Anda di halaman 1dari 21

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG DIARE PADA ORANG TUA


ANAK DI RUANG TERATAI RSUD Dr. ABDOER RAHEM SITUBONDO

disusun guna memenuhi tugas praktik Pendidikan Profesi Ners (P2N)


Stase Keperawatan Anak

oleh
Nuril Fauziah,S.Kep NIM 182311101047
Rofi Syahrizal,S.Kep NIM 182311101048
Elik Anistina, S.Kep NIM 182311101070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Pokok Bahasan : Pencegahan Diare


Sasaran : Orang tua dari anak yang dirawat inap di Ruang Teratai
Target : 10 orang
Waktu : 08.00 s/d 09.30 WIB
Hari/Tanggal : Senin, 24 Desember 2018
Tempat : di Ruang Teratai RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo

A. LATAR BELAKANG
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan/atau tanpa
darah dan/atau lendir dalam tinja (Betz, 2010). Diare diartikan sebagai buang air
besar (defekasi) dengan feses yang berbentuk cair atau setengah cair (setengah
padat), dengan demikian kandungan air pada feses lebih banyak daripada biasanya
(Daldiyono, 2006). Diare merupakan pengeluaran feses yang sering, berupa cairan
abnormal, dan encer (Apriningsih, 2009). Diare dapat digolongkan menjadi
ringan, sedang, atau berat; akut atau kronis; meradang atau tidak meradang.
Gangguan ini merupakan manifestasi dari transportasi cairan dan elektrolit yang
abnormal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 4 milyar kasus terjadi
di dunia dan 2,2 juta diantaranya meninggal, dan sebagian besar anak-anak
dibawah umur 5 tahun. Meskipun diare membunuh sekitar 4 juta orang/tahun di
negara berkembang, ternyata diare juga masih merupakan masalah utama di
negara maju. Di Amerika, setiap anak 2 mengalami 7-15 episode diare dengan
rata-rata usia 5 tahun. Di negara berkembang rata-rata tiap anak dibawah usia 5
tahun mengalami episode diare 3 sampai 4 kali pertahun (WHO, 2009). Sampai
saat ini kasus diare di Indonesia masih cukup tinggi dan menimbulkan banyak
kematian terutama pada bayi dan balita. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Depkes RI, 2008)
Diare menyebabkan kematian pada bayi (31,4%) dan anak balita (25,2%).
Sekitar 162.000 balita meninggal akibat diare setiap tahun atau sekitar 460 balita
per hari. Sedangkan dari hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) di
Indonesia dalam Depkes RI diare merupakan penyebab kematian nomor dua pada
balita, nomor tiga bagi pada bayi, dan nomor lima bagi semua umur. Setiap anak
di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6–2 kali pertahun (Kemenkes
RI, 2011).

B. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM (TIU) / Standart Kompetensi


Setelah diberikan penyuluhan tentang pencegahan diare diharapkan orang tua
mampu menerapkan cara-cara pencegahan diare pada keluarga khususnya
pada anaknya untuk mengurangi resiko terpajannya anak terhadap penyakit
diare sekaligus sebagai upaya meningkatkan kesehatan anak.

C. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)/ Kompetensi Dasar


Setelah diberikan penyuluhan tentang pencegahan disentri selama 30 menit,
orang tua anak diharapkan:
1. Menjelaskan tentang pengertian diare
2. Menjelaskan tentang penyebab diare
3. Menjelaskan tentang tanda dan gejala diare
4. Menjelaskan tentang komplikasi diare
5. Menjelaskan tentang penatalaksanaan diare
6. Menjelaskan tentang pencegahan diare
7. Menjelaskan tentang cuci tangan pakai sabun
8. Mendemonstrasikan 6 langkah cuci tangan pakai sabun

D. GARIS BESAR MATERI


Pendidikan kesehatan tentang pencegahan diare pada anak

E. METODE
a. Jenis model pembelajaran : ceramah dan diskusi
b. Landasan Teori : Konstruktivisme
c. Landasan Pokok :
1. Menciptakan suasana ruangan yang baik
2. Membuat keputusan nilai personal
3. Mengidentifikasi pilihan tindakan
4. Memberi komentar
5. Menetapkan tindak lanjut

F. MEDIA
Leaflet

G. PENGORGANISASIAN
1. Penanggung jawab : Rofi Syahrizal, S.Kep
2. Penyaji : Elik Anistina, S.Kep
3. Moderator : Nuril Fauziyah, S.Kep
4. Fasilitator : Rofi Syahrizal, S.Kep

H. SETTING TEMPAT

Keterangan:

= Pemateri

= Peserta penyuluhan
I. PROSES KEGIATAN
Tindakan
Proses Waktu
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
Pendahuluan a. Memberikan salam, Memperhatikan dan 5 menit
memperkenalkan diri, dan menjawab salam
membuka penyuluhan
b. Menjelaskan materi secara Memperhatikan
umum dan manfaat bagi
pasien.
c. Menjelaskan tentang Memperhatikan
tujuan umum dan tujuan
khusus
Penyajian a. Menjelaskan kepada Memperhatikan 20
pasien tentang pengertian, menit
penyebab dan tanda gejala
diare Memperhatikan
1) Memberikan
pertanyaan kepada
pasien mengenai
materi yang baru Menjawab
disampaikan pertanyaan
2) Pasien menjelaskan
materi yang telah
disampaikan Memperhatikan
b. Menjelaskan tentang
komplikasi,
penatalaksanaan, Memperhatikan
pencegahan diare
1) Memberikan
pertanyaan kepada
pasien mengenai Menjawab
materi yang baru pertanyaan
disampaikan
2) Pasien menjelaskan
materi yang telah Memperhatikan
disampaikan
c. Menjelaskan tentang
pengertian, tujuan, dan Memperhatikan
waktu cuci tangan pakai
sabun
1) Memberikan
pertanyaan kepada Menjawab
pasien mengenai pertanyaan
materi yang baru
disampaikan
2) Pasien menjelaskan Memperhatikan
materi yang telah
disampaikan
d. Mendemonstrasikan cara
6 langkah cuci tangan Memperhatikan
1) Meminta peserta untuk
mempraktekkan 6
langkah cuci tangan Mempraktekkan
pakai sabun bersama
dengan pemateri
2) Pasien mempraktekkan
mandiri 6 langkah cuci
tangan pakai sabun
Penutup a. Menutup pertemuan Memperhatikan 5 menit
dengan memberi
kesimpulan dari materi
yang disampaikan Memberi saran
b. Mengajukan pertanyaan
kepada pasien Memberi komentar
c. Mendiskusikan bersama dan menjawab
jawaban dari pertanyaan pertanyaan bersama
yang telah diberikan Memerhatikan dan
d. Menutup pertemuan dan membalas salam
memberi salam

J. EVALUASI
1. Apa pengertian diare?
2. Apa penyebab diare?
3. Apa tanda dan gejala diare?
4. Apa komplikasi diare?
5. Bagaimana penanganan diare?
6. Bagaimana pencegahan diare?
7. Kapan melakukan cuci tangan pakai sabun?
8. Bagaimana cara melakukan cuci tangan pakai sabun?

K. DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
1. Materi
2. Leaflet
3. Berita acara
4. Daftar hadir
Lampiran 1 : Materi
DIARE
1.Pengertian
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan/atau tanpa
darah dan/atau lendir dalam tinja (Betz, 2010). Diare diartikan sebagai buang air
besar (defekasi) dengan feses yang berbentuk cair atau setengah cair (setengah
padat), dengan demikian kandungan air pada feses lebih banyak daripada biasanya
(Daldiyono, 2006). Diare merupakan pengeluaran feses yang sering, berupa cairan
abnormal, dan encer (Apriningsih, 2009). Diare dapat digolongkan menjadi
ringan, sedang, atau berat; akut atau kronis; meradang atau tidak meradang.
Gangguan ini merupakan manifestasi dari transportasi cairan dan elektrolit yang
abnormal.
Diare juga ada yang membedakan menjadi diare akut dan diare kronis.
Diare akut ialah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang
sebelumnya sehat. Pada diare yang berlanjut lebih dari dua minggu disertai
kehilangan berat badan atau tidak bertambah berat badannya selama masa tersebut
disebut sebagai diare kronik. Sedangkan menurut Daldiyono (2006) diare kronis
berarti diare yang melebihi jangka waktu 15 hari sejak awal diare. Batasan waktu
15 hari tersebut merupakan suatu kesepakatan karena banyaknya usul untuk
menentukan batasan waktu diare kronik.
Diare didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang lunak dan cair. Urgensi
adalah sensasi defekasi yang tidak dapat ditunda. Ini dapat mengindikasikan
adanya iritabilitas rectum tetapi dapat pula terjadi ketika volume feses yang cair
terlalu banyak, sehingga menyebabkan rectum terlalu penuh sebagai tempat
penimbunan. Frekuensi hanya menggambarkan jumlah feses yang dikeluarkan
dan dapat atau tidak berhubungan dengan urgensi atau diare. Diare berdarah selalu
patologis dan biasanya mengindikasikan salah satu bentuk colitis atau yang
lainnya. Infeksi sering menjadi penyebab diare sementara akut. Diare pada pagi
hari yang berubah menjadi feses yang normal/butiran pada siang hari jarang
merupakan hal yang patologis. Diare yang terjadi pada pasien yang dirawat
meungkin disebabkan oleh infeksi Clostridium difficile (Sachasin, 2008).
2. Penyebab
Menurut Brunner & Suddarth (2001), penyebab diare ditinjau dari
patofisiologinya yaitu:
1. Diare sekresi (virus/kuman, hiperperistaltik usus halus, defisiensi
imun/SigA).
2. Diare osmotik (malabsorpsi makanan, kurang energi protein, bayi berat
badan lahir rendah)
Penyebab diare ditinjaudari jenis diare yang diderita yaitu:
1. Diare akut
a. Rotavirus merupakan penyebab diare nonbakteri (gastroenteritis) yang
paling sering
b. Bakteri penyebab diare akut antara lain organisme Eschericia coli dan
Salmonella serta Shigella. Diare akibat toksin Clostridium difficile
dapat diberikan terapi antibiotik.
c. Penyebab lain diare akut adalah infeksi lain (misal infeksi traktus
urinarius dan pernapasan atas), pemberian makan yang berlebihan,
antibiotik, toksin yang teringesti, irritable bowel syndrome,
enterokolitis, dan intoleransi terhadap laktosa.
2. Diare kronis biasanya dikaitkan dengan satu atau lebih penyebab berikut
ini:
a. Sindrom malabsorpsi
b. Defek anatomis
c. Reaksi alergik
d. Intoleransi laktosa
e. Respons inflamasi
f. Imunodefisiensi
g. Gangguan motilitas
h. Gangguan endokrin
i. Parasit
j. Diare nonspesifik kronis
3. Faktor predisposisi diare antara lain usia yang masih kecil, malnutrisi,
penyakit kronis, penggunaan antibiotik, air yang terkontaminasi, sabitasi
atau higiene buruk, pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak
tepat.
3. Tanda dan Gejala
Manifestasi klinis berdasarkan tingkat keparahan diare yaitu:
1. Diare ringan dengan karakteristik sedikit pengeluaran feses yang encer
tanpa gejala lain.
2. Diare sedang dengan karakterisitk pengeluaran feses cair atau encer
beberapa kali, peningkatan suhu tubuh, muntah dan iritabilitas
(kemungkinan), tidak ada tanda-tanda dehidrasi (biasanya), dan kehilangan
berat badan atau kegagalan menambah berat badan.
3. Diare berat dengan karakteristik pengeluaran feses yang banyak, gejala
dehidrasi sedang sampai berat, terlihat lemah, menangis lemah, iritabilitas,
gerakan yang tak bertujuan, respons yang tidak sesuai, dan kemungkinan
letargi, sangat lemah, atau terlihat koma.
4. Gejala-gejala terkait dapat meliputi demam, mual, muntah, dan batuk
(Betz, 2010).

Tabel Bentuk Klinis Diare


Sumber: WHO (2005)
Manifestasi klinis yang bisa muncul dari diare adalah sebagai berikut.
a. Anak menjadi cengeng.
b. Gelisah.
c. Suhu badan dapat meningkat.
d. Nafsu makan berkurang atau tidak ada.
e. Tinja makin cair dan mungkin mengandung darah atau lender.
f. Warna tinja berubah menjadi kehjau-hijauan karena tercampur empedu.
g. Anus dan sekitarnya lecet karena tinja menjadi asam.
h. Muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
i. Dehidrasi bila telah banyak kehilangan air dan elektroli.
j. Berat adan menurun.
k. Ubun-ubun besar menjadi cekung pada bayi.
l. Tonus dan turgor kulit berkurang.
m. Turgor kulit menurun.
n. Frekuensi nafas cepat.
o. Denyut nadi cepat.
p. Tekanan darah menurun.
q. Ujung-ujung ekstremitas dingin, dan terkadang terjadi sianosis (Mansjoer,
2008).
4. Penatalaksanaan di Rumah
Tiga elemen utama dalam tatalaksana semua anak dengan diare adalah
terapi rehidrasi, pemberian zinkdan lanjutkan pemberian makan. Selama anak
diare, terjadi peningkatan hilangnya cairan dan elektrolit (natrium, kalium dan
bikarbonat) yang terkandung dalam tinja cair anak. Dehidrasi terjadi bila
hilangnya cairan dan elektrolit ini tidak diganti secara adekuat, sehingga timbullah
kekurangan cairan dan elektrolit. Derajat dehidrasi diklasifikasikan sesuai dengan
gejala dan tanda yang mencerminkan jumlah cairan yang hilang. Rejimen
rehidrasi dipilih sesuai dengan derajat dehidrasi yang ada.
Zink merupakan mikronutrien penting untuk kesehatan dan perkembangan
anak. Zink hilang dalam jumlah banyak selama diare. Penggantian zink yang
hilang ini penting untuk membantu kesembuhan anak dan menjaga anak tetap
sehat di bulan-bulan berikutnya. Telah dibuktikan bahwa pemberian zink selama
episode diare, mengurangi lamanya dan tingkat keparahan episodediare dan
menurunkan kejadian diare pada 2-3 bulan berikutnya.
Berdasarkan bukti ini, semua anak dengan diare harus diberi zink, segera
setelah anak tidak muntah. Selama diare, penurunan asupan makanan dan
penyerapan nutrisi dan peningkatan kebutuhan nutrisi, sering secara bersama-
sama menyebabkan penurunan berat badan dan berlanjut ke gagal tumbuh. Pada
gilirannya, gangguan gizi dapat menyebabkan diare menjadi lebih parah, lebih
lama dan lebih sering terjadi, dibandingkan dengan kejadian diare pada anak yang
tidak menderita gangguan gizi. Lingkaran setan ini dapat diputus dengan memberi
makanan kaya gizi selama anak diare dan ketika anak sehat. Obat antibiotik tidak
boleh digunakan secara rutin. Antibiotik hanyabermanfaat pada anak dengan diare
berdarah (kemungkinan besar shigellosis), suspek kolera,dan infeksi berat lain
yang tidak berhubungan dengan saluran pencernaan, misalnya pneumonia.
Obat anti-protozoa jarang digunakan. Obat-obatan “anti-diare” tidakboleh
diberikan pada anak kecil dengan diare akut atau diare persisten atau disenteri.
Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak,
malah dapat menimbulkan efek samping berbahaya dan terkadang berakibat fatal.
Ajari ibu mengenai 4 aturan untuk perawatan di rumah:
1) beri cairan tambahan
2) beri tablet Zinc
3) lanjutkan pemberian makan
4) nasihati kapan harus kembali
Beri cairan tambahan, sebagai berikut:
1) Jika anak masih mendapat ASI, nasihati ibu untuk menyusui anaknya lebih
sering dan lebih lama pada setiap pemberian ASI. Jika anak mendapat ASI
eksklusif, beri larutan oralit atau air matang sebagai tambahan ASI dengan
menggunakan sendok. Setelah diare berhenti, lanjutkan kembali ASI
eksklusif kepada anak, sesuai dengan umur anak.
2) Pada anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri satu atau lebih cairan
di bawah ini:
a) larutan oralit
b) cairan rumah tangga (seperti sup, air tajin, dan kuah sayuran)
c) air matang
d) Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, nasihati ibu untuk memberi cairan
tambahan – sebanyak yang anak dapat minum:
e) untuk anak berumur < 2 tahun, beri + 50–100 ml setiap kali anak BAB
f) untuk anak berumur 2 tahun atau lebih, beri + 100–200 ml setiap kali anak
BAB.
Rencana Terapi A: Penaganan Diare di Rumah
Sumber: WHO (2005)
5.Pencegahan
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan yaitu:
a. Bayi sampai umur 4 bulan hanya diberi ASI saja (ASI eksklusif)
b. Rebus dahulu botol susu atau dot sebelum diberikan kepada bayi
c. Cuci tangan dengan sabun sebelum makan
d. Sayuran, buah dan bahan makanan harus dicuci sebelum dimasak atau
dimakan
e. Selalu minum air yang telah direbus (air masak atau air matang)
f. Memasak makanan dengan cara yang benar
g. Makanan harus dilindungi dari hinggapan lalat dan kecoa
Cara pencegahan diare yang benar dan efektif yang dapat dilakukan adalah
a. Memberikan ASI
b. Memperbaiki makanan pendamping ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Mencuci Tangan
e. Menggunakan Jamban
f. Membuang tinja bayi yang benar
g. Memberikan imunisasi campak
a. Pemberian ASI
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan tersedia
dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna diserap secara optimal oleh
bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan,
tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini.
ASIsteril , berbeda dengan sumber susu lain yaitu susu formula atau cairan
lain disiapkan dengan air atau bahan-bahan yang terkontaminasi dalam botol yang
kotor. Pemberian ASI saja, tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa
menggunakan botol, menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme lain
yang akan menyebabkan diare . Keadaan seperti ini disebut disusui secara penuh.
Bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6 bulan . Setelah
6 bulan dari kehidupannya ,pemberianASI harus diteruskan sambil ditambahkan
dengan makanan lain (proses menyapih). ASI mempunyai khasiat preventif secara
imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut
memberikan perlindungan terhadap diare.
1. Pengertian Mencuci Tangan

Cuci tangan adalah salah satu bentuk kebersihan diri yang paling penting.
Selain itu mencuci tangan juga dapat diartikan menggosok menggunakan dengan
sabun secara bersama seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas
yang kemudian dibilas dibawah air yang mengalir.

2. Tujuan Mencuci Tangan


a. Supaya tangan bersih dari kuman dan kotoran.
b. Menghindari masuknya kuman ke dalam tubuh.

c. Membina Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

3. Alasan Harus Mencuci Tangan yang Benar dengan Sabun

a. Air bersih yang mengalir membersihkan kotoran dan kuman.

b. Sabun dapat membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena


tanpa sabun kotoran masih tertinggal di tangan.

4. Waktu Harus Mencuci Tangan yang Benar

a. Sebelum dan setelah makan.

b. Sebelum melakukan kegiatan apapun yang memasukkan jari ke dalam


mulut.

c. Setelah buang air kecil dan besar.

d. Setelah buang sampah/ingus.

e. Setelah memegang sesuatu yang kotor.

f. Setelah menyentuh hewan peliharaan.

g. Sebelum mengobati luka

5. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Mencuci Tangan

a. Diare atau mencret

b. Infeksi cacing

c. Penyakit kulit, dll.

6. Cara Mencuci Tangan


a. Persiapan Alat dan Bahan

1. Air mengalir

2. Handuk/ tisu

3. Sabun

b. Cara Mencuci Tangan yang Benar

1. Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir.

2. Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan. Akan lebih


baik bila sabun mengandung antiseptik.

3. Gosoklah kedua telapak tangan. Gosokkan sampai ke ujung jari.

4. Telapak tangan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya)


dengan jari- jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan
kanan dan kiri. Gosok sela - sela jari tersebut. Lakukan sebaliknya.

5. Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan


saling mengunci.

6. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak kiri dengan gerakan
berputar. Lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri.

7. Gosok telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya,


gerakan ke depan, ke belakang dan berputar. Lakukan sebaliknya.

8. Pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri dan lakukan


gerakan memutar. Lakukan pula untuk tangan kiri.

9. Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir.

10. Keringkan tangan dengan menggunakan tissue dan bila


menggunakan kran, tutup kran dengan tissue.
DAFTAR PUSTAKA

Apriningsih. 2009. Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan Anak. Jakarta:


EGC.
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1998.
Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika Jakarta.
Betz, S. 2010. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.
Brunner &Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Daldiyono. 2006. Diare Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta: Infomedika
Mansjoer, A., dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius.
Sachasin, R. 2008. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.
Sujono, Hadi. 2006. Gastroenterologi.Alumni. Bandung.
WHO. 2005. Penatalaksanaan Gastroenteritis. [diakses10 Maret 2016].
Lampiran 2: Leaflet
Lampiran 2

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No. 37 Jember Telp./Fax. (0331) 323450

BERITA ACARA

Pada hari Senin tanggal 24 September 2018 jam 09.00 s/d 09.30 WIB bertempat
di Ruang Perintologi RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo telah dilaksanakan
kegiatan Pendidikan Kesehatan tentang Diare oleh Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Kegiatan ini
diikuti oleh orang (daftar hadir terlampir).

Situbondo, …. Desember 2018


Mengetahui,

Pembimbing Klinik
Ruang Perintologi
RSUD dr. . Abdoer Rahem Situbondo

-------------------------------------

Lampiran 3
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No. 37 Jember Telp./Fax. (0331) 323450

DAFTAR HADIR
Kegiatan Pendidikan Kesehatan Diare oleh Mahasiswa Program Studi Pendidikan
Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember tanggal 24 Desember
2018 jam 09.00 s/d 09.30 WIB bertempat di Ruang Perintologi RSUD dr. Abdoer
Rahem Situbondo.
NO NAMA ALAMAT TANDA
TANGAN
1. 1.
2. 2.
3. 3.
4. 4.
5. 5.
6. 6.
7. 7.
8. 8.
9. 9.
10. 10.
11. 11.
12. 12.

Situbondo, …. Desember 2018


Mengetahui,

Pembimbing Klinik
Ruang Perintologi
RSUD dr. . Abdoer Rahem Situbondo

-------------------------------------