Anda di halaman 1dari 2

Kerangka

Permasalahan

 Ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu dasar yang menjadi fondasi berkembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi
 Penguasaan konsep materi IPA oleh siswa cenderung rendah, ditandai dengan
banyaknya siswa yang belum mampu mencapai batas kriteria ketuntasan minimal
(KKM) (Mayasari, 2013)
 Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa cenderung masih rendah
 Hasil survei PISA (Programme for Internasional Student Assessment) pada tahun 2015
menyebutkan Indonesia berada di tingkat 62 dari 70 negara yang berpartisipasi pada
bidang literasi sains dengan skor 403 (OECD, 2016).

 Hasil yang dicapai siswa Indonesia masih jauh dari memuaskan. Hasil tersebut
menunjukkan kemampuan siswa Indonesia dalam menerapkan pengetahuan sains pada
situasi yang berbeda sekitar 0,8% dan masih di bawah rata-rata OECD sebesar 15,3%.
Sementara itu, siswa Indonesia yang belum mampu mengidentifikasi masalah sains dan
menginterpretasi data sekitar 42,3% dan masih berada di atas rata-rata OECD sebesar
13% (OECD, 2016). Jika dikaitkan dengan keterampilan proses sains, penyebab
rendahnya pencapaian literasi sains siswa Indonesia adalah kurangnya pembelajaran
yang melibatkan proses sains seperti pada indikator klasifikasi, interpretasi dan
menerapkan konsep. Keterampilan proses sains siswa yang diterapkan pada penelitian
ini mencakup indikator observasi, klasifikasi, interpretasi, prediksi, mengajukan
pertanyaan, berhipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat/bahan,
menerapkan konsep, dan berkomunikasi (Rustaman, 2005).
 Adanya revolusi industri 4.0 sudah tidak lagi hanya menuntut siswa mampu
memanfaatkan tekonologi untuk mencari informasi, tetapi siswa harus mampu
mengolah informasi yang diperoleh menjadi lebih bermakna.

Solusi  penerapan model Creative Problem Solving

 CPS Merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada kemampuan berpikir
pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan kreativitas dan mengembangkan
kemampuan berpikir kreatif maupun berpikir kritis dalam proses pembelajarannya
 Alasan memilih model pembelajaran ini menurut Daties (2010) dalam Mayasari (2013)
1. Model pembelajaran CPS termasuk ke dalam model pembelajaran konstruktivis,
dimana yang menjadi pusat pembelajaran adalah siswa (student centered) sehingga
model tersebut dianggap mampu mengaktifkan siswa.
2. Model pembelajaran CPS dapat digunakan pada siswa dengan kemampuan
intelektual beragam, sehingga tidak perlu memisahkan antara anak yang cerdas dan
anak yang memiliki kemampuan intelektual menengah ke bawah.
3. Model pembelajaran CPS tidak hanya terbatas pada tingkat pengenalan,
pemahaman dan penerapan seluruh informasi, melainkan juga melatih siswa untuk
menganalisis suatu masalah dan memecahkannya
4. Model pembelajaran CPS mudah dipahami dan diterapkan dalam setiap jenjang
pendidikan dan tiap materi pembelajaran
 Kemampuan literasi sains dapat diukur terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi kontek,
konten, dan proses. Instrumen penilaian kemampuan literasi sains dalam bentuk soal tes
objektif yang terdiri dari 30 soal. Instrumen kemampuan berpikir kritis menggunakan tes
tertulis essay yang terdiri dari 10 soal. Untuk menguji normalitas menggunakan Uji
Liliefors dan uji homogenitas dengan uji Barlett. Adapun teknik analisis data yang
digunakan yaitu ANAVA dua jalur dan pengujian simple effect dengan uji Tukey.