Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK

PERMANGANOMETRI

Oleh:

Kelompok 2

Ni Komang Diah Ernawati 1810511010

Komang Ayu Sri Dewi 1810511011

Nuhayillah Urziah 1810511012

Joice Pratiwi Purnamasari Nababan 1810511013

Putu Rica Galicia Putri Yanti 1810511014

Ni Luh Putu Gita Darmasari 1810511015

Lola Ammara Dewi 1810511016

Melda Yanti Naibaho 1810511017

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Titrasi adalah metode kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan.
Dalam titrasi, zat yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang
konsentrasinya diketahui dengan tepat dan disertai dengan penambahan indikator.
Larutan yang telah diketahui konsentrasinya dengan tepat disebut larutan baku
atau larutan standar, sedangkan indikator adalah zat yang memberikan tanda
perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi.
Salah satu cara dalam penentuan kadar larutan asam basa adalah dengan melalui
proses titrasi permanganometri. Permanganometri adalah suatu contoh titrasi
oksidimetri, yaitu titrasi yang berhubungan dengan reaksi oksidasi-reduksi. Titrasi
permanganometri adalah titrasi yang menggunakan oksidator KMnO4 sebagai
larutan baku. Pada proses titrasi permanganometri tidak perlu ditambahkan
indikator untuk mengatahui terjadinya titik ekivalen, karena MnO4 – yang
berwarna ungu dapat berfungsi sebagai indikator sendiri (auto indikator).
Biasanya titrasi dengan KMnO4 dilakukan dalam suasana asam dengan persamaan
reaksi sebagai berikut:
MnO4- + 8h+ + 5e Mn2+ + 4H2O
Permanganat adalah oksidator, dalam titrasi bereaksi dengan cepat, namun
beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis
untuk mempercepat reaksi, seperti pada proses penetapan kadar asam oksalat.
Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup
untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Hal yang perlu
dilakukan untuk menghilangkan endapan tersebut adalah pemanasan yang
berguna untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan
melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MnO2. Larutan
tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak
diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan.
BAB II
TUJUAN

2.1 TUJUAN
1) Mahasiswa mampu memahami prinsip-prinsip reaksi oksidasi-reduksi.
2) Mahasiswa mampu melakukan analisis indikator secara titrasi
permanganometri.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Titrasi Permanganometri


Titrasi permanganometri adalah titrasi berdasarkan prinsip oksidasi-
reduksi dan digunakan untuk menetapkan kadar reduktor dalam suasana asam
sulfat encer. Larutan baku yang digunakan adalah larutanKMnO 4. Reaksi ini
difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan
bahan baku tertentu.
Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Dalam
permanganometri garam kalium permanganat (KMnO4) digunakan sebagai zat
standar karena kalium permanganat (KMnO4) tidak murni, banyak mengandung
oksida (MnO dan Mn2O3), maka zat tersebut bukan merupakan standar primer.
Perlu diketahui bahwa KMnO4 ini sebelum dipergunakan harus distandarisasi
terlebih dahulu. Standarisasi dapat dilakukan dengan beberapa reduktor, seperti :
asam oksalat (H2C2O4), As2O3, Fe, Natrium Oksalat (Na2C2O4), KHC2O4,
K4{Fe(CN)6}, Fe(NH4)2(SO4)2.
Pada proses titrasi permanganometri tidak perlu ditambahkan indikator
untuk mengatahui terjadinya titik ekivalen, karena MnO 4 – yang berwarna ungu
dapat berfungsi sebagai indikator sendiri (auto indikator) kecuali untuk larutan
yang sangat encer. Setetes permanganat 0,1 N memberikan suatu warna merah
muda yang jelas pada volume dari larutan yang biasa digunakan dalam sebuah
titran, warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi.

3.2 Prinsip Titrasi Permanganometri


Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks.
Dalam reaksi ini, ion MnO4-bertindak sebagai oksidator. Permangaometri dalam
banyak kasus dilakukan dalam larutan yang sangat asam yang mana reakssi
berikut ini yang merupakan Prinsip Dasar Permanganometri terjadi:
Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat atau besi dalam
suatu sampel. Potensial standar dari reaksi elektrokimia ini yaitu: Eo = +1.51 V.
Yang menunjukkan kalau KMnO4 (dalam medium asam) adalah suatu agen
pengoksidasi yang sangat kuat. Pada larutan asam lemah MnO4− tidak bisa
menerima lima elektron untuk membentuk Mn+2, dalam hal ini hanya menerima
tiga elektron dan membentuk MnO2(s) lewat reaksi elektrokimia sebagai berikut :

Apabila larutan mempunyai konsentrasi C(NaOH) >1 mol dm−3 maka


terjadi reaksi berikut ini:

3.3 Kalium permanganat (KmnO4)


Dalam permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium
permanganat. Kalium permanganat telah digunakan sebagai zat pengoksida secara
meluas lebih dari seratus tahun. Pereaksi ini mudah diperoleh, murah, dan tidak
memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Setetes
permanganat 0,1 N memberikan warna merah muda yang jelas kepada volume
larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menyatakan berlebihnya
pereaksi yang digunakan (Day & Underwood, 1981)
Menurut (Svehla, 1995), Kalium permanganat merupakan oksidator kuat
karena memiliki harga potensial reduksi yang besar yang berarti kalium
permanganat sangat mudah direduksi sehingga memiliki daya oksidasi (sifat
oksidator) zat lain yang menjadi lawannya, dengan mekanisme reaksi;
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O ( E0= +1,52)
Berdasarkan reaksi, kalium permanganat hanya bersifat oksidator dalam
suasana asam, namun pada suasana basa kalium permanganat ini tidak memiliki
daya oksidasi, melainkan mengendap menjadi Mn(OH)2 yang nantinya akan
membentuk MnO2 yang mengendap juga. Oleh karena itu pada saat titrasi
penentuan konsentrasi kalium permanganat harus ditambahkan asam sulfat.
Kalium permanganat juga dapat berfungsi sebagai zat yang memiliki kemampuan
sebagai autoindikator, artinya bentuk teroksidasi dan tereduksi dari kalium
permanganat memiliki warna yang berbeda sehingga pada saat proses titrasi yang
melibatkan kalium permanganat tidak perlu ditambahkan indikator redoks.
Pada saat penentuan konsentrasi kalium permanganat, digunakan asam
oksalat sebagai zat baku primer. Asam oksalat dikatakan zat baku primer
dikarenakan asam oksalat merupakan zat yang stabil, memiliki Molekul Relatif
tinggi dan memiliki kriteria lainnya sebagai standar primer. Asam oksalat dapat
bereaksi dengan kalium permanganat dengan reaksi:
C2O42- 2CO2 + 2e- (x5)
MnO4-+ 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O (x2)
5C2O42- + 2MnO4- + 16 H+ 2Mn2+ + 8H2O +10 CO2

Karena asam oksalat merupakan asam organik, asam oksalat bereaksi


lambat dengan kalium permanganat, sehingga dalam proses titrasinya harus dalam
keadaan panas, agar kita lebih mudah melakukan titrasi dan mencegah kesalahan
penentuan Titik Akhir yang diakibatkan oleh lamanya reaksi antara asam oksalat
dan kalium permanganat. Fungsi penambahan asam sulfat selain untuk
mengasamkan larutan pada saat titrasi asam sulfat juga berperan sebagai
pembentuk garam sulfat, karena jika Mn2+ bereaksi dengan anion sulfat
membentuk larutan MnSO4 yang tidak berwarna, sehingga produk yang terbentuk
(Mn2+) tidak akan mengganggu pengamatan pada saat titik akhir.
Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi
berdasarkan reaksi ini, namun beberapa substansi membutuhkan pemanasan atau
penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Permanganat adalah agen
unsur pengoksidasi yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn (II) menjadi MnO 2
sesuai persamaan:
3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O → 5MnO2(s) + 4H+
Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi
cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2.
Hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan endapan tersebut adalah
pemanasan yang berguna untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi
dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan
MnO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap
dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa
bulan.
3.4 Kelebihan dan Kekurangan Titrasi Permanganometri
Menurut (Ulfah, 2012), titrasi permanganometri memiliki beberapa
kelebihan dan kekurangan, diantaranya sebagai berikut.
1. Kelebihan
a. Mudah dilakukan dan efektif
b. Tidak memerlukan indikator
2. Kekurangan
a. Larutan kalium permanganat jika terkena cahaya atau dititrasi cukup lama
maka mudah terurai menjadi MnO2 , sehingga pada titik akhir titrasi akan
diperoleh pembentukan presipitat coklat. Oleh karena itu penggunaan
buret yang berwarna gelap itu lebih baik.
b. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 yang
telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan
reaksi antara MnO4– dengan Mn2+. Dengan reaksi :
MnO4– + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+
Oleh karena itu pula, penambahan pentiter pada proses titrasi harus sedikit
demi sedikit, agar kesalahan dalam menentukan titik akhir titrasi dapat
dihindari.
BAB IV
METODELOGI

4.1 Bahan-bahan
 KMnO4  Asam oksalat
 H2SO4  Aquades
 H2O2
4.2 Alat
 Pipet volume  Pipet tetes
 Karet Hisap  Labu takar
 Buret  Gelas erlenmeyer
 Statif & Klem
4.3 Cara Kerja
a. Menentukan normalitas larutan KMnO4

Pipet 10 ml larutan baku Tambahk Titrasi


primer asam oksalat an 10 ml dengan
dengan pipet volume H2SO4 2 larutan
yang kering dan bersih, N KMnO4
masukkan panaskan sampai
kedalamerlenmeyer 60-700 C timbul

Hitung normalitas rata-rata Ulangi pekerjaan ini


sampai 4 angka dibelakang dua kali
b. Menentukan kadar sampel

Pipet 10 ml larutan Tambahkan


dengan pipet 10 ml
volume yang H2SO4 2 N
kering dan bersih, Titrasi
masukkan kedalam dengan
KMnO4
sampai
timbul
Hitung kadar Ulangi
sampel rata-rata pekerjaan
sampai dua angka ini 2 kali
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil
1. Menentukan normalitas larutan baku primer asam oksalat
(C2H2O4.2H2O)
Berat asam oksalat: 0,1 N
Volume asam oksalat: 10 ml

2. Menentukan normalitas larutan baku sekunder KMnO4:


Indikator yang digunakan: KMnO4
Perubahan warna yang terjadi: pink muda
Percobaan Volume C2H2O4.2H2O Volume KMnO4

I 10 ml 10,8 ml
II 10 ml 10,6 ml

Normalitas rata-rata KMnO4 : 0,0934 N


Perhitungan :
Percobaan I
N1.V1 = N2.V2
0,1X10 = N2X10,8
N2 = 0,0925 N

Percobaan II
N1.V1 = N2.V2
0,1X10 = N2X10,6
N2 = 0,0943 N

Rata-rata 0
= 0,0934 N
3. Menentukan kadar sampel hidrogen peroksida (H2O2)
Indikator yang digunakan : KMnO4
Perubahan warna yang terjadi : pink muda
Percobaan Volume H2O2 Volume KMnO4
I 10 ml 16 ml
II 10 ml 16,6 ml
Kadar rata-rata asam askorbat dalam gram/100 ml : 25,87 %
Perhitungan :
Percobaan I :

% Sampel

= 0,2540 × 100%
= 25,40 %

Percobaan II :

% Sampel

= 0,2635 x

Rata-rata

= 25,87 %
5.2 Pembahasan
Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi
oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi
dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan larutan baku primer yaitu asam
oksalat (H2C2O4. 2H2O). Pada percobaan ini antara KMnO 4 direduksi oleh asam
oksalat dan KMnO4 mengoksidasi zat organik dalam air.
Dalam percobaan ini, sebagai pengasam digunakan larutan H2SO4 encer,
karena ion MnO4- akan tereduksi menjadi Mn2+ dalam suasana asam oleh reaksi
dengan atom H. Selain itu, asam sulfat cukup baik karena tidak bereaksi dengan
permanganat. Dalam titrasi permanganometri, tidak dibutuhkan indikator karena
KMnO4 sekaligus dapat bertindak sebagai autoindikator (reagen yang berfungsi
sebagai penanda titik akhir titrasi).
Pada percobaan penentuan normalitas KMnO4 digunakan asam oksalat 0,1
N sebagai larutan baku dan juga sebagai pereduksi dalam larutan. Pada
penambahan asam sulfat (H2SO4) 2 N berfungsi untuk mengasamkan larutan,
karena potensial elektroda KMnO4 sangat tergantung pada pH. Penambahan asam
sulfat penting supaya reaksi berada dalam suasana asam sehingga MnO 4- tereduksi
menjadi Mn2+. Jika larutan dalam keadaan netral atau sedikit basa, maka KMnO4
akan tereduksi menjadi MnO2 berupa endapan coklat yang akan mempersulit
penentuan titik akhir titrasi. Setelah larutan menjadi homogen, maka dilakukan
pemanasan. Pemanasan ini hingga mencapai suhu 60-70°C, hal ini berfungsi agar
KMnO4 dapat mengoksidasi H2C2O4 (asam oksalat) karena apabila suhu larutan di
bawah 60-70°C maka reaksi akan berjalan lambat dan akan mengubah MnO 4-
menjadi MnO2 yang berupa endapan cokelat sehingga titik akhir titrasi susah
untuk dilihat. Sedangkan apabila suhu larutan di atas 60-70°C maka akan merusak
asam oksalat, dan terurai menjadi CO2 dan H2O sehingga hasil akhir akan lebih
kecil. Setelah dipanaskan hingga suhunya mencapai 60-70°C, kemudian dilakukan
titrasi dengan KMnO4. Hingga didapat titik akhir titrasi yang ditunjukkan dengan
terjadinya perubahan warna larutan dari bening menjadi merah muda. Sehingga
hasil yang didapat dari titrasi tersebut yaitu sebagai berikut.
a. Pada percobaan pertama (I) volume KMnO4 yang dihabiskan untuk titrasi
yaitu 10,8 ml, sehingga didapat normalitas KMnO4 sebesar 0,0925 N.
b. Pada percobaan kedua (II) volume KMnO4 yang dihabiskan untuk titrasi yaitu
10,6 ml, sehingga didapat normalitas KMnO4 sebesar 0,0943 N.
c. Maka dari kedua percobaan yang telah dilakukan didapat normalitas rata-rata
KMnO4 sebesar 0,0934 N.
Kemudian terdapat percobaan penentuan kadar sampel, dimana dalam
percobaan ini digunakan sampel H2O2 karena memiliki sifat sebagai pereduktor
kuat sehingga dapat bereaksi sempurna dengan KMnO4 yang bersifat sebagai
pengoksidator kuat. Langkah pertama yang dilakukan yaitu pipet sebanyak 1 ml
H2O2 lalu diencerkan di dalam labu ukur hingga 100 ml. Dari 100 ml larutan
hidrogen peroksida yang telah diencerkan, dipipet 10 ml dan ditambahkan 10 ml
H2SO4. Pada percobaan ini, tidak digunakan indikator karena KMnO4 adalah
pereaksi yang dapat dipakai tanpa penambahan indikator dan sekaligus bertindak
sebagai indikator. Pada saat percobaan larutan ditambahkan H2SO4 untuk memberi
suasana asam, selain itu H2SO4 tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan
encer. Kemudian larutan tersebut dititrasi dengan KMnO4 hingga didapatkan titik
akhir titrasi yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna pada larutan
menjadi berwarna merah muda. Dari percobaan tersebut didapatkan hasil yaitu
sebagai berikut.
a. Pada percobaan pertama (I) volume KMnO4 yang dihabiskan untuk titrasi
yaitu 16 ml, sehingga didapat kadar H2O2 sebesar 25,40 %.
b. Pada percobaan kedua (II) volume KMnO4 yang dihabiskan untuk titrasi yaitu
10,6 ml, sehingga didapat kadar H2O2 sebesar 26,35 %.
c. Maka dari kedua percobaan yang telah dilakukan didapat kadar rata-rata H2O2
sebesar 25,87 %.
BAB VI
KESIMPULAN

Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi


oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi
dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan larutan baku primer yaitu asam
oksalat (H2C2O4. 2H2O). Dalam percobaan ini, sebagai pengasam digunakan
larutan H2SO4 encer. Asam sulfat cukup baik karena tidak bereaksi dengan
permanganat. Dalam titrasi permanganometri, tidak dibutuhkan indikator karena
KMnO4 sekaligus dapat bertindak sebagai autoindikator (reagen yang berfungsi
sebagai penanda titik akhir titrasi). Akhir dari proses titrasi permanganometri
ditandai dengan larutan yang mengalami perubahan warna dari bening menjadi
pink yang sangat muda.
5.3
DAFTAR PUSTAKA

Day, R., & Underwood, A. (1981). Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Svehla, G. (1995). Vogel Buku Teks Analisi Anorganik Kualitas Makro dan
Semimakro. Jakarta: Kalman Media Putaka.

Ulfah, M. (2012, Juni 16). Retrieved Maret 29, 2019, from wordpress:
https://muthiaura.wordpress.com/2012/06/16/titrasi-redoks-
permanganometri/
Ulfah, Muthia. 2012. Permanganometri. HYPERLINK
"https://muthiaura.wordpress.com/2012/06/16/titrasi-redoks-
permanganometri/" https://muthiaura.wordpress.com/2012/06/16/titrasi-
redoks-permanganometri/ . Diakses 29 Maret 2019
Temukan Pengertian. 2016. Pengertian Permanganometri. HYPERLINK
https://www. temukanpengertian.com/2016/02/pengertian-
permanganometri.html . Diakses 29 Maret 2019.
Faturachmi, Ridha. 2015. Laporan Praktikum Permanganometri. HYPERLINK
"https://www.slideshare.net/ridhafaturachmi/permanganometri-45945555"
https://www.slideshare.net/ridhafaturachmi/permanganometri-45945555 .
Diakses pada tanggal 28 Maret 2019.
Wahyuni, Ita Trie. 2012. Laporan Kimia Analitik Permanganometri. HYPERLINK
"http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-analitik-
permanganometri.html" http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-
analitik-permanganometri.html . Diakses pada tanggal 28 Maret 2019.
LAMPIRAN
LAPORAN SEMENTARA