Anda di halaman 1dari 108
Peraturan Zonasi 8.1. Peraturan Zonasi Peraturan Zonasi pada dasarnya merupakan aturan yang disusun guna mengendalikan
Peraturan Zonasi 8.1. Peraturan Zonasi Peraturan Zonasi pada dasarnya merupakan aturan yang disusun guna mengendalikan
Peraturan Zonasi 8.1. Peraturan Zonasi Peraturan Zonasi pada dasarnya merupakan aturan yang disusun guna mengendalikan
Peraturan Zonasi 8.1. Peraturan Zonasi Peraturan Zonasi pada dasarnya merupakan aturan yang disusun guna mengendalikan
Peraturan Zonasi 8.1. Peraturan Zonasi Peraturan Zonasi pada dasarnya merupakan aturan yang disusun guna mengendalikan

Peraturan Zonasi

8.1. Peraturan Zonasi

Peraturan Zonasi pada dasarnya merupakan aturan yang disusun guna

mengendalikan kegiatan dan bentuk bangunan di wilayah perencanaan. Sebagai

instrumen pengendalian, peraturan zonasi harus memiliki ketegasan dan ketepatan dalam

penetapan teks zonasi atau zoning text-nya.

8.1.1. Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan

Daftar kegiatan adalah daftar seluruh kegiatan yang sudah terjadi dan prospektif

untuk terjadi di masa depan. Dengan demikian, isi daftar kegiatan meliputi kegiatan yang

sudah ada dan kegiatan yang potensial untuk ada di wilayah perencanaan. Terkait

penggunaan lahan. Daftar kegiatan ini akan disilangkan dengan klasifikasi zonasi, untuk

menemukan kegiatan manakah yang boleh dilakukan dan kegiatan mana yang tidak

boleh dilakukan di kawasan/zona tertentu. Boleh tidaknya pemanfaatan ruang untuk

sebuah hirarki peruntukan tanah ditunjukkan dengan 4 indikator, seperti yang ditunjukkan

pada Tabel berikut ini:

Tabel 8.1 Deskripsi Indikator Pemanfaatan Ruang

Simbol

Deskripsi

 

Pemanfaatan diizinkan, karena sifatnya sesuai dengan peruntukan tanah yang

I

direncanakan. Hal ini berarti tidak akan ada peninjauan atau pembahasan atau tindakan lain dari Pemerintah Kabupaten Bantul terhadap pemanfaatan tersebut.

 

Pemanfaatan diizinkan secara terbatas. Pembatasan dilakukan melalui penentuan

T

standar pembangunan minimum, pembatasan pengoperasian, atau peraturan tambahan lainnya yang berlaku di wilayah Kabupaten Bantul.

 

Pemanfaatan memerlukan izin penggunaan bersyarat. Izin ini sehubungan dengan

B

usaha menanggulangi dampak pembangunan di sekitarnya (menginternalisasi dampak); dapat berupa AMDAL, RKL dan RPL.

 

Pemanfaatan yang tidak diizinkan. Karena sifatnya tidak sesuai dengan peruntukan

X

lahan yang direncanakan dan dapat menimbulkan dampak yang cukup besar bagi lingkungan di sekitarnya.

Sumber : Hasil Analsis Studio, 2014

Berikut adalah teks zonasi yang berlaku bagi kegiatan yang memiliki huruf B dan T

di Matriks Indikator pemanfaatan ruang:

a. Zona Perumahan

1)

Pemanfaatan ruang untuk kegiatan komersial dan kegiatan pendidikan komersial seperti LPK dan Bimbel tidak boleh di atas 25% KDB kavling

atau tidak boleh di atas 25 m2 dengan luas total maksimal dalam satu sub- blok adalah 250 m2 dan jumlah dan distribusi sesuai dengan standar sarana perumahan kota. 2) Kegiatan kesehatan diperbolehkan dengan batasan luasan seperti kegiatan komersial, penyediaan parkir, serta untuk praktek dokter serta bidan memiliki surat izin praktek.

3) Kegiatan pendidikan usia dini dan sekolah dasar diperbolehkan dengan

luas maksimal 1500 m2 untuk setiap PAUD dan 6000 m2 untuk setiap SD

dengan jumlah dan luas minimum mengikuti standar minimum kebutuhan

sarana kota untuk perumahan

4) Kegiatan yang membangkitkan kebutuhan parkir seperti warnet,

minimart/toko, restoran/warung makan, perkantoran, LPK bimbel dan

lainnya harus menyediakan parkir sesuai dengan ketentuan standar

penyediaan parkir yang ada di bagian lain dari laporan ini. Kegiatan

prasarana telekomunikasi seperti BTS, STO dan Menara Jaringan Internet

harus dibangun dengan mengikuti ketentuan yang ada di bagian lain dari

laporan ini.

b. Zona Perdagangan dan Jasa

1) Kegiatan perdagangan dan jasa tunggal dimaksudkan untuk

mengakomodasi kegiatan yang membutuhkan lahan yang luas seperti

restoran besar dan pertokoan besar. Kegiatan perumahan sangat

diminimalisir, dibolehkan dengan luasan yang tidak mencapai 20% lahan.

Kegiatan perdagangan dan jasa skala kecil juga tidak diperbolehkan di

zona ini. Kegiatan SPBU masih diperbolehkan dengan persyaratan dan

perijinan yang menyangkut keselamatan wilayah sekitar. Perkantoran

diperbolehkan dengan syarat kantor tersebut merupakan bagian dari

kegiatan perdagangan dan jasa di zona tersebut.

2) Kegiatan perdagangan dan jasa deret ditujukan untuk mengakomodasi

kegiatan perdagangan dan jasa yang diperlukan di permukiman yang lebih

kecil. Rencana zona yang ada diarahkan untuk mengakomodasi

permukiman baru dan megakomodasi kegiatan yang sudah ada.

c. Zona Pelayanan Umum

1) Zona pendidikan dibatasi untuk kegiatan pendidikan. Kegiatan perumahan

dibolehkan untuk rumah dinas guru atau penjaga sekolah. Kegiatan

pendukung seperti penjualan makanan untuk jajan dan alat-alat sekolah

diperbolehkan secara terbatas.

2) Zona transportasi sangat spesifik untuk kegiatan transportasi terkait.

Terminal dipergunakan untuk mengakomodasi kegiatan perdagangan dan

jasa yang terkait dengan transportasi yang tergabung dalam rest area.

3) Zona olahraga dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga. Kegaitan pendukung olahraga seperti toko olahraga dan penjualan makanan serta minuman diperbolehkan.

d. Zona Perkantoran Zona perkantoran pemerintah memang diperuntukkan perkantoran pemerintah. Namun demikian, perkantoran swasta dan perkantoran masyarakat diperbolehkan untuk menempati zona perkantoran. Kegiatan pendukung perkantoran seperti warung diperbolehkan secara terbatas.

e. Zona Perindustrian Zona perindustrian diperuntukkan kegiatan industri secara khusus. Kegiatan yang terkait dengan perubahan shift seperti bubaran pabrik dan tempat penjemputan tidak boleh mengganggu lalu lintas di jalan arteri primer.

f. Zona Peruntukan Lainnya Zona pertanian meliputi segala jenis pertanian yang tidak mengganggu kegiatan resapan air. Kegiatan permukiman diperbolehkan dengan syarat bahwa lahan sawah tidak boleh kurang dari luasan LP2B yang telah ditetapkan. Karena luasan LP2B saat ini belum ditetapkan per desa/kecamatan, perubahan lahan sawah harus dikendalikan. Kegiatan permukiman baru boleh dilakukan bila zona utk melakukan kegiatan permukiman tersebut sudah tidak mencukupi.

Satu peraturan yang akan diaplikasikan secara umum adalah bahwa kegiatan yang ada saat ini diperlukan transisi untuk berubah menjadi sesuai dengan peraturan zonasi. Bila arah perkembangan adalah menuju negatif (bahwa lahan terbangun harus dihancurkan) maka perubahan zona ini ditangguhkan namun harus dipenuhi dalam jangka waktu sebelum revisi RDTR berikutnya. Hal ini tidak berlaku untuk kegiatan yang ada di zona lindung. Pemantapan zona lindung akan dilakukan sesegera mungkin namun dengan diikuti prinsip partisipatif, pemberian pemahaman, kebijaksanaan serta keadilan.

8.1.2. Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang

Intensitas pemanfaatan ruang adalah besaran pembangunan yang diperbolehkan berdasarkan batasan KDB, KLB, KDH atau kepadatan penduduk yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan yang serasi. Intensitas pemanfaatan ruang diperhitungkan atas area perencanaan berupa unit-unit pemilikan tanah yang merupakan

gabungan atau pemecahan dari perpetakan atau persil.

a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 1) Perhitungan luas lantai adalah jumlah perhitungan luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar.

2) Luas lantai ruangan beratap yang mempunyai dinding lebih dari 1,20 m dihitung 100%.

Luas lantai beratap yang bersifat terbuka atau mempunyai dinding tidak lebih dari 1,20 m, dihitung 50% selama tidak melebihi 10% dan luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan.

4) Overstek atap yang melebihi 1,50 m maka luas mendatar kelebihannya

3)

5)

dianggap sebagai lantai denah. Teras tidak beratap yang mempunyai dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas

lantai teras, tidak diperhitungkan.

6) Untuk perhitungan luas lantai di bawah tanah diperhitungkan seperti luas lantai di atas tanah dengan batasan Koefisien Tapak Besmen yang telah ditetapkan.

Luas ruang bawah tanah (besmen) melewati batas-batas area perencanaan

atau berada di bawah prasarana kota atau di bawah ruang terbuka publik ditentukan lebih lanjut dengan Surat Keputusan Bupati. 8) Luas lantai bangunan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan

KLB asal tidak melebihi dari 50% KLB yang telah ditetapkan. Jika melebihi, maka diperhitungkan 50% terhadap KLB. Bangunan Khusus untuk parkir yang bukan merupakan bangunan pelengkap, luas lantainya diperbolehkan mencapai 200% dari KLB yang ditetapkan dan perletakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Koefisien Dasar Hijau Koefisien Dasar Hijau yang selanjutnya disebut KDH adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan jumlah lahan terbuka untuk penanaman tanaman dan atau peresapan air terhadap luas tanah/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang. Ketentuan umum mengenai KDH adalah sebagai berikut:

1) Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan penuntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/ padat. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah.

Untuk perhitungan KDH secara umum, digunakan rumus 100 % - (KDB + 20%

KDB). 3) Ruang Terbuka Hijau yang termasuk dalam KDH sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/penanaman di atas tanah. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTH sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah, tidak di dalam wadah/kontainer kedap air.

2)

7)

9)

4) KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap luas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan, dimana terdapat beberapa luas bangunan dan kawasan campuran. Koefisien dasar hijau ditetapkan dengan angka minimal 30% untuk daerah-daerah non-padat.

8.1.3. Ketentuan Tata Massa Bangunan Tata massa bangunan terdiri dari ketinggian bangunan, garis sempadan jalan dan

bangunan, serta jarak bebas.

a. Ketinggian Bangunan Ketinggian bangunan adalah jumlah lantai penuh suatu bangunan dihitung dari lantai dasar sampai dengan lantai tertinggi. Sedangkan yang dimaksud dengan tinggi bangunan adalah jarak dari lantai dasar sampai dengan puncak atap bangunan yang dinyatakan dalam meter. Ketinggian lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai 1,2 m di atas tinggi rata-rata tanah atau jalan di sekitamya. Jika pada sebuah area perencanaan terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar, maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan berdasarkan jalan masuk utama ke persil, dengan memperhatikan keserasian lingkungan. Apabila sebuah persil berada dibawah titik ketinggian bebas banjir,

maka tinggi lantai dasar ditetapkan setinggi 1,2 m dari titik ketinggian bebas banjir yang telah ditetapkan. Perhitungan ketinggian sebuah bangunan ditentukan sbb:

Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi dan bentuk arsitektural bangunannya.

Jarak vertikal lantai bangunan ke lantai berikutnya maksimal 5 m disesuaikan dengan fungsi bangunannya (kecuali bangunan ibadah, industri, gedung olah raga, bangunan monumental, dan bangunan gedung serba guna).

Lantai mesanin dihitung dalam ketentuan intensitas ruang.

Penggunaan rongga atap diperhitungkan dalam ketentuan intensitas ruang.

b. Garis Sempadan Jalan dan Bangunan serta Jarak Bebas Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disebut GSB adalah garis yang tidak boleh dilampaui oleh denah bangunan ke arah GSJ yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Kota. Garis Sempadan Jalan yang selanjutnya disebut GSJ adalah garis rencana jalan yang ditetapkan datam rencana yang sama. Ketentuan

mengenai GSB dan GSJ adalah sbb:

Ruang terbuka di antara GSJ dan GSB harus digunakan sebagai unsur penghijauan atau daerah resapan air hujan dan atau utilitas umum dan atau jalur pejalan.

Untuk kawasan pusat kota, ruang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas penunjang seperti kedai tempat makan/minum, pos keamanan berupa bangunan sementara. Atau bisa juga sebagai tempat parkir dengan tetap menyediakan jalur pejalan kaki minimal 50% dari keseluruhan ruang terbuka tersebut.

Penggunaan-penggunaan tersebut harus memenuhi ketentuan dan standar yang berlaku tanpa mengurangi persyaratan unsur penghijuan dan atau daerah resapan air hujan.

Perhitungan GSB menggunakan rumus untuk RUMIJA yang lebih besar dari 8 m sama dengan 0,5 kali lebar RUMIJA ditambah 1 m. Untuk RUMIJA yang kurang dari 8 m, GSB sama dengan 0,5 kali lebar RUMIJA. Selain harus memenuhi persyaratan untuk GSB dan GSJ, tata letak bangunan harus memenuhi ketentuan tentang jarak bebas, atau lazim dikenal dengan GSB samping dan belakang. Ketentuan mengenai jarak bebas ini ditentukan oleh jenis peruntukan tanah dan ketinggian bangunan baik untuk bangunan di atas tanah maupun di bawah tanah atau basemen. Ketentuan mengenai jarak bebas adalah sebagai berikut:

Pada bangunan renggang, jarak bebas samping maupun belakang ditetapkan 4 m pada lantai dasar, dan pada setiap penambahan lantai, jarak bebas di atasnya ditambah 0,5 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 15 m. Ketentuan ini berlaku untuk bangunan selain bangunan rumah tinggal dan bangunan industri.

Pada bangunan industri dan pergudangan renggang, ditetapkan jarak bebasnya adalah 5 m pada lantai dasar, dan setiap penambahan lantai, jarak bebas di atasnya ditambah 0,5 m dari jarak bebas lantai dibawahnya.

Jarak bebas bangunan renggang pada kawasan cagar budaya atau kawasan khusus diatur dalam ketentuan mengenai cagar budaya atau kawasan khusus.

Untuk bangunan berderet/rapat, jarak bebas diperkenankan tidak ada sampai dengan lantai ke delapan, setelah lantai ke delapan maka untuk lantai selanjutnya ditambah 0,5 m dari jarak bebas lantai dibawahnya. Ketentuan ini tidak berlaku untuk bangunan rumah tinggal.

8.1.4. Ketentuan Sarana dan Prasarana Minimal

a. Penyediaan Jalur Pejalan Ketentuan mengenai jalur pejalan kaki adalah sebagai berikut:

1) Jalan untuk orang berlalu lalang pada trotoar dan di dalam persil dibedakan berdasarkar jalur pejalan yang bersifat terbuka dan jalur pejalan yang berada di bawah bangunan dalam bentuk teritisan dan arkade yang berfungsi sebagai ruang publik.

2) Jalur pejalan merupakan komponen yang penting pada penataan kawasan. Untuk dapat menciptakan fasilitas jalur pejalan yang optimal maka berbagai fasilitas kelengkapan jalur pejalan seperti lansekap, lampu jalan, trotoar dan sebagainya harus disiapkan dengan baik. Sistem sirkulasi pejalan kaki ini juga perlu menyediakan jalur bagi pemakai kursi roda dengan aman dan nyaman serta memenuhi faktor kemampuan manusia. 3) Jalur utama jalur pejalan harus telah mempertimbangkan sistem jalur pejalan secara keseluruhan, aksessibilitas terhadap subsistem jalur pejalan dalam

lingkungan dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. 4) Jalur pejalan harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. 5) Penataan jalur pejalan harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan, manusiawi, aman, nyaman dan memberikan pemandangan yang menarik. 6) Jalur pejalan terdiri atas jalur pejalan di dalam suatu kawasan dan jalur jalur pejalan di pinggir jalan.

Jalur jalur pejalan di dalam suatu kawasan disiapkan terutama untuk menghubungkan antar satu kegiatan dengan kegiatan lainnya di dalam lokasi kawasan.

Jalur jalur pejalan dipinggir jalan disiapkan di sisi semua jalan yang ada di kawasan perencanaan. 7) Dimensi jalur pejalan pada teritisan ditetapkan minimal 1,50 m dan arkade ditetapkan minimal 2,50 m yang disesuaikan dengan pergerakan orang berdasarkan yang terjadi di lingkungan tersebut. 8) Sistem sirkulasi bagi penjalan kaki pada kawasan perencanaan terdiri atas kaki primer dan kaki sekunder. Sirkulasi pejalan kaki dapat melewati daerah hijau, jembatan penyebrangan atau terowongan bawah tanah, bahkan dapat menembus bangunan bila dirasakan perlu. 9) Untuk menghubungkan antar satu lokasi kegiatan dengan kegiatan lain dapat disiapkan jalur jalur pejalan yang berupa jembatan penyeberangan. Jembatan penyeberangan merupakan salah satu fasilitas jalur pejalan yang diperlukan untak berpindah dari satu zona ke zona lain yang dipisahkan oleh jalan raya. Manfaat jembatan penyeberangan selain keamanan jalur pejalan adalah juga suatu usaha untuk menghindarkan terjadinya perlambatan lalu lintas yang disebabkan oleh adanya penyeberangan jalan. Jembatan penyeberangan ini disediakan pada jalur jalan kendaraan dengan intensitas kendaraan tinggi atau minimal 1.500 smp/am dan berdasarkan kepadatan penyeberang.

10) Jalur pejalan melintas jalan yang berbentuk Terowongan Bawah Tanah (TBT)

harus disediakan pada jalur jalan kendaraan dengan intensitas kendaraan tinggi

atau minimal 1.500 smp/am dan berdasarkan kepadatan penyeberang.

11) Peruntukkan lantai dasar bangunan yang menghadap ke jalur pejalan kaki ini

harus mampu merangsang tumbuhnya kegiatan bagi pejalan kaki serta

memberikan pengalaman ruang dan pemandangan yang menarik. Elemen-elemen

perancangan jalur pejalan (street furniture) yang dianjurkan harus berorientasi

pada kepentingan pejalan kaki, seperti etalase toko (showcase windows), daerah

masuk ke bangunan, cafe, dll. Untuk menciptakan tingkat kenyamanan yang

tinggi, jalur jalur pejalan dapat dilengkapi pula dengan fasilitas pelindung seperti

arkade atau markis terutama disepanjang kegiatan komersil.

b. Ketentuan Penyediaan jalan

Sistem perencanaan jaringan jalan yang terdapat di Kecamatan Sedayu mengacu

kepada hirarki jalan

Tabel 8.2. Sistem Perencanaan Jaringan Jalan

No

Hierarki jalan

Kecepatan

kendaraan

Lebar

badan

GSJ terhadap

bangunan (m)

(km/jam)

jalan (m)

1

Kolektor primer

≥40

≥7

≥17

2

Lokal primer

≥20

≥6

≥12

1) Secara umum sistem jaringan jalan dalam suatu kawasan harus menunjukkan

adanya pola jaringan jalan yang jelas antara jalan-jalan utama dengan jalan

kolektor/lokalnya, sehingga orientasi dari kawasan-kawasan fungsional yang ada

dapat terstruktur.

2) Fungsi penghubung dalam peranan jaringan jalan pada suatu kawasan

ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul.

Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian, penghijauan,

dan ruang terbuka umum.

3)

4) Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan

yang tidak hanya terbatas dalam RUMIJA dan termasuk untuk penataan elemen

lingkungan, penghijauan, dan lain-lain.

5) Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas

lingkungan yang dikehendaki, dan kejelasan kontinuitas pedestrian.

Tabel 8.3. Fungsi Klasifikasi Jalan

   

Jenis gerakan yang dilayani

Penanganan akses yang diinginkan

Penanganan

No

Klasifikasi

desain yang

diinginkan

1

Kolektor primer

Keseimbangan antara lalu lintas terusan dan lalu lintas akses, lalu lintas terusan tidak digiatkan

Akses langsung, penggunaan bagian depan jalan terkendali

Persimpangan jalan 2-4 jalur tidak terkontrol

2

Lokal

Lalu lintas akses saja,bidang tanah atau pembangunan perorangan

Akses langsung

 

8.1.5. Ketentuan Pelaksanaan

Dari pengamatan di lapangan terdapat kecenderungan-kecenderungan

pembangunan yang berpotensi menyimpang dari rencana pemanfaatan ruang. Untuk

memberikan keluwesan penerapan aturan zonasi maka perlu dilakukan pemilihan Teknik

Pengaturan Zonasi. Teknik Pengaturan Zonasi adalah varian dari zoning konvensional.

Setiap Teknik mempunyai karakteristik, tujuan, konsekuensi dan dampak yang berbeda.

Oleh karena itu pemilihannya harus dilakukan secara hati-hati dan cermat agar tujuan

pengaturan zonasi tetap dapat dicapai. Alternatif Teknik Pengaturan Zonasi yang dapat

diterapkan adalah:

1. Bonus/ incentive Zoning

Bonus/ incentive Zoning adalah izin peningkatan intensitas dan kepadatan

pembangunan (tinggi bangunan, luas lantai) yang diberikan kepada pengembang

dengan imbalan penyediaan fasilitas publik (arcade, plaza, pengatapan ruang

pejalan, peninggian jalur pejalan atau bawah tanah untuk memisahkan pejalan dan

lalu-lintas kendaraan, ruang bongkar-muat off-street untuk mengurangi kemacetan

dll) sesuai dengan ketentuan yang berlalu. Kelemahan: teknik ini dapat menyebabkan

bengunan berdiri sendiri di tengah plaza, memutuskan shopping frontage, dll.

2. Performance Zoning

Performance Zoning adalah ketentuan pengaturan pada satu atau beberapa blok

peruntukan yang didasarkan pada kinerja tertentu yang ditetapkan. Performace

zoning harus diikuti dengan standar kinerja (performance standards) yang mengikat

(misalnya tingkat LOS (Level of Service, Tingkat Pelayanan) jalan minimum, tingkat

pencemaran maksimum, dll).

3. Fiscal Zoning

Fiscal Zoning adalah ketentuan/aturan yang ditetapkan pada satu atau beberapa blok

peruntukan yang berorientasi kepada peningkatan PAD.

4. Contract Zoning Contract Zoning adalah ketentuan pembangunan yang dihasilkan melalui kesepakatan antara pemilik properti dan komisi perencana (Dinas Pekerjaan Umum atau BKPRD Kabupaten Bantul) atau lembaga legislatif (DPRD) yang dituangkan dalam bentruk kontrak berdasarkan Kitab Undangundang Hukum Perdata.

5. Negotiated Zoning Negotiated zoning adalah ketentuan pembangunan yang dilakukan berdasarkan negosiasi antar stakeholder.

6. TDR (Transfer of Development Rights) Transfer of Development Right adalah ketentuan untuk menjaga karakter kawasan setempat. Kompensasi diberikan pada pemilik yang kehilangan hak membangun atau pemilik dapat mentransfer/menjual hak membangunnya (bisasanya luas lantai bangunan) kepada pihak lain dalam satu distrik/kawasan.

7. Overlay Zone Overlay Zone adalah teknik pengaturan zonasi di mana satu atau beberapa zona yang mengacu kepada satu atau beberapa peraturan zonasi (misalnya kawasan perumahan di kawasan yang harus dilestarikan akan merujuk pada aturan perumahan dan aturan pelestarian bangunan/kawasan)

8. Floating Zone Floating Zone adalah blok peruntukan yang diambangkan pemanfaatan ruangnya, dan penetapan peruntukannya didasarkan pada kecenderungan perubahannya/perkembangannya, atau sampai ada penelitian mengenai pemanfaatan ruang tersebut yang paling tepat.

9. Flood Plain Zone Flood Plain Zone adalah ketentuan pemanfaatan ruang pada kawasan rawan banjir untuk mencegah atau mengurangi kerugian.

10. Conditional Uses Conditional Uses seringkali disebut sebagai pemanfaatan khusus, merupakan izin pemanfaatan ruang yang diberikan pada suatu zona jika kriteria atau kondisi khusus zona tersebut memungkinkan atau sesuai dengan pemanfaatan ruang yang diinginkan.

11. Growth Control Growth Control adalah pengendalian yang dilakukan melalui faktor-faktor pertumbuhan seperti pembangunan sarana dan prasarana, melalui penyediaan infrastruktur yang diperlukan, mengelola faktor ekonomi dan sosial hingga politik.

8.2.

Materi Pilihan

8.2.1. Ketentuan Tambahan

a. Ketentuan Tentang Sempadan Sungai

Penggunaan sempadan sungai baik pada wilayah terbangun maupun pada wilayah tidak terbangun diatur dalam ketentuan berikut:

1. Lebar sempadan 10 m di sepanjang kanan-kiri untuk bagian sungai yang tidak bertanggul (RTH) dan 5m untuk bagian sungai yang bertanggul (pertokoan dan perumahan).

2. Untuk Irigasi Teknis lebar sempadan sungai ditetapkan 3m di kanan kirinya untuk jalur pengawas.

3. Apabila areal sempadan tersebut di atas telah terbangun sebelum dikeluarkan ketentuan ini, maka bangunan atau elemen fisik lainnya dikenakan disinsentif melalui pelarangan ijin pengembangan lebih lanjut, pajak/retribusi yang lebih tinggi, pembatasan sarana atau mengenakan denda.

4. Apabila pada areal sempadan sungai atau irigasi teknis telah terbangun infrastruktur jalan dengan pertimbangan biaya pembangunan infrastruktur tersebut mahal, maka jalan tersebut dipertahankan dengan tetap melindungi keberadaan sungai, dengan pembuatan tanggul.

5. Bagian sungai (tepi sungai) yang terkena benturan sungai dan rawan longsor/erosi diperkeras atau dibuat pemecah arus.

dan rawan longsor/erosi diperkeras atau dibuat pemecah arus. Gambar 8.1. Sempadan Sungai 6. Kemiringan lahan yang
dan rawan longsor/erosi diperkeras atau dibuat pemecah arus. Gambar 8.1. Sempadan Sungai 6. Kemiringan lahan yang

Gambar 8.1. Sempadan Sungai

6. Kemiringan lahan yang dianjurkan untuk pengembangan areal publik antara 0- 15% kemiringan lahan lebih dari 15% perlu penanganan khusus.

7. Kegiatan yang dapat dikembangkan pada areal sempadan sungai berupa taman maupun tempat rekreasi yang dilengkapi dengan fasilitas areal bermain, tempat duduk, jogging track, perabot taman dan atau sarana olah raga.

8. Mempertahankan kealamian sungai dengan menghindari pembuatan konstruksi pada sungai kecuali pada kawasan perumahan yang memerlukan pembuatan tanggul untuk keselamatan perumahan di sekitarnya terhadap banjir. Konstruksi buatan ini tetap mempertahankan kealamian sungai.

9. Vegetasi yang diijinkan pada areal sempadan adalah diutamakan vegetasi yang memiliki akar tunjang (pohon tahunan) untuk mencegah erosi.

10. Dilengkapi dengan lampu-lampu untuk menjamin keselamatan pengunjung waktu malam setiap 10m pada tempat-tempat yang banyak dikunjungi atau sepanjang jalur sirkulasi.

b. Ketentuan Penyediaan Hidran dan Sarana Pemadam Kebakaran Keberadaan hidran di suatu lingkungan sangatlah besar artinya, khususnya bila dilihat dalam segi keselamatan. Apabila terjadi kebakaran, maka keberadan hidran ini akan sangat diperlukan sebagai sumber air bagi pemadam kebakaran. Dalam suatu kawasan idealnya dalam radius beberapa ratus meter terdapat hidran guna mempermudah dalam hal pencarian sumber air. Pada lingkungan perencanan, hidran merupakan salah satu fasilitas yang perlu disiapkan dan penyiapannya sangat dipengaruhi oleh rencana pengembangan jaringan air bersih. Lokasi hidran ini sangat dipengaruhi oleh luas daerah yang akan dilayani. Pada umumnya dalam satu kilometer pipa distribusi terdapat 4-5 buah hidran. Ketentuan dalam penempatan hidran ini adalah sebagai berikut:

1)

Sebaiknya hidran diletakkan pada jarak 60 - 180 cm dari tepi jalan.

2)

Hidran diletakkan 1 meter dari bangunan permanen.

3) Penempatan hidran diprioritaskan dipersimpangan jalan sehingga jarak jangkauannya lebih luas. Tangki persediaan air yang melayani keperluan hidran lingkungan wajib memenuhi ketentuan direncanakan dan dipasang sehingga dapat menyalurkan air dalam volume dan tekanan yang tukup untuk sistem hidran tersebut.

c. Prinsip-prinsip Perparkiran Kendaraan Bermotor Prinsip-prinsip Perparkiran Perparkiran kendaraan bermotor terdiri dari parkir di dalam halaman atau di dalam persil (off-street) dan parkir di dalam daerah milik jalan (on-street). 1) Parkir di dalam persil (off-street) Perparkiran di dalam persil (off-street)diatur berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini:

Parkir dalam persil merupakan kewajiban yang harus disediakan sesuai

dengan pemanfaatan ruang yang diisyaratkan kecuali rumah tinggal pada

peruntukan rumah taman, rumah renggang, dan rumah deret.

Pada peruntukan tanah tuang terbuka tidak diwajibkan menyediakan parkir

kecuali pada penggunaan rekreasi dan tempat pemakaman.

Parkir bersama dalam bentuk pelataran parkir, taman parkir, dan atau gedung

parkir dapat dibangun pada semua peruntukan tanah kecuali di peruntukan

lahan terbuka

Penyediaan parkir tidak boleh mengurangi daerah-daerah penghijauan, dan

harus memperhatikan kelancaran sirkulasi keluar masuk kendaraan dan

pejalan kaki, keamanan, keselamatan, kesehatan dan kenyamanan.

Untuk parkir di bawah tanah (basement) harus sedemikian rupa sehingga

memenuhi batasan KDB dan KDH yang ditetapkan, dan harus menyediakan

fasilitas parkir bawah tanah berupa: ruang tunggu, toilet, mushola, kantin dan

fasilitas lain sesuai kebutuhan.

2)

Parkir di daerah milik jalan (on-street)

Parkir di daerah milik jalan diatur berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

Parkir di daerah milik jalan, hanya diperkenankan pada:

1. Jalan lokal dan kolektor sekunder

2. Kawasan dengan penggunaan lahan sekitarnya adalah perdagangan,

jasa dan perkantoran dengan ketentuan telah menyediakan parkir

bersama (baik berupa gedung parkir maupun taman parkir).

Penyediaan parkir tidak boleh mengurangi daerah-daerah penghijauan, dan

harus memperhatikan kelancaran sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki,

keamanan, keselamatan, kesehatan dan kenyamanan.

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan untuk fasilitas parkir adalah standar

penyediaan fasilitas parkir sebagai berikut:

Tabel 8.4. Standar Penyediaan Parkir

No

Penggunaan

Standar Penyediaan Parkir

1

Pertokoan

Per 60 m 2 lantai bruto

2

Perkantoran

Per 100 m 2 lantai bruto

3

Hiburan

Per 20 m 2 lantai bruto

4

Rumah Makan

Per 20 m 2 lantai bruto

5

Bioskop

Per 10 m 2 lantai bruto

6

Olah Raga

Per 10 kursi penonton

No

Penggunaan

Standar Penyediaan Parkir

7

Serbaguna

Per 10 m 2 lantai bruto

8

lainnya

Per 60 m 2 lantai bruto

d. Ketentuan Dan Standar Pembangunan Menara Telekomunikasi Pada dasarnya, kebutuhan jaringan telekomunikasi nirkabel telah dapat dijangkau di seluruh bagian wilayah Kecamatan Sedayu. Namun demikian, pelayanan data dengan kecepatan tingkat tinggi seperti jaringan 3G, 3.5G maupun Long Term Evolution (LTE) yang dapat dipastikan menjadi standar pelayanan telekomunikasi di masa mendatang dapat memunculkan kebutuhan menara telekomunikasi yang lebih banyak. Berikut adalah pengaturan spesifik dari menara telekomunikasi tersebut. Ketentuan pembangunan menara telekomunikasi dimaksudkan untuk memberikan arah penyelenggaraan telekomunikasi sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku di samping kehandalan cakupan (coverage) frewkuensi telekomunikasi dengan tujuan meminimalkan jumlah menara telekomunikasi yang ada, dengan prioritas mengarahkan pada penggunaan/dalam penggunaan/pengelolaannya maupun penguunaan ruang kota, namun tetap menjamin kehandalan cakupan pemancaran, pengiriman dan penerimaan telekomunikasi. Pola penyebaran titik lokasi menara telekomunikasi dibagi dalam kawasan berdasarkan pola sifat lingkungan, kepadatan bangunan serta kepadatan jasa telekomunikasi. Kawasan dibagi menjadi kriteria sebagai berikut:

Kriteria kawasan I

a) Lokasi yang kepadatan bangunan bertingkat dan bangunan-bangunan serta

1)

kepadatan penggunaan/pemakaian jasa telekomunikasi padat

2)

b) Penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada pernukaan tanah hanya untuk menara tunggal, kecuali untuk kepentingan bersama beberapa operator dapat dibangun menara rangka sebagai menara bersama.

c) Menara telekomunikasi dapat didirikan di atas tanah dan di atas bangunan dengan memperhatikan keamanan, keselmatan, estetika dan keserasian lingkungan.

Kriteria Kawasan II

a) Lokasi yang kepadatan bangunan bertingkat dan bangunan-bangunan kurang padat.

b) Penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah dapat dilakukan untuk menara rangka dan menara tunggal.

c)

Menara telekomunikasi dapat didirikan di atas bangunan jika tidak

3)

dimungkunkan didirikan di atas permukaan tanah dengan memperhatikan keamanan, keselmatan, estetika dan keserasian lingkungan. Kriteria Kawasan III

a) Lokasi dimana kepadatan bangunan bertingkat dan bangunan-bangunan tidak padat.

b) Penempatan titik lokasi menara telekomunikasi pada permukaan tanah dapat dilakukan untuk menara rangka dan menara tunggal.

c) Menara telekomunikasi di atas bangunan bertingkat tidak diperbolehkan kecuali tidak dapat dihindari karena terbatasnya pekarangan tanah dengan ketentuan ketinggian disesuaikan dengan kebutuhan frekuensi telekomunikasi dengan tinggi maksimum 52 m dari permukaan tanah dengan memperhatikan keamanan, keselmatan, estetika dan keserasian lingkungan. Menara telekomunikasi dibangun sesuai kaidah penataan ruang kota, keamanan dan ketertiban, lingkungan, estetika dan kebutuhan telekomunikasi pada umumnya. Seperti disebut diatas, menara telekomunikasi diklasifikasikan dalam dua bentuk, yaitu menara tunggal dan menara rangka. Menara telekomunikasi untuk mendukung system transmisi radio microwave, apabila merupakan menara rangka yang dibangun di permukaan tanah maksimum tingginya 72 m, ditentukan hanya dapat dibangun dalam peruntukan tanah II dan peruntukan tanah III. Dilarang membangun menara telekomunikasi pada:

Lokasi pada peruntukan tanah spesifik perumahan kecuali pada peruntukan tanah perumahan renggang dengan ketentuan harus dilengkapi dengan persyaratan tidak berkeberatan dari tetangga di sekitar menara dan diketahui oleh lurah setempat.

Bangunan bertingkat yang menyediakan fasilitas helipad.

Bangunan bersejarah dan cagar budaya.

Tabel 8.5. Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (ITBX) BWP Sedayu

 
Zona Kode Kegiatan
Zona
Kode
Kegiatan
 

LINDUNG

   

BUDIDAYA

 

Perlin-

dungan

Ruang

Terbuka

Peruma-

han

Perkan-

toran

Perda-

gangan &

Industri

Sarana Pelayanan Umum

Peruntukan

Lainnya

Peruntu-

kan Khusus

Setempat

Hijau

Jasa

No

PS-1

PS-6

RTH-3, RTH-4

RTH-15

R-2

R-3 & R-4

K-1

K-3

KT-1

KT-2

-3

-4

SPU-1

SPU-2

SPU-3

SPU-6

PL-1A

PL-1B

PL-1C

KH-1

KH-5

I

I

A

Perumahan

                                         

1

Rumah tunggal

T

X

X

X

I

I

X

T

X

X

B

X

T

X

T

T

B

I

T

X

X

2

Rumah kopel

X

X

X

X

I

I

X

T

X

X

B

X

T

X

T

T

X

I

X

X

X

3

Rumah deret

X

X

X

X

I

I

X

T

X

X

B

X

T

X

X

X

X

B

X

X

X

4

Townhouse

X

X

X

X

I

I

X

T

X

X

B

X

X

X

X

X

X

B

X

X

X

5

Rumah susun rendah - sedang

X

X

X

X

I

I

X

T

X

X

B

X

T

X

B

X

B

B

X

X

X

7

Rumah susun tinggi

X

X

X

X

I

I

X

T

X

X

B

X

T

X

X

X

X

B

X

X

X

8

Asrama

X

X

X

X

B

B

X

T

B

B

B

X

I

X

B

T

X

B

X

B

X

9

Rumah kost

X

X

X

X

B

B

X

T

X

X

B

X

X

X

B

X

X

B

X

X

X

10

Panti jompo

X

X

X

X

B

B

X

X

X

X

B

X

X

X

X

T

X

B

X

X

X

11

Panti asuhan

X

X

X

X

B

B

X

X

X

X

B

X

I

X

X

I

X

B

X

X

X

12

Guest house

X

X

X

X

B

B

X

T

B

B

B

X

I

B

B

T

X

B

X

X

X

13

Rumah dinas

X

B

X

X

B

B

X

X

B

B

B

X

I

B

B

T

B

B

T

I

T

B

Perdagangan dan Jasa

                                         

1

Ruko

X

X

X

X

T

T

B

I

X

X

X

X

T

T

T

X

X

B

X

X

X

2

Warung

X

X

T

X

I

I

I

I

T

T

T

T

T

T

T

T

X

B

B

X

X

3

Toko

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

X

X

T

T

T

T

X

B

B

X

X

4

Pasar tradisional

X

X

X

X

B

B

I

B

X

X

X

X

X

X

X

X

B

B

B

X

X

6

Penyaluran grosir

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

X

X

X

X

X

X

X

B

X

X

X

7

Pergudangan

X

X

X

X

X

X

T

I

X

X

B

B

X

X

X

X

X

B

X

X

X

8

Pusat perbelanjaan

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

X

X

X

X

X

X

X

B

X

X

X

9

Minimarket

X

X

X

X

T

T

I

I

X

T

X

T

T

T

T

X

X

B

X

X

X

10

Supermarket

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

X

X

X

T

X

X

X

B

X

X

X

11

 

X

X

X

X

X

X

I

B

X

X

X

X

X

X

X

X

X

B

X

X

X

Mal/Hipermarket Bahan bangunan &perkakas

12 X X X X T T I I X X B B X X
12
X
X
X
X
T
T
I
I
X
X
B
B
X
X
X
X
X
B
X
X
X
 
Zona Kode Kegiatan
Zona
Kode
Kegiatan
 

LINDUNG

   

BUDIDAYA

 

Perlin-

dungan

Ruang

Terbuka

Peruma-

han

Perkan-

toran

Perda-

gangan &

Industri

Sarana Pelayanan Umum

Peruntukan

Lainnya

Peruntu-

kan Khusus

Setempat

Hijau

Jasa

No

PS-1

PS-6

RTH-3, RTH-4

RTH-15

R-2

R-3 & R-4

K-1

K-3

KT-1

KT-2

-3

-4

SPU-1

SPU-2

SPU-3

SPU-6

PL-1A

PL-1B

PL-1C

KH-1

KH-5

I

I

13

Peralatan rumah tangga

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

X

X

X

X

X

B

X

X

X

14

Hewan peliharaan

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

X

X

X

X

X

B

B

I

X

X

15

Alat dan bahan farmasi

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

T

X

X

X

X

B

X

X

X

16

Pakaian dan aksesoris

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

T

T

T

X

X

B

X

X

X

17

Peralatan dan pasokan pertanian

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

X

X

X

X

B

I

I

X

X

18

Penggilingan padi

X

X

X

X

T

T

B

B

X

X

B

B

X

X

X

X

B

I

B

X

X

19

Tanaman (nursery)

X

B

X

X

T

T

I

I

X

X

B

X

X

X

X

X

B

I

I

X

X

20

Kendaraan bermotor dan perlengkapannya

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

X

X

X

X

X

B

X

X

X

21

Jasa bangunan

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

X

X

X

X

X

B

X

X

X

22

Jasa lembaga keuangan

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

T

T

T

T

X

B

X

X

X

23

Jasa komunikasi

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

T

T

T

T

X

B

X

X

X

24

Jasa pemakaman

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

X

X

X

X

T

X

B

X

X

X

25

Jasa riset dan pengembangan IPTEK

X

X

X

X

T

T

I

I

X

X

B

B

T

T

T

T

B

B

B

X

X

26

Jasa perawatan/ perbaikan/ renovasi barang/kendaraan

X

X

X

X

T

T

I

I

T

T

B

B

X

B

X

X

X

B

X

X

X

27

Jasa bengkel

X

X

X

X

B

B

I

I

T

T

B

B

X

B

X

X

X

B

X

X

X

28

Garasi Bus

X

X

X

X

X

X

T

I

X

X

X

X

X

B

X

X

X

B

X

X

X

29

SPBU

X

X

X

X

X

X

X

B

X

X

B

B

X

B

X

X

B

B

X

X

X

30

SPBE (gas)

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

B

X

B

X

X

B

B

X

X

X

31

Jasa penyediaan ruang pertemuan

X

X

X

X

T

T

I

I

I

I

B

T

T

X

X

T

X

B

X

X

X

32

Jasa katering

X

X

X

X

T

B

T

I

T

T

B

B

T

T

T

T

X

B

X

X

X

33

 

X

X

X

X

T

B

I

I

T

T

B

B

T

I

X

T

X

B

X

X

X

Jasa travel dan pengiriman barang Biro Perjalanan

34 X X X X T T I I T T B B T I
34
X
X
X
X
T
T
I
I
T
T
B
B
T
I
X
T
X
B
X
X
X
 
Zona Kode Kegiatan
Zona
Kode
Kegiatan
 

LINDUNG

   

BUDIDAYA

 

Perlin-

dungan

Ruang

Terbuka

Peruma-

han

Perkan-

toran

Perda-

gangan &

Industri

Sarana Pelayanan Umum

Peruntukan

Lainnya

Peruntu-

kan Khusus

Setempat

Hijau

Jasa

No

PS-1

PS-6

RTH-3, RTH-4

RTH-15

R-2

R-3 & R-4

K-1

K-3

KT-1

KT-2

-3

-4

SPU-1

SPU-2

SPU-3

SPU-6

PL-1A

PL-1B

PL-1C

KH-1

KH-5

I

I

35

Jasa pemasaran properti

X

X

X

X

T

T

I

I

T

I

B

B

X

X

X

X

X

B

X

X

X

36

Taman hiburan

X

X

X

X

T

T

I

B

X

B

B

X

T

T

X

X

X

B

X

X

X

37

Taman perkemahan

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

B

X

T

X

X

X

X

I

B

X

X

38

Bisnis lapangan OR

X

X

X

X

B

B

I

T

X

X

B

B

T

X

X

X

X

I

X

X

X

39

Studio ketrampilan

X

X

X

X

B

I

I

I

B

I

I

I

B

T

X

T

X

B

B

X

X

40

Panti pijat/Spa

X

X

X

X

X

X

I

I

X

B

B

B

X

X

X

X

X

B

X

X

X

41

Klub mlm/bar/karaoke

X

X

X

X

X

X

I

B

X

B

B

B

X

X

X

X

X

B

X

X

X

42

Teater/Bioskop

X

X

X

X

X

X

I

T

X

B

B

B

B

X

X

X

X

B

X

X

X

43

Restoran

X

X

X

X

T

B

I

I

I

I

I

I

T