Anda di halaman 1dari 115

BAB 1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan penduduk kota-kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun
akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang serius. Diantaranya,
timbulnya permukiman kumuh. Seiring dengan pertumbuhan penduduk di daerah perkotaan, kebutuhan
akan perumahan, penyediaan prasarana dan sarana permukiman akan meningkat pula, baik melalui
peningkatan maupun pembangunan baru.

Kekurang siapan kota dengan sistem perencanaan dan pengelolaan kota yang tepat, dalam
mengantisipasi pertambahan penduduk dengan berbagai motif dan keragaman nampaknya menjadi
penyebab utama yang memicu timbulnya permasalahan permukiman. Pemenuhan akan kebutuhan
prasarana dan sarana permukiman baik dari segi perumahan maupun lingkungan permukiman yang
terjangkau dan layak huni belum sepenuhnya dapat disediakan oleh masyarakat sendiri maupun
pemerintah. Sehingga, daya dukung prasarana dan sarana lingkungan permukiman yang ada mulai
menurun dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi terjadinya permukiman kumuh

Permasalahan permukiman kumuh perkotaan sering kali menjadi salah satu isu utama yang cukup
kompleks, baik dari sisi fisik/lingkungan, ekonomi, sosial, serta sarana dan prasarananya. Determinan
Faktor dalam konteks penanganan kawasan permukiman kumuh sangat signifikan dipengaruhi oleh
kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dalam prosesnya kemudian berdampak pada kondisi
kawasan perkotaan secara umumdan di identifikasi akan memerlukan penanganan dari waktu ke waktu
secara berkelanjutan. Secara khusus dampak perkembangan permukiman kumuh perkotaan berimplikasi
terhadap paradigma buruk terhadap penyelenggaraan pemerintahan, dengan memberikan citra negatif
akan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan pemerintah dalam pengaturan pelayanan kehidupan dan
penghidupan warganya. Pada sisi yang lain khususnya terkait dengan tatanan sosial budaya masyarakat,
dan komunitas yang bermukim pada lingkungan permukiman kumuh, mengindikasikan bahwa secara
ekonomi termasuk kategori masyarakat ekonomi lemah dan berpenghasilan rendah, yang merekondisi
penyebab terjadinya degradasi tatanan kehidupan masyarakat, baik pada tingkat struktur sosial, sistem
sosial, dinamika sosial, pola kultural, konflik sosial dan fenomena urban crime.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 1
BAB 1

Pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh telah diamanatkan UU No.1 tahun 2011
tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, Selain itu, penanganan permukiman kumuh sudah
secara jelas ditargetkan pada RPJMN 2015-2019, dimana target besarnya adalah terciptanya kota
bebas kumuh di tahun 2019. Proses penanganan kumuh telah dimulai tahun 2015 dan target nol
persen harus dicapai pada 2019, sehingga waktu penyelesaian tinggal 3 (tiga) tahun dengan ragam
persoalan yang belum sepenuhnya terdeteksi. Langkah awal dalam mengejar target kota bebas
kumuh 2019 sebenarnya telah dimulai oleh Kementerian Pekerjaam Umum melalui Ditjen Cipta
Karya sejak tahun 2014 dengan menyusun road map penanganan kumuh serta pemutakhiran data
kumuh yang dilaksanakan secara kolaboratif dengan kementerian/lembaga yang terkait serta
pemerintah daerah di seluruh Indonesia.

Kabupaten Bantaeng adalah salah satu kabupaten di Indonesia yang juga mengalami permasalahan
permukiman kumuh akibat rendahnya tingkat perekonomian, budaya masyarakat yang tidak peduli
terhadap lingkungan permukiman serta terbatasnya ketersediaan lahan untuk permukiman. Adapun
beberapa isu strategi permukiman kumuh di Kabupaten Bantaeng adalah sebagian besar sarana
infrastruktur pada sector limbah belum terkelolah dengan baik, hanya 69 % jumlah KK yang memiliki
jamban sehat, limbah rumah tangga (grey water) yang dihasilkan sebagian besar yaitu 65 % rumah
tangga tidak memiliki akses saluran septic tank, dimana masyarakat urban yang tinggal disepanjang
bantaran sungai lebih banyak membuang limbah cair rumah tangga mereka ke sungai. Hal ini dipicu oleh
adanya permasalahan ekonomi maupun tidak tersedianya lahan, jika permukiman kumuh ini tidak segera
dikendalikan maka akan memberikan dampak menjamurnya kantong-kantong permukiman kumuh yang
tidak teratur dan tidak terkendali, peningkatan frekuensi bencana kebakaran dan banjir, peningkatan
potensi kerawanan dan konflik social, penurunan tingkat kesehatan masyarakat dan penurunan kualitas
pelayanan prasarana dan sarana permukiman.

Kawasan permukiman kumuh perkotaan Kabupaten Bantaeng sesuai dengan SK. Bupati tahun 2014,
ditetapkan berlokasi di 3 (tiga) wilayah Kecamatan, antara lain Kecamatan Bantaeng, Pajukukang dan
Bisappu dengan total luasan 39.36 Ha. Kawasan kumuh perkotaan Kabupaten Bantaeng meliputi;
Kelurahan Pallantikang, Tappanjeng, Lamalaka, Letta, Bontosunggu, Bontorita, dan Desa Rappoa.

Melalui dokumen Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan
(RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng yang kemudian dapat digunakan untuk mengatasi permasalah kumuh
yang ada hingga mecapai target 0% kumuh tahun 2019.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 2
BAB 1

B. Tujuan Dan Sasaran

1. Tujuan

a. Tujuan Umum

Tujuan umum Penyusunan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh
Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng, adalah sebagai berikut :

 Melakukan identifikasi potensi dan akar permasalahan kawasan permukiman dalam penyajian
suatu profil kawasan yang mengacu kepada hasil penetapan SK Kabupaten Bantaeng terkait
kawasan permukiman kumuh.
 Melakukan pendampingan terhadap penyusunan Dokumen Rencana Pencegahan dan
Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan melalui keterpaduan program semua sektor
ke-Cipta Karya-an yang di wadahi dalam Pokja PKP, sebagai acuan pelaksanaan penanganan
kawasan kumuh perkotaan bagi seluruh pelaku (stakeholders) yang bersifat menyeluruh, tuntas,
dan berkelanjutan (konsep delivery system).
 Menyusun strategi penanganan kumuh secara spasial dan tipologi kawasan, indikasi program dan
kegiatan penanganan kawasan kumuh perkotaan oleh seluruh pelaku, dan nota kesepakatan
bersama bagi seluruh pelaku dalam pengendalian pembangunan bersama selama jangka waktu
berjalan.
 Menyusun Rencana Kegiatan Aksi Komunitas (community action plan) sebagai bentuk perkuatan
kapasitas Pemerintah Kabupaten Bantaeng dengan kelompok masyarakat (komunitas masyarakat
BKM/KSM) untuk dapat lebih aktif terlibat dalam menangani permukiman kumuh di
lingkungannya.
 Menyusun Dokumen Rencana Aksi (Action Plan) , berupa Rencana Aksi Penanganan Kawasan
Kumuh dan DED kegiatan tahun pertama, Peta Perencanaan skala 1:1000 dan 1:5000,
Dokumentasi Visual dan Visualisasi 3 dimensi Dokumen Perencanaan.
 Tersedianya model penanganan (pilot projek) kawasan permukiman prioritas untuk kemudian
dimatangkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan yang menjadi satu
kesatuan sistem perencanaan yang memiliki keterkaitan dengan SPPIP/RP2KP, RTRW, dan
RP3KP Kabupaten Bantaeng.
 Merumuskan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan
(RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng sebagai bagian dari upaya penataan fungsi dan fisik kawasan
permukiman, bersama masyarakat dan semua stakeholder, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi
lokal kawasan permukiman perkotaan Kabupaten Bantaeng dengan memperhatikan keserasian
dengan alam sekitarnya.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 3
BAB 1

 Merumuskan program investasi pembangunan kawasan permukiman kumuhberdasarkan skala


kota dan skala kelurahan sebagai acuan implementasi dari skenario pengembangan kawasan
permukiman Kabupaten Bantaeng.

b. Tujuan Khusus

Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Pencegahan Dan
Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan adalah sebagai berikut:

 Terwujudnya peningkatan kapasitas pemangku kepentingan Kabupaten Bantaeng dalam


penyusunan RP2KP-KP sebagai dokumen acuan dalam pembangunan kawasan permukiman
kumuh perkotaan di Kabupaten Bantaeng.
 Terwujudnya interaksi dan keterlibatan masyarakat dalam proses Rencana Kawasan Permukiman
kumuh melalui community participatory approach (CPA) dan community action plan (CAP).
 Terindentifikasinya kawasan permukiman kumuh dan program strategis pada kawasan
permukiman kumuh.
 Tersedianya instrumen penanganan persoalan pembangunan yang bersifat operasional pada
kawasan permukiman kumuh yang dapat diacu oleh seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten
Bantaeng.
 Tersusunnya rencana detail desain pembangunan kawasan permukiman kumuh untuk
penanganan tahun 2017.
 Merumuskan penanganan kawasan permukiman kumuh beserta besaran investasi yang akan
digunakan dan dimanfaatkan.
 Peningkatan vitalitas ekonomi lingkungan kawasan permukiman kumuh melalui penyiapan
infrastruktur kawasan yang lebih memadai kualitasnya sesuai strategi penanganan yang akan
dilakukan berdasarkan periode waktu yang ditetapkan.

2. Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kegiatan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas
Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng, adalah sebagai berikut :

a. Tersedianya Dokumen Perencanaan Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan sebagai acuan


penanganan kawasan kumuh perkotaan bagi seluruh pelaku (stakeholders), pelaksanaan
penyelenggaraan penanganan kawasan permukiman kumuh perkotaan yang menyeluruh, tuntas, dan
berkelanjutan (konsep delivery system).
b. Tersedianya strategi penanganan kumuh secara spatial dan tipologi kawasan, indikasi program dan
kegiatan penanganan kawasan kumuh perkotaan oleh seluruh pelaku, dan nota kesepakatan
bersama bagi seluruh pelaku dalam pengendalian pembangunan bersama.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 4
BAB 1

c. Tersedianya Rencana Kegiatan Aksi Komunitas (community action plan) sebagai bentuk perkuatan
kapasitas Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan kelompok masyarakat (komunitas
masyarakat/BKM/KSM) untuk dapat lebih aktif terlibat dalam menangani permukiman kumuh di
lingkungannya.
d. Tersedianya Dokumen Rencana Aksi (Action Plan) dengan kelengkapan Peta Perencanaan skala
1:1000 dan 1:5000, Dokumentasi Visual dan Visualisasi 3 dimensi Dokumen Perencanaan, serta DED
rencana penanganan kumuh kegiatan tahun pertama (1:200, 1:100, 1:50) untuk pelaksanaan tahun
2017.
e. Tersusunnya Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan
(RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng sebagai bagian dari upaya peningkatan fungsi dan peningkatan
vitalitas kawasan permukiman, yang dilakukan bersama masyarakat dan semua stakeholder, sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi setempat dengan memperhatikan keserasian dengan alam sekitarnya.
f. Tersusunnya program investasi pembangunan sesuai hasil dokumen RP2KP-KP yang telah disetujui
semua pihak yang terkait dan sebagai bagian upaya peningkatan kualitas ruang dengan menyertakan
masyarakat sebagai bagian integral dari upaya pembangunan kawasan permukiman.
g. Menata kawasan permukiman kumuh untuk mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini;
h. Tersedianya instrumen penanganan persoalan pembangunan pada kawasan permukiman kumuh
berbasis kawasan yang dapat diacu oleh seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Bantaeng;
i. Tersedianya rencana aksi program penanganan yang bersifat strategis dan berdampak pada
penyelesaian pembangunan yang lebih luas, dan
j. Tersedianya acuan bagi Direktorat Jenderal Cipta Karya dalam mengoptimalkan investasi
pembangunan permukiman dan infrastruktur keciptakaryaan yang dapat mendukung dan
mempercepat penanganan persoalan pembangunan kawasan permukiman kumuh perkotaan di
Kabupaten Bantaeng.

C. Ruang Lingkup Kegiatan

1. Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang Lingkup Penyusunan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh
Perkotaaan(RP2KP-KP) Kota Bantaeng dapat dilihat pada penjelasan Tabel di bawah ini :

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 5
BAB 1

Tabel 1.1. Lingkup Kegiatan RP2KP-KP Kota Bantaeng

No Lingkup Kegiatan Capaian Kegiatan


1 2 3
I Persiapan
1 Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan a. Penyiapan rencana kerja dan metodologi
persiapan pelaksanaan kegiatan, termasuk pelaksanaan kegiatan.
didalamnya menghadiri sosialisasi tingkat pusat, b. Penyiapan peta dasar.
melakukan koordinasi tim untuk pelaksanaan c. Penyiapan data dan informasi yang
kegiatan, penyepakatan rencana kerja dan diperlukan.
metodologi pelaksanaan kegiatan, penyiapan peta d. Penyiapan desain pengumpulan data dan
dasar, pengumpulan data dan informasi. Persiapan informasi.
ini juga didukung dengan mengikuti konsolidasi e. Kesepahaman tahapan dan prosedur
tingkat provinsi penyusunan RP2KP-KP Kota Bantaeng
II Survei dan Identifikasi
1 Identifikasi dilakukan dalam rangka untuk a. Sebaran kawasan permukiman kumuh
memahami kondisi permukiman kumuh perkotaan perkotaan Kota Bantaeng
Kota Bantaeng berikut sebaran lokasi, b. Kondisi permukiman kumuh terhadap ruang
konstelasinya terhadap ruang kota, kota.
mengidentifikasi tipologi permukiman kumuh c. Tipologi kawasan permukiman kumuh
perkotaan, isu-isu strategis, serta potensi dan perkotaan Kota Bantaeng
permasalahan yang terkait dengan karakteristik d. Isu-isu strategis permukiman kumuh
sosial, ekonomi, budaya, fisik dan kelembagaan perkotaan Kota Bantaeng
e. Potensi dan permasalahan kawasan
permukiman kumuh perkotaan Kota
Bantaeng (karakteristik sosial, ekonomi,
budaya, fisik dan kelembagaan)
2 Melakukan verifikasi lokasi permukiman kumuh a. Deliniasi kawasan
perkotaan sesuai SK Penetapan Kawasan Kumuh b. Luasan
Perkotaan yang ditetapkan oleh Bupati Bantaeng, c. Data cakupan pelayanan
deliniasi kawasan dan cakupan pelayanan d. Kriteria dan indikator dalam penetapan
infrastruktur pada lokasi permukiman kumuh kawasan kumuh perkotaan Kota Bantaeng
perkotaan Kabupaten Bantaeng
3 Melibatkan partisipasi aktif Badan Keswadayaan a. Peta permukiman skala lingkungan
Masyarakat/Kelompok Swadaya Masyarakat dalam b. Potensi pelibatan aktif partisifasi masyarakat
melakukan survey/pemetaan swadaya di kawasan
permukiman kumuh perkotaan Kabupaten
Bantaeng
III Kajian dan Perumusan I
1 Melakukan overview terhadap dokumen-dokumen a. Overview permukiman kumuh kawasan
perencanaan dan pengaturan/studi yang terkait perkotaan Kota Bantaeng
seperti Rencana Tata Ruang, SPPIP, SSK. b. Overview kebijakan dan strategi
Perencanaan Teknis Sektoral dalam lingkup pembangunan pada kawasan permukiman
kegiatan ke-Cipta Karya-an, kebijakan daerah kumuh perkotaan serta sinkronisasi antara
dalam penanganan kumuh serta SK Bupati kebijakan dan strategi pembangunan
Bantaeng tentang Kawasan Kumuh Perkotaan Kabupaten Bantaeng terkait dengan
penyusunan RP2KP-KP
c. Overview spatial plan terkait penetapan
kawasan perkotaan dan peruntukan
permukiman

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 6
BAB 1

No Lingkup Kegiatan Capaian Kegiatan


d. Pelaksanaan perencanaan partisipatif berupa
rembuk masyarakat untuk mengidentifikasi
permasalahan dan pemetaan kondisi
permukiman. Capaian kegiatan meliputi;
permasalahan dan peta kondisi permukiman
serta identifikasi peluang dan cara
penanganan permasalahan
2 Merumuskan konsep dan strategi penanganan a. Konsep dan strategi penanganan dan konsep
merupakan rencana konseptual penataan kawasan pembangunan kawasan permukiman kumuh
permukiman kumuh yang memuat tujuan perkotaan.
penanganan kawasan permukiman kumuh b. Menyusun formulasi dan skenario
perkotaan (output dan outcome), tahapan penanganan kumuh perkotaan berdasarkan
penanganan kawasan secara spasial, langkah- tingkat prioritas dan kerangka waktunya
langkah strategis yang dilakukan beserta bentuk (time frame) yang sinkron dengan dokumen
program-program penanganan kawasan yang akan RPLP.
dilakukan
3 Menyusun rencana kegiatan sebagai turunan dari Rencana kegiatan tahunan penanganan kawasan
konsep, strategi dan program-program permukiman kumuh perkotaan rinci hingga
penanganan tercapaianya kondisi permukiman tanpa kumuh
di tahun 2019
4 Melakukan analisis yang melibatkan partisipasi a. Identifikasi permasalahan dan pemetaan
aktif kelompok swadaya masyarakat dalam permukiman kumuh perkotaan oleh
merumuskan metode penanganan kawasan masyarakat
permukiman kumuh perkotaan yang paling tepat b. Pembentukan kelembagaan masyarakat
dan implementatif sesuai dengan kebutuhan dalam mendukung proses pembangunan
sektor keterpaduan pelaksanaan program, serta secara partisipatif dalam tahapan
dampak yang ditimbulkan dari dilaksanakannya perencanaan, pelaksanaan hingga
/indikasi implementasi program penanganan keberlanjutan peningkatan kualitas
kumuh perkotaan lingkungan dan kualitas masyarakatnya
IV FGD (Fokus Group Discusion) dan Perumusan II
1 Melakukan penyusunan momerandum program a. Draft momerandumprogram ke Cipta Karya-
sektor Cipta Karya yang merupakan perencanaan an dalam penanganan kumuh perkotaan
investasi lima tahun regular ke Cipta Karya-an b. Sinkronisasi kesepakatan program
yang terkait dengan penanganan permukiman penanganan kumuh perkotaan dengan
kumuh perkotaan untuk mencapai target 0% di RPI2JM Cipta Karya
2019
2 FGD diadakan untuk memberikan pemahaman a. Meningkatkan kapasitas dan perkuatan
yang berkaitan dengan kebijakan, penetapan BKM/KSM dan Tim Teknis Pemerintah
kawasan prioritas kumuh, kesadaran terhadap Kabuapten Bantaeng berkaitan dengan
lingkungan kumuh, dukungan infrastruktur ke- kegiatan perencanaan kawasan permukiman
Cipta Karya-an, strategi dan pola penanganan kumuh perkotaan
permukiman kumuh, penyusunan kertas kerja b. Kesepakatan lintas pemangku kepentingan
kelompok swadaya masyarakat, dan metode terhadap strategi dan indikasi
dokumentasi kegiatan program/kegiatan penanganan kumuh di
kawasan-kawasan prioritas dalam bentuk
draft dokumen momerandum program
3 Merumuskan draft dokumen perencanaan bersama Draft dokumen perencanaan oleh masyarakat
masyarakat

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 7
BAB 1

No Lingkup Kegiatan Capaian Kegiatan


V Kolokium
1 Kolokium merupakan kegiatan monitoring dan a. Tahapan konsultasi dan sinergitas kebijakan
pengendalian yang dilakukan oleh Satker lintas sektor/lintas level pemerintahan dalam
pengembangan kawasan permukiman dan penanganan kumuh perkotaan
penataan bangunan dan peneyelenggara di tingkat
pusat terhadap proses penyusunan RP2KP-KP
Kota Bantaeng
2 Penajaman hasil kolokium a. Konsultasi publik untuk menajamkan dan
memperoleh kesepakatan bersama mengenai
poin-poin penting hasil proses penyusunan
RP2KP-KP Kota Bantaeng untuk disusun
dalam dokumen-dokumen sistematis sebagai
hasil akhir
b. Publikasi kepada masyarakat terhadap
kebijakan dan strategi pemerintah Kota
Bantaeng dalam penanganan kumuh
VI Penyusunan RP2KP-KP Kota Bantaeng dan Desain Teknis
1 Tahap penyusunan dokumen RP2KP-KP dan a. Skenario pembangunan dan pengembangan
desain teknis kawasan permukiman dalam upaya
mengurangi luasan kumuh di Kota Bantaeng
b. Strategi dan momerandum program
keterpaduan sektor ke-Cipta Karya-an dalam
penanganan kawasan permukiman kumuh
perkotaan Kota Bantaeng
c. Kesinambungan antara rencana pemerintah
dan rencana aksi komunitas (CAP) dalam
penanganan kawasan permukiman kumuh
perkotaan
d. Indikasi program investasi dalam
pembiayaan lintas pemangku kepentingan
dalam pencapaian kumuh 0% hingga 2019.

e. Tata Cara pengendalian tahapan pelaksanaan


dan pembiayaan tiap tahun
f. Peta Perencanaan Penanganan Kawasan
Permukiman Kumuh skala 1:5000 dan 1:1000
untuk jangka waktu tahun 2015-2019
2 Tahap menyusun rencana aksi Rencana aksi oleh masyarakat dalam
masyarakat/Community Action Plan (CAP) penanganan masalah pembangunan pada
kawasan permukiman kumuh, antara lain :
jenis/komponen, volume, lokasi dan pelaku
3 Tahap menyusun Detail Engineering Desain (DED) a. Penyusunan peta rinci kawasan/site plan
b. Rencana rinci pola penanganan kawasan
permukiman kumuh perkotaan (pemugaran
/peremajaan /permukiman kembali) Kota
Bantaeng beserta strategi keterpaduan
sektor ke-Cipta Karya-an
c. Daftar rencana komponen pemenuhan
kebutuhan infrastruktur

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 8
BAB 1

No Lingkup Kegiatan Capaian Kegiatan


d. Tata cara pengendalian tahapan pelaksanaan
dan pembiayaan tiap tahun
e. Peta perencanaan penanganan kawasan
permukiman kumuh skala 1:5.000 dan
1:1.000 untuk jangka waktu tahun 2015-2019
f. Penyusunan detail desain teknis dalam
tahapan prioritas penanganan untuk
komponen infrastruktur yang dibutuhkan
(skala 1:100 ; 1:50) dan draft dokumen RKS
VII Penyusunan Laporan
1 Penyusunan Laporan Pendahuluan, Antara, Draft a. Melakukan diskusi pembahasan dalam
Laporan Akhir dan Laporan Akhir tahapan kegiatan penyusunan Laporan
Pendahuluan, Laporan Antara, Draft Laporan
Akhir dan Laporan Akhir dengan melibatkan
berbagai instansi terkait.
b. Masing-masing tahapan dalam penyusunan
laporan merupakan gambaran hasil rumusan
dan analisis data/informasi yang diperoleh
dari pelaksanan survei, FGD, dan masukan
serta saran dalam pembahasan laporan
bersama Tim Teknis dan pihak terkait lainnya.
c. Merumuskan kesimpulan sebagai landasan
dari finalisasi Dokumen Profil Perencanaan
Kawasan Kumuh Perkotaan dan DED kawasan
permukiman kumuh
d. Menyusun dokumen perencanaan siap lelang
dan DED masing-masing komponen
infrastruktur yang akan dilaksanakan di tahun
2016.

2. Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah perencanaan dalam penyusunan dokumen RP2KP-KP adalah wilayah
administratif Kota Bantaeng, yang terdiri dari 2 kecamatan. Ruang lingkup wilayah Kota Bantaeng ini
dipersempit wilayahnya mengacu kepada kategori wilayah kumuh berdasarkan SK Kumuh Bupati
tahun 2014 dan dokumen perencanaan RPJMD Kabupaten Bantaeng dengan masa perencanaan
tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.

Wilayah yang termasuk dalam kategori wilayah kumuh pada kota Bantaeng terdapat pada 2
kecamatan yaitu kecamatan Bantaeng, dan kecamatan Bisappu dengan total 8 kelurahan.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 9
BAB 1

D. Kedudukan RP2KP-KP Kota Bantaeng Dalam Dokumen Perencanaan Pembangunan

Penyelenggaraan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman KumuhPerkotaan


(RP2KPKP) tidak dapat dipisahkan dari kebijakan pengembangan dan pembangunan
kabupaten/kota secara keseluruhan. Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, tiap kabupaten/kota diamanatkan memiliki dokumen
perencanaan pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) yang kemudian diterjemahkan dalam rencana 5 (lima) tahunan di dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Selain itu dari sisi ruang, UU No. 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan tiap kabupaten/kota memiliki dokumen rencana tata
ruang yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota berikut dengan
rencana rincinya. Dokumen sectoral Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan
(SPPIP) yang merupakan terjemahan, paduan dan integrasi dua kelompok dokumen pilar
pembangunan di Indonesia terkait permukiman dan infrastruktur.

Dalam Undang-Undang No 23 tahun 2014 tentang pembagian kewenangan pusat dan daerah
mengamanatkan bahwa untuk mewujudkan masyarakat mampubertempat tinggal serta menghuni
rumah yang layak, terjangkau di dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan
terdapat pembagian kewenangan untuk pemerintah pusat, provinsi maupun daerah. Dalam hal
penyedian perumahan pemerintah pusat mempunyai kewenangan untuk menyediakan rumah bagi
MBR, korban bencana nasional serta fasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat yang terkena dampak
program pemerintah pusat. Untuk kewenangan pemerintah propinsi dalam hal penyediaan rumah
hanya pada kasus bencana provinsi serta fasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat yang terkena
dampak program pemerintah provinsi. Sedangkan pemerintah daerah berwenang dalam penerbitan
izin pembangunan dan pengembangan perumahan, serta penyediaan rumah bagi kasus bencana
kabupaten/kota juga fasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat yang terkena dampak program
pemerintah kabupaten/kota.

Kaitannya dengan penanganan dan pencegahan permukiman kumuh di Indonesia berdasarkan


penjelasan yang tertuang dalam UU no 23 Tahun 2014 tersebut dijabarkan pembagian kewenagan
pemerintah pusat, provinsi serta kabupaten/kota. Untuk menangani perumahan dan kawasan
permukiman kumuh pemerintah pusat hanya akan menangani penataan dan peningkatan kualitas
kawasan permukiman kumuh dengan luas 15 Ha atau lebih, untuk pemerintah provinsi penataan dan
peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh dengan luas 10 (sepuluh) ha sampai dengan di
bawah 15 (lima belas) ha, dan untuk pemerintah daerah kabupaten/kota berwenang melakukan
Penataan dan peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh dengan luas di bawah 10
(sepuluh) ha serta melakukan pencegahan perumahan dan kawasan permukiman kumuh pada
Daerah kabupaten/kota.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 10
BAB 1

Untuk menunjang pembangunan bidang permukiman di kawasan perkotaan, berdasarkan Pasal 15


huruf c, dalam UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan KawasanPermukiman, pemerintah
kabupaten/kota perlu menyusun dan memiliki rencana pembangunan dan pengembangan
perumahan dan kawasan permukiman. Rencana pembangunan dan pengembangan perumahan dan
kawasan permukiman ini merupakan penjabaran dari arahan rencana pola ruang kawasan
permukiman yang tertuang di dalam RTRW kabupaten/kota, yang di dalamnya mengatur
perencanaan untuk 2 (dua) lingkup substansi, yaitu perumahan dan kawasan permukiman.

UU No.1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman mengamanahkan bahwa
Negara bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia melalui penyelenggaraan
perumahan dan kawasan permukiman agar masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni
rumah yang layak, terjangkau di dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan di
seluruh wilayah Indonesia. Dalam mewujudkan fungsi permukiman, pencegahan dan peningkatan
kualitas terhadap permukiman kumuh dilakukan guna meningkatkan mutu kehidupan dan penghidupan
masyarakat penghuni serta menjaga dan meningkatkan kualitas dan fungsi perumahan dan
permukiman berdasarkan pada kepastian bermukim dan menjamin hak bermukim menurut ketentuan
peraturan dan perundang-undangan. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah berkomitmen untuk
mengentaskan permukiman kumuh dengan target 0 % kumuh hingga tahun 2019, sebagaimana
yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Langkah awal penanganan permukiman kumuh untuk mencapai target 0% kumuh ini sudah dimulai
sejak tahun 2014 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat cq Ditjen Cipta
Karya melalui penyusunan Road Map penanganan kumuh dan pemutakhiran data kumuh yang
dilaksanakan secara koordinatif dengan kementerian/ lembaga terkait serta dengan pemerintah
daerah di seluruh Indonesia.

Selanjutnya untuk menunjang pembangunan bidang permukiman khusunya dalampenanganan dan


pencegahaan kawasan permukiman kumuh sesuai amanah UU No.1 Tahun 2011 tentang
perumahan dan kawasan permukiman, pemerintah kabupaten/ kota perlu menyusun dan memiliki
rencana aksi penanganan dan pencegahan permukiman kumuh. Untuk mewujudkan rencana aksi
penanganan dan pencegahan permukiman kumuh tersebut diperlukan skenario, konsep dan strategi
penaganan yang akan diisi oleh substansi RP2KP-KP.

RP2KP-KP yang menjabarkan kebijakan makro terkait pencegahan perkembanganpermukiman kumuh


kabupaten/kota serta konsep penanganan kawasan permukiman kumuh prioritas, dalam
implementasinya akan menjadi acuan bagi penyusunan strategi sector dan rencana induk system
komponen-komponen pembentuk permukiman.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 11
BAB 1

Gambar 1Skema Kedudukan Dokumen RP2KP dalam Rencana Pembangunan

12
BAB 1

Kedudukan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP)
dalam dokumen perencanaan pembangunan Kabupaten Bantaeng, sebagai berikut :

1. Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) adalah
produk Pemerintah Kabupaten Bantaeng.

2. Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP)


bersumber dari produk hukum yang berlaku di Kabupaten Bantaeng.

3. Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) akan
bersinergi dengan produk perencanaan, baik skala kota maupun skala kawasan

4. Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) menjadi
acuan perencanaan penanganan perumahan dan permukiman kumuh perkotaan bagi seluruh
pemangku kepentingan di Kabupaten Bantaeng.

Perkotaan (RP2KP-KP) Kota Bantaeng memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Sebagai acuan bagi masuknya program-program pembangunan permukiman kumuh perkotaan,


sehingga dapat terintegrasi dengan program-program pembangunan lainnya yang telah ada;

2. Sebagai sarana untuk mengintegrasikan semua kebijakan dan strategi pembangunan permukiman
kumuh perkotaan yang tersebar pada beberapa dokumen perencanaan lainnya; dan

3. Sebagai dokumen acuan bagi penyusunan kebijakan pembangunan permukiman kumuh perkotaan.

Untuk mewujudkan rencana pembangunan permukiman kumuh perkotaan Kota Bantaeng yang
terencana, meyeluruh, terpadu dan berkelanjutan, oleh karena itu dokumen RP2KP-KP yang disusun
harus sesuai dengan RTRW Kabupaten Bantaeng. Mengacu pada amanah UU No. 26 Tahun 2007
tentang penataan ruang nasional. RTRW Kabupaten Bantaeng merupakan acuan spasial dalam
perumusan kebijakan pokok, arah pemanfaatan ruang dan sinergitasnya terhadap penyusunan rencana
aksi penanganan permukiman kumuh perkotaan Kabupaten Bantaeng. Dalam hal ini zona permukiman
akan menjadi dasar penentuan strategi permukiman dalam lahan yang legal dan illegal. Hasil acuan
spasial tersebut menjadi arah pelaksanaan lintas sektor di Kota Bantaeng khususnya pembangunan
sarana dan prasarana perkotaan.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 13
BAB 1

E. Sistematika Pembahasan
Untuk memahami substansi Penyusunan RP2KP-KP Kota Bantaeng, penyajian dokumen ini dibagi
kedalam substansi pembahasan, sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bagian ini menyajikan materi mengenai Latar Belakang Penyusunan RP2KP-KP Kota
Bantaeng, Tujuan dan Sasaran Pekerjaan, Ruang Lingkup Kegiatan, Kedudukan RP2KP-KP
Kota Bantaeng Dalam Dokumen Perencanaan Pembangunan Kabupaten Bantaeng.

BAB II KAJIAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN PERKOTAAN

Bagian ini menyajikan materi mengenai Isu Strategis Pembangunan Permukiman Perkotaan
Kabupaten Bantaeng, Kebijakan Pembangunan Permukiman Perkotaan Kabupaten Bantaeng,
Kebijakan Penanganan Pembangunan Permukiman Kumuh Perkotaan Kabupaten Bantaeng.

BAB III PROFIL PERMUKIMAN KUMUH KOTA BANTAENG

Bagian ini menyajikan materi mengenai Sebaran dan Gambaran Umum Kawasan-Kawasan
Kumuh Perkotaan Kota Bantaeng, Profil Kawasan Permukiman Kumuh, Kriteria Dan Indikator
Penilaian Penentuan Klasifikasi Dan Skala Prioritas Penanganan, Perumusan Kebutuhan
Penanganan dan Pola Kontribusi Program Penanganan Permukiman Kumuh Perkotaan.

BAB IV KONSEP DAN STRATEGI PENCEGAHAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN


KUMUH PERKOTAAN

Bagian ini meyajikan materi mengenai Konsep Dan Strategi Pencegahan Dan Peningkatan
Kualitas Permukiman Kumuh Dalam Skala Kota, Konsep Dan Strategi Pencegahan Dan
Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Skala Kawasan danStrategi Pencegahan Dan
Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Sampai Dengan Pencapaian Kota Bebas Kumuh
Dalam Skala Kota

BAB V RENCANA AKSI PROGRAM PENANGANAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN

Bagian ini meyajikan materi mengenai Program Dan Kegiatan Penanganan Kumuh Terkait
Pencegahan Dan Peningkatan Kualitas Permukiman, Program Penanganan Kawasan
Pembangunan Tahap 1, Rencana Aksi Dan Memorandum Program Pencegahan Dan
Peningkatan Permukiman Kumuh Skala Kota Dan Skala Kawasan dan Rencana Aksi
Masyarakat (CAP) Dan Prioritas Kebutuhan

BAB VI RENCANA DETAIL PENANGANAN KAWASAN PRIORITAS

Bahagian ini meyajikan materi mengenai Rencana Pembangunan Kawasan Prioritas Tahap 1,
Konsep Desain Di Kawasan Penanganan Permukiman Tahap 1 dan Rencana Teknis (Detail
Engineering Desain)Kawasan Prioritas.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 14
BAB 2

BAB II
KAJIAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN PERKOTAAN

A. Visi Misi Pembangunan Perumahan dan Permukiman Kabupaten Bantaeng

Kabupaten Bantaeng merupakan wilayah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak dibagian
tengah memanjang dari utara ke selatan pada pesisir barat. Pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan
memberikan peluang besar tehadap Kabupaten Bantaeng untuk mengembangkan wilayahnya,selain itu
kehadiran Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan undang-undang
Nomor 25 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, memberikan peluang
bagi Kabupaten Bantaeng untuk mengembangkan dan meningkatkan kegiatan pembangunan yang
bertumpu pada kemampuan prakarsa, inisiatif, dan kreativitas masyarakat dalam mengelola dan
memanfaatkan segenap potensi sumberdaya pembangunan yang tersedia.

1. Visi Pembangunan

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 7 Tahun 2009 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bantaeng Tahun 2013-2018, Visi
Pembangunan Kabupaten Bantaeng yaitu :

“Menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi dibagian selatan Sulawesi Selatan Tahun 2018”

Visi ini merupakan penjabaran dari visi pembangunan jangka panjang Sulsel yang tercantum pada RPJPD
sulsel 2008-2028, yaitu “Wilayah Terkemuka Di Indonesia Melalui Pendekatan Kemandirian Lokal Yang
Bernafaskan Keagamaan” Serta Visi Pembangunan RPJMD Sulsel 2008-2014 : “Sulawesi Selatan Sebagai
Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Kesejahteraan Masyarakat” Dalam mewujudkan
Visi tersebut, ditetapkan misi sebagai berikut :

1) Memfasilitasi pengembangan kapasitas setiap penduduk Bantaeng agar mampu meningkatkan


produktivitasnya secara berkesinambungan serta mampu menyalurkan pendapat dan
aspirasinya pada semua bidang kehidupan secara bebas dan mandiri.

2) Mendorong serta memfasilitasi tumbuh kembangnya kelembagaan masyarakat pada semua


bidang kehidupan (agar mampu meningkatkan choice dan voice-nya) dengan memberikan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 15
BAB 2

perhatian utama kepada pembangunan perekonomian daerah yang memicu pertumbuhan


kesempatan berusaha dan kesempatan kerja.

3) Mengembangkan daerah melalui pemanfaatan potensi dan sumberdaya kabupaten sedemikian


rupa, sehingga secara langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi terhadap
pencapaian sasaran pembangunan provinsi Sulawesi Selatan, serta berdampak positif terhadap
pengembangan kawasan sekitar.

2. Kebijakan Umum Pembangunan Perumahan dan Permukiman Kabupaten Bantaeng

Kawasan permukiman dibagi atas kawasan permukiman perdesaan dan kawasan permukiman
perkotaan. Rencana pengembangan kawasan pemukiman baik perdesaan dan perkotaan adalah
berdasarkan standar kecukupan dan kelayakan ruang, dimana satu keluarga menempati satu unit
rumah.

Pengembangan kawasan permukiman pedesaan dilakukan melalui peningkatan kualitas dan


kuantitas permukiman secara terpadu dengan kegiatan ekonomi antara lain pertanian, peternakan,
dan perikanan dan meningkatkan prasarana dan sarana penunjang.

Rencana pengembangan kawasan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud di atas adalah


sebagai berikut:

 Lebih mengkonsentrasikan pemukiman pedesaan pada kelompok pemukiman perkampungan


yang sudah ada, agar tidak terjadi penyebaran pemukiman secara sporadik yang mengakibatkan
penggunaan lahan dan penyediaan infrastruktur menjadi tidak efisien.
 Pengembangan desa pusat pertumbuhan.
 Peningkatan aksesibilitas antara kawasan pemukiman dengan kawasan pertanian.
 Peningkatan sarana dan prasarana permukiman.
 Untuk mengantisipasi perkembangan kawasan terbangun/ permukiman sebagai implikasi dari
pembangunan jalan pantai barat, yang tentu akan merangsang perkembangan disekitarnya
karena aksesibilitasnya yang tinggi, maka kawasan terbangun pemukiman perlu diarahkan agar
perkembangannya tidak sporadik.

Rencana pengembangan kawasan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud adalah sebagai


berikut:

 Permukiman perkotaan diarahkan untuk mengisi kawasan belum terbangun di ibukota kecamatan
terutama pada pusat-pusat wilayah pengembangan
 Pengarahan pemanfaatan ruang perkotaan ditinjau agar struktur ruang linier di setiap ibukota
kecamatan diubah menjadi struktur ruang konsentris yang lebih terpadu dan kompak

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 16
BAB 2

 Secara bertahap agar dilakukan penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan ibukota kecamatan
untuk ibukota kecamatan yang berfungsi sebagai pusat wilayah pengembangan, yang mempunyai
perkembangan perkotaan yang pesat.
 Peningkatan sarana dan prasarana permukiman, terutama sarana sosial, air bersih, drainase,
limbah, persampahan, listrik dan telekomunikasi.

B. Konsep Dasar RP2KPKP

1. Pengertian dan Landasan Hukum Perumahan dan Permukiman

Istilah yang lazim dipergunakan dalam pedoman penyusunan RP2KPKP mengacu pada pengertian
sebagaimana dimaksudkan dalam UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman, dan UU No. 24/1992 tentang Penataan Ruang, UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan
Daerah, dan UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
beserta segenap peraturan pelaksanaannya yang masih berlaku.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang
dimaksud dengan :

a. Perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas
pembinaan,penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman, pemeliharaan
dan perbaikan,pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan
permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran
masyarakat.
b. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun
perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya
pemenuhan rumah yang layak huni.
c. Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa
kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
d. Lingkungan hunian adalah bagian dari kawasan permukiman yang terdiri atas lebih dari satu
satuan permukiman.
e. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunianyang terdiri atas lebih dari satu satuan
perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum,serta mempunyai penunjang
kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
f. Penyelenggaraan perumahan dan kawasanpermukiman adalah kegiatan perencanaan,
pembangunan, pemanfaatan, dan pengendalian, termasuk di dalamnya pengembangan
kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peranmasyarakat yang terkoordinasi dan
terpadu.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 17
BAB 2

g. Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana
pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.
h. Rumah komersial adalah rumah yang diselenggarakan dengan tujuan mendapatkan keuntungan.
i. Rumah swadaya adalah rumah yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat.
j. Rumah umum adalah rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi
masyarakat berpenghasilan rendah.
k. Rumah khusus adalah rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus.
l. Rumah Negara adalah rumah yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau
hunian dan sarana pembinaan keluarga serta penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau
pegawai negeri.
m. Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan,
tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang
tidak memenuhi syarat.
n. Perumahan kumuh adalah perumahan yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai tempat
hunian.
o. Kawasan siap bangun yang selanjutnya disebut Kasiba adalah sebidang tanah yang fisiknya serta
prasarana, sarana, dan utilitas umumnya telah dipersiapkan untuk pembangunan lingkungan
hunian skala besar sesuai dengan rencana tata ruang.
p. Lingkungan siap bangun yang selanjutnya disebut Lisiba adalah sebidang tanah yang fisiknya
serta prasarana, sarana, dan utilitas umumnya telah dipersiapkan untuk pembangunan
perumahan dengan batas-batas kaveling yang jelas dan merupakan bagian dari kawasan siap
bangun sesuai dengan rencana rinci tata ruang.
q. Kaveling tanah matang adalah sebidang tanah yangtelah dipersiapkan untuk rumah sesuai
dengan persyaratan dalam penggunaan, penguasaan, pemilikan tanah, rencana rinci tata ruang,
serta rencana tata bangunan dan lingkungan.
r. Konsolidasi tanah adalah penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan
pemanfaatan tanah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dalam usaha penyediaan tanah
untuk kepentingan pembangunan perumahan dan permukiman guna meningkatkan kualitas
lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan partisipasi aktif masyarakat.
s. Pendanaan adalah penyediaan sumber daya keuangan yang berasal dari anggaran pendapatan
dan belanja negara, anggaran pendapatan dan belanja daerah, dan/atau sumber dana lain yang
dibelanjakan untuk penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
t. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau setiap pengeluaran
yang akan diterima kembali untuk kepentingan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman
baik yang berasal dari dana masyarakat, tabungan perumahan, maupun sumber dana lainnya.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 18
BAB 2

u. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang memenuhi standar tertentu
untuk kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan nyaman.
v. Sarana adalah fasilitas dalam lingkungan hunian yang berfungsi untuk mendukung
penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.
w. Utilitas umum adalah kelengkapan penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian.
x. Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnyadisingkat MBR adalah masyarakat yang
mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk
memperoleh rumah.

Beberapa istilah lain yang juga sering dipergunakan, masih memerlukan redefinisi kembali dan kajian
ilmiah, agar tidak menimbulkan kerancuan dalam penafsiran, antara lain :

a. Dipergunakannya perumahan dan permukiman dalam satu kesatuan pengertian yang tidak
terpisahkan. Artinya perumahan dan permukiman merupakan satu kesatuan pengertian yang
memberikan gambaran suatu ruang kegiatan berkehidupan dan penghidupan, dengan fungsi
utama sebagai tempat tinggal/bermukim.

b. TRIBINA, adalah suatu prinsip/pendekatan pembangunan yang dikembangkan dan mendasari


keseluruhan upaya penanganan perumahan dan permukiman. Didalamnya menyangkut 3 lingkup
binaan yang harus dilaksanakan sebagai satu kesatuan upaya agar pembangunan perumahan dan
permukiman dapat berhasil guna dan berdaya guna. Upaya yang dimaksud sebagai berikut :

 Bina Sosial atau Bina Manusia, pada dasarnya merupakan suatu proses yang diupayakan
untuk mendorong terjadinya peningkatan kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia,
sehingga mereka mampu menolong dirinya dalam memenuhi kebutuhannya akan rumah layak
dalam lingkungan sehat dan lestari.
 Bina Lingkungan yang diharapkan dapat mendorong terbentuknya lingkungan perumahan dan
permukiman untuk mendukung berkembangnya kegiatan usaha produktif.
 Bina Usaha, yaitu upaya yang dapat mendorong terjadinya proses berkembangnya usaha
produktif dalam kawasan perumahan dan permukiman.

c. Rumah layak dalam lingkungan sehat, aman, lestari dan berkelanjutan diartikan sebagai suatu
kondisi perumahan dan permukiman yang memenuhi standar minimal dari segi kesehatan, sosial,
budaya, ekonomi dan kualitas teknis, yang dikelola secara benar terus menerus, dengan
mempertimbangkan dan memperhatikan sumberdaya alam yang ada, memperhatikan pola tata air
dan usaha konservasi sumberdaya alam, pengelolaan dan pemanfaatannya. Secara umum
berdasarkan prinsif dasar perumahan dan permukiman terdapat 3 kategori layak, sebagai berikut :

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 19
BAB 2

 Layak huni terkait dengan pencapaian persyaratan fisik, kesehatan dan kesusilaan, sebagai
kelompok manusia berbudaya.
 Layak usaha, terkait dengan terpenuhinya kondisi lingkungan yang kondusif bagi
berlangsungnya kehidupan sosial ekonomi dan
 Layak berkembang terkait dengan terpenuhinya kondisi lingkungan yang mendukung
terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat (prospektif dan produktivitas).

d. Rencana Tata Ruang Wilayah (termasuk penatagunaan tanah, penatagunaan air, penatagunaan
udara, penatagunaan sumberdaya alam lainnya serta penataan bangunan) harus secara jelas
menetapkan fungsi dan pemanfaatannya, sehingga :

 Mampu memberikan kepastian hak atas peruntukannya.


 Mampu melindungi peruntukan ruang dan tanah bagi kelompok masyarakat berpenghasilan
rendah.

e. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah adalah kelompok masyarakat diukur berdasarkan


penghasilannya tidak dapat mencukupi kebutuhannya yang paling primer. Termasuk dalam
kelompok ini adalah kelompok masyarakat miskin. Kelompok miskin terbagi atas 2 (dua) kategori
sebagai berikut :

 Golongan fakir, yang tidak mempunyai penghasilan tetap dan tidak mampu memenuhi
kebutuhan pokok lainnya.
 Golongan miskin produktif, yang mempunyai penghasilan tetap tetapi belum mampu
memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.

f. Jaringan primer prasarana lingkungan, yaitu jaringan dasar yang memenuhi kebutuhan dasar
suatu lingkungan perumahan dan permukiman mencakup 3 kepentingan:

 Menghubungkan antarkawasan permukiman atau antarkawasan permukiman dengan kawasan


fungsional lainnya.
 Melayani lingkungan tertentu (permukiman, pusat kota, pusat olah raga, perdagangan dll).
 Mendukung keperluan seluruh lingkungan di kawasan permukiman, mencakup prasarana
transportasi, penyehatan lingkungan, komunikasi dan listrik).
g. Kawasan, diartikan sebagai wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya; ruang yang
merupakan satu kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait didalamnya, batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai ciri tertentu. Cakupannya
antara lain :

 Kawasan Perdesaan, adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk
pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 20
BAB 2

 Kawasan Perkotaan, adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian
dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan
distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
 Kawasan Permukiman, yaitu sebidang tanah yang diperuntukkan bagi pengembangan
permukiman, didominasi tempat hunian, dilengkapi dengan prasarana dan sarana, serta
tempat kerja yang memberikan layanan dan kesempatan kerja untuk mendukung
penghidupan, perikehidupan sehingga fungsi kawasan dapat berdaya dan berhasil guna.

C. Isu Strategis Pembangunan Permukiman Perkotaan

Secara umum, isu strategis pembangunan permukiman perkotaan antara lain sebagai berikut:

1. Menurunnya kualitas permukiman pada kawasan kumuh di perkotaan


2. Tertinggalnya pembangunan di kawasan perkotaan
3. Minimnya cakupan dan kualitas infrastruktur permukiman dalam mendukung ekonomi di perkotaan
4. Kurangnya kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan infrastruktur permukiman
5. Lemahnya keterpaduan pembangunan infrastruktur permukiman, baik skala kota maupun kawasan

Isu strategis dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman perkotaan sesungguhnya tidak
terlepas dari dinamika yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat, dan kondisi kebijakan
pemerintah di dalam mengelola persoalan perumahan dan permukiman perkotaan yang ada, sebagai
berikut :

1. Isu Kesenjangan Pelayanan

Isu kesenjangan pelayanan muncul karena terbatasnya peluang untuk memperoleh pelayanan dan
kesempatan berperan di bidang perumahan dan permukiman, khususnya bagi kelompok masyarakat
miskin dan berpendapatan rendah. Di samping itu juga dapat dikarenakan adanya konflik
kepentingan akibat implementasi kebijakan yang relatif masih belum sepenuhnya dapat memberikan
perhatian dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karenanya ke
depan perlu dikembangkan instrumen penyelenggaraan perumahan dan permukiman perkotaan yang
lebih berorientasi kepada kepentingan seluruh lapisan masyarakat secara berkeadilan sosial;
peningkatan dan pengembangan kapasitas profesional di bidang perumahan dan permukiman
perkotaan baik bagi aparat pemerintah Kota Bantaeng maupun bagi pelaku pembangunan
permukiman lainnya; dan pengembangan fungsi, sistem dan jejaring informasi serta diseminasi
mengenai hidup bermukim yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat khususnya yang bermukim di
kawasan perkotaan.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 21
BAB 2

2. Isu Lingkungan

Isu lingkungan pada kawasan perumahan dan permukiman perkotaan umumnya muncul karena
dipicu oleh tingkat urbanisasi dan migrasi yang tinggi, serta dampak pemanfaatan sumber daya dan
teknologi yang kurang terkendali. Kelangkaan prasarana dan sarana dasar, ketidakmampuan
memelihara dan memperbaiki lingkungan permukiman yang ada, dan masih rendahnya kualitas
permukiman baik secara fungsional, lingkungan, maupun visual wujud lingkungan, merupakan isu
utama bagi upaya menciptakan lingkungan permukiman perkotaan yang sehat, aman, harmonis dan
berkelanjutan. Isu tersebut juga menjadi lebih berkembang dikaitkan dengan belum diterapkannya
secara optimal pencapaian standar pelayanan minimal perumahan dan permukiman yang berbasis
indeks pembangunan berkelanjutan.

3. Isu Manajemen Pembangunan Permukiman Perkotaan

Isu manajemen pembangunan muncul umumnya karena dipengaruhi oleh keterbatasan kinerja tata
pemerintahan di seluruh tingkatan, sehingga berdampak pada lemahnya implementasi kebijakan
yang telah ditetapkan, inkonsistensi di dalam pemanfaatan lahan untuk perumahan dan permukiman,
dan munculnya dampak negatif terhadap lingkungan. Disamping itu terjadinya proses marjinalisasi
sektor lokal oleh sektor nasional dan global juga berdampak potensial terhadap meningkatnya
kemiskinan serta tersisihnya komunitas informal setempat berikut terbatasnya peluang usaha.
Urbanisasi di daerah yang tumbuh cepat juga merupakan tantangan bagi pemerintah, baik nasional
maupun lokal, untuk menjaga agar pertumbuhannya lebih merata, termasuk dalam upaya pemenuhan
kebutuhan perumahan dan permukiman khususnya di kawasan perkotaan. Dengan demikian,
pengelolaan pembangunan perumahan dan permukiman harus memungkinkan berkembangnya
prakarsa masyarakat melalui mekanisme yang dipilihnya sendiri. Di pihak lain kemampuan
membangun perumahan dan permukiman oleh komunitas harus direspon secara lebih tepat oleh
pemerintah di dalam kerangka tata pemerintahan yang baik, sehingga kebutuhan akan identitas lokal
masih tetap dapat terjaga di dalam kerangka pembangunan perumahan dan permukiman yang lebih
menyeluruh.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 22
BAB 2

D. Kebijakan RPJPD dan RPJMD

Kebijakan pembangunan permukiman perkotaan Kota Bantaeng yang tertuang didalam RPJPD, RPJMD,
RTRW dan Kebijakan Sektoral terkait pembangunan permukiman Kota Bantaeng , antara lain :

1. Kebijakan Pembangunan Permukiman Perkotaan Dalam RPJPD Kota Bantaeng

Kebijakan dalam RPJPD terkait dengan pembangunan permukiman perkotaan Kabupaten Bantaeng
terdapat didalam misi pembangunan daerah, yakni : Misi ke 2;

Berdasarkan capaian pembangunan pada tahapan sebelumnya, sebagai tahapan kedua dalam rangka
mencapai visi jangka panjang daerah difokuskan pada upaya optimalisasi penyediaan fasilitas
pelayanan untuk pemenuhan hak-hak dasar masyarakat diharapkan semakin membaik, yang antara
lain mewujud dalam bentuk peningkatan standar pelayanan minimal untuk kesehatan dan
pendidikan, termasuk untuk perumahan, sanitasi dan air bersih.

Penataan ruang wilayah yang sesuai dengan peruntukannyaakan mempererat keterkaitan spasial
antar desa dan antar kawasan (daerah sekitar Bantaeng). Di samping itu, prasarana dan sarana
transportasi dimaksud akan membuat jangkauan pelayan an sosial-ekonomi menjadi semakin besar
dan merata, The New Bantaeng terus dikembangkan untuk meningkatkan perannya sebagai pusat
pelayanan jasa sosial ekonomi, mencakup pula sebagai kawasan hunian, perdagangan, pelabuhan
dan wisata bahari (pusat pertumbuhan ekonomi).

2. Kebijakan Pembangunan Permukiman Perkotaan Dalam RPJMD Kota Bantaeng

Kebijakan dalam RPJMD terkait dengan pembangunan permukiman perkotaan Kabupaten Bantaeng
terdapat didalamprogram prioritas, yakni; Peningkatan Jaringan Perdagangan, Industri dan
Pariwisata berupa Meningkatnya kapasitas jalan dan jembatan.

E. Kebijakan Pembangunan Permukiman Perkotaan Dalam RTRW Kabupaten Bantaeng

Penataan bangunan ketentuan intensitas kawasan peruntukan permukiman perkotaan:


 Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Maksimum 40%
 Koefisien Dasar Hijau (KDH) 44%
 Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Maksimum 1,6

Ketentuan bangunan kawasan peruntukan permukiman perkotaan


 Dianjurkan luas petak lahan minimum : 600 m2
 Luas Pelandaian Lereng Maks. 15%
 Tinggi bangunan maks. 4 lantai
 Jarak bebas samping & belakang bangunan min. 2lt – 5 m, 3 lt – 6 m, 4 lt– 7 m.
 GSB ½ damija + 1 m jika lebar damija >8 m.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 23
BAB 2

Ketentuan pengendalian kawasan peruntukan permukiman perkotaan

 Pemanfaatan ruang yang sesuai aturan tapi tidak berijin, harus segera mengurus perijinan.
 Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai aturan ini, tapi telah mempunyai ijin dapat tetap dipertahankan
asal tidak ada perubahan fisik bangunan.
 Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai aturan ini dan ada perubahan fisik bangunan, harus mengacu
pada aturan ini.
 Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai aturan ini dan tidak mempunyai ijin dapat diterbitkan dengan
pencabutan ijin, pembongkaran bangunan, perlengkapan perijinan, denda atau kurungan

F. Kebijakan Pembangunan Permukiman Perkotaan Dalam Rtrw Kota Bantaeng

Strategi Pengembangan Prasarana dan Sarana Wilayah

 Pengembangan jaringan air bersih/minum dan jaringan irigasi untuk memenuhi kebutuhan penduduk,
kebutuhan irigasi pertanian, dan areal tambak.
 Penelitian potensi sumberdaya air untuk keperluan pertanian, perikanan dan keperluan air minum,
untuk mendukung peningkatan produksi.
 Pengembangan prasarana jaringan irigasi untuk mendukung pengembangan potensi pertanian.
 Pengadaan prasarana telekomunikasi untuk meningkatkan interaksi antar wilayah.
 Pembangunan dan pengembangan jasa pos dan telekomunikasi untuk mendukung proses
pembangunan, baik untuk kepentingan pemerintah maupun dunia usaha dan masyarakat pada
umumnya

G. Kebijakan Pembangunan Permukiman Perkotaan Dalam Rp3kp

1. Arahan Lokasi Pengembangan Perumahan dan Permukiman

Sesuai hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan, kawasan potensil untuk dikembangkan
sebagai kawasan perumahan dan permukiman di Kabupaten Bantaeng sebagai barikut :

 Pengembangan kawasan perumahan dan permukiman sebagai Pusat Pelayanan 1 (PP1) berlokasi
di Kecamatan Bantaeng, Kecamatan Bisappu dan Kecamatan Pa’jukukang;
 Pengembangan kawasan perumahan dan permukiman sebagai Pusat Pelayan 2 (PP2) berlokasi di
Kecamatan Tompobulu dan Kecamatan Gantarang Keke;
 Pengembangan kawasan permukiman biasa atau perdesaan berlokasi di Kecamatan Ulu Ere,
Kecamatan Eremerasa dan Kecamatan Sinoa;

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 24
BAB 2

2. Prioritas Lokasi Pengembangan Perumahan dan Permukiman

Prioritas lokasi pengembangan kawasan perumahan dan permukiman di Kabupaten Bantaeng,


dikaitkan dengan kemungkinkan pergeseran penduduk akibat perkembangan kota serta
mengantisipasi terjadi migrasi besar-besaran menuju ke ibukota kabupaten akibat kelengkapan
fasilitas sosial ekonomi sebagai faktor dominan yang akan mengakibatkan pergerakan masyarakat.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya proses tersebut maka langkah strategis yang
diusulkan untuk segera ditangani adalah penetapan lokasi KASIBA/LISIBA di daerah zona transisi
dan daerah pinggiran. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka prioritas lokasi untuk
pengembangan kawasan permukiman diarahkan ke Kecamatan Tompobulu dan Kecamatan
Gantarang Keke, Kecamatan Ulu Ere, Kecamatan Eremerasa dan Kecamatan Sinoa. Wilayah
kecamatan yang dimaksud, sebagai kawasan yang diprioritaskan untuk segera dilaksanakan guna
memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Bantaeng akan perumahan dan permukiman baik
saat ini maupun di masa yang akan datang.

H. Kebijakan SSK

1. Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik

Dalam menentukan tahapan pengembangan air limbah domestik maka, dilakukan analisis penentuan
zona dan sistem sanitasi berdasarkan permasalahan yang dihadapi di masing-masing kawasan.
Adapun faktor yang menjadi indikator permasalahan dalam penentuan zona dan sistem sanitasi sub
sektor air limbah yaitu : jumlah penduduk dan luas wilayah, klasifikasi wilayah (perkotaan atau
perdesaan), karakteristik tata guna lahan (Center of Business Development/), kondisi fisik wilayah
serta resiko kesehatan lingkungan.

Zona I merupakan sistem off site medium

merupakan kawasan dengan klasifikasi wilayah peri urban dengan tingkat kepadatan penduduk > 100
org/ha. Adapun wilayah yang dalam pengembangannya dapat diterapkan pengelolaan limbah
domestik sistem off-site medium berada di wilayah perkotaan yaitu sebagian berada di Kecamatan
Bissapu (kelurahan Bonto Lebang, Bonto Sunggu dan Bonto Rita) serta di Kecamatan Bantaeng
(Kelurahan Tappanjeng, Pallantikang, Letta dan Kelurahan Mallillingi) yang memiliki penduduk yang
cukup padat. Sistem ini dikembangkan di jangka menengah ke jangka panjang

2. Tahapan Pengembangan Persampahan

Dalam menentukan tahapan pengembangan persampahan ada 2 faktor yang menjadi indicator yaitu :
tata guna lahan/klasifikasi wilayah (komersial/ CBD, permukiman, fasilitas umum, terminal, dsb) dan
kepadatan penduduk. Kedua kriteria tersebut sangat berhubungan dengan aktivitas penghuninya
yang akan mempengaruhi perhitungan jenis dan volume timbulan sampah

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 25
BAB 2

Zona I dengan system full coverage + Street sweeping

merupakan area dengan tingkat kepadatan penduduk > 100 org/ha (peri urban) dengan meliputi
daerah perkotaan yaitu : Kecamatan Bissappu (kelurahan Bonto Lebang dan Bonto Rita) serta di
Kecamatan Bantaeng (Kelurahan Teppanjeng, Pallantikang, Letta dan Mallilingi). Sistem ini
dilaksanakan dalam jangka pendek/mendesak untuk dilaksanakan dengan meningkatkan cakupan
pelayanan pengangkutan sampah dari 2 (dua) kecamatan tetap menjadi 2 (dua) kecamatan yaitu
Kecamatan Bissappu dan Kecamatan Bantaeng cuma jumlah kelurahan yang ditambah.

3. Tahapan Pengembangan Drainase Lingkungan

Dalam pengembangan sub sektor drainase lingkungan memerlukan analisis yang tepat. Ada 5 (Lima)
indikator yang menjadi acuan dalam menentukan zona dan sistem sanitasi yang tepat agar
pengembangan sistem drainase untuk jangka pendek, menengah dan panjang dapat berjalan efektif
dan berkelanjutan. 5 (lima) indikator tersebut yaitu : kepadatan penduduk, tata guna lahan (kawasan
CBD/komersil atau permukiman), daerah genangan air baik oleh ROB maupun karena air hujan, serta
tingkat resiko kesehatan.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, maka sistem sanitasi pengembangan drainase lingkungan
terbagi menjadi 2 (dua) klasifikasi wilayah yaitu rural area (kepadatan < 25 org/ha) dan peri urban
area (kepadatan 25-100 org/ha) yang dibagi dalam 2 (dua) zona sistem sanitasi yaitu :

Zona I dan II

merupakan area komersil dan padat penduduk (peri urban) serta resiko kesahatan lingkungan cukup
tinggi. Kawasan-kawasan yang termasuk dalam zona ini harus ditangani dalam jangka pendek atau
harus segera dilakukan untuk mengatasi genangan. Zona ini mencakup wilayah perkotaan yang
meliputi : Kecamatan Bissappu (Kel. Bonto Lebang) serta di Kecamatan Bantaeng yaitu (Kel.
Teppanjeng, Letta dan Mallillingi).

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 26
BAB 3

BAB III
PROFIL PERMUKIMAN KUMUH KOTA BANTAENG

A. Kondisi Geografis Kota Bantaeng

Kota Bantaeng merupakan wilayah yang terletak disepanjang pantai yang terdiri dari 2 kecamatan yaitu
Kecamatan Bantaeng, dan Bisappu, Berdasarkan posisi dan letak geografis wilayah, Kota Bantaeng
berada pada koordinat 50 21’ 13”– 50 35’26” Lintang Selatan dan 1990 51”42”– 1200 05’27” Bujur Timur.
Luas Wilayah Kota Bantaeng 12.73 Km2, terdiri luas daratan 250,85 Km2

Kota Bantaeng terdiri dari 8 wilayah kelurahan diantaranya yaitu Kelurahan Lamalaka, Lembang, Malilingi,
Letta, Pallantikang, Tappanjeng yang berada di wilayah Kecamatan Bantaeng, dan Kelurahan Bonto
Sungguh, Kelurahan Bontorita berada di wilayah Kecamatan Bisappu, dengan mempunyai batas sebagai
berikut:

• Sebelah Utara dengan Kecamatan Eremerasa


• Sebelah Selatan dengan Laut Flores
• Sebelah Timur dengan Kecamatan Pajukukang
• Sebelah Barat dengan Kecamatan Bisappu

Wilayah Kota Bantaeng pada umumnya memiliki topografi dan kelerengan berada pada ketinggian 0-10
meter dari permukaan air laut. Bentuk permukaan datar hal tersebut dapat terlihat dari kemiringan lereng
dengan kisaran 0–2%. Kemiringan lereng tersebut menjadi dasar dalam menetapkan dan
mengalokasikan berbagai fasilitas, pengembangan kawasan dan pengendalian pertumbuhan kawasan.

Sumberdaya air di Kota Bantaeng secara konvensional dapat dikelompokkan sebagai air permukaan dan
air tanah. Sumber air tanah umumnya berasal dari air tanah dangkal dengan kedalaman antara 5-10
meter, atau sumur dalam hasil pengeboran dengan kedalaman antara 15-40 meter.

Sebagian besar daerah Kota Bantaeng merupakan bagian dari wilayah datar, pantai, perbukitan dan
pegunungan. Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Bantaeng terdiri dari jenis tanah alluvial, gromosol,
latosol, regosol, andosil dan mediteran. Penyebaran jenis tanah tersebut terdapat diseluruh wilayah
Kabupaten Bantaeng.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 27
BAB 3

Letak geografis Kota Bantaeng yang strategis memiliki alam dua dimensi, yakni lembah dataran dan
pesisir pantai. Dengan dua musim dan perubahan iklim setiap tahunnya yang dikenal di daerah ini dengan
nama musim Barat antara bulan Oktober sampai dengan bulan Maret dan musim Timur antara bulan April
sampai bulan September.

Iklim di Kota Bantaeng tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan tahunan rata-rata setiap bulan
71,8 mm dengan jumlah hari hujan berkisar 64 hari. Musim hujan dengan angin Barat jatuh pada bulan
Oktober sampai Maret, sedangkan musim hujan dengan angin Timur jatuh pada bulan April sampai
september. Dengan adanya kedua musim tersebut sangat menguntungkan untuk sektor pertanian.

Pemanfaatan lahan di Kabupaten Bantaeng terdiri dari perumahan dan permukiman, sawah, tegal/kebun,
padang rumput, tambak, tanah yang sementara tidak diusahakan, hutan dan berbagai pemanfaatan
lainnya.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 28
BAB 3

B. SK Penetapan Lokasi Kumuh

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 29
BAB 3

Tabel 3.1 : Sebaran Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Bantaeng

No Lokasi Kumuh Kelurahan/ Desa Kecamatan Luas (Ha) Tipologi Kumuh


1 Kaw. Borkal Pallantikang Bantaeng 2,16 Tepi Air/Pesisir Pantai
2 Kaw. Kampung Toa Tappanjneg Bantaeng 2,21 Tepi Air dan Pusat Kota

3 Kaw. Lantebung Letta Bantaeng 1,52 Pusat Kota

4 Kaw. Lembang-Lembang Pallantikang Bantaeng 2,19 Tepi Air

5 Kaw. Jambua Lamalaka Bantaeng 21,11 Tepi Air


6 Kaw. Rappoa Rappoa Pajukukang 2,7 Dataran Rendah
7 Kaw. Mattoanging 01 Lamalaka Bantaeng 2.15 Dataran Rendah

8 Kaw. Mattoanging 02 Lamalaka Bantaeng 0,7 Tepi Air

9 Kaw. Tangnga-tangnga Bonto Sunggu Bissapu 2,39 Tepi Air


10 Kaw. Kayangan Bonto Rita Bissapu 2,23 TepiAir/Bantaran Sungai

JUMLAH 39,36
Sumber : SK Bupati Tahun 2014

C. Sebaran Kawasan Kumuh, Peta Deliniasi Kumuh, Lokasi Beserta Luasannya Kota
Bantaeng Hasil Verifikasi

Sebaran kawasan permukiman kumuh Kota Bantaeng menggambarkan keadaan kawasan-kawasan


tertentu yang sudah ditetapkan dalam SK Walikota Kota Bantaeng Tahun 2014. Untuk menindak lanjuti
hasil penetapan kawasan kumuh tersebut, telah dilakukan verifikasi terhadap lokasi permukiman kumuh
yang tersebar di Kawasan Kota Bantaeng. Berdasarkan hasil verifikasi lapangan lokasi kawasan
permukiman kumuh tersebar di 8 Kelurahan/2 Kecamatan dengan luas total 61 Ha. Berdasarkan hasil
verifikasi tersebut terdapat tambahan 2 Kelurahan yang termasuk ke dalam kategori permukiman kumuh.
Kawasan permukiman kumuh tersebut tersebar pada Kecamatan Bantaeng meliputi Kelurahan
Tappanjeng, Pallatikang, Letta, Malilingi, Lembang dan Lamalaka, Kecamatan Bisappu Meliputi Kelurahan
Bonto Sungguh dan Bonto Rita. Dari beberapa lokasi kumuh tersebut, terdapat beberapa lokasi yang
digabungkan menjadi satu kawasan mengingat kawasan tersebut berdekatan sehingga mudah dalam
mengidentifikasi dan mendeliniasikannya. Selengkapnya untuk sebaran kawasaan permukiman kumuh
hasil verifikasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 30
BAB 3

Tabel 3.2 : Sebaran Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Bantaeng

No. Kecamatan Kawasan Luas (Ha)

1. Bantaeng Jambua 6

2. Bantaeng Lamalaka 14.76

3. Bantaeng Lantebung 2.96

4. Bantaeng Borkal 2.16

5. Bantaeng Lembang-Lembang 2.19

6. Bantaeng Ujung Labbu 5.29

7. Bantaeng-Bisappu Bantaran Sungai Pabbineang 4.6

8. Bisappu Kayangan 2.23

9. Bantaeng Calendu 9.3

Total Kawasan 49.49


Sumber : Hasil Analisis Tim, Tahun 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 31
BAB 3

Gambar 3.1. Peta Sebaran Kawasan Permukiman Kumuh Kota Bantaeng

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 32
BAB 3

Gambar 3.2. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Jambua

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 33
BAB 3

Gambar 3.3. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Lamalaka

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 34
BAB 3

Gambar 3.4. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Lantebung

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 35
BAB 3

Gambar 3.5. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Borkal

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 36
BAB 3

Gambar 3.6. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Lembang-Lembang

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 37
BAB 3

Gambar 3.7. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Calendu

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 38
BAB 3

Gambar 3.7. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Ujung Labbu

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 39
BAB 3

Gambar 3.8. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Pa’binenang

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 40
BAB 3

Gambar 3.9. Profil Permukiman Kumuh Kawasan Kayangan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 41
BAB 3

D. Kriteria Dan Indikator Penilaian Lokasi Penanganan

1. Kriteria dan Indikator Permukiman Kumuh

Definisi permukiman kumuh mengacu kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman, yaitu: “Permukiman kumuh merupakan permukiman yang
tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan
kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai
tempat hunian.” Dengan penjabaran sebagai berikut:

a) Ketidakteraturan Bangunan :
 Tata letak bangunan rumah dan prasarana dalam kawasan tidak teratur
 Tidak adanya Garis Sempadan Bangunan (GSB) atau GSB yang tidak teratur.
 Orientasi bangunan tidak tertib atau tidak ada pola tata letak bangunan.
 Struktur pembentuk lingkungan yang tidak teratur (tidak berpola) dan pola pemanfaatan ruang
dengan efektifitas rendah. Dicirikan oleh struktur dan pola jalan serta infrastruktur.
 Ketidakteraturan itu bisa disebabkan oleh aspek fisik alami dan fisik binaan di kawasan
tersebut.
b) Kepadatan Bangunan yang tinggi:
 Menunjukkan banyaknya bangunan (jumlah) bangunan dalam suatu luas lahan tertentu =
bangunan/ha.
 Kesesuaian koefisien dasar bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dengan
persyaratan yang ditetapkan oleh setiap daerah (berbeda untuk kelas kota yang ditinjau).
 Berpengaruh terhadap nilai kepadatan penduduk per satuan luas.
c) Penurunan Kualitas Bangunan dan Sarana Prasarana :
 PenurunanKualitas Bangunan ditandai dengan kondisi teknis yang tidak aman, tidak nyaman,
tidak sehat, tidak ada kemudahan serta tidak adanya keindahan.
 Penurunan Kualitas Bangunan Terkait dengan Kriteria Rumah Tidak Layak Huni:
 Secara umum Rumah Tidak Sehat diartikan sebagai kondisi kemampuan bangunan rumah
yang berada di bawah standar kelayakan untuk dihuni. Kondisi ini dicirikan oleh kualitas
bangunan dengan material yang sub standar dan kapasitas huni dari bangunan (luas
dibutuhkan per jiwa) berada di bawah standar rumah sehat yang ditetapkan.
 Jenis atap rumah terbuat dari daun dan lainnya.
 Jenis dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang belum diproses.
 Jenis lantai tanah.
 Tidak mempunyai fasilitas tempat untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai baik pribadi
maupun komunal.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 42
BAB 3

 Sarana sosial, budaya, ekonomi dan pelayanan umum seperti air bersih, air kotor, dan
persampahan tidak memadai baik secara kuantitas maupun kualitas.

Kriteria maupun indikator yang digunakan untuk menetapkan kondisi kekumuhan pada perumahan
ataupun permukiman kumuh berdasarkan klasfikiasinya dapat dirujuk dengan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat No. 2 Tahun 2016 dapat ditinjau dari:

a) Kondisi Bangunan Gedung


 Ketidakteraturan Bangunan
o Tidak memenuhi ketentuan tata bangunan dalam Rencana Detil Tata Ruang (RDTR)
dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), paling sedikit pengaturan
bentuk, besaran, perletakan, dan tampilan bangunan pada suatu zona;
o Tidak memenuhi ketentuan tata bangunan dan tata kualitas lingkungan dalam RTBL,
paling sedikit pengaturan blok lingkungan, kapling, bangunan, ketinggian dan elevasi
lantai, konsep identitas lingkungan, konsep orientasi lingkungan, dan wajah jalan.
 Tingkat Kepadatan Bangunan
o Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang melebihi ketentuan RDTR, dan/atau RTBL
o Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang melebihi ketentuan dalam RDTR, dan/atau
RTBL
 Kualitas Bangunan merupakan merupakan kondisi bangunan gedung pada perumahan dan
permukiman yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis

b) Jalan Lingkungan

 Jaringan jalan lingkungan tidak melayani seluruh lingkungan perumahan atau permukiman
 Kualitas permukaan jalan lingkungan buruk

c) Penyediaan Air Minum

 Ketidaktersediaan akses aman air minum dimana masyarakat tidak dapat mengakse air
minum yang memenuhi syarat kesehatan
 Tidak terpenuhinya kebutuhan air minum setiap individu sesuai standar yang berlaku yaitu
minimal sebanyak 60 liter/orang/hari..

d) Drainase Lingkungan

 Drainase lingkungan tidak mampu mengalirkan limpasan air hujan sehingga menimbulkan
genangan merupakan kondisi dimana jaringan drainase lingkungan tidak mampu
mengalirkan limpasan air sehingga menimbulkan genangan dengan tinggi lebih dari 30 cm
selama lebih dari 2 jam dan terjadi lebih dari 2 kali setahun

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 43
BAB 3

 Ketidaktersediaan drainase merupakan kondisi dimana saluran tersier dan/atau saluran lokal
tidak tersedia
 Tidak terhubung dengan sistem drainase perkotaan merupakan kondisi dimana saluran lokal
tidak terhubung dengan saluran pada hierarki di atasnya sehingga menyebabkan air tidak
dapat mengalir dan menimbulkan genangan
 Tidak dipelihara sehingga terjadi akumulasi limbah padat dan cair di dalamnya merupakan
kondisi dimana pemeliharaan saluran drainase tidak dilaksanakan baik berupa :
o pemeliharaan rutin
o pemeliharaan berkala
 Kualitas konstruksi drainase lingkungan buruk merupakan kondisi dimana kualitas
konstruksi drainase buruk, karena berupa galian tanah tanpa material pelapis atau
penutup atau telah terjadi kerusakan

e) Pengelolaan Air Limbah

 Sistem pengelolaan air limbah tidak sesuai dengan standar teknis yang berlaku
merupamerupakan kondisi dimana pengelolaan air limbah pada lingkungan perumahan atau
permukiman tidak memiliki sistem yang memadai, yaitu terdiri dari kakus/kloset yang
terhubung dengan tangki septik baik secara individual/domestik, komunal maupun terpusat.
 Prasarana dan sarana pengelolaan air limbah tidak memenuhi persyaratan teknis
merupakan kondisi prasarana dan sarana pengelolaan air limbah pada perumahan atau
permukiman dimana:
o Kloset leher angsa tidak terhubung dengan tangki septik
o Tidak tersedianya sistem pengolahan limbah setempat atau terpusat

f) Pengelolaan Persampahan

 Prasarana dan sarana persampahan tidak sesuai dengan persyaratan teknis kondisi dimana
prasarana dan sarana persampahan pada lingkungan perumahan atau permukiman tidak
memadai sebagai berikut:
o Tempat sampah dengan pemilahan sampah pada skala domestik atau rumah tangga
o Tempat pengumpulan sampah (TPS) atau TPS 3R (reduce, reuse, recycle) pada skala
lingkungan
o Gerobak sampah dan/atau truk sampah pada skala lingkungan;
o Tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) pada skala lingkungan
 Sistem pengelolaan persampahan tidak memenuhi persyaratan teknis merupakan kondisi
dimana pengelolaan persampahan pada lingkungan perumahan atau permukiman tidak
memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 44
BAB 3

o Pewadahan dan pemilahan domestik


o Pengumpulan lingkungan
o Pengangkutan lingkungan
o Pengolahan lingkungan
 Tidak terpeliharanya sarana dan prasarana pengelolaan persampahan sehingga terjadi
pencemaran lingkungan sekitar oleh sampah, baik sumber air bersih, tanah maupun
jaringan drainase.

g) Proteksi Kebakaran

 Ketidak tersediaan prasarana proteksi kebakaran


o Pasokan air yang diperoleh dari sumber alam maupun buatan
o Jalan lingkungan yang memudahkan masuk keluarnya kendaraan pemadam kebakaran
o Sarana komunikasi untuk pemberitahuan terjadinya kebakaran
o Data tentang sistem proteksi kebakaran lingkungan yang mudah diakses
 Ketidak tersediaan sarana proteksi kebakaran
o Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
o kendaraan pemadam kebakaran
o mobil tangga sesuai kebutuhan

Dari kriteria tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 45
BAB 3

Tabel. 3.3 : Kriteria Dan Indikator Penilaian Tingkat Kekumuhan

No Variabel Kriteria Indikator Parameter Nilai

A Idenfikasi Kondisi Kekumuhan (Fisik)


1 Kondisi Bangunan a. Ketidakteraturan  Tidak memenuhi ketentuan 76% - 100% bangunan 5
Gedung Bangunan tata bangunan dalam RDTR, pada lokasi tidak
meliputi pengaturan bentuk, memiliki keteraturan
besaran, perletakan, dan 51% - 75% bangunan 3
tampilan bangunan pada pada lokasi tidak
suatu zona; dan/atau memiliki keteraturan
 Tidak memenuhi ketentuan 25% - 50% bangunan 1
tata bangunan dan tata pada lokasi tidak
kualitas lingkungan dalam memiliki keteraturan
RTBL, meliputi pengaturan
blok bangunan, kapling,
bangunan, ketinggian dan
elevasi lantai, konsep
identitas lingkungan, konsep
orientasi lingkungan, dan
wajah jalan.
b. Tingkat  KDB melebihi ketentuan 76% - 100% bangunan 5
Kepadatan RDTR, dan/atau RTBL memiliki kepadatan
Bangunan  KLB melebihi ketentuan tidak sesuai ketentuan
dalam RDTR, dan/atau RTBL; 50% - 75% bangunan 3
dan/atau memiliki kepadatan
 Kepadatan bangunan yang tidak sesuai ketentuan
tinggi pada lokasi, yaitu : 25% - 50% bangunan 1
o Untuk kota metropolitan memiliki kepadatan
dan kota besar ≥250 unit/Ha tidak sesuai ketentuan
o Untuk kota sedang dan kota
kecil ≥ 200 unit/Ha
c. Ketidak sesuaian Kondisi bangunan pada lokasi 76% - 100% bangunan 5
dengan tidak memenuhi persyaratan : pada lokasi tidak
persyaratan  Pengendalian dampak memenuhi persyaratan
teknis bangunan lingkungan teknis
 Pembangunan bangunan 51% - 75% bangunan 3
gedung di atas dan/atau di pada lokasi tidak
bawah tanah, air dan/atau memenuhi persyaratan
prasarana/sarana umum teknis
 Keselamatan bangunan 26% - 50% bangunan 1
gedung (BG) pada lokasi tidak
 Kenyamanan BG memenuhi persyaratan
Kemudahan BG teknis
2 Kondisi jalan a. Cakupan Sebagian lokasi perumahan 76% - 100% area tidak 5
lingkungan pelayanan jalan atau permukiman tidak terlayani oleh jaringan
lingkungan terlayani dengan jalan jalan lingkungan
lingkungan yang sesuai dengan 51% - 75% area tidak 3
ketentuan teknis terlayani oleh jaringan
jalan lingkungan
25% - 50% area tidak 1
terlayani oleh jaringan
jalan lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 46
BAB 3

No Variabel Kriteria Indikator Parameter Nilai


b. Kualitas Sebagian atau seluruh jalan 76% - 100% area tidak 5
permukaan jalan lingkungan terjadi kerusakan terlayani oleh jaringan
lingkungan permukaan jalan pada lokasi jalan lingkungan
perumahan atau permukiman 51% - 75% area tidak 3
terlayani oleh jaringan
jalan lingkungan
25% - 50% area tidak 1
terlayani oleh jaringan
jalan lingkungan
3 Kondisi a. Ketidaktersedia Masyarakat pada lokasi 76% - 100% populasi 5
penyediaan air an Akses aman perumahan dan permukiman tidak dapat mengakses
minum air minum tidak dapat mengakses air air minum yang aman
minum yang memiliki kualitas 51% - 75% populasi 3
tidak berwarna, tidak berbau, tidak dapat mengakses
dan tidak berasa air minum yang aman
25% - 50% populasi 1
tidak dapat mengakses
air minum yang aman
b. Tidak Kebutuhan air minum 76% - 100% populasi 5
terpenuhinya masyarakat pada lokasi tidak terpenuhi
kebutuhan air perumahan atau permukiman kebutuhan air minum
minum tidak mencapai minimal minimalnya
sebanyak 60 liter/orang/hari 51% - 75% populasi 3
tidak terpenuhi
kebutuhan air minum
minimalnya
25% - 50% populasi 1
tidak terpenuhi
kebutuhan air minum
minimalnya
4 Kondisi drainase a. Ketidak Jaringan drainase lingkungan 76% - 100%area terjadi 5
lingkungan mampuan tidak mampu mengalirkan genangan > 30cm, > 2
mengalirkan limpasan air sehingga jam dan > 2 x setahun
limpasan air menimbulkan genangan dengan 51% - 75%area terjadi 3
tinggi lebih dari 30 cm selama genangan > 30cm, > 2
lebih dari 2 kali setahun jam dan > 2 x setahun
25% - 50%area terjadi 1
genangan > 30cm, > 2
jam dan > 2 x setahun
b. Ketidak Tidak tersedianya saluran 76% - 100% area tidak 5
tersediaan drainase lingkungan pada tersedia drainase
drainase lingkungan perumahan atau lingkungan
permukiman, yaitu saluran
tersier dan/atau saluran lokal 51% - 75% area tidak 3
tersedia drainase
lingkungan
25% - 50% area tidak 1
tersedia drainase
lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 47
BAB 3

No Variabel Kriteria Indikator Parameter Nilai


c. Ketidak Saluran drainase lingkungan 76% - 100% drainase 5
terhubungan tidak terhubung dengan saluran lingkungan tidak
dengan sistem pada hirarki di atasnya terhubung dengan
drainase sehingga menyebabkan air hirarki di atasnya
perkotaan tidak dapat mengalir dan 51% - 75% drainase 3
menimbulkan genangan lingkungan tidak
terhubung dengan
hirarki di atasnya
25% - 50% drainase 1
lingkungan tidak
terhubung dengan
hirarki di atasnya
d. Tidak Tidak dilaksanakannya 76% - 100% area 5
terpeliharanya pemeliharaan saluran drainase memiliki drainase
drainase lingkungan pada lokasi lingkungan yang kotor
perumahan atau dan berbau
permukiman,baik : 51% - 75% area memiliki 3
 Pemeliharaan rutin ; drainase lingkungan
dan/atau yang kotor dan berbau
 Pemeliharaan berkala 25% - 50% area memiliki 1
drainase lingkungan
yang kotor dan berbau
e. Kualitas Kualitas konstruksi drainase 76% - 100% area 5
konstruksi buruk, karena berupa galian memiliki kualitas
drainase tanah tanpa material pelapis konstruksi drainase
atau penutup maupun karena lingkungan buruk
telah terjadi kerusakan 51% - 75% area memiliki 3
kualitas konstruksi
drainaselingkunganburuk
25% - 50% area memiliki 1
kualitas konstruksi
drainaselingkunganburuk
5 Kondisi a. Sistem Pengelolaan air limbah pada 76% - 100% area 5
pengelolaan air pengelolaan air lokasi perumahan atau memiliki sistem air
limbah limbah tidak permukiman tidak memiliki limbah yang tidak
sesuai standar sistem yang memadai, yaitu sesuai standar teknis
teknis kakus/kloset yang tidak 51% - 75% area memiliki 3
terhubung dengan tangki septik sistem air limbah yang
baik secara tidak sesuai standar
individual/domestik, komunal teknis
maupun terpusat. 25% - 50% area memiliki 1
sistem air limbah yang
tidaksesuai standar teknis
b. Prasarana dan Kondisi prasarana dan sarana 76% - 100% area 5
sarana pengelolaan air limbah pada memiliki sarpras air
pengelolaan air lokasi perumahan atau limbah tidak sesuai
limbah tidak permukiman dimana : persyaratan teknis
sesuai dengan  Kloset leher angsa tidak 50% - 75% area memiliki 3
persyaratan terhubung dengan tangki sarpras air limbah tidak
teknis septik; sesuai persyaratan
teknis

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 48
BAB 3

No Variabel Kriteria Indikator Parameter Nilai


 Tidak tersedianya sistem 25% - 50% area memiliki 1
pengolahan limbah setempat sarpras air limbah tidak
atau terpusat sesuai persyaratan
teknis
6 Kondisi a. Prasarana dan Prasarana dan Sarana 76% - 100% area 5
pengelolaan sarana Persampahan pada lokasi memiliki sarpras
persampahan persampahan perumahan atau permukiman pengelolaan
tidak sesuai tidak sesuai dengan persampahan yang tidak
dengan persyaratan teknis, yaitu : memenuhi persyaratan
persyaratan  Tempat sampah dengan teknis
teknis pemilahan sampah pada
skala domestik atau rumah 51% - 75% area memiliki 3
tangga; sarpras pengelolaan
 Tempat pengumpulan persampahan yang tidak
sampah (TPS) atau TPS 3R memenuhi persyaratan
(reduce, reuse, recycle) pada teknis
skala lingkungan; 25% - 50% area memiliki 1
 Gerobak sampah dan/atau sarpras pengelolaan
truk sampah pada skala persampahan yang tidak
lingkungan; dan memenuhi persyaratan
 Tempat pengolahan sampah teknis
terpadu (TPST) pada skala
lingkungan
b. Sistem Pengelolaan persampahan 76% - 100% area 5
pengelolaan pada lingkungan perumahan memiliki sistem
persampahan atau permukiman tidak persampahan tidak
yang tidak memenuhi persyaratan sebagai sesuai standar
sesuai standar berikut : 51% - 75% area memiliki 3
teknis  Pewadahan dan pemilahan sistem persampahan
domestik; tidak sesuai standar
 Pengumpulan lingkungan; 26% - 50% area memiliki 1
 Pengangkutan lingkungan; sistem persampahan
 Pengolahan lingkungan tidak sesuai standar
c. Tidak Tidak dilakukannya 75% - 100% area 5
terpeliharanya pemeliharaan sarana dan memiliki sarpras
sarana dan prasarana pengelolaan persampahan yang tidak
prasarana persampahan pada lokasi terpelihara
pengelolaan perumahan atau permukiman, 51% - 75% area memiliki 3
Persampahan baik : sarpras persampahan
 Pemeliharaan rutin; dan/atau yang tidak terpelihara
 Pemeliharaan berkala 25% - 50% area memiliki 1
sarpras persampahan
yang tidak terpelihara
7 Kondisi proteksi a. Ketidaktersedia Tidak tersedianya prasarana 76% - 100% area tidak 5
kebakaran an prasarana proteksi kebakaran pada lokasi, memiliki prasarana
proteksi yaitu : proteksi kebakaran
kebakaran  Pasokan air;
 Jalan lingkungan; 51% - 75% area tidak 3
 Sarana komunikasi; memiliki prasarana
 Data sistem proteksi proteksi kebakaran
kebakaran lingkungan; dan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 49
BAB 3

No Variabel Kriteria Indikator Parameter Nilai


 Bangunan pos kebakaran 25% - 50% area tidak 1
memiliki prasarana
proteksi kebakaran
b. Ketidaktersedia Tidak tersedianya sarana 76% - 100% area tidak 5
an sarana proteksi kebakaran pada lokasi, memiliki sarana proteksi
proteksi yaitu : kebakaran
kebakaran  Alat Pemadam Api Ringan 76% - 100% area tidak 3
(APAR); memiliki sarana proteksi
 Mobil pompa; kebakaran
 Mobil tangga sesuai 76% - 100% area tidak 1
kebutuhan; dan memiliki sarana proteksi
 Peralatan pendukung lainnya kebakaran
B Idenfikasi Pertimbangan Lain
8 Pertimbangan lain a. Nilai Strategis Pertimbangan letak lokasi Lokasi terletak pada 5
Lokasi perumahan atau permukiman fungsi strategis kota
pada:
Lokasi tidak terletak 1
 Fungsi strategis kota; atau
pada fungsi strategis
 Bukan fungsi strategis kota
kota

b. Kependudukan Pertimbangan kepadatan Kepadatan penduduk 5


penduduk pada lokasi pada lokasi sebesar
perumahan atau permukiman >200 jiwa/Ha
dengan klasifikasi : Kepadatan penduduk 3
 Rendah yaitu kepadatan pada lokasi sebesar 151
penduduk di bawah 150 -200 jiwa/Ha
 jiwa/ha; Kepadatan penduduk 1
 Sedang yaitu kepadatan pada lokasi sebesar
penduduk antara 151 – 200 <150 jiwa/Ha
jiwa/ha
 Tinggi yaitu kepadatan
penduduk antara 201 – 400
jiwa/ha
 Sangat padat yaitu kepadatan
penduduk diatas 400 jiwa/ha
c. Kondisi Sosial, Pertimbangan potensi yang Lokasi memiliki potensi 5
ekonomi dan dimiliki lokasi perumahan atau sosial, ekonomi dan
budaya permukiman berupa : budaya untuk
 Potensi sosial yaitu tingkat dikembangkan atau
partisipasi masyarakat dalam dipelihara
mendukung pembangunan; Lokasi tidak memiliki 1
 Potensi ekonomi yaitu adanya potensi sosial, ekonomi
kegiatan ekonomi tertentu dan budaya untuk
yang bersifat strategis bagi dikembangkan atau
masyarakat setempat; dipelihara
 Potensi budaya yaitu adanya
kegiatan atau warisan budaya
tertentu yang dimiliki
masyarakat setempat

NILAI 8

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 50
BAB 3

No Variabel Kriteria Indikator Parameter Nilai


C. Idenfikasi Legalitas Lahan
9 Legalitas lahan a. Kejelasan Kejelasan terhadap status Keseluruhan lokasi (+)
status penguasaan lahan berupa : memiliki kejelasan
penguasaan  Kepemilikan sendiri, dengan status penguasaan
lahan bukti dokumen sertifikat hak lahan, baik milik sendiri
atas tanah atau bentuk atau milik pihak lain
dokumen keterangan status Sebagian atau (-)
tanah lainnya yang sah; atau keseluruhan lokasi
 Kepemilikan pihak lain memiliki kejelasan
(termasuk milik adat/ulayat) status penguasaan
dengan bukti ijin pemanfaatan lahan, baik milik sendiri
tanah dari pemegang hak atas atau milik pihak lain
tanah atau pemilik tanah
dalam bentuk perjanjian
tertulis antara pemegang hak
atas tanah atau pemilik tanah
dengan pihak lain
b. Kesesuaian Kesesuaian terhadap peruntukan keseluruhan lokasi (+)
RTR lahan dalam rencana tata ruang berada bukan pada zona
(RTR), dengan bukti Izin peruntukan
Mendirikan bangunan atau Surat perumahan/permukima
Keterangan Rencana n sesuai RTR
Kabupaten/Kota (SKRK) Sebagian atau (-)
keseluruhan lokasi
berada bukan pada
peruntukan
perumahan/permukima
n sesuai RTR

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 51
BAB 3

Tabel. 3.5 Katergori Tingkat Kekumhan Dan Klasifikasinya di 9 Kawasan pada Kota Bantaeng

LEGALITAS
TINGKAT KEKUMUHAN PERTIMBANGAN LAIN
LAHAN
JUMLAH NILAI

TIDAK LEGAL
PENILAIAN

RENDAH
SEDANG

SEDANG
RINGAN
SKALA

KUMUH

KUMUH

KUMUH

TINGGI
BERAT

LEGAL
NO KAWASAN KRITERIA DAN KLASIFIKASI
PRIORITAS
INDIKATOR
KEKUMUHAN
(11- (6- Nilai
(71-95) (45-70) (19-44) (1-5) Nilai (-)
15 10) (+)
Sungai
1 35 X X x C1 3
Pabinneang

2 Lantebung 39 X X x C5 9

3 Lamalaka 1 31 X X x C3 6

4 Jambua 43 X X x C6 9

5 Ujung Labbu 31 X X x C5 9

6 Sungai Calendu 43 X X x C5 9

Lembang-
7 33 X X x C1 3
Lembang

8 Borkal 31 X X x C1 3

9 Kayangan 37 X X x C1 3

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 52
BAB 3

E. Perumusan Kebutuhan Penanganan

Program Nasional Penanganan Permukiman Kumuh dengan target pencapaian 100 – 0 – 100 di tahun
2019 berupaya untuk mengimplementasikan program kolaborasi sebagai platform dalam penanganan
kumuh, sehingga terjadi keterpaduan antarsektor pembangunan. Dalam program tersebut, sesuai dengan
amanat UU No.1 Tahun 2011, Pemerintah Daerah (Pemda) akan jadi pelaku utama dalam penanganan, di
mana seluruh pemetaan kebutuhan, rencana program, hingga rencana investasi akan disusun oleh
Pemda. Program-program yang ada di pemerintah pusat kemudian hanya akan menjadi pendamping
daerah dalam penyusunan rencana dan menjalankan program, di mana program yang ada di pusat pun
harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan daerah. Dalam mendukung upaya penanganan
permukiman kumuh terdapat dua bentuk penanganan permukiman kumuh yang dapat dilakukan, yaitu
Pencegahan dan Peningkatan kualitas.

Tindakan pencegahan ditujukan untuk menghindari tumbuh dan berkembangnya perumahan kumuh dan
permukiman kumuh baru. Tindakan pencegahan dilaksanakan melalui Pengawasan dan Pengendalian
yang dapat dilakukan berdasarkan kesesuaian terhadap perizinan (seperti izin prinsip, izin lokasi, izin
penggunaan pemanfaatan tanah, dan izin mendirikan bangunan), standar teknis, dan kelaikan fungsi.

Pemberdayaan Masyarakat dilakukan terhadap pemangku kepentingan bidang perumahan dan


permukiman melalui pendampingan. Pendampingan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas
masyarakat melalui pembentukan dan peningkatan kapasitas kelompok swadaya masyarakat.
Pendampingan kepada masyarakat dapat berupa, penyuluhan yang bertujuan memberikan informasi
untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan tumbuh dan
berkembangnya perumahan kumuh dan permukiman kumuh baru. Penyuluhan dapat berupa sosialisasi
dan diseminasi.

Selain itu, pembimbingan bertujuan memberikan petunjuk atau penjelasan mengenai cara mengerjakan
kegiatan pencegahan terhadap tumbuh dan berkembangnya perumahan kumuh dan permukiman kumuh
baru. Pembimbingan dapat ditujukan kepada orang perseorangan, kelompok masyarakat, dan kelompok
dunia usaha.

Bantuan teknis, bertujuan untuk memberikan dukungan yang bersifat teknis yang dilakukan oleh
Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Bantuan teknis yang dapat diberikan dapat berupa penyusunan
perencanaan pencegahan perumahan kumuh dan permukiman kumuh, penguatan kapasitas
kelembagaan, pengembangan alternatif pembiayaan, persiapan pelaksanaan kerjasama pemerintah
swasta, serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan serta pemanfaatan.

Pelayanan Informasi, bertujuan untuk memberikan informasi terkait upaya pencegahan perumahan
kumuh dan permukiman kumuh kepada masyarakat. Pelayanan informasi yang dapat dilakukan berupa
pemberian informasi mengenai rencana tata ruang, penataan bangunan dan lingkungan, perizinan, serta

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 53
BAB 3

standar perumahan dan permukiman. Tindakan peningkatan kualitas dengan cara pemugaran juga
dilakukan untuk perbaikan dan pembangunan kembali, perumahan kumuh dan permukiman kumuh
menjadi perumahan dan permukiman yang layak huni.

Selain itu pula, revitalitasi kawasan permukiman merupakan jenis penanganan untuk meningkatkan
vitalitas kawasan permukiman melalui peningkatan kualitas lingkungan, tanpa menimbulkan perubahan
yang berarti dari struktur fisik kawasan permukiman tersebut. Kegiatan ini bertujuan memperbaiki dan
mendorong ekonomi kawasan dengan cara memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana eksisting yang
ada, meningkatkan kualitas serta kemampuan dari prasarana dan sarana melalui program perbaikan dan
peningkatan tanpa melakukan pembongkaran berarti.

Disamping itu pula, peremajaan perumahan kumuh dan permukiman kumuh dilakukan untuk mewujudkan
kondisi rumah, perumahan, permukiman, dan lingkungan hunian yang lebih baik guna melindungi
keselamatan dan keamanan penghuni dan masyarakat sekitar. Peremajaan dengan cara pembangunan
kembali perumahan dan permukiman melalui penataan secara menyeluruh, meliputi rumah dan
prasarana, sarana, dan fasilitas umum perumahan dan permukiman. Pelaksanaan peremajaan harus
dilakukan dengan terlebih dahulu menyediakan tempat tinggal bagi masyarakat dengan memenuhi norma
dan standar teknis yang berlaku. Peremajaan diterapkan pada permukiman kumuh yang secara struktur
ruang, ekonomi dan perilaku tidak dapat dipertahankan lagi, sehingga tidak dapat ditangani hanya
dengan perbaikan dan peningkatan fisik. Kondisi buruk secara struktur dapat mendorong terciptanya
pemanfaatan ruang yang tidak efisien dan optimal sesuai dengan fungsi yang ditetapkan.

Permukiman kumuh yang mendapatkan penanganan ini umumnya ditandai dengan tidak adanya
kejelasan baik pola struktur prasarana lingkungan, tidak ada kejelasan kesesuaian pola pemanfaatan
ruang, struktur ekonomi memiliki kondisi yang sangat buruk karena tidak ditunjang dengan kemampuan
pengembangan ekonomi kawasan permukiman, tidak dapat beradaptasi dengan kawasan sekitar. Secara
keseluruhan kondisi kawasan tidak mencerminkan pemanfaatan fungsi yang maksimal sesuai dengan
potensi lahannya. Peremajaan wajib dilakukan terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh
dengan klasifikasi kumuh berat dan status tanah legal.

Jenis-jenis penanganan renewal (peremajaan) merupakan jenis penanganan yang bersifat menyeluruh
dengan melakukan pembongkaran segaian atau seluruh komponen permukiman, kemudian merubah
secara struktural dan membangun kembali di lahan yang sama. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
nilai pemanfaatan lahan optimal sesuai dengan potensi lahan, dan diharapkan dapat memberikan nilai
tambah secara ekonomi dan vitalitas baru. Juga cara lain, yakni redevelopment. Hal ini merupakan upaya
penataan kembali suatu permukiman kumuh dengan terlebih dahulu melakukan pembongkaran sarana
dan prasarana, pada sebagian atau seluruh kawasan yang telah dinyatakan tidak dapat lagi
dipertahankan kehadirannya.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 54
BAB 3

Perubahan secara struktural dan peruntukan lahan serta ketentuan-ketentuan pembangunan lainnya
yang mengatur pembangunan baru biasanya terjadi. Restorasi merupakan jenis penanganan untuk
mengembalikan kondisi suatu permukiman kumuh pada kondisi asal sesuai dengan persyaratan yang
benar, menghilangkan tambahan atau komponen yang timbul kemudian mengadakan kembali unsur-
unsur permukiman, yang telah hilang tanpa menambah unsur-unsur baru. Disamping itu peran pelaku,
juga didasari pada sifat penanganannya, maka peran masyarakat sangat besar dalam mengambil
keputusan, terutama dalam penentuan jenis komponen program. Sedangkan peran pemerintah,
pemerintah daerah, dan pelaku lain (swasta) akan lebih banyak dalam mendukung program.

Kebutuhan penanganan permukiman kumuh perkotaan Kota Bantaeng dapat dilihat pada penjelasan
Tabel di bawah ini:

Tabel 3.6 Perumusan Kebutuhan Penanganan Skala Kota

Kondisi Faktual dan Kebijakan Kebutuhan Penanganan


Isu Strategis Penanganan
No Lokasi
Perkotaan di Kota Kumuh Hasil Pencegahan Peningkatan
Bantaeng (Overview)
1 Perkembangan Kecamatan pengandalian, penegakan aturan Penataan Kawasan
pemukiman yang Bantaeng-Bisappu pemanfaatan, perijinan Permukiman
tidak tertata pengawasan dan
penertiban
bangunan

2 Berkembangnya Kecamatan Pengendalian Penegakan aturan Penataan kawasan


pemukiman pada Bantaeng-Bisappu pemukiman pada perijinan dan pemukiman
daerah resapan kawasan Resapan pembatasan area
hunian

3 Sebagian Kecamatan Pengembangan Penegakan aturan Penataan kawasan


Permukiman masih Bantaeng-Bisappu yang sesuai perijinan terkait pemukiman
belum sesuai persyaratan teknis dengan garis
persyaratan teknis sempadan
bangunan

4 Sistem air minum Kecamatan Peningkatan Pemasangan Meningkatkan


yang belum Bantaeng-Bisappu kapasitas PDAM cakupan dan
terpenuhi secara pelayanan air kualitas pelayanan
maksimal minum air minum

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 55
BAB 3

Kondisi Faktual dan Kebijakan Kebutuhan Penanganan


Isu Strategis Penanganan
No Lokasi
Perkotaan di Kota Kumuh Hasil Pencegahan Peningkatan
Bantaeng (Overview)
5 sebagian Kecamatan Menyusun target Melakukan pengembangan
masyarakat belum Bantaeng-Bisappu pengelolaan air sosialisasi sistem sanitasi
memliki sistem limbah domestik peraturan dan yang memenuhi
sanitasi yang layak skala kabupaten, pembinaan dalam standar
Membangun hal pengelolaan air
saranapengumpul limbah domestik,
an dan penguatan
pengelolaan kelembagaan
awal.(tangki
septik),
Menyediakan
sarana
pengangkutan dari
tangki septik ke
IPTL (Truk tinja),
Menyediakan
layanan
penyedotan
lumpur tinja
6 Sistem pengelolaan Kecamatan Pengelolaan sosialisasi dan pengembangan
persampahan dan Bantaeng-Bisappu sistem edukasi terkait dan peningkatan
sarana angkutan persampahan yang penanganan sarana dan
sampah yang kurang baik, Percepatan sampah prsarana
memadai pembangunan persampahan
infrastruktur
persampahan yang
berkualitas
7 Sebagian kondisi , Kecamatan Pembangunan dan Pemeliharaan pengembangan
jalan lingkungan Bantaeng-Bisappu perbaikan jalan jaringan jalan jalan lingkungan
masih merupakan lingkungan lingkungan
jalan tanah yang
tidak terawat
8 sistem jaringan Kecamatan Pengembangan pemeliharan pembangunan dan
drainase yang buruk Bantaeng-Bisappu sistem jaringan drainase pengembangan
dan tidak terkoneksi drainasetersier secara berkala sistem jaringan
direncanakan pada drainase
tepi jalan perkotaan yang
perkotaan di setiap saling terkoneksi
kecamatan,
Pembangunan
drainase
lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 56
BAB 3

Kondisi Faktual dan Kebijakan Kebutuhan Penanganan


Isu Strategis Penanganan
No Lokasi
Perkotaan di Kota Kumuh Hasil Pencegahan Peningkatan
Bantaeng (Overview)
X9 Sistem proteksi Kecamatan Pembuatan sosialisasi sistem pengembangan
kebakaran yang Bantaeng-Bisappu rencana induk proteksi dan pengadaan
tidak memadai sistem proteksi kebakaran, sarana dan
kebakaran penyediaan alat prasarana proteksi
api ringan, kebakaran
penyediaan motor
pemadam untuk
proteksi kebakaran
10 Minimnya ruang Kecamatan Pengembangan Sosialisasi Pengembangan
terbuka hijau skala Bantaeng-Bisappu taman RT dan RW Pemenuhan RTH RTH Lingkungan
lingkungan serta percepatan dan RTH Kota
Pengembangan
RTH Kota
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 57
BAB 3

Tabel. 3.7. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Sungai Pabbineang

KEBUTUHAN PENANGANAN
NO NAMA KAWASAN ASPEK KONDISI FAKTUAL
PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Sungai Pabbineang Bangunan  203 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak  Rehabilitasi RTLH
teratur sesuai persyaratan teknis  Tipekal Rumah

Jalan  672.5 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  239 unit rumah tangga  Sosialisasi Air bersih dan layak  Penyediaan jaringan air bersih
belum terlayani sumber air minum
minum yang layak  Perlindungan area tangkapan air
Drainase  941.4 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum yang sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase yang
 Sosialisasi dan Pemberdayaan rusak
Masyarakat

Pengelolaan Air  102 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis memadai  IPAL
 Program sanitasi berbasis
masyarakat

Pengelolaan  129 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan untuk ikut berperan aktif dalam yang memadai
pengangkutan sampah min. sistem pengelolaan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali persampahan
 Pembentukan KSM untuk
mengelola dan mengangkut
sampah skala lingkungan

Proteksi Kebakaran  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan kebakaran
pemadaman api  Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 58
BAB 3

Tabel. 3.8. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Lantebung

KEBUTUHAN PENANGANAN
NO NAMA KAWASAN ASPEK KONDISI FAKTUAL
PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Lantebung Bangunan  84 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak  Rehabilitasi RTLH
teratur sesuai persyaratan teknis

Jalan  594 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  96 unit rumah tangga belum  Sosialisasi Air bersih dan layak  Penyediaan jaringan air bersih
terlayani sumber air minum minum
yang layak  Perlindungan area tangkapan air
Drainase  1.188 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum yang sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase yang
 Sosialisasi dan Pemberdayaan rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  26 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis memadai
 Program sanitasi berbasis
masyarakat
Pengelolaan  96 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan untuk ikut berperan aktif dalam yang memadai
pengangkutan sampah min. sistem pengelolaan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali persampahan
 Pembentukan KSM untuk
mengelola dan mengangkut
sampah skala lingkungan
Proteksi Kebakaran  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan kebakaran
pemadaman api  Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 59
BAB 3

Tabel. 3.9. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Lamalaka 1

KEBUTUHAN PENANGANAN
NO NAMA KAWASAN ASPEK KONDISI FAKTUAL
PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Lamalaka 1 Bangunan  182 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak  Rehabilitasi RTLH
teratur sesuai persyaratan teknis  Pemb. Rusun

Jalan  3.311 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  460 unit rumah tangga  Sosialisasi Air bersih dan layak  Penyediaan jaringan air bersih
belum terlayani sumber air minum
minum yang layak  Perlindungan area tangkapan air
Drainase  739.21 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum yang sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase yang
 Sosialisasi dan Pemberdayaan rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  313 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis memadai
 Program sanitasi berbasis
masyarakat
Pengelolaan  535 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan untuk ikut berperan aktif dalam yang memadai
pengangkutan sampah min. sistem pengelolaan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali persampahan
 Pembentukan KSM untuk
mengelola dan mengangkut
sampah skala lingkungan
Proteksi Kebakaran  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan kebakaran
pemadaman api  Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 60
BAB 3

Tabel. 3.10. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Jambua

KEBUTUHAN PENANGANAN
NAMA
NO ASPEK KONDISI FAKTUAL
KAWASAN PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Jambua Bangunan  8 Unit bangunan tidak teratur  Pendataan bangunan yang tidak sesuai  Rehabilitasi RTLH
persyaratan teknis  Pembangunan Rusun

Jalan  575.8 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  5 unit rumah tangga belum  Sosialisasi Air bersih dan layak minum  Penyediaan jaringan air bersih
terlayani sumber air minum  Perlindungan area tangkapan air
yang layak
Drainase  0 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase yang  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase
 Sosialisasi dan Pemberdayaan yang rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  63 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang memadai  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis  Program sanitasi berbasis masyarakat
Pengelolaan  70 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat untuk ikut  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan berperan aktif dalam sistem yang memadai
pengangkutan sampah min. pengelolaan persampahan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali  Pembentukan KSM untuk mengelola
dan mengangkut sampah skala
lingkungan
Proteksi  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
Kebakaran prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan pemadaman api kebakaran
 Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 61
BAB 3

Tabel. 3.11. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Ujunng Labbu

KEBUTUHAN PENANGANAN
NAMA
NO ASPEK KONDISI FAKTUAL
KAWASAN PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Ujung Labbu Bangunan  118 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak sesuai  Rehabilitasi RTLH
teratur persyaratan teknis  Pembangunan Rusun

Jalan  380 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  97 unit rumah tangga belum  Sosialisasi Air bersih dan layak minum  Penyediaan jaringan air bersih
terlayani sumber air minum  Perlindungan area tangkapan air
yang layak
Drainase  146 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase yang  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase
 Sosialisasi dan Pemberdayaan yang rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  14 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang memadai  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis  Program sanitasi berbasis masyarakat
Pengelolaan  129 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat untuk ikut  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan berperan aktif dalam sistem yang memadai
pengangkutan sampah min. pengelolaan persampahan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali  Pembentukan KSM untuk mengelola
dan mengangkut sampah skala
lingkungan
Proteksi  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
Kebakaran prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan pemadaman api kebakaran
 Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 62
BAB 3

Tabel. 3.12. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Sungai Calendu

KEBUTUHAN PENANGANAN
NAMA
NO ASPEK KONDISI FAKTUAL
KAWASAN PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Sungai Calendu Bangunan  129 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak sesuai  Rehabilitasi RTLH
teratur persyaratan teknis  Pembangunan Rusun

Jalan  1.495 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  149 unit rumah tangga  Sosialisasi Air bersih dan layak minum  Penyediaan jaringan air bersih
belum terlayani sumber air  Perlindungan area tangkapan air
minum yang layak
Drainase  975 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase yang  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase
 Sosialisasi dan Pemberdayaan yang rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  96 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang memadai  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis  Program sanitasi berbasis masyarakat
Pengelolaan  64 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat untuk ikut  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan berperan aktif dalam sistem yang memadai
pengangkutan sampah min. pengelolaan persampahan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali  Pembentukan KSM untuk mengelola
dan mengangkut sampah skala
lingkungan
Proteksi  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
Kebakaran prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan pemadaman api kebakaran
 Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 63
BAB 3

Tabel. 3.13. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Lembang-Lembang

KEBUTUHAN PENANGANAN
NAMA
NO ASPEK KONDISI FAKTUAL
KAWASAN PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Lembang- Bangunan  127 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak sesuai  Rehabilitasi RTLH
Lembang teratur persyaratan teknis  Pembangunan Rusun

Jalan  590 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  138 unit rumah tangga  Sosialisasi Air bersih dan layak minum  Penyediaan jaringan air bersih
belum terlayani sumber air  Perlindungan area tangkapan air
minum yang layak
Drainase  216 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase yang  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase
 Sosialisasi dan Pemberdayaan yang rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  46 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang memadai  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis  Program sanitasi berbasis masyarakat  IPAL
Pengelolaan  58 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat untuk ikut  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan berperan aktif dalam sistem yang memadai
pengangkutan sampah min. pengelolaan persampahan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali  Pembentukan KSM untuk mengelola
dan mengangkut sampah skala
lingkungan
Proteksi  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
Kebakaran prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan pemadaman api kebakaran
 Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 64
BAB 3

Tabel. 3.14. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Borkal

KEBUTUHAN PENANGANAN
NAMA
NO ASPEK KONDISI FAKTUAL
KAWASAN PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Borkal Bangunan  110 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak sesuai  Rehabilitasi RTLH
teratur persyaratan teknis  Pembangunan Rusun

Jalan  826 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  125 unit rumah tangga  Sosialisasi Air bersih dan layak minum  Penyediaan jaringan air bersih
belum terlayani sumber air  Perlindungan area tangkapan air
minum yang layak
Drainase  110.3 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase yang  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase
 Sosialisasi dan Pemberdayaan yang rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  45 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang memadai  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis  Program sanitasi berbasis masyarakat  IPAL
Pengelolaan  88 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat untuk ikut  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan berperan aktif dalam sistem yang memadai
pengangkutan sampah min. pengelolaan persampahan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali  Pembentukan KSM untuk mengelola
dan mengangkut sampah skala
lingkungan
Proteksi  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
Kebakaran prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan pemadaman api kebakaran
 Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 65
BAB 3

Tabel. 3.15. Kebutuhan Penanganan Skala Kawasan Kayangan

KEBUTUHAN PENANGANAN
NAMA
NO ASPEK KONDISI FAKTUAL
KAWASAN PENCEGAHAN PENINGKATAN
1. Kayangan Bangunan  60 Unit bangunan tidak  Pendataan bangunan yang tidak sesuai  Rehabilitasi RTLH
teratur persyaratan teknis  Pembangunan Rusun

Jalan  187 meter jalan mengalami  Sosialisasi dan Pemberdayaan  Peningkatan Kualitas jaringan jalan
kerusakan Masyarakat lingkungan
 Pendampingan Masyarakat  Pembangunan Jalan lingkungan
Air Minum  83 unit rumah tangga belum  Sosialisasi Air bersih dan layak minum  Penyediaan jaringan air bersih
terlayani sumber air minum  Perlindungan area tangkapan air
yang layak
Drainase  209.5 meter drainase tidak  Pemeliharaan jaringan drainase yang  Peningkatan kapasitas volume daya
Lingkungan memenuhi kualitas minimum sudah ada tampung
 Normalisasi sungai/kali mati  Rekonstruksi Jaringan drainase
 Sosialisasi dan Pemberdayaan yang rusak
Masyarakat
Pengelolaan Air  48 unit rumah tangga tidak  Sosialisasi hidup sehat  Pembangunan septick tank komunal
Limbah memiliki jamban sesuai  Penyediaan sarana yang memadai  Septick tank plus
dengan persyaratan teknis  Program sanitasi berbasis masyarakat  IPAL
Pengelolaan  19 unit rumah tangga tidak  Pemberdayaan masyarakat untuk ikut  Penyediaan sarana dan prasarana
Sampah terjangkau pelayanan berperan aktif dalam sistem yang memadai
pengangkutan sampah min. pengelolaan persampahan  Penyediaan biaya operasional
2 minggu sekali  Pembentukan KSM untuk mengelola
dan mengangkut sampah skala
lingkungan
Proteksi  Belum tersedia sarana  Sosialisasi kepada warga  Penyediaan jalur mobil pemadam
Kebakaran prasana proteksi kebakaran  Pemberian ketrampilan pemadaman api kebakaran
 Pembentukan unit pemadam
kebakaran skala lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 66
BAB 1

BAB IV
KONSEP DAN STRATEGI PENCEGAHAN
DAN PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN KUMUH

Konsep dan strategi ini pada dasarnya merupakan amanat dari UU No 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan
kawasan permukiman, yang diturunkan atau di jabarkan oleh Permen PUPR Nomor 02/PRT/M/2016 tentang
peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh. Dimana Pencegahan dan
peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh guna meningkatkan mutu
kehidupan dan penghidupan masyarakat penghuni dilakukan untuk mencegah tumbuh dan
berkembangnya perumahan kumuh dan permukiman kumuh baru serta untuk menjaga dan
meningkatkan kualitas dan fungsi perumahan dan permukiman. Pencegahan dan peningkatan kualitas
terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh wajib dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah
daerah, dan/atau setiap orang.

A. Konsep dan Strategi Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Kumuh Dalam Skala Kota

Konsep Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Skala Kota ini diangkat dari kondisi
aktual yang ada di Kota Bantaeng disertai issue-issue strategis apa saja yang berpengaruh dalam
pembangunan infrastruktur di wilayah Kota Bantaeng, dengan demikian akan diketahui kebutuhan
penanganan, konsep penanganan dan strategi penanganan sebagai berikut :

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 67
BAB 4

Tabel. 4.1. Konsep dan Strategi Penganan Permukiman Kumuh Skala Kota

Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


Review Kebijakan Penanganan
No Kondisi Faktual
Permukiman Kumuh Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
1.  Berkembangnya  Pengendalian pembangunan  Penegakan  Permukiman  Pengawasan dan  Permukiman  Meningkatkan  Penyiapan lahan
bangunan dilahan permukiman pada daerah aturan perijinan kembali pengendalian kembali regulasi pendirian relokasi
yang tidak sesuai sempadan sungai/ pantai  Memaksimalkan  Peremajaan pembangunan  Peremajaan bangunan permukiman
peruntukannya  Pengendalian terhadap aspek daya tampung bangunan baru lingkungan  Mensinkronkan kembali
(sempadan sungai KDB (Koefisien Dasar lahan efektif permukiman perizinan dengan  Diarahkan
atau pantai) Bangunan) pada kelurahan perencanaan tata pembangunan
 Perkembangan  pengandalian, pemanfaatan, lain ruang secara vertikal
pemukiman yang pengawasan dan penertiban seperti
tidak tertata bangunan RUSUNAWA
 Penataan
kawasan dengan
pengaturan petak
bangunan
2.  Kondisi eksisting  Arahan pengembangan  Kajian teknis  Peningkatan  Pengawasan dan  Peremajaan  Pembangunan  Peningkatan
drainase tidak drainase berupa peningkatan yang lebih konstruksi dan pengendalian infrastruktur drainase konstruksi dan
mampu menampung kualitas konstruksi jaringan mikro untuk perluasan  Pemberdayaan drainse memperhitungkan perluasan
limpasan air hujan drainase, dan pembangunan/ pintu air pada jaringan drainase Masyarakat debit air, spek jaringan drainase
 Kecenderungan perluasan jaringan drainase sungai-sungai dengan konstruksi secara teknis dan dengan konstruksi
masyarkat dengan konstruksi beton yang outletnya beton terkoneksi dengan beton
membuang sampah  Kajian teknis yang lebih mikro langsung drainase sekunder  Pembuatan
di drainase primer untuk pintu air pada sungai- masuk pada  Pelibatan resapan air yang
 sistem jaringan sungai yang outletnya jaringan masyarakat dari mampu
drainase yang buruk langsung masuk pada jaringan drainase proses mengurangi
dan tidak terkoneksi drainase  Sosialisasi dan perencanaan genangan air.
 Sosialisasi intensif kepada pemberdayaan pelaksanaan dan  Pemeliharaan
masyarakat disepanjang masyarakat pemeliharaan kondisi drainase
bantaran sungai  Pemeliharaan sehingga tercipta secara berkala
 Normalisasi bantaran sungai jaringan kepedulian dan
drainase yang pemeliharaannya
sudah ada  Membentuk tim
terpadu
pengawasan
bangunan dan
drainase kota.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 68
BAB 4

Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


Review Kebijakan Penanganan
No Kondisi Faktual
Permukiman Kumuh Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
3. Sebagian kawasan  Peningkatan sistim  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan pada  Sosialisasi dan  Peningkatan
tidak terlayani oleh pengelolaan sampah yang penerapan sarana dan Masyarakat untuk sarana dan penerapan sarana dan
kendaraan berwawasan lingkungan, pengolahan prasarana ikut berperan aktif prasarana pengolahan prasarana
pengangkut sampah mendorong partisipasi sampah sistim pengelolaan dalam sistem pengelolaan sampah sistim 3R pengelolaan
masyarakat dalam pengelolaan 3R sampah pengelolaan sampah di masyarakat dan sampah
persampahan dan  Peningkatan persampahan sekolah-sekolah,  Meningkatkan
mengamankan kawasan sistem  Pengawasan dan melalui seminar, Sistem
perairan Kota Bantaeng (sungai manajemen Pengendalian pamflet, papan Pengelolaan
dan pesisir pantai) dari sampah persampahan pengumuman dan Persampahan
 Pengelolaan sampah berbasis  Penyusunan media lainnya (UPTD)
masyarakat, yaitu sistim master plan  Pengelolaan  Melakukan
pengelolaan yang melibatkan persampahan sampah berbasis pembangunan
masyarakat secara langsung Kota Bantaeng masyarakat TPS Terpadu
dalam pengumpulan sampah  Peningkatan
khususnya pada kawasan sistem
permukiman berkepadatan manajemen
tinggi dan pada kawasan yang persampahan
tidak terjangkau oleh mobil
sampah
 Peningkatan sarana dan
prasarana pengelolaan sampah
yang jumlahnya sesuai
kebutuhan yaitu tong sampah
pemilihan, TPS/TPST, gerobak
sampah, dump truck, amroll,
container sampah
 Sosialisasi dan penerapan
pengolahan sampah sistim 3R
di masyarakat dan sekolah-
sekolah, melalui seminar,
pamflet, papan pengumuman
dan media lainnya
 Peningkatan sistem
manajemen persampahan
 Penyusunan master plan
persampahan Kota Bantaeng

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 69
BAB 4

Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


Review Kebijakan Penanganan
No Kondisi Faktual
Permukiman Kumuh Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
4. Kualitas Air PDAM  Melakukan pendataan  Sosialisasi dan  Pengadaan  Pemberdayaan  Peremajaan  Mengelola sumber  Menambah
yang belum memenuhi mengenai jumlah kebutuhan air pemberdayaan sumber air minum Masyarakat air yang ada jaringan saluran
kelayakan air minum bersih untuk masyarakat masyarakat alternatif  Pengawasan dan dengan air bersih ke
 Pembangunan jaringan pipa air  Perlindungan Pengendalian mengkampanyeka lingkungan
bersih sampai kerumah area tangkapan n hemat air  Pengadaan
penduduk air teknologi
 Menambah kapasitas jaringan penyulingan air
air baku sesuai kebutuhan bersih
 Membangun berbagai  Menambah
infrastruktur air bersih sumber air baku
5. Kawasan permukiman  Membatasi perkembangan  Sosialiasi dan  Peningkatan  Pengawasan dan  Peremajaan  Sosialisasi  Penyediaan
berada pada daerah pembangunan di wilayah rawan edukasi rambu-rambu pengendalian  Permukiman mitigasi rawan fasilitas
rawan bencana bencana mengenai keselamatan dan  Pemberdayaan kembali untuk bencana, penyelamatan
 Mengembangkan jalur dan aturan dan bangunan masyarakat daerah dengan  Pemasangan alat pada lokasi yang
ruang evakuasi bencana pada ketentuan pengaman resiko bencana peringatan dini merupakan
wilayah yang rawan bencana di teknis dalam bencana tinggi bahaya datangnya kawasan yang
Kota Bantaeng pembangunan bencana. terkena bencana
permukiman  Memberdayakan  Membangun talud
masyarakat penahan atau
setempat sebagai pemecah ombak
relawan siaga  Revitalisasi
bencana saluran yang
 Peningkatan dilalui lahar dingin
Kapasitas dan atau banjir lainnya
Partsipasi
Masyarakat dalam
menangani
kebencanaan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 70
BAB 4

B. Konsep dan Strategi Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Skala
Kawasan

Kawasan kumuh di Kota Bantaeng terdiri atas 2 kawasan yaitu Kawasan Lamalaka, dan Kawasan Sungai
Pabbineang. Dari dua kawasan tersebut dua diantaranya memiliki karakteristik permasalahan yang
hampir sama dan tipologi, sehingga dalam upaya perumusan konsep, sehingga dalam upaya perumusan
konsep pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh skala kawasan akan di sajikan tiap
permasalahan di kawasan kumuh tersebut dan nantinya akan di jadikan dasar perumusan program
penanganan tiap kawasan kumuh tersebut. Berikut konsep pencegahan dan peningkatan kualitas
permukiman kumuh skala kawasan sebagai berikut :

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 71
BAB 4

Tabel. 4.2 Konsep dan Strategi Penganan Permukiman Kumuh Skala Kawasan

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
1. Lamalaka Bangunan  182 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
bangunan tidak bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
teratur tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  3.311 meter  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
jalan mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  460 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  739.21 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
 Sering terjadi sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
banjir akibat  Sosialisasi dan  Pembangunan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama  Pembangunan Tanggul
pasang air laut Pemberdayaan Tanggul terkait pembuangan Pantai
Masyarakat sepanjang Pantai sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 72
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  313 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  535 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya 
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong- 
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 73
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
2. Bantaran Bangunan  203 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Penyediaan lahan/hunian
Sungai bangunan tidak bangunan yang  Pembangunan dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk RTLH
Pabbineang teratur tidak sesuai Tipekal Rumah pengendalian  Peremajaan Pemilik Rumah terdampak
persyaratan melalui  Sosialisasi daerah  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan terbatas pembangunan RTLH
perizinan hunian  Melakukan pengelolaan RTH
baru di kelurahan yang
 Sosialisasi memungkinkan
Jalan  672.5 meter  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan paving
jalan mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat blok untuk jalan lingkungan
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  239 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan &  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih pengendalian air dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum bawah tanah penambahan  Melibatkan masyarakat  Membangun sumber air
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi dalam pemeliharaan minum baru
layak area tangkapan masyarakat jaringan air jaringan air minum dan
air untuk kampanye sumber mata air
hemat air
Drainase  941.4 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan drainase  Pengkajian teknis mikro  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting outlet pembuangan air ke Pabbineang
Pemberdayaan pantai  Rehabilitasi Tanggul Sungai
Masyarakat  Membuat turunan perda
dan atau aturan bersama
terkait pembuangan
sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 74
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  102 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Pemb. IPAL
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal  Melakukan program septick
teknis  Program kepada  Penggunaan tank plus
sanitasi masyarakat tekhnologi baru,
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  129 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Pendampingan  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah pengelolaan sampah TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan dengan sistem 3R
minggu sekali persampahan pemanfaatan  Peningkatan sistem
 Pembentukan sampah manajemen persampahan
KSM untuk  Penyuluhan  Pembuatan turunan aturan
mengelola dan kepada warga perda terkait pembuangan
mengangkut masyarakat sampah
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Pembangunan /pembuatan
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia jalur evakuasi bencana
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya  Penyediaan hidrant
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 75
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
3. Lantebung Bangunan  84 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
bangunan tidak bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
teratur tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  594 meter jalan  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  96 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  1.188 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama
Pemberdayaan terkait pembuangan
Masyarakat sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 76
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  26 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  96 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 77
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
4. Jambua Bangunan  8 Unit bangunan  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
tidak teratur bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  575.8 meter  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
jalan mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  5 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  0 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama
Pemberdayaan terkait pembuangan
Masyarakat sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 78
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  63 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  70 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 79
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
5. Ujung Labbu Bangunan  118 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
bangunan tidak bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
teratur tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  380 meter jalan  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  97 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  146 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama
Pemberdayaan terkait pembuangan
Masyarakat sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 80
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  14 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  129 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 81
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
6. Sungai Bangunan  129 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
Calendu bangunan tidak bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
teratur tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  1.495 meter  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
jalan mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  149 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  975 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama
Pemberdayaan terkait pembuangan
Masyarakat sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 82
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  96 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  64 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 83
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
7. Lembang- Bangunan  127 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
Lembang bangunan tidak bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
teratur tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  590 meter jalan  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  138 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  216 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama
Pemberdayaan terkait pembuangan
Masyarakat sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 84
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  46 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  58 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 85
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
8. Borkal Bangunan  110 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
bangunan tidak bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
teratur tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  826 meter jalan  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  125 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  110.3 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama
Pemberdayaan terkait pembuangan
Masyarakat sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 86
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  45 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  88 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 87
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
9. Kayangan Bangunan  60 Unit  Pendataan  Rehabilitasi RTLH  Pengawasan  Pemugaran  Melakukan Pemberdayaan  Menyiapkan lahan/hunian
bangunan tidak bangunan yang  Relokasi ke dan RTLH dan Pendekatan pada sementara untuk pemugaran
teratur tidak sesuai Rusunawa pengendalian  Pembangunan Pemilik Rumah RTLH
persyaratan melalui Rusunawa  Melakukan pemugaran dan
teknis penegakan pembangunan RTLH
perizinan hunian  Relokasi permukiman
baru  Melakukan pengelolaan RTH
 Sosialisasi di kelurahan yang
memungkinkan
Jalan  187 meter jalan  Sosialisasi dan  Peningkatan  Pemberdayaan  Pemugaran  Melakukan pendampingan  Membangun jalan beton
mengalami Pemberdayaan Kualitas jaringan Masyarakat Jalan yang terhadap masyarakat  Membangun jalan paving
kerusakan Masyarakat jalan lingkungan dalam mengalami blok untuk jalan lingkungan
 Pendampingan  Pembangunan perencanaan kerusakan
Masyarakat Jalan lingkungan dan  Peremajaan
pengawasan jalan yang
belum sesuai
dengan standar
teknis yang ada
Air Minum  83 unit rumah  Sosialisasi Air  Penyediaan  Pengawasan  Peremajaan  Melakukan pemeliharaan  Melakukan pembangunan
tangga belum bersih dan layak jaringan air bersih dan dengan jaringan air minum jaringan air minum baru
terlayani sumber minum pengendalian penambahan
air minum yang  Perlindungan  Pemberdayaan instalasi
layak area tangkapan masyarakat jaringan air
air untuk kampanye
hemat air
Drainase  209.5 meter  Pemeliharaan  Peningkatan  Pemberdayaan  Peremajaan  Melakukan review master  Perbaikan jaringan drainase
Lingkungan drainase tidak jaringan kapasitas volume masyarakat drainase plan drainase  Peningkatan jaringan
memenuhi drainase yang daya tampung melalui memperbaiki  Kajian rencana drainase drainase
kualitas sudah ada  Rekonstruksi sosialisasi kualitas dan terkoneksi dari hulu  Pengangkatan sedimentasi
minimum  Normalisasi Jaringan drainase  Pengawasan meningkatkan sampai hilir drainase
sungai yang rusak dan fungsi drainase  Membuat turunan perda  Normalisasi Sungai
 Sosialisasi dan pengendalian eksisting dan atau aturan bersama
Pemberdayaan terkait pembuangan
Masyarakat sampah pada drainase

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 88
BAB 4

Nama Kebutuhan Penanganan Konsep Penanganan Strategi Penanganan


No Aspek Kondisi Faktual
Kawasan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan Pencegahan Peningkatan
Pengelolaan  48 unit rumah  Sosialisasi  Pembangunan  Pemberdayaan  Pembangunan  Melakukan pendampingan  Pembebasan lahan
Air Limbah tangga tidak hidup sehat septick tank masyrakat jamban keluarga terhadap masyarakat  Melakukan pembangunan
memiliki jamban  Penyediaan komunal melalui  Pembangunan septick tank komunal
sesuai dengan sarana yang  Septick tank plus Pendampingan septick tank  Merehabilitasi kembali
persyaratan memadai dan penyuluhan komunal septictank komunal
teknis  Program kepada  Penggunaan  Melakukan program septick
sanitasi masyarakat tekhnologi baru, tank plus
berbasis bagi solusi
masyarakat keterbatasan
lahan
Pengelolaan  19 unit rumah  Pemberdayaan  Penyediaan  Pemberdayaan  TPS Terpadu  Sosialisasi dan penerapan  Pembebasan lahan
Sampah tangga tidak masyarakat sarana dan masyarakat  Pengadaan alat pengelolaan sampah  Pengadaan kendaraan motor
terjangkau untuk ikut prasarana yang dengan operasional sistem 3R pengangkut sampah
pelayanan berperan aktif memadai Pendampingan pengangkut  Peningkatan sistem  Melakukan pembangunan
pengangkutan dalam sistem  Penyediaan biaya dan Pemberian sampah manajemen persampahan TPS terpadu
sampah min. 2 pengelolaan operasional ketrampilan  Pembuatan turunan aturan
minggu sekali persampahan pemanfaatan perda terkait pembuangan
 Pembentukan sampah sampah
KSM untuk  Penyuluhan
mengelola dan kepada warga
mengangkut masyarakat
sampah skala  Pembentukan
lingkungan lembaga
pengelola
sampah
 Pengawasan &
pengendalian
Proteksi  Belum tersedia  Sosialisasi  Penyediaan jalur  Pemberdayaan  Pengidentifikasi  Sosialisasi titik-titik rawan  Pembebasan Lahan
Kebakaran sarana prasana kepada warga mobil pemadam masyarakat titik-titik kebakaran dan titik-titik  Penyediaan hidrant
proteksi  Pemberian kebakaran dengan pembuatan hidrant yang tersedia  Penyediaan APAR
kebakaran ketrampilan  Pembentukan unit Sosialisasi hidrant  Sosialisasi bahaya
pemadaman api pemadam kepada warga  Penyediaan kebakaran
kebakaran skala  Pemberian kantong-
lingkungan ketrampilan kantong air
pemadaman api pemadam
kebakaran

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 89
BAB 4

C. Strategi Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Sampai dengan


Pencapaian Kota Bebas Kumuh Dalam Skala Kota

Dalam upaya mencapai terwujudnya program bebas kumuh di tahun 2020 di Kota Bantaeng, maka
Strategi Penyusunan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan
(RP2KPKP) Kota Bantaeng yaitu:

1. Peningkatan kualitas permukiman kumuh


2. Peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur permukiman perkotaan sesuai dengan
karakteristiknya.
3. Pemberdayaan Masyarakat dalam pemeliharaan dan pengelolaan infrastruktur permukiman perkotaan.
4. Mengoptimalkan sumber daya alam dan sumber daya buatan
5. Pembangunan kawasan permukiman baru dengan pelayanan infrastruktur yang layak dengan
memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
6. Meningkatkan implementasi rencana tata ruang perkotaan dan pengendalian pemanfaatan ruang
perkotaan

Terkait dengan hal tersebut dibutuhkan komitmen bersama diantara stakeholder di Kota Bantaeng untuk
bersama-sama membangun permukiman dan infrastruktur permukiman di seluruh wilayah Kota Bantaeng
agar tercapai masyarakat yang maju, mandiri dan sejahtera, sehingga setiap tahapan pembangunan
permukiman dan infrastruktur permukiman harus jelas arah atau sasaran. Mengingat target utama
penanganan kawasan kumuh ini 0% pada tahun 2019, maka perlu ada target atau sasaran yang harus
tercapai dalam tiap tahun perencanaanya sehingga apa yang menjadi dari tujuan perencanaan
pembangunan permukiman dan infrastruktur dapat tercapai sesuai apa yang diharapkan bersama.
Adapun target atau sasaran yang hendak di capai dalam program tiga tahunan sebagai berikut :

1) Tahun Pertama (2017)


Tersusun keterpaduan penanganan kawasan kumuh yang jelas serta didukung dengan basis data
yang akurat dan pendanaan yang jelas

2) Tahun Kedua (2018)


Terpenuhinya kebutuhan dasar dalam pembangunan permukiman dan infrastruktur permukiman di
seluruh wilayah Kota Bantaeng

3) Tahun Ketiga (2019)


Terwujudnya kawasan permukiman yang layak huni dan bebas kumuh di seluruh wilayah Kota
Bantaeng

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 90
BAB 4

Tabel. 4.3 Strategi Bebas Kumuh

No Tujuan Kebijakan Sasaran Strategi

Tahun Pertama (2017)


I Tersusun keterpaduan a. Meningkatkan pengawasan 1. Terpadunya pembangunan a. Meningkatkan kualitas SDM
penanganan kawasan kumuh yang pembangunan permukiman baru oleh permukiman dan infrastruktur b. Meningkatkan fungsi lembaga/badan
jelas serta didukung dengan basis pihak pengembang perkotaan dengan rencana tata ruang pengawas rencana tata ruang
data yang akurat dan pendanaan b. Meningkatkan peran dan fungsi tata 2. Tersusunnya arah perencanaan dan c. Meningkatkan koordinasi pelaksanaan
yang jelas ruang dalam pembangunan pembangunan permukiman dan pembangunan permukiman dan
permukiman dan infrastruktur infrastruktur perkotaan infrastruktur perkotaan
perkotaan
c. Meningkatkan anggaran pembangunan
infrastruktur
Tahun Kedua (2018)
II Terpenuhinya kebutuhan dasar a. Menciptakan tata kelola pengelolaan 1. Terpenuhinya backlog kebutuhan a. Meningkatkan pembangunan rusunawa.
dalam pembangunan permukiman dan pembangunan permukiman dan rumah b. Meningkatkan pembangunan
dan infrastruktur permukiman di infrastruktur permukiman 2. Terpenuhinya kebutuhan permukiman baru
seluruh wilayah Kota Bantaeng b. Mewujudkan iklim investasi infrastruktur permukiman c. Meningkatkan pelayanan public terhadap
pembangunan infrastruktur dan 3. Terjalinnya kerjasama kemitraan pengelolaan air minum dan sampah
permukiman pengelolaan infrastruktur d. Menyediakan sarana pendukung
c. Meningkatkan pembangunan permukiman pengelolaan sampah dan sanitasi yang
infratruktur permukiman di seluruh 4. Tersusunnya regulasi pengaturan memadai
wilayah Kota Bantaeng secara dan pengendalian pembangunan e. Menyiapkan sumber daya manusia yang
komprehensif permukiman baru handal
d. Meningkatkan peran dan fungsi 5. Tersedianya tekhnologi tepat guna f. Menyusun regulasi regulasi pengaturan
infrastruktur permukiman secara dan ramah lingkungan dan pengendalian pembangunan
maksimal permukiman baru
e. Meningkatkan pemeliharaan g. Mengembangkan alternatif baru
infrastruktur permukiman yang sudah pengelolaan sampah dan sanitasi
ada. h. Menjalin kerjasama kemitraan dengan
f. Meningkatkan pengendalian perubahan pihak swasta pengadaan dan pengelolaan
alih fungsi lahan air minum dan sampah
g. Mengembangkan tekhnologi tepat guna
dan ramah lingkungan

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 91
BAB 4

No Tujuan Kebijakan Sasaran Strategi

Tahun Ketiga (2019)


III Terwujudnya Kawasan a. Meningkatkan pembangunan permukiman 1. Terwujudnya pembangunan a. Menggalakan pembangunan rusunawa.
Permukiman yang Layak Huni dan baru kawasan baru b. Meningkatkan pemerataan pembangunan
Bebas Kumuh di seluruh wilayah b. Meningkatkan kualitas hunian tidak layak 2. Terwujudnya penataan kawasan kawasan permukiman baru
Kota Bantaeng huni permukiman kumuh di perkotaan c. Menyediakan lingkungan siap bangunan
c. Meningkatkan daya beli rumah 3. Tersedianya rumah layak huni bagi beserta infrastruktur pendukungnya
d. Meningkatan penataan kawasan masyarakat MBR d. Memberikan intensif dan disintensif bagi
permukiman 4. Tercukupinya kebutuhan tempat para pelaku pembangunan rumah
e. Meningkatkan pembangunan infrastruktur tinggal (rumah) (developer)
permukiman 5. Terlaksananya pembangunan e. Meningkatkan pelayanan perizinan
f. Meningkatkan jaringan pelayanan dan infrastruktur permukiman di pendirian kawasan permukiman baru
distribusi infrastruktur permukiman kawasan baru dan kawasan f. Meningkatkan penyediaan air minum dan
g. Meningkatkan peran aktif swasta dan permukiman kumuh sanitasi di kawasan permukiman kumuh
peran serta masyarakat 6. Terjalinnya kerjasama antar g. Mengembangkan alternatif baru sumber
h. Meningkatkan kerjasama antar intansi, instansi-lembaga dan kementerian air minum
lembaga dan kementerian dalam upaya menangani kawasan h. Meningkatkan pelayanan infrastruktur
permukiman kumuh persampahan dan pengelolaan sampah
7. Tersusunnya peran serta swasta i. Mengembangkan alternatif baru
dalam penanganan kawasan pengelolaan sampah dan sanitasi
permukiman kumuh dan j. Mengembangkan alternatif baru sumber-
pembangunan kawasan baru sumber air baku
8. Tersusunnya peran serta k. Meningkatkan kondisi jaringan jalan dan
masyarakat drainase di kawasan permukiman kumuh
l. Meningkatkan kegiatan rehap rumah
tidak layak huni
m. Menggalakan kegiatan penghijauan di
tingkat lingkungan
n. Menggalakan pemberdayaan masyarakat
kawasan permukiman kumuh
o. Menjalin kerjasama dengan swasta
p. Menjalin kerjasama antar instansi-
lembaga dan kementerian
Sumber : Hasil Analisis, Tahun 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 92
BAB 5

BAB V
RENCANA AKSI PENATAAN DAN PENINGKATAN
KUALITAS PERMUKIMAN KUMUH

Rencana Aksi (Action Plan) adalah suatu rencana kegiatan yang lebih terperinci untuk menterjemahkan
konsep dan strategi-stretegi serta arahan pembangunan yang telah diindikasikan dalam rencana penataan
dan penigkatan kualitas permukiman kumuh.

Sehubungan dengan itu maka pada Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh
(RP2KP-KP) Kota Bantaeng tahun 2017, khususnya di kawasan kumuh akan menguraikan lebih detail
terhadap program dan kegiatan.

Rencana aksi terdiri dari aspek fisik dan non-fisik kawasan kumuh, sebagai berikut :

A. Aspek Fisik Lingkungan, meliputi:

1. Peningkatan akses kawasan dan lingkungan


2. Pembangunan rumah layak huni
3. Normalisasi & peningkatan pelayanan drainase
4. Peningkatan Pelayanan Sanitasi Lingkungan
5. Peningkatan layanan air minum
6. Peningkatan layanan persampahan
7. Prasarana Penerangan Jalan
8. Prasarana Pencegahan Kebakaran

B. Aspek Sosial Kesyarakatan, meliputi :

1. Peran serta masyarakat dalam penataan dan peningkatan kualitas lingkungan.


2. Keterlibatan lembaga masyarakat untuk peduli lingkungan
3. Sosialisasi dari intansi terkait dalam peningkatan kualitas lingkungan permukman
4. Pemberdayaan masyarakat atau lembaga masyarakat untuk pelaksanaan iven-iven/lomba
kebersihan lingkungan.

Adapun rencana aksi penanganan kumuh pada masing-masing kawasan sebagaimana dimaksud adalah
sebagai berikut :

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 93
BAB 5

C. Rencana Aksi Penataan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kota Bantaeng

Tabel 5.1. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Lamalaka

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK

A. Sektor Pengembangan Permukiman


Peningkatan akses 1.1 Peningkatan jalan
kawasan & lingkungan
Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Lamalaka L= 1,5 m PU, Perumahan APBD 819.472.500
T= 15 cm
P= 3.311 m
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
1. Normalisasi & 1.1 Peningkatan Saluran Drainase
peningkatan
Rehab. Drainase Lamalaka P= 739 m PU, Perumahan APBD 554.250.000
pelayanan
2. Peningkatan Pemb.Septik tank komunal Lamalaka 2 Unit PU 800.000.000
Pelayanan Sanitasi (1 Kawasan)
Lingk. Pemb.Jamban Keluarga Lamalaka 313 unit PU, Kesehatan 1.565.000.000

C. Pengembangan Air Minum (PSDA)


Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Lamalaka 460 unit PDAM APBD 920.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Lamalaka 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan
Pengadaan Gerobak Sampah Lamalaka 3 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 45.000.000

Pengadaan Bak Sampah Rumah Lamalaka 535 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 133.750.000
Tangga Bahan Drum

E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Lamalaka 3 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 45.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 94
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehab. RTLH Lamalaka 252 unit Dinas APBD 1.764.000.000
hunian sesuai dengan PU,Perumahan,Sosia
fungsi Rehabilitasi l dan Bappeda
bangunan hunian sesuai
dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 6.656.472.500

ASPEK NON FISIK


Mengoptimalkan peran Pelibatan masyarakat dalam proses Lamalaka LS APBD 5.000.000
serta masyarakat dalam pembangunan
peningk. kualitas Sosialisasi ke masyarakat Lamalaka LS APBD 5.000.000
lingkungannya pentingnya kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga Lamalaka LS APBD 10.000.000
keswadayaan masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 6.676.472.500


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 95
BAB 5

Tabel 5.2. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Jambua

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK

A. Sektor Pengembangan Permukiman


Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan jalan
& lingkungan
Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Jambua L= 1,5 m PU, Perumahan APBD 142.312.500
T= 15 cm
P= 575 m
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal Jambua 1 Unit Dinas PUPR 400.000.000
Sanitasi Lingkungan (1 Kawasan)
PembangunanJamban Keluarga Jambua 63 unit Dinas PUPR, 315.000.000
Dinas Kesehatan
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Jambua 5 unit PDAM APBD 10.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Jambua 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Jambua 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Jambua 70 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 17.500.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Jambua 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehab. RTLH Jambua 35 unit Dinas PUPR, APBD 245.000.000
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 1.1998.812.500

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 96
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Jambua LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Jambua LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Jambua LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 1.219.812.500


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 97
BAB 5

Tabel 5.3. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Pa’bineang


Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)
Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK
A. Sektor Pengembangan Permukiman
Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan Jalan
& lingkungan Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Pa’bineang L= 1,5 m Dinas PUPR, APBD 166.443.750
T= 15 cm Perumahan
P= 672,5 m
Normalisasi dan Peningatan 1.2 Peningkatan Saluran Drainase
Pelayanan Rehabilitasi Drainase Pa,bineang P= 941 m Dinas PUPR, APBD 705.750.000
Perumahan
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal Pa’bineang 1 Unit PU 400.000.000
Sanitasi Lingkungan (1 Kawasan)
PembangunanJamban Keluarga Pa’bineang 102 unit PU, Kesehatan 510.000.000
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Pa’bineang 239 unit PDAM APBD 478.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Pa’bineang 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Pa’bineang 3 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 45.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Pa’bineang 129 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 32.250.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Pa’bineang 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehabilitasi RTLH Pa’bineang 107 unit Dinas PUPR, APBD 749.000.000
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 3.111.443.750

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 98
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Pa’bineang LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Pa’bineang LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Pa’bineang LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 3.131.443.750


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 99
BAB 5

Tabel 5.4. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Lantebung


Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)
Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK
A. Sektor Pengembangan Permukiman
Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan Jalan
& lingkungan Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Lentebung L= 1,5 m Dinas PUPR, APBD 147.015.000
T= 15 cm Perumahan
P= 594 m
Normalisasi dan Peningatan 1.2 Peningkatan Saluran Drainase
Pelayanan Rehabilitasi Drainase Lentebung P= 1.188 m Dinas PUPR, APBD 891.000.000
Perumahan
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal Lentebung 1 Unit Dinas PUPR 400.000.000
Sanitasi Lingkungan (1 Kawasan)
PembangunanJamban Keluarga Lentebung 26 unit Dinas PUPR, 130.000.000
Kesehatan
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Lentebung 96 unit PDAM APBD 192.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Lentebung 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Lentebung 2 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 30.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Lentebung 96 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 24.000.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Lentebung 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehabilitasi RTLH Lentebung 61 unit Dinas PUPR, APBD 427.000.000
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 2.296.015.000

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 100
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Lentebung LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Lentebung LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Lentebung LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 2.316.015.000


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 101
BAB 5

Tabel 5.5. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Ujung Labbu


Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)
Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK
A. Sektor Pengembangan Permukiman
Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan Jalan
& lingkungan Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Ujung Labbu L= 1,5 m Dinas PUPR, APBD 94.050.000
T= 15 cm Perumahan
P= 380 m
Normalisasi dan Peningatan 1.2 Peningkatan Saluran Drainase
Pelayanan Rehabilitasi Drainase Ujung Labbu P= 146 m Dinas PUPR, APBD 109.500.000
Perumahan
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal
Sanitasi Lingkungan PembangunanJamban Keluarga Ujung Labbu 14 unit Dinas PUPR, APBD 70.000.000
Kesehatan
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Ujung Labbu 97 unit PDAM APBD 194.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Ujung Labbu 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Ujung Labbu 2 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 30.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Ujung Labbu 129 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 32.250.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Ujung Labbu 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehabilitasi RTLH Ujung Labbu 52 unit Dinas PUPR, APBD 364.000.000
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 948.800.000

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 102
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Ujung Labbu LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Ujung Labbu LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Ujung Labbu LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 968.800.000


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 103
BAB 5

Tabel 5.6. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Calendu


Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)
Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK
A. Sektor Pengembangan Permukiman
Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan Jalan
& lingkungan Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Calendu L= 1,5 m Dinas PUPR, APBD 370.012.500
T= 15 cm Perumahan
P= 1.495 m
Normalisasi dan Peningatan 1.2 Peningkatan Saluran Drainase
Pelayanan Rehabilitasi Drainase Calendu P= 975 m Dinas PUPR, APBD 731.250.000
Perumahan
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal Calendu 1 unit PU, Kesehatan APBD 400.000.000
Sanitasi Lingkungan (1 kawasan)
PembangunanJamban Keluarga Calendu 96 unit PU, Kesehatan APBD 480.000.000
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Calendu 149 unit PDAM APBD 298.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Calendu 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Calendu 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Calendu 64 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 16.000.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Calendu 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehabilitasi RTLH Calendu 80 unit Dinas PUPR, APBD 560.000.000
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 2.925.262.500

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 104
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Calendu LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Calendu LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Calendu LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 2.945.262.500


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 105
BAB 5

Tabel 5.7. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Lembang-Lembang


Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)
Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK
A. Sektor Pengembangan Permukiman
Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan Jalan
& lingkungan Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Lembang-Lembang L= 1,5 m Dinas PUPR, APBD 146.025.000
T= 15 cm Perumahan
P= 590 m
Normalisasi dan Peningatan 1.2 Peningkatan Saluran Drainase
Pelayanan Rehabilitasi Drainase Lembang-Lembang P= 216 m Dinas PUPR, APBD 162.000.000
Perumahan
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal Lembang-Lembang 1 Unit PU APBD 400.000.000
Sanitasi Lingkungan (1 Kawasan)
PembangunanJamban Keluarga Lembang-Lembang 46 unit Dinas PUPR, APBD 230.000.000
Kesehatan
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Lembang-Lembang 138 unit PDAM APBD 478.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Lembang-Lembang 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Lembang-Lembang 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Lembang-Lembang 58 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 14.500.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Lembang-Lembang 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehabilitasi RTLH Lembang-Lembang 102 unit Dinas PUPR, APBD 714.000.000
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 2.012.525.000

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 106
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Lembang-Lembang LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Lembang-Lembang LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Lembang-Lembang LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 2.032.525.000


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 107
BAB 5

Tabel 5.8. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Borkal


Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)
Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK
A. Sektor Pengembangan Permukiman
Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan Jalan
& lingkungan Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Borkal L= 1,5 m Dinas PUPR, APBD 204.435.000
T= 15 cm Perumahan
P= 826 m
Normalisasi dan Peningatan 1.2 Peningkatan Saluran Drainase
Pelayanan Rehabilitasi Drainase Borkal P= 110 m Dinas PUPR, APBD 82.500.000
Perumahan
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal Borkal 1 Unit PU APBD 400.000.000
Sanitasi Lingkungan (1 Kawasan)
PembangunanJamban Keluarga Borkal 45 unit Dinas PUPR, APBD 225.000.000
Kesehatan
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Borkal 125 unit PDAM APBD 250.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Borkal 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 40.000.000
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Borkal 2 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 30.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Borkal 88 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 22.000.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Borkal 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehabilitasi RTLH Borkal 65 unit Dinas PUPR, APBD 455.000.00
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 1.723.935.000

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 108
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Borkal LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Borkal LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Borkal LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 1.743.935.000


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 109
BAB 5

Tabel 5.9. Rencana Aksi Permukiman Kumuh di Kayangan


Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)
Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK FISIK
A. Sektor Pengembangan Permukiman
Peningkatan akses kawasan 1.1 Peningkatan Jalan
& lingkungan Pemb. Jalan Lingkungan Rabat Beton Kayangan L= 1,5 m Dinas PUPR, APBD 46.282.500
T= 15 cm Perumahan
P= 187 m
Normalisasi dan Peningatan 1.2 Peningkatan Saluran Drainase
Pelayanan Rehabilitasi Drainase Kayangan P= 209 m Dinas PUPR, APBD 156.750.000
Perumahan
B. Sektor Penyehatan Lingkungan
Peningkatan Pelayanan Pembangunan Septik tank komunal Kayangan 1 Unit Dinas PUPR APBD 400.000.000
Sanitasi Lingkungan (1 Kawasan)
PembangunanJamban Keluarga Kayangan 48 unit Dinas PUPR, APBD 240.000.000
Kesehatan
C. Pengembangan Air Minum (PSDA)
Peningkatan layanan air Penyediaan jaringan air bersih Kayangan 83 unit PDAM APBD 166.000.000
minum
D. Pengolahan Persampahan
Peningkatan layanan Pengadaan Motor Sampah Kayangan 0 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 0
persampahan Pengadaan Gerobak Sampah Kayangan 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Pengadaan Bak Sampah Rumah Tangga Kayangan 19 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 4.750.000
Bahan Drum
E. Prasarana Kebakaran
Prasarana Pencegahan Pengadaan Hidrant Air (Proteksi Kayangan 1 unit Dinas Lingk.Hidup APBD 15.000.000
Kebakaran Kebakaran) dan PDAM
F. Bangunan
Rehabilitasi bangunan Rehabilitasi RTLH Kayangan 64 unit Dinas PUPR, APBD 448.000.00
hunian sesuai dengan fungsi Perumahan, Sosial
Rehabilitasi bangunan dan Bappeda
hunian sesuai dengan fungsi
JUMLAH ASPEK FISIK 1.491.782.500

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 110
BAB 5

Sumber Pembiayaan Jangka Waktu (Th.)


Program Kegiatan Lokasi Volume Pelaku
Dana (Rp) 1 2 3 4 5
ASPEK NON FISIK
Mengoptimalkan peran serta Pelibatan masyarakat dalam proses Kayangan LS APBD 5.000.000
masyarakat dalam peningk. pembangunan
kualitas lingkungannya Sosialisasi ke masyarakat pentingnya Kayangan LS APBD 5.000.000
kebersihan lingkungan
Pelatihan bagi lembaga keswadayaan Kayangan LS APBD 10.000.000
masyarakat

JUMLAH ASPEK NON FISIK 20.000.000

TOTAL ASPEK FISIK + NON FISIK 1.511.782.500

REKAPITULASI
TOTAL JUMLAH ASPEK FISIK 22.336.048.750

TOTAL JUMLAH ASPEK 180.000.000

TOTAL JUMLAH ASPEK FISIK + NON FISIK 22.546.048.750


Sumber : Hasil Analisis Tim, 2017

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 111
BAB 5

Tabel 5.10. Skala Prioritas Penataan dan Peningkatan Kualitas Kumuh Kota Bantaeng

NO LOKASI KAWASAN KUMUH SKALA PRIORITAS

1 Kawasan Sungai Pa,bineang


2 Kawasan Lembang-Lembang
PERTAMA
3 Kawasan Borkal
4 Kawasan Kayangan

1 Kawasan Lamalaka KEDUA

1 Kawasan Lantebung
2 Kawasan Jambua
KETIGA
3 Kawasan Ujung Labbu
4 Kawasan Calendu

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 112
BAB 6

BAB VI
RENCANA DETAIL KONSEP DESAIN
KAWASAN PENANGANAN RIORITAS

A. Penyiapan Dokumen DED

Secara umum penyusunan dokumen DED RP2KPKP Kota Bantaeng merupakan penyusunan laporan
pekerjaan yang berupa gambar kerja secara lengkap dan terdiri dari berbagai skala gambar. Dalam
pelaksanaan penyusunan DED, tahapan kegiatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

Pekerjaan persiapan meliputi kegiatan mobilisasi personil, peninjauan lokasi kegiatan (survey
pendahuluan), penyusunan rencana kerja yang meliputi waktu dan lama pengukuran lokasi, dan
memantapkan rencana kerja dalam pelaksanaan perencanaan. Pada pekerjaan persiapan ini juga
dilakukan penilaian kondisi awal pada lokasi yang akan direncanakan, yang meliputi :

• Melakukan pengamatan kondisi eksisting.


• Mengkaji beberapa fasilitas pelengkap/pendukung atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
perencanaan teknis.

2. Survey Lapangan

Untuk lebih memahami permasalahan dan perencanaan, maka perlu diadakan survey lapangan di
lokasi kegiatan. Survey lapangan juga dilakukan untuk mendapatkan kelengkapan data yang
dibutuhkan untuk analisis. Beberapa survey yang akan dilakukan disesuaikan dengan jenis dan
kriteria dari DED yang akan disusun.

3. Analisis dan Perencanaan

Berdasarkan data yang didapat dari hasil survey kemudian dilakukan analisis untuk pengambilan
keputusan didalam perencanaan suatu kegiatan. Dalam perencanaan tentunya sangat dibutuhkan
data – data yang akurat sehingga nantinya akan sesuai dengan diharapkan.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 113
BAB 6

4. Penyusunan DED

• Menyusun Disain Teknis Beserta Gambar Teknisnya, Meliputi kegiatan perencanaan teknis DED
yaitu perencanaan sesuai dengan jenis masing-masing kegiatan yang berhubungan langsung
dengan masalah-masalah teknis, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan gambar
kerja/rencana teknis. Gambar kerja ini disusun berdasarkan hasil yang didapat dari perencanaan
teknis DED dan dibuat rapi dalam satu bentuk album gambar.
• Menyusun Spesifikasi Teknis Kegiatan, Pada kegiatan ini akan disusun spesifikasi teknis dari
bahan bangunan dan syarat pelaksanaan yang berhubungan dengan desain teknis.

Pada dasarnya anggaran biaya merupakan bagian terpenting dalam menyelenggarakan suatu kegiatan.
Yang dimaksud dengan Rencana Anggaran Biaya adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan
untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut,
seperti digambarkan sebagai berikut:

Analisa Satuan
Tenaga Kerja Pekerjaan

RAB
Harga Bahan
Volume Pekerjaan

B. Rencana Pembangunan Penanganan Permukiman Tahap 1

Berdasarkan hasil diskusi (FGD) maupun dengan internal Tim Pokja Kabupaten Bantaeng, maka telah
disepakati 3 Kawasan pembangunan tahap 1 yang terdiri dari 4 Kawasan 11.18 Hektar. Detail Kawasan
tersebut adalah :

1. Kawasan Pabbineang dengan luas deliniasi kumuh 4.6 Ha


2. Kawasan Lembang-Lembang dengan luas deliniasi kumuh 2.19 Ha
3. Kawasan Borkal dengan luas deliniasi kumuh 2.16 Ha
4. Kawasan Kayangan dengan luas deliniasi kumuh 2.23 Ha

Dengan mengetahui jumlah kawasan beserta jumlah luasan yang sudah disepakati bersama, maka akan
ditindak lanjuti dengan melakukan pengukuran untuk perencanaan kegiatan fisik pembangunannya,
dengan menghitung panjang, lebar dan volumenya.

Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) Kabupaten Bantaeng 114

Anda mungkin juga menyukai