Anda di halaman 1dari 14

2019

BAB - II
TINJAUAN UMUM

2.1 Ketentuan Umum Perencanaan

Dalam konsultasi-konsultasi pendahuluan yang telah dilakukan dengan Tim


Teknis Proyek, disepakati tentang penetapan hirarkhi Bangunan
(utamanya dalam hal ketentuan luas dan fasilitas ruang) disesuaikan
dengan fungsi, kebutuhan dan aksesibilitas, yang fasilitas ruangnya
ditentukan atas azas kebutuhan dan kegiatan/aktivitas.

Patokan-patokan yang ditentukan berdasarkan azas kebutuhan serta


kegiatan/aktivitas ini sangat dimungkinkan, karena didalam Keputusan
Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah yang mengatur keperluan ini
(pembangunan gedung) menyatakan bahwa : tipe bangunan dapat
menyesuaikan dengan ketentuan daerah yang berlaku.

Uraian berikut ini memaparkan tentang ketentuan standar umum yang


dikeluarkan oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, serta
ketentuan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan
Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, yaitu :
1. Koefisien Luas Bangunan (KLB) sesuai dengan arahan Pemda
setempat adalah (Max. 40%)
2. Desain rencana tapak harus menjamin kejelasan jalur sirkulasi
manusia dan moda transportasi alami (sepeda) dan non alami
(sepeda motor dan mobil) dan menjamin prioritas kepentingan
keamanan dan kenyamanan pejalan kaki dan kaum disabel
(penyandang cacat, wanita hamil, anak dan manula).
3. Desain tapak harus mempertimbangkan konteks lingkungan
setempat (iklim, orientasi matahari, lalu lintas, struktur jalan kota
dan lingkungan, vegetasi, dll.)

bab-2| 1
LAPORAN PERENCANAAN
2019

Sub-bab yang berkenaan langsung dengan lingkup tugas dalam


perencanaan Lanjutan Pembangunan Masjid Agung Mandailing Natal
adalah meliputi :
1. Perencanaan Tata Hijau
2. Perencanaan Perkerasan Lahan
3. Perencanaan sarana dan prasarana
4. Perencanaan Mekanikal dan Elektrikal

2.2 Klasifikasi Ketentuan Tapak


1. Tata Letak Bangunan
a. Ketentuan Umum
i. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu
fungsi prasarana kota, lalu lintas dan ketertiban umum.
ii. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan
secara khusus arahan rencana tata bangunan dan
lingkungan.
iii. Pada jalan-jalan tertentu, perlu ditetapkan penampang-
penampang (profil) bangunan untuk memperoleh
pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan
keserasian.
iv. Bilamana dianggap perlu, persyaratan lebih lanjut dari
ketentuan-ketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya
oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus
yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan
tata bangunan dan lingkungan.

b. Tapak Bangunan
i. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan
tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak
merugikan pihak lain.
ii. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung
diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian
yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota, dengan

bab-2| 2
LAPORAN PERENCANAAN
2019

ketentuan tidak melebihi KLB, harus memenuhi


persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian
lingkungan.
iii. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan
keamanan struktur.
iv. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan:
(1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu
pekarangan kosong atau sedang dibangun,
pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan
memperhatikan keamanan, keselamatan,
keindahan dan keserasian lingkungan,
(2) larangan membuat batas fisik atau pagar
pekarangan.
(3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti
dengan memperhatikan keamanan, keselamatan,
keindahan dan keserasian lingkungan.
(4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir
III.1.1 b.iv.(2) dapat diberikan untuk bangunan
perumahan dan bangunan sosial dengan
memperhatikan keserasian dan arsitektur
lingkungan.

2.3 Ruang Terbuka Hijau Pekarangan


1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan
a. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai
daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi
untuk kepentingan ekologis, sosial, ekonomi maupun estetika.
b. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan
bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut
Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP).
c. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat
tumbuhnya tanaman, peresapan air, sirkulasi, unsur-unsur

bab-2| 3
LAPORAN PERENCANAAN
2019

estetik, baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang


amenity.
d. Sebagai ruang transisi, RTHP menupakan bagian integral dari
penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan
lansekap kota.
e. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan
dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung
maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB, KDB, KDH,
KLB, Parkir dan ketetapan lainnya.
f. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam
rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar
dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau
sebagian dari bangunan.
g. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud
pada butir 111.2.1.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata
ruang dan tata bangunan, maka dapat dibuat ketetapan yang
bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan
setiap pemmohonan bangunan.
h. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III.2.1.e dapat
dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan
dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan
arsitektur lingkungan.
i. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan
potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau,
sungai, pohon-pohon menahun, tanah dan permukaan tanah.
j. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut,
sungai besar, gunung dan sebagainya, terhadap suatu
kawasan/daerah dapat diterapkan pengaturan khusus untok
orientasi tata letak bangunan yang mempertimbangkan potensi
arsitektural lansekap yang ada.
k. Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada,
dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin
mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal

bab-2| 4
LAPORAN PERENCANAAN
2019

pencagaran sumber daya alam, keselamatan pemakai dan


kepentingan umum.
1. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari
muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan
bangunan, seperti dari bahaya banjir, pengendalian bentuk
estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan,
dan aspek aksesibilitas, serta tergantung pada kondisi lahan.

2. Ruang Sempadan Bangunan


a. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus
mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait
sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan
yang ada. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan
gerbang, vegetasi besar / pohon, bangunan penunjang seperti
pos jaga, tiang bendera, bak sampah dan papan nama
bangunan.
b. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan
atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak
depan bangunan ruang sempadan depan bangunan, pagar, jalur
pejalan kaki, jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan
berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik, tiang telepon
di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud.
c. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan
peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah
ditetapkan. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat.
KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian
bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah.
d. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin
diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah.
Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih
tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di
atas tanah, tidak di dalam wadah / container yang kedap air.

bab-2| 5
LAPORAN PERENCANAAN
2019

e. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan


dalam kawasan-kawasan bangunan, dimana terdapat beberapa
klas bangunan dan kawasan campuran.

4. Hijau Pada Bangunan


a. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-
garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada
balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding
bangunan.
b. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan
untuk menyediakan RTHP. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas
RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP.

5. Tata Tanaman
a. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan
karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang
berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Potensi
bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem
perakarannya destruktif, batang dan cabangnya rapuh, mudah
terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi
kesehatan manusia.
b. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin,
air, kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat
keselamatan pemakai.
c. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan,
tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon
menahun harus lebih diutamakan.
d. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III.2.5.a dan
III.2.5.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk
mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak
tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar
perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai.

bab-2| 6
LAPORAN PERENCANAAN
2019

2.4 Pertandaan, Dan Pencahayaan Ruang Luar Bangunan


1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir
a. Ketentuan Umum
i. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan
menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah
area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai
bangunan.
ii. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi
daerah penghijauan yang telah ditetapkan.
iii. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak
diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas, atau
mengganggu lingkungan di sekitarnya.
iv. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan
sesuai dengan standar teknis yang berlaku.

b. Sirkulasi
i. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung,
antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan, serta
antara individu pemakai bangunan dengan sarana
transportasinya. Sirkulasi harus memberikan pencapaian
yang mudah dan jelas, baik yang bersifat pelayanan publik
maupun pribadi.
ii. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah
memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki.
iii. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal
(clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian
darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran, dan kendaraan
pelayanan lainnya.
iv. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk
jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi, elemen
pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun
tanaman), guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan
efisien serta memperhatikan unsur estetika.

bab-2| 7
LAPORAN PERENCANAAN
2019

c. Jalan
i. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan
pedestrian, penghijauan, dan ruang terbuka umum.
ii. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang
antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija,
dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan,
penghijauan, dll.
iii. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung
pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki, dan
keJelasan kontinyuitas pedestrian.

d. Pedestrian
i. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan
sistem pedestrian secara keseluruhan, aksesibilitas
terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan, dan
aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya.
ii. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan
manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan.
iii. Penataan pedestrian harus mampu merangsang
terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi,
aman, nyaman, dan memberikan pemandangan yang
menarik.
iv. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi
pada kepentingan pejalan kaki.

e. Parkir
i. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan
pejalan kaki, memudahkan aksesibilitas, dan tidak terganggu
oleh sirkulasi kendaraan.
ii. Luas, distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan
tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya,
serta disesuaikan dengan daya tampung lahan.

bab-2| 8
LAPORAN PERENCANAAN
2019

iii. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya


seperti untuk jalan, pedestrian dan penghijauan.

2. Pertandaan (Signage)
a. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame, harus
membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter
lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan, baik yang
penempatannya pada bangunan keveling, pagar, atau ruang
publik.
b. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk
lingkungan/ kawasan tertentu, Kepala Daerah dapat mengatur
pembatasa-pembatasan ukuran, bahan, motif, dan lokasi dari
signage.

3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan


a. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan
memperhatikan karakter lingkungan, fungsi dan arsitektur
bangunan estetika amenity, dan komponen promosi.
b. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian
dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan
dari jalan umum
c. Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari
penerangan ruang luar yang berlebihan, silau, visual yang tidak
menarik, dan telah memperhatikan aspek operasi dan
pemeliharaan.

2.5 Pengelolaan Dampak Lingkungan


1. Dampak Penting
a. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang
mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap
lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan
yang berlaku.

bab-2| 9
LAPORAN PERENCANAAN
2019

b. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang


menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan, atau
secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya, tidak
perlu dilengkapi dengan AMDAL, tetapi diharuskan melakukan
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku.
c. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting
terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut
akan:
i. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau
hayati lingkungan, yang melampaui baku mutu lingkungan
menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku;
ii. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen
lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui,
berdasarkan pertimbangan ilmiah;
iii. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau
endemik, dan atau dilindungi menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku terancam punah; atau
habitat alaminya mengalami kerusakan;
iv. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan
lindung (hutan lindung, cagar alam, taman nasional,
suaka margasatwa, dan sebagainya) yang telah ditetapkan
menunut peraturan perundang-undangan;
v. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan
peninggalan sejarah yang bernilai tinggi;
vi. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai
keindahan alami yang tinggi;
vii. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi
dengan masyarakat, dan atau pemerintah.
d. Kegiatan yang dimaksud pada butir III.3.1.c merupakan kegiatan
yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan
dampak penting terhadap lingkungan hidup.

bab-2| 10
LAPORAN PERENCANAAN
2019

2. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan


Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau
lingkungannya yang wajib AMDAL, adalah sesuai Ketentuan
pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku.

3. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya


Pemantauan Lingkungan (UPL)
Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau
lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan
Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah
sesuai ketentuan yang berlaku.

4. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan


a. Persyaratan Bangunan
i. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya
menggunakanmenyimpan atau memproduksi bahan
peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah
meledak, dapat diberikan ijin apabila:
(1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan
perumahan atau berjarak tertentu dari jalan
umum, jalan kereta api dan bangunan lain di
sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait.
(2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak
tertentu dari batas-batas pekarangan atau
bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai
rekomendasi dinas terkait.
(3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan
tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman.
ii. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan,
menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif, racun,
mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya, harus
dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan
penghuni dan lingkungannya.

bab-2| 11
LAPORAN PERENCANAAN
2019

iii. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada


tampak bangunan, sinar yang dipantulkan tidak boleh
melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak
serta orientasi bangunan terhadap matahari.
iv. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan
air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan
akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air
tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas
terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya
untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber
utama PDAM.
v. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit
air larian, maka setiap tapak bangunan gedung harus
dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya
disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku.
vi. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan
membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai,
maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk
bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis
yang berwenang.

b. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi


i. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan
baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan
saluran pengering genangan sementara yang nantinya
dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem
drainase yang ada.
ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat
menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus
dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang
dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu
lintas.

bab-2| 12
LAPORAN PERENCANAAN
2019

iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi


hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di
sekitarnya, atau tidak ada bangunan rumah yang rawan
keretakan.
iv. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan
menimbulkan keretakan bangunan, sekelilingnya harus
dilengkapi dengan kolam peredam getaran.
v. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang
menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus
memperhitungkan pemberian kompensasi berupa
penyediaan air bersih kepada masyarakat selama
pelaksanaan kegiatan, atau sampai sumur penduduk pulih
seperti semula.

c. Pembuangan limbah cair dan padat


i. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat
atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan
pencemaran air dan tanah, harus dilengkapi dengan
sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum
dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau
ditetapkan oleh instansi yang berwenang.
ii. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus
dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen
yang memenuhi standar baku mutu limbah cair.
iii. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah
padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk
menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan
mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung.

bab-2| 13
LAPORAN PERENCANAAN
2019

5. Pengelolaan Daerah Bencana


a. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana, daerah
Banjir dan yang sejenisnya.
b. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III.3.5.a
dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata
cara dan persyaratan khusus di dalam membangun, dengan
memperhatikan keamanan, keselamatan dan kesehatan
lingkungan.
c. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat
ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu
tertentu, dibatasi, atau dilarang membangun bangunan.
d. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami
bencana, dengan memperhatikan keamanan, keselamatan dan
kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat,
bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan
sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu
penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin.
e. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III.3.5.a, dapat
ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota.

bab-2| 14
LAPORAN PERENCANAAN