Anda di halaman 1dari 10

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Pada kurun waktu terakhir ini, korporasi semakin banyak terjadi dan semakin

berkembang baik dalam kuantitasnya, maupun pada macam-macam bidang usahanya. Di

Indonesia perkembangan yang dapat dikatakan luar biasa ini terjadi karena peranan

pemerintah melalui peraturan atau produk hukum yang memiliki banyak celah sehingga

memberikan kemudahan dan juga karena sifat dari korporasi ini sendiri yang ekspansif.

Korporasi ini juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang sehingga dapat

mengurangi pengangguran. Disisi lain, korporasi juga terdapat sisi negatifnya seperti

pencemaran, pengurasan sumber daya alam yang terbatas, persaingan curang, manipulasi

pajak dan lain sebagainya.

Seiring pertumbuhan korporasi yang semakin pesat dalam bidang kegiatan ekonomi,

muncul apa yang disebut dengan kejahatan korporasi. Kejahatan korporasi merupakan extra

ordinary crime. Bahkan dampaknya tidak hanya kerugian sesaat, tetapi berdampak dalam

waktu yang sangat lama.

Ternyata KUHP sebagai induk hukum pidana materiil tidak mengatur korporasi

sebagai subyek hukum pidana. KUHP Indonesia hanya menetapkan yang menjadi subjek

tindak pidana adalah orang perseorang (legal person). Sehingga KUHP Indonesia saat ini

tidak bisa dijadikan sebagai landasan untuk pertanggungjawabkan pidana oleh korporasi

melainkan hanya dimungkinkan untuk pertanggungjawaban pidana oleh pengurus korporasi.


B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan kejahatan korporasi?

2. Apa sebab-sebab terjadinya kejahatan korporasi?

3. Bagaimana sistem pertanggungjawaban pidana terhadap kejahatan korporasi menurut

hukum positif?
BAB II

Pembahasan

A. Pengertian Kejahatan Korporasi

Kata korporasi secara etimologis dikenal dari beberapa bahasa, yaitu Belanda dengan

istilah corporatie, Inggris dengan istilah corporation, Jerman dengan istilah Korporation, dan

bahasa latin dengan istilah corporatio (Muladi dan Dwidja Priyatno, 1991 : 12).

Dalam arti luas korporasi dapat berbentuk badan hukum maupun bukan badan

hukum. Dalam artinya yang sempit, korporasi merupakan sebagai badan hukum. Korporasi

merupakan badan hukum yang keberadaan dan kewenangannya untuk dapat atau berwenang

melakukan perbuatan hukum diakui oleh hukum perdata. Artinya hukum perdatalah yang

mengakui keberadaan korporasi dan memberikannya hidup untuk dapat atau berwenang

melakukan figur hukum. Demikian juga halnya dengan matinya korporasi itu diakui oleh

hukum.

Namun perkembangannya saat ini, korporasi tidak harus dimaknai hanya sebagai

badan hukum, tetapi harus diartikan lebih luas yaitu sebagai kumpulan terorganisasi orang

atau kekayaan, baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.

Seiring pertumbuhan korporasi yang semakin pesat dalam bidang kegiatan ekonomi,

muncul apa yang disebut dengan kejahatan korporasi. Kejahatan korporasi merupakan extra

ordinary crime. Bahkan dampaknya tidak hanya kerugian sesaat, tetapi berdampak dalam

waktu yang sangat lama.

Kejahatan diartikan sebagai suatu perbuataan yang oleh masyarakat dipandang

sebagai kegiatan yang tercela, dan pelakunya dikenakan hukuman (pidana). Sedangkan
korporasi adalah suatu badan hukum yang diciptakan oleh hukum itu sendiri dan mempunyai

hak dan kewajiban. Jadi, kejahatan korporasi adalah kejahatan yang dilakukan oleh badan

hukum yang dapat dikenakan sanksi. Dalam literature sering dikatakan bahwa kejahatan

korporasi ini merupakan salah satu bentuk White Collar Crime (kejahatan kerah putih).

Menurut Sutherland kejahatan kerah putih adalah sebuah perilaku keriminal atau

perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang dari kelompok yang memiliki

keadaan sosio- ekonomi yang tinggi dan dilakukan berkaitan dengan aktifitas pekerjaannya.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan korporasi pada umumnya

dilakukan oleh orang dengan status social yang tinggi dengan memanfaatkan kesempatan dan

jabatan tertentu yang dimilikinya. Dengan kadar keahlian yang tinggi dibidang bisnis untuk

mendapatkan keuntungan dibidang ekonomi.

B. Sebab-Sebab Terjadinya Kejahatan Korporasi

Keinginan korporasi untuk terus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya

mengakibatkan terjadinya tindakan pelanggaran hukum. Korporasi, sebagai suatu badan

hukum, memiliki kekuasaan yang besar dalam menjalankan aktivitasnya sehingga sering

melakukan aktivitas yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, bahkan selalu

merugikan berbagai pihak. Walaupun demikian, banyak korporasi yang lolos dari kejaran

hokum sehingga tindakan kejahatan korporasi semakin meluas dan tidak dapat dikendalikan.

Dengan mudahnya korporasi menghilangkan bukti-bukti atas segala kejahatannya terhadap

masyarakat. Sementara itu, tuntutan hukum terhadap perilaku buruk korporasi tersebut selalu

terabaikan karena tidak ada ketegasan dalam menghadapi masalah ini.

C. Sistem pertanggungjawaban pidana terhadap kejahatan Korporasi

Pada mulanya, subyek hukum pidana hanya naturlijke persoon, sedangkan korporasi

tidak diakui sebagai subyek hukum pidana. Hal ini karena diberlakukannya asas universtas

delinquere non potest. Namun, kemungkinan adanya pemidanaan terhadap korporasi

didasarkan tidak saja atas pertimbangan utilitas, melainkan atas dasar teoritis juga dibenarkan.
Dijadikannya korporasi sebagai subyek hukum pidana bukanlah hal baru, sejak

dahulu menurut Maine, korporasi sudah menjadi subyek hukum pidana. Bahkan di Indonesia

dahulu desa sebagai korporasi juga dikenai pidana denda.

Sahetapy, menilai bahwa mereka yang menolak korporasi sebagai subyek hukum

pidana, karena berpendirian bahwa korporasi adalah “persona ficta” (subyek/manusia fiksi),

dapatlah dibenarkan. Namun, apabila diperhatikan dalam kehidupan sosial ekonomi, maka

gerak-gerik korporasi tersebut harus dikendalikan oleh hukum, dan apabila menyimpang,

maka korporasi dapat dipertanggungjawabkan.

Pertanggungjawaban pidana lahir dengan diteruskannya celaan (verwijbaarheid) yang

obyektif terhadap perbuatan yang dinyatakan sebagai tindak pidana berdasarkan hukum

pidana yang berlaku, dan secara subyektif kepada pelaku yang memenuhi persyaratan untuk

dapat dikenakan pidana karena perbuatannya itu. Hal itu didasarkan pada asas “actus non

facit reum nisi mens sit rea”, orang tersebut akan dipidana apabila dia mempunyai kesalahan.

Jauh sebelum itu, Sudarto menyatakan bahwa:

“Dipidananya seseorang tidaklah cukup apabila orang itu telah melakukan perbuatan

yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatan

tersebut memenuhi rumusan delik dalam undang-undang, namun untuk pemidanaan masih

perlu adanya syarat untuk menjatuhkan pidana, bahwa orang yang melakukan perbuatan itu

mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt).”

Jadi pertanggungjawaban pidana berbicara kesalahan dalam hukum pidana. Adanya

kesalahan menjadi yang pertama untuk dicari. Roeslan Saleh sependapat dengan Moeljatno

bahwa mampu bertanggungjawab, kesengajaan, kealpaan, serta tidak adanya alasan pemaaf,

merupakan unsurunsur kesalahan.

Reid juga menulis bahwa :

“the law requires criminal intent, or mens rea, the element required to establish

culpability. This element is extremely important, for in many cases it will be the critical factor

in determining whether and act was or was not a crime.”


Di Indonesia prinsip pertanggungjawaban korporasi (corporate liability) tidak diatur

dalam KUHP, melainkan tersebar dalam hukum pidana khusus. Tidak dikenalnya prinsip

pertanggungjawaban korporasi dalam KUHP ini dikarenakan subjek tindak pidana yang

dikenal dalam KUHP adalah orang dalam konotasi biologis yang alami (natuurlijke persoon).

Di samping itu, KUHP juga masih menganut asas sociates delinquere non potest dimana

badan hukum dianggap tidak dapat melakukan tindak pidana. Dengan demikian, pemikiran

fiksi tentang sifat badan hukum (rechspersoonlijkheid) tidak berlaku dalam bidang hukum

pidana.

korporasi saat ini diterima sebagai subyek hukum dan diperlakukan “sama” dengan

subyek hukum yang lain yaitu manusia alamiah. Dengan demikian korporasi dapat bertindak

seperti manusia pada umumnya. Mengingat kerugian yang ditimbulkan korporasi jauh lebih

besar maka perlu langkah-langkah sebagai upaya penanggulangan kejahatan korporasi.

Pendayagunaan hukum pidana menjadi harapan sebagai salah satu upaya yang penting dalam

penanggulangan kejahatan korporasi.

Pengaturan tentang korporasi antara lain dalam Undang-Undang :

1. Drt. No. 7 Tahun 1955 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak

Pidana Ekonomi.

2. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

3. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

4. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,

tentang Perubahan.

5. Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

6. Undang-Undang No. 8 Tahun Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

7. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan

Usaha Tidak Sehat.

8. Undang-Undang No. 31 Tahun 1999.

9. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi.
10. Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 jo.

11. Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Jika suatu korporasi dikenai suatu hukuman atas kejahatan, kepada siapa

hukuman tersebut akan dikenakan? Jawaban yang masuk akal adalah direktur

perusahaan. Menurut ‘identification’, tanggung jawab perusahaan sering didasarkan

atas kejahatan yang dilakukan direktur atau para eksekutifnya. Sayangnya, hal itu

akan terlihat sangat tidak adil bagi direktur yang selalu menjalankan bisnisnya sesuai

dengan hukum yang berlaku. Oleh karena itu diperlukan adanya keseimbangan

tanggung jawab terhadap kejahatan korporasi dari direktur, eksekutif, manajer, dan

karyawan. Setiap individu harus bertanggung jawab baik secara moral maupun

hukum atas keputusan dan tindakan mereka. Jika seseorang melakukan tindakan

kejahatna melalui perusahaan, maka tuntutan hukum seharusnya dikenakan terhadap

orang tersebut, bukan terhadap perusahaan, terutama jika tindakan kejahatan tersebut

tidak memberikan keuntungan terhadap perusahaan. Perusahaan bertindak melalui

individu tetapi individu juga bertindak melalui perusahaan. Oleh karena itu, tanggung

jawab atas suatu tindakan kejahatan yang dilakuakan individu seharusnya tidak

dilimpahkan kepada perusahaan. Begitu juga sebaliknya.


BAB III

Penutup
A. Kesimpulan

Kejahatan korporasi adalah merupakan kejahatan yang besar dan sangat berbahaya sekaligus

merugikan kehidupan masyarakat, kendatipun di pihak lain ia juga memberi kemanfaatan

bagi kehidupan masyarakat dan negara. Keinginan korporasi untuk terus meningkatkan

keuntungan yang diperolehnya mengakibatkan terjadinya tindakan pelanggaran hukum.

Pertanggungjawaban jawaban pidana korporasi tidak lepas dari dua subyek hukum pidana

dalam kejahatan korporasi, yaitu orang sebagai pengurus dan korporasi itu sendiri. Sehingga

terkait dengan kedudukan korporasi dan sifat pertanggungjawaban pidana korporasi dalam

kejahatan korporasi, terdapat tiga model pertanggungjawaban pidana korporasi, yaitu:

Pengurus sebagai pembuat dan penguruslah yang bertanggungjawan, Korporasi sebagai

pembuat, dan penguruslah yang bertanggungjawab, Korporasi sebagai pembuat dan juga

sebagai yang bertanggungjawab.


Daftar Pustaka

1. http://bagushukum2.blogspot.com/2018/07/makalah-kejahatan-koorporasi.html

2. https://www.academia.edu/6559124/KEJAHATAN_KORPORASI

3. https://slissety.wordpress.com/iki-aku/
Tugas Makalah Kriminologi

Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Kejahatan

Korporasi

Disusun Oleh :

Kinanti Dyah Ayu Nirmala

171003742014565

Fakultas Hukum

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG

Beri Nilai