Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN

ACTIVITY BASED MANAGEMENT

Disusun Oleh:

Kelompok III

ANISATUN HUMAYRAH RAIS (A061181004)

NUR RAHMA A.S (A061181020)

MARIA NATALIA WAINIP EPIN (A062181028)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

PASCA SARJANA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang atas
rahmat-Nya, maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah mata kuliah
Akuntansi Manajemen Lanjutan yang berjudul, “Activity Based Management.”
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas untuk mata kuliah Akuntansi
Manajemen.

Dalam Penulisan makalah ini, kami merasa masih banyak kekurangan,


baik dalam materi maupun cara penulisan. Untuk itu kritik dan saran dari semua
pihak sangat kami harapkan demi menyempurnakan isi makalah ini. Kami
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat secara
langsung maupun tidak langsung atas sumber-sumber materi sebagai bahan
referensi yang membantu dalam penyusunan makalah ini.

Hormat kami,

Kelompok Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar...................................................................................................ii

Daftar Isi............................................................................................................iii

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang ............................................................................................1


B. Rumusan Masalah .......................................................................................2
C. Tujuan ........................................................................................................3

Bab II Pembahasan

A. Manajemen Berdasarkan Aktivitas Dan Hubungannya Dengan Perhitungan


Biaya Berdasarkan Aktivitas .......................................................................4
1. Mengimplementasikan ABM.................................................................6
2. ABM Dan Akuntansi Pertanggungajawaban ..........................................6
B. Analisis Nilai Proses ...................................................................................6
1. Pengukuran Kinerja Aktivitas ................................................................6
2. Analisis Aktivitas ..................................................................................7
3. Analisis Penggerak ................................................................................7
C. Ukuran Kinerja Aktivitas ............................................................................8
1. Pelaporan Biaya Bernilai Dan Tak Bernilai Tambah ..............................8
2. Pelaporan Tren ......................................................................................9
3. Peran Standar Kaizen ............................................................................9
4. Benchmarking .......................................................................................9
5. Pengaruh Penggerak Dan Perilaku .........................................................9
6. Manajemen Kapasitas Dan Aktivitas .....................................................9
D. Pengaruh Biaya Pelanggan ..........................................................................10
1. Perhitungan Biaya Pelanggan Berdasarkan Aktivitas .............................10
2. Perhitungan Biaya Pemasok Berdasarkan Aktivitas ...............................10

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dasar dari pembicaraan tentang ABM ini yakni kita harus pahambetul
dulu tentang system ABC karena di dalam perkembangan system ABC adalah
hal yang sangat mendasar dari penerapan metode AMB ini. Hal ini sejalan
dengan yang di ungkapkan oleh Azizi Ismail, N. (2010: 4) “ ABM, on the
other hand, refers to the use of ABC information to understand and to make
beneficial changes in the way institutions do their business in an environment
of limited resources and increasing demands. It is a strategic tool that allows
managers to: quantify the value of products and services; use a common
language for benchmarking; look at their activities with a process view; and
choose courses of action based upon ABC information.”
Sebelum kita mendalami soal ABM sendiri haruslah kita pahami dulu
tentang apa yang sebenarnya di maksud dari ABM sendiri dan apa penegrtian
yang kompleks dari system ini, activity based management atau ABM atau
lebih kita kenal dengan Manajemen berdasarkan aktivitas yakni merupakan
aktivitas yang berfokus pada aktivitas dengan tujuan memperbaiki nilai bagi
para pelanggan dan meningkatkan profitabilitas yang kokoh. Di dalam ABM
sendiri kita mengenal ada terdapat dua sudut pandang yakni sudut pandang
biaya dan sudut pandang proses, yang di mana sudut pandang biaya yakni
sudut pandang yang berkaitan dengan pembebanan biaya secara akurat
sedangkan sudut pandang proses yakni sudut pandang yang berkaitan dengan
pengurangan biaya dengan mengeliminasi pemborosan.
Pembahasan dari pengertian ABM sama dengan pendapat yang
diungkapkan oleh Muskitta, Morasa, dan Alexander (2018) di dalam
jurnalnya yakni “Pengelolaan aktivitas (activity based management)
merupakan suatu proses pengidentifikasian aktivitas yang dijalankan oleh
perusahaan, penentuan nilainya bagi perusahaan, pemilihan serta
pelaksanaan aktivitas yang menambah nilai bagi konsumen,
mengidentifikasikan atau menghilangkan semua aktivitas tak bertambah nilai
dan memperbaiki aktivitas bernilai tambah sehingga menghasilkan

1
penurunan biaya. Pengidentifikasian aktivitas dapat dibagi menjadi dua
yaitu, aktivitas yang benilai tambah (value added activity) dan aktivitas yang
tak bernilai tambah (non value added activity). Metode untuk mengelola
aktivitas tersebut dinamakan manajemen berdasarkan aktivitas (Activity
Based Management).”
Didalam AMB ada terdapat analisis nilai proses yang mana disini
analisis nilai proses akan menyediakan informasi tentang alasan dari suatu
pekerjaan harus dilakukan dan seberapa baik pekerjaan tersebut dilakukan.
Kemudian didalam ABM juga terdapat ukuran kinerja aktivitas yang
mana kinerja aktivita ini dievaluasi dengan menggunakan tiga dimensi:
efisiensi, kualitas, dan waktu.
Yang terakhir dari pembahasan kita pada materi ABM yakni tentang
perhitungan biaya dan pemasok berdasarkan aktivitas, dimana penelusuran
biayanya dapat digerakan oleh pelanggan kepada pelanggan lainnya dan hal
ini dapat menyediakan informasi penting bagi manajer. Penelusuran biaya
dari pemasok kepada pemasok akan lebih memungkinkan manajer untuk
memilih pemasok yang benar – benar berbiaya rendah sehingga dapat
menghasilkan keunggulan bersaing yang lebih tinggi dan meningkatkan
profitabilitas.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Mendeskripsikan Manajemen Berdasarkan Aktivitas Dan
Menjelaskan Hubungannya Dengan Perhitungan Biaya Berdasarkan
Aktivitas?
2. Bagaimana Analisis Nilai Proses?
3. Bagaimana Mendeskripsikan Ukuran Kinerja Aktivitas?
4. Bagaimana Perhitungan Biaya Pelanggan dan Pemasok Berdasarkan
Aktivitas?

2
C. TUJUAN
1. Menjelaskan Bagaimana Mendeskripsikan Manajemen Berdasarkan Aktivitas
Dan Hubungannya Dengan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
2. Menjelaskan Analisis Nilai Proses
3. Menjelaskan Cara Mendeskripsikan Ukuran Kinerja Aktivitas
4. Menjelaskan Perhitungan Biaya Pelanggan dan Pemasok Berdasarkan
Aktivitas

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. MANAJEMEN BERDASARKAN AKTIVITAS DAN HUBUNGANNYA


DENGAN PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS;
Manajemen berdasarkan aktivitas (activity-based management-ABM)
adalah pendekatan untuk keseluruhan system yang terintegrasi dan berfokus
pada perhatian manajemen atas berbagai aktivitas dengan tujuan
meningkatkan nilai bagi pelanggan dan nilai yang dicapai dengan
mewujudkan nilai ini. ABC adalah sumber utama informasi manajemen
berdasarkan aktivitas. Jadi model manajemen berdasarkan aktivitas memiliki
dua dimensi: Dimensi biaya dan dimensi proses.
Menurut Ermawijaya (2017:1) dalam Perusahaan activity based
management dituntut untuk dapat mengidentifikasi aktivitas-aktivitas
produksi yang dilakukan dan perhitungan biaya produksi yang
menentukan harga penjualan dari produk perusahaan.
Pengidentifikasian aktivitas dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu; aktivitas
bernilai tambah (value added activity) dan aktivitas tidak bernilai tambah
(non value added activity).
Perusahaan cenderung menerapkan sistem akuntansi tradisional dan
sistem pemerataan biaya yang terbukti memiliki banyak kelemahan dan
tidak sesuai lagi dengan kondisi perusahaan yang beroperasi dalam
lingkungan yang dinamis karena hanya terfokus pada pengelolaan biaya
dan pengalokasian biaya overhead pabrik ke produk dan pelanggan yang
didasarkan pada volume produksi, karena tidak semua pemicu biaya adalah
volume produksi, tetapi aktivitas yang menyebabkan biaya.
Menurut Blocher (2013:17) bahwa untuk mencapai low cost producer,
perusahaan tidak boleh menggunakan aktivitas tidak bernilai tambah berada
dalam operasinya sehingga konsep ABM dapat mencapai tujuan ini. Dengan
menghilangkan biaya yang tidak bernilai tambah, suatu perusahaan dapat
menekankan biaya produknya menjadi lebih rendah tanpa mengurangi
kualitas dimata konsumen. Pengurangan atau pengeliminasian aktivitas tidak

4
bernilai tambah ini dapat dikurangi atau dieliminasi dengan terlebih dahulu
mencari penyebab timbulnya aktivitas tidak bernilai tambah tersebut. Setelah
diketahui penyebabnya maka dapat di ambil tindakan perbaikan terhadap
penyebab aktivitas yang tidak bernilai tambah.
Menurut Kalonio et all. (2017:1), Manajemen berdasarkan aktivitas
adalah pendekatan untuk keseluruhan sistem yang terintegrasi dan berfokus
pada perhatian manajemen atas berbagai aktivitas dengan tujuan
meningkatkan nilai bagi pelanggan dan laba yang dicapai dengan
mewujudkan nilai ini. Manajemen berdasarkan aktivitas meliputi analisis
perhitungan biaya produk berdasarkan aktivitas memberikan informasi
mengenai biaya sumber daya, aktivitas, produk, dan pelanggan. Penentuan
biaya sumber daya yang tepat dan akurat dapat ditelusuri ke aktivitas –
aktivitas kemudian biaya aktivitas tersebut dibebankan ke produk dan
pelanggan. Sedangkan analisis nilai dan proses memberikan informasi tentang
aktivitas apa saja yang dilakukan, mengapa aktivitas tersebut dilakukan, dan
bagaimana pelaksanaan aktivitas tersebut.
Pengelolaan aktivitas (activity management) merupakan suatu proses
pengidentifikasian aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan, penentuan
nilainya bagi perusahaan, pemilihan serta pelaksanaan aktivitas yang
menambah nilai bagi konsumen, mengidentifikasikan atau menghilangkan
semua aktivitas tak bernilai tambah sehingga menghasilkan penurunan biaya
pengidentifikasian aktivitas ini dapat dibagi 2 (dua) yaitu aktivitas yang
bernilai tambah (value added activity) dan aktivitas yang tak bernilai tambah
(non value activity).
Menurut Pokorná.(2015:2). “Managers can measure cost of products,
customers, divisions, departments, product lines, regions, or a combination of
these. Utilizing the information from activity based costing in the business
management is called activity based management. In practice the border
between ABC and ABM is not clear, that is why the term activity based
costing/management is widely used”.

5
1. Mengimplementasikan ABM
Manajemen berdasarkan Aktivitas (ABM) adalah sistem yang lebih
komperhensif dari pada sistem ABC. ABM menambahkan pandangan
proses pada pandangan biaya dalam ABC. ABM melibatkan ABC dan
menggunakannnya sebagai sumber informasi utama. ABM dapat
dipandang sebagai sistem informasi yang bertujuan memperbaiki
pengambilan keutusan dengan menginformasikan biaya yang akurat dan
mengurangi biaya dengan mendorong serta mendukung berbagai usaha
berkelanjutan.
2. ABM dan Akuntansi Pertanggungajawaban
Akuntansi pertanggungjawaban adalah alat fundamental untuk
pengendalian manajemen yang ditentukan melalui empat elemen penting,
yaitu pemberian tanggungjawab, pembuatan ukuran kinerja atau
banchmarking, pengevaluasian kinerja dan pemberian penghargaan.
Akuntansi pertanggungjawaban bertujuan memengaruhi perilaku
dalamcara tertentu sehingga seseorang atau kegiatan perusahaan akan
disesuaikan untuk memenuhi tujuan bersama.

B. ANALISIS NILAI PROSES


Analisis nilai proses adalah hal yang fundamental bagi akuntansi
pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas. Analisis nilai proses membantu
mengubah berbagai konsep akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan
aktivitas dari tingkat konseptual menjadi operasional. Analisis proses
berkaitan dengan analisis penggerak, analisis aktivitas dan pengukuran
kinerja aktivitas.
1. Analisis Penggerak
Analisis penggerak menekankan bagaimana untuk mencari penyebab
utama biaya aktivitas. Dan dalam setiap aktivitas memiliki masukan dan
keluaran. Masukan aktivitas merupakan sumber daya yang dibutuhkan
oleh aktivitas untuk memproduksi keluaran, misalnya: membuat program
komputer maka yang menjadi masukan adalah programmer, komputer,
printer, kertas komputer dan disket. Sedangkan keluaran aktivitas adalah

6
hasil atau produk dari aktivitas, dari contoh di atas maka keluarannya
adalah program komputer.
2. Analisis Aktivitas
Fokus utama dari analisis nilai proses adalah analisis aktivitas. Analisis
aktivitas adalah proses untuk mengidentifikasi, menjelaskan dan
mengevaluasi berbagaiaktivitas yang dilakukan oleh perusahaan. Analisis
aktivitas harus menunjukan empat hasil.
 Aktivitas apa saja yang dilakukan.
 Berapa banyak orang yang melakukan aktivitas tersebut.
 Waktu dan sumber saya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai
aktivitas.
 Penilaian atas nilai aktivitas bagi perusahaan, termasuk saran untuk
mmilih dan mempertahankan berbagai aktivitas yang menambah nilai.

Hal ini merupakan bagian yang paling penting dalam analisis aktivitas.
Berbagai aktivitas tersebut dapat diklasifikasikan sebagai bernilai tambah
atau tak bernilai tambah.

Aktivitas Bernilai Tambah

Berbagai aktivitas yang dibutuhkan untuk dapat bertahan dalam bisnis


disebut sebagai aktivitas yang bernilai tambah. Diklasifikasikan sebagai
aktivitas bernilai tambah jika memenuhi syarat :

a) aktivitas yang menghasilkan perubahan kondisi


b) perubahan kondisi yang tidak dapat dicapai melalui aktivitas
sebelumnya.
c) Aktivitas yang memungkinkan berbagai aktivitas lainnya dilakukan.
3. Pengukuran Kinerja Aktivitas
Hal yang mendasar bagi usaha manjemen dalam meningkatkan
profitabilitas maka diperlukan pengukuran aktivitas seberapa baik proses
yang telah dilakukan. Pengukuran ini dapat dilihat dari segi keuangan dan
non keuangan. Ukuran ini juga dirancang untuk mengetahui adanya

7
perbaikan berkelanjutan. Pengukuran kinerja aktivitas berpusat pada tiga
dimensi utama yaitu: efisiensi , kualitas dan waktu.

C. UKURAN KINERJA AKTIVITAS


Ukuran keuangan untuk efisiensi aktivitas meliputi :
1. Pelaporan biaya bernilai dan tak bernilai tambah
Pelaporan ini adalah cara untuk meningkatkan efisiensi
aktivitas. Suatu sistem akuntansi perusahaan seharusnya membedakan
antara biaya bernilai tambah dan tak bernilai tambah karena
memperbaiki kinerja aktivitas membutuhkan penghapusan tak bernilai
tambah dan mengoptimalkan aktivitas bernilai tambah. Mengetahui
jumlah biaya yang dihemat merupakan hal yang penting bagi tujuan
strategis. Dengan membandingkan biaya aktual dengan biaya aktivitas
bernilai tambah, manajemen dapat menilai tingkat ketidak efisienan
aktivitas dan menentukan potensi untuk perbaikan.Biaya bernilai
tambah ( standar quantities – SQ) dapat dihitung dengan mengalikan
kuantitas standar bernilai tambah dengan standar harga ( standar price
– SP ).
Biaya tak bernilai tambah dapat dihitung sebagai perbedaan
anatara output aktual tingkat aktivitas (activity quantity – AQ) dan
tingkat bernilai tambah ( SQ) dikalikan dengan biaya standar per unit.

Biaya bernilai tambah = SQ x SP

Biaya tak bernilai tambah = (AQ- SQ) SP

Dimana, SQ = Tingkat keluaran bernilai tambah untuk suatu


aktivitas

SP = Harga standar per unit ukuran keluaran aktivitas

AQ = Kuantitas actual dari keluaran aktivitas yang digunakan atau


kuantitas actual dari kapasitas aktivitas yang diperoleh.

8
2. Pelaporan Tren
Ketika perusahaan mengambil berbagai tindakan untuk
memperbaiki baebagai aktivitas, apakah penurunan biaya akan
langsung terjadi ? salah satu cara menjawab pertanyaan ini adalah
membandingkan berbagai biaya untuk tiap aktivitas dengan
berjalannya waktu. Tujuannya adalah perbaikan aktivitas yang diukur
melalui pengurangan biaya sehingga kita dapat melihat penurunan
biaya tak bernilai tambah dari satu periode ke periode berikutnya.
3. Peran Standar Kaizen
Perhitungan biaya Kaizen berkaitan dengan penurunan biaya
berbagai produk dan proses yang telah ada. Dalam operasional
perhitungan biaya ini mengarah pada penurunan biaya yang tak
bernilai tambah. Pengendalian berbagai proses penurunan biaya ini
dapat dicapai melaluai penggunaan berualang dua subsiklus utama. 1.
Kaizen atau perbaikan berkelanjutan. 2. Siklus pemeliharaan.
Subsiklus kaizen ditentukan oleh rangkaian Plan-Do-Check-Action.
4. Benchmarking
Pendekatan lain untuk penetapan standar yang digunakan
untuk mengidentifikasi berbagai peluang perbaikan aktivitas disebut
sebagai benchmarking.
5. Pengaruh Penggerak dan Perilaku
Ukuran output aktivitas dibutuhkan untuk menghitung dan menelusuri
berbagai biaya tak bernilai tambah. Jika kinerja suatu tim dipengaruhi
oleh kemampuannya untuk mengurangi biaya tak bernilai tambah,
maka seleksi sebagai penggerak aktivitas dan cara bagaimana mereka
digunakan dapat mempengaruhi perilaku.
6. Manajemen Kapasitas dan Aktivitas
Kapasitas aktivitas adalah jumlah frekuensi suatu aktivitas
dapat dilakukan. Penggerak aktivitas mengukur kapasitas aktivitas.
Contohnya perusahaan produksi batchmenentukan kualitas
keseluruhan batch permintaan atas aktivitas pengawasan menentukan
jumlah kapasitas aktivitas yang dibutuhkan.

9
D. PENGARUH BIAYA PELANGGAN
Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas, keakuratan
perhitungan harga pokok diperbaiki dengan penelusuran biaya aktivitas
pada produk yang memakai aktivitas. ABC juga dapat digunakan menjadi
informasi penting untuk menentukan keakuratan biaya pelanggan dan
pemasok. Pengetahuan biaya pelanggan dan pemasok dapat menjadi
informasi penting untuk memperbaiki profitabilitas suatu perusahaan.

Perhitungan Biaya Pelanggan Berdasarkan Aktivitas

Biaya yang dipakai dibebankan pada aktivitas dan biaya aktivitas


dibebankan pada pelanggan.

Perhitungan Biaya Pemasok Berdasarkan Aktivitas

Biaya sumber daya yang dipakai dibebankan pada aktivitas-


aktivitas ini dan biaya aktivitas dibebankan pada pemasok terkait.

10
DAFTAR PUSTAKA

Azizi Ismail, N. (2010). Activity‐based management system implementation in


higher education institution. Campus-Wide Information Systems, 27(1),
40–52.doi:10.1108/10650741011011273
url to share this paper:sci-hub.se/10.1108/10650741011011273
Blocher, Stout, Cokins, 2014. “Manajemen Biaya”, buku I edisi delapan. Jakarta:
Salemba Empat.
Christanty J R Muskitta , Jenny Morasa , Stanly Alexander (2018). Analisis
Penerapan Activity Based Management Untuk Meningkatkan Efisiensi
Pada Hotel Gran Central Manado. Jurnal Riset Akuntansi Going Concern
13(3), 2018, 467-476
Don R. Hansen dan Maryanne M. Mowen, Akuntansi Manajerial, Salemba
Empat, Jakarta, 2013
Ermawijaya, Masri.2017 . Efisiensi Biaya Produksi Gula Berdasarkan Activity
Based Management System Pada Pt. Gunung Madu Plantations Ix Gunung
Batin Lampung Tengah. Jurnal ACSY Politeknik Sekayu Vol VI, No I,
Juni 2017.
Kalonio, dkk. 2017. “Penerapan Manajemen Berbasis Aktivitas Untuk
Meningkatkan Efisiensi Biaya Pada Whiz Prime Hotel Megamass
Manado”. Jurnal Riset Akuntansi Going Concern 12(2), 2017, 565-574
Pokorná Jana .2015. The Expansion Of Activity-Based Costing/Management In
The Czech Republic. Central European Journal Of Management ∙ 2015 ∙
Volume 2.

11