Anda di halaman 1dari 8

Apa itu Bilyet Giro (BG)?

Bilyet Giro atau yang lebih dikenal dengan BG (saja) adalah mekanisme pembayaran atau

pencairan uang yang berlaku pada rekening giro. BG secara prinsipil adalah surat perintah

kepada bank penyimpan dana guna memindahkan dana dalam jumlah tertentu ke rekening lain

tang tertulis dalam dokumen BG.

Latar Belakang Penerbitan Bilyet Giro


Dalam lalu lintas perdagangan, pihak-pihak dapat melakukan bermacam-macam
transaksi, lalu timbulah hak dan kewajiban para pihak itu antara satu dengan yang lain. Transaksi
juga bisa terjadi antara kedua belah pihak, dimana pihak yang satu akan menyerahkan sejumlah
uang dan pihak yang lainnya mendapatkan perintah untuk menyimpan sejumlah uang tersebut.
Mungkin juga dapat terjadi transaksi antara pihak yang satu dengan yang lain, agar pihak lain itu
menyerahkan sejumlah uang kepada pihak yang ditunjuk dan sebagai imbalannya pihak pemberi
amanat menyerahkan sejumlah uang kepada penerima amanat.

Perjanjian ini bermacam-macam wujudnya, misalnya perjanjian jual beli, pinjam


meminjam uang, penyimpanan uang di bank, dan lain sebgainya. Dalam hal perjanjian,
disepakati pula bagi orang yang berkepentingan melaksanakan pembayaran, dapat membayar
dengan cara lain yang tidak sama seperti dengan cara pembayaran biasa, yaitu dengan
pembayaran sejumlah uang kontan.

Bilyet giro ini kemudian dibawa oleh pemegangnya dan dijatuhkan kepada pihak ketiga
yang namanya tersebut dalam bilyet giro itu, guna memperoleh pembayaran, yakni dalam bentuk
booking transfer yang sesuai dengan isi perjanjian tersebut.

Pengertian Bilyet Giro


Bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank epnyimpan dana untuk
memindahkan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang
disebutkan namanya. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa bilyet giro
merupakan surat yang berharga dapat dialihkan/ diperdagangkan serta ditukarkan dengan uamg
seperti halnya cek. Jika bilyet giro tersebut tidak disebutkan tidak diisikan nama si penerima
dana oleh penariknya, sehingga mudah untuk dialihkan dari tangan yang satu ke tangan yang
lain.

Dengan demikian, pembayaran bilyet giro tidak dapat dilakukan dengan uang tunai dan
tidak dapat dipindahtangankan melalui endosemen. Endosemen adalah penyerahan suatu surat
atas tertunjuk oleh seseorang yang berhak/pemegang kepada orang lain dengan disertai
pernyataan mengalihkan haknya atas surat yang ditulis pada surat tersebut. Istilah bilyet giro
berasal dari kata bilyet dalam bahasa Belanda, artinya surat dan giro berasal dari bahasa Italia
yang berarti simpanan nasabah pada bank yang pengambilannya dapat dilakukan setiap saat
dengan menggunakan cek atau dengan pemindahbukuan. Jadi, bilyet giro adalah surat perintah
pemindahbukuan yang berfungsi sebagai pembayaran karena itu bilyet giro disebut alat
pembayaran.

Sebagai bahan perbandingan terhadap definisi bilyet giro dikemukakan versi-versi


rumusan yang diberikan oleh Soesatio Reksodiprodjo dalam bukunya yang berjudul Pengguna
Ekonomi Bank dan Kredit disebutkan bahwa bilyet adalah giro yang berarti alat untuk melunasi
utang piutang melalui clearing. Adapun menurut Muhammad Amin, S.H. bilyet giro sebagai
surat berharga model baru pada hakikatnya bilyet iro adalah surat perintah tanpa syarat dari
nasabah suatu bank yang memelihara dananya karena tertarik. Perintah dimana bentuk dan isinya
sudah distandardisasi untuk memindahbukukan sejumlah dana penarik kepada pihak penerima
yang namanya telah disebutkan penerima yang memiliki rekening pada bank yang sama.

Atas dasar beberapa perumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa bilyet giro adalah suatu
surat perintah pemindahbukuan tanpa syarat yang dikeluarkan oleh penerbit nasabah yang
mempunyai rekening giro/yang ditujukan kepada tersangkut), dimana penerbit mempunyai
rekening giro dengan permintaan agar sejumlah dana yang disediakan untuk kepentngan
pemegang ata penerima yang tercantum dalam bilyet giro itu.

Dasar Hukum Bilyet Giro


Dasar hukum bagi bilyet giro diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 28/32/UPG,
tanggal 4 Juli 1995 dan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 28/32/Kep/Dir,
tanggal 4 Juli 1995.
Secara fisik berwujud selembar kertas yang menyerupai cek. Walaupun sama-sama berbentuk
lembaran kertas dan digunakan pemilik rekening giro, bukan berarti keduanya punya fungsi yang
sama lho.
Perbedaannya dengan cek yang paling kelihatan dari keduanya adalah giro diharuskan
mencantumkan siapa Penerima beserta rekeningnya. Sementara cek gak selalu mencantumkan si
penerima.
Penggunaannya sendiri telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.18/41/PBI/2016 tentang
hal tersebut. Dalam aturan tersebut disampaikan dengan jelas ketentuan seputar instrumen
pembayaran nontunai ini.
Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan nasabah rekening giro dalam menggunakan
instrumen pembayaran nontunai ini.
 Penggunaannya bertujuan buat pemindahbukuan.
 Instrumen pembayaran ini gak bisa dipindahtangankan.
 Cuma berlaku buat transaksi mata uang rupiah.
 Wajib ditulis dalam bahasa Indonesia.

Apa Syarat Formal BG?

Bank Indonesia (BI) menetapkan syarat dan standar formal penggunaan BG sebagai alat

pembayaran dan transaksi perbankan terkait dengan rekening giro. Standar tersebut berfungsi

untuk melindungi pengguna sekaligus mengindari transaksi yang mernjadi bagian dari pencucian

uang. Berikut ini adalah standar formal pada bilyet giro:

1. Nama “Bilyet Giro” dan nomor unik pada Bilyet Giro yang digunakan;

2. Nama bank atau pihak tertarik;

3. Adanya perintah yang jelas untuk pemindahbukuan dana atau uang dari rekening

penarik;

4. Nama dan rincian nomor rekening pemegang Bilyet Giro


5. Bank Tujuan

6. Nominal atau jumlah dana yang dipindahbukukan

7. Tanggal dan tempat penarikan

8. Stempel dan tandatangan sesuai dengan kesepakatan dan persyaratan pembukaan

rekening

Apa yang perlu diperhatikan dalam Penggunaan BG?

Penggunaan BG tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh BI dan Bank penyedia jasa rekening

Giro. Secara umum, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan BG untuk

keamanan dan pemenuhan standar administrasi [1].

1. Bilyet giro yang diserahkan kepada Bank sebelum tanggal atau waktu pencairan

efektif akan ditolak oleh bank. Bank tidak perlu memeriksa ketersediaan dana jika

dilakukan di luar tanggal efektif.


2. Tanggal efektif adalah waktu mulai berrlakunya pemindahbukuan. Tanggal ini harus

berada pada tenggat waktu penawaran.

3. BG yang ditawarkan kepada bank tertuju sesudah berakhirnya tenggang waktu masih

tetap dicairkan dengan dua catatan, yaitu ketersediaan dana atau tidak dibatalkan oleh

penarik.

Waktu Penawaran Bilyet Giro


Tenggang waktu penawaran bilyet giro perlu ditetapkan, agar amanat atau perintah dalam
bilyet giro yang bersangkutan tidak berlalul terus-menerus sehingga menyulitkan
administrasinya. Adapun penetapan yang dimaksudkan adalah selama 70 hari terhitung sejak
tanggal penarikannya.

Tenggang waktu penawaran ini sama dengan tenggang waktu penawaran pada surat cek,
yaitu 70 hari terhitung sejak tanggal penerbitannya. Jika dibandingkan dengan surat cek, bilyet
giro mempunyai dua macam tanggal penerbitan dan tanggal efektif, yang merupakan tenggang
waktu dimana penerbit diberi kesempatan untuk mengusahakan dana untuk membayar dengan
cara pemindahbukuan.
a. Macam Tenggang Waktu
Tenggang waktu yang dikenal pada bilyet giro ada dua macam :
1) Tenggang waktu dari tanggal penerbitan sampai pada tanggal efektif. Dalam hal ini diberikan
kesempatan kepada penerbit untuk mempersiapkan dana guna membayar bilyet giro dengan
pemindahbukuan.
2) Tenggang waktu mulai tanggal efektif sampai berakhirnya waktu tenggang waktu 70 hari.
Dalam hal ini kesempatan diberikan kepada pemegang untuk menawarkan kepada bank
tesangkut guna pemindahbukuan dana.
b. Bebas Materai
Karena tenggang waktu penawarannya 70 hari, baik surat cek maupun bilyet giro
termasuk surat berharga jangka pendek, artinya surat berharga yang tenggang waktu
peredarannya kurang dari tiga bulan.
Menurut ketentuan pasal 69 ayat (3) aturan Bea Materai 1921, surat berharga jangka
pendek yang dapat dibayar dengan uang tunai dikenakan bea materai. Bilyet giro tidak dapat
dibayar dengan unag tunai, melainkan hanya sebagai alat pemindahbukuan dana dari rekening
giro ke rekening giro. Karena itu bilyet giro dibebaskan dari bea materai.
Keuntungan Penggunaan Bilyet Giro
a. Bilyet Giro dapat post dated
Artinya dapat diberi tanggal lebih terhadap tanggal penarikannya. Pada Bilyet Giro
terdapat tanggal penarikan dan terdapat pula tanggal efektif, yakni tanggal mulai berlakunya
perintah pemindahbukuan yang tercantum dalam Bilyet Giro tersebut.
Selama tanggal efektif belum jatuh tempo, maka pemindahbukuan tidak akan dilakukan,
yang tidak melebihi 3 (tiga) tahun sejak tanggal penerbitan. Tanggal penerbitan adalah tanggal
diterbitkannya surat perintah pemindahbukuan.
b. Bilyet Giro dapat dibatalkan setiap saat selama sebelum jatuh tanggal efektifnya atau belum
dilaksanakan amanatnya oleh tertarik.
c. Karena formulir Bilyet Giro telah distandarisasi bentuknya oleh Bank Indonesia, sehingga bila
dilihat selintas bentuknya sama seperti cek (bahkan ada yang menamakan Bilyet Giro sebagai
giro cek).
d. Walaupun menurut ketentuan Bilyet Giro tidak dapat dipindahtangankan atau dialihkan hak
tagihnya kepada pihak lain, tetapi kenyataannya penarik suatu Bilyet Giro sering tidak
mencantumkan nama penerima dan nama bank dimana penerima dana mempunyai rekening.
Sehingga Bilyet Giro sering dialihkan begitu saja hak tagihnya kepada pihak lain.
e. Bilyet Giro sebagai warkat kliring, yaitu dapat diperhitungkan melalui kliring antar bank,
sehingga mudah bagi pemegangnya untuk mencairkan dana.