Anda di halaman 1dari 9

KONSEP KEPERAWATAN BENCANA MENURUT ICN

Tugas Mata Kuliah Keperawatan Bencana

Dosen Pembimbing:
Ns. M Fathoni S.kep.MNS

Disusun oleh
Juhardina Sri Wahyuni
(201601148)

Program Studi S1 Ilmu Keperawatan


Tahun Ajaran 2019
STIKes BINA SEHAT PPNI Kab. MOJOKERTO
KONSEP KEPERAWATAN BENCANA MENURUT ICN
1.1 Definisi
Menurut ICN keperawatan bencana adalah perawat-perawat dengan kemampuan
dan pengetahuannya akan epidemiologi, fisiologi, farmakologi, struktur budaya keluarga,
dan psikologis dapat membantu pada saat program persaiapan bencana dan saat bencana
itu sendiri (ICN, 2006).

Tujuan dari keperawatan bencana yaitu memperoleh pencapaian perawatan


optimal saat bencana yang meliputi identifikasi, advokasi, dan caring untuk semua
korban bencana, termasuk aktif terlibat dalam perencanaan dan kesiapsiagaan bencana.

1.2 Hal-hal yang diperhatikan dalam keperawatan bencana


1. Sikap peduli terhadap komunitas pada saat bencana
Gangguan pada sebuah komunitas merupakan dampak langsung dari kejadian
berbahaya. Dampak ini dapat terjadi dalam jangka yang panjang maupun pendek,
tergantung dari besar kerusakan untuk komunitas dan kemampuan warga setempat
dalam menyiapkan diri untuk menghadapi bencana. Penyedia layanan kesehatan harus
dapat memenuhi kebutuhan diri komunitas yang mendapatakan bencana dengan
keterbatasan sumberdaya. Pada saat bencana berlangsung , perawat harus berhati-hati
terhadap potensi rintangan yang ada dalam memberikan pelayanan dan memodifikasi
layanan sesuai kebutuhan. Menyediakan layanan kesehatan selama bencana juga
memerlukan layanan yang terkoordinasi dengan agensi dan disiplin ilmu yang lain
dalam pelayanan kesehatan. Serta mempertahanakan fungsi layanan kesehatan
2. Dampak pribadi
Pada sebuah bencana. Perawat akan menyaksikan dan terpenguruh terhadap apa
yang ada disekitarnya. Tanpa memperhatikan emosi yang terlibat dikarenakan
bencana, ketekunan perawatan dalam menyediakan layanan pada saat bencana sangat
penting untuk hasil yang maksımal.Perawat yang bekerja pada saat bencana juga
merasakan kehilangan. Dikarenakan oleh kurangnya komunikasi atau beban kerja,
serta tidak mengetahui status dan keadaan dari keluarga dan sahabatnya. Keluaraga
perawat, tidak adapat mengetahui keadaan perawat hingga bencana mereda. Saat
bencana , juga terjadi peningkatan permintaan fisik seperti pekerja dalam shift yang
lama secara abnormal, kondisi yang sulit.
3. Kodisi yang merugikan
Bencana alam dapat menyebabkan kondisi ligkumgan yang merugikan, seperti
banjir atau angin kencang. Kerusakan struktural dari kejadian seperti gampa bumi
dapat mengubah fasilitas kesehatan menjadi lingkungan dengan potensi bahaya.
4. Kurangnya pengakuan
Perawat tidak dibenarkan menyampaikan pendapatnya bahkan mereka tidak
dilibatkan dalam pengambilan keputusan administrative. Hal ini, dapat merusak
kinerja daripada perawat terhadap komunitas pada saat bencana. Perawat
representative harus dilibatkan dalam diskusi mengenai komunitas dan regional
perencanaan bencana petugas kesehatan, dan masukan perawat harus didengarkan dan
diintergrasikan oleh perencan gawat darurat dan ketua petugas kesehatan. Mengadakan
keperawatandan berpikiran inovatif dalam perencanan bencana dan persipan akan
memastikan ketersediaan layanan keperawatan, untuk komunitas yang lebih baik
5. Critical thinking
Pemikiran kritis dan problem-solving adalah kemampuan penting dalam
manajemen efek dari bencana. Perawat mulai belajar berpikr kritis diawal karirnya
sering mengkaji dan menentukan kebutuhan pasien, kemudian mengaplikasikan dan
mengadaptasikan pelayanan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Dengan pengetahuan yang kuat mengenai suatau komunitas dan sumberdaya
potensialnya, perawata berada dalam posisi kunci untuk membantu dengan problem-
solving yang dibutuhkan ketika bencana .
6. Adaptabilitas
Dikarenakan perubahan yang cepatketika bencana, adaptasi sangat diperlukan.
Flesebilitas dan adaptabilitas meningkatkan kapasitas perawat untuk berfungsi secara
efisien dan efektif selama bencana. Perawat akan menyediakan perawatan di area
gawat darurat yang padat atau dilapangan kejadian , atau secara cepat mengubah café
menjadi rumah sakit, atau membuat tenda. Ketika bencana , lokasi petugas kesehatan
tidak menetap dan perawat akan melakukan perpindahan lokasi beberapa kali sebagai
perubahan kondisi.
7. Kepemimpinan (Leadership )
Perawat haraus dapat menggunakan kemampuan memimpinnya dengan sempurna
untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi segala kegiataan ketika seluruh fase
bencana. Perawat dalam posisi leader membutuhkan tidak hanya mengatur perawat
lain ketika bencana, tetapi juga untuk mengarahkan keseluruhan respon petugas
kesehatan.

1.3 Peran perawat dalam hencana


Perawat memegang peran penting di tiap tahap-tahap bencana, peran perawat
dibagi menjadi tiga tahap yakni:

1. Masa pre-impact
a. Membarikan pendidikan pada komunitas.
b. Bekeraja mengurangi resiko berbahaya di tempat kejadian, rumah, dan
komunitasnya.
c. Berkontribusi dalam pengembangan, implementasi, dan evaluasi dari
kesiapa masyarakat.
d. Berpartisipasi dalam evaluasi disaster drills
e. Koordinasi dan bekerja dengan organisasi masyarakat
2. Masa impact
a. Menyediakan perawatn trauma , tiage, gawat darurat, perawatan akut,
pertolongan pertama, control infeksi, dukungan dan paliatif care, dan
kesehatan mayarakat
b. Membantu nrumah sakit, tenda pertolongan pertama, penampungan,
rumah, tempat imunisasi masa, ruang mayat,dan pergantian sihift
c. Mengatur dampak fisik dan psikologis masyarakat
d. Menentukan jumlah sukarelawan
e. Mengatur jumlah petugas kesehatan yang ada
f. Untuk bencan jangka panjang, perawat berfungsi memonitor
individual,keluarga, dan masyarakat yang termasuk dalam kelompok
rentan.
3. Masa post-inpact
a. Identifikasi kasus bencana dan implementasi dari kejadian yang
berhubungan
b. Mencatat sumber daya yang ada dan terpakai
c. Menjamin perawatan yang adekuat secara keseluruhan, screening
wilayah, dan pendidikan masyarakat.

1.4 Kompetensi Perawat Dalam Keperawatan Bencana Menurut International Council of


Nursing (ICN)
Menurut International Council Nursing (ICN), kompetensi bermakna
pengetahuan, ketramplian sikap, dan pertimbangan yang terintegrasi yang harus
dimilikiatau dipersyaratkanuntuk melakukan tindakan seacara aman dalam
lingkungan praktik keperawatan individu. Kompetensin seorang perawat adalah
sesuataubyang ditampilkan secara menyeluruh oleh seorang perawata dalam
memberikan pelayanan professional kepada klien, mencakup. Pengetahuan,
ketrampilan, dan pertimbangan yang dipersyaratkan dalam situasi praktik (Nursalam
& Efendy, 2008)

Kompetensi mencerminkan hal-hal sebagai berikut:

a. Pengetahuan pemahaman dan pengkajian


b. Serangkaian ketrampilan kognitif, teknik psikonotor dan interpersonal
c. Kepribadian dan sikap serta prilaku. Sikap yang perlu ditonjolkan sebagai
sosok perawat yang siap bekerja di luar negeri dengan karakteristik budaya
Indonesia adalah 3S (Salam, Senyum, dan Semangat).
Mengacu pada ICN, pengertian kompetensi yang digunakan dalam kerangka kerja
untuk perawat generalis adalah tingkat kemampuan yang harus dimiliki oleh perawat
untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang ditunjukkan melalui penerapan
pengetahuan, ketrampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan unjuk kerja yang
dipersyaratkan (ICN) (1997) didalam Nursalam & Efendy (2008).
Dengan menguasai kompentensi tersebut, maka perawat akan mampu melakukan
hal-hal berikut ini :
a. Mengerjakan suatu tugas / pekerjaan
b. Mengorganisasikan agar pekerjaan tersebut dapat dilakasankan.
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan bila terjadi sesuatu yang berbeda
dengan rencana semula.
d. Menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau
melakasanakan tugas dengan kondisi yang berbeda (transfer / adaptation skill)

1.5 Mengelolah lingkungan dengan sumber-sumber untuk melaksnakan tugas


(job/role/environment skill) Dalam kerangka kerja ICN, kompetensi untuk perawat
generalis dikelompokan menjadi tiga kompetensi utama, yaitu :
a) Praktik profesional, etik dan legal serta peka budaya.
b) Pemberian asuhan dan manajemen asuhan keperawatan
c) Pengembangan professional

1.6 Menurut Nursalam & Efendy (2008), Ada empat hal yang merupakan karakteristik

kompetensi,yaitu:

a) Motif
Sesuatu yang secara konsisten dipikirkan atau diinginkan oleh seseorang yang
menyebabkan ,umculnya suatu tindakan . motif akan mengarahkan atau menyeleksi
sikap menjadi tindakan atau tujuan sehingga lain dari yang lain.
b) Bawaan
Bawaan dapat berupa karakteristik fisik atau kebiasaan seseorang dalam
merespon suatu situasi atau informasi tertentu. Contoh kompetensi bawaan adalah
bertindak cepat dan tepat yang diperlukan oleh perawat gawat darurat. Pengendalian
emosi diri dan inisiatif yang tinggi merupakan kebiasaan merespon yang baik untuk
perawat jiwa.
c) Pengetahuan Akademik
Suatu kompetensi seseorang dalam bekerja atau mengukur kebutuhan
pengetahuan dan keahlian yang secara nyata digunakan dalam pekerjaan.
d) Keahlian (skill)
Kemampuan untuk melakukan aktifitas fisik dan metal, kompetensi keahlian
mental atau kognitif meliputi pemikiran analisis (memproses pengetahuan atau bdata,
menentukan sebab dan pengaruh dan rencana)

1.7 Kompetensi keperawatan bencana,yaitu :

A. Kompetensi pencegahan/mitigasi
Memang hampir tidak mungkin untuk mencegah terjadinya suatu bencana yang
sifatnya alami tetapi dampak kerusakan yang ditimbulkannya memang dapat kita
kecilkan atau minimalkan. Pada sebagian besar kasus, aktifitas mitigasi ditujukan
untuk mengurangi kerentanan sistem(misal : dengan memperbaiki atau menegakkan
aturan bangunan) Namun, dalam beberapa kasus aktifitas mitigasi ditunjukkkan untuk
mengurangi besarnya bahaya (misal : dengan mengalihkan aliran sungai). Istilah
pencegahan bencana menyiratkan bahwa eliminasi kerusakan akibat suatu memang
dimungkinkan, tetapi hal ini tidak realistis untuk sebagian besar bahaya ( Pan
American Health Organization, 2006)
Korban medis dapat diturunkan secara tajam melalui perbaikan mutu bangunan
rumah, sekolah , bangunan swasta atau umum lainnya. Walau upaya mitigasi bencana
disector ini memiliki dampak kesehatan yang jelas, tanggung jawab langsung sector
kesehatan terbatas hanya dalam memastikan keamanan fasilitas kesehatan dan
layanan kesehatan masyarakat, termasuk system penyediaan air bersih dan system
pembuangan air kotor (Pan American Health Organization, 2006).
B. Kompetensi kesiapsiagaan/preparedness.
Fase kesiapsiagaan adalah fase dimana dilakukan persiapan yang baik dengan
memikirkan berbagai tindakan untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan
akibat terjadinya bencana dan menyusun perencanaan agar dapat melakukan kegiatan
pertolongan serta perawatan yang efektif pada saat terjadi bencana (Japanese Red
Cross & PMI, 2009)
Kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan suatu aktifitas lintas sector yang
berkelanjutan. Kegiatan ini membentuk suatu bagian yang tak terpisahkan dalam
system nasional yang bertanggung jawab untuk mengembangkan perencanaan dan
program pengelolaan bencana (pencegahan,mitigasi, kesiapsiagaan, respons,
rehabilitasi atau rekontruksi) (Pan American Health Organization, 2006)
Tujuan khusus kesiapsiagaan bencana adalah menjamin bahwa system, prosedur
dan sumber daya yang tepat siap ditempatnya masing-masing untuk memberikan
bantuan yang efektif dan segera bagi korban bencana sehingga dapat mempermudah
langkah-langkah pemulihan dan rehabilitasi layanan (Pan American Health
Organization, 2006)
C. Kompetensi respon
Menurut Japanese Red Cross & PMI (2009), Fase respon (tindakan) adalah fase
dimana dilakukan berbagai aksi darurat yang nyata untuk menjaga diri sendiri atau
harta kekayaan. Aktifitas yang dilakukan secara kongkret yaitu :
1). Instruksi pengungsian
2). Pencarian dan penyelamatan korban
3). Menjamin keamanan dilokasi bencana
4). Pengkajian terhadap kerugian akibat bencana
5). Pengkajian dan penggunaan alat perlengkapan pada kondisi darurat.
6). Pengirimanan dan penyerahan bahan material.
7). Menyediakan tempat pengungsian.
D. Kompetensi recovery/rehabilitasi.
Fase pemulihan sulit dibedakan secara akurat dari dan sampai kapan, tetapi fase
ini merupakan fase dimana individu atau masyarakat dengan kemampuannya sendiri
dapat memulihkan fungsinya seperti sediakala (sebelum terjadi bencana). Orang-orang
melakukan perbaikan darurat tempat tinggalnya pindah kerumah sementara, mulai
masuk sekolah ataupun bekerja kembali sambil memulihkan lingkungan tempat
tinggalnya. Kemudian mulai dilakukan rehabilitasi lifeline dan aktifitas untuk
membuka kembali usahanya (Japanese Red Cross & PMI, 2009).
Institusi pemerintah juga mulai memberikan kembali pelayanan secara normal
serta mulai menyusun rencana-rencana untuk rekonstruksi sambil terus memberikan
bantuan kepada para korban. Fase bagaimanapun juga merupakan fase pemulihan dan
tidak sampai mengembalikan fungsi-fungsi normal seperti sebelum bencana darurat ke
kondisi tenang (Japanese Red Cross & PMI,2009).
DAFTAR PUSTAKA

Simonocovic. S.P. System Approach to Management Of Disaster : Methods and Aplication.New


Jersey : Wiley.
Anonymous. (2006). Bencana Alam : Perlindungan Kesehatan Masyarakat (alih bahasa
Munaya Fauziah). Jakarta : EGC.
Dasgupta. R, (2007). Disaster Management and Rehabilitation.New Delhi : Krishan Mittal.
Japanese Red Cross Society & PMI. 2009. Keperawatan Bencana. Banda Aceh : Forum
Keperawatan Bencana