Anda di halaman 1dari 20

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Apendisitis

Makalah disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Medikal Bedah II

Dosen Pengampu : Ns. Fiora Ladestiva, M.Kep, Sp.Kep.MB

Disusun oleh:

Kelas Keperawatan Medikal Bedah II Tutor C

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
S-1 KEPERAWATAN
2019
Shania Hasina Sidiki 1710711023

Apendisitis

Pengertian

Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah saluran usus yang terjadinya pembusukan
dan menonjol dari bagian awal usus besar atau seku. Penyakit usus buntu timbul ketika usus
buntu tersumbat benda keras di dalam tinja atau bengkaknya cabang ke kelenjar getah bening
pada usus yang dapat terjadi oleh berbagai maccam infeksi. Apendisitis adalah penyakit
pembedahan abdominal yang paling umum dan merupakan inflamasi apendiks vermiform
akibat adanya obstruksi. Usus buntu berukuran 5-10 cm yang terhubung di usus besar.

Klasifikasi

Menurut samsuhidayat (2003), apendisitis terdiri dari limabagian antara lain:

1. Apendisitis akut
Adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum pariental setempat sehingga menimbulkan rasa sakit di
abdomen kanan bawah
2. Apendisitis infiltrat (masa peri pendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi bila apendisitis
ganggrenosa di tutupi pendinginan oleh omentum
3. Apendisitis perforata
Ada fekalit didalam lumen, umur (orang tua atau anak muda)
dan keterlambatan diagnosa merupakan faktor yang
berperan dalam terjadinya perforasi apendiks
4. Apendisitis rekuren
kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali
sembuh spontan, namun apendiks tidak pernah kembali kebentuk aslinya karena terja
di fibrosis dan jaringan parut. Resikonya untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50%
5. Apendisitis kronis
fiibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks,
adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik
Prevelensi

Kejadian apendisitis di indonesia menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI
pada tahun 2009 sebesar 596.132 orang dengan persentase 3.36% dan meningkat pada tahun
2010 menjadi 621.435 orang dengan persentase 3.53%. Apendisitis merupakan penyakit tidak
menular tertinggi kedua di Indonesia pada rawat inap di rumah sakit pada tahun 2009 dan
2010.

Penelitian Indri U, dkk (2014), mengatakan risiko jenis kelamin pada kejadian penyakit
apendisitis terbanyak berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 72,2% sedangkan berjenis
kelamin perempuan hanya 27,8% [6] . Hal ini dikarenakan laki-laki lebih banyak
menghabiskan waktu diluar rumah untuk bekerja dan lebih cenderung mengkonsumsi
makanan cepat saji, sehingga hal ini dapat menyebabkan beberapa komplikasi atau obstruksi
pada usus yang bisa menimbulkan masalah pada sistem pencernaan salah satunya yaitu
apendisitis.

Angka kejadian apendisitis di Indonesia dilaporkan sekitar 95/1000 penduduk dengan jumlah
kasus sekitar 10 juta setiap tahunnya dan merupakan kejadian tertinggi di ASEAN.[1,2] Di
rumah sakit di Bali dilaporkan kejadian apendisitis cukup tinggi dengan variasi antara 159-
470 kasus per tahun.[3] Permasalahan yang sering terjadi pada kasus apendisitis akut adalah
adanya komplikasi seperti perforasi dengan prevalensi sekitar 30-70% dari kasus apendisitis
akut.

References
Arifuddin, A. (2017). FAKTOR RISIKO KEJADIAN APENDISITIS DI BAGIAN RAWAT
INAP. Jurnal Preventif, 1-3.
Dr. H Masriadi, S. (2016). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: CV. Trans Info
Media.
Padmi, C. I. (2017). Akurasi Total Hitung Leukosit dan Durasi Simtom sebagai Prediktor
Perforasi Apendisitis pada Penderita Apendisitis Akut. WMJ (Warmadewa Medical
Journal), 71-76.
Etiologi dan Faktor Risiko

Desiana Rachmawati 1710711038

Nurhidayah 1710711113

 Apendisitis dapat disebabkan hal berikut :

• Fekalit (batu feses) yang mengoklusi lumen apendiks

• Apendiks yang terpuntir.

• Pembengkakan dinding usus.

• Kondisi fibrosa di dinding usus.

• Oklusi eksternal usus akibat adesi.

• Infeksi organisme yersinia telah ditemukan pada 30% kasus.

Tidak ada faktor resiko tertentu untuk apendisitis. Oleh karena itu tidak dapat dicegah,
deteksi dini sangat penting.

Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia Folikel


lympoid Fecalit, benda asingstriktur karena Fibrasi karena adanya peradangan sebelumnya
atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa
mengalami bendungan. Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan tekanan intra lumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan
menghambat aliran limfe yang akan menyebabkan edema dan ulserasi mukosa.

Pada saat inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh adanya nyeri epigastrium.
Penyebab lain yang muncul :

1. Adanya benda asing seperti biji – bijian, Seperti biji Lombok, biji jeruk dll

2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus

3. Laki – laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun
(remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa
tersebut.
4. Tergantung pada bentuk appendiks

5. Appendik yang terlalu panjang

6. Messo appendiks yang pendek

7. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks

8. Kelainan katup di pangkal appendiks

Daftar Pustaka

• Price, Sylvia Anderson. 2005.PATOFISIOLOGI : konsep klinis proses-


proses penyakit.

• Jakarta : EGC.R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2004. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Jakarta :
EGC.Syaifuddin. 2006.

• Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.Jakarta: EGC

• Sloane, Ethel. 2004.Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula.Jakarta : EGC


Manifestasi Klinik
Hillalia Nurseha 1710711046
Indah Cahyasari 1710711117

Menurut Arief Mansjoer (2002), keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah
umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 – 12 jam nyeri
akan beralih ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau
batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise dan demam yang tak terlalu tinggi. Biasanya
juga terdapat konstipasi tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah. Pada
permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap namun dalam
beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif dan dengan pemeriksaan
seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal perkusi ringan pada
kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri.

Menurut Suzanne C Smeltzer dan Brenda G Bare (2002), apendisitis akut sering tampil
dengan gejala yang khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang
memberikan tanda setempat. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam
ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri
tekan dapat dirasakan pada kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney yang berada antara
umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior. Derajat nyeri tekan, spasme otot dan apakah
terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila
apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri tekan terasa di daerah lumbal. Bila ujungnya
ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada
defekasi menunjukkan ujung apendiks berada dekat rektum. Nyeri pada saat berkemih
menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya
kekakuan pada bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul
dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri
yang terasa dikuadran kanan bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi menyebar.
Distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi pasien memburuk. Pada pasien
lansia, tanda dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi. Tanda-tanda tersebut dapat sangat
meragukan, menunjukkan obstruksi usus atau proses penyakit lainnya. Pasien mungkin tidak
mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur apendiks. Insidens perforasi pada apendiks
lebih tinggi pada lansia karena banyak dari pasien-pasien ini mencari bantuan perawatan
kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang lebih muda.

Menurut Diane C. Baughman dan JiAnn C. Hackley (2000), manifestasi klinis apendisitis
adalah sebagai berikut :
1. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya disertai dengan demam derajat rendah, mual, dan
seringkali muntah
2. Pada titik Mc Burney terdapat nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari
bagian bawah otot rektus kanan
3. Nyeri alih mungkin saja ada; letak apendiks mengakibatkan sejumlah nueri tekan, spasme
otot, dan konstipasi serta diare
4. Tanda Rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi kuadran kanan bawah , yang
menyebabkan nyeri kuadran kiri bawah)
5. Jika terjadi ruptur apendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar; terjadi distensi
abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.

Penatalaksanaan Medis Apendisitis

Ayu Nuraini Soleha – 1710711030

Lilis Mulyani - 1710711073

1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak
mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian
antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian
antibiotik sistemik
2. Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang
dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Penundaan
appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi.
Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).

3. Pencegahan Tersier

Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi


yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi
luka dan abses intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen
dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan
perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan
besar infeksi intra-abdomen.

Apendiktomy operasi pengambilan usus buntu adalah satu-satunya cara


pengobatan yang efektif. Laparoskopi apendiktomy dilakukan melalui irisan sangat kecil ,
mempercepat waktu penyembuhan . Jika infeksi telah menyebar dan terbentuk radang
selaput perut dokter akan menggunakan antibiotik untuk mengobatinya dan menggunakan
selang untuk mengeluarkan isi rongga perut.

Menurut Arief Mansjoer (2000), penatalaksanaan apendisitis adalah sebagai


berikut:

1. Tindakan medis

a. Observasi terhadap diagnosa

Dalam 8 – 12 jam pertama setelah timbul gejala dan tanda apendisitis,


sering tidak terdiagnosa, dalam hal ini sangat penting dilakukan observasi yang
cermat. Penderita dibaringkan ditempat tidur dan tidak diberi apapun melalui
mulut. Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan aperviteral. Hindarkan
pemberian narkotik jika memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti barbitural atau
penenang tidak karena merupakan kontra indikasi. Pemeriksaan abdomen dan
rektum, sel darah putih dan hitung jenis di ulangi secara periodik. Perlu dilakukan
foto abdomen dan thorak posisi tegak pada semua kasus apendisitis, diagnosa dapat
jadi jelas dari tanda lokalisasi kuadran kanan bawah dalam waktu 24 jam setelah
timbul gejala.

b. Intubasi

Dimasukkan pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi peritonitis atau


toksitas yang menandakan bahwa ileus pasca operatif yang sangat menggangu.
Pada penderita ini dilakukan aspirasi kubah lambung jika diperlukan. Penderita
dibawa kekamar operasi dengan pipa tetap terpasang.

c. Antibiotik

Pemberian antibiotik preoperatif dianjurkan pada reaksi sistematik dengan toksitas


yang berat dan demam yang tinggi .

2. Terapi bedah
Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah
terkontrol ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik lainnya.
Biasanya hanya diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang direncanakan secara
dini baik mempunyai praksi mortalitas 1 % secara primer angka morbiditas dan
mortalitas penyakit ini tampaknya disebabkan oleh komplikasi ganggren dan perforasi
yang terjadi akibat yang tertunda.
3. Terapi pasca operasi
Perlu dilakukan obstruksi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya
perdarahan didalam, syok hipertermia, atau gangguan pernapasan angket sonde
lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak
terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar,
misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus
kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu
naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makan saring, dan hari
berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk
duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri
dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan
pulang.

PEMERIKSAAN PENUNJANG APENDISITIS

Nada Mutiara 1710711028


Nur Fitriah E 1710711049
1. Laboratorium

Jumlah leukosit diatas 10.000 ditemukan pada lebih dari 90% anak dengan appendicitis
akuta. Jumlah leukosit pada penderita appendicitis berkisar antara 12.000- 18.000/mm3.
Peningkatan persentase jumlah neutrofil (shift to the left) dengan jumlah normal leukosit
menunjang diagnosis klinis appendicitis. Jumlah leukosit yang normal jarang ditemukan pada
pasien dengan appendicitis1.

2. Pemeriksaan urinalisis

Membantu untuk membedakan appendicitis dengan pyelonephritis atau batu ginjal. Meskipun
demikian, hematuria ringan dan pyuria dapat terjadi jika inflamasi appendiks terjadi di dekat
ureter.
3. Ultrasonografi

Ultrasonografi sering dipakai sebagai salah satu pemeriksaan untuk menunjang diagnosis
pada kebanyakan pasien dengan gejala appendicitis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
sensitifitas USG lebih dari 85% dan spesifitasnya lebih dari 90%. Gambaran USG yang
merupakan kriteria diagnosis appendicitis akut adalah appendix dengan diameter
anteroposterior 7 mm atau lebih, didapatkan suatu appendicolith, adanya cairan atau massa
periappendix1. False positif dapat muncul dikarenakan infeksi sekunder appendix sebagai
hasil dari salphingitis atau inflammatory bowel disease.

4. CT-Scan

CT scan merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis appendicitis


akut jika diagnosisnya tidak jelas.sensitifitas dan spesifisitasnya kira-kira 95-98%. Pasien-
pasien yang obesitas, presentasi klinis tidak jelas, dan curiga adanya abses, maka CT-scan
dapat digunakan sebagai pilihan test diagnostik. Diagnosis appendicitis dengan CT-scan
ditegakkan jika appendiks dilatasi lebih dari 5-7 mm pada diameternya. Dinding pada
appendix yang terinfeksi akan mengecil.

5. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan

hati, kandung empedu, dan pankreas.

6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium

enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma

kolon.

7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi

mempunyai arti penting dalam membedakan Apendisitis dengan obstruksi usus halus.
Komplikasi Apendisitis
Rani Mutrika 1710711045
Gita Ekawati 1710711007
Dila Sari Putri 1710711071

Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga berupa massa
yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan letak usus halus (Sjamsuhidajat, De Jong,
2004).
Komplikasi usus buntu juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan, obstruksi usus, abses
abdomen/pelvis, dan jarang sekali dapat menimbulkan kematian (Craig, 2011). Selain itu,
terdapat komplikasi akibat tidakan operatif. Kebanyakan komplikasi yang mengikuti
apendisektomi adalah komplikasi prosedur intraabdomen dan ditemukan di tempat-tempat
yang sesuai, seperti: infeksi luka, abses residual, sumbatan usus akut, ileus paralitik, fistula
tinja eksternal, fistula tinja internal, dan perdarahan dari mesenterium apendiks (Bailey,
1992).
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang menjadi
peritonitis atau abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32%. Insidens lebih tinggi pada
anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala
mencakup demam dengan suhu 37,70C atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau
nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Smeltzer C.Suzanne, 2002).

Sumber:
Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2004.Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, Jakarta : EGC
Smeltzer C, Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth,
(Edisi 8 vol 2). Alih Bahasa Agung Waluyo. Jakarta :EGC
Asuhan Keperawatan Pasien dengan Apendisitis

Norma Amalia 1710711057

Siti Alifah Nadia Putri 1710711120

Nir Ashmah 1710711122

Kasus

Seorang pasien di rawat di RS dengan keluhan nyeri pada area abdomen kuadran kanan
bawah. TTV, TD: 120/70mmHg, nadi 88x/menit, RR 20X/menit, suhu 380C. pasien
mengatakan skala nyeri sekitar 8. Hasil USG abdomen terdapat inflamasi pada area apendiks
dan berisiko perforasi. Leukosit meningkat hingga 11.500/mm. Pasien didiagnosa apendistis
dan akan direncanakan operasi cito.

Data Fokus

Data Subyektif Data Obyektif


- Pasien mengatakan nyeri pada area - Hasil USG abdomen terdapat
abdomen kuadran bawah inflamasi pada area apendiks dan
- Pasien mengatakan skala nyeri 8 beresiko tervorasi
- Leukosit 11.500/mm
- Pasien di diagnose apendistis dan
akan di lakukan operasi cito
- TTV
- TD: 120/70 mmHg
- HR:88X/menit
- RR:20X/menit
- Suhu:38 C
- Hasil USG abdomen terdapat inflamasi pada
area apendiks dan berisiko perforasi
Analisa Data

No Data Masalah Etiologi


1 DS: Nyeri Akut Agen cedera biologis
 Pasien mengatakan nyeri (infeksi)
pada area abdomen
kuadran kanan bawah
 Pasien mengatakan skala
nyeri sekitar 8
Do:
 Hasil USG abdomen
terdapat inflamasi pada area
apendiks dan beresiko
tervorasi
 Leukosit 11.500/mm
 Pasien di diagnose apendiks
dan akan dilakukan operasi
cito
 TTV :
TD : 120/70 mmHg
HR: 88X/menit
RR:20X/menit

2 DS:- Hipertermi Proses Penyakit


DO:
 Leukosit 11.500/mm
 TTV
TD : 120/70 mmHg
HR: 88x/menit
RR: 20X/menit

3 Ds :- Risiko Infeksi Inflamasi pada area


Do : apendiks dan
 Hasil USG abdomen beresiko perforasi
terdapat inflamasi pada area
apendiks dan beresiko
terforasi
 Leukosit 11.500/mm
 TTV
TD: 120/70
HR: 88x/menit
RR:20x/menit

Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (infeksi)


2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
3. Risiko infeksi berhubungan dengan Inflamasi pada area apendiks dan beresiko
perforasi

Intervensi (Rencana Tindakan) Keperawatan

Hari No.Dx Tujuan dan Rencana Tindakan Paraf &


/Tgl Kriteria Hasil Nama
1 Setelah dilakukan - Lakukan pengkajian nyeri yang
tindakan keperawatan meliputi lokasi, karekteristik,
selama 3x24 jam, onset/durasi, frekuensi,
diharapkan masalah kualitas, intensitas atau
Nyeri Akut dapat beratnya nyeri dan factor
teratasi, dengan pencetus
kriteria hasil : - Observasi adanya petunjuk
1. Nyeri pada nonverbal mengenai
area abdomen ketidaknyamanan
kuadran kanan - Berikan pasien penurun nyeri
bawah yang optimal dengan peresepan
berkurang analgesik
2. Pada area - Kendalikan factor lingkungan
apendiks tidak yang dapat mempengaruhi
ada inflamasi keidaknyamanan pasien
3. Leukosit - Kurangi factor-faktor yang
menurun dan dapat meninngkatkan rasa
dalam batas nyer(misal
normal :kelelahan,ketakutan,keadaan
4. Tanda-Tanda monoton dan kurang
Vital : pengetahuan)
TD Normal - Bantu keluarga dalam mencari
HR Normal dan menyediakan dukungan
RR Normal - Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu
penurunan nyeri
2 Setelah dilakukan - Pantau suhu dan tanda-tanda
tindakan keperawatan vital
selama 3x24 jam, - Monitor warna kulit
diharapkan masalah - Tutup pasien dengan selimut
Hipertermi dapat atau pakaian ringan
teratasi, dengan - Dorong pasien untuk konsumsi
kriteria hasil : cairan
Tanda-Tanda Vital : - Lembabkan bibir dan mukosa
1. TD Normal hidung yang kering
2. HR Normal - Fasilitasi istirahat,terapkan
3. RR Normal pembatasan aktivitas jika
4. Suhu normal diperlukan
3 Setelah dilakukan - Alokasikan kesesuaian luas
tindakan keperawatan ruang per pasien seperti yang
selama 3x24 jam, di inndikasikan oleh pedoman
diharapkan masalah pusat pengendalian
Risiko Infeksi dapat pencegahan penyakit
teratasi, dengan - Ganti peralatan perawatan per
kriteria hasil : pasien sesuai protokal institusi
- Hasil USG - Anjurkan pasien meminum
abdomen tidak antibiotic seperti yang
terdapat diresepkan
inflamasi pada - Ajarkan pasien dan anggota
area apendiks keluarga mengenai bagaimana
dan tidak menghindari infeksi
beresiko - Anjurkan pengunjung ,tenaga
tervorasi kesehatan dan pasien untuk
- Leukosit mencuci tangan pada saat
Normal memasuki dan meninggalakan
- TTV ruangan
TD Normal - Tingkatkan intake nutrisi yang
HR Normal tepat
RR Normal - Dorong intake cairan yang
sesuai

DAFTAR PUSTAKA

NANDA. (2005). Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2005-2006. Philadelphia:


NANDA International.

Potter, P.A. & Perry, A.G. (1996). Fundamentals of Nursing: Concept, Process & Practice.
(third edition). St. Louis: Mosby-Year Book.

Perry, A.G. & Potter, P.A. (1994). Clinical Nursing Skills & techniques (third edition). St.
Louis: Mosby-Year Book.
Hasil penelitian jurnal apendisitis

Isfia Aunillah RS 1710711031


Dwi Arini 1710711034

1. Judul Jurnal : Hubungan Jumlah Leukosit Pre Operasi dengan Kejadian Komplikasi
Pasca Operasi Apendektomi pada Pasien Apendisitis Perforasi di RSUP Dr. M. Djamil
Padang

Korespondensi : Annisa Amalina, Avit Suchitra, Deddy Saputra

Hasil penelitian :

Diperoleh data bahwa usia penderita apendisitis peforasi terbanyak pada usia 1224 tahun
yaitu sebanyak 29 orang (55,8%), usia 25-44 tahun yaitu sebanyak 17 orang (32,7%),
sedangkan untuk usia 45-64 tahun sebanyak 5 orang (9,6%) dan untuk usia diatas 65 tahun
hanya 1 orang (1,9%).
Dari 52 kasus apendisitis perforasi sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak
29 orang (55,8%), sisanya 23 orang (44,2%) berjenis kelamin perempuan.
Terdapat hampir setengah kasus apendisitis perforasi mengalami komplikasi pasca operasi
yaitu sebanyak 24 orang (46,2%), dan sebanyak 28 orang (53,8%) tidak mengalami
komplikasi pasca operasi.
Pengelolaan terhadap 52 sampel, diperoleh hasil nilai terendah jumlah leukosit pada seluruh
sampel pasien apendisitis perforasi yaitu 6800 sel/µl dan nilai tertinggi adalah 43600 sel/µl.
Rerata jumlah leukosit pada sampel sebesar 18966,64 sel/µl dengan nilai standar deviasi (SD)
sebesar 8254,83 sel/µl.
Pada penelitian ini didapatkan pada pasien apendisitis perforasi dengan leukosit >15.000
frekuensi paling banyak terjadinya komplikasi pasca operasi yaitu sebanyak 22 orang
(66,66%) sementara kejadian tidak adanya komplikasi pasca operasi paling banyak pada
pasien apendisitis perforasi dengan leukosit 500015.000 yaitu 17 orang (89,48%).

Pada penelitian ini didapatkan bahwa hampir setengah kasus apendisitis perforasi mengalami
komplikasi pasca operasi yaitu sebanyak 24 orang (46,2%) dari jumlah sampel 52 orang.
Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspasari di RSUD Undata
Palu yang mendapatkan hasil kasus komplikasi pada apendisitis perforasi sebanyak 35 orang
(51,5 %). Perbedaan ini dikarenakan jumlah sampel penelitian yang digunakan lebih banyak
yaitu 68 orang dengan desain penelitian cross sectional menggunakan metode penelitian yang
sama denan peneliti yaitu rekam medis.
2. Judul Jurnal :Perbedaan Penggunaan Drain Dan Tanpa Penggunaan Drain Intra Abdomen
Terhadap Lama Perawatan Pascaoperasi Laparotomi Apendisitis Perforasi

Korespondensi : Rahmadi Indra, Ida Bagus B.S.A, UntungAlfianto

Hasil Penelitian :

Karakteristik responden berdasarkan umur mayoritas responden berumur antara 40-60 tahun
(45%). Jenis kelamin pasien apendisitis perforasi mayoritas berjenis kelamin laki-laki (55%).
Pasien pascaoperasi apendisitis perforasi baik yang dipasang drain maupun yang tidak
dipasang drain semuanya tidak mengalami komplikasi pada luka (100%).
Penyembuhan luka pascaoperasi apendisitis perforasi baik yang dipasang drain maupun yang
tidak dipasang drain semuanya mengalami proses penyembuhan luka dengan baik (100%).
Lama rawat inap pasien operasi apendisitis perforasi tanpa dipasang drain lama rawat inap
terendah adalah 4 hari dan paling lama 6 hari, sedangkan yang dipasang drain cenderung
lebih lama, yaitu tercepat 5 hari dan terlama 8 hari. Jika dilihat dari nilai meannya juga
terlihat bahwa pasien yang dipasang drain lebih lama dibandingkan dengan pasien yang tidak
dipasang drain.

Dilihat dari nilai rank mean-nya pada kelompok tanpa dipasang drain rerata peringkatnya
6,30 lebih rendah daripada rerata peringkat kelompok yang dipasang drain, yaitu 14,70,
selisih 8,4. Hasil uji analisis dengan nilai p= 0,001, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa
Ho ditolak, ada perbedaan lama perawatan yang signifikan antara pasien pascaoperasi
apendisitis perforasi dengan yang dipasang drain dan yang tidak dipasang drain.
Apendisitis perforasi berhubungan dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Peradangan akut
pada apendiks memerlukan tindakan pembedahan segera untuk mencegah terjadinya
komplikasi berbahaya (Schwartz et al. 2014). Apendisitis yang tidak tertangani segera akan
meningkatkan risiko terjadinya perforasi dan pembentukan masa peri apendikular (Tzanakis,
2005; Vasser, 2012; Riwanto et al., 2010; Brunner & Suddarth, 2014).
Abses intra-abdominal merupakan komplikasi yang paling umum setelah apendisitis
perforasi. Drain intraabdomen banyak digunakan oleh ahli bedah di praktik klinis saat ini
(Curran dan Muenchow 1993; Lund dan Murphy 1994; Fishman et al. 2000). Namun
demikian, drain intraabdomen setelah operasi apendisitis dalam kasus apendisitis perforasi
masih kontroversi (Akoyun, 2012).
3. Judul jurnal : Faktor Risiko Kejadian Apendisitis Di Bagian Rawat Inap Rumah Sakit
Umum Anutapura Palu

Korespondensi : Adhar Arifuddin, Lusia Salmawati, Andi Prasetyo

Hasil penelitian :

 Risiko Usia Terhadap Kejadian Apendisitis


Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh data responden bahwa dari 54 responden
yang mengalami kejadian apendisitis, 31 responden (57,4 %) yang berusia 15-25
tahun dan 23 responden (42,6 %) berusia <15 tahun dan >25 tahun, sedangkan dari
108 responden yang tidak apendisitis, terdapat 24 responden (22,2 %) yang berusia
15-25 tahun dan 84 responden (77,8%) berusia <15 tahun dan >25 tahun. Berdasarkan
hasil uji statistik didapat OR yaitu 4,717 pada CI 95% 2,331 - 9,545, artinya risiko
usia 15-25 tahun yang menderita penyakit apendisitis sebesar 4,717 kali lebih besar
dibandingkan dengan yang berusia <15 tahun dan >25 tahun dan bermakna secara
signifikan.

 Risiko Jenis Kelamin Terhadap Kejadian Apendisitis


Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh data responden bahwa dari 54 responden
yang mengalami kejadian apendisitis, 20 responden (37,0 %) yang dengan jenis
kelamin laki-laki dan 34 responden (63,0 %) dengan jenis kelamin perempuan,
sedangkan dari 108 responden yang m tidak apendisitis, terdapat 51 responden (47,2
%) dengan jenis kelamin laki-laki dan 57 responden (52,8%) bdengan jenis kelamin
perempuan. Berdasarkan hasil uji statistik didapat OR yaitu 0,657 pada CI 95% 0,337
– 1,284, artinya risiko responden berjenis kelamin lakilaki menderita penyakit
apendisitis sebesar 0,657 kali lebih besar dibandingkan dengan responden berjenis
kelamin perempuan dan secara signifikan tidak bermakna.

 Risiko Pola Makan Terhadap Kejadian Apendisitis


Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 5.11 diperoleh data responden bahwa
dari 54 responden yang mengalami kejadian apendisitis, 38 responden (70,4 %) yang
mempunyai pola makan buruk dan 16 responden (29,6 %) mempunyai pola makan
baik, sedangkan dari 108 responden yang m tidak apendisitis, terdapat 44 responden
(40,7 %) yang mempunyai pola makan buruk dan 64 responden (59,3%) mempunyai
pola makan baik. Berdasarkan hasil uji statistik didapat OR yaitu 3,455 pada CI 95%
1,717 – 6,949, artinya risiko responden yang mempunyai pola makan buruk untuk
menderita penyakit apendisitis sebesar 3,455 kali lebih besar dibandingkan dengan
responden yang mempunyai pola makan baik dan bermakna secara signifikan.

Referensi
https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/gmhc/article/viewFile/1 844/pdf
http://journals.ums.ac.id/index.php/biomedika/article/download/5852/3818
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Preventif/article/download/8344/6624