Anda di halaman 1dari 22

24-Feb-19

BY.
Ns. Frana Andrianur, S. Kep., M. Kep

 Kehilangan atau kerusakan continuitas tulang (Kunkler


2002, McRae and Esser 2002, Judge 2005)
 Trauma  diskontiunitas jaringan tulang  Kerusakan
jaringan lunak

1
24-Feb-19

1. Trauma :
 Langsung : adanya gaya langsung menghantam area tubuh atas
tulang
 Tak langsung : Tergantung karekteristik tulang itu sendiri
2. Stress ( tekanan yang berulang )
3. Pathologis (osteoporosis)

2
24-Feb-19

 Fraktur terbuka : fraktur yang akibatkan tulang menembus kulit


(resiko infeksi besar).

 Fraktur tertutup : Fraktur yang tidak mengakibatkan terjadinya


hubungan tulang dengan dunia luar.
Tindakan: Reposisi, immobilisasi, operasi elektif

 Fraktur terbuka : fraktur yang akibatkan tulang menembus kulit


(resiko infeksi besar).
– Perdarahan
– Debridement
– Reposisi terbuka
– Fiksasi
• Interna
• eksterna

3
24-Feb-19

Usia.
Jenis kelamin.
Pathologis.

 Nyeri
 Perubahan bentuk
 Bengkak
 Peningkatan temperatur lokal
 Pergerakan abnormal.
 Krepitasi
 Kehilangan fungsi

4
24-Feb-19

 Reduksi, untuk memperbaiki kesegarisan tulang (menarik)


 Immobilisasi, untuk mempertahankan posisi reduksi dan memfasilitasi
union (eksternal  gips, traksi, fiksasi eksternal. Internal  nail &
plate).
 Rehabilitasi, mengembalikan ke fungsi semula.

1. STADIUM PEMBENTUKAN HEMATOM


 Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari
pembuluh darah yang robek.
 Hematom dibungkus oleh jaringan lunak sekitarnya (periosteum dan otot)
 Terjadi pada 1 - 2 X 24 Jam.

2. STADIUM PROLIFERASI SEL


 Sel-sel berperoliferasi dari lapisan dalam periosteum, disekitar lokasi
fraktur.
 Sel-sel ini prekursor osteoblas.
 Sel-sel ini aktif tumbuh kearah fragmen tulang.
 Terjadi setelah hari ke dua.

5
24-Feb-19

3. STADIUM PEMBENTUKAN KALLUS.


 Osteoblast membentuk tulang lunak ( kallus ).
 Kallus memberikan rigiditas pada fraktur.
 Terlihat massa kallus pada X Ray  fraktur telah menyatu.
 Terjadi 6 - 10 hari setelah kecelakaan.

4. STADIUM KONSOLIDASI (KALSIFIKASI)


 Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah menyatu.
 Secara bertahap menjadi tulang mature
 Terjadi pada minggu ke 3 - 10 setelah kecelakaan.

5. STADIUM REMODELLING.
 Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi bekas
fraktur.
 Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast
 Pada anak - anak remodelling dapat sempurna, dewasa masih ada tanda
penebalan.

6
24-Feb-19

UMUM DINI LANJUT


• Syok • Cedera syaraf • Delayed Union
• Infeksi • Cedera arteri • Atrofi
• Crush Syndrom • Compartemen • Nekrosis
Pada Otot syndrome
• Emboli Lemak • Cedera kulit &
jaringan lunak

7
24-Feb-19

 Lakukan pengkajian riwayat trauma


 Hasil pemeriksaan fisik
 Hasil Pemeriksaan penunjang

 Roentgenography ( X - ray )
 CT Scan
 Bone Scaning
 MRI (magnetic Resonance Imaging)
 EMG (Elektro MyoGraphy)

8
24-Feb-19

4R
• Recognition ~ diagnosis
• Reduction / reposition
• Retention / fixation / imobilization
• Rehabilitation

• Trauma – Kita harus mempertimbangkan cidera lain/


penyerta
• Pertimbangan live saving sebagai penanganan awal,
pencegahan komplikasi  sebagai pertimbangan pada
proses penyembuhan untuk menghindari kecacatan.
• Penanganan defenitif yang dilanjutkan dengan follow up
• Wajib mengetahui anatomi, fisiologi dan patologi agar dapat
menangani pasien dengan baik.

9
24-Feb-19

(INTC Nurse)
 Pertolongan Pertama  pertimabangan “ Life
before limb”
 Live Saving – ATLS
 Limb saving :
 Realigment
 BIDAI
 Neurovaskular !

Penanganan di IGD (INTC Nurse):


 Live Saving
 ABCD
 Perdarahan
 Cidera lainnya
 Limb Saving
• Reevaluasi
– Neurovaskular
• Imobilisasi fraktur
– Pemeriksaan penunjang

10
24-Feb-19

BIDAI
 Terbuat dari bahan yang lurus, kuat, pipih dan ada bantalan,
sehingga stabil dan aman.
 Immobilisai : harus mempertimbangkan/ mencakup 2 sendi
dan 3 dimensi
 Aligment/ posisi anatomi
 Kondisi saraf dan vaskular

(INTC Nurse)

Data Subyektif :
 Data biologis, Umur, jenis kelamin, pekerjaan.
 Pengkajian dapat difokuskan pada adanya nyeri, kekakuan, kram,
sakit pinggang, kemerahan, deformitas, terbatasnya pergerakan
(ROM), gangguan sensasi dan faktor lain yang mempengaruhi
aktivitas sehari-hari.

11
24-Feb-19

Cara PQRST :
 Provokatif / palliatif : apa penyebabnya dan apa yang membuat
keluhan bertambah ringan atau bertambah berat.
 Quality /Quantity : bagaimana rasanya, kelihatannya dan seberapa
besar.
 Region /Radiation : dimana dan apakah menyebar.
 Severity : apakah mengganggu aktifitas sehari-hari atau seberapa
parah pada skala 1- 10.
 Timing : kapan mulainya, seberapa sering hal ini dirasakan dan
apakah munculnya tiba-tiba atau seketika.

DATA OBYEKTIF :
 Pengkajian fisik sistematik
 Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot.
 Pengukuran kekuatan otot 0 - 5.
 Duduk, berdiri dan berjalan
 Kelemahan otot, deformitas.

12
24-Feb-19

Stockinette
• Tujuan untuk immobilisasi www.brightlifedirect.com
• Penjelasan mengenai prosedur
• Persiapan kulit dan pengkajian luka
• Persiapan kulit, stockinette dipasang diatas tungkai dan
harus dipotong beberapa inci lebih panjang dari perkiraan
panjang akhir dari gips sehingga dapat ditarik untuk
menutupi kulit klien.
• Pastikan stockinette berukuran tepat dan tanpa kerutan, agar
terhindar titik tekanan pada jaringan dibawahnya.

• Bantalan atau gulungan kasa dapat digunakan pada


tungkai untuk mengelilingi lokasi fraktur.
• Bantalan tambahan mungkin diperlukan pada daerah
tonjolan tulang, tapi terlalu banyak akan menambah
tekanan.
• Lapisan pertama harus dibungkus tanpa meregangkan
bantalan tersebut dari distal ke proksimal. Pasang lapisan
kedua dengan lebih ketat dari proksimal ke disatal.
• Gulungan bahan gips plester kemudian dimasukkan ke
dalam air bersih dalam ember satu demi satu.

13
24-Feb-19

• Air diperas dari gulungan, kemudian verban


dipasang pada daerah yang terluka.
• Bahan sintetik tidak perlu ditenggelamkan di air.
• Saat memasang gips, sanggahlah tungkai dari bawah
dengan menggunakan tangan untuk menghindari
tekanan berlebih pada satu area.
• Ujung jari tidak boleh menekan gips menjadi rata.
• Segera bersihkan kulit setelah prosedur selesai dari
bahan gips yang berlebih.

• Pengkajian neurovaskuler : warna, kehangatan,


nadi distal, pengisian kapiler, sensasi
• Pengkajian nyeri : waspada sindroma
kompartemen
• Pengkajian area gips : adanya cidera atau
pembengkakan

14
24-Feb-19

• Nyeri akut b.d trauma jaringan lokal dari insisi


bedah atau cedera pasien, spasme otot,
pergerakan fragmen tulang, traksi
• Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri,spasme atau
ketakutan untuk bergerak.
• Defisit perawatan diri: mandi/hygiene, berpakaian
b.d gangguan mobilitas setelah fraktur pelvis
• Resiko kerusakan intergritas kulit b.d tererbatasan
gerak atau pemberian plester saat mengganti
verban

• Resiko infeksi dd faktor resiko pertahan primer dan


malnutrisi (jika ada), kerusakan kulit, trauma jaringan
• Resiko disfungsi neurovaskuler perifer
• Resiko konstipasi
• Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan
• Kurang pengetahuan b.d diagnosis baru osteoporesis dan
fraktur

15
24-Feb-19

Nurses play A vital role in minimising the risk of deficit


and in detecting early signs of the development of
compartment syndrome (lucas and davis 2005) so that
prompt treatment can be instigated. In assessing
patients for compartment syndrome the nurse should
use the ‘five ps’
(DYKES 1993, JUDGE 2007B).

Dikenal istilah “5 P”
• Pain : greater than expected
• Parethesia : Early sign
• Paralysis : Late sign
• Pallor : Not realible
• Pulselessness : Not realible

16
24-Feb-19

Dikenal istilah “5 P”
• Pain : Nyeri yang diluar dari harapan
• Parethesia : Perubahan sensasi, mati rasa
• PARALYSIS : Ketidakmampuan menggerakan atau nyeri
meningkat
• PALLOR : Pucat dan dingin dibandingan bagian lain.
• PULSELESSNESS : Hilangnya pulsasi perifer atau pengisian
kalpiler yang lambat
(Nursing Standard, 2018)

Seorang laki-laki berusia 30 tahun dibawa ke IGD RS A karena


mengalami kecelakaan lalu lintas diserempet mobil saat berjalan
30 menit yang lalu. Pada pemeriksaan didapatkan kesadaran
compos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80
x/mnt,respirasi 16 x/mt, suhu 37 oC mengeluh nyeri pada lengan
tangan kanan bagian atas, dan tampak tulang humerus menonjol
keluar,ukuran luka p: 3 cm, perdarahan (+) merembes dari
daerah luka, luka kotor oleh aspal

17
24-Feb-19

 Airway : jalan nafas bersih.


 Breathing : 16 x/mt.
 Circulation : perdarahan pada luka tampak merembes,
tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/mt.
 Disability : Composmentis, nyeri
 Expose : luka kotor, ukuran luka p : 3 cm, tulang
humerus menonjol.

Darah : Hb, Ht, leoko, eritrosit, Bt,Ct


 X-Ray lengan kanan atas.

Medikasi:
ATS : 1500 UI
Antibiotik (Profilaksis).
Analgesik.
IV line : RL 20 tts/mnt
Armstring.

18
24-Feb-19

 Indentitas klien dan data demografi.


 Informed consent untuk tindakan.
 Riwayat keperawatan.
 Diagnosa atau masalah keperawatan.
 Rencana keperawatan
 Catatan tindakan dan evaluasi
 Riwayat medis.
 Diagnosa medis
 Pesanan terapi.
 Catatan perkembangan medis dan kesehatan.

 Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak mengalami infeksi dengan


kriteria tidak ada tanda-tanda infeksi: suhu 36 – 37 o C, nadi 60 – 100 x/ menit,
leukosit 6000 – 10.000, pus (-), bau (-), bangkak (-), kemerahan (-), nyeri (-).
 Resiko tinggi untuk infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan primer
sekunder trauma.
 Kaji tanda-tanda infeksi (suhu, nadi), kondisi luka.
 Lakukan penutupan luka dengan kasa steril.
 Kolaborasi untuk tindakan debridemand.
 Kolaborasi pemberian obat antibiotika.
 Kolaborasi pemeriksaan darah (DL).
 Jelaskan tentang tanda-tanda infeksi dan pencegahannya.

19
24-Feb-19

 Pengertian infeksi dan tanda-tandanya.


 Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka.
 Tanda-tanda komplikasi pemasangan gips.
 Perawatan gips.

RESIKO DISFUNGSI NEUROVASKULAR


 Faktor resiko :
 Reduction/ gangguan aliran darah
 Cidera vaskular langsung, trauma jaringan, edema
berlebihan, pembentukan trombus.
 Hypovolemia
 Kriteria Hasil: Perfusi jaringan bisa dipertahankan
dibuktikan dengan denyut nadi teraba, kulit hangat /
kering, sensasi normal, sensorium biasa, tanda-tanda
vital yang stabil, dan keluaran urin yang adekuat

20
24-Feb-19

INTERVENSI KEPERAWATAN
 Lepas perhiasan pada anggota tubuh yang terkena
 Evaluasi terhadap kualitas nadi peripheal distal dengan
palpasi atau dopler
 Kaji pengisian kapiler, warna kulit, kehangatan pada daerah
fraktur
 Tinggikan (elevation) pada daerah cidera kecuali jika
kontraindikasikan.
 Kaji panjang ekstrimitas yang cidera, pembengkakan,
pembengkakan edema

INTERVENSI KEPERAWATAN
 Catat dan laporkan peningkatan nyeri hebat pada cidera saat
pergerakan pasif pada ekstrimitas, perkembangan parestesia,
ketegangan otot, perubahan kualitas nadi distal. Segera
laporkan ke dokter.
 Amati perubahan terhadap iskemia (penurunan suhu tubuh,
pucat, dan peningkatan nyeri).
 Monitor vital sign. Catat tanda pucat secara keseluruhan,
cyanosis, kulit dingin).

21
24-Feb-19

22