Anda di halaman 1dari 8

DESAIN PEGAS

Titik kontak antara pegas dan gigi menentukan arah pergerakan gigi. Ada banyak
jenis desain pegas. Berikut ini beberapa desain pegas yang sering digunakan.

1. Finger spring (single cantilever spring)


Finger spring terbuat dari kawat 0,5 atau 0,6 mm. Finger spring dibuat
dengan coil atau helix di dekat titik attachment-nya dan free end untuk
pergerakan. Finger spring diindikasikan untuk pergerakan mesio-distal gigi,
misalnya untuk menutup diastema anterior. Finger spring diaktivasi dengan
membuka coil (gambar 1A) atau menggerakkan lengan aktifnya ke gigi yang
digerakkan (gambar 1B). Aktivasi optimal untuk kawat 0,5 adalah 3 mm,
sedangkan untuk kawat 0,6 aktivasinya 1,5 mm (Gurkeerat, 2007).

2. Double cantilever spring (Z spring)


Z spring (gambar 2) digunakan untuk memproklinasikan gigi insisivus.
Pegas ini terbuat dari kawat 0,5 mm dan dipasang pada permukaan palatal
gigi. Z spring memiliki dua helix dengan diameter internal yang kecil. Z
spring diaktivasi dengan membuka kedua helix 2-4 mm. Hanya
satu helix diaktivasi untuk koreksi rotasi ringan. Z spring ideal untuk
koreksi crossbite anterior (Gurkeerat, 2007).

3. T-spring
T-spring (gambar 3) terbuat dari kawat berdiameter 0,5 mm dan
digunakan untuk menggerakkan premolar atau molar ke bukal. Pegas ini,
seperti namanya, memiliki lengan berbentuk T dan ujungnya tertanam di
dalam basis akrilik. Aktivasinya dengan mendorong ujung bebas dari T-
spring ke arah pergerakan gigi yang diharapkan (Gurkeerat, 2007).
4. Buccal Canine Retractor Spring
Buccal canine retractor spring (gambar 4) digunakan pada kaninus yang
terletak lebih ke bukal sehingga harus digerakkan ke palatal ataupun ke
distal. Buccal canine retractor spring ini cenderung tidak nyaman bagi
pasien sehingga jarang digunakan. Buccal canine retractor spring ini relatif
memiliki dimensi vertikal yang tidak stabil sehingga sulit untuk
mengaktifkannya.1 Ini dibuat dengan menggunakan kawat berdiameter 0,7 mm
(Laura, 2013).

Buccal canine retractor spring diaktivasi sekitar 1 mm yang diperlukan


untuk memberikan gaya yang optimal untuk retraksi kaninus (gambar 5).
Namun pada praktek klinisnya, hal ini sulit dicapai dengan tepat (Laura,
2013).
LABIAL BOW
Labial bow dapat digunakan menjadi aktif atau pasif. Labial bow aktif
digunakan untuk retraksi gigi insisivus. Ada berbagai macam desain labial
bow. Pemilihannya tergantung pada pilihan operator dan besarnya retraksi yang
diperlukan. Labial bow yang fleksibel seperti Roberts’ retractor adalah yang
pilihan yang tepat untuk mengurangi overjet yang besar. Jika retraksi yang
diperlukan sedikit dengan minor irregularity perlu dikoreksi, labial bow yang
kurang fleksibel dapat dipilih karena lebih tepat untuk pergerakan ini dan hanya
memerlukan sedikit aktivasi (K.G. Isaacson, 2002).

Berikut ini beberapa contoh desain labial bow :


1) Roberts’ retractor
Ini merupakan labial bow yang fleksibel yang terbuat dari kawat
berdiameter 0,5 mm (gambar 6). Fleksibilitasnya tergantung pada vertical
limb dan coil-nya sehingga diperlukan ukuran yang adekuat (diameter internal
minimal 4 mm). Kesalahan yang umumnya terjadi adalah bagian horizontalnya
terlalu pendek sehingga gagal untuk mengontrol insisivus lateralnya (K.G.
Isaacson, 2002).

Aktivasi labial bow ini diperlukan sekitar 4 mm, tetapi daerah pengaktivan
sangat penting. Labial bow diaktivasi dengan bending pada vertical limb di
bawah coil (K.G. Isaacson, 2002).

2) Labial bow dengan ‘U’ loops


Ini terbuat dari kawat 0,7 mm. Fleksibilitasnya tergantung pada tinggi
vertikal loop (gambar 7). Sedikit pergerakan pada masing-masing gigi dapat
diperoleh dengan membuat bayonet bend pada titik yang tepat (gambar 8).
Keuntungan dari labial bow dengan ‘U’ loop adalah jika hanya perlu
mengurangi sedikit overjet atau diperlukan alignment insisivus (K.G. Isaacson,
2002).
Untuk mengurangi overjet, labial bow ini diaktivasi pada ‘U’ loops-
nya. Aktivasi harus minimal. Labial bowsebaiknya bergeser ke arah
palatal hanya 1 mm (K.G. Isaacson, 2002).

3) Labial bow dengan reverse loop


Labial bow ini (gambar 9) kadang-kadang digunakan untuk mencegah
kaninus bergerak ke arah bukal saat retraksi. Namun, metode untuk
mengontrol pergerakan kaninus harus dengan aktivasi yang tepat. Labial
bowini kurang kaku dan sebaiknya diaktivasi hanya 1 mm setiap control
(K.G. Isaacson, 2002).

4) Extended labial bow


Labial bow ini terbuat dari kawat dengan diameter 0,7 mm dan
fleksibilitasnya bertambah dengan memperbesarloop-nya (gambar
10). Labial bow ini merupakan alternatif untuk Roberts’ retractor untuk
mengurangioverjet dan juga sesuai untuk alignment gigi insisivus. Karena
ukuran loop-nya, labial bow ini kurang nyaman digunakan oleh
pasien. Labial bow ini harus diaktivasi dengan hati-hati untuk
menghindari trauma pada mukosa bukal (K.G. Isaacson, 2002).
DESAIN RETAINER LEPASAN

Retainer lepasan berfungsi sebagai retensi untuk stabilitas antar lengkung dan
berguna sebagai retensi pada pasien dengan masalah pertumbuhan. Ada pun
macam-macam retainer lepasan adalah retainer Hawley, retainer clip-on.

1) Retainer Hawley

Retainer Hawley adalah piranti lepasan yang paling umumdigunakan


oleh pasien ortodontik pasca perawatan yang didesain pada tahun 1920.
Oleh penemunya yaituCharlesHawley, retainer ini dibuat pada basis
akrilik yang bersandar di palatum maksila atau memeluk bagian lingual
gigi bawah pada mandibula pasangannya. Retainer Hawley memiliki
sebuah kawatlabial, atauHawley bow yang tertanam di dalam akrilik,
menggabungkan dua lup omega untuk penyesuain plier ortodontik bergigi
tiga.

Desain retainer Hawley menggabungkan klamer pada gigi molar dan


karakteristik luar labial bow dengan pelarasan lup, melintang dari gigi
kaninus ke kaninus sebelahnya. Retainer Hawley yang lain untuk rahang
atas adalah desain circumferential, yaitu kawat labial membungkus di
sekitar lengkung rahang atas dan menyatu dengan klamer-C pada molar
atas untuk retensi. Desain retainer standar rahangbawahmemilikisandaran
oklusal pada klamer Adam pada molar pertama untuk menambah retensi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah versi retainer Hawley yang


lebih estetik dikembangkan, yaitu kawat metal labialnya digantikan
dengan kawat polimer yang tembus pandang, adaptasi besar, dan elastis
yang disebut ASTICS. Masa aktif retensi dengan retainer Hawley dari 6
bulan sepanjang waktu pemakaian, yaitu 6 bulan pada malam hari.

Keuntungan dari retainer Hawley, yaitu 1) penyesuaiannya,labial bow


dapat digunakan untuk kasus koreksi kecil; 2) daya tahan, dapat bertahan
beberapa tahun dari pemakaian normal; dan 3)menyediakan penetapan
oklusi posterior. Sedangkan kelemahannya, yaitu 1) umumnya buatan
pabrik, sehingga membutuhkan waktu dan biaya yang lebih pengiriman ke
pasien; 2) estetik yang jelek (kecuali ASTICS); dan pengucapan mungkin
terpengaruh oleh cakupan palatal dari retainer Hawley pada rahang atas,
jika digunakan pada siang hari. (Garisi & Susilowati, 2018)
2) Retainer clip-on

Retainer clip-on (wrap around) terdiri atas sebuah batang plastik di


sepanjang permukaan labial dan lingual gigi. Retainer clip-on lengkung
penuh harus memungkinkan gigi untuk bergerak sendiri-sendiri, mengatur
stimulasi dari jaringan periodontal.Sebagaitambahan,retainer clip-oncukup
estetik.2 Meskipun cukup estetik, retainer clip-on kurang nyaman
digunakan dibandingkan retainer Hawley dan mungkin tidak efektif dalam
menjaga koreksi ovebite. Retainer clip-on lengkung penuh diindikasikan
terutama ketika kerusakan jaringan periodontal membutuhkan splint gigi
bersamaan. (Garisi & Susilowati, 2018)

3) Positioner

Positioner gigi juga bisa dijadikan sebagai retainer lepasan. Positioner


adalah custom-made, dibuat di laboratorium, mouthpiece silikon elastis
yang dibuat lebih dari satu set dan dibuat dalam hubungan sumbu aksis
yang normal. Pada awalnya positioner digunakan sebagai “piranti
penyelesaian” untuk memperbaiki diskrepansi di dalam dan di lengkung
minor dalam kasus saat perawatan aktif dihentikan sebelumwaktunya
untuk alasan tertentu. Namun, untuk penggunaan rutin, positioner
bukanlah retainer yang baik. Awal penggunaan positioners tidak sesuai
dengan penggunaan tahap awal yang diharapkan untuk retainer.Karena
ukurannya besar,pasien sering sulitmenggunakannya sepanjang hari.
Positioner tidak menjaga ketidakberaturan dan rotasi insisivus seperti
retainer standar. Selain itu, overbite cenderung meningkat saat positioner
digunakan.

Keuntungan dari positioner, yaitu 1) mampu untukmenghentikan


perawatan aktif dini; 2)mampu untuk menutup sedikit celah dan untuk
mengoreksi rotasi minor dan diskrepansi bukolingual; 3) mampu
mengoreksi dan menghubungkan gigi-gigi pada kedua rahang secara
simultan. Sedangkan kerugian dari positioner, yaitu berukuran besar, tidak
estetik, dan sulit untuk dipakai. (Garisi & Susilowati, 2018)

4) Invisible themoplastic retainer (Essix)

Retainer lepasan lain yang populer karena alasan estetik adalah retainer
Essix yang dibuat dari lapisan akrilik bening,berbentuk vakum atau
cetakan di atas model lengkung. Retainer Essix tipis, namun kuat dan
dapat ditempatkan di hari yang sama saat piranti cekat dilepaskan.

Retainer Essix ini terbukti cukup serbaguna. Kelenturan dan efek


positioner-nya menyebabkan retainer Essix ini menjadi suatu alternatif
sebagai retainer pegas dalam mengoreksi pergerakan gigi minor. Retainer
ini bisa digunakan untuk mengurangi permukaan oklusal dari rahang
antagonis ketika menggerakkan gigi-geligi posterior dengan mekanik
stripping air-rotor. Retainer ini juga bisa menjadi gigi tiruan jembatan
sementara untukmenggantikan gigi anterior yang hilang.

Kelebihan dariinvisible thermoplastic retainer, yaitu 1) estetik dan


bening; 2) cocok digunakan dalam jangka panjang sebab retensi di waktu
siang tidak berdampak buruk pada pengucapan; 3) transisi mudah bagi
pasien dengan clear aligner therapy (CAT).Sedangkan kerugian invisible
thermoplastic retainer, yaitu daya tahan penggunaan rata-rata hanya 24
bulan dan cakupan posterior mungkin tidak duduk pada tempatnya dalam
kasus ketika pemakaian diperlukan sepanjang hari. (Garisi & Susilowati,
2018)
DAFTAR PUSTAKA

Gurkeerat, Singh. 2007. Textbook of Orthodontics. Jaypee : New Delhi

Laura, Mitchell. 2013. An Introduction to Orthodontics fourth edition. Oxford University :


Oxford

Isaacson, K. G., dkk. 2002. Removable Orthodontic Appliances. Wright : Oxford

Garisi, Kurniadi B.T. & Susilowati. 2018. Macam-macam retainer dalam perawatan
ortodontik. Makassar Dent J. 7(1) : Hal. 50-52