Anda di halaman 1dari 65

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA

DINAS LINGKUNGAN HIDUP


Jalan T. Daud No. 5 Telepon. (061) 4535279, Fax (061) 4537050
MEDAN

RENCANA KERJA DAN SYARAT (RKS) KETENTUAN


TEKNIS PELAKSANAAN

PEKERJAAN :

JASA KONSULTAN
PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR
DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROV. SUMATEA UTARA DAN UPT

Desa Tipang, Kec. Bakti Raja, Kab. Humbang Hasundutan,


Prov. Sumatera Utara 22395
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

RENCANA KERJA DAN SYARAT


KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN

PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR


DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROV. SUMATEA UTARA
DAN UPT

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 1
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN

PASAL 1. URAIAN PEKERJAAN

Untuk dapat memahami dan menghayati dengan sebaik-baiknya seluruh seluk beluk
pekerjaan ini, Kontraktor diwajibkan mempelajari secara seksama seluruh Gambar
Kerja dan buku Syarat-syarat Teknis ini.

1.1. LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan yang harus dilaksanakan adalah Pembangunan Gedung Kantor
Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatea Utara dan UPT yang berlokasi
Desa Tipang, Kec. Bakti Raja, Kab. Humbang Hasundutan, meliputi bagian-
bagian pekerjaan yang dinyatakan dalam Gambar Kerja, Buku Syarat-syarat
Teknis, dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan. Pekerjaan tersebut meliputi:
a. Pekerjaan Pendahuluan
b. Pekerjaan Pasangan Batu Kali
c. Pekerjaan Beton
d. Pekerjaan Dinding Bata
e. Pekerjaan Besi Teralis
f. Pekerjaan Lantai
g. Pekerjaan Pavingblock
h. Pekerjaan Lampu PJU
i. Pekerjaan Pembersihan dan Pemeliharaan

1.2. SARANA KERJA


Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor wajib :
a. Menyediakan tenaga ahli yang cukup memadai dalam jenis pekerjaan yang
akan dilaksanakan. Dalam hal ini Kontraktor wajib memasukkan identitas,
nama, jabatan, dan keahlian masing-masing anggota kelompok kerja
pelaksanaan pekerjaan ini.
b. Menyediakan peralatan berikut alat bantu lainnya, serta bahan-bahan untuk
pelaksanaan pekerjaan ini. Semua sarana kerja yang digunakan harus
benar-benar baik dan memenuhi persyaratan kerja. Dalam hal ini Kontraktor
wajib memasukkan daftar inventarisasi peralatan yang digunakan untuk
pelaksanaan pekerjaan ini.
c. Menyediakan bahan/material dan komponen jadi bangunan dalam kualitas
sesuai Buku Syarat-syarat Teknis ini dengan jumlah yang cukup untuk
setiap pekerjaan yang harus dilaksanakan tepat pada waktunya.
d. Menyediakan tempat menyimpan bahan/material dan komponen jadi
bangunan di tapak yang harus aman dari segala kerusakan, kehilangan,
dan hal-hal lain yang dapat mengganggu pekerjaan yang sedang
berlangsung.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 2
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

e. Membuat dan mengkoordinasikan Rencana dan Schedule Pelaksanaan


Pekerjaan kepada Konsultan Pengawas sehingga pelaksanaan pekerjaan
dapat dikendalikan seaman dan seefisien mungkin terhadap keterkaitannya
dengan waktu pelaksanaan yang tersedia.

1.3. PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat-
syarat (RKS), Gambar Kerja dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
(Aanwijzing) serta mengikuti petunjuk dan keputusan Konsultan Pengawas.
b. Jika Kontraktor menunjuk supplier dan/atau sub-kontraktor dalam hal
pengadaan bahan/material dan pemasangannya, maka Kontraktor wajib
memberitahukan terlebih dahulu kepada Konsultan Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan.
c. Pelaksanaan pemasangan bahan/material dan komponen jadi keluaran
pabrik sebaiknya di bawah pengawasan Konsultan Pengawas (supervise)
dan tenaga ahli yang ditunjuk pabrik yang bersangkutan. Dalam hal ini
Kontraktor tidak dapat mengajukan ‘klaim” biaya pekerjaan tambah maupun
penambahan waktu pelaksanaan.
d. Sebelum dan selama pelaksanaan pekerjaan dari tiap-tiap bagian
pekerjaan, Kontraktor wajib memperhatikan dan melakukan koordinasi
kerja antara pekerjaan arsitektur, sanitasi, dan elektrikal/listrik.

PASAL 2. PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN

Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja
dan Syarat-syarat ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan di bawah ini
termasuk segala perubahan dan tambahannya :
a. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia atau
Algemene Voorwarden voor de Uitvoering bij Aaneming vanoenbare Werken
(AV) 1941.
b. Keputusan-keputusan dari Mejelis Indonesia Untuk Arbitrase Teknik dari Dewan
Teknik Pembangunan Indonesia.
c. Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
d. Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia NI-3 PUBI 1970.
e. Peraturan Umum Listrik Indonesia PUIL 1979 dan Peraturan PLN setempat.
f. Persyaratan Cat Indonesia NI-4.
g. Peraturan dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Dinas/Instansi Pemerintah
setempat yang bersangkutan dengan masalah bangunan.
h. Untuk melaksanakan Pekerjaan ini, berlaku dan mengikat pula :
- Gambar Kerja yang dibuat oleh Konsultan Perencana dan disahkan oleh
Pemberi Tugas termasuk pula Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 3
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

yang diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah disahkan dan disetujui oleh
Konsultan Pengawas.
- Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
- Gambar dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aaanwijzing).
- Berita Acara Penunjukan Penyedia Barang/Jasa.
- Surat Keputusan Pemimpin Pelaksana tentang Penunjukan Kontraktor.
- Surat Perintah Kerja (SPK).
- Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang telah disetujui oleh
Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas.

PASAL 3. STANDARD DAN MUTU BAHAN


3.1. S E M E N.
a. Semen yang dipakai adalah Portland Cement, merek yang telah disetujui
oleh Badan yang berwenang dan memenuhi persyaratan standard Portland
Cement kelas 1 –475.
b. Umur semen tidak boleh melebihi 3 (tiga) bulan sejak diproduksi, harus baik,
belum terdapat butiran-butiran membeku, tertutup rapat, semen yang
terdapat penggumpalan/mengeras tidak boleh dipergunakan.
c. Pengangkutan semen harus terhindar dari udara lembab dan kalau
disimpan dalam gudang harus cukup mempunyai ventilasi, terhindar dari
kelembaban dan bahan-bahan yang dapat merusak mutu semen.
d. Penumpukan semen didalam gudang harus mempunyai jarak minimal 30
cm diatas permukaan lantai dengan menggunakan alas dari kayu/palet
sehingga pada bagian bawahnya bisa udara bersirkulasi.
e. Penumpukan zak-zak semen tidak boleh lebih dari 2 meter tingginya, dan
tiap penerimaan semen yang baru harus dipisahkan dari yang lama dengan
maksud pemakaian semen dapat dilakukan menurut waktu pengiriman
kelokasi pekerjaan

3.2. AGREGATE HALUS (PASIR).


a. Agregate Halus (Pasir). Harus terdiri dari butir-butir yang keras kekal dan
tajam sebagai hasil dari disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa
pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu (stone crusher).
b. Pasir tidak boleh mengandung Lumpur lebih dari 5% ( ditentukan terhadap
berat kering) dan kalau sampai melebihi dari 5% pasir harus dicuci dulu
sebelum dipergunakan.
c. Tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang
dibuktikan dengan percobaan warna A-Bram-Harder (dengan larutan
NaOH).
d. Pasir tidak mengandung garam.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 4
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

3.3. AGREGATE KASAR (KERIKIL DAN BATU PECAH)


a. Agregate kasar harus terdiri dari butiran keras, tidak berpori bersifat kekal
sebagai hasil dari disintegrasi dari batu-batuan ataua berupa batu pecah
yang diperoleh dari pecahan batu.
b. Agregate kasar yang mengandung butiran-butiran pipih hanya dapat
dipakai jumlah butir-butir tersebut tidak melampaui 20 % dari berat
aggregate seluruhnya.
c. Tidak boleh mengandung Lumpur lebih dari 1 % dan bila lebih dari 1 %
aggregate tersebut harus dicuci.
d. Agregate kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak batu
ataupun baja tulangan dan beton.
e. Kekerasan dari butir-butir aggregate kasar jika diperiksa dengan bejana
penguji dari Rudolf beban 20 t, harus memenuhi syarat sebagai berikut:
- Tidak terjadi perubahan sampai fraksi 9,5 – 19 mm lebih dari 24 % berat.
- Tidak terjadi perubahan sampai fraksi 19 – 30 mm lebih dari 22 % berat
- Pengujian dapat dilakukan dengan mesing pengaus (Los Angelos)
dimana tidak boleh terjadi kehilangan berat lebih dari 50 %
- Besar aggregate kasar maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 (seperlima)
jarak kecil bidang samping dari catakan, sepertiga dari tebal plat atau
tigaperempat dari jarak bersih minimum diantara batang-batang atau
berkas-berkas minimum, berkas-berkas tukang, sehingga terhindar dari
adanya rongga-ronga atau sarang-sarang kerikil pada pengecoran.

3.4. AIR
a. Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung
minyak, asam alkali, garam, bahan-bahan organis atau lainnya yang dapat
merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini yang dapat dipakai adalah
air bersih yang dapat diminum.
b. Apabila terdapat keragu-raguan mengenai mutu air, maka diadakan
pengujian di Lembaga Pemeriksaan Bahan yang diakui, untuk menyelidiki
sampai seberapa jauh air itu mengandung zat-zat yang dapat merusak
beton, baja tulangan, dengan biaya pengujian ditanggung sepenuhnya oleh
kontraktor
c. Apabila pemeriksaan contoh air seperti tersebut pada pasal – 4 alinea b
ayat ini tidak dapat dilakukan maka hal ini adanya keragu-raguan air harus
diadakan perbandingan antara kekuatan mortar semen - pasir dengan air
tersebut dan memakai air suling. Air tesebut dianggap dapat dipakai apabila
kekuatan mortar dengan memakai air tersebut pada umu 7 dan 28 hari
paling sedikit adalah 90 % dari kakuatan tekan mortar dengan memakai air
suling pada umur mortar yang sama.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 5
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

3.5. BATU BATA MERAH.


Batu bata merah yang dipakai adalah batu dari tanah liat yang melalui proses
pembakaran dengan ukuran minimal (6 x 12 x 24 ) cm, ukuran tersebut
diusahakan tidak boleh menyimpang jauh. Batu bata merah adalah berkualitas
nomor 1 berwarna merah tua yang merata dan tanpa cacat atau mengandung
kotoran yang mempunyai daya tekan ultimate 30 kg/cm2

3.6. Bahan-bahan lainnya yang digunakan untuk bangunan ini tetapi belum
tercantum/diuraikan mutu dan kelasnya dalam spesifikasi ini harus mempunyai
standard yang sesuai dengan SII tentang bahan-bahan tersebut.

PASAL 4. PENJELASAN RKS DAN GAMBAR

4.1. Kontraktor wajib meneliti semua Gambar Kerja, Rencana Kerja dan Syarat-
syarat (RKS) termasuk tambahan dan perubahannya yang dicantumkan dalam
Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.

4.2. Perbedaan Gambar


a. Bila Gambar Kerja tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat
(RKS) maka yang mengikat/berlaku adalah Gambar Kerja.
b. Bila suatu Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain dalam satu disiplin
kerja maka Gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang
berlaku/mengikat.
c. Bila ada perbedaan anatara Gambar Kerja Arsitektur dengan Struktur maka
yang berlaku/mengikat adalah Gambar Kerja Arsitektur sepanjang tidak
mengurangi segi konstruksi dan kekuatan struktur.
d. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Sanitasi maka
Gambar Kerja yang dipakai adalah ukuran fungsional dalam Gambar Kerja
Arsitektur.
e. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Elektrikal/Listrik
maka yang dipakai sebagai pegangan adalah ukuran fungsional dalam
Gambar Kerja Arsitektur.
f. Bila perbedaan-perbedaan itu, ketidakjelasan maupun kesimpangsiuran
menimbulkan keragu-raguan sehingga dalam pelaksanaan dapat
menimbulkan kesalahan maka Kontraktor diwajibkan melaporkan kepada
Konsultan Pengawas, mengadakan pertemuan dengan Konsultan
Pengawas dan Konsultan Perencana, untuk mendapatkan Keputusan dari
Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana perihal Gambar mana yang
akan dijadikan pegangan.
g. Ketentuan di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor untuk
memperpanjang waktu pelaksanaan maupun mengajukan ‘klaim’ biaya
tambah.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 6
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

4.3. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)


a. Gambar Detail Pelaksanaan atau Shop Drawing adalah Gambar Kerja yang
wajib dibuat Kontraktor berdasarkan Gambar Kerja Dokumen yang telah
disesuaikan dengan keadaan lapangan.
b. Kontraktor wajib membuat Shop Drawing untuk detail-detail khusus yang
belum tercakup lengkap dalam Gambar Kerja Dokumen maupun yang
diminta oleh Konsultan Pengawas dan/atau Konsultan Perencana.
c. Dalam Shop Drawing ini harus jelas dicantumkan Konsultan Pengawas dan
digambarkan semua data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh jadi
dari semua bahan, keterangan produk, cara pemasangan, dan/atau
spesifikasi/persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik yang
belum tercakup secara lengkap di dalam Gambar Kerja Dokumen maupun
Rencana Kerja dan Syarat-syarat.
d. Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing kepada Konsultan Pengawas
dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan tertulis bagi
pelaksanaan pekerjaan.
e. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran yang
tercantum di dalam Gambar Kerja Dokumen tanpa sepengetahuan
Konsultan Pengawas. Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab
Kontraktor, baik dari segi biaya maupun waktu pelaksanaan.

PASAL 5. JADWAL PELAKSANAAN


5.1. Sebelum mulai pelaksaan pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib menbuat
rencana kerja pelaksanaan dan bagian-bagian perkerjaan berupa bar chart dan
S-curve, Bahan dan Tenaga dan mengkoordinasikan hasilnya kepada
Konsultan Pengawas sehingga pelaksanaan pekerjaan terkendali dan tidak
mengganggu kelancaran proyek secara keseluruhan dan kelancaran kegiatan
di sekitar lokasi pekerjaan.

5.2. Rencana Kerja tersebut harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari
Konsultan Pengawas paling lambat dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari
kalender setelah Surat Keputusan Penunjukan (SKP) diterima oleh Kontraktor.

5.3. Rencana Kerja yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas akan disahkan
oleh Pemberi Tugas.

5.4. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja rangkap 4 (empat)


kepada Konsultan Pengawas, 1 (satu) salinan Rencana Kerja harus ditempel
pada bangsal Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik
kemajuan pekerjaan/prestasi kerja.

5.5. Konsultan Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor berdasarkan


Rencana Kerja tersebut.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 7
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

PASAL 6. LAPORAN
6.1. Kontraktor wajib membuat laporan Harian, Laporan Mingguan dan Laporan
Bulanan sebagai resume dari laporan harian dan mingguan selama masa
pelaksana, yang akan diperiksa dan disetujui oleh Supervisi atau Pengawas
Teknis yang memuat hal-hal :
a. Jumlah tenaga kerja menurut jenis/jabatan
b. Jumlah dan jenis bahan yang diterima
c. Jumlah dan jenis bahan yang disetujui
d. Kegiatan, volume dan satuan pekerjaan secara terperinci
e. Keadaan cuaca dan kejadian-kejadian lain
f. Peralatan yang dipakai
g. Anjuran/perintah kepada Kontraktor

6.2 Laporan harian ini dibuat dalam rangkap dan bentuk yang telah ditetapkan oleh
Pemilik Proyek.

PASAL 7. KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN

7.1. Di lapangan pekerjaan Kontraktor wajib menunjuk seorang kuasa Kontraktor


atau biasa disebut Pelaksana yang cakap untuk memimpin pelaksanaan
pekerjaan di lapangan dan mendapatkan kuasa penuh dari Kontraktor,
berpendidikan minimum Sarjana Muda Teknik Sipil atau sederajat dengan
pengalaman minimum 3 (tiga) tahun atau STM Jurusan Bangunan dengan
pengalaman minimum 7 (tujuh) tahun.

7.2. Dengan adanya Pelaksana tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung
jawab sebagian maupun keseluruhan terhadap kewajibannya.

7.3. Kontraktor wajib memberi tahu kepada Tim Pelaksana Teknis dan Konsultan
Pengawas, nama dan jabatan pelaksana untuk mendapatkan persetujuan.

7.4. Bila di kemudian hari menurut Tim Pelaksana Teknis dan Konsultan Pengawas,
Pelaksana kurang mampu atau tidak cukup cakap memimpin pekerjaan maka
akan diberitahu kepada Kontraktor secara tertulis untuk mengganti Pelaksana.

7.5. Dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender setelah dikeluarkan surat pemberitahuan,
Kontraktor harus sudah menunjuk Pelaksana baru atau Kontraktor sendiri
(Penanggung Jawab/Direktur Perusahaan) yang akan memimpin pelaksanaan.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 8
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

PASAL 8. PENJAGA KEAMANAN LAPANGAN

3.1. Kontraktor diwajibkan menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang


milik proyek, Konsultan Pengawas dan milik Pihak Ketiga yang ada di lapangan

3.2. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui Konsultan
Pengawas/Konsultan Perencana, baik yang telah dipasang maupun yang
belum, adalah tanggung jawab Kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam
biaya pekerjaan tambah.

3.3. Apabila terjadi kebakaran, Kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya, baik
yang berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu Kontraktor
diwajibkan menyediakan alat-alat pemadan kebakaran yang siap dipakai yang
ditempatkan di tempat-tempat yang akan ditetapkan kemudian oleh Konsultan
Pengawas.

PASAL 9. JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA

1.1. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat


Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang selalu dalam keadaan siap
digunakan di lapangan untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi
semua petugas dan pekerja di lapangan.

1.2. Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi
syarat-syarat kesehatan bagi semua petugas dan pekerja yang ada di bawah
kekuasaan Kontraktor.

1.3. Kontraktor wajib menyediakan air bersih, kamar mandi dan wc yang layak dan
bersih bagi semua petugas dan pekerja.

1.4. Tidak diperkenankan membuat penginapan di dalam lapangan pekerjaan untuk


pekerja, kecuali penjaga keamanan.

1.5. Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan para pekerja
wajib diberikan oleh Kontraktor sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 9
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

PASAL 10. ALAT-ALAT PELAKSANAAN

Semua alat-alat untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan oleh Kontraktor,


sebelum pekerjaan fisik dimulai, dalam keadaan baik dan siap pakai.

PASAL 11. SITUASI DAN UKURAN

11.1. SITUASI
a. Kontraktor wajib meneliti situasi lokasi, sifat dan luasnya pekerjaan dan hal-
hal lain yang dapat mempengaruhi harga penawaran.
b. Kontraktor harus sudah memperhitungkan segala kondisi yang ada
(eksisting) di tapak yang meliputi antara lain bongkaran bangunan eksisting,
saluran drainase, pipa, kabel dan lain sebagainya yang dapat mengganggu
kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
c. Kontraktor harus berkoordinasi dengan Pengawas Lapangan dan Pemilik
Proyek untuk memindahkan/menempatkan peralatan pembangunan pada
tempatnya untuk dilaksanakan.
d. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan harus dilakukan pembongkaran
ataupun pemindahan hal-hal tersebut di atas maka kontraktor diwajibkan
memperbaiki kembali atau menyelesaikan pekerjaan tersebut sebaik
mungkin tanpa mengganggu sistem yang ada.
e. Di dalam kasus ini Kontraktor tidak dapat mengajukan klaim biaya
pekerjaan tambah, sebelum melakukan pemindahan/pembongkaran segala
sesuatu yang ada di lapangan, Kontraktor diwajibkan melaporkan dahulu
ke konsultan Pengawas.
f. Kelalaian atau kekurangtelitian Kontraktor dalam hal ini tidak dapat
dijadikan alasan untuk mengajukan klaim baik dari segi waktu maupun
biaya.

11.2. UKURAN
a. Ukuran satuan yang digunakan di sini semuanya dinyatakan dalam mm
(miliimeter) begitu pula ukuran-ukuran untuk baja dan pipa yang dinyatakan
dalam inchi atau mm (millimeter).
b. Perbedaan antara Gambar Kerja Dokumen dengan keadaan di lapangan
harus dilaporkan kepada Konsultan Pengawas, selanjutnya Konsultan
Pengawas berkonsultasi dengan Konsultan Perencana.
c. Tidak dibenarkan Kontraktor mengambil tindakan tanpa sepengetahuan
Konsultan Pengawas.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 10
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

PASAL 12. PEMERIKSAAN BAHAN DAN KOMPONEN JADI

10.1. Semua bahan/material dan komponen jadi yang didatangkan harus memenuhi
syarat-syarat yang ditentukan dalam RKS ini.

10.2. Konsultan Pengawas berwenang menanyakan asal bahan/material dan


komponen jadi dan Kontraktor wajib memberi tahu.

10.3. Contoh bahan/material dan komponen jadi yang akan digunakan harus
diserahkan kepada Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana untuk
mendapatkan “standard of appearance”. Paling lambat waktu penyerahan
contoh bahan adalah 1 (satu) minggu sebelum jadwal pelaksanaan. Keputusan
bahan, jenis, warna, tekstur dan produk yang dipilih, akan diinformasikan oleh
Konsultan Pengawas kepada Kontraktor selama tidak lebih 3 (tiga) hari
kalender setelah penyerahan contoh bahan tersebut.

10.4. Semua bahan/material dan komponen jadi harus disetujui secara tertulis oleh
Konsultan Pengawas sebelum dipasang.

10.5. Bahan/material dan komponen jadi yang telah didatangkan oleh Kontraktor di
lapangan pekerjaan, tapi ditolak pemakaiannya oleh Konsultan Pengawas
harus segera dikeluarkan dari lapangan pekerjaan selambat-lambatnya dalam
waktu 24 jam terhitung dari jam penolakan.

10.6. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan/material dan komponen jadi harus


sesuai dengan persyaratan dari pabrik pembuat, dan/atau sesuai dengan
spesifikasi bahan tersebut.

PASAL 13. PEMERIKSAAN PEKERJAAN

13.1. Sebelum memulai pekerjaan Kontraktor wajib meminta izin kepada Konsultan
Pengawas dengan mengajukan surat permohonan pelaksanaan pekerjaan
untuk mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.

13.2. Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilakukan Kontraktor tetapi karena
bahan/material ataupun komponen jadi, maupun mutu pekerjaannya sendiri
ditolak oleh Konsultan Pengawas, harus segera dihentikan dan selanjutnya
dibongkar atas biaya Kontraktor.

13.3. Sebelum memulai pekerjaan lanjutan yang apabila bagian pekerjaan ini telah
selesai, akan tetapi belum diperiksa oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor
diwajibkan meminta persetujuan dari Konsultan Pengawas dan kemudian

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 11
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

apabila Konsultan Pengawas telah menyetujui bagian pekerjaan tersebut,


Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya.

13.4. Bila permohonan pemeriksaan itu dalam waktu 2 x 24 jam dihitung dari jam
diterimanya surat permohonan pemeriksaan tidak direspons oleh Konsultan
Pengawas, maka Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang
seharusnya diperiksa dianggap telah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Hal
ini dikecualikan bila Konsultan Pengawas minta perpanjangan waktu.

PASAL 14. PEKERJAAN TAMBAH KURANG DAN PERSIAPAN PEKERJAAN

14.1. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah kurang diberitahukan dengan tertulis


atau ditulis dalam buku harian oleh Konsultan Pengawas serta disetujui oleh
Pemberi Tugas.

14.2. Pekerjaan tambah kurang hanya berlaku bila memang nyata-nyata ada
perintah tertulis dari Konsultan Pengawas atas persetujuan Pemberi Tugas.

14.3. Biaya pekerjaan tambah kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga
satuan pekerjaan, yang dimasukkan oleh Kontraktor yang pembayarannya
diperhitungkan bersama dengan angsuran terakhir.

14.4. Untuk pekerjaan tambah yang harga satuannya tidak tercantum dalam harga
satuan yang dimasukkan dalam penawaran maka harga satuannya akan
ditentukan lebih lanjut oleh Konsultan Pengawas bersama-sama Kontraktor
dengan persetujuan Pemberi Tugas.

14.5. Adanya pekerjaan tambah tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab
kelambatan penyerahan pekerjaan, tetapi Konsultan Pengawas/Tim Direksi
Teknis dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu karena adanya
pekerjaan tambah tersebut.

PASAL 15. PEKERJAAN PERSIAPAN

15.1. AIR DAN DAYA

a. Kontraktor harus menyediakan air atas tanggungan/biaya sendiri yang


dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini, yaitu :
• Air kerja untuk pencampur atau keperluan lainnya yang memenuhi
persyaratan sesuai jenis pekerjaan, cukup bersih, bebas dari segala
macam kotoran dan zat-zat seperti minyak, asam, garam, dan
sebagainya yang dapat merusak atau mengurangi kekuatan konstruksi.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 12
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

• Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air


dan kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk
keperluan tersebut harus cukup terjamin.

b. Kontraktor harus menyediakan daya listrik atas tanggungan/biaya sendiri


sementara yang dibutuhkan untuk peralatan dan penerangan serta
keperluan lainnya dalam melaksanakan pekerjaan ini. Pemasangan sistem
listrik sementara ini harus memenuhi persyaratan yang berlaku. Kontraktor
harus mengatur dan menjaga agar jaringan dan peralatan listrik tidak
membahayakan para pekerja di lapangan. Kontraktor harus pula
menyediakan penangkal petir sementara untuk keselamatan.

15.2. SALURAN PEMBUANGAN

Kontraktor harus membuat saluran pembuangan sementara untuk menjaga


agar daerah bangunan selalu dalam keadaan kering/tidak basah tergenang air
hujan atau air buangan. Saluran dihubungkan ke parit/selokan yang terdekat
atau menurut petunjuk Pengawas.

15.3. KANTOR KONTRAKTOR, LOS DAN HALAMAN KERJA, GUDANG DAN


FASILITAS LAIN

Kontraktor harus membangun kantor dan perlengkapannya, los kerja, gudang


dan halaman kerja (work yard) di dalam halaman pekerjaan, yang diperlukan
untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai Kontrak. Kontraktor harus juga
menyediakan untuk pekerja/buruhnya fasilitas sementara (tempat mandi dan
peturasan) yang memadai untuk mandi dan buang air.
Kontraktor harus membuat tata letak/denah halaman proyek dan rencana
konstruksi fasilitas-fasilitas tersebut. Kontraktor harus menjamin agar seluruh
fasilitas itu tetap bersih dan terhindar dari kerusakan.

Dengan seijin Kuasa Pengguna Anggaran, Kontraktor dapat menggunakan


kembali kantor, los kerja, gudang dan halaman kerja yang sudah ada.

15.4. KANTOR PENGAWAS (DIREKSI KEET)

Kontraktor harus menyediakan untuk Direksi di tempat pekerjaan ruang kantor


sementara beserta seperangkat furniture termasuk kursi-kursi, meja dan
lemari. Kualitas dan peralatan yang harus disediakan adalah sebagai berikut :
a. Ruang : ukuran 75 m2
c. Fasilitas : air dan penerangan listrik
d. Furnitur : 5 meja kerja 1/2 biro dan 5 kursi
1 meja rapat bahan plywood 18 mm ukuran 120 x 240 cm,
dan 10 kursi
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 13
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

2 unit komputer dan printer


1 whiteboard ukuran 120 x 80 cm
1 rak arsip gambar plywood 12 mm ukr. 120 x 240 x 30
cm
Kontraktor harus selalu membersihkan dan menjaga keamanan kantor tersebut
beserta peralatannya.
Dengan seijin Kuasa Pengguna Anggaran / Pejabat Pembuat Komitmen,
Kontraktor dapat menggunakan Direksi Keet yang sudah ada dengan diadakan
penyempurnaan dan perlengkapan peralatan jika dianggap perlu.

15.5. PAGAR SEMENTARA

Kontraktor harus membuat pagar sementara yang sifatnya melindungi dan


menutupi lokasi yang akan dibangun dengan persyaratan kualitas sebagai
berikut :
a. Bahan dari BWG 32 dengan rangka kayu dicat sementara.
b. Tinggi pagar minimum 2,1 m.
c. Ruang gerak selama pelaksanaan dalam lokasi berpagar harus cukup
leluasa untuk lancarnya pekerjaan.
d. Pada tahap selanjutnya Kontraktor harus menyediakan/memasang
pengaman secukupnya disekeliling konstruksi bangunan untuk mencegah
jatuhnya bahan-bahan bangunan dari atas yang membahayakan baik pekerja
maupun aktivitas lain disekitar bangunan.
Kontraktor bisa menggunakan kembali pagar yang sudah ada dengan
melakukan perbaikan-perbaikan terlebih dahulu bila diperlukan.

15.6. PAPAN NAMA PROYEK

Kontraktor wajib membuat dan memasang papan nama proyek di bagian depan
halaman proyek sehingga mudah dilihat umum. Ukuran dan redaksi papan
nama tersebut 90 x 150 cm dipotong dengan tiang setinggi 250 cm atau sesuai
dengan petunjuk Pemerintah Daerah setempat. Kontraktor tidak diijinkan
menempatkan atau memasang reklame dalam bentuk apapun di halaman dan
di sekitar proyek tanpa ijin dari Pemberi Tugas.

15.7. PEMBERSIHAN HALAMAN

a. Semua penghalang di dalam batas tanah yang menghalangi jalannya


pekerjaan seperti adanya pepohonan, batu-batuan atau puing-puing
bekas bangunan harus dibongkar dan dibersihkan serta dipindahkan dari
tanah bangunan kecuali barang-barang yang ditentukan harus dilindungi
agar tetap utuh.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 14
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

b. Pelaksanaan pembongkaran harus dilakukan dengan sebaik-baiknya


untuk menghindarkan bangunan yang berdekatan dari kerusakan. Bahan-
bahan bekas bongkaran tidak diperkenankan untuk dipergunakan kembali
dan harus diangkut keluar dari halaman proyek.

15.8. PERMUKAAN ATAS LANTAI (PEIL)

a. Peil 0,00 Bangunan diambil dari peil patok ukur yang telah tersedia di
lokasi.
b. Semua ukuran ketinggian galian, pondasi, sloof, kusen, dak beton, dan
lain-lain harus mengambil patokan dari peil ± 0,00 tersebut.

15.9. PAPAN BANGUNAN (BOUWPLANK)

a. Bouwplank dibuat dari kayu terentang (kayu hutan kelas IV) ukuran
minimum 3/20 cm yang utuh dan kering. Bouwplank dipasang dengan
tiang-tiang dari kayu sejenis ukuran 5/7 cm dan dipasang pada setiap
jarak satu meter. Papan harus lurus dan diketam halus pada bagian
atasnya.
b. Bouwplank harus benar-benar datar (waterpass) dan tegak lurus.
Pengukuran harus memakai alat ukur yang disetujui Konsultan Pengawas
.
c. Bouwplank harus menunjukkan ketinggian ± 0.00 dan as kolom/dinding.
Letak dan ketinggian permukaan bouwplank harus dijaga dan dipelihara
agar tidak berubah selama pekerjaan berlangsung.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 15
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

SPESIFIKASI TEKNIS

PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR


DINAS LINGKUNGAN HIDUP PROV. SUMATEA UTARA
DAN UPT

PASAL I PEKERJAAN TANAH


1.1. LINGKUP PEKERJAAN
Yang termasuk pekerjaan galian tanah adalah semua pekerjaan yang
berhubungan dengan pekerjaan tanah meliputi :
 Penggalian, perataan, pengurugan kembali jika diperlukan.
 Pemadatan Tanah

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 16
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

1.2. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Penggalian
 Tenaga Ahli Lapangan
Pemborong harus mengajukan daftar nama tenaga ahli yang akan
ditempatkan di lapangan. Tenaga ahli tersebut harus mengikuti
petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Pengawas dan tenaga ahli
tersebut harus kontinyu berada di lapangan untuk pengawasan.
 Penggalian
Pemborong harus melakukan pengukuran untuk menetapkan lokasi dan
elevasi galian sesuai dengan gambar kerja, hasil pengukuran harus
disetujui oleh Pengawas sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya.
 Pergeseran as kolom yang direncanakan maksimum 5 cm ke segala
arah. Dasar pondasi harus horisontal. Deviasi maksimum 5 cm.
 Penggalian harus dikerjakan secara terus menerus sampai mencapai
elevasi yang dipersyaratkan dan harus mendapatkan persetujuan
tertulis yang ditandatangani oleh Pengawas.
 Material lepas dan lumpur harus dibersihkan dari dalam lubang pondasi.
Lubang harus bersih setiap saat.
 Pemadatan galian harus dilakukan sesuai dengan elevasi yang
ditentukan pada gambar perencanaan.
 Sebelum dilanjutkan pada pekerjaan lantai kerja, Kontraktor harus
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas bahwa galian dan
pemadatan sudah sesuai.

b. Pemadatan Tanah
 Pemadatan dilakukan pada peil yang ditentukan sesuai Gambar Kerja.
 Sebelum pemadatan, harus dibersihkan dari semua kotoran, humus
dan akar tanaman serta bekas bongkaran.
 Pelaksanaan pemadatan dilakukan lapis demi lapis, tiap lapisan tidak
boleh lebih dari 20 cm tebal sebelum dipadatkan atau 15 cm setelah
dipadatkan.
 Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping) dilakukan
dengan blade graders / stemper atau lainnya dengan mendapatkan
persetujuan dari Konsultan Pengawas. Sebelumnya tanah harus digaru
dengan sheep foot rollers.
 Selama pemadatan harus dikontrol terus kadar airnya, sebelum
pemadatan kadar air dari fill material harus sama dengan kadar air
optimum dari hasil test Compaction Modified Proctor dari contoh fill
material.
 Apabila kadar air bahan timbunan/fill material lebih kecil dari bahan
optimum, maka fill material harus diberi air sehingga menyamai kadar
air optimum. Sebaliknya bila kadar air bahan timbunan/fill material lebih
besar dari kadar air optimum, maka fill material harus dikeringkan

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 17
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

terlebih dahulu atau ditambah dengan bahan timbunan yang lebih


kering.
 Pemadatan harus dilakukan pada cuaca baik, bila hujan dan air
tergenang, pemadatan dihentikan. Diusahakan air dapat mengalir
dengan membuat saluran-saluran drainage / dewatering sehingga
daerah pemadatan selalu kering.
Setiap lapis dari daerah yang dipadatkan harus ditest dengan 'Field Dry
Density Test' untuk mengetahui kepadatan tanah yang dicapai serta
Moisture Content. Satu test untuk setiap 400 m2 untuk tanah yang
dipadatkan.
Apabila tanah yang dipadatkan telah mencapai nilai 90% compacted
dari modified proctor (untuk lapisan sub grade setebal 30 cm di bawah
base) tetapi tidak mencapai soaked CBR minimum = 4, maka tanah (sub
grade) tersebut harus diganti dengan fill material yang pada 90%
maksimum compacted mencapai nilai soaked CBR = 4.

c. Penyelesaian
 Pemborong harus membersihkan kembali daerah yang telah selesai
dikerjakan terhadap segala kotoran, sampah bekas adukan, bobokan,
tulangan dan lain-lain.
 Kelebihan tanah bekas galian pondasi dan bobokan maupun material
yang tidak diperlukan lagi harus dibawa keluar proyek atau ke tempat
lain dengan persetujuan Pengawas.
 Pemborong harus tetap menjamin susunan tanah pada daerah di
sekitar pondasi terhadap kepadatannya maupun terhadap peil semula.
 Pada pelaksanaan pembersihan, Pemborong harus berhati-hati untuk
tidak mengganggu setiap patok-patok pengukuran, pipa-pipa atau
tanda-tanda lainnya.

PASAL 2 PEKERJAAN PONDASI BATU KALI

2.1. LINGKUP PEKERJAAN


Yang termasuk pekerjaan pondasi ialah :
 Pembuatan urugan pasir dan lantai kerja setebal 10 cm dan dipadatkan.
 Pembuatan semua pondasi batu kali sesuai Gambar Kerja.
 Pemasangan semua stek dan angker yang diperlukan sesuai Gambar Kerja.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 18
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

2.2. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


Persyaratan Umum
 Semua pekerjaan pondasi baru boleh dikerjakan apabila galian tanah
telah diperiksa ukuran dan kedalamannya dan disetujui Konsultan
Manajemen Konstruksi.
 Bila pada lubang-lubang galian terdapat banyak air tergenang karena air
tanah dan air hujan, maka sebelum pasangan dimulai terlebih dahulu air
harus dipompa dan dibuang di daerah lain yang tidak mengganggu
pekerjaan dan dasar lubang dikeringkan.
 Jika pemasangan pondasi terpaksa dihentikan, maka ujung penghentian
pondasi harus bergigi agar penyambungan berikutnya terjadi ikatan
yang kokoh dan sempurna.
 Di dalam pondasi sama sekali tidak boleh terdapat rongga-rongga
udara/celah-celah.

2.3. PONDASI PASANGAN BATU KALI


Adukan yang dipergunakan 1 pc : 4 ps.
 Adukan 1 pc : 4 ps dipergunakan untuk semua pekerjaan pondasi batu
kali setinggi 20 cm dari permukaan atas pondasi.
 Penampang batu maksimum 30 cm dengan minimum tiga muka
pecahan.

PASAL 3 PEKERJAAN BETON BERTULANG

3.1. UMUM
3.1.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan yang termasuk meliputi :
1. Penyediaan dan pendayagunaan semua tenaga kerja, bahan-bahan,
instalasi konstruksi dan perlengkapan-perlengkapan untuk semua
pembuatan dan mendirikan semua baja tulangan, bersama dengan semua

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 19
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

pekerjaan pertukangan/keahlian lain yang ada hubungannya dengan itu,


lengkap sebagaimana diperlihatkan, dispesifikasikan atau sebagaimana
diperlukannya.
2. Tanggung jawab "kontraktor" atas instalasi semua alat-alat yang
terpasang, selubung-selubung dan sebagainya yang tertanam di dalam
beton. Syarat-syarat umum pada pekerjaan ini berlaku penuh Peraturan
Beton Indonesia 1971 (PBI 1971), ASTM dan ACI.
3. Ukuran-ukuran (dimensi) dari bagian-bagian beton bertulang yang tidak
termasuk pada gambar-gambar rencana pelaksanaan arsitektur adalah
ukuran-ukuran dalam garis besar. Ukuran-ukuran yang tepat, begitu pula
besi penulangannya ditetapkan dalam gambar-gambar struktur konstruksi
beton bertulang. Jika terdapat selisih dalam ukuran antara kedua macam
gambar itu, maka ukuran yang harus berlaku harus dikonsultasikan terlebih
dahulu dengan perencana atau Direksi Lapangan guna mendapatkan
ukuran yang sesungguhnya disetujui oleh perencana.
4. Jika karena keadaan pasaran, besi penulangan perlu diganti guna
kelangsungan pelaksanaan maka jumlah luas penampang tidak boleh
berkurang dengan memperhatikan syarat-syarat lainnya yang termuat
dalam PBI 1971. Dalam hal ini Direksi Lapangan harus segera
diberitahukan untuk persetujuannya, sebelum fabrikasi dilakukan.
5. Penyediaan dan penempatan tulangan baja untuk semua pekerjaan beton
yang berlangsung dicor di tempat, termasuk penyediaan dan penempatan
batang-batang dowel ditanamkan di dalam beton seperti terlihat dan
terperinci di dalam gambar atau seperti petunjuk Direksi Lapangan dan, bila
disyaratkan, penyediaan penulangan untuk dinding blok beton.
6. "Kontraktor" harus bertanggungjawab untuk membuat dan membiayai
semua desain campuran beton dan test-test untuk menentukan kecocokan
dari bahan dan proporsi dari bahan-bahan terperinci untuk setiap jenis dan
kekuatan beton, dari perincian slump, yang akan bekerja/berfungsi penuh
untuk semua teknik dan kondisi penempatan, dan akan menghasilkan yang
diijinkan oleh Direksi Lapangan. Kontraktor berkewajiban mengadakan dan
membiayai Test Laboratorium.
7. Pekerjaan-pekerjaan lain yang termasuk adalah :
- semua pekerjaan beton yang tidak terperinci di luar ini
- pemeliharaan dan finishing, termasuk grouting
- mengatur benda-benda yang ditanam di dalam beton, kecuali
tulangan beton
- koordinasi dari pekerjaan ini dengan pekerjaan dari lain bagian
- sparing dalam beton untuk instalasi M/E
- penyediaan dan penempatan stek tulangan pada setiap
pertemuan dinding bata dengan kolom/dinding beton struktural dan
dinding bata dengan pelat beton struktural seperti yang ditunjukkan
oleh Direksi Lapangan.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 20
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

3.1.2. Referensi dan Standar-Standar


Semua pekerjaan yang tercantum dalam bab ini, kecuali tercantum dalam
gambar atau diperinci, harus memenuhi edisi terakhir dari peraturan, standard
dan spesifikasi berikut ini :

a. PBI - 1971 Peraturan Beton Bertulang Indonesia - 1971


b. SKSNI - 1991 Tatacara Penghitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung
c. PUBI – 1982 Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia
d. ACI - 304 ACI 304.1R-92, State-of-the Art Report on
Preplaced Aggregate Conc. for Structural and Mass
Concrete, Part 2
ACI 304.2R-91, Placing Concrete by Pumping Methods, Part 2
e. ASTM - C94 Standard Specification for Ready-Mixed Concrete
f. ASTM - C33 Standard Specification for Concrete Aggregates

g. ACI - 318 Building Code Requirements for Reinforced


Concrete
h. ACI - 301 Specification for Structural Concrete of Building
i. ACI - 212 ACI 212.IR-63, Admixture for Concrete, Part 1
ACI 212.2R-71, Guide for Use of Admixture in Concrete, Part 1
j. ASTM - C143 Standard Test Method for Slump of Portland
Cement Concrete
k. ASTM - C231 Standard Test Method for Air Content of Freshly
Mixed Concrete by the Pressure Method
l. ASTM - C171 Standard Specification for Sheet Materials for
Curing Concrete
m. ASTM - C172 Standard Method of Sampling Freshly Mixed
Concrete
n. ASTM - C31 Standard Method of Making and Curing Concrete
Test Specimens in the Field
o. ASTM - C42 Standard Method of Obtaining and Testing Drilled
Cores and Sawed Beams of Concrete
p. ASTM - C309 Standard Specification for Liquid Membrane
Forming Compounds for Curing Concrete
q. ASTM - D1752 Standard Specification for Performed Spange
Rubberand Cork Expansion Joint Fillers for
Concrete Paving and Structural Construction
r. ASTM - D1751 Standard Specification for Performed Expansion
Joint Fillers for Concrete Paving and Structural
Construction (Non-extruding and Resilient
Bituminous Types)
s. SII Standard Industri Indonesia

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 21
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

t. ACI - 315 Manual of Standard Practice for Reinforced


Concrete
u. ASTM - A185 Standard Specification for Welded Steel Wire
Fabric for Concrete Reinforcement.
v. ASTM - A165 Standard Specification for Deformed and Plain Billet
Steel Bars for Concrete Reinforcement, Grade 40,
deformed, for reinforcing bars, Grade 40, for
stirrups and ties.
w. Petunjuk-petunjuk lisan maupun tertulis yang diberikan oleh pengawas.

3.1.3. Penyerahan-penyerahan

Penyerahan-penyerahan berikut harus dilaksanakan oleh Kontraktor kepada


Direksi Lapangan sesuai dengan jadwal yang telah disetujui untuk
menyerahkan dan dengan segera sehingga tidak menyebabkan keterlambatan
pada pekerjaan sendiri maupun pada pekerjaan kontraktor lain.
a. Gambar pelaksanaan
Merupakan gambar tahapan pelaksanaan yang harus diserahkan oleh
Kontraktor kepada Direksi Lapangan untuk mendapat persetujuan ijin.
Penyerahan harus dilakukan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja
sebelum jadwal pelaksanaan pekerjaan beton.
b. Data dari pabrik/sertifikat
Untuk mendapat jaminan atas mutu beton ready-mix, maka sebelum
pengiriman; Kontraktor harus sudah menyerahkan kepada Direksi
Lapangan sedikitnya 5 hari kerja sebelum pengiriman; hasil-hasil
percobaan laboratorium, baik hasil percobaan bahan maupun hasil
percobaan campuran (Mix Design dan Trial Mix) yang diperuntukan proyek
ini.
c. Harus diajukan minimal 2 (dua) supplier beton ready-mix untuk
memperlancar pelaksanaan dan mendapat persetujuan Direksi Lapangan
sebelum memulai pengecoran.

3.1.4. Percobaan Bahan dan Campuran Beton

a. Umum
Test bahan : Sebelum membuat campuran, test laboratorium harus
dilakukan untuk test berikut, sehubungan dengan prosedur-prosedur
ditujukan ke standard referensi untuk menjamin pemenuhan spesifikasi
proyek untuk membuat campuran yang diperlukan.
b. Semen : berat jenis semen
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 22
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

c. Agregat :
Analisa tapis, berat jenis, prosentase dari void (kekosongan), penyerapan,
kelembaban dari agregat kasar dan halus, berat kering dari agregat kasar,
modulus terhalus dari agregat halus.
d. Adukan/campuran beton
 Adukan beton harus didasarkan pada trial mix dan mix design masing-
masing untuk umur 7, 14 atau 21 dan 28 hari yang didasarkan pada
minimum 20 hasil pengujian atau lebih sedemikian rupa sehingga hasil
uji tersebut dapat disetujui oleh Direksi Lapangan.
Hasil uji yang disetujui tersebut sudah harus disertakan selambat-
lambatnya 3 minggu sebelum pengerjaan dimulai, dan selain itu mutu
betonpun harus sesuai dengan mutu standard PBI 1971. Pekerjaan
tidak boleh dimulai sebelum diperiksa Direksi Lapangan tentang
kekuatan/kebersihannya.
Semua pembuatan dan pengujian trial mix dan design mix serta
pembiayaannya adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor. Trial mix dan design mix harus diadakan lagi bila agregat
yang dipakai diambil dari sumber yang berlainan, merk semen yang
berbeda atau supplier beton yang lain.
 Ukuran-ukuran
Campuran desain dan campuran percobaan harus proporsional semen
terhadap agregat berdasarkan berat, atau proporsi yang cocok dari
ukuran untuk rencana proposional atau perbandingan yang harus
disetujui oleh Direksi Lapangan.
 Percobaan adukan untuk berat normal beton
Untuk perincian minimum dan maximum slump untuk setiap jenis dan
kekuatan dari berat normal beton, dibuat empat (4) adukan campuran
dengan memakai nilai faktor air-semen yang berbeda-beda.
 Pengujian mutu beton ditentukan melalui pengujian sejumlah benda uji
silinder beton diameter 15 cm x tinggi 30 cm sesuai PBI 1971, ACI
Committee - 304, ASTM C 94-98.
 Benda uji (setiap pengambilan terdiri dari 3 buah dengan pengetesan
dilakukan pada hari yang tercantum pada item 6) dari satu adukan
dipilih acak yang mewakili suatu volume rata-rata tidak lebih dari 10 m3
atau 10 adukan atau 2 truck drum (diambil yang volumenya terkecil).
Disamping itu jumlah maximum dari beton yang dapat terkena
penolakan akibat setiap satu keputusan adalah 30 m3, kecuali bila
ditentukan lain oleh Direksi Lapangan.
 Hasil uji untuk setiap pengujian dilakukan masing-masing untuk umur
7, 14 atau 21 dan 28 hari.
 Pembuatan benda uji harus mengikuti ketentuan PBI'71, dilakukan di
lokasi pengecoran dan harus disaksikan oleh Direksi Lapangan.
Apabila digunakan metoda pembetonan dengan menggunakan

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 23
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

pompa (concrete pump), maka pengambilan contoh segala macam


jenis pengujian lapangan harus dilakukan dari hasil adukan yang
diperoleh dari ujung pipa "concrete-pump" pada lokasi yang akan
dilaksanakan.
 Pengujian bahan dan beton harus dilakukan dengan cara yang
ditentukan dalam Standard Industri Indonesia (SII) dan PBI'71 NI-2
atau metoda uji bahan yang disetujui oleh Direksi Lapangan.
 Rekaman lengkap dari hasil uji bahan dan beton harus disediakan dan
disimpan dengan baik oleh tenaga pengawas ahli, dan selalu tersedia
untuk keperluan pemeriksaan selama pelaksanaan pekerjaan dan
selama 5 tahun sesudah proyek bangunan tersebut selesai
dilaksanakan.

e. Pengujian slump
 Kekentalan adukan beton diperiksa dengan pengujian slump,
dimana nilai slump harus dalam batas-batas yang diisyaratkan
dalam PBI 1971 dan sama sekali tidak diperbolehkan adanya
penambahan air/additive, kecuali ditentukan lain oleh Direksi
Lapangan.

 "Kontraktor" harus menjamin bahwa ia mampu dengan slump


berikut, beton dengan mutu dan kekuatan yang memuaskan,
yang akan menghasilkan hasil akhir yang bebas keropos,
ataupun berongga-rongga. Pelaksanaan dari persetujuan kontrak
adalah bahwa "Kontraktor" bertanggung jawab penuh untuk
produksi dari beton dan pencapaian mutu, kekuatan dan
penyelesaian yang memenuhi syarat batas slump.
Bila dipakai pompa beton, slump harus didasarkan pada
pengukuran di pelepasan pipa, bukan di truk mixer. Maximum
slump harus 150 mm.

 Rekomendasi slump untuk variasi beton konstruksi pada


keadaan atau kondisi normal :

Slump pada (cm)

Konstruksi Beton Maksimum Minimum

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 24
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Dinding, pelat fondasi dan fondasi 12.50 10.00


telapak bertulang.

Fondasi telapak tidak bertulang, kaison 9.00 7.50


dan konstruksi di bawah tanah.

Pelat, balok, kolom dan dinding. 15.00 12.50

Pembetonan massal. 7.50 7.50

Untuk beton dengan bahan tambahan plasticizer, slump dapat


dinaikkan sampai maksimum 1,5 cm.

f. Percobaan tambahan

 Kontraktor, tanpa membebankan biaya kepada pemilik, harus


mengadakan percobaan laboratorium selaku percobaan tambahan
pada bahan-bahan beton dan membuat desain adukan baru bila sifat
atau pemilihan bahan diubah atau apabila beton yang ada tidak dapat
mencapai kekuatan spesifikasi.
 Hasil pengujian beton harus diserahkan sesaat sebelum tahapan
pelaksanaan akan dilakukan, yaitu khususnya untuk pekerjaan yang
berhubungan dengan pelepasan perancah/acuan. Sedangkan untuk
pengujian di luar ketentuan pekerjaan tersebut, harus diserahkan
kepada Direksi Lapangan dalam jangka waktu tidak lebih dari 3 hari
setelah pengujian dilakukan.

3.2. BAHAN-BAHAN/PRODUK

Sedapat mungkin, semua bahan dan ketenagaan harus disesuaikan dengan


peraturan-peraturan Indonesia.

3.2.1. Semen
a. Mutu semen
 Semen portland harus memenuhi persyaratan standard

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 25
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Internasional atau Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A SK SNI


3-04-1989-F atau sesuai SII-0013-82, Type-1 atau NI-8 untuk
butir pengikat awal kekekalan bentuk, kekuatan tekan aduk dan
susunan kimia. Semen yang cepat mengeras hanya boleh
dipergunakan dimana jika hal tersebut dikuasakan tertulis secara
tegas oleh Direksi Lapangan.
 Jika mempergunakan semen portland pozolan (campuran semen
portland dan bahan pozolan) maka semen tersebut harus
memenuhi ketentuan SII 0132 Mutu dan Cara Uji Semen Portland
Pozoland atau spesifikasi untuk semen hidraulis campuran.
 Di dalam syarat pelaksanaan pekerjaan beton harus dicantumkan
dengan jelas jenis semen yang boleh dipakai dan jenis semen ini
harus sesuai dengan jenis semen yang digunakan dalam
ketentuan persyaratan mutu (semen tipe 1).
b. Penyimpanan Semen
 Penyimpanan semen harus dilaksanakan dalam tempat
penyimpanan dan dijaga agar semen tidak lembab, dengan lantai
terangkat bebas dari tanah dan ditumpuk sesuai dengan syarat
penumpukan semen dan menurut urutan pengiriman. Semen
yang telah rusak karena terlalu lama disimpan sehingga
mengeras ataupun tercampur bahan lain, tidak boleh
dipergunakan dan harus disingkirkan dari tempat pekerjaan.
Semen harus dalam zak-zak yang utuh dan terlindung baik
terhadap pengaruh cuaca, dengan ventilasi secukupnya dan
dipergunakan sesuai dengan urutan pengiriman. Semen yang
telah disimpan lebih 60 hari tidak boleh digunakan untuk
pekerjaan.
 Curah semen harus disimpan di dalam konstruksi silo secara
tepat untuk melindungi terhadap penggumpalan semen dalam
penyimpanan.
 Semua semen harus baru, bila dikirim setiap pengiriman harus
disertai dengan sertifikat test dari pabrik.
 Semen harus diukur terhadap berat untuk kesalahan tidak lebih
dari 2,5 %.

 "Kontraktor" harus hanya memakai satu merek dari semen yang


telah disetujui untuk seluruh pekerjaan. "Kontraktor" tidak boleh
mengganti merk semen selama pelaksanaan dari pekerjaan,
kecuali dengan persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan.

3.2.2. Agregat
Agregat untuk beton harus memenuhi ketentuan dan persyaratan dari
SII 0052-80 "Mutu dan Cara Uji Agregat Beton" dan bila tidak tercakup

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 26
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

dalam SII 0052-80, maka harus memenuhi spesifikasi agregat untuk


beton.
a. Agregat halus (Pasir)
Mutu pasir untuk pekerjaan beton harus terdiri dari : butir-butir tajam,
keras, bersih, dan tidak mengandung lumpur dan bahan-bahan
organis.
Agregat halus harus terdiri dari distribusi ukuran partikel-partikel
seperti yang ditentukan di pasal 3.5. dari NI-2. PBI '71.
Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 %
(ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan dengan lumpur
adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0.063 mm. Apabila
kadar lumpur melampaui 5 %, maka agregat halus harus dicuci.
Sesuai PBI'71 bab 3.3. atau SII 0051-82.
Ukuran butir-butir agregat halus, sisa di atas ayakan 4 mm harus
minimum 2 % berat; sisa di atas ayakan 2 mm harus minimum 10 %
berat; sisa di atas ayakan 0,25 mm harus berkisar antara 80 % dan
90 % berat.
Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua
mutu beton.
Penyimpanan pasir harus sedemikian rupa sehingga terlindung dari
pengotoran oleh bahan-bahan lain.
Agregat Kasar (Kerikil dan Batu Pecah)
Yang dimaksud dengan agregat kasar yaitu kerikil hasil desintegrasi
alami dari batu-batuan atau batu pecah yang diperoleh dari
pemecahan batu, dengan besar butir lebih dari 5 mm sesuai PBI 71
bab 3.4.
Mutu koral : butir-butir keras, bersih dan tidak berpori, batu pecah
jumlah butir-butir pipih maksimum 20 % bersih, tidak mengandug zat-
zat alkali, bersifat kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh
cuaca.
Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (terhadap berat
kering) yang diartikan lumpur adalah bagian-bagian yang melalui
ayakan 0.063 mm apabila kadar lumpur melalui 1 % maka agregat
kasar harus dicuci.
Tidak boleh mengandung zat-zat yang reaktif alkali yang dapat
merusak beton.
Ukuran butir : sisa diatas ayakan 31,5 mm, harus 0 % berat; sisa
diatas ayakan 4 mm, harus berkisar antara 90 % dan 98 %, selisih
antara sisa-sisa kumulatif di atas dua ayakan yang berurutan, adalah
maksimum 60 % dan minimum 10 % berat.
Kekerasan butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji
dari Rudeloff dengan beban penguji 20 t, harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 27
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

- tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9.5 - 19 mm lebih dari 24


% berat
- tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19-30 mm lebih dari 22
% atau dengan mesin pengaus Los Angeles, tidak boleh terjadi
kehilangan berat lebih dari 50 % sesuai SII 0087-75, atau PBI-71
Penyimpanan kerikil atau batu pecah harus sedemikian rupa agar
terlindung dari pengotoran bahan-bahan lain.

3.2.3. Air
Air untuk pembuatan dan perawatan beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam alkali, garam-garam, bahan organis atau
bahan-bahan lain yang dapat merusak beton serta baja tulangan atau
jaringan kawat baja. Untuk mendapatkan kepastian kelayakan air yang
akan dipergunakan, maka air harus diteliti pada laboratorium yang
disetujui oleh Direksi Lapangan.

3.2.4. Bahan Campuran Tambahan (Admixture)


Admixture harus disimpan dan dilindungi untuk menjaga kerusakan dari
container. Admixture harus sesuai dengan ACI 212.2R-71 dan ACI 212
2R-64. Segala macam admixture yang akan digunakan dalam pekerjaan
harus disetujui oleh Direksi Lapangan. Admixture yang mengandung
chloride atau nitrat tidak boleh dipakai.

3.2.5. Mutu dan Konsistensi dari Beton


Kekuatan ultimate tekan beton silinder 150 mm X 300 mm umur 28 hari,
kecuali ditentukan lain, harus seperti berikut :

Semua Sloof, Kolom, Balok pada Pagar : f'c=14,5Mpa (K 175)


Semua Pos Jaga : f'c=14,5Mpa (K 175)
Semua Jalan Rabat Beton : f'c=19,3 Mpa (K 225)
Semua Balok, Plat lantai Jembatan : f'c=19,3 Mpa (K 225)

Untuk semua beton non-struktural seperti lantai kerja dan sebagainya :


Beton Klas – Bo

3.3. PEMBESIAN

3.3.1. Percobaan dan Pemeriksaan (Test and Inspections)


Setiap pengiriman harus berasal dari pemilihan yang disetujui dan harus
disertai surat keterangan percobaan dari pabrik.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 28
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus diadakan


pengujian periodik minimal 4 contoh yang terdiri dari 3 benda uji untuk
uji tarik, dan 1 benda uji untuk uji lengkung untuk setiap diameter batang
baja tulangan. Pengambilan contoh baja tulangan akan ditentukan oleh
Direksi Lapangan.
Semua pengujian tersebut di atas meliputi uji tarik dan lengkung, harus
dilakukan di laboratorium Lembaga Uji Konstruksi BPPT atau
laboratorium lainnya direkomendasi oleh Direksi Lapangan dan minimal
sesuai dengan SII-0136-84 salah satu standard uji yang dapat dipakai
adalah ASTM A-615. Semua biaya pengetesan tersebut ditanggung
oleh Kontraktor.
Segala macam kotoran, karat, cat, minyak atau bahan-bahan lain yang
merugikan terhadap kekuatan rekatan harus dibersihkan.
Tulangan harus ditempatkan dan dipasang cermat dan tepat dan diikat
dengan kawat dari baja lunak.
Sambungan mekanis harus ditest dengan percobaan tarik.
Sebelum pengecoran beton, lakukan pemeriksaan dan persetujuan dari
pembesian, termasuk jumlah, ukuran, jarak, selimut, lokasi dari
sambungan dan panjang penjangkaran dari penulangan baja oleh
Direksi Lapangan.
Sertifikat : Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baja
tulangan, maka pada saat pemesanan baja tulangan kontraktor harus
menyerahkan sertifikat resmi dari Laboratorium. Khusus ditujukan untuk
keperluan proyek ini.

3.3.2. Bahan-bahan / Produk


a. Tulangan
Sediakan tulangan berulir mutu BJTD-40, sesuai dengan SII 0136-
84 dan tulangan polos mutu BJTP-24, sesuai dengan SII 0136-84
seperti dinyatakan pada gambar-gambar struktur.
Tulangan polos dengan diameter lebih kecil 13 mm harus baja lunak
dengan tegangan leleh 2400 kg/cm2.
Tulangan ulir dengan diameter lebih besar atau sama dengan 13 mm
harus baja tegangan tarik tinggi, batang berulir dengan tegangan
leleh 4000 kg/cm2.
b. Tulangan Anyaman (Wire mesh)
Sediakan tulangan anyaman , mutu U-50, mengikuti SII 0784-83.
c. Penunjang/Dudukan Tulangan (Bar Support)
Dudukan tulangan haruslah tahu beton yang dilengkapi dengan
kawat pengikat yang ditanam, atau batang kursi tinggi sendiri
(Individual High Chairs).
d. Bolstern, kursi, spacers, dan perlengkapan-perlengkapan lain untuk
mengatur jarak.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 29
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

1. Pakai besi dudukan tulangan menurut rekomendasi CRSI,


kecuali diperlihatkan lain pada gambar.
2. Jangan memakai kayu, bata atau bahan-bahan lain yang tidak
direkomendasi.
3. Untuk pelat di atas tanah, pakai penunjang dengan lapisan pasir
atau horizontal runners dimana bahan dasar tidak akan langsung
menunjang batang kursi (chairs legs). Atau pakai lantai kerja
yang rata.
4. Untuk beton ekspose, dimana batang-batang penunjang
langsung berhubungan/ mengenai cetakan, sediakan penunjang
dengan jenis hot-dip-galvanized atau penunjang yang dilindungi
plastik.
e. Kawat Pengikat
Dibuat dari baja lunak dan tidak disepuh seng.

3.3.3. Jaminan Mutu


Bahan-bahan harus dari produk yang sama seperti yang telah disetujui
oleh Direksi Lapangan.
Sertifikat dari percobaan (percobaan giling atau lainnya) harus
diperlihatkan untuk semua tulangan yang dipakai. Percobaan-
percobaan ini harus memperlihatkan hasil-hasil dari semua kom- posisi
kimia dan sifat-sifat fisik.

3.3.4. Persiapan Pekerjaan/Perakitan Tulangan


Pembengkokkan dan pembentukan.
Pemasangan tulangan dan pembengkokan harus sedemikian rupa
sehingga posisi dari tulangan sesuai dengan rencana dan tidak
mengalami perubahan bentuk maupun tempat selama pengecoran
berlangsung.
Pembuatan dan pemasangan tulangan sesuai dengan PBI 1971.
Toleransi pembuatan dan pemasangan tulangan disesuaikan dengan
persyaratan PBI 1971 atau A.C.I. 315.

3.3.5. Pengiriman, Penyimpanan dan Penanganannya


Pengiriman tulangan ke lapangan dalam kelompok ikatan ditandai
dengan etiket/label yang mencantumkan ukuran batang, panjang dan
tanda pengenal.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 30
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Pemindahan tulangan harus hati-hati untuk mengindari kerusakan.


Gudang di atas tanah harus kering, daerah yang bagus saluran-
salurannya, dan terlindung dari lumpur, kotoran, karat dsb.

3.4. PELAKSANAAN PEMASANGAN TULANGAN, PEMBENGKOKAN DAN


PEMOTONGAN

1.5.1 Persiapan
a. Pembersihan
Tulangan harus bebas dari kotoran, lemak, kulit giling (mill steel) dan
karat lepas, serta bahan-bahan lain yang mengurangi daya lekat.
Bersihkan sekali lagi tonjolan pada tulangan atau pada sambungan
konstruksi untuk menjamin rekatannya.
b. Pemilihan/seleksi
Tulangan yang berkarat harus ditolak dari lapangan.

1.5.2 Pemasangan Tulangan


a. Umum
Sesuai dengan yang tercantum pada gambar dan PBI 1971
Koordinasi dengan bagian lain dan kelancaran pengadaan bahan
serta tenaga perlu diadakan untuk mengindari keterlambatan.
Adakan/berikan tambahan tulangan pada lubang-lubang (openings)
/ bukaan.
b. Pemasangan
Tulangan harus dipasang sedemikian rupa diikat dengan kawat baja,
hingga sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempatnya.
1. Tulangan pada dinding dan kolom-kolom beton harus dipasang
pada posisi yang benar dan untuk menjaga jarak bersih
digunakan spacers/penahan jarak.
2. Tulangan pada balok-balok footing dan pelat harus ditunjang
untuk memperoleh lokasi yang tepat selama pengecoran beton
dengan penjaga jarak, kursi penunjang dan penunjang lain yang
diperlukan.
3. Tulangan-tulangan yang langsung di atas tanah dan di atas
agregat (seperti pasir, kerikil) dan pada lapisan kedap air harus
dipasang/ditunjang hanya dengan tahu beton yang mutunya
paling sedikit sama dengan beton yang akan dicor.
4. Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan tebal
penutup beton. Untuk itu tulangan harus dipasang dengan
penahan jarak yang terbuat dari beton dengan mutu paling sedikit
sama dengan mutu beton yang akan dicor. Penahan-penahan
jarak dapat berbentuk blok-blok persegi atau gelang-gelang yang
harus dipasang sebanyak minimum 4 buah setiap m^2 cetakan

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 31
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

atau lantai kerja. Penahan-penahan jarak ini harus tersebar


merata.
5. Pada pelat-pelat dengan tulangan rangkap, tulangan atas harus
ditunjang pada tulangan bawah oleh batang-batang penunjang
atau ditunjang langsung pada cetakan bawah atau lantai kerja
oleh blok-blok beton yang tinggi. Perhatian khusus perlu
dicurahkan terhadap ketepatan letak dari tulangan-tulangan pelat
yang dibengkok yang harus melintasi tulangan balok yang
berbatasan.

c. Toleransi pada Pemasangan Tulangan


1. Terhadap selimut beton (selimut beton) : ± 6 mm
2. Jarak terkecil pemisah antara batang : ± 6 mm
3. Tulangan atas pada pelat dan balok :
- balok dengan tinggi sama atau lebih kecil dari 200 mm : ± 6
mm
- balok dengan tinggi lebih dari 200 mm tapi kurang dari 600
mm : ± 12 mm
- balok dengan tinggi lebih dari 600 mm : ± 12 mm
- panjang batang : ± 50 mm
4. Toleransi pada pemasangan lainnya sesuai PBI '71.

d. Pembengkokan Tulangan, Sesuai Dengan PBI '71.


1. Batang tulangan tidak boleh dibengkok atau diluruskan dengan
cara-cara yang merusak tulangan itu.
2. Batang tulangan yang diprofilkan, setelah dibengkok dan
diluruskan kembali tidak boleh dibengkok lagi dalam jarak 60 cm
dari bengkokan sebelumnya.
3. Batang tulangan yang tertanam sebagian di dalam beton tidak
boleh dibengkokkan atau diluruskan di lapangan, kecuali apabila
ditentukan di dalam gambar-gambar rencana atau disetujui oleh
perencana.
4. Membengkok dan meluruskan batang tulangan harus dilakukan
dalam keadaan dingin, kecuali apabila pemanasan diijinkan oleh
perencana.
5. Apabila pemanasan diijinkan, batang tulangan dari baja lunak
(polos atau diprofilkan) dapat dipanaskan sampai kelihatan
merah padam tetapi tidak boleh mencapai suhu lebih dari 850 oC.
6. Apabila batang tulangan dari baja lunak yang mengalami
pengerjaan dingin dalam pelaksanaan ternyata mengalami
pemanasan di atas 100 oC yang bukan pada waktu las, maka
dalam perhitungan-perhitungan sebagai kekuatan baja harus
diambil kekuatan baja tersebut yang tidak mengalami pengerjaan
dingin.
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 32
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

7. Batang tulangan dari baja keras tidak boleh dipanaskan, kecuali


diijinkan oleh perencana.
8. Batang tulangan yang dibengkok dengan pemanasan tidak boleh
didinginkan dengan jalan disiram dengan air.
9. Menyepuh batang tulangan dengan seng tidak boleh dilakukan
dalam jarak 8 kali diameter (diameter pengenal) batang dari
setiap bagian dari bengkokan.

e. Toleransi pada Pemotongan dan Pembengkokan Tulangan.


1. Batang tulangan harus dipotong dan dibengkok sesuai dengan
yang ditunjukkan dalam gambar-gambar rencana dengan
toleransi-toleransi yang disyaratkan oleh perencana. Apabila
tidak ditetapkan oleh perencana, pada pemotongan dan
pembengkokan tulangan ditetapkan toleransi-toleransi seperti
tercantum dalam ayat-ayat berikut.
2. Terhadap panjang total batang lurus yang dipotong menurun
ukuran dan terhadap panjang total dan ukuran intern dari batang
yang dibengkok ditetapkan toleransi sebesar ± 25 mm, kecuali
mengenai yang ditetapkan dalam ayat (3) dan (4).
Terhadap panjang total batang yang diserahkan menurut sesuatu
ukuran ditetapkan toleransi sebesar + 50 mm dan - 25 mm.
3. Terhadap jarak turun total dari batang yang dibengkok ditetapkan
toleransi sebesar ± 6 mm untuk jarak 60 cm atau kurang dan
sebesar ± 12 mm untuk jarak lebih dari 60 cm.
4. Terhadap ukuran luar dari sengkang, lilitan dan ikatan-ikatan
ditetapkan toleransi sebesar ± 6 mm.

f. Panjang penjangkaran dan panjang penyaluran.


1. Baja tulangan mutu U-24 (BJTP-24)
Panjang penjangkaran = 30 diameter dengan kait
Panjang penyaluran = 30 diameter dengan kait
Baja tulangan mutu U-40 (BJTD-40)
Panjang penjangkaran = 40 diameter tanpa kait
Panjang penyaluran = 40 diameter tanpa kait
2. Penyambungan tidak boleh diadakan pada titik dimana terjadi
tegangan terbesar. Sambungan untuk tulangan atas pada balok
dan pelat beton harus diadakan di tengah bentang, dan tulangan
bawah pada tumpuan. Sambungan harus ditunjang dimana
memungkinkan.
3. Ketidak-lurusan rangkaian tulangan kolom tidak boleh melampaui
perbandingan 1 terhadap 10.
4. Standard Pembengkokan

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 33
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Semua standar pembengkokan harus sesuai dengan SKSNI-91


( Tata Cara Penghitungan Struktur Beton untuk Bangunan
Gedung), kecuali ditentukan lain.

1.5.3 Pemasangan Wire Mesh


Pemasangan pada kepanjangan terpanjang yang memungkinkan
dilakukan.
Jangan melakukan penghentian / pengakhiran lembar wire mesh antara
tumpuan balok atau tepat diatas balok dari struktur menerus.
Keseimbangan pengakhiran dari lewatan dalam arah lebar yang
berdampingan untuk mencegah lewatan yan menerus.
Wire mesh harus ditahan pada posisi yang benar selama pengecoran.

1.5.4 Las
Bila diperlukan atau disetujui, pengelasan tulangan beton harus sesuai
dengan Reinforcement Steel Welding Code (AWS D 12.1). Pengelasan
tidak boleh dilakukan pada pembengkokan di suatu batang, pengelasan
pada persilangan (las titik) harus diijinkan kecuali seperti di anjurkan
atau disahkan oleh Direksi Lapangan. ASTM specification harus
dilengkapi dengan keperluan jaminan kehandalan kemampuan las
dengan cara ini.

1.5.5 Sambungan Mekanik


Bila jumlah luas tulangan kolom melampaui 3% dari luas penampang
kolom dengan menggunakan diameter 32 mm, sambungan mekanik
untuk tulangan (pada kolom) harus disediakan dan dipakai.

3.5. PEKERJAAN CETAKAN DAN PERANCAH

3.6.1 UMUM
A. Persyaratan Umum
Kecuali ditentukan lain pada gambar atau seperti terperinci disini,
Cetakan dan Perancah untuk pekerjaan beton harus memenuhi
persyaratan dalam PBI-1971 NI-2, ACI 347, ACI 301, ACI 318.

Kontraktor harus terlebih dahulu mengajukan perhitungan-


perhitungan serta gambar-gambar rancangan cetakan dan perancah
untuk mendapatkan persetujuan Direksi Lapangan sebelum
pekerjaan tersebut dilaksanakan. Dalam gambar-gambar tersebut
harus secara jelas terlihat konstruksi cetakan/acuan, sambungan-
sambungan serta kedudukan serta sistem rangkanya, pemindahan
dari cetakan serta perlengkapan untuk struktur yang aman.

B. Lingkup Pekerjaan
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 34
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

1. Pekerjaan-pekerjaan yang termasuk


Bab ini termasuk perancangan, pelaksanaan dan pembongkaran
dari semua cetakan beton serta penunjang untuk semua beton
cor seperti diperlukan dan diperinci berikut ini.
2. Pekerjaan yang berhubungan
 Pekerjaan Pembesian
 Pekerjaan Beton

C. Referensi-Referensi
Pekerjaan yang terdapat pada bab ini, kecuali ditentukan lain pada
gambar atau diperinci berikut, harus mengikuti peraturan-peraturan,
standard-standard atau spesifikasi terakhir sebagai berikut :
1. PBI-1971 NI-2 Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971
2. SII Standard Industri Indonesia
3. ACI-301 Specification for Structural Concrete Building
4. ACI-318 Building Code Requirement for Reinforced
Concrete
5. ACI-347 Recommended Practice for Concrete Formwork

D. Penyerahan
Penyerahan-penyerahan berikut harus dilakukan oleh "Kontraktor"
sesuai dengan jadwal yang telah disetujui untuk penyerahannya
dengan segera, untuk menghindari keterlambatan dalam
pekerjaannya sendiri maupun dari kontraktor lain.

1. Kwalifikasi Mandor Cetakan Beton (Formwork Foreman)


"Kontraktor" harus mempekerjakan mandor untuk cetakan beton
yang berpengalaman dalam hal cetakan beton. Kwalifikasi dari
mandor harus diserahkan kepada Direksi Lapangan untuk
diperiksa dan disetujui, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari
sebelum memulai pekerjaan.
2. Data Pabrik
Data pabrik tentang bahan-bahan harus diserahkan oleh
"Kontraktor" kepada Direksi Lapangan dalam waktu 7 hari kerja
setelah "Kontraktor" menerima surat perintah kerja, juga harus
diserahkan instruksi pemasangan untuk kepentingan bahan-
bahan dari lapisan-lapisan, pengikat-pengikat, dan asesoris serta
sistem cetakan dari pabrik bila dipakai.

3. Gambar kerja
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 35
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Perhatikan sistem cetakan beton seperti pengaturan perkuatan


dan penunjang, metode dari kelurusan cetakan, mutu dari semua
bahan-bahan cetakan, sirkulasi cetakan.
Gambar kerja harus diserahkan kepada Direksi Lapangan
sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan,
untuk diperiksa.
4. Contoh
Lengkapi cetakan dengan "cone" untuk mengencangkan
cetakan.

3.6.2 Bahan-bahan/Produk
Bahan-bahan dan perlengkapan harus disediakan sesuai keperluan
untuk cetakan dan penunjang pekerjaan, juga untuk menghasilkan jenis
penyelesaian permukaan beton seperti terlihat dan terperinci.

A. Perancangan Perancah
1. Definisi Perancah
Perancah adalah konstruksi yang mendukung acuan dan
beton yang belum mengeras. Kontraktor harus mengajukan
rancangan perhitungan dan gambar perancah tersebut untuk
disetujui oleh Direksi Lapangan. Segala biaya yang perlu
sehubungan dengan perancangan perancah dan
pengerjaannya harus sudah tercakup dalam perhitungan
biaya untuk harga satuan perancah.

2. Perancangan/Desain
 Perancangan/desain dari acuan dan perancah harus
dilakukan oleh tenaga ahli resmi yang bertanggungjawab
penuh kepada kontraktor.
 Beban-beban untuk perancangan perancah harus
didasarkan pada ketentuan ACI-347.
 Perancah dan acuan harus dirancang terhadap beban dari
beton waktu masih basah, beban-beban akibat
pelaksanaan dan getaran dari alat penggetar. Penunjang-
penunjang yang sepadan untuk penggetar dari luar, bila
digunakan harus ditanamkan kedalam acuan dan
diperhitungkan baik-baik dan menjamin bahwa distribusi
getaran-getaran tertampung pada cetakan tanpa
konsentrasi berlebihan.

3. Acuan

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 36
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

 Acuan harus menghasilkan suatu struktur akhir yang


mempunyai bentuk, garis dan dimensi komponen yang
sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar rencana
serta uraian dan syarat teknis pelaksanaan.
 Acuan harus cukup kokoh dan rapat sehingga mampu
mencegah kebocoran adukan.
 Acuan harus diberi pengaku dan ikatan secukupnya
sehingga dapat menyatu dan mampu mempertahankan
kedudukan dan bentuknya.
 Acuan dan perancahnya harus direncanakan sedemikian
sehingga tidak merusak struktur yang sudah selesai
dikerjakan.
 Dilarang memakai galian tanah sebagai cetakan langsung
untuk permukaan tegak dari beton.

B. Cetakan untuk Permukaan Beton Ekspose.


1. Cetakan Plastic-Faced Plywood (Penyelesaian Halus dan
Penyelesaian dengan Cat/Smooth Finish and Painted Finish)
Gunakan potongan/lembaran utuh. Pola sambungan dan pola
pengikat harus seragam dan simetris. Setiap sambungan
antara bidang panel ataupun sudut maupun pertemuan-
pertemuan bidang, harus disetujui dahulu oleh Direksi
Lapangan untuk pola sambungannya.

2. Cetakan sambungan panel untuk sambungan beton ekspose


antara panel-panel cetakan harus dikencangkan untuk
mencegah kebocoran dari grout (penyuntikan air semen)
atau butir-butir halus dan harus diperkuat dengan rangka
penunjang untuk mempertahankan permukaan-permukaan
yang berhubungan dengan panel-panel yang bersebelahan
pada bidang yang sama.
Gunakan bahan penyambung cetakan antara beton ekspose
yang diperkeras dengan panel-panel cetakan untuk
mencegah kebocoran dari grout atau butir-butir halus dari
adukan beton baru ke permukaan campuran beton
sebelumnya. Tambahan pada cetakan tidak diijinkan.
C. Penyelesaian Beton dengan Cetakan Papan
1. Cetakan dengan jenis ini (papan) harus terdiri dari papan-
papan yang kering dioven dengan lebar nominal 8 cm dan
tebal min. 2.5 cm. Semua papan harus bebas dari mata kayu
yang besar, takikan, goncangan kuat, lubang-lubang dan
perlemahan-perlemahan lain yang serupa.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 37
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

2. Denah dasar dari papan haruslah tegak seperti tercantum


pada gambar. Cetakan dari papan haruslah penuh setinggi
kolom-kolom, dinding dan permukaan-permukaan pada
bidang yang sama tanpa sambungan mendatar dengan
sambungan ujung yang terjadi hanya pada sudut-sudut dan
perubahan bidang.

3. Lengkapi dengan penunjang plywood melewati cetakan


papan untuk stabilitas dan untuk mencegah lepas/terurainya
adukan. Cetakan papan harus dikencangkan pada
penunjang plywood dengan kondisi akhir dari paku yang
ditanam tidak terlihat.
Pola dari paku harus seragam dan tetap seperti disetujui oleh
Direksi Lapangan.

D. Cetakan untuk Beton yang Terlindung (Unexposed Concrete)


1. Cetakan untuk beton terlindung haruslah dari logam (metal),
plywood atau bahan lain yang disetujui, bebas dari lubang-
lubang atau mata kayu yang besar. Kayu harus dilapis
setidak-tidaknya pada satu sisi dan kedua ujungnya.
2. Lengkapi dengan permukaan kasar yang memadai untuk
memperoleh rekatan dimana beton diindikasikan menerima
seluruh ketebalan plesteran.

E. Perancah, Penunjang dan Penyokong (Studs, Wales and Supports)


Kontraktor harus bertanggung jawab, bahwa perancah, penunjang
dan penyokong adalah stabil dan mampu menahan semua beban
hidup dan beban pelaksanaan.

F. Jalur Kayu
Jalur kayu diperlukan untuk membentuk sambungan jalur dan
chamfer.

G. Melapis Cetakan
1. Melapis cetakan untuk memperoleh penyelesaian beton
yang halus, harus tanpa urat kayu dan noda, yang tidak akan
meninggalkan sisa-sisa/bekas pada permukaan beton atau
efek yang merugikan bagi rekatan dari cat, plester, mortar
atau bahan penyelesaian lainnya yang akan dipakai untuk
permukaan beton.
2. Bila dipakai cetakan dari besi, lengkapi cetakan dengan form-
oil (bahan untuk melepaskan beton) dari pabrik khusus untuk
cetakan dari besi. Pakai lapisan sesuai dengan spesifikasi
perusahaan sebelum tulangan dipasang atau sebelum
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 38
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

cetakan dipasang.

H. Pengikat Cetakan
1. Pengikat cetakan haruslah batang-batang yang dibuat di
pabrik atau jenis jalur pelat, atau model yang dapat dilepas
dengan ulir, dengan kapasitas tarik yang cukup dan
ditempatkan sedemikian sehingga menahan semua beban
hidup dari pengecoran beton basah dan mempunyai
penahan bagian luar dari luasan perletakan yang memadai.
2. Untuk beton-beton yang umum, penempatannya menurut
pendapat Direksi Lapangan.
3. Pengikat untuk dipakai pada beton dengan permukaan yang
diekspose, harus dari jenis dengan kerucut (cone snap off
type). Kemiringan kerucut haruslah 2.5 cm maximum
diameter pada permukaan beton dengan 3.8 cm
tebal/tingginya ke pengencang sambungan. Pengikat
haruslah lurus ke dua arah baik mendatar maupun tegak di
dalam cetakan seperti terlihat pada gambar atau seperti
disetujui oleh Direksi Lapangan.

I. Penyisipan Besi
Penanaman/penyisipan besi untuk angker dari bahan lain atau
peralatan pada pelaksanaan beton haruslah dilengkapi seperti
diperlukan pada pekerjaan.

1. Penanaman/Penyisipan Benda-benda Terulir.


Penanaman jenis ini haruslah seperti telah disetujui oleh
Direksi Lapangan.
2. Pemasangan langit-langit (ceiling).
Pemasangan langit-langit untuk angkur penggantung
penahan penggantung langit-langit, konstruksi penggantung
haruslah digalvani, atau type yang diijinkan oleh Direksi
Lapangan.
3. Pengunci Model Ekor Burung.
Pengunci model ekor burung haruslah dari besi dengan
galvani yang lebih baik/tebal, dibentuk untuk menerima
angkur ekor burung dari besi seperti dispesifikasikan.
Pengunci harus diisi dengan bahan pengisi yang mudah
dipindahkan untuk mengeluarkan gangguan dari
mortar/adukan.

J. Pengiriman dan Penyimpanan Bahan.


Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 39
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Bahan cetakan harus dikirim ke lapangan sedemikian jauhnya agar


praktis penggunaannya, dan harus secara hati-hati ditumpuk dengan
rapi di tanah dalam cara memberi kesempatan untuk pengeringan
udara (alamiah).

K. Pemasangan Benda-benda yang Akan Ditanam di dalam Beton


Pemasangan pipa saluran listrik dan lain-lain yang akan tertanam di
dalam beton :
1. Penempatan saluran/pemimpaan harus sedemikian rupa
sehingga tidak mengurangi kekuatan struktur dengan
memperhatikan persyaratan di dalam PBI 1971 NI-2 Bab 5.7.
2. Tidak diperkenankan untuk menanam pipa dan lain-lain di
dalam bagian-bagian struktur beton bila tidak ditunjuk secara
detail di dalam gambar. Di dalam beton perlu dipasang
sleeve/selongsong pada tempat-tempat yang dilewati pipa.
3. Bila tidak ditentukan secara detail atau ditunjukkan didalam
gambar, tidak dibenarkan untuk menanam saluran listrik di
dalam struktur beton.
4. Apabila dalam pemasangan pipa-pipa, saluran listrik, bagian-
bagian yang tertanam dalam beton dan lain-lain terhalang
oleh adanya baja tulangan yang terpasang, maka kontraktor
segera mengkonsultasikan hal ini dengan Direksi Lapangan.
5. Tidak dibenarkan untuk membengkokkan/memindahkan
baja tulangan tersebut dari posisinya untuk memudahkan
dalam melewatkan pipa-pipa saluran tersebut tanpa ijin
tertulis dari Direksi Lapangan.
6. Semua bagian-bagian/peralatan tersebut yang ditanam
dalam beton seperti angkur-angkur, kait dan pekerjaan lain
yang ada hubungannya dengan pekerjaan beton, harus
sudah dipasang sebelum pengecoran beton dilaksanakan.
7. Bagian-bagian/peralatan tersebut harus dipasang dengan
tepat pada posisinya dan diusahakan agar tidak bergeser
selama pengecoran dilakukan.
8. Kontraktor Utama harus memberitahukan serta memberikan
kesempatan kepada pihak lain untuk memasang bagian-
bagian/peralatan tersebut sebelum pelaksanaan pengecoran
beton.
9. Rongga-rongga kosong atau bagian-bagian yang harus tetap
kosong pada benda/peralatan yang akan ditanam dalam
beton yang mana rongga tersebut diharuskan tidak terisi
beton harus ditutupi dengan bahan lain yang mudah dilepas
nantinya setelah pelaksanaan pengecoran beton.

3.6.3 PELAKSANAAN
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 40
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

A. Umum
Perancah harus merupakan suatu konstruksi yang kuat, kokoh dan
terhindar dari bahaya kemiringan dan penurunan, sedangkan
konstruksinya sendiri harus juga kokoh terhadap pembebanan yang
akan ditanggungnya, termasuk gaya-gaya prategang dan gaya-gaya
sentuhan yang mungkin ada.
Kontraktor harus memperhitungkan dan membuat langkah-langkah
persiapan yang perlu sehubungan dengan lendutan perancah akibat
gaya yang bekerja padanya sedemikian rupa hingga pada akhir
pekerjaan beton, permukaan dan bentuk konstruksi beton sesuai
dengan kedudukan (peil) dan bentuk yang seharusnya.
Perancah harus dibuat dari baja atau kayu yang bermutu baik dan
tidak mudah lapuk. Pemakaian bambu untuk hal ini tidak
diperbolehkan. Bila perancah itu sebelum atau selama pekerjaan
pengecoran beton berlangsung menunjukan tanda-tanda penurunan
> 10 mm sehingga menurut pendapat Direksi Lapangan hal ini akan
menyebabkan kedudukan (peil) akhir sesuai dengan gambar
rancangan tidak akan dapat dicapai atau dapat membahayakan dari
segi konstruksi, maka Direksi Lapangan dapat memerintahkan untuk
membongkar pekerjaan beton yang sudah dilaksanakan dan
mengharuskan kontraktor untuk memperkuat perancah tersebut
sehingga dianggap cukup kuat. Biaya sehubungan dengan itu
sepenuhnya menjadi tanggungan kontraktor.

Gambar rancangan perancah dan sistem pondasinya atau sistem


lainnya secara detail (termasuk perhitungannya) harus diserahkan
kepada Direksi Lapangan untuk disetujui dan pekerjaan pengecoran
beton tidak boleh dilakukan sebelum gambar tersebut disetujui.

Perancah harus diperiksa secara rutin sementara pengecoran beton


berlangsung untuk melihat bahwa tidak ada perubahan elevasi,
kemiringan ataupun ruang/rongga. Bila selama pelaksanaan didapati
perlemahan yang berkembang dan pekerjaan perancah
memperlihatkan penurunan atau perubahan bentuk, pekerjaan harus
dihentikan, diberlakukan pembongkaran bila kerusakan permanen,
dan perancah diperkuat seperlunya untuk mengurangi penurunan
atau perubahan bentuk yang lebih jauh.
Pada saat pengecoran, pelaksana dan surveyor harus memantau
terus menerus agar bisa dicegah penyimpangan-penyimpangan
yang mungkin ada.
Rancangan perancah dan cetakan sedemikian untuk kemudahan
pembongkaran untuk mengeliminasi kerusakan pada beton apabila
cetakan & perancah dibongkar.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 41
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Aturlah cetakan untuk dapat membongkar tanpa memindahkan


penunjang utama dimana diperlukan untuk disisakan pada waktu
pengecoran.

B. Pemasangan
Perancah dan cetakan harus sesuai dengan dimensi, kelurusan dan
kemiringan dari beton seperti yang ditunjukkan pada gambar;
dilengkapi untuk bukaan (openings), celah-celah, pengunduran
(recesses), chamfers dan proyeksi-proyeksi seperti diperlukan.

Cetakan-cetakan harus dibuat dari bahan dengan kelembaban


rendah, kedap air dan dikencangkan secukupnya dan diperkuat
untuk mempertahankan posisi dan kemiringan serta mencegah tekuk
dan lendutan antara penunjang-penunjang cetakan.

Pekerjaan denah harus tepat sesuai dengan gambar dan kontraktor


bertanggung jawab untuk lokasi yang benar. Garis bantu yang
diperlukan untuk menentukan lokasi yang tepat dari cetakan,
haruslah jelas, sehingga memudahkan untuk pemeriksaan.
Semua sambungan/pertemuan beton ekspose harus selaras dan
segaris baik pada arah mendatar maupun tegak, termasuk
sambungan-sambungan konstruksi kecuali seperti diperlihatkan lain
pada gambar.

Toleransi untuk beton secara umum harus sesuai PBI-71 atau ACI
347-78.3.3.1, Tolerances for Reinforced Concrete Building.
Cetakan harus menghasilkan jaringan permukaan yang seragam
pada permukaan beton yang diekspose.
Pembuatan cetakan haruslah sedemikian rupa sehingga pada waktu
pembongkaran tidak mengalami kerusakan pada permukaan.

Kolom-kolom sudah boleh dipasang cetakannya dan dicor (hanya


sampai tepi bawah dari balok diatasnya) segera setelah penunjang
dari pelat lantai mencapai kekuatannya sendiri. Bagaimanapun,
jangan ada pelat atau balok yang dicetak atau dicor sebelum balok
lantai dibawahnya bekerja penuh.

Pada waktu pemasangan rangka konstruksi beton bertulang,


Kontraktor harus benar-benar yakin bahwa tidak ada bagian dari
batang tegak yang mempunyai "plumbness"/kemiringan lebih atau
kurang dari 10 mm, yang dibuktikan dengan data dari surveyor yang
diserahkan sebelum pengecoran.

C. Pengikat Cetakan
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 42
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Pengikat cetakan harus dipasang pada jarak tertentu untuk


ketepatannya memegang/menahan cetakan selama pengecoran
beton dan untuk menahan berat serta tekanan dari beton basah.

D. Jalur Kayu, Blocking dan Pencetakan Bentuk-bentuk Khusus


(Moulding)
Pasanglah di dalam cetakan jalur kayu, blocking, moulding, paku-
paku dan sebagainya seperti diperlukan untuk menghasilkan
penyelesaian yang berbentuk khusus/berprofil dan permukaan
seperti diperlihatkan pada gambar dan bentuk melengkapi
pemasangan paku untuk batang-batang kayu dari ciri-ciri lain yang
dibutuhkan untuk ditempelkan pada permukaan beton dengan suatu
cara tertentu. Lapislah jalur kayu, blocking dan pencetakan bentuk
khusus dengan bahan untuk melepaskan.

E. Chamfers
Garis/lajur chamfers haruslah hanya dimana ditunjukkan pada
gambar-gambar arsitek saja.

F. Bahan untuk Melepas Beton (Release Agent)


Lapisilah cetakan dengan bahan untuk pelepas beton sebelum besi
tulangan dipasang. Buanglah kelebihan dari bahan pelepas
sehingga cukup membuat permukaan dari cetakan sekedar
berminyak bila beton maupun pada pertemuan beton yang
diperkeras dimana beton basah akan dicor/dituangkan.

Jangan memakai bahan pelepas dimana permukaan beton


dijadwalkan untuk menerima penyelesaian khusus dan/atau pakailah
penutup dimana dimungkinkan.

G. Pekerjaan Sambungan
Untuk mencegah kebocoran oleh celah-celah dan lubang-lubang
pada cetakan beton ekspose, perlu dilengkapi dengan gasket, plug,
ataupun caulk joints. Cetakan sambungan-sambungan hanya
diijinkan dimana terlihat pada gambar kerja. Dimana memungkinkan,
tempatkan sambungan ditempat yang tersembunyi. Laksanakan
perawatan sambungan dalam 24 jam setelah jadwal pengecoran.

H. Pembersihan
Untuk beton pada umumnya (termasuk cetakan untuk permukaan
terlindung dari beton yang dicat). Lengkapi dengan lubang-lubang
untuk pembersihan secukupnya pada bagian bawah dari cetakan-
cetakan dinding dan pada titik-titik lain dimana diperlukan untuk
fasilitas pembersihan dan pemeriksaan dari bagian dalam dari
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 43
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

cetakan utama untuk pengecoran beton. Lokasi/tempat dari bukaan


pembersihan berdasar kepada persetujuan Direksi Lapangan.

Untuk beton ekspose sama dengan beton pada umumnya, kecuali


bahwa pembersihan pada lubang-lubang tidak diijinkan pada
cetakan beton ekspose untuk permukaan ekspose tanpa persetujuan
Direksi Lapangan.
Dimana cetakan-cetakan mengelilingi suatu potongan beton
ekspose dengan permukaan ekspose pada dua sisinya, harus
disiapkan cetakan yang bagian-bagiannya dapat dilepas
sepenuhnya seperti disetujui oleh Direksi Lapangan.
Memasang jendela, bila pemasangan jendela pada cetakan untuk
beton ekspose, lokasi harus disetujui oleh Direksi Lapangan.

Perancah; batang-batang perkuatan penyangga cetakan harus


memadai sesuai dengan metoda perancah. Pemeriksaan perancah
secara sering harus dilakukan selama operasi pengecoran sampai
dengan pembongkaran. Naikkan bila penurunan terjadi,
perkuat/kencangkan bila pergerakan terlihat nyata. Pasanglah
penunjang-penunjang berturut-turut, segera, untuk hal-hal tersebut
diatas. Hentikan perkerjaan bila suatu perlemahan berkembang dan
cetakan memperlihatkan pergerakan terus menerus melampaui yang
dimungkinkan dari peraturan.

Pembersihan dan pelapisan dari cetakan; sebelum penempatan dari


tulangan-tulangan, bersihkan semua cetakan pada muka bidang
kontak dan lapisi secara seragam/merata dengan release agent
untuk cetakan yang spesifik sesuai dengan instruksi pabrik yang
tercantum. Buanglah kelebihan dan tidak diijinkan pelapisan pada
tempat dimana beton ekspose akan dicor.
Pemeriksaan cetakan; Beritahukan kepada Direksi Lapangan
setidaknya 24 jam sebelumnya dalam pengajuan jadwal pengecoran
beton.

I. Penyisipan dan Perlengkapan


Buatlah persediaan/perlengkapan untuk keperluan pemasangan
atau perlengkapan-perlengkapan, baut-baut, penggantung,
pengunci angkur dan sisipan di dalam beton.
Buatlah pola atau instruksi untum pemasangan dari macam-macam
benda.
Tempatkan expansion joint fillers seperti dimana didetailkan.

J. Dinding-dinding
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 44
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Buatlah dinding-dinding beton mencapai ketinggian, ketebalan dan


profil seperti diperlihatkan pada gambar-gambar. Lengkapi
bukaan/lubang-lubang sementara pada bagian bawah dari semua
cetakan-cetakan untuk kemudahan pembersihan dan pemeriksaan.
Tutuplah bukaan/lubang-lubang tersebut setepatnya, segera
sebelum pengecoran beton ke dalam cetakan-cetakan dari dinding.
Lengkapi dengan keperluan pengunci di dalam dinding untuk
menerima tepian dari lantai-lantai beton.

K. Waterstops
Untuk setiap sambungan pengecoran yang mempunyai selisih waktu
pengecoran lebih dari 4 (empat) jam dan sambungan tersebut
berhubungan langsung dengan tanah atau air di bawah lapisan
tanah dan dimana diperlihatkan pada gambar-gambar, harus
dilengkapi dengan waterstop.
Letak/posisi waterstop harus akurat dan ditunjang terhadap
penurunan. Penampang sambungan kedap air sesuai dengan
rekomendasi dari perusahaan. Untuk tipe waterstop dapat digunakan
” Expandable Water Stop “ berbahan dasar “ Bentonite Clay “ ex.
Fosroc atau yang setara.

L. Cetakan untuk Kolom


Cetakan-cetakan untuk kolom haruslah dengan ukuran dan bentuk
seperti terlihat pada gambar-gambar. Siapkan bukaan-bukaan
sementara pada bagian bawah dari semua cetakan-cetakan kolom
untuk kemudahan pembersihan dan pemeriksaan, dan tutup kembali
dengan cermat sebelum pengecoran beton.

M. Cetakan untuk Pelat dan Balok-balok


Buatlah semua lubang-lubang pada cetakan lantai beton seperti
diperlukan untuk lintasan tegak dari duct, pipa-pipa, conduit dan
sebagainya.

Puncak dari chamber (penunjang) harus sesuai dengan gambar.


Lengkapi dengan dongkrak-dongkrak yang sesuai, baji-baji atau
perlengkapan lainnya untuk mendongkrak dan untuk mengambil alih
penurunan pada cetakan, baik sebelum ataupun pada waktu
pengecoran dari beton.

N. Pembongkaran Cetakan dan Pengencangan Kembali Perancah


Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 45
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

(Reshoring)
Pembongkaran cetakan harus sesuai dengan PBI-71 NI-2.

Secara hati-hati lepaslah seluruh bagian dari cetakan yang sudah


dapat dibongkar tanpa menambah tegangan atau tekanan terhadap
sudut-sudut, offsets ataupun bukaan-bukaan (reveals). Hati-hati
lepaskan dari pengikat. Pengikatan terhadap segi arsitek atau
permukaan beton ekspose dengan menggunakan peralatan ataupun
description ataupun tidak diijinkan. Lindungi semua ujung-ujung dari
beton yang tajam dan secara umum pertahankan keutuhan dari
desain.

Bersihkan cetakan-cetakan beton ekspose secepatnya setelah


pembongkaran untuk mencegah kerusakan pada bidang kontak.

Pemasangan kembali perancah segera setelah pembongkaran


cetakan, topang/tunjang kembali sepenuhnya semua pelat dan balok
sampai dengan sedikitnya tiga lantai dibawahnya. Pemasangan
perancah kambali harus tetap tinggal ditempatnya sampai beton
mencapai kriteria umur kekuatan tekan 28 hari. Periksa dengan teliti
kekuatan beton dengan test silinder dengan biaya kontraktor.

Penunjang-penunjang sementara, sebelum pengecoran beton;


tulangan menerus balok-balok dengan bentang panjang (12 m)
haruslah ditunjang dengan penopang-penopang sementara
sedemikian untuk me"minimum"kan lendutan akibat beban dari
beton basah.

Penunjang-penunjang sementara harus diatur sedemikian selama


pengecoran beton dan selama perlu untuk mencegah penurunan
dari penunjang karena tingkatan kerja. Perancah harus tidak boleh
dipindahkan sampai beton mencapai kekuatan yang mencukupi ( >
80 % f’c).

O. Pemakaian Ulang Cetakan

Cetakan-cetakan boleh dipakai ulang hanya bila betul-betul


dipertahankan dengan baik dan dalam kondisi yang memuaskan
bagi Direksi Lapangan. Cetakan-cetakan yang tidak dapat benar-
benar dikencangkan dan dibuat kedap air, tidak boleh dipakai ulang.
Bila pemakaian ulang dari cetakan disetujui oleh Direksi Lapangan,
bagian pembersihan cetakan, dan memperbaiki kerusakan
permukaan dengan memindahkan lembaran-lembaran yang rusak.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 46
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Plywood sebelum pemakaian ulang dari cetakan plywood, bersihkan


secara menyeluruh, dan lapis ulang dengan lapisan untuk cetakan.
Janganlah memakai ulang plywood yang mempunyai tambalan,
ujung yang usang, cacat/kerusakan akibat lapisan damar pada
permukaan atau kerusakan lain yang akan mempengaruhi tekstur
dari penyelesaian permukaan.

Cetakan-cetakan lain dari kayu, persiapkan untuk pemakaian ulang


dengan membersihkan secara menyeluruh dan melapis ulang
dengan lapisan untuk cetakan. Perbaiki kerusakan pada cetakan dan
bongkar/buanglah papan-papan yang lepas atau rusak.
Agar supaya cetakan yang dipakai ulang tidak akan ada
tambalannya yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan, cetakan
untuk beton ekspose pada bagian yang terlihat hanya boleh dipakai
ulang hanya pada potogan-potongan yang identik.
Cetakan tidak boleh dipakai ulang bila nantinya mempengaruhi mutu
dan hasil pada bagian permukaan yang tampak dari beton ekspose
akibat cetakan akan ada bekas jalur akibat dari plywood yang robek
atau lepas seratnya.

Sehubungan dengan beban pelaksanaan, maka beban pelaksanaan


harus didukung oleh struktur-struktur penunjangnya dan untuk itu
kontraktor harus melampirkan perhitungan yang berkaitan dengan
rancangan pembongkaran perancah.

P. Cetakan untuk Beton Prestress


Cetakan haruslah dari konstruksi sedemikian sehingga tidak akan
membatasi regangan-regangan di dalam beton sementara tarikan
mulai dilakukan, dan kekuatannnya harus ditentukan sehubungan
dengan pertimbangan dari perubahan-perubahan dalam distribusi
tegangan bila penarikan dimulai.

Q. Pembongkaran dari Cetakan untuk Pekerjaan Prestress


Cetakan harus dibongkar secara hati-hati tanpa menimbulkan
getaran, dan hanya boleh dilakukan dibawah pengawasan Direksi
Lapangan. Beton harus diperiksa sebelum pembongkaran dari
cetakan. Cetakan dapat dibongkar hanya bila beton telah mencapai
kekuatan yang mencukupi untuk memikul berat sendiri dan beban-
beban pelaksanaan lainnya. Bila diperkirakan ada beban lain yang
merupakan tambahan beban terhadap beban yang direncanakan,
perancah-perancah harus disediakan dalam jumlah yang diperlukan,
segera setelah pembongkaran cetakan.

Untuk perancah yang menyangga balok prategang, perancah balok


Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 47
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

prategang boleh dibongkar setelah balok prategang 2 (dua) lantai di


atasnya selesai ditarik.

R. Hal Lain-lain
Buatlah cetakan untuk semua bagian pekerjaan beton yang
diperlukan dalam hubungan dengan kelengkapan pekerjaan proyek,
meskipun setiap bagian diperlihatkan secara terperinci atau dialihkan
ke "Referred to" ataupun tidak.

Dilarang menanamkan pipa di dalam kolom atau balok kecuali pipa-


pipa tersebut diperlihatkan pada gambar-gambar struktur atau pada
gambar kerja.

PASAL 4. PEKERJAAN BATU BATA

Persyaratan Teknis
Sebelum dipergunakan batu bata terlebih dahulu disiram sampai jenuh air dan
pelaksanaan pemasangan tembok ditetentukan sebagai berikut
1. Dinding pasangan batu bata merah ½ batu dengan menggunakan spesi 1
pc : 4 ps sedangkan untuk dinding trasram memakai spesi 1pc : 2ps yang
dipasang minimal 30 cm diatas lantai. Batu bata yang dipakai adalah mutu
baik, keras dan masak. Ukuran batu bata harus mendapatkan persetujuan
dari Direksi lapangan.
2. Pasangan batu bata harus tegak lurus dan siku, bentuknya disesuaikan
dengan gambar, dan pemasangannya tidak boleh lebih dari tinggi 1 meter
untuk tiap pemasangannya.
3. Jika ada bagian pekerjaan yang harus dihentikan sementara waktu dan
selanjutnya disambung lagi, maka sambungan dibuat miring tidak boleh
tegak lurus.
4. Setelah selesai pemasangan harus dibiarkan selama 24 jam kemudian
pasangan tersebut harus dirawat dengan menyiramkan air terus menerus
selama 7 (tujuh) hari, untuk kemudian dapat dilanjutkan dengan pekerjaan
plesteran dinding.

PASAL 5. PEKERJAAN PLESTERAN

Persyaratan Teknis
1. Pelaksanaan pekerjaan plesteran harus dilaksanakan oleh tukang yang
benar-benar ahli dan memakai alat-alat kerja yang baik.
2. Pekerjaan plesteran dilaksanakan setelah semua pipa-pipa instaliasi baik
air maupun listrik tertanam sempurna.
3. Sebelum pekerjaan plesteran dilaksanakan terlebih dahulu bidang yang
akan diplester harus disiram terlebih dahulu hingga jenuh air.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 48
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

4. Plesteran kedap air (trasram) memakai adukan 1pc : 2.ps. yang digunakan
pada :
a. Plesteran dinding kedap air.
b. Plesteran beton (aci), talang air atau sudut-sudut pertemuan dinding.
c. Plesteran lain yang ditunjukkan pada gambar kerja.
5. Plesteran biasa dengan adukan 1 pc : 4 ps adalah plesteran untuk dinding
batu bata.
6. Pekerjaan plesteran dilaksanakan setelah selesai pekerjaan pemasangan
atap (dinding bawah atap)
7. Tebal masing-masing plesteran adalah setebal 1 s/d 1,5 cm sehingga tebal
dinding ½ batu tidak lebih dari 15 cm.
8. Plesteran yang langsung berhadapan dengan sinar mata hari diusahakan
dihindarkan, dan apabila ada setelah pekerjaan plesteran selesai harus
dirawat disiram dengan air/ditutup dengan goni basah.

PASAL 6PEKERJAAN PENGECATAN

5.1. UMUM :
1) Lingkup Pekerjaan :
a) Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini penyediaan tenaga, bahan
material, peralatan, dan alat bantu lainnya sehingga dicapai hasil
pekerjaan yang baik dan sempurna.
b) Meliputi pengecatan seluruh bagian bangunan yang dinyatakan
dalam gambar menggunakan finishing cat.
c) Pelapisan dengan waterproofing pada area kamar mandi / wc pada
lantai-lantai kamar mandi / wc atau toilet dan tempat cuci di lantai-
lantai selain lantai 1.
1) Pada prinsipnya pekerjaan pengecatan harus dilaksanakan dengan hati-
hati. Apabila dalam pelaksanaannya terjadi kecerobohan sehingga
pengecatan mengotori pekerjaan yang sebenarnya tidak harus terkena
cat, maka menjadi kewajiban Kontraktor untuk membersihkannya, atau
bahkan menggantinya apabila ternyata tidak dapat dibersihkan.

5.2. MATERIAL :
1) Cat emulsi setara Catylac, Mowilex, atau Vinilex, untuk pengecatan bagian
dinding dan plafond ruang di dalam bangunan.
2) Cat emulsi acrylic setara Jotashield/Jotun, Weathershield/Dulux ICI, atau
Mowilex, untuk pengecatan bagian dinding dan plafond di luar bangunan
atau yang bersinggungan langsung dengan cuaca/udara luar.
3) Cat synthetic enamel setara Catylac, Emco, atau Mowilex, untuk
pengecatan kayu dan atau besi yang dinyatakan dalam gambar
menggunakan cat kayu/besi.
4) Cat Zinc Chromate, untuk cat dasar bagian baja.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 49
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

5.3. ALAT KERJA :


1) Kontraktor pelaksana harus menyediakan seluruh peralatan dan juga
perlengkapan kerja untuk keperluan pekerja pelaksananya.
2) Selain peralatan kontraktor pelaksana juga harus menyediakan semua
sarana yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini.

5.4. PERSIAPAN :
1) CONTOH BAHAN :
a) Kontraktor Pelaksana harus menyiapkan contoh pengecatan tiap
warna dan jenis pada bidang-bidang transparan ukuran 30 x 30 cm2.
Dan pada bidang-bidang tersebut harus dicantumkan dengan jelas
warna, formula cat, jumlah lapisan dan jenis lapisan (dari cat dasar s/d
lapisan akhir).
b) Semua bidang contoh tersebut harus diperlihatkan kepada Pengawas
proyek. Jika contoh-contoh tersebut telah disetujui secara tertulis dan
Pengawas proyek, Kontraktor Pelaksana melanjutkan dengan
pembuatan mock- up.
c) Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan kepada Pengawas proyek
untuk kemudian akan diteruskan kepada pemberi tugas minimal 5
galon tiap warna dan jenis cat yang dipakai. Kaleng - kaleng cat
tersebut harus tertutup rapat dan dengan jelas identitas cat yang ada
didalam nya. Cat ini akan dipakai sebagai cadangan untuk perawatan,
oleh pemberi tugas.

2) MOCK UP (Standard Pengerjaan) :


a) Sebelum pengecatan yang dimulai, Kontraktor Pelaksana harus
melakukan Pengecatan pada satu bidang untuk tiap warna dan jenis
cat yang diperlukan, Bidang-bidang tersebut akan dijadikan contoh
pilihan warna, texture material, dan cara pengerjaan. Bidang-bidang
yang akan dipakai sebagai mock-up ini akan ditentukan oleh
Pengawas proyek.
b) Jika masing-masing bidang tersebut telah disetujui oleh Pengawas
proyek dan Perencana, bidang-bidang ini akan dipakai sebagai
standard minimal keseluruhan pekerjaan pengecatan.
c)
3) BROSUR :
Untuk keperluan Pengawas proyek, Kontraktor Pelaksana harus
menyediakan brosur bahan guna pemilihan jenis dan warna bahan yang
akan dipakai.
4) Seluruh bahan yang didatangkan di lapangan harus masih dalam kemasan
pabrik.
5) Penyimpanan bahan material ditempat yang aman dan diberi perlindungan
yang memadai untuk melindungi material dari kerusakan.
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 50
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

5.5. PELAKSANAAN :
1) Pengecatan Cat Emulsi.
a. Pekerjaan pengecatan ini dilaksanakan pada seluruh permukaan
dinding dan plafond yang terletak di dalam gedung (interior),
pengecatan dilakukan tanpa plamuur khususnya pada pengecatan
dinding luar..
b. Pengecatan dilakukan setelah plesteran dinding benar-benar telah
kering atau telah berusia lebih dari 28 hari.
c. Sebelum pengecatan, terlebih dahulu bidang-bidang yang akan di cat
dibersihkan dari kotoran yang melekat serta dibuat rata dengan cara
menggosok dengan menggunakan kertas gosok.
d. Setelah seluruh permukaan telah benar-benar bersih, dilanjutkan
dengan memberi lapisan primer menggunakan alkali resisting primer
produk yang sama dengan cat yang dipakai sebanyak 1 kali lapis atau
sesuai petunjuk pemakaiannnya.
e. Setelah kering dilakukan pengecatan sebanyak 2-3 lapis atau sampai
benar-benar pekat dan rata sesuai standard pelaksanaan (mock-up)
yang telah dibuat.
f. Pengecatan setiap lapisnya, baru boleh dilakukan setelah lapis
sebelumnya telah mengering.

2) Pengecatan Cat Emulsi Acrylic.


a. Pekerjaan pengecatan ini dilaksanakan pada seluruh permukaan
dinding dan plafond yang terletak di luar gedung (exterior).
b. Pengecatan dilakukan setelah plesteran dinding benar-benar telah
kering atau telah berusia lebih dari 28 hari.
c. Sebelum pengecatan, terlebih dahulu bidang-bidang yang akan di
cat dibersihkan dari kotoran yang melekat serta dibuat rata dengan
cara menggosok dengan menggunakan kertas gosok.
d. Setelah seluruh permukaan telah benar-benar bersih, dilanjutkan
dengan memberi lapisan primer menggunakan alkali resisting primer
produk yang sama dengan cat yang dipakai sebanyak 1 kali lapis
atau sesuai petunjuk pemakaiannnya.
e. Setelah kering dilakukan pengecatan sebanyak 2-3 lapis atau
sampai benar-benar pekat dan rata sesuai standard pelaksanaan
(mock-up) yang telah dibuat.
f. Pengecatan setiap lapisnya, baru boleh dilakukan setelah lapis
sebelumnya telah mengering.

3) Pengecatan Cat Synthetic Enamel.


a) Pekerjaan ini dilaksanakan pada seluruh bagian pipa besi pagar dan
lain-lain yang dinyatakan di cat menggunakan cat besi.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 51
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

b) Seluruh permukaan yang akan dicat harus dibersihkan dahulu dari


segala kotoran dan karat yang melekat dengan menggosok
menggunakan kertas gosok hingga benar-benar bersih.
c) Pengecatan besi dilakukan setelah permukaan besi bersih dari
segala macam kotoran dan debu akibat pembersihan permukaan
besi. Pengecatan dilakukan sebanyak 3 lapis atau sampai benar-
benar pekat dan rata.
d) Untuk mencapai hasil yang sempurna, setiap lapis pengecatan baru
boleh dilaksanakan setelah lapisan sebelumnya benar-benar kering.
e) Termasuk dalam pekerjaan ini pengecatan untuk talang tegak dan
rangka atap terekspose.

4) Pengecatan Cat Besi Zinc Chromate


a) Pekerjaan pengecatan ini dilaksanakan pada seluruh permukaan
konstruksi dan kolom-kolom besi.
b) Sebelum pekerjaan pengecatan konstruksi rangka baja dengan
menie Zink Cromate seluruh permukaan harus dibersihkan dari
karat, minyak dan noda-noda lainnya.
c) Pengecatan dengan Zinc Chromate pada prinsipnya harus
dilaksanakan di bawah sebelum konstruksi rangka terpasang.
d) Pengecatan dengan Zinc Chromate minimal 80 mikron.
e) Perbaikan pada bagian-bagian cat yang cacat akibat erection harus
dilakukan kembali hingga seluruh permukaan konstruksi tertutup
cat.

PASAL 6 PEKERJAAN KONSTRUKSI BAJA/ TERALIS

5.1. LINGKUP PEKERJAAN.


Yang termasuk pekerjaan struktur baja adalah seluruh pekerjaan teralis sesuai
dengan gambar-gambar pelaksanaan, termasuk didalamnya tapi tidak terbatas
pada :
a. Pekerjaan pengadaan dari semua peralatan, perlengkapan, tenaga serta
bahan-bahan seperti pelat, profil, baut, angker dan lain-lain menurut
kebutuhan sesuai dengan gambar kerja dan persyaratan-persyaratan teknis
pelaksanaan.
b. Pekerjaan pembuatan bagian-bagian konstruksi baja, sambungan-
sambungan, pengelasan baik las sudut maupun las penuh, sambungan
dengan baut dan lain-lain sesuai dengan gambar kerja dan persyaratan
teknis pelaksanaan.
c. Pekerjaan pemasangan dan penyelesaian konstruksi baja seperti
pemasangan Pagar, Jerjak dan Pintu Besi. pengecatan dan lain-lain sesuai
dengan gambar kerja dan persyaratan teknis pelaksanaan.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 52
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

5.2. PERSYARATAN BAHAN.


a. Persyaratan Standar Kualitas Bahan.
Untuk pekerjaan raiining standard yang berlaku : PUBB.1956 (AV)-NI-
3.1970.
b. Penggunaan Bahan
- Besi Hollow 20x20x1.5 mm
- Besi Hollow 20x40x1.5 mm
- Besi Hollow 40x40x1.5 mm
- Besi Hollow 100x50x1.5 mm
- Besi isi kotak atau nako 10 - 12 mm pull ( jeruji )
- Besi siku 30 x 30 mm
- Plat Baja tebal 1.5 mm

5.3. PERSYARATAN UMUM.


Semua pelaksanaan pekerjaan baja ini harus memenuhi persyaratan-
persyaratan normalisasi yang berlaku di Indonesia, seperti :
a. Standarisasi Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan, SNI
03-1729-2002 dan lain-lain kecuali ada hal-hal yang khusus.
b. AISC “Specification for Fabrication and erection” 12 Pebruari 1981.
c. Semua pekerjaan baut pada bangunan ini juga harus memenuhi syarat dari
AISC “Specification for Structural Joints Bolts”.
d. Semua pekerjaan las harus mengikuti “American Welding Society for Arc
Welding in Builiding Construction Section”

5.4. PERSYARATAN BAHAN.


a. Mutu baja yang digunakan untuk seluruh konstruksi baja adalah baja BJ-
37 dengan tegangan dasar 1600 Kg/Cm2. Seluruh profil baja yang
digunakan sesuai dengan persyaratan bahan dan harus mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana serta dilampiri
sertifikat dari pabrik pembuat profil baja tersebut.
b. Elektroda las yang digunakan sesuai dengan persyaratan bahan dan harus
mendapat persetujuan Konsultan Pengawas / Perencana, harus disimpan
pada tempat terlindung yang menjamin komposisi dan sifat-sifat lain dari
bahan elektroda tersebut tidak berubah. Bahan las yang digunakan dari
kelas E 6012 AWS dan harus dijaga agar selalu dalam keadaan baik dan
kering.
c. Baut yang digunakan adalah Baut Mutu Tinggi sesuai dengan persyaratan
bahan dan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas / Perencana,
harus disimpan pada tempat terlindung yang menjamin komposisi dan sifat-
sifat lain dari bahan elektroda tersebut tidak berubah. Bahan las yang
digunakan dari kelas A325 dan harus dijaga agar selalu dalam keadaan
baik dan kering.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 53
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

d. Semua bahan konstruksi baja yang dipergunakan harus memenuhi


persyaratan Peraturan Umum Bahan Bangunan (PUBB 1982) dan harus
memenuhi standar ASTM A-36.
e. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan baja harus diperoleh dari
Supplier / Distributor yang dikenal dan disetujui Konsultan Perencana /
Konsultan Pengawas.
f. Semua bahan-bahan harus lurus, tidak cacat dan tidak ada karatnya.
Penampang-penampang (profil) yang tepat, bentuk, tebal, ukuran, berat
dan detail-detail konstruksi yang ditunjukkan pada gambar harus
disediakan.

5.5. PERSYARATAN TEKNIS.


a. Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap
semua ukuran-ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
b. Kontraktor wajib membuat shop drawing untuk melengkapi gambar detail /
sambungan dari bagian-bagian konstruksi baja yang tidak / belum
tercantum dalam gambar kerja, untuk mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum memulai pekerjaan tersebut.
c. Perubahan bahan atau detail karena alasan-alasan tertentu, harus
diajukan dan diusulkan pada Konsultan Pengawas / Perencana untuk
mendapat persetujuan.
d. Semua perubahan-perubahan yang disetujui dapat dilaksanakan tanpa ada
biaya tambahan yang mempengaruhi kontrak.
e. Kontraktor bertanggung jawab terhadap semua kesalahan-
kesalahandetailing, fabrikasi dan ketepatan penyetelan / pemasangan
semua bagian-bagian dari konstruksi baja.
f. Seluruh pekerjaan struktur baja harus di-fabrikasi di workshop, kecuali
untuk bagian-bagian pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk dikerjakan
di workshop sehingga harus dikerjakan di lapangan.
g. Semua rivet dan baut baik yang dikerjakan di workshop maupun di
lapangan harus selalu memberikan kekuatan yang sebenarnya dan masuk
tepat pada lubang rivet atau baut tersebut.
h. Pekerjaan perubahan dan pekerjaan tambahan di lapangan pada waktu
pemasangan yang diakibatkan oleh kekurang-telitian atau kelalaian
Kontraktor, harus diganti dan dilaksanakan atas biaya Kontraktor.
i. Kekurang-tepatan pemasangan karena kesalahan fabrikasi harus
dibetulkan, diperbaiki atau diganti dengan yang baru dan semua biaya
untuk ini harus ditanggung oleh Kontraktor.
j. Kontraktor dapat diminta untuk memberikan surat keterangan tentang
pengujian oleh pabrik (laboratorium) untuk bahan konstruksi baja yang
digunakan.
k. Setelah pengujian bahan dilakukan, maka hasil testing tersebut harus
diberikan kepada Konsultan Pengawas untuk mendapat persetujuan
terhadap bahan tersebut.
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 54
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

l. Pekerjaan baja harus dilaksanakan sesuai dengan keterangan-


keterangan yang tertera dalam gambar, lengkap dengan penyangga-
penyangga, alat untuk memasang dan menyambungnya, pelat-pelat siku
peralatan penunjang untuk presisi dari komponen maupun pekerjaannya
sendiri.
m. Pekerjaan harus berkualitas kelas I, semua pekerjaan ini harus
diselesaikan bebas dari puntiran, tekanan dan harus dikerjakan dengan
teliti untuk menghasilkan tampak yang rapi sekali.
n. Semua perlengkapan atau barang-barang / pekerjaan lain yang diperlukan
demi kesempurnaan pemasangan, walaupun tidak secara khusus
diperlihatkan dalam gambar atau dipersyaratkan disini, harus diadakan /
disediakan, kecuali jika dipersyaratkan lain.
o. Konstruksi baja yang telah dikerjakan tetapi belum dilakukan pengecatan,
harus segera dilindungi terhadap pengaruh-pengaruh udara, hujan dan
lainlain dengan cara yang memenuhi syarat.
p. Sebelum bagian-bagian dari konstruksi dipasangkan dimana semua bagian
yang perlu sudah diberi lubang dan sudah dibersihkan dari karat, maka
bagian-bagian itu harus diperiksa dalam keadaan tidak cacat.

5.6. PERSYARATAN PELAKSANAAN.


5.6.1. Pengelasan.
a. Pengelasan harus dikerjakan oleh tenaga ahli yang berpengalaman.
Kontraktor wajib menyerahkan sertifikat keakhlian dari masing-masing
tukang lasnya. Sertifikat kelas A untuk tenaga ahli yang mengerjakan
bagian-bagian sekunder konstruksi.
b. Kekuatan bahan las yang dipakai minimal harus sama dengan kekuatan
baja yang dipakai. Bahan las yang dipergunakan dari tipe E 6010 untuk
posisi pengelasan plat horizontal dan overhead, serta tipe E 6012 dan E
6013 untuk posisi pengelasan plat, dan harus dijaga agar supaya selalu
dalam keadaan baik dan kering. Ukuran las harus sesuai dengan gambar
kerja dan atau :
• Tebal las minimum : 5 mm.
• Panjang las minimum : 13 x tebal las.
• Panjang las maksimum : 43 x tebal las.
c. Pekerjaan las harus dilakukan di bengkel (pabrik) atau bebas angin dan
dalam keadaan kering. Baja yang sedang dikerjakan harus ditempatkan
sedemikian rupa, sehingga pekerjaan las dapat dilakukan dengan baik dan
teliti.
d. Pemberhentian las, harus pada tempat yang ditentukan dan harus dijamin
tidak akan berputar atau membengkok.
e. Setelah pengelasan, maka sisa-sisa / kerak-kerak las harus dibuang dan
dibersihkan dengan baik.
f. Semua pengerjaan pengelasan harus dikerjakan dengan rapi dan tanpa
menimbulkan kerusakan-kerusakan pada bahan bajanya.
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 55
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

g. Pengelasan harus menjamin pengaliran yang rata dari cairan elektroda


tersebut.
h. Teknik cara pengelasan yang dipergunakan harus memperlihatkan mutu
dan kualitas dari las yang dikerjakan.
i. Permukaan dari bagian yang akan di-las harus bebas dari kotoran,
cat,minyak, karat dan kotoran dalam ukuran kecilpun harus dibersihkan,
bahan yang akan di-las juga harus bersih dari aspal.
j. Peralatan yang dipergunakan untuk mengelas harus memakai tipe yang
sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga penyambungan dengan las
dapat memuaskan. Mesin las tersebut harus mencapai kapasitas 24 – 40
Volt dan 200 – 400 Ampere.
k. Perbaikan las.
l. Bila pekerjaan las ternyata memerlukan perbaikan, maka hal ini harus
dilakukan sebagaiamana diperintahkan oleh Konsultan Pengawas. Biaya
perbaikan las ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.

5.6.2. Sambungan dengan baut.


a. Sambungan-sambungan yang dibuat harus dapat memikul gaya-gaya yang
bekerja, selain berguna untuk tempat pengikatan dan untuk menahan
lenturan batang.
b. Lubang baut harus lebih besar 2 mm untuk daripada diameter luar baut
dibawah diameter 24 mm dan 3 mm untuk diameter luar baut dibawah diatas
24 mm . Jika baut dikerjakan di workshop, maka cara melubangi boleh
langsung dengan alat pengerat. Semua pelubangan / pengeboran untuk
baud harus dapat dikerjakan sesudah bagian-bagian / profil-profil yang akan
berhubungan tersebut dikerjakan.
c. Daerah-daerah yang berbatasan antara profil dengan lubang baut dan baut
itu sendiri harus dapat memikul gaya-gaya dan dapat dengan cepat
meneruskan gaya tersebut.
d. Pengujian pekerjaan sambungan baut dan las.
Untuk sambungan baud dan las dilakukan pemeriksaan visual kecuali
pengelasan dengan Full Penetration harus dilakukan dengan X-ray test,
sebanyak 2 (dua) titik pengetesan. Pemeriksaan dilakukan dengan random
testing. Untuk pekerjaan las dan pengujian yang tidak memenuhi syarat
harus
diulangi kembali hingga memenuhi persyaratan. Biaya X-ray test ditanggung
oleh Kontraktor.

5.6.3. Meluruskan, Mendatarkan dan Melengkungkan.


a. Melengkungkan dalam keadaan dingin hanya boleh dilakukan pada bagian
non struktural. Untuk melengkungkan harus digunakan gilingan lengkung.
Melengkungkan plat dalam keadaan dingin menurut suatu jari-jari tidak boleh
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 56
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

lebih kecil dari 3 (tiga) kali tebal plat. Hal ini berlaku pula untuk batang-batang
di bidang plat badannya.
b. Melengkungkan batang menurut jari-jari yang kecil harus dilakukan dalam
keadaan panas segera setelah bahan yang dipanaskan tersebut menjadi
merah tua. Tidak diperkenankan melengkungkan dan memukul dengan
martil bilamana bahan tersebut tidak dalam kondisi menyala merah tua lagi.

5.7. PEMASANGAN.
a. Pemasangan rangka-rangka baja tidak boleh bergeser lebih dari 2 mm.
Dari Asnya. Kemudian juga elemen-elemen vertikal harus tegak lurus
dengan bidang permukaan lantai.
b. Kontraktor diwajibkan untuk menjaga supaya bagian-bagian konstruksi
yang tertumpuk di lapangan tetap dalam keadaan baik seperti pada saat
pelaksanaan pembuatan konstruksi tersebut.
c. Kontraktor harus menjaga konstruksi yang tertumpuk di lapangan, agar
jangan rusak karena perubahan cuaca.
d. Memotong dan menyelesaikan pinggiran-pinggiran bekas irisan dan lain-
lain.
- Pemotongan-pemotongan baja untuk bahan konstruksi, harus dengan
mechanical cutting kecuali ditunjukkan lain dalam gambar rencana.
- Bagian-bagian bekas irisan harus benar-benar datar, lurus dan bersih,
sekali-kali tidak diperbolehkan ada bekas jalur dan lain-lain.
- Bila bekas pemotongan dengan mesin diperoleh pinggiran-pinggiran
bekas irisan, maka bagian tersebut harus dibuang sekurang-kurangnya
setebal 2,5 mm, kecuali kalau keadaannya sebelum dibuang setebal 2,5
mm sudah tidak tampak lagi jalur-jalur.
- Bagian konstruksi yang berfungsi sebagai pengisi juga perlu dibuang
bekas-bekas potongan atau kotoran-kotoran lainnya.

e. Menembus, mengebor dan melebarkan lubang.


o Semua lubang-lubang pada bahan baja harus dibor.
o Pada keadaan akhir diameter lubang untuk baud yang dibubut dengan
tepat dan sebuah baut mutu tinggi yang tepat boleh berbeda masing-
masing sebanyak 0,1 mm dan 0,4 mm daripada diameter batang baut-
baut.
o Semua lubang-lubang dalam bagian konstruksi yang disambung dan
yang harus dijadikan satu dengan alat penyambung, harus dibor
sekaligus sampai diameter sepenuhnya. Apabila ternyata tidak sesuai,
maka perubahan - perubahan lubang tersebut dibor atau diluaskan dan
penyimpangannya tidak boleh melebihi 3 mm.
o Semua lubang-lubang harus benar-benar bulat atau sesuai dengan
permintaan gambar rencana terdiri dari siku-siku pada bidang-bidang
dan bagian-bagian konstruksi yang akan disambung.
o Semua lubang-lubang sebelum pemasangan harus dibersihkan dulu.
Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 57
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

 Mempersiapkan lubang tidak boleh dilakukan dengan menggunakan


besi / sikat kawat atau besi-besi penggaruk.

5.8. PERAWATAN DAN PERLINDUNGAN.


a. Seluruh profil baja harus dibersihkan dari permukaan korosi (karat) dan
kotoran-kotoran ataupun minyak-minyak, dengan menggunakan sikat baja
atau sandblasting, sampai permukaannya memperoleh warna metalic yang
merata.
b. Segera setelah dibersihkan, sebelum profil-profil baja dipasang di
workshop, seluruh permukaannya harus cepat-cepat di cat dengan meni
(red oxide) yang tebalnya 30 – 35 micron. Cat dasar ini harus betul-betul
merata untuk seluruh permukaan profil.
c. Cat dasar yang tidak baik harus dibuang / dibersihkan sama sekali, disikat
kawat, digosok, dan setelah bersih segera dicat dasar lagi seperti yang
telah diuraikan. Cat dasar dilaksanakan 2 (dua) kali pengecatan.
d. Cat finish dilaksanakan 2 (dua) kali.
e. Pengecatan harus dilakukan sesuai dengan instruksi yang dikeluarkan oleh
pabrik dan mengikuti petunjuk Konsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuannya.

PASAL 6. PEKERJAAN PAVING BLOCK

Paving memiliki beragam kekuatan dan klasifikasi penggunaan bila diukur dengan
Standar SNI. Harga Paving yang murah tidak selalu dapat diartikan bahwa kualitas &
Kekuatan Paving tersebut tidak bagus.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 58
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

6.1. KLASIFIKASI PAVING BERDASARKAN KEKUATAN

Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat dari tabel Klasifikasi Mutu Beton Paving
berdasarkan SNI :

Ketahanan terhadap natrium sulfat tidak boleh cacat dan kehilangan berat yang
diperkenankan maksimum 1,1
Keterangan : * mPa = mega Pascal ( 1 mPa = 10 kg/cm = K 10 )

Berdasarkan SNI 03-0691-1996 klasifikasi Paving block dibedakan menurut


kelas penggunaannya sebagai berikut:
Paving Mutu A : digunakan untuk jalan
Paving Mutu B : digunakan untuk pelataran parkir
Paving Mutu C : digunakan untuk pejalan kaki
Paving Mutu D : digunakan untuk taman dan pengguna lain

Paving yang diproduksi secara manual biasanya termasuk dalam mutu beton kelas D
atau C yaitu untuk tujuan pemakaian non struktural, seperti untuk taman dan
penggunaan lain yang tidak diperlukan untuk menahan beban berat di atasnya. Mutu
paving yang pengerjaannya dengan menggunakan mesin pres dapat dikategorikan
ke dalam mutu beton kelas C sampai A dengan kuat tekan diatas 125 kg/cm2
bergantung pada perbandingan campuran bahan yang digunakan

Penampakan antara paving yang diproduksi dengan cara manual dan paving pres
mesin secara kasat mata relatif hampir sama, namun permukaan paving yang
diproduksi dengan mesin pres terlihat lebih rapat dibanding yang dibuat secara
manual

6.2. PERSYARATAN BAHAN

1) Paving Beton
a) Semen

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 59
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

(1) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis


semen portland yang memenuhi SNI 15-2049-1994 kecuali
jenis IA, IIA, IIIA dan IV. Apabila menggunakan bahan tambahan
yang dapat menghasilkan gelembung udara, maka gelembung
udara yang dihasilkan tidak boleh lebih dari 5%, dan
harus mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

(2) Dalam satu campuran, hanya satu merk semen portland yang
boleh digunakan, kecuali disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Jika di
dalam satu proyek digunakan lebih dari satu merk semen, maka
Penyedia Jasa harus mengajukan kembali rancangan campuran
beton sesuai dengan merk semen yang digunakan.

b) Air

Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian


lainnya harus bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan
seperti minyak, garam, asam, basa, gula atau organis. Air harus
diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi ketentuan dalam SNI
03-
6817-2002 Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan. Jika
timbul keraguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air
seperti di atas tidak dapat dilakukan, maka harus diadakan
perbandingan pengujian kuat tekan mortar semen dan pasir
dengan memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air
suling. Air yang diusulkan dapat digunakan jika kuat tekan mortar
dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari minimum 90 %
kuat tekan mortar dengan air suling pada periode perawatan
yang sama.

c) Agregat

(1) Ketentuan Agradasi Agregat

- Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi


ketentuan yang diberikan, tetapi bahan yang tidak memenuhi
ketentuan gradasi tersebut harus diuji dan harus memenuhi
sifat-sifat campuran yang disyaratkan.

- Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga


ukuran agregat terbesar tidak lebih dari ¾ jarak bersih
minimum antara baja tulangan atau antara baja tulangan
dengan acuan, atau celah-celah lainnya di mana beton
harus dicor.

(2) Sifat-sifat Agregat

- Agregat yang digunakan harus bersih, keras, kuat


yang diperoleh dari pemecahan batu atau koral, atau dari
pengayakan dan pencucian (jika perlu) kerikil dan pasir
sungai.

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 60
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

- Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang


ditunjukkan oleh pengujian SNI 03-2816-1992 dan harus
memenuhi sifat-sifat lainnya bila contoh- contoh diambildan
diujisesuaidenganprosedur yang berhubungan.

2) Landasan Pasir
Pasir yang digunakan untuk meratakan elevasi permukaan yang akan
dipasang blok beton dan kerb pracetak dan untuk membentuk landasan
harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Pasal 2.4.2.2) dari
Spesifikasi ini

6.3. PEMASANGAN PAVING BLOCK (BLOK BETON)


a) Pekerjaan Baru
Trotoar dan median baru, demikian pula trotoar dan median lama
tanpa blok beton, akan dipasang dengan blok beton dari jenis yang
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan.
b) Trotoar dan Median Lama
Untuk trotoar atau median lama yang akan dipasang blok beton,
maka blok beton lama yang rusak harus dibongkar. Blok beton baru
harus dipilih dari jenis dan warna yang mendekati jenis dan warna
blok beton lama. Pondasi harus dibasahi sampai merata segera
sebelum penempatan lapisan landasan pasir yang harus
dihamparkan dengan ketebalan seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.
c) Perkerasan Blok Beton (paving Block)
Perkerasan blok beton harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari
pabrik pembuatnya. Pada umumnya blok beton harus dipasang di
atas landasan pasir dengan tebal gembur sekitar 60 – 70 mm dan
dipadatkan dengan menggunakan sebuah mesin penggetar
(berbentuk) pelat yang menyebabkan pasir dapat memasuki celah-
celah di antara blok beton sehingga membantu proses saling
mengunci (interlocking) dan pemadatan. Percobaan pemadatan
harus dilakukan dengan berbagai ketebalan gembur pasir, sebelum
pekerjaan pemadatan ini dimulai, untuk menentukan ketebalan
gembur yang diperlukan dalam mencapai ketebalan padat 50 mm.
Perkerasan blok beton tidak boleh diisi dengan adukan semen.
d) Penyelesaian Akhir
Permukaan blok beton yang selesai dikerjakan harus menampilkan
permukaan yang rata tanpa adanya blok beton yang menonjol atau
terbenam dari elevasi permukaan rata-rata lebih dari 6 mm, yang
diukur dengan mistar lurus 3 m pada setiap titik di atas permukaan
blok beton tersebut. Semua sambungan harus rapi dan rapat, tanpa
adanya adukan atau bahan lainnya yang menodai atau mencoreng
permukaan yang telah selesai dikerjakan. Perkerasan blok beton
harus mempunyai lereng melintang minimum 4%.
f) Perpotongan Dengan Jalur Kendaraan

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 61
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Pada perpotongan dengan jalur kendaraan, suatu bagian blok


beton pada trotoar yang lebih rendah atau yang dimodifikasi harus
dipasang sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Gambar atau
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
g) Pemotongan Blok Beton
Blok beton harus dipotong dengan mesin potong (cutter machine)
untuk menye-suaikan penghalang berbentuk bulat seperti tiang
atau pohon, antara kerb dan tepi blok beton, dan sebagainya.

6.4. DASAR PEMBAYARAN


Kuantitas, ditentukan sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar dengan
Harga Kontrak per satuan dari pengukuran untuk Mata Pembayaran
yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan
Harga, dimana harga dan pembayaran tersebut harus merupakan
kompensasi penuh untuk penyediaan dan pemasangan semua bahan,
untuk galian yang diperlukan dan perataan lahan dengan material halus
(pasir), serta lapisan pengunci dari pasangan berupa taburan pasir beton
dan untuk semua pekerjaan lainnya atau biaya lain yang diperlukan
atau lazim untuk penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari pekerjaan
yang diuraikan dalam Bagian ini. Tidak ada pengukuran terpisah yang
dilakukan untuk pembongkaran ubin lama atau blok beton lama yang rusak
atau untuk melaksanakan penggetaran pada pemasangan blok beton

Satuan
Nomor Uraian Pengukuran
Mata
Pembayar
an 1. Pemasangan Meter
Paving Block Persegi

PASAL 7. PEKERJAAN PEMBONGKARAN, PENGAMANAN DAN


PEMBERSIHAN SETELAH PEMBANGUNAN

a. Pembersihan tapak konstruksi dan pada semua pekerjaan yang


termasuk dalam Lingkup Pekerjaan seperti tercantum di Gambar

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 62
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

Kerja dan terurai dalam buku RKS ini dari semua barang atau bahan
bangunan lainnya yang dinyatakan tidak digunakan lagi setelah
pekerjaan selesai menjadi tanggung jawab Kontraktor bersangkutan.

b. Semua bekas bongkaran bangunan eksisting, pohon, dan


sebagainya harus dikeluarkan dari tapak/site konstruksi.

c. Selama pembangunan berlangsung, Kontraktor harus menjaga


keamanan bahan/material, barang maupun bangunan yang
dilaksanakannya sampai tahap serah terima.

PASAL 8. PEKERJAAN LAIN-LAIN

a. Hal-hal yang timbul pada pelaksanaan yang memerlukan


penyelesaian di lapangan akan dibicarakan dan diatur oleh
Konsultan Pengawas dan Kontraktor, bila diperlukan akan
dibicarakan bersama Konsultan Perencana.

b. Sebelum penyerahan pertama, Kontraktor wajib meneliti semua


bagian pekerjaan yang belum sempurna dan harus diperbaiki,
semua ruangan harus bersih dipel, semua barang yang tidak
berguna harus disingkirkan dari proyek.

c. Selama pemeliharaan, kontraktor wajib merawat, mengamankan


dan memperbaiki segala cacat yang timbul sehingga sebelum
penyerahan kedua dilaksanakan pekerjaan benar-benar telah
sempurna.

d. Segala sesuatu yang belum tercantum dalam RKS ini dan pada
penjelasan ternyata diperlukan akan dicantumkan dalam Berita
Acara Penjelasan Pekerjaan.

PENUTUP
PENYELESAIAN PEKERJAAN

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 63
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan
Rencana Kerja dan Syarat (RKS) Ketentuan Teknis Pelaksanaan

1. Seluruh pekerjaan diselesaikan secara baik serta rapi disesuaikan dengan


Rencana Keja dan Syarat-syarat Pekerjaan yang tidak rapi dan kurang baik,
harus diperbaiki sampai diperoleh hasil yang memebuhi syarat.
2. Setelah seluruh pekerjaan yang dikerjakan sesuai dengan kerja dan syarat-
syarat, maka seluruh halaman harus dibersihkan dari sisa-sisa bahan dan
diratakan sebaik mungkin.
3. Item pekerjaan yang belum jelas dan tercantum di dalam RKS ini akan dijelaskan
pada Berita Acara Anwijzing.

Medan, Agustus 2018


Dibuat Oleh
Konsultan Perencana :

CV. KREATIF CIPTA PRATAMA CV. KREATIF CIPTA PRATAMA

(Fransiskus Hendra Manik, ST) (Bobby Fadly Partoyo, ST)


Direktus Team Leader

Disetujui Oleh : Diketahui Oleh :


Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Pengguna Anggaran (PA)
(PPTK) Kepala Dinas Lingkungan Hidup
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara
Prov. Sumatera Utara

(Indra Bangsawan, SP, MH) (Dr. Ir. Binsar Situmorang, M.Si, MAP)
NIP. 19690412 199503 1 002 NIP. 19630602 199003 1 003

Pembangunan Gedung Kantor Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumatera Utara dan UPT 64
Tipang, Kec. Bakti Raja Kab. Humbang Hasundutan