Anda di halaman 1dari 2

Cerpen Kisah Nyata Tentang Persahabatan : "Antara

Kawan dan Lawan"


Pagi yang cerah, matahari menemani aktivitas pagi yang indah, membuat semua
tersenyum bahagia...
“ Sher, kepala ku pusing.” Nada lemah Gita membuayrkan konsentrasi teman-temannya
yang tengah mengikuti Upacara Senin Pagi itu.
“Kamu kenapa Git?” Tanya Sherly sembari memanggil anggota PMR sekolah di barisan
paling belakang. Tak lama kemudian salah satu anggota PMR membopong Gita menuju
UKS. Cewek periang itu kini terbaring lemah di kamar UKS.
“Gita kenapa ya, perasaan tadi dia baik-baik saja, bahkan ikut bercanda nggosipin
pembina upacara yang bikin ngantuk.”
“Sssst... udah diem, nanti kita dimarahi kepsek.” Tegur Sherly pada Alita yang juga teman
baik Gita. Stengah jam berlalu, riuh hiruk pikuk siswa memecah suasana ketika protokol
upacara mengumandangkan bahwa upacara di bubarkan.
“Aku ke UKS dulu ya, kalian duluan aja ke kelas.” Kata Alita pada teman-temannya
sambil meangkah menuju UKS yang tak jauh dari lapangan tengah. Sesampainya di UKS
gadis baik hati ini terkejut melihat sahabatnya, tak ada satupun anggota UKS yang
mengurus sahabatnya di sana. Lalu ia mencoba menenangkan Gita yang tengah muntah,
Dengan penuh perhatian ia memberikan segelas air putih hangat dan memijit-mijit kepala
sahabat nya itu.
“Jangan-jangan dia hamil lagi, maklum anak zaman sekarang.” Ucap salah seorang guru
penjaga UKS dengan nada sinis.” Alita yang mendengar pembicaraan itu tak kuasa melihat
kondisi sahabatnya.
“Tega benar guru itu, berkata yang tidak semestinya di depan murid.” Gumam Alita
dalam hati.
“Kita bawa saja kerumah sakit, biar jelas.” Sambung guru lainnya. Akhirnya Gita dibawa
kerumah sakit terdekat. ia mengambil antrean yang membosankan, dan mengikuti tes
kesehatan yang menyakitkan. Bau rumah sakit yang identik dengan obat-obatan membuat
perutnya semakin mual dan kepalanya pusing.
Hari semakin terang, matahari semakin tinggi. Gita kembali ke kelas dengan raut wajah
yang sangat lesu dan pucat. Salah seorang teman menyambutnya dengan penuh tanya.
“Git, udah sembuh? Kata dokter kamu sakit apa?” tanya citra penasaran. “Aku.. aku.. kata
dokter aku terkena gejala TBC..” Jawab gita dengan terbata-bata. Nada lemah Gita membuat
suasana hening. Gita, gadis yang ramah dan periang, yang selalu membuat teman-temannya
tersenyum, yang tak bisa melihat teman-temannya susah, kini duduk termenung di sudut
bangku kelas. Sendirian.. kesepian.. ia sangat frustasi, tertekan dan merasa tak berarti lagi..
“Apa salah ku ?” batinnya menangis kesakitan.
Malam kian mencekam, dingin angin malam menusuk sampai ke tulang. Gadis
malang ini terbangun mendengar telpon genggamnya berdering. Sejak pulang dari sekolah,
ia hanya terbaring di tempat tidurnya yang pengap di salah satu kos-kosan dekat
sekolahannya. Di bukanya pesan singkat itu. Ternyata dari Sherly..
Isi pesan : “Gita aku minta maaf, kalau aku dan teman-teman untuk sementara menjauhi
mu. TBC itu penyakit yang sangat parah dan menular, kami tidak mau tertular penyakit itu
seperti kamu. Cepat sembuh ya Gita.”
Bagaikan ditusuk ribuan jarum, gadis malang ini terkapar tak berdaya, butiran-
butiran kecil air kini menggenangi sudut matanya, tak kuasa lagi ia menahan, air mata itu
semakin deras mengalir di pipinya yang duu tak pernah ia ewati hari tanpa senyuman.
“Apa ini balasan dari mereka? Setelah semua yang ku lakukan untuk mereka? Aku tak
minta banyak, saat ini aku Cuma membutuhkan sedikit motivasi untuk membangkitkan
semangat hidup ku. Tapi apa yang ku dapatkan??? Ya Allah, apakah aku akan mati? Apakah
semua akan berakhir sampai disini?

Seperti biasa, embun dan mentari kembali menyapa.. menyapa senyum yang
melekat di setiap wajah-wajah.. namu tidak pada wajah peri yang kesepian ini..
“Aku lelah.. aku kesepian.. dimana kalian yang ku anggap sahabat? Hari-hari yang ia
lewati terasa buram, tak secerah dulu lagi. Senyumnya yang indah tak tampak lagi
melengkung menghiasi bibirnya. Lalu seorang gadis bernama Rani, menghampiri
bangkunya.
“Git, kamu tau gak apa jawaban Allah saat kau curahkan semua keluh kesahmu?
“Ah Rani, kamu bercanda saja. Mana mungkin aku mengetahui jalan cerita Allah.” Jawab
Gita pelan.
“Allah berkata seperti ini : ‘Tenanglah sayang, ini bukan jalan buntu, tapi ini Cuma
sebuah belokan.’ Gita, kamu tidak akan pernah kesepian, karena kamu mempunyai banyak
orang yang menyayangi mu. Semangat dong, mana sosok Gita yang ku kenal dulu? Yang tak
pernah menyerah pada sang takdir.”
“Subhannallah..” Sontak Gita terharu mendengar ucapan temannya, teman yang selalu
terkucilkan di kelas itu. Kini menjadi sahabat yang benar-benar ada untuknya.
“Kini aku paham, mana yang kawan dan mana yang lawan. Kini aku mengerti arti
kesabarn dan keikhlasan. Dan aku sadar betapa berharganya sedetik waktu dalam hidup
ini. Benar kata-kata bijak yang pernah aku baca, ‘jangan pernah menyesal bertemu orang-
orang dalam hidup ini, karena mereka telah mengajari kamu banyak hal yang tidak pernah
kau ketahui.”

Hari semakin siang, matahari semakin menyengat, namun sengatannya tak mampu
meluluhkan semangat hidup Gita. Di ambilnya Laptop di tas ungu kesayangannya, ia putar
sebuah mp3 favoritnya..

THE END !!!