Anda di halaman 1dari 7

Andhika Prasetya, Apresiasi dalam Fotografi..

87-93

Artikel Lepas

APRESIASI DALAM FOTOGRAFI:


SEBUAH PENGANTAR DALAM MEMBACA, MEMAHAMI
DAN MENGAPRESIASI FOTOGRAFI

Andhika Prasetya
Institut Teknologi Bandung

1. Fotografi setiap generasi/zaman mengemukakan definisi-


Sejak fotografi ditemukan sekitar tahun 1839 definisinya sendiri yang dianggap sesuai dengan
orang menganggap fotografi menjadi dua zamannya. Secara umum estetika berhubungan
bagian: sebagai sains-teknologi dan sebagai dengan unsur-unsur yang sifatnya teratur,
seni. Menurut literatur terbaru pembagian well-organized, seimbang, seragam sehingga
tipe fotografi diletakkan pada bagaimana suatu membentuk suatu keberaturan. Keindahan
karya foto dibuat dan apa fungsi dari karya foto sendiri berhubungan dengan pengetahuan dan
tersebut. Jadi, foto seni dibuat untuk tujuan pengalaman pribadi manusia akan hal-hal yang
seni, media ekspresi seniman. Pada dasarnya disebut indah, seperti bentuk, warna, garis,
klasifikasi foto seni mengacu pada klasifikasi seni bidang, tekstur, cahaya, dan lain-lain.
rupa pada umumnya: (1) piktorial-apa adanya-
formalistik, yaitu foto yang menitikberatkan Kita pun begitu, ingin mendefinisikan fotografi
pada kesempurnaan bentuk dan teknis, (2) sesuai dengan jaman ini, saat ini. Sebenarnya
simbolis-metafora-penuh makna yaitu foto fotografi tidak dibatasi hanya pada estetika
yang menitikberatkan pada pesan yang ingin keindahan saja. Dalam karya seni, keindahan dapat
disampaikan seniman lewat tanda-obyek yang muncul dari tema maupun tekniknya, namun
ditampilkan, (3) ekspresionis, yaitu foto yang secara isi keseluruhan bisa jadi tidak indah (the
murni sebagai media ekspresi seniman, foto aesthetic of ugliness/estetika ketidakindahan).
‘suka-suka gue’. Dalam jaman/gerakan Posmodern dikenal seni
konseptual (1960-an) yang membuang sama
Akhir-akhir ini unsur-unsur keindahan dan sekali proses estetika, sebagai contoh Piero
estetika seakan-akan ‘dilucuti’ dari setiap Manzoni yang mengawetkan tinjanya sendiri
karya seni, termasuk fotografi. So, what is art? dan diberi judul “100% Pure Artists Shit” dan R.
Aristoteles (384-322 SM) mengatakan seni itu Mutt yang meletakkan kloset porselen yang dia
tiruan keindahan. Thomas Aquinas (1225-1275) tandatangani dan dipamerkan di galeri berjudul
menimpali dengan mengatakan keindahan “Urinal”.
adalah segala sesuatu yang enak dilihat. Clive
Bell (1913) menyatakan seni sebagai significant Yang pasti, setiap benda yang ingin disebut
form, bentuk yang berarti/bermakna. Setiap karya seni haruslah mempresentasikan nilai
orang (pelaku seni, termasuk fotografi) dari yang dalam. Seni mewakili ungkapan, seni harus

87
Wimba, Jurnal Komunikasi Visual. Vol 1. No. 1, 2009

mengungkapkan makna, seperti kata Roland penyinaran, alat bantu pemotretan, waktu
Barthes dari denotasi (apa yang tampak, yang pemotretan, dan sebagainya. Deskripsi media
bisa dideskripsikan) menuju konotasi (makna, mencakup semua aspek yang ikut membangun
nilai atau arti yang dalam). Misalnya, foto terciptanya ekspresi si seniman pada karya foto
setangkai bunga di dalam vas berdenotasi foto serta dampak yang timbul bagi pelihatnya.
still life sekuntum bunga dalam vas, tetapi bisa
berkonotasi damai, ketenangan, atau keindahan 2.4 Gaya (style):
dalam kesederhanaan. adalah menyangkut spirit zaman (zeitgeist),
gerakan seni, periode waktu, dan faktor geografi,
2. Deskripsi yang mempengaruhi seniman dalam membuat
Terlepas dari tipenya, suatu karya foto harus karya foto, yang bisa dikenali dari obyek foto,
diapresiasi dengan cara dideskripsikan unsur- teknis pemotretan dan media foto.
unsur yang terkandung di dalamnya yaitu:
2.1 Obyek foto (subject matter): Setiap karya layak untuk dideskripsi dan
orang, benda, tempat, atau kejadian yang diinterpretasi dengan baik, bagaimanapun
ada dalam foto tersebut, serta menyebutkan bentuknya. Deskripsi adalah bagian penting
karakter obyek-obyek tersebut, misal: gedung dalam apresiasi, tetapi perlu diingat bahwa
tinggi yang monumental, anak-anak yang sedang dalam mendeskripsi kita tidak menyanjung atau
berlari riang gembira, dan sebagainya. menjelekkan, bukan setuju atau tidak setuju,
bukan suka atau tidak suka.
2.2 Bentuk dan teknis (form):
unsur-unsur yang menyusun, mengatur, dan 3. Kategori Fotografi
membangun foto yaitu: titik, garis, bidang, Dari masa ke masa orang membuat kategori
bentuk, cahaya, warna, tekstur, massa, ruang, fotografi berdasarkan obyek (subject
dan volume. Deskripsi dapat berupa tinjauan matter) atau bentuknya (form), tetapi dalam
pada: rentang nada warna/hitam-putih, kontras perkembangannya sebagai salah satu media
obyek, kontras film/negative, kontras kertas, komunikasi visual, dirasa perlu membuat suatu
format film, sudut pandang, jarak obyek, lensa kategori baru yang dapat mengakomodasi setiap
yang dipakai, pembingkaian, ruang tajam, jenis foto yang ada/dibuat. Kategori yang dibuat
tingkat ketajaman fokus, ketajaman butiran, dan harus mencakup seluruh jenis fotografi dari
sebagainya. Deskripsi bentuk dan teknis ini dapat mulai foto seni atau non-seni, foto dokumentasi
menggunakan prinsip-prinsip desain seperti: keluarga sampai foto yang dipamerkan di
skala, proporsi, kesatuan dalam keragaman, museum atau galeri.
irama dan repetisi, keseimbangan, arah gaya,
penekanan, dan sesuatu yang menghubungkan Penggolongan suatu foto ke dalam suatu kategori
unsur-unsur tersebut. diperlukan suatu interpretasi awal. Kedudukan
foto dalam suatu kategori sangat penting
2.3 Media (medium): dalam rangka membaca atau menginterpretasi
terbuat dari apa karya foto tersebut, misalnya foto tersebut lebih lanjut dalam konteksnya.
sebuah foto monokrom dibuat dengan film ISO Kategori baru ini diklasifikasi berdasar pada
100, kertas foto Multigrade, dengan proses bagaimana suatu karya foto dibuat dan apa
lanjutan toning atau manipulasi kamar gelap fungsi dari karya foto tersebut (Barret, Terry,
atau komputer, dan sebagainya. Deskripsi media 2000, p.54). Menurut Barret kategori fotografi
dapat mencakup unsur teknis seperti posisi adalah sebagai berikut:

88
Andhika Prasetya, Apresiasi dalam Fotografi.. 87-93

3.1 Foto deskriptif (descriptive photographs) ini dapat diverifikasi (oleh ahli fisika) bahwa
Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini proyektil peluru memiliki kecepatan 15.000 mil/
adalah foto identitas diri (pasfoto), foto medis jam dan ketika menumbuk suatu benda keras
atau klinis (foto sinar-X), fotomikrografi (foto proyektil peluru dapat pecah menjadi fragmen-
hasil pengamatan suatu obyek dari mikroskop), fragmen.
foto eksplorasi kebumian dan angkasa luar, foto
pengintaian (kepolisian dan militer/penegak Foto karya fotografer selebritis Annie Leibovitz
hukum), foto reproduksi benda seni / lukisan, yang menggambarkan (montase) proses
dan sebagainya. berkarya seniman Keith Haring (1986) dapat
masuk dalam kategori ini. Pada tahun 1973 Bill
Foto-foto jenis ini secara akurat meng- Owens menerbitkan buku kumpulan fotonya
gambarkan benda (subject matter) yang Suburbia, yang mendokumentasikan kehidupan
direpresentasikannya. Contoh foto karya Daniel orang Amerika yang tinggal di pinggiran
H. Gould (1971) yang menggambarkan partikel kota California. Foto-foto sosiologi-budaya-
virus penyebab kanker di bawah mikroskop antropologi ala Mary Ellen Mark dan Nan Goldin
dengan perbesaran 52.000 kali (lampiran foto A, juga termasuk dalam kategori ini.
foto 5). Foto seperti ini memungkinkan dokter
melakukan studi atas mekanisme pembentukan 3.3 Foto interpretasi (interpretive
penyakit kanker dan menemukan terapi atau photographs)
pencegahan yang tepat atas penyakit tersebut. Tidak seperti foto ilmiah yang sangat objektif,
foto interpretasi lebih bersifat simbolik, puitik,
3.2 Foto yang menjelaskan sesuatu fiksi, dramatik dan diinterpretasi secara subjektif-
(explanatory photographs) personal. Foto-foto dengan gaya surealis, foto
Foto jenis ini memiliki sifat menjelaskan suatu montase dan kolase, foto dengan pencahayaan
fenomena, kejadian, yang dapat menjadi ganda (multiple exposures) ala Jerry Uelsmann
bukti visual dari suatu teori ilmiah, baik ilmu masuk dalam kategori ini. Foto-foto mixed-
fisik maupun ilmu sosial (sosiologi visual dan media (fotografi dengan lukis/ilustrasi) dan
antropologi visual). Foto-foto yang termasuk apa yang kita kenal dengan foto kotemporer
dalam kategori ini biasanya menunjukkan umumnya juga masuk dalam kategori ini
tempat dan waktu spesifik yang dapat menjadi (karya Rimma Gerlovina). Foto interpretasi
bukti visual yang dapat dilacak kebenarannya, pada umumnya ‘dibuat’ (making photographs)
foto-foto bidang jurnalistik contohnya. bersifat hasil kreasi (expansive moments) dan
bukan ‘diambil’ (taking photographs) seperti
Foto-foto editorial yang direproduksi ke dalam halnya foto candid atau menemukan momen
majalah, buku, surat kabar, dan media cetak seperti foto dokumenter-jurnalistik (decisive
lainnya juga masuk dalam kategori ini. Untuk moments).
dapat masuk dalam kategori ini suatu foto ha-
rus menunjukkan penjelasan visual yang dapat 3.4 Foto etik (ethically evaluative
diverifikasi dalam disiplin ilmu tertentu oleh photographs).
seorang pakar dalam ilmu tersebut. Foto karya Kategori ini memuat foto-foto yang memuat
Harold Edgerton yang menggambarkan foto aspek-aspek sosial kemasya-rakatan yang harus
dirinya memegang balon yang meletus ditembus dinilai secara etik. Foto-foto tentang perang
peluru menunjukkan sifat lintasan proyektil dan akibatnya (masalah pengungsi, imigran),
peluru ketika ditembakkan. Dengan foto seperti penyakit menular yang mematikan (AIDS, SARS),

89
Wimba, Jurnal Komunikasi Visual. Vol 1. No. 1, 2009

wabah dan kelaparan, kehidupan kelas bawah jalan bersalju.


(pengemis, anak jalanan), ketergantungan
narkoba, isu-isu etnik-agama-ras seperti karya 3.6 Foto teori (theoretical photographs)
Carrie Mae Weems, serta perusakan lingkungan, Kategori ini mencakup foto tentang fotografi,
masuk dalam kategori ini. Iklan politik dan foto tentang seni dan pembuatan karya
propaganda pemerintah serta iklan komersial seni, politik seni, foto tentang film, model
(baik produk maupun jasa) juga masuk dalam representasi, dan teori-teori tentang fotografi.
kategori ini. Foto teori ini dapat berupa kritik seni atau
kritik fotografi secara visual yang menggunakan
Foto-foto etik ini umumnya juga membawa misi media foto sebagai pengganti kata-kata. Foto
meningkatkan hubungan kemasyarakatan yang jenis ini biasanya menjadi semacam reproduksi
dibangun dari kesadaran dan kepedulian akan dari suatu karya seni.
perbedaan (kelas) sosial. Selain menggambarkan
kepincangan sosial, foto-foto etik ini bisa saja Apa yang kita kenal sebagai seni konseptual
menggambarkan sesuatu yang positif, misalnya serta fotografi konseptual masuk dalam kategori
potret tokoh wanita yang inspirasional (seperti ini seperti karya Zeke Berman dan Sarah
Indira Gandhi, Margaret Thatcher). Kategori Charlesworth.
ini juga mengakomodasi foto-foto yang
menggambarkan kehidupan masyarakat dalam Memang tidak mudah memasukkan suatu foto
suatu sistem ekonomi-politik tertentu (kapitalis- ke dalam kategori-kategori tersebut di atas.
liberal, sosialis-marxis). Suatu foto bisa saja berada dalam interseksi
dua kategori. Dalam menginterpretasi awal
3.5 Foto estetik (aesthetically evaluative diperlukan pemahaman tentang apa isi dan
photographs) maksud dari suatu foto sebagai argumen dasar
Kategori ini mencakup karya foto yang biasa kita pengkategorian. Bagaimanapun juga hal ini
sebut ‘foto seni’, foto-foto yang memerlukan membuka argumen balik dan memberi ruang
tinjauan dan kontemplasi estetik. Foto-foto ini untuk diskusi lebih lanjut tentang interpretasi
adalah tentang benda sebagai obyek estetik yang lebih kontekstual.
yang difoto dengan cara estetik. Umumnya foto-
foto nude tentang studi bentuk tubuh manusia, 4. Interpretasi
foto-foto lansekap (alam, kota, atau gabungan Jika kita membahas foto sebagai penangkap
bangunan dengan alam) ala Ansel Adams, waktu, kita berurusan dengan tiga jenis foto:
foto still life, foto jalanan (street photography) 1. Foto dengan waktu mengambang, waktu
ala Henri Cartier-Bresson, foto mosaik, foto seolah-olah berhenti, bisa kapan saja,
eksperimental kamar gelap (alternative contoh: foto lansekap, still life atau potret;
processes), masuk dalam kategori ini. 2. Foto dengan waktu puncak atau sering
disebut decisive moment, instant, tak
Dibandingkan dengan kategori lainnya, foto terulang, ala Cartier-Bresson;
estetik lebih mengeksplorasi bentuk (form) dan 3. Foto dengan waktu acak, sebelum atau
media (medium) daripada obyeknya (subject sesudah waktu puncak, foto sepintas lalu
matter) sendiri (karya Jock Struges dan karya dari kehidupan sehari-hari yang seolah-
John Coplans). Obyek foto boleh jadi tidak olah dibuat dengan serampangan, ambigu
indah seperti contoh foto Richard Misrach yang (bermakna ganda), dan secara komposisi
menggambarkan sapi-sapi yang mati di pinggir klasik tidak seimbang.

90
Andhika Prasetya, Apresiasi dalam Fotografi.. 87-93

Foto jenis ketiga ini diperkenalkan oleh Robert pemikiran-pemikiran baru seniman avant garde
Frank tahun 1959 sebagai konsep baru dari Eropa dalam konteks budaya yang kompleks
‘waktu yang tepat’ itu. Frank menganggap decisive waktu itu.
moment tidak secara jujur menggambarkan
realitas dunia, dan itu bukan cara ‘melihat’ Penganut fungsionalisme di manapun hampir
dunia yang normal, menyatakan: “The world pasti dipengaruhi oleh mazhab Bauhaus yang
moves rapidly and it’s not necessary in perfect dicanangkan oleh Walter Gropius dan Mies van
images”. Foto jenis ini dapat dikenali selain dari der Rohe di Dessau, Jerman, tahun 1925, yaitu
waktunya yang ‘tidak pas’, dapat juga dikenali form follows function. Man Ray (bernama asli
dari komposisinya yang agak serampangan, Immanuel Radinsky) dan Laszlo Moholy-Nagy
beberapa obyek bergerak blur, sama sekali yang suka ‘main-main’ dengan fotogram (yang
tidak fokus, atau foto orang dengan kepala menganggap fotografi tidak harus menggunakan
terpotong obyek lain atau terpotong bidang kamera) dengan gaya abstrak adalah beberapa
gambar. “It takes a pro to capture another pro” orang yang membawa pengaruh fungsionalisme
demikian bunyi sebuah iklan kamera terkenal. Jerman ke Amerika dalam fotografi.
Memang diperlukan orang yang ‘jeli’ untuk bisa
mengenali foto dengan konsep waktu acak ini Contoh lain adalah karya Edmund Teske
dari foto yang memang asal-asalan saja. “Greetings from San Francisco”, 1971, yang
memproyeksikan selembar kartu pos dengan
Karya foto sangat dipengaruhi oleh paham atau foto suasana China Town di San Francisco karya
mazhab yang dianut pemotretnya, dan ini bisa John H. Atkinson Jr. di selembar kertas foto.
menjadi faktor eksternal si seniman. Sebastiao Jadi, imaji/citra dalam suatu karya seni/fotografi
Salgado, penerima anugerah Eugene Smith dapat ‘meminjam’ hasil karya orang lain, tidak
Grant untuk fotografi humanisme, terkenal akan perlu karya sendiri.
karya esai fotonya yang bertema kemiskinan
dan getirnya kehidupan dalam Workers dan Jika bicara masalah ‘pinjam-meminjam’ imaji ini
An Uncertain Grace, adalah penganut faham tidak ada yang seheboh karya Bapak Pop Art:
Marxisme. Jadi dalam menginterpretasi foto- Andi Warhol dengan “Campbell’s Soup Cans”
foto Salgado akan lebih ‘pas’ kiranya kalau kita dan wajah Marilyn Monroe-nya, atau seniman
mengerti apa itu Marxisme. Jepang, Yoshimasa Yorimura yang pernah pa-
meran keliling di Indonesia.
Paul Strand (1890-1976) dianggap sebagai salah
satu fotografer penting dan berpengaruh dalam Menginterpretasi karya seni adalah menganalisis
abad ini. Kumpulan karyanya yang dibuat sekitar setiap aspek deskriptif dan mencari hubungan
tahun 1916, Paul Strand, Circa 1916, dianggap yang bermakna dari setiap aspek tadi.
sebagai prestasinya yang paling dramatis, Interpretasi adalah mencari maksud, nada, rasa,
justru setelah dipamerkan di The Metropolitan dan nuansa dari sebuah karya seni. Interpretasi
Museum of Art, New York, pada bulan Februari sangat bergantung dari dua sisi: pengalaman
1998. Kajian atau apresiasi formal pada karya- empiris pelihat dan intensi/maksud si seniman
karya-nya biasanya membahas pergeseran gaya yang disampaikan selain lewat unsur visual juga
realis-piktorial menuju gaya abstraksi. Sedangkan lewat judul yang dicantumkan. Beberapa sudut
kajian sosial budaya biasanya membahas pandang dalam menginterpretasi antara lain
pengaruh pemikiran seorang reformis sosial siapa senimannya, kapan karya dibuat, terbuat
Lewis Hine pada Strand yang mulai menyerap dari apa karya tersebut, bagaimana karya dibuat,

91
Wimba, Jurnal Komunikasi Visual. Vol 1. No. 1, 2009

dan untuk tujuan apa karya dibuat. tidak layak, tidak cocok, tragedi, menyedihkan,
menegangkan, mengerikan, dan lain-lain.
Fotografi tidak bisa berdiri sendiri, dalam
menginterpretasi karya foto kita (perlu) dibantu Ada dua kriteria tentang interpretasi yang baik:
oleh ilmu-ilmu lain: sejarah dan biografi, filsafat- 1. Kesesuaian (correspondence) dengan hal-
teologi-religi, sosial-budaya, teori komunikasi, hal yang bisa deskripsi, yang membantu
etika, estetika, psikologi persepsi, psikoanalisa, penilaian kita fokus dan terarah pada hal-
semiotik, hermeneutik, fisionomi, juga hal obyektif (apa yang tampak/tampil) pada
ekonomi. suatu karya tanpa menjadi terlalu subjektif.
Jadi kita harus menganggap setiap karya
Misalnya interpretasi berdasar Marxisme layak menjadi yang terbaik, karya yang
biasanya akan berpijak pada realitas sosial berarti dan bermakna.
sebagai manifestasi dari perkembangan dan 2. Masuk akal (coherence), konsisten dan
sejarah sosial di mana si fotografer atau objek tidak bertentangan dengan hal-hal objektif
fotonya berada, interpretasi berdasar pengaruh pada karya jika pengamat menghubungkan
penggayaan (style) dapat membandingkan dengan pengalaman pribadinya.
dengan karya seniman lain yang sejenis atau
dalam gaya yang sama, interpretasi berdasar Interpretasi yang ‘benar’ dapat masuk akal dan
teknik dapat berpijak dari pertanyaan obyektif sejauh berdasar kaidah-kaidah tersebut
“Bagaimana karya ini dibuat?”, interpretasi di atas. Suatu interpretasi bahkan belum tentu
berdasarkan biografi dapat berpijak dari ‘benar’ meski datang dari si seniman sendiri,
pertanyaan “Mengapa si fotografer membuat karena mungkin si seniman berkarya tanpa intensi
karya sejenis ini (misal ekspresionis, bukan (khusus) tertentu alias iseng-iseng saja, atau
jenis lain)?”, atau kita dapat menginterpretasi tidak perduli akan intensinya, dan menyerahkan
dengan menggabungkan beberapa pendekatan apresiasi sepenuhnya pada pengamat. Bisa jadi
di atas. Tidak masalah kita menggunakan dasar kita sedang berurusan dengan seniman yang
interpretasi apa, yang penting kita tahu persis bekerja atas dorongan lubuk hati atau pikiran
memakai dasar apa. bawah sadarnya (subconciousness), seperti
karya-karya Cindy Sherman, Sandy Skoglund,
Deskripsi dan interpretasi harus dinyatakan atau surealis ala Jerry Uelsmann.
dengan bahasa yang baik dan terstruktur,
terutama jika menyangkut rasa dan perasaan. Tetapi satu hal yang jelas, interpretasi yang baik
Kita dapat menggunakan dasar pertanyaan: dari seseorang terbuka terhadap interpretasi lain
“Apa yang saya rasakan? Mengapa saya dari orang lain, jadi (mungkin) di sinilah letak
merasakan hal ini? Bagian mana dari karya ini subjektivitasnya. Kita mengandaikan bahwa ada
yang menggugah perasaan saya: obyeknya, banyak orang lain yang sedang menginterpretasi
bentuknya, atau medianya?”. karya ini juga. Tidak ada satu interpretasi yang
‘sungguh benar’ karena kita bisa menggunakan
Umumnya kita menggunakan istilah-istilah atau dasar interpretasi berbeda.
kata-kata sifat sebagai berikut: masuk akal,
menarik, pencerahan, berwawasan, bermakna, Di sinilah pentingnya peran komunitas
membuka pikiran, asli (original), atau sebaliknya: fotografi sebagai ajang diskusi, tukar-menukar
tidak beralasan, tidak masuk akal (absurd), tidak interpretasi. Seniman akan merasa dihargai
mungkin, tidak dapat dipercaya, tidak pantas, karena ada sekelompok orang yang secara

92
Andhika Prasetya, Apresiasi dalam Fotografi.. 87-93

konsisten merekonstruksi karya-karyanya, Daftar Pustaka


membuatnya lebih matang berkarya. Appignannesi, Richard, dan Garrat, Chris,
“Mengenal Posmodernisme (for
Kini jelaslah bagi kita bahwa suatu opini atau Beginners)”, Penerbit Mizan, Bandung,
apresiasi yang tidak berdasar pada ukuran- 1998.
ukuran yang diuraikan di atas adalah tidak Barret, Terry, “Criticizing Photographs, An
berarti, tidak bermutu, dan tidak berguna. Introduction to Understanding Images”,
Suatu penilaian atas karya foto yang hanya Mayfield Publishing Co., California,
berdasar rasa suka atau tidak suka, meletakkan 2000.
penilaian hanya berdasar unsur teknis semata, Editors of Time Life Encyclopedia, “The Art of
atau menganggap suatu karya foto (apalagi foto Photography”, Time Inc., 1973.
seni) adalah subyektif merupakan penilaian yang Goldberg, Vicki, “Photography in Print, Writings
dangkal, kerdil, dan tidak bertanggung jawab. From 1816 to The Present”, Simon and
Meminjam istilah Oscar Motuloh, diperlukan Schuster, New York, 1981.
mata hati dan optis jiwa untuk bisa memahami Sumardjo, Jakob, “Filsafat Seni”, Penerbit ITB,
dan mengapresiasi karya foto, apapapun Bandung, 2000.
jenisnya, dengan baik. Sutrisno, FX. Mudji, “Kisi-kisi Estetika”, Penerbit
Kanisisus, Yogyakarta, 2000.
Seni ternyata dapat menjadi ekspresif tanpa Sutrisno, FX. Mudji, dan Verhaak, Christ, SJ.
menjadi representasi semata, tanpa mejadi Prof. Dr., “Estetika Filsafat Keindahan”,
keindahan ‘semu’ yang dangkal, atau tanpa Penerbit Kanisisus, Yogyakarta, 2001.
‘kemayu’.

Perjalanan berkarya beberapa fotografer seni


terkemuka rata-rata memang berangkat dari
realis-piktorial, tetapi seiring dengan waktu
mereka merasa bahwa mencari sesuatu yang
abstrak dari yang nyata riil sungguh suatu
tantangan, dan pada pencapaian atau tujuan
yang pamungkas, the ultimate purpose, mere-
ka memilih ekspresionis. Penekanannya bukan
lagi pada objek/subject matter, bentuk-teknis,
media, atau gayanya, tetapi lebih menyatakan
keberartian (significant) dalam setiap apa yang
mereka pikirkan dan rasakan. Bukan realis
atau abstraksi lagi, tapi fiksi: mengekspresikan
sesuatu yang lebih personal dan subyektif (tetapi
ingat: tetap harus diapresiasi secara objektif!).

Bagaimana dengan kita, tidakkah kita ingin bisa


membaca, memahami foto, atau berkarya lebih
inovatif, lebih ‘dewasa’, lebih significant, lebih
bermakna? Kata kuncinya adalah OPEN YOUR
MIND.

93