Anda di halaman 1dari 4

Citra Alfa Nabila-01111640000059-Fisika Laboratorium 2-Fisika Material, hal 1-4

Pengujian Konduktivitas Panas Material


Dengan Metode Hantaran Non Vakum
Citra Alfa Nabila, Puan Arisa Hutahean, Fahrur Huzain, dan Faridawati
Departemen Fisika, Fakultas Ilmu Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: fhuzain96@gmail..com

Abstrak—Praktikum ini adalah praktikum pengujian didefinisikan sebagai rasio dari aliran panas dengan suhu yang
konduktivitas panas material menggunakan metode hantaran non turun pada pertemuan dua komponen. Untuk benda yang solid
vakum. Metode hantaran non vakum ini sendiri merupakan dan pejal, suhu yang turun pada pertemuan dua material
metode yang menggunakan prinsip perpaduan teknik absolut dan
dipengaruhi beberapa faktor yaitu: kekasaran permukaan,
teknik komparasi. Ciri khas teknik absolut sendiri adalah dengan
adanya kutub pendingin dan kutub pemanas. Sedangkan pada kekerasan permukaan, kemurnian dan kebersihan material,
teknik komparasi adalah dengan membandingkan benda dengan konduktivitas termal, serta tekanan kontak [1]. Sedangkan
material referensi. Pada praktikum ini material referensinya untuk lapisan tipis, dipengaruhi oleh kekuatan dari kontak
berupa material yang dijadikan kedua kutub yang saling bahan dan perbedaan material [2].
berlawanan. Material uji dan material yang dijadikan kutub Dalam mengukur konduktivitas termal dan konduktansi
dirangkai seri sehingga dianggap panas yang didapatkan oleh
interfasial dapat digunakan banyak teknik. Teknik-teknik
setiap lapisan benda sama. Pada praktikum ini, material
referensinya dipakai silinder alumunium dengan ukuran yang tersebut dibagi menjadi dua macam yaitu: metode steady-state
sama antara kedua kutub. Dari praktikum ini, diketahui bahwa dan metode transient. Metode steady state mengukur besaran
factor yang mempengaruhi konduktivitas termal benda adalah termal dengan mengamati perbedaan temperatur yang tidak
tingkat kekerasan benda, kekasaran permukaan, dan kemurnian berubah ole waktu. Sedangkan teknik transien sendiri
benda. Dan dari praktikum ini didapatakan nilai konduktivitas mengukur proses disipasi energi dari suatu sampel dengan
tiap material sebagai berikut logam X 6850,60 W/m °C, arang
waktu tertentu. Kedua macam metode tersebut nantinya akan
3334,16 W/m °C, kayu 549,98 W/m °C, dan karet 324,91 W/m °C.
Kata Kunci—Material Referensi, Material Uji, Teknik Absolut, memiliki teknik-teknik yang berbeda pada benda yang pejal dan
Teknik Komparasi padat dengan benda yang berupa lapisan tipis [3]. Dalam
praktikum ini, percobaan dilakukan dengan menggunakan
benda yang pejal dan menggunakan salah satu metode jenis
I. PENDAHULUAN
steady-state.

P ANAS telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita.


Matahari, api, panas bumi, dan lain-lainnya adalah sekian
banyak contoh dari panas. Panas dapat merambat melewati
Metode steady-state dikategorikan menjadi 4 jenis metode
yaitu: teknik absolut, teknik komparasi potongan, metode aliran
panas radial, dan teknik konduktansi termal paralel. Pada
medium padat, cair, dan gas maupun tanpa medium. Salah satu praktikum ini, metode yang digunakan adalah metode yang
hal yang berkaitan dengan panas dalam kehidupan sehari-hari hampir sama dengan teknik absolut dan teknik komparasi [3].
adalah saat kita memasak. Saat kita memasak, panas dari Teknik absolut biasanya digunakan untuk benda berbentuk
kompor mengalami radiasi setelah itu panas dikonduksi melalui rectangular maupun silindris. Dalam pengaplikasian teknik ini,
logam dari alat masak kita. Wajan-wajan maupun tungku- sampel yang akan diuji diletakkan di antara sumber panas dan
tungku kita yang memiliki perbedaan bahan pun mengalami pendingin. Sampel dipanaskan oleh sumber panas yang
perbedaan kemampuan menghantarkan panas. Fenomena inilah kemudian dianggap sebagai input dari daya steady state dan
yang dinamakan konduktivitas termal. Langkah untuk menguji kemudian suhu akhirnya turun sebesar ∆T yang penurunannya
dan mengamati konduktivitas termal pun cukup beragam. sebanding dengan panjang dari sampel. Sampel diukur
Konduktivitas termal (notasi 𝑘, 𝜅, 𝑜𝑟 𝜆) adalah besaran yang menggunakan sensor suhu setelah suhu dari steady state yang
mengukur kemampuan mengalirnya panas dari suatu material. terdistribusi diketahui. Pada teknik ini, konduktivitas termal
Kemampuan ini dapat didefinisikan sebagai energi panas yang dari sampel dapat dihitung menggunakan Hukum Fourier
melewati benda dengan ketebalan tertentu pada arah normal tentang Konduksi Panas yang dapat didefinisikan dalam
dengan luas penampang tertentu dari suhu yang tinggi ke suhu persamaan:
yang rendah. Konduktivitas termal dari benda padat dapat 𝑄𝐿
𝑘= (1)
dibedakan menjadi 3; aerogel dengan konduktivitas di bawah 𝐴 ∆𝑇
dengan
0.015 W/mK, diamond dengan konduktivitas di bawah 2000
𝑄 = 𝑝 − 𝑄𝑙𝑜𝑠𝑠 (2)
W/mK, dan lapisan graphene dengan konduktivitas di atas 3000
W/mK pada suhu ruangan. Konduktivitas termal suuatu dimana 𝑄 adalah jumlah dari panas yang mengalir dalam
material dapat bergantung pada suhu dan pada arah atau jarak sampel, 𝐴 adalah luas penampang dari sampel, 𝐿 adalah jarak
[1]. atau panjang sampel, dan ∆𝑇 adalah beda temperatur dari sensor
Sedangkan konduktansi interfasial (notasi 𝐾 atau 𝐺) suhu. Sedangkan 𝑄𝑙𝑜𝑠𝑠 sendiri adalah panas yang hilang selama
Citra Alfa Nabila-01111640000059-Fisika Laboratorium 2-Fisika Material, hal 2-4

penurunan suhu [4]. Kemudian kompor dinyalakan. Setelah itu, dilakukan proses
Sedangkan teknik komparasi teknik untuk mengetahui aliran pemanasan selama 10 menit. Lalu suhu pada kompor, pada tiap
panas yang mengalir melewati sampel. Dalam teknik ini, untuk besi, dan pada material uji diukur. Pengukuran diulangi
perbandingan, telah diketahui konduktivitas termal dari sebanyak 3 kali. Besi lalu didinginkan hingga mencapai suhu
material standar yang digunakan untuk referensi. Dilihat dari ruangan dengan menggunakan air. Percobaan kemudian
rangkaian, teknik ini hampir sama dengan teknik absolut. Pada dilakukan untuk sampel yang berbeda.
teknik ini, sekurang-kurangnya digunakan dua macam sensor
suhu pada tiap potongan sampel. Karena diketahui bahwa D. Flowchart
jumlah dari aliran panas pada material standar sama dengan Praktikum ini dilakukan seperti diagram alir pada Gambar 2.
aliran panas yang melewati sampel yang akan diukur, maka
konduktivitas termal dari sampel dapat diketahui dengan
menggunakan perumusan sebagai berikut.

𝐴2 ∆𝑇2 𝐿1
𝑘1 = 𝑘2 (3)
𝐴1 ∆𝑇1 𝐿2
dengan 𝑘2 dideskripsikan sebagai konduktivitas termal dari
material standar yang dijadikan referensi [4].

II. METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
Praktikum ini menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:
kompor listrik, penggaris, penjepit, pyrometer, stopwatch,
silinder besi, kasa, dan material uji berupa logam X, arang, karet
sandal, dan kayu. Kompor listrik digunakan untuk memansakan
objek yang akan diuji dan sebagai sumber panas. Penggaris
untuk mengukur tebal dari material uji. Penjepit digunakan
untuk mengangkat material yang sudah dipanaskan. Silinder
alumunium digunakan untuk mengamati konduktivitas material
uji dengan membandingkan temperatur dari dua silinder yang
mengapit material uji serta sebagai tempat untuk mengukur
temperatur referensi. Kasa digunakan untuk mengalasi material
yang dipanasakan di atas kompor listrik. Material uji digunakan
untuk objek yang akan dicari konduktivitasnya.
B. Skema alat
Skema kerja percobaan ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 2. Flowchart Percobaan

III. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN


A. Analisa Data
Pada praktikum ini didapatkan data berupa suhu pada dua
silinder alumunium dan material uji, serta tebal material uji dan
diameter uji. Hasil percobaan ini ditampilkan dalam table
sebagai berikut.

Tabel 1. Data hasil percobaan


Jenis L d Percobaan T1 T2 T3
Material (m) (m) ke- (°C) (°C) (°C)
1 230 103 80
Logam
0,016 0,01 2 237 102 79
Gambar 1. Skema Alat X
3 221 97 76
C. Langkah Kerja 1 285 133 93
Arang 0,016 0,011 2 299 138 95
Praktikum ini dilakukan dengan langkah-langkah kerja yang
3 289 149 96
akan dijelaskan berikut ini. Pertama, alat dan bahan
1 295 222 161
dipersiapkan. Besi sebanyak dua buah dan material uji disusun
Kayu 0,015 0,015 2 280 230 173
secara seri. Material uji diletakkan di antara kedua besi.
3 295 222 164
Citra Alfa Nabila-01111640000059-Fisika Laboratorium 2-Fisika Material, hal 3-4

1 146 92 67 C. Pembahasan
Karet 0,012 0,023 2 140 90 63 Praktikum ini adalah praktikum untuk menentukan
3 141 86 55 konduktivitas termal dengan menggunakan metode hantaran
non vakum. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
B. Perhitungan konduktivitas termal dari beberapa material dan factor-faktor
yang mempengaruhi besarnya konduktivitas termal. Pada
Pada praktikum ini dibuatlah analisa perhitungan dengan praktikum ini digunakan metode hantaran non vakum, yaitu
menggunakan persamaan 3, dan contoh perhitungan untuk metode membuat dua macam kutub untuk sensor suhu, kutub
mencari nilai konduktivitas termal dari praktikum ini adalah: ini dibedakan menjadi kutub dingin dan kutub panas. Kutub
Jika diketahui panas berupa logam silinder yang dipanaskan dengan
𝑘𝐴𝑙 = 202 𝑊/𝑚℃ menggunakan kompor. Panas dari sumber panasnya ini
𝑑𝐴𝑙 = 0.025 𝑚 kemudian mengalir dari kutub panas dan kutub dingin, dan
𝐿𝐴𝑙 = 0.017 𝑚 untuk mengamati bagaimana penyebaran aliran panas kita
𝐿𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑘𝑎𝑦𝑢 = 0.015 𝑚 meletakkan material yang kita uji di antara dua kutub tersebut.
𝑑𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑘𝑎𝑦𝑢 = 0.015 𝑚 Rangkaian ini disusun secara seri. Kutub-kutub tersebut dan
𝑇1 = 280 ℃ material yang kita uji kemudian diukur suhunya setelah
𝑇2 = 230 ℃ dipanaskan. Kutub-kutub ini dijadikan referensi material yang
𝑇3 = 173 ℃ sudah diketahui konduktivitas termalnya. Referensi ini
nantinya dibandingkan untuk mengamati konduktivitas termal
maka kita harus mencari nilai luas penampang sampel dan dari material anonym dengan menganggap jumlah panas yang
penampang silinder alumunium sebagai material standar diterima oleh sampel dan silinder alumunium. Prinsip dasar
dengan cara sebagai berikut pada praktikum ini adalah dengan menggunakan perpaduan dari
teknik absolut dan teknik komparasi. Prinsip dari teknik absolut
1 𝜋 0.0152 sendiri merupakan teknik menggunakan prinsip kutub
𝐴𝑘𝑎𝑦𝑢 = 𝜋𝑑𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑘𝑎𝑦𝑢 2 = = 0.00018 𝑚2
4 4 pendingin dan kutub pemanas. Sedangkan prinsip pada teknik
1 𝜋 0.0252 komparasi adalah membandingkan benda yang disusun seri
𝐴𝐴𝑙 = 𝜋𝑑𝐴𝑙 2 = = 0.00049 𝑚2
4 4 dengan material referensi yang sudah diketahui
konduktivitasnya. Inti dari teknik komparasi ini adalah
Setelah mengetahui nilai luas penampang tersebut, kemudian menganggap sama jumlah panas yang didapatkan pada setiap
kita bisa mencari nilai konduktivitas termal dari sampel benda yang dipanaskan.
menggunakan perumusan 3 sebagai berikut Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan dua kutub
berupa silinder alumunium yang diletakkan secara seri dengan
𝐴𝐴𝑙 𝐿𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑇1 − 𝑇2 ) material yang diletakkan di antara alumunium tersebut selama
𝑘𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 𝑘𝐴𝑙
𝐴𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐿𝐴𝑙 (𝑇2 − 𝑇3 ) pemanasan yang pada praktikum ini dilakukan kurang lebih
0.00049 ∙ 0.015 ∙ (280 − 230) selama 10 menit. Pemanasan dalam waktu tersebut
= 202 dimaksudkan untuk membiarkan panas mengalir dari kompor,
0.00018 ∙ 0.017 ∙ (230 − 173)
= 434.30 𝑊/𝑚℃ kutub panas, hingga sampai ke kutub dingin melalui material
uji. Setelah itu, baru kemudian diukur suhu pada alumunium
Maka hasil dari dari nilai konduktivitas termal tersebut jika dan material.
ditampilkan dalam table adalah sebagai berikut. Pada praktikum ini dipakai variasi percobaan berupa variasi
dari sampel yang menggunakan logam X, arang, kayu, dan
Tabel 2. Hasil perhitungan konduktivitas panas karet sandal. Pada praktikum ini, ukuran sampel yang
Jenis k k rata-rata digunakan hampir sama kecuali sampel logam X yang lebih
No.
Material (W/m.°C) (W/m.°C) kecil ukurannya. Secara toeritis, yang menjadi factor dari nilai
6561,13 konduktivitas termal adalah kekasaran permukaan, kekerasan
1 Logam X 6974,42 6850,60 benda, kemurnian benda dan lain-lain. Pada percobaan
7016,25 diketahui bahwa logam X memiliki konduktivitas yang paling
3731,65 besar di antara yang lain. Sedangkan karet memiliki nilai
2 Arang 3676,84 3334,16 konduktivitas termal yang paling kecil. Dari situ dapat
2594,00 disimpulkan kekerasan benda menjadi factor yang
592,49 mempengaruhi nilai konduktivitas termal benda. Namun, jika
3 Kayu 434,30 549,98 kita membandingkan antara kayu dana rang, konsep ini tidak
623,14 bisa sepenuhnya benar. Ternyata dari sini ada juga factor dari
363,88 bahan itu sendiri. Arang lebih besar konduktivitasnya daripada
4 Karet 311,97 324,91 kayu dikarenakan molekul dari arang sendiri murni hanya
298,89 karbon. Sedangkan susunan atom dari kayu sendiri pun lebih
kompleks dari arang sehingga penyebaran panas molecularnya
pun lebih lama daripada arang. Selain itu, untuk bahan yang
Citra Alfa Nabila-01111640000059-Fisika Laboratorium 2-Fisika Material, hal 4-4

sama kemungkinan akan memiliki nilai konduktivitas yang


berbeda jika memiliki ketebalan yang berbeda.
Praktikum ini menggunakan metode absolut dan teknik
komparasi dengan memandang panas yang didapatkan oleh
setiap benda sama dikarenakan pada percobaan ini bahan uji
dirangkai secara seri. Untuk itu, dari benda yang dipanaskan
tersebut harus ada benda yang sudah diketahui konduktivitas
termalnya untuk dijadikan referensi. Nilai konduktivitas termal
dari logam X setelah dilakukan perhitungan didapatkan sebesar
6850,60 W/m °C, arang 3334,16 W/m °C, kayu 549,98 W/m
°C, dan karet 324,91 W/m °C.

IV. KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa:
 Nilai konduktivitas termal dari logam X setelah
dilakukan perhitungan didapatkan sebesar 6850,60
W/m °C, arang 3334,16 W/m °C, kayu 549,98 W/m
°C, dan karet 324,91 W/m °C.
 Faktor yang mempengaruhi konduktivitas termal
dari benda adalah tingkat kekerasan benda,
kekasaran permukaan, kemurnian benda, dan
tekanan kontak.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih pada berbagai pihak yang
telah membantu banyak dalam praktikum ini. Termasuk asisten
laboratorium, laboran, dan rekan sesama praktikan Fisika
Laboratorium 2. Dan tak lupa, syukur yang tak terkira atas
rahmat Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat
menyelesaikan praktikum ini tanpa kendala apapun.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Savija, I., Culham, J. R., Yovanovich, M. M., and Marotta, E. E., 2003.
“Review of Thermal Conductance Models for Joints Incorporating
Enhancement Materials,” J. Thermophys. Heat Transfer., 17(1), pp. 43–
52.
[2] Pollack, G. L., 1969, “Kapitza Resistance,” Rev. Mod. Phys., 41(1), pp.
48–81.
[3] Tritt, T. M., and Weston, D., 2004, “Measurement Techniques and
Considerations for Determining Thermal Conductivity of Bulk
Materials,” Thermal Conductivity, T. M. Tritt, ed., Springer, New York,
pp. 187–203.
[4] ASTM, 2013, “Standard Test Method for Thermal Conductivity of Solids
Using the Guarded-Comparative-Longitudinal Heat Flow Technique,”
ASTM International, West Conshohocken, PA, Standard No. ASTM
E1225-13.