Anda di halaman 1dari 21

PENETAPAN KADAR SULFUR DALAM SABUN MANDI

Laporan Praktikum
Laporan ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Sediaan Kosmetik
yang dibina oleh Ibu Rizka Yudhistia, S.Si., M.Si.

Disusun oleh:
Kelompok 2

Yan Shofia Afifa P17120171003


Yulita Dwi Wulandari P17120171007
Khifty Fanidha P17120174032
Firda Widyarti P17120173016
Zenleni Fadilah P17120174028
Aurellia Nova M P17120173012
Revietta Satrina P17120173024
Fitri Ratnasari P17120173020

POLITEKNIK KESEHATAN MALANG


JURUSAN GIZI
D3 ANALISIS FARMASI DAN MAKANAN
MARET 2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr,wb.
Segala puji bagi Allah SWT atas limpahan Rahmat, Inayah, Taufik, dan
Hidayah-Nya,sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktikum
ini dengan tepat waktu untuk memenuhi tugas mata kuliah analisis sediaan
kosmetik yang dimbimbing oleh Ibu Rizka Yudhistia, S.Si., M.Si. yang berjudul
“PENETAPAN KADAR SULFUR DALAM SABUN MANDI” dengan tanpa
kendala yang berarti. Semoga pembaca mendapatkan ilmu setelah membaca ini.
Dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan dan lain lain. Terima kasih.

Wassalamualaikum wr,wb.

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sediaan kosmetik pada dasarnya bukan hanya sekedar alat


mempercantik diri seperti bedak, namun sediaan kosmetik memiliki arti luas
yaitu bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian
luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian
luar) atau gigi dan membrane mukosa mulut terutama untuk membersihkan,
mewangikan, mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau
melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI No
HK.00.05.4.17458 Tahun 2004). Ada 13 penggolongan kosmetik
diantaranya ;
1. Preparat untuk bayi,
2. Peparat untuk mandi,
3. Preparat untuk mata,
4. Preparat wangi-wangian,
5. Preparat untuk rambut,
6. Preparat pewarna rambut,
7. Preparat make-up,
8. Preparat untuk kebersihan mulut,
9. Preparat untuk kebersihan badan,
10. Preparat kuku,
11. Preparat perawatan kulit,
12. Preparat cukur,
13. Preparat untuk suntan dan sunscreen.

Berdasarkan kegunaan, kosmetikpun dibagi menjadi 2 ; kosmetik


perawatan, dan kosmetik dekoratif. Untuk kosmetik perawatan kosmetik
pembersih, pelembab, pelindung, pengampelas kulit. Pembersih terdapat
shampoo, sabun, pasta gigi, dan lain lain. Dari sejarahnya sabun sudah
ditemukan pada zaman sebelum masehi, dimana ditemukan bahan baku
sabun dari lemak yang direbus dengan abu. Melalui catatan dan dokumen
kuno, orang mesir kuno mandi dengan bahan yang merupakan kombinasi
minyak hewani dan nabati dengan garam alkali untuk menyembuhkan
penyakit kulit. Kemudian berkembang lah pembuatan sabun berbentuk
batang skala pabrik, yang pertama kali sebenarnya sabun itu tidak berbusa.
Namun, karena suatu kecerobohan akhirnya sabun yang diproduksi olek
pabrik menimbulkan busa. Dan sabun berbusa sangat disukai oleh
konsumen, dan berlanjut hingga sekarang bila sabun itu berbusa. Setiap
sediaan pasti ada dosis yang dianjurkan, demi keamanan dan kenyamanan
konsumen dalam jangka pendek ataupun panjang. Maka pada praktikum
kali ini dilakukan evaluasi analisis sediaan kosmetik sabun yang
mengandung alkali atau sulfur untuk mendapatkan kadarnya dengan metode
refluks dan titrasi iodometri.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui jumlah kandungan sulfur dalam sabun mandi dengan metode
refluks dan titrasi iodometri dengan amilum atau kanji sebagai indikatonya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori


Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri
dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium
atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara
kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani.
Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap),
sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap).
Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi
minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu
gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses
saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses
netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Qisti, 2009).
Sabun merupakan senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti
natrium stearat, C17H35COO-Na+. Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan
dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan menurunkan tegangan permukaan
dari air. Konsep ini dapat di pahami dengan mengingat kedua sifat dari anion sabun
(Achmad, 2004).
Fungsi sabun dalam anekaragam cara adalah sebagai bahan pembersih.
Sabun menurunkan tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air itu
membasahi bahan yang dicuci dengan lebih efektif, sabun bertindak sebagai suatu
zat pengemulsi untuk mendispersikan minyak dan gemuk; dan sabun teradsorpsi
pada butiran kotoran (Keenan, 1980).
Kotoran yang menempel pada kulit umumnya adalah minyak, lemak dan
keringat. Zat-zat ini tidak dapat larut dalam air karena sifatnya yang non polar.
Sabun digunakan untuk melarutkan kotoran-kotoran pada kulit tersebut. Sabun
memiliki gugus non polar yaitu gugus –R yang akan mengikat kotoran, dan gugus
–COONa yang akan mengikat air karena sama-sama gugus polar. Kotoran tidak
dapat lepas karena terikat pada sabun dan sabun terikat pada air (Qisti, 2009).
Sabun digunakan untuk membersihkan kotoran pada kulit baik berupa
kotoran yang larut dalam air maupun yang larut dalam lemak. Namun dengan
penggunaan sabun kita akan mendapatkan efek lain pada kulit, pembengkakan dan
pengeringan kulit, denaturasi protein dan ionisasi, antimikrobial, antiperspiral, dan
lain sebagainya (Wasitaatmadja, 1997).
Sabun mandi merupakan garam logam alkali (Na) dengan asam lemak dan
minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Lemak dan minyak mempunyai
dua jenis ikatan, yaitu ikatan jenuh dan ikatan tak jenuh dengan atom karbon 8-12
yang berikatan ester dengan gliserin. Secara umum, reaksi antara kaustik dengan
gliserol dan sabun yang disebut dengan saponifikasi. Setiap minyak dan lemak
mengandung asam-asam lemak yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
menyebabkan sabun yang terbentuk mempunyai sifat yang berbeda. Minyak
dengan kandungan asam lemak rantai pendek dan ikatan tak jenuh akan
menghasilkan sabun cair. Sedangkan rantai panjang dan jenuh menghasilkan sabun
yang tak larut pada suhu kamar (Andreas, 2009).
Sabun mandi merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak
yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa, dengan
atau penambahan lain serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit (SNI, 1994).
Menurut Keenan (1980), dalam pembuatan sabun, lemak dipanasi dalam
ketel besi yang besar dengan larutan natrium hidroksida dalam air, sampai lemak
itu terhidrolisis sempurna. Pereaksi semacam itu sering disebut penyabunan (latin,
sapo adalah sabun), karena reaksi itu telah digunakan sejak zaman Romawi kuno
untuk mengubah lemak dan minyak menjadi sabun. Persamaan untuk reaksi itu
adalah: (RCO2)3C3H3 + 3NaOH 3RCO2Na + C3H5(OH)3
Lemak Basa Sabun Gliserol
Jika lemak/minyak dihidrolisis, akan terbentuk gliserol dan asam lemak
yang dengan adanya Na(NaOH) akan terbentuk sabun karena sabun merupakan
garam Na atau K dari asam lemak. Sabun Na dan K larut dalam air, sedangkan Ca
dan Mg tidak larut. Sabun Na (sabun keras) digunakan untuk mencuci dan sabun K
(sabun lunak) digunakan untuk sabun mandi (Panil, 2008).
Syarat mutu sabun mandi menurut Standar Nasional Indonesia 06-3235-
1994 dapat dilihat pada Tabel 1.
Sulfur atau Belerang adalah unsur kimia yang berbentuk zat padat kristal
kuning. Di alam, belerang ditemukan sebagai unsur murni atau mineral sulfida dan
sulfat. Belerang dapat berbentuk serbuk kering, cairan, kristal, padatan dan gas.
Sulfur murni tidak berbau, tetapi dalam bentuk hidrogen sulfida bau seperti telur
busuk (Martindale, 1989). Yang digunakan ialah sulfur yang terhalus, yaitu sulfur
presipitatum (belerang endap) berupa bubuk kuning kehijauan. Sulfur bersifat
antiseboroik, antiakne, antiskabies, antibakteri positif-Gram, dan anti jamur.
Biasanya dipakai dalam konsentrasi 4%-20%(Adhi D, 1994). Sulfur topikal 5-10%
dalam bentuk salep digunakan sebagai pengobatan skabies (Bethesda, 2011).
Mekanisme kerja sulfur topikal dengan cara membentuk hidrogen sulfida
dan/atau asam polithionik yang mendesak aktivitas germisida (zat pembunuh
mikroorganisme) dan toksik bagi Sarcoptes scabiei (Sulfur presipitatum dalam
sabun terkandung sulfur 10% dan dapat dikombinasikan dengan asam salisilat
dengan kandungan sulfur 10%, asam salisilat 3%. Sabun sulfur digosokkan dengan
lembut pada seluruh tubuh terutama yang terdapat lesi sampai berbusa selama 3-5
menit. Kemudian bilas secara menyeluruh menggunakan air hangat. Pemakaian
sabun diulang kembali dan bilas. Sabun sulfur 10% digunakan 2 kali sehari setiap
mandi Pada sebuah penelitian uji klinis produk salep oleh Alebiosu dkk di Nigeria
(2003), observasi dilakukan pada minggu ke-6 setelah diberikan pengobatan
kombinasi 23 salep sulfur dan sabun non sulfur(Alebiosu. 2003).
Iodimetri adalah analisa titrimetri untuk zat-zat reduktor seperti natrium
tiosulfat, arsenat dengan menggunakan larutan larutan iodium baku secara
langsung. Iodometri adalah analisa titrimetri untuk zat-zat reduktor dengan
penambahan larutan iodin baku berlebihan dan kelebihannya dititrasi dengan
larutan natrium tiosulfat baku. Pada titrais iodimetri titrasi oksidasi reduksinya
menggunakan larutan iodum. Artinya titrasi iodimetri suatu laturan oksidator
ditambahkan dengan kalium iodida berlebih dan iodium yang dilepaskan (setara
dengan jumlah oksidator) dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat (Rivai,
1995).

Bagan reaksi :
Ox + 2I- I2 + red
I2 + 2S2O3= 2I- + S4O6=
Titrasi dapat dilakukan tanpa indikator dari luar karena larutan iodium yang
berwarna khas dapat hilang pada titik akhir titrasi hingga titik akhir tercapai. Tetapi
pengamatan titik akhir titrasi akan lebih mudah dengan penambahan larutan kanji
sebagai indikator, karena amylum akan membentuk kompleks dengan I2 yang
berwarna biru sangat jelas. Penambahan amylum harus pada saat mendekati titik
akhir titrasi. Hal ini dilakukan agar amylum tidak membungkus I2 yang
menyebabkan sukar kepas kembali, dan ini akan menyebabkan warna biru sukar
hilang, sehingga titik akhir titrasi tidak terlihat tajam (Wunas, 1986).
Pada proses iodometri atau titrasi tidak langsung banyak zat pengoksida
kuat yang dapat dianalisis dengan menambahkan KI berlebihan dan mentitrasi
iodium yang dibebaskan. Karena bantak zat pengoksida yang menuntut larutan
asam untuk bereaksi dengan iodida, natrium tiosulfat lazim digunakan sebagai
titran. Beberapa tindakan pencegahan perlu diambil untuk menangani KI untuk
menghindari galat. Misalnya ion iodida dioksida oleh oksigen di udara :
4 H+ + 4 I- + O2 2 I2 + 2 H2O
Reaksi ini lambat dalam larutan netral namun lebih cepat dalam larutan
asam dan dipercepat dengan cahaya matahari. Setelah penambahan KI ke dalam
suatu larutan (asam) dari suatu zat pengoksida larutan tidak boleh dibiarkan terlalu
lama bersentuhan dengan udara, karena akan terbentuk tambahan iodium oleh
reaksi tersebut di atas (Roth, 1988).
Pada titrasi iodometri titrasi harus dalam asam lemah atau netral karena
dalam keadaan alkali akan terbentuk iodat yang terbentuk dari ion hipoiodat yang
merupakan reaksi mula-mula antara iodi dan ion hidroksida, sesuai dengan reaksi :
I2 + O2 HI + IO-
3 IO- IO3- + 2 I –

2.2 Tinjauan Bahan


No Nama Sifat Fisika Dan
Identifikasi Bahaya Penanganan
. Bahan Kimia
- Cuci dengan banyak
sabun dan air.
- Pindahkan ke tempat
berudara segar dan
- Berbahaya jika jaga tetap relaks pada
- Bentuk : Cair
tertelan. posisi yang nyaman
- Warna : Tidak
- Menyebabkan untuk bernafas.
berwarna
iritasi kulit. - Bilas dengan seksama
- Bau : Manis
1. Kloroform - Menyebabkan dengan air untuk
- Titik didih :
iritasi mata yang beberapa menit.
61 °C
serius. - Jangan memasukkan
- Densitas : 1,48
- Toksik jika sesuatu kedalam
g/cm3
terhirup. mulut korban yang
pingsan, jika bahan ini
tertelan dalam jumlah
banyak segera cari
pertolongan medis.
- Bilas segera dengan
air banyak minimal 15
menit cari pertolongan
medis jika terjadi
iritasi.
- Bentuk : serbuk - Segera cuci mata
kristalin, serbuk dengan air yang
solid, kristal - Menyebabkan banyak atau dengan
solid iritasi jika kontak larutan garam normal,
- Warna : putih dengan kulit dan dengan sesekali
Natrium kecoklatan, mata membuka kelopak
2.
Sulfit - Bau : berbau - Menyebakan mata.
sulfur iritasi jika terhirup - Pindahkan ke tempat
Titik didih : - Menyebabkan yang berudara segar
212 °F iritasi jika tertelan dan beri oksigen
(>100°C) segera cari
- pH : 9 pertolongan medis.
- Jika tertelan,
cuci mulut dengan air
Dilarang memberikan
apapun melalui mulut.

- Toksik bila
- Pindahkan ke tempat
tertelan atau
berudara segar dan
- Bentuk : Cair terkena kulit.
baringkan dengan
tidak berwarna - Menyebabkan
posisi yang nyaman
- Titik didih : kulit terbakar yang
untuk bernafas.
97ºC parah dan
- Segera cuci dengan
3. Formalin - pH : 3 - 4 kerusakan mata.
banyak air
- Bau : - Dapat
- Segera cuci dengan
Menyengat menyebabkan
sebanyak mungkin air
- Densitas : 1,09 alergi atau gejala
yang mengalir selama
g /cm³ asma atau
10-15 menit dengan
kesulitan bernafas
kelopak mata terbuka.
jka terhirup.
- Bilas mulut segera
dan minum air yang
banyak
- Bilas segera dengan
air banyak minimal 15
menit cari pertolongan
medis jika terjadi
- Menyebabkan iritasi kulit.
iritasi parah pada - Bilas dengan air yang
mengalir selama 10-
mata dan kulit
15 menit dengan
- Menyebabkan
kelopak mata terbuka.
iritasi saluran - Pindahkan ke tempat
4. Iodium pernapasan jika yang berudara segar
terhirup cari pertolongan
- Toksik bila medis.
tertelan atau - Jangan memasukkan
terkena kulit. sesuatu kedalam
mulut korban yang
pingsan, jika bahan ini
tertelan dalam jumlah
banyak segera cari
pertolongan medis.
- Bilas segera dengan
air banyak minimal 15
- Menyebabkan menit cari pertolongan
- Bentuk : Cairan iritasi mata dan medis jika terjadi
bening kulit iritasi
- Bau : Khas - Menyebabkan - Pindahkan ke tempat
- Titik didih :
iritasi saluran yang berudara segar
>76ºC
pernapasan cari pertolongan
5. Ethanol - Densitas : 1,59
- Jika tertelan medis
– 1,62
menyebabkan - Jangan memasukkan
- Kelarutan :
pusing, kantuk, sesuatu kedalam
Larut dalam air
dan perasaan mulut korban yang
dingin
pingsan, jika bahan ini
muak
tertelan dalam jumlah
banyak segera cari
pertolongan medis.
- Untuk kontak dengan
- Menyebabkan
mata segera basuh
iritasi mata dan
- Bentuk : Kristal mata dengan air
kulit jika terkena
putih atau mengalir selama 15
atau terpapar
bubuk menit dan
langsung
- Titik didih : untuk kontak dengan
- Menyebabkan
Natrium Diatas 100ºC kulit, cuci dengan
6. iritasi pada saluran
Thiosulfat - pH : 6,5 – 8,0 sabun dan air selama
pencernaan jika
- Berat minimal 20 menit. seg
tertelan
Jenis: 1,69 era mencari medis
- Menyebabkan
- Berat molekul: jika terjadi iritasi atau
iritasi pada saluran
248,17 berkelanjutan.
pernapasan jika
- Jika tertelan,
terhirup
cuci mulut dengan air
Dilarang memberikan
apapun melalui mulut.
- Pindahkan korban ke
udara segar. Berikan
oksigen jika sulit
bernapas.
BAB III
METODOLOGI

A. Tanggal dan Lokasi Praktikum


Hari, tanggal : Selasa, 26 Maret 2019
Lokasi : Laboratorium Instrumen Jurusan Farmasi Fakultas
Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang
B. Alat dan Bahan
 Alat :
- Seperangkat alat refluks
- Gelas alroji
- Beaker gelas
- Spatula
- Corong gelas
- Pengaduk gelas
- Statif dan klem lingkaran
- Biuret
- Erlenmeyer
- Bola hisap
- Pipet ukur
- Pipet tetes
 Bahan :
- Sabun “JF”
- Larutan natrium sulfit 40%
- Klorofom
- Etanol
- Formalin
- Aquadest
- Asam asetat glasial
- Larutan kanji
- Larutan Iodium

C. Cara kerja
 Preparasi Sampel
 Menimbang sampel sabun sebanyak 100 mg, yang telah dipotong-
potong
 Menambahkan sampel dengan 60ml larutan natrium sulfit 4% b/v
 Memasukkan larutan sampel dalam labu alas bulat dan dihubungkan
dengan kondensor, serta dididihkan hingga semua sampel larut
semua
 Mendinginkan larutan sampel sampai suhu kamar
 Menambahkan 7,5 ml kloroform dan 75 ml etanol dan diaduk selama
3 menit
 Memindahkan larutan dalam 4 buah erlenmeyer
 Menambahkan 5 ml formalin, 125 ml air dan 1 ml asam asetat glasial
sambil diaduk
 Menambahkan larutan kanji sebanyak 5 ml sebagai indikator
 Menitrasi dengan larutan iodium 0,1 N hingga titik akhir titrasi, titik
akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi biru
 Pembuatan Larutan natrium sulfit 4%
 Menimbang padatan natrium sulfit sebanyak 4 gram
 Melarutkan natrium sulfit dengan akuades, lalu menandabataskan
dalam labu ukur 100 ml dan mengocoknya hingga homogen
 Pembuatan Larutan kanji/amilum 1%
 Meimbang padatan kanji/amilum sebanyak 1 gram
 Melarutkan dengan akuades, lalu menandabataskan dalam labu ukur
100 ml dan mengocoknya hingga homogen
 Pembuatan Larutan iodium 0,1N
 Menimbang padatan iodium sebanyak 1,269 gram
 Melarutkan dalam akuades dengan menambahkan padatan KI
sedikit demi sedikit sampai larut sempurna, lalu menandabataskan
dalam labu ukur 100 ml dan mengocoknya hingga homogen
D. Alat
 Seperangkat alat refluks

Pada rangkaian refluks ini terjadi empat proses, yaitu proses


heating, evaporating, kondensasi dan coolong. Heating terjadi pada
saat feed dipanaskan di labu didih, evaporating ( penguapan ) terjadi
ketika feed mencapai titik didih dan berubah fase menjadi uap yang kemudian
uap tersebut masuk ke kondensor dalam. Cooling terjadi di dalam
ember, di dalam ember kita masukkan batu es dan air , sehingga
ketika kita menghidupkan pompa, air dingin akan mengalir dari
bawah menuju kondensor luar,. Proses yang terakhir adalah
kondensasi ( Pengembunan ) , proses ini terjadi di kondensor, jadi
terjadi perbedaan suhu anta kondensor dalam yang berisi uap panas
dengan kondensor luar yang berisikan air dingin, hal ini
menyebabkan penurunan suhu dan perubahan fase dari steam
tersebut untuk menjadi liquid kembali.
 Statif dan Klem lingkaran

Fungsinya sebagai :
- Untuk menjepit buret dalam proses titrasi,
- Menjepit soxhlet untuk penentuan kadar lemak,
- Menjepit destilator untuk penentuan kadar air secara destilasi,
- Menjepit kondensor pada proses pemanasan dengan pendingin
balik
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 ANALISA PROSEDUR


Pada praktikum penetapan kadar sulfur dalam sabun mandi,mula-mula
dilakukan penimbangan 25 mg sampel yaitu sabun mandi “JF” yang sudah
dihomogenkan kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 ml. Sampel yang
sudah ditimbang ditambahkan dengan 15ml natrium sulfat 4% b/v, sulfur dalam
sampel akan bereaksi dengan larutan natrium sulfat menjadi natrium thiosulfat yang
nantinya akan mereduksi I2 menjadi I- saat dititrasi dengan iodium 0,1 N.
Kemudian larutan dalam Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin refluks dan
didihkan hingga sampel terlarut larut semua dan terekstrak, setelah dididihkan lalu
larutan didinginkan pada suhu kamar. Selanjutnya ditambahkan dengan 2,5 ml
kloroform dan 25 ml etanol dan diaduk selama 3 menit, fungsi penambahan
kloroform adalah sebagai pelarut non polar dan merupakan larutan yang dapat
melarutkan senyawa non polar pada ekstraksi, sedangkan fungsi penambahan
etanol adalah untuk menghilangkan lemak sabun dan menghilangkan buih dari
sabun. Setelah itu, ditambahkan dengan 5 ml formalin, 125 ml aquadest dan 1 ml
asam asetat glacial sambil terus diaduk. Fungsi penambahan asam asetat glasial
adalah untuk memberikan suasana asam, karena larutan yang terdiri dari kalium
iodat dan kalium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki kadar keasaman
rendah, tetaoi dapat vereaksi dengan sempurna dalan suasana asam. Kemudian
ditambahkan dengan larutan kanji yang berfungsi sebagai indikator sebanyak 5 ml.
Lalu dititrasi dengan larutan iodium 0,1 N hingga titik akhir titrasi, titik akhir titirasi
ditandai dengan warna biru.
4.2 ANALISA HASIL
Sabun mandi adalah senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak dari
minyak nabati atau lemak hewani berbentuk padat, lunak atau cair dan berbusa.
Fungsi sabun mandi yang digunakan sehari-hari adalah untuk membersihkan
kotoran pada kulit berupa kotoran yang larut dalam air maupun yang larut dalam
lemak. Sabun antiseptic merupakan sabun mandi yang didalamnya mengandung
bahan obat, salah satunya sulfur yang berfungsi untuk membunuh dan mencegah
pertumbuhan kuman yang terdapat dalam tubuh. Praktikum ini dilakukan untuk
menganalisis kandungan sulfur dalam sabun mandi dengan pendinginan refluks dan
titrasi iodometri. Titrasi iodometri adalah titrasi redoks yang melibatkan iodium.
Secara fisik, sampel sabun mandi dengan merek JF sulfur berbentuk padat,
bebau harum papaya dan bewarna kuning. Setelah penambahan larutan natrium
sulfit 4% b/v warna larutan menjadi kuning pudar. Dan setelah dilakukan refluks,
berubah menjadi putih keruh. Perubahan ini menunjukkan bahwa sampel berbentuk
senyawa natrium thiosulfat setelah penambahan natrium sulfit. Reaksinya S+
Na2SO3 Na2S2O3. Kemudian setelah dilakukan preparasi sampel dan
penambahan indicator, sampel sulfur sebagai analit dianalisis dengan titran larutan
iodium konsentrasi 0,1 N hingga larutan bewarna ungu sebagai titik akhir titrasinya.
Reaksi yang berlangsung : 2 Na2S2O3 + I2 2 NaI + Na2S4O6 . Pada reaksi
tersebut, iodium mengoksidasi (mengalami reaksi reduksi) natrium tiosulfat
menjadi natrium tetrationat.
Reaksi keseluruhannya adalah :
2S + 2Na2SO3 2Na2S2O3
2Na2S2O3 + I2 2 NaI + Na2S4O6
2S + 2Na2SO3 + I2 2 NaI + Na2S4O6
Berdasarkan data hasil praktikum, analit dibagi menjadi 4 bagian (quarto).
Pada titrasi 1, larutan berubah warna dari putih keruh menjadi ungu tua dengan
volume titrasi 2,6 mL. Hal ini disebabkan karena penambahan iodin yang sedikit
berlebih dari volume titik akhir titrasi. Pada titrasi 2, larutan berubah warna dari
putih keruh menjadi ungu pudar dengan volume titrasi 2,1 mL. Pada titrasi 3, larutan
berubah warna dari putih keruh menjadi keunguan dengan volume titrasi 2,5 mL.
Pada titrasi ke 4, larutan berubah warna dari putih keruh menjadi coklat pudar
dengan volume titrasi 2,5 mL. Hal ini disebakan karena terjadinya kontaminasi
silang atau terdapatnya pengotor pada larutan sehingga mempengaruhi warna pada
titik akhir titrasi. Sehingga dapat dihitung volume rata-rata lautan iodin yang
digunakan adalah 2,425 ml.
Selanjutnya, kadar sulfur pada sampel dihitung menggunakan rumus yang
telah ditentukan pada modul yaitu : V (ml) x (N / 0,1 N) x 0,003206 (gr/ml) x (1/Bu
(gr)) x 100%. Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan kadar sulfur sampel
sebesar 31%. Berdasarkan Permenkes RI No. 445/Menkes/Per/V/1998, kadar sulfur
yang diijinkan digunakan dalam sabun mandi adalah 2 % - 10 %. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kadar sulfur dalam sampel sabun mandi tersebut tidak sesuai
dengan persyaratan yang berlaku.

4.4 Tabel Pengamatan


No. Perlakuan Hasil
1. Sampel 25 mg Bentuk : padat
Bau : pepaya
Warna : kuning
2. Larutan sampel (pelarut natrium Larutan kuning pudar
sulfit 4%)
3. Hasil refluks Larutan putih keruh
4. Larutan ekstrak ditambahkan Larutan putih keruh
dengan 2,5 ml kloroform dan 25 ml
etanol
5. Larutan campuran ditambahkan Larutan putih keruh
dengan 5 ml formalin, 125 ml air,
dan 1 ml asam asetat glasial
6. Larutan campuran ditambahkan Larutan putih keruh
dengan indicator larutan kanji 5 ml
(larutan titrat)
7. Larutan titrat dititrasi dengan Larutan berubah warna menjadi
larutan iodium 0,1 N ( titrasi 1) abu – abu
Volume titrasi 2,6 ml
8. Larutan titrat dititrasi dengan Larutan berubah warna menjadi
larutan iodium 0,1 N ( titrasi 2) ungu pudar
Volume titrasi 2,1 ml
9. Larutan titrat dititrasi dengan Larutan berubah warna menjadi
larutan iodium 0,1 N ( titrasi 3) abu – abu muda
Volume titrasi 2,5 ml
10. Larutan titrat dititrasi dengan Larutan berubah warna menjadi
larutan iodium 0,1 N ( titrasi 4) coklat pudar
Volume titrasi 2,5 ml

.
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum penetapan kadar sulfur dalam sabun mandi yang


telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan data hasil praktikum, analit
dibagi menjadi 4 bagian (quarto). Pada titrasi 1, larutan berubah warna dari putih
keruh menjadi ungu tua dengan volume titrasi 2,6 mL. Hal ini disebabkan karena
penambahan iodin yang sedikit berlebih dari volume titik akhir titrasi. Pada titrasi
2, larutan berubah warna dari putih keruh menjadi ungu pudar dengan volume titrasi
2,1 mL. Pada titrasi 3, larutan berubah warna dari putih keruh menjadi keunguan
dengan volume titrasi 2,5 mL. Pada titrasi ke 4, larutan berubah warna dari putih
keruh menjadi coklat pudar dengan volume titrasi 2,5 mL. Hal ini disebakan karena
terjadinya kontaminasi silang atau terdapatnya pengotor pada larutan sehingga
mempengaruhi warna pada titik akhir titrasi. Dan volume rata-rata lautan iodin yang
digunakan adalah 2,425 ml.
Selanjutnya, kadar sulfur pada sampel dihitung menggunakan rumus yang
telah ditentukan pada modul yaitu : V (ml) x (N / 0,1 N) x 0,003206 (gr/ml) x (1/Bu
(gr)) x 100%. Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan kadar sulfur sampel
sebesar 31%. Berdasarkan Permenkes RI No. 445/Menkes/Per/V/1998, kadar sulfur
yang diijinkan digunakan dalam sabun mandi adalah 2 % - 10 %. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kadar sulfur dalam sampel sabun mandi tersebut tidak sesuai
dengan persyaratan yang berlaku.
5.2 SARAN
Dapat disarankan bahwa seharusnya pada praktikum ini alat yg akan
digunakan lebih dilengkapi sehingga tidak bergantian dalam menggunakannya.
DAFTAR PUSTAKA

Qisti, Rachmiati. 2009. Sifat Kimia Sabun Transparan dengan penambahan Madu
pada Konsentrasi yang Berbeda. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
(Tidak Diterbitkan).
Keenan, C.W., Donal, C.K., dan Jaesse, H.W. (1980). Kimia Untuk Universitas.
Edisi keenam Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 198.
Wasitaatmadja, S. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia. Hal. 98-103.
Achmad, R. (2004). Kimia Lingkungan. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. Hal.
111.
Andreas, H. (2009). Membuat Sabun 2 Laporan Ilmiah. http://id.scribd.com.
Diakses pada tanggal 1 April 2013.
Panil, Z. (2008). Memahami Teori Dan Praktik Biokimia Dasar Medis. Padang:
EGC. Hal. 28.
CO Alebiosu, A Ogunledun, DS Ogunleye. A Report of Clinical Trial Conducted
on Toto Ointment and Soap Products. J Natl Med Assoc. 2003 Jan; 95(1):
95–105.
Application : ChemBioDrawUltra.
Day, R. A dan A. L. Underwood. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif Edisi keenam.
Jakarta: Erlangga.
Ghalib, Ibnu. (2007). Kimia Farmaasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope V. Jakarta;
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Sudjadi. (2008). Analisis Kuantitatif Obat.Yoyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Sudjadi. (2012). Analisis Farmasi.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Watson, David G. 2013. Analisis Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
LAMPIRAN

4.3 PERHITUNGAN
1. Pembuatan Natrium Sulfit 4% b/v
Kadar : massa zat terlarut (gr) / volume larutan (ml)
4% : 4 gram natrium sulfit / dalam 100 ml akuades

2. Pembuatan larutan kanji 1% b/v


Kadar : massa zat terlarut (gr) / volume larutan (ml)
1% : 1 gram serbuk kanji / dalam 100 ml akuadest

3. Pembauatn larutan iodium 0,1 N


Massa I2 : konsentrasi (N) x Mr (gr/mol) x volume (L)
Ek.
Massa I2 : 0,1 N x (253,81 gr/mol : 2) x 0,1 L
Massa I2 : 1,269 gram

Padatan KI yang digunakan ± 5 gram sampai padatan I2 terlarut sempurna


dalam pelarut akuadest

4. Perhitungan kadar sulfur berdasarkan rumus


Kadar S : V titrasi (ml) x konsentrasi (N) x 0,003206 (gr/ml) x 1 x
100%
0,1 N Bu (gr)
Kadar S : 2,425 ml x (0,1N / 0,1N) x 0,003206 gr/ml x (1 / 0,025 gr)
x 100%
Kadar S : 31%

5. Perhitungan kadar sulfur secara manual


2 Na2S2O3 + I2 2 NaI + Na2S4O6
Koefisien Na2S2O3 : koefisien I2
2 :1
Mol Na2S2O3 : ½ mol I2
Mol Na2S2O3 : konsentrasi (N) x V (ml)
: 0,1 N x 2,425 ml
: 0,2425 mmol
Massa Na2S2O3 : mol (mmol) x Mr (mg/mmol)
: 0,2425 mmol x 158 mg/mmol
: 38,315 mg
Kadar S sampel : Ar S (gr/mol) x 38,315 mg
Mr Na2S2O3 (gr/mol)
Kadar S sampel : 32 gr/mol x 38,315 mg
158 gr/mol
: 7,76 mg
% S dalam sampel : massa sampel x 100%
Massa awal
: 7,76 mg / 25 mg x 100 %
: 31,04 %