan diaduk hingga homogen. Disaat bersamaan, juga dilakukan
pencampuran fase air berupa gliserin, TEA, Nipagin, dan air di cawan pada
suhu yang sama dengan fase minyak, yaitu 70°C. Nipagin memiliki kelarutan
yang buruk terhadap air, maka nipagin didispersikan terlebih dahulu dengan
gliserin, barulah kemudian dicampurkan dengan TEA dan air hingga
homogen. Kemudian fase air dam fase minyak dicampur dan digerus di
lumpang dengan pengadukan stabil hingga homogen dan terbentuk massa
emulsi putih. Pencampuran masing-masing fase harus dalam temperature yang
sama karena perbedaan suhu yang terlalu besar akan berpengaruh pada
terbentuk atau tidaknya emulsi. Lumpang dan emulsi didalamnya kemudian
dibiarkan sesaat hingga suhunya turun menjadi 40°C, kemudian dimasukkan
vitamin E dan ekstrak lidah buaya dan digerus hingga homogen.. Pemberian
vitamin E dan ekstrak ke lumpang disuhu rendah dimaksudkan agar baik
vitamin E maupun ekstrak tidak mengalami kerusakan (teroksidasi) akibat
suhu tinggi. Lalu, diberikan parfum agar sediaan berbau wangi dan
meningkatkan nilai estetisnya. Setelah itu dilakukan evaluasi berupa evaluasi
organoleptis, homogenitas, uji pH, dan uji hedonik. Terakhir, sediaan dikemas
dalam penyimpanan yang sesuai.
Hasil akhir dari sediaan krim pelembab dengan ekstrak lidah buaya ini
adalah beraroma lemon, berwarna putih, dan homogen. Setelah di aplikasikan
krim tersebut tidak lengket karena tipe krim ini adalah o/w sehingga lebih
banyak fase air dalam sediaan tersebut. Sediaan krim pelembab yang
dihasilkan harus tidak lengket, memiliki bau yang dapat diterima oleh
pengguna, dan bentuk yang nyaman untuk digunakan.
Evaluasi yang selanjutnya yaitu uji homogenitas. Uji homogenitas
bertujuan untuk melihat penyebaran zat aktif. Persyaratan homogenitas krim
pelembab dimaksudkan agar bahan aktif dalam krim tersebut terdistribusi
merata. Selain itu agar krim pelembab tidak mengiritasi ketika dioleskan di
kulit (Anwar, 2016). Hasil yang didapat yaitu sediaan homogen. Pemanasan

28
kedua fase sebelum pencampuran dimaksudkan agar sedian yang dihasilkan
homogen.
Evaluasi penampilan krim meliputi warna dan bau. Warna yangdihasilkan
dari krim pelembab tersebut adalah putih, sedangkan baunya adalah lemon,
karena penambahan farfum lemon pada saat formulasi. Farfum lemon yang di
tambahkan menimbulakn aroma lemon dikulit setelah krim pelembab
diaplikasikan.
Evaluasi pemeriksaan pH merupakan parameter fisikokimia yang harus
dilakukan untuk sediaan topikal karena pH berkaitan dengan efektivitas zat
aktif dan sediaan, serta kenyaman di kulit sewaktu digunakan. pH yang terlalu
asam dapat mengakibatkan iritasi sedangkan pH yang terlalu basa dapat
menyebabkan kulit bersisik (Dian Mardiana, 2018). Dari hasil pengukuran pH
menggunakan pH indicator, pH yang dihasilkan yaitu 7, terlihat bahwa
sediaan krim pelembab ekstrak lidah buaya sedikit melebihi persyaratan pH
untuk sediaan topikal yaitu antara 4,5 -6,5 (Dian Mardiana, 2018).
Evaluasi yang terakhir yaitu pengujian hedonik. Uji hedonik dilakukan
dengan cara mengoleskan sediaan ke telapak tangan responden yaitu
kelompok lain dan menanyakan penilaian dari tiap responden dengan melihat
teksturnya, warna dan baunya. Dari 4 kelompok yang menjadi responden
didapatkan hasil homogen dan wangi. Kelompok 1 menyebutkan sediaan
tersebut mudah menyebar dan tidak terlalu lengket. Namun menurut kelompok
3 sediaan tersebut lengket dan susah meresap. Berdasarkan kelompok 4,
sediaan tersebut agak lengket dan sedikit berminyak. Dan berdasarkan
kelompok 5 sediaan tersebut agak berminyak, dan lembut.

29
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa sediaan
krim pelembab yang telah dibuat belum memenuhi persyaratan secara
keseluruhan untuk digunakan. Persyaratan yang sudah terpenuhi diantaranya
uji homogenitas dan organoleptis, sedangkan yang belum terpenuhi yaitu uji
pH, dimana pH sediaan 7. Hal ini tidak sesuai dengan persyaratan menurut
Dian (2018), dimana pH sediaan topical yaitu antara 4.5-6.5. Dikhawatirkan
bahwa pH yang basa dapat menyebabkan kulit bersisik.

5.2 Saran
 Sebaiknya praktikan memahami prosedur kerja dengan baik, sehingga
meminimalisir kesalahan pada saat praktikum.
 Sebaiknya dilakukan analisa pada eksipien seperti konsentrasi yang
baik menurut literature serta in process control sehingga diharapkan
sediaan memenuhi persyaratan yang baik menurut literature.

30
DAFTAR PUSTAKA

Wasitaatmadja, 1997, Penuntun Kosmetik Medik, Universitas Indonesia, Jakarta


Ditjen POM. 1989. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI Hal 83-86, 195-197.
Jaelani. 2009. “Aroma Terapi”. Jakarta: Pustaka Populer Obor
Sweetman, S.C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference Thirty Sixth
Edition. New York: Pharmaceutical Press
Rowe, Raymond C, dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th Ed.
USA: Pharmaceutical Press,.
Rowe, Raymond C, dkk. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients 5th Ed.
USA: Pharmaceutical Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2014), Farmakope Indonesia edisi V.
Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Horwitz, William, 2000. Official Methods of Analysis of AOAC International.
17th Ed, Vol. 2. Gaithersburg, Marryland: Journal of AOAC International,
National Center for Biotechnology Information. PubChem Olive Oil Compound
Database;CID=133082064,
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/133082064 (accessed Mar.
15, 2019).
Wijayakusuma, H. M. Hembing.2007. Penyembuhan dengan Lidah Buaya (Aloe
vera L.). Jakarta: Sarana Pustaka Prima.
Furnawanthi, Irni. 2003. Khasiat dan manfaat lidah buaya si tanaman ajaib.
Jakarta : PT. Agro Media Pustaka.
Departemen Kesehatan R.I. 1992. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta :
Bharata Karya.
Ismail, Isriany. Formulasi Kosmetik (Produk Perawatan Kulit dan Rambut).
Makassar: Alauddin University Press, 2013.
Ismail, Isriany et al. Pengembangan Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Daun Botto’-
Botto’ (Chromolaena Odorata (L.) King & H.E. Robins) Sebagai Obat
Luka. Makassar: Alauddin University Press, 2013.

31
Windarwati, S. 2011. Pemanfaatan Fraksi Aktif Ekstrak Tanaman Jarak Pagar
Sebagai Zat Antimikroba dan antioksidan Dalam Sediaan Kosmetik. Tesis.
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Djuanda A. Pengobatan topikal dalam bidang dermatologi. Yayasan Penerbitan
IDI. Jakarta, 1994.
Martin, A., James S., dan Arthur C., Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik
Dalam Ilmu Farmasetik Edisi Kedua, Jakarta: UI Press, 1993.
Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta: Departemen.
Kesehatan RI
Astuti Lamid, 1995. Vitamin E sebagai antioksidan. Media Litbangkes Vol.V No.
01/1995

32
LAMPIRAN

33