Anda di halaman 1dari 15

Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan

Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

Perencanaan Perkuatan Tanah Dengan MetodeStruktur Turap Berjangkar (Sheet Pile)


Studi Kasus Turap Beton Bertulang Pada Pelabuhan

Rifqi Aditya1, Rossa Gallica2


1
Program Studi Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Kalimantan, Balikpapan.
Email:07161077@itk.ac.id, 07161079@itk.ac.id

Abstract

Construction allows to increase style and style during loading and unloading. The dimensions of the dock on the
type and size of the vessel that will dock and anchor the money. The size used must be done at minimum sizes.
You can tie and release posts or do loading and unloading safely, quickly and smoothly. Landslide is one of the
disasters that occur in fields caused by soil mass tension or the pressure of the soil mass. Construction of plaster
walls or commonly referred to as piles of sheets are several sheets of plaster that are fixed into the ground, and
the forms needed for landfill or sloping land. Plaster walls on the surface of the highway or river cliffs, pier
walls, retaining walls of the excavation on making direct foundation or ponds, and making basements. The
plaster walls have different basic materials from wood plaster walls, concrete plaster walls, and steel plaster
walls. Turap consists of pre-fabricated or pre-printed parts. Based on the planning with the theory of Rankine
getting Plaster (Sheet Pile) with a cross-section width of 500 mm, cross section length of 1000 mm, length of 14
meters, depth of 5.5 meters of dredging line (dredging line) and reinforced concrete. Angkur (Anchor) which is
2.0 m in dimension, with tie rod strand 5 D-1/2 ", dimensions of anchor handlebar 60 x 60 and a length of 11.1
meters.

Keywords: anchor, sheet pile, soil

Abstrak

Konstruksi dermaga diperlukan untuk menahan gaya-gaya akibat tumbukkan kapal dan beban selama
bongkar muat. Dimensi dermaga didasarkan pada jenis dan ukuran kapal yang akan merapat dan bertambat
pada dermaga tersebut. Dalam mempertimbangkan ukuran dermaga harus didasarkan pada ukuran-ukuran
minimal sehingga kapal dapat bertambat dan meninggalkan dermaga maupun melakukan bongkar muat dengan
aman, cepat dan lancar. Kelongsoran tanah merupakan salah satu bencana yang sering terjadi pada bidang
geoteknik akibat dari meningkatnya tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya kekuatan geser suatu
massa tanah. Konstruksi dinding turap atau biasa disebut sebagai sheet pile ialah beberapa lembaran turap
yang dipancangkan ke dalam tanah, serta membentuk formasi dinding menerus vertikal yang berguna untuk
menahan timbunan tanah atau tanah yang berlereng. Dinding turap digunakan pada tebing jalan raya atau
tebing sungai, dinding dermaga, dinding penahan galian pada pembuatan fondasi langsung atau pondasi
menerus, dan pembuatan basement. Dinding turap memiliki material dasar yang berbeda diantaranya dinding
turap kayu, dinding turap beton, dan dinding turap baja. Turap terdiri dari bagian-bagian yang dibuat terlebih
dahulu (pre-fabricated) atau dicetak terlebih dahulu (pre-cast). Berdasarkan perencanaan dengan teori Rankine
didapatkan Turap (Sheet Pile) dengan lebar penampang 500 mm , panjang penampang1000 mm, panjang 14
meter, kedalaman penetrasi 5,5 meter dari garis keruk ( dredged line ) dan bahan yang digunakan adalah beton
bertulang. Angkur (Jangkar) yang digunakan berdimensi 2,0 m, dengan tie rod strand 5 D-1/2 ”, dimensi stang
angkur 60 x 60 dan Panjang letak 11,1 meter.

Kata Kunci: angkur, turap, tanah

1. PENDAHULUAN
Pelabuhan adalah suatu areal perairan yang terlindung dari pengaruh badai dan ombak sehingga
memungkinkan kapal untuk melakukan bongkar muat barang dan naik turunnya penumpang dengan
aman. Sedangkan dermaga adalah bagian dari pelabuhan sebagai tempat kapal untuk bersandar yang
memiliki berbagai fasilitas.Dermaga adalah suatu bangunan pelabuhan yang digunakan untuk merapat
dan menambatkan kapal yang akan melakukan bongkar muat barang dan menaik-turunkan penumpang
yang merupakan suatu struktur yang dibuat di laut yang menghubungkan bagian darat dan terdiri dari
bangunan atas yang terbuat dari balok, pelat lantai dan tiang pancang yang mendukung bangunan

1
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

diatasnya. Konstruksi dermaga diperlukan untuk menahan gaya-gaya akibat tumbukkan kapal dan
beban selama bongkar muat. Dimensi dermaga didasarkan pada jenis dan ukuran kapal yang akan
merapat dan bertambat pada dermaga tersebut. Dalam mempertimbangkan ukuran dermaga harus
didasarkan pada ukuran-ukuran minimal sehingga kapal dapat bertambat dan meninggalkan dermaga
maupun melakukan bongkar muat dengan aman, cepat dan lancar.
Kelongsoran tanah merupakan salah satu bencana yang sering terjadi pada bidang geoteknik akibat
dari meningkatnya tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya kekuatan geser suatu massa
tanah. Dengan kata lain, kekuatan geser dari suatu massa tanah tersebut tidak mampu memikul beban
kerja yang terjadi. Gangguan stabilitas lereng yang terjadi dapat disebabkan oleh kondisi alam maupun
kegiatan manusia. Pada kondisi alam, daerah yang berpotensi tinggi terjadi kelongsoran diantaranya
garis kontur yang tidak teratur atau adanya kolam air dan rawa pada lokasi tersebut. Kelongsoran
akibat manusia bisa terjadi karena hutan gundul yang ditebangi, sehingga tidak ada perkuatan pada
struktur tanah. Lereng yang tidak stabil tersebut dapat memberikan dampak yang tidak baik salah
satunya kerusakan alam dan kerugian materil serta fisik yang dialami manusia.
Terdapat banyak alternatif untuk mencegah terjadinya longsor, salah satunya dinding penahan
tanah. Dinding penahan tanah menurut Sudarmanto pada buku Konstruksi Beton 2 ialah suatu
konstruksi yang berfungsi untuk menahan tanah lepas atau alami dan mencegah keruntuhan tanah
yang miring atau lereng yang kemampatannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri.
Dinding penahan tanah mampu menyokong tanah dari beban hujan, beban tanah itu sendiri maupun
akibat beban yang bekerja di atasnya. Dinding penahan tanah memiliki beberapa tipe yang
penggunaannya mengikuti jenis tanah dan penggunaan lahan yang tersedia. Terdapat dua tipe dinding
penahan tanah yaitu dinding penahan tanah kaku diantaranya dinding penahan tanah gravitasi dan
counterfort serta dinding penahan tanah lentur diantaranya dinding turap.
Kelebihan dari sheet pile ialah beratnya yang lebih ringan, cocok digunakan untuk timbunan tanah
dengan ketinggian sedang, mutu konstruksi yang seragam dan lebih terjamin daripada konstruksi
manual karena menggunakan konstruksi prefabricated.

1.1. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui gaya-gaya yang bekerja pada turap dan
merencanakan dimensi, panjang diameter angkur atau jangkar yang digunakan serta mengetahui faktor
keamanaan perkuatan tanah dengan metode turap.

2. DASAR TEORI
Turap adalah konstruksi yang dapat menahan tekanan tanah di sekelilingnya, mencegah terjadinya
kelongsoran dan biasanya terdiri dari dinding turap dan penyangganya. Kontruksi dnding turap terdiri
dari beberapa lembaran turap yang dipancangkan ke dalam tanah, serta membentuk formasi dinding
menerus vertikal yang berguna untuk menahan timbunan tanah atau tanah yang berlereng (Sri Respati,
1995). Dinding turap adalah dinding vertikal relatif tipis yang berfungsi kecuali untuk menahan tanah,
juga berfungsi untuk menahan masuknya air ke dalam lubang galian. Karena pemasangan yang mudah
dan biaya pelaksanaan yang relatif murah, turap banyak digunakan pada pekerjaan-pekerjaan, seperti:
penahan tebing galian sementara, bangunan-bangunan di pelabuhan, dinding penahan tanah,
bendungan elak dan lain-lain. Bila tanah yang ditahan dangkal, maka cukup digunakan turap
kantilever. Namun, bila kedalaman tanah yang ditahan sangat dalam, maka harus menggunakan turap
yang diangker.
Dinding turap tidak cocok untuk menahan tanah yang sangat tinggi, karena akan memerlukan luas
tampang bahan turap yang besar. Selain itu, turap juga tidak cocok digunakan pada tanah yang
mengandung banyak batu-batuan, karena menyulitkan pemancangan.Fungsi penggunaan turap ialah
sebagai struktur penahan tanah diantaranya tebing jalan raya atau tebing sungai, struktur penahan
tanah pada galian, struktur penahan tanah yang berlereng atau curam agar tanah tidak longsor, dan
konstruksi bangunan yang ringan saat kondisi tanah kurang mampu untuk mendukung dinding
penahan tanah.

2.1. Jenis dan Tipe Dinding Turap


Jenis-jenis dinding turap diantaranya turap kayu, turap beton, turap baja sebagai berikut:

2
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

1) Turap Kayu, digunakan pada pekerjaan sementara misalnya penahan tebing galian karena turap
kayu tidak kuat menahan beban-beban lateral yang besar. Turap kayu tidak cocok digunakan pada
tanah berkerikil.
2) Turap Beton, merupakan balok-balok yang telah di cetak sebelum dipasang dengan saling
mengkait satu sama lain. Turap beton digunakan pada bangunan permanen atau pada detail
konstruksi.
3) Turap Baja, digunakan pada bangunan sementara maupun permanen. Sifatnya tahan terhadap
tegangan dorong tinggi dapat dipakai berulang-ulang, mudah menambah panjang tiang pancang
dengan mengelas maupun memasang baut.
Tipe dinding turap diantaranya dinding turap kantilever, dinding turap diangker, dinding turap
landasan, dan bendungan elak selular sebagai berikut:
1) Dinding Turap Kantilever, merupakan turap yang menahan beban lateral dengan mengandalkan
tahanan tanah di depan dinding. Defleksi lateral yang terjadi relative besar. Turap kantilever
hanya cocok untuk menahan tanah dengan ketinggian/kedalaman yang sedang.
2) Dinding Turap Diangker, cocok untuk menahan tebing galian yang dalam tetapi masih
bergantung pada kondisi tanah dengan bantuan angker.
3) Dinding Turap dengan Landasan, menahan tekanan tanah lateral dengan bantuan tiang-tiang.
Dibangun di jalan kereta api, mesin Derek atau bangunan-bangunan berat lainnya.

2.2. Dinding Turap Berjangkar


Menurut Hardiyatmo (2011) dinding turap berjangkar adalah dinding turap yang menahan beban
lateral dengan mengandalkan tahanan tanah pada bagian turap yang terpancang ke dalam tanah dengan
dibantu oleh angker yang dipasang pada bagian atasnya. Untuk ketinggian tanah yang ditahan H > 11
m, maka diperlukan turap dengan 2 angker.

2.3. Faktor Perencanaan Turap


Pada perencanaan turap menurut Hertiany (2014) terdapat beberapa faktor yang harus
diperhatikan dalam perencanaan turap, diantaranya; ciri topografis lapangan (investigasi geoteknik dan
pengamatan langsung), penyelidikan tanah, ketersediaan material bahan konstruksi, kemudahan dan
kecepatan pelaksanaan dan kekuatan struktur.

2.4. Konstruksi Turap Beton


Konstruksi turap beton (concrete sheet pile) yang dipadukan dengan pemasangan angkur dari baja
padu/ atau kawat baja, mempunyai keunggulan antara lain ; sangat efektif untuk dilaksanakan sebagai
penahan tebing di sungai dan daerah pantai dengan daya dukung tanah rendah, sebagian besar dasar
bahan konstruksi dibuat oleh pabrik sehingga kualitas bahan dapat dipertanggung jawabkan, mampu
menahan butiran tanah di belakang turap (back field), nilai estetikanya sangat tinggi sehingga sangat
cocok sebagai pengaman tebing sungai, daerah wisata dan perkotaan, merupakan konstruksi yang
relatif ringan sehingga memudahkan dalam pemancangan maupun pembongkaran dan pelaksanaan
dapat dilakukan tanpa mengeringkan daerah kerja terlebih dahulu sehingga sangat cocok untuk tanah-
tanah lunak, lanau maupun tidak berbatu.
Disamping keunggulan tersebut di atas tipe konstruksi turap beton juga mempunyai kelemahan
antara lain; biaya bahan fabrikan dan angkutan cukup mahal, pada saat pemancangan sangat rentan
terhadap benda keras/liat seperti bongkahan beton maupun kayu balak, untuk pembebanan lateral yang
sangat besar konstruksi ini tidak direkomendasikan (kecuali fabrikan merancang dengan tipe khusus)
dan bahan turap beton tidak dapat disambung, panjang yang diproduksi pabrik saat ini sampai dengan
panjang 21m (Ardi, 2015)

2.5. Perencanaan Turap


Perencanaan dinding turap mencakup penentuan karateristik dinding turap sesuai profil sheet pile
yang ada di pasaran, panjang dinding turap yang diperlukan, karaterikstik mekanik baja yang
digunakan, komposisi kimia, dan harga limit elastiknya. Perencanaan dinding turap juga
membutuhkan penentuan sistem jangkar (anchor) dengan menentukan daerah penjangkaran,
kemiringan dan luas penampang tali jangkar, panjang tali jangkar yang menjamin stabilitas bersama

3
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

turap, sistim penjangkaran dapat berupa jangkar pasif, jangkar aktif, dan lain-lain serta kemungkinan
penentuan stabilitas terhadap gelincir sistem dinding turap dan tali jangkar.

2.6. Faktor Keamanan Turap


Penentuan angka keamanan untuk sheet pile berdasarkan perhitungan kembali gaya - gaya yang
bekerja atau dengan cara membagi harga koefisien pasif K P dan kohesi c dengan suatu angka
keamanan tertentu.
Pp
SF =
Pa
(2.1)
Pp = Tekanan Tanah Pasif
Pa = Tekanan Tanah Aktif

2.7. Tekanan Tanah Lateral


Tekanan tanah lateral adalah gaya yang ditimbulkan akibat dorongan tanah di belakang struktur
penahan tanah. Pada perhitungan dinding penahan tanah yang umum, analisis didasarkan pada
anggapan bahwa dinding bergerak secara lateral dengan cara menggeser atau berotasi pada kaki
dinsing, sedemikian hingga kuat geser tanah di belakang dinding sepenuhnya termobilisasi. Dalam
kondisi ini, tekanan tanah memenuhi teori Rankie atau teori Coulomb. Persamaan tekanan tanah
lateral ialah sebagai berikut:
1) Tekanan Tanah Aktif (Pa)
Pa = Ka × γ × H (2.2)
Pa = Ka × γ × H – 2c√Ka (kohesi) (2.3)
Dimana,
Ka = Tan2 (45 –𝜙/2) (2.4)
2) Tekanan Tanah Pasif (Pp)
Pp = Kp × γ × H (2.5)
Pp = Kp × γ × H – 2c√Kp (kohesi) (2.6)
Dimana
Kp = Tan2 (45 –𝜙/2) (2.7)
keterangan:
Pa = tekanan tanah aktif
Pp = tekanan tanah pasif
H = tinggi dari permukaan tanah
Γ = berat volume tanah Urug
c = kohesi tanah Urug

2.8. Penjangkaran
Macam-macam jangkar, bila dilihat dari bentuk konstruksinya diantaranya:
1) Blok beton menerus atau setempat, tahanan yang diperoleh dari hasil mobilisasi tekanan pasif
tanah.
2) Tiang pancang yang digunakan apabila ditemukan adanya lapis tanah lunak yang cukup tebal.
3) Dijangkarkan pada lapisan tanah atau pada lapisan batuan
4) Dinding turap berfungsi sebagai deadmen
5) Dijangkar pada exsisting structure
Perhitungan nilai Ra dari nilai keseimbangan batas ∑ MD = 0 dengan penampang turap sebagai
berikut:
1) Garis Kerja Angker
ΣPaz = Pa1 (y1) + Pa2 (y2) +…+ Pan (yn) (2.8)
2) Menentukan Kedalaman Pemancangan Turap
2
ΣPpz = Pp1 ( X + Xp1+…+Xpn) (2.9)
3
D =a+X (2.10)
3) Menentukan Momen Terbesar Pasa Turap
∑ MD = ∑ MP + ∑ MA (2.11)
Mmax
W= (2.12)
σt
4) Perhitungan diameter angkur ialah sebagai berikut:

4
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

T
σt = (2.13)
A
5) Perencanaan blok angkur dengan menghitung kapasitas ultimit blok angkur di dekaat permukaan
tanah ialah sebagai berikut:
1
T ≤ L(Pp − Pa) + × Ko γ (√Kp + √Ka H³ tgφ (2.14)
3
𝐻
H< (2.15)
3
6) Panjang baja angkur sebagai berikut:
2
a= ×d (2.16)
3
7) Tekanan Tanah Pasif
φ φ
Pp = γ′ H tan 2 (45 + ) + 2c tan (45 + ) (2.17)
2 2
8) Titik Tangkap Angker
P1xh1+P2xh2
Z= (2.18)
Pp
Dimana:
Z = titik tangkap angker
P = tekanan tanah
Pp = Gaya dinding akibat tekanan tanah pasif
D = Dalam pemancangan turap

3. METODE PENULISAN
3.1. Studi Literatur dan Data Sekunder
Studi literatur yang dilakukan berkaitan dengan tema penelitian. Literatur yang digunakan dalam
penelitian ini berasal dari buku, tugas akhir, jurnal nasional maupun internasional. Data Sekunder yang
digunakan adalah data tanah dan perencanaan oleh Roy Klavert dari Universitas Katolik
Soegijapranata.

3.2. Diagram Alir Penulisan


Dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran dari penulisan ini, perlu dibentuk suatu langkah-
langkah yang tepat dengan diawali kegiatan sebelum penulisan sampai pada kesimpulan hasil
penulisan. Secara umum, langkah-langkah penulisan adalah sebagai berikut:
MULAI

STUDI
LITERATUR

PENGUMPULAN
DATA TANAH DAN
SPESIFIKASI
JANGKAR

PERHITUNGAN PEMBEBANAN

PERHITUNGAN KEDALAMAN
TURAP

TIDAK PERHITUNGAN DIMENSI DAN


JANGKAR

KONTROL
STABILITAS

YA

ANALISIS DAN
KESIMPULAN

SELESAI

Gambar 3.1. Diagram Alir Penulisan

5
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Perhitungan Beban-Beban Aksial yang Bekerja
4.1.1. Beban Primer
Beban primer ditentukan berdasarkan Peraturan Muatan Indonesia N.I-18,1970.
1. Beban Mati
Untuk beban mati aksial yang bekerja pada dock kapal yang direncanakan dengan dimensi
150×28 meter kedalaman 8.5 meter, beban yang diperhitungkan adalah sebagai berikut:
Berat sendiri dock =2400 kg/m³
2. Beban Hidup
Berdasarkan data-data dari peraturan yang diisyaratkan, maka beban atau muatan hidup yang
ada dalam perencanaan dock kapal adalah sebagai berikut:

4.1.2. Beban Sekunder


Beban primer ditentukan berdasarkan Peraturan Muatan Indonesia N.I-18,1970.
1. Muatan Angin
Gaya horisaontal yang ditimbulkan oleh tiupan angin atau benturan kapal dipilih yang terbesar
diantara keduanya. Gaya yang bekerja dalam arah tegak lurus sisi memanjang dolpgin (Bollder).
Gaya-gaya tersebut dengan cara sebagai berikut:
Tabel 1.1 Gaya yang bekerja akibat muatan angin
Data karateristik kapal: Kondisi Iklim&Cuaca:
a. Luas sisi kapal yang tertiup angin : 2.071 m² Kec. angin maksimum : 17,5 m/s
b. Berat kapal (displacement) : 20.000 ton
c. Kecepatan merapat kapal : 0,15 m/s
Maka,
Tekanan Angin: Gaya total terhadap sisi kapal:
𝐐𝐚 = 𝟎, 𝟎𝟔𝟑 × 𝐕 𝟐 RW = 1,1×QA×.AW
= 𝟎, 𝟎𝟔𝟑 × 𝟏𝟕, 𝟓𝟐 = 1,1 × 19,293 × 2.071
= 𝟏𝟗, 𝟐𝟗𝟑 𝐤𝐠/𝐦² = 43.951 𝐤𝐠 = 43,9 ton
Sehigga kapal ditahan oleh dua buah dolphin sehingga tiap dolphin menahan:
𝟒𝟑, 𝟗
𝐑 𝐖𝟏 = = 𝟐𝟏, 𝟗𝟓 𝐭𝐨𝐧
𝟐
2. Muatan Akibat Benturan Kapal
Muatan yang bekerja akibat dari benturan kapal ditentukan berdasarkan energinya seperti tabel
berikut:
Tabel 1.2 Muatan Akibat Benturan Kapal
Energi benturan kapal dengan menganggap Setengah dari energi akan diredam oleh
𝐂𝐦 × 𝐂𝐞 = 𝟏 sehingga: sistem fender, sehingga:
𝐖 × 𝐕² 𝟐𝟐𝟗𝟒𝟎
𝐄= 𝐄𝐟𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫 = = 𝟏𝟏𝟒𝟕𝟎 𝐤𝐠. 𝐦
𝟐𝐠 𝟐
𝟐𝟎. 𝟎𝟎𝟎 × 𝟎, 𝟏𝟓𝟐
=
𝟐 × 𝟗, 𝟖𝟏
= 𝟐𝟐, 𝟗𝟒 𝐭𝐦 = 𝟐𝟐𝟗𝟒𝟎 𝐤𝐠. 𝐦
Diusahakan gaya benturan kapal tidak melebihi gaya akibat angin, untuk itu diatasi dengan
menggunakan peredam energy. Digunakan fender karet silinder ukuran 15 × 7,5 inchi dengan
defleksi maksimum 7,5 inchi.
𝐄𝐝𝐢𝐬𝐞𝐫𝐚𝐩 = 𝟑. 𝟎𝟎𝟎 𝐥𝐛/𝐟𝐭′
Apabila dikonversikan dalam satuan MKS, maka didapat:
𝐄𝐝𝐢𝐬𝐞𝐫𝐚𝐩 = 𝟑. 𝟎𝟎𝟎 × 𝟎, 𝟒𝟓𝟑𝟕 = 𝟏𝟑𝟔𝟏, 𝟏 𝐤𝐠/𝐦
Jadi panjang/jarak dolphin yang diperlukan:
𝟏𝟏𝟒𝟕𝟎
𝐋𝒅𝒐𝒍𝒑𝒉𝒊𝒏 = = 𝟖, 𝟒𝟐 𝐦𝐞𝐭𝐞𝐫 ≈ 𝟖, 𝟓 𝐦𝐞𝐭𝐞𝐫
𝟏𝟑𝟔𝟏, 𝟏

4.1.3. Beban Khusus


Beban-beban yang akan tergabung dalam kombinasi pembebanan diuraikan sebagai berikut:

6
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

1. Beban I (Beban Saturated Soil)


Beban tanah jenuh, perhitungan diasumsikan sebagai berat beban air laut yang bekerja di luar
dinding dock/tekanan hidrostatis luar dinding dock. Asumsi berdasarkan pada anggapan bahwa
beban tekan air lebih besar daripada beban tanah.
Diketahui data-data sebagai berikut:
Berat volume tanah jenuh,
Ɣ𝐬𝐚𝐭 = 1,80 ton/m³
𝐡𝟏 = 2,0 m
𝐡𝟐 = 6,45 m
+ 1,65
A

200

Angker
B I.1

I. SATURATED SOIL 845 845

(a) 645

- 6,80 I.2 I.3 I.4


C

300 165

Gambar Diagram Beban Saturated Soil


(Sumber: Penulis, 2018)
Tabel 1.2 Beban tanah jenuh
𝐏𝐚 = 𝐡 × Ɣ𝐬𝐚𝐭 𝐏𝐚 = 𝐡𝟏 × Ɣ𝐬𝐚𝐭 𝐏𝐚 = 𝐡𝟐 × Ɣ𝐬𝐚𝐭
= 𝟎 × 𝟏, 𝟖𝟎 𝐭𝐨𝐧/𝐦³ = 𝟐 × 𝟏, 𝟖𝟎 𝐭𝐨𝐧/𝐦³ = 𝟔, 𝟒𝟓 × 𝟏, 𝟖𝟎 𝐭𝐨𝐧/𝐦³
=𝟎 = 𝟑, 𝟔 𝐭𝐨𝐧/𝐦² = 𝟏𝟏, 𝟔𝟏 𝐭𝐨𝐧/𝐦²

2. Beban Muatan Block


Besar beban muatan block diasumsikan sebesar 3,75 ton/m dan dianggap sebagai beban merata
yang bekerja disekitar dock baik pada saat pelaksanaan atau pada saat dock kapal selesai dibuat
dan sudah beroperasi/dignakan.

200 300

300
Angker Angker
I.1 I.1

200
845 845

I.2 I.3 I.4 I.2 I.3 I.4

300 165 300 165

Gambar Diagram Beban Muatan Block


(Sumber: Penulis, 2018)

7
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

3. Beban uplift

Angker
I.1

845

I.2 I.3 I.4

Gambar Diagram Beban Uplift


(Sumber: Penulis, 2018)
Diketahui data-data sebagai berikut,
Berat volume tanah urug dalam keadaan jenuh Ɣ𝐬𝐚𝐭 = 1,80 ton/m³
Sudut geser dalam tanah Φ = 35°
Kohesi tanah dalam keadaan undrained 𝐜𝐮 = 4,0 ton/m³
Ukuran plat 1×1×1 meter dengan pondasi tiang pancang diletakkan pada kedalaman 8,5 meter
di bawah permukaan tanah dan diambil F = 2,5.
Tabel Nilai dari m, 𝐒𝐟 , dan H/B untuk variasi Φ
Φ 20° 25° 30° 35° 40° 45° 48°
Batas H/B 2,5 3 4 5 7 9 11
m 0,05 0,10 0,15 0,25 0,35 0,50 0,60
Max 𝐒𝐟 1,12 1,30 1,60 2,25 3,45 5,50 7,60
Tabel Perhitungan Beban Uplift
𝐦𝐃 𝟎, 𝟐𝟓 × 𝟏 W = Berat beton (Wp) + Berat Tanah
𝐒𝐟 = 𝟏 + =𝟏+ = 𝟏, 𝟐𝟓 = ((1×1×1)×2,4) + 1,80 = 4,2 ton/m³
𝐁 𝟏
𝟑𝟓 c =
𝐂𝐮
=
𝟒,𝟎
= 2,0 ton/m²
𝐊𝐩 = 𝐓𝐚𝐧²(𝟒𝟓° + ) = 𝟑, 𝟔𝟗 𝟐 𝟐
𝟐
𝟐𝚽 𝟑𝟓 Qu = 2Cd(B+L)+ƔD²(2𝐒𝐟 B+L-B)Ku.tanΦ+W
𝐊𝐮 = 𝐊𝐩 × 𝐓𝐚𝐧 ( ) = 𝟏, 𝟐𝟓 × 𝐓𝐚𝐧 ( ) = (2×2×1×2)+(1,8)×(2×1,25×1) ×1,591×tan
𝟑 𝟑
= 𝟑, 𝟔𝟗 35°+4,2
= 31,493 ton/m²
𝟑𝟏,𝟒𝟗𝟑
Qu = = 𝟏𝟐, 𝟓𝟗𝟕 𝐭𝐨𝐧/𝐦²
𝟐,𝟓
4. Beban Tekanan Hidrostatis Air
Struktur diasumsikan menerima beban tekan hidrostatis yang bekerja di dalam dinding dock
dengan perhitungan sebagai berikut:
Diketahui data-data sebagai berikut:
Berat jenis air laut = 1,03 ton/m³
h = 8,1 m

8
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

+ 1,65
A

Angker
I.1

845
810

I.2 I.3 I.4 - 6,80 B

Gambar Diagram Beban Tekan Hidrostatis Air Laut


(Sumber: Penulis, 2018)

Tabel Perhitungan beban tekanan hidrotatis air


𝐏𝐚 = 𝐡 × Ɣ𝐬𝐚𝐭 𝐏𝐚 = 𝐡𝟏 × Ɣ𝐬𝐚𝐭
= 𝟎 × 𝟏, 𝟖𝟎 𝐭𝐨𝐧/𝐦³ = 𝟖, 𝟏 × 𝟏, 𝟎𝟑 𝐭𝐨𝐧/𝐦³
=𝟎 = 𝟖, 𝟐𝟒 𝐭𝐨𝐧/𝐦²

5. Beban Tarikan Bolder


Beban akibat tarikan bolder oleh kapal diasumsikan hanya sebesar 2,5 ton.

Angker
I.1

845

I.2 I.3 I.4

300 165

Gambar Diagram Tarikan Bolder


(Sumber: Penulis, 2018)

4.2. Perhiungan Sheet Pile Pada Saat Pelaksanaan


4.2.1. Menentukan Tekanan Tanah yang Bekerja pada Dinding
Tanah di belakang turap bekerja aktif sampai dengan garis keruk. Maka pemecahan
permasalahan menggunakan asumsi data sebagai berikut:
Berat volume tanah urug dalam keadaaln jenuh Ɣ𝐬𝐚𝐭 = 1,80 ton/m³
Berat volume tanah efektif Ɣ′ = 1,80 ton/m³
Sudut geser dalam tanah Φ = 35°
Kohesi tanah dalam keadaan undrained 𝐜𝐮 = 4,0 ton/m³
Safety Factor F = 2,0
Koefisien tekanan tanah aktif Ka = 0,270
Koefisien tekanan tanah pasif Kp = 3,69 ; δ = 0

9
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

q=3,75 t/m
Kasus 1 = Dock penuh air
A
30
B

Muka Air
170

C T

845

645

Kasus 2 = Dock kosong


(Prinsip Bendung Elak)

Gambar Sketsa Penampang Rencana Turap


(Sumber: Penulis, 2018)

Pada gambar di atas, untuk tekaan hidrostatik pada kedua sisi turap dianggap nol (0) atau saling
meniadakan. Perhitungan tekanan-tekanan diperlihatkan pada gambar berikut.

pa1

pa2

pa3

pa4

pa5

x
pp1

Gambar Diagram Tekanan Tanah pada Turap


(Sumber: Penulis, 2018)

1. Perhitungan koefisien tekanan tanah


a. Koefisian tekanan tanah aktif
𝟑𝟓
𝐊𝐚 = 𝐓𝐚𝐧²(𝟒𝟓° − ) = 𝟎, 𝟐𝟕𝟎
𝟐
b. Koefisian tekanan tanah pasif
𝟑𝟓
𝐊𝐩 = 𝐓𝐚𝐧²(𝟒𝟓° + ) = 𝟑, 𝟔𝟗
𝟐
𝐊 ′ = 𝐊𝐩 − 𝐊𝐚 = 𝟑, 𝟔𝟗 − 𝟎, 𝟐𝟕𝟎 = 𝟑, 𝟒𝟐
2. Perhitungan tekanan tanah/besaran gaya lateral sebagai akibat dari suatu muatan tambahan
𝐩𝐚𝟏 = (Ɣ × 𝐡𝟎 + 𝐪) × 𝐊𝐚 − 𝟐 × 𝐜 × √𝐊𝐚
= (𝟑, 𝟕𝟓 × 𝟎, 𝟐𝟕𝟎) − 𝟐 × 𝟒 × √𝟎, 𝟐𝟕𝟎
= 𝟑, 𝟏𝟒𝟒 𝐭/𝐦²
𝐩𝐚𝟐 = (Ɣ × 𝐡𝟏 + 𝐊𝐚) = 𝟏, 𝟖 × 𝟎, 𝟑 × 𝟎, 𝟐𝟕𝟎 = 𝟎, 𝟏𝟒𝟓𝟖 𝐭/𝐦²
𝐩𝐚𝟑 = (Ɣ × 𝐡𝟐 ) × 𝐊𝐚 − 𝟐 × 𝐜 × √𝐊𝐚
= (𝟏, 𝟖 × 𝟖, 𝟏𝟓) × 𝟎, 𝟐𝟕𝟎 − 𝟐 × 𝟒 × √𝟎, 𝟐𝟕𝟎
= 𝟎, 𝟏𝟖𝟕𝟗 𝐭/𝐦²
𝐩𝐚𝟒 = (Ɣ × 𝐡𝟐 + 𝐊𝐚) = 𝟏, 𝟖 × 𝟖, 𝟏𝟓 × 𝟎, 𝟐𝟕𝟎 = 𝟑, 𝟗𝟔 𝐭/𝐦²
𝐩𝐚𝟓 = 𝐩𝐚𝟑 + 𝐩𝐚𝟒 = 𝟏, 𝟖𝟕𝟗 + 𝟑, 𝟗𝟔 = 𝟒, 𝟏𝟒𝟕𝟗 𝐭/𝐦²

10
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

𝐩𝐚𝟓 𝟒,𝟏𝟒𝟕𝟗
𝐩𝐚𝟓 = (Ɣ × 𝒂 × 𝐊′) sehingga, 𝐚 = = = 𝟎, 𝟔𝟕𝟑𝟖 𝐦
Ɣ×𝐊′ 𝟏,𝟖×𝟑,𝟒𝟐
3. Perhitungan tekanan tanah aktif yang terjadi
𝐩𝐚𝟏 = 𝐩𝐚𝟏 × 𝐡𝟏 = 𝟑, 𝟏𝟒𝟒 × 𝟎, 𝟑 = 𝟎, 𝟗𝟒𝟑𝟐 𝐭/𝐦
𝟏
𝐩𝐚𝟐 = × 𝐩𝐚𝟐 × 𝐡𝟏 = 𝟎, 𝟓 × 𝟎, 𝟏𝟒𝟓𝟖 × 𝟎, 𝟑 = 𝟎, 𝟎𝟐𝟏𝟖 𝐭/𝐦
𝟐
𝐩𝐚𝟑 = 𝐩𝐚𝟑 × 𝐡𝟐 = 𝟎, 𝟏𝟖𝟕𝟗 × 𝟖, 𝟏𝟓 = 𝟏, 𝟓𝟑𝟏 𝐭/𝐦
𝟏
𝐩𝐚𝟒 = × 𝐩𝐚𝟒 × 𝐡𝟐 = 𝟎, 𝟓 × 𝟑, 𝟗𝟔 × 𝟖, 𝟏𝟓 = 𝟏𝟔, 𝟏𝟑𝟕 𝐭/𝐦
𝟐
𝟏
𝐩𝐚𝟓 = × 𝐩𝐚𝟓 × 𝐚 = 𝟎, 𝟓 × 𝟒, 𝟏𝟒𝟕𝟗 × 𝟎, 𝟔𝟕𝟑𝟖 = 𝟏, 𝟑𝟗𝟕 𝐭/𝐦
𝟐

4. Perhitungan tekanan pasif yang terjadi


𝐩𝐩𝟏 = Ɣ × 𝐗 × 𝐊′ = 𝟏, 𝟖𝑿 × 𝟑, 𝟒𝟐 = 𝟔, 𝟏𝟓𝟔𝐗 𝐭/𝐦²
𝟏
𝐏𝐩𝟏 = × 𝐩𝐩𝟏 × 𝐗 = 𝟑, 𝟎𝟕𝟔𝐗² 𝐭/𝐦²
𝟐

4.2.2. Menentukan Letak Angker


∑ 𝐌𝐁 = 𝟎
−𝐑𝐚 × 𝟎, 𝟑 + 𝐩𝐚𝟏 × 𝟎, 𝟏𝟓 + 𝐩𝐚𝟐 × 𝟎, 𝟏 = 𝟎
𝟎, 𝟗𝟒𝟑𝟐 × 𝟎, 𝟏𝟓 + 𝟎, 𝟎𝟐𝟏𝟖𝟕 × 𝟎, 𝟏
𝐑𝐚 = = 𝟎, 𝟒𝟕𝟖𝟖𝐭
𝟎, 𝟑
𝐩𝐚𝟏 𝐩𝐚𝟏 ′ 𝟑,𝟏𝟒𝟒
= sehingga, 𝐩𝐚′𝟏 = = 𝟏𝟎, 𝟒𝟖𝒚
𝐡𝟏 𝒚 𝟎,𝟑
𝐩𝐚𝟐 𝐩𝐚𝟐 ′ 𝟎,𝟏𝟒𝟓𝟖
= sehingga, 𝐩𝐚′𝟐 = = 𝟎, 𝟒𝟖𝟔𝒚
𝐡𝟏 𝒚 𝟎,𝟑

𝟏
𝐌𝐲 = −𝐑𝐚𝐲 + 𝟎, 𝟓𝐩𝐚′𝟏 𝐲 + 𝟎, 𝟓𝐩𝐚′𝟐 𝐲 × 𝐲 = 𝟎
𝟑
= −𝟎, 𝟒𝟕𝟖𝟖𝐲 + 𝟓, 𝟐𝟒𝐲³ + 𝟎, 𝟎𝟖𝟏𝐲³
= −𝟎, 𝟒𝟕𝟖𝟖𝐲 + 𝟓, 𝟑𝟐𝟏𝐲³
𝐝𝐌𝐲
𝐌𝐌𝐀𝐗 = =𝟎
𝐝𝐲
= −𝟎, 𝟒𝟕𝟖𝟖𝐲 + 𝟓, 𝟑𝟐𝟏𝐲²
𝐲² = 𝟎, 𝟎𝟐𝟗𝟗𝟗
𝐲 = 𝟎, 𝟏𝟕𝟑 = 𝟎, 𝟏𝟕 𝐦𝐞𝐭𝐞𝐫

Misal Pa terletak di z meter dari angker

pa4
pa5
pa2

pa1 pa3 pp1

z a

Gambar Letak Garis Kerja Pa


(Sumber: Penulis, 2018)
∑ 𝐌𝐀𝐧𝐠𝐤𝐞𝐫 = 𝟎

𝟏
∑ 𝐏𝐚 𝐳 = 𝐩𝐚𝟏 (𝟎, 𝟏𝟕 − 𝟎, 𝟏𝟓) + 𝐩𝐚𝟐 (𝟎, 𝟏𝟑 − 𝟎, 𝟏) + 𝐩𝐚𝟑 ( × 𝟗, 𝟏𝟓 × 𝟎, 𝟏𝟑)
𝟐
𝟐 𝟏
+𝐩𝐚𝟒 ( × 𝟖, 𝟏𝟓 + 𝟎, 𝟏𝟑) + 𝐩𝐚𝟓 ( × 𝟎, 𝟔𝟕𝟑𝟖 + 𝟎, 𝟏𝟑 + 𝟖, 𝟏𝟓)
𝟑 𝟑

11
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

= 𝟎, 𝟗𝟒𝟑𝟐(𝟎, 𝟎𝟐) + 𝟎, 𝟐𝟏𝟖𝟕(𝟎, 𝟎𝟑) + 𝟏, 𝟓𝟑𝟏(𝟒, 𝟐𝟎𝟓) + 𝟏𝟔, 𝟏𝟑𝟕(𝟓, 𝟓𝟔𝟑) + 𝟏, 𝟑𝟗𝟕(𝟖, 𝟓𝟎𝟒𝟔)
= 𝟏𝟎𝟖, 𝟏𝟏𝟐𝟑𝟔
𝟏𝟎𝟖, 𝟏𝟏𝟐𝟑𝟔
𝒛 = = 𝟓, 𝟑𝟗 𝐦𝐞𝐭𝐞𝐫 ≅ 𝟓, 𝟓 𝐦𝐞𝐭𝐞𝐫
𝟐𝟎, 𝟎𝟑
Jadi garis kerja Pa terletak pada 5,5 meter di bawah angker.

4.2.3. Menentukan Kedalaman Penetrasi Sheet Pile

∑ 𝐌𝐀𝐧𝐠𝐤𝐞𝐫 = 𝟎

𝟐
∑ 𝐏𝐩 𝐳 = 𝐏𝐩𝟏 ( 𝐗 + 𝟎, 𝟔𝟕𝟑𝟖 + 𝟖, 𝟏𝟓 + 𝟎, 𝟏𝟑)
𝟑
𝟐
= 𝟑, 𝟎𝟕𝟔𝐗² ( 𝐗 + 𝟎, 𝟔𝟕𝟑𝟖 + 𝟖, 𝟏𝟓 + 𝟎, 𝟏𝟑)
𝟑
𝟏𝟎𝟖, 𝟏𝟏𝟐𝟑𝟔 = 𝟐, 𝟎𝟓𝐗³ + 𝟐𝟕, 𝟓𝟒𝟐𝐗²
(𝟐, 𝟎𝟓𝐗 + 𝟐𝟕, 𝟓𝟒𝟐)𝐗² = 𝟏𝟎𝟖, 𝟏𝟏𝟐𝟑𝟔 sehingga, X = 1,85 meter

D = a + X = 0,6738 × 1,85 meter = 2,60 meter


Diambil angka keamanan 100%, jadi:
D = 2,60+(100%×2,60) = 5,2 ≈ 5,5 meter

Jadi dalamnya pemancangan sheet pile adalah 5,5 meter dengan panjang total turap yang
dibutuhkan adalah 14 meter.
Cek kestabilan turap:
𝟏
D > ×𝐇
𝟑
𝟏
5,5 > × 𝟏𝟒
𝟑
5,5 > 𝟒, 𝟔𝟔 meter ….. OK!

4.2.4. Menentukan Momen Terbesar Pada Turap/Sheet Pile


𝐌𝐌𝐀𝐗 = −𝟎, 𝟒𝟕𝟖𝟖𝐲 + 𝟓, 𝟑𝟐𝟏𝐲³
= −𝟎, 𝟒𝟕𝟖𝟖(𝟎, 𝟏𝟕) + 𝟓, 𝟑𝟐𝟏(𝟎, 𝟏𝟕)³
= −𝟎, 𝟎𝟖𝟏𝟑𝟗𝟔 + 𝟎, 𝟎𝟐𝟔𝟏𝟒 = −𝟎, 𝟎𝟓𝟓 𝐭𝐦
Diketahui bahwa momen lentur terbesar terjadi di dekat permukaan garis galian antara titik C
dan titik D. Momen terbesar terjadi di mana tegangan geser adalah nol.

4.3. Perhitungan Angker


4.3.1. Menentukan Dimensi
𝟏
𝐖= , dimana b = t
𝟔𝐛𝐭²
𝟏
=
𝟔𝐭³
𝐭
𝛔𝐥𝐭 = 𝟏𝟓𝟎𝟎 𝟐
𝐦
𝐌
𝛔𝐥𝐭 =
𝐖
𝟎, 𝟎𝟓𝟓
𝟏𝟓𝟎𝟎 = 𝟏
𝟔𝐭³
𝟎,𝟑𝟑
t³=
𝟏𝟓𝟎𝟎
sehingga didapatkan t = 0,0603 m ≈ 6 cm
maka didapat dimensi stang angker adalah 6/6 cm.

4.3.2. Menentukan Besar Diameter Tierod


Tahaanyang diberikan oleh kepala jangkar adalah selisih tekanan tanah pasif yang bekerja pada
bagian muka dan tekanan aktif yang bekerja pada sisi yang lain. Besar gaya angker (𝐅𝐚𝐫 ) adalah:
(𝐅𝐚𝐫 ) = ∑ 𝐏𝐚 − ∑ 𝐏𝐩 = 𝟐𝟎, 𝟎𝟑 − (𝟑, 𝟎𝟕𝟔𝒚𝟐 ) = 𝟐𝟎, 𝟎𝟑 − (𝟑, 𝟎𝟕𝟔 × 𝟏, 𝟖𝟓𝟐 ) = 𝟗, 𝟓 𝐭/𝐦

12
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

Cek terhadap kestabilan gaya tarik angker sheet pile (𝐅𝐚𝐫 ) pada pelaksanaan tidak melebihi gaya
tarik angker kombinasi (T) yaitu:
(𝐅𝐚𝐫 ) < (𝐓)
9,5 t/m < 17,87 t/m …. (OK!)
Besarnya diameter tierod yang dibutuhkan adalah:
Σ besi untuk U22= 11000 t/m²
T = 17,87 t/m
𝟏
Luas penampang kabel tierod. A = 𝟒 𝛑𝐝²
𝐅𝐚𝐫
𝛔𝐛𝐞𝐬𝐢 =
𝐀
𝟏𝟕, 𝟖𝟕
𝟏𝟏𝟎𝟎𝟎 = 𝟏
𝛑𝐝²
𝟒
d² = 2,0684× 𝟏𝟎−𝟑 sehingga didapat d = 0,045 m ≈ 4,5 cm
atau digunakan standar 5 Ø ½ ”.

4.3.3. Menentukan Dimensi Angker


Diketahui data-data sebagai berikut:
𝐅𝐚𝐫 = 9,5 t/m
Berat volume tanah urug dalam keadaan jenuh Ɣ𝐬𝐚𝐭 = 1,80 ton/m³
Sudut geser dalam tanah Φ = 35°
Koefisien tekanan tanah aktif Ka = 0,270
𝟑
Koefisien tekanan tanah pasif Kp = 3,42 ; a = b
𝟐

a
Far b

Deadman

Pp1

Pp
Pp2

Detail

Gambar Diagram Tekaan Tanah pada deadman


(Sumber: Penulis, 2018)

𝟏
𝐏𝐚𝟏 = × 𝐚 × 𝐩𝐚𝟏 = 𝟎, 𝟓 × (𝟎, 𝟔𝟔𝟕 × 𝐛) × (Ɣ × 𝟎, 𝟎𝟔𝟔𝟕𝐛 × 𝐊𝐚)
𝟐
= 𝟎, 𝟓 × (𝟎, 𝟔𝟔𝟕 × 𝐛) × (𝟏, 𝟖 × 𝟎, 𝟎𝟔𝟔𝟕𝐛 × 𝟎, 𝟐𝟕𝟎) = 𝟎, 𝟓𝟒𝟔𝟕𝟓𝐛²
𝟏
𝐏𝐚𝟐 = × (𝐚 − 𝐛) × (Ɣ × (𝒂 − 𝒃) × 𝐊𝐚) = 𝟎, 𝟓 × 𝟎, 𝟓𝐛 × (𝟏, 𝟖 × 𝟎, 𝟓𝐛 × 𝟎, 𝟐𝟕𝟎) = 𝟎, 𝟎𝟔𝟎𝟕𝟔𝐛²
𝟐
∑ 𝐏𝐚 = 𝐏𝐚𝟏 − 𝐏𝐚𝟐 = 𝟎, 𝟓𝟒𝟔𝟕𝟓𝐛² − 𝟎, 𝟎𝟔𝟎𝟕𝟔𝐛² = 𝟎, 𝟒𝟖𝟔𝐛²

𝟏
𝐏𝐩𝟏 = × 𝐚 × 𝐩𝐩𝟏 = 𝟎, 𝟓 × (𝟎, 𝟔𝟔𝟕 × 𝐛) × (Ɣ × 𝟎, 𝟎𝟔𝟔𝟕𝐛 × 𝐊𝐩)
𝟐
= 𝟎, 𝟓 × (𝟎, 𝟔𝟔𝟕 × 𝐛) × (𝟏, 𝟖 × 𝟎, 𝟎𝟔𝟔𝟕𝐛 × 𝟑, 𝟒𝟐) = 𝟔, 𝟗𝟐𝟓𝟓𝐛²
𝟏
𝐏𝐩𝟐 = × (𝐚 − 𝐛) × (Ɣ × (𝒂 − 𝒃) × 𝐊𝐩) = 𝟎, 𝟓 × 𝟎, 𝟓𝐛 × (𝟏, 𝟖 × 𝟎, 𝟓𝐛 × 𝟑, 𝟒𝟐) = 𝟎, 𝟕𝟔𝟗𝟓𝐛²
𝟐
∑ 𝐏𝐩 = 𝐏𝐩𝟏 − 𝐏𝐩𝟐 = 𝟔, 𝟗𝟐𝟓𝟓𝐛² − 𝟎, 𝟕𝟔𝟗𝟓𝐛² = 𝟔, 𝟏𝟓𝟔𝐛²

𝐅𝐚𝐫 = ∑ 𝐏𝐩 − ∑ 𝐏𝐚

13
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

𝟗, 𝟓 = 𝟔, 𝟏𝟓𝟔𝐛² − 𝟎, 𝟒𝟖𝟔𝐛²
𝟗, 𝟓 = 𝟓, 𝟔𝟕𝐛²
𝐛² = 𝟏, 𝟔𝟕𝟓𝟓 sehingga didapatkan b = 1,2944 ≈ 1,3 meter
𝟑
a = 𝐛 = 0,667× 1,2944 = 1,9416 ≈ 2,0 meter
𝟐
ɸ ɸ
L = (H+D)×tan(45°− ) + 𝐚 × 𝐭𝐚𝐧(𝟒𝟓° + )
𝟐 𝟐
𝟑𝟓 𝟑𝟓
= (H+D)×tan(45°− ) + 𝐚 × 𝐭𝐚𝐧(𝟒𝟓° + )
𝟐 𝟐
= (8,45+5,5)×tan(27,5°) + 𝟐 × 𝐭𝐚𝐧(𝟔𝟐, 𝟓°)
= 11,096 ≈11,1 meter

200
130

1110

Concrete Sheet Pile (CSP)


Sheet Pile Beton L = 14 m
Garis Keruk

550

Gambar Sketsa posisi jarak deadman terhadap turap


(Sumber: Penulis, 2018)
Dengan perhitungan konstruksi yang akurat maka perencanaan struktur dock yang telah
direncanakan akan menghasilkan sebuah desain konstruksi yang akan diaplikasikan pada
lapangan.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perencanaan, didapatkan beberapa data dimensi untuk turap dan angkur yang
digunakan sebagai berikut:
1. Turap (Sheet Pile)
Tipe : W500 B1000
Lebar penampang ( b ) : 500 mm
Panjang penampang (h) : 1000 mm
Panjang ( l ) : 14 meter
Kedalaman penetrasi : 5,5 meter dari garis keruk ( dredged line )
Bahan : Beton bertulang

2. Angkur (Jangkar)
Dimensi ( b ) : 2,0 m
Tie Rod : Strand 5 D-1/2 ”.
Dimensi stang angker : 60 x 60
Panjang letak ( l ) : 11,1 meter

6. SARAN
Saran yang dapat diberikan oleh penulis berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan adalah
sebagai berikut:
1. Mutu material harus disesuaikan dengan hasil perencanaan, seperti mutu beton, baja dan
diameter tulangan.
2. Pelaksanaan perencanaan yang tersusun dan tertata rapi serta berpatokan pada standar teknis
akan menghasilkan suatu perencanaan yang baik dan tepat sehingga nantinya menghasilkan
sebuah konstruksi bangunan yang kuat dan stabil.

14
Teknik Sipil | Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan | Insitut Teknologi Kalimantan
Balikpapan | Kalimantan Timur | 2018

DAFTAR PUSTAKA

Hertiany, Isti Radhista, Adwiyah Asyifa. 2014. “Perencanaan Konstruksi Sheet Pile Wall Sebagai Alternatif
Pengganti Gravity Wall”. Yogyakarta: Universitas Teknologi Yogyakarta

Ardi, Khoirul, Syahroni, Alfi Rahmi. 2015. “Analisis Konstruksi Pengaman Tebing Type Sheet Pile Beton”.
Fakultas Teknik Universitas Paisr Pengaraian: Riau

Irsyam, Mas. 2000. “Tegangan Lateral dan Dinding Penahan Tanah”. Insitut Teknologi Bandung: Bandung

15