Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN APRIL 2018


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LUKA BAKAR

DISUSUN OLEH:
Angga Nugraha Hamid
111 2017 2123

PEMBIMBING:
dr. Denny Mathius, M.Kes, Sp.F

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Angga Nugraha Hamid

NIM : 111 2017 2123

Judul Kasus : Luka Bakar

Telah menyelesaikan tugas Referat dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian

Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, April 2019

Pembimbing,

dr. Denny Mathius, M.Kes, Sp.F

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 2
2.1 Definisi ..................................................................................................... 2
2.2 Etiologi ..................................................................................................... 3
2.3 Klasifikasi .................................................................................................. 3
2.4 Penyebab Kematian Akibat Luka Bakar (Manner of Death) ..................... 9
2.5 Pemeriksaan Luar Korban .......................................................................... 11
2.6 Pemeriksaan Dalam Korban ....................................................................... 13
2.7 Perbandingan Tanda Luka Bakar Antemortem Dan Postmortem .............. 15
2.8 Aspek Medikolegal .................................................................................... 17
BAB III KESIMPULAN ................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Luka bakar adalah luka karena kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, listrik, bahan
kimia, dan radiasi. Luka yang disebabkan oleh panas api atau cairan yang dapat
membakar merupakan jenis yang lazim kita jumpai dari luka bakar yang parah.
Luka bakar merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan mortalitas
tinggi yang memerlukan suatu penatalaksanaan sebaik-baiknya sejak fase awal
hingga fase lanjut. . Luka bakar dapat terjadi pada setiap orang muda maupun
orang tua dan baik laki-laki maupun perempuan. Luka bakar dapat bervariasi dari
cedera ringan yang dapat dengan mudah dikelola di klinik rawat jalan, untuk luka
yang luas dapat mengakibatkan kegagalan sistem organ dan perawatan yang
berkepanjangan di rumah sakit.1,4
Luka bakar, yang telah mencapai proporsi epidemi dalam beberapa tahun
terakhir, dianggap sebagai masalah kesehatan yang lebih serius daripada epidemi
polio. Dalam beberapa tahun terakhir profesi medis telah mulai mengenal dan
memahami masalah yang terkait dengan luka bakar. Pada 1950-an terdapat kurang
dari 10 rumah sakit di Amerika Serikat yang khusus luka bakar. Sejak saat itu,
telah ada kemajuan yang signifikan dalam memahami masalah luka bakar dan kini
ada sekitar 200 pusat perawatan khusus luka bakar di Amerika Serikat.3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi
seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka ini dapat
menyebabkan kerusakkan jaringan. Cedera lain yang termasuk luka bakar adalah
sambaran petir, sengatan listrik, sinar X dan bahan korosif.
Kerusakan kulit yang terjadi tergantung pada tinggi suhu dan lama kontak.
Suhu minimal untuk dapat menghasilkan luka bakar adalah sekitar 44 °C. Suhu
65°C dengan kontak selama 2 detik sudah cukup menghasilkan luka bakar.
Kontak kulit dengan uap air panas selama 2 detik mengakibatkan suhu kulit pada
kedalaman 1 mm dapat mencapai suhu 47°C, air panas yang mempunyai suhu
60°C yang kontak dengan kulit dalam waktu 10 detik akan menyebabkan partial
thickness skin loss dan diatas 70°C akan menyebabkan full thickness skin loss.
Pelebaran kapiler dibawah kulit mulai terjadi pada saat suhu mencapai 35 °C
selama 120 detik, vesikel terjadi pada suhu 53 °C – 57 °C selama kontak 30 – 120
detik.

2.2 Etiologi
Sumber dari luka bakar harus ditentukan terlebih dahulu sebelum dilakukan
evaluasi dan penanganan. Luka bakar dapat dibedakan atas :
1. Luka bakar karena suhu, seperti api, radiasi matahari, atau panas dari api
itu sendiri, uap panas, cairan panas, dan benda-benda panas, serta terpapar
oleh suhu rendah yang sangat ekstrim. Kedalaman luka bakar karena suhu
berkaitan dengan temperatur cairan, lamanya paparan dengan cairan, dan
viskositas cairan (biasanya ada kontak lama dengan cairan lebih kental).
2. Luka bakar karena bahan kimia, seperti berbagai macam zat asam, basa,
dan bahan tajam lainnya. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan
banyaknya jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat
kimia ini. Luka bakar kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan
zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk keperluan rumah

2
tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang industri,
pertanian dan militer.
3. Luka bakar karena listrik, baik Alternatif Current (AC) maupun Direct
Current (DC). Luka bakar listrik disebabkan oleh panas yang digerakan
dari energi listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka
dipengaruhi oleh lamanya kontak, tingginya voltage dan cara gelombang
elektrik itu sampai mengenai tubuh.
4. Luka bakar inhalasi, seperti keracunan karbon monoksida, panas atau
smoke inhalation injuries.
5. Luka bakar akibar radiasi, yang bersumber dari bahan-bahan nuklir,
termasuk sinar ultraviolet. Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar
dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini seringkali berhubungan dengan
penggunaan radiasi ion pada industri atau dari sumber radiasi untuk
keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh sinar matahari
akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka
bakar radiasi.

2.3 Klasifikasi
Luka bakar dibedakan menjadi 2 berdasarkan:
1. Dalamnya luka bakar.
a. Klasifikasi luka bakar menurut Dupuytren
Klasifikasi lama yang diperkenalkan oleh Dupuytren adalah pembagian
derajat luka bakar dalam 6 derajat :
- Luka bakar derajat 1
Luka akibat terkena panas dari api, benda panas dan cairan panas yang
suhunya tidak mencapai titik didih, atau akibat cairan kimia. Biasanya
bentuk luka berupa kemerahan dan proses penyembuhan terjadi tanpa
meninggalkan parut. Waktu penyembuhan antara beberapa jam sampai
beberapa hari.
- Luka bakar derajat 2
Luka diakibatkan terkena benda panas atau cairan panas yang suhunya
mencapai titik didih atau lebih tinggi. Lapisan kulit superficial hanya

3
sedikit yang rusak dan penyembuhannya tanpa meninggalkan jaringan
parut. Pada awalnya terdapat vesikel yang kemudian akan terasa sakit
dan warnanya menjadi hitam.
- Luka bakar derajat 3
Luka bakar ini adalah akibat cairan yang suhunya diatas titik didih.
Pada keadaan ini lapisan superficial kulit seluruhnya rusak sehingga
pada penyembuhan akan meninggalkan jaringan parut. Ujung
persyarafan juga terbakar dan halini mengakibatkan rasa nyeri yang
hebat. Pada proses penyembuhan dapat terjadi jaringan parut yang
mengandung semua element kulit, sehingga tidak mengalami
kontraktur.
- Luka bakar derajat 4
Seluruh jaringan kulit mengalami kerusakan. Ujung syaraf juga ikut
rusak, sehingga pada luka bakar ini rasa nyeri tidak ada. Jaringan parut
yang terbentuk akan mengalami kontraksi dan deformitas. Luka
terkelupas pada hari ke 5 atau ke 6 dan penyembuhan akan berjalan
lambat.
- Luka bakar derajat 5
Pada keadaan ini kerusakan juga meliputi fasia otot dan hampir selalu
mengalami deformitas.
- Luka bakarderajat 6
Keadaan ini biasanya fatal, jika tidak meninggal maka biasanya
mengakibatkan kerusakan anggota badan.
b. Klasifikasi luka bakar oleh Wilson
- Luka bakar derajat satu ( derajat satu dan dua, Dupuytren)
Terjadi eritema dan blister tanpa kehilangan epidermis. Disini
kapiler mengalami dilatasi dan terjadi transudasi cairan kedalam
jaringan ikat, yang menyebabkan edema. Secara umum blister diliputi
oleh kulit yang berwarna keputihan diatasnya, epidermis yang
avaskuler dan dibatasi oleh zona yang berwarna hiperemis. Bila besar
blister kurang dari 1 cm maka blister ini akan diresorpsi, sebaliknya
bila blister ini pecah maka akan meninggalkan daerah dengan dasar

4
yang berwarna kemerahan. Luka bakar derajat satu ini akan sembuh
tanpa meninggalkan jaringan parut. Walaupun luka bakar yang terjadi
adalah derajat satu akan tetapi bila meliputi lebih dari sepertiga
permukaan tubuh terutama yang terletak pada daerah kepala, leher,
badan, atau dinding depan dari abdomen maka akan menyebabkan
kefatalan.
- Luka bakar derajat dua ( derajat tiga dan empat, Dupuytren)
Terjadi destruksi dari seluruh ketebalan kulit. Epidermis dapat
mengalami koagulasi, pengerutan, berupa daerah yang dibatasi oleh
zona yang berwarna kemerahan, dan blister kulit. Dalam beberapa hari,
biasanya dalam beberapa minggu jaringan yang nekrosis akan
mengelupas dan meninggalkan ulcus yang lambat menyembuh. Luka
bakar derajat dua sering memerlukan koreksi bedah plastik untuk
mengatasi jaringan parut yang terbetuk selama penyembuhan.
- Luka bakar derajat tiga ( derajat lima dan enam, Dupuytren)
Yang karakteristik dari luka bakar ini adalah destruksi yang luas
tidak hanya pada kulit dan subkutis tetapi juga pada otot dan
tulang.destruksi pada ujung-ujung syaraf juga dapat terjadi yang
mengakibatkan kehilangan rasa nyeri yang relatif. Devitalisasi jaringan
pada area luka bakar menyebabkan mudah terkenanya infeksi dan
penyembuhan yang berjalan lambat. Bila eksposurenya
berkepanjangan, maka kulit dan jaringan ikat dibawah kulit akan
terbakar dan menjadi arang. Sedangkan ekposure yang luas dari tubuh
setelah kematian oleh karena panas dan asap menyebabkan seluruh
tubuhh menjadi arang dengan otot-otot dan organ- organ dalam yang
terpanggang, dan akhirnya menghanguskan bagian-bagian tubuh
terutama ekstremitas, genetalia dan telinga.
c. Klasifikasi derajat luka bakar yang lainnya
- Luka bakar derajat 1 (luka bakar superficial).
Luka bakar hanya terbatas pada lapipsan epidermis. Luka bakar
derajat ini ditandai dengan kemerahan yang biasanya akan sembuh
tanpa jaringan parut dalam waktu 5 – 7 hari.

5
- Luka bakar derajat 2 (luka bakar dermis).
Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis tetapi masih
ada element epitel yang tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar
sebasea, kelenjar keringat, dan folikel rambut. Dengan adanya sisa
epitel yang sehat ini, luka dapat sembuh sendiri dalam 10 – 21 hari.
Oleh karena kerusakan kapiler dan ujung syaraf di dermis, luka
derajat ini tampak lebih pucat dan lebih nyeri dibandingkan luka
bakar superficial, karena adanya iritasi ujung syaraf sensorik. Juga
timbul bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena
permeabilitas dindingnya meninggi. Luka bakar derajat 2
dibedakan menjadi :
- Derajat dua dangkal
Dimana kerusakan mengenai bagian superficial dari dermis dan
penyembuhan terjadi secara spontan dalam 10- 14 hari.
- Derajat dua dalam
Dimana kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.
Bila kerusakkan lebih dalam mengenai dermis, subyektif
dirasakan nyeri.penyembuhan terjadi lebih lama tergantung
bagian dari dermis yang memiliki kemampuan reproduksi sel-
sel kulit ( epitel, stratum germinativum, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea dsb) yang tersisa. Biasanya penyembuhan
terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.
- Luka bakar derajat 3
Lukabakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit, mungkin
subkutis, atau organ yang lebih dalam. Oleh karena tidak ada lagi
elemen epitel yang hidup maka untuk mendapatkan kesembuhan
harus dilakukan cangkok kulit. Koagulasi protein yang terjadi
memeberikan gambaran luka bakar berwarna keputihan, tidak ada
bula dan tidak nyeri.
2. Luasnya luka bakar.
Wallace membagi tubuh atas bagian-bagian 9% atau kelipatan dari 9 yang
terkenal dengan nama “Rule Of Nine” atau “Rule Of Wallace”. 7

6
Kepala dan leher …………..…………………. 9%
Lengan (masing-masing 9%)….…….………. 18%
Badan Depan …………………...……………18%
Badan Belakang 18% ……………...……….. 36%
Tungkai (Masing-masing 18%) …………….. 36%
Genitalia/perineum ……………………….….. 1%
Total…………………………………………100%

Gambar 2: Rule of Nine

Pada anak-anak, kepala dan leher memiliki daerah permukaan yang jauh
lebih besar dari pada orang dewasa dan anggota gerak bawah yang lebih kecil.
Untuk menghindari kesulitan ini bagan seperti bagan lund and browder dapat
digunakan untuk menentukan TBSA luka bakar pada tiap umur. Pada pemeriksaan
ringkas luka bakar yang kecil, satu permukaan tangan pasien dapat digunakan
sebagai penentuan 1% daerah permukaan tubuh. 8
Perlu diingat bahwa satu telapak tangan seseorang adalah 1% dari
permukaan tubuhnya. Pada anak-anak, Bagan menurut Lund dan Browder
membagi lebih akurat tetapi untuk di hafal agak sukar. Oleh karenanya orang
membuat modifikasi saja dari “Rule of Nine”, modifikasi ini bermacam-macam

7
namun yang dipilih di sini adalah yang mirip dengan bagan dari Lund dan
Browder. Ditekankan disini umur patokan adalah 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

9 14 18

9 9 9 9 9 9

18 18 18 18 18 18

1
18 18 16 16 14 14

Umur 15 thn umur 5 thn umur 0-1 thn

Gambar 3: Modifikasi Rule Of Nine untuk anak

Antara umur 15 tahun dan 5 tahun, untuk tiap tahun, tiap tungkai berselisih
0,2%. Antara umur 5 tahun dan 1 tahun, untuk tiap tungkai berselisih 0,4%. 7
Derajat dan luas luka bakar tergantung pada banyak faktor seperti jarak
korban dengan api, lamanya eksposure, bahkan pakaian yang digunakan korban
pada waktu terjadinya kebakaran. Komposisi pakaian dapat menentukan derajat
keparahan dan luasnya luka bakar. Kain katun murni akan mentransmisi lebih
banyak energi thermal ke kulit dibandingkan dengan bahan katun polyester.
Bahan katun terbakar lebih cepat dan dapat menghasilkan luka bakar yang besar
dan dalam. Bila bahan yang dipakai kandungan poliesternya lebih banyak akan
menyebabkan luka bakar yang relatif ringan atau kurang berat. Bahan rajutan akan
menghasilkan daerah luka bakar yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan
bahan pintalan. Sehingga dapat dikatakan bahwa bila bahan yang dipakai
bertambah berat maka daerah yang terbakar akan berkurang. Selain itu derajat
luka bakar akan berkurang bila pakaian yang dipakai korban ketat dan
mengelilingi tubuh.

8
2.4 Penyebab Kematian Akibat Luka Bakar (Manner of Death)
1. Keracunan Zat Karbon Monoksida
Kebanyakan kematian pada luka bakar biasanya terjadi pada kebakaran
yang hebat yang terjadi pada gedung-gedung atau rumah-rumah bila
dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi pada kecelakaan pesawat terbang
atau mobil. Pada kasus-kasus kebakaran yang terjadi secara bertahap maka CO
poisoning dan smoke inhalation lebih sering bertanggung jawab dalam
penyebab kematian korban dibanding dengan luka bakar itu sendiri. CO
poisoning merupakan aspek yang penting dari penyebab kematian pada luka
bakar, biasanya korban menjadi tidak sadar dan meninggal sebelum api
membakarnya, ini dapat menjawab pertanyaan mengapa korban tidak
melarikan diri pada waktu terjadi kebakaran. Sehingga dalam menentukan
penyebab dari kematian, maka luas dan derajat luka bakar serta saturasi darah
yang mengandung CO harus dinilai secara hati – hati. Gas CO ini dibentuk
dari pembakaran yang tidak sempurna misalnya kayu yang terbakar, kertas,
kain katun, batu bara yang terbakar akan menghasilkan gas CO.
CO dalam darah merupakan indikator yang paling berharga yang dapat
menunjukkan bahwa korban masih hidup pada waktu terjadi kebakaran. Oleh
karena gas ini hanya dapat masuk melalui absorbsi pada paru-paru. Pada
perokok dapat dijumpai saturasi CO dalam darah hanya lebih dari 5%, dan ini
dapat menunjukan bahwa korban masih bernafas pada waktu terjadinya
kabakaran, demikian juga pada korban atherosclerosis coroner yang berat
dapat meninggal dengan kadar COHB yang lebih rendah dari pada individu
yang sehat. Bila CO merupakan penyebab mati yang utama maka saturasi
dalam darah paling sedikitnya dibutuhkan 40% COHB, kecuali pada orang
tua, anak-anak dan debilitas dimana pernah dilaporkan mati dengan kadar 25
%. Sebenarnya kadar COHB pada korban yang sekarat selama kebakaran,
sering tidak cukup tinggi untuk menyebabkan kematian. Banyak kasus-kasus
fatal menunjukan 50- 60 % saturasi, walaupun kadarnya secara umum kurang
dari kadar yang terdapat dalam darah pada keracunan CO murni, seperti
pembunuhan dengan gas mobil atau industrial exposure, dimana
konsentrasinya dapat mencapai 80 %. Selain itu adanya gas-gas toksik dan

9
pengurangan oksigen dalam atmosfer dapat menyebabkan kematian dengan
kadar CO yang rendah.

2. Menghirup asap pembakaran (Smoke Inhalation)


Pada banyak kasus kematian, dimana cedera panas pada badan tidak
sesuai dengan penyebab kematian maka dikatakan penyebab kematian adalah
smoke inhalation. Asap yang berasal dari kebakaran terutama alat-alat rumah
tangga seperti furniture, cat, kayu, pernis, karpet dan komponen-komponen
yang secara struktural terdiri polystyrene, polyurethane, polyvinyl dan
material-material plastik lainnya dikatakan merupakan gas yang sangat toksik
bila dihisap dan potensial dalam menyebabkan kematian.

3. Trauma Mekanik
Kematian oleh karena trauma mekanik biasanya disebabkan karena
runtuhnya bangunan disekitar korban, atau merupakan bukti bahwa korban
mencoba untuk melarikan diri seperti memecahkan kaca jendela dengan
tangan. Luka-luka ini harus dicari pada waktu melakukan pemeriksaan luar
jenasah untuk memastikan apakah luka-luka tersebut signifikan dalam
menyebabkan kematian. Trauma tumpul yang mematikan tanpa keterangan
antemortem sebaiknya harus dicurigai sebagai suatu pembunuhan.

4. Anoksia dan hipoksia


Kekurangan oksigen dengan akibat hipoksia dan anoksia sangat jarang
sebagai penyebab kematian. Bila oksigen masih cukup untuk menyalakan api
maka masih cukup untuk mempertahankan kehidupan. Sebagai contoh tikus
dan lilin yang diletakkan dalam tabung yang terbatas kadar oksigennya
ternyata walaupun lilin padam lebih dahulu tikus masih aktif berlari
disekitarnya. Radikal bebas dapat diajukan sebagai salah satu kemungkinan
dari penyebab kematian, oleh karena radikal bebas ini dapat menyebabkan
surfaktan menjadi inaktif, jadi mencegah pertukaran oksigen dari alveoli
masuk kedalam darah.

10
5. Luka bakar itu sendiri
Secara general dapat dikatakan bahwa luka bakar seluas 30 – 50 % dapat
menyebabkan kematian. Pada orang tua dapat meninggal dengan presentasi
yang jauh lebih rendah dari ini, sedangkan pada anak-anak biasanya lebih
resisten. Selain oleh derajat dan luas luka bakar prognosis juga dipengaruhi
oleh lokasi daerah yang terbakar, keadaan kesehatan korban pada waktu
terbakar. Luka bakar pada daerah perineum, ketiak, leher, dan tangan
dikatakan sulit dalam perawatannya, oleh karena mudah mengalami
kontraktur.

6. Paparan panas yang berlebih


Environmental hypertermia dapat menjadi sangat fatal dan bisa
menyebabkan kematian. Bila tubuh terpapar gas panas, air panas atau ledakan
panas dapat menyebabkan syok yang disertai kolaps kardiovaskuler yang
mematikan.

2.5 Pemeriksaan Luar Korban


Pada kebakaran yang hebat, apakah di dalam gedung atau yang terjadi pada
kecelakaan mobil yang terbakar, sering terlihat bahwa keadaan tubuh korban yang
terbakar sering tidak mencerminkan kondisi saat matinya.
Artefak – artefak yang ditemukan pada mayat oleh karena luka bakar:
1. Skin Split.
Kontraksi dari jaringan ikat yang terbakar menyebabkan terbelahnya kulit
dari epidermis dan korium yang sering menyebabkan artefak yang menyerupai
luka sayat dan sering disalah-artikan sebagai kekerasan tajam. Artefak
postmortem ini dapat mudah dibedakan dengan kekerasan tajam antemortem
oleh karena tidak adanya perdarahan dan lokasinya yang bervariasi
disembarang tempat. Kadang-kadang dapat terlihat pembuluh darah yang intak
yang menyilang pada kulit yang terbelah.
2. Abdominal Wall Destruction.
Kebakaran parsial dari dinding abdomen bagian depan akan menyebabkan
keluarnya sebagian dari jaringan usus melalui defek yang terjadi ini. Biasanya

11
ini terjadi tanpa perdarahan, apakah perdarahan yang terletak diluar atau
didalam rongga abdomen.
3. Skull Fractures.
Bila kepala terpapar cukup lama dengan panas dapat menyebabkan
pembentukan uap didalam rongga kepala yang lama kelamaan akan
mengakibatkan kenaikan tekanan intra cranial yang dapat menyebabkan
terpisahnya sutura-sutura dari tulang tengkorak. Pada luka bakar yang hebat
dan kepala sudah menjadi arang atau hangus terbakar dapat terlihat artefak
fraktur tulang tengkorak yang berupa fraktur linear. Disini tidak penah diikuti
oleh kontusio serebri, subdural atau subarachnoid.
4. Pseudo Epidural Hemorrhage.
Artefak umum yang biasanya terdapat pada korban yang hangus terbakar dan
kepala yang sudah menjadi arang adalah pseudo epidural hemorrhage atau
epidural hematom postmortem. Untuk membedakan dengan epidural hematom
antemortem tidak sulit oleh karena pseudo epidural hematom biasanya
berwarna coklat, mempunyai bentukan seperti honey comb appearance, rapuh
tipis dan secara tipikal terletak pada daerah frontal, parietal, temporal dan
beberapa kasus dapat meluas sampai ke oksipital.
5. Non-Cranial Fractures.
Artefak berupa fraktur pada tulang-tulang ekstremitas juga sering ditemukan
pada korban yang mengalami karbonisasi oleh karena terekspos terlalu lama
dengan api dan asap. Tulang – tulang yang terbakar mempunyai warna abu-
abu keputihan dan sering menunjukkan fraktur kortikal pada permukaannya.
Tulang ini biasanya hancur bila dipegang sehingga memudahkan trauma
postmortem pada waktu transportasi ke kamar mayatatau selama usaha
memadamkan api. Mayat sering dibawa tanpa tangan dan kaki, dan mereka
sudah tidak dikenali lagi di TKP karena sudah mengalami fragmentasi.
6. Pugilistic Posture
Pada mayat yang hangus terbakar, tubuh akan mengambil posisi “pugilistic”.
Koagulasi dari otot-otot oleh karena panas akan menyebabkan kontraksi
serabut otot otot fleksor dan mengakibatkan ekstremitas atas mengambil sikap
seperti posisi seorang boxer dengan tangan terangkat didepannya, paha dan

12
lutut yang juga fleksi sebagian atau seluruhnya. Posisi “pugilistic” ini tidak
berhubungan apakah individu itu terbakar pada waktu hidup atau sesudah
kematian. “pugilistic” attitude atau heat rigor ini akan hilang bersama dengan
timbulnya pembusukan.

2.6 Pemeriksaan Dalam Korban


Faktor yang tidak kalah penting dalam patologi forensik adalah bagaimana
cara membedakan apakah korban mati sebelum atau sesudah kebakaran.
Beberapa temuan intravitalitas pada korban luka bakar:
1. Jelaga dalam saluran nafas.
Pada kebakaran rumah atau gedung dimana rumah atau gedung beserta
isi perabotannya juga terbakar seperti bahan-bahan yang terbuat dari kayu,
plastik akan menghasilkan asap yang berwarna hitam dalam jumlah yang
banyak. Akibat dari inhalasi ini korban akan menghirup partikel karbon dalam
asap yang berwarna hitam. Sebagai tanda dari inhalasi aktif antemortem, maka
partikel-partikel jelaga ini dapat masuk kedalam saluran nafas melalui mulut
yang terbuka, mewarnai lidah, dan pharynx, glottis, vocal cord, trachea bahkan
bronchiolus terminalis. Sehingga bila secara histology ditemukan jelaga yang
terletak pada bronchiolus terminalis merupakan bukti yang absolut dari fungsi
respirasi.
Sering pula dijumpai adanya jelaga dalam mukosa lambung, ini juga
merupakan bukti bahwa korban masih hidup pada wakrtu terdapat asap pada
peristiwa kebakaran. Karbon ini biasanya bercampur dengan mucus yang
melekat pada trachea dan dinding bronchus oleh karena iritasi panas pada
mukosa. Ditekankan sekali lagi bahwa ini lebih nyata bila kebakaran terjadi
didalam gedung dari pada di dalam rumah.
2. Saturasi COHb dalam darah.
CO dalam darah merupakan indikator yang paling berharga yang dapat
menunjukkan bahwa korban masih hidup pada waktu terjadi kebakaran. Oleh
karena gas ini hanya dapat masuk melalui absorbsi pada paru-paru.
Akan tetapi bila pada darah korban tidak ditemukan adanya saturasi COHb
maka korban mati sebelum terjadi kebakaran. Bahwa kadar saturasi CO

13
dalam darah tergantung beberapa faktor termasuk konsentrasi CO yang
terinhalasi dari udara, lamanya eksposure, rata-rata dan kedalaman respiration
rate dan kandungan Hb dalam darah. Kondisi-kondisi ini akan mempengaruhi
peningkatan atau penurunan rata-rata absorbsi CO.
Pada otopsi biasanya relatif mudah untuk menentukan korban yang
meninggal pada keracuan CO dengan melihat warna lebam mayat yang berupa
cherry red pada kulit, otot, darah dan organ-organ interna, akan tetapi pada
orang yang anemik atau mempunyai kelainan darah sehingga warna cherry red
ini menjadi sulit untuk dikenali.
3. Reaksi jaringan.
Sebenarnya tidak mungkin untuk membedakan luka bakar yang akut
yang terjadi antemortem dan postmortem. Pemeriksaan mikroskopik luka
bakar tidak banyak menolong kecuali bila korban dapat bertahan hidup cukup
lama sampai terjadi respon respon radang. Kurangnya respon tidak merupakan
indikasi bahwa luka bakar terjadi postmortem.
Pemeriksaan slide secara mikroskopis dari korban luka bakar derajad
tiga yang meninggal tiga hari kemudian tidak ditemukan reaksi radang, ini
diperkirakan oleh karena panas menyebabkan trombosis dari pembuluh darah
pada lapisan dermis sehinggga sel-sel radang tidak dapat mencapai area luka
bakar dan tidak menyebabkan reaksi radang.
Blister juga bukan merupakan indikasi bahwa korban masih hidup pada
waktu terjadi kebakaran, oleh karena blister ini dapat terjadi secara
postmortem.Blister yang terjadi postmortem berwarna kuning pucat, kecuali
pada kulit yang hangus terbakar.Agak jarang dengan dasar merah atau areola
yang erythematous, walaupun ini bukan merupakan tanda pasti.
Secara tradisionil banyak penulis mengatakan bahwa untuk dapat
membedakan blister yang terjadi antemortem dengan blister yangterjadi
postmortem adalah dengan menganalisa protein dan chlorida dari cairan itu.
Blister yang dibentuk pada ante mortem dikatakan mengandung lebih banyak
protein dan chloride, tetapi inipun tidak merupakan angka yang absolute

14
4. Subendocardial left ventricular hemorrhages.
Perdarahan subendokardial pada ventrikel kiri dapat terjadi oleh karena
efek panas. Akan tetapi perdarahan ini bukan sesuatu yang spesifik karena
dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme kematian. Pada korban kebakaran
perdarahan ini merupakan indikasi bahwa sirkulasi aktif sedang berjalan
ketika tereksposure oleh panas tinggi yang tidak dapat ditolerasi oleh tubuh
dan ini merupakan bukti bahwa korban masih hidup saat terjadi kebakaran.

2.7 Perbandingan Tanda Luka Bakar Antemortem Dan Postmortem


Pada korban yang masih hidup saat terbakar akan ditemukan adanya hal-hal
antara lain tanda intravital pada luka bakar dan gelembung yang terbentuk, adanya
jelaga pada saluran pernapasan serta saturasi karbonmonoksida diatas sepuluh
persen dalam darah korban. Pada korban yang keracunan karbonmonoksida jika
tubuh korban tidak terbakar seluruhnya akan terbentuk lebam mayat berwarna
“cherry red”.Pada tubuh manusia yang sudah mati terbakar tidak akan berwarna
kemerahan oleh reaksi intravital.Tubuh mayat akan tampak keras dan
kekuningan.Gelembung yang terdapat akan mengandung sangat sedikit albumin
yang akan memberikan kekeruhan bila dipanaskan serta sangat sedikit atau tidak
ditemukan sel PMN. Jadi perbedaan luka antara antemortem dan post mortem
adalah pada luka antemortem terdapat tanda-tanda intravital berupa vesikel dan
bula, sedangkan pada mayat postmortem tidak ditemukan tanda-tanda
tersebut.Perbedaan lainnyaakan tampak adanya jelaga pada saluran napas pada
luka antemortem dan saturasi diatas sepuluh persen di dalam darah sedangkan
pada postmortem tidak.Ada tiga point utama untuk membedakan luka bakar
antemortem atau postmortem, yaitu batas kemerahan,vesikasi, dan proses
perbaikan. Pada kasus luka bakar intravital , ada eritema yang disebabkan oleh
distensi kapiler yang bersifat sementara,menghilang karena tekanan selama hidup
dan memudar setelah mati.Namun, garis merah ini bisa saja tidak ada pada orang
yang sangat lemah kondisi badannya, yang meninggal segera setelah luka bakar
tersebut.
Vesikasi yang timbul akibat luka bakar saat hidup mengandung cairan
serosa yang berisis albumin,klorida,dan sering juga sedikit sel PMN, sel darah

15
putih, dan memiliki daerah yang memerah, dasar inflamasi dengan papila yang
meninggi.Kulit yang mengelilingi vesikasi tersebut berwarna merah cerah atau
tembaga.Hal ini merupakan ciri khas yang membedakan vesikasi sejati atau palsu
yang diproduksi setelah mati. Vesikasi palsu mengandung udara saja, dan
biasanya juga mengandung serum dalam jumlah yang sangat sedikit yang berisi
albumin, tapi tidak ada klorida seperti pada orang yang menderita general
anasarka, dasarnya keras, kering, bertangkai, kekuningan selain menjadi merah
dan inflamasi.
Proses perbaikan seperti tanda-tanda inflamasi, formasi jaringan granulasi
, pus dan pengelupasan yang mengindikasikan bahwa luka bakar tersebut terjadi
saat hidup.Luka bakar yang disebabkan stelah mati menunjukan tidak ada reaksi
vital dan memiliki tampakan “dull white” dengan membukanya kelenjar pada
kulit yang berwarna abu-abu.Orga internal terpanggang dan menimbulkan bau
yang khas.Perbedaan luka bakar antemortem dan postmortem adalah sebagai
berikut :
Tabel.1. Perbedaan luka bakar antemortem dan postmortem
Beda Luka bakar antemortem Luka bakar postmortem
Vesikel, Bula  Warna sekitarnya  Tidak hiperemis
hiperemis  Tidak mengandung
 Cairan banyak albumin
mengandung albumin  Dasar vesikel kering dan
 Dasar vesikel mengalami keras
inflamasi  Terdapat udara dalam
 Tidak ada udara pada bula
dasar bula
Paru  Terdapat jelaga  Tidak ada jelaga
 Reaksi radang pada epitel  Tidak ada reaksi radang
sal.napas pada epitel sa.napas
Gambaran  Terdapat serbukan sel  Terdapat sedikit atau
mikroskopis PMN tidak terdapat serbukan
sel PMN

16
2.8 Aspek Medikolegal
Pada kasus kebakaran atau luka akibat meledaknya bom, dokter forensik
dipanggil untuk membuat pemeriksaan lengkap sesuai dengan Pasal 133 KUHAP
yang menyatakan dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa
yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Pada
pasal 133 KUHAP (ayat 2 dan 3) menyatakan permintaan keterangan ahli
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat
itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan
atau pemeriksaan bedah mayat; dan mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan
penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat
identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki
atau bagian lain badan mayat. Pernyataan ini menjadi dasar pembuatan visum et
repertum (laporan bertulis) pada kasus tindak pidana.
Pada persidangan kasus pidana, dokter forensik akan dipanggil sebagai saksi
ahli. Sesaui dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang menyatakan setiap orang yang
diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli
lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Akhirnya dalam pemeriksaan sedapat mungkin dokter bisa menentukan cara
kematian yang dapat berupa:
1. Kecelakaan
Sering dijumpai pada kebakaran rumah dan gedung. Banyak pada wanita dan
anak karena sering bekerja di dapur. Pada anak-anak luka bakar terjadi karena
mereka tidak menyadari bahwa ada kebakaran di sekelilingnya. Pada penderita
epilepsy mendapat serangan sewaktu dekat dengan api.
2. Pembunuhan
Sering didapati sebagai upaya untuk menghilangkan jejak pembunuhan atau
agar sulit dilakukan penyelidikan.
3. Bunuh diri
Jarang terjadi, tetapi bisa karena patah hati atau sebagai ungkapan protes.

17
BAB III
KESIMPULAN

Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.
Luka bakar dibagi 3 derajat. Cara menentukan derajat luka bakar yaitu,
Wallace rule of nine dan Lund and Bowder chart.
Tingginya angka kejadian luka bakar didaerah Asia Tenggara disebabkan
juga karena factor resiko lainnya.Untuk itu perlu pencegahan dan penanganan
luka bakar untuk menghindari terjadinya komplikasi.
Penanganan luka bakar perlu diketahui luas luka bakar, derajat luka bakar,
fase luka bakar.Penanganan luka bakar mencakup, pertolongan pertama, resusitasi
cairan, pencegahan infeksi, perawatan luka bakar dan pencegahan terhadap
komplikasi.
Prognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan
luasnya permukaan luka bakar, dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan.
Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia dan keadaan kesehatan penderita
juga turut menentukan kecepatan penyembuhan.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Skhrum JM, Ramsay DA. Dalam : Forensic Phatology of Trauma . Canada :

Humana Press, 2007. Hal. 181-223.

2. Sephred Richard. Dalam : Simpson’s Forensic Medicine 12th edition. United

Kingdom : Arnold, 2003. Hal. 107-110.

3. Biswas Gautam. Dalam : Review of Forensic Medicine and toxicology 2nd

edition. London. : Jaypee Brothers Medical Published. 2012. Hal. 236-246.

4. Saukko Pekka, Knight Bernard. Dalam : Knight’s Forensic Pathology 3rd

edition. United Kingdom : Hodder Arnold, 2004. Hal. 312-323.

5. Sheridan, Robert L. Dalam : Goldman L, Schafer A. Goldman Cecil

Medicine. Edisi ke – 25. Amsterdam : Elsevier; 2008. H.711

6. Bradley E, Barth MD. Dalam : Bope, Kellerman. Conn’s Current Therapy.

Amsterdam : Elsevier; 2018. H.1223

7. Adam JS, Christoper CL. Dalam : Walls, dkk. Rosen’s Emergency Medicine:

Concepts and Clinical Practice. Edisi ke – 9. Amsterdam : Elsevier, 2018.

H.715

8. Paul S dkk. Medicine for The Outdoors. Edisi ke-6. Amsterdam : Elsevier,

2016. H. 108-110.

9. Raphael CL, Chad MT. Acute Management of Burn and Electrical Trauma.

Burn Surgery. Edisi ke – 4. Amsterdam : Elsevier, 2018. H.392

10. Sheridan, Robert L. Dalam : Goldsmith LA, dkk. Fitzpatrick’s Dermatology

in General Medicine. Edisi ke – 8. 2012. H.1089

11. Mosier MJ, dkk. Dalam : Auerbach Wilderness Medicine. Edisi ke – 7.

Amsterdam : Elsevier, 2017. H.319

19