Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

SPINAL CORD INJURY

LAB KLINIK KEPERAWATAN KRITIS

INSTALASI OBSERVASI ASTER

Disusun Oleh:

M.Rezky Aryadie 1035181012

PROGRAM STUDI NERS

FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS MH THAMRIN

JAKARTA

2019
A. Anatomi dan Fisiologis Medulla Spinalis
Medula spinalis merupakan bagian dari susunan saraf pusat, terletak didalam canalis vertebralis
dan merupakan lanjutan dari medulla oblongata danujung caudalnya membentuk conus
medullaris. Panjangnya pada pria sekitar 45cm dan wanita 42-43 cm dengan garis tengah 2 cm
(seukuran kelingking). Medula spinalis terdiri atas 31 segmen jaringan saraf dan masing-
masing memiliki sepasang saraf yang keluar dari kanalis vertebralis melalui foramen
intervetebra (lubang pada tulang vertebra). Saraf-saraf spinal diberi nama sesuai dengan
foramen intervertebra, kecuali saraf servical pertama yang keluar di antara tulang oksipital dan
vertebra servikal pertama. Dengan demikian, terdapat 8 pasang saraf servikal (dan hanya tujuh
vertebra servikalis), 12 pasang saraf torakalis, 5 pasang saraf lumbalis, 5 pasang saraf sakralis,
dan 1 pasang saraf koksigis (Akhyar, 2009).

Segmen upper cervical & thoracal berbentuk silindris dan segmen lower cervical dan lumbal
berbentuk oval. Berawal dari dasar otak (atlas/C1), berakhir setinggi L1-L2 (conus medullaris),
ke bawah melanjutkandiri sebagai fillum terminale. Di bawah Conus medullaris terbentuk
anyaman akarsaraf (saraf tepi) menyerupai ekor kuda (cauda equina).Saraf Spinal dilindungi
oleh tulang vertebra, ligamen juga oleh meningen spinal dan CSF (Muttaqin, 2008). Pada
potongan melintang medulla spinalis terdapat substansia grisea atau gray matter (abu-abu) dan
substansi alba atau white matter (putih). Bagian central membentuk huruf H (Gray Matter) dan
dikelilingi oleh white matter.

2 bagian medulla spinalis dipisahkan oleh septum medianus (dorsal / posterior) dan fissura
medianus (ventral/anterior). Sulcus dorsolateral (posterior) adalah pintu masuk akar saraf
posterior (sensorik) dan sulcus ventrolateral (anterolateral) adalah pintu keluar akar saraf
ventral (motorik). 3 area white matter: funikulus posterior, funikulus lateralis, funikulus anterio.

a. Substansia grisea (gray matter)


1) Cornu Anterior (anterior horn cell/ AHC) berisi akar saraf motorik.
2) Cornu Intermediolateral terbatas pada regio thoracal dan upper lumbal.
3) Cornu Posterior (posterior horn cell/ PHC) berisi akar saraf sensorik
4) Canalis Centralis terletak di tengah substansia abu-abu,membagi medulla spinalis
menjadi 2 daerah commisura grisea anterior & posterior
b. Substansia alba (white matter)
1) Berisi serabut-serabut sensorik, motorik dan otonom
2) Terdiri dari tiga area funikulus, yaitu
a) Anterior (berisi fasikulus descending/motorik)
b) Lateral (berisi fasikulus decsending & ascending)
c) Posterior (berisi fasikulus ascending/sensorik)
3) Tiap funikulus terdiri dari satu atau lebih traktus ataufunikulus

Medulla spinalis melewati dua traktus dengan fungsi tertentu, yaitu traktus desenden dan
asenden. Traktus desenden berfungsi membawa sensasi yang bersifat perintah yang akan
berlanjut ke perifer. Sedangkan traktus asenden secara umum berfungsi untuk mengantarkan
informasi aferen yang dapat atau tidak dapat mencapai kesadaran. Informasi ini dapat dibagi
dalam dua kelompok, yaitu (1) informasi eksteroseptif, yang berasal dari luar tubuh, seperti
rasa nyeri, suhu, dan raba, dan (2) informasi proprioseptif, yang berasal dari dalam tubuh,
misalnya otot dan sendi (Akhyar, 2009)

Beberapa fungsi dari masing-masing sistem saraf adalah sebagai berikut:


Fungsi Otot Saraf
I. Pleksus servikalis C1 – C4
Fleksi, ekstensi, rotasi, dan Mm. koli profundi (M. Saraf servikalis
eksorotasi leher sternokleidomastoideus, M. C1-C4
trapezius)
Pengangkatan dada atas, Mm. Skaleni C3-C5
inspirasi
Inspirasi Diafragma Saraf frenikus
C3–C5
II. Pleksus brakhialis C5-T1
Aduksi dan endorotasi M. pektoralis mayor dan minor Saraf torakalis anterior
lengan, Menurunkan bahu C5-T1
ke dorsoventral
Fiksasi skapula selama M. seratus anterior Saraf torakalis longus
mengangkat lengan C5-C7
Elevasi dan aduksi skapula M. levator skapula, Saraf skapularis dorsal
ke arah kolumna spinalis Mm. rhomboidei C4-C5
Mengangkat dan M. supraspinatus Saraf supraskapularis
eksorotasi lengan C4-C6
Eksorotasi lengan pada M. infraspinatus
sendi bahu
Endorotasi sendi bahu; M. latissimus dorsi, Saraf torakalis dorsal
aduksi dari ventral ke M. teres major, C5-C8
dorsal; menurunkan M. subskapularis (dari daerah dorsal
lengan yang terangkat pleksus)
Abduksi lengan ke garis M. deltoideus Saraf aksilaris
horizontal C5-C6

Eksorotasi lengan M. teres minor C4-C5


Fleksi lengan atas dan M. biseps brakhii Saraf muskulokutaneus
bawah dan supinasi lengan C5-C6
bawah
M. korakobrakhialis C5-C7
Elevasi dan aduksi lengan
M. brakhialis C5-C6
Fleksi lengan bawah
Fleksi dan deviasi radial M. fleksor karpi radialis Saraf medianus
tangan C5-C6

Pronasi lengan bawah M. pronator teres C5-C6

Fleksi tangan M. palmaris longus C7-T1

Fleksi jari II-V pada M. fleksor digitorum C7-T1


falangs tengah superfisialis

Fleksi falangs distal ibu M. fleksor polisis longus C6-C8


jari tangan
Fleksi falangs distal jari II M. fleksor digitorum profundus C7-T1
dan III tangan (radial)
Abduksi metakarpal I M. abduktor polisis brevis C7-T1

Fleksi falangs proksimal M. fleksor polisis brevis C7-T1


ibu jari tangan

Oposisi metakarpal I M. oponens polisis brevis C6-C7


Fleksi falangs proksimal Mm. lumbrikalis Saraf medianus
dan ekstensi sendi lain Jari II dan III tangan C8-T1

Fleksi falangs proksimal Jari IV dan V tangan Saraf ulnaris


dan ekstensi sendi lain C8-T1
Fleksi dan pembengkokan M. fleksor karpi ulnaris Saraf ulnaris
ke arah ulnar jari tangan C7-T1

Fleksi falangs proksimal M. fleksor digitorum profundus C7-T1


jari tangan IV dan V (ulnar)

Aduksi metakarpal I M. aduktor polisis C8-T1

Abduksi jari tangan V M. abduktus digiti V C8-T1

Oposisi jari tangan V M. oponens digiti V C7-T1

Fleksi jari V pada sendi M. fleksor digiti brevis V Saraf ulnaris


metakarpofalangeal C7-T1

Pembengkokan falangs Mm. interosei palmaris dan C8-T1


proksimal, meregangkan dorsalis
jari tangan III, IV, dan V Mm. lumbrikalis III dan IV
pada sendi tangan dan
distal seperti juga gerakan
membuka dan menutup
jari-jari
Ekstensi siku M. biseps brakhii dan M. Saraf radialis
ankoneus C6-C8

Fleksi siku M. brakhioradialis C5-C6

Ekstensi siku dan abduksi M. ekstensor karpi radialis C6-C8


radial tangan

Ekstensi falangs proksimal M. ekstensor digitorum C6-C8


jari II-IV

Ekstensi falangs proksimal M. ekstensor digiti V C6-C8


jari V

Ekstensi dan deviasi ke M. ekstensor karpi ulnaris C6-C8


arah ulnar dari tangan

Supinasi lengan bawah M. supinator C5-C7

Abduksi metakarpal I: M. abduktor polisis longus C6-C7


ekstensi radial dari tangan

Ekstensi ibu jari tangan M. ekstensor polisis brevis C7-C8


pada falangs proksimal

Ekstensi falangs distal ibu M. ekstensor polisis longus C7-C8


jari
M. ekstensor indisis proprius C6-C8
Ekstensi falangs proksimal
jari II
Elevasi iga; ekspirasi; Mm. toracis dan abdominalis N. toracis
kompresi abdomen; T1-L1
anterofleksi dan
laterofleksi tubuh.
III. Pleksus lumbalis T12-L4
Fleksi dan endorotasi M. iliopsoas Saraf femoralis
pinggul L1-L3

M. sartorius L2-L3
Fleksi dan endorotasi
tungkai bawah
M. quadriseps femoris L2-L4
Ekstensi tungkai bawah
pada tungkai lutut
Aduksi paha M. pektineus Saraf obturatorius
M. aduktor longus L2-L3
M. aduktor brevis L2-L3
M. aduktor magnus L2-L4
M. grasilis L3-L4
L2-L4
Aduksi dan eksorotasi M. obturator eksternus L3-L4
paha
IV. Pleksus sakralis L5-S1
Abduksi dan endorotasi paha M. gluteus medius dan Saraf glutealis superior
minimus L4-S1

Fleksi tungkai atas pada M. tensor fasia lata L4-L5


pinggul; abduksi dan
endorotasi

Eksorotasi paha dan abduksi M. piriformis L5-S1


Ekstensi paha pada pinggul, M. gluteus maksimus Saraf glutealis inferior
Eksorotasi paha M. obturator internus L4-S2
Mm. gemeli L5-S1
M. quadratus
L4-S1
Fleksi tungkai bawah M. biseps femoris Saraf skiatikus
M. semitendinosus L4-S2
M. semimembranosus L4-S1
L4-S1
Dorsifleksi dan supinasi kaki M. tibialis anterior Saraf peronealis
profunda
Ekstensi kaki dan jari-jari M. ekstensor digitorum L4-L5
kaki longus L4-S1

Ekstensi jari kaki II-V M. ekstensor digitorum L4-S1


brevis
Ekstensi ibu jari kaki L4-S1
M. ekstensor halusis longus
Ekstensi ibu jari kaki L4-S1
M. ekstensor halusis brevis
Pengangkatan dan pronasi Mm. peronei Saraf peronealis
bagian luar kaki superfisialis
L5-S1
Fleksi plantar dan kaki dalam M. gastroknemius Saraf tibialis
supinasi, M. triseps surae L5-S2
Supinasi dan fleksi plantar M. soleus
dari kaki M. tibialis posterior L4-L5
Fleksi falangs distal jari kaki M. fleksor digitorum longus L5-S2
II-V (plantar fleksi kaki
dalam supinasi)

Fleksi falangs distal ibu jari M. fleksor halusis longus L5-S2


kaki

Fleksi jari kaki II-V pada M. fleksor digitorum brevis S1-S3


falangs tengah

Melebarkan, menutup, dan Mm. plantaris pedis S1-S3


fleksi falangs proksimal jari-
jari kaki
Menutup sfingter kandung Otot-otot perinealis dan Saraf pudendalis
kemih dan rectum sfingter S2-S4
B. Definisi Trauma Medulla Spinalis
Trauma medula spinalis merupakan keadaan patologi akut pada medula spinalis yang di
akibatkan terputusnya komunikasi sensori dan motorik dengan susunan saraf pusat dan saraf
parifer. Tingkat kerusakan pada medula spinalis tergantung dari keadaan atau inkomplet
(Tarwato, 2007). Trauma medulla spinalis merupakan kerusakan pada medulla spinalis yang
disebabkan oleh trauma langsung atau tidak langsung pada medulla spinalis. Gangguan-
gangguan yang terjadi akibat trauma medulla spinalis berupa gangguan fungsi-fungsi utama
dari medulla spinalis, yaitu fungsi motorik, sensorik, autonom, dan reflek. Gangguan fungsi-
fungsi utama medulla spinalis dapat terjadi komplet atau parsial (Jasajurnal, 2017).

Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh
benturan pada daerah medula spinalis (Brunner & Suddaerth, 2008). Trauma medula spinalis
dapat bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan secara
mendadak sampai yang menyebabkan transeksi lengkap dari medula spinalis dengan
quadriplegia (Fransiska B. Batticaca, 2008). Pada trauma medula spinalis timbul perlukaan
pada sumsum tulang belakang yang mengakibatkan perubahan, baik sementara atau permanen,
perubahan fungsi motorik, sensorik, atau otonom. Pasien dengan cedera tulang belakang
biasanya memiliki defisit neurologis permanen dan sering mengalami kecacatan (Lawrence,
2014).

Trauma medula spinalis bisa meliputi fraktur, kontusio, dan kompresi kolumna vertebra yang
biasa terjadi karena trauma pada kepala atau leher. Kerusakan dapat mengenai seluruh medula
spinalis atau terbatas pada salah satu belahan dan bisa terjadi pada setiap level (Kowalak, 2011).
Jadi, trauma medulla spinalis adalah kerusakan fungsi neurologis akibat trauma langsung atau
tidak langsung pada medulla spinalis sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sensorik,
motorik, autonomi dan reflek.

C. Klasifikasi Trauma Medulla Spinalis


Menurut Batticaca (2008) trauma medula spinalis dapat diklasifikasi menjadi 2 macam, yaitu:
1. Cedera tulang
a. Stabil, bila kemapuan fragmen tulang tidak mempengaruhi kemapuan tulang untuk
bergeser lebih jauh selain yang terjadi saat cedera. Komponen arkus neural intak
serta ligamen yang menghubungkan ruas tulang belakang, terutama ligamen
longitudinal posterior tidak robek.
b. Tidak Stabil, kondisi trauma menyebabkan adanya pergeseran tulang yang terlalu
jauh sehingga cukup mapu untuk merobek ligamen longitudinal posterior serta
merusak keutuhan arkus neural.
2. Cedera neurologis
a. Tanpa defisit neurologis
b. Disertai defisit neurologis

American Spinal Injury Association (ASIA) bekerjasama dengan Internasional Medical Society
Of Paraplegia (IMSOP) telah mengembangkan dan mempublikasikan standart Internasional
untuk klasifikasi fungsional dan neurologis cedera medula spinalis. Klasifikasi berdasarkan
pada Frankel pada tahun 1969. Klasifikasi ASIA/IMSOP dipakai dibanyak negara karena
sistem tersebut dipandang akurat dan komperhensif. Skala kerusakan menurut ASIA/IMSOP
adalah sebagai berikut:
1. FRANKEL SCORE A: kehilangan fungsi motorik dan sensorik lengkap
2. FRANKEL SCORE B: fungsi motorik hilang, fungsi sensorik utuh.
3. FRANKEL SCORE C: fungsi motorik ada tetapi secara praktis tidak berguna (dapat
menggerakkan tungkai tetapi tidak dapat berjalan).
4. FRANKEL SCORE D: fungsi motorik terganggu (dapat berjalan tetapi tidak dengan
nomal "gait").
5. FRANKEL SCORE E: tidak terdapat gangguan neurologik.

Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplit dan Inkomplit berdasarkan
ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan dibawah lesi. Terdapat 5 sindrom utama cedera medula
spinalis inkomplit menurut American Spinal Cord Injury Association yaitu:

Nama Sindroma Pola dari Lesi saraf Kerusakan

Central Cord Cedera pada posisi central dan Menyebar ke daerah sacral.
syndrome sebagian daerah lateral. Sering Kelemahan otot ekstremitas atas
terjadi pada trauma daerah lebih berat dari ekstermitas
servikal bawah.

Anterior Cord Cedera pada sisi anterior dan Kehilangan perioperatif dan
Syndrome posterior dari medula spinalis. kehilangan fungsi motorik secara
Cedera akan menghasilkan ipsilateral
gangguan medula spinalis
unilateral

Brown Sequard Kerusakan pada anterior dari Kehilangan fungsi motorik dan
Syndrome daerah putih dan abu-abu medula sensorik secara komplit.
spinalis.
Cauda Equina Kerusakan pada posterior dari Kerusakan proprioseptif
Syndrome daerah putih dan abu-abu medula diskriminasi dan getaran. Fungsi
spinalis motorik juga terganggu

Posterior Cord Kerusakan pada saraf lumbal atau Kerusakan sensori dan lumpuh
Syndrome sacral sampai ujung medulla flaccid pada ekstremitas bawah
spinalis dan kontrol berkemih dan
defekasi

Cedera medulla spinalis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


1. Complete injury
Complete injury atau cedera penuh mengakibatkan hilangnya fungsi sensorik dan motorik
secara total dibawah level cedera. Terlepas dari mekanisme cedera, jenis cedera secara
penuh ini bisa berupa diseksi atau robekan lengkap pada sumsum tulang belakang yang
menghasilkan dua kondisi:
a. Tetraplegia
Cedera terjadi pada level C1 sampai dengan T1. Fungsi otot residual tergantung
pada segmen servikal yang terpengaruh.
b. Paraplegia
Dikatakan paraplegia apabila terdapat kerusakan ataupun hilangnya fungsi
sensorik dan motoric pada segmen thorakal, lumbar ataupun sacral (Kirshblum
dkk, 2011).
2. Incomplete injury
Apabila masih terdapat fungsi sensorik dan motorik yang masih dalam keadaan baik
dibawah tingkat neurologis, termasuk pada segmen sacral S4-S5 (Kirshblum dkk, 2011).

Pola karakteristik cedera neurologis tertentu sering ditemukan pada pasien dengan cedera
medulla spinalis. Pola-pola ini harus dikenali sehingga tidak membingungkan pemeriksa.
Berdasarkan sindrom medulla spinalis, trauma medulla spinalis dikelompokkan sebagai
berikut:
a. Complete transaction
Kondisi ini menyebabkan semua traktus di medulla spinalis terputus menyebabkan
semua fungsi yang melibatkan medulla spinalis di bawah level terjadinya
transection semua terganggu dan terjadi kerusakan permanen.Secara klinis
menyebabkan kehilangan kemampuan motorik berupa tetraplegia pada transeksi
cervical dan paraplegia jika terjadi pada level thorakal. Terjadi flaksid otot,
hilangnya refleks dan fungsi sensoris dibawah level trabsseksi. Kandung kemih
dan susu atoni sehingga menyebabkan ileus paralitik. Kehilangan tonus vasomotor
area tubuh dibawah lesi menyebabkan tekanan darah rendah dan tidak stabil.
Kehilangan kemampuan perspirasi menyebabkan kulit kering dan pucat, juga
terjadi gangguan pernapasan.
b. Incomplete transaction : Central cord syndrome
Sindrom ini ditandai dengan hilangnya kekuatan motorik lebih banyak pada
ekstremitas atas dibandingkan dengan ekstremitas bawah, dengan kehilangan
sensorik yang bervariasi. Biasanya sindrom ini terjadi setelah adanya trauma
hiperekstensi pada pasien yang telah mengalami kanalis stenosis servikal
sebelumnya. Dari anamnesis didapatkanadanya riwayat jatuh kedepan dengan
dampak pada daerah wajah. Dapat terjadi dengan atau tanpa fraktur tulang servikal
atau dislokasi. Gambaran khas Central Cord Syndrome adalah kelemahan yang
lebih prominen pada ekstremitas atas dibanding ektremitas bawah. Pemulihan
fungsi ekstremitas bawah biasanya lebih cepat, sementara pada ekstremitas atas
(terutama tangan dan jari) sangat sering dijumpai disabilitas neurologic permanen.
Hal ini terutama disebabkan karena pusat cedera paling sering adalah setinggi
VC4-VC5 dengan kerusakan paling hebat di medulla spinalis C6 dengan lesi LMN.
c. Incomplete transection : Anterior Cord Syndrome
Sindrom ini ditandai dengan paraplegi dan kehilangan sensorik disosiasi dengan
hilangnya sensasi nyeri dan suhu. Fungsi kolumna posterior (posisi, vibrasi, dan
tekanan dalam) tetap bertahan. Biasanya anterior cord syndrome disebabkan infark
pada daerah medulla spinalis yang diperdarahi oleh arteri spinalis anterior.
Prognosis sindrom ini paling buruk dibandingkan cedera inklomplit lainnya.
Kehilangan sensasi nyeri dan suhu pada level dibawah lesi tetapi sensoris terhadap
raba, tekanan, posisi, dan getaran tetap baik
d. Brown Sequard Syndrome
Sindrome ini terjadi akibat hemiseksi medulla spinalis, biasanya akibat luka
tembus. Namun variasi gambaran klasik tidak jarang terjadi. Pada kasus murni,
sindrom ini terdiri dari kehilangan sistem motorik ipsilateral (traktus
kortikospinalis) dan hilangnya sensasi posisi (kolumna posterior), disertai dengan
hilangnya sensasi suhu serta nyeri kontralateral mulai satu atau dua level di bawah
level trauma (traktus spinothalamikus). Walaupun sindrom ini disebabkan trauma
tembus langsung ke medulla spinalis, biasanya masih mungkin untuk terjadi
perbaikan. Kondisi ini terjadi parese ipsilateral di bawah level lesi disertai
kehilangan fungsi sensoris sentuhan, tekanan, getaran dan posisi. Terjadi gangguan
kehilangan sensoris nyeri dan suhu kontralatetal.

D. Etiologi Trauma Medulla Spinalis


Trauma Medula Spinalis bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah akibat trauma
langsung yang mengenai tulang belakang dan melampaui batas kemampuan tulang belakang
dala melindungi saraf-saraf yang ada di dalamnya. Trauma tersebut meliputi kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan industri, jatuh dari bangunan, pohon, luka tusuk, luka tembak dan terbentur
benda keras (Muttaqin, 2008).

Trauma Medula Spinalis dibedakan menjadi 2 macam:


1. Cedera medula spinalis traumatik
Terjadi ketika benturan fisik eksternal seperti yang diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan
bermotor, jatuh atau kekerasan, merusak medula spinalis. Cedera medula spinalis traumatic
ditandai sebagai lesi traumatik pada medula spinalis dengan beragam defisit motorik
dan sensorik atau paralisis.
2. Cedera medula spinalis non traumatik
Terjadi ketika kondisi kesehatan seperti penyakit, infeksi atau tumor mengakibatkan
kerusakan pada medula spinalis, atau kerusakan yang terjadi pada medula spinalis yang
bukan disebabkan oleh gaya fisik eksternal. Faktor penyebab dari cedera medula spinalis
mencakup penyakit motor neuron, myelopati spondilotik, penyakit infeksius dan
inflamatori, penyakit neoplastik, penyakit vaskuler, kondisi toksik dan metabolik dan
gangguan kongenital dan perkembangan.

E. Faktor Resiko Trauma Medula Spinalis


Menurut Aryani (2008) dan Tarwoto (2007) faktor resiko yang menyebabkan terjadinya trauma
medula spinalis adalah sebagai berikut:
1. Faktor Usia
Usia yang sudah memasuki masa lansia atau di atas 60 tahun akan cenderung mengalami
proses penuaan, sehingga fungsi tulangnya juga menurun.
2. Jenis Kelamin
Laki-laki lebih cenderung banyak yang terkena trauma medula spinalis karena faktor
pekerjaan dan gaya hidup.
3. Alkohol
Alkohol dapat mengurangi kepadatan tulang dan mengakibatkan peningkatan fraktur, atau
gangguan tulang lainnya yang akhirnya menyebabkan tulang belakang rentang terhadap
trauma pada medula spinalis.
4. Merokok
Pada orang yang merokok proses pengeropoasan tulang tulang lebih cepat, dan tingkat
fraktur vertebra pinggul dan lebih tinggi, di antara orang-orang yang merokok. Tembakau,
nikotin, dan bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok mungkin langsung beracun ke
tulang, atau mereka menghalangi penyerapan kalsium dan lain gizi yang diperlukan untuk
kesehatan tulang.
5. Minum Obat saat Berkendara
Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama cedera tulang belakang untuk
orang dewasa, sementara jatuh adalah penyebab paling tinggi cedera pada orang dewasa
yang sudah tua. Dengan meminum obat obatan dengan efek samping mengantuk, maka
kesadaran seseorang akan menurun dan akan mengganggu konsentrasi dalam berkendara.
6. Penyakit Osteomyelitis dan Spondilitis TB
Pada penyakit osteomielitis dan spondilitis TB bisa terjadi komplikasi fraktur patologis.
Hal ini terjadi pada keadaan osteomielitis vertebra yang akan menyebabkan kolaps vertebra
dan kompresi medula spinalis.

F. Patofisiologi Trauma Medulla Spinalis


Kerusakan yang dialami medula spinalis dapat bersifat sementara atau menetap akibat trauma
terhadap tulang belakang. Medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio
medula spinalis), tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan
adalah berupa edema, perdarahan perivaskuler dan infark di sekitar pembuluh darah. Pada
kerusakan medula spinalis yang menetap, secara makroskopis, kelainannya dapat terlihat dan
terjadi lesi, kontusio, laserasi dan pembengkakan daerah tertentu di medula spinalis.
Segera setelah terjadi kontusio atau robekan akibat cedera, serabut-serabut saraf mulai
membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke substansi grisea medulla spinalis menjadi
terganggu. Tidak hanya hal ini saja yang terjadi pada cedera pembuluh darah medula spinalis,
tetapi proses patogenik dianggap menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cedera medula
spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulkan iskemia, hipoksia,
edema, dan lesi-lesi hemoragi, yang pada gilirannya mengakibatkan kerusakan mielin dan
akson. Reaksi sekunder ini, diyakini menjadi penyebab prinsip degenerasi medula spinalis pada
tingkat cedera, sekarang dianggap reversibel 4 sampai 6 jam setelah cedera. Untuk itu jika
kerusakan medula tidak dapat diperbaiki, maka beberapa metode mengawali pengobatan
dengan menggunakan kortikosteroid dan obat-obat anti-inflamasi lainnya yang dibutuhkan
untuk mencegah kerusakan sebagian dari perkembangannya,masuk kedalam kerusakan total
dan menetap.

G. Manifestasi Klinis Trauma Medulla Spinalis


Menurut Tarwoto (2007) tanda dan gejala dari cedera medulla spinalis, yaitu:
Hilangnya gerakan volunter, hilangnya sensasi nyeri, temperature, tekanan dan prospriosepsi,
hilangnya fungsi bowel dan bladder dan hilangnya fungsi spinal dan reflex autonom. Batas
cedera medulla spinalis, tanda dan gejala :
Level Fungsi Motorik Refleks Fungsi Sensorik Fungsi Pernapasan Fungsi Usus dan
Cedera Tendon Kandung Kemih
Spinal Profunda Volunter
C1-C4 Kuadriplegia: Semuanya Hilangnya semua Hilangnya fungsi Tidak ada
Hilangnya hilang fungsi sensorik pernapasan volunter kendali usus
semua fungsi pada leher ke (interkostal) dan atau kandung
motorik dari bawah (C4 involunter (frenik); kemih
leher ke bawah mempersarafi dukungan ventilasi
klavikula) dan trakeostomi
dibutuhkan
C5 Kuadriplegia: C5, C6 Hilangnya Saraf frenik utuh, Tidak ada
Hilangnya sensasi di bawah tetapi otot kontrol usus
semua fungsi di klavikula dan interkostal tidak atau kandung
bawah bahu atas bagian lengan, utuh kemih
tangan, dada,
abdomen dan
ekstrimitas
bawah.
C6 Kuadriplegia: C5, C6 Hilangnya semua Saraf frenik utuh, Tidak ada
Hilangnya brakioradial aspek pada lesi tetapi otot kontrol usus
semua fungsi di is C5 tetapi sensasi interkostal tidak atau kandung
bawah bahu dan lengan dan ibu utuh kemih
lengan atas; jari lebih terasa
penurunan
kontrol siku,
lengan bawah,
dan tangan
C7 Kuadriplegia: C7, C8 Hilangnya Saraf frenik utuh, Tidak ada fungsi
hilangnya trisep sensasi di bawah tetapi otot usus atau
kontrol motorik klavikula dan interkostal tidak kandung kemih
pada bagian bagian lengan utuh
lengan dan serta tangan
tangan
C8 Kuadriplegia: Hilangnya Saraf frenik utuh, Tidak ada fungsi
hilangnya sensasi di bawah tetapi otot usus atau
kontrol motorik dada dan bagain interkostal tidak kandung kemih
pada lengan dan tangan utuh
tangan
T1-T6 Paraplegia: Hilangnya Saraf frenik Defekasi atau
hilangnya setiap sensasi di bawah berfungsi mandiri. berkemih tidak
sensasi di bawah area dada tengah beberapa gangguan berfungsi
area dada, otot intercostal
termasuk otot di
batang tubuh
T6-T12 Paraplegia: Hilangnya setiap Fungsi pernapasan Kontrol defekasi
kehilangan sensasi di bawah tidak terganggu atau berkemih
kontrol motorik pinggang tidak berfungsi
di bawah
pinggang

L1-L3 Paraplegia: L2-L4 Hilangnya Fungsi pernapasan Kontrol defekasi


hilangnya kontol (sentakan sensasi abdomen tidak terganggu atau berkemih
sebagian tungkai lutut) baah dan tungkai tidak ada
dan pelvis
L3-S5 Paraplegia: S1-S2 Saraf sensori Fungsi pernapasan Kontrol defekasi
inkomplet (sentakan lumbal tidak terganggu atau berkemih
Kontrol motorik pergelangan menginervasi mungkin
segmental kaki) tungkai atas dan terganggu
L4-S1: abduksi bawah Segmen S2-S4
dan rotasi L5: aspek medial mengendalikan
internal pinggul, kaki kontinensia urin
dorsifleksi S1: aspek lateral Segmen S3-S5
pergelangan kaki mengendalikan
kaki dan inversi S2: aspek kontinensia
kaki posterior feses (otot
L5-S1: eversi betis/paha perianal)
kaki Saraf sensori
L4-S2: fleksi sakral
lutut menginervasi
S1-S2: fleksi tungkai bawah,
plantar S1-S2: kaki dan
(sentakan perineum
pergelangan
kaki)
S2-S5: kontrol
usus/kandung
kemih
Sumber: Patricia G. Morton. Keperawatan Kritis Vol. 2 Hal 1089-1093

a. Perubahan reflex
Setelah cedera medulla spinalis terjadi edema medulla spinalis sehingga stimulus reflex juga
terganggu misalnya reflex pada bladder, aktivitas visceral, reflex ejakulasi.
b. Spasme otot
Gangguan spasme otot terutama terjadi pada trauma komplit transversal, dimana pasien terjadi
ketidakmampuan melakukan pergerakan.
c. Spinal shock
Tanda dan gejala spinal shock meliputi flaccid paralisis dibawah garis kerusakan, hilangnya
sensasi, hilangnya refleks-refleks spinal, hilangnya tonus vasomotor yang mengakibatkan tidak
stabilnya tekanan darah, tidak adanya keringat dibawah garis kerusakan dan inkontinensia urin
dan retensi feses.
d. Autonomic dysreflexia
Autonomic dysreflexia terjadi pada cidera thorakal enam ke atas, dimana pasien mengalami
gangguan refleks autonom seperti terjadinya bradikardi, hipertensi paroksimal, distensi bladder.
e. Gangguan fungsi seksual
Banyak kasus memperlihatkan pada laki-laki adanya impotensi, menurunnya sensasi dan kesulitan
ejakulasi. Pasien dapat ereksi tetapi tidak dapat ejakulasi.

H. Pemeriksaan Diagnostik Trauma Medulla Spinalis


1. Pemeriksaan neurologis lengkap secara teliti segera setelah pasien tiba di rumah sakit
2. Pemeriksaan tulang belakang: deformasi, pembengkakan, nyeri tekan, gangguan
gerakan(terutama leher)
3. Pemerikaan radiologis: foto polos vertebra AP dan lateral. Pada servikal diperlukan
proyeksi khusus mulut terbuka (odontoid).
a. Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis Trauma tulan (fraktur, dislokasi), untuk kesejajaran,
reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
b. Foto rontgen thorak, memperlihatkan keadan paru (contoh: perubahan pada
diafragma, atelektasis)
4. Bila hasil meragukan lakukan CT-Scan,bila terdapat defisit neurologi harus dilakukan MRI
atau mielografi.
a. CT-Scan
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural
b. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
c. Mielografi
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya
tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis
(biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi).
5. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vital, volume tidal): mengukur volume inspirasi
maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma
torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).
6. GDA: Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi
7. Serum kimia, adanya hiperglikemia atau hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit,
kemungkinan menurunnya Hb dan Hmt.
8. Urodinamik, proses pengosongan bladder.

I. Penatalaksanaan Trauma Medulla Spinalis


Prinsip penatalaksanaan medik trauma medula spinalis adalah sebagai berikut:
1. Segera dilakukan imobilisasi.
2. Stabilisasi daerah tulang yang mengalami cedera seperti dilakukan pemasangan collar
servical, atau dengan menggunakan bantalan pasir.
3. Mencegah progresivitas gangguan medula spinalis misalnya dengan pemberian
oksigen, cairan intravena, pemasangan NGT.
4. Terapi pengobatan:
a. Kortikosteroid seperti dexametason untuk mengontrol edema.
b. Antihipertensi seperti diazolxide untuk mengontrol tekanan darah akibat
autonomic hiperrefleksia akut.
c. Kolinergik seperti bethanechol chloride untuk menurunkan aktifitas bladder.
d. Anti depresan seperti imipramine hyidro chklorida untuk meningkatkan tonus leher
bradder.
e. Antihistamin untuk menstimulus beta – reseptor dari bladder dan uretra.
f. Agen antiulcer seperti ranitidine
g. Pelunak fases seperti docusate sodium.
5. Tindakan operasi, di lakukan dengan indikasi tertentu seperti adanya fraktur dengan
fragmen yang menekan lengkung saraf.
6. Rehabilisasi di lakukan untuk mencegah komplikasi, mengurangi cacat dan
mempersiapkan pasien untuk hidup di masyarakat.

J. Komplikasi Medulla Spinalis


Komplikasi yang dapat terjadi pasca cedera medula spinalis antara lain yaitu instabilitas dan
deformitas tulang vertebra, fraktur patologis, syringomyelia pasca trauma, nyeri dan gangguan
fungsi seksual. Komplikasi lain yang bisa terjadi yaitu:
1. Neurogenik shock
2. Hipoksia
3. Instabilitas spinal
4. Ileus paralitik
5. Infeksi saluran kemih
6. Kontraktur
7. Dekubitus
8. Konstipasi

K. Prognosis Trauma Medulla Spinalis


Sebuah penelitian Gaus, Syafruddin, dkk membuktikan bahwa kurang dari 5% pasien dengan
cedera medulla spinalis yang komplit dapat sembuh. Jika paralisis komplit bertahan sampai
72 jam setelah cedera, kemungkinan pulih adalah 0%. Prognosis lebih baik pada cedera
medulla spinalis yang tidak komplit. Jika masih terdapat beberapa fungsi sensorik, peluang
untuk bisa berjalan kembali adalah lebih dari 50%. Sembilan puluh persen pasien cedera
medulla spinalis dapat kembali ke rumah dan mandiri. Perbaikan fungsi motorik, sensorik dan
otonom dapat kembali dalam 1 minggu sampai 6 bulan pasca cedera. Kemungkinan pemulihan
spontan menurun setelah 6 bulan. Bila terjadi pergerakan penderita pada cedera yang tidak
stabil maka akan mempengaruhi medulla spinalis sehingga memperberat kerusakan.
Algoritma Spinal Cord Injury menurut U.S National Library of Medicine. National Institute
of Health.

L. Asuhan Keperawatan
1. PENGKAJIAN
Data subyektif
- Pengetahuan pasien tentang penyakit (cedera dan akibat dari gangguan neurologis)
- Inforasi tentang kejadian cidera, bagaimana sampai terjadi
- Adanya dyspnea
- Sensasi yang tidak biasannya (parasthesia)
- Riwayat hilangnya kesadaran
- Tidak adanya sensasi - gangguan sensorik
Data Obyektif
- Tingkat Kesadaran (Sadar/tidak sadar), GCS, pupil
- Status respirasi (Bervariasi)
- Orientasi tempat, waktu dan orang
- Sikap tubuh pasien, kekuatan motorik
- TTV (TD, Temp, Nadi), Integritas kuli
- Distensi bowel dan bladder

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kerusakan tulang punggung, disfungsi
neurovaskular, kerusakan sistem muskuloskeletal.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dan
perubahan membran alveolar kapiler.
3. Bersihan jalan nafas inefektif berhubungan dengan ketidakmampuan untuk membersihkan
sekret yang menumpuk.
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik.
5. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan immobilitas,
penurunan sensorik.
6. Gangguan BAK berhubungan dengan penurunan isyarat kandung kemih atau kerusakan
kemampuan untuk mengenali isyarat kandung kemih sekunder terhadap cedera medulla
spinalis.
7. Konstipasi berhubungan dengan kurangnya kontrol sfingter volunter sekunder terhadap cedera
medulla spinalis di atas T11 atau arkus refleks sakrum yang terlibat (S2-S4).
8. Nyeri berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama, cedera psikis dan alat traksi
9. Risiko tinggi cidera berhubungan dengan stimulasi refleks sistem saraf simpatis sekunder
terhadap kehilangan kontrol otonom.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kerusakan tulang punggung, disfungsi
neurovaskular, kerusakan sistem muskuloskeletal.
Tujuan: Mempertahankan pola nafas klien efektif
Kriteria hasil :
- RR = 12-20x/menit
- Nadi = 60-100x/menit
- Pernafasan cuping hidung (-)
- Retraksi dinding dada (-)
- Bunyi nafas vesikuler
- Cyanosis (-)
- CRT < 2 detik
Rencana Tindakan
1. Beri posisi kepala netral, tinggikan sedikit kepala tempat tidur jika dapat ditoleransi klien
2. Observasi TTV
3. Auskultasi suara nafas
4. Kaji tanda-tanda pola nafas tidak efektif (penggunaan otot-otot bantu pernafasan, pernafasan
cuping hidung, cyanosis)
5. Ajarkan teknik nafas dalam
6. Lakukan suction jika diperlukan
7. Beri tambahan O2 sesuai indikasi

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dan


perubahan membran alveolar kapiler.
Tujuan: Mengoptimalkan pertukaran gas pernafasan
Kriteria hasil :
- BGA dalam batas normal :
pH : 7,35-7,45
CO2 : 20-26 mEq (bayi), 26-28 mEq (dewasa)
PO2 (PaO2): 80-110 mmHg
PCO2 (PaCO2): 35-45 mmHg
SaO2 : 95-99 %
- Cyanosis (-)
- CRT < 2 detik
- RR = 12-20x/menit
- Suhu = 36,5 – 37,50 C
Rencana Tindakan
1. Istirahatkan klien dalam posisi semifowler.
2. Pertahankan oksigenasi NRM 8-10 L/menit.
3. Observasi TTV tiap jam atau sesuai respon klien.
4. Kolaborasi pemeriksaan BGA

3. Bersihan jalan nafas inefektif berhubungan dengan ketidakmampuan untuk membersihkan


sekret yang menumpuk.
Tujuan : jalan napas bersih
Kriteria hasil : Batuk efektif, pasien mampu mengeluarkan seket, bunyi napas normal, jalan
napas bersih, respirasi normal, irama dan jumlah pernapasan.
Rencana Tindakan
a. Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret
R/ Hilangnya kemampuan motorik berpengaruh terhadap kemampuan batuk.
b. Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher, bersihkan sekret)
R/ Menutup jalan nafas.
c. Monitor warna, jumlah dan konsistensi sekret, lakukan kultur
R/ Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan pnemonia.
d. Lakukan suction bila perlu
R/ Pengambilan secret dan menghindari aspirasi.
e. Auskultasi bunyi napas
R/ Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru.
f. Lakukan latihan nafas
R/ mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi sekret.
g. Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi
R/ Mengencerkan sekret
h. Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah
R/ Meninghkatkan suplai oksigen dan mengetahui kadar olsogen dalam darah.
i. Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status neurologi
R/ Mendeteksi adanya infeksi dan status respirasi.

4. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik.
Tujuan : Memperbaiki mobilitas
Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur,
footdrop, meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi, mendemonstrasikan
teknik /perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas.
Rencana Tindakan
a. Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam.
R/ Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam.
b. Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan kenyamanan
R/ Mencegah terjadinya dekubitus.
c. Beri papan penahan pada kaki
R/ Mencegah terjadinya foodrop
d. Gunakan otot orthopedhi, edar, handsplits
R/ Mencegah terjadinya kontraktur.
e. Lakukan ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera 4-5 kali /hari
R/ Meningkatkan stimulasi dan mencehag kontraktur.
f. Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien.
R/ Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan.
g. Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot seperti splints
R/ Memberikan pancingan yang sesuai.

5. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan penurunan immobilitas,
penurunan sensorik.
Tujuan : Mempertahankan Intergritas kulit
Kriteria Hasil : Keadaan kulit pasien utuh, bebas dari kemerahan, bebas dari infeksi pada
lokasi yang tertekan.
Rencana Tindakan
a. Kaji faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit
R/ Salah satunya yaitu immobilisasi, hilangnya sensasi, Inkontinensia bladder /bowel.
b. Kaji keadaan pasien setiap 8 jam
R/ Mencegah lebih dini terjadinya dekubitus.
c. Gunakan tempat tidur khusus (dengan busa)
R/ Mengurangi tekanan 1 tekanan sehingga mengurangi resiko dekubitas
d. Ganti posisi setiap 2 jam dengan sikap anatomis
R/ Daerah tertekan menimbulkan hipoksia, perubahan posisi meningkatkan sirkulasi darah.
e. Pertahankan kebersihan dan kekeringan tempat tidur dan tubuh pasien.
R/ Lingkungan yang lembab dan kotor mempermudah terjadinya kerusakan kulit
f. Lakukan pemijatan lembut diatas daerah tulang yang menonjol dengan gerakan memutar.
R/ Meningkatkan sirkulasi darah
h. Lakukan perawatan kulit pada daerah yang lecet / rusak setiap hari
R/ Mempercepat proses penyembuhan
6. Gangguan BAK berhubungan dengan penurunan isyarat kandung kemih atau kerusakan
kemampuan untuk mengenali isyarat kandung kemih sekunder terhadap cedera medulla
spinalis.
Tujuan : Peningkatan eliminasi urine
Kriteria Hasil : Pasien dpat mempertahankan pengosongan blodder tanpa residu dan distensi,
keadaan urine jernih, kultur urine negatif, intake dan output cairan seimbang.
Rencana tindakan
a. Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih
R/ Efek dari tidak efektifnya bladder adalah adanya infeksi saluran kemih
b. Kaji intake dan output cairan
R/ Mengetahui adekuatnya gunsi gnjal dan efektifnya blodder.
c. Lakukan pemasangan kateter sesuai program
R/ Efek trauma medulla spinalis adlah gangguan refleks berkemih sehingga perlu bantuan
dalam pengeluaran urine
d. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter setiap hari
R/ Mencegah urine lebih pekat yang berakibat timbulnya ........
e. Cek bladder pasien setiap 2 jam
R/ Mengetahui adanya residu sebagai akibat autonomic hyperrefleksia
f. Lakukan pemeriksaan urinalisa, kultur dan sensitibilitas
R/ Mengetahui adanya infeksi
g. Monitor temperatur tubuh setiap 8 jam
R/ Temperatur yang meningkat indikasi adanya infeksi.

7. Konstipasi berhubungan dengan kurangnya kontrol sfingter volunter sekunder terhadap cedera
medulla spinalis di atas T11 atau arkus refleks sakrum yang terlibat (S2-S4).
Tujuan : Memperbaiki fungsi usus
Kriteria hasil : Pasien bebas konstipasi, keadaan feses yang lembek, berbentuk.
Rencana tindakan
a. kaji pola eliminasi bowel
R/ Menentukan adanya perubahan eliminasi
b. b. Berikan diet tinggi serat
R/ Serat meningkatkan konsistensi feses
c. Berikan minum 1800 – 2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi
R/ Mencegah konstipasi
d. Auskultasi bising usus, kaji adanya distensi abdomen
R/ Bising usus menentukan pergerakan perstaltik
e. Hindari penggunaan laktasif oral
R/ Kebiasaan menggunakan laktasif akan tejadi ketergantungan
f. Lakukan mobilisasi jika memungkinkan
R/ Meningkatkan pergerakan peritaltik
g. Berikan suppositoria sesuai program
R/ Pelunak feses sehingga memudahkan eliminasi
h. Evaluasi dan catat adanya perdarah pada saat eliminasi
R/ Kemungkinan perdarahan akibat iritasi penggunaan suppositoria

8. Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama, cedera psikis dan alt traksi
Tujuan : Memberikan rasa nyaman
Kriteria hasil : Melaporkan penurunan rasa nyeri /ketidak nyaman, mengidentifikasikan cara-
cara untuk mengatasi nyeri, mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan
aktifitas hiburan sesuai kebutuhan individu.
Rencana tindakan
a. Kaji terhadap adanya nyeri, bantu pasien mengidentifikasi dan menghitung nyeri, misalnya
lokasi, tipe nyeri, intensitas pada skala 0 – 1-
R/ Pasien biasanya melaporkan nyeri diatas tingkat cedera misalnya dada / punggung atau
kemungkinan sakit kepala dari alat stabilizer
b. Berikan tindakan kenyamanan, misalnya, perubahan posisi, masase, kompres hangat / dingin
sesuai indikasi.
R/ Tindakan alternatif mengontrol nyeri digunakan untuk keuntungan emosionlan, selain
menurunkan kebutuhan otot nyeri / efek tak diinginkan pada fungsi pernafasan.
c. Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya, pedoman imajinasi visualisasi, latihan nafas
dalam.
R/ Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping
d. kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, relaksasi otot, misalnya dontren (dantrium);
analgetik; antiansietis.misalnya diazepam (valium)
R/ Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme /nyeri otot atau untuk menghilangkan-ansietas
dan meningkatkan istrirahat.

9. Risiko tinggi cidera berhubungan dengan stimulasi refleks sistem saraf simpatis sekunder
terhadap kehilangan kontrol otonom, ketidakstabilan kolumna spinalis
Tujuan: Membebaskan klien dari cidera karena menurunnya fungsi reflex
Kriteria hasil:
- Cidera tidak terjadi
- Ala-alat imobilisasi terpasang paten
Intervensi
1. Pertahankan tirah baring dan alat-alat imobilisasi tetap terpasang dengan paten
R/ memastikan pasien aman dan menghindari terjadinya cedera
2. Pasang penghalang samping tempat tidur dan beri bantalan lunak
R/ mencegah agar pasien tidak jatuh dari tempat tidur
3. Atur posisi tempat tidur serendah mungkin
R/ meminimalkan kemungkinan pasien jatuh dari tempat yang tinggi
4. Atur posisi tempat tidur klien sedekat mungkin dengan jangkauan pantauan perawat
R/ memudahkan perawat dalam memberikan penanganan pada pasien
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M. E. 1999.Rencana Asuham Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan


Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC

Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah: Buku Saku Untuk Brunner dan Suddarth.
Jakarta: EGC.

Tambayong, J. 2000. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tarwoto, dkk. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Sagung Seto.

Batticaca, B Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem Persyarafan.
Jakarta: Salemba Medika.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.Brunner & Suddath. 2001.
Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

Akhyar, Yayan. 2009. Traktus Spinotalamikus: Files of DrsMed FK UNRI, (Online)


http://www.yayanakhyar.co.nr diakses tanggal 15 April 2019

Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Kirshblum, steven dkk. 2011. International standards for neurological classification of spinal cord
injury. Diakses dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3232636/pdf/scm-34-
535.pdf

Tidy, C. 2014. Spinal Cord Injury and Compression. EMIS Egton Medical Information System.

Lawrence S Chin, Robert B and Molly G King Endowed. 2014. Spinal Cord Injuries. Medscape
Medical News.(Online), http://emedicine.medscape.com/article/793582, diakses tanggal 15
April 2019

Jasajurnal. 2017. Diagnosis dan Tatalaksana Trauma Medulla Spinalis, (Online)


http://www.jasajurnal.com/diagnosis-dan-tatalaksana-trauma-medulla-spinalis/, diakses
tanggal 15 April 2019
Ziu, Endrit & Fassil B. Mesfin. 2017. Spinal Shock. Columbia: NCB

Sunardi. 2008. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Trauma Medula Spinalis.


http://nardinurses.files.wordpress.com/2008/10/askep-pasien-dengan-trauma-
medspin.ppt.Diakses tanggal 15 April 2019 Pukul 10:58 WIB