Anda di halaman 1dari 19

PANCASILA DALAM LINTASAN SEJARAH

Disusun oleh :

Bastian Jordan Sinaga


18/429410/EK/22019

Universitas Gadjah Mada


Yogyakarta
2018

1
Kata Pengantar
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan YME atas berkat rahmat dan
nikmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu,
Makalah ini dibuat untuk memenuhi Tugas Makalah pada Mata Kuliah Pendidikan
Pancasila.

Makalah yang berjudul “Pancasila Dalam Lintasan Sejarah” dibuat berdasarkan


hasil penyusunan data-data yang diperoleh melalui berbagai referensi seperti buku, jurnal,
website, serta literatur lainnya yang berkaitan dengan Mata Kuliah Pendidikan Pancasila.
Selaku penulis makalah, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
mendukung dan bekerja sama dalam penyelesaian makalah ini, sehingga pembaca dapat
membaca makalah ini.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan. Semoga makalah ini dapat


memberikan manfaat kepada penulis dan seluruh pembaca. Penulis minta maaf bila ada
kesalahan dalam makalah ini dan mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
memperbaiki makalah menjadi jauh lebih baik.

2
Daftar Isi

Halaman Judul …………………………………………………………………………….. 1

Kata Pengantar………………………………………………………………………………2

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………..3

Bab I Pendahuluan………………………………………………………………………….4

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………...4

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………….4

1.3 Tujuan…………………………………………………………………………..4

Bab II Pembahasan…………………………………………………………………………5

2.1 Pengantar………………………………………………………………………5

2.2 Pengertian Pancasila………………………………………………………….6

2.3 Zaman Kerajaan……………………………………………………………….7

2.4 Zaman Penjajahan……………………………………………………………10

2.5 Zaman Pembentukan Pancasila…………………………………………….11

2.6 Zaman Orde Lama……………………………………………………………15

2.7 Zaman Orde Baru…………………………………………………………….16

2.8 Zaman Reformasi…………………………………………………………….17

Bab III Penutup……………………………………………………………………………..18

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………...18

3.2 Kritik dan Saran……………………………………………………………...18

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………..19

3
Bab I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia dan sekaligus menjadi ciri dari
kepribadian bangsa Indonesia itu sendiri. Kelima sila dalam Pancasila memiliki nilai dan
makna yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima sila
tersebut mengandung nilai esensial, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan,
Kerakyatan, dan Keadilan yang dalam realitasnya secara objektif telah dimiliki bangsa
Indonesia sejak zaman dahulu kala. Proses pembentukan Pancasila sendiri sudah melalui
proses yang sangat panjang dimana sejak zaman kerajaan nilai-nilai Pancasila sudah
mulai diterapkan oleh masyarakat namun belum memahami nilai-nilai itu sendiri. Dengan
proses yang panjang akhirnya Pancasila dibentuk yang dalam proses perumusannya
banyak dipengaruhi oleh interaksi dengan system berpikir dan nilai-nilai budaya lainnya.
Proses yang sangat panjang dalam terbentuknya Pancasila ini harus dipahami oleh
masyarakat sekarang agar dapat mengetahui esensi dari Pancasila itu sendiri. Dengan
begitu, masyarakat dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, penulis akan menjelaskan proses lahirnya Pancasila sampai yang terjadi
saat ini.

1.2 Rumsuan Masalah

1. Mengetahui definisi dari Pancasila

2. Mengetahui fungsi dan nilai Pancasila dalam lintasan waktu

3. Mengetahui rumusan Pancasila pada awal perumusan, dalam Piagam Jakarta, dan
dalam pembukaaan UUD 1945.

4. Mengetahui proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara

1.3. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada
pembaca bagaimana Pancasila terbentuk dan dimana posisi Pancasila dalam lintasan
waktu bangsa ini. Dalam hal ini, kita akan mengetahui posisi dan sejarahnya mulai dari
awal munculnya pancasila hingga saat ini.

4
Bab II

Pembahasan

2.1. Pengantar

Identitas suatu masyarakat dan bangsa dapat terbentuk melalui proses panjang
dan rumit yang diturunkan oleh generasi yang telah tinggal di wilayah tersebut. Hal ini
menunjukkan bahwa dasar negara yang kita miliki saat ini tidak terlepas dari pengaruh
budaya dalam kehidupan masyarakat dimana kebudayaan tersebut bersumber dari akal
pikiran manusia sendiri. Pada zaman prasejarah penduduk wilayah Indonesia ini telah
memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Hal ini dapat terlihat dengan
peninggalan-peniggalan yang tersisa dari zaman prasasti seperti candi, prasasti, upacara
adat dan keagamaan, dan lain-lain. Selain itu, kebudayaan masyarakat zaman prasejarah
yang tinggi juga melahirkan sifat-sifat gotong royong, bermusyawarah, dan kekeluargaan
dimana sifat-sifat tersebut tercantum dalam Pancasila. Sifat-sifat inilah yang
mempersatukan bangsa Indonesia yang meskipun tersebar luas pada ribuan pulau namun
tetap bersatu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga tidak dapat
dipungkiri bahwa nilai-nilai Pancasila sudah dimiliki oleh masyarakat Indonesia zaman
dahulu. Nilai-nilai pada masyarakat itulah yang diangkat oleh para pendiri negara untuk
dijadikan sebagai dasar filsafat negara Indonesia. Pancasila sendiri disahkan melalui
proses yang panjang dan rumit hingga akhirnya sudah melekat pada kehidupan
masyarakat saat ini. Pada masa kini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui nilai-nilai
dari Pancasila tersebut serta dapat mengamalkannya karena dengan begitu bangsa
Indonesia tidak akan kehilangan jati dirinya.

5
2.2. Pengertian Pancasila

1. Menurut etimologi kata


Secara etimologi kata “Pancasila” berasal dari Bahasa sansekerta dari
India yaitu pancaI yang berarti “lima” dan sila yang berarti “dasar’. Jadi,
secara harafiah Pancasila diartikan sebagai “lima dasar”.

2. Menurut Sejarah
Pancasila sudah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan Sriwijaya
dimana sila-sila yang terdapat dalam Pancasila tersebut sudah dipraktikan
oleh masyarakat maupun kerajaan meskipun sila-sila tersebut belum
dirumuskan secara konkrit. Menurut kitab Sutasoma karangan Mpu
tantular, Pancasila berarti “berbatu sendi yang lima” atau “pelaksanaan
kesusilaan yang lima”.

3. Pengertian Pancasila Menurut Para Ahli

Beberapa pengertian Pancasila menurut para tokoh pendiri bangsa


sebagai berikut

A. Muhammad Yamin

Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang
berarti sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan
baik. Dengan demikian Pancasila merupakan lima dasar yang berisi
pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.

B. Notonegoro

Pancasila adalah dasar falsafah negara indonesia, sehingga


dapat diambil kesimpulan bahwa Pancasila merupakan dasar falsafah dan
ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa
Indonesia sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan
serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia.

C. Ir. Soekarno

Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun


sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat. Dengan
demikian, Pancasila tidak saja falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni
falsafah bangsa Indonesia.

6
2.3. Zaman Kerajaan

Dalam masa ini, masyarakat sudah menerapkan nilai-nilai yang sangat mirip
dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nilai-nilai tersebut antara lain :

1. Nilai Religius
Adanya sistem penguburan mayat diketahui dari ditemukannya kuburan serta
kerangka di dalamnya. Selain itu juga ditemukan alat-alat yang digunakan untuk aktivitas
religi seperti upacara mendatangkan hujan, dll. Adanya keyakinan terhadap pemujaan roh
leluhur juga dan penempatan menhir (kubur batu) di tempat-tempat yang tinggi yang
dianggap sebagai tempat roh leluhur, tempat yang penuh keajaiban dan sebagai batas
antara dunia manusia dan roh leluhur.
2. Nilai Perikemanusiaan
Tampak dalam perilaku kehidupan saat itu misalnya penghargaan terhadap
hakikat kemanusiaan yang ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap manusia
meskipun sudah meninggal. Hal ini menggambarkan perilaku berbuat baik terhadap
sesama manusia, yang pada hakekatnya merupakan wujud kesadaran akan nilai
kemanusiaan. Mereka juga sudah mengenal sistem barter antara kelompok pedalaman
dengan pantai dan persebaran kapak. Selain itu mereka juga menjalin hubungan dengan
bangsa-bangsa lain. Hal ini menandakan bahwa mereka sudah bisa menjalin hubungan
sosial.
3. Nilai Kesatuan
Adanya kesamaan bahasa Indonesia sebagai rumpun bahasa Austronesia,
sehingga muncul kesamaan dalam kosa kata dan kebudayaan. Hal ini sesuai dengan teori
perbandingan bahasa menurut H. Kern dan benda- benda kebudayaan Pra Sejarah Von
Heine Gildern. Kecakapan berlayar karena menguasai pengetahuan tentang laut, musim,
perahu, dan astronomi, menyebabkan adanya kesamaan karakteristik kebudayaan
Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankan jika lautan juga merupakan tempat tinggal
selain daratan. Itulah sebabnya mereka menyebut negerinya dengan istilah Tanah Air.
4. Nilai Musyawarah
Kehidupan bercocok tanam dilakukan secara bersama-sama. Mereka sudah
memiliki aturan untuk kepentingan bercocok tanam, sehingga memungkinkan tumbuh
kembangnya adat sosial. Kehidupan mereka berkelompok dalam desa-desa, klan, marga
atau suku yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang dipilih secara musyawarah
berdasarkan Primus Interpares (yang pertama diantara yang sama).

7
5. Nilai Keadilan Sosial
Dikenalnya pola kehidupan bercocok tanam secara gotong-royong berarti
masyarakat pada saat itu telah berhasil meninggalkan pola hidup foodgathering menuju ke
pola hidup foodproducing. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu upaya kearah
perwujudan kesejahteraan dan kemakmuran bersama sudah ada.

2.3.1 Zaman Kerajaan Kutai


Kerajaan kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia dan se-Asia Tenggara
dimana kerajaan ini bercorak Hindu. Pendiri kerajaan ini serta yang menjadi raja
pertama kerajaan Kutai adalah raja Kudungga. Kemudian jabatan ini dipegang oleh
anaknya, Asmawarman, lalu dipegang oleh anak dari Asmawarman yaitu
Mulawarman. Kerajaan ini mengalami puncak kejayaannya dibawah pemerintahan
Mulawarman. Mulawarman kemudian memberikan 20.000 lembu kepada para
brahmana sebagai ucapan syukur dan para Brahmana membuatkan tujuh buah Yupa
sebagai tanda terima kasih. Hal tersebut menunjukan nilai social politik dan
Ketuhanan telah ada pada kerajaan Kutai. Dimana bentuk kerajaan dengan agama
dijadikan sebagai pengikat kewibawaan raja.

Nilai Pancasila:

1) Nilai Ketuhanan : memeluk agama Hindu

2) Nilai Kerakyatan : rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur

3) Nilai Persatuan : wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh kawasan


Kalimantan Timur

2.3.2 Zaman Kerajaan Sriwijaya


Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar di Indonesia dimana
kerajaan ini memiliki armada laut yang sangat kuat serta letak yang strategis pada jalur
perdagangan. Kerajaan ini memiliki cita-cita yang sama dengan cita-cita kesejahteraan
bersama dalam suatu Negara dimana hal tersebut tercermin dalam perkataan “Marvuai
Vannua Criwijaya Siddhayatra Subhika” (suatu cita-cita negara yang adil dan makmur).
Kerajaan Sriwijaya memiliki nilai-nilai yang sama dengan nilai nilai yang
terkandung dalam sila-sila Pancasila yang antara lain ialah :

1) Nilai sila pertama, terwujud dengan adanya agama Budha dan Hindu
yang hidup berdampingan secara damai. Pada Kerajaan Sriwijaya
terdapat pusat kegiatan pembinaan dan pengembangan agama
Buddha.

8
2) Nilai sila kedua, terjalinnya hubungan antara Sriwijaya dengan India
(Dinasti Marsha). Pengiriman para pemuda untuk belajar ke India
menunjukan telah tumbuh nilai-nilai politik luar negeri yang bebas
aktif.
3) Nilai sila ketiga, sebagai Negara Maritim, Kerajaan Sriwijaya telah
menerapkan konsep Negara kepulauan sesuai dengan konsep
wawasan nusantara.
4) Nilai sila keempat, Kerajaan Sriwijaya telah memiliki kedaulatan yang
luas meliputi Siam dan Semenanjung Melayu.
5) Nilai sila kelima, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pelayanan dan
perdagangan sehingga kehidupan rakyatnya sangat makmur.

2.3.3 Zaman Kerajaan Majapahit


Kerjaan Majapahit merupakan kerajaan yang sangat terkenal di penjuru nusantara
pada saat itu dimana wilayah kekuasannya sudah meliputi seluruh nusantara bahkan
merambah hingga ke daerah luar nusantara dimana sebagai refleksi puncak budaya
kerajaan tersebut dibangun lah Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Agama yang dilaksanakan pada zaman Kerajaan Majapahit ini adalah Agama
Hindu dan Budha yang saling hidup berdampingan secara damai. Pada masa ini mulai
dikenal beberapa istilah dan nilai-nilai Pancasila pada Kerajaan Majapahit, yaitu sebagai
berikut:
1) Nilai sila pertama, terbukti pada waktu agama Hindu dan Budha hidup
berdampingan secara damai. Istilah Pancasila terdapat dalam
bukuNegarakertagama karangan Empu Prapanca dan Empu Tantular
mengarang buku Sutasoma yang terdapat Sloka persatuan nasional yang
berbunyi”Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua” yang artinya,
walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua dan tidak ada agama yang
memiliki tujuan berbeda.
2) Nilai sila kedua, terwujud pada hubungan baik Raja Hayam Wuruk dengan
Kerajaan Tiongkok, Ayoda, Champa, dan Kamboja. Disamping itu juga
menjalin persahabatan dengan Negara-negara tetangga.
3) Nilai sila ketiga, terwujud dengan keutuhan kerajaan. Khususnya dalam
Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang
Ratu dan Menteri-menteri pada tahun 1331
4) Nilai sila keempat, terdapat semacam penasehat dalam tata pemerintahan
Majapahit yang menunjukan nilai-nilai musyawarah mufakat. Menurut
Prasasti Kerajaan Brambang (1329), dalam tata Pemerintahan Kerajaan
Majapahit terdapat semacam penasehat kerajaan. Seperti, Rakryan I Hino,

9
I Sirikan dan I Halu yang berarti memberikan nasehat kepada Raja.
Kerukunan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat telah
menumbuhkan adat bermusyawarah untuk mufakat dalam memutuskan
masalah bersama.
5) Nilai sila kelima, terwujud dengan berdirinya kerajaan selama beberapa abad
yang ditopang dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

2.4. Zaman Penjajahan


Pada zaman penjajahan, nilai-nilai dalam Pancasila semakin nyata
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penderitaan yang dirasakan akibat
penjajahan mengakibatkan kepala-kepala daerah bersatu untuk melawan penjajah dimana
hal tersebut mempererat persatuan rakyat Indonesia dengan menyingkirkan ego masing-
masing demi mencapai tujuan bersama yakni bebas dari segala jenis penjajahan.
Penderitaan yang dialami bangsa Indonesia pada zaman inilah yang harus diingat dan
dikenang oleh masayarakat sekarang sehingga kejadian seperti ini tidak akan terulang di
masa yang akan datang. Soekarno pernah mengatakan “Jangan sekali-kali meninggalkan
sejarah”. Dari perkataan tersebut dapat dimaknai bahwa sejarah mempunyai fungsi yang
beragam bagi kehidupan. Seperti diungkap seorang filsuf Yunani yang bernama Cicero
(106-43 SM) yang mengungkapkan “Historia Vitae Magistra”, yang bermakna, “sejarah
memberikan kearifan”. Pengertian yang lebih umum yaitu “Sejarah merupakan guru
kehidupan”. Sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan
suatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tidak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita
itu menjadi kabur dan usang, maka bangsa itu adalah dalam bahaya (Soekarno, 1989: 64).
Cita-cita ideal sebagai landasan moralitas bagi kebesaran bangsa diperkuat oleh
cendekiawan-politisi Amerika Serikat, John Gardner, “No nation can achieve greatness
unless it believes in something, and unless that something has moral dimensions to sustain
a great civilization” (Tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran kecuali jika bangsa
itu mempercayai sesuatu, dan sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi
moral guna menopang peradaban besar) (Madjid dalam Latif, 2011: 42).
Kuat dan mengakarnya Pancasila dalam jiwa bangsa menjadikan Pancasila terus
berjaya sepanjang masa. karena ideologi Pancasila tidak hanya sekedar “confirm and
deepen” identitas Bangsa Indonesia sepanjang masa. Sejak Pancasila digali dan
dilahirkan kembali menjadi Dasar dan Ideologi Negara, maka ia membangunkan dan
membangkitkan 2 identitas yang “tertidur” dan yang “terbius” selama kolonialisme”
(Abdulgani, 1979: 22).

10
2.5. Zaman pembentukan Pancasila
Dalam masa pembentukan Pancasila, periodenya dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

2.5.1 Periode Pengusulan Pancasila


Pengusulan Pancasila dapat terjadi karena adanya rasa nasionalisme yang kuat
yang tertanam dalam masyarakat dan para tokoh-tokoh ternama pada masa ini. Jiwa
nasionalisme yang kuat ini semakin menguat dengan dikeluarkannya Soempah Pemoeda
pada 28 Oktober 1928. Hal tersebutlah yang menjadi awal adanya pengusulan dasar
negara yang kemudian dibahas oleh para tokoh kemerdekaan pada sidang BPUPKI yang
pertama pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Dalam siding tersebut, terdapat 4 tokoh
yang mengusulkan dasar negara, yaitu Mr. Muh Yamin, Ir. Soekarno, Ki Bagus
Hadikusumo, dan Mr. Soepomo. Keempat tokoh tersebut mengutarakan pendapat mereka
mengenai dasar negara menurut pandangan mereka masing-masing. Meskipun demikian,
perbedaan pendapat di antara tokoh tersebut tidak mengurangi semangat kesatuan dan
persatuan demi mewujudkan Indonesia merdeka. Akhirnya dasar negara ditentukan
setelah Soekarno memberikan pidato mengenai lima butir gagasan tentang dasar negara,
yakni :

a. Nasionalisme atau kebangsaaan Indonesia,

b. Internasionalisme atau peri kemanusiaan,

c. Mufakat atau demokrasi,

d. Kesejahteraan Sosial,

e. Ketuhanan yang berkebudayaan.

Setelah pidato Soekarno, sidang menerima usulan nama Pancasila bagi dasar
filsafat negara (Philosofische gronslag) yang diusulkan oleh soekarno dalam pidatonya.
Barulah kemudian dibentuk panitia kecil yang bertugas menampung usul-usul seputar
calon dasar negara. Sehingga setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya
Pancasila.

11
2.5.2 Periode Perumusan Pancasila
Dalam sidang BPUPKI kedua yang berlangsung pada tangga 10-16 Juli 1945,
disetujuinya naskah awal “Pembukaan Hukum Dasar” yang kemudian dikenal dengan
nama Piagam Jakarta (Jakarta Chartered). Piagam Jakarta merupakan naskah awal
pernyataan kemerdekaan Indonesia dimana pada alinea ke-empat tersebut terdapat
rumusan Pancasila sebagai berikut
1. Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4..Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Naskah awal “Pembukaan Hukum Dasar” yang dijuluki “Piagam Jakarta” ini di
kemudian hari dijadikan “Pembukaan” UUD 1945, dengan mengalami berbagai perubahan
dalam susunan kalimatnya.
Saat Bangsa Indonesia sedang sibuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia,
secara tiba-tiba terjadi kejadian bom jatuhnya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki
sehingga mengakibatkan kekuatan militer Jepang melemah dan menarik pasukannya dari
daerah jajahan dan diambil alih oleh sekutu. Namun, sebelum sekutu menjangkau wilayah
Indonesia telah terjadi kekosongan kekuasaan yang tidak disia-siakan oleh tokoh nasional.
Pemimpin nasional pada waktu itu langsung mengambil keputusan politis yang penting
guna mempercept rencana kemerdekaan bangsa Indonesia.

2.5.3 Periode Perumusan Pancasila


Kekosongan kekuasaan sesaat setleh Jepang menyerah kepada sekutu membuat
golongan muda Indonesia mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan
secepatnya. Namun golongan tua tidak mau mengambil keputusan terlalu cepat sehingga
adanya perselisihan antara golongan muda dan golongan tua hingga pada puncaknya
golongan muda menculik Soekarno dan M. Hatta ke Rengas Dengklok, dengan harapan
Soekarno dan M. Hatta dapat lepas dari pengaruh Jepang. Setelah melalui proses yang
berliku, akhirnya teks proklamasi dibuat dengan usulan dari Soekarno dan M Hatta serta
diketik oleh Sayuti Melik pada pukul 02.00-04.00 dini. Teks ini kemudian dibacakan pada
17 Agustus 1945 pukul 10.00 oleh Ir. Soekarno. Kemudian pada 18 Agustus 1945
disahkannya UUD 1945 yang dalam pembukaannya pada alinea keempat, terdapat
rumusan Pancasila yang sedikit berbeda dengan piagam Jakarta dimana sila pertama
diubah kalimatnnya menjadi “ Ketuhanan Yang Maha Esa” guna menjaga kesatuan dan
persatuan bangsa Indonesia.

12
Kemudian tanggal 18 Agustus pada rapat PPKI, ditetapkan UUD 1945 dan
Presiden serta Wakilnya. Sesudah itu dimulailah pergolakan politik dalam negeri seperti
berikut ini.
1. Pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS)
Sebagai hasil dari konferensi meja bundar (KMB) maka ditanda tangani suatu persetujuan
(Mantel resolusi) oleh Ratu Belanda Yuliana dan Wakil Pemerintah RI di Kota Den Haag
pada tanggal 27 Desember 1949, maka berlaku pulalah secara otomatis anak-anak
persetujuan hasil KMB lainnya dengan konstitusi RIS, antara lain:
·Konstitusi RIS menentukan bentuk negara serikat (federalis) yaitu 16 Negara. (Pasal 1
dan 2)
·Konstitusi RIS menentukan sifat pemerintah berdasarkan asas demokrasi liberal dimana
mentri-mentri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah terhadap
parlemen (Pasal 118 Ayat 2).
·Mukadimah RIS telah menghapuskan sama sekali jiwa dan semangat maupun isi
pembukaan UUD 1945, proklamasi kemerdekaan sebagai naskah Proklamasi yang terinci.
Sebelum persetujuan KMB, bangsa Indonesia telah memiliki kedaulatan, oleh karena itu
persetujuan 27 Desember 1949 tersebut bukannya penyerahan kedaulatan melainkan
“pemulihan kedaulatan” atau “pengakuan kedaulatan”.

2. Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1950


Berdirinya negara RIS dalam Sejarah ketatanegaraan Indonesia adalah sebagai
suatu taktik secara politis untuk tetap konsisten terhadap deklarasi Proklamasi yang
terkandung dalam pembukaan UUD 1945 yaitu negara persatuan dan kesatuan
sebagaimana termuat dalam alinea IV, bahwa Pemerintah Negara “..... yang melindungi
segenap bangsa Indoneia dan seluruh tumpah darah negara Indonesia .....” yang
berdasarkan kepada UUD 1945 dan Pancasila. Maka terjadilah gerakan unitaristis secara
spontan dan rakyat untuk membentuk negara kesatuan yaitu menggabungkan diri dengan
Negara Proklamasi RI yang berpusat di Yogyakarta, walaupun pada saat itu Negara RI
yang berpusat di Yogyakarta itu hanya berstatus sebagai negara bagian RIS saja.
Pada suatu ketika negara bagian dalam RIS tinggalah 3 buah negara bagian saja yaitu
Negara Bagian RI Proklamasi, Negara Indonesia Timur (NIT), dan Negara Sumatera Timur
(NST).
Akhirnya berdasarkan persetujuan RIS dengan Negara RI tanggal 19 Mei 1950,
maka seluruh negara bersatu dalam negara kesatuan, dengan Konstitusi Sementara yang
berlaku sejak 17 Agustus 1950.
Walaupun UUDS 1950 telah merupakan tonggak untuk menuju cita-cita Proklamasi,
Pancasila dan UUD 1945, namun kenyataannya masih berorientasi kepada Pemerintah

13
yang berasas Demokrasi Liberal sehingga isi maupun jiwanya merupakan penyimpangan
terhadap Pancasila. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
· Sistem multi partai dan kabinet Parlementer berakibat silih bergantinya kabinet yang rata-
rata hanya berumur 6 atau 8 tahun. Hal ini berakibat tidak mempunyai pemerintah yang
menyusun program serta tidak mampu menyalurkan dinamika Masyarakat ke arah
pembangunan, bahkan menimbulkan pertentangan-pertentangan, gangguan-gangguan
keamanan serta penyelewengan-penyelewengan dalam masyarakat.
·Secara Ideologis Mukadimah Konstitusi Sementara 1950, tidak berhasil mendekati
perumusan otentik Pembukaan UUD 1945, yang dikenal sebagai Declaration of
Independence Bangsa Indonesia. Demikian pula perumusan Pancasila dasar negara juga
terjadi penyimpangan. Namun bagaimanapun juga RIS yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945 dari negara Republik Indonesia Serikat.
Pada akhir era ini, terjadi pergolakan politik yang tidak berujung. Hal inilah yang mendorong
Presiden Soekarno megeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959.

3. Dekrit Presiden 05 Juli 1959


Pada pemilu tahun 1955 dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi harapan dan
keinginan masyarakat, bahkan mengakibatkan ketidakstabilan pada politik, sosial,
ekonomi dan hukum. Hal ini disebabkan oleh konstituante yang seharusnya membuat UUD
negara RI ternyata membahas kembali dasar negara, maka presiden sebagai badan yang
harus bertanggung jawab mengeluarkan dekrit atau pernyataan pada tanggal 5 Juli 1959,
yang isinya :
o Membubarkan Konstituante
o Menetapkan kembali UUD 45 dan tidak berlakunya kembali UUD 50
o Dibentuknya MPR dan DPR dalam waktu yang sesingkat-singkatnya

Berdasarkan Dekrit Presiden tersebut maka UUD 1945 berlaku kembali di negara
Republik Indonesia hingga saat ini. Dekrit adalah suatu putusan dari orang tertinggi (kepala
negara atau orang lain) yang merupakan penjelmaan kehendak yang sifatnya sepihak.
Dekrit dilakukan bila negara dalam keadaan darurat, keselamatan bangsa dan negara
terancam oleh bahaya. Landasan hukum dekrit adalah “Hukum Darurat” yang dibedakan
atas dua macam yaitu :
a. Hukum Tatanegara Darurat Subjektif
Hukum Tatanegara Darurat Subjektif yaitu suatu keadaan hukum yang memberi
wewenang kepada orang tertinggi untuk mengambil tindakan-tindakan hukum.
b. Hukum Tatanegara Darurat Objektif
Hukum Tatanegara Darurat Objektif yaitu suatu keadaan hukum yang memberikan
wewenang kepada organ tertinggi negara untuk mengambil tindakan-tindakan hukum,
tetapi berlandaskan konstitusi yang berlaku.

14
Setelah dekrit presiden 5 Juli 1959 keadaan tatanegara Indonesia mulai stabil,
keadaan ini dimanfaatkan oleh kalangan komunis dengan menanamkan ideologi yang
belum selesai. Ideologi pada saat itu dirancang oleh PKI dengan ideologi Manipol Usdek
serta konsep Nasakom. Puncak peristiwa pemberontakan PKI pada tanggal 30 September
1965 untuk merebut kekuasaan yang sah negara RI, pemberontakan ini disertai dengan
pembunuhan para Jendral yang tidak berdosa. Pemberontakan PKI tersebut berupaya
untuk mengganti secara paksa ideologi dan dasar filsafat negara Pancasila dengan
ideologi komunis Marxis. Atas dasar tersebut maka pada tanggal 1 Oktober 1965
diperingati bangsa Indonesia sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”.

2.6. Zaman Orde Lama


Masa orde lama adalah masa pencarian bentuk implementasi Pancasila terutama
dalam system ketatanegaraan. Dalam masa ini, implementasi nilai-nilai Pancasila
mengalami permasalahan karena banyak masyarakat yang menentang nilai-nilai tersebut
dan ingin menciptakan ideologi yang mereka anggap sesuai untuk negara Indonesia.
Contohnya seperti gerakan DI/TII dan PKI madiun yang ingin mengubah ideologi bangsa.
Orde lama sendiri dibagi kedalam tiga periode, yakni :
1. Periode 1945-1950
Pada masa ini, dasar yang digunakan adalah Pancasila dan UUD 1945 yang
presidensil, namun dalam prakteknya system ini tidak dapat terwujudkan setelah penjajah
dapat diusir. Persatuan rakyat Indonesia mulai mendapatkan tantangan, dan muncul
upaya-upaya untuk mengganti Pancasila sebagai dasar Negara dengan faham komunis
oleh PKI melalui pemberontakan di Madiun pada tahun 1948 dan olen DI/TII yang ingin
mendirikan Negara dengan agam Islam.
2. Periode 1950-1959
Pada periode ini, penerapan pancasila diarahkan sebagai ideologi liberal yang
pada nyatanya tidak dapat menjamin stabilitas pemerintahan. Walaupun dasar Negara
tetap Pancasila, tetapi rumusan sila keempat tidak berjiwakan musyawarah mufakat,
melainkan suara terbanyak. Dalam bidang politik, demokrasi berjalan lebih baik dengan
terlaksananya pemilu 1955 yang dianggap paling demokratis.
3. Periode 1956-1965
Periode ini dikenal sebagai demokrasi terpimpin, akan tetapi demokrasi justru tidak
berada kekuasaan rakyat sehingga yang memimpin adalah nilai-nilai pancasila tetapi
kepemimpinana berada pada kekuasaaan pribadi presiden Soekarno. Maka terjadilah
berbagai penyimpangan penafsiran terhadap Pancasila dalam konstitusi.akibatnya
presiden Soekarno menjado otoriter, diangkat menjadi presiden seumur hidup, politik
konfrontasi, dan menggabungkan Nasionalis, Agama, dan Komunis, yang ternyata tidak

15
cocok dengan kehidupan Negara Indonesia. Terbukti dengan adanya kemerosotan moral
di sebagian masyarakat yang tidak lagi hidup bersendikan nilai-nilai pancasila, dan
berusaha untuk menggantikan Pancasila dengan ideologi lain.

2.7. Zaman Orde Baru


Pada masa orde baru, pemerintah berkehendak ingin melaksanakan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen sebagai kritik terhadap orde lama yang
menyimpang dari pancasila melalui program P4 (Pedoman Pengahayatan dan
Pengamalan Pancasila) atau Ekaprasetia Pancakarsa. Dengan begitu, orde ini
mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa sekaligus
menumpaskan paham komunis di Indonesia. Namun, walau usaha seperti ini telah
diterapkan sebenarnya orde baru sama saja seperti orde lama , yaitu Pancasila tetap pada
posisinya sebagai alat pembenar rezim otoritarian baru di bawah Soeharto.
Pancasila justru dijadikan sebagai indoktrinasi. Presiden Soeharto menggunakan
Pancasia sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaannya. Ada beberapa metode yang
digunakan dalam indoktrinasi Pancasila, yaitu pertama, melalui ajaran P4 yang dilakukan
di sekolah-sekolah melalui pembekalan atau seminar. Kedua, asa tunggal, yaitu presiden
Soeharto membolehkan rakyat untuk membentuk organisasi-organisasi dengan syarat
harus berasaskan Pancasila. Ketiga, stabilisasi yaitu presiden Soeharto melarang adanya
kritikan-kritikan yang dapat menjatuhkan pemerintah. Karena presiden Soeharto
beranggapan bahwa kritikan terhadap pemerintah menyebabkan ketidakstabilan di dalam
negara. Dan untuk menstabilkannya presiden Soeharto menggunakan kekuatan militer
sehingga tak ada yang berani untuk mengkritik pemerintah.
Dalam pemerintahannya presiden Soeharto melakukan beberapa penyelewengan dalam
penerapan Pancasila, yaitu diterapkannya demokrasi sentralistik, demokrasi yang
berpusat pada pemerintah . selain itu presiden juga memegang kendali terhadap lembaga
legislative, eksekutif dan yudikatif sehingga peraturan yang di buat harus sesuai dengan
persetujuannya. Presiden juga melemahkan aspek-aspek demokrasi terutama pers karena
dinilai dapat membahayakan kekuasaannya. Maka, presiden Soeharto membentuk
Departemen Penerangan atau lembaga sensor secara besar-besaran agar setiap berita
yang dimuat di media tidak menjatuhan pemerintahan. Penyelewengan yang lain adalah
pelanggengan korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga pada masa ini banyak pejabat
negara yang melakukan korupsi. Tak hanya itu, pada masa ini negara Indonesia juga
mengalami krisis moneter yang di sebabkan oleh keuangan negara yang tidak stabil dan
banyaknya hutang kepada pihak negara asing. Demokratisasi akhirnya tidak berjalan, dan
pelanggaran HAM terjadi dimana-mana yang dilakukan oleh aparat pemerintah atau
negara.

16
2.8. Zaman Reformasi
Eksistensi pancasila masih banyak dimaknai sebagai konsepsi politik yang
substansinya belum mampu diwujudkan secara riil. Reformasi belum berlangsung dengan
baik karena Pancasila belum difungsikan secara maksimal sebagaimana mestinya.
Banyak masyarakat yang hafal butir-butir Pancasila tetapi belum memahami makna
sesungguhnya.
Pada masa reformasi, Pancasila sebagai re-interprestasi.Yaitu Pancasila harus
selalu di interprestasikan kembali sesuai dengan perkembangan zaman, berarti dalam
menginterprestasikannya harus relevan dan kontekstual dan harus sinkron atau sesuai
dengan kenyataan pada zaman saat itu.
.Berbagai perubahan dilakukan untuk memperbaiki sendi-sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara di bawah payung ideologi Pancasila. Namun, faktanya masih banyak masalah
sosial-ekonomi yang belum terjawab. Eksistensi dan peranan Pancasila dalam reformasi
pun dipertanyakan. Pancasila di masa reformasi tidak jauh berbeda dengan Pancasila di
masa orde lama dan orde baru. Karena saat ini debat tentang masih relevan atau tidaknya
Pancasila dijadikan ideologi masih kerap terjadi. Pancasila seakan tidak memiliki kekuatan
mempengaruhi dan menuntun masyarakat. Pancasila tidak lagi populer seperti pada masa
lalu.Pancasila banyak diselewengkan dianggap sebagai bagian dari pengalaman buruk di
masa lalu dan bahkan ikut disalahkan dan menjadi sebab kehancuran.
Pancasila pada masa reformasi tidaklah jauh berbeda dengan Pancasila pada
masa orde baru dan orde lama, yaitu tetap ada tantangan yang harus di hadapi. Tantangan
itu adalah KKN yang merupakan masalah yang sangat besar dan sulit untuk di tuntaskan.
Pada masa ini korupsi benar-benar merajalela. Para pejabat negara yang melakukan
korupsi sudah tidak malu lagi. Mereka justru merasa bangga, ditunjukkan saat pejabat itu
keluar dari gedung KPK dengan melambaikan tangan serta tersenyum seperti artis yang
baru terkenal. Selain KKN, globalisasi menjadi racun bagi bangsa Indonesia Karen
semakin lama ideologI Pancasila tergerus oleh ideologI liberal dan kapitalis. Apalagi
tantangan pada masa ini bersifat terbuka, lebih bebas, dan nyata.

17
Bab III
Penutup

3.1. Kesimpulan
Dari makalah ini, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah dimiliki
masyarakat Indonesia pada zaman dahulu meskipun belum memahami nilai-nilai itu
sendiri. Nilai-nilai Pancasila yang mirip dengan kebudayaan masyarakat menandakan
bahwa Pancasila erat hubungannya dengan kebudayaan bangsa. Pancasila dibentuk
sebagai dasar negara yang dalam prosesnya sangat panjang dan kompleks. Banyak
kejadian-kejadian untuk melemahkan Pancasila tersebut namun dapat diatasi dengan
segera karena Pancasila memiliki landasan yang kokoh dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Walau begitu, masa globalisasi seperti sekarang ini dapat menggerus jiwa
Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mendalami
Pancasila dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sehingga bangsa kita akan terus
memiliki identitas sebagai bangsa dengan dasar Pancasila.

3.2. Kritik dan Saran


Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan pemilihan kata dalam
pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, penulis mohon sumbangan pemikiran dalam
perbaikan makalah ini yang bersifat membangun sehingga makalah ini dapat dipahami
oleh seluruh kalangan, baik akademisi atau umum.

18
Daftar Pustaka
Nurwardani,Paristiyanti.2016,Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi.Jakarta :
Penerbit Ristekdikti
Kaelan, M.S., Prof. Dr. 2014. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Penerbit Paradigma
Kaelan, M.S., Prof. Dr. 2010. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Penerbit Paradigma
Hartono, Drs. 1992. Pancasila (Ditinjau dari Segi Historis). Jakarta : PT. Rineka Cipta
Bolo, Andreas Bolo, dkk. 2012. Pancasila Kekuatan Pembebas. Yogyakarta : Penerbit
Kanisius
Ahmad, Ubaedillah, Abdul Rozak. 2003. Pancasila, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan
Masyarakat Madani. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Press
Fauzi, M.Soc.Sc., Nabil Ahmad. 2013. Modul Perkuliahan Pendidikan Pancasila.
Yogyakarta : Universitas Mercu Buana Press
Soebachman, Agustina. 2014. Sejarah Nusantara Berdasarkan Urutan
Tahun. Yogyakarta : Penerbit Syura Media Utama
Srijanti, A. Rahman HI, Purwanto SK. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan untuk
Mahasiswa. Yogyakarta : Kerjasama Penerbit Graha Ilmu dengan Universitas
Mercu Buana
Srijanti, A. Rahman HI, Purwanto SK. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan di
Perguruan Tinggi Mengembangkan Etika Berwarga Negara. Jakarta : Penerbit
Salemba Empat
Rukiyati, M.Hum., dkk. 2008. Pendidikan Pancasila (Buku Pegangan Kuliah).
Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Press
Karsadi, M.Si., Prof. Dr. 2014. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi Upaya
Membangun Moral dan Karakter Bangsa. Jakarta : PT Pustaka Pelajar
Syarbaini, MA., Drs. Syahrial. 2009. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Jakarta
: Penerbit Ghalia Indonesia
http://mylife578.blogspot.com/2016/03/pancasila-dalam-konteks-lintas-
agama.html
http://kanzaniya.blogspot.com/2014/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-
none.html
http://manusiabayangansaidi9.blogspot.com/2014/06/pancasila-masa-orde-
lama.html

19

Anda mungkin juga menyukai