Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

LAB KLINIK KEPERAWATAN KRITIS


INSTALASI HEMODIALISA

Disusun Oleh:

M.Rezky Aryadie 1035181012

PROGRAM STUDI NERS

FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS MH THAMRIN

JAKARTA

2019
A. Definisi
Hemodialisa berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis = pemisahan atau filtrasi.
Hemodialisis adalah suatu metode terapi dialis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan
dan produk limbah dari dalam tubuh ketika secara akut ataupun secara progresif ginjal tidak
mampu melaksanakan proses tersebut. Tetapi ini dilakukan dengan menggunakan sebuah
mesin yang dilengkapi dengan membran penyaring semipermeabel (ginjal buatan).
Hemodialisis dapat dilakukan pada saar toksin atau zat beracun harus segera dikeluarkan
untuk mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian (Mutaqin & Sari, 2011).

Hemodialisa adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti fungsi ginjal untuk
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti
air, natrium, kalium, hydrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran
semi permeable sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi
proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi (Kusuma & Nurarif, 2012).

Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi darah yang terjadi
akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisis.
Hemodialisis merupakan salah satu bentuk terapi pengganti ginjal (renal replacement
therapy/RRT) dan hanya menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis
dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien dengan AKI (Acute Kidney Injury)
yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut prosedur yang dilakukan HD dapat
dibedakan menjadi 3 yaitu: HD darurat/emergency, HD persiapan/preparative, dan HD
kronik/reguler (Daurgirdas et al., 2007).

B. Tujuan Hemodialisa
Tujuan dari hemodilisis adalah untuk memindahkan produk-produk limbah terakumulasi
dalam sirkulasi klien dan dikeluarkan ke dalam mesin dialisis. Pada klien gagal ginjal kronik,
tindakan hemodialisis dapat menurunkan risiko kerusakan organ-organ vital lainnya akibat
akumulasi zat toksik dalam sirkulasi, tetapi tindakan hemodialisis tidak menyembuhkan atau
mengembalikan fungsi ginjal secara permanen. Klien GGK biasanya harus menjalani terapi
dialiss sepanjang hidupnya (biasanya tiga kali seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam
perkali terapi) atau sampai mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal (Mutaqin & Sari,
2011).
C. Indikasi Hemodialisa
Indikasi HD dibedakan menjadi HD emergency atau HD segera dan HD kronik. Hemodialis
segera adalah HD yang harus segera dilakukan, Indikasi hemodialisis segera antara lain
(Duaurgirdas et al., 2007):
a. Kegawatan ginjal
b. Klinis: keadaan uremik berat, overhidrasi
c. Oligouria (produksi urine <200 ml/12 jam)
d. Anuria (produksi urine <50 ml/12 jam)
e. Hiperkalemia (terutama jika terjadi perubahan ECG, biasanya K >6,5 mmol/l )
f. Asidosis berat ( pH <7,1 atau bikarbonat <12 meq/l)
g. Uremia ( BUN >150 mg/dL)
h. Ensefalopati uremikum
i. Neuropati/miopati uremikum
j. Perikarditis uremikum
k. Disnatremia berat (Na >160 atau <115 mmol/L
l. Hipertermia
m. Keracunan akut (alkohol, obat-obatan) yang bisa melewati membran dialisis.
n. Indikasi Hemodialisis Kronik

Hemodialisis kronik adalah hemodialisis yang dikerjakan berkelanjutan seumur hidup


penderita dengan menggunakan mesin hemodialisis. Menurut K/DOQI dialisis dimulai jika
GFR <15 ml/mnt. Keadaan pasien yang mempunyai GFR <15ml/menit tidak selalu sama,
sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai jika dijumpai salah satu dari hal tersebut di
bawah ini (Daurgirdas et al., 2007):
a. GFR <15 ml/menit, tergantung gejala klinis
b. Gejala uremia meliputi; lethargy, anoreksia, nausea, mual dan muntah.
c. adanya malnutrisi atau hilangnya massa otot.
d. Hipertensi yang sulit dikontrol dan adanya kelebihan cairan.
e. Komplikasi metabolik yang refrakter.

D. Prinsip Hemodialisis
Seperti pada ginjal, ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis, yaitu: difusi, osmosis,
dan ultrafiltrasi.
a. Proses difusi adalah proses berpindahnya zat karena adanya perbedaan kadar di dalam
darah, makin banyak yang berpindah ke dialisat.
b. Proses osmosis adalah proses berpindahnya air karena tenaga kimiawi yaitu
perbedaan osmolalitas dan dialisat.
c. Proses Ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya zat dan air karena perbedaan
hidrostatik didalam darah dan dialisat.

Luas permukaan membran dan daya saring membran mempengaruhi jumlah zat dan air
yang berpindah. Pada saat dialisis, pasien, dialiser dan rendaman dialisat memerlukan
pemantauan yang konstan untuk mendeteksi berbagai komplikasi yang dapat terjadi,
misalnya: emboli udara, ultrafiltrasi yang tidak adekuat atau berlebihan (hipotensi, kram,
muntah) perembesan darah, kontaminasi, dan komplikasi terbentuknya pirau atau fistula
(Mutaqin & Sari, 2011)

E. Proses Hemodialisis
a. Tahap Persiapan
Pasien dipersilahkan masuk ke ruangan HD dalam keadaan mesin sudah siap pakai
karena perawat sudah menyiapkannya. Pada saat itu pasien menunggu di ruang
tunggu. Sebenarnya bagi pasien yang memungkinkan bisa dilibatkan sejak awal, dari
mulai menghidupkan mesin, mempersiapkan alat-alat, memasang alat pada mesin
sampai mesin tersebut dipakai.
 Menimbang BB
Penimbangan BB bagi pasien yang mampu memang sudah dilakukan sendiri
oleh pasien begitu mereka masuk ruangan. Pasien menyebutkan berapa BBnya
dan perawat mencatatnya dalam lembaran observasi. Dalam hal ini pasien dapat
diberi kesempatan untuk mencatat Bbnya sendiri, namun tetap dalam
pengawasan perawat.
 Mengukur suhu badan, tekanan darah dan menghitung denyut nadi
Kegiatan-kegiatan ini semuanya masih dilakukan oleh perawat. Sebenarnya
dapat mulai dikenalkan kepada pasien mengenai alat-alat dan cara
pengukurannya, mulai dari hal-hal yang sederhana tapi dapat menarik minat
untuk belajar.

b. Tahap pelaksanaan
Dalam proses HD diperlukan Akses vaskuler -pembuluh darah- hemodialisis (AVH)
yang cukup baik agar dapat diperoleh aliran darah yang cukup besar, yaitu diperlukan
kecepatan darah sebesar 200-300 ml/menit secara kontinu selama HD 4-5 jam. AVH
dapat berupa kateter yang dipasang di pembuluh darah vena di leher atau paha dan
bersifat temporer. Untuk yang permanen dibuat hubungan antara arteri dan vena,
biasanya di lengan bawah disebut Arteriovenous Fistula, lebih populer disebut
(Brescia-) Cimino Fistula.Kemudian aliran darah dari tubuh pasien masuk ke dalam
sirkulasi darah mesin HD yang terdiri dari selang Inlet/arterial (ke mesin) dan selang
Outlet/venous (dari mesin ke tubuh).

Kedua ujungnya disambung ke jarum dan kanula yang ditusukkan ke pembuluh


darah pasien. Darah setelah melalui selang Inlet masuk ke dialiser. Jumlah darah
yang menempati sirkulasi darah di mesin berkisar 200 ml. Dalam dialiser ini darah
dibersihkan, sampah-sampah secara kontinu menembus membran dan menyeberang
ke kompartemen dialisat.

Di pihak lain cairan dialisat mengalir dalam mesin HD dengan kecepatan 500
ml/menit masuk ke dalam dialiser pada kompartemen dialisat. Cairan dialisat
merupakan cairan yang pekat dengan bahan utama elektrolit dan glukosa, cairan ini
dipompa masuk ke mesin sambil dicampur dengan air bersih yang sudah menjalani
proses pembersihan yang rumit (water treatment). Selama proses HD, darah pasien
diberi Heparin agar tidak membeku ketika berada di luar tubuh yaitu dalam sirkulasi
darah mesin. Selama menjalani HD, posisi pasien dapat dalam keadaan duduk atau
berbaring.

c. Tahap penghentian
Pada tahap penghentian hemodialisis meliputi : penghentian aliran darah, mencabut
jarum inlet dan menekan bekas tusukan sambil menunggu sampai aliran darah pada
venous blood line habis. Langkah selanjutnya adalah mencabut jarum out line dan
menekan bekas tusukan, mengganti gaas bethadine dan fiksasi dengan plester.
Setelah penghentian hemodialisis, dilakukan pengukuran tekanan darah, mengukur
suhu, mengawasi penimbangan berat badan, membereskan alat-alat dan dilanjutkan
dengan desinfeksi alat.

Walaupun hemodialisis berfungsi mirip dengan cara kerja ginjal, tindakan ini hanya
mampu menggantikan sekitar 10% kapasitas ginjal normal. Selain itu, hemodialisis
bukannya tanpa efek samping. Beberapa efek samping hemodialisis antara lain
tekanan darah rendah, anemia, kram otot, detak jantung tak teratur, mual, muntah,
sakit kepala, infeksi, pembekuan darah (trombus), dan udara dalam pembuluh darah
(emboli) (Haven,2005).
Pada gagal ginjal kronik, hemodialisis biasanya dilakukan 3 kali seminggu. Satu sesi
hemodialisis memakan waktu sekitar 3 sampai 5 jam. Selama ginjal tidak berfungsi,
selama itu pula hemodialisis harus dilakukan, kecuali ginjal yang rusak diganti ginjal
yang baru dari donor. Tetapi, proses pencangkokan ginjal sangat rumit dan
membutuhkan biaya besar

F. Pedoman Pengkajian Praprosedur Hemodilasis


Untuk memudahkan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pasien dengan
hemodialisis yang komprehensif, berikut adalah pedoman dalam melakukan pengkajian
keperawatan praprosedur hemodialisa.
1)Pengkajian Anamnesis
a. Kaji identitas klien
Rasional: memudahkan kelengkapan asuhan
b. Kaji adanya progam dokter tentang pelaksanaan hemodilasis
Rasional: Sebagai peran kolaboratif untuk melaksanakan intervensi keperawatan yang
sesuai dengan progam dokter
Kaji kondisi psikologis, mekanisme koping, dan adanya kecemasan praprosedur
c. Rasional: mekanisme koping maladktif terutama pada pasein yang pertama
kali divonis untuk cuci darah dapat memepengaruhi pelaksanaan. Peran perawat
sangat penting untuk membantu pasien dalam mencari mekanisme koping yang
positif. Prosedu kecemasan merupakan hal yang paling sering dialami pasien yang
pertama kali dilakukan hemodilalisis. Peran perawat memberikan dukungan dan
penjelasan yang ringkas dan mudah dimengerti agar bisa menurunkan kecemasan
pasien.
d. Kaji pengetahuan pasien tentang prosedur hemodialisis
Rasional: untuk menentukan tingkat koorperatif dan sebaga materi dasar untuk
memberikan penjelasan prosedur hemodialisis sesuai dengan tingkat pengetahuannya.

e. Beri penjelasan prosedur pemasangan dan lakukan penandatangan informed


consent
Rasional: hemodialisis dapat menimbulkan komplikasi. Klien perlu diberi penjelasan
dan menyatakan persetujuannya melalui surat pesetujuan tindakan.
f. Kaji adanya riwayat dilakukan hemodialisis sebelumnya.
Rasional: untuk memantau reaksi pasca hemodialisis
g. Kaji pemakaian obat-obatan sebelumnya
Rasional: klien yang meminum obat-obatan (preparat glikosida jantung, antibiotik,
antiaritmia, antihipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar
obat ini dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi
toksis. Beberapa obat akan dikeluarkan dari darah pada saat dialisis, oleh karena itu
penyesuaian dosis oleh dokter mungkin diperlukan. Obat-obat yang terikat dengan
protein tidak akan dikeluarkan selama dialisis. Pengeluaran metabolit obat yang lain
bergantung pada berat dan ukuran molekulnya. Apabila seorang pasien menjalani
dialisis, semua jenis obat dan dosisinya harus dievaluasi dengan cermat. Terapi
antihipertensi yang sering merupakan bagian dari susunan terapi dialisis meruapakan
salah satu contih dimana komunikasi, pendidikan dan evalusasi dapat memberikan
hasil yang berbeda. Pasien harus mengetahui kapan minum obat dan kapan
menundanya. Sebagai contoh, jika obat antihipertensi diminum pada pagi hari yang
sama dengan saat menjalani hemodialisis, efek hipotensi dapat terjadi selama
hemodialisis dan menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.

2)Pemeriksaan Fisik
a. Timbang berat badan pasien
Rasional: sebagai pengukuran standar sebelum dilaksanakan hemodialisis. Berat
badan akan menurun pada saat prosedur selesai dilaksanakan.
b. Periksa Tanda-tanda vital
Rasional: Sebelum dilakukan prosedur hemodialisis. Denyut nadi dan tekanan darah
biasanya diatas rentang normal. Kondisi ini harus diukur pada saat selesai prosedur
dengan membandingkan hasil pra dan sesudah prosedur.
c. Kaji adanya akses vakuler
Rasional: Pengkajian akses vaskular diperlukan dalam pengkajian praprosedur
a) Subklavia dan femoralis
Rasional: akses segera kedalam sirkulasi darah pasien pada hemodialisis darurat
dicapai melalui katerisasi subklavia untuk pemakaian sementara. Kateter dwi
lumen atau multi lumen dimasukkan ke dalam vena subklavia. Meskipun metode
akses vaskular ini memiliki risiko misalnya dapat menyebabkan cedera vaskuler
seperti hematom, pneumothoraks, infeksi, trombosis vena subklavia, dan aliran
darah yang tidak adekuar. Namun metode tersebut biasanya dapat digunakan
selama beberapa minggu. Kateter femoralis dapat dimasukan ke dalam pembuluh
darah femoralis untuk pemakaian segera dan sementara. Kateter tersebut
dikeluarkan jika sudah tidak diperlukan karena kondisi pasein telah membaik, atau
terdapat cara akses lain. Oleh karena mayoritas pasien hemodialisis jangka
panjang yang harus dirawat dirumah sakit merupakan pasien dengan kegagalan
akses sirkulasi yang permanen, maka salah satu prioritas dalam perawatan pasien
hemodilasis adalah perlindungan terhadap akses sirkulasi tersebut.
b) Fistula arteri vena
Rasional: Fistula yang lebih permanen dibuat melalui pembedahan yang biasanya
dilakukan pada lengan bawah dengan cara menghubungkan atau menyambung
pembuluh arteri dengan vena secara dihubungkan antar sisi atau dihubungkan
antara ujung dan sisi pembuluh darah. Fistula tersebutkan memerlukan waktu 4
hingga 6 minggu untuk menjadi matang sebelum siap digunakan. Waktu ini
diperlukan untuk memberikan kesempatan agar fistula pulih dn segmen vena
fistula berdilatasi dengan baik sehingga dapat menerima jarum berlumen besar
dengan ukuran – 14 sampai – 16. Jarum ditusukan ke dalam pembuluh darah agar
cukup aliran darah yang akan mengalir melalui dialiser. Segmen arteri fistula
digunakan untuk aliran darah arteri dan segmen vena digunakan untuk
memasukan kembali reinfus darah yang sudah didialisis. Untuk menampung aliran
darah ini, segmen arteri vena fistula tersebut harus lebih besar daripada pembuluh
darah normal. Pasien dianjurkan untuk melakukan latihan guna meningkatkan
ukuran pembuluh darah yaitu dengan meremas remas bola karet untuk melatih
fistula yang dibuar dilengan bawah sehingga pembuluh darah yang sudah lebar
dapat menerima jarum berukuran besar yang digunakand alam proses
hemodialisis.
c) Shunt/ Tandur
Rasional: dalam menyediakan lumen sebagai tempat penusukan jarum dialisis,
sebuah tandur dapat dibuat dengan cara menjahit sepotong pembuluh arteri atau
vena dari sapi, materia; gore tex (heterografi) atau tandur vena safena dari pasien
sendiri. Biasanya tandur tersebut dibuat bila pembuluh darah pasien tidak cocok
untuk dijadikan fistula. Tandur biasanya dipasang pada lengan bawah, lengan atas
atau paha bagian atas. Pasien dengan sistem vaskular yang terganggu seperti
pasien diabetes, biasanya memerlukan pemasangan tandur sebelum menjalani
hemodialisis. Oleh karena tandur tersebut merupakan pembuluh darah artifisial,
risiko infkesi akan meningkat.

3) Pengkajian Penunjang
a. Kaji pemeriksaan laboratorium
Rasional: pemeriksaan lab menjadi parameter untuk dilakukan hemodialisis,
meliputi Hb, Hematokrit, kadar albumin, BUN, Kreatinin dan elektrolit.
b. Konfirmasi pemeriksaan HbSag dan status HIV
Rasional: Preventif perawat dalam menjaga atau mempertahankan universa;
precaution dan mencegahan menular
c. Kaji adanya peningkatan kadar SGOT/PT
Rasional: Menilai keterlibatan hati dengan melihat peningkatan enzim serum hati

G. Perawatan Hemodialisa
1) Perawatan sebelum hemodialisis (Pra HD)
a. Persiapan mesin :
- Listrik - air (sudah melalui pengolahan)
- Saluran pembuangan - Dialyzer (ginjal buatan)
- AV Blood line - AV Fistula/ Abocath
- Infuse set - Spuit 50cc, 5 cc
- Insulin, Heparin Injeksi - Xylocain (anestesi local)
- Nacl 0,90% - Kain Kasa/ Gaas Steril
- Persiapan peralatan & obat2 - Duk steril
- Sarung tangan steril - Bak & mangkuk steril kecil
- Klem, Plester - Desinfektan (alkohol, betadin)
- Gelas ukur - Timbangan BB
- Formulir Hemodialisis - Sirkulasi darah
b. Langkah – langkah:
a) Letakkan GB (ginjal buatan) pada holder dengan posisi merah diatas
b) Hubungkan ujung putih pada ABL dengan GB ujung merah
c) Hubungkan uung putih VBL dengan GB ujung biru, ujung biru VBL
dihubungkan dengan alat penampung/ matkan
d) Letakkan posisi GB terbalik yaitu yang tanda merah dibawah, biru diatas
e) Gantungkan NaCl 0,9% (2-3 Kolf)
f) Pasang inus set pada kolf NaCl
g) Hubungkan ujung infus set dengan ujung merah ABL atau tempat khusus
h) Tutup semua klem yang ada pada slang ABL, VBL, 9untuk hubungan tekanan
arteri, tekanan vena, pemberian obat-obatan)
i) Buka klem ujung dari ABL, VBL dan infus set
j) Jalankan Qb dengan kecapatan kurang lebih dari 100 ml/m
k) Udara yang ada dalam GB harus hilang sampai bebas udara degan cara
menekan nekan VBL
l) Air trap/ bubble trap disisi 2/3 – ¾ bagian
m) Setiap kolf NaCl sesudah/ hendak mengganti kolf baru Qb dimatikan
n) Setelah udara dalam GB habis, hubungkan ujung ABL dengan ujung VBL,
klem tetap dilepas
o) Masukan heparin dalam sirkulasi darah sebanyak 1500-2000 U
p) Ganti kolf NaCl dengan baru yang telah diberi heparin 500 U dan klem infus
dibuka
q) Jalankan sirkulasi darah dan soaking (melembabkan GB) selama 10- 15 menit
sebelum dihubungkan dengan sirkulasi sistemik pasien
r) Persiapan pasien: Persiapan mental, izin hemodialisis, persiapan fisik (timbang
BB, Posisi, Observasi Ku dan ukur TTV)

2) Perawatan Selama Hemodialisis (Intra HD) Pasien


Sarana hubungan sirkulasi/ akses sirkulasi:
a. Dengan internal A-V shunt / Fistula cimino
b. Pasien sebelumnya dianjurkan cuci lengan dan tangan
c. Teknik aseptic + antiseptic: Betadine + acohol
d. Anestesi local (lidocain, procain inj)
e. Punksi vena. Dengan Av fistula no G. 14 s/d G. 16 abocath, fiksasi tutup
dengan kasa steril
f. Berikan bolus heparin inj (dosisi awal)
g. Punksi inlet (fistula), fiksasi, tutup dengan kassa steril
h. Dengn eksternal A-V shunt, desifektan, klem kanula arteri dan vena
i. Bolus heparin inj (dosis awal)
j. Tanpa 1 & 2 (femora, dll), desinfektan anestesi lokal
k. Punksi outlet / vena salah satu vena yang besar biasanya dilengan
l. Bolus heparin inj (dosis awal), fiksasi dan tutup kassa steril
m. Punksi inlet (vena atau arteri femoralis), raba arteri femoralis, tekan arteri
femoralis 0,5 – 1 cm ke arah medial vena femoralis
n. Anestesi lokal (infiltrasi anestesi)
o. Vena femoralis dipunksi setelah anestesi lokal 3 – 5 menit dan fiksasi, tutup
kassa steril

3) Memulai Hemodilasis
a. Ujung ABL line dihubungkan dengan punksi inlet
b. Ujung VBL line dihubungkan dengan punksi outlet
c. Semua klem dibuka, kecuali klem infus set 100 ml/m, samoai sirkulasi darah
terisi semua
d. Jalankan pompa darah dengan Ob
e. Pompa darah (blood pump stop, sambungkan ujung dari VBL dengan punksi
outlet
f. Fiksasi ABL dan VBL (sehingga pasien tidak sulit untuk bergerak)
g. Cairan priming diampung digelas ukur dan jumlahnya dicatat (cairan
dikeluarkan sesuai
h. Jalankan pompa darah dengan Qb = 100 ml/m, setelah 15 menit bisa dinaikan
sampai 300 ml/ m (dilihat dari keadaan pasien)
i. Hubungkan selang-selang untuk monitor : venous pressure, arteri pressure,
hidupkan air/ blood leak detector
j. Pompa heparin dijalankan (dosis heparin sesuai keperluan). Heparin dilarutkan
dengan NaCl
k. Ukur Td, Nadi setiap 1 jam. Bila keadaan pasien tidak baik/ lemah lakukan
megukur TD, nadi lebih sering
l. Isi formulir HD antara lain: Nama, umur, BB, TD, N, S, P, Tipe GB, cairan
priming yang masuk, makan/ minum, keluhan selama HD, Masalah selama HD.

4) Pengamatan Observasi, Monitor Selama Hemodialisa


a. Pasien: Keadaan umum, TTV, Perdarahan, tempat punksi inlet, outlet,
keluhan / komplikasi hemodialisis
b. Mesin & Peralatan: Qb & Qd, temperature, koduktiviti, Pressure/ tekanan
arterial & venous, dialysate, UFR, Air leak & blood leak, heparinisasi, sirkulasi
ekstra corporeal, sambungan-sambungan
5) Perawatan Sesudah Hemodialisis (Post HD)
Persiapan alat:
Kain kassa/ gaas sterl, plester, verband gulung, alkohol/ betadine, antibiotik powder
(Nebacetin/cicatrin), bantal pasir (1 – ½ kram): pada punksi femoral
Cara Bekerja:
a. Menit sebeum hemodialisis berakhir Qb diturunkan sekitar 100cc/m UFR= 0
b. Ukur TD, nadi
c. Blood Pump Stop
d. Ujung ABL diklem, jarum inlet dicabut, bekas punksi inlet ditekan dengan
kassa steril yang diberi betadine
e. Hubungkan ujung ABL dengan indus set 50 – 100 cc, 100ml/m Nacl masuk
f. Darah dimasukkan ke dalam tubuh dengan dorong dengan Nacl sambil Qb
dijalankan
g. Setelah darah masuk ke tubuh blood pump stop, ujun VBL diklem
h. Jarum outlet dicabut, bekas punksi inlet & outlet ditekan dengan kassa steril
yang diberi betadine
i. Bila perdarahan pada punksi sudah berhenti, bubuhi bekas punksi inlet dan
outlet dengan antibiotik powder, lalu tutup dengan kain kassa/ band aid lalu pasang
verband
j. Ukur TTV : TD, N, S, P
k. Timbang BB (kalau memungkinkan)
l. Isi Formulir Hemodialisis

H. Komplikasi
Hemodialisis merupakan tindakan untuk menggantikan sebagian dari fungsi ginjal. Tindakan
ini rutin dilakukan pada penderita penyakit ginjal kronik (PGK) stadium V atau gagal ginjal
kronik (GGK). Walaupun tindakan HD saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat,
namun masih banyak penderita yang mengalami masalah medis saat menjalani HD. Tekanan
darah umumnya menurun dengan dilakukannya UF atau penarikan cairan saat HD. Hipotensi
intradialitik terjadi pada 5-40% penderita yang menjalani H reguler. Namun sekitar 5-15%
dari pasien HD tekanan darahnya justru meningkat. Kondisi ini disebut hipertensi intradialitik
atau intradialytic hypertension (HID) (Agarwal dan Light, 2010). Komplikasi HD dapat
dibedakan menjadi komplikasi akut dan komplikasi kronik (Daurgirdas et al., 2007).

Komplikasi akut adalah komplikasi yang terjadi selama hemodialisis berlangsung.


Komplikasi yang sering terjadi adalah: hipotensi, kram otot, mual muntah, sakit kepala, sakit
dada, sakit punggung, gatal, demam, dan menggigil (Daurgirdas et al., 2007; Bieber dan
Himmelfarb, 2013). Komplikasi yang cukup sering terjadi adalah gangguan hemodinamik,
baik hipotensi maupun hipertensi saat HD atau HID. Komplikasi yang jarang terjadi adalah
sindrom disekuilibrium, reaksi dialiser, aritmia, tamponade jantung, perdarahan intrakranial,
kejang, hemolisis, emboli udara, neutropenia, aktivasi komplemen, hipoksemia (Daurgirdas
et al., 2007).

komplikasi Kronik adalah komplikasi yang terjadi pada pasien dengan hemodialisis kronik.
Komplikasi kronik yang sering terjadi dapat dilihat pada Tabel 2.4 di bawah ini (Bieber dan
Himmelfarb, 2013).
a. Penyakit jantung
b. Malnutrisi
c. Hipertensi / volume excess
d. Anemia
e. Renal osteodystrophy
f. Neurophaty
g. Disfungsi reproduksi
h. Komplikasi pada akses
i. Gangguan perdarahan
j. Infeksi
k. Amiloidosis
l. Acquired cystic kidney disease

I. Diagnosis Keperawatan
a. Kelebihan produk sisa metabolit pada sirkulasi b.d ketidakmampuan ginjal
dalam mengeksresikan keluar tubuh, ketidakmampuan dalam pembentukan urine
b. Kelebihan volume cairan b.d penurunan volume urine, retensi cairan dan
natrium, peningkatan aldosteron sekunder dari penuruan GFR
c. Ketidakseimbangan cairan dan elektroli b.d ketidakmampuan ginjal dalam
mengatur reabsorsi dan sekresi elektrolit
d. Aktual/ risiko tinggi cedera b.d tindakan invasif hemodialisa, gangguan faktor
pembekuan, peningkatan kerapuhan vaskular
e. Risiko tinggi infeksi b.d adanya pintu masuk kuman respons sekunder dari
timdakan invasif hemodalisis.
f. Kurangnya pengetahuan tentang prosdur tindakan hemodialisis b.d tindakan
hemodialisis yang pertama kali
g. Gangguan konsep diri (gambaran diri) b.d penurunan fungsi tubuh, tindakan
dialisis, koping maladaptif
h. Kecemasan b.d prognosis penyakir dan tindakan hemodialisis yang pertama
kali
Walaupun hemodialisis berfungsi mirip dengan cara kerja ginjal, tindakan ini hanya
mampu menggantikan sekitar 10% kapasitas ginjal normal. Selain itu, hemodialisis
bukannya tanpa efek samping. Beberapa efek samping hemodialisis antara lain
tekanan darah rendah, anemia, kram otot, detak jantung tak teratur, mual, muntah,
sakit kepala, infeksi, pembekuan darah (trombus), dan udara dalam pembuluh darah
(emboli) (Haven,2005).

Pada gagal ginjal kronik, hemodialisis biasanya dilakukan 3 kali seminggu. Satu sesi
hemodialisis memakan waktu sekitar 3 sampai 5 jam. Selama ginjal tidak berfungsi,
selama itu pula hemodialisis harus dilakukan, kecuali ginjal yang rusak diganti ginjal
yang baru dari donor. Tetapi, proses pencangkokan ginjal sangat rumit dan
membutuhkan biaya besar

DAFTAR PUSTAKA

Beiber, S.D. dan Himmelfarb, J. 2013. Hemodialysis. In: Schrier’s Disease of the Kidney. 9th
edition. Coffman, T.M., Falk, R.J., Molitoris, B.A., Neilson, E.C., Schrier, R.W. editors.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia:2473-505.

Daugirdas, J.T., Blake, P.G., Ing, T.S. 2007. Handbook of Dialysis. 4th ed. Phildelphia.
Lipincott William & Wilkins.
Mutaqqin, Arif & Kumala Sari. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika.

Kusuma, Hardhi & Amin, Huda Nurarif. (2012). Handbook for Health Student. Yogyakarta:
Mediaction Publishing.