Anda di halaman 1dari 24

A.

Gambaran Umum Koridor

Koridor jalan merupakan suatu lorong ataupun penggal jalan yang


menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain dan mempunyai batasan fisik
satu lapis bangunan dari jalan (kamus tata ruang, 1997). Menurut Darmawan (2003)
koridor adalah sebuah jalan yang diapit oleh dinding dari sebelah kiri maupun kanan
yang merupakan ruang-ruang disekitar jalan. Jalan dianggap sebagai area komunikasi
yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya yang mempunyai fungsi saling
terikat satu sama lain.
Koridor Jalan Jenderal Ahmad Yani merupakan salah satu jalan kolektor
primer di Kota Pekanbaru. Adapun karakteristik jalan kolektor adalah sebagai
berikut:
a. Jalan kolektor primer melalui atau menuju kawasan primer atau jalan arteri
primer.
b. Jalan kolektor primer dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah
40 km/jam.
c. Lebar badan jalan kolektor primer tidak kurang dari 7 meter.
d. Jumlah jalan masuk ke jalan kolektor primer dibatasi secara efisien. Jarak
antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 400 meter.
e. Kendaraan angkutan barang berat dan bus dapat diizinkan melalui jalan ini.
f. Jalan kolektor primer mempunyai kapasitas yang sama atau lebih besar dari
volume lalu lintas rata-rata.
g. Lokasi parkir pada badan jalan sangat dibatasi dan seharusnya tidak diizinkan
pada jam sibuk.
h. Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah dari jalan
arteri primer.
i. Dianjurkan tersedianya Jalur Khusus yang dapat digunakan untuk sepeda dan
kendaraan lambat lainnya.
Koridor Jalan Ahmad Yani ini terletak tepat di tengah kota Pekanbaru. Jalan
ini melalui 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Pekanbaru Kota, Kecamatan Sukajadi dan
Kecamatan Senapelan.

Gambar 1. Peta Citra Jalan Jenderal Ahmad Yani


Sumber. Google Earth

Koridor Jalan Ahmad Yani merupakan salah satu koridor jalan penunjang
kehidupan sosial dan ekonomi di kota Pekanbaru. Kondisi ini ditandai dengan
mobilitas dan aktifitas yang cukup tinggi dilihat dari adanya bermacam-macam
aktifitas dan kegiatan di koridor jalan ini. Aktifitas yang terdapat dijalan ini meliputi:
perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan bahkan pertahanan dan keamanan.
Jalan Jenderal Ahmad Yani memiliki aksesibilitas yang tergolong tinggi
karena merupakan jalan utama yang menghubungkan antara jalan arteri Jenderal
Sudirman dengan kawasan pusat komersil lainnya, seperti Jalan Riau. Pada saat
tertentu di beberapa titik yang ada di Jalan Jenderal Ahmad Yani sering terjadi
kemacetan akibat tingginya volume kendaraan yang tidak lagi sesuai dengan
kapasitas jalannya.
Sebuah fenomena lain yang timbul yakni adanya on street parking yang
terlihat di beberapa titik di sepanjang Jalan Ahmad Yani. Penggunaan lahan di
koridor Jalan Ahmad Yani memang dipergunakan sebagai kawasan perdagangan dan
jasa. Akan tetapi, adanya kegiatan tersebut tidak diimbangi dengan adanya fasilitas
pendukung kegiatan seperti lahan parkir. Bangunan-bangunan toko yang ada di
sepanjang jalan mayoritas tidak menyediakan lahan parkir yang mencukupi bagi para
pengunjung sehingga fenomena parkir on-street tidak dapat dielakkan lagi. Parkir on
street yang dapat dikategorikan sebagai hambatan samping ini dapat mempersempit
kapasitas Jalan Ahmad Yani.
Oleh karena itu, untuk mengukur volume kendaraan di ruas Jalan Jenderal
Ahmad Yani, dilakukan kegiatan Traffic Counting, dan dilakukan pula perhitungan
terhadap kapasitas jalan sehingga akan diketahui tingkat pelayanan di Jalan Jenderal
Ahmad Yani. Adapun kegiatan survey dilakukan pada pkl. 06.00-08.00 wib, pkl.
11.00-13.00 wib, dan pkl.16.00-18.00 wib. Survey dilakukan pada saat hari kerja dan
hari libur sehingga dapat dilihat perbandingan volume kendaraan pada saat waktu
tertentu. Lokasi survey ini berada di simpang Jalan Pangeran Hidayat.
B. Sistem Aktivitas

Sebagai jalan kolektor, Jalan Jendral Ahmad Yani memiliki lebar 9 meter.
Jalan ini merupakan jalan dua arah tanpa pembatas median. Karena di dominasi oleh
kawasan pertokoan disepanjang jalannya, aktivitas Jalan Jendral Ahmad Yani
tergolong cukup tinggi. Meskipun didominasi oleh pertokoan dan pusat komersil
lainnya, terdapat pencampuran guna lahan karena Jalan Ahmad Yani juga merupakan
kawasan pendidikan, peribadatan, kesehatan bahkan pertahanan dan keamanan.
Adapun aktivitas yang berada di sepanjang koridor Jalan Ahmad Yani adalah:
1) Kawasan pertokoan
Disepanjang Jalan Ahmad Yani merupakan kawasan pertokoan dengan
berbagai jenis barang dan jasa yang ditawarkan. Namun sayangnya, pemilik
toko tidak menyediakan tempat parkir yang memadai sehingga pengunjung
toko memarkirkan kendaraannya di jalur pejalan kaki bahkan di pinggir jalan,
terutama pemilik kendaraan roda 4. Selain mengganggu kenyamanan pejalan
kaki, adanya parkir di pinggir jalan ini tentu akan mempersempit kapasitas
ruas jalan, dan tak jarang menyebabkan kemacetan terutama pada saat volume
kendaraan sedang meningkat atau pada saat jam sibuk. Lebar jalan yang
semula adalah 9 meter tidak akan efektif lagi karena di pinggir kanan dan kiri
jalan terdapat parkir liar. Lebar jalan yang semakin menyempit inilah pemicu
kemacetan karena kapasitas jalan menyempit.

Gambar 2. Kawasan Pertokoan di Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016
2) Kawasan Pendidikan
Di Jalan Ahmad Yani terdapat beberapa sekolah, pendidikan tinggi,
dan beberapa tempat bimbingan belajar, seperti SDN 01 Pekanbaru, SDN 10
Pekanbaru, SD Santa maria, Stikom Pelita Indonesia dan lain-lain.
Terutama saat pagi dan siang hari ketika jam pergi dan pulang sekolah,
sering terjadi kemacetan di kawasan pendidikan ini. Saat pagi hari volume
meningkat oleh kendaraan yang mengantarkan siswa ke sekolah dan begitu
pula saat siang hari, volume kendaraan meningkat oleh kendaraan yang
menjemput siswa pulang.

Gambar 3. Kawasan Pendidikan di Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016

3) Kawasan Kesehatan
Koridor Ahmad yani merupakan salah satu pusat kesehatan di Kota
Pekanbaru. Di jalan ini terdapat 2 rumah sakit swasta, yakni rumah sakit
Ahmad Yani dan Santa Maria. Selain itu disepanjang jalan ini terdapat
beberapa klinik dan apotek.
Di kawasan rumah sakit Santa Maria, pedestrian yang seharusnya
diperuntukkan bagi pejalan kaki, disalahgunakan oleh pedagang kaki lima
yang berjualan di atas pedestrian. Oleh karenanya, pejalan kaki pun harus
mengalah.
Gambar 4. PKL di Depan RS Santa Maria
Sumber: Hasil Pengamatan, 2016

4) Kawasan Peribadatan
Di Jalan Ahmad Yani terdapat satu tempat ibadah umat kristiani yang
juga berada di kawasan Santa Maria. Gereja ini terletak persis di sebelah
rumah sakit Santa Maria. Saat hari minggu, di kawasan gereja ini kerap kali
mengalami kemacetan karena padatnya kendaraan yang akan menuju ke
gereja.

Gambar 5. Gereja Di Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016
5) Kawasan Perkantoran
Di Jalan Ahmad Yani terdapat kantor pemerintahan yaitu UPTD
Metrologi Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Saat hari sibuk (senin-
jumat), dipagi dan sore hari akan ditemui pegawai kantor yang pergi dan
pulang kantor. Volume kendaraan oleh para pegawai kantor ini merupakan
salah satu penyumbang padatnya kendaraan di Jalan Ahmad Yani.

Gambar 6. Kantor Pemerintahan di Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016

6) Kawasan Pertahanan dan Keamanan


Sistem aktivitas lain yang terdapat di Jalan Ahmad Yani adalah
pertahanan dan keamanan, yaitu Poltabes Pekanbaru dan Markas Detasemen
Polisi Militer (Denpom) TNI Angkatan Darat Pekanbaru.
7) Kawasan komersial lain
Di Jalan Ahmad Yani terdapat kawasan komersil lain seperti Plaza The
Cetral dan Apartemen The Peak. Karena merupakan bangunan modern, kedua
bangunan ini sudah memiliki tempat parkir yang lebih baik yang berupa
parkir basement dan tidak memakan badan jalan untuk parkirnya.
Kedua kawasan komersil ini merupakan salah satu tarikan pergerakan
di Kota Pekanbaru, terutama saat hari libur. Plaza The Central tidak hanya
sebagai pusat perbelanjaan modern tetapi juga menyediakan sarana hiburan
seperti family karaoke dan wahana bermain untuk anak-anak. Sedangkan The
Peak, tidak hanya memilii fungsi sebagai hunian modern, tetapi juga terdapat
sky and lounge Restaurant yang menjadi daya tariknya.

Gambar 7. Plaza Cetral di Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016
C. Kapasitas jalan

Kapasitas suatu ruas jalan dalam suatu sistem jalan adalah jumlah kendaraam
maksimum yang memiliki kemungkinan yang cukup untuk melewati ruas jalan
tersebut (dalam satu maupun dua arah) dalam periode waktu tertentu dan di bawah
kondisi jalan dan lalu lintas yang umum (Ogley dan Hicks, 1993).
MKJI (1997) mendefinisikan kapasitas sebagai arus maksimum yang melalui
suatu titik di jalan yang dapat dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu.
Kapasitas jalan adalah kemampuan ruas jalan untuk menampung arus atau volume
lalu lintas yang ideal dalam satuan waktu tertentu, dinyatakan dengan
mempertimbangan berbagai jenis kendaraan yang melalui suatu jalan, digunakan
satuan mobil penumpang sebagai satuan kendaraan dalam perhitungan kapasitas
maka kapasitas menggunakan satuan mobil penumpang per jam atau smp/jam.
Adapun faktor yang mempengaruhi kapasitas jalan kota adalah kapasitas
dasar, lebar jalan, pembagian arah, gangguan samping dan ukuran kota.
1) Kapasitas Dasar (C0)
Kapasitas dasar ditentukan berdasarkan tipe jalan. Berbagai tipe jalan
menujukkan kriteria berbeda pada pembebanan lalu lntas tertentu, misalnya
jalan terbagi dan tak terbagi, dan jalan satu arah. Tipe jalan dtunjukkan
dengan potongan melintang arah jalan pada setiap segmen jalan (MKJI, 1997).
Adapun tipe jalan perkotaan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Pembagian Nilai Pada Kapasitas Dasar (C0)
Kapasitas Dasar
Tipe Jalan Keterangan
(smp/jam)
Jalan 4 lajur berpembatas 1.650 Per lajur
median atau jalan satu arah
Jalan 4 lajur tanpa pembatas 1.500 Per lajur
median
Jalan 2 lajur tanpa pembatas 2.900 Total dua arah
median
Sumber: MKJI (1997)
Jalan Ahmad Yani merupakan jalan 2 lajur tanpa pembatas median,
sehingga nilai kapasitas dasarnya adalah 2.900 smp/jam untuk total dua
arahnya.

Gambar 8. Tipe Jalan Ahmad Yani (2 Jalur Tanpa Median)


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016

2) Faktor koreksi kapasitas untuk lebar jalan (FCW)


Faktor koreksi ini ditentukan berdasarkan lebar jalan efektif. Besarnya
lebar jalan hanya dapat diitentukan dengan pengamatan langsung dilapangan.
Kecepatan arus bebas dan kapasitas akan meningkat dengan bertambahnya
lebar lajur lalu lintas dan jumlah lajur lalu lintas yang dibutuhkan sangat
bergantung pada volume lalu lintas yang akan menggunakan jalan tersebut
dan tingkat pelayanan yang diharapkan.
Adapun faktor koreksi FCW ditentukan berdasarkan lebar jalan efektif
yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. Faktor Koreksi Kapasitas Akibat Lebar Jalan (FCW)
Tipe Jalan Lebar Jalan Efektif (m) FCW
Jalan 4 lajur berpembatas Per lajur
median atau jalan satu 3,00 0,92
arah 3,25 0,96
3,50 1,00
3,75 1,04
4,00 1,08
Jalan 4 lajur tanpa Per lajur
pembatas median 3,00 0,91
3,25 0,95
3,50 1,00
3,75 1,05
4,00 1,09
Jalan 2 lajur tanpa Dua Arah
pembatas median 5 0,56
6 0,87
7 1,00
8 1,14
9 1,25
10 1,29
11 1,34
Sumber: MKJI (1997)
Jalan Ahmad Yani merupakan jalan 2 jalur tanpa pembatas median.
Jalan ini memiliki lebar 9 meter untuk kedua arahnya, sehinggga nilai FC W
Jalan Ahmad Yani adalah 1,25.

Gambar 9. Lebar Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016
3) Faktor koreksi kapasitas akibat pembagian arah (FCSP)
Penentuan faktor koreksi untuk pembagian arah didasarkan pada
kondisi arus lalu-lintas dari kedua arah atau untuk jalan tanpa pembatas
median. Untuk jalan satu arah dan atau jalan dengan pembatas median, faktor
koreksi kapasitas akibat pembagian arah adalah 1,0.
Tabel 3. Faktor Koreksi Kapasitas Akibat Lebar Jalan (FCSP)
Pembagian arah (%-%) 50-50 55-45 60-40 65-35 70-30
FCSP 2-lajur 2-arah tanpa 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88
pembatas median
(2/2 UD)
4-lajur 2-arah tanpa 1,00 0,985 0,97 0,955 0,94
pembatas median
(4/2 UD)
Sumber: MKJI (1997)
Berdasarkan pengamatan lapangan, Jalan Ahmad Yani memiliki
perbandingan lebar jalan 50-50 sehingga nilai FCSP-nya adalah 1,00.

Gambar 10. Perbandingan Lebar Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016

4) Faktor koreksi kapasitas akibat gangguan samping


Gangguan samping merupakan gangguan terhadap kelancaran arus
lalu lintas di suatu ruas jalan, yang dapat menimbulkan konflik dan besar
pengaruhnya terhadap arus lalu lintas. Gangguan samping yang berpengaruh
pada kapasitas dan kinerja jalan perkotaan adalah pejalan kaki, angkutan
umum, kendaraan berhenti, kendaraan lambat (becak, gerobak, dll) dan
kendaraan yang keluar masuk dari lahan di sepanjang jalan.
Menurut MKJI (1997), gangguan samping dapat diklasifikasikan
sebagai berikut.
Tabel 4. Klasifikasi Gangguan Samping
Kelas Jumlah gangguan per
gangguan 200 meter per jam (dua Kondisi tipikal
samping arah)
Sangat < 100 Permukiman
rendah
Rendah 100-299 Permukiman, beberapa
transportasi umum
Sedang 300-499 Daerah industri dengan beberapa
toko di pinggir jalan
Tinggi 500-899 Daerah komersial, aktivitas
pinggir jalan tinggi
Sangat > 900 Daerah komersial dengan aktivitas
tinggi perbelanjaan pinggir jalan
Sumber: MKJI (1997)

Gambar 11. Gangguan Samping Jalan Ahmad Yani


Sumber: Hasil Pengamatan, 2016

Perhitungan terhadap kapasitas akibat gangguan samping terbagi


menjadi dua, yaitu untuk jalan yang memiliki kerab dan jalan yang tidak
memiliki kerab. Kerab adalah penonjolan atau peninggian tepi perkerasan dan
bahu jalan yang terutama dimaksudkan untuk keperluan drainase dan
mencegah keluarnya kendaraan dari tepi perkerasan serta memberikan
ketegasan tepi perkerasan. Faktor koreksi kapasitas akibat gangguan samping
untuk jalan yang mempunyai kereb dan bahu jalan dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel 5. Faktor koreksi kapasitas akibat gangguan samping FCSF untuk jalan
yang mempunyai bahu jalan
Faktor koreksi akibat gangguan
Kelas Gangguan samping dan lebar bahu jalan
Tipe Jalan
Samping Lebar bahu jalan efeektif
≤ 0,5 1,0 1,5 ≥ 2,0
4-lajur 2-arah Sangat tinggi 0,96 0,98 1,01 1,03
berpembatas median Rendah 0,94 0,97 1,00 1,02
(4/2 D) Sedang 0,92 0,95 0,98 1,00
Tinggi 0,88 0,92 0,95 0,98
Sangat tinggi 0,84 0,88 0,92 0,96
4-lajur 2-arah tanpa Sangat tinggi 0,96 0,99 1,01 1,03
berpembatas median Rendah 0,94 0,97 1,00 1,02
(4/2 UD) Sedang 0,92 0,95 0,98 1,00
Tinggi 0,87 0,91 0,94 0,98
Sangat tinggi 0,80 0,86 0,90 0,95
2-lajur 2-arah tanpa Sangat tinggi 0,94 0,96 0,99 1,01
berpembatas median Rendah 0,92 0,94 0,97 1,00
(2/2 UD) atau jalan Sedang 0,89 0,92 0,95 0,98
satu arah Tinggi 0,82 0,86 0,90 0,95
Sangat tinggi 0,73 0,79 0,85 0,91
Sumber: MKJI (1997)
Faktor koreksi kapasitas untuk gangguan samping untuk ruas jalan
yang mempunyai kereb dapat dilihat pada tabel di bawah ini, yang di dasarkan
pada jarak antara kereb dan gangguan pada sisi jalan akibat gangguan
samping.
Tabel 6. Faktor koreksi kapasitas akibat gangguan samping FCSF untuk jalan
yang mempunyai kereb
Faktor koreksi akibat gangguan
samping dan jarak gangguan
Kelas Gangguan samping pada kereb
Tipe Jalan
Samping
Jarak: kereb-gangguan samping
≤ 0,5 1,0 1,5 ≥ 2,0
4-lajur 2-arah Sangat tinggi 0,95 0,97 0,99 1,01
berpembatas median Rendah 0,94 0,96 0,98 1,00
(4/2 D) Sedang 0,91 0,94 0,95 0,98
Tinggi 0,86 0,89 0,92 0,95
Sangat tinggi 0,81 0,85 0,88 0,92
4-lajur 2-arah tanpa Sangat tinggi 0,95 0,97 0,99 1,01
berpembatas median Rendah 0,93 0,95 0,97 1,00
(4/2 UD) Sedang 0,90 0,92 0,95 0,97
Tinggi 0,84 0,87 0,90 0,93
Sangat tinggi 0,77 0,81 0,85 0,90
2-lajur 2-arah tanpa Sangat tinggi 0,94 0,95 0,97 0,99
berpembatas median Rendah 0,90 0,92 0,95 0,97
(2/2 UD) atau jalan Sedang 0,86 0,88 0,91 0,94
satu arah Tinggi 0,78 0,81 0,84 0,88
Sangat tinggi 0,68 0,72 0,77 0,82
Sumber: MKJI (1997)
Jalan Ahmad Yani di kategorikan sebagai jalan 2-lajur 2-arah tanpa
berpembatas median dengan kelas gangguan samping tinggi dan jarak kereb-
gangguan samping adalah 1,0 meter.

5) Faktor koreksi kapasitas akibat ukuran kota (FCCS)


Ukuran kota adalah jumlah penduduk yang ada di dalam suatu kota. Di
dalam Manual Kapasitas Jalan Indonesia, ukuran kota dibagi menjadi lima
kelas, yakni sebagai berikut:
Tabel 7. Faktor koreksi kapasitas akibat ukuran kota FCCS
Ukuran kota (juta Faktor koreksi untuk
penduduk) ukuran kota
< 0,1 0,86
0,1 – 0,5 0,90
0,5 – 1,0 0,94
1,0 – 1,3 1,00
> 1,3 1,03
Sumber: MKJI (1997)
Koridor Jalan Ahmad Yani secara administratif merupakan bagian dari Kota
Pekanbaru, sehingga koreksi kapasitas akibat ukuran kota-nya, mengacu pada jumlah
penduduk Kota Pekanbaru. Adapun jumlah penduduk di Kota Pekanbaru dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 8. Jumlah Penduduk Kota Pekanbaru tahun 2014
No. Kabupaten/kota Jumlah Penduduk (jiwa)
1. Pekanbaru 1.011.467
Sumber: Pekanbaru Dalam Angka, 2015
Dari tabel diatas diketahui jumlah penduduk Kota Pekanbaru adalah
1.011.467 jiwa, sehingga nilai koreksi kapasitas akibat ukuran kotanya adalah
sebesar 1,00.
D. Volume Arus Lalu Lintas
Volume lalu lintas adalah banyaknya kendaraan yang melewati suatu titik atau
garis tertentu pada suatu penampang melintang jalan. Data pencacahan volume
lalu lintas adalah informasi yang diperlukan untuk fase perencanaan, desain,
manajemen sampai pengoperasian jalan (Sukirman 1994).
Menurut Sukirman (1994), volume lalu lintas menunjukan jumlah kendaraan
yang melintasi satu titik pengamatan dalam satu satuan waktu (hari, jam, menit).
Sehubungan dengan penentuan jumlah dan lebar jalur, satuan volume lalu lintas yang
umum dipergunakan adalah lalu lintas harian rata-rata, volume jam perencanaan dan
kapasitas.
Adapun volume kendaraan di Jalan Ahmad Yani dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
E. Indeks Tingkat Pelayanan
Tingkat pelayanan jalan atau level of service (LOS) merupakan istilah yang
digunakan untuk menyatakan kualitas pelayanan yang disediakan oleh suatu jalan
dalam kondisi tertentu. Penilaian tingkat pelayanan jalan dilihat dari aspek
perbandingan antara volume lalu lintas dengan kapasitas jalan, dimana volume
merupakan gambaran dari kebutuhan terhadao arus lalu lintas sedangkan kapasitas
merupakan gambaran dari kemampuan jalan untuk melewatkan arus lalu lintas.
Adapun standar nilai tingkat pelayanan jalan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 11. Standar Nilai Tingkat Pelayanan
Indeks Tigkat Kecepatan
Status
Kategori Kondisi Pelayanan rata-rata
Pelayanan
Jalan (Km/jam)
A Volume rendah dan 0.00 – 0.20 Arus Bebas > 48,00
kecepatan tinggi, pengemudi
dapat memilih kecepatan
yang dikehendaki
B Kecepatan sedikit terbatas 0.21 – 0.40 Arus Stabil 40,00 – 48,00
oleh lalu lintas, pengemudi
masih dapat bebas dalam
memilih kecepatannya.
C Kecepatan dikontrol oleh 0.41 – 0.60 Arus Stabil 32,00 – 40,00
keadaan lalu lintas
D Kecepatan rendah dan 0.61 – 0.80 Arus Mulai 25,60 – 32,00
berbeda-beda, volume Tidak
mendekati kapasitas Stabil
E kecepatan rendah dan 0.81 – 1.00 Arus Tidak 22,40 – 25,60
berbeda-beda, volume Stabil
mendekati kapasitas
F kecepatan rendah, volume > 1 atau Arus 00,00 – 22,40
diatas kapasitas, sering bernilai negatif Terhambat
terjadi kemacetan pada
waktu yang cukup lama.
Sumber: MKJI, 1997

Adapun kondisi dari masing-masing tingkat pelayanan ini adalah:


1) Tingkat Pelayanan A
Dengan kondisi:
 Arus bebas dengan volume lalu lintas rendah dan kecepatan tinggi;
 Kepadatan lalu lintas sangat rendah dengan kecepatan yang dapat
dikendalikan oleh pengemudi berdasarkan batasan kecepatan
maksimum/minimum dan kondisi fisik jalan;
 Pengemudi dapat mempertahankan kecepatan yang diinginkannya
tanpa atau dengan sedikit tundaan.
2) Tingkat Pelayanan B
Dengan kondisi:
 Arus bebas dengan volume lalu lintas sedang dan kecepatan mulai
dibatasi oleh kondisi lalu lintas;
 Kepadatan lalu lintas rendah hambatan internal lalu lintas belum
memengaruhi kecepatan;
 Pengemudi masih punya cukup kebebasan untuk memilih
kecepatannya dan lajur jalan yang digunakan.
3) Tingkat Pelayanan C
Dengan kondisi:
 arus stabil tetapi kecepatan dan pergerakan kendaraan dikendalikan
oleh volume lalu lintas yang lebih tinggi;
 kepadatan lalu lintas sedang karena hambatan internal lalu lintas
meningkat;
 pengemudi memiliki keterbatasan untuk memilih kecepatan, pindah
lajur atau mendahului.
4) Tingkat Pelayanan D
Dengan kondisi:
 arus mendekati tidak stabil dengan volume lalu lintas tinggi dan
kecepatan masih ditolerir namun sangat terpengaruh oleh perubahan
kondisi arus;
 kepadatan lalu lintas sedang namun fluktuasi volume lalu lintas dan
hambatan temporer dapat menyebabkan penurunan kecepatan yang
besar;
 pengemudi memiliki kebebasan yang sangat terbatas dalam
menjalankan kendaraan, kenyamanan rendah, tetapi kondisi ini masih
dapat ditolerir untuk waktu yang singkat.
5) Tingkat Pelayanan E
Dengan kondisi:
 arus lebih rendah daripada tingkat pelayanan D dengan volume lalu
lintas mendekati kapasitas jalan dan kecepatan sangat rendah;
 kepadatan lalu lintas tinggi karena hambatan internal lalu lintas tinggi;
 pengemudi mulai merasakan kemacetan-kemacetan durasi pendek.
6) Tingkat Pelayanan F
Dengan kondisi:
 arus tertahan dan terjadi antrian kendaraan yang panjang;
 kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan volume sama dengan kapasitas
jalan serta terjadi kemacetan untuk durasi yang cukup lama;
 dalam keadaan antrian, kecepatan maupun arus turun sampai 0.
F. Perhitungan Indeks Tingkat Pelayanan Koridor
1) Kapasitas Jalan
Adapun karakteristik untuk Jalan Jenderal Ahmad Yani adalah:
Lokasi Jalan : Jalan Jendral Ahmad Yani, simpang Jalan Pangeran
Hidayat, Pekanbaru
Tipe Jalan : Jalan 2 jalur tanpa pembatas median
Lebar Jalan : 9 meter (dua arah)
Lebar median : tanpa median
Gangguan Samping : Tinggi
Jarak kereb-gangguan samping : 1,0 meter
Data TGL : Daerah kawasan pendidikan, perdagagan dan jasa
yang dilalui oleh angkutan umum.
Jumlah Penduduk : 1 juta penduduk
Tabel 12. Perhitungan kapasitas ruas pergerakan ke arah utara
No. Parameter Kondisi Nilai
1. Kapasitas Dasar (C0) 2/2 UD 2900
2. Fk lebar Jalan 9 meter (dua arah) 1,25
3. Fk gangguan samping Gangguan samping: tinggi 0,81
(FCsf) Jarak kereb-gangguan samping: 1,0 m
4. Fk pembagian arah 1 arah 1,00
5. Fk ukuran kota 1 juta pddk 1,00
C 2936
Sumber: Hasil Analisis, 2016

Tabel 13. Perhitungan kapasitas ruas pergerakan ke arah selatan


No. Parameter Kondisi Nilai
1. Kapasitas Dasar (C0) 2/2 UD 2900
2. Fk lebar Jalan 9 meter (dua arah) 1,25
3. Fk gangguan samping Gangguan samping: tinggi 0,81
(FCsf) Jarak kereb-gangguan samping: 1,0 m
4. Fk pembagian arah 1 arah 1,00
5. Fk ukuran kota 1 juta pddk 1,00
C 2936
Sumber: Hasil Analisis, 2016
2) Volume Arus
Perhitungan volume arus ini menggunakan volume tertinggi dari
masing-masing arah utara dan selatan, baik di hari libur maupun hari kerja
yang di dapat dari hasil traffic counting. Diketahui bahwa, dari arah utara,
volume kendaraan tertinggi adalah pada saat hari kerja dengan jam puncak
pkl. 12.00 – 13.00. Sedangkan dari arah selatan, volume kendaraan tertinggi
adalah pada hari kerja dengan jam puncak pkl. 17.00 – 18.00.
a. Arah Utara
Tabel 14. Volume Kendaraan Tertinggi dari Arah Utara

Jenis Kendaraan Volume Asumsi


Motorcycle 1657 828,5
Light Vehicle 636 636
Medium Heavy Vehicle 2 3
Large Bus 0 0
Large truck 3 6
Non Motorized Vehicle 1 0,5
Jumlah 1474
Sumber: Hasil Analisis, 2016
b. Arah Selatan
Tabel 15. Volume Kendaraan Tertinggi dari Arah Selatan

Jenis Kendaraan Volume Asumsi


Motorcycle 1547 773,5
Light Vehicle 526 526
Medium Heavy Vehicle 3 4,5
Large Bus 0 0
Large truck 3 6
Non Motorized Vehicle 5 2,5
Jumlah 1313
Sumber: Hasil Analisis, 2016
3) Volume Capacity Ratio (VCR)
Volume Capacity Ratio (VCR) merupakan perbandingan antara
volume kendaraan yang melintas dengan kapasitas pada suatu ruas jalan
tertantu. Besarnya volume lalu lintas diperoleh berdasarkan survey yang
dilakukan, sedangkan besarnya kapasitas diperoleh dari lingkungan ruas jalan
dan survey yang meliputi tipe jalan, lebar jalan, gangguan samping dan lain-
lain.
Untuk melihat nilai VCR di Jalan Jenderal Ahmad Yani dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 16. Nilai VCR di Jalan Jenderal Ahmad Yani
Arah Volume Kapasitas VCR
Utara 1474 2936 0,50
Selatan 1313 2936 0,45
Sumber: Hasil Analisis, 2016
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai VCR dari arah utara lebih
tinggi daripada arah selatan, hal inipun dikarenakan volume kendaraan yang
datang dari arah utara lebih tinggi dibandingkan arah selatan.
4) Indeks Tingkat Pelayanan Koridor
Adapun tingkat pelayanan di koridor Jalan Ahmad Yani dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.
Tabel 17. Indeks Tingkat Pelayanan di Koridor Jalan Jenderal Ahmad Yani
Arah VCR Kecepatan
ITP Status Pelayanan
(Km/jam)
Utara 0,50 C Arus Stabil 32,00 – 40,00
Selatan 0,45 C Arus Stabil 32,00 – 40,00
Sumber: Hasil Analisis, 2016
Dari tabel diatas terlihat jelas bahwa dari kedua segmen (utara dan
selatan), tingkat pelayanan koridor Jalan Jenderal Ahmad Yani berada pada
level C yang status pelayanannya adalah arus stabil dengan kecepatan rata-
rata 32,00 – 40,00 km/jam.
Jika dilihat kondisi eksisiting pada segmen utara yang jam puncaknya
adalah pkl. 12.00 – 13.00 di hari kerja, kecepatan rata-rata kendaraan adalah
35 km/jam. Kendaraan yang melintas dapat melalui koridor jalan dengan arus
stabil meskipun dengan kecepatan yang rendah karena volume kendaraan
yang mulai meningkat. Dapat dikatakan bahwa kecepatan kendaraan yang
melintas mulai dikendalian oleh keadaan lalu lintas.
Sedangkan pada segmen selatan, jam puncak terjadi pada pukul 17.00
– 18.00 di hari kerja. Dapat dikatakan bahwa tingginya volume kendaraan
merupakan arus balik oleh utara. Tidak jauh berbeda dari segmen utara,
kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas adalah 35 km/jam. Seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya, keadaan arus lalu lintas adalah stabil tetapi
kecepatan dan pergerakan kendaraan dikendalikan oleh volume lalu lintas
yang lebih tinggi.
Jika dibandingkan kecepatan rata-rata kondisi eksisiting dan kecepatan
rata-rata menurut ITP-nya, terlihat jelas bahwa kecepatan kendaraan tidak
jauh berbeda. Kedua segmen jalan tingkat pelayanannya berada pada level C
dengan kecepatan rata-rata 32-40 km/jam, dan kecepatan berdasarkan kondisi
eksisitingnya adalah 35 km/jam. Artinya, pengamatan lapangan dan hasil
perhitungan ITP pada ruas Jalan Jenderal Ahmad Yani dapat dikatakan
relevan.
G. Rekomendasi

Adapun rekomendasi yang diajukan adalah:


1) Secara makro, diperlukan adanya angkutan massal berkapasitas besar yang
aman dan nyaman.
2) Peningkatan pelayanan angkutan umum.
3) Para pemilik toko yang berada di sepanjang Jalan Jenderal Ahmad Yani
sebaiknya menyediakan lahan parkir yang memadai sehingga tidak terjadi
parkir liar yang memakan trotoar dan badan jalan.
4) Karena keterbatasan lahan dan tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan
pelebaran jalan, perlu dilakukan berbagai upaya untuk pengoptimalan
kapasitas jalan seperti Penertiban parkir liar dan sebagainya.