Anda di halaman 1dari 82

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sampai saat ini, diare menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia, terutama di

Negara berkembang.Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare menjadi salah

satu bukti bahwa diare membutuhkan perhatian khusus.(Kementrian Kesehatan Republik

Indonesia/Kemenkes RI, 2014)

Diare pada bayi dan balita dapat disebabkan oleh beberapa factor diantaranya: yaitu

infeksi, malabsorbsi, keracunan makanan, dan psikologis anak. Infeksi enternal merupakan

infeksi dari luar pencernaan, yang menjadi penyebab utama diare pada anak. Infeksi

enternal disebabkan karena bakteri, virus dan parasite. Sedangkan infeksi perenteral

merupakan infeksi dari luar pencernaan seperti otitis media akut (OMA),

bronkhopneumonia, ensefalitas dll. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak

berumur dibawah 2 tahun (Ngastiyah, 2014

Dampak masalah fisik yang akan terjadi bila diare tidak diobati akan berakibat kehilangan

cairan dan elektrolit secara mendadak. Pada balita akan menyebabkan kurang nafsu makan

sehingga mengurangi asupan gizi, diare dapat mengurangi daya serap usus terhadap sari

makanan. Diare yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan

elektrolit dan keseimbangan asam basa akibat dari kehilangan air dan elektrolit. Apabila hal

ini berlangsung lama, dapat terjadi malabsorpsi berat sehingga terjadi gangguan gizi dan/atau

hipoglikemia. Komplikasi terburuk dari diare pada balita adalah kematian. Dalam keadaan

infeksi, kebutuhan sari makanan pada anak yang mengalami diare akan terganggu sehingga

menyebabkan kekurangan gizi. Jika hal ini berlangsung terus menerus akan menghambat

proses tumbuh kembang anak. Kalau diarenya terjadi berulang-ulang atau diare kronik yang

berkepanjangan, maka hal ini bisa berisiko. Nutrisi anak tidak bisa terpenuhi dengan baik

karena nutrisi tidak akan bisa masuk ke tubuh dalam waktu yang lama. Keadaan seperti ini
bisa menyebabkan gangguan kurangnya tinggi dan berat badan, serta bisa memicu penurunan

kecerdasan anak.

Diare akut yang terjadi pada anak dibawah usia 5 tahun sebagai hal yang sangat

mengkhawatirkan. Usia 2 tahun, otak seorang anak sedang bekerja dengan sangat baik karena

tengah memasuki masa golden age. Masa golden age menentukan perkembangan anak

kedepannya. Jika terganggu akibat diare akut, maka secara otomatis stimulasi anak akan

terganggu, sehingga kemampuannya dalam menyerap segala informasi dari luar juga akan

terganggu.

Dampak psikologis penyakit diare terhadap anak-anak antara lain anak akan

menjadirewel, cengeng, sangat tergantung pada orang terdekatnya (Widoyono, 2011).

Menurut World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund

(UNICEP) setiap tahunnya terjadi sekitar 2 milyar kasus diare didunia, dan sekitar 1,9 juta

anak balita diantaranya meninggal, sebagian besar kasus diare terjadi di negara

berkembang. Kematian anak balita karena diare 78% terjadi di Afrika dan Asia Tenggara.

Penyakit diare di Indonesia merupakan penyebab nomor satu kematian bayi (31,4%) dan

kematian balita (25,2%) serta penyebab kematian nomor 4 (13,2%) pada semua umur

dalam kelompok penyakit menular (Riset Kesehatan Dasar /Riskesdas 2007).

Tahun 2013 period prevalen diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia sebesar

7,0% Lima propinsi dengan period prevalen dan insiden diare tertinggi adalah Papua

(14,7% dan 6,3%), Nusa Tenggara Timur (10,9% dan 4,3%), Sulawesi Selatan (10,2% dan

5,2%), Sulawesi Barat (10,1% dan 4,7%) dan Sulawesi tengah ( 8,8% dan 4,4%). Petani ,

nelayan dan buruh mempunyai proporsi tertinggi (7,1%) , jenis kelamin dan tempat tinggal

menunjukkan proporsi yang tidak jauh berbeda. Menurut laporan dari puskesmas tahun

2017 jumlah kasus diare yang ditemukan di Kabupaten Bogor sebanyak 130.448 orang,

jumlah kasus diare yang diperkirakan ditemukan sejumlah 171.222 kasus, dengan

demikian cakupan penemuannyaadalah 91,51%, hampir mencapai target sebesar 100%

dan seluruhnya telah mendapatkan penanganan. Ditinjau dari jumlah kasus diare, pus

kesmas yang terbanyak penderita diarenyaadalah Puskesmas Cibinong yaitu 9.636 orang
dengan angka Insiden Rate (IR) sebesar22,57 kasus/1000 penduduk, sedangkan yang

terkecil adalah Puskesmas Cariu yaitusebesar 983 orang dengan angka IR nya sebesar

21,41 kasus/1000 penduduk. Penyakit Diare sampai saat ini masih termasuk dalam urutan

10 penyakit terbanyak di Kabupaten Bogor. Sedangkan kasus diare di Puskesmas

Parungpanjang yang merupakan salah satu Puskesmas di wilayah Dinas Kesehatan

Kabupaten Bogor, berdasarkan laporan statistik pasien dari 10 besar penyakit terbanyak

tahun 2018 maka, kasus diare menempati urutan ke sembilan dengan jumlah kasus 1303

(6,27%).

Diare yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan dehidrasi,

gangguanelektrolit,dankeseimbanganasambasaakibat dari kehilangan air dan elektrolit.

Apabila hal ini berlangsung lama, dapat terjadi malabsorpsiberat sehingga terjadi gangguan

gizi dan/atau hipoglikemia. Komplikasi terburuk dari diare pada balita adaah kematian, Diare

pada bayi dan balita ini dapat disebabkan oleh beberapa factor diantaranya: yaitu infeksi,

malabsorbsi, keracunan makanan, dan psikologis anak. Infeksi enternal merupakan infeksi

dari luar pencernaan, yang menjadi penyebab utama diare pada anak. Infeksi enternal

disebabkan karena bakteri, virus dan parasite. Sedangkan infeksi perenteral merupakan infeksi

dari luar pencernaan seperti otitis media akut (OMA), bronkhopneumonia, ensefalitas dll.

Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun (Ngastiyah,

2014).

Wong (2008), mengatakan pengkajian keperawatan terhadap diare dimulai dengan

mengamati keadaan umum dan perilaku anak. Pengkajian selanjutnya yang dilakukan pada

pasien diare dengan gangguan keseimbangan cairan yaitu pengkajian dehidrasi seperti

berkurangnyakeluaran urine, turgor kulit yang jelek, ubun-ubun yang cekung. Nursalam

(2008), mengatakan dampak yang dapat ditimbulkan jika mengalami gangguan

keseimbangan cairan yaitu terjadi hal-hal seperti dehidrasi pada bayi dan balita,

hipoglikemia, mengalami gangguan gizi, gangguan sirkulasi, hingga terjadi komplikasi

pada anak.
Dampak masalah fisik yang akan terjadi bila diare tidak diobati akan berakibat kehilangan

cairan dan elektrolit secara mendadak. Pada balita akan menyebabkan anorexia (kurang

nafsu makan) sehingga mengurangi asupan gizi, dan diare dapat mengurangi daya serap

usus terhadap sari makanan. Dalam keadaan infeksi, kebutuhan sari makanan pada anak

yang mengalami diare akan menyebabkan kekurangan gizi. Jika hal ini berlangsung terus

menerus akan menghambat proses tumbuh kembang anak. Sedangkan dampak psikologis

terhadap anak-anak antara lain anak akan menjadi rewel, cengeng, sangat tergantung pada

orang terdekatnya (Widoyono, 2011).

Diagnosis keperawatan yang sering muncul pada pasien yang menderita diare

adalah kekurangan volume cairan dan ketidakseimbangan nutrisi. Peran perawat sebagai

pemberi pelayanan keperawatan pada anak yang dirawat dengan diare, diantaranya

memantau asupan dan pengeluaran cairan. Anak yang mendapatkan terapi cairan melalui

intravena perlu pengawasan untuk asupan cairan, kecepatan tetesan harus diatur untuk

memberikan cairan volume yang dikehendaki dalam waktu tertentu dan lokasi pemberian

infus harus dijaga (Wong, 2008). Tindakan keperawatan yang harus dilakukan selanjutnya

yaitu menimbang berat badan anak secara akurat, mamantau input dan output yang tepat

dengan meneruskan pemberian nutrisi per oral dan melakukan pengambilan specimen

untuk pemeriksaan laboratorium. Selain dari tindakan keperawatan, orang tua dan

keluarga juga ikut memberikan perawatan seperti memberikan perhatian, semangat dan

mendampingi anak selama dirawat dirumah sakit (Nursalam, 2008).

Pengetahuan orang tua tentang terjadinya diare sangatlah penting selain dari perawatan

anak di Rumah Sakit. Karena sebagian ibu belum mengetahui tentang perilaku sehat untuk

menjaga kesehatan keluarga seperti selalu menjaga kebersihan diri dan makanan, menjaga

kebersihan lingkungan rumah, memeriksakan kondisi kesehatan ketika terdapat gejala

suatu penyakit ke puskesmas, menjaga pola istrahat serta menyempatkan untuk berekreasi

guna menghilangkan stres yang dapat memicu penyakit (Subakti, 2015).


Survey awal yang dilakukan penulis pada tanggal 26 Maret 2019 didapatkan 1 orang

anak dengan kasus diare di Puskesmas Parungpanjang dengan diagnosa keperawatan utama

pada anak yaitu dengan kekurangan volume cairan. Hasil pengamatan, perawat sudah

melakukan pengkajian yang meliputi identitas anak dan orang tua, alamat, riwayat

kesehatan, dan pemeriksaan fisik dan diagnostic. Perawat sudah melakukan tindakan

pemasangan infus untuk memenuhi kebutuhan cairan pada pasien dan perawat memantau

kondisi pasien pada saat overan, pemberian obat, dan saat mengganti infus pasien,

berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk membuat laporan kasus dengan

judul “Asuhan Keperawatan Anak Pada Anak “N” dengan gangguan keseimbangan cairan

diruang perawatan Anak di Puskesmas Parungpanjang.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mampu mendeskripsikan “Asuhan Keperawatan Pada Anak “N” dengan gangguan

keseimbangan cairan diruang perawatan Anak di Puskesmas Parungpanjang

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus penulisan dari laporan kasus ini adalah

a. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pasien anak dengan diare yang

mengalami gangguan keseimbangan cairan

b. Mampu menyusun diagnosa keperawatan pasien anak dengan diare yang mengalami

gangguan keseimbangan cairan

c. Mampu menyusun perencanaan keperawatan pasien anak dengan diare yang

mengalami gangguan keseimbangan cairan

d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pasien anak dengan diare yang

mengalami gangguan keseimbangan cairan

e. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pasien anak dengan diare yang mengalami

gangguan keseimbangan cairan


C. Manfaat Penulisan

1. Bagi Penulis

Dapat menambah wawasan dan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan

keperawatan pada anak dengan diare.

2. Bagi Masyarakat

Sebagai informasi bagi masyarakat sehingga masyarakat bisa menanggulangi diare

sebelum penderita mengalami dehidrasi

3. Bagi STIKes Santo Boromeus Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan

oleh mahasiswa prodi D III Keperawatan Santo Boromeus untuk penelitian selanjunya.

4. Bagi Puskesmas Parungpanjang

Hasil penilitian yang diperoleh diharapkan dapat memberikan kontribusi laporan kasus

bagi pengembangan praktik keperawatan. Diharapkan dapat memberikan sumbangan

pikiran untuk pengembangan ilmu dalam penelitian lebih lanjut dengan metode dan

tempat yang berbeda untuk penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit

Diare

D. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif

yaitu suatu metode yang menggambarkan (menguraikan) tentang tata cara melakukan asuhan

keperawatan dan cara mendapatkan materi (referensi) untuk menulis Karya Tulis Ilmiah.

Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu :

1. Studi Kepustakaan

Studi perpustakaan adalah pendekatan melalui membaca, memahami literature bersifat

teoritis berdasarkan pendapat para ahli yang ada hubungannya dengan penulisan Karya

Tulis Ilmiah ini.

2. Wawancara

Suatu metode pengumpulan data secara komunikasi lisan baik secara langsung maupun

tidak langsung yang diperoleh melalui klien, anggota keluarga klien dan tim kesehatan

yang menangani kasus klien tersebut.


3. Observasi

Yaitu pengamatan secara langsung terhadap perkembangan klien baik dari segi medis

maupun keperawatan.

4. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.

5. Dokumentasi.

Suatu metode pengumpulan data, dimana data-data didapatkan melalui pencatatan yang

dilakukan berkaitan dengan keadaan klien seperti buku laporan keperawatan dan status

klien.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, dibagi dalam lima BAB, yaitu:

BAB I : Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan, manfaat

penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka yang meliputi : konsep dasar diare dan konsep dasar asuhan

keperawatan

BAB III : Tinjauan Kasus yang meliputi : pengkajian, diagnosa, perencanaan,

implementasi dan evaluasi.

BAB IV : Pembahasan yang meliputi : Kesenjangan antara teori dan kenyataan,

argumentasi atas kesenjangan yang terjadi dan solusi yang dianbil untuk

mengatasi masalah

BAB V : Penutup yang meliputi : simpulan dan saran


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Diare


1. Definisi Diare
Gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan usus halus yang ditandai
dengan diare dengan frekwensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam. Diare merupakan
gangguan buang air besar atau BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan
konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah atau lendir (Riskesdas, 2013).
Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan pola konsistensi feces
selain dari frekuensi buang air besar. Seorang anak dikatakan diare bila konsistensi feses
lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar lebih dari tiga kali atau lebih, atau
buang air besar lebih berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam (Depkes, 2009)
Diare yaitu buang air besar yang frekwensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya
3x atau lebih) per hari dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 7 hari. Khusus
pada neonates yang mendapat ASI, diare akut adalah buang air besar dengan frekwensi
lebih sering (biasanya 5-6 x per hari)dengan konsistensi cair. (Kemenkes RI, 2014).
WHO (2009), mengatakan diare adalah suatu keadaan buang air besar (BAB) dengan
konsistensi lembek hingga cair dan frekuensi lebih dari tiga kali sehari. Diare akut
berlangsung selama 3-7 hari, sedangkan diare persisten terjadi selama kuran lebih 14 hari.
Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa diare adalah suatu keadaan
dimana buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 x sehari dengan konsistensi
tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari
terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
Berdasarkan klasifikasi WHO (1996) diare dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

a. Diare akut, yaitu diare yang terjadi tiba-tiba, frekwensi sering, konsistensi cair yang
bersifat watery(malabsorbsi, keracunan dan alergi) diare ini sering disebabkan oleh
retrovirus, E. Coli, Shigella, Campylobacter jejuni dan cryptosporidium.
b. Disentri , yaitu buang air besar dengan konsistensi cair, frekwensi cair, sedikit-
sedikit, kadang-kadang disertai darah atau lender,. Diare ini dapat disebabkan oleh
Shigella, Campylibacter jejuni, Enteroinvasive Escherichia Coli (EIEC), Salmonella
dan E. Histolitica.
c. Diare persistens yaitu bila diare yang terjadi lebih dari 14 hari , dapat cair (watery)
maupun disentri. Diare ini dapat disebabkan oleh EIEC, Shigella, dan
Cryptosporidium.
Sedangkan menurut Wong (2008), diare dapat diklasifikasikan, sebagai berikut:
a. Diare akut
Merupakan penyebab utama keadaan sakit pada balita. Diare akut didefinisikan
sebagai peningkatan atau perubahan frekuensi defekasi yang sering disebabkan oleh
agens infeksius dalam traktus Gastroenteritis Infeksiosa (GI). Keadaan ini dapat
menyertai infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau infeksi saluran kemih (ISK).
Diare akut biasanya sembuh sendiri (lamanya sakit kurang dari 14 hari) dan akan
mereda tanpa terapi yang spesifik jika dehidrasi tidak terjadi.
b. Diare kronis
Didefinisikan sebagai keadaan meningkatnya frekuensi defekasi atau kandungan air
dalam feses dengan lamanya (durasi) sakit lebih dari 14 hari. Kerap kali diare kronis
terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom malabsorpsi, penyakit inflamasi usus,
defisiensi kekebalan, alergi makanan, intoleransi latosa atau diare nonspesifik yang
kronis, atau sebagai akibat dari penatalaksanaan diare akut yang tidak memadai.
c. Diare intraktabel
Yaitu diare membandel pada bayi yang merupakan sindrompada bayi dalam usia
minggu pertama dan lebih lama dari 2 minggu tanpa ditemukannya dari
mikroorganisme pathogen sebagai penyebabnya dan bersifat resisten atau
membandel terhadap terapi. Penyebabnya yang paling sering adalah diare infeksius
akut yang tidak ditangani secara memadai.
d. Diare kronis nonspesifik
Diare ini juga dikenal dengan istilah kolon iritabel pada anak atau diare toddler,
merupakan penyebab diare kronis yang sering dijumpai pada anak-anak yang berusia
6 hingga 54 minggu. Feses pada anak lembek dan sering disertai dengan partikel
makanan yang tidak dicerna, dan lamanya diare lebih dari 2 minggu. Anak-anak
yang menderita diare kronis nonspesifikini akan tumbuh secara normal dan tidak
terdapat gejala malnutrisi, tidak ada daearh dalam fesesnya serta tidak tampak
infeksi enteric.
2. Insiden Penyakit Diare
Insiden diare pada balita di Indonesia sebesar 6,7%. Lima provinsi dengan insiden diare
pada balita tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua (9,6%), DKI Jakarta (8,9%), Sulawesi
Selatan (8,1%) dan Banten (8,0%). Karakteristik diare balita tertinggi terjadi pada
kelompok umur 12-23 bulan (7,6%), laki-laki (5,5%), Perempuan (4,9%), tinggal
dipedesaan (5,3%) dan kelompokkuartil indeks kepemilikan terbawah (6,2%) (Riskesdas
2013). Angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit diare pada balita adalah kelompok
umur 6-11 bulan yaitu sebesar 21,65% lalu kelompok umur 12-17 bulan sebesar 14,43%,
kelompok umur 24-29 bulan sebesar12,37%, sedangkan proporsi terkecil pada kelompok
umur 54-59 bulan yaitu 2,06% (Kemenkes, 2011).
3. Anatomi Fisiologi sistem pencernaan
Organ yang termasuk dalam sistem pencernaan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :
a.Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan adalah saluran yang kontinyu berupa tabung yang dikelilingi otot. Sa
luran pencernaan mencerna makanan, memecah nya menjadi bagian yang lebih kecil dan
menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Organ-organ yang termasuk di dala
m nya adalah : mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus serta usus besar. Dari usus b
esar makanan akan dibuang keluar tubuh melalui anus.
b. Organ pencernaan tambahan (aksesoris)
Organ pencernaan tambahan ini berfungsi untuk membantu saluran pencernaan dalam m
elakukan kerjanya. Gigi dan lidah terdapat dalam rongga mulut, kantung empedu serta k
elenjar pencernaan akan dihubungkan kepada saluran pencernaan melalui sebuah saluran
. Kelenjar pencernaan tambahan akan memproduksi sekret yang berkontribusi dalam pe
mecahan bahan makanan. Gigi, lidah, kantung empedu, beberapa kelenjar pencernaan se
perti kelenjar ludah, hati dan pankreas.
1) Mulut
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian yaitu: bagian lu
ar yang sempit atau vestibula yaitu ruang di antara gusi, gigi, bibir dan pipi.Bagian ro
ngga mulüt/bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang máksil
aris, palatum dan mandibularis di sebelah belakang bersambung dengan faring. Strukt
ur mulut yaitu :

a) Bibir, disebelah luar mulut ditutupi oleh kulit dan di sebelah dalam ditutupi oleh se
laput lendir (mukosa). Otot orbikulanisoris menutupi bibir. Palatum, terdiri atas 2 b
agian yaitu;
b) Palatum Durum (palatum keras) yang tersusun atas tajuk-tajuk palatum dan sebela
h depan tulang maksilaris dan lebih kebelakang terdiri dari 2 tulang palatum.
c) Palatum mole (palatum lunak) terletak dibelakang yang merupakan lipatan mengga
ntung yang dapat bergerak, terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput lendir.
d) Pipi, dilapisi dari dalam oleh mukosa yang mengandung papila, otot yang terdapat
pada pipi adalah otot buksinator.
2) Rongga mulut terdiri dari :
a) Gigi
Gigi manusia terdiri dari gigi seri, taring, dan geraham. Gigi seri terletak di depan
berbentuk seperti kapak yang mempunyai fungsi memotong makanan.Di samping
gigi seri terdapat gigi taring. Gigi taring berbentuk runcing yang berguna untuk me
robek makanan. Di belakang gigi taring terdapat gigi geraham yang mempunyai fu
n g s i m e n g h a l u s k a n m a k a n a n .
Setiap gigi tersusun atas beberapa bagian, yaitu :

(1) Puncak gigi atau mahkota gigi, yaitu bagian yang tampak dari luar.
(2) Leher gigi, yaitu bagian gigi yang terlindung di dalam gusi dan merupakan bata
s antara mahkota dan akar gigi.
(3) Akar gigi, yaitu bagian gigi yang tertanam di dalam rahang.
Lapisan-lapisan gigi terdiri dari email, tulang gigi, semen gigi, dan rongga gigi.

b) Lidah

Lidah berguna untuk membantu mengatur letak makanan di dalam mulut mendoro
ng makanan masuk ke kerongkongan. Selain itu lidah lidah juga berfungsi untuk m
engecap atau merasakan makanan. Pada lidah terdapat daerah-daerah yang lebih pe
ka terhadap rasa-rasa tertentu, seperti asin, masam,manis, dan pahit.Lidah terdiri d
ari otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput lendir, kerja otot lidah ini dapat diger
akkan ke seluruh arah.Pada pangkal lidah yang belakang terdapat epiglotis yang be
rfungsi untuk menutup jalan napas pada waktu kita menelan makanan, supaya mak
anan tidak masuk ke jalan napas.

Lidah dibagi atas 3 bagian :


(1) Radiks lingua yaitu pangkal lidah
(2) Dorsum lingua yaitu punggung lidah
(3) Apeks lingua yaitu ujung lidah

c) KelenjarLudah

Kelenjar ludah (saliva) dihasilkan di dalamrongga mulut. Di sekitar rongga mulut t


erdapat 3 buah kelenjar ludah yaitu:

(1) Kelenjar parotis. Letaknya di bawah depan dari telinga di antara prosesus mast
oid kiri dan kanan mandibular.
(2) Kelenjar sub maksilaris. Terletak di bawah rongga mulut bagian belakang, dukt
usnya bernama duktus wantoni, bermuara di rongga mulut dekat dengan frenul
um lingua.
(3) Kelenjar sub lingualis. Letaknya di bawah selaput lender dan bermuara di dasar
rongga mulut. Kelenjar ludah di sarafi oleh saraf-saraf tak sadar.
Fungsi kelenjar ludah
(1) Membantu proses pencernaan makanan
Sebelum makanan masuk ke dalam perut, air liur memecah makanan tersebut dengan
bantuan enzim amilase yang membantu pati terpecah di mulut. Fungsi air liur juga me
mbantu ketika menelan makanan dengan membuatnya basah dan lembut sehingga bis
a meluncur ke tenggorokan dengan lebih mudah.
(2)Membersihkan dan melindungi mulut
Air liur dapat membersihkan bagian dalam mulut, serta membilas gigi agarteta
p bersih. Enzim dalam air liur juga membantu melawan infeksi di mulut.
(3) Mencegah kerusakan gigi dan gusi
Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa air liur dapat membantu melindu
ngi terhadap penyakit gusi dan kerusakan gigi. Gigi ditutupi dengan lapisan tip
is air liur yang membantu mempertahankan diri dari bakteri. Ada agen antimik
roba dalam air liur yang membantu membunuh bakteri.Fungsi air liur yang me
lapisi setiap gigi membantu meluruhkan sisa makanan yang nyangkut dan bisa
menyebabkan kerusakan gigi. Air liur juga membawa mineral yang membantu
membangun kembali permukaan gigi enamel. Air liur juga bisa membantu me
netralkan asam di mulut selama dan setelah makan yang memecah enamel gigi
.
(4)Mencegah mulut kering

Fungsi air liur dapat mencegah terjadinya mulut kering. Seiring bertambahnya
usia, kita juga menghasilkan lebih sedikit air liur. Hal ini menyebabkan mulut
kering, atau xerostomia. Oleh karena itu, untuk menghasilkan air liur, Anda
bisa mengunyah permen karet tanpa gula, makan sesuatu,atau minum air
putih.

3) Faring

Faring Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan


(osofagus) di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenja
r limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi
. Disini terletak persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya di belak
ang rongga mulut dan rongga hidung, di depan ruas tulang belakang. Ke atas bagian d
epan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana.
Keadaan faring yang berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang y
ang disebut ismusfausium.Bagian superior disebut nasofaring.Pada nasofaring bermua
ra tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga.Bagian media dise
but orofaring.Bagian ini berbatas kedepan sampai di akar lidah bagian superior disebu
t faring, yaitu pangkal lidah yang menghubungkan tekak dengan tenggorokkan/trakea.
Faring memiliki fungsi penting dalam sistem pencernaan. Struktur otot ini mengantar
kan makanan dan cairan dari mulut menuju kerongkongan saat menelan. Konstruksi f
aring yang unik dan lokasi memungkinkan untuk memainkan peran ini dalam pencern
aan dan berfungsi sebagai bagian dari sistem pernapasan.

4) Oesefagus

Oesofagus merupaka sebuah tabung berotot yang panjangnya 20-25 cm. Dimulai
dari Faring sampai pintu masuk kardiak lambung. Esofagus berdinding empat
lapis. Lapisan paling luar berupa jaringan ikat renggang (dua lapis serabut yang
terdiri dari sel-sel otot polos), lapisan berikutny adalah lapisan submukosa pada
lapisan submukosaterdiri dari sel-sel otot lurik dan polos dan terdapat
kelompokan kelenjar-kelenjar oesofagea yang mensekresikan mukus, sedangkan
lapisan yang paling dalam adalah lapisan lendir (mukosa) dan hanya terdiri dari
sel-sel otot lurik.
Fungsi utama esofagus adalah untuk mengangkut makanan, cairan dan air liur dari mu
lut ke lambung
5) Lambung

Lambung yang dalam bahasa Inggris (stomach) dan dalam bahasa Belanda (maag) ata
u ventrikulus/gaster. Lambung yaitu suatu kantong yang terletak di bawah sekat rongg
a badan.Lambung menerima persediaan darah yang melimpah dari arteri gastrika dan
arteri lienalis.
Lambung terdiri atas tiga bagian, yaitu :
a) Kardia adalah bagian atas, daerah pintu masuk makanan dari kerongkongan itu sen
diri .
b) Fundus adalah bagian tengah, bentuknya membulat.
c) Pilorus adalah bagian bawah, daerah yang berhubungan dengan usus 12 jari atau se
ring disebut duodenum.

Dinding lambung terdiri atas empat lapisan, yaitu :


a) Mucosa ialah lapisan dimana sel-sel mengeluarkan berbagai jenis cairan, seperti en
zim, asam lambung, dan hormon. Lapisan ini berbentuk seperti palung untuk mem
perbesar perbandingan antara luas dan volume sehingga memperbanyak volume ge
tah lambung yang dapat dikeluarkan.
Di lapisan mucosa terdapat 3 jenis sel yang berfungsi dalam pencernaan,yaitu :
(1) Sel Goblet, berfungsi untuk memproduksi mucus atau lendir untuk menjaga lap
isan terluar sel agar tidak rusak karena enzim pepsin dan asam lambung.
(2) Sel Parietal, berfungsi untuk memproduksi asam lambung [Hydrochloric acid]
yang berguna dalam pengaktifan enzim pepsin. Diperkirakan bahwa sel parieta
l memproduksi 1.5 mol dm-3 asam lambung yang membuat tingkat keasaman
dalam lambung mencapai pH 2.
(3) Sel Chief, berfungsi untuk memproduksi pepsinogen, yaitu enzim pepsin dalam
bentuk tidak aktif. Sel chief memproduksi dalam bentuk tidak aktif agar enzi
m tersebut tidak mencerna protein yang dimiliki oleh sel tersebut yang dapat
menyebabkan kematian pada sel tersebut.
b) Submucosa ialah lapisan dimana pembuluh darah arteri dan vena dapat ditemukan
untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke sel-sel perut sekaligus untuk membawa
nutrisi yang diserap, urea, dan karbon dioksida dari sel-sel tersebut.
c) Muscularis adalah lapisan otot yang membantu perut dalam pencernaan mekanis. L
apisan ini dibagi menjadi 3 lapisan otot, yakni otot melingkar, memanjang, dan me
nyerong. Kontraksi dan ketiga macam lapisan otot tersebut mengakibatkan gerak p
eristaltik (gerak menggelombang). Gerak peristaltik menyebabkan makanan di dala
m lambung diaduk-aduk. Lapisan terluar yaitu seros berfungsi sebagai lapisan peli
ndung perut. Sel-sel di lapisan ini mengeluarkan sejenis cairan untuk mengurangi g
aya gesekan yang terjadi antara perut dengan anggota tubuh lainnya.
Di bagian dinding lambung sebelah dalam terdapat kelenjar-kelenjar yang mengha
silkan getah lambung. Aroma, bentuk, warna, dan selera terhadap makanan secara
refleks akan menimbulkan sekresi getah lambung. Getah lambung mengandung asa
m lambung (HCI), pepsin, musin, dan renin. Asam lambung berperan sebagai pem
bunuh mikroorganisme dan mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin.
a) Pepsin merupakan enzim yang dapat mengubah protein menjadi molekul yang lebi
h kecil.
b) Musin merupakan mukosa protein yang melicinkan makanan.
c) Renin merupakan enzim khusus yang hanya terdapat pada mamalia, berperan sebag
ai kaseinogen menjadi kasein. Kasein digumpalkan oleh Ca2+ dari susu sehingga d
apat dicerna oleh pepsin. Tanpa adanya renin susu yang berwujud cair akan lewat b
egitu saja di dalam lambuing dan usus tanpa sempat dicerna.
d) HCL (Asam Klorida) merupakan enzim yang berguna untuk membunuh kuman da
n bakteri pada makanan.
Lambung berfungsi untuk :
a) Menerima makanan dan bekerja sebagai penampung untuk jangka waktu pendek.
b) Tempat pencampuran makanan yang dicairkan dan dicampur dengan asam hidrokl
orida.
c) Mengubah protein menjadi pepton .
d) Mencerna lemak .
6) Hati
Hepar (hati) adalah kelenjar terbesar dalam tubuh dengan berat sekitar 1300-1550
gram dan berwarna merah cokelat, mempunyai banyak pembuluh darah serta
lunak. Hepar berbentuk baji dengan permukaan dasarnya pada sisi kanan dan
puncaknya pada sisi kiri tubuh, terletak di kuadran kanan atas abdomen
(hipokondria kanan). Permukaan atasnya berbatasan dengan diafragma dan batas
bawahnya mengikuti pinggiran kosta kanan.Sebagian besar darahnya (sekitar
70%) berasal dari vena porta. Melalui vena porta, semua zat yang diabsorpsi
melalui usus mencapai hati kecuali asam lemak, yang ditranspor melalui
pembuluhlimfe.

a) Lobulus Hati
Hati tersusun atas sel-sel hati yang disebut hepatosit. Sel-sel epitel ini
berkelompok dan saling berhubungan dalam susunan radier (menjari)
membentuk suatu bangunan yang disebut lobulus hati. Pada hewan tertentu
(misalnya babi), lobulus satu dengan lainnya dipisahkan oleh lapisan jaringan
penyambung.
Celah portal, terdapat pada sudut-sudut polygon hati (lobulus hati) dan
diduduki oleh segitiga portal (trigonum portal). Segitiga porta hati manusia
mengandung venula (cabang dari vena portal); dan arteriol (cabang dari arteria
hepatica); duktus biliaris (bagian dari sistem saluran empedu); dan pembuluh-
pembuluh limfe.
Sinusoid kapiler memisahkan sel-sel hati. Sinusoid merupakan pembuluh
yang melebar tidak teratur dan hanya terdiri atas satu lapisan sel-sel endotel
yang tidak utuh (kontinyu). Sinusoid mempunyai pembatas yang tidak
sempurna dan memungkinkan pengaliran makromolekul dengan mudah dari
lumen ke sel-sel hati dan sebaliknya. Sinusoid berasal dari pinggir lobulus,
diisi oleh venula-venula dalam, cabang-cabang terminal vena porta, dan
arteriola hepatica, dan mereka berjalan ke arah pusat, di mana mereka
bermuara ke dalam vena centralis. Pada sinusoid juga mengandung sel-sel
fagosit yang dikenal sebagai selKupffer
Kanalikuli empedu dapat diantara sel-sel hati. Sel-sel endotel dipisahkan dari
hepatosit yang berdekatan oleh celah subendotel yang dikenal sebagai celah
Disse, yang sebenarnya merupakan kolagen dan lamina basalis bebas.

b) Suplai Darah Hati


Sirkulasi darah ke dan dari hati terjadi sebagai berikut:
(1) Sistem vena porta hepatica(VPH)
Sistem VPH ini berperan membawa darah dari usus ke hati, dengan
demikian darah ini banyak mengandung sari-sari makanan.
(a)Vena porta bercabang-cabang menjadi venula interlobularis, mengalir
ke sinusoid-sinusoid, membentuk vena centralis. Pembuluh ini
mempunyai dinding tipis yang hanya terdiri atas sel-sel endotel yang
disokong oleh serabut-serabut kolagen tipis. Sejumlah sinusoid pada
dinding vena sentralis mengumpulkan darah dari sinusoid-sinusoid
sekitarnya.
(b) Vena sentralis meninggalkan lobulus pada basisnya dengan bersatu ke
dalam vena sublobularis yang lebih besar, menjadi bersatu,
membentuk 2 vena hepatica atau lebih yang berakhir pada vena
cavainferior.
(2) Sistemarteri
Sistem arteri hepatica memberi darah yang banyak mengandung oksigen
(oksigenated) ke hepatosit. Arteri hepatica bercabang menjadi arteri
interlobularis; sebagian memperdarahi struktur-struktur saluran portal dan
lainnya berakhir langsung dalam sinusoid-sinusoid, sehingga
mempermudah pencampuran darah arteriel dan darah venosa porta. Oleh
karena itu darah mengalir dari perifer ke pusat lobulus hati. Akibatnya,
metabolit-metabolit dan semua zat-zat toksit atau nontoksit lain yang
diabsorpsi dari usus mula-mula mencapai sel-sel perifer dan kemudian sel-
sel tengahlobulus.
c) Hepatosit
Sel-sel hati berbentuk polihedral, dengan 6 sudut permukaan atau lebih dan
mempunyai garis tengah kira-kira 20-30 µm. Sitoplasma hepatosit bersifat
eosinofilik karena adanya mitokondria dalam jumlah besar dan sedikit
retikulum endoplasma halus. Hepatosit banyak mengandung inklusi glikogen
yang merupakan depot penyimpanan glukosa dan akan dimobilisasi apabila
kadar glukosa darah turun di bawah normal. Dengan cara ini, hepatosit
mempertahankan kadar glukosa darah, metabolit utama yang digunakan
olehtubuh.
d) Histofisologi dan Fungsi Hati
Sel hati merupakan sel yang paling serba guna dalam tubuh. Ia merupakan sel
dengan fungsi endokrin dan eksokrin, dan mensintesis (menyimpan) dan
membongkar zat-zat tertentu, danmendetoksikasi.
Aktivitas-aktivitas utama sel-sel hati:
(1) Sintesis protein.
Sel-sel hati, selain mensintesis protein untuk kebutuhannya sendiri, juga
menghasilkan berbagai protein untuk dikeluarkan plasma darah seperti:
albumin, protrombin, dan fibrinogen. Sekitar 5% protein yang
dikeluarkanolehhatidihasilkanolehsel-selsistemmakrofag(selKupffer).

(2)Sekresi Empedu.

Hati mensekresi 0,5 -1 liter cairan mpedi setiap hari.Empedu merupakan


sekresi eksokrin hepatosit ke dalam kanalikuli biliaris. Empedu tersusun
atas: asam-asam empedu, bilirubin, dan air. Sekresi asam-asam empedu,
sekitar 90% zat-zat ini berasal dari absorpsi lumen usus dan sisnya 10%
disintesis oleh hepotosit dari konyugasi asam kolat dengan asam amino
glisin dan taurin, dihasilkan asam glikokolat dantaurokolat. Asam kolat
disintesis dari kolesterol. Asam-asam empedu mempunyai fungsi penting
untuk emulsifikasi lipid dalam duodenum sehingga mempermudah
pencernaan oleh lipase menjadi asam lemak dan gliserol. Bilirubin
dibentuk oleh sistem makrofag (termasuk sel Kupffer), bilirubin
hidrofobik (tidak larut dalam air) dikonyugasi dengan asam glukuronat,
membentuk bilirubin glukuronida yang larut dalam air (hidrofilik).
Selanjutnya, bilirubin glukuronida disekresi ke dalam kanalikulibiliaris.
(3) Penyimpanan metabolit-metabolit.
Lemak dan karbohidrat disimpandalamhati dalam bentuk lemak danglikogen.
Hati juga berperanan sebagai tempat penyimpanan utama vitamin-vitamin.
(4) Fungsi metabolik.
Hepatosit juga bertanggung jawab akan perubahan lipid dan asam-asam
amino menjadi glukosa dengan proses enzimatik kompleks yang
dinamakan glukoneogenesis. Ia juga merupakan tempat utama deaminasi
asam amino, menghasilkan pembentukanurea.
(5) Detoksikasidan inaktivasi.
Berbagai obat atau senyawa kimia dapat diinaktifkan oleh hepatosit
melalui mekanisme oksidasi, metilasi, dan konyugasi. Enzim-enzim yang
berperan dalam proses-proses ini diduga terutama terdapat dalam
retikulum endoplasma halus (SER). Glukuronil transferase, suatu enzim
yang mengkonyugasi asam glukuronat dengan bilirubin, menyebabkan
konyugasi beberapa senyawa lain seperti steroid, barbiturat, antihistamin,
dan antikonvulsan. Konyugasi merupakan fungsi penting retikulum
endoplasma halushepatosit.
(6) Tempat pembentukan dan pembongkaran sel darah merah.
Dalam 6 bulan kehidupan janin, hati menghasilkan sel darah merah, baru kem
udian produksi sel darah merah ini secara berangsur-angsur diambil alih oleh s
umsum tulang. Pada saat darah melewati hati, sekitar 3 juta sel darah merah di
hancurkan setiap detik, dan hasil penghancurannya masih ada zat yang akan di
gunakan untuk membentuk sel darah merah yang baru.
e. Regenerasi hati
Walaupun merupakan organ yang sel-selnya mengalami pembaharuan yang
lambat, hati mempunyai kemampuan regenerasi yang mengagumkan.
Kehilangan jaringan hati akibat kerja zat-zat toksik atau pembedahan memacu
sel-sel hati membelah dan hal ini terus berlangsung sampai perbaikan massa
jaringan semula tercapai. Proses regenerasi mungkin diawasi oleh zat dalam
sirkulasi yang dinamakan chalones, yang menghambat pembelahan mitosis
sel-sel tertentu. Bila suatu jaringan cedera atau dibuang sebagian, jumlah
chalones yang dihasilkan berkurang, akibatnya terjadi aktivitas pembelahan
yang hebat dalam jaringan tersebut.
7) Pankreas
Pankreas adalah kelenjar panjang yang agak menyempit dan berperan penting dalam s
istem pencernaan manusia, khususnya usus dua belas jari(duodenum). Letaknya di bel
akang usus dua belas jari, bagian posterior perut di bawah lambung dengan panjang 1
14 hingga 18 cm dan berat 65 hingga 67 gram.
Pankreas terdiri dari :
a) Kepalapankreas.
Merupakan bagian yang paling lebar, terletak di sebelah kanan rongga abdomen
dan di dalam lekukan duodenum dan yang praktis melingkarinya.
b) Badanpankreas.
Merupakan bagian utama pada organ itu dan letaknya di belakang lambung dan di
depan vertebra lumbalis pertama.
c) Ekorpankreas.
Merupakan bagian yang runcing di sebelah kiri dan yang sebenarnya menyentuh
limpa.Pada pankreas terdapat dua saluran yang mengalirkan hasil sekresi pankreas
ke dalam duodenum.
Struktur JaringanPenyusunPankreas.
Ada dua jaringan utama yang menyusun pankreas :
a) Jaringan Asini.
Berfungsi untuk mensekresi getah pecernaan dalam duodenum.
b) Pulau Langerhans.
Pulau Langerhans adalah kump
ulan sel berbentuk ovoid, beruk
uran 76×175 mm dan berdiamet
er 20 sampai 300 mikron terseb
ar di seluruh pankreas, walaupu
n lebih banyak ditemukan di ek
or daripada kepala dan badan p
ankreas. Pulau-pulau ini menyu
sun 1-2% berat pankreas. Pada
manusia terdapat 1-2 juta pulau.
Masing-masing memiliki pasokan darah yang besar; dan darah dari pulau Langerh
ans, seperti darah dari saluran cerna tetapi tidak seperti darah dari organ endokrin l
ain, mengalir ke vena hepatika. Sel-sel dalam pulau dapat dibagi menjadi beberapa
jenis bergantung pada sifat pewarnaan dan morfologinya. Pada manusia paling sedi
kit terdapat empat jenis sel : sel A (alfa), B (beta), D (delta), dan F. Sel A mensekr
esikan glukagon, sel B mensekresikan insulin, sel D mensekresikan somastostatin,
dan sel F mensekresikan polipeptida pankreas. Sel B yang merupakan sel terbanya
k dan membentuk 60-70% sel dalam pulau, umumnya terletak di bagian tengah pul
au. Sel-sel ini cenderung dikelilingi oleh sel A yang membentuk 20% dari sel total,
serta sel D dan F yang lebih jarang ditemukan. Pulau-pulau yang kaya akan sel A
secara embriologis berasal dari tonjolan pankreas dorsal, dan pulau yang kaya akan
sel F berasal dari tonjolan pankreas ventral. Kedua tonjolan ini berasal dari tempat
yang berbeda di duodenum. Granula sel B adalah paket-paket insulin dalam sitopl
asma sel. Di dalam sel B molekul insulin membentuk polimer dan juga berikatan d
engan seng. Perbedaan dalam bentuk paket mungkin disebabkan perbedaan ukuran
agregat seng atau polimer insulin. Granula A yang mengandung glukagon berbent
uk relatif seragam dari spesies ke spesies. Sel D juga mengandung banyak granula
yang relatif homogen.Sel beta yang ada di pulau langerhans memproduksi hormon
insulin yang berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah dan secara fisiologi
memiliki peranan yang berlawanan dengan glukosa. Insulin menurunkan kadar gul
a darah dengan beberapa cara. Insulin mempercepat transportasi glukosa dari darah
ke dalam sel, khususnya serabut otot rangka glukosa masuk ke dalam sel tergantun
g dari keberadaan reseptor insulin yang ada di permukaan sel target. Insulin juga m
empercepat perubahan glukosa menjadi glikogen, menurunkan glycogenolysis dan
gluconeogenesis, menstimulasi perubahan glukosa atau zat gizi lainnya ke dalam a
sam lemak (lipogenesis), dan membantu menstimulasi sintesis protein.Pankreas jug
a mengandung sel yang menghasilkan getah pankreas.Getah pancreas adalah getah
pencernaan yang mempunyai peran penting dalam mengolah tiga kelompok bahan
makanan organic utama, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak.Getah pancreas ini t
erutama terdiri dari air, bikarbonat, dan enzim yang dapat dibedakan atas enzim tri
psin, enzimamilase, serta enzim lipase.
Fungsi enzim pancreas adalah sebagai berikut.
a) Enzim amylase atau amylopsin berfungsi untuk mengubah karbohidrat (zattepun
g) menjadi gula-gula yang lebih sederhana seperti maltosa.
b) Enzim lipase berperan dalam mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol
.
c) Enzim tripsin untuk mencerna protein. Mengubah protein menjadi bentuk yang l
ebih sederhana, seperti pepton dan asam amino.
Natrium bikarbonat menciptakan suasana basa yang mengaktifkan enzim-enzim. G
etah pancreas dialirkan ke usus dua belasjari melalui dua saluran di sepanjang pank
reas.Pada usus duabelas jari, bikarbonat menetralisir chymus asam.Tripsin bekerja
atas protein dalam makanan dan membantu menyempurnakan proses pencernaan
makanan di dalam lambung bersama-sama dengan enzim pepsin yang dihasilkan ol
eh lambung. Amilase berperan dalam melanjutkan proses pemecahan karbohidrat y
ang telah dimulai oleh enzim ptyalin dalam air ludah. Sementara itu, lipase mempu
nyai peran yang tak kalah penting dalam proses pemecahan lemak.

Beberapa fungsi utama dari pancreas antara lain :


a) Mengatur kadar gula dalam darah melalui pengeluaran glukagon, yang menambah
kadar gula dalam darah dengan mempercepat tingkat pelepasan dari hati.
b) Pengurangan kadar gula dalam darah dengan mengeluarkan insulin yang mana me
mpercepat aliran glukosa ke dalam sel pada tubuh, terutama otot. Insulin juga mera
ngsang hati untuk merubah glukosa menjadi glikogen dan menyimpannya di dalam
sel-selnya.

8). Usus Halus

Usus halus terdiri dari beberapa bagian yaitu :


a) Duodenum
Duodenum adalah bagian pertama usus halus yang 25 cm panjangnya, berbentuk s
epatu kuda, dan kepalanya mengelilingi kepala pankreas.Saluran empedu dan salur
an pankreas masuk ke dalam duodenum pada suatu lubang yang disebut ampula he
patopankreatika, atau ampula Vateri, 10 cm dari pilorus.
Dinding usus halus terdiri atas empat lapisan yang sama dengan lambung, yaitu:
(1) Dinding lapisan luaradalah membran serosa, yaitu peritoneum yang membalut
usus dengan erat.Dinding lapisan berototterdiri atas dua lapis serabut. Lapisan
luar terdiri atas serabut longitudinal, dan di bawah lapisan tersebut ada lapisan
tebal yang terdiri atas serabut sirkular. Di antara kedua lapisan serabut berotot
tersebut terdapat pembuluh darah, pembuluh limfe, dan pleksus saraf.

(2) Dinding submukosaterdapat di antara otot sirkular. Dinding submukosa ini terd
iri atas jaringan areolar dan berisi banyak pembuluh darah, saluran limfe, kele
njar, dan pleksus saraf yang disebut pleksus Meissner. Dinding submukosa da
n mukosa dipisahkan selapis otot datar yang mukosa muskularis.

(3) Dinding mukosa dalamadalah dinding yang menyelaputi usus bagian dalam dis
usun berupa kerutan tetap seperti jala, yang disebut valvulae koniventes yang
memberi kesan anyaman halus. Lipatan ini menambah luasnya permukaan sek
resi dan absorpsi. Dinding ini dihalangi agar isinya tidak terlalu cepat berjalan
melalui usus, memberi kesempatan lebih lama pada getah pencerna untuk beke
rja atas makanan.

Fungsi duodenum :
(1) Mencerna dan mengabsorpsi kime dari lambung.
(2) Kime (isinya yang cair) dijalankan oleh serangkaian gerakan peristaltik yang
cepat.
Gerakan duodenum:
(1) Gerakan segmental ialah gerakan yang memisahkan beberapa segmen usus ka
rena diikat gerakan konstriksi serabut sirkuler. Sentuhan ini untuk digesti dan
absorpsi.
(2) Gerakan pendulum atau ayunan menyebabkan usus bercampur.
b) Yeyenum dan ileum
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar  6 m 2/5 bagian atas adalah
yeyenum dengan panjang  23 m dan ileum dengan panjang  4-5 m. Lekukan
yeyunum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan
lipatan peritoneum yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.

Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan


vena mesentrika superior. Pembuluh limfe dan saraf keruang antara 2 lapisan
peritoneum yang membentuk mesentrium. Sambungan antara yeyunum dan ileum
tidak memiliki batas yang tegas. Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum
dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikal. Orifisium ini
diperkuat oleh sfinter ileoseikalis san pada bagian ini terdapat katub valvula
baukhini yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam colon asenden tidak masuk
kembali kedalam ileum

c) Mucosa dan usus halus


Permukaan epitel yang sangat luas melalui lipatan mucosa dan kicrovili
memudahkan pencernaan dan absorbsi, lipatan ini dibentuk oleh mucosa dan
submucosa yang dapat memperbesar parmukaan usus halus. Pada penampang
melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yang menghasilkan bermacam-macam
peranan aktif dalam pencernaan.

Absorbsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung didalam usus


halus melalui 2 saluran yaitu pembuluh kapiler dalam darah dan saluran limfe
disebelah dalam permukaan vili usus. Sebuah vilus berisis lacteal, pembuluh darah
epitelium dan jaringan otot yang diikat bersama oleh jaringan limfoid seluruhnya
diliputi membran dasar dan ditutupi oleh epitelium. Karena vili keluar dari dinding
usus maka bersentuhan dengan makan cair dan lemak yang diabsorbsi kedalam
lacteal kemudian berjalan melalui pembuluh limfe masuk kedalam pembuluh
kapiler darah vili dan vena porta dibawa ke hati untuk mengalami beberapa
perubahan.

Ringkasan Absorbsi

Sumber Hasil Akhir


Organ Absorbsi
Makanan Cernaan

Asam Dari epitelium


Protein masuk ke
amino
pembuluh dan
aliran darah

Dari epitelium
Gliserin
vili masuk
Lemak dan asam
lacteal dan
lemak
aliran limfe

Mono Dari epitelium


sacarida : vili dan dinding
Hidrat
pembuluh dara
Carbon - Glukosa
masuk aliran
- Leavilosa
darah
- Galaktosa

Fungsi usus halus :

(1) Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-
kapiler darah dan saluran-saluran limfe
(2) Menyerap protein dalam bentuk asam amino
(3) Karbohidrat diserap dalam bentuk monosacarida
Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghsilkan getah usus yang
menyempurnakan pencernaan makanan :

(1) Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik


(2) Eripsin, menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino
(3) Laktase mengubah lactase menjadi monosakarida
(4) Maltosa mengubah maltosa menjadi monosacarida
(5) Sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosacarida
Pergerakan usus halus

(1) Kontraksi segmentasi: kimus membelah berkali-kali dalam semenit untuk mening
katkan pencampuran partikel makanan dengan sekret usus halus.

(2) Kontraksi pendorong: kimus didorong oleh gerakan peristaltik. 1cm permenit perg
erakannya.

(3) Refleks peristaltik: disebabkan oleh peregangan. Peregangan merangsang reseptor


diikuti kontraksi otot. Proses kontraksi menyebar ke anus dengan gerakan peristal
tik.

Katup ileosekalis

(1) Fungsi: mencegah aliran balik feses dari kolon ke dalam usus halus.

(2) Dinding ileum mempunyai penebalan otot sfingter ileosekal

(3) Sfingter ileosekal relaks akibat hormon gastrin yang memungkinkan pengosongan
dengan cepat.

(4) Pengaturan sfingter ileosekal: bila sfingter ileosekal teregang, pengosongan kimus
terhambat. Kasus lain pada peradangan apendiks iritasi sfingter ileosekal sangat k
uat, menghambat sempurna pengosongan ileum.

9) Usus Besar
Merupakan usus yang memiliki diameter lebih besar dari usus halus. Memiliki panjan
g 1,5 meter, dan berbentuk seperti huruf U terbalik. Usus besar berisi kuman dengan j
umlah mencapai triliunan. Mikroba ini berfungsi dalam proses pembusukan. Ada beb
erapa bakteri yang dapat menghasilkan vitamin B dan K. Kegiatan bakteri-bakteri ini
dalam mencerna sisa-sisa protein dapat menghasilkan bau busuk yang keluar dalam b
entuk gas dari dubur. Gas yang dihasilkan dapat mencapai 2 liter setiap hari.

Proses penyerapan air dan mineral ini ibarat menimba air bersih di dalam saluran got
yang airnya sangat kotor karena di dalam usus besar ini hanya terdapat makanan dala
m bentuk sisa-sisa yang akan dibusukkan dan dibuang ke luar tubuh. Itulah kerja dari
usus besar ini.

Di dalam usus besar, makanan hanya akan mengalami penyerapan air dan beberapa ga
ram mineral.Di dalam usus makanan sudah berwujud dalam bentuk ampas. Adanya b
akteri saprofit, yaitu Eschericia coli menyebabkan ampas makanan akan membusuk y
ang selanjutnya akan dikeluarkan dalam bentuk feses.
Jika dalam dinding usus besar seseorang terinfeksi, akibatnya penyerapan air akan ter
ganggu, sehingga wujud feses dalam keadaan cair yang disebut dengan gejala diare. A
pabila seseorang menahan buang air besar, maka akan menyebabkan penyerapan air y
ang berlebihan sehingga feses menjadi keras yang disebut dengan konstipasi (sembelit
) yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah vena sekitar anus yang gejalany
a disebut dengan hemoroid (ambeien).

Fungsi Usus Besar :

a) Menyerap air selama proses pencernaan.


b) Tempat dihasilkannya vitamin K, dan vitamin H (Biotin) sebagai hasil simbiosis
dengan bakteri usus, misalnya E.coli.
c)Membentuk massa feses
d)Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh. Pengeluaran fe
ses dari tubuh ddefekasi.

Struktur dan Fungsi

Usus besar terdiri dari


beberapa bagian yaitu
:

a ) Sekum
Terletak pada perut ka
nan bawah, sekum adalah struktur berbentuk kantong kecil yang membentuk bagia
n pertama dari usus besar. Hal ini terhubung ke bagian terakhir dari usus kecil (ileu
m) pada ujung anterior dan usus ascending pada akhir posterior.

b) Kolon Asenden
Kolon adalah bagian terpanjang dari usus besar dan dimulai dengan usus asenden,
yang disebut demikian karena mulai di dasar perut (kanan) dan bergerak ke atas m
enuju hati. Ini berakhir di mana usus besar mulai berubah di samping hati.

c) Kolon transversum
Kolon asenden mengarah ke kolon transversum yang bergerak dari kanan ke kiri, d
i perut. Itu terletak tepat di bawah perut. Selain itu, usus besar transversum juga me
lekat pada perut oleh sekelompok dari jaringan yang disebut omentum yang lebih b
esar. Kemudian beralih ke bawah pada limpa dan berakhir ke dalam kolon denden.

d) Kolon desenden
Berjalan ke bawah dari kolon transversum adalah kolon desenden yang terletak di s
isi kiri perut dan berakhir ke bagian terakhir dari usus besar disebut kolon sigmoid.

e) Kolon sigmoid
Terletak di sisi kiri bawah perut, kolon sigmoid adalah struktur ‘berbentuk S’ berg
abung dengan kolon desenden dan rektum. Bagian dari usus besar dilapisi dengan j
aringan otot yang kuat yang memberikan usus besar kekuatannya untuk mengusir s
ampah ke dalam rektum.

f) Rektum
Bagian terakhir dari usus besar disebut rektum. Di sinilah bahan limbah dalam bent
uk feses disimpan sampai diekskresikan keluar dari anus. Ini terdiri dari lapisan mu
kosa tebal dan disertakan dengan banyak pembuluh darah.

10) Apendiks

Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), terl
etak posteromedial caecum kira-kira 3 cm inferior valvula ileosekalis. Appendiks men
ghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin dan
musin. Posisi appendiks bisa retrocaecalis, retroilealis, pelvicum, epiploika, subsekal,
dan pre-ileal, memberikan gambaran klinis yang tidak sama. Apendiks berisi makana
n dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tid
ak efektif dan lumennya kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terh
adap infeksi (Apendiksitis). Penyebab paling umum dari apendisitis adalah obstruksi l
umen oleh feses, yang akhirnya merusak suplai darah dan merobek mukosa yang men
yebabkan inflamasi.
4. Patofisiologi
a. Etiologi
Ngastiyah (2014), mengatakan diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain
penyebab lain seperti malabsorbsi. Diare sebenarnya merupakan salah satu gejala dari
penyakit pada system gastrointestinal atau penyakit lain diluar saluran pencernaan.
Tetapi sekarang lebih dikenal dengan “penyakit diare”, karena dengan sebutan
penyakit diare akan mempercepattindakan penanggulangannya. Penyakit diare
terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya karena dapat membawa
bencana bisa terlambat. Faktor penyebab diare, antara lain :
1) Factor Infeksi
a) Infeksi enteral : infeksi saluran pencernaan, makanan merupakan
penyebab utama diare pada anak. Yang termasuk infeksi enteral adalah
sebagai berikut :
(1) Infeksi bakteri : Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,
Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya.
(2) Infeksi virus : Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, Polomyelitis) Adeno-
virus, Rotavirus, Astovirus, dan lain-lain.
(3) Infeksi parasite : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris,Strongyloides)
,protozoa(Entamoebahistolytica,Giardia lamblia, Trichomonas homini), jamur
(Candida albicans).
b) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti : otitis
media akut (OMA), tonsillitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis,
dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur
dibawah 2 tahun.
2) Factor malabsorbsi
a) Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intolerasni laktosa,maltose, dan
sukrosa);monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dangalaktosa). Pada bayi dan
anak terpenting dan tersering (intoleransi laktosa).
b) Malabsorbsi lemak.
c) Malabsorbsi protein.
3) Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4) Faktor psikologis, rasa takut dan cemas, (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak
yang lebih besar).
Selain kuman ada beberapa prilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare,
yaitu:
1) Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 0-6 bulan pertama dari kehidupan
2) Menggunakan botol susu
3) Menyimpan makanan masak pada suhu kamar
4) Air minum tercemar dengan bakteri tinja

5) Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja, atau
sebelum menjamah makanan.
Menurut Wong (2008), penyebab infeksius dari diare akut yaitu :

1) Agens virus

a) Rotavirus, masa inkubasi 1-3 hari. Anak akan mengalami demam (380C atau
lebih tinggi), nausea atau Vomitus, nteri abdomen, disertai infeksi saluran
pernafasan atas dan diare dapat berlangsung lebih dari 1 minggu. Biasanya
terjadi pada bayi usia 6-12 bulan, sedangkan pada anak terjadi di usia lebih dari
3 tahun.
b) Mikroorganisme, masa inkubasi 1-3 hari. Anak akan demam, nafsu makan
terganggu, malaise. Sumber infeksi bisa didapat dari air minum, air ditempat
rekreasi (air kolam renang, dll), makanan. Dapat menjangkit segala usian dan
dapat sembuh sendiri dalam wakru 2-3 hari.
2) Agens bacteri
a) Escherichia coli, masa inkubasinya bervariasi tergantung pada strainnya.
Biasanya anak akan mengalami distensi abdomen, demam, vomitus, BAB
berupa cairan berwarna hijau dengan darah atau mucus bersifat menyembur.
Dapat ditularkan antar individu, disebabkan karena daging yang kurang matang,
pemberian ASI tidak ekslusif.
b) Kelompok salmonella (nontifoid), masa inkubasi 6-72 jam untuk gastroenteritis.
Gejalanya bervariasi, anak bisa mengalaminausea atau vomitus, nyeri abdomen,
demam, BAB kadang berdarah dan ada lendir, peristaltic hiperaktif, nyeri tekan
ringan pada abdomen, sakit kepala, kejang. Dapat disebabkan oleh makanan dan
minuman yang sudah terkontaminasi oleh binatang seperti kucing, burung dan
lainnya.
3) Makanan
a) Staphylococcus, masa inkubasi 4-6 jam. Dapat menyebabkan kram yang hebat
pada abdomen, syok. Disebabkan oleh makanan yang kurang matang atau
makanan yang disimpan dilemari es seperti pudding, mayones, makanan yang
berlapis krim.
b) Clostridium perfringens, masa inkubasi 8-24 jam. Dimana anak akan mengalami
nyeri epigastrium yang bersifat kram dengan intensitas yang sedang dan berat.
Penularan bisa lewat produk makanan komersial yang paling sering adalah
daging dan unggas.
c) Clostridium botulinum, masa inkubasi 12-26 jam. Anak akan mengalami
nausea, vomitus, mulut kering, dan disfagia. Ditularkan lewat makanan yang
terkontaminasi. Intensitasnya bervariasi mulai dari gejala ringan hingga yang
dapat Penyebab tersering diare pada anak adalah disebabkan infeksi rotavirus.
Setelah terpapar dengan agen tertentu, virus akan masuk ke dalam tubuh
bersama dengan makanan dan minuman yang masuk ke dalam saluran
pencernaan yang kemudian melekat sel-sel mukosa usus, akibatnya sel mukosa
usus menjadi rusak yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. Sel-sel
mukosayang rusak akan digantikan oleh sel enterosit baru yang berbentuk
kuboid atau sel epitel gepeng yang belum matang sehingga fungsi sel-sel ini
masih belum bagus. Hal ini menyebabkan vili-vili usus halus mengalami atrofi
dan tidak menimbulkan kematian dengan cepat dalam waktu beberapa jam.

b. Proses terjadinya penyakit


Hidayat (2008), mengatakan proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai
kemungkinan factor diantaranya :
1) Factor infeksi
a) Virus
dapat menyerap cairan dan makanan dengan baik. Selanjutnya, terjadi
perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus
dalam absorbs cairan dan elektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri
virus akan menyebabkan system transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa
mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat.
b) Bakteri
Bakteri pada keadaan tertentu menjadi invasif dan menyerbu ke dalam mukosa,
terjadi perbanyakan diri sambil membentuk toksin. Enterotoksin ini dapat
diresorpsi ke dalam darah dan menimbulkan gejala hebat seperti demam tinggi,
nyeri kepala, dan kejang-kejang. Selain itu, mukosa usus, yang telah dirusak
mengakibatkan mencret berdarah berlendir. Penyebab utama pembentukan
enterotoksin ialah bakteri Shigella sp, E.colli. diare ini bersifat self-limiting
dalam waktu kurang lebih lima hari tanpa pengobatan, setelah sel-sel yang rusak
diganti dengan sel-sel mukosa yang baru (Wijoyo, 2013).
2) Factor malabsorbsi,
a) Gangguan Osmotik
Cairan dan makanan yang tidak dapat diserap akan terkumpul di usus halus
dan akan meningkatkan tekanan osmotic usus, akibatnya akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat. Gangguan osmotik
meningkatkan menyebabkan terjadinya pergeseran air dan elektrolit kedalam
rongga usus. Hal ini menyebabkan terjadinya hiperperistaltik usus. Cairan
dan makanan yang tidak diserap tadi akan didorong keluar melalui anus dan
terjadilah diare (Nursalam, 2008).
b) Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya
timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus (Nursalam, 2008).
c) Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltic usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul
diare pula.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat di
sebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit, serta mengalami gangguan asam
basa dapat menyebabkandehidrasi,asidosis metabolik, hypokalemia dan
hypovolemia.Gejala dari dehidrasi yang tampak yaitu berat badan turun,
turgor kembali sangat lambat,mata dan ubun-ubun besar menjadi
cekung,mucosa bibir kering.
Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat
menyebabkan hypovolemia,kolaps cardiovaskuler dan kematian bila tidak
diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat
berupa dehidrasi isotonik. Dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau
dehidrasihipotonik. Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan
dengan kriteria WHO 2008 yaitu sebagai berikut:

Tabel 1.1
Klasifikasi tingkat dehidrasi anak dengan diare
Klasifikasi Tanda atau gejala Pengobatan
Dehidrasi Terdapat 2 atau lebih Beri cairan untuk diare berat.
berat tanda di bawah ini : (lihat rencana terapi C untuk
Letargi/tidak sadar Mata diare, di rumah sakit →
cekung Tidak bias lampiran)
minum atau malas
minum Cubitan kulit
perut kembali sangat
Dehidrasi Terdapat 2 atau lebih Beri anak cairan dan
ringan/sedang tanda-tanda dibawah ini : makanan untuk dehidrasi
Rewel, gelisah Mata ringan. Stelah rehidrasi,
cekung Minum dengan nasehati ibu untuk
lahap, haus Cubitan kulit penanganan di rumah dan
kembali lambat kapan kembali segera.
Kunjungan ulang 5 hari jika
tidak membaik.
Tanpa Tidak terdapat cukup Beri cairan dan makanan
dehidrasi tanda-tanda untuk untuk menangani disre di
diklasifikasikan sebagai rumah. Nasehati ibu kapan
dehidrasi ringan atau kembali segera Kunjungan
berat ulang waktu 5 hari jika tidak
membaik.

Penilaian derajat dehidrasi dapat juga ditentukan dengan cara


membandingkan berat badan sebelum dan selama diare.Sumber:Buku saku
Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit,2009
c. Tanda dan Gejala
1. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu
makan berkurang.
2. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai
mual dan muntah.
3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
4. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam
akibat banyaknya asam laktat.
5. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elistitas kulit menurun),
ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat
badan.
6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut
jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora
komatus) sebagai akibat hipovokanik.
7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
8. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan
dalam. (Kusmaul).

d. Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi WHO (1996) diare dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

1) Diare akut, yaitu diare yang terjadi tiba-tiba, frekwensi sering, konsistensi cair
yang bersifat watery (malabsorbsi, keracunan dan alergi) diare ini sering
disebabkan oleh retrovirus, E. Coli, Shigella, Campylobacter jejuni dan
cryptosporidium.
2) Disentri , yaitu buang air besar dengan konsistensi cair, frekwensi cair, sedikit-
sedikit, kadang-kadang disertai darah atau lender,. Diare ini dapat disebabkan oleh
Shigella, Campylibacter jejuni, Enteroinvasive Escherichia Coli (EIEC),
Salmonella dan E. Histolitica.
3) Diare persistens yaitu bila diare yang terjadi lebih dari 14 hari , dapat cair (watery)
maupun disentri. Diare ini dapat disebabkan oleh EIEC, Shigella, dan
Cryptosporidium.
Sedangkan menurut Wong (2008), diare dapat diklasifikasikan, sebagai berikut:
1) Diare akut
Merupakan penyebab utama keadaan sakit pada balita. Diare akut didefinisikan
sebagai peningkatan atau perubahan frekuensi defekasi yang sering disebabkan
oleh agens infeksius dalam traktus Gastroenteritis Infeksiosa (GI). Keadaan ini
dapat menyertai infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau infeksi saluran kemih
(ISK). Diare akut biasanya sembuh sendiri (lamanya sakit kurang dari 14 hari) dan
akan mereda tanpa terapi yang spesifik jika dehidrasi tidak terjadi.
2) Diare kronis
Didefinisikan sebagai keadaan meningkatnya frekuensi defekasi atau kandungan
air dalam feses dengan lamanya (durasi) sakit lebih dari 14 hari. Kerap kali diare
kronis terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom malabsorpsi, penyakit
inflamasi usus, defisiensi kekebalan, alergi makanan, intoleransi latosa atau diare
nonspesifik yang kronis, atau sebagai akibat dari penatalaksanaan diare akut yang
tidak memadai.
3) Diare intraktabel
Yaitu diare membandel pada bayi yang merupakan sindrompada bayi dalam usia
minggu pertama dan lebih lama dari 2 minggu tanpa ditemukannya dari
mikroorganisme pathogen sebagai penyebabnya dan bersifat resisten atau
membandel terhadap terapi. Penyebabnya yang paling sering adalah diare infeksius
akut yang tidak ditangani secara memadai.
4) Diare kronis nonspesifik
Diare ini juga dikenal dengan istilah kolon iritabel pada anak atau diare toddler,
merupakan penyebab diare kronis yang sering dijumpai pada anak-anak yang
berusia 6 hingga 54 minggu. Feses pada anak lembek dan sering disertai dengan
partikel makanan yang tidak dicerna, dan lamanya diare lebih dari 2 minggu.
Anak-anak yang menderita diare kronis nonspesifikini akan tumbuh secara normal
dan tidak terdapat gejala malnutrisi, tidak ada daearh dalam fesesnya serta tidak
tampak infeksi enteric.
e. Kompliasi
Menurut Suharyono dalam (Nursalamm, 2008),komplikasi yang dapat terjadi dari
diare akut maupun kronis,Yaitu:
1) Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi)
Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (Asidosis
metabolic),Karena:
(a) kehilangan natrium bicarbonate bersama tinja.
(b) walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pencernaan dalam waktu
yang terlalu lama.
(c) makanan diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan baik
adanya hiperperstaltik.
2) Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah, maka dapat terjadi
gangguan sirkulasi darah berupa renjatan natau syok hipovolemik. Akibat perfusi
jaringan berkurang dan terjadinya hipoksia, asidosis bertambah berta sehingga
dapat mengakibatkan perdarahan di dalam otak, kesadaran menurun, dan bila
tidak segera ditolong maka penderita meninggal.
3) Hiponatremia
Anak dengan diare hanya minum air putih atau cairan yang hanya mengandung
sedikit garam, dapat terjadi hiponatremi (Na< 130 mol/L). Hiponatremi sering
terjadi pada anakdengan Shigellosis dan pada anak malnutrisi berat dengan
oedema. Oralit aman dan efektif untuk terapi darin hamper semua anak dengan
hiponatremi. Bila tidak berhasi, koreksi Na dilakukan berasama dengan koreksi
cairan rehidrasi yaitu: memakai Ringer Laktat atau Normal (Juffrie, 2010)
5. Pemeriksaan diagnostik
Test Diagnostik
a) Pemeriksaan tinja
1) Markoskopik dan mikroskopik
2) Ph dan kadar gula tinja
3) Biakan dan resistensi feces (color )
b) Analisa gas dada apabila didapatkan tanda-tanda gangguan keseimbangan asam basa
(pernafasan kusmaoul)
c) Pemeriksaan kadar ureum kreatif untuk mengetahui faal ginjal
d) Pemeriksaa elektrolitterutama kadar Na,K,Kalsium dan fosfat
6. Penata laksanaan
a) Penatalaksanaan medis
1) Dehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan. Empat hal penting yang perlu
diperhatikan.
(a) Jenis cairan
(1) Oral : Pedialyte atau oralit, Ricelyte
(2) Parenteral : NaCl, Isotonic, infuse
(b) Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan cairan yang dikeluarkan.
(c) Jalan masuk atau cairan pemberian
(1) Cairan per oral, pada pasien dehidrasi ringan dan sedang cairan

diberikan per oral berupa cairan yang berisikan NaCl dan NaHCO3, KCL,
dan glukosa.
(2) Cairan parenteral, pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL) selalu tersedia
di fasilitas kesehatan dimana saja. Mengenai beberapa banyak cairan yang
diberikan tergantung dari berat ringan dehidrasi, yang diperhitungkan
dengan kehilangan cairansesuai dengan umur dan berat badannya.

(d) Jadwal pemberian cairan


Diberikan 2 jam pertama,selajutnya dilakukan penilaian kembali status hidrasi
untuk menghitung keburtuhan cairan.
(1) Identifikasi penyebab diare
(2) Terapi sistemik seperti pemberian obat anti diare, obat anti
mortilitas dan sekresi usus, antimetik.
2) Pengobatan dietetic
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang
dari 7 kg jenis makanan :
(a) Susu (ASI atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam
lemak tidak jenuh, misalnyta LLM. Almiron atau sejenis lainnya).
(b) Makan setengah padat (bubur) atau makan padat (nasi tim), bila anak tidak
mau minum susu karena dirumah tidak biasa.
(c) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditermukan misalnya
susus yang tidak mengandung laktosa atau asam lemak yang berantai sedang
atau tidak jenuh (Ngastiyah, 2014).

b) Penatalaksanaan keperawatan
1). Bila dehidrasi masih ringan
Berikan minum sebanyak-banyaknya, 1 gelas setiap kali setelah pasien defekasi.
Cairan mengandung elektrolit, seperti oralit. Bila tidak ada oralit dapat diberikan
larutan garam dan 1 gelas air matang yang agak dingin dilarutkan dalam satu
sendok teh gula pasir dan 1 jumput garam dapur.
Jika anak terus muntah tidak mau minum sama sekali perlu diberikan melalui
sonde. Bila cairan per oral tidak dapat dilakukan, dipasang infuse dengan cairan
Ringer Laktat (RL) atau cairan lain (atas persetujuan dokter). Yang penting
diperhatikan adalah apakah tetesan berjalan lancar terutama pada jam-jam pertama
karena diperlukan untuk mengatasi dehidrasi.
2) Pada dehidrasi berat
Selama 4 jam pertama tetesan lebih cepat.untuk mengetahui kebutuhan sesuai
dengan yang diperhitungkan, jumlah cairan yang masuk tubuh dapat dihitung
dengan cara:
(a) Jumlah tetesan per menit dikali 60, dibagi 15/20 (sesuai set infuse yang
dipakai). Berikan tanda batas cairan pada botol infuse waktu memantaunya.
(b) Perhatikan tanda vital : denyut nadi, pernapasan, suhu.
(c) Perhatikan frekuensi buang air besar anak apakah masih sering, encer atau
sudah berubah konsistensinya.
(d) Berikanminum teh atau oralit 1-2 sendok jam untuk mencegah bibir dan selaput
lendir mulut kering.
(e) Jika dehidrasi telah terjadi, infus dihentikan, pasien diberikan makan lunak atau
secara realimentasi.
Penanganan diare lainya yaitu dengan rencana terapi A, B, dan C sebagai berikut:
a) Rencana terapi A
Penanganan diarea rumah, dengan menjelaskan pada ibu tentang 4 aturan
perawatan di rumah :
1)Beri cairan tambahan
(a) Jelaskan pada ibu, untuk
(1). Beri ASI lebih sering danlebih lama pada setiap kali pemberian.
(2). Jika anak memperoleh ASI Eksklusif, berikan oralit atau air matang
sebagai tambahan.
(3). Jika anak tidak memperoleh ASI Eksklusif, berikan 1 atau lebih cairan
berikut ini : oralit, cairan makanan (kuah sayur, air tajin). Atau air matang.
Anak harus diberi larutan oralit dirumah jika:
(1). Anak telah diobati dengan Rencana Terapi B atau C dalam kunjungan
ini.
(2). Anak tidak dapat kembali ke klinik jika diareanya bertambah parah.
(b). Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6 bungkus
oralit (200 ml) untuk digunakan dirumah. Tunjukkan kepada ibu beberapa
banyak oralit atau caian lain yang harus diberikan setiap kali anak berak:
(1). Sampai umur 1 tahun : 50 sampai 100 ml setiap kali berak.
(2). Umur 1 sampai 5 tahun : 100sampai 200 ml setiap kali berak.
Katakan kepada ibu:
(1). Agar meminum sedikit-sedikit tapi sering dari mangkuk / cairan / gelas.

(2). Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan lagi lebih
lambat.

(3). lanjutakan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

2) Beri tablet Zinc selam 10 hari.

3) lanjutkan pemberian makanan

4)kapan haruskembali konseling bagi ibu.

b) Rencana terapi B
Penanganan dehidrasi ringan/sedang dengan oralit. Berikan oralit di klinik sesuai yang
dianjurkan selama periode 3 jam.
Tabel 2.2
Pemberian Oralit
Umur ≤4 bulan 4 - ≤ 12 bulan 1 - < 2 tahun 2 - < 5
Tahun

Berat < 6 kg 6 -< 10 kg 10 - < 12 kg 12- 19 kg

Jumlah 200 -400 400-700 700 - 900 900-1400

Sumber : MTBS, 2011.

1). Tentukan jumlah oralit untuk 3 jam pertama


(a) Jika anak menginginkan, boleh diberikan lebih banyak dari pedoman diatas.
(b) untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menyusu, berikan juga
100-200 ml air matang selama periode ini.
2). Tunjukan cara memberikan larutan oralit
(a) Minumkan sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir/gelas
(b) Jika anak muntah, tunggu 10 menit . Kemudian berikan lagi lebih lambat.
(c) Lanjutkan ASI selama anak mau
3). Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut
(a) Umur <6 bulan : 10 mg/hari
(b) Umur ≥6 bulan : 20 mg/hari

4). Setelah 3 jam


(a) Ulangi penilaian dan klasifikasi kembali derajat dehidrasinya.
(b) Pilih rencana terapi yang seusuai untuk melanjutkan pengobatan.

(c) Mulai memberi makan anak.


5). Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai
(a) Tunjukan cara menyiapkan cairan oralit di rumah
(b) Tunjukan beberapa banyak oralit yang harus diberikan dirumah untuk
menyelesaikan 3 jam pengobatan.
(c) Beri oralit yang cukup untuk dehidrasi dengan menambahkan 6 bungkus
Lagi

(d) Jelas 4 aturan perawatan diare dirumah (lihat rencana terapi A).

c) Rencana terapi C
Penanganan dehidrasi berat dengan cepat, yaitu dengan :
1) Memberikan cairan intravena secepatnya. Jika anak bisa minum, beri oralit melalui
mulut sementara infuse dipersipakan. Beri ml/kg cairan Ringer Laktat atau jika
tersedia, gunakan cairan NaCl yang dibagi sebagai berikut

Tabel 2.3
Pemberian Cairan
Pemberian Pemberian

Umur Pertama 30 mg ml/kg Berikut 70 mg ml/kg


Selama Selama

Bayi 1 jam* 5 Jam

(dibawah umur 12 bulan)

Anak 30 menit* 2 Jam

(12 bulan sampai 5


tahun)


ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangatlah lemah atau tidak teraba
 Sumber :MTBS, 2011
2) Periksa kembali anak setiap15-30 menit. Jika nadi belum teraba, beri tetesan lebih
cepat.
3) Beri oralit (kira-kira 5 m/kg/jam) segera setelah anak mau minum: biasanya
sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan beri juga tablet Zinc.
4) Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam. Klasifikasi dehidrasi
dan pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan.
5) Rujuk segera untuk pengobatan intravena, jika tidak ada fasilitas untuk pemebrian
cairan intravena terdekat (dalam 30 menit).

6) Jika anak bisa minum, bekali ibu larutan oralit dan tunjukan cara meminumkan
pada anaknya sedikit demi sedikit selama dalam perjalanan menuju klinik.
7) Jika perawat sudah terlatih mengunakan pipa orogastik untuk rehidrasi, mulailah
melakukan rehidrasi dengan oralit melalui pipa nasogastrik atau mulut: beri 20
ml/kg/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg).
8) Periksa kembali anak setiap1-2 jam:
(a) Jika anak muntah terus atau perut makin kembung, beri cairan lebih lambat.
(b) Jika setelah 3 jam keadaan hidrasi tidak membaik, rujuk anak untuk pengobatan
intravena.
9) Sesudah 6 jam, periksa kembali anak. Klasifikasi dehidrasi. Kemudian tentukan
rencana terapi sesuai (A, B, atau C) untuk melanjutkan pengobatan.
d) Pemberian tablet Zinc untuk semua penderita diare
1) Pastikan semua anak yang menderita diare mendapatkan tablet Zinc sesuai dosis
dan waktu yang telah ditentukan.
2) Dosis tablet Zinc (1 tablet – 20 mg). berikan dosis tunggal selama 10 hari 1). (a)
Umur < 6 bulan : 1/2 tablet
(b) Umur ≥ 6 bulan : 1 tablet
3) Cara pemberian tablet Zinc
(a). Larutan tablet dengan sedikit air atau ASI dalam sendok teh (tablet akan larut)
30 detik), segera berikan kepada anak.
(b). Apabila anak muntah sekitar setengah jam setelah pemebrian tablet Zinc,
ulangi pemeberian dengan cara memberikan potongan lebih kecil dilarutkan
beberapa kali hingga satu dosis penuh.
(c). Ingatkan ibu untuk memberikan tablet Zinc setiap hari selama 10 hari penuh,
meskipun diare sudah berhenti, karena Zinc selain member pengobatan juga
dapat memberikan perlindungan terhadap diare selama 2-3 bulan ke depan.
d) Pemberian Probiotik Pada Penderita Diare
Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang diberikan sebagai suplemen
makanan yang memberikan pengaruh menguntungkan pada penderita dengan
memperbaiki keseimbangan mikroorganisme usus, akan terjadi peningkatan
kolonisasi bakteri probiotik di dalam lumen.
Saluran cerna. Probiotik dapat meningkatkan produksi musin mukosa usus sehingga
meningkatkan respons imun alami (innate immunity). Probiotik menghasilkan ion
hidrogen yang menurunkan pH usus dengan memproduksi asam laktat sehingga
menghambat pertumbuhan bakteri pathogen.
Probiotik saat ini banyak digunakan sebagai salah satu terapi suportif diare akut. Hal
ini berdasarkan perannya dalam menjaga keseimbangan flora usus normal yang
mendasari terjadinya diare. Probiotik aman dan efetif dalam mencegah dan mengobati
diare akut pada anak (Yonata. 2016).

e) Kebutuhan nutrisi
Pasien yang menderita diare biasanya juga menderita anoreksia sehingga masukan
nutrisinya menjadi kurang. Kekurangan kebutuhan nutrisi akan bertambah jika, pasien
mengalami muntah-muntah atau diare lama, keadaan ini menyebabkan makin
menurunnya daya tahan tubuh sehingga penyembuhan tidak lekas tercapai, bahkan
dapat timbul komplikasi.
Pada pasien yang menderita malabsorbsi pemberian jenis makan yang menyebabakan
malabsorbsi harus dihindarkan. Pemberian makanan harus mempertimbangkan umur
berat badan dan kemampuan anak menerimanya. Pada umumnya anak umur 1 tahun
sudah bisa makan makanan biasa, di anjurkan makan bubur tanpa sayuran pada saat
masih diare, dan minum teh. besoknya jika kondisinya telah membaik boleh diberi
wortel, daging yang tidak berlemak (Nagstiyah,2014).

9. Pathway

Infeksi Makanan

Piskologi

Berkembang diusus Toksistas tidak dapat diserap Ansietas

Hipersekresi air dan


Elektrolit Hiperperistatik Malabsrobsi KH,
Lemak
Protein

Isi usus Penyerapan makanan Meningkatkan


tekanan
Osmotik

Pergeseran air dan


elektrolit ke usus

Diare

Frekwensi BAB meningkat Distensi


Abdomen

Mual, muntah
Hilang cairan dan elektrolit
Kerusakan integritas
Berlebihan kulit perianl Napsu makan
Menurun

Ketidakseimbangan
32 nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh
Gangguan keseimbangan cairan Asidosis metabolik
dan elektrolit
Sesak
Dehidrasi
Ganggauan pertukaran gas

Kekurangan volume Resiko Syok


Cairan (hiporvolemik)

B. Konsep Asuhan keperawatan Anak Pendekatan Teori Konservasi Myra Estrine Levine
ProsesKeperawatan
Model perawatan Levine pada prinsipnya sama dengan elemen-elemen proses keperawatan.
Menurut Levine, seorang perawat harus selalu mengobservasi klien, memberikan intervensi yang
tepat sesuai dengan perencanaan dan melakukan evaluasi terhadap intervensi yang telah diberikan
(Alligood, 2010). Dalam model Levine, klien dipandang dalam posisi ketergantungan, sehingga
klien membutuhkan bantuan dari perawat untuk beradaptasi terhadap gangguan kesehatannya
(Parker, 2005). Perawat bertanggung jawab dalam menentukan besarnya kemampuan partisipasi
klien dalam perawatan. Menurut Alligood (2010), proses keperawatan berdasarkan model Levine
dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan pengumpulan data dengan wawancara dan observasi terhadap
perubahan yang terjadi pada pasien dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi.
Perawat mengamati terhadap respon sakit, membaca laporan medis, hasil pemeriksaan
diagnostik dan berbicara dengan klien untuk mengetahui kebutuhan mereka yang perlu
dibantu. Perawat menilai perubahan lingkungan internal dan eksternal dari klien yang dapat
menghambat kemampuan mereka untuk mencapai kesehatan yang secara menyeluruh. Dengan
mempertimbangkan prinsip konservasi, perawat akan menilai perubahan pada beberapa aspek
berikut :
•Konservasi energi : keseimbangan antara pengeluaran dan pasokan energi klien.
•Konservasi integritas struktur: sistem pertahanan bagi tubuh
•Konservasi integritas personal: perasaan klien tentang harga diri, dan kepribadian.
•Konservasi integritas sosial: kemampuan seseorang untuk berpartisipasi dalam sistem sosial
(keluarga, masyarakat, dll)
Pengkajian yang dilakukan adalah meliputi:

a. Identitas Pasien

b. Identitas Orang Tua/Penanggung Jawab

1) Ayah

2) Ibu

c. Keluhan Utama

d. Riwayat Kesehatan Dahulu

1) Riwayat Kehamilan Ibu

2) Riwayat Persalinan

3) Riwayat Kelahiran

4) Riwayat Alergi

5) Riwayat Imunisasi

6) Riwayat Pengobatan dan Operasi Sebelumnya:

7) Antropometri saat ini

8) Perkembangan

9) Kebiasaan

e. Genogram

f. Riwayat Kesehatan Sekarang


1) Konservasi Energi
Individu membutuhkan keseimbangan energi dan pembaharuan konstan dari energi
untuk mempertahankan aktifitas hidup. Proses seperti penyembuhan dan penuaan
merupakan hambatan bagi energy tersebut. Hukum termodinamika yang kedua
diterapkan pada apapun di dunia, termasuk manusia. Konservasi energi telah lama
dipakai dalam praktik keperawatan meskipun kebanyakan pada prosedur dasar. Tujuan
dari konversi energy ini adalah untuk menghindari penggunaan energy yang berlebihan
atau kelelahan. Karena individu memerlukan keseimbangan energy dan memperbaharui
energy secara konstan untuk mempertahankan aktivitas hidup. Dalam praktek
keperwatan, hal ini terlihat di ruang rawat pasien.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
a) Keadaan umum

b) Kesadaran

c) Tanda-tana vital

d) Status nutrisi/cairan

e) Aktivitas dan istirahat

f) Hygiene/mandi

2) Konservasi Integritas Struktur


Penyembuhan merupakan proses memulihkan integritas structural dan fungsi selama
konservasi dalam mempertahanka keutuhan levine’s 1991). Ketidakmampuan akan
ditunjukkan kepada level baru adaptasi (Levine, 1996). Perawat dapat membatasi jumlah
jaringan yang terlibat dalam penyakit dengan deteksi dini terhadap perubahan fungsi dan
dengan intervensi keperawatan. Konservasi integritas struktur bertujuan untuk
mempertahankan atau memulihkan struktur tubuh sehingga mencegah terjadinya
kerusakan fisik dan meningkatkan proses penyembuhan. Contoh: Membantu pasien
dalam latihan ROM, Pemeliharaan kebersihan diri pasien.
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain meliputi:
a) Kulit
b) Kepala
c) Mata
d) Teling
d) Hidung
e) Mulut dan tenggorokan
f) Lidah
h) Leher
i) Dada
j) Paru-paru
k) Jantung
l) Abdomen
m) Genitalia
n) Anus
o) Punggung
p) Ekstermitas
3) Konservasi Integritas Personal
Harga diri dan kepekaan identitas sangat penting, merupakan hal yang paling mudah
diserang. Hal ini diawali dengan berkurangnya privasi dan munculnya kecemasan.
Perawat dapat menunjukkan respek kepada pasien selama prosedur, mensupport usaha
mereka, dan mengajar mereka. Pada konservasi integritas personal, perawat diharapkan
memberikan pengetahuan dan kekuatan sehingga individu tidak lagi melanjutkan hidup
pribadi dan tidak lagi bergantung, kebutuhan pasien harus dihormati, dilengkapi dengan
privasi, dan dukungan psikologis. kesucian hidup diwujudkan pada semua orang.
Keterbatasan di sini akan berpusat pada klien yang secara psikologis terganggu.
Konservasi integritas personal bertujuan untuk mengenali individu sebagai manusia yang
mendapatkan pengakuan, rasa hormat, kesadaran diri, dan dapat menentukan nasibnya
sendiri.

Pemeriksaan yang dilakukan antara lain meliputi:


a) Perkembangan Psikososisl
b) Perkembangan moral

4) Konservasi Integritas Sosial

Seorang individu diakui sebagai anggota keluarga, anggota komunitas atau masyarakat,
kelompok keagamaan, kelompok etnis, dan system politik suatu bangsa. Makna hidup
meningkat sepanjang komunikasi sosial dan kesehatan dipertahankan. Perawat
memegang peranan professional untuk anggota keluarga, membantu dalam kebutuhan
agama, dan menggunakan hubungan interpersonal untuk melestarikan atau
mempertahankan integritas sosial. Tujuan konservasi integritas sosial adalah untuk
melestarikan dan pengakuan dari interaksi manusia, terutama dengan klien, orang lain
yang signifikan yang terdiri dari sistem dukungannya. Keterbatasan khusus untuk ini,
adalah ketika klien tidak memiliki orang lain yang signifikan seperti ditinggalkan anak-
anak, pasien psikiatris yang tidak mampu berinteraksi, klien tidak responsif seperti orang
tak sadar, fokus di sini adalah tidak lagi pasien sendiri namun ada orang-orang yang
terlibat dalam perawatan kesehatannya.
Pemeriksaan yangdilakukan meliputi:
a) Perkembangan social anak
b) hubungan dengan orang tua/pengasuh
c) Hubungan dengan saudara kandung
d) Hubunga dengan teman sebaya
e) Prestasi yang didapat
f) Interaksi dengan orang dewasa
g. Terafi
h. Pemeriksaanpenunjang/Laboratorium
i. Lain-lain

2. Tropikognosis danJustifikasi
Levine merekomendasikan trophicognosis sebagai suatu alternatif diagnosis
keperawatan. Diagnosa keperawatan menurut Levine adalah memberi arti atau makna data
yang telah dikumpulkan sesuai dengan kondisi pasien. Menyusun data-data yang telah
dikumpulkan, kemudian memberi arti dan melakukan analisa untuk memutuskan kebutuhan
pasien dan intervensi keperawatan mungkin diperlukan. Mengambil keputusan kebutuhan
pasien disebut sebagai trophicognosis.
Diagnosa Keperawatan Yang lazim muncul pada diare dengan menggunakan
NANDA, NIC,NOC adalah :
a. Gangguan pertukaran gas b/dperubahan membran alveolar – kapiler
b. Diare b/d proses infeksi, inflamasi diusus

c. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif


d. Kerusakan integritas kulit b/d ekskresi / BAB sering

e. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan intake
makanan
f. Resiko syok (hipovolemi) b/d kehilangan cairan dan elektrolit
g. Ansietas b/d perubahan status kesehatan
3. Hipotesis
Rencana penerapan intervensi keperawatan bertujuan untuk mempertahankan keutuhan
pasien dan mempromosikan adaptasi mereka terhadap situasi saat ini. Berdasarkan
trophicognosis yang ditemukan, perawat akan melakukan validasi ke pasien tentang masalah
mereka. Perawat akan membuat hipotesis dari masalah tersebut dan solusi yang bisa dilakukan,
yang selanjutnya akan menjadi rencana keperawatan.
Contoh rencana keperawatan (Sulisnadewi, 2012):
Konservasi energi:
1) Berikan cairan melalui oral maupun NGT sesuai kebutuhan.
2) Catat asupan dan haluaran.
3) Libatkan keluarga dalam pemberian minum, memantau asupan dan haluaran cairan.
4) Tindakan kolaborasi: berikan cairan parenteral sesuai program.
Konservasi integritas struktur:
1) Pantau tanda-tanda dehidrasi.
2) Timbang BB setiap hari.
3) Pantau tanda-tanda vital.
4) Kolaborasi dengan dokter untuk program terapi.
Konservasi integritas personal:
1) Lakukan pendekatan dan berbicara pada anak sebelum dan saat melakukan prosedur
keperawatan.
2) Berikan mainan yang dapat memberikan rasa nyaman.
Konservasi integritas sosial:
1) Anjurkan kunjungan dan partisipasi keluarga dalam perawatan anaksesuai kemampuan
keluarga untuk mencegah stres pada anak karena berpisah dari keluarganya.
2) Sentuh, peluk dan berbicara dengan anak untuk memberi rasa nyaman dan mengurangi
stres.
4. Intervensi dan ImplementasiKeperawatan

Dalam teori Konservasi Levine rancangan intervensi dibuat


berdasarkanpadaprinsipkonservasiyaitukonservasienergi,integritas struktur,
integritas personal dan integritas sosial. Tujuan dari intervensi adalah untuk
mempertahankan wholeness dan membantu memfasilitasi adaptasi (Alligood,
2010). Rencana tindakan kemudian diimplementasikan berdasarkan konsep
konservasi energi, integritas struktur, integritas personal dan integritas
sosialtersebut.

Istilah implementasi keperawatan tidak diungkapkan dengan jelas pada teori


Konservasi Levine. Implementasi keperawatan sekaligus dibicarakan dalm
konsep intervensi. Garis besar rencana tindakan keperawatan tergambar dalam
pernyataan hipotesis keperawatan. Secara teknis hipotesis digunakan untuk
memandu perawat dalam
membuatrincianrencanatindakankeperawatanyangakandilakukan. Implementasi
keperawatan yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk menguji hipotesis
yang sudah dibuat oleh perawat (hypothesis testing) (Alligood, 2010) apakah
dapat mengatasi masalah pada klien tersebut atautidak.
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
keperawatan

1 Gangguan Setelah diberikan tindakan NIC :


pertukaran gas b/d keperawatan pasien dapat • Airway Management
perubahan memban mempertahankan pertukaran • Buka jalan nafas, gunakan
alveolar-kapiler gas yang kuat tehnik chin lift atau
jawthrust bila perlu
NOC : • Posisikan pasien untuk
• Respiratory Status : Gas memaksimalkan pentilasi
Exchange • Identifikasi pasien
• Respiratory Status : perlunya pemasangan alat
Ventilation jalan nafas buatan
• Vital Sign Status • Pasang mayo bila perlu
• Lakukan fisioterapi dada
Kriteria hasil : jika perlu
• Mendemonstrasikan • Lakukan suction pada Mayo
peningkatan pentilasi • Berikan pelembab udara
dan oksigenasi yang • Respiratory Monitoring
adekuat. • Monitor rata-rata, kedalaman,
• Memelihara kebersihan irama dan usaha respirasi
paru-paru dan bebas dari • Catat pergerakan dada, amati
tanda-tanda distress kesimetrisan,penggunaan otot
pernafasan. tambahan, retraksi otot
• Mendemonstrasikan supraclavitural dan Intercostal
batuk efektif dan suara • Monitor pola nafas:
nafas yang bersih, tidak bradipena, takipenia,kusmaul,
ada sianosis dan viperpentilasi,cheyne stokes, biot.
dyspneu (mengeluarkan
• Catat lokasi trakhea.
sputum, mampu
bernafas dengan mudah,
tidak ada pursed lips
• Tanda-tanda vital dalam
rentang normal.
2 Diare Setelah dilakukan tindakan NIC :
berhubungandengan keperawatan 3x24 jam diharapkan Diarhae Menagement
proses infeksi, Diare pada pasien teratasi. • Evaluasi efek samping
inflamasi NOC : pengobatan terhadap
Diusus • Bowel elimination Gastrointestinal
• Fluid balance • Ajarkan pasien untuk
- • Hydration menggunakan obat anti Diare
• Electrolyte and acid base • Evaluasi intake makanan yang
Kriteria hasil : masuk
• Fases berbentuk, BAB • Identifikasi faktor penyebab
sehari sekali tiga kali dari diare
• Menjaga daerah sekitar • Monitor tanda dan gejala Diare
rectal dari iritasi • Observasi turgor kulit secara
• Tidak mengalami diare rutin
• Menjelaskan penyebab • Ukur diare/keluaran BAB
diare dan rasional tindakan • Hubungi dokter jika ada
• Mempertahankan turgor kenaikan bising usus
Kulit • Monitor persiapan makanan
yang aman

3 Kekurangan volume Setelah dilakukan tindakan NIC :


cairan b/d keperawatan kekurangan volume Fluid management
kehilangan cairan cairan tubuh dapat teratasi. • Timbang popok/pembalut jika
aktif NOC: Diperlukan
• Fluid balance • Pertahankan catatan intake dan
• Hydration output yang Akurat
• Nutritional Status : Food • Monitor status hidrasi
and Fluid Intake
Kriteria Hasil : (kelembaban membran mucosa, nadi
• Mempertahankan urine adekuat, tekanan darah,
output sesuai dengan usia dan artostatik), jika Diperlukan
BB, BJ urine normal, HT • Monitor vital sign
normal • Monitor status nutrisi
• Tekanan darah, nadi, suhu • Monitor memasukan
tubuh dalam batas normal makanan/cairan dan hitung
• Tidak ada tanda tanda dehidrasi, intake kalori Harian
Elastisitas turgor kulit baik, • Dorong masukan oral
membran mukosa lembab, tidak • Berikan penggantian
ada rasa haus yang berlebihan nasogatrik sesuai output
• Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
• Kolaborasi dengan Dokter

4 Risiko kerusakan Setelah dilakukan tindakan NIC :


integritas kulit b/d keperawatan 3x24 jam Pressure management
ekskresi/BAB sering diharapkan pasien tidak • Anjurkan pasien untuk
terjadi infeksi menggunakan pakaian yang
longgar
NOC : • Hindari kerutan pada tempat
• Tissue Integrity : Skin and tidur
mucous membranes • Jaga kebersihan kulit agar tetap
• Hemodyalis akses bersih dan Kering
Kriteria Hasil : •Mobilisasi pasien (ubah
• Integritas kulit yang baik posisi pasien) setiap dua jam
bisa di pertahankan sekali
(sensasi, elastisitas, • Monitor kulit akan adanya
temperatur, hidrasi, kemerahan.
pigmentasi) • Oleskan lotion atau
• Tidak ada luka/lesi pada minyak/baby oil pada
Kulit daerah yang tertekan
• Perfusi jaringan baik • Monitor status nutrisi Pasien
• Menunjukan pemahaman • Memandikan pasien dengan
dalam proses perbaikan sabun dan air hangat
kulit dan mencegah
terjadinya cedera
berulang
• Mampu melindungi kulit
dan mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami.

5 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan NIC :


nutrisi kurang dari keperawatan 3x24 jam Nutrition management
kebutuhan tubuh b/d diharapkan nutrisi pasien • Kaji adanya alergi Makanan
penurunan intake Terpenuhi • Kolaborasi dengan ahli gizi
makanan untuk menentukan jumlah kalori
NOC : dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
• Nutritional Status : food • Anjurkan pasien untuk
and fluid intake meningkatkan intake fe
• Nutritional Status : • Anjurkan pasien untuk
nutrient intake meningkatkan protein dan
• Weight control vitamin C
• Berikan substansi gula
Kriteria hasil : • Monitor jumlah nutrisi dan
• Adanya peningkatan berat kandungan kalori
badan sesuai dengan • Berikan informasi tentang
Tujuan kebutuhan nutrisi
• Berat badan ideal sesuai • Kaji kemampuan pasien
tinggi badan untuk mendapatkan nutrisi
• Mampu mengidentifikasi yang dibutuhkan
kebutuhan nutrisi
• Tidak ada tanda-tanda
malnutrisi
• Menunjukan peningkatan
fungsi pengecapan dan
menelan
• Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti

6 Resiko syok Setelah dilakukan tindakan NIC :


(Hiporvolemik) b/d keperawatan 3x24 jam Syok Prevention
kehilangan cairan diharapkan tidak terjadi syok pada • Monitor tanda-tanda inadekuat
Elektrolit pasien Oksigenasi jaringan
• Monitor suhu dan pernafasan
NOC : • Monitor input dan output
• Syok Prevention • Pantau nilai laboraturim : HB,
• Syok Management HT,,AGD, dan Elektrolit

Kriteria hasil : Syok Management


• Nadi dalam batas yang • Monitor fungsi neurologis
diharapkan • Monitor fungsi renal
• Irama jantung dalam batas yang • Monitor tekanan nadi
diharapkan • Monitor status cairan, input
• Frekuensi nafas dalam output
batas yang diharapkan • Catat gas darah arteri dan O2
• Irama pernafasan dalam batas
yang diharapkan
• Natrium serum dbn
• Kalium serum dbn
• Magnesium serum Dbn
• PH darah serum dbn
7 Ansietas Setelah dilakukan tindakan NIC :
berhubungan dengan perawatan pada pasien diharapkan Anxiety Reduction (penurunan
status kesehatan pasien tidak merasa cemas kecemasan)
NOC : • Gunakan pendekatan yang
Anxiety control Coping menenangkan
Impulse control • Nyatakan dengan jelas harapan
Kriteria Hasil : terhadap pelaku pasien
• Klien mampu mengidentifikasi • Jelaskan semua prosedur dan
dan mengungkapkan gejala apa yang dirasakan selama
cemas prosedur
• Mengidentifikasi, • Pahami prespektif pasien terhadap
mengungkapkan dan situasi stres
menunjukkan tehnik untuk • Temani pasien untuk memberikan
mengontol cemas keamanan dan mengurangi takut
• Vital sign dalam batas normal • Berikan informasi faktual
• Postur tubuh, ekspresi wajah, mengenai diagnosis, tindakan
bahasa tubuh dan tingkat prognosis
aktivitas menunjukkan • Dorong keluarga untuk
berkurangnya kecemasan menemani anak
• Lakukan back / neck rub
• Dengarkan dengan penuh
perhatian
• Identifikasi tingkat kecemasan
• Bantu pasien mengenal situasi
yang menimbulkan kecemasan
• Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
• Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
• Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian respon klien terhadap intervensi yang diberikan. Evaluasi
dilakukan dengan mengkaji respon klien apakah mendukung atau tidak hipotesis yang sudah
dibuat. Hasil evaluasi dapat berupa supportif (memberikan kenyamaman untuk klien) dan
terapeutik (meningkatkan pemahaman klien tentang kesehatan). Jika hipotesis ternyata tidak
mendukung pemecahan masalah klien, maka rencana yang telah dibuat harus direvisi dan
dibuat hipotesis baru.
Contoh Evaluasi (Sulisnadewi, 2012) :
Respon organismik yaitu penilaian respon klien terhadap intervensi yang diberikan.
Tanggal 2 April 2012
S: Keluarga mengatakan frekuensi BAB 4 kali sejak tadi pagi, sedikitsedikit, ada ampas dan
warna kuning, muntah 1 kali kurang lebih 30 cc.
O: Keadaan umum lemah, mukosa bibir lembab, turgor kulit elastis, ubun-ubun datar, mata
cowong,balans +10, konjungtiva pucat, terdapat wasting dan tidak ada baggy pants. S: 37,10
C, N: 130 x/mnt RR 32 x/mnt. Asupan susu formula dan resomal sesuai program per NGT
dan sebagian per dot. Kulit di sekitar anus masih iritasi. BB= 4,455 Kg.
A: Trophicognosis :
a. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan membran alveolar – kapiler
b. Diare b/d proses infeksi, inflamasi diusus

c. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif


d. Kerusakan integritas kulit b/d ekskresi / BAB sering
e. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunan
intake makanan
f. Resiko syok (hipovolemi) b/d kehilangan cairan dan elektrolit
g. Ansietas b/d perubahan status kesehatan
P: Lanjutkan intervensi sesuai dengan rencana keperawatan.
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

1. Pengumpulan Data

Tanggal masuk RS : 13-04-2019 Tanggal Pengkajian : 13-04-2019

Diagnosa Medis : Diare dengan dehidrasi sedang No RM : -

a. Identitas Pasien

1) Nama : An. N

2) Tempat/tanggal lahir/Usia : 16 bulan

3) Alamat : Kp. Cilangkap Rt 03/01 Ds. Lumpang Kec.

Parungpanjang

4) Jenis kelamin : Perempuan

5) Pekerjaan :-

6) Pendidikan :-

7) Agama : Islam

8) Kebangsaan :Indonesia

9) Pengasuh : Ibu kandung

c. Identitas Orang Tua/Penanggung Jawab

1) Ayah

a) Nama : Tn A

b) Agama : Islam

c) Alamat : Kp. Cilangkap Rt 03/01 Ds. Lumpang Kec.

Parungpanjang

d) Umur :24 Tahun


e) Pekerjaan : Pegawai swasta

f) Pendidikan : SMA

2) Ibu

a) Nama : Ny. I

b) Agama : Islam

c) Alamat : Kp. Cilangkap Rt 03/01 Ds. Lumpang Kec.

Parungpanjang

d) Umur : 21 Tahun

e) Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

f) Pendidikan : SMA

c. Keluhan Utama : Pasien datang ke Puskesmas dibawa oleh orang tuanya dengan
keluhan sudah 3 hari buang air besar mencret tiap hari BAB kurang lebih 7 kali,
BAB berbentuk cair, warna kuning dan bebau amis, darah tidak ada , lendir tidak
ada, muntah tidak ada, panas tidak ada.

d. Riwayat Kesehatan Dahulu

1) Riwayat Kehamilan Ibu

a) GPA : G1 P1 A0

b) Masalah saat hamil : Tidak ada Ada, yaitu:

c) Obat-obatan saat hamil : SF , Vit BC, Vit B6

d) Pemeriksaan kehamilan : Tidak Teratur  Teratur

2) Riwayat Persalinan

a) Jenis persalinan : Spontan Operasi/SC Vacumdll

b) Lama persalinan : kurang lebih 8 jam

c) Masalah saat persalinan :  Tidak ada Ada, yaitu...

d) Obat-obatan : Asam mefenamat 500mg, Amoksisilin 500mg


Vit Bc

3) Riwayat Kelahiran
a) Berat badan : 2800 gram

b) Panjang badan : 51 cm

c) APGAR : 8/10

d) Cephal hematoma : Tidak ada Ada, besar:

e) Cacat /trauma lahir : Tidak ada Ada, berupa:

4) Riwayat Alergi :Tidak ada Ada, terhadap:

Reaksi alergi berupa:

5) Riwayat Imunisasi

 BCG DPT 1Polio-1

HB-0  DPT 2 Polio-2

 HB-1  DPT 3 Polio-3

 HB-2Polio-4

HB-3 Campak

Tidak lengkap, alasan...........................

Tidak pernah, alasan............................

6) Riwayat Pengobatan dan Operasi Sebelumnya:

7) Antropometri saat ini

a) Berat badan :BB sebelum sakit 11,7 kg BB sesudah sakit

10,5kg

b) Tinggi badan : 81,2 cm

c) Lingkar kepala :45,8 cm

d) Lingkar dada :48 cm

e) Lingkar perut : 43,5 cm

f) Lingkar lengan atas : 16 cm

8) Perkembangan

a) Motorik kasar :Pasien sudah bisa berjalan

b) Motorik halus : Pasien sudah bisa mengambil bola dan


melemparkan kembali
c) Perkembangan bahasa : Pasien sudah bisa memanggil Mama dan Papa

d) Perkembangan sosial : Pasien sudah bisa bertepuk tangan dan


melambaikan tangan / ketika ditinggal oleh
Mama/Papanya

9) Kebiasaan

a) Pola perilaku: Menggigit kuku Menghisap jari Gerakan tidak biasa


Merokok Lain-lain, sebutkan................

b) Penggunaaan/penyalahgunaan zat:  Tidak Ada Ada, sebutkan

e. Genogram
1. Genogram :

Keterangan :

: Laki-laki : Pasien

: Perempuan : ada hubungan keluarga

: Meninggal dunia

F. Riwayat Kesehatan Sekarang


1) Konsevasi energi
a) Keadaan umum : pasien kelihatn rewel dan agak lemah

b) Kesadaran : compos metris


c) Tanda-tanda vital :
(1) Tekanan darah :-
(2) Suhu :36,3° C
(3) Respirasi rate :32 x/mt
(4) Nadi : 138 x/mt
(5) Heart rate : 138 x/mt
d) Status nutrisi/cairan
(1) Intake
Pola makan :Minum ASI, Minum susu Formula 4 X sehari,
Makan 3 x sehari, anak kelihatan haus
Jenis makanan :Nasi, sayur, ikan dll
Porsi makan : ¼ mangkok
Makanan tambahan :-
Gangguan makan : Tidak ada.
(2) Out put
BAB BAK
Frekwensi : 5 x sehari Frekwensi : 3 x sehari
Konsistensi : Cair Bau : Tidak
Bau : Bau amis Warna : Jernih
Warna : Kuning Keluhan saat BAK: tidak ada
Keluhan saat BAB : Anak nangis
saat BAB
e) Aktivitas dan istirahat
Aktivitas
Bermain :-
Olah raga :-
Sekolah :-
Istirahat/tidur
Pola tidur : Siang± 2 jam,Malam ± 10 jam
Lama tidur :12 jam
Kebiasaan sebelum tidur : Menete
Kebiasaan saat tidur : Tidakada
Gangguan tidur : Karena sakit anak sering tebangun
f) Hygiene/mandi :  Dibantu Sendiri
Frekwensi
g) Nyeri
Area :Perut
Yang memperberat :
Yang meringankan :
Bentuk nyeri : Mules
Waktu : Hilang timbul
Kualitas nyeri : Skala nyer
2) Konservasi integritas struktur
a) Kulit
Warna : normalsianosis √pucat ikteri
Tekstur:  Halus kasar|lain-lain
Turgor : Baik kurang buruk
Kelembaban : lembab kurang lembab
Rambut : mudah patahkusam kemilau  tidak mudah patah
Kuku : Merah mudakotor bersih panjang
pendek coklat/kehitaman lain-lain
b) Kepala :
Inspeksi :• Bentuk kepala simetris
• Kulit kepala bersih, tidak lengket dan tidak berketombe.
• Warna rambut hitam
Palpasi : benjolan tidak ada, bekas luka tidak ada, nyeri tekan tidak ada
Pergerakan kepala : bebas/norml
c) Mata:
TIO (Tekana Intra Okuler)
Kiri= Kanan Kiri>kanan Kiri<kanan
Konjunctiva : anemis tidak anemis
Sclera : ikteri tidak ikterik
Pupil:  Isikor Anisokor
Reaksi terhadap cahaya: ada tidak ada
Menggunakan alat bantu :  Tidak Ya, berupa:
g) Telinga
Inspeksi :  Simetris Tidak simetris bersih kotor
Palpasi : Nyeri tekan  tidak nyeri tekan
Menggunakan alat bantu : Tidak ya, berupa:
h) Hidung
Inspeksi:  simetris tidak simetris
Lapisan mukosa :  Lembab tidak lembab
Fungsi penciuman : Normal
Palpasi : tidak nyeri tekan nyeri tekan
Lendir : Ada  Tidak ada
i) Mulut dan tenggorokan
Bibir : Lembab kering sianosis pecah-pecah Sumbing
lain-lain
Gigi : Sudah tumbuh Belum tumbuh
Warna : Putih
Hygiene/ bau mulut : tidak bau
Caries : tidak ada
Tanggal : tidak ada
j) Lidah
Inspeksi :  Bersih Kotor
Lesi : Tidak ada ada
Fungsi pengecapan:
Palatum :  Tertutup sempurna terdapat celah
Tonsil : T0  T1 T2
Faring/tenggorokan :  Normal Kemerahan/radang
Gangguan menelan : Ada  Tidak ada
k) Leher
Kelenjar tiroid : Teraba  Tidak teraba
Bentuk :  simetris tidak simetris
Massa : teraba  tidak teraba
i) Dada
Bentuk : Pigeon chest Barrel chest Funnel chest simetris
asimetris
Payudara : Normal Abnormal
j) Paru-paru :
Keluhan paru-paru : tidak ada keluhan
Inspeksi : Pernafasan cuping hidung tidak ada, pergerakan dada simetris
Pola pernafasan :  Normal Inspiratori effort Ekspiratori effort
 Teratur
Auskultasi : Vesikuler broncho broncho vesicular wheezing
ronchi
Palpasi :
Vokal fremitus : Kiri=Kanan Kiri>Kanan Kiri<Kanan
k) Jantung :
Keluhan pada jantung : tidakada keluhan
Bunyi jantung : Normal Murmur Gallop
Letak jantung :
Apex : Terlihat  Tidak terlihat
Kualitas nadi : Teratur Tidak teratur
CRT : < 3 detik > 3 detik
l) Abdomen :
Keluhan pada abdomen :
Bentuk :  datar cembung cekung Tegang
Bising usus : 25 x/ menit
Perkusi : Timpani dulnes Pekak
Palpasi
Hepar : konsistensi tidak keras, nyeri tekan tidak ada
Lien : tidak teraba
Ginjal : tidak teraba
m) Genitalia : Bersih Tidak bersih, berupa...
n) Anus : Bersih tidak bersih
Kulit anus terlihat lecet kemerahan
o) Punggung : Simetris Tidak simetris
p) Ekstermitas : Bengkak Tidak bengkak
edema  tidak edema
ROM :  Bebas Tidak bebas
3) Konsevasi Integritas Personal
a) Perkembangan Psikososial : Anak yang biasanya aktif sekarang lebih
pendiam
b) Perkembangan moral :
4) Konservasi Integritas Sosial
a) Perkembangan social anak : Pasien cepat akrab dengan teman yang baru
dikenalnya
b) Hubungan dengan orang tua/pengasuh: Pasien terlihat manja pada kedua
orang tuanya
c) Hubungan dengan saudara kandung : pasien merupakan anak tunggal
d) Hubunga dengan teman sebaya: Pasien bermain dengan teman sebayanya
e) Prestasi yang didapat : -
f) Interaksi dengan orang dewasa : Pasien biasa berinteraksi dengan orang
dewasa yang tinggal serumah
g. Terafi : Oralit
Zink
Infus RL
h. Pemeriksaanpenunjang/Laboratorium : -
i. Lain-lain : -
2. Pengelompokan Data
Data Subjektif Data Objektif
1. Ibu pasien mengatakan anaknya BAB 1. Nampak BAB encer 3
mencret sudah 3 hari 2. Mukosa bibir kering
2. Ibu pasien mengatakan anaknya BAB 3. Turgor kulit kering
4. Anak tampak haus
encer sehari 5 kalibentuknya cair warna
5. Klien tampak lemas
kuning dan berbau amis
6. Peristaltik usus 25 x/menit
3. Ibu pasien mengatakan anaknya lemas
7. TTV : S: 36,3° C, N: 138 x/mnt RR 32
4. Ibu pasien mengatakan anaknya
x/mnt
kemerahan daerah anus
8. Tampak kemerahan pada anus
9. BB 10,5 kg turun dari BB 11,7 kg

3. Analisa Data
Data Subjektif/DataObjektif Masalah
Ds : Diare
- Orangtua pasien mengatakan anaknya
BAB mencret sudah 3 hari
- Orang tua pasien mengatakan anaknya
BAB encer sehari 5 kalibentuknya cair
warna kuning dan berbau amis
Do :
- BAB tampak encer
- Peristaltik usus 25 x/menit
- Anak tampak lemas
- Tampak anus pasien lecet dan kemerahan
Ds : Kekurangan volume cairan
-. Ibu pasien mengatakan anaknya BAB
sejak 3 hari Yanglalu
-. Ibu pasien mengatakananaknyaBAB 3 7
sehari
- Ibu pasien mengatakan anaknya lemas
Do :
- Tampak anak BAB encer
- Tampak mukosa bibir kering
- Turgor kulit kembali lambat
- Pasien tampak lemas
- TTV : R 32x/ menit, N 138x/menit

2. Diagnosa Keperawatan
a.Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif
b. Diare b/d proses infeksi, inflamasi diusus
3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Perencanaan
Keperawatan Tujuan Intervensi
1 Kekurangan Setelah dilakukan tindakan NIC :
volume cairan b/d keperawatan selama 3jam Fluid management
kehilangan cairan diharapkan kekurangan • Timbang popok/pembalut
aktif volume cairan tubuh dapat jika
teratasi. Diperlukan
NOC: • Pertahankan catatan intake
• Fluid balance dan output yang Akurat
• Hydration • Monitor status hidrasi
• Nutritional Status : Food
and Fluid Intake (kelembaban membran
Kriteria Hasil : mucosa, nadi adekuat,
• Mempertahankan urine tekanan darah,
output sesuai dengan usia artostatik), jika Diperlukan
dan BB, BJ urine normal, • Monitor vital sign
HT normal • Monitor status nutrisi
• Tekanan darah, nadi, suhu • Monitor memasukan
tubuh dalam batas normal makanan/cairan dan hitung
• Tidak ada tanda tanda intake kalori Harian
dehidrasi, Elastisitas turgor • Dorong masukan oral
kulit baik, membran mukosa • Berikan penggantian
lembab, tidak ada rasa haus nasogatrik sesuai output
yang berlebihan • Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
• Kolaborasi dengan Dokter

2 Diare b/d proses Setelah dilakukan tindakan NIC :


infeksi, inflamasi keperawatan 3x24 jam Diarhae Menagement
diusus diharapkan Diare pada pasien • Evaluasi efek samping
teratasi. pengobatan terhadap
NOC : Gastrointestinal
• Bowel elimination • Ajarkan pasien untuk
• Fluid balance menggunakan obat anti
• Hydration Diare
• Electrolyte and acid base • Evaluasi intake makanan
Kriteria hasil : yang
• Fases berbentuk, BAB masuk
sehari sekali • Identifikasi faktor penyebab
• Menjaga daerah sekitar dari diare
rectal dari iritasi • Monitor tanda dan gejala
• Tidak mengalami diare Diare
• Menjelaskan penyebab • Observasi turgor kulit
diare dan rasional tindakan secara
• Mempertahankan turgor rutin
kulit • Ukur diare/keluaran BAB
• Hubungi dokter jika ada
kenaikan bising usus
• Monitor persiapan makanan
yang aman

4. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Tgl/Jam DK Implementasi Evaluasi Nama&TTD


13-04-2019 13-04-2019
Jam 12.15 1 1. Menganjurkan S :
kepada ibu klien untuk - Ibu klien mengatakan
memberikan obat anti anaknya bab encer ±
diare pada klien 3x Sehari
- Ibu klien mengatakan
Jam 12.30 2 2. Mengopservasi masih adanyakemerahan
turgor Kulit pada daerah anus
O:
Jam 13.15 2 3. Anjurkan pada - Fases cair dengan
ibu klien untuk sedikit ampas, BAB
mengganti pakaian sehari tiga kali
yang longgar pada - Obat belum diminum
klien - Turgor kulit masih
kurang
Jam 13.30 2 4. Memonitoring - Ibu sudah mengganti
kulit akan adanya pakaian anak dengan yang
kemerahan longgar
- Tampak kemerahan
Jam 14.45 1 5. Penatalaksanaan pada bagiananus
pemberian medikasi - Pemberian Zink
Infuse 1tab/oral
A:
- Tujuan tercapai
sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
kerencana berikutnya
14-04-2019 14-04-2019
S:
Jam 09.00 1 1. Menganjurkan - Ibu klien
kepada ibu klien untuk mengatakananaknya
memberikan obat anti babencer
diare pada klien
- Ibu klien mengatakan masih
Jam 09.30 2 2. Mengopservasi adanyakemerahan pada
turgor Kulit daerah anus

Jam 09.45 2 3. Anjurkan pada ibu O:


klien untuk mengganti
pakaian yang longgar - Fases berbentuk, BAB
pada klien sehari duakali
- Mampu mempertahankan
Jam 11.00 2 4. Memonitoring turgor kulit
kulit akan adanya - Keluarga mulai mampu
kemerahan mempertahankan
kelembaban kulitpada klien
- Tampak kemerahan pada
Jam 12.00 1 5. Penatalaksanaan bagiananus
pemberian medikasi - Pemberian Zink 1tab/oral
Infuse
A:
Jam 12.30 2 6. Mengoleskan lotion
atau baby oil pada - Tujuan tercapai sebagian
daerah Anus
P : Intervensi di pertahankan
15-04-2019 15-04-2019
S:
Jam 09.00 1 1. Menganjurkan - Ibu klien mengatakan
kepada ibu klien untuk anaknya BAB satu kali sehari
memberikan obat anti - Ibu klien mengatakan
diare pada klien daerah sekitar anus tidak
nampak lagi kemerahan
Jam 09.30 2 2. Mengopservasi
turgor Kulit O:
- Frekwensi BAB satu kali
Jam 09.45 2 3.Anjurkan pada ibu sehari dengan konsistensi
klien untuk mengganti padat
pakaian yang longgar - Turgor kulit klien kering
pada klien - Keluarga mampu
melindungi kulit dan
Jam. 11.00 2 4. Memonitoring kulit mempertahankan
akan adanya kelembaban kulit
kemerahan - Pada Kulit sekitar anus
klien tidak nampak
Jam 12.00 1 5. Penatalaksanaan kemerahan lagi
pemberian medikasi - Pemberian L. Bio
infuse 1tab/oral , Zink 1tab/oral

A : Diare teratasi , integritas


kulit yang baik di
pertahankan

P : Intervensi di pertahankan

5. Evaluasi Keperawatan

Tanggal Jam No DK SOAP Nama&TTD


13-04-2019 15.15 1 - Mengajarkan pada ibu cara dan takaran
membuat larutan oralit
- Memberikan oralit sebanyak 75 ml x BB
anak
- Memberikan oralit sedikit-sedikit tapi
serin dengan Sendok
- Membujuk ibu agar tetap terus
memberikan ASI
- Berkolaborasi pemberikan obat zink
dengan dosis 1x 20mg sehari
- Memeriksa dan mengobsevasi TTV
pasien

2 S:
- Ibu pasien mengatakan BAB 3 x
dengankonsistensi masih cair
- Ibu mengatakan sudah bisa membuat
larutan oralit dan tahu takaran perbandingan
banyaknya air dengan oralit
- Ibu mengatakan , anak mau minum oralit.
- Ibu mengatakan terus memberikan ASI
pada anaknya
O:
- Di popok Faeces terlihat masih encer
dengan sedikit ampas
- Pasien belum BAK
- Mukosa bibir masih kelihatan kering
- Turgor kulit masih kurang (kembali
lambat)
- Ibu pasien mampu mendemonstrasikan
cara pembuatan larutan oralit
- Ibu meneteki anaknya
- Tablet zink sudah diberikan
A:
- Tujuan tercapai sebagian
P:
- Lanjutkan intervensi kerencana tindakan
infus
3 S:
- Ibu pasien mengatakan anak makan hanya
sedikit
O:
- Berat badan anak 10,5 kg
- Makanan yang disajikan dimakan sedikit
A:
Tujuan belum tercapai
P:
Lanjutkan intervensi
14-02-2019 - Memberikan oralit sedikit-sedikit tapi
sering dengan Sendok
- Memberi saran agar ibu tetap terus
memberikan ASI
- Memberikansaran kepada ibu agar terus
memberikan zink
- Memeriksa dan mengobsevasi TTV
pasien
BAB IV
PEMBAHASAN

1. Pengkajian

Penulis melakukan pengkajian riwayat keperawatan pada klien An. N yang masuk di
puskesmas Parungpanjang pada tanggal 13 April 2019 di Ruang Perawatan Anak, klien
berjenis kelamin Perempuan, berusia 16 bulan, beragama Islam, beralamatkan Kp. Cilangkap
Rt 03/01 Ds. Lumpang Kec. Parungpanjang. Selaku penanggung jawab klien Ny. I berusia 21
tahun, Bekerja sebagai Ibu rumah tangga. Hubungan penanggung jawab dengan klien adalah
sebagai orang tua klien. Penulis melakukan pengkajian pada tanggal 13 April 2019 pada
pukul 12.15 WIB dan didapatkan data dari keterangan ibu klien yang mengatakan bahwa
klien dibawa ke IGD Puskesmas Parungpanjang dengan keluhan anaknya BAB mencret
sudah 3 hari, sehari 5 kali bentuknya cair warna kuning dan berbau amis. Sebelum dirawat
pasien sudah berobat dua hari yang lalu tapi tidak ada perubahan, kemudian di Ruang IGD
Puskesmas Parungpanjang klien diberikan tindakan keperawatan pemasangan infus RL 20
tpm. Setelah diberikan tindakan keperawatan di IGD, kemudian klien dipindahkan ke ruang
Perawatan Anak.

Sesuai dengan data yang di dapat dari ibu klien bahwa anaknya BAB sudah 3 kali
sehari dengan konsistensi feses encer, jadi penulis menyatakan bahwa klien di
diagnosis mengidap penyakit diare.
Dan Kemenkes RI (2014) mengatakan bahwa Diare yaitu buang air besar yang
frekwensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3x atau lebih) per hari dengan
konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 7 hari. Khusus pada neonates yang
mendapat ASI, diare akut adalah buang air besar dengan frekwensi lebih sering
(biasanya 5-6 x per hari)dengan konsistensi cair.Sedangkan WHO (2009) mengatakan
bahwa diare adalah suatu keadaan buang air besar (BAB) dengan konsistensi lembek
hingga cair dan frekuensi lebih dari tiga kali sehari. Diare merupakan gangguan buang
air besar atau BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi
tinja cair, dapat disertai dengan darah atau lendir (Riskesdas, 2013).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang ditegakkan penulis berdasarkan pengkajian data-data yang


mendukung penulis untuk mengangkat 2 prioritas diagnosa keperawatan. Pengkajian ini
dilakukan pada tanggal 13 April 2019, adapaun diagnosa yang di angkat oleh penulis
adalah sebagai berikut :
1) Diare berhubungan dengan proses infeksi, inflamasi diusus.
Penulis mengangkat diagnosis ini sebagai prioritas diagnosa yang pertama didukung
dengan data-data yang di dapatkan dari ibu klien. Datanya berupa frekwensi BAB dan
konsistensi feses, serta status dehidrasi dan tanda-tanda vital dari klien.
2) Kerusakan integritas kulit behubungan dengan ekskresi/BAB sering.
Penulis mengangkat diagnosis ini sebagai prioritas diagnosa kedua di
dukung dengan data-data yang di dapat dari ibu klien. Adapun datanya
yaitu pigmentasi/warna kulit yang kemerahan pada daerah sekitar
anus klien berhubungan dengan kerusakan integritas kulit.

3. Intervensi
Berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan saat melakukan
pengkajian, penulis menyusun intervensi sebagai berikut :
a) Diare berhubungan dengan proses infeksi, inflamasi di usus.
Intervensi keperawatan untuk mengatasi diagnosa diare berhubungan
dengan proses infeksi, inflamansi di usus, penulis mengkaji data-data
yanga didapatkan dari ibu klien. Adapun data-data yang didapatkan
yaitu data frekuwensi dan konsistensi dari feses klien, serta status
dehidrasi dan tanda-tanda vital ( nadi dana suhu badan ) dari klien.
Selain melakukan pengkajian penulis juga menganjurkan kepada ibu
klien untuk memberikan obat anti diare serta mencatat frekuwensi dan
konsistensi feses pada klien.
b) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi/BAB sering.
Intervensi keperawatan untuk mengatasi diagnosa kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan ekskresi/BAB sering, penulis mengkaji
data-data pada ibu klien. Adapun data-data yang didapatkan yaitu
65
adanya kemerahan pada bagian anus klien akibat seringnya BAB. Selain mengkaji data-
data penulis juga menganjurkan kepada ibu klien untuk menjaga kelembaban dan
kebersihan kulit pada klien agar integritas kulit terjaga dengan baik.

4. Implementasi
Setelah dilakukan penyusunan intervensi keperawatan pada klien anak N, penulis
melakukan Implementasi keperawatan berdasarkan diagnosis dan intervensi yang telah
tersusun. Adapun implementasi yang dilakukan yaitu sebagai berikut :
a) Diare berhubungan dengan proses infeksi, inflamasi di usus.
Pada diagnosis ini penulis melakukan implementasi sesuai intervensi yang sudah dibuat.
Implementasi yang dilakukan pertama yaitu menganjurkan kepada ibu klien untuk
memberikan obat anti diare kepada klien, memonitoring frekuwensi dan konsistensi dari
feses klien, mengobservasi intake makanan yang masuk, mengobservasi turgor kulit,
semonitoring status dehidrasi serta tanda-tanda vital dari klien, setelah itu melakukan
penatalaksanaan pemberian medikasi infus.
b) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi/BAB sering.
Pada diaagnosis ini penulis melakukan implementasi sesuai intervensi
yang sudah dibuat. Implementasi yang dilakukan pertama yaitu
menganjurkan kepada ibu klien untuk memakaikan pakaian yang
longgar pada klien, memonitoring kemerahan pada daerah sekitar
anus, mengintruksikan ibu klien untuk mengoleskan lotion atau baby
oil dan menjaga kebersihan serta kelembaban kulit agar tetap bersih
dan kering.

5. Evaluasi
Setelah dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan pada klien Anak N dengan
diare, penulis melakukan evaluasi keperawatan sebagai berikut :

1) Diare berhubungan dengan proses infeksi, inflamasi diusus.


Pada tanggal 15 April 2019 pukul 12.00, Masalah sudah teratasi yang ditandai dengan ibu
klien mengatakan klien tidak mengalami diare. BAB satu kali sehari dengan konsistensi
feses padat.
2) Kerusakan integritas kulit behubungan dengan ekskresi/BAB sering.
Pada tanggal 15 April 2019 pukul 12.00, masalah integritas kulit pada
klien sudah teratasi yang di tandai dengan ibu klien mengatakan
bahwa pada daerah sekitar anus klien sudah tidak nampak kemerahan
lagi.

67
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian asuhan keperawatan pada anak An. N diare
dehidrasi ringan diruang perawatan anak puskesmas Parungpanjang Kabupaten Bogor
peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1) Hasil pengkajian pada An. N didapatkan keluhan anak BAB mencret sudah 3 hari, sehari 5
kali bentuknya cair warna kuning dan berbau amis. Sebelum dirawat pasien sudah berobat
dua hari yang lalu tapi tidak ada perubahan.
2) Hasil pengkajian dan analisa data terdapat 5 diagnosa yang muncul pada An. N yaitu
kekurangan volume cairan berhubungan kehilangan cairan aktif, ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis. Diare
berhubungan dengan proses infeksi, kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan
ekskresi atau sering BAB.
3) Intervensi keperawatan yang direncanakan sesuai dengan masalah yang
ditemukan pada An. N yaitu manajemen ciran, manajemen nutrisi, monitor nutrisi,
manajemen diare, manajemen tekanan.
4) Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan yang telah
disusun. Implementasi keperawatan ditentukan pada tanggal 12-15 April
2019. Sebagian besar rencana keperawatan dapat dilaksanakan pada
implementasi keperawatan.
5) Evaluasi tindakan keperawatan yang dpat dilakukan selama tiga hari dalam
bentuk SOAP. Diagnosa keperawatan pada An. N yaitu kekurangan volume
cairan berhubungan kehilangan cairan aktif teratasi pada hari ke tiga,
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis teratasi pada hari ke tiga. Diare berhubungan dengan
prosesinfeksi teratasi pada hari ke tiga. Kerusakan integritasi kulit
berhubungan dengan ekskresi atau sering BAB teratasi pada hari ke tiga.

68
B. SARAN

1. Bagi Puskesmas Parungpanjang


Saran peneliti kepada pihak puskesmas Parungpanjang lebih menyediakan fasilitas dalam
melakukan tindakan keperawatan dalam ruangan khususnya fasilitas yang sangat
dibutuhkan oleh pasien diare dehidrasi sedang.
2. Perawatan ruangan
saran peneliti bagi perawatan ruangan agar lebih memperhatikan dalam menegakkan
diagnosa keperawatan, intervensi yang sudah dilakukan dan mempertahankan agar
intervensi berjalan secra optimal.
3. Peneliti selanjutnya
Saran untuk peneliti selanjutanya agar lebih memperhatikan masalah yang dia alami pasien
khususnya dan mampu bekerja sama dengan baik dengan perawat ruangan agar
implementasi keperawatan yang dijalankan dapat terlaksana dengan baik.

69
DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes RI, ( 2011 ). Buletin data dan kesehatan :Situasi Diare di Indonesia, Jakarta :
Kemenkes

Wong Donna L. ( 2008 ). Buku Ajaran Keperawatan Pediatrik. Vol 2. EGC :


Jakarta.

Ngastiyah. ( 2005 ). Perawatan Anak Sakit Edisi Dua. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta

Nurasalam( 2008 ). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian IlmuKeperawatan.


Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.

Hidayat A. A. A. ( 2006 ). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta. SalembaMedika.

North American Nursing Diagnosis Association ( NANDA ). ( 2016 ). Diagnosis


Keperawatan 2009 – 2011. Jakarta : EGC

Nurasalam. ( 2011). Manajemen Keperawatan, Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika.

Penyakit Menular Langsung

a. Diare
1) Pemberantasan Penyakit Diare Hingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya angka kejadian Diare dari tahun
ketahun dan banyaknya faktor risiko diare disekitar kita. Di dunia sebanyak 6 juta anak meninggal
setiap tahun karena diare, sebagian kematian tersebut terjadi dinegara berkembang (Parashar,
2003). Menurut WHO, di Negara berkembang pada tahun 2003 diperkirakan 1.87 juta anak balita
meninggal karena diare.

Penanganan kasus Diare di Jawa Barat terus meningkat dari 80,90% pada tahun 2007 menjadi 113,91
% pada tahun 2014, dengan sasaran penderita Diare sebesar 10% dari angka kejadian Diare 214 /
1000 penduduk, akan tetapi pada tahun 2015 angka kejadian Diare berubah menjadi 270/1000 dan
tidak ditentukan target sasaran sebesar 10 % tetapi bergantung pada estimasi kemungkinan
penderita diare yang berkunjung ke Puskesmas besarannya antara 10 – 20 % , akan tetapi untuk
dapat membandingkan besaran masalah Diare antara Kab/Kota di Jawa Barat, dalam penyajiannya
ditetapkan 10 % dari 270/1000 penduduk, sehingga cakupan penemuan Diare pada tahun 2016
sebesar 80,69 %, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah in

Jumlah Penderita Diare yang ditangani di Jawa Barat tahun 2016 sebanyak 1.032.284 orang, atau
80,6% dari target sasaran sebesar 10% x 270/1000 penduduk, akan tetapi angka penemuan diare di
kabupaten/kota menunjukan perbedaan yang ekstrim antar Kab/Kota, dengan besaran anatara 0,06
% – 227,52 % , batas terendah kab sebang 0,06 % dan batas tertinggi Kota Cirebon 227,52% ., ini
menunjukkan bahwa penetuan target sasaran penemuan diare 10% dari 70/1000 tidak bisa
ditentukan, akan tetapi besaran maslah Diare dapat dilihat walaupun demikian tidak menutup
kemungkinan untuk daerah yang cakupannya rendah diakibatkan oleh suirveilan kasus diare yang
kurang baik

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Diare sampai saat ini masih menjadi masalah utama di masyarakat yang sulit
untuk ditanggulangi. Dari tahun ke tahun diare tetap menjadi salah satu penyakit
yang menyebabkan mortalitas dan malnutrisi pada balita. Menurut data World
Health Organization (WHO) pada tahun 2013, diare adalah penyebab kematian
kedua pada balita. Secara global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare
dengan angka kematian 1.5 juta per tahun. Pada negara berkembang, anak-anak
usia di bawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare per tahun. Setiap
episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak
untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak.1

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2013, studi
Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare
masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Diare menjadi
penyebab kematian tertinggi diantara penyakit yang sering menyerang anak usia
kurang dari 5 tahun, sekitar 31,4% pada bayi dan 25,2% pada anak balita.
Penyebab utama kematian anak akibat diare tipe osmotik dan sekretorik yang
disebabkan oleh infeksi rotavirus, anak akan banyak kehilangan cairan tubuhnya
sehingga meningkatkan risiko kematian pada anak.2 Tata laksana yang cepat dan

tepat perlu dilakukan untuk menurunkan angka kematian.3

Dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat melaporkan bahwa diare merupakan


pembunuh nomor 2 pada kematian bayi (umur 28 hari-1 tahun) dan balita (umur
1-4 tahun). Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa barat tahun
2014 khususnya Kota Bandung, penderita diare pada tahun tersebut adalah 87.640
orang. Angka tersebut jauh dari salah satu langkah dalam target pencapaian
Millennium Development Goals (MDGS) Goal ke-4 yaitu menurunkan kematian
anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990 sampai pada 2015.4

1 Universitas Kristen Maranatha


Salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan bayi dan balita yang perlu
mendapat perhatian adalah masalah pemberian air susu ibu (ASI). Pemberian ASI
pada dasarnya merupakan kewajiban seorang ibu untuk menyusui bayinya guna
kelangsungan hidup bayi dan tumbuh kembang secara optimal.5

Menurut Depkes RI (2000) beberapa faktor yang meningkatkan risiko


terjadinya diare salah satunya adalah tidak memberikan ASI eklusif sampai 6
bulan (golden period), dan kurang gizi. Risiko penyakit serta kematian karena
diare meningkat pada anak-anak yang menderita gizi kurang atau gizi buruk dan
kebersihan diri yang kurang. Anak dengan status gizi buruk daya tahan tubuhnya
kurang dikarenakan kurangnya asupan makanan yang bergizi sehingga lebih
rentan terhadap berbagai penyakit.5

Perlu diketahui diare secara umum dapat disebabkan oleh infeksi langsung
maupun tidak langsung akan tetapi pada kasus bayi diare banyak diakibatkan oleh
infeksi rotavirus. Menurut beberapa penelitian, rotavirus menyebabkan diare pada
anak dan kematian setengah juta anak balita pada setiap tahunnya. Rotavirus
menjadi penyebab diare nosokomial pada bayi, merupakan penyebab diare
tertinggi pada anak balita, dengan proporsi 64% pada anak umur 6 — 11 bulan
dan 67% pada usia 12 — 23 bulan. Infeksi rotavirus terjadi setiap tahun dan
mencapai puncaknya pada bulan Juni dan Juli, sekitar 70% – 75%. Angka ini akan
mengalami penurunan pada bulan Desember hingga mencapai sekitar 33%. Diare
yang disebabkan oleh rotavirus akan menyebabkan diare osmosis, sekretorik. Bayi
akan banyak kehilangan cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian.2

1.2 Identifikasi Masalah


Identifikasi masalah yang hendak diuraikan di dalam karya tulis ini adalah

1. Bagaimana gambaran pengetahuan ibu menyusui yang memiliki bayi


mengenai pemberian ASI dan penyakit diare di Puskesmas Sarijadi.

2. Bagaimana gambaran sikap ibu menyusui yang memiliki bayi mengenai


pemberian ASI dan penyakit diare di Puskesmas Sarijadi.

B. Universitas Kristen Maranatha


A Bagaimana gambaran perilaku menyusui yang memiliki bayi mengenai
pemberian ASI dan penyakit diare di Puskesmas Sarijadi.

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud

Untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu yang


memiliki bayi terhadap pemberian ASI dan penyakit diare di Puskesmas Sarijadi.

1.3.2 Tujuan

D. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu menyusui yang memiliki bayi


terhadap pemberian ASI dan penyakit diare di Puskesmas Sarijadi.

E. Mengetahui tingkat sikap ibu menyusui yang memiliki bayi terhadap


pemberian ASI dan penyakit diare di Puskesmas Sarijadi.

F. Mengetahui tingkat perilaku ibu menyusui yang memiliki bayi terhadap


pemberian ASI dan penyakit diare di Puskesmas Sarijadi.

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah


Karya tulis ini diharapkan memberi informasi pengetahuan, sikap, dan
perilaku ibu mengenai pemberian ASI dan penyakit diare, khususnya kepada para
Ibu tentang pentingnya pemberian ASI terhadap bayi dan pengaruh penyakit
diare pada bayi yang tidak diberi ASI.

Pengaruh diare yang paling jelas terlihat adalah dengan turunnya bobot berat badan
anak. Karena hampir semua anak yang mengalami diare akut mengalami penurunan
berat badan yang drastis.
Selain berat bobot yang turun drastis, Dr. Ariani juga mengaitkan diare dengan IQ
seorang anak. Menurutnya, jika stimulasi tak dapat diterima anak, maka
kecerdasannya pun akan ikut terpengaruhi.
"Kalau diarenya terjadi berulang-ulang atau diare kronik yang berkepanjangan,
maka hal ini bisa berisiko. Nutrisi anak pun tak bisa terpenuhi dengan baik karena
nantinya nutrisi tidak akan bisa masuk ke tubuh dalam waktu yang lama. Keadaan
seperti ini juga bisa menyebabkan gangguan kurangnya tinggi dan berat badan, serta
bisa memicu penurunan kecerdasan anak," jelasnya.
Diare akut yang terjadi pada anak dibawah usia 5 tahun dianggap Dr. Ariani sebagai
hal yang sangat mengkhawatirkan. Di usia 2 tahun, otak seorang anak sedang
bekerja dengan sangat baik karena tengah memasuki masa golden age.
Masa golden age ini juga yang nantinya akan menentukan perkembangan anak
kedepannya. Jika terganggu akibat diare akut, maka secara otomatis stimulasi anak
pun akan terganggu, sehingga kemampuannya dalam menyerap segala informasi
dari luar juga akan terganggu.

3 Universitas Kristen Maranatha


1.5 Landasan Teori

Penyakit diare khususnya di negara berkembang seperti Indonesia masih


menjadi masalah yang serius bagi perkembangan dan pertumbuhan bayi bahkan
menyebabkan kematian bayi yang cukup tinggi di Indonesia. Tetapi dengan
langkah-langkah tatalaksana diare yang tepat dan efisien kematian akibat diare
dapat diminimalkan.

Tingginya angka kejadian diare tersebut berkaitan dengan masih rendahnya


pemberian ASI sejak dini pada bayi baru lahir ditambah juga beberapa faktor lain
yang mendukung tingginya angka kejadian diare di Indonesia seperti:

e) Kurangnya pengetahuan ibu tentang kandungan apa yang terdapat di


dalam ASI.

f) Pengetahuan ibu tentang manfaat pemberian ASI.

g) Pengetahuan kapan waktu pemberian ASI dimulai dan kapan bayi sudah
dapat diberikan makanan pendamping ASI (MPASI).

h) Perilaku kehigienisan ibu dalam pemberian ASI.

Hal tersebutlah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian mengenai gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu menyusui
terhadap pemberian ASI pada penyakit diare pada bayi umur 0 sd 6 bulan.
4 Universitas Kristen Maranatha

hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara stunting
dan angka kejadian diare pada siswa sekolah dasar di Kecamatan Tikala Manado.