Anda di halaman 1dari 4

TUGAS.

2
Saudara mahasiswa, minggu ini ada tugas 2 yang harus Anda kerjakan.

1. Jelaskan prinsip-prinsip dari interaksi simbolik!


Jawaban
Prinsip Utama dalam Teori Interaksi Simbolik
Menurut Herbert Blumer, teori interaksi simbolis menitikberatkan pada tiga prinsip utama
komunikasi yaitu meaning, language, dan thought.

Meaning
Berdasarkan teori interaksi simbolis, meaning atau makna tidak inheren ke dalam obyek
namun berkembang melalui proses interaksi sosial antar manusia karena itu makna berada
dalam konteks hubungan baik keluarga maupun masyarakat. Makna dibentuk dan
dimodifikasi melalui proses interpretatif yang dilakukan oleh manusia.

Language
Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan untuk menamakan sesuatu. Bahasa
merupakan sumber makna yang berkembang secara luas melalui interaksi sosial antara
satu dengan yang lainnya dan bahasa disebut juga sebagai alat atau instrumen. Terkait
dengan bahasa, Mead menyatakan bahwa dalam kehidupan sosial dan komunikasi antar
manusia hanya mungkin dapat terjadi jika kita memahami dan menggunakan sebuah
bahasa yang sama.

Thought
Thought atau pemikiran berimplikasi pada interpretasi yang kita berikan terhadap simbol.
Dasar dari pemikiran adalah bahasa yaitu suatu proses mental mengkonversi makna, nama,
dan simbol. Pemikiran termasuk imaginasi yang memiliki kekuatan untuk menyediakan
gagasan walaupun tentang sesuatu yang tidak diketahui berdasarkan pengetahuan yang
diketahui. Misalnya adalah berpikir.

2. Bagaimana konsep tentang teori strukturasi?


Jawaban
Gagasan strukturasi (atau ‘struktur sosial’) tentu saja sangat penting dalam tulisan-
tulisan kebanyakan penulis fungsionalis dan telah memberikan andilnya pada tradisi
strukturalisme, namun tampaknya tidak ada konsep yang paling cocok dengan tuntunan-
tuntunan teori sosial. Para penulis fungsionalisme dan para pengkritiknya telah
memberikan memberikan perhatian besar pada gagasan fungsi dibandingkan dengan
gagasan struktur, dan dengan demikian struktur lebih cenderung digunakan sebagai
gagasan yang diterima begitu saja. Namun tak diragukan lagi terdapat gagasan tentang
bagaimana struktur biasanya dipahami oleh kaum fungsionalis dan bahkan oleh mayoritas
analis sosial-sebagao suatu ‘pemolaan’ hubungan atau fenomena-fenomena sosial. Kondisi
ini kerap dianggap sebagai pencitraan visual, yang sama dengan kerangka atau morfologis
organisme atau penyangga suatu bangunan. Konsepsi-konsepsi seperti itu berhubungan
denga dualisme subjek dan objek sosial.
Di sini struktur ternyata sebagai sesuatu yang bersifat eksternal bagi tindakan manusia,
sebagai sumber yang mengekang kekuasaan subjek yang disusun secara mandiri.
Sebagaimana yang dikonseptualisasikan dalam pemikiran strukturalis dan post-
strukturalis, gagasan struktur ternyata lebih menarik. Dalam hal ini struktur secara khas
dianggap bukan sebagai pembuat pola kehadiran seorang melainkan sebagai titik simpang
antara kehadiran dan ketidakhadiran. Kode-kode dasar harus disimpulkan dari manifestasi-
manifestasi yang merekat (Giddens, 2011: 20). Sehingga batas-batas antara keduanya bisa
diidentifikasi dengan jelas pada pembahasan selanjutnya.
Dua ide tentang struktur tersebut sekilas tampak tidak ada kaitannya satu sama lain,
namun nyatanya masing-masing berhubungan dengan aspek-aspek penting dari struktur
hubungan-hubungan sosial, aspek-aspek yang dalam teori strukturasi dapat dipahami
dengan menganalisis perbedaan antara konsep struktur dengan sistem. Dalam
menganalisis hubungan-hubungan sosial, kita harus mengakui dimensi sintagmatig, suatu
pola hubungan sosial dalam ruang dan waktu yang melibatkan urutan sebenarnya dari
mode-mode pengembangan struktur yang secara reikursif diimplikasikan dalam proses-
proses reproduksi. Dalam tradisi strukturalis, biasanya terdapat ketaksaan (ambiguity)
perihal apakah struktur mengacu secara terbuka pada suatu matriks transformasi di dalam
seperangkat aturan-aturan transformasi yang menentukan matriks tersebut. Paling idak
dari makna dasarnya, saya mempeelakukan matriks sebagai sesuatu yang mengacu pada
aturan-aturan dan sumber daya-sumber daya seperti itu.
Hanya saja tidak tepat bila menyebutnya sebagai aturan-aturan yang tertransformasi,
sebab semua aturan bersifat transformative. Oleh karena itu, struktur dalam analis sosial
lebih mengacu pada sifat-sifat struktur yang membuka kemungkinan pemberian batas-
batas ruang dan waktu dalam sistem-sistem sosial, sifat-sifat demikian memberi
kemungkinan munculnya praktek-praktek sosial serupa dalam berbagai rentang ruang dan
waktu serta memberinya suatu bentuk ‘sistematik’.
Menyatakan bahwa struktur merupakan urutan sesungguhnya dari suatu hubungan
tranformatif berarti bahwa sistem sosial, sebagai praktek sosial yang dereproduksi tidak
memiliki struktur namun memperlihatkan sifat-sifat struktual. Ia menunjukkan bahwa
struktur itu ada, sebagaimana keberadaan ruang dan waktu. Sifat-sifat struktural ini hanya
muncul di dalam berbagai tindakan isntan serta menjadi jejak-jejak memori yang memberi
petunjuk akan perilaku agen-agen manusia yang telah banyak memiliki pengetahuan. Pada
gilirannya , kita bisa saja menganggap bahwa sifat-sifat struktural tersebut sebagai sesuatu
yang secara hirarki diorganisasikan bedasarkan luasnya ruang dan waktu tempat
pengorganisasian tindakan-tindakan tersebut secara rekursif. Sifat-sifat struktural yang
muncul dalam sebuah totalitas reproduksi sosial demikian menurut Giddens disebut
sebagai prinsip-prinsip struktural. Dengan praktek-praktek sosial yang memiliki perluasan
ruang waktu terbesar dalam totalitas seperti itu bisa diacu sebagai institusi.
Anggap saja aturan-aturan kehidupan sosial sebagai teknik-teknik atau prosedur-
prosedur yang bisa digeneralisasikan yang diterapkan dalam pembuatan atau reproduksi
praktek-praktek sosial. Aturan-aturan yang dirumuskan yang diberi ekspresi verbal
sebagai kanon hukum, aturan-aturan birokratis, aturan-aturan permainan dan sebagainya
merupakan kodifikasi intepretasi atas aturan-aturan bukannya aturan-aturan itu sendiri.
3. Bagaimana tahap dan langkah dalam konsep proses komunikasi sosial? Jelaskan!
Jawaban
TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROSES KOMUNIKASI
Menurut Courtland L. Bovee dan John V. Thil tahapan-tahapan dalam proses komunikasi
dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu:
1) Pengirim mempunyai suatu ide atau gagasan.
2) Ide diubah menjadi suatu pesan.
3) Pemindahan pesan.
4) Penerima menerima pesan.
5) Penerima memberi tanggapan dan mengirim umpan-balik kepada pengirim.
Tahap Pertama: Pengirim Mempunyai Suatu Ide
Ide dapat diperoleh dari berbagai sumber yang terbentang luas dihadapan kita. Sebelum
melakukan komunikasi syarat utama adalah adanya ide/gagasan. Seorang komunikator
yang baik, harus dapat menyaring hal-hal yang tidak penting atau tidak relevan, dan
memusatkan perhatian pada hal-hal yang memang penting dan relevan. Proses tersebut
dikenal sebagai abstraksi.
Tahap Kedua: Mengubah Ide menjadi Suatu Pesan
Dalam suatu proses komunikasi tidak semua ide dapat diterima atau dimengerti dengan
sempurna. Agar ide dapat diterima dan dimengerti secara sempurna pengirim pesan harus
memperhatikan beberapa hal, yaitu: subjek (apa yang ingin disampaikan), maksud
(tujuan), audience, gaya personal, dan latar belakang budaya. Ide yang berbentuk abstrak
harus diubah kedalam bentuk pesan.
Tahap Ketiga: Pemindahan Pesan
Setelah mengubah ide-ide ke dalam suatu pesan, tahap berikutnya adalah memindahkan
atau menyampaikan pesan melalui berbagai saluran yang ada kepada si penerima. Pesan
tak mungkin dapat dipahami oleh pihak lain tanpa adanya pemindahan pesan. Panjang-
pendeknya saluran komunikasi yang digunakan, akan berpengaruh terhadap efektivitas
penyampaian pesan.
Tahap Keempat: Penerima Menerima Suatu Pesan
Komunikasi antara seseorang dengan orang lain akan terjadi, bila pengirim mengirimkan
suatu pesan dan penerima menerima suatu pesan pesan tersebut. Pesan tak mungkin dapat
dipahami oleh pihak lain tanpa adanya pemindahan pesan.
Tahap Kelima: Penerima Memberi Tanggapan dan Umpan-Balik ke Pengirim
Umpan-balik (feed back) adalah penghubung akhir dalam suatu mata rantai komunikasi. Ia
merupakan tanggapan penerima pesan yang memungkinkan pengirim untuk menilai
efektivitas suatu pesan. Feed back dapat berfungsi sebagai koreksi bagi pengirim.

4. Pemasaran sosial berbeda dengan pemasaran komersil, coba jelaskan komponen apa dalam
pemasaran sosial yang diadopsi dari konsep pemasaran komersil!
Jawaban
Pemasaran sosial terdiri atas :

Elemen-elemen pendekatan sosial terbaik untuk perubahan sosial yang berbentuk


kerangka tindakan dan perencanaan yang terintegrasi serta
menggunakan kemajuan teknologi komunikasi dan keahlian pemasaran. Kerangka
tindakan umumnya berupa konsep dan perencanaan.
Pemasaran atau Marketing adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi,
penetapan harga promosi dan distribusi ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran
untuk memuaskan tujuan organisasi dan individu.
3 unsur utama yang mendukung pemasaran sosial
Produk Sosial: Ide/gagasan dan Praktik
Perubahan dari sebuah ide atau kebiasaan yang kurang baik menjadi lebih baik atau adopsi
ide dan kebiasaan-kebiasaan baru adalah tujuan dari pemasaran sosial (social marketing).

Target Adopter (Audience)


Target adopter atau sasaran dalam pemasaran sosial terdiri dari satu atau lebih kelompok
yang dapat dibagi berdasarkan usia, status sosial, letak geografis. Sama halnya dengan
target market dalam pemasaran komersial, ketidakakuratan dalam mendefinisikan target
adopter akan mengurangi tingkat keberhasilan dari aktivitas pemasaran yang kita lakukan.

Teknologi Manajemen Perubahan Sosial


Sebuah teknologi manajemen perubahan sosial haruslah dapat menjawab pertanyaan
berikut secara efektif.