Anda di halaman 1dari 6

Klasifikasi Temporomandibular Disorder

1. Myofascial Pain

Myofascial Pain dan Disorder (MPD) merupakan penyebab paling sering dari masticatory pain
dan fungsi terbatas dimana pasien pergi ke dokter gigi untuk konsultasi dan mendapatkan perawatan.
Sumber dari rasa sakit dan disfungsi ini adalah otot, dengan otot masticatory berkembang menjadi
lebih tender dan sakit sebagai hasil dari fungsi abnormal otot dan hiperaktivitas otot. Rasa sakit pada
otot sering namun tidak selalu, dihubungkan dengan kebiasaan clenching atau bruxism pada malam
hari. Penyebab MOD ini multifaktorial. Salah satu penyebab yang paling banyak diterima adalah
burxism yang dihasilkan dari stress dan kecemasan, dengan oklusi menjadi faktor modifikasi atau
faktor yang memperparah. MPD juga dapat terjadi karena masalah pada internal joint, sepert disk
displacement disorder atau penyakit sendi degeneratif (DjD).

Pasien dengan MPD biasanya mengeluhkan rasa sakit yang menyebar, tidak terlokalisasi yang
juga dapat melibatkan otot-otot mastikasi seperti otot temporalis dan medial pterioid. Pada pasien
dengan kebiasaan burxism pada malam hari , rasa sakit sering bertambah parah pada pagi hari. Pasien
akan mengeluhkan penurunan dalam membuka mulut dengan rasa sakit selama fungsi seperti
mengunyah. Karena terdapat peran stress, maka aras sakit biasanya lebih parah selama periode
tertekan dan cemas.

2. Disk Displacement Disorder

Dalam keadaan normal TMJ, fungsi kondile dalam keadaan hinge dan sliding. Selama pembukaan
penuh condyle tidak hanya berotasi dalam sumbu hinge namun condyle juga bertranlasi ke depan ke
posisi dekat dengan bagian paling inferior articular eminence. Selama fungsinya biconcave disk
berada di posisi anta condyle dan fossa, dengan condyle. Selama fungsinya bconcave disk tetap
berada dalam posisi diantara fossa dengan condyle, dengan condyle tetap berada dalam zona
intermediet tipis selama semua fase berlangsung (baik ketika membuka mulut ataupun menutup
mulut)

Gambar 1. Hubungan Normal antara Disk dengan Condyle

A. Anterior Disk Displacement dengan Reduction


Pada anterior disk diplacement, disk diposisikan anterior dan medial terhadap condyle
dalam posisi tertutup. Selama gerak membuka mulut condyle bergerak melewati posterior
band disk dan secara bertahap kembali pada posisi normal condyle dan disk, pada zona
intermediet tipis. Selama penutupan, condyle bergerak ke arah posterior dan jatuh pada
retrodiskal tissue, dengan disk kembali pada posisi yang tidak seharusnya, ke anterior dan ke
medial.
Pemeriksaan pada pasien biasanya membuktikan adanya tenderness pada sendi dan
juga kadang pada otot. Bunyi sendi (seperti clicking) biasanya terdengar ketika fase membuka
mulut, ketika condyle bergerak dari area posterior menuju disk ke dalam area concave tipis di
tengah disk. Pada beberapa kasus clicking dapat terdengar atau teraba selama fase menutup
mulut. Opening maksimal dapat normal atau sedikit terbatas, dengan click terjadi selama
pergerakan opening.

Gambar 2. Anterior Disk Displacement dengan Reduksi

B. Anterior Disk Displacement Tanpa Reduksi


Pada anterior disk displacement tanpa reduksi, condyle akan selalu berada di
belakang disk, tidak dapat kembali berada pada disk. Rahang akan terasa terkunci, karena
condyle tidak bisa bertranslasi sampai translasi maksimalnya, sehingga menyebabkan
pembukaan mulut yang terbatas dan juga menyebabkan deviasi mandibula ke area yang
bermasalah.
Pada pasien ini tidak tidak terjadi bunyi clicking karena condyle tidak dapat
bertranslasi melewati aspek posterior disk. Keterbatasan translasi ini akan menghasilkan
pembukaan mulut yang terbatas, deviasi pada area yang terkena, dan penurunan ekskursi
lateral pada sisi kontralateral.

Gambar 3. Anterior Disk Displacement without Reduction


3. Degenerative Joint Disease (Arthrosis, Osteoarthritis)
DjD meliputi berbagai temuan anatomis, seperti disk yang iregular, perforasi, dan
disk yang rusak parah yang berhubungan dengan abnormalitas permukaan articular, seperti
permukaan artcular yang flattenng, erosi, dan pembentukkan osteophyte. Mekanisme penyakit
degeneratif TMJ tidak dapat dipahami dengan jelas namun penyakit ini merupakan penyakit
multifaktorial. Beberapa konsep menyebutkan DjD berhubungan dengan mekanisme yang
mungkin terjadi yaitu (1) traume mekanis secara langsung, (2) injury hypoxia reperfusi dan
(3) inflamasi neurogenik.
Trauma mekanis bisa menghasilkan trauma yang siginifikan pada sendi atau otot ,
seperti beban mekanis yang berlebih. Stress berlebih yang dihasilkan di dalam sendi akan
menjurus pada ganguan molekular dan generasi radikal bebas, yang menghasilkan stress
oksidatif dan kerusakan intraseluler. Beban berlebih juga dapat memengaruhipopulasi sel
lokal dan mengurangi kapasitas reparatif dari sendi.
Teori Hypoxia reperfusi akan memicu tekanan hidrostatik intracapsular yang berlebih
di dalam TMJ yang akan melebihi tekanan perfusi pembuluh darah sehingga menyebabkan
hypoxia.
Inflamasi neurogenik akan menghasilkan berbagai substansi yang dirilis oleh saraf
periperal. Pengeluaran sitokin akan menghasilkan rilisnya dan aktivasi berbagai variasi
substansi termasuk prostaglandin, leukotrin, dan enzim matrix-degrading enzyme.
Kandungan-kadungan tersebut tidak hanya berperan dalam proses penyakit namun juga
sebagai marker biologis yang dapat membantu mendiagnosa dan secara bertahap menangani
kondisi patologis dari sendi.
Pasien dengan DjD biasanya sering merasakan sakit yang berhubungan dengan
clicking atau crepitasi yang berlokasi langsung pada TMJ. Biasanya keterbatasan membuka
mulut pun terjadi.

Gambar 4. Degenerative Joint Diseases

4. Systemic Arthritic Conditions


Berbagai kondisi sistemik arthritic diketahui dapat mempengaruhi TMJ, dan yang
paling umum terjadi adalah rheumatoid arthritis. Proses lainnya, seperti lupus sistemik, juga
dapat mempengaruhi TMJ. Dalam kasus ini, gejala jarang terisolasi dengan TMJ, dan
beberapa tanda-tanda dan gejala arthritis lain biasanya hadir di daerah lain dari tubuh.
Pada kasus rheumatoid arthritis, proses inflamasi dapat menghasilkan proliferasi
abnormal dari jaringan synovial dan terjadi pembentukan pannus.

Gejala TMJ sebagai hasil dari rheumatoid arthritis dapat terjadi pada usia lebih dini
daripada gejala TMJ yang terkait dengan DJD (Degenerative Joint Disease). Berbeda dengan
DJD yang biasanya unilateral, rheumatoid arthritis (dan kondisi sistemik lainnya) biasanya
mempengaruhi TMJ secara bilateral.
Pada gambaran radiograf, TMJ awalnya menunjukan perubahan erosive pada aspek
anterior dan posterior dari kepala kondilus. Perubahan ini dapat berkembang menjadi daerah
terkikis yang besar dan meninggalkan penampilan kondilus yang kecil, pointed di large fossa.
Akhrinya, seluruh kondilus dan leher kondilus akan hancur. Tes laboratorium, seperti faktor
dan tingkat sedimentasi eritrosit, dapat membantu dalam mengkonfirmasikan diagnosis
rheumatoid arthritis.

5. Chronic Recurrent Dislocation


Dislokasi TMJ sering terjadi dan disebabkan
oleh hipermobilitas mandibula. Subluksasi adalah
perpindahan dari kondilus, yang merupakan self-
reducing dan umumnya tidak memerlukan perawatan
medis. Kondisi yang lebih serius terjadi ketika
kondilus mandibula translasi ke arah anterior di depan
articular eminence dan terkunci dalam posisi tersebut.
Dislokasi dapat terjadi unilateral atau bilateral dan
dapat terjadi secara spontan setelah membuka mulut
yang lebar, seperti saat menguap, makan, atau selama prosedur kedokteran gigi. Dislokasi
kondilus mandibula yang bertahan selama lebih dari beberapa detik umumnya akan
menyakitkan dan sering dikaitkan dengan kejang otot yang parah.
Dislokasi harus direduksi sesegera mungkin. Reduksi ini dapat dicapai dengan
mengaplikasikan tekanan ke bawah pada gigi posterior dan tekanan ke atas pada dagu,
disertai dengan perpindahan posterior mandibula. Biasanya reduksi tidak sulit untuk
dilakukan. Walaupun begitu, adanya kejang otot dapat mencegah reduksi sederhana,
khususnya ketika dislokasi tidak bisa direduksi secepatnya. Pada kasus ini, diperlukan
anastesi pada saraf auricular temporal dan otot mastikasi. Sedasi untuk mengurangi
kecemasan pasien dan pemberian relaksasi otot juga diperlukan. Setelah direduksi, pasien
harus diinstruksikan untuk membatas pembukaan mandibula selama 2 – 4 minggu. Moist heat
dan obat NSAID dapat membantu dalam mengendalikan rasa sakit dan peradangan.

6. Ankylosis
a. Ankylosis intracapsular
Ankylosis intracapsular atau fusi dari
sendi, dapat menyebabkan berkurangnya
kemampuan mandibula untuk membuka yang
berkisar dari pengurangan fungsi secara parsial
sampai immobilitas total dari rahang.
Ankylosis intracapsular merupakan hasil dari
fusi kondilus, disk, dan kompleks fossa
sebagai hasil dari pembentukan jaringan
fibrosa, fusi tulang, atau kombinasi dari
keduanya. Penyebab utama dari anyklosis
melibatkan macrotrauma, yang paling sering dikatikan dengan fraktur condylar.
Penyebab lain dari ankylosis adalah perawatan bedah sebelumnya yang mengakibatkan
terbentuknya jaringan parut dan infeksi (jarang terjadi).
Evaluasi pada pasien menunjukkan bahwa keterbatasan yang parah dalam
pembukaan maksimal, deviasi pada sisi yang terkena, dan penurunan ekskursi lateral ke
sisi kontralateral. Jika ankylosis adalah hasil dari jaringan fibrosa, mobilitas rahang
akan lebih besar dibandingkan dengan ankylosis sebagai hasil dari fusi tulang.
Evaluasi radiograf menunjukkan adanya permukaan artikular dari kondilus dan
fossa yang tidak teratur, dengan berbagai tingkat hubungan kalsifikasi antara
permukaan yang berartikulasi,

b. Ankylosis ekstracapsular
Ankylosis ekstracapsular biasanya
melibatkan prosessus koronid dan otot
temporalis. Kasus yang biasa terjadi dari
ankylosis ekstracapsular adalah pembesaran
prossesus, atau hyperplasia, dan trauma di
daerah lengkung zygomatic. Infeksi disekitar
otot temporalis juga dapat menyebabkan
ankylosis ekstracapsular.
Pasien awalnya akan mengalami
keterbatasan dalam membuka mulut dan deviasi
pada sisi yang terkena. Pada kasus ini,
keterbatasan total dalam membuka mulut jarang terjadi, dan keterbatasan pergerakan
lateral dan protrusif biasanya dapat terjadi, mengindikasikan tidak ada ankylosis
intracpasular.
Pada gambaran radiografik panoramik umumnya menunjukkan pemanjangan
prosessus koronoid. Gambaran radiografik submental vertex berguna dalam
menunjukan tubrukan yang disebabkan oleh fraktur lengkung zygomatic atau kompleks
zygomaticomaxillary.

7. Neoplasia
Neoplasma di daerah TMJ jarang terjadi. Neoplasma kadang dapat mengakibatkan
keterbatasan dalam membuka mulut dan nyeri sendi. Tumor di dalam TMJ dapat
menyebabkan abnormalitas kondilus dan hubungan fossa atau ankylosis intracapsular.

8. Infeksi
Infeksi pada daerah TMJ jarang terjadi, bahkan dalam kasus trauma atau intervensi
bedah di daerah ini. Di Negara-negara dunia ketia dimana terapi antibiotic infeksi telinga
tengah tidak tersedia, perluasan dari infeksi di prossesus terkadang melibatkan TMJ dan
mengakibatkan ankylosis intracapsular.

Referensi:
 Hupp, James R, Edward Ellis, and Myron R Tucker. Contemporary Oral and Maxillofacial
Surgery. St. Louis, Mo.: Mosby Elsevier, 2008.