Anda di halaman 1dari 12

ANALISA SWOT DAN MATRIKS LAYANAN IDEAL DALAM

RANCANGAN KEBIJAKAN E-GOVERNMENT

Tugas makalah untuk memenuhi Mata Kuliah Manajemen Bisnis ICT

DOSEN : DR. Ir. Iwan Krisnadi,MBA

Disusun Oleh :
Muhtar
55414120026

PROGRAM MAGISTER TEKNIK ELEKTRO

PASCASARJANA UNIVERSITAS MERCU BUANA

2015
Analisa SWOT dan Matriks Layanan Ideal dalam Rancangan
Kebijakan E-Government
Oleh :
Muhtar
Program Studi Magister Teknik Elektro, Mercu Buana

Abstraksi

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat membuat efisiensi, kecepatan


penyampaian informasi, jangkauan global dan transparansi. Oleh karena itu dalam era
otonomi daerah, untuk mewujudkan pemerintahan yang good corporate governance (GCG)
salah satu upayanya adalah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi atau yang
popular disebut dengan E-Government.
Good Corporate governance akan tercipta, apabila terjadi keseimbangan
kepentingan antara semua pihak (stake holders) dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.
Dengan diterbitkannya lnstruksi Presiden Nomor. 3 Tahun 2003 tentang kebijakan dan
strategi pengembangan E-Government, merupakan salah satu komitmen pemerintah, serta
sebagai strategi nasional dalam rangka kemajuan bidang teknologi informasi dan
komunikasi. Pemerintah daerah sangat perlu untuk segera memiliki strategi dalam
pemanfaatan teknologl lnformasi dan komunikasi.
Dalam rancangan makalah kebijakan e-government ini, penentuan strategi
menggunakan metode analisis SWOT yang dipandang mampu untuk menganalisis
hubungan atau interaksi antara unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, serta
terhadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman pada suatu organisasi.
Keyword : GCG, e-government, analisis SWOT

1. Latar Belakang
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang begitu pesat
membawa kehidupan manusia seolah-olah tanpa ruang dan waktu. Berbagai
informasi yang terjadi di belahan bumi barat dengan media komunikasi seketika itu
juga dapat diketahui oleh manusia di belahan bumi timur dan begitu pula sebaliknya.
Media informasi dan komunikasi yang dahulu bekerja hanya berdasarkan bunyi, kode
dan simbol sekarang berkembang pesat dengan gambar dan suara yang terlihat
langsung dari seorang komunikator ke komunikannya. Dengan cepatnya
perkembangan ICT (Information Communication and Technology) menyebar ke
berbagai bidang keilmuan tanpa terkecuali ilmu pengelolaan/manajemen. Tantangan
yang mengedepankan semakin pentingnya pengetahuan (knowledge) sebagai
pendorong utama pertumbuhan suatu bangsa, keadaan ini disebut dengan knowledge
based economic. Daya saing suatu bangsa tidak bergantung lagi pada kekayaan
sumber daya alam dan tenaga kerja yang murah, akan tetapi semakin bergantung pada
pengetahuan yang dimiliki dan dikuasai oleh suatu bangsa. Pengetahuan merupakan
kunci suatu bangsa dalam memanfaatkan dan memproses sumber daya alam sebelum
dilemparkan ke pasar global. Sumber daya manusia yang tersedia hanya akan dapat
mendukung pertumbuhan bila disertai dengan penguasaan pengetahuan yang
memadai. Tanpa penguasaan pengetahuan yang sesuai dan memadai, penduduk yang
besar hanya akan berdampak menambah beban bangsa untuk mencapai serta
mempertahankan tingkat kesejahteraan yang
pantas.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjanjikan efisiensi, kecepatan
penyampaian informasi, jangkauan global dan transparansi. Oleh karena itu dalam
era otonomi daerah, untuk mewujudkan pemerintahan yang good corporate
governance (GCG) salah satu upayanya adalah menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi atau yang popular disebut dengan E-Government.
Dalam Undang–undang Nomor 32 tahun 2004 mengenai Pemerintahan
Daerah, efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintah daerah perlu
ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek aspek hubungan antar susunan
pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah,
peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang
seluas – luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban
menyelengarakan otonomi daerah dalam kesatuan system penyelenggaraan
pemerintahan Negara. Amanat Undang-undang ini menunjukan bagaimana
pentingnya efisiensi dan transparansi, sehingga E-Government sangat sejalan dengan
undang-undang yang dimaksud.
Dengan diterbitkannya lnstruksi Presiden Nomor. 3 Tahun 2003 tentang
kebijakan dan strategi pengembangan E-Government, merupakan salah satu
komitmen pemerintah, serta sebagai strategi nasional dalam rangka perkembangan
dan kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi.

2. Landasan teori
2.1. Definisi e-Goverment
Pengembangan E-Government merupakan upaya untuk mengembangkan
penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam
rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. E-
Government merupakan kependekan dari elektronik pemerintah. E-Governtment
biasa dikenal e-gov, pemerintah digital, online pemerintah atau pemerintah
transformasi.
E-Government adalah suatu upaya untuk mengembangkan penyalenggaraan
kepemerintahan yang berbasis elektronik. Suatu penataan sistem manajemen dan
proses kerja di lingkungan pemerintah dengan mengoptimalkan pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi. Dapat dikatakan bahwa E-Goverment adalah
penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan
pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan
pemerintahan. e-Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif, atau
administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi internal, menyampaikan pelayanan
publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis.
Muara dari pengembangan E-Government adalah terwujudnya Good
Corporate Governance (GCG), melalui terselenggaranya komunikasi secara dua
arah, antara :

1. Antara Pemerintah dengan Pemerintah (Government to Government atau G to G),


dalam rangka meningkatkan penyelenggaraan sistem administrasi pemerintahan.
2. Antara Pemerintah dengan Dunia Usaha (Government to Bussiness atau G to B),
dalam rangka menumbuhkan partisipasi dunia usaha.
3. Antara Pemerintah dengan Masyarakat (Government to Citizen atau G to C),
dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

2.2. Matriks analisis SWOT


Tahap awal proses penetapan strategi adalah menaksir kekuatan, kelemahan,
kesempatan, dan ancaman yang dimiliki organisasi. Analisa matriks SWOT
memungkinkan organisasi memformulasikan dan mengimplementasikan strategi
utama sebagai tahap lanjut pelaksanaan dan tujuan organisasi, dalam analisa SWOT
informasi dikumpulkan dan dianalisa. Hasil analisa dapat menyebabkan dilakukan
perubahan pada misi, tujuan, kebijaksanaan, atau strategi yang sedang berjalan.

Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk


mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang
(opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi
bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths,
weaknesses, opportunities, dan threats). Menurut salah satu pakar SWOT Indonesia,
Fredy Rangkuti, Analisis SWOT dapat didefinisikan sebagai berikut :
“Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi perusahaan. Analisa ini didasarkan pada hubungan atau
interaksi antara unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, serta
terhadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman”.
Analisis SWOT merupakan salah satu instrumen yang beraneka guna, yang
dapat digunakan berkali-kali pada berbagai tahap proyek; membangun sebuah telaah
ataui untuk pemanasan diskusi sebelum membuat perencanaan. Instrumen ini dapat
diterapkan secara luas, atau sub-komponen yang kecil (bagian dari strategi) dapat
dipisahkan agar kita dapat melakukan analisis yang mendetil. SWOT sering menjadi
pelengkap yang berguna ketika melakukan Analisis Pemangku Kepentingan.
Petunjuk umum yang sering diberikan untuk perumusan adalah :
1. Memanfaatkan kesempatan dan kekuatan (O dan S). Analisis ini
diharapkan membuahkan rencana jangka panjang.
2. Atasi atau kurangi ancaman dan kelemahan (T dan W). Analisa ini lebih
condong menghasilkan rencana jangka pendek, yaitu rencana perbaikan
(short-term improvement plan).
Dapat disimpulkan bahwa analisis SWOT adalah perkembangan hubungan
atau interaksi antar unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan terhadap
unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman.
3. Strategi Analisis dan Pembahasan
Membangun sebuah sistem diperlukan sebuah model untuk menggambarkan
kerangka kerja baku. Ada 4 tingkatan E-Government menurut Inpres 3 /2003, antara
lain:
1. Tingkat I – Persiapan
Pembuatan situs informasi di setiap KPD
Penyiapan SDM
Penyiapan sarana akses yang mudah
Sosialisasi situs informasi baik untuk internal maupun untuk publik
2. Tingkat 2 – Pematangan
Pembuatan situs informasi public interaktif
Pembuatan antar muka keterhubungan dengan lembaga lain
3. Tingkat 3 – Pemantapan
Pembuatan situs transaksi pelayanan publik
Pembuatan interoperabiltas aplikasi maupun data dengan lembaga lain
4. Tingkat 4 – Pemanfaatan
Pembuatan aplikasi untuk pelayanan yang bersifat G2G, G2B dan G2C yang
terintegrasi.

Analisis SWOT dibuat untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi


pembangunan E-Government di pemerintah daerah. Faktor pendukung E-
Government mempunyai dampak pada proses implementasi pengembangan E-
Government .

3.1. Rencana Strategis E-Government


Dengan mempertimbangkan kondisi E-Government di pemerintah daerah
saat ini serta memperhatikan hasil kajian SWOT, pencapaian strategis E-
Government perlu dilaksanakan melalui 5 (enam) strategi yang berkaitan erat, yaitu :
1. Menguatkan kebjiakan pembangunan E-Government melalui pembuatan
payung hukum yang mengatur tentang pelaksanaan E-Government di
pemerintah daerah.
2. Memanfaatkan teknologi informasi secara optimal untuk layanan E-
Goevernment Pemerintahan maupun publik.
3. Meningkatkan peran serta dunia usaha dan mengembangkan industri
telekomunikasi dan teknologi informasi.
4. Mengembangkan kapasitas SDM.
5. Melaksanakan pengembangan secara sistematik melalui tahapan-tahapan
yang realistik dan terukur.
3.2. Rancangan Analisa SWOT dan Matriks Ideal Perencanaan E-Government

3.2.1. Analisis SWOT Perencanaan E-Government pemerintah daerah


STRENGHTS WEAKNESSES
Dengan adanya pembuatan Grand Desain Belum adanya perencanaan matang selama ini
E-Government ini nantinya menjadi kunci terhadap pembangunan E-Government di
kekuatan dalam perencanaan sebagian pemerintah daerah
pembangunan dan implementasi E-
Government di pemerintah daerah
OPPORTUNITIES THREATS
Dalam mengembangkan perencanaan Adanya egoisme sektoral yang nantinya
E-Government dengan matang, pihak mengabaikan proses perencaaan
pemerintah daerah dalam hal ini Dinas E- Government yang sudah dibuat
Perhubungan, Komunikasi dan Informatika
perlu saling bekerjasama guna menyusun
rencana E-Government untuk jangka
pendek hingga jangka panjang.

3.2.2. Matriks Ideal Perencanaan E-Government pemerintah daerah


No Kondisi Saat Ini Kondisi Ideal Yang Harus Dilakukan
1 Tidak adanya Adanya perencanaan 1. Membuat poin tujuan
perencanaan yang matang untuk kebutuhan mendesak
matang dalam pembangunan dan pembangunan E- Government
perencanaan E- implementasi E- untuk saat ini sampai 5 tahun
Government di Government di tiap kedepan dan merencanakan
sebagian SKPD dan pengembangan E-Government
pemerintah daerah dikoordinasikan melalui untuk jangka waktu 5 tahun
Dinas Perhubungan, kedepan;
Komunikasi dan 2. Melakukan koordinasi
Informatika penganggaran pembangunan
E- Government selama 5 tahun
kedepan secara
berkesinambungan.

Tabel. Matriks Ideal Perencaanaan E-Government


Rancangan SWOT dan Matriks Ideal Kebijakan E-Government
3.2.3. Analisis SWOT Kebijakan E-Government
STRENGHTS WEAKNESSES
Adanya produk hukum dari pusat yang Belum adanya payung hukum yang
mendukung otonomi daerah didalam mengatur pembangunan atau
pembangunan E-Government Pengembangan E-Government di
pemerintah daerah
OPPORTUNITIES THREATS
Adanya political will yang kuat dari Proyeksi kedepan, faktor egoisme sektoral
pemegang kebijakan pemerintah seringkali menjadi hambatan dalam
daerah untuk membangun E- penerapan kebijakan E- Government
Government

3.2.4. Matriks Ideal Kebijakan E-Government


Kondisi Saat Ini Kondisi Ideal Yang Harus Dilakukan
Belum adanya Harus ada ada Pemegang kebijakan terkait harus
peraturan yang peraturan yang mengeluarkan peraturan untuk
mengatur tentang mengatur mendukung pembangunan E-Government
pembangunan E- pembangunan seperti :
Government di dan pelaksanaan a. Peraturan tentang pembangunan E-
pemerintah daerah E-Government Government, mencakup tugas
koordinasi SKPD yang bertanggung
jawab atas pembangunan E-
Government, serta pelaksanaan
implementasi E- Government seperti :
layanan LPSE, publikasi elektronik,
pengaturan domain resmi, pengaturan
alamat email dan lain – lain.
b. Peraturan khusus untuk Pengadaan
barang/jasa yang terkait dengan
pembangunan E-Government di
pemerintah daerah, seperti: pengadaan
peralatan jaringan, pengadaan peralatan
PC, pengadaan aplikasi, pengadaan
perangkat keras dan lain - lain
3.3. Rancangan Analisa SWOT dan Matriks Ideal Aplikasi E-Government
3.3.1. Analisis SWOT Aplikasi E-Government
STRENGHTS WEAKNESSES
Adanya aplikasi elektronik untuk Adanya tidak sinerginya pengolahan
keuangan dan pelaporan yang sudah data antar satu aplikasi dengan lainnya.
digunakan secara kontinyu Untuk pemakaian aplikasi sistem operasi
masih banyak yang menggunakan sistem
operasi bajakan. Sedangkan aplikasi
publikasi seperti website masih minim
digunakan dan hanya beberapa SKPD saja
yang aktif mengupdate website, padahal
fasilitas sudah disediakan oleh Dinas
Perhubungan Komunikasi dan Informatika.
OPPORTUNITIES THREATS
Dari belum banyaknya layanan Potensi ancaman disini adalah minimnya
Aplikasi E-Goverenment yang anggaran untuk pembangunan dan
belum dibuat berdampak positif implementasi aplikasi termasuk sosialisasi,
terhadap rencana pembangunan pelatihan maupun pemeliharaan.
aplikasi yang nantinya dapat
bersinergi dan bertukar data antar
SKPD satu dengan yang lain.

3.3.2. Matriks Ideal Aplikasi E-Government


Yang Harus
No Kondisi Saat Ini Kondisi Ideal
Dilakukan
1 Tidak adanya konsep Adanya pengolahan 1.Pembuatan Sistem Informasi
pengolahan data data layanan aplikasi E- yang dapat mensinergikan
terpusat dan sinergi Government secara seluruh aplikasi yang sudah

untuk layanan aplikasi terpusat, sinergi dan ada di tiap SKPD sehingga
pengolahan datanya menjadi
yang sudah ada saat realtime sehingga dapat
satu dan terpusat
ini. memangkas waktu
2.Sentralisasi data terpusat
kinerja
dengan mewajibkan tiap
aplikasi untuk diletakkan
disuatu data centre/NOC
sehingga memudahkan
perawatan dan
pemeliharaan aplikasi

2 Sering gagalnya Optimalnya 1. Pembuatan rancangan


implementasi aplikasi pemanfaatan aplikasi DED bagi aplikasi yang
dan layanan E- dengan implementasi akan dibuat untuk
Government aplikasi yang dilakukan memudahkan dalam
dari awal sampai proses pemeliharaan
hingga terus menerus. maupun pengembangan
aplikasi selanjutnya
3 Masih banyaknya Terciptanya pemakaian 1. Melakukan inventarisasi
pemakaian Sistem sistem operasi yang terhadap pemakaian
Operasi Bajakan legal baik itu sistem aplikasi yang
operasi berlisensi membutuhkan sistem
maupun pemakaian operasi berlisensi untuk
sistem operasi yang kemudian dianggarkan
bersifat free untuk pembelian lisensi
sistem operasi.
2. Melakukan Edukasi
terhadap pemakaian
sistem operasi non
komersial
3. Melakukan proses
migrasi sistem operasi
komersial ke
nonkomersial pada
komputer yang tidak
menjalankan aplikasi
berbasis sistem operasi
komersial
4. Melakukan edukasi
agar pembuatan
aplikasi SKPD
menggunakan basis
sistem operasi
nonkomersial sehingga
nantinya dapat
menekan anggaran
pembelian sistem
operasi komersial
4. Minimnya pemanfaatan Tiap SKPD seharusnya 1. Fasilitasi pembuatan
publikasi lewat aplikasi menggunakan layanan aplikasi website untuk
website publikasi website untuk seluruh SKPD
menginformasikan 2. Mendorong tiap
kegiatan SKPD tersebut SKPD mengisi
content website nya
untuk publikasi
elektronik
Tabel Matriks Ideal Aplikasi E-Government

3.4. Masalah dan Tantangan Pengembangan E-Government

Pengembangan E-Government ini tidak bisa lepas dari permasalahan dan tantangan
yang harus dihadapi, berbagai permasalahan dan tantangan tersebut antara lain :
1. Kultur berbagi belum ada. Kultur berbagi (sharing) informasi dan
mempermudah urusan belum merasuk di Indonesia.
2. Kultur mendokumentasikan belum lazim.
3. Langkanya SDM yang handal.
4. Infrastruktur yang belum memadai dan mahal.
5. Tempat akses yang terbatas.

Dalam membangun sistem E-Government diperlukan standarisasi kebutuhan


pengembangan sistem aplikasi yang akan menjamin bahwa komunikasi antar sistem
tersebut dapat dilakukan oleh siapapun vendor pengembang sistem. Adapun Standar
Kebutuhan Sistem aplikasi yang harus dipenuhi oleh setiap sistem aplikasi E-Government
diantaranya adalah Reliable, Interoperable, Scalable, User Friendly, Integrateabl.

Kesimpulan
Penggunaan Analisa SWOT dan Matriks Layanan Ideal dalam Rancangan Kebijakan
E-Government di pemerintah daerah diharapkan mampu memberikan dukungan maksimal
terhadap akuntabilitas dan transparansi birokrasi menuju Good Corporate Government.

Pengembangan E-Government di pemerintah daerah bertujuan untuk menata


kembali pemanfaatan peralatan teknologi informasi yang ada, berupa perangkat keras,
perangkat lunak, infrastruktur jaringan dan sarana lainnya.

Saran
Perlu dirumuskan arsitektur informasi yang mengidentifikasi dan mendefinisikan
setiap data di pemerintah daerah.
Sebaiknya E-Government di Indonesia diterapkan dengan sistem ICT yang lebih
baik, agar komunikasi antara kalangan masyarakat, bisnis dan pemerintah berjalan dengan
efektif dan efisien.
Dalam pengimplementasian E-Government sebaiknya lebih berani melakukan
eksperimen-eksperimen baru agar segala hambatan bisa diatasi dan penerapan E-
Government bisa berjalan dengan baik sesuai dengan kebutuhan.

Daftar Pustaka
Achmad,H.,2010. “Kajian Pemanfaatan dan Pengembangan E-Government”. Universitas
Jember, Jember
Daljono. 1999. “Pengaruh Teknologi yang Diterapkan pada Sistem Informasi terhadap
Kinerja Karyawan Perusahaan”. MEB, Vol. XI. No.1-2

Darmawan, Ruly. 2003. “Aksesbilitas Komunikasi dan Informasi Menuju Era E-


Government. Jakarta

Ghozali, Imam dan Hapsari, M. 2006. “Pengaruh Teknologi Informasi Berbasis Sumber
Daya Terhadap Kinerja Perusahaan”, Jurnal Maksi. Vol.6 No.1 (60-68).

McLeod, Jr. Raymond., George Schell. 2004. ”Sistem Informasi Manajemen”, copyright ©
2001. Prentice-Hall,Inc. PT. Indeks. Jakarta