Anda di halaman 1dari 167

9

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar

1. Kehamilana

a. Pengertian Kehamilan

Kehamilan merupakan proses alamiah. Perubahan yang terjadi pada

wanita selama kehamilan adalah bersifat fisiologis, bukan psikologis.

Oleh karenanya, asuhan yang diberikaan pun adalah asuhan yang

meminimalkan intervensi. Bidan harus memfasilitasi proses alamiah dari

kehamilan dan menghindari tindakan-tindakan yang bersifat medis yang

tidak terbukti manfatnya.

Kehamilan merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi

perempuan, keluarga dan masyarakat. Perilaku ibu selama masa

kehamilannya akan mempengaruhi kehamilannya, perilaku ibu dalam

mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesehatan ibu dan

janin yang dilahirkan. Bidan harus mempertahankan kesehatan ib dan

janin serta mencegah komplikasi pada saat kehamilan dan persalinan

sebagai satu kesatuan yang utuh.

b. Tanda Dan Gejala Kehamilan

1) Tanda Dugaan Hamil

a) Amenorea (Berhentinya menstruasi)

. Lamanya amenorea dapat diinformasikan dengan

memastikan haid pertama haid terakhir (HPHT) dan


10

digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan dan tafsiran

persalinan.

b) Mual (nausea) dan muntah (emesis)

Pengaruh ekstrogen dan progesterone terjadi

pengeluaran asam lambung yang berlebihan dan menimbulkan

mual muntah yang terjadi terutama pada pagi hari yang

disebut morning sickness.

c) Ngidam (menginginkan makan tertentu)

Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu,

keinginan yang demikian disebut ngidam. Ngidam sering

terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan dan akan

menghilang dengan tuanya kehamilan.

d) Syncope (pingsan)

Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala

(sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan

menimbulkan syncope atau pingsan. Hal ini sering terjadi

terutama jika berada pada tempat yang ramai, biasanya akan

hilang setelah 16 minggu.

e) Kelelahan

Sering terjadi pada trimester pertama, akibat dari

penurunan kecepatan basal metabolisme rate (BMR) pada

kehamilan yang akan meningkat seiring pertambahan usia

kehamilan akibat aktivitas metabolisme hasil konsepsi.


11

f) Payudara tegang

Estrogen meningkatkan perkembangan system duktus

pada payudara sedangkan progesterone menstimulasi

perkembangan system alveolar payudara. Bersama

somatomamotropin, hormon-hormon ini menimbulkan

pembesaran payudara, menimbulkan perasaan tegang dan

nyeri selama dua bulan pertama kehamilan, pelebaran puting

susu, serta pengeluaran kolostrum.

g) Sering miksi

Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung kemih

cepat terasa penuh dan sering miksi. Frekuensi miksi yang

sering, terjadi pada triwulan pertama akibat desakan uterus ke

kandung kemih. triwulan kedua keluhan ini akan berkurang

karena uterus yang membesar keluar rongga panggul. akhir

triwulan, gejala bisa timbul karena janin mulai masuk ke

rongga panggul dan menekan kembali kandung kemih.

h) Konstipasi atau obstipasi

Pengaruh progesterone dapat menghambat peristaltik

usus (tonus otot menurun) sehingga kesulitan untuk buang air

besar.
12

i) Pigmentasi kulit

Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12

minggu. Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid

plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.

Pigmentasi ini meliputi tempat-tempat berikut ini :

(1) Sekitar pipi : cloasma gravidarum (penghitaman

pada daerah dahi, hidung, pipi, dan leher)

(2) Sekitar leher tampak lebih hitam

(3) Dinding perut : strie lividie/gravidarum (terdapat

pada seorang primigavida, warnanya membiru),

strie nigra, linea alba menjadi lebih hitam (linea

grisae/nigra).

(4) Sekitar payudara : hiperpigmentasi aerola mamae

sehingga terbentuk aerola sekunder.

(5) Sekitar pantat dan paha atas : terdapat strie akibat

pembesaran bagian tersebut.

j) Epulis

Hipertropi papilla gingivae/gusi, sering terjadi pada

triwulan pertama.

k) Varises

Varises dapat terjadi disekitar genitalia eksterna, kaki dan

betis, serta payudara. Penampakan pembuluh darah ini dapat

hilang setelah persalinan. (Kusmiyati dkk, 2015)


13

2) Tanda kemungkinan (Probability sign)

Tanda kemungkinan adalah : perubahan-perubahan fisiologis

yang dapat diketahui oleh pemeriksa dengan melakukan fisik

kepada wanita hamil.

a) Pembesaran perut

Terjadi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada

bulan keempat kehamilan.

b) Tanda hegar

Tanda hegar adalah pelunakan dan dapat ditekannya

isthimus uteri.

c) Tanda goodel

Adalah pelunakan serviks, wanita yang tidak hamil

serviks seperti ujung hidung sedangkan pada wanita hamil

melunak seperti bibir.

d) Tanda chadwick

Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan

mukosa vagina termasuk juga portio dan serviks.

e) Tanda piscaseck

Merupakan pembesaran uterus yang tidak simetris.

Terjadi karena ovum berimplantasi pada daerah dekat

dengan korpus sehingga daerah tersebut berkembang lebih

dulu.
14

f) Kontraksi Braxton hicks

Merupakan peregangan sel-sel otot uterus, akibat

meningkatnya actomysin didalam otot uterus. Kontraksi

ini tidak bermitrik, sporadic, tidak nyeri, biasanya timbul

pada kehamilan delapan minggu, tetapi baru dapat diamati

dari pemeriksaan abdominal pada trimester ketiga.

Kontraksi ini akan terus meningkat frekuensinya, lamanya

dan kekuatannya sampai mendekati persalinan.

g) Teraba ballottement

Ketukan mendadak pada uterua menyebabkan janin

bergerak dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh

tangan pemeriksa. Hal ini harus ada pada pemeriksaan

kehamilan karena perabaan bagian sperti bentuk janin saja

tidak cukup Karen dapat saja merupakan myoma uteri.

h) Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif

Pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi adanya

human chorionicgonadotropin (hCG) yang diproduksi

oleh sinsiotropoblastik sel selama kehamilan. Hormone

direksresi ini peredaran darah ibu dapat mulai dideteksi

pada usia 26 hari setelah konsepsi dan meningkat dengan

cepa pada hari ke 30-60. Tingkat tertinggi pada hari 60-70

usia gestasi, kemudian menurun pada hari ke 100-130.


15

3) Tanda pasti hamil (positif Sign)

Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung

keberadaan janin, yanda dapat dilihat langsung oelh pemeriksa.

Tanda psti kehamilan terdiri atas :

a) Gerakan janin dalam Rahim

Gerakan janin harus dapat diraba dengan jelas oleh

pemeriksa. Gerakan janin baru dapat dirasakan pada

usia kehamilan sekitar 20 minggu.

b) Denyut jantung janin

DJJ dapat didengar pada usia 12 minggu dengan

menggunakan dopler dan DJJ didengar pada usia

kehamilan 18-20 minggu dengan laenec.

c) Bagian-bagian janin

Bagian-bagian janin yaitu bagian besar janin

(kepala dan bokong) serta bagian kecil janin (lengan

dan kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia

kehamilan lebih tua (trimester terakhir). Bagian janin

ini dapat dilihat lebih sempurna lagi menggunakan

USG.

d) Kerangka janin

Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen

maupun USG.
16

c. Perubahan Fisiologi Kehamilan

1) Trimester pertama

Segera setelah peningkatan hormon estrogen dan progesteron

dalam tubuh, maka akan muncul ketidak nyamanan secara fisiologis

pada ibu misalnya mual muntah, keletihan, dan pembesaran pada

payudara.

2) Trimester kedua

Trimester kedua biasanya ibu merasa sehat dan sudah terbiasa

dengan kadar hormon yang tinggi serta rasa tidak nyaman akibat

kehamilan sudah mulai berkurang. Pada trimester ini ibu merasakan

gerakan janinnya dan ibu mulai merasakan kehadiran bayinya sebagai

seseorang diluar dirinya dan dirinya sendiri.

3) Trimester ketiga

a) Sakit pinggang disebabkan karena meningkatnya beban berat

yangdibawah yaitu bayi dalam kandungan.

b) Pernapasan, pada kehamilan 33-36 minggu banyak ibu hamil

susah bernafas karena tekanan bayi yang berada dibawah

diafragma menekan pada ibu, tapi setelah kepala bayi yang

sudah turun kerongga panggul ini biasanya pada 2-3 minggu

sebelum persalinan maka akan merasa lega dan bernafas lebih

mudah.
17

c) Sering buang air kecil, pembesaran rahim, dan penurunan bayi

ke pintu atas panggul membuat tekanan pada kandung kemih

ibu.

d) Kontraksi perut, kontraksi palsu berupa rasa sakit yang ringan,

tidak teratur, dan kadang hilang bila duduk atau istirahat. Cairan

vagina, peningkatan cairan vagina selama kehamilan adalah

normal.

(Elisabeth,2015)

d. Perubahan Psikologi Kehamilan

1) Trimester Pertama

Trimester pertama sering dianggap sebagai periode penyesuaian.

yang dilakukan wanita adalah kenyataan bahwa ia sedang

mengandung. Penerimaan kenyataan ini dan arti semua ini bagi

dirinya merupakan tugas psikologis yang paling penting pada

trimester pertama kehamilan.

Beberapa wanita, terutama mereka yang telah merencanakan

kehamilan atau telah berusaha keras untuk hamil, merasa suka cita

sekaligus tidak percaya bahwa dirinya telah hamil dan mencari bukti

kehamilan pada setiap jengkal tubuhnya. Trimester pertama sering

menjadi waktu yang sangat menyenangkan untuk melihat apakah

kehamilan akan dapat berkembang dengan baik.


18

Terjadi penurunan libido dan hal ini memerlukan komunikasi

yang jujur dan terbuka terhadap pasangan masing-masing. Banyak

wanita merasakan kebutuhan kasih sayang yang besar dan cinta

kasih tanpa seks. Libido secara umum sangat dipengaruhi oleh

keletihan, nausea, depresi, payudara yang membesar dan nyeri,

kecemasan, dan kekhawatiran.

2) Trimester Kedua

Trimester kedua sebenarnya terbagi atas dua fase : pra quickening

dan pasca quickening. Quickening menunjukkan kenyataan adanya

kehidupan yang terpisah, dorongan bagi wanita dalam melaksanakan

tugas psikologis yakni mengembangkan identitas sebagai ibu bagi

dirinya sendiri, yang berbeda dari bayinya.

Ukuran perut wanita belum menjadi masalah besar, lubrikasi

vagina semakin banyak pada masa ini, kecemasan, kekhawatiran dan

masalah-masalah yang sebelumnya menimbulkan ambivelansi pada

wanita tersebut mereda, dan ia telah mengalami perubahan dari

seorang menuntuk kasih sayang dari ibunya menjadi seorang yang

mencari kasih sayag dari pasangannya, dan semua faktor ini turut

mempengaruhi peningkatan libido dan kepuasan seksual.

3) Trimester Ketiga

Trimester tiga sering disebut periode penantian dengan penuh

kewaspadaan. Pada periode ini wanita mulai menyadari kehadiran


19

bayi sebagai makhluk yang terpisah ia menjadi tidak sabar menanti

kehadiran sang bayi. Ada perasaan was-was mengingat bayi dapat

lahir kappa pun. Hal ini membuatnya berjaga-jaga sementara ia

memperhatikan dan menunggu tanda dan gejala persalinan muncul.

Trimester ketiga merupakan waktu, persiapan yang akif terlibat

dalam menanti kelahiran bayi dan menjadi orang tua sementara

perhatian utama wanita terfokus pada bayi yang akan segera

dilahrkan. Pergerakan janin dan pembesaran uterus, keduanya

menjadi hal yang terus-menerus mengingatkan tentang keberadaan

bayi. Orang-orang di sekitarnya kini mulai membuat rencana untuk

bayi orang-orang di sekitarnya kini mulai membuat rencana untuk

bayi yang dinantikan. Wanita tersebut menjadi lebih protektif

terhadap bayi, mulai menghindari keramaian atau seseorang atau

apapun yang ia anggap berbahaya. Ia membayangkan bahaya

mengintip dalam dunia di luar sana. Memilih nama untuk bayinya

merupakan persiapan menanti kelahiran bayi. Ia menghadiri kelas-

kelas sebagai persiapan menjadi orang tua. Pakaian-pakaian bayi

mulai di buat atau dibeli. Kamar-kamar di susun atau di rapikan.

Sebagian besar pemikiran di fokuskan pada perawatan bayi.

Sejumlah kekuatan muncul pada trimester ketiga. Wanita

mungkin merasa cemas dengan kehidupan bayi dan kehidupannya

sendiri, seperti apakah nanti bayinya akan lahir abnormal, terkait

persalinan dan kelahira, apakah ia akan menyadari bahwa ia akan


20

bersalin, atau bayinya tidak mampu keluar karena perutnya sudah luar

biasa besar, atau apakah organ vitalnya akan mengalami cidera akibat

tendangan bayi. Ia kemudian menyibukkan diri agar tidak memikirkan

hal-hal lain yang tidak diketahuinya.

Wanita akan kembali merasakan ketidaknyamanan fisik yang

semakin kuat menjelang akhir kehamilan. Ia akan merasa canggung,

jelek, berantakan, dan memerlukan dukungan yang sangat besar dan

konsisten dari pasangannya. Pada pertengahan trimester ketiga,

peningkatan hasrat seksual yang sering terjadi pada trimester

sebelumnya akan menghilang karena abdomennya yang semakin

besar menjadi halangan. Alternatif untuk mencapai kepuasan dapat

membantu atau dapat menimbulkan perasaan bersalah jika ia merasa

tidak nyaman dengan cara-cara tersebut. Berbagi perasaan secara jujur

dengan perasaan da konsultasi mereka dengan anda menjadi sangat

penting. (Elisabeth, 2015)

e. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil

Kebutuhan dasar menurut Kusmiyati (2015) sebagai berikut

1) Kebutuhan fisik ibu hamil

a) Oksigen

Hal-hal yang perlu dilakukan ibu hamil untuk memenuhi

kebutuhan oksigen yaitu :

(1) Latihan nafas senam hamil

(2) Tidur dengan bantal yang lebih tinggi


21

(3) Makan tidak terlalu banyak, hentikan merokok

(4) Konsul ke dokter bila ada kelainan atau gangguan

pernapasan seperti asma dan lain-lain

Posisi miring kiri dianjurkan untuk meningkatkan perfusi

uterus dan oksigenasi fetoplasenta dengan mengurangi

tekanan pada vena asenden (hipotensi supine).

b) Nutrisi dalam kehamilan

Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300

kalori perhari, ibu hamil seharusnya mengkonsumsi makanan

yang mengandung protein, zat besi, dan cukup cairan (menu

seimbang).

(1) Kalori

Kebutuhan kalori untuk orang tidak hamil di

Indonesia adalah 2000 Kkal, sedangkan orang hamil

dan menyusui adalah 2300 dan 2800 Kkal. Kalori

dipergunakan untuk produksi energy.

(2) Protein

Protein sangat dibutuhkan untuk perkembangan

buah kehamilan yaitu untuk pertumbuhan janin,

uterus, plasenta, selain itu untuk ibu penting untuk

petumbuhan payudara dan kenaikan sirkulasi ibu

(protein plasma, haemoglobin). Selama kehamilan


22

dibutuhkan tambahan protein hingga 30 gram/hari.

Protein yang dianjurkan adalah protein hewani seperti

daging, susu, telur, keju dan ikan karena mereka

mengandung komposisi asam amino yang lengkap.

Susu dan produk susu disamping sebagai sumber

protein adalah juga kaya dengan kalsium.

(3) Mineral

Mineral dapat terpenuhi dengan makan makanan

sehari-hari yaitu buah-buahan, sayur-sayuran dan

susu. Hanya zat besi yang tidak bisa terpenuhi dengan

makanan sehari-hari. Kebutuhan akan zat besi pada

pertengahan kedua kehamilan kira-kira 17 mg/hari,

dibutuhkan suplemen besi 30 mg dan pada kehamilan

kembar atau pada wanita yang sedikit anemik,

dibutuhkan 60-100 mg/hari. Pada umumnya dokter

selalu memberi suplemen mineral dan vitamin

prenatal untuk mencegah kemungkinan terjadinya

defisiensi.

(4) Vitamin

Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makan

sayur dan buah-buahan, tetapi dapat pula diberikan

ekstra vitamin. Pemberian asam folat terbukti

mencegah kecacatan pada bayi.


23

c) Personal Hygine

Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi

dianjurkan sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil

cenderung untuk mengeluarkan banyak keringat. Menjaga

kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah

dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dengan

air dan keringkan. Kebersihan gigi dan mulut, perlu

mendapat perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi

berlubang, terutama pada ibu yang kekurangan kalsium.

Rasa mual selama masa hamil dapat memperburuk hygine

mulut dan dapat menimbulkan karies gigi.

d) Pakaian Selama Kehamilan

Baju hendaknya yang longgar dan mudah dipakai,

serta bahan yang mudah menyerap keringat. Ada dua hal

yang harus diperhatikan dan dihindari yaitu :

(1) Sabuk dan stoking yang terlalu ketat, karena akan

menggangu aliran balik

(2) Sepatu dengan hak tinggi, akan menambah lordosis

sehingga akan menambah sakit pinggang

Payudara perlu ditopang dengan BH yang memadai

untuk mengurangi rasa tidak enak karena pembesaran dan

kecenderungan menjadi pendulans.

e) Eleminasi (BAB/BAK)
24

Masalah buang air kecil tidak mengalami kesulitan,

bahkan cukup lancar dengan kehamilan, terjadi perubahan

hormonal, sehingga sareha kelamin menjadi lebih basah.

Situasi basah ini menyebabkan jamur (trikomonas)

tumbuh. Sehingga wanita hamil mengeluh gatal dan

mengeluarkan keputihan. Rasa gatal sangat menggangu,

sehingga sring digaruk. Saat berkemih terdapat residu

(sisa) yang memudahkan infeksi kandung kemih. Untuk

melancarkan dan mengurangi infeksi kandung kemih,

dengan minum dan menjaga kebersihan sekitar alat

kelamin. Wanita perlu mempelajari cara membersihkan

alat kelaim yaitu dengan gerakan dari depan ke belakang

setiap kali selesai berkemih atau buang air besar, dan

harus menggunakan tisu atau lap, atau handuk yang bersih

setiap kali melakukannya.

Membersihkan dan mengelap dari belakang ke depan

akan membawa bakteri daerah rectum. Ke muara uretra

dan meningkatkan resiko infeksi. Sebaiknya gunakan tisu

yang lembut dan menyerap air, lebih baik yang berwarna

putih, dan tidak diberi wewangian, karena tisu yang kasar

diberi wewangian atau bergambar dapat menimbulkan

iritasi. Wanita harus sering mengganti pelapis atau

pelindung celana dalam.


25

Dianjurkan minum 8-12 gelas cairan setiap hari.

Mereka harus cukup minum agar produksi air kemihnya

cukup dan jangan sengaja mengurangi minum untuk

menjarangkan berkemih. Apabila perasaan ingin berkemih

muncuk jangan diabaikan, menahan berkemih akan

membuat bakteri di dalam kandung kemih berlipat ganda.

Ibu hamil harus berkemih dulu jika ia akan mmasuki

keadaan dimana ia tidak akan dapat berkemih untuk waku

yang lama (misalnya, naik kendaraan jarak jauh). Ia harus

selalu berkemih sebelum berangkat tidu di malam hari.

Bakteri bisa masuk sewaktu melakukan hubungan seksual.

Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan untuk berkemih

sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual dan

minum banyak air untuk meningkatkan produksi kandung

kemih.

f) Seksual

Selama kehamilan berjalan normal, koitus

diperbolehkan sampai akhir kehamilan, meskipun

beberapa ahli berpendapat sebaiknya tidak lagi

berhubungan seks selama 14 hari menjelang kelahiran.

Koitus tidak dibenarkan bila :

(1) Terdapat perdarahan pervaginam

(2) Terdapat riwayat abortus berulang


26

(3) Abortus atau partus iminies

(4) Ketuban pecah

(5) Serviks telah membuka

Pada saar orgasme dapat dibuktikan adanya fetal

bradycardia karena kontraksi uterus dan para peneliti

berpendapat wanita yang melakukan hubungan seks

dengan aktif menunjukkan insidensi fetal distress yang

lebih tinggi. Pria yang menikmati kunikulus (stimulasi oral

genetalia wanita) bisa kehilangan gairahnya ketika

mendapati bahwa secret vagina bertambah dan

mengeluarkan bau berlebih selama masa hamil. Pasangan

yang melakukan kunikulus harus berhati-hati untuk tidak

meniupkam udara ke dalam vagina. Pernah dilaporkan

satu kasus kematian karena emboli udara, gara-gara

meniup udara melalui vagina selagi melakukan kunilingus.

Apabila serviks sedikit terbuka (karena sudah mendekati

aterm), ada kemungkinan udara akan terdesak diantara

ketuban dan dinding Rahim. Udara kemungkinan bisa

memasuki danau plasenta, ddengan demikian ada

kemungkinan udara memasuki jaringan vascular maternal.

Gambar yang menunjukkan

berbagai variasi posisi senggama sering membantu. Posisi

wanita diatas, sisi dengan sisi dan memasukkan dari


27

bawah adalah posisi alternatf yang dapat menggantikan

posisi pria di atas. Posisi wanita di atas membuatnya dapat

mengatur sudut dan kedalaman penetrasi penis serta

melindungi perut dan payudarannya. Posisi sisi dengan sisi

adalah posisi pilihan terutama pada trimester ketiga karena

posisi ini mengurangi energy dan tekanan pada perut yang

hamil. Wanita multipara melaporkan nyeri tekan di

payudara pada trimester pertama. Posisi koituss yang

menghindari tekanan langsung pada payudara sangat

dianjurkan untuk keadaan ini. Ibu hamil ini juga harus

diberitahu bahwa keadaan ini normal dan bersifat

sementara.

g) Mobilisasi dan Body Mekanik

Ibu hamil boleh melakukan kegiatan atau aktifitas fisik

biasa selama tidak terlalu melelahkan. Ibu hamil dapat

melakukan pekerjaan seperti menyapu, mengepel, masak

dan mengajar. Semua pekerjaan tersebut harus sesuai

dengan kemampuan wanita tersebut harus sesuai dengan

kemampuan wanita tersebut dan mempunyai cukup waktu

untuk istirahat.

Secara anatomi, ligamen sendi putar dapat

meningkatkan pelebaran atau pembesaran Rahim pada

raung abdomen karena adanya pembesaran Rahim. Nyeri


28

pada ligament merupakan suatu ketidaknyamanan pada

ibu hamil. Sikap tubuh yan perlu diperhatikan oleh ibu

hamil :

(1) Duduk, tempatkan tangan di lutut dan Tarik tubuh

ke posisi tegak. Atur dagu dan Tarik bagian atas

kepal seperti ketika berdiri

(2) Berdiri, sikap berdiri yang benar sangat membantu

sewaktu hamil, di saat berat janin semakin

bertmbah, jangan berdiri untuk jangka aktu yang

lama. Berdiri dengan menegakkan bahu dan

mengangkat pantat. Tagk lurus dari telinga sampai

ke tumit kaki.

(3) Berjalan, ibu hamil penting untuk tidak memakai

sepatu berhak tinggi atau tanpa hak. Hindari juga

sepatu bertumit runcing karena mudah kehilangan

keseimbangan. Bila memiliki anak balita, usahakan

supaya tinggi pegangan keretanya sesuai.

(4) Tidur, ibu hamil boleh tidur tengkurap, kalau sudah

terbiasa, namun tekuklah sebelah kaki dan pakailah

guling,supaya ada ruang bagi bayi anda. Posisi

miring juga menyenangkan, namun jangan lupa

memakai guling untuk menopang berat Rahim.

Sebaiknya setelah usia kehamilan 6 bula, hindari


29

tidur terlentang, karena tekanan Rahim pada

pembuluh darah utama dapat menyebabkan

pingsan. Tidur dengan kedua tungkai kaki lebih

tinggi dari badan dapat mengurangi rasa lelah.

(5) Bangun dari berbaring, untuk bangun darii tempat

tidur, geser dulu tubuh ibu ke tepi tempat tidur,

kemduian tekuk lutut. Angkat tubuh ibu perlahan

dengan kedua tangan, putar tubuh lalu perlahan

turunkan kaki ibu. Diamlah dulu dalam posisi

duduk beberapa saat sebelum berdiri. Lakukan

setiap kali ibu bangun dari berbaring.

(6) Membungkuk dan mengangkat, terlebih dahulu

menekuk lutut dan gunakan otot kaki untuk tegak

kembali. Hindari membungkuk yang dapat

membuat punggung tegang, termasuk untuk

mengambil sesuatu yang ringan sekalipun.

h) Exercise atau Senam Hamil

Ibu hamil perlu menjaga kesehatan tubuhnya dengan

cara beralan-jalan di pagi hari, renang, olahraga ringan dan

senam hamil

(1) Berjalan-jalan di pagi hari

Jalan-jalan waktu pagi hari untuk ketenangan

dan mendapatkan udara segar banyak dianjurkan.


30

Jalan-jalan saat hamil terutama pagi hari

mempunyai arti penting untuk dapat mengirup

udara pagi yang bersih dan segar,menguakan otot

dasar panggul, dapat mempercepat turunnya kepala

bayi kedalam posisi optimal dan normal, dan

mempersiakan mental menghadapi persalinan.

Berjalan juga dapat dengan cukup lembut sehingga

walaupun belum pernah mengerjakannya, dapat

memulainya pada waktu hamil.

Agar latihan fisik ibu hamil tidak menimbulkan

masalah sebaiknya :

(a) Konsultasilah dengan tenaga kesehatan

mengenai latihan fisik yang ingin

diteruskan sepanjang masa hamil

(b) Cari bantuan untuk menentukan latihan

fisik rutin, yang sesuai dengan kemampuan

terutama jika anda tidak melakukan latihan

fisik secara teratur sebelumnya.

(c) Hindari aktifitas dan latihan berisiko, dan

membutuhkan kekuatan seperti berselancar,

mendaki gunung, berlari dll. Aktivitas yang

membutuhkan kesimbangan dan koordinasi

prima bisa membahayakan. Hidanri


31

aktivitas yang membutuhkan menahan

napas (vlasava maneuver). Gerakan

melompat sebaiknya juga dihindari

(d) Berlatih secara teratur, sekurang-kurangnya

tiga kali seminggu selama anda sehat, untuk

meningkatkan tonus otot dan meningkatkan

atau mempertahankan stamina anda.

Latihan yang sproradik tidak baik untuk

otot anda.

(e) Batasi waktu aktivitas dan kurangi tingkat

latihan. Latihan selama 10 sampai 15 menit,

istirahat dua sampai tiga menit kemudian

latihan lagi selama 10 sampai 15 menit.

Latihan berat untuk waktu yang lama dapat

menimbulkan stress fisiologis.

(f) Hitung denyut nadi setiap 10 menit sampai

15 menit sewaktu melakukan latihan fisik.

Apabila denyut nadi melampaui 40

kali/menit, kurangi latihan sampai denyut

nadi mencapai 90 kali/menit. Anda harus

tetap mampu bercakap-cakap dengan

mudah selama latihan. Bila tidak mampu,

kurangi latihan.
32

(g) Hindari lingkunga yang terlalu panas dan

berendam dalam air panas dan sauna.

Sebaiknya anda tidak melakukan latihan

lebih dari 35 menit, terutama dalam kondisi

udara panas dan lembab. Seiring

peningkatan suhu tubuh anda, panas akan

ditransmisis ke janin. Peningkatan suhu

janain untuk waktu yang lama atau berulang

dapat menimbulkan defek kelahiran

terutama selama tiga bulan pertama. Suhu

tubuh anda tidak boleh melampaui 38℃.

(h) Latihan pemanasan dan peregangan

menyiapkan sendi-sendi untuk latihan yang

lebih berat dan mengurangi kemungkinan

cidera pada sendi. Setelah bulan keempat,

jangan lagi melakukan latihan fisik yang

mengharuskan anda berdiri terlentang.

(i) Periode pendinginan setelah latihan dengan

melakukan aktivitas ringan yang melibatkan

tungkai bawah dapat membuat pernafasan,

denyut jantung, dan tingkat metabolisme

kembali normal dan menghindari akumulasi


33

darah di otot-otot yang banyak bekerja

dalam latihan tersebut.

(j) Istirahat selama 10 menit setelah

melakukan latihan, berbaring dan miring

kiri. Peningkatan ukuran Rahim akan

menekan vena besar disisi kanan perut,

yang membawa darah kembali ke jantung.

Hal ini memperbaiki aliran darah ke

plasenta dan janin. Saat bangun dari posisi

berbaring lakukan secara bertahap agar

tidak merasa pusing atau pingsan (hipotensi

ortostatik)

(k) Minum dua atau tiga gelas air setelah

melakukan latihan fisik untuk mengganti

cairan tubuh yang hilang lewat pernafasan.

Selagi melakukan latihan fisik, minum air

kapan saja jika anda merasa perlu.

(l) Tambah asupan kalori, untuk mengganti

kalori yang terbakar saat latihan dan untuk

menyediakan energy tambahan yang

dibutuhkan pada masa hamil. Pilih makanan

yang berprotein tinggi seperti ikan, keju,

dan daging.
34

(m) Berssantai, ini bukan saaatnya melakukan

aktivitas yang membutuhkan ketahanan

fisik yang lama.

(n) Kenakan bra penopang meningkatnya berat

payudara dapat menyebabkan perubahan

postur dan menekan saraf ulnaris.

(o) Kenakan sepatu penopang. Karena uterus

bertmabah besar, pusat berat bergeser.

Anda mengimbanginya dengan

melengkukan punggung. Perubahan normal

ini bisa membuat anda kehilangan

keseimbangan dan mudah jatuh.

(p) Segera berhenti berlatih dan kunjungi

tenaga kesehatan jika mengalami sesak

nafas, pusing, nyeri kontraksi lebih dari

empat kali dalam satu jam, aktiitas janin

berkurang atau terjadi perdarahan

pervaginam.

i) Senam Hamil

Senam hamil dimulai pada umur kehamilan setelah 22

minggu. Senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan

dan melatih otot-otot sehingga dapat berfungsi secara


35

optimal dalam persalinan normal, serta mengimbangi

perubahan titik berat tubuh. Senam hamil ditujukan bagi

ibu hamil tanpa kelainan atau tidak terdapat penyakit yang

menyertai kehamilan, yaitu penyakit jantung, ginjal, dan

penyulit dalam kehamilan (hamil dengan perdarahan,

kelainan letak, dan kehamilan yang disertai dengan

anemia).

Syarat senam hamil :

(1) Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan

kehamilan oleh dokter atau bidan

(2) Latihan dilakukan setelah kehamilan 22 minggu

(3) Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin

(4) Sebaiknya latihan dilakukan di rumah sakit atau

klinik bersalin di bawah pimpinan instruktur senam

hamil.

j) Istirahat / tidur

Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan istirahat

yang teratur terutama seiring kemajuan kehamilannya.

Jadwal istirahat dan tidur yang teratur dapat mningkatkan

kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan

perkembangan dan pertumbuhan janin. Tidur pada malam

hari selama kurang lebih 8 jam dan istirahat dalam

keadaan rileks pada siang hari selama 1 jam. Selama


36

periode istirahat yang pendek, ibu dapat meletakkan kaki

di dinding dan diangkat lebih atas untuk meningkatkan

aliran vena dari kaki dan menghilangkan oedem kaki dan

varises. Ibu diajarkan cara untuk bangkit dari posisi miring

kiri secara perlahan untuk mendhindari ketegangan pada

punggung dan meminimalkan hipotensi yang disebabkan

oleh perubahan posisi, yang umumnya terjadi pada tahap

akhir kehamilan.

k) Imunisai

Vaksinasi terhadap tetanus (TT) di Indonesia diberikan

2 kali. Sebaiknya setelah bulan ketiga dengan jarak

sekurang-kurangnya 4 minggu. Vaksinasi kedua sebaiknya

diberikan kurang dari 1 bulan sebelum anak lahir agar

serum antitetanus mencapai kadar optimal

Table. 1.1 Imunisasi TT

Antingen Interval Lama %


Perlindungan perlindungan
TT1 Pada kunjungan - -
antenatal pertama
TT2 4 Minggu setelah TT1 3 Tahun 80
TT3 6 Bulan setelah TT2 5 Tahun 95
TT4 1 Tahun Setelah TT3 10 Tahun 99
TT5 1 Tahun Setelah TT4 25 -
Tahun/seumur
hidup

(Kusmiyati, 2015)
37

l) Travelling

Ibu hamil diperbolehkan untuk berpergian selama ia

telah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan

terjadi pada dirinya selama dalam perjalanan dan kondisi

kesehatan fisik ibu cukup baik. Bila berpergian jauh, ibu

hamil harus beristirahat. Sambil duduk ibu hamil dapat

melakukan latihan nafas dalam, memutar-mutar kaki, dan

secara bergantian mengencangkan dan melemaskan otot di

bagian tubuh yang berlainan, hindari keletihan. Ibu hamil

perlu berjalan teratur untuk melancarkan sirkulasi darah

dan vena. Jika waktu terbatas, pilih alternative lain dalam

berjalan.

m) Periapan Laktasi

Air susu ibu adalah makanan yang dipilih dan

menyusui dikaitkan dengan penururnan insiden mordibitas

dan mortalitas perinatal. Namun ketidakmaturan bayi,

keengganan ibu dan ayah untuk memberi air susu air

(ASI) dan komplikasi medis tertentu , seperti tuberculosis

paru, merupakan kontra indikasi terhadap upaya menyusui

atau pemberian susu botol, mereka secara formal dapat

menentukan pilihan. Bidan hanya perlu mendukung

pilihan mereka.
38

Sejak bulan keenam atau ketujuh kehamilan,

kebanyakan wanita termotivasi untuk mempelajari

persiapan payudara dan menyusui. Tes pinch (cubitan)

menentukan apakah putting susu erektil atau reraktil.

Bidan mengarahkan wanita selama melakukan tes pinch.

Wanita meletakkan ibu jari dan jari telunjuknya pada

aerolanya dan menekannya ke dalam dengan perlahan.

Tindakan ini akan membuat puting susu ereksi dan

retraksi (inventril). Kebanyakan putting susu ereksi.

Puting yang invertil memerlukan waktu persiapan yang

lebih lama. Persiapan putting susu untuk para wanita ini

ddapat dimulai pada dua bulan terkahir kehamilan.

n) Persiapan persalinan dan kelahiran bayi

Menjelang persalinan sebagian besar wanita merasa

takut menghadapi persalinannya terutama bagi yang baru

pertama kali. Di sinilah pembinaan hubungan antara

penolong dan ibu hamil saling mendukung dengan penuh

kesabaran sehingga persalinan dapat berjalan lancer. Kala

pertama perlu dijelaskan dengan baik bahwa peralinan

akan berjalan aman oleh karena kepala masuk pintu atas

panggul, bahkan pembukaan telah maju dengan baik.

(Kusmiyati dkk, 2014)


39

o) Memantau kesejahteraan Janin

Jika pemeliharaan janin dalam Rahim secara

tradisional dilakukan dengan usaha yang bersigat turun

temurun dan dengan adat kebiasaan masyarakat, masa kini

telah dikembangkan alat-alat canggih untuk melakukan

pemeriksaan kesejahteraan janin dalam Rahim. (Kusmiyati

dkk, 2015)

f. Ketidaknyamanan Dalam Kehamilan

1) Kelelahan dan Fatique Selama TM I

Penyebab tidak diketahui, mungkin berhubungan dengan

penurunan metabolism basal pada awal kehamilan untuk

meringankan atau mencegah hindari istirahat yang berlebihan.

2) Keputihan TM I, II, III

Penyebab Hyperplasia mukosa vagina, peningkatan lendir dan

kelenjar endocervikal sebagai akibat dari peningkatan kadar

estrogen. Untuk meringankan atau mencegah dengan cara

meningkatkan kebersihan dengan mandi setiap hari, memakai

pakaian dalam yang terbuat dari katun bukan nilon, menghindari

pencucian vagina dengan sabun dari arah depan ke belakang.

3) Ngidam

Biasanya pada TM I, tapi berlangsung sepanjang masa

kehamilan. Mungkin berkaitan dengan persepsi individu wanita


40

tersebut mengenai apa yang bisa mengurangi rasa mual dan muntah,

indra pengecap menjadi tumpul, jadi makanan yang lebih

merangsang dicari-cari.

4) Sering buang air kencing/nocturia. Selama TM I dan III

Disebabkan tekanan uterus pada kandung kemih, nocturia akibat

ekresi sodium yang meningkatkan bersamaaan. Jangan kurangi

minum di malam hari untuk mengurangi nocturia mengganggu tidur

dan menyebabkan keletihan, batasi minum bahan diuretika alamiah :

kopi, teh, cola, dan caffeine.

5) Rasa mual dan muntah-muntah.

Penyebab yang pasti tidak diketahui, mungkin disebabkan

peningkatan kadar HCG, estrogen/progesteron, relaksasi dan otot-

otot halus. Untuk itu hindari bau atau factor penyebab, makan sedikit

tapi sering, hindari makanan yang berminyak dan berbumbu

merangsang, makan-makanan kering dengan minum diantara waktu

makan, bangun dari tidur secara perlahan dan hindari melakukan

gerakan secara tiba-tiba, hindari menggosok gigi segera setelah

makan, istirahat sesuai kebutuhan dengan mengangkat kaki dan

kepala agak ditinggkan.

6) Clhoasma. TM II

Penyebab kecenderungan genetis, peningkatan kadar estrogen

dan mungkin progesterone. Hindari sinar matahari berlebihan selama

masa kehamilan dan gunakan bahan-bahan pelindung non alergis.


41

7) Striae gravidarum

Penyebab tidak jelas, bisa timbul akibat perubahan hormon atau

gabungan antara perubahan hormone dan peregangan mungkin

berkaitan dengan eksresi corticosteroid

8) Konstipasi. TM II dan III

Penyebab peningkatan kadar progesterone yang menyebabkan

penstalistik usus jadi lambat, penyerapan air dari colon meningkat,

penyerapan dari uterus yang membesar pada usus, suplemen zat besi

9) Sesak napas (hiperventilasi). TM II dan III

Penyebab uterus membesar dan menekan pada diafragma.

Lakukan latihan nafas melalui senam hamil, tidur dengan bantal

ditinggikan

10) Nyeri ligamentum rotundum. Trimester II dan III.

Penyebab hipertropi dan peregangan ligamentum selama

kehamilan, tekanan dari uterus pada ligamentum. Tekuk lutut kea rah

abdomen, mandi air hangat, gunakan bantalan pemanas pada area

yang terasa sakit hanya jika diagnose lain tidak melarang.

11) Pusing. Trimester II dan III

Penyebab hipertensi postural yang berhubungan dengan

perubahan-perubahan hemodinamis penggumpalan darah di dalam

pembuluh tungkai, yang mengurangi aliran balik vena. Sakit kepala

pada triwulan terakhir dapat merupakan gejala preeklampsia berat.

Hindari berdiri terlalu lama dlaam lingkungan yang hangat dan sesak
42

12) Varises pada kaki/ vulva. Trimester II dan III

Penyebab kerapuhan jaringan elatis yang diakibatkan oleh estrogen,

kecenderungan bawaan keluarga, disebabkan factor usia, dan lama

berdiri

13) Ginggivitas dan Epulis

Peningkatan vaskularisasi dan plorifelasi jaringan ikat akibat

rangsangan estrogen.

g. Tanda Bahaya Dalam Kehamilan

Ada enam tanda bahaya kehamilan selama periode antenatal menurut

(Kusmiyati, 2013)

1) Perdarahan pervaginam

2) Sakit kepala yang berat

3) Penglihatan kabur

4) Keluar cairan pervaginam

5) Gerakan janin tidak terasa

6) Nyeri abdomen yang hebat

h. Asuhan Kehamilan/Ante Natal Care

a. Pengertian Asuhan Antenatal Care

Asuhan antenatal care adalah suatu program yang terencana

berupa observasi, edukasi, dan penaganan medik pada ibu hamil,

untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persiapan persalinan

yang aman dan memuaskan. (Elisabeth,2015)


43

b. Tujaun Asuhan Antenatal Care

a) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan ibu dan

tumbuh kembang bayi

b) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental

dan sosial ibu dan juga bayi

c) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atay

komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk

riwaya penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan

d) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan

selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal

mungkin

e) Mempersiapkan ibu agar masa nifas bejalan normal dan

pemberian ASI eksklusif

f) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima

kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal

(Elisabeth,2015)

c. Jadwal pemeriksaan Antenatal

Jadwal pemeriksaan antenatal menurut Elisabeth,2015 adalah

sebagai berikut :

1) Pemeriksaan pertama

Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui

terlambat haid.
44

2) Pemeriksaan ulang

a) Setiap bulan sampai umur kehamilan 6 sampai 7

bulan

b) Setiap 2 minggu sampai kehamilan berumur 8 bulan

c) Setiap 1 minggu sejak umur kehamilan 8 bulan

sampai terjadi persalinan

frekuensi pelayanan antenatal menurut WHO ditetapkan

4 kali kunjungan ibu hamil dalam pelayanan antenatal,

selama kehamilan dengan ketentuan sebagai berikut :

(a) 1 Kali pada trimester pertama (K1)

(b) 1 kali pada trimester dua dan dua kali pada

trimester ketiga (K4).

3) Pelayanan Asuhan Standar Antenatal

Standar pelayanan asuhan antenatal menurut (Walyani,

2015) adalah sebagai berikut :

a) Timbang berat badan tinggi badan

Kenaikan berat badan ibu hamil normal rata-

rata 6,5 kg sampai 16 kg.

b) Tekanan darah

Diukur setiap kali ibu datang dan berkunjung,

deteksi tekanan darah yang cenderung naik

diwaspadai adanya gejala Hipertensi dan


45

preeclampsia. Tekanan darah normal berkisar

systole/diastole 110/80 – 120/80 mmHg.

c) Pengukuran tinggi fundus uteri

Tabel 1.3 Pengukuran Tinggi Fundus Uteri.

No Tinggi fundus uteri (cm) Umur Kehamilan dalam Minggu


1. 12 cm 12
2. 16 cm 16
3. 20 cm 20
4. 24 cm 24
5. 28 cm 28
6. 32 cm 32
7. 36 cm 36
8. 40 cm 40

Walyani(2015)

d) Pemberian Tablet tambah darah (Tablet Fe)

Tablet Fe dikonsumsi minimal 90 tablet selama

kehamilan, dan di minum 1 kali pada waktu malam

hari untuk memenuhi kebutuhan volume darah

pada ibu hamil dan nifas, karena masa kehamilan

kebutuhan meningkat seiring dengan pertumbuhan

janin.

e) Pemberian imunisasi TT

Anjuran untuk ibu hamil. Bila ibu belum

mendapatkan imunisasi TT anjurkan ibu untuk


46

memeriksakan kehaamilaanya dan mendapat

imunisasi TT sebanyak 2x atau sesuai jadwal TT

long life sebelum usia kehamilan 8 bulan.

f) Pemeriksaan Hb

Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu

hamil yang pertama kali dan diperiksa lagi

menjelang persalinan, untuk mendeteksi anemia

pada ibu hamil.

g) Pemeriksaan protein urin

Untuk mengetahui adanya protein dalam urin

ibu hamil. Protein urin untuk mendeteksi ibu hamil

kearah Preeklamsia.

h) Pengambilan darah untuk pemeriksaan VDRL

Pemeriksaan Veneral Desease Research

Laboratoty (VDRL) untuk mengetahui adanya

penyakit menular seksual.

i) Pemeriksaan Urin reduksi

Dilakukan pemeriksaan urin reduksi hanya

kepada ibu dengan ibu indikasi penyakit gula/DM

atau riwayat penyakit gula pada keluarga.

j) Perawatan payudara
47

Meliputi senam payudara, perawatan payudara,

pijat tekan payudara yang ditunjukkan kepada ibu

hamil. Manfaat perawatan payudara adalah:

(1) Menjaga kebersihan payudara, terutama

puting susu.

(2) Mengencangkan serta memperbaiki bentuk

puting susu.

(3) Merangsang kelenjar-kelenjar susu

sehingga produksi ASI lancar.

(4) Mempersiapkan ibu dalam laktasi.

Perawatan payudara dilakukan 2 kali sehari

sebelum mandi dan mulai pada usia kehamilan 6

bulan.

k) Senam ibu hamil

Bermanfaat membantu ibu dalam persalinan dan

mempercepat pemulihan setelah melahirkan serta

mencegah sembelit.

l) Pemberian obat malaria

Pemberian obat malaria diberikan khusus pada

ibu hamil didaerah endemik malaria atau kepada ibu

dengan gejala khas malaria yaitu panas tinggi

disertai menggigil (Walyani, 2015).


48

2. Persalinan

a. Pengertian Persalinan

Persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks dan

janin turun kedalam jalan lahir kemudian berakhir dengan pengeluaran

bayi yang cukup bulan atau hamper cukup bulan atau dapat hidup diluar

kandungan disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari

tubuh ibu melalui jalan lahir, dengan bantuan atau tanpa bantuan

(kekuatan sendiri). (Sumarah dkk, 2013)

3. Fisiologi Persalinan

Kehamilan secara umum ditandai dengan aktivitas otot polos

miometrium yang relatif tenang yang memungkinkan pertumbuhan dan

perkembangan janin intrauterin sampai dengan kehamilan aterm.

Menjelang persalinan, otot polos uterus mulai menunjukkan aktivitas

kontraksi secara terkoordinasi, diselingi dengan suatu periode relaksasi,

dan mencapai puncaknya menjelang persalinan, serta secara berangsur

menghilang pada periode postpartum (Prawirohardjo, 2010).

4. Tanda-Tanda Persalinan

Persalinan patut dicurigai jika setelah usia kehamilan 25 minggu

keatas, ibu merasa nyeri abdomen berulang yang disertai dengan cairan

lendir yang mengandung darah atau show. Agar dapat mendiagnosa

persalinan, bidan harus memastikan perubahan serviks dan kontraksi

cukup
49

1) Perubahan serviks, kepastian persalinan dapat ditentukan hanya

jika serviks progresif menipis dan membuka

2) Kontraksi yang cukup adekuat, kontraksi dianggap adekuat jika :

a) Kontraksi terjadi teratur, minimal 3 kali dalam 10 menit,

setiap kontraksi berlangsung sedikitnya 40 detik

b) Uterus mengeras selama kontraksi, sehingga tidak bisa

menekan uterus dengan menggunakan jari tangan

Sangat sulit membedakan antara persalinan sesungguhnya dan

persalinan semu. Indikator persalinan sesungguhnya ditandai dengan

kemajuan penipisan dan pembukaan serviks. Ketika ibu mengalami

persalinan semu, ia akan merasakan kontraksi yang menyakitkan, namun

kontraksi tersebut tidak menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks.

Persalinan semu bisa terjadi beberapa hari atau beberapa minggu sebelum

permulaan persalinan sesungguhnya. Karena persalinan semu sangat

menyakitkan, mungkin sulit bagi ibu untuk menghadapi masa ini dalam

kehamilannya. Dengan memberikan dukungan tersendiri dan pemastian

ulang bahwa persalinan semu menunjukkan bahwa persalinan

sesungguhnya akan tiba, bidan dapat membantu ibu untuk menghadapi

masa sulit tersebut.

Tanda-tanda persalinan menurut Sumarah, (2013) adalah :

1) Menjelang minggu ke-36, pada primigravida terjadi penurunn

fundus uteri karena apabila kepala janin sudah masuk pintu atas

panggul yang disebabkan oleh kontraksi Braxton Hicks,


50

ketegangan dinding perut, ketegangan ligamentum rotundum,

dan gaya berat janin sehingga kepala kearah bawah. Masuknya

kepala janin ke pintu atas panggul dirasakan ibu hamil dengan

terasa ringan di bagian atas (rasa sesak mulai berkurang), terjadi

kesulitan saat berjalan, sering kencing. Gambaran penurunan

bagian terendah janin tersebut sangat jelas pada primigravida,

sedang pada multigravida kurang jelas, karena kepala janin

baru masuk pintu atas panggul menjelang persalinan.

2) Terjadinya his permulaan. Pada saat hamil muda sering terjadi

kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi ini dapat dikemukakan

sebagai keluhan, karena dirasakan sakit dan menggangu.

Kontraksi ini terjadi karena perubahan keseimbangan estrogen

dan progesterone, dan memberika kesempatan rangsangan

oksitosin. Dengan makin tua kehamilan, maka pengeluaran

estrogen dan progesterone makin berkurang, sehingga oksitosin

dapat menimbulkan kontraksi yang lebih sering sebagai his

palsu.

5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan

Tiga faktor utama yang menentukan prognosis persalinan adalah

jalan lahir (passage), janin (passanger), kekuatan (power) dan ada dua

faktorlain juga yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan asuhan

persalinan yaitu faktor posisi dan psikologis.


51

a. Passage (Jalan Lahir)

Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang padat,

dasar panggul, vagina, dan introitus (lubang luar vagina).

Meskipun jaringan lunak, khususnya lapisan-lapisan otot dasar

panggul ikut menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh

lebih berperan dalam proses persalinan. Janin harus berhasil

menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relatif kaku. Oleh

karena itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum

persalinan dimulai.

b. Passanger (Janin dan Plasenta)

Passanger atau janin bergerak sepanjang jalan lahri

merupakam akibat interaksi beberapa faktor, yakni ukuran kepala

janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin. Karena plasenta

juga harus melewati jalan lahir, maka ia dianggap juga sebagai

bagian dari passanger yang menyertai janin. Namun plasenta

jarang menghambat proses persalinan pada kehamilan normal.

c. Power (Kekuatan)

Kekuatan terdiri dari kemampuan ibu melakukan kontraksi

involunter dan volunter bersamaan untuk mengeluarkan janin dan

plasenta dari uterus. Kontraksi involunter disebut juga kekuatan

primer, menandai dimulainya persalinan. Apabila serviks

berdilatasi, usaha volunteer dimulai untuk mendorong, yang


52

disebut kekuatan sekunder, dimana kekuatan ini memperbesar

kekuatan kontraksi involunter.

Kekuatan primer berasal dari titik pemicu tertentu yang

terdapat pada penebalan lapisan otot di segmen uterus bagian atas.

Dari titik pemicu, kontraksi dihantar ke uterus bagian bawah

dalam bentuk gelombang, diselingi periode istirahat singkat.

Dalam kekuatan primer ada frekuensi yaitu waktu antar kontraksi

(waktu antara awal kontraksi dengan kontraksi berikutnya) durasi

yaitu lama kontraksi dan intensitas yaitu kekuatan kontraksi.

Kekuatan primer membuat serviks menipis (effacement) dan

berdilatasi yang terjadi penurunan janin. Effacement serviks

adalah pemendekan dan penipisan serviks selama tahap pertama

persalinan dan akan terangkat ke atas karena adanya pemendekan

gabungan otot uterus selama penipisan segmen bawah rahim pada

tahap akhir persalinan. Dilatasi serviks, adalah pembesaran atau

pelebaran muara dan saluran serviks, yang terjadi pada awal

persalinan. Diameter meningkat dari sekitar 1 cm sampai 10 cm.

jika dilatasi serviks lengkap dan retraksi telah sempurna, serviks

tidak lagi dapat diraba. Dilatasi serviks terjadi karena komponen

muskulofibrosa tertarik dari serviks kearah atas, akibat kontraksi

uterus yang kuat. Juga karena tekanan yang ditimbulkan cairan

amnion selama ketuban utuh atau kekuatan yang timbul akibat

tekanan bagiam presentasi.


53

Kekuatan sekunder terjadi segera setelah presentasi mencapai

dasar panggul, sifat kontaksi berubah yakni bersifat mendorong

keluar. Sehingga wanita merasa ingin mengedan. Usaha

mendorong ke bawah ini yang disebut kekuatan

sekunder.kekuatan sekunder tidak mempengaruhi dilatasi serviks

lengkap. Kekuatan ini penting untuk mendorong bayi keluar dari

uterus dan vagina. Jika dalam persalinan seorang wanita

melakukan usaha volunteer (mengedan) terlalu dini, dilatasi

serviks akan terhambar. Mengedan akan melelahkan ibu da

menimbulkan trauma pada serviks.

d. Posisi ibu

Posisi ibu memepengaruhi adaptassi anatomi dan fisiologi

persalinan. Posisi tegak memberi sejumlah keuntungan.

Mengubah posisi membuat rasa letih hilang, keuntungan nyaman,

dan memperbaiki sirkulai. Posisi tegak memungkinkan gaya

gravitasi membantu penurunan janin. Kontraksi uterus lebih kuat

dan lebih efisien untuk membantu penipisan dan dilatasi serviks,

sehingga persalinan lebih cepat. Posisi tegak dapat mengurangi

insiden penekanan tali pusat. Posisi tegak juga menguntungkan

curah jantung ibu yang dalam kondisi normal meningkat selama

persalinan seiring kontraksi uterus mengembalikan darah ke

anyaman pembuluh darah. Peningkatan curah jantung

memperbaiki aliran darah ke unit uteroplasenta dan ginjal ibu.


54

Curah jantun akan berkurang jika aorta desenden dan vena kava

asenden mengalami penekanan selama persalinan. Kompresi

pembuluh darah besar ini dapat mengakibatkan hipotensi supine

dan penurunan kecepatan denyut jantung janin atau hipertensi,

sehingga perfusi plasenta menurun. Posisi tegak juga membantu

mengurangi tekanan pada pembuluh darah ibu dan mencegah

kompresi pembuluh darah. Saat janin menuruni jalan lahir,

tekanan bagian presentasi pada reseptor regang dasar panggul

merangsang refleks mengedan ibu. Rangsangan reseptor regang

ini akan merangsang pelepasan oksitosin dari hipofisis posterior

(reflek ferguson). Pelepasan oksitosin menambah intensitas

kontraksi uterus. Apabila ibu mengedan pada posisi duduk atau

jongkok, otot-otot abdomen bekerja lebih sinkron (saling

menguatkan) dengan kontraksi Rahim.

e. Psikologis

Tingkat kecemasan wanita selama bersalin akan meningkat

jika ia tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya atau yang

disampaikan kepadanya. Dukungan psikologis dari orang-orang

terdekat akan membantu memperlancar proses persalinan yang

sedang berlangsung. Tindakan mengupayakan rasa nyaman

dengan menciptakan suasana yang nyaman dalam kamar bersalin,

memberi sentuhan, memberi penenangan nyeri nor farmakologi,

memberi analgesia jika diperlukan dan yang paling penting


55

berada disisi pasien adalah bentuk-bentuk dukungan psikologis.

Dengan kondisi psikologis yang positof proses persalinan akan

berjalan lebih mudah.

6. Tahapan Persalinan

a. Kala I

Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung

antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap.pada permulaan

his kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga

ibu/wanita masih dapat berjalan-jalan. Klinis dapat dinyatakan mulai

terjadi partus jika timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan

lendir yang sersemu darah (bloody show). Lendir yang bersemu

darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai

membuka atau mendatar. Sedangkan darah berasal dari pembuluh-

pembuluh kapiler yang berada dsekitar kanalis servikalis tersebut

pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka.Proses

ini berlangusng kurang lebih 18-24 jam, yang terbagi menjadi 2 fase,

yaitu laten (8 jam) dari pembukaan 0 sampai pembukaan 3 cm, dan

fase aktiv (7 jam) dari pembukaan 3 cm sampai pembukaan 10cm.

Dalam fase aktiv ini masih dibagi menjadi 3 lagi yaitu : fase

akselerasi, dimana dalam waktu 2 jam pembukaan 3cm sampai 4 cm,

fase dilatasi maksimal, yakni dalam waktu 2 jam pembukaan

berlangsung sangat cepat, dari pembukaan 4 cm menjadi 9 cm, dan

fase deselerasi, dimana pembukaan menjadi lambat sekali , dalam 2


56

jam pembukaan 9cm menjadi 10 cm. Kontraksi menjadi lebih kuat

dan lebih sering pada fase aktiv. Keadaan tersebut dapat dijumpai

baik pada primigravida maupun multigravida, akan tetapi pada

multigravida fase laten, fase aktiv dan fase deselarasi terjadi lebih

pendek. Berdaarkan kurve fridman, diperhitungkan pembukaan pada

primigravida 1cm/jam dan pembukaan pada multigravida 2cm/jam.

Dengan demikian waktu pembukaan lengkap dapat diperkirakan.

Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan

multigravida.

Pada primigravida ostium uteri internum akan membuka terlebih

dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis. Kemudian

ostium uteri eksternum membuka. Pada multigravida ostium iuteri

internum sudah membuka sedikit, sehingga ostium uteri internal dan

eksternum serta penipisan dan pendaftaran serviks terjadi dalam

waktu yang bersamaan (Sumarah dkk, 2013).

b. Kala II

Dimulai dari pembukaan lengkap (10cm) sampai bayi lahir.

Proses ini berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada

multigravida. Pada ala ini His menjadi lebih kuat dan cepat, kurang

lebih 2-3 menit sekali. Dalam kondisi yang normal pada kala ini

kepala janin sudah masuk dalam ruang panggul, maka pada saat his
57

dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang secara

reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Wanitmerasa adanya

tekanan pada rectum dan seperti akan buang air besar. Kemudian

perineum menonjol dan menjadi lebar dengan membukanya anus.

Labia membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak

dalam vulva pada saat ada his. Jika dasar panggul sudah berelaksasi,

kepala janin tidak masuk lagi diluar his.Dengan kekuatan his dan

mengedan maksimal kepala janin dilahirkan dengan subocsiput di

bawah simpisis dan dahi muka dagu melewati perineum. Setelah his

istirahat sebentar, maka his akan mulai lagi untuk mengeluarkan

anggota badan bayi (Sumarah dkk, 2013).

c. Kala III

Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang

berlangsung tidak lebih dari 30 menit.setelah bayi lahir uterus teraba

keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Beberapa menit

kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari

dindingnya (Sumarah dkk, 2013).

d. Kala IV

Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post

partum. Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang

memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan

persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek

sayang ibu dan sayang bayi. (Sumarah dkk, 2013).


58

Observasi yang harus dilakukan pada Kala IV menurut Sumarah dkk,

2013. adalah :

1) Tingkat kesedaran penderita

2) Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi dan ,

pernapasan

3) Kontraksi uterus

4) Terjadinya perdarahan

Perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak

melebihi 400 sampai 500 cc. (Sumarah dkk, 2013).

7. Partograf

Partograf adalah alat untuk mencatat hasil observasi dan pemeriksaan

fisik ibu dalam proses persalinan serta merupakan alat utama dalam

mengambil keputusan klinis khususnya pada persalinan kala I. (Sumarah

dkk, 2013).

1) Kegunaan partograf (Sumarah dkk, 2013) :

a) Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan

memeriksa pembukaan serviks berdasarkan pemeriksaan

dalam

b) Mendeteksi apakah proses persalinan bekerja secara

normal, dengan demikian dapat mendeteksi secara dini

kemungkinan terjadinya partus lama. Hal ini merupakan


59

bagian terpenting dalam proses pengambilan keputusan

klinik persalinan kala I.

2) Bagian-bagian partograf (Prawirohardjo,2014)

a) Kemajuan persalinan

(1) Pembukaan serviks

(2) Turunnya bagian terendah dan kepala janin

(3) Kontraksi uterus

b) Kondisi janin

(1) Denyut jantung janin

(2) Warna dan volume air ketuban

(3) Molase kepala janin

c) Kondisi ibu

(1) Tekanan darah, nadi dan suhu badan

(2) Volume urine

(3) Obat dan cairan

3) Cara mencatat temuan pada partograf

Observasi dimulai sejak ibu dating, apabila ibu dating dalam

fase laten, maka hasil observasi ditulis di lembar observasi

bukan pada partograf. Karena partograf dipakai setelah ibu

masuk fase aktif yang meliputi :

a) Identifikasi ibu
60

Lengkapi bagian awal atau bagian atas lembar

partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan

yang meliputi nama, umur, gravida, para, abortus,

nomor rekam medis atau nomor klinik, tanggal dan

waktu mulai dirawat, waktu pecahnya selaput ketuban.

(Sumarah dkk, 2013).

b) Kondisi janin

Kolom jalur dan skala angka pada partograf bagian

atas adalah untuk pencatatan. (Sumarah dkk, 2013).

(1) Denyut jantung janin

DJJ dinilai setiap 30 menit (lebih sering

jika tanda-tanda gawat janin). Kisaran normal

DJJ terpapar pada partograf diatara garis tebal

angka 180-100, nilai normal sekitar 120-160,

apabila ditemukan DJJ dibawah 120 dan diatas

160, maka penolong harus waspada.

(2) Warna dan Adanya air ketuban

Nilai air ketuban setiap kali melakukan

pemeriksaan dalam dengan menggunakan

lambing sebagai berikut. (Sumarah dkk, 2013).

U : Jika ketuban utuh belum

pecah
61

J : Jika ketuban sudah pecah dan

air ketuban jernih

M : Jika ketuban sudah pecah dan

air ketuban bercampur

dengan mekonium.

D : Jika ketuban sudah pecah dan

air ketuban bercampur dengan darah.

K : Jika ketuban sudah pecah dan

air ketuban kering.

(3) Penyusupan/Molase kepala janin

Setiap kali melakukan periksa dalam, nilai

penyusupan kepala janin dengan menggunakan

lambang sebagai berikut (Sumarah dkk, 2013)

0 : Tulang-tulang kepala janin terpisah,

sutura dengan mudah dapat diraba

1. : Tulang-tulang kepala janin hanya

saling bersentuhan.

2. : Tulang-tulang kepala janin tumpang

tindih, tetapi masih dapat dipisahkan

3. : Tulang-tulang kepala janin tumpang

tindih dan tidak dapat dipisahkan

c) Kemajuan pesalinan
62

(1) Dilatasi serviks

Pada kolom dan lajur kedua dari partograf

adalah untuk pencatatan kemajuan paersalinan.

Angka 0-10 yang tertera paa tepi kolom kiri adalah

besarnya dilatasi serviks. Kotak diatasnya

menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm.

pada pertama kali menulis pembesaran dilatasi

serviks harus ditulis tepat pada garis waspada. Cara

pencatatannya dengan memberi tanda silang (X)

pada garis waspada sesuai hasil periksa dalam.

Hasil pemeriksaan dalam selanjutnya dituliskan

sesuai dengan waktu pemeriksaan dan

dihubungkan dengan garis lurus dengan hasil

sebelumnya.

Apabila dilatasi serviks melewati garis

waspada, perlu diperhatikan apa penyebabnya dan

penolong harus menyiapkan ibu untuk dirujuk.

(Sumarah dkk, 2013).

(2) Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin

Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam

(setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada tanda-

tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian

terbawah janin atau presentasi janin pada


63

persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks

umumnya diikuti dengan turunnya bagian terbawah

atau presentasi janin. Namun kadang kala,

turunnya bagian terbawah baru terjadi setelah

pembukaan serviks sebesar 7 cm. penurunan

kepala janin iukur secara palpasi bimanual.

Penurunan kepala janin diukur seberapa jauh dari

tepi simfisis pubis. Dibagi menjadi 5 kategori

dengan symbol 5/5 sampai 0/5. Simbol 5/5

menyatakan bahwa bagian kepala janin belum

memasuki tepi atas simfisis pubis, sedangkan

symbol 0/5 menyatakan bahwa bagian kepala janin

sudah tidak dapat lagi palpasi di atas simfisis

pubis. Kata-kata “Turunnys Kepala” dan garis

terputus dari 0-5 tertera di sisi yang sama dengan

angka pembukaan serviks. Berikan tanda (o) pada

garis waktu yang sesuai. Sebagai contoh jika

kepala bisa dipalpasi 4/5, tuliskan tanda (o) di

nomor 4. Hubungka tanda (o) dari setiap

pemeriksaan dengan garis terputus. (Prawirohardjo,

2014)

(3) Garis waspada dan bertindak


64

Garis waspada dimulai pada pembukaan

serviks 4 cm dan berakhir pada titik di mana

pembukaan lengkap, diharapkan terjadi jika laju

pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase

aktif persalinan harus dimulai di garis waspada.

Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah

kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm

per jam), maka harus dipertimbangkan pula adanya

tindakan intervensi yang diperlukan misalnya

anmiotomi, infus oksitosin, atau persiapan-

persiapan rujukan (ke rumah sakit atau puskesmas)

yang mampu menangani penyulit

kegawatdaruratan obstetric. Garis bertindak tertera

sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8

kotak atau 4 jalur ke sisi kanan. Jika pembukaan

serviks berada di sebelah kanan garis bertindak,

maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan

harus dilakukan. (Prawirohardjo, 2014)

d) Jam dan waktu

(1) Waktu mulainya fase aktif persalinan

Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks

dan penurunan) tertera kotak-kotak di beri angka 1-


65

16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak

dimulainnya fase aktif persalinan.

(2) Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan

Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainnya

fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat

waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap

kotak menyatakan satu jam penuh dan berkaitan

dengan dua kotak setiap waktu tiga puluh menit

pada lajur kotak di atasnya atau lajur kontraksi di

bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif

persalinan, catatkan pembukaan serviks di garis

waspada. Kemudian catatkan waktu aktual

pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai.

Sebagai contoh, jika pemeriksaan dalam

menunjukkan ibu mengalami pembukaan 6 cm

pada pukul 15.00, tuliskan tanda “X” di garis

waspada yang sesuai dengan angka 6 yang tertera

di sisi luar kolom paling krir dan catat waktu yang

sesuai pada waktu di bawahnya (kotak ketiga dari

kiri). (Prawirohardjo, 2014)

e) Kontraksi Uterus/His
66

Dibawah lajur waktu pada partograf terdapat lima

kotak dengan tulisan “kontraksi” tiap 10 menit di

sebelah luar kolom. Setiap kotak untuk satu kali

kontraksi. Jumlah kotak yang diisi kea rah atas

menunjukkan frekuensi kontraksi dalam 10 menit.

Setiap 30 menit, periksa dan dokumentasikan frekuensi

kontraksi yang dating dalam 10 menit dan lamanya

kontraksi dalam satuan detik. Adapun cara dokumentasi

lama kontraksi, sebagai berikut (Prawirohardjo,2014) :

(1) Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk

menyatakan kontraksi yang lamanya kurang dari

20 detik

(2) Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk

menyatakan kontraksi yang lamanya 20-40 detik

(3) Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan

kontraksi yang lamanya lebih dari 40 detik.

f) Obat-obatan dan cairan yang diberikan

Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus

tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin, obat-obata

lainnya dan cairan IV (Prawirohardjo,2014).

(1) Oksitosin
67

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai,

dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit

oksitosin yang diberikan per volume cairan IV

dan dalam satuan tetesan per menit

(Prawirohardjo,2014)

(2) Obat-obatan lain dan cairan IV

Catat semua pemberian obat-obatan

tambahan dan atau cairan IV dalam kotak yang

sesuai dengan kolom waktunya

(Prawirohardjo,2014)

g) Kesehatan dan kenyamanan ibu

Bagian terakhir pada lembar depan partograf

berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan ibu

(Prawirohardjo,2014) .

(1) Nadi, Tekanan darah dan Temperatur Tubuh

Angka di sebelah kiri bagian partograf ini

berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu

(Prawirohardjo,2014)

(a) Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit

selama fase aktif persalinan. (lebih

sering jika dicurigai adanya penyulit).

Beri tanda titik pada kolom waktu yang

sesuai (.)
68

(b) Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap

4 jam selama fase aktif persalinan

(lebih sering jika dianggap adanya

penyulit). Beri tanda panah pada

partograf pada kolom waktu yang

sesuai

(c) Nilai dan catat temperature tubuh ibu

(lebih sering jika meningkat atau

dianggap adanya infeksi) setiap 2 jam

dan catat temperatur tubuh dalam kotak

yang sesuai

(2) Volume Urin, Protein, atau Aseton

Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu

setidaknya setiap 2 jam (setiap kali ibu

berkemih). Jika memungkinkan saat ibu

berkemih, lakukan pemeriksaan adanya aseton

atau protein dalam urin (Prawirohardjo,2014).

(3) Asuhan, Pengamatan, dan Keputusan Klinik

Lainnya

Catat semua asuhan lain, hasil

pengamatan, dan keputusan klinik di sisi luar

kolom partograf atau buat catatan tentang

kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal


69

dan waktu saat membuat persalinan

(Prawirohardjo,2014).

Asuhan, Pengamatan, dan atau Keputusan

Klinik menurut (Prawirohardjo,2014)

mencakup :

(a) Jumlah cairan per oral yang diberikan

(b) Keluhan sakit kepala atau penglihatan

(pandangan) kabur

(c) Konsultasi dengan penolong

persalinan lainnya (Obsgyn, Bidan,

Dokter Umum)

(d) Persiapan sebelum melakukan

rujukan

(e) Upaya rujukan

(4) Cara pengisian Lembar Belakang Partograf

Berbeda dengan halaman depan yang ahrus

diisi pada akhir setiap pemeriksaan, lembar

belakang partograf ini diisi setelah proses

persalinan selesai. Adapun cara pengisian

catatan persalinan pada lembar belakang

partograf secara lebih rinci disampaikan

sebagai berikut
70

(a) Data dasar

Data dasar etrdiri atas tanggal,

nama bidan, tempat persalinan, alamat

persalinan, catatan, alasan merujuk,

tempat rujukan dan pendamping pada

saat merujuk. Isi data pada tiap tempat

yang telah disediakan atau dengan cara

memberi tanda pada kotak di samping

jawaban yang sesuai. Data dasar yang

perlu dipenuhi adalah sebagai berikut :

Kala I

Kala I terdiri atas pertanyaan-

pertanyaan tentang partograf saat

melewati garis waspada, masalah-

masalah yang dihadapi,

penatalaksanaan, dan hasil

penatalaksanaan tersebut.

Kala II

Kala II terdiri atas episiotomy

persalinan, gawat janin, distosia bahu,

masalah penyerta, penatalaksanaan dan

hasilnya. Beri tanda "√" pada kotak di

samping jawaban yang sesuai.


71

Kala III

Kala III terdiri atas lama kala III,

pemberian oksitosin, penengangan tali

pusat terkendali, pemijatan fundus,

plasenta lahir lengkap, plasenta tidak

lahir > 30 menit, laserasi, atonia uteri,

jumlah perdarahan, masalah penyerta,

penatalaksanaan dan hasilnya. Isi

jawaban pada tempat yang disediakan

dan beri tanda pada kotak di samping

jawaban yang sesuai.

Kala IV

Kala IV berisi tentang tekanan

darah, nadi, sugu, tinggi fundus,

kontraksi uterus, kandung kemih, dan

perdarahan. Pemantauan pada kala IV

ini sangat penting terutama untuk

menilai apakah terdapat resiko atau

terjadi perdarahan pasca persalinan.

Pengisian pemantauan kala IV

dilakukan setiap 15 menit pada satu

jam pertama setelah melahirkan dan

setiap 30 menit pada satu jam


72

berikutnya. Isi setiap kolom sesuai

dengan hasil pemeriksaan dan jawab

pertanyaan mengenai masalah kala IV

pada tempat yang telah disediakan.

Bagian yang digelapkan tidak usah

diisi.

4) lembar belakang partograf

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk

mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan dan

kelahiran bayi, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak

kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir).

Catatan persalinan menurut (Prawirohardjo , 2014) adalah

terdiri atas unsure-unsur berikut :

a) Data dasar

b) Kala I

c) Kala II

d) Kala III

e) Bayi baru lahir

f) Kala IV
73

Ga

mb

ar

1.1

Par

tog

raf
74

Gambar 1.2 Lembar BelGambar 1.2 Latar Belakang Partograf


75

8. Asuhan pada Tahap Persalinan

Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman

selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan

komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermia, dan

asfiksia bayi baru lahir. Sementara itu, focus utamannya adalah

mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan suatu pergeseran

paradigm dari sikap menunggu dan menangani komplikasi menjadi

mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.

Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakan

kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu

dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintergrasi dan lengkap serta

intervensi minimal sehingga prinsip keamanan da kualitas pelayanan

dapat terjaga pada tingkat yang optimal.

4 Asuhan sayang ibu

Asuhan sayang ibu adalah assuhan dengan prinsip sling menghargai

budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasar

asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga

selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian

menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan

selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik

mengenai dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta

mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang

akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa proses persalinan


76

asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman

dan keluaran yang lebih baik. Antara lebih baik. Antara lain, juga

disebutkan bahwa asuhan tersebut dan mengurangi jumlah persalinn

dengan tindakan, seperti ekstrasi vakum, forceps, dan seksio sesacera.

Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan :

1) Panggil ibu sesuai namanya, hargai, dan perlakukaan ibu sesuai

martabatnya

2) Jelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu

sebelum memulai asuhan tersebut

3) Jelaskan proses persalinan pada ibu dan keluarganya

4) Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau

khawatir.

5) Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu

6) Berikan dukungan, besarkan hatinya, dan tentramkan perasaan

ibu beserta anggota keluarga lainnya.

7) Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan anggota keluarga lain

8) Ajarkan kepada suami dan anggota keluarga mengenai cara-cara

bagaimana memperhatikan dan mendukung ibu selama

persalinan dan kelahiran bayinya.

9) Lakukan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik dan

konsisten

10) Hargai privasi ibu


77

11) Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan

dan kelahiran

12) Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan bila ia

menginginkannya

13) Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisonal yang tidak

memberi pengaruh merugikan

14) Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan

seperti epsiotomi, pencukuran dan klisma.

15) Anjrukan ibu untuk memeluk bayinya segera setelah lahir

16) Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama

setelah kelahiran bayi.

17) Siapkan rencana rujukan

18) Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik serta

bahan-bahan, perlengkapan, dan obat-obatan yang diperlukan.

Siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap

kelahiran bayi.

9. Penatalaksanaan dalam Proses Persalinan (Langkah-langkah dalam APN

dan IMD)

Asuhan Persalinan Normal

1) Mengamati tanda dan gejala kala dua

2) Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap

digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan


78

menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus

set.

3) Memakai celemek plastik bersih.

4) Melepaskan semua perhiasan yang diapaki di bawah siku, kedua

tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan

mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai yang

bersih.

5) Memakai sarung tangan DTT pada tangan kanan yang di

gunakan untuk periksa dalam.

6) Menghissap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan

memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan

meletakkan kemabli di partus set)

7) Membersihkan vulva dan perineum menyekanya dengan hati-

hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau

kasa yang sudah ddibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika

mulut vagina, perineum, atau anus terkontaminasi ole kotoran

ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka

dari depan ke belakang.

8) Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa

pembukaan serviks sudah lengkap.

9) Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan kedalam

larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan

terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.


79

10) Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai

pastikan DJJ dalam batas normal (120-160 x/menit).

11) Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin

baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his, bila ia sudah

merasa ingin meneran.

12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk

meneran, (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setelah

duduk dan pastikan ia merasa nyaman).

13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan

yang kuat untuk meneran.

14) Saat kepala janin terlihat di vulva dengan diameter 5-6 cm,

memasang handuk bersih untuk mengeringkan janin pada perut

ibu.

15) Mengambil kain bersih, melipat 1/3 bagian dan meletakkannya

dibawah bokong ibu.

16) Membuka tutup partus set.

17) Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,

lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisis kain tadi,

letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan

yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,

membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu


80

untuk meneran perlahan-lahan atau bernapas cepat saat kepala

lahir.

19) Menggunakan kasa/kain bersih untuk membersihkan muka janin

dari lendir dan darah.

20) Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin.

21) Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi

luar secara spontan.

22) Setelah janin menghadap paha ibu, tempatkan kedua telapak

tangan biparietal kepala janin, tarik secara hati-hati ke arah

bawah sampai bahu anterior/depan lahir, kemudian tarik secara

hati-hati ke atas sampai bahu posterior/belakang lahir. Bila

terdapat lipatan tali pusat yang terlalu erat hingga menghambat

putaran paksi luar atau lahirnya bahu, minta ibu berhenti

meneran, dengan perlindungan tangan kiri, pasang klem di dua

tempat pada tali pusat dan potong tali pusat di antara dua klem

tersebut.

23) Setelah bahu lahir, tangan kanan menyangga kepala, leher dan

bahu janin bagian posterior dengan posisi ibu jari pada leher

(bagian bawah kepala) dan ke empat jari pada bahu dan dada /

punggung janin, sementara tangan kiri memegang lengan dan

bahu janin bagian anterior saat badan dan lengan lahir.

24) Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri pinggang

ke arah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang


81

tungkai bawah (selipkan jari telunjuk tangan kiri di antara

kedua lutut janin).

25) Setelah seluruh badan bayi lahir pegang bayi bertumpu pada

lengan kanan sedemikian rupa sehingga bayi menghadap ke arah

penolong. Nilai bayi, kemudian letakkan bayi di atas perut ibu

dengan posisi kepala lebih rendah dari badan (bila tali pusat

terlalu pendek, letakkan bayi di tempat yang memungkinkan).

26) Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi

kecuali bagian tali pusat.

27) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari

umbilicus bayi.Melakukan urutan tali pusat ke arah ibu dan

memasang klem diantara kedua 2 cm dari klem pertama.

28) Memegang tali pusat diantara 2 klem menggunakan tangan kiri,

dengan perlindungan jari-jari tangan kiri, memotong tali pusat di

antara kedua klem.Bila bayi tidak bernafas spontan lihat

penanganan khusus bayi baru lahir.

29) Mengganti pembungkus bayi dengan kain kering dan bersih,

membungkus bayi hingga kepala.

30) Memberikan bayi pada ibu untuk disusui bila ibu menghendaki.

31) Memeriksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan tunggal

bukan kehamilan ganda

32) Memberi tahu ibu akan disuntik.


82

33) Menyutikan Oksitosin 10 unit secara intra muskuler pada bagian

luar paha kanan 1/3 atas setelah melakukan aspirasi terlebih

dahulu untuk memastikan bahwa ujung jarum tidak mengenai

pembuluh darah.

34) Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari

vulva.

35) Meletakkan tangan kiri di atas simpisis menahan bagian bawah

uterus, sementara tangan kanan memegang tali pusat

menggunakan klem atau kain kasa dengan jarak antara 5-10 cm

dari vulva.

36) Saat kontraksi, memegang tali pusat dengan tangan kanan

sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah

dorsokranial.Bila uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu

atau keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.

37) Jika dengan peregangan tali pusat terkendali tali pusat terlihat

bertambah panjang dan terasa adanya pelepasan plasenta, minta

ibu untuk meneran sedikit sementara tangan kanan menarik tali

pusat ke arah bawah kemudian ke atas sesuai dengan kurva jalan

lahir hingga plasenta tampak pada vulva.

38) Setelah plasenta tampak di vulva, teruskan melahirkan plasenta

dengan hati-hati.Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta

dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk


83

membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput

ketuban.

39) Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus

uteri dengan menggosok fundus secara sirkuler menggunakan

bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik

(fundus teraba keras)

40) Sambil tangan kiri melakukan masase pada fundus uteri, periksa

bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan

untuk memastikan bahwa seluruh kotelidon dan selaput ketuban

sudah lahir lengkap, dan memasukkan ke dalam kantong plastik

yang tersedia

41) Memeriksa apakah ada robekan pada introitus vagina dan

perenium yang menimbulkan perdarahan aktif.Bila ada robekan

yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan.

42) Periksa kembali kontraksi uterus dan tanda adanya perdarahan

pervaginam, pastikan kontraksi uterus baik.

43) Membersihkan sarung tangan dari lendir dan darah di dalam

larutan klorin 0,5 %, kemudian bilas tangan yang masih

mengenakan sarung tangan dengan air yang sudah di desinfeksi

tingkat tinggi dan mengeringkannya.

44) Mengikat tali pusat ±1 cm dari umbilicus dengan sampul mati.

45) Mengikat balik tali pusat dengan simpul mati untuk kedua

kalinya.
84

46) Melepaskan klem pada tali pusat dan memasukkannya dalam

wadah berisi larutan klorin0,5%.

47) Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya.

Memaastikan handuk atau kainnya bersih atau kering.

48) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI

49) Lanjutkan pemantauan terhadap kontraksi uterus, tanda

perdarahan pervaginam dan tanda vital ibu.

50) Mengajarkan ibu/keluarga untuk memeriksa uterus yang

memiliki kontraksi baik dan mengajarkan masase uterus apabila

kontraksi uterus tidak baik.

51) Mengevaluasi jumlah perdarahan yang terjadi.

52) Memeriksa nadi ibu.

53) Merendam semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin

0,5%.

54) Membuang barang-barang yang terkontaminasi ke tempat

sampah yang disediakan.

55) Membersihkan ibu dari sisa air ketuban, lendir dan darah dan

menggantikan pakaiannya dengan pakaian bersih/kering.

56) Memastikan ibu merasa nyaman dan memberitahu keluarga

untuk membantu apabila ibu ingin minum.

57) Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.


85

58) Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%

melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan

merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.

59) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

60) Melengkapi partograf dan memeriksa tekanan darah

Inisiasi Menyusui Dini

Pada tahun 1992 WHO/UNICEF mengelurkan protocol tentang

inisiasi Menyusu Dini yang harus diketahui setiap tenaga kesehatan.

Segera setelah bayi dilahirkan, bayi diletakkan di dada atau perut

atas ibu selama paling sedikit satu jam untuk memberi kesempatan

pada bayi untuk mencari dan menemukan putting ibunya.

Manfaat IMD bagi bayi adalah membantu stabilisasi pernapasan,

mengandalikan suhu tubuh lebih baik dibandingkan dengan

incubator, menjaga kolonisasi kuman yang aman untuk bayi dan

mencagah infeksi nosokomial. Kadar bilirubin bayi juga lebih cepat

normal karena pengeluaran mekonium lebih cepat sehingga dapat

menurunkan insiden ikterus bayi baru lahir. Kontak kulit dengan

kulit juga membuat bayi lebih tenang sehingga didapat pola tidur

yang lebih baik. Dengan demikian berat badan bayi cepat meningkat.

Bagi ibu, IMD dapat mengoptimalkan pengeluaran hormone

oksitosin , prolaktin, dan secara psikologis dapat menguatkan ikatan

batin antara ibu dan bayi.


86

Pada protokol ini, setelah bayi lahir hanya perlu dibersihkan

secukupnya dan tidak perlu membersihkan vernik atau

mengeringkan tangan bayi Karena bau cairan amnion pada tangan

bayi akan membantu bayi mencari putting ibu. Dengan waktu yang

diberikan bayi akan mulai menendang dan bergerak menuju putting.

Bayi yang sudah siap menyusu akan menunjukan gejala reflek

menghisap seperti membuka mulut dan mulai mengulum putting.

Refleks menghisap ini pertama kali timbul 20-30 menit setelah lahir

dan menghilang cepat. Dengan IMD ini, bayi dapat langsung

menyusu dan mendapat kolostrum yang kadarnya maksimal pada 12

jam pasca persalinan. (prawirohardjo , 2014)

10. Cantumkan Teori Persalinan sesuai kasus yang di dapat.

3. Bayi Baru Lahir

a. Pengertian Bayi Baru Lahir

Beberap pengertian bayi abru lahir menurut para ahli (Marnih

dkk,2015) yaitu :

1) Menurut Saifuddin, (2002) Bayi baru lahir adalah bayi yang

baru lahir selama satu jam pertama kelahiran.

2) Menurut Donna L. Wong, (2003) Bayi baru lahir adalah bayi

dari lahir sampai usia 4 minggu. Lahirnya biasanya dengan

usia gestasi 38-42 minggu.


87

3) Menurut Deo.Kes RI, (2005) Bayi baru lahir normal adalah

bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42

minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.

4) Menurut M. Sholeh Kosim, (2007) Bayi baru lahir normal

adalah bayi yang lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan,

lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan conginetal

(cacat bawaan) yang berat.

b. Bayi Baru Lahir

Adaptasi neonatal (bayi baru lahir) adalah proses penyesuaian

fungsional neonatus dari kehidupan di dalam uterus. Kemampuan

adaptasi fungsional neonatus dari kehidupan di dalam uterus ke

kehidupan luar uterus. Kemampuan adaptasi fisiologis ini disebut

homeostatis. Bila terdapat gangguan adaptasi, maka bayi akan sakit.

Pada waktu kelahiran, sejumlah adaptasi psikologik mulai terjadi

pada tubuh bayi baru lahir, karena perubahan dramatis ini, bayi

memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan bagaimana ia membuat

suatu transisi yang baik terhadap kehidupannya diluar uterus. Bayi baru

lahir juga membutuhkan perawatan yang dapat meningkatkan

kesempatan menjalani masa transisi dengan berhasil. Tujuan Asuhan

Kebidanan yang lebih luas selama masa ini, adalah memberikan

perawatan komprehensif kepada bayi baru lahir pada saat ia dalam ruang

rawat, untuk mengajarkan orang tua bagaiamana merawat bayi mereka,

dan untuk memberi motivasi terhadap upaya pasangan menjadi orang tua,
88

sehingga orang tua percaya diri dan mantap. Periode transional

mencakup tiga periode, meliputi periode pertama, reaktivitas, fase tidur,

dan periode kedua reaktivitas. Karakteristik masing-masing periode

memperlihatkan kemajuan bayi baru lahir. Beberapa saat dan beberapa

jam dari awal kehidupan ekstrauterin bayi baru lahir merupakan keadaan

yang paling dinamis. Pada saat kelahiran bayi berubah dari keadaan

ketergantungan sepenuhnya kepada ibu menjadi tidak tergantung secara

fisiologis, perubahan proses yang kompleks ini dikenal sebagai transisi.

(Marmi dkk, 2015)

1) Periode transisi

Karakteristik perilaku terlihat nyata selama jam transisi segera

setelah lahir. Masa transisi ini mencerminkan suatu kombinasi

respon simpatik terhadap tekanan persalinan (tachypnea,

tachycardia) dan respon parasimpatik (sebagai respon yang

diberikan oleh kehadiran mucus, muntah, dan gerak peristaltic).

Periode transisi dibagi menjadi 3 menurut (Marmi dkk, 2015)

yaitu:

2) Reaktivitas I (The First Period Of Reactivity)

Dimulai pada masa persalinan dan berakhir setelah 30 menit.

Selama periode ini mata bayi membuka dan bayi memperlihatkan

perilaku siaga. Bayi mungkin menangis, terkejut atau terpaku.

Selama periode ini setiap usaha harus dibuat untuk memudahkan

kontak bayi dan ibu. Membiarkan ibu untuk memegang bayi


89

untuk mendukung proses pengenalan. Bebrapa bayi akan disusui

selama periode ini. Bayi sering mengeluarkan kotoran dengan

seketika setelah persalinan dan suara usus pada umumnya

terdengar setelah usia 30 menit. Bunyi usus menandakan system

pencernaan berfungsi dengan baik. Keluarnya kotoran sendiri,

tidak menunjukkan kehadiran gerak peristaltic hanya

menunjukkan bahwa anus dalam keadaan baik (Marmi dkk,

2015).

Lebih jelas dapat dilihat secara karakteristik yaitu :

a) Tanda-tanda vital bayi baru lahir sebagai berikut :

frekuensi nadi apical yang cepat dengan irama yang

tidak teratur, frekuensi pernafasan mencapai

80x/menit, irama tidak teratur dan beberapa bayi

mungkin dilahirkan dengan keadaan peranafasan

cuping hidung, ekspirasi mendengkur serta adanya

retraksi.

b) Fluktasi warna dari merah jambu pucat ke sianosis

c) Bisisng usus biasanya tidak ada, bayi biasanya tidak

berkemih ataupun tidak mempunyai pergerakan usus,

selama periode ini.

d) Bayi baru lahir mempunyai sedikit jumlah mucus,

menangis kuat. Tip khsusus : selama periode ini mata

bayi terbuk lebih lama, dari pada hari-hari selanjutnya,


90

saat ini adalah waktu paling baik untuk mrmulai proses

periode perlekatan karena bayi baru lahir dapat

mempertahankan kontak mata untuk waktu yang lama.

(Marmi dkk, 2015)

3) Fase tidur (Period Of Unesponsive Sleep)

Berlangsung selama 30 menit sampai 2 jam persalinan.

Tingkat tariff pernafasan menjadi lebih lambat. Bayi dalam

kedaan tidur, suara usus muncul tapi berkurang. Jika mungkin

bayi tidak diganggu untuk pengujian utama dan jangan

memandikannya. Selama masa tidur memberikan kesempatan

pada bayi untuk memulihkan diri dari proses persalinan dan

periode transisi ke kehidupan di luar uterin (Marmi dkk, 2015).

4) Periode Reaktivitas II (The Second Period Of Reaktivity) Transisi

ke-III

Berlangsung selama 2 jam sampai 6 jam setelah persalinan.

Jantung bayi labil dan terjadi perubahan warna kulit yang

berhubungan dengan stimulus lingkungan. Tingkat pernafasan

bervariasi tergantung pada aktivitas. Neonatus mungkin

membutuhkan makanan dan harus menyusu. Pemberian makan

awal penting dalam pencegahan hipoglikemia dan stimulasi

pengeluaran kotoran dan pencegahan penyakit kuning. Pemberian

makan awal juga menyediakan kolonisasi bakteria isi perut yang

mengarahkan pembentukan vitamin K oleh traktus intestinal.


91

Neeonatus mungkin bereaksi terhadap makanan pertama dengan

cara memuntahkan susu bersama mucus. Ibu harus diajari cara

menyendawakan bayinya. Setiap mucus yang terdapat selama

pemberian makan awal dapat berpengaruh terhadap kecukupan

pemberian makanan, terutama jika mucus berlebihan. Kehadiran

mucus yang banyak mungkin mengindikasikan masalah seperti

esofagial atresia, mucus bernoda empedu menunjukkan adanya

penyakit pada bayi dan pemberian makan perlu ditunda sehingga

penyebabnya diselidiki secara menyeluruh.

Periode transisi ke kehidupan ektrauterin berakhir setelah

periode kedua reaktivitas. Hal ini terjaddi sekitar 2-6 jam setelah

persalinan. Kulit dan saluran pencernaan neonatal belum

terkolonisasi oleh beberapa tipe bacteria. Oleh karena itu neonatal

jangan diproteksi dari bacteria menguntungkan, semua perawat

harus mencuci tangan dan lengan bawah selama 3 menit dengan

sabun antibakteria sebelum menyentuh bayi. Aktivitas ini

merupakan proteksi yang berguna terhadap infeksi neonatal.

APGAR SCORE harus dinilai selama periode ini.

c. Tanda-Tanda Bayi Baru Lahir Normal

1) Berat badan 2500-4000 gram

2) Panjang badan 48-52 cm

3) Lingkar dada 30-38 cm

4) Frekuensi jantung 120-160 kali/menit


92

5) Pernafasan ± 40-60 kali/menit

6) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan sub kutan kulit

cukup

7) Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna

8) Kuku agak panjang dan lemas

9) Genetalia

Perempuan, labia mayora sudah menutupi labia minora

Laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada

d. Pemeriksaan

1) Pengkajian fisik pada bayi baru lahir

a) Pengkajian pertama pada bayi baru lahir

Pengkajian ini dilakukan di kamar bersalin setelah bayi lahir

dan setelah dilakukan pembersihan jalan nafas atau resusitasi,

pembersihan badan bayi, dan perawatan tali pusat. Bayi

ditempatkan di atas tempat tidur yang hangat. Maksud

pemeriksaan ini adalah untuk mengenal atau menemukan kelainan

yang perlu mendapatkan tindakan segera dan kelainan yang

berhubungan dengan kehamila, persalinan, dan kelahiran,

misalnya ; bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes mellitus,

eklamsia berat dan lain-lain, biasanya akan mengakibatkan

kelainan bawaan pada bayi. Oleh karena itu, pemeriksaan pertama

pada bayi baru lahir ini harus segera dilakukan. Hal ini ditujukan

untuk menetapkan keadaan bayi dan untuk menetapkan apakah


93

seorang bayi dapat dirawat gabung atau di tempat khusus. Dengan

pemeriksaan pertama ini juga bias menentukan pemeriksaan dan

terapi selanjutnya.

Pengkajian fisik pada bayi baru lahir merupakan bagian dari

prosedur perawatan bayi segera setelh lahir. Berikut ini prosedur

perawatan bayi segera setelah lahir (immediate care of the

newborn) :

(1) Mempelajari hasil anamnesis, meliputi riwayat hamil,

riwayat persalinan, riwayat keluarga

(2) Menilai skor APGAR


94

Table 1.1 Apgar Score

Tanda 0 1 2
Appearance Blue Body pink , All Pink ( seluruh
(warna kulit) (seluruh Limbs (Tubuh tubuh kemerahan
tubuh biru kemerahan, )
atau pucat) ekstremitas biru)

Pulse (denyut Absent


jantung) (tidak ada) <100 >100

Grimace None Grimance Cry (reaksi


( Refleks) (Tidak (Sedikit melawan,
Bereaksi) Gerakan) menangis)

Activity (Tonus Limp Some Felxion of Active


otot) (Lumpuh) Limbs Movement, limbs
(Ektresmitas well flexed
sedikit fleksi) (Gerakan aktif,
ekstremitas fleksi
dengan baik)

Repiratory None Slow, irregular Good, Strong Cry


Effart (Usaha (Tidak ada) (Lambat, tidak (Menangis Kuat
bernafas) teratur)

(3) Melakukan resusitasi neonatus

(4) Melakukan perawatan tali pusat, pemotongan jangan

terlalu pendek dan harus diawasi setiap hari

(5) Memberikan identifikasi bayi dengan memberi kartu

bertuliskan nama ibu, diikatkan di pergelangan tangan atau

kaki

(6) Melakukan pemeriksaan fisik dan observasi tanda vital


95

(7) Meletakkan bayi dalam kamar transisi (jika keadaan

umum baik) atau dalam incubator jika ada indikasi

(8) Menentukan tempat perawatan. Rawat gabung, rawat

khusus atau rawat intensif

(9) Melakukan prosedur rujukan bila perlu. Jika ada penyakit

yang diturunkan dari ibu, misalnya penyakit hepatitis B

aktif, langsung diberikan vaksinasi (globulin) pada bayi.

b) Tujuan pengkajian fisik pada bayi baru lahir

(1) Untuk mendeteksi kelainan-kelainan. Pemeriksaan awal

pada bayi baru lahir harus dilakukan sesegera mungkin

sesudah persalinan untuk mendeteksi kelainan-kelainan

dan menegakkan diagnose untuk persalinan yang berisiko

tinggi. Pemeriksaan harus difokuskan pada anomaly

genetalia da masalah-masalah patofisiologi yang dapat

menggangu adaptasi kardiopulmonal dan metabolic

normal pada kehidupan ektrauterin. Pemeriksaan

dilakukan lebih rinci dan dilakukan dalam 24 jam setelah

bayi lahir.

(2) Untuk mendeteksi segera kelainan dan dapat menjelaskan

pada keluarga.

Apabila ditemukan kelainan pada bayi maka petugas

harus dapat menjelaskan kepada keluarga, karena apabila

keluarga menemukannya di kemudia hari, akan


96

menimbulkan dampak yang tidak baik dan menganggap

dokter atau petugas kesehatan tidak bisa mendeteksu

kelainan pada bayinya.

c) Langkah-langkah dalam melakukan pengkajian fisik pada bayi

baru lahir

(1) Pertama, seorang petugas mengkaji keadaan umum bayi,

melihat cacat bawaan yang jelas seperti hidrosefal,

mikrosefali, anensefali, keadaan gizi dan

maturnitas,aktivitas tangis, warna kulit, kulit kering atau

mengelupas, vernik caseosa, kelainan kulit karena

fravina lahr, toksikum, tanda-tanda meconium, dan sikap

bayi tidur

(2) Langkah kedua, petugas melakukan pemeriksaan pada

kulit, ketidakstabilan vasomotor dan kelambatan

sirkulasi perifer ditampakan oelh warna merah tua atau

biru keunguan pada bayi yang menangis. Yang warnanya

sangat gelap bila penutupan glories mendahului tangisan

yang kuat dan oleh sianosis yang tidak berbahaya.

(3) Pada pemeriksaan kepala bisa dilihat besar, bentuk,

molding, sutura tertutup atau melebar, kaput

suksedanium, hematoma sefal dan karnio tabes.

(4) Pada pemeriksaan telinga dapat menngetahui kelaian

daun atau bentuk telinga.


97

(5) Pada pemeriksaan mata yang bisa dinilai perdarahan

sukonjungtiva, mata yang menonjol, katarak, dan lain-

lain.

(6) Mulut dapat menilai apakah bayi; labioskisis,

labioynatopalatoskisis, tooth-buds, dan lain-lain.

(7) Leher; hematoma, duktis tirolusus, higromakoli

(8) Dada; bentuk, pembesaran buah dada, pernafasan

retraksi intercostal, sifoi, merintih, pernafasan cuping

hidung, bunyi paru.

(9) Jantung; pulsasi, frekuensi bunyi jantung, kelainan bunyi

jantung

(10) Abdomen; membuncit, (pembesaran hati, limpa, tumor,

asites), skafoid (kemungkinan bayi mengalami hernia

diagfragmatika atau atresia esophagus tanpa fistula), tali

pusat berdarah, jumlah pembuluh darah tali pusat, warna

besar tali pusat, hernia di pusat atau selangkangan.

(11) Alat kelamin; tanda-tanda hematoma karena letak

sunsang, testis belum turun, fisnosis, adanyaa perdarahan

atau lendir dari vagina, besar dan bentuk klitoris dan

labia minora, atresia ani.

(12) Tulang punggung; spina bifida, pilonidal sinus dan

dumple.
98

(13) Anggota gerak; fokomeria, sindaktili, polidaktili, fraktor,

paralisis talipes dan lain-lain.

(14) Keadaan neuromuskula; refleks moro, refleks genggam,

refleks rooting dan sebagainya: tonus otot, tremor.

(15) Pemeriksaan lain-lain; meconium harus keluar dalam 24

jam sesudah lahir, bila tidak harus waspaa terhadap

atresia ani atau obstruksi usus. Urine harus ada juga pada

24 jam. Bila tidak ada harus diperhatikan kemungkinan

obstruksi saluran kencing. (Marmi dkk, 2015)

d) Tafsiran Maturnitas Neonatus

Mengetahui dengan tepat lamanya masa gestasi untuk tiap

neonatus sangat penting karena :

(1) Pengetahuan ini penting untuk penatalaksanaan tiap

neonatus terutama bayi BBLR serta individu

(2) Faktor masturasi bayi sangat berpengaruh pada

mordibitas dan mortalitas perinatal

(3) Pengetahuan ini sangat penting untuk menilai tingkat

perkembangan bayi premature

(4) Penelitian fisiologis neonatus dilakukan dengan

mempertimbangkan lamanya masa gestasi. (Marmi dkk,

2015)
99

e. Pemantauan

Indikator Pemantauan Tumbuh Kembang Neonatus, Bayi, Balita Dan

Anak Pra sekolah

Untuk meramal pola tumbuh kembang individu tidak terlepas dari

indiktor tumbuh kembang yang dimiliki individu bersangkutan. Indikator

tersebut antara lain sebagai berikut :

1) Kondisi Keluarga

Peran keluarga sangat penting dalam mendukung

pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak akan mewarisi

sifat-sifat khusus dari orang tuannya. Anak yang dilahirkan

dalam keluarga seniman akan memiliki bakat seni, anak yang

dilahirkan dalam keluarga tektorat akan handal dalam bidang

teknologi, anak yang dilahirkan dalam keluarga berjiwa politik,

cenderung akan memiliki jiwa politik yang tinggi.

2) Nutrisi (Gizi)

Anak yang memperoleh asupan makanan yang bergizi,

proses pertumbuhan dan perkembangannya lebih baik

dibandingkan dengan anak yang kekurangan gizi.

3) Perubahan emosional

Emosi akan menyebabkan produksi hormone adrenalin

meningkat. Akibatnya, produksi hormone pertumbuhan yang

dihasilkan oleh kelejar pituitary akan terhambat. Pertumbuhan

anak yang cenderung serius dengan emosi yang labil akan


100

terlambat dibandingkan dengan anak-anak yang penuh dengan

keceriaan.

4) Jenis kelamin

Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat

dibandingkan anak perempuan pada usia 12-15 tahun, karena

jumlah tulang dan ototnya lebih banyak. Akan tetapi jenis

kelamin bagi anak 0-1 tahun belum menunjukkan perbedaan

nyata karena sistem hormonalnya belum tumbuh dengan baik.

5) Suku bangsa

Suku bangsa akan mempengaruhi variasi ukuran tubuh

individu. Anak-anak Amerika lebih besar dan tinggi

dibandingkan dengan anak-anak Indonesia. Fisik anak kulit

hitam lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak kulit putih.

6) Intelegasi

Anak-anak dengan intelegasi tinggi cenderung memiliki

tubuh lebih tinggi dan berat badan yang lebih besar

dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki intelegasi

rendah.
101

7) Status sosial ekonomi

Tubuh anak yang dibesarkan dengan kondisi sosial ekonomi

yang kurang, cenderung akan lebih kecil dibandingkan denga

anak-anak yang kondisi sosial ekonominya cukup terjamin

8) Tingkat kesehatan

Anak yang dibesarkan dengan tingkat kesehatan yang baik

dan jarang sakit akan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan

anak yang sering sakit-sakitan

9) Fungsi kelenjar hormone thyroxin

Jika fungsi kelenjar hormone normal. Pertumbuhan pun akan

normal. Jika individu mengalami kekurangan (defisiensi)

hormone thyroxin akan menyebabkan kekerdilan (kreatisme).

Sebaliknya, jika kelebihan hormone akan betubuh raksasa

(gigantisme).

10) Keadaan dalam kandungan ibu

Jika ibu hamil merokok, selalu stress, atau asupan gizi janin

kurang akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan anak,

khususnya pada tahun-tahun pertama pertuumbuhannya.

11) Postur Tubuh

Postur tubuh manusia berdasakan berat dan tingginya di

klasifikasikan ke dalam 3 kelompok, yaitu ectomorphic atau

tinggi besar , mesomorphic atau sedang-sedang saja, dan


102

mesomorphic lebih besar dibandingkan endomorphic dan

ectomorphic karena tubuhnya lebih besar dan lebih tinggi.

Untuk lebih memahami proses oertumbuhan dan

perkembangan anak di awal kehidupannya, mengenai

perubahan-perubahan yang terjadi, baik perubahan fisik maupun

mental. Namun, perubahan fisik dan mental yang terjadi pada

usia dini tidak bervariasi. Perkembangan fisik dan mental antara

usia dini dan dewasa sangat berbeda karena pada usia dini

pengaruh luar lebih sedikit, sedangkan pada usia dewasa

pengaruh lingkungan luar cenderung lebih dominan.

f. Penanganan Bayi Baru Lahir

1) Resusitasi Neonatus

Resusitasi neonatus tidak rutin dilakukan pada semua bayi baru

lahir. Akan tetapi, penilaian untuk menentukan apakah bayi

memerlukan resusitasi harus dilakukan pada setiap neonatus oleh

petugas terlatih dan kompeten dalam resusitasi neonatus. Pada bayi

sehat dengan napas spontan, tonus otot baik dan ketuban jernih, tidak

dilakukan resusitasi tetapi tetap harus dilakukan perawatan rutin. Bila

bayi gagal bernapas spontan, hipotonus, atau ketuban keruh

bercampur mekonium, maka harus di lakukan langkah-langkah

resusitasi (Prawirohardjo,2014).
103

2) Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Manfaat IMD bagi bayi adalah membantu stabilisasi pernapasan,

mengandalikan suhu tubuh lebih baik dibandingkan dengan incubator,

menjaga kolonisasi kuman yang aman untuk bayi dan mencagah

infeksi nosokomial. Kadar bilirubin bayi juga lebih cepat normal

karena pengeluaran mekonium lebih cepat sehingga dapat

menurunkan insiden ikterus bayi baru lahir. Kontak kulit dengan kulit

juga membuat bayi lebih tenang sehingga didapat pola tidur yang

lebih baik. Dengan demikian berat badan bayi cepat meningkat. Bagi

ibu, IMD dapat mengoptimalkan pengeluaran hormone oksitosin ,

prolaktin, dan secara psikologis dapat menguatkan ikatan batin antara

ibu dan bayi (Prawirohardjo,2014)

3) Pengikatan dan Pemotongan Tali Pusat

Pengikatan dan pemotongan tali pusat segera setelah persalinan

dilakukan secara luas di seluruh dunia. Penangan tali pusat di kamar

bersalin harus dilakukan secara asepsis untuk mencegah infeksi tali

pusat dan tetanus nneonaturum. Cuci tangan dengan sabun dan air

bersih sebelum mengikat dan memotong tali pusat. Tali pusat diikat

pada jarak 2-3 cm dari kulit bayi, dengan menggunakan klem yang

terbuat dari plastic, atau menggunakan tali yang bersih (lebih baik bila

steril) yang panjangnya cukup untuk membuat ikatan yang cukup kuat

(± 15 cm). Kemudian tali pusat dipotong pada ± 1 cm di distal tempat

tali pusat diikat, menggunakan instrumen yang steril dan tajam.


104

Penggunaan instrument yang tumpul dapat meningkatkan resiko

terjadinya infeksi karena terjadi trauma yang lebih banyak pada

jaringan (Prawirohardho,2014)

4) Perawatan Tali Pusat

Perawatan tali pusat yang benar dan lepasnya tali pusat dalam

minggu pertama secara bermakna mengurangi insiden infeksi pada

neonatus. Jelly Wharton yang membentuk jaringan nekrotik dapat

berkolonisasi dengan organisme pathogen, kemudian menyebar dan

menyebabkan infeksi kulit dan infeksi sistemik pada bayi. Yang

terpenting dalam perawatan tali pusat ialah menjaga agar tali pusat

tetap kering dan bersih. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih

sebelum merawat tali pusat. Bersihkan dengan lembut kulit di sekitar

tali pusat dengan kapas basah, kemudian bungkus dengan longgar

atau tidak terlalu rapat dengan kasa steril. Popok atau celana bayi

diikat di bawah tali pusat, tidak menutupi tali pusat untuk

menghindari kontak dengan feses dan urin. Hindari penggunaan

kancing, koin atau uang logam untuk membalut tekan tali pusat.

Antiseptik dan antimikroba topical dapat digunakan untuk

mencegah kolonisasi kuman dari kamar bersalin, tetapi

penggunaannya tidak dianjurkan untuk rutin dilakukan. Antiseptic

yang biasa digunakan ialah alcohol dan providone-iodine. Akan tetapi

penelitian terbaru membuktikan bahwa penggunaan providone-iodine

dapat menimbulkan efek samping karena diabsorpsi oleh kulit dan


105

berkaitan dengan terjadinya transien hipotirodisme. Alkohol juga

tidak lagi dianjurkan untuk merawat tali pusat karena dapat

mengiritasi kulit dan menghambat pelepasan tali pusat.

(Prawirohardjo,2014)

5) Profilaksis Mata

Pemberian antibiotik profilaksis pada mata terbukti dapat

mencegah terjadinya konjungtivitis. Profilaksis mata yang sering

digunakan yaitu tetes mata silver nitrat 1 %, salep mata eritromisin,

dan salep mata tetrasiklin. Ketiga preparat ini efektif untuk mencegah

konjungtivitis gonore. Saat ini silver nitrat tetes mata tidak dianjurkan

lagi karena sering terjadi efek samping berupa iritasi dan kerusakan

mata (Prawirohardjo,2014)

6) Pemberian Vitamin K

Departemen Kesehatan telah membuat kebijakan nasional yang

berisi semua bayi baru lahir harus mendapat profilaksis vitamin K1

(fetomenadion).

a) Jenis vitamin K yang digunakan adalah Vitamin K1.

(Rekomendasi A)

b) Vitamin K1 diberikan intramuscular atau oral. (Rekomendasi

A)

c) Dosis untuk semua bayi

(1) Intramuscular, 1 mg dosis tunggal


106

(2) Oral, 3 kali 2 mg, diberikan pada waktu bayi lahir,

umur 3-7 hari, dan pada saat bayi berumur 1-2 bulan.

(Rekomendasi A)

d) Bayi ditolong oleh dukun wajib diberikan vitamin K1 secara

oral. (Rekomendasi C)

e) Penyediaan vitamin K1 dosis injeksi 2 mg/ml/ampul, dosis

oral 2 mg/tablet yang dikemas dalam bentuk strip 3 tablet atau

kelipatannya. (Rekomendasi C)

f) Profilaksis vitamin K1 pada bayi baru lahir dijadikan sebagai

program nasional. (Rekomendasi C)

Pemberian vitamin K1 baik secara intramuscular maupun

oral terbukti menurunkan insiden PDVK (Perdarahan akibat

defisiensi Vitamin K1). (Prawirohardjo,2014)

7) Memandikan bayi

Memandikan bayi merupakan hal yang sering dilakukan tetapi

masih banyak kebisaan yang salah dalam memandikan bayi, seperti

memandikan bayi segera setela lahir yang dapat mengakibatkan

hipotermia. Pada beberapa kondisi seperti bayi kurang sehat, bayi

belum lepas dari tali pusat atau dalam perjalanan, tidak perlu

dipaksakan mandi berendam. Bayi cukup diseka dengan sabun dan air

hangat unuk memastikan bayi tetap segar dan bersih.

Saat mandi bayi berada dalam keadaan telanjang dan basah

sehingga mudah kehilangan panas. Karena itu, harus dilakukan upaya


107

untuk mengurangi terjadinya kehilangan panas, suhu ruangan saat

memandikan bayi harus hangat (> 25℃ ) dan suhu air yang optimal

adalah 40℃ untuk bayi kurang dari 2 buan dan dapat berangsur turun

sampai 30℃ untuk bayi di atas 2 bulan.

4. Nifas

a. Pengertian Masa Nifas

Masa nifas disebut juga masa post partum atau peurperium adalah

masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar dari rahim,

sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali

organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami

perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat

melahirkan (Widyasih, dkk. 2013)

b. Tahap Masa Nifas

Adapun tahap-tahapan masa nifas (post partum/ peurperium) adalah

sebagai berikut:

1) Peurperium dini: masa kepulihan yakni saat-saat ibu dibolehkan

berdiri dan jalan-jalan.

2) Peurperium intermedial: masa kepulihan menyeluruh dari organ-

organ genital, kira-kira 6-8 minggu.

3) Remot peurperium: waktu yang diperlukan untuk pulih dan

sehat sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau

persalinan mempunyai komplikasi.


108

Sebagai catatan, waktu untuk sehat sempurna bisa cepat bila kondisi

sehat prima, atau bisa juga berminggu-minggu, bulanan, bahkan

tahunan, bila ada gangguan-gangguan kesehatan lainnya (Widyasih,

dkk. 2013).

c. Perubahan Fisiologis Masa Nifas

1) Perubahan Sistem Reproduksi

a) Perubahan uterus

Terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar.

Hal ini menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta

(placenta site) sehingga jaringan perlekatan antara plasenta dan

dinding uterus, mengalami nekrosis dan lepas.

Ukuran uterus akan mengecil kembali, jika sampai 2 minggu

postpartum, uterus belum masuk panggul, curiga ada subinvolusi.

Subinolusi dapat disebabkan oleh infeksi atau perdarahan lanjut

(late postpartum haemoorrhage).

Jika terjadi subinvolusi dengan kecurigaan infeksi, diberikan,

antibiotika. Untuk memperbaiki memperbaiki kontraksi uterus

dapat diberikan uterotonika ( ergometrin maleat ), namun

ergometrin mempunyai efek samping menghambat produksi

laktasi karena menghambat produksi prolaktin.

Mengenai tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa

infolusi sebagai berikut:


109

Involusi Tinggi Fundus Uterus Berat Uterus


Bayi Lahir Setinggi Pusat 1000 gram
Plasenta Lahir Dua jari bawah pusat 750 gram
Pertengahan Pusat- 500 gram
Satu Minggu
Symphisis
Dua Minggu Tak teraba diatas symphisis 350 gram
Enam Minggu Bertambah Kecil 50 gram
Delapan Minggu Sebesar Normal 30 gram

Disamping itu, dari cavum uteri keluar cairan secret disebut

lochea. Ada beberapa jenis lochea, yakni:

(1) Lochea Rubra (Cruenta) : ini berisi darah segar sisa-sisa

selaput ketuban, sel-sel desidua (yakni selaput lendir

rahim dalam keadaan hamil), vernix caseosa (yakni palit

bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau semacam noda

dan sel-sel epitel, yang menyelimuti kulit janin) lanugo,

(yaitu bulu halus pada anak yang baru lahir) dan

meconium (yakni isi usus janin cukup bulan yang terdiri

atas getah kelenjar usus dan air ketuban, berwarna hijau

kehitaman), selama 2 hari pasca persalinan.

(2) Lochea sanguinolenta: warnanya merah kuning berisi

darah dan lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca

persalinan.

(3) Lochea serosa:berwarna kuning dan cairan ini tidak

berdarah lagi pada hari ke 7 – 14 pasca persalinan.

(4) Lochea alba: cairan putih yang terjadinya pada hari

setelah 2 minggu.
110

(5) Lochea purulenta: ini karena terjadi infeksi, keluar cairan

sperti nanah berbau busuk.

(6) Lochiotosis: lochea tidak lancer keluarnya.

d. Perubahan Vagina dan Perineum

1) Vagina

Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-

lipatan atau kerutan-kerutan) kembali.

2) Perlukaan Vagina

Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum

tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa,

tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstrasi dengan cunam,

terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan terdapat pada

dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan speculum.

3) Perubahan pada Perineum

Terjadi robekan perineum pada hamper semua persalinan

pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan

perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas

apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil

daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan

ukuran yang lebih besar daripada sirkum ferensia subiksipito

bregmatika.
111

Bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomy

(penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah

kelahiran bayi) lakukanlah penjahitan dan perawatan dengan baik

(Widyasih, dkk. 2013).

4) Perubahan pada Sistem Pencernaan

Sering terjadi konstipasi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini

umumnya disebabkan karena makanan padat dan kurangnya berserat

selama persalinan. Di samping itu rasa takut untuk buang air besar,

sehubungan dengan jahitan pada perineum, jangan sampai lepas dan

juga takut akan rasa nyeri. Buang air besar harus dilakukan 3-4hari

setelah persalinan. Bilamana masih juga terjadi konstipasi dan BAB

mungkin keras dapat diberikan obat laksan peroral atau per rectal.

Bila masih juga belum berhasil, dilakukan klysma (klisma), Enema

(Ing) artinya suntikan urus-urus (Widyasih, dkk. 2013).

5) Perubahan Perkemihan

Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8

minggu, tergantung pada

a) keadaan / status sebelum persalinan

b) lamanya partus kala 2 dilalui

c) besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat

persalinan.

Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistocopic (sistopik)

segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya edema dan


112

hyperemia dinding vesica urinaria, akan tetapi sering terjadi

extravasasi (extravasaction, artinya keluarnya darah dari pembuluh

pembuluh darah di dalam badan) ke mukosa.

Lagi pula vesica urinaria masa nifas mempunyai kapasitas

bertambah besar dan relative tidak sensitive terhadap tekanan cairan

intra vesica. Oleh sebab itu pengembangannya yang berlebihan,

terutama karena analgesia dan gangguan fungsi neural, sementara

pada vesica urinaria memang merupakan factor-faktor penunjang.

6) Perubahan Sistem Muskuloskeletal atau Diatesis Rectie Abdominis

a) Diatesis

Setiap wanita nifas memiliki derajat diatesis/konstitusi

(yakni keadaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh

bereaksi secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar

tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap

penyakit-penyakit tertentu). Sebagian besar wanita melakukan

ambulasi (ambulation = bisa berjalan) 4-8 jam postpartum.

Ambulasi dini dianjurkan untuk menghindari komplikasi,

meningkatkan involusi dan meningkatkan cara pandang

emosional. Relaksasi dan peningkatan mobilitas artikulasi pelvic

terjadi dalam 6 minggu setelah melahirkan (Widyasih, dkk.

2013).
113

b) Abdominis dan Peritonium

Akibat peritoneum berkontraksi dan ber-retraksi

pascapersalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritoneum

yang membungkus sebagian besar dari uterus, membentuk

lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum

sangat lebih kendor dari kondisi sebelum hamil. Memerlukan

waktu cukup lama agar dapat kembali normal seperti semula.

Pasca persalinan dinding perut menjadi longgar, disebabkan

karena teregang begitu lama. Namun demikian umumnya akan

pulih dalam waktu 6 minggu (Widyasih, dkk. 2013).

d. Perubahan Tanda-tanda Vital pada Masa Nifas

1) Suhu Badan

a) Sekitar hari ke-4 setelah persalinan suhu ibu mungkin naik

sedikit, antara 37,2ºC – 37,5ºC. kemungkinan disebabkan karena

ikutan dari aktivitas payudara.

b) Bila kenaikan mencapai 38ºC pada hari kedua sampai hari-hari

berikutnya, harus diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.

2) Denyut Nadi

a) Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60x/menit, yakni

pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat

penuh. Ini terjadi utamanya pada minggu pertama postpartum.


114

b) Pada ibu yang nervous nadinya bisa cepat, kira-kira 110x/menit,

bisa juga terjadi gejala shock karena infeksi, khususnya bila

disertai peningkatan suhu tubuh.

3) Tekanan Darah

a) Tekanan darah < 140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa

meningkat dari pra persalinna pada 1-3 hari post partum.

b) Bila tekanan darah menjadi rendah menunjukkan adanya

perdarahan post partum. Sebaliknya bila tekanan darah tinggi,

merupakn petunjuk kemungkinan adanya preeklampsi yang bisa

timbul pada masa nifas. Namun hal seperti itu jarang terjadi.

4) Respirasi

a) Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal, mengapa

demikian, tidak lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau

kondisi istirahat.

b) Bila ada respirasi cepat post partum (>30x/menit), mungkin

karena adanya ikutan tanda-tanda syok (Widyasih, dkk. 2013).

e. Tujuan Asuhan Nifas

1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.

2) Melaksanakan skrining secara komperhensif, deteksi dini, mengobati

atau merujuk bila komplikasi pada ibu maupun bayinya.

3) Memberikan pendidikan kesehatan pada ibu berkaitan dengan: gizi,

menyusui, pemberian imunisasi pada bayinya, perawatan bayi sehat

dan KB.
115

4) Memberikan pelayanan KB. (Widyasih, dkk. 2013)

f. Kebiajkan Program Nasional Masa Nifas

Pemerintah melalui departemen kesehatan, juga telah memberikan

kebijakan dalam hal ini, sesuai dengan dasar kesehatan pada ibu nifas,

yakni paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas.

Tujuan kebijakan tersebut ialah sebagai berikut :

1) Untuk menilai kesehatan ibu dan kesehatan bay baru lahir

2) Pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya

gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.

3) Mendeteksi adanya kejadian-kejadian pada masa nifas.

4) Menangani berbagai masalah yang timbul dan mengganggu

kesehatan ibu maupun bayinya pada masa nifas.

Adapun frekuensi kunjungan, waktu dan tujuan kunjungan tersebut

dipaparkan sebagai berikut:

1) Kunjungan pertama, waktu 6-8 jam persalinan.

Tujuan:

a) Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan atonia

uteri

b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk

bila perdarahan berlanjut.

c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas

karena atonia uteri.


116

d) Pemberian ASI awal

e) Memberi supervise kepada ibu bagaimana teknik

melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.

f) Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah

hipotermi. Bila ada bidan atau petugas lain yang mebnatu

melahirkan, maka petugas atau bidan itu harus tinggal

dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama.

2) Kunjungan kedua, waktu enam hari setelah persalinan.

Tujuan:

a) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal

b) Evaluasi adanya tanda-tanda demam, infeksi atau

perdarahan abnormal.

c) Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat

d) Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada

tanda-tanda adanya penyulit.

e) Memberikan konseling pada ibu mengenai hal-hal berkaitan

dengan asuhan pada bayi.

3) Kunjungan ketiga, waktu dua minggu setelah persalinan

Tujuan:

Sama seperti kunjungan hari keenam

4) Kunjungan keempat, waktu enam minggu setelah persalinan

Tujuan :

a) Menanyakan penyulit-penyulit yang ada.


117

b) Memberikan konseling untuk KB secara dini.

(Widyasih, dkk. 2013).

g. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas

1) Gizi

Anjuran bagi ibu Nifas:

a) Makan dengan diet berimbang, cukup karbohidrat, protein, lemak,

vitamin dan mineral.

b) Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6

bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua

400 kalori. Jadi jumlah kalori tersebut adalah tambahan dari

kebutuhan kalori per harinya.

c) Mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A

dalam bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI,

meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatakan kelangsungan

hidup anak. Pada bulan-bulan peratama kehidupan bayi

bergantung pada vitamin A yang terkandung dalam ASI

(Widyasih, dkk. 2013).

b. Kebersihan Diri dan Bayi

1) Kebersihan diri

Anjuran bagi ibu nifas

(1) Menjaga kebersihan seluruh tubuh


118

(2) Mengajarkan ibu cara membersihkan daerah kelamin

dengan sabun dan air

(3) Menyarankan ibu untuk mengganti pembalut setipa kali

mandi, BAB/BAK, paling tidak dalam waktu 3-4 jam

supaya ganti pembalut.

(4) Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan

air sebelum menyentuh daerah kelamin.

(5) Anjurkan ibu tidak sering menyentuh luka episiotomy dan

laserasi.

(6) Pada ibu post section (SC), luka tetap dijaga agar tetap

bersih dan kering, tiap hari diganti balutan (Widyasih, dkk.

2013).

2) Kebersihan Bayi

Hal-hal yang perlu dijelaskan pada ibu nifas agar bayi tetap

terjaga kebersihannya:

(1) Memandikan bayi setelah 6 jam untuk mencegah

hipotermi

(2) Memandikan bay 2 kali tipa pagi dan sore

(3) Mengganti pakaian bayi tipa habis mandi dan tiap kali

basah atau kotor karena BAB/BAK.

(4) Menjaga daerah kelamin bayi agar selalu bersih dan

kering.
119

(5) Menjaga tempat tidur bayi selalu bersih dan hangat

karena ini adalah tempat tinggal bayi.

(6) Menjaga alat apa saja yang dipakai bayi agar selalu

bersih (Widyasih, dkk. 2013).

c. Istirahat dan Tidur

Anjuran bagi ibu

a) Istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan

b) Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur

c) Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan

d) Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan

waktu untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8

jam.

d. Senam Nifas

Senam nifas adalah senma yang dilakukan sejak hari pertama

melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh, terdiri dari

sederetan gerakan tubuh yang dilakukan untuk mempercepat

pemulihan keadaan ibu.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan senam nifas

adalah:

a) Diskuksikan pentingnya pengembalian otot perut dan

panggul karena dapat mengurangi sakit punggung.


120

b) Anjurkan ibu untuk melakukan ambulasi sedini mungkin

secara bertahap, misal latihan duduk, jika tidak pusing baru

boleh berjalan.

c) Melakukan latihan beberapa menit sangat membantu

(Widyasih, dkk. 2013).

e. Hubungan seks dan Keluarga Berenca

1) Hubungan seks

a) Aman setelah darah merah berehenti, dan ibu dapat

memasukkan satu atau dua jari kedalam vagina tanpa rasa

nyeri

b) Ada kepercayaan/ budaya yang memperbolehkan

melakukan hubungan seks setelah 40 hari atau 6 minggu,

oleh karena itu perlu dikompromikan antara suami istri

(Widyasih, dkk. 2013)

2) Keluarga berencana

(1) Idelanya setelah melahirkan boleh hamil lagi setelah 2 tahun

(2) Pada dasarnya ibu tidak mengalami ovulasi selama

menyusui ekslusif atau penuh enam bulan dan ibu belum

mendapatkan haid (metode amenorhe laktasi).

(3) Meskipun setiap metode kontrasepsi berisko, tetapi

menggunakan kontrasepsi jauh lebih aman.

(4) Jelaskan pada ibu berbagai macam metode kontrasepsi yang

diperbolehkan selama menyusui, yang meliputi :


121

(a) Cara penggunaan

(b) Efek samping

(c) Kelebihan dan kekurangan

(d) Indikasi dan kontra indikasi

(e) Efektifitas

f. Eliminasi : BAB dan BAK

a) Buang air kecil (BAK)

(1) Dalam enam jam ibu nifas harus harus sudah bisa

BAK spontan, kebanyakan ibu berkemih spontan

dalam waktu 8 jam.

(2) Urine dalam jumlah yang banyakakan diproduksi

dalam waktu 12-36 jam setelah melahirkan.

(3) Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam

waktu 6 minggu.

b) Buang air besar (BAB)

(1) BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena edema

persalinan, diit cairan, obat-obatan analgetik, dan

perineum yang sangat sakit.

(2) Bila lebih dari tiga hari belum BAB bisa diberikan obat

laksanita

(3) Ambulasi secara dini dan teratur akan membantu dalam

regulasi BAB.
122

(4) Asupan cairan yang adekuat dan diit tinggi serat sangat

dianjurkan (Widyasih, dkk. 2013).

g. Pemberian ASI/Laktasi

Hal-hal yang perlu diperhatian kepada pasien

Menyusui bayi segera setelah lahir minimal 30 menit bayi telah

disusukan.

a) Ajarkan cara menyusui yang benar

b) Memberikan ASI secara penuh 6 bulan tanpa makanan lain

(ASI eksluisf).

c) Menyusui tanpa dijadwal sesuka bayi (on demand)

d) Diluar menyusui jangan memberikan dot/kempeng pada bayi,

tapi berikan ASI dengan sendok.

e) Penyapihan bertahap meningkatkan frekuensi makanan dan

menurunkan frekuensi pemberian ASI (Widyasih, dkk. 2013).

1. Kebiasaan yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan

a. Menghindari makanan berprotein sperti telur, ikan,

karena ibu menyusui membutuhkan tambahan protein.

b.Penggunaan beban perut setelah melahirkan

c. Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus

tetap berkontraksi.

d. Memisahkan ibu dan bayi dalam masa yang lama dalam

satu jam post partum (Widyasih, dkk. 2013).


123

h. Tanda bahaya masa nifas

1. Perdarahan pervaginam

Perdarahan pervaginam/perdarahan postpartum/post partum

hemorargi/hemorargi postpartum/PPH adalah kehilangan darah sebanyak

500cc atau lebih dari traktus genetalia setelah melahirkan.

2. Infeksi masa Nifas

Infeksi masa nifas atau sepsis peurperalis adalah infeksi pada traktus

genitalia yang terjadi pada setiap saat antara pecah ketuban atau persalinan

dan 42 hari setelah persalinan atau abortus yang terdapat dua atau lebih

dari hal-hal berikut:

a. Nyeri pelvic

b. Demam 38,5ºC atau lebih

c. Rabas vagina yang abnormal

d. Rabas vagina yang berbau busuk

e. Keterlambatan dalam kecepatan penurunan uterus.

3. Kelainan Payudara

a. Bendungan Air Susu

Selama 24 hingga 48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi

lateal, payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan

berbenjol-benjol. Keadaan ini yang disebut dengan bendungan air

susu atau caked breast, sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup

hebat dan bisa disertai dengan kenaikan suhu.

b. Mastitis
124

Inflamasi parenkimatosis glandula mammae merupakan komplikasi

ante partum yang jarang terjadi tetapi kadang-kadang dijumpai dalam

masa nifas dan laktasi.

4. Kehilangan Nafsu makan dalam waktu yang lama

Sesudah anak lahir, ibu akan merasa lelah dan lemas karena

terkurasnya tenanga. Ibu sebaiknya segera diberi minuman hangat, susu,

kopi atau teh yang bergula. Apabila ibu menghendaki makanan,

berikanlah makanan yang sifatnya ringan walaupun dalam persalinan,

lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses

persalinan, tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses

persalinannya tersebut, sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna

memulihkan keadaannya kembali.

5. Rasa sakit, merah dan pembengkakan pada kaki

Selama masa nifas, dapat terbentuk thrombus pada vena manapun

dipelvis yang mengalami dilatasi. Thrombus terbentuk mmelalui proses

penumpukan keeping darah yang membentuk penyumbat. Terjadinya

thrombus seperti itu akan lebih sering. Rasa sakit yang berlebihan pada

masa nifas dipengaruhi oleh keadaan saat hamil.

6. Merasa sedih atau tidak mampu mengasuh diri dan bayinya

Pada minggu-minggu awal setelah persalinan sampai kurang lebih 1

tahun ibu postpartum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang

tidak pada umumnya, seperti merasa sedih, tidak mampu mengasuh

dirinya sendiri dan bayinya.


125

Factor penyebabnya adalah:

a. Kekecewaan emosional bercampur rasa takut yang dialami

kebanyakan wanita selama hamil dan melahirkan

b. Rasa nyeri pada awal masa nifas

c. Kelelahan akibat kurang tidur selama persalinan dan terlalu banyak

melahirkan di rumah sakit

d. Kecemasan akan kemampuannya untuk merawat bayinya setelah

meninggalkan rumah sakit.

e. Ketakutan akan menjadi terlihat tidak menarik lagi setelah melahirkan

(Widyasih, dkk. 2013).

i. Asuhan Masa Nifas Normal

1) Pengkajian Data Fisik dan Psikososial

Langkah awal yang dilakukan bidan dalam memberikan asuhan

masa nifas adalah melakukan pangkajian data objektif. Data subjektif

digali langsung dari klien atau keluarganya, sedangkan data objetif

diambil melalui pemeriksaan baik pemeriksaan umum, pemeriksaan

khusus maupun pemeriksaan penunjang. Pengkajian data dalam

asuhan masa nifas normal meliputi:

a) Riwayat kesehatan

Hal yang perlu dikaji dalam riwayat kesehatan adalah

sebagai berikut:

(1) Keluhan yang dirasakan ibu saat ini


126

(2) Adakah kesulitan atau gangguan dalam pemenuhan

kebutuhan sehari-hari misalnya pola makan, buang air

kecil atau buang air besar, kebutuhan istirahat,

mobilisasi

(3) Riwayat tentang persalinan ini meliputi adakah

komplikasi, laserasi atau episiotomy

(4) Obat/suplemen yang dikonsumsi saat ini misalna tablet

besi

(5) Perasaan ibu saat ini berkaitan dengan kelahiran bayi,

penerimaan terhadap peran baru sebagai orang tua

termasuk suasana hati yang dirasakan ibu sekarang,

kecemasan, kekhawatiran

(6) Adakah kesulitan dalam pemberian ASI dan perawatan

bayi sehari-hari

(7) Bagaimana rencana menysusui nanti (ASI Ekslusif atau

tidak), recana merawat bayi dirumah (dilakukan ibu

sendiri atau dibantu orangtua/mertua).

(8) Bagaimana dukungan suami atau keluarga terhadap ibu

(9) Pengetahuan ibu tentang nifas

b) Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, bidan harus melakukan

pemeriksaan menyeluruh dan terutama berfokus pada masa

nifas, yaitu:
127

(1) Keadaan umum, kesadaran

(2) Tanda-tanda vital, tekanan darah, suhu, nadi dan

pernafasan.

(3) Payudara: pembesaran, putting susu

(menonjol/mendatar, adakah nyeri dan lecet pada

puting), ASI/Kolostrum sudah keluar, adakah

pembengkakan, radang atau benjolan abnormal.

(4) Abdomen: tinggi fundus uteri, kontraksi uterus

(5) Kandung kemih kosong/penuh

(6) Genetalia dan perineum: pengeluaran lochea (jenis,

warna, jumlah, bau) odem, peradangan, keadaan

jahitan, nanah, tanda-tanda infeksi pada luka jahitan,

keberishan perineum, hemoroid pada anus.

(7) Ekstremitas bawah: pergerakan, gumpalan darah pada

otot kaki yang menyebabkan nyeri, edema, homan’s

sign, varises.

2) Merumuskan Diagnosis/masalah asktual/masalah potensial

Langkah selanjutnya setelah memperoleh data adalah

melakukan analsis data dan interpretasi sehingga didapatkan

rumusan diagnosis. Berdasarkan data yang diperoleh bidan akan

memperoleh kesimpulan apakah masa nifas ibu normal atau tidak.

Kemungkinan masalah yang dialami ibu adalah:

a) Masalah nyeri
128

b) Masalah infeksi

c) Masalah cemas, perawatan perineum, payudara, ASI

ekslusif

d) Maslaah kebutuhan KB, gizi, tanda bahaya, senam,

menyusui.

3) Merencanakan Asuhan Kebidanan

Berdasarkan diagnosis yang didapat, bidan dapat merencanakan

asuhan pada ibu. Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh

ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya.

a) Evaluasi secara Terus menerus

Bidan harus melakukan evaluasi secara terus menerus

terhadap ibu. Pantau kondisi ibu meliouti setiap 15 menit

pada jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.

b) Gangguan Rasa Nyeri

Gangguan rasa nyeri pada masa nifas banyak dialamai

meskipun pada persalinan normal tanpa komplikasi. Hal

tersebut menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu. Bidan

diharapkan dapat mengatasi gangguan ini dan memberi

kenyamanan pada ibu. Gangguan rasa nyeri yang dialami ibu,

diantaranya sebagai berikut:

(1) Kram perut

(2) Pembengkakan payudara

(3) Nyeri perineum


129

(4) Konstipasi

(5) Hemoroid

(6) Diuresis

c) Mencegah infeksi nifas

Merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Infeksi yang

mungkin terjadi adalah infeksi saluran kencing, infeksi pada

genetalia, imfeksi payudara (mastitis, abses), infeksi saluran

pernafasan atas (ISPA).

d) Mengatasi kecemasan

Rasa cemas sering timbul pada ibu pada masa nifas karena

perubahan fisik dan emosi dan masih menyesuaikan diri

dengan kehadiran bayi. Atasi kecemasan dengan mendorong

ibu untuk mengungkapkan perasaannya, libatkan suami dan

keluarga untuk memberikan dukungan dan beri pendidikan

kesehatan sesuai kebutuhan sehingga dapat membangun

kepercayaan diri dalam berperan sebagai ibu.

e) Member pendidikan kesehatan

Pendidikan kesehatan pada ibu nifas sangat diperlukan bagi

ibu terutama sebagai bekal saat dia berada di rumah.

Pendidikan kesehatan yang diberikan meliputi gizi, KB, tanda

bahaya, hubungan seksual, senam nifas, perawatan perineum,


130

perawatan bayi sehari-hari, personal hygiene, istirahat dan

tidur, mobilisasi, dan ASI ekslusif.

f) Memberikan kenyamanan pada ibu nifas

Ibu nifas membutuhkan kenyamanan dalam menjalani

peran barunya sebagai ibu. Bidan diharapkan dapat

memberikan asuhan yang dapat member rasa nyaman.

g) Membantu ibu untuk menyusui bayi

ASI ekslusif selama 6 bulan sangat penting bagi bayi. ASI

memilki kandungan yang paling sempurna yang dapat

memberikan kekebalan bagi bayi. Ajarkan ibu teknik menyusui

yang baik, bila ada masalah berkaitan dengan menyusui segera

diatasi.

h) Memfasilitasi menjadi orang tua

Peran baru sebagai orangtua yang dihadapi ibu nifas

memerlukan penyesuaian diri. Keberhasilan penyesuaian diri

pada fase ini akan mengurangi resiko terjadinya baby blues.

Salah satu asuhan yang dilakukan bidan adalah memfasilitasi

ibu menjadi orangtua.

i) Persiapan pasien pulang

Persiapan sebelum ibu pulang:

(1) Pastikan ibu telah mengetahui tentang perawatan

perineum, gizi ibu menyusui, kebersihan diri,


131

perawatan payudara, istirahat dan pendidikan kesehatan

lain yang telah kita berikan selama ibu dirawat.

(2) Beritahu ibu untuk segera menghubungi bidan jika di

rumah terjadi tanda-tanda bahaya.

(3) Beri suplemen zat besi.

(4) Diskusikan tentang rencana kontrasepsi pasca

persalinan.

(5) Rencanakan kunjungan ulang untuk pemeriksaan pasca

salin lanjutan.

j) Anticipatory Guidance

Secara garis besar Anticipatory Guidance meliputi instruksi

dan bimbingan dalam mengantisipasi periode nifas dan

bagaimana memberikan asuhan sepanjang masa nifas tersebut.

k) Deteksi dini komplikasi pada ibu nifas

Diperkirakan 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi

setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam

24 jam pertama. Bidan dituntut untuk dapat melakukan asuhan

kebidanan yang dapat mendeteksi dini komplikasi pada ibu

nifas.

4) Pelaksanaan Asuhan Kebidanan


132

Pelaksanaan Asuhan kebidanan dapat dilakuakn dengan tindakan

mandiri atau kolaborasi. Disamping itu diperlukan tindakan

pengawasan pada ibu nifas untuk memastikan ibu dan bayi dalam

kondisi sehat. Berikan pendidikan/penyuluhan sesuai dengan

perencanaan. Pastikan ibu mengikuti rencana yang disusun. Untuk itu

dalam membuat perencanaan bidan harus selalu mendiskusikan

dengan ibu dna keluarga sehingga pelaksanaan asuhan menjadi

tanggung jawab bersama.

5) Evaluasi Asuhan Kebidanan

Evaluasi dalam asuhan kebidanan diperlukan untuk menegtahui

keberhasilan asuhan yang diberikan. Evaluasi keefektifan asuhan yang

diberikan apakah tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan

perencanaan. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang

benar efektif dalam pelaksanaannya. Ingat kembali tujuan asuhan

kenidanan diberikan dan evaluasi dapat dilakukan saat ibu melakukan

kunjungan ulang. Saat itu bidan dapat melakukan peniaian

keberhasilan asuhan (Widyasih, dkk. 2013).

5. Keluarga Berencana

a. Pengertian keluarga berencana

Keluarga berencana merupakan usaha suami-istri untuk mengukur

jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Usaha yang dimaksud tersebut
133

kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga.

Prinsip dasar metode kontrasepsi adalah mencegah sperma laki-laki

mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur

yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang

didalam rahim (Walyani E.S, 2015).

b. Macam-macam keluarga berencana dan cara kerjanya

1) Pelayanan kontasepsi dengan metode sederhana

a) Metode kalender/pantang berkala, salah satu cara atau metode

kontrasepsi sederhana yang di kerjakan sendiri oleh pasangan

suami istri dengan tidak melakukan senggama pada masa subur.

b) Metode kontasepsi suhu basal, adalah suhu tubuh sebelum ada

aktivitas apapun, biasanya diambil pada saat bangun tidur dan

belum meningalkan tempat tidur. Suhu basal ini akan meningkat

setelah ovulasi.

c) Metode lender serviks/metode ovulasi billing (MOB), adalah

suatu cara atau metode yang aman dan alamah untuk

mengetahui kapan masa subur wanita.

d) Coitus Interruptus, dapat disebut juga dengan senggama

terputus. Teknik ini dapat mencegah kehamilan dengan cara

sebelum terjadi ejakulasi pada pria, seorang pria harus menarik

penisnya dari vagina sehingga tidak setetespun sperma masuk ke

dalam Rahim wanita.


134

e) Kondom pria, adalah salah satu alat kontrasepsi yang terbuat

dari karet / lateks, berbentuk tabung tidak tembus cairan, salah

satu ujunganya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk

menampung sperma.

2) Pelayanan kontrasepsi hormonal

a) Secara oral (pil kombinasi dan pil progrestin)

(1) Pengertian

Pil kombinasi merupakan pil kontrasepsi yang berisi

hormone sintesis estrogen dan progesterone. Dan pil

progrestin adalah pil kontrasepsi yang berisi hormone

sintesis progesterone.

(2) Cara kerja:

Menekan ovulasi, mencegah implantasi, mengentalkan

lender serviks,dan pergerakan tuba terganggu sehingga

transportasi ovum akan terganggu.

(3) Keuntungan:

(a) Tidak mengganggu hubungan seksual

(b) Siklus haid menjadi teratur,(mencegah anemia)

(c) Dapat digunakan sebagai metode jang panjang

(d) Dapat digunakan pada masa remaja hingga menopause

(e) Mudah dihentikan setiap saat

(f) Kesuburan cepat kembali setelah penggunaan pil yang

dihentikan
135

(g) Membantu mencegah kehamilan ektopik, kanker

ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, acne,

dismenorhoe.

(4) Kekurangan:

(a) Mahal dan membosankan karena digunakan setiap hari

(b) Mual, 3 bulan pertama

(c) Perdarahan bercak atau perdarahan,pada 3 bulan

pertama

(d) Pusing

(e) Nyeri payudara

(f) Kenaikan berta badan

(g) Tidak mencegah pms

(h) Tidak boleh untuk ibu yang menyusui

(i) Dapat meningkatkan tekanan darah tinggi sehingga

resiko stroke.

b) Suntk/injeksi ( suntikan kombinasi dan progestrin)

(1) Pengertian

Suntik kombinasi merupakan kontrasepsi suntik yang

berisi hormone sintesis estrogen dan progesterone.


136

(2) Keuntungan:

(a) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

(b) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam

(c) Klien tidak perlu menyimpan obat

(d) Resiko terhadap kesehatan kecil

(e) Efek samping sangat kecil

(f) Jangka panjang.

i. Kerugian

Perubahan pola haid tidak teratur, awal pemakaian

mengalami mual pusing,nyeri payudara dan keluhan ini

akan mengilang setelah suntikan ke-2 dan ke-3,

ketergantungan klien pada pelayanan kesehatan,efektifitas

turun jika transaksi dengan obat, dapat terjadi efek samping

yang serius,terlambatnya pemulihan kesuburan setelah

berhenti,tidak menjamin perlindungna terhadap penularan

infeksi PMS dan bertambahnya berta badan.

c) Alat kontasepsi bawah kulit (AKBK)/ implant

(1) Pengertian

Salah satu jenis kontrasepsi yang berupa susuk yang

berupa susuk yang terbuat dari sejenis karet silastik yang


137

bersisi hormone,dipasang pada lengan atas. (Handayani,

2010).

(2) Keuntungan:

(a) Cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan

obat yang mengandung estrogen

(b) Dapat digunakan dalam jangka waktu panjang 5tahun

dan bersifat refersibel

(c) Efek kontraseptif segera berakhir setelah implant

dikeluarkan

(d) Peradarahn terjadi lebih ringan tidak menaikan darah.

(e) Resiko terjadi kehamilan ektokpik lebih kecil jika

dibandingkan dengan pemakaian alat kontrasepsi dalam

Rahim.

(3) Kerugian:

(a) Susuk atau implant harus dipasang atau diangkat oleh

petugas kesehatan yang terlatih

(b) Lebih mahal

(c) Sering timbul perubahan polaa haid

(d) Akseptor tidak dapat menghentikan implant

sekehendaknya sendiri

(e) Beberpa orang wanita mungkin segan untuk

menggunakannya karena kuraang mengenalnya

(Handayani,2010).
138

d) Alat kontrasepsi dalam Rahim (AKDR)/ IUD

(1) Pengertian

Suatu alat atau benda yang dimasukan kedalam Rahim

yang sangat efektif,refersibel dan berjangka panjang,dapat

dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif (Handayani,

2010).

(2) Keuntungan:

(a) AKDR dapaat efektif segera setelah pemasangan

(b) Metode jangka panjang

(c) Saat efektif karena tidak perlu lagi diingat-ingat

(d) Tidak mempengaruhi hubungan seksual

(e) Meningkatkan kenyamanan seksual Karen tidak perlu

takut untuk hamil

(f) Tidak ada efek samping hormonal

(g) Tidak mempengaruhi kualitas ASI

(h) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus

(i) Dapat digunakan sampai menopause

(j) Tidak ada intereksi dengan obat-obatan

(k) Membantu mencegah kehamilan ektopik.

(3) Kerugian:

(a) Perubahan siklus haid


139

(b) Haid lebih lama dan banyak

(c) Perdarahan (Spotting) atau menstruasi

(d) Saat haid lebih sakit

(e) Tidak mencegah IMS termasuk HIV AIDS

(f) Tidak baik digunakan padaa perempuan IMS atau PSK

(g) Penyakit radang panggul terjadi

(h) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik

diperlukan dalam pemasangan

(i) Klien tidak dapat melepas AKDR dengan sendirinya

(j) Mungkin AKDR keluar lagi dari uterus tampa

diketahui.

(k) Tidak mencegah terjadinya KET karena fungsi AKDR

untuk mencegah kehamilan normal.

(l) Perempuan harus memeriksa posisi benang dari waktu-

kewaktu,untuk melakukan ini perempuan harus bisa

memasukan jarinya kedalam vagina (Handayani, 2010).

e) Metode kontrasepsi mantap

(1) Metode operatif wanita (MOW)

(a) Pengertian

Tindakan pada kedua sel telur yang

mengakibatkan orang atau pasangan tersebut tidak

mendapatkan keturunan lagi.Kontrasepsi ini untuk


140

jangka panjang dan sering disebut tubektomi atau

sterilisasi.

(b) Efek samping

Terjadi perubahan-perubahan hormonal, pola haid

(abnormal setelah menggunakan kontrasepsi mantap

merupakan tanda dari “post tubal ligation

syndrome”).

(2) Metode operatif pria

(a) Pengertian

Kontrasepsi mantap pada pria/vasektomi adalah

suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria

yang sangat aman sederhana dan efektif memakan

waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan

anastesi umum.

(b) Keuntungan:

Efektif, kemungkinan gagal tidak adakarena dapat

di check kepastian dilaboraturium, aman morbiditas

rendah dan tidak ada mortalitas, cepat hanya

memerlukan waktu 5-10 menit dan pasien tidak perlu

dirawat di rumah sakit, menyenangkan bagi akseptor

karena memerlukan anastesi lokal saja, ;tidak


141

mengganggu hubungan seksual selanjutnya, biaya

rendah,

(c) Kerugian:

Harus dengan tindakan operatif, kemungkinan

adanya komplikasi seperti perdarahan dan infeksi,

tidak dapat dilakukan pada orang masih ingin

mempunyai anak lagi, pada orang yang mempunyai

masalah psikologis yang mempengaruhi seks dapat

menjadikan keadaan semakin parah.

b. Indikasi dan Kontra Indikasi

1) Kondom

a) Indikasi

(1) Paska persalinan sebelum mulai kontrasepsi lain

(2) Keadaan dimana cara-cara lain tidak dapat diterima

(3) Bila diperlukan kontrasepsi tambahan, misalnya: selama

pemberian antibiotik pada akseptor pil

(4) Bila pasangan akseptor suami istri menghendaki pria lebih

bertanggung jawab untuk kontrasepsi

(5) Pria dengan penyakit genitalia

(6) Pria yang mempunyai sensifitas terhadap sekret wanita

(7) Pria yang mengalami ejakulasi prematur

b) Kontra indikasi
142

(1) Bila secara psikologik tidak dapatditerima

(2) Setiap kelainan anatomis dari penis,sehingga kondom tidak

dapat dipasang

(3) Alergi terhadap karet

(4) Sukar mempertahankan ereksi

2) Pil KB

a) Indikasi penggunaan kontrasepsi pil adalah usia reproduksi,

telah memiliki anak, gemuk/kurus,setelah melahirkan dan tidak

menyusui, pasca keguguran, anemia karena had berlebihan,

riwayat kehamilan ektopik, siklus haid tidak teratur, kelainan

payudara jinak, kencing manis tanpa komplikasi pada ginjal,

pembulu darah mata dan syaraf.

b) Kontra indikasi (yang tidak boleh menggunakan KB)

(1) Absolut : trobophlebitis,serebro vaskuler, jantung iskemik

(arteri coroner), karsinoma payudara, kehamilan, Tumor

hepar, icterus/hepatitis, perdarahan abnormaldari genitalia

tanpa sebab, neoplasma, hyperlipidemia.

(2) Relatif kuat :Sakit kepala hebat, hipertensi, diabetes

melitus, penyakit kantung empedu yang aktif, mioma uteri,

epilepsy.

3) Kontrasepsi Suntik

a) Indikasi kontrasepsi suntik adalah usia reproduksi, telah

mempunyai anak, ibu yang menyusui, ibu post partum, perokok,


143

nyeri haid yang hebat dan ibu yang sering lupa menggunakan

kontrasepsi pil.

b) Kontra indikasi kontrasepsi adalah ibu yang dicuriagai hamil,

perdarahan yang belum jelas penyebabnya, menderita kanker

payudara dan ibu yang menderita diabetes militus disertai

komplikasi.

4) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/Intra Uterine Divice (IUD)

a) Indikasi

Usia reproduksi, keadaan nuliipara menginginkan

menggunakan kontarsepsi jangka panjang, perempuan menyusui

yang ingin menggunakan kontrasepsi, setelah melahirkan dan

tidak menyusui bayinya, tidak memghendaki metode non

hormonal

b) Kontra indikasi

Sedang hamil (diketahui hamil atau sedang hamil), perdarahan

vagina yang tidak diketahui, sedng menderita infeksi alat genitalia

( vaginitis, servikitis), penyakit troboplas yang ganas, diketahiu

menderita TB pelvic, kanker alat genitalia, ukuran rongga Rahim

kurang dari 5 cm.

5) Susuk (Implant) atau Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK)

a) Indikasi kontrasepsi implant yaitu wanita-wanita yang ingin

menggunakan alat kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama


144

tetapi tidak tersedia menjalani kontap (menggunakan AKDR),

wanita yang tidak boleh menggunakan pil kb, yang mengandung

esterogen.

b) Kontra indikasi kontrasepsi implant yaitu

(1) Kehamilan atau disangka hamil

(2) Penderita penyakit hati akut

(3) Kanker payudara

(4) Kelainan jiwa

(5) Penyakit janung, hipertensi diabetes mellitus

(6) Penyakit trombo emboli

(7) Riwayat kehamilan ektopik

6) Metode kontrasepsi mantap operatif pada pria (MOP)

a) Indikasi :

(1) Pasangan yang tidak ingin lagi menambah jumlah anak

(2) Pasangan yang istrinya sudah sering melahirkan

(3) Memiliki penyakit yang membahayakan kesehatan

(4) Pasangan yang telah gagal dengan kontrasepsi lain

b) Kontra indikasi :

(1) Infeksi kulit local

(2) Infeksi traktus genitalia

(3) Kelainan skrotum dan sekitarnya

(4) Penyakit sistemik ( penyakit-penyakit perdarahan, diabetes

mellitus, penyakit jantung coroner yang baru


145

(5) Riwayat perkawinan psikologi atau seksual yang stabil

7) Metode kontrasepsi mantap pada wanita (MOW)

a) Indikasi

Wanita pada usia>26 tahum, wanita dengan paritas >2, wanita

yang kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang

serius, wanita pasca persalinan, wanita pasca keguguran, wanita

yang paham dan secara sukarel setuju dengan prosedur ini.

b) Kontra indikasi

Wanita hamil (sudah terdeteksi atau dicurugai), wanita dengan

perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya, wanita

dengan infeksi sistemik atau pelvik yang akut, wanita tidak boleh

malaksanakan proses pembedahan , wanita yang belum

memberikan persetujuan tertulis (Handayani,2010).

c. Efek samping keluarga berencana

1) Efek samping dari Kondom

a) Iritasi vagina atau iritasi penis dan ketidaknyamanan

b) Perasaan panas di dalam vagina

2) Efek samping dari kontrasepsi Pil oral kombinasi

a) Amenorrhoe

b) Mual, pusing dan muntah

c) Perdarahan pervaginam

3) Efek samping dari kontrasepsi Suntikan


146

a) Amenorrhoe

b) Mual, pusing dan muntah

c) Spotting

4) Efek samping dan penanganan kontrasepsi Implan

a) Amenorrhoe

b) Perdarahan bercak (spotting) ringan

c) Pertambahan atau kehilangan berat badan (perubahan nafsu

makan)

d) Ekspulsi

e) Infeksi pada daerah insersi

5) Efek samping dari kontrasepsi AKDR

a) Perubahan siklus haid (umumnya pada 8 bulan pertama dan

akan berkurang selama 3 bulan)

b) Haid lebih lama dan banyak.

c) Perdarahan (spotting) antar menstruasi.

d) Saat haid lebih sakit.

e) Tidak mencegah IMS termasuk HIV /AIDS.

f) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau

perempuan yang sering berganti pasangan

g) Penyakit radang.panggul terjadi. Seorang perempuan dengan

IMS memakai AKDR.


147

h) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam

pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama

pemasangan

i) Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah

pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.

j) Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas

kesehatan terlatih yang harus melakukannya.

k) MungkinAKDR keluar lagi dari uterus tanpa diketahui (sering

terjadi apabila AKDR di pasang sesudah melahirkan).

l) Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi

AKDR untuk mencegah kehamilan normal.

m) Perempuan harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu,

untuk melakukan ini perempuan harus bisa memasukkan jarinya

ke dalam vagina.

B. Tinjauan Teori Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Varney 2007 dan SOAP

1. Manajemen Askeb Pada Kehamilan

a. Pengertian

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang

digunakan sebagai metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan

berdasarkan teori yang ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan

dalam rangkaian tahapan untuk mengambil keputusan yang berfokus

pada klien (Varney, 1997).


148

Kehamilan merupakan saat yang menyenangkan dan dinantikan

oleh ibu dan keluarganya. Semua ibu menginginkan kehamilan maupun

persalinannya berjalan aman, lancer dan normal. Tetapi kehamilan

dapat juga menjadi saat kegelisahan dan keprihatinan. Hubungan yang

serasi dan saling percaya harus dimiliki baik penolong maupun pasien.

b. Tujuan

1) Memantau kemajuan kehamilan sampai memantau kesehatan ibu

dan tumbuh kembang janin.

2) Mempertahankan kesehatan fisik, mental dan social

3) Deteksi dini adanya ketidaknormalan

4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan dan selamat baik ibu

maupun bayinya.

5) Agar masa nifas normal dan ASI eksklusif.

6) Mempersiapkan ibu dan keluarga setelah bayi lahir,

c. Langkah-Langkah Manajemen Asuhan Kebidanan pada kehamilan

menurut Varney 2007 dan SOAP

Manajemen Asuhan Antenatal terdiri dari 7 langkah yang berurutan,

dimulai dengan pengumpulan data dasar hingga evaluasi. Langkah

tersebut sebagai berikut :

a. Pengumpulan Data

Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk nilai

keadaan pasien secara keseluruhan (Tahap pengumpulan data).


149

a) Anamnesa

(1) Biodata, data demografi

(2) Riwayat kesehatan termasuk factor heriditer :

kecelakaan

(3) Riwayat menstruasi

(4) Riwayat obstetric dan ginekologi, nifas dan laktasi

(5) Biopsikospiritual

(6) Pengetahuan pasien

b) Pemeriksaan fisik (sesuai kebutuhan) dan tanda tanda

vital

c) Pemeriksaan khusus :

(1) Inspeksi

(2) Palpasi

(3) Auskultasi

(4) Perkusi

d) Pemeriksaan penunjang :

(1) Laboratorium

(2) Diagnostic lain : USG dsb

(3) Catatan terbaru atau sebelumnya

b. Indentifikasi data dasar


150

Indentifikasi data dasar merupakan identifikasi masalah

diagnose data atau berdasarkan interpretasi yang benar dari data-

data yang terkumpul. Diagnose kebidanan yaitu diagnosa yang

di tegakkan oleh profesi (Bidan) dalam lingkup praktek

kebidanan dan memenuhi Standar Nomen Klatur (tata nama)

diagnose kebidanan. Standar Nomen Klatur Diagnosa

Kebidanan:

a) Di akui dan telahdi syahkan oleh profesi

b) Berhubungan langsung dengan praktis kebidanan

c) Memiliki cirri khas kebidanan

d) Di dukung oleh Clinica Judgenment dalam praktek

kebidanan

e) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen

kebidanan

f) Mengidentifikasi Diagnose Atau Masalah Potensial Dan

Mengantisipasi Penanganannya.

c. Diagnosa Potensial

Langkah ini bidan mengidentifikasikan masalah. Diagnosa

potensial berdasarkan diagnosa masalah yang sudah

teridentifikasi. Langkah ini penting dalam melakukan asuhan

yang aman.

ii. Tindakan Segera


151

Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera atau

masalah potensial itu untuk melakukan konsultasi, kolaborasi

dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi pasien.

Langkah ini sebagai cerminan keseimbangan dari proses

manajemen kebidanan.

iii. Menyusun Rencana Asuhan Yang Menyeluruh

Langkah ini di tentukan oleh hasil kajian pada langkah

sebelumnya. Pada langkah ini jika ada informasi/data yang

lengkap bisa di lengkapi. Juga bisa mencerminkan rasional yang

benar/valid.

Pengetahuan teori yang salah atau tidak memadai atau suatu

data dasar yang tidak lengkap bisa dianggap valid dan akan

menghasilkan asuhan pasien yang tidak cukup atau berbahaya.

iv. Melaksanakan Perencanaan

Adalah lengkap pelaksanaan rencana asuhan menyeuruh

seperti pada langkah ke 5. Langkah ini bisa di lakukan seluruh

bidan atau sebagian wanita tersebut. Jika belum di tugaskan oleh

orang lain tetapi bidan memikul tanggung jawab tentang arah

pelaksanaan.

v. Evaluasi

Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan

tersebut efektif jika memang benar efektif dalam

pelaksanaannya.
152

Di dalam pendokumentasian/catatan asuhan dapat di

terapkan daam bentuk SOAP.

S : Data Subjektif

Data dari pasien di dapat dari anamnesa

O : Objektif

Hasil pemeriksaan fisik beserta pemeriksaan diagnostik dan

pendukung lain, juga catatan medik lain

A : Analisis dan interpretasi berdasarkan data yang terkumpul di

buat kesimpulan

1. Diagnosa

2. Antisipsi diagnose /masalah potensial

3. Perlunya tindakan segera

P : Planning/Perencanaan

Merupakan gambaran pendokumentasian dari tindakan

(implementasi). Evaluasi rencana didalamnya termasuk :

1. Asuhan mandiri

2. Kolaborasis

3. Tes diagnostic/lab

4. Konseling

5. Follow up

2. Manajemen Askeb Pada Persalinan

a. Pengertian
153

Manajemen kebidanan pada intranatal adalah proses pemecahan

masalah pada masa intranatal yang di gunakan sebagai metode untuk

mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah,

keterampilan yang berfokus pada klien (Varney,1997).

b. Tujuan

Memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan

terstandar pada intranatal dengan memperhatikan riwayat ibu selama

kehamilan, kebutuhan dan respon ibu serta mengantisipasi resiko yang

terjadi selama proses persalinan.

c. Langkah-Langkah (7 Langkah Varney dan SOAP)

1) Langkah I : Tahap Pengumpulan Data

Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan

mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi

keadaan klien secara lengkap. Data diperoleh melalui :

a) Anamnese : Biodata, data demografi, riwayat kesehatan

termasuk faktor herediter dan kecelakaan, riwayat

menstruasi, riwayat obstetric dan ginekologi termasuk

nifas dan laktasi,, bio-psiko-spritual, pengetahuan klien.

b) Pemeriksaan fisik, sesuai kebutuhan dan Tanda-Tanda

Vital

c) Pemeriksaan khusus

(1) Inspeksi

(2) Palpasi
154

(3) Auskultasi

(4) Perkusi

d) Pemeriksaan penunjang

(1) Laboratorium

(2) Diagnose lain USG, radiologi

e) Catatan terbaru dan sebelumnya

Data yang terkumpul ini sebagai data dasar untuk

intepretasi kondisi klien untuk menentukan langkah

berikutnya.

2) Langkah II : Intepretasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap masalah

atau diagnose berdasarkan intepretasi yang benar atas data

dasar yang telah dikumpulkan.Dirumuskan diagnose yang

spesifik, masalah psikososial berkaitan dengan hal-hal yang

sedang dialami oleh wanita tersebut.

Diagnosa : G2P1A0,hamil 39 minggu,In

partu Kala I,Fase aktif

Masalah : Wanita tersebut tidak

mengingikan kehamilan ini

Kebutuhan : Konseling, atau rujukan

konseling.

3) Langkah III : Mengidentifikasi Diagnose atau Masalah

Potensial
155

Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau

diagnose potensial berdasarkan diagnose masalah yang sudah

teridentifikasi. Contoh : Seorang wanita masuk kamar bersalin

dengan pemuaian uterus yang berlebihan. Bidan harus

mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus

yang berlebihan ini, misalnya hidramnion, makrosomi,

kehamilan ganda, ibu diabetes dan lain-lain.

4) Langkah IV : Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera

Baik Oleh Bidan Maupun Dokter, Dan Atau Untuk Melakukan

Konsultasi, Kaloborasi, Dengan Tenaga Kesehatan Lain

Berdasarkan Kondisi Klien.

Langkah ini mencerminkan kesinambunggan dari proses

manajemen kebidanan. Manajemen ini berlaku baik asuhan

primer periodic dan pada antenatal, juga selama wanita tersebut

bersama bidan, misalnya pada masa intranatal. Data baru harus

terus menerus dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data

mengindikasikan bidan harus segera bertindak untuk keselamatan

ibu dan bayi (misalnya perdarahan ante partum, perdarahan post

partum, distosia bahu, atau pada bayi yang lahir dengan nilai

APGAR yang rendah). Beberapa kasus mengidentifikasikan

situasi yang membutukan segera sambil menunggu tindakan

dokter.
156

5) Langkah V : Menyusun Rencana Asuhan Yang Komprehensif

Pada langkah ini direncanakan asuhan meyeluruh yang

ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya. Rencana

asuhan menyeluruh tidak hanya meliputi yang sudah

teridentifikasi atau setiap masalah tetapi juga dari kerangka

pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut apa yang terjadi

berikutnya, apakah dia membutuhkan penyuluhan, konseling atau

rujukan bila ada masalah yang berkaitan dengan aspek social-

kultural, ekonomi atau psikologi. Setiap rencana asuhan harus

disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan

dapat efektif.

a) Rencana Asuhan Pada Kala I

(1) Bantulah ibu dalam masa persalinan jika ia tampak

gelisah, ketakutan dan kesakitan.

(a) Berilah dukungan dan yakinkan dirinya

(b) Berikaninformasi mengenai proses dari kemajuan

persalinannya

(c) Dengarkan keluhan dan cobalah lebih sensitive.

(2) Jika ibu tersebut tampak kesakitan dukungan/ asuhan

yang dapat diberikan

(a) Lakukan perubahan posisi


157

(b) Posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika ibu

ingin ditempat tidur sebaiknya dianjurkan tidur

miring

(c) Sarankan ibu untuk berjalan

(d) Ajaklah orang yang menemaninya (suami atau

ibunya) untuk memijat atau menggosok

punggungnya

(e) Ibu diperbolehkan untuk melakukan aktivitas

sesuai kesanggupannya

(f) Ajarkan kepadanya teknik bernafas : ibu diminta

untuk menarik nafas panjang, menahan nafas

sebentar kemudian dilepaskan dengan cara

meniup udara keluar sewaktu terasa kontraksi

(3) Penolong menjaga hak privasi ibu dalam persalinan

antara lain menggunakan penutup atau tirai, tidak

menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan dan

seijin ibu.

(4) Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang

terjadi serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil

pemeriksaan

(5) Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar

kemaluannya setelah buang air kecil/ besar.


158

(6) Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak

keringat, atasi dengan cara:

(a) Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar

(b) Menggunakan kipas biasa

(c) Menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya

(7) Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah

dehidrasi berikan cukup minum

(8) Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin

(9) Lakukan pemantauan: Tekanan Darah, Suhu Badan,

Nadi, Denyut Jantung Janin, Kontraksi, Pembukaan

Serviks, Penurunan sesuai dengan frekuensi yang telah

ditetapkan (fase aktif/ laten).

(a) Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4

jam selama kala I pada persalinan, dan setelah

selaput ketuban pecah, dan dokumentasikan hasil

temuan yang ada pada partograf.

b) Rencana asuhan pada kala II:

(1) Memberikan dukungan terus-menerus pada ibu

(a) Mendampingi ibu agar merasa nyaman

(b) Menawarkan minum, mengipasi dan

memijat ibu.

(2) Menjaga kebersihan diri


159

(a) Ibu tetap dijaga kebersihannya agar

terhindar dari infeksi

(b) Jika ada darah lendir atau cairan ketuban

segera dibersihkan.

(3) Memberikan dukungan mental untuk

mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu

dengan cara :

(a) Menjaga privasi ibu

(b) Penjelasan tentang proses dan kemajuan

persalinan

(c) Penjelasan tentang prosedur yang akan

dilakukan dan keterlibatan ibu.

(4) Mengatur posisi ibu dalam membimbing

mengedan dapat dipilih posisi sebagai berikut :

(a) Jongkok

(b) Menungging

(c) Tidur miring

(d) Setengah duduk

(5) Menjaga kandung kemih agar tetap kosong,

dianjurkan berkemih sesering mungkin.

(6) Memberikan cukup minum untuk memberi

tenaga dan mencegah dehidrasi.

c) Rencana asuhan pada kala III :


160

(1) Melakukan manajemen aktif kala III, meliputi:

(a) Pemberian oksitosin dengan segera

(b) Pengendalian tarikan pada tali pusat

(c) Pemijatan uterus segera setelah plasenta

lahir

(2) Jika menggunakan manajemen aktif dan

plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit

berikan oksitosin 10 unit (IM).

(3) Jika menggunakan manajemen aktif dan

plasenta belum lahir dalam waktu 30 menit

(a) Periksa kandung kemih dan lakukan

kateterisasi pada kandung kemih

(b) Periksa adanya tanda pelepasan plasenta

(c) Berikan oksitosin 10 unit (IM) dosis

ketiga

(4) Periksa wanita tersebut secara seksama dan

jahit semua robekan pada serviks atau vagina

atau perbaiki episiotomi.

d) Rencana asuhan pada kala IV :

(1) Periksa fundus setiap 15 menit pada jam

pertama dan 20-30 menit selama jam kedua jika

kontraksi lemah, masase uterus


161

(2) Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih dan

perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama

dan setiap 30 menit setelah jam kedua

(3) Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah

dehidrasi, tawarkan ibu untuk makan dan

minum yang disukai

(4) Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian

ibu yang bersih dan kering

(5) Biarkan ibu beristirahat, bantu ibu memilih

posisi yang nyaman

(6) Biarkan bayi berada pada ibu untuk

meningkatkan hubungan ibu dan bayinya,

sebagai permulaan dengan menyusui bayinya,

menyusui juga membantu uterus berkontraksi.

6) Langkah VI : Pelaksanaan Langsung Asuhan Yang Efisien dan

Aman

Melaksanakan asuhan yang menyeluruh yang telah

direncanakan.Pelaksanaan asuhan ini sebagian dilakukan oleh

bidan, sebagian oleh klien sendiri atau oleh petugas kesehatan

lainnya.Manajemen perlu berkaloborasi dengan dokter misalnya

karena adanya komplikasi.Manjemen yang efisien berhubungan


162

dengan waktu biaya serta peningkatan mutu asuhan.Kaji ulang

apakah semua rencana telah dilaksanakan.

7) Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah ini dievaluasi keefektifan asuhan yang

diberikan, apakah telah memenuhi kebutuhan asuhan yang telah

teridentifikasi dalam diagnose maupun masalah, pelaksanaan

rencana asuhan tersebut dapat dianggap efektif bila mana benar-

benar efektif.

Pendokumentasian SOAP:

S : Subjektif data, menurut perspektif klien. Data ini

diperoleh melalui anamnesa.

O : Objektif data yaitu hasil pemeriksaan fisik klien serta

pemeriksaan diagnostik dan pendukung lain. Data ini

termasuk catatan medic pasien yang lalu.

A : Analisis / intepetasi berdasarkan data yang

terkumpul, dibuatkesimpulan berdasarkan segala

sesuatu yang dapat diidentifikasi :

1) Diagnose masalah

2) Antisipasi Diagnosa / Masalah potensial

3) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter,

konsultasi/ kolaborasi dan rujukan


163

P : Merupakan gambaran pendokumentasiaan dan tindakan

(implementasi) dan evaluasi rencana.

Misalnya :Rencana asuhan pada kala I, II, dan III

serta tindakan dan evaluasi.

3. Manajemen Askeb Pada Bayi Baru Lahir

a. Pengertian

Manajemen asuhan kebidanan pada bayi baru lahir adalah asuhan

yang diberikan pada bayi pada jam pertama setelah kelahiran

dilanjutkan sampai 24 jam setelah kelahiran.

b. Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru

lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan dalam

persalinan dan keadaan bayi segera setelah dilahirkan.

c. Langkah-Langkah (7 Langkah Varney dan SOAP)

1) Langkah I : Pengkajian

Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan seluruh data yang

diperlukan untuk mengevaluasi keadaan bayi baru lahir. Pengkajian

pada bayi baru lahir dibagi dalam 2 bagian:

a) Pengkajian setelah bayi lahir

Pengkajian ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi bayi baru

lahir dan kehidupan dalam uterus ke kehidupan luar uterus


164

yaitu dengan penilaian apgar.Pengkajian sudah dimulai sejak

kepala tampak besar di vulva.

b) Pengkajian keadaan fisik

Setelah pengkajian segera setelah bayi lahir untuk memastikan

bayi dalam keadaan normal atau mengalami penyimpangan.

2) Langkah II : Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan Bayi Baru Lahir

Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah diagnosa

berdasarkan intepretasi yang benar atas data yang telah di

kumpulkan.

Contoh Diagnosa :

a) Bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan dengan asfiksia

b) Bayi kurang bulan, kecil masa kehamilan dengan hipotermi

dan gangguan pernapasan.

Masalah :

a) Ibu kurang informasi

b) Ibu tidak periksa ANC

c) Ibu post Sectio Caesaria

d) Gangguan maternal yang lain

Kebutuhan :

a) Jaga agar bayi tetap kering dan hangat


165

b) Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit

ibunya sesegera mungkin.

3) Langkah III : Identifikasi Diagnose Dan Masalah Potensial

Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang

mungkin akan terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang

sudah di identifikasi.

Contoh Diagnosa Potensial :

a) Hipotermi potensial menyebabkan gangguan pernapasan.

b) Hipoksiapotensial asidosis

c) Hypoglycaemi potensial hipotermi

Masalah potensial :

Potensial timbul masalah ekonomi bagi orang tua yang tidak

mampu karena bayi premature atau asfiksia berat yang

memerlukan perawatan yang lama dan intensif.

4) Langkah IV : Identifikasi tindakan segera

Mengidentifikasi tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk

dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim

kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi bayi.

Contoh :

Bila bayi baru lahir tidak bernapas dalam waktu 30 detik, segeralah

cari bantuan, dan mulailah langkah-lamgkah resusitasi pada bayi

tersebut.

5) Langkah V : Rencana Asuhan Bayi Baru Lahir


166

Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan

temuan dan langkah sebelumnya.

6) Langkah VI : Implimentasi Asuhan BBL

a) Mempertahankan suhu tubuh bayi tetap hangat

b) Perawatan mata

c) Memberikan identitas pada bayi

d) Tunjukan bayi pada orang tua dan keluarga yang lain

e) Kontak dini dengan ibu

f) Berikan Vitamin K1

7) Langkah VII : Evaluasi

Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan,

ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap

aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif.

Pendokumentasian SOAP(Rismalinda, 2014).

S : Data Subjektif (data dari pasien didapat dari anamnesa).

O : Objektif (hasil pemeriksaan

fisik serta pemeriksaan diagnostik).

Pemeriksaan fisik meliputi : KU, TTV, dan Head To Toe.

A : Analisis dan intepretasi

berdasarkan data yang terkumpul dibuat kesimpulan (diagnosa,

antisipasi diagnosa/masalah potensial dan perlunya tindakan

segera.
167

P : Planning/perencanaan

merupakan gambaran pendokumentasian dari tindakan evaluasi.

4. Manajemen Askeb Pada Nifas

a. Pengertian

Asuhan ibu postpartum adalah asuhan yang di berikan pada ibu

segera setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.

b. Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada ibu segera

setelah melahirkan dengan memperhatikan riwayat selama kehamilan,

dalam persalinan dalam keadaan segera setelah melahirkan.

c. 7 Langkah Manajemen Menurut Helen Varney:

1) Pengkajian (Pengumpulan Data Dasar) :

Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang

dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan ibu. Melakukan

pemeriksaan awal postpartum dan meninjau catatan/record pasien

a) Catatan perkembangan antepartum dan intrapartum

b) Berapa lama (jam/hari) pasien postpartum

c) Pesanan sebelumnya dan catatan perkembangan

d) Suhu, denyut nadi, pernafasan, dan tekanan darah

postpartum

e) Pemeriksaan laboratorium dan laporan pemeriksaan

tambahan
168

f) Catatan obat-obatan

g) Catatan bidan/perawat

Menanyakan riwayat kesehatan dan keluhan ibu

a) Mobilisasi

b) BAK

c) BAB

d) Nafsu makan

e) Ketidaknyamanan/rasa sakit

f) Kekhawatiran

g) Hal yang tidak jelas

h) Makanan bayi

i) Reaksi pada bayi

j) Reaksi terhadap proses melahirkan dan kelahiran

Pemeriksaan fisik

a) Tekanan darah, suhu badan, denyut nadi

b) Tenggorokan, jika di perlukan

c) Buah dada dan puting susu

d) Auskultasi paru-paru, jika di perlukan

e) Abdomen: kandung kencing, uterus, diastasis

f) CVA

g) Lochea: warna, jumlah, bau

h) Perinium: edema, inflamasi, hematoma, PUS,bekas luka

episiotomy/robek, jahitan.
169

Ekstermitas : varises, betis apakah lemah dan panas, edema, tand-

tanda homan, refleks

2) Diagnosa Masalah dan Kebutuhan Ibu Postpartum

Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau

diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang

telah dikumpulkan.

Diagnosa masalah dan kebutuhan ibu postpartum dan nifas

tergantung dari hasil pengkajian terhadap ibu.

3) Identifikasi Diagnosa Dan Masalah Potensial

Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial yang

mungkin akan terjadi berdasarkan masalah atau diagnose yang

sudah diidentifikasi dan merencanakan antisipasi tindakan.

4) Identifikasi Dan Menetapkan Tindakan Segera

Mengidentifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera

oleh bidan atau dokter dan/ atau untuk dikonsultasikan atau

ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai

dengan kondisi pasien.

5) Membuat Rencana Asuhan

Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan

temuan dari langkah sebelumnya.

Manajemen Asuhan Awal Puerperium

a) Kontak dini dan sesering mungkin dengan bayi

b) Mobilisasi/ istirahat baring di tempat tidur


170

c) Gizi (Diet)

d) Perawatan Perineums

e) Buang air kecil spontan / kateter

f) Obat penghilang rasa sakit, bila diperlukan

g) Obat tidur, bila diperlukan

h) Obat pencahar, bila diperlukan

i) Pemberian Methergine, jika diperlukan

j) Tidak dilanjutkan IV, jika diberikan

Asuhan Lanjutan :

a) Tambahan vitamin atau zat besi, atau keduanya, jika

diperlukan

b) Bebas dan ketidaknyamanan postpartum

c) Perawatan buah dada

d) Pemeriksaan laboratorium terhadap komplikasi, jika

diperlukan

e) Rencana KB

f) Rh Immune globulin, jika diperlukan

g) Rubella vaccine 0,5 cc, s.c, jika diperlukan

h) Tanda – tanda bahaya

i) Kebiasaan rutin yang tidak bermanfaat bahkan

membahayakan

6) Implementasi Asuhan
171

Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan sevara efisien

dan aman terhadap

a) Kontak dini sesering mungkin dengan bayi

b) Mobilisasi/ istirahat baring di tempat tidur

c) Gizi (Diet)

d) Perawatan Perineum

e) Buang air kecil spontan / kateter

f) Pemberian obat penghilang rasa sakit, bila diperlukan

g) Pemberian obat tidur, bila diperlukan

h) Pemberian obat pencahar, bila diperlukan

i) Pemberian Methergine, jika diperlukan

j) Tidak dilanjutkan IV, jika diberikan

k) Pemberian tambahan vitamin atau zat besi, atau keduanya,

jika diperlukan

l) Bebas dan ketidaknyamanan postpartum

m) Perawatan buah dada

n) Pemeriksaan Laboratorium terhadapkomplikasi, jika

diperlukan

o) Rencana KB

p) Rh immune globulin, jika diperlukan

q) Rubella vaccine 0,5 cc , s.c, jika diperlukan

r) Tanda – tanda bahaya


172

s) Penjelasan tentang kebiasaan rutin yang tidak bermanfaat

bahkan membahayakan

7) Evaluasi

Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan

ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap

aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau

merencanakan kembali yang belum terlaksana.

5. Manajemen Asuhan Akseptor Keluarga Berencana

a. Pengertian

Program Keluarga Berencana adalah bagian yang terpadu (integral)

dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk

menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan social budaya

penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan

kemampuan produksi nasional (Handayani,2010).

b. Tujuan

Agar bidan mampu memberikan asuhan kebidanan yang adekuat,

komprehensif dan berstandar pada ibu untuk menjarangkan kehamilan.

c. Langkah-Langkah (7 Langkah Varney dan SOAP)

Teknik penulisan dalam dekomentasi asuhan kebidanan pada ibu

yang menggunakan alat kontrasepsi sebagai berikut:

1) Langkah I : Pengumpulan Data

a) Ananmnesis

(1) Keluhan
173

(2) Riwayat menstruasi

(3) Riwayat penyakit

(4) Riwayat sosial budaya

(5) Riwayat psikologi

(6) Riwayat pemakaian alat dan obat kontrasepsi

b) Pemeriksaan Fisik

(1) Keadaan umum

(2) Tanda-tanda vital

(3) Pemeriksaan head to toe dengan inspeksi, perkusi,

palpasi dan auskiltasi

(4) Pemeriksaan penunjang

2) Langkah II : Interpretasi Data

Melakukan interpretasi data dasar (menentukan diagnosis,

masalah, dan kebutuhan).

Contoh :

Diagnosa : Ny Para, Abortus, umur, dengan Akseptor KB

suntik Depoprovera

Masalah : Mengalami kenaikan berat badan

Kebutuhan : KIE tentang Keluarga Berancana

3) Langkah III : Melakukan identifikasi diagnosis atau masalah

potensial

4) Langkah IV : Menetapkan tindakan segera


174

5) Langkah V : Melakukan perencanaan

Berikan suntikan Depoprovera

KIE tentang Keluarga Berencana

6) Langkah VI : Melakukan pelaksanaan terhadap perencanaan.

Menyuntikan Depoprovera di 1/3 paha lateral

Memberikan penyuluhan tentang KB

7) Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan

asuhan yang sudah diberikan, meliputi apakah pemenuhan

kebutuhan telah terpenuhi sesuai diagnosis dan

masalah.Rencana dianggap efektif jika memang benar efektif

pelaksanaannya serta mengatasi diagnosis dan masalah yang

telah diidentifikasi.

Evaluasi menggunakan bentuk SOAP (Rismalinda,2014).

S : Subjektif

Untuk mendapatkan suntikan KB

O : Objektif

Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, kesadaran,

TTV dan Head to toe

A : Assessment

Diagnosa misalnya P1A0 akseptor Kb progestin

P : Planning
175

Menjelaskan kondisi ibu sehat, sehingga suntik ulang

KB untuk jadwal hari ini bisa diberikan.

Memberikan suntikan KB progestin 3 ml melalui injeksi

intramuskuler.