Anda di halaman 1dari 18

TANDA-TANDA KIAMAT

Sesungguhnya setiap makhluk hidup –apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-
tumbuhan– memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia. Tanda-
tanda dekatnya kematian manusia adalah rambut beruban, tua, sakit, lemah. Begitu
juga halnya dengan hewan, hampir sama dengan manusia. Sedangkan tumbuhan
warna menguning, kering, jatuh, lalu hancur. Demikian juga alam semesta, memiliki
tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan.

Saa’ah asalnya adalah sebagian malam atau siang. Dikatakan juga: Saa’at segala
sesuatu berarti waktunya hilang dan habis. Dari makna ini, maka saa’ah atau kiamat
mengandung dua macam, yaitu : Saa’ah khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman
binatang dan manusia ketika mati; dan bagi sebuah umat jika datang ajalnya. Itu
semua dikatakan telah datang saatnya. Saa’ah umum bagi dunia secara keseluruhan
ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.

Bagaimana dengan kiamat yang sebenarnya? Tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan
lebih mengerikan. Dan Alquran banyak menyebutkan tentang kejadian di hari kiamat.
Terjadinya kiamat adalah hal yang gaib. Hanya Allah saja yang tahu. Tidak satu pun
dari makhlukNya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat. Allah
SWT. Berfirman, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang Hari Kiamat.” (Luqman 34).

Maka ketika ditanya tentang hal ini, Rasulullah saw. Mengembalikannya kepada Allah
swt., “Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.” (Fushilat: 47)

Allah merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat akan
datang secara tiba-tiba. “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Bilakah
terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada
sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain
Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi.
Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya
kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah:
‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui’.” (Al-A’raaf: 187)

Namun demikian, sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya telah menjadikan kiamat


memiliki alamat yang menunjukkan ke arah itu dan tanda-tanda yang
mengantarkannya. “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat
(yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah
datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu
apabila hari kiamat sudah datang?” (Muhammad: 18)

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka
(untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian
tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah
bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu,
atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah:
‘Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula’).”(Al-An’am: 158)
Maka tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya
kiamat tersebut. Dan tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-
tanda kiamat kecil.

Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang
relatif lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan,
minum khamr, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang
sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.

Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang
kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa a.s., Ya’juj dan
Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.

Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar.
Tetapi Ibnu Hajar berkata, “Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa
keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya
perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa a.s.
Sedangkan terbitnya matahari dari Barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar
yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya
kiamat.” Ibnu Hajar melanjutkan, ”Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit
matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.” (Fathul Bari)

Tanda-Tanda Kiamat Kecil

Tanda-tanda kiamat kecil terbagi menjadi dua: Pertama, kejadian sudah muncul dan
sudah selesai; seperti diutusnya Rasulullah saw., terbunuhnya Utsman bin ‘Affan,
terjadinya fitnah besar antara dua kelompok orang beriman. Kedua, kejadiannya
sudah muncul tetapi belum selesai bahkan semakin bertambah; seperti tersia-
siakannya amanah, terangkatnya ilmu, merebaknya perzinahan dan pembunuhan,
banyaknya wanita dan lain-lain.

Di antara tanda-tanda kiamat kecil adalah:

Diutusnya Rasulullah saw

Jabir r.a. berkata, ”Adalah Rasulullah saw. jika beliau khutbah memerah matanya,
suaranya keras, dan penuh dengan semangat seperti panglima perang, beliau bersabda,
‘(Hati-hatilah) dengan pagi dan sore kalian.’ Beliau melanjutkan, ‘Aku diutus dan hari
Kiamat seperti ini.’ Rasulullah saw. mengibaratkan seperti dua jarinya antara telunjuk
dan jari tengah. (HR Muslim)

Disia-siakannya amanat

Jabir r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara
dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi
Kiamat ?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat
berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa
yang ditanyakannya.” Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar.”
Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang
bertanya tentang Kiamat?” Berkata lelaki Badui itu, ”Saya, wahai Rasulullah saw.”
Rasulullah saw. Berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.”
Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasulullah saw. Menjawab, “Jika urusan
diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR Bukhari)

Penggembala menjadi kaya

Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang tanda-tanda kiamat, lalu beliau menjawab,
“Seorang budak melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak
beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala binatang berlomba-lomba saling
tinggi dalam bangunan.” (HR Muslim)

Sungai Efrat berubah menjadi emas

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat
sampai Sungai Eufrat menghasilkan gunung emas, manusia berebutan tentangnya.
Dan setiap seratus 100 terbunuh 99 orang. Dan setiap orang dari mereka berkata,
”Barangkali akulah yang selamat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Baitul Maqdis dikuasai umat Islam

”Ada enam dari tanda-tanda kiamat: kematianku (Rasulullah saw.), dibukanya Baitul
Maqdis, seorang lelaki diberi 1000 dinar, tapi dia membencinya, fitnah yang panasnya
masuk pada setiap rumah muslim, kematian menjemput manusia seperti kematian
pada kambing dan khianatnya bangsa Romawi, sampai 80 poin, dan setiap poin
12.000.” (HR Ahmad dan At-Tabrani dari Muadz).

Banyak terjadi pembunuhan

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada akan terjadi kiamat,
sehingga banyak terjadi haraj.. Sahabat bertanya apa itu haraj, ya Rasulullah?”
Rasulullah saw. Menjawab, “Haraj adalah pembunuhan, pembunuhan.” (HR Muslim)

Munculnya kaum Khawarij

Dari Ali ra. berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan keluar di akhir
zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari
firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar
dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di mana saja kamu jumpai, maka
bunuhlah mereka. Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di hari Kiamat.”
(HR Bukhari).

Banyak polisi dan pembela kezhaliman

“Di akhir zaman banyak polisi di pagi hari melakukan sesuatu yang dimurkai Allah,
dan di sore hari melakukan se ….?
Iman Dan Kepekaan Sosial

Oleh: Tim dakwatuna.com

Shibghah Imaniyah Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekadar
keyakinan hampa, tapi sebuah keyakinan yang menghujam ke dalam hati,
diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata.

Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal
shalih, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar. Di sini
Allah Taala menjelaskan kepada kita tentang senyawa keimanan dan amal shalih
dalam surat Al-‘Ashr; “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada
dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasihat-menasihati agar mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati agar tetap sabar.”
(QS 103:1-3)

Ayat-ayat qur’aniyah tentang hal ini banyak sekali, bahkan setiap “khithab ilahi”
(panggilan Allah) yang ditujukan kepada mukminin selalu disertai dengan perintah
untuk mengerjakan amal saleh yang berkaitan dengan ibadah dan larangan untuk
meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah Taala.

Iman yang menshibghah akal, hati dan jasad seorang mukmin, hingga ketika
dihadapkan pada pilihan-pilihan maka pilihannya itu sudah pasti jatuh pada nilai-nilai
kebenaran dan kebaikan. Ia senantiasa memutuskan sesuatu dengan haq dan
menghindari hal-hal yang menjurus kepada kebatilan. Jadi seorang yang telah
tershibghah imannya, ia akan menjadi cahaya bagi dirinya, keluarganya, dan
masyarakatnya. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian ia
Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan
cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan
orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar
dari padanya?…” (Al-An’am: 122)

Demikianlah Allah menghidupkan manusia dengan cahaya Islam dan keilmuan.


Sehingga hal itu memberikan manfaat dan kontribusi riel tidak saja bagi
lingkungannya bahkan sampai pada skala ‘alamiah (internasional). Rasulullah saw
menganalogikan seorang mukmin yang benar-benar memahami keislaman dan
keimanannya seperti lebah. Lebah itu mempunyai sifat tidak pernah melakukan
kerusakan, lihatlah ketika hinggap di dahan-dahan pepohonan atau tangkai-tangkai
bunga. Lebah selalu mengkonsumsi makanan yang terbaik yaitu sari bunga. Dan
menghasilkan sesuatu yang paling bermanfaat yaitu madu. Maka makhluk hidup yang
berada di sekitarnya merasa aman dan nyaman. Begitulah seharusnya muslim dan
mukmin, dia harus mampu menebar pesona Islam. Melukiskan tinta emas kebaikan
dalam kanvas kehidupan secara individu dalam semangat kebersamaan. Semangat
kebersamaan inilah yang seharusnya dimiliki setiap mukmin. Kepekaan terhadap apa
saja yang sedang menimpa masyarakat harus menjadi bagian kehidupannya. Jangan
puas dengan urusannya sendiri tanpa memperhatikan dan mempedulikan masyarakat
sekitarnya. Interaksi Sosial Lezatnya iman apabila sudah mampu dirasakan oleh
seorang mukmin dalam ruang kepribadiannya, maka akan menjelma menjadi pesona
sosial yang sangat menawan. Khusyuk diri yang dimiliki seorang mukmin akan
berdampak pada ‘atha ijtima’i (kontribusi sosial) dan keharmonisan sosial. Di sini,
Nabi kita Muhammad saw mengajarkan kepada kita dengan tiga kalimat yang sarat
dengan nilai-nilai perbaikan diri. Di saat beliau bersabda; “Bertaqwalah kamu di
manapun kamu berada, ikuti keburukan itu dengan kebaikan, niscaya ia akan
menghapuskannya dan berinteraksilah pada manusia dengan akhlaq yang baik.” Dan
salah satu bentuk interaksi kita pada lingkungan sekitar kita adalah adanya hasasiyah
(kepekaan) yang kuat terhadap permasalahan yang terjadi di dalamnya. Perhatian dan
fokus kita terhadap bi-ah (lingkungan), baik yang berkaitan dengan bi-ah da’wiyah,
bi-ah ijtima’iyah, bi-ah ta’limiyah yang terjadi dalam tataran keluarga maupun
masyarakat adalah cerminan kuat dari keimanan kita yang telah tershibghah dengan
nilai-nilai kebenaran Islam. Bagaimana Rasulullah saw melakukan hal ini dalam
keluarga dan masyarakatnya. Beliau dengan gigih telah mempengaruhi pamannya,
Abu Thalib untuk memeluk Islam sehingga detik-detik akhir hidup sang paman. Ia
telah menyeru bani-bani Quraisy pada waktu itu seraya berkata di atas bukit Shafa:
“Wahai Bani Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Bani Ka’ab,
selamatkanlah dirimu dari api neraka….., wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari
api neraka..” (H.R. Muslim) Begitu juga, beliau telah terlibat langsung dalam
peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masyarakatnya sebelum nubuwah seperti
berperan aktif dalam perang fijar; peperangan yang terjadi antara Quraisy bersama
Kinanah dengan Ais Qailan, Hilful Fudlul; kesepakatan untuk melindungi orang-
orang yang terzhalimi dan pembangunan Ka’bah. Hasasiyah ‘Ailiyah Oleh karenanya
seorang mukmin apalagi kader-kader dakwah harus terlibat aktif dalam amal-amal
kebaikan yang terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakatnya. Baik yang
bersentuhan dengan daur da’wi (peran dakwah keluarga), daur ta’limi (peran
pengajaran) dan daur tarbawi (peran pembinaan).

Janganlah seseorang hanya sibuk dengan perbaikan dirinya dan mengabaikan dakwah
keluarganya. Semangat berbisnis, lalu lupa mengajar dan membina anak-anaknya.
Puas dengan kehebatannya, asyik dengan pesona dirinya, akan tetapi terlena dengan
apa yang sedang terjadi di lingkungan keluarga. Bapak asyik dengan dakwah di luar,
sementara anak nyimeng dan ngeganja. Coba kita perhatikan dan merenungkan
kembali firman Allah berikut ini; “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara
istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah
kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta
mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan
di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS 64:14-15) “Hai orang-orang beriman,
janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
(QS 63:9) “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-
malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS 66:6) Hasasiyah Ijtima’iyah Interaksi sosial kita yang berujung pada hasasiyah
ijtima’iyah, mengharuskan kita untuk terlibat penuh dengan suatu yang terjadi di
tengah-tengah masyarakat kita. Hal ini bukan hanya dilakukan seorang mukmin atau
bahkan aktivis dakwah di saat membutuhkan mereka dan ketika ada kepentingan.
Akan tetapi kapan pun dan kondisi apapun seorang mukmin harus menebar pesona
Islam. Ia bekerja dan berkarya sesuai manhaj rabbani. Seluruh waktu dan hidupnya
agar bermanfaat bagi manusia lain. Ia ingin menjadi salah satu dari kategori “qaumun
‘amaliyun” dan mendambakan identitas “mukminin yang sebenarnya”.

Oleh karenanya, seorang mukmin harus bisa berperan aktif dalam seluruh dimensi
sosial. Baik dimensi da’wi yang mengharuskan dia sebagai cahaya di tengah
masyarakatnya, yang mengharuskan dia membawa obor mas’uliyah amar ma’ruf nahi
munkar dan sebagai agen of changes. Dimensi ukhrawi; yang mengharuskan dirinya
mengkristalkan kembali makna ta’aruf, tafahum dan takaful dalam kavas ukhuwah
islamiyah. Benar-benar menjadi kontributor dalam segala hal, apalagi yang
bersentuhan langsung dengan fuqara, masakin dan al-aitam (yatim piatu). Rasulullah
bersabda: “Ya Abu Dzar, apabila kamu membuat sayur, perbanyak kuahnya dan
perhatikan tetanggamu.” (HR Muslim) “Tidaklah beriman seorang di antara kamu,
hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” (Muttafaqun Alaih)
“Penanggung anak yatim, baik miliknya atau orang lain, aku dan orang itu di surga
seperti ini (Malik mengisyaratkan dengan kedekatan jari telunjuk dan tengah).” (HR
Muslim) Dan dimensi ta’limi wa tarbawi; yang mengharuskannya berperan aktif
dalam melakukan pengajaran dan pembinaan masyarakatnya. Sehingga masyarakat
setempat menikmati pencerahan jiwa dan pemikiran. Mereka semakin dekat dengan
nilai-nilai Islam dan akhirnya semangat mengimplementasikannya dalam ruang
kepribadiannya dan lingkungan keluarganya. Allah berfirman: “Dan hendaklah ada di
antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada
yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung.” (QS 3:104) “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf
seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” QS 62:2
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan hasasiyah ijtima’iyah dalam diri kita.
Rasa Manis Sebuah Keimanan

Oleh: Samin Barkah, Lc

Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Tiga sifat yang jika
dimiliki orang akan mendapatkan manisnya iman; Orang yang menjadikan Allah dan
Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lain; Orang yang mencintai seseorang semata
karena Allah; Dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya seperti ia tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (H.R.
Bukhari-Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh dua Imam besar, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Teks
hadits diambil dari kitab Shahih Bukhari. Selain dua imam ini, hadits ini juga
diriwayatkan oleh Imam Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad. Hadits di atas berbunyi:

َ‫اه حوحرهسوُلههه أححح ب‬


‫ب‬ َ‫ث حمنن هكبَن نفيِنه حوحجحد بننهبَن ححلححوةح نانليحماَنن أحنن يحهكوُحن ب‬ ‫ ثحلح ث‬:‫اه حعلحنيِنه حوحسلبَحم حقاَحل‬ َ‫صبَلىَّ ب‬
‫س حعنن النبَبنيي ح‬ ‫حعنن أحنح س‬
‫ح‬ ‫ن‬ ‫ح‬ ‫ح‬ ‫ن‬
‫ب الحمنرحء لح يهنحبِبهه إنلبَ نبَلن حوأنن يحنكحرهح أنن يحهعوُحد نفي الهكنفنر حكحماَ يحنكففحرهه أنن يهنقففحذ ح‬
‫ متفففق‬-‫ف فنففي النبَففاَنر‬ ‫ح‬
َ‫إنلحنيِنه نمبَماَ نسحوُاههحماَ حوأنن يهنح ب‬
‫عليِه‬

‫حمنن هكبَن نفيِنه‬, yakni orang yang memiliki tiga sifat tersebut.

‫حوحجحد بننهبَن‬, yakni dengan sebab sifat tersebut ia akan mendapatkan.

‫ححلححوةح نانليحمففاَنن‬, yakni manis iman, bukan manis gula atau madu, tetapi sesuatu yang
paling manis di antara yang manis. Rasa manis yang dirasakan manusia pada dadanya,
pada hatinya. Suatu kelezatan yang tidak ada bandingnya, ia mendapatkan rasa lega
pada hatinya, rasa ingin melakukan kebaikan, rasa suka dan cinta kepada orang-orang
baik. Rasa manis yang hanya dapat diketahui hakikatnya oleh orang yang telah
merasakannya setelah lama tidak mendapatkan rasa manis itu.

َ‫اه حوحرهسوُلههه أححح ب‬


َ‫ب إنلحنيِنه نمبَماَ نسحوُاههحما‬ َ‫ أحنن يحهكوُحن ب‬, yakni orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya
lebih dicintai dari selain keduanya. Dalam hadits tidak digunakan ta’bir, ungkapan ‫ثم‬
‫ رسوُله‬karena kecintaan kepada Rasulullah saw mengikut kecintaannya kepada Allah.
Manusia akan mencintai Allah sebesar manusia itu mencintai Allah. Ketika
kecintaannya kepada Allah bertambah, maka bertambah pula kecintaannya kepada
Rasulullah saw. Kecintaan kepada Rasul mengikuti kadar kecintaannya kepada Allah.

Yang patut disayangkan adalah ada sebagian orang yang kecintaannya kepada
Rasulullah saw melebihi kecintaannya kepada Allah. Orang seperti ini berarti
mencintai Rasulullah saw bersama mencintai Allah. Jika kecintaan kepada Rasulullah
saw melebihi kecintaan kepada Allah, maka hal ini termasuk salah satu jenis
kemusyrikan, karena menjadikan Rasulullah saw sebagai sekutu dalam kecintaan.
Orang ini akan bergetar ketika disebutkan nama Rasulullah saw dan tidak bergetar
ketika disebut nama Allah hatinya tidak ada respon dan tidak ada getar.

Karena itulah dalam surat Ali Imran ayat 31 Allah menyebutkan bahwa jika kita
benar-benar mencintai Allah, maka kita harus mengikuti Rasulullah saw. sehingga
Allah akan mencintai kita. Pusat dan sumber alasan kecintaan kita kepada sesuatu
adalah Allah, termasuk juga kecintaan kepada Rasulullah saw.

Dengan kelemahan manusia seperti disebutkan Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 72
bahwa manusia adalah makhluk yang zhalim dan jahil, terkadang manusia lupa
dengan cinta yang hakiki. Manusia hidup dalam perburuan cinta palsu, terutama di
zaman hedonisme ini. Segala kemajuan materialis sangat meninakbobokan manusia
untuk mengenal diri dan penciptanya, apalagi untuk memahami hakikat hidup dan
tujuannya. Itulah kondisi masyarakat di negara-negara maju dan di sebagian di
negara-negara berkembang.

‫ب انلحمففنرحء لح يهنحبِبففهه إنلبَ ن بَ ن‬


‫لفف‬ َ‫حوأحنن يهنحفف ب‬, yakni orang yang mencintai orang lain karena Allah.
Mencintai dan membenci karena Allah. Mencintai orang bukan karena kekerabatan.
Juga bukan karena harta dan jabatan atau alasan duniawi semata. Mencintai orang
karena Allah. Sama halnya juga dengan membenci seseorang semata karena Allah.
Nafsu manusia sering menghalangi kita untuk mencinta dan membenci seseorang
karena Allah. Manusia mencintai karena ada sesuatu yang ingin ia dapatkan dari
orang tersebut.

Ada sebagian orang yang ketika mendapatkan jasa seseorang akan membuat dia tidak
dapat mencinta dan membenci karena Allah. Segala pemberian yang ia terima akan
membuat dirinya tidak dapat memposisikan diri apakah harus mencinta atau
membenci ketika orang yang pernah menanamkan jasa tersebut bertentangan dengan
syariat Allah. Karena itulah seorang dai harus memelihara izzahnya untuk tidak
dengan mudah menerima segala pemberian yang membuat ia tidak dapat memberikan
nasihat. Kesederhanaan dan kemandirian seorang dai menjadi tuntutan agar ia tetap
dapat menyampaikan kebenaran kepada semua orang.

‫حوأحنن يحنكففحرهح أحنن يحهعففوُحد فنففي انلهكنفففنر حكحمففاَ يحنكففحرهه أحنن يهنقففحذ ح‬, yakni benci untuk kembali kepada
‫ف فنففي النبَففاَنر‬
kekafiran setelah kembali kepada Allah sama seperti bencinya dilemparkan ke dalam
kobaran api. Orang yang tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah mendapatkan
hidayah Islam dan petunjuk yang benar. Orang yang telah mendapatkan hidayah Islam
kemudian kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan disebut dengan murtad. Orang-
orang murtad adalah golongan yang boleh diperangi hingga kembali kepada aqidah
Islam.

Orang yang dipaksa mengatakan kalimat kekufuran, tetapi hatinya tenang dengan
keimanan, maka orang ini tidak termasuk orang yang murtad dari hidayah Islam.
Allah berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia
mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap
tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan
dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang
besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai
kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk
kepada kaum yang kafir.” (An-Nahl: 106-107)

Sebagaimana manusia mendapatkan hidayah secara bertahap, maka orang yang


murtad juga menjadi murtad tentunya dengan suatu tahapan dan proses.
Jika ketiga sifat ini dimiliki oleh seorang muslim, maka ia dapat merasakan manisnya
iman. Jika manisnya gula atau madu semua orang dapat merasakannya dan tidak ada
yang mengingkari bahwa gula dan madu adalah manis. Tapi ketika kita mendengar
kata iman, kita tidak serta merta mengenal bahwa rasa iman itu adalah manis, beda
dengan gula dan madu. Karena itulah tidak semua orang yang mengaku beriman
merasa bahwa iman itu manis. Karena keimanan orang itu bertingkat-tingkat antara
satu orang dengan orang lain, maka tidak semua orang dapat merasakan manisnya
iman.

Ketika kita tidak dapat merasakan manisnya iman bukan berarti iman itu tidak manis,
tapi kita belum sampai pada tingkat keimanan yang membuat kita merasakan bahwa
beriman itu manis dan menyenangkan. Senang beramal saleh. Senang berbuat baik.
Senang memberikan kegembiraan kepada orang lain. Senang melihat orang
mendapatkan kesenangan. Senang jika masyarakat mengamalkan Islam. Senang jika
kemaksiatan ditumpas. Wallahu a’lam.
Pengantar Ushul Fiqh

Oleh: Ahmad Sahal Hasan, Lc

“Tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah kecuali dengan ilmu ushul fiqh.” (Al-
Amidi)

Definisi Ushul Fiqh

Para ulama ushul menjelaskan pengertian ushul fiqh dari dua sudut pandang. Pertama
dari pengertian kata ushul dan fiqh secara terpisah, kedua dari sudut pandang ushul
fiqh sebagai disiplin ilmu tersendiri.

Ushul Fiqh ditinjau dari 2 kata yang membentuknya

Al-Ushul

Al-ushuul adalah bentuk jamak dari al-ashl yang secara etimologis berarti ma yubna
‘alaihi ghairuhu (dasar segala sesuatu, pondasi, asas, atau akar).

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan


kalimat yang baik seperti pohon yang baik, ashluha (akarnya) teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24)

Sedangkan menurut istilah, kata al-ashl berarti dalil, misalnya: para ulama
mengatakan:

‫أصل هذا الحكم من الكتاَب آية كذا‬

(Dalil tentang hukum masalah ini ialah ayat sekian dalam Al-Qur’an).

Jadi Ushul Fiqh adalah dalil-dalil fiqh. Dalil-dalil yang dimaksud adalah dalil-dalil
yang bersifat global atau kaidah umum, sedangkan dalil-dalil rinci dibahas dalam ilmu
fiqh.

Al-Fiqh

‫ العلم باَلشيء والفهم له‬:‫الفقه في اللغة‬

Al-fiqh menurut bahasa berarti pengetahuan dan pemahaman terhadap sesuatu.

Menurut istilah para ulama:

‫ العلم باَلحكاَم الشرعيِة العمليِة المكتسب من أدلتهاَ التفصيِليِة‬:‫الفقه‬

(ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang diperoleh dari dalil-
dalilnya yang terinci).
Penjelasan Definisi

َ‫ إسناَد أمر إلىَّ آخر إيجاَباَ أو سلبا‬:‫الحكم‬

Hukum adalah penisbatan sesuatu kepada yang lain atau penafian sesuatu dari yang
lain. Misalnya: kita telah menghukumi dunia bila kita mengatakan dunia ini fana, atau
dunia ini tidak kekal, karena kita menisbatkan sifat fana kepada dunia atau menafikan
sifat kekal darinya.

Tetapi yang dimaksud dengan hukum dalam definisi fiqh adalah status perbuatan
mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal sehat), apakah perbuatannya wajib,
mandub (sunnah), haram, makruh, atau mubah. Atau apakah perbuatannya itu sah,
atau batal.

Ungkapan hukum-hukum syar’i menunjukkan bahwa hukum tersebut dinisbatkan


kepada syara’ atau diambil darinya sehingga hukum akal (logika), seperti: satu adalah
separuh dari dua, atau semua lebih besar dari sebagian, tidak termasuk dalam definisi,
karena ia bukan hukum yang bersumber dari syariat. Begitu pula dengan hukum-
hukum indrawi, seperti api itu panas membakar, dan hukum-hukum lain yang tidak
berdasarkan syara’.

Ilmu fiqh tidak mensyaratkan pengetahuan tentang seluruh hukum-hukum syar’i,


begitu juga untuk menjadi faqih (ahli fiqh), cukup baginya mengetahui sebagiannya
saja asal ia memiliki kemampuan istinbath, yaitu kemampuan mengeluarkan
kesimpulan hukum dari teks-teks dalil melalui penelitian dan metode tertentu yang
dibenarkan syari’at.

Hukum-hukum syar’i dalam fiqh juga harus bersifat amaliyyah (praktis) atau terkait
langsung dengan perbuatan mukallaf, seperti ibadahnya, atau muamalahnya. Jadi
menurut definisi ini hukum-hukum syar’i yang bersifat i’tiqadiyyah (keyakinan) atau
ilmu tentang yang ghaib seperti dzat Allah, sifat-sifat-Nya, dan hari akhir, bukan
termasuk ilmu fiqh, karena ia tidak berkaitan dengan tata cara beramal, dan dibahas
dalam ilmu tauhid (aqidah).

Ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah ini juga harus diperoleh dari
dalil-dalil rinci melalui proses penelitian mendalam terhadap dalil-dalil tersebut.
Berarti ilmu Allah atau ilmu Rasul-Nya tentang hukum-hukum ini tidak termasuk
dalam definisi, karena ilmu Allah berdiri sendiri tanpa penelitian, bahkan Dialah
Pembuat hukum-hukum tersebut, sedangkan ilmu Rasulullah saw diperoleh dari
wahyu, bukan dari kajian dalil. Demikian pula pengetahuan seseorang tentang hukum
syar’i dengan mengikuti pendapat ulama, tidak termasuk ke dalam definisi ini, karena
pengetahuannya tidak didapat dari kajian dan penelitian yang ia lakukan terhadap
dalil-dalil.

Sedangkan contoh dalil yang terinci adalah:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 278).
Ayat ini adalah dalil rinci tentang haramnya riba berapa pun besarnya. Dinamakan
rinci karena ia langsung berbicara pada pokok masalah yang bersifat praktis.

Ushul Fiqh sebagai disiplin ilmu

Ushul Fiqh sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri didefinisikan oleh Al-Baidhawi,
salah seorang ulama mazhab Syafi’i dengan:

‫معرفة دلئال الفقه إجماَل وكيِفيِة الستفاَدة منهاَ وحاَل المستفيِد‬

(Memahami dalil-dalil fiqh secara global, bagaimana menggunakannya dalam


menyimpulkan sebuah hukum fiqh (bagaimana berijtihad), serta apa syarat-syarat
seorang mujtahid).

Penjelasan Definisi

Contoh dalil yang bersifat global: dalil tentang sunnah sebagai hujjah (sumber
hukum), dalil bahwa setiap perintah pada dasarnya menunjukkan sebuah kewajiban,
setiap larangan berarti haram, bahwa sebuah ayat dengan lafazh umum berlaku untuk
semua meskipun turunnya berkaitan dengan seseorang atau kasus tertentu, dan lain-
lain.

Yang dimaksud dengan menggunakan dalil dengan benar misalnya: mengetahui mana
hadits yang shahih mana yang tidak, mana dalil yang berbicara secara umum tentang
suatu masalah dan mana yang menjelaskan maksudnya lebih rinci, mana ayat/hadits
yang mengandung makna hakiki dan mana yang bermakna kiasan, bagaimana cara
menganalogikan (mengkiaskan) suatu masalah yang belum diketahui hukumnya
dengan masalah lain yang sudah ada dalil dan hukumnya, dan seterusnya.

Kemudian dibahas pula dalam ilmu ushul apa syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh
seorang mujtahid untuk dapat mengambil kesimpulan sebuah hukum dengan benar
dari dalil-dalil Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah saw.

Sedangkan ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali mendefinisikan ushul fiqh
dengan:

‫العلم باَلقوُاعد الكليِة التي يتوُصل بهاَ إلىَّ استنباَط الحكاَم الشرعيِة من أدلتهاَ التفصيِليِة‬

(Ilmu tentang kaidah-kaidah umum yang dapat digunakan untuk melakukan istinbath
hukum-hukum syar’i dari dalil-dalilnya yang terinci).

Penjelasan Definisi

Kaidah adalah patokan umum yang diberlakukan atas setiap bagian yang ada di
bawahnya.

Contoh kaidah umum:

‫الصل في المر للوُجوُب‬


(Pada dasarnya setiap kalimat yang berbentuk perintah mengandung konsekuensi
kewajiban) kecuali jika ada dalil lain yang menjelaskan maksud lain dari kalimat
perintah tersebut. Misalnya perintah Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 43:

((‫))وآتوُا الزكاَة‬

(tunaikanlah zakat) menunjukkan kewajiban zakat karena setiap perintah pada


dasarnya menunjukkan kewajiban dan tidak ada ayat lain ataupun hadits yang
menyatakan hukum lain tentang zakat harta. Dalam contoh ini ayat tersebut adalah
dalil rinci, sedangkan kaidah ushul di atas adalah dalil yang bersifat global yang dapat
diberlakukan atas dalil-dalil rinci lain yang sejenis.

Dapat disimpulkan bahwa ilmu ushul fiqh adalah ilmu yang mempelajari sumber-
sumber hukum Islam, dalil-dalil yang shahih yang menunjukkan kepada kita hukum
Allah swt, apa syarat-syarat ijtihad, dan bagaimana metode berijtihad yang benar
sesuai batasan-batasan syariat.

Cakupan Ushul Fiqh

Setiap disiplin ilmu pasti memiliki bahasan tertentu yang membedakannya dengan
disiplin ilmu lain, demikian pula ushul fiqh, ia memiliki bahasan tertentu yang dapat
kita ringkas menjadi 5 (lima) bagian utama:

1. Kajian tentang adillah syar’iyyah (sumber-sumber hukum Islam) yang asasi


(Al-Qur’an dan Sunnah) maupun turunan (Ijma’, Qiyas, Maslahat Mursalah,
dan lain-lain).
2. Hukum-hukum syar’i dan jenis-jenisnya, siapa saja yang mendapat beban
kewajiban beribadah kepada Allah dan apa syarat-syaratnya, apa karakter
beban tersebut sehingga ia layak menjadi beban yang membuktikan keadilan
dan rahmat Allah.
3. Kajian bahasa Arab yang membahas bagaimana seorang mujtahid memahami
lafaz kata, teks, makna tersurat, atau makna tersirat dari ayat Al-Qur’an atau
Hadits Rasulullah saw, bahwa sebuah ayat atau hadits dapat kita pahami
maksudnya dengan benar jika kita memahami hubungannya dengan ayat atau
hadits lain.
4. Metode yang benar dalam menyikapi dalil-dalil yang tampak seolah-olah
saling bertentangan, dan bagaimana solusinya.
5. Ijtihad, syarat-syarat dan sifat-sifat mujtahid.

Tujuan Ushul Fiqh

‫ الوُصوُل إلىَّ معرفة الحكاَم الشرعيِة باَلستنباَط‬:‫غاَية أو ثمرة علم الصوُل‬

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ghayah (tujuan) dan tsamarah (buah)
ilmu ushul adalah agar dapat melakukan istinbath hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil
syar’i secara langsung.

Di samping itu ada manfaat lain dari ilmu ushul, di antaranya:


1. Mengetahui apa dan bagaimana manhaj (metode) yang ditempuh oleh seorang
mujtahid dalam beristinbath.
2. Mengetahui sebab-sebab ikhtilaf di antara para ulama.
3. Menumbuhkan rasa hormat dan adab terhadap para ulama.
4. Membentuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kemampuan
di bidang fiqh secara benar.

Sandaran Ushul Fiqh1. Aqidah/Tauhid, karena keyakinan terhadap kebenaran Al-


Qur’an dan Sunnah serta kedudukannya sebagai sumber hukum/dalil syar’i bersumber
dari pengenalan dan keyakinan terhadap Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya yang
suci, juga bersumber dari pengetahuan dan keyakinan terhadap kebenaran Muhammad
Rasulullah saw, dan semua itu dibahas dalam ilmu tauhid.
3. Bahasa Arab, karena Al-Quran dan Sunnah berbahasa Arab, maka untuk memahami
maksud setiap kata atau kalimat di dalam Al-Quran dan Sunnah mutlak diperlukan
pemahaman Bahasa Arab. Misalnya sebagian ulama mengatakan bahwa:

‫المر يقتضي الفوُر‬

(Setiap perintah mengharuskan pelaksanaan secara langsung tanpa ditunda). Dalil


kaidah ini adalah bahasa, karena para ahli bahasa mengatakan: jika seorang majikan
berkata kepada pelayannya: “Ambilkan saya air minum!” lalu pelayan itu menunda
mengambilnya, maka ia pantas dicela.

5. Al-Quran dan Sunnah, misalnya kaidah ushul:

‫الصل في المر للوُجوُب‬

(setiap perintah pada dasarnya berarti kewajiban) dalilnya adalah:

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu merasa takut akan
ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nur: 63)

7. Akal, misalnya kaidah ushul:

‫إذا اختلف مجتهدان في حكم فأحدهماَ مخطئ‬

(Jika dua orang mujtahid berseberangan dalam menghukumi suatu masalah, maka
salah satunya pasti salah) dalilnya adalah logika, karena akal menyatakan bahwa
kebenaran dua hal yang bertentangan adalah sebuah kemustahilan.

Hukum Mempelajari Ushul Fiqh

Al-Amidi dalam bukunya Al-Ihkam mengatakan: “Tidak ada cara untuk mengetahui
hukum Allah swt kecuali dengan ilmu ushul ini. Karena seorang mukallaf adalah
awam atau bukan awam (’alim). Jika ia awam maka wajib baginya untuk bertanya:

Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.
(Al-Anbiya: 7)
Dan pertanyaan itu pasti bermuara kepada ulama, karena tidak boleh terjadi siklus.
Jika mukallaf seorang ‘alim, maka ia tidak bisa mengetahui hukum Allah kecuali
dengan jalan tertentu yang dibenarkan, sebab tidak boleh memutuskan hukum dengan
hawa nafsu, dan jalan itu adalah ushul fiqh. Tetapi mengetahui dalil setiap hukum
tidak diwajibkan atas semua orang, karena telah dibuka pintu untuk meminta fatwa.
Hal ini menunjukkan bahwa menguasai ilmu ushul bukanlah fardhu ‘ain, tetapi fardhu
kifayah, wallahu a’lam.”

Perbedaan Ushul Fiqh Dengan Fiqh

Pembahasan ilmu fiqh berkisar tentang hukum-hukum syar’i yang langsung berkaitan
dengan amaliyah seorang hamba seperti ibadahnya, muamalahnya,…, apakah
hukumnya wajib, sunnah, makruh, haram, ataukah mubah berdasarkan dalil-dalil yang
rinci.

Sedangkan ushul fiqh berkisar tentang penjelasan metode seorang mujtahid dalam
menyimpulkan hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil yang bersifat global, apa
karakteristik dan konsekuensi dari setiap dalil, mana dalil yang benar dan kuat dan
mana dalil yang lemah, siapa orang yang mampu berijtihad, dan apa syarat-syaratnya.

Perumpamaan ushul fiqh dibandingkan dengan fiqh seperti posisi ilmu nahwu
terhadap kemampuan bicara dan menulis dalam bahasa Arab, ilmu nahwu adalah
kaidah yang menjaga lisan dan tulisan seseorang dari kesalahan berbahasa,
sebagaimana ilmu ushul fiqh menjaga seorang ulama/mujtahid dari kesalahan dalam
menyimpulkan sebuah hukum fiqh.
Sepuluh Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga

Oleh: Tim dakwatuna.com

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di


antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka
ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Berikut ini 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Siddiq ra.

Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu
bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan
keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-
Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya
(Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-
orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah
seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada
dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita,
sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada
(Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan
Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq
meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadiets.

2. Umar Bin Khatab ra.

Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang
yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum
memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum
Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam
sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng
Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi
dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari
Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya
dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena
dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah
Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.


Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-
tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan,
kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw
sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang.
Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan
dikuburkan di Baqi’.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.

Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu
pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga
terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah
sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga
wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan di
Koufah, Irak sekarang.

5. Thalhah Bin Abdullah ra.

Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap
peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang
mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh,
sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal
dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di
Basrah.

6. Zubair Bin Awaam

Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali
ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang
Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

7. Sa’ad bin Abi Waqqas

Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah
ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri
sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82
tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

8. Sa’id Bin Zaid

Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar.
Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk
memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun
dikuburkan di Baqi’.
9. Abdurrahman Bin Auf

Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua
peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali.
Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan
di baqi’.

10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah

Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada
periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw.
Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan
dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum
Muslimin.