Anda di halaman 1dari 9

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI SMPN 239 JAKARTA

Supriyono
SMPN 239 Jakarta

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA melalui penerapan pembelajaran
kooperatif tipe STAD di SMP Negeri 239 Jakarta. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua
siklus dimana setiap siklus terdiri atas tiga kali pertemuan proses tindakan dan satu kali evaluasi.
Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, evaluasi dan refleksi.
Instrumen yang dipergunakan dalam penelitian berupa instrumen non tes berupa lembar observasi,
catatan harian, angket sebelum dan sesudah siklus, dan tes tulis berupa ulangan harian akhir siklus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan
rata-rata hasil belajar peserta didik dari Siklus I ke Siklus II, di mana rata-rata hasil ulangan di akhir
Siklus I adalah 73,78 sementara rata-rata hasil ulangan di akhir Siklus I adalah 76,76 atau naik 2,98.
Persentase skor rata-rata aktivitas kelompok pada Siklus I adalah 74,3% dan pada Siklus II mencapai
81,8% atau naik 7,5%. Respon terhadap proses pembelajaran melalui angket kelas memiliki
kecenderungan meningkat dimana rata-rata respon yang menyatakan setuju pada Siklus I adalah
hanya 60% sedangkan pada Siklus II adalah 85% atau meningkat 25%.
Kata kunci: hasil belajar, IPA, STAD

ABSTRACT
This study aims to improve science learning outcomes through the implementation of STAD in SMP
239 Jakarta. Classroom action research was conducted in two cycles in which each cycle consists of
three sessions and one evaluation process. Each cycle includes planning, action and observation,
evaluation and reflection. Instruments used in the study were non-test observation sheets, diaries,
questionnaires before and after the cycle, and written test in the form of daily tests in the end of every
cycles. Results showed that STAD implementation can improve student learning outcomes and
learning activities. Average learning outcomes was increased from Cycle I to Cycle II, in which
average test results at the end of Cycle I was 73.78 whereas average value at the end of Cycle II was
76.76, or increased by 2.98 points. Average group's activities in the Cycle I was 74.3% while in Cycle
II reaches 81.8% or increased by 7.5%. Classroom questionnaires suggested an increased in learning
process approval, in which in Cycle I average “agree” response was only 60% while in Cycle II was
85%, or increased by 25%.
Keywords: learning outcomes, science, STAD

PENDAHULUAN dan hasil belajar yang diperoleh oleh peserta


didik dari hasil belajar mengajar. Dengan
Proses belajar mengajar (KBM) di dalam
demikian, proses belajar mengajar IPA
kelas merupakan pusat kegiatan dari sebuah
menjadi menarik untuk diperhatikan.
sistem institusional pendidikan. Peran mata
pelajaran IPA dalam menentukan tujuan Kemampuan guru dalam mengelola kelas,
pendidikan nasional tidak dapat dianggap menyusun perangkat pembelajaran, memilih
remeh karena dalam proses pembelajaran IPA pendekatan dan menentukan model
ditanamkan nilai-nilai sikap ilmiah (cermat, pembelajaran menjadi sangat penting dalam
tanggung jawab, jujur, teliti, mandiri, sebuah proses pengelolaan kegiatan belajar
demokratis dan lain-lain) yang tidak lepas dari mengajar di dalam kelas.
tujuan pendidikan nasional. Penanaman nilai-
Persepsi yang sudah terbentuk dalam diri
nilai ilmiah tersebut dapat dilihat dari
peserta didik selama ini adalah bahwa mata
seberapa besar karakter yang akan dimiliki
pelajaran IPA cenderung sulit, banyak
224
Supriyono, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad di SMPN 239 Jakarta 225

hitungan, bahasa latin, praktikum dan tugas- Adapun efesiensi pembelajaran biasanya
tugas. Pada penelitian ini peneliti mencoba diukur dengan perbandingan antara
memberikan kesempatan pada peserta didik keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai
untuk terlibat dalam proses pembelajaran oleh peserta didik dalam mengikuti proses
melalui penerapan model pembelajaran pembelajaran.
kooperatif tipe STAD (Student Team
Qurtubi (2009) mengemukakan daya dari
Achiement Division), dengan harapan dapat
proses pembelajaran biasanya dapat diukur
meningkatkan aktivitas peserta didik dalam
dengan mengamati bagaimana pembelajar
belajar IPA, sehingga tumbuh semangat untuk
terus menerus belajar. Dengan demikian hasil
bekerja sama, saling membantu dalam
belajar dapat dikatakan sebagai segala bentuk
memahami pelajaran, yang pada akhirnya
perubahan yang diperoleh peserta didik
dapat meningkatkan hasil belajar IPA.
setelah dilakukan proses pembelajaran yang
Menurut Slameto (2010), pengertian belajar
dapat berupa pengetahuan, keterampilan,
adalah suatu proses usaha yang dilakukan
sikap yang dapat diukur melalui proses
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
penilaian hasil belajar. Penilaian juga dapat
tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
memberikan umpan balik pada guru agar
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
dapat menyempurnakan perencanaan dan
berinteraksi dengan lingkungannya.
proses pembelajaran. Dalam penelitian ini,
Hasil belajar adalah suatu akibat dari penilaian hasil belajar mengacu pada
proses belajar dengan menggunakan alat penilaian KTSP untuk mata pelajaran IPA
pengukuran yaitu berupa tes yang disusun yakni diukur melalui ulangan, penugasan dan
secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan bentuk lain sesuai dengan karakteritik materi
maupun tes perbuatan. S. Nasution yang dinilai. Berdasarkan teori belajar tuntas,
berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu peserta didik dipandang tuntas apabila ia
perubahan pada individu yang belajar, mampu menguasai minimal 70% dari seluruh
dimana perubahan tersebut tidak hanya tujuan pembelajaran, sementara Ketuntasan
berkaitan dengan pengetahuan tetapi juga Belajar Kelas tercapai apabila 75% telah
berbentuk kecakapan, kebiasaan, pengertian, mencapai KKM.
pengharusan dan penguasaan diri pribadi
Pada awalnya sains diartikan sebagai
individu yang belajar (Nasution, 1982). Dari
pengetahuan atau apa saja yang diketahui oleh
beberapa pengertian di atas dapat dikatakan
manusia. Batasan ini menjadikan istilah sains
bahwa hasil belajar adalah hasil yang
menjadi sangat luas, baik itu pengetahuan
diperoleh peserta didik setelah mengikuti
bersifat riil ataupun non riil (tidak masuk
suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang
akal). Istilah sains kemudian berkembang
berupa data kuantitatif maupun kualitatif.
menjadi pengetahuan yang didasari atas
Untuk mengetahui suatu hasil belajar perlu
pertimbangan rasional/akal sehat dan
dilakukan penilaian terhadap peserta didik.
objektifitas. Pada akhirnya sains didefinisikan
Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa
sebagai ilmu pengetahuan yang menuntut
besar penguasaan peserta didik terhadap
data-data empiris untuk dijadikan dasar dalam
materi ajar. Melalui proses penilaian
menentukan suatu pengertian, teori maupun
diharapkan dapat diketahui sejauh mana
pendapat. Sains sebagai ilmu pengetahuan
pengelolaan pembelajaran berjalan. Tingkat
dapat dibedakan menjadi dua yaitu Ilmu Alam
ketercapaian penguasaan materi ajar oleh
dan Ilmu Sosial. Dalam institusi pendidikan,
peserta didik merupakan tolak ukur
pengkajian tentang kedua pengetahuan ini
ketuntasan/keberhasilan proses pembelajaran.
menjadikan adanya dua mata pelajaran yaitu
Secara umum hasil belajar merupakan
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu
keefektifan pembelajaran yang biasanya
Pengetahuan Sosial (IPS). Ilmu Pengetahuan
diukur dengan tingkat pencapaian peserta
Alam (IPA) sangat berkaitan dengan cara
didik berupa kecermatan penguasaan perilaku
mencari tahu tentang alam secara sistematis,
yang dipelajari atau tingkat kesalahan,
sehingga IPA bukan hanya penguasaan
kecepatan unjuk kerja, tingkat alih belajar,
kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-
tingkat retensi dari apa yang dipelajari.
226 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 2, Oktober 2014, hlm. 224-232

fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja sehingga diperoleh tujuan yang diharapkan
tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. dari pembelajaran IPA tersebut.
Pendidikan IPA di SMP khususnya Pembelajaran model koooperatif tipe
diharapkan dapat menjadi wahana bagi STAD merupakan salah satu pembelajaran
peserta didik untuk mempelajari diri sendiri kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi
dan alam sekitar, serta prospek pengembangan kemampuan siswa yang heterogen, dimana
lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam model ini dipandang sebagai metode yang
kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran- paling sederhana dari pendekatan pembelajar-
nya menekankan pada pemberian pengalaman an kooperatif. Metode ini paling awal
langsung untuk mengembangkan kompetensi ditemukan dan dikembangkan oleh para
agar menjelajahi dan memahami alam sekitar peneliti pendidikan di Universitas John
secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan Hopkins-Amerika Serikat dengan menye-
untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat diakan suatu bentuk belajar kooperatif. Dalam
membantu peserta didik untuk memperoleh kegiatan belajar kooperatif tersebut siswa
pemahaman yang lebih mendalam tentang diberi kesempatan untuk melakukan
alam sekitar. Pembelajaran IPA dilaksanakan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya
melalui inkuiri ilmiah (scientific inquiry) dalam bentuk diskusi kelompok untuk
untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, memecahkan suatu permasalahan.
bekerja dan bersikap ilmiah serta Pembelajaran kooperatif secara umum
mengkomunikasikannya sebagai aspek menyangkut teknik pengelompokan dimana
penting kecakapan hidup. Oleh karena itu peserta didik bekerja secara terarah menuju
pembelajaran IPA di SMP menekankan pada tujuan belajar bersama di dalam kelompok
pemberian pengalaman belajar secara kecil yang umumnya terdiri dari empat atau
langsung melalui penggunaan dan lima orang peserta didik. Pembentukan
pengembangan keterampilan proses dan sikap kelompok didasarkan pada pemerataan
ilmiah. karakteristik psikologis individu yang
meliputi kecerdasan, kecakapan belajar,
IPA berkaitan dengan cara mencari tahu
motivasi belajar, perhatian, cara berfikir, dan
tentang alam secara sistematis, sehingga IPA
daya ingat.
bukan hanya penguasaan kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep- Pembelajaran kooperatif tipe
konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga STAD terdiri dari lima komponen utama
merupakan suatu proses penemuan. IPA (Yasin, 2011) yaitu :
merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu
1. Penyajian kelas
pengetahuan yang telah mengalami uji
Guru menyampaikan materi pembelajaran
kebenaran melalui metode ilmiah dengan ciri
sesuai dengan penyajian kelas. Penyajian
objektif, metodik, sistematis, universal dan
kelas tersebut mencakup pembukaan,
tentatif. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan
pengembangan dan latihan terbimbing.
ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dan
segala isinya. Carin dan Sund (dalam 2. Kegiatan kelompok
Depdiknas, 2004 hal. 3) mendefinisikan IPA Siswa mendiskusikan lembar kerja yang
sebagai pengetahuan yang sistematis dan diberikan dan diharapkan saling membantu
tersusun secara teratur, berlaku umum, dan sesama anggota kelompok untuk
berupa kumpulan data hasil observasi dan memahami bahan pelajaran dan
eksperimen. menyelesaikan permasalahan yang
diberikan.
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) adalah salah satu bidang ilmu 3. Kuis (Quizzes)
pengetahuan yang secara sistematis mengkaji Kuis adalah tes yang dikerjakan secara
tentang fenomena alam dalam segala mandiri dengan tujuan untuk mengetahui
aspeknya yang didasarkan pada pikiran logis keberhasilan siswa setelah belajar
dengan menerapkan metode ilmiah untuk kelompok. Hasil tes digunakan sebagai
mendapatkan pengalaman belajar pada siswa hasil perkembangan individu dan
Supriyono, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad di SMPN 239 Jakarta 227

disumbangkan sebagai nilai perkembang- pertemuan dan satu kali pertemuan evaluasi di
an dan keberhasilan kelompok. akhir setiap siklus. Prosedur tindakan yang
dilakukan mengacu pada model yang
4. Skor kemajuan (perkembangan) individu
dilakukan oleh Kemmis dan McTaggart
Skor kemajuan individu ini tidak
dimana model tersebut menggambarkan
berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi
adanya empat langkah (dan pengulangannya)
berdasarkan pada seberapa jauh skor kuis
dan keempat langkah tersebut merupakan satu
terkini melampui rata-rata skor siswa yang
siklus atau putaran yang terdiri atas (1)
lalu.
perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan (3)
5. Penghargaan kelompok pengamatan, dan (4) refleksi atau pantulan
Penghargaan kelompok adalah pemberian (Arikunto, 2006: hal 98-99)
predikat kepada masing-masing kelompok.
Sumber data berasal dari hasil tes dan
Predikat ini diperoleh dengan melihat skor
non tes sementara jenis data terdiri dari data
kemajuan kelompok. Skor kemajuan
kualitatif yang merupakan deskripsi dari hasil
kelompok diperoleh dengan
penelitian observasi dan kondisi
mengumpulkan skor kemajuan masing-
pembelajaran, catatan aktivitas guru dan
masing kelompok sehingga diperoleh skor
peserta didik, serta absensi dan data
rata-rata kelompok.
kuantitatif yang berupa hasil belajar peserta
Dari teori dan penjelasan di atas dapat didik yang diambil dari nilai hasil ulangan di
disimpulkan bahwa model pembelajaran akhir setiap siklus. Instrumen penelitian terdiri
kooperatif tipe STAD adalah kegiatan dari lembar angket peserta didik, lembar
pembelajaraan dengan melakukan berbagai pengamatan proses pembelajaran, lembar
aktivitas kelompok yang menciptakan peserta tugas peserta didik, dan lembar ulangan akhir
didik untuk menerima pendapat orang lain, siklus.
saling bekerjasama, bertanggung jawab dalam
kelompoknya dan mampu memecahkan
masalah baik yang dirancang maupun masalah HASIL DAN PEMBAHASAN
yang ada di sekitar.
Penelitian diawali dengan menganalisa
kebutuhan yaitu pengisian angket dengan 12
butir pertanyaan dengan skala Likert yang
METODE
bertujuan untuk mengetahui tanggapan peserta
Penelitian ini dilaksanakan di SMP didik tentang penerapan pembelajaran
Negeri 239 Jakarta selama empat bulan kooperatif tipe STAD dalam rangka
(September-Desember 2012). Subjek meningkatkan belajar peserta didik pada
penelitian adalah 37 peserta didik kelas IX-4 pembelajaran IPA, dengan pilihan jawaban
Tahun Ajaran 2012/2013 yang terdiri atas 20 setuju, ragu-ragu, dan tidak setuju. Dari hasil
perempuan dan 17 laki-laki. Kemampuan angket tersebut dapat diketahui persentase
akademik peserta didik di kelas ini rata-rata tanggapan peserta didik terhadap metode
cukup, latar belakang suku dan agama cukup STAD pada pembelajaran IPA. Secara
beragam, sehingga secara keseluruhan cukup berturut-turut diperoleh persentase tingkat
heterogen. jawaban responden yaitu 60% setuju, 20%
Penelitian ini merupakan penelitian ragu-ragu, dan 19% tidak setuju
tindakan kelas, dan proses pelaksanaan Respon atau minat peserta didik terhadap
tindakan dilakukan secara bertahap yang pembelajaran IPA yang difokuskan terhadap
terdiri atas dua siklus. Siklus I dan II model pembelajaran kooperatif tipe STAD
dilakukan selama masing-masing tiga kali dapat dilihat pada Gambar 1.
228 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 2, Oktober 2014, hlm. 224-232

100

50

0
Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju

Gambar 1. Respon peserta didik pra siklus


Berdasarkan data yang disajikan dalam learning tipe STAD dimana guru memiliki
Gambar 1 hasil angket pra siklus modal positif untuk melanjutkan penerapan
menggambarkan respon/minat peserta didik model STAD dalam proses pembelajaran
terhadap pembelajaran IPA dengan indikator karena lebih dari 50% peserta didik
yang mengarah pada penerapan cooperative menyatakan setuju.

Siklus I
Data kegiatan observasi, data frekuensi keaktifan peserta didik dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Data frekuensi aktivitas kelas pada Siklus I


Aktivitas Bertanya Aktivitas Menjawab Jumlah rata-rata
Pertemuan
Frekuensi % Frekuensi % Aktivitas aktivitas
1 2 5,41 0 2
2 11 29,73 6 16,22 17 4,25
3 10 27,03 8 21,62 18 6
Rata-Rata 7,67 20,72 4,67 12,61 12,33
Jumlah 23 62,16 14 37,84 37

Berdasarkan Tabel 1 dapat terlihat bahwa memiliki nilai rata-rata aktivitas 4,25
selama pembelajaran pada Siklus I guru sementara pertemuan ketiga dengan tiga
belum maksimal dalam memberikan penyaji memiliki rata-rata aktivitas 18/3 atau
kesempatan dan memotivasi peserta didik 6 aktivitas. Dari seluruh proses kegiatan
untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran pada Siklus I dapat dikatakan
pembelajaran, sehingga peserta didik masih bahwa terjadi peningkatan aktivitas peserta
takut untuk bertanya, menanggapi maupun didik dari pertemuan satu ke pertemuan
menjawab pertanyaan, sedangkan pada berikutnya walaupun persentase kenaikannya
pertemuan kedua sudah menunjukkan kecil. Hal ini menunjukkan bahwa peserta
terjadinya peningkatan kualitas diskusi dan didik telah mulai menyenangi pembelajaran
aktivitas kelas dan pada pertemuan ketiga kooperatif tipe STAD.
meskipun jumlah yang bertanya menurun
Hasil observasi terhadap guru
sekitar 2,70% akan tetapi jumlah peserta didik
menunjukkan bahwa perilaku guru telah
yang aktif menjawab pertanyaan dari kelas
sesuai dengan langkah-langkah yang
meningkat sekitar 5,4%. Apabila dilihat dari
diharapkan dalam metode STAD. Hasil
nilai rata-rata aktivitas tiap pertemuan, maka
diskusi kelompok disajikan pada Gambar 2.
pertemuan kedua dengan empat penyaji
Supriyono, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad di SMPN 239 Jakarta 229

100
80 Kerja sama
60
Aktif presentasi
40
Aktif bertanya
20
0 Menanggapi
Aktivitas Kelas
Gambar 2. Persentase skor aktivitas diskusi kelompok Siklus I

Berdasarkan Gambar 2 dapat terlihat a. Nilai Ulangan Akhir Siklus I


bahwa kerja sama kelompok, aktivitas Rata-rata nilai ulangan di akhir Siklus
presentasi dan kemampuan memberi I adalah 73,78, dimana data frekuensi nilai
tanggapan cukup baik sementara aktivitas tes beserta sebaran distribusi kemampuan
bertanya masih perlu didorong karena kelas dapat dilihat pada Gambar 3.
masih di bawah Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM).

Gambar 3. Distribusi frekuensi nilai ulangan akhir Siklus 1

Refleksi: Peran guru sudah cukup baik menyusun pertanyaan karena belum terbiasa,
yaitu tidak sebagai subjek pembelajaran terkadang kurang percaya diri dan masih
namun telah berperan sebagai motivator dan grogi ketika menyampaikan pertanyaan.
fasilitator dalam pembelajaran. Peserta
Siklus II
didikpun telah aktif mencari sumber belajar
Peserta didik pada Siklus II terlihat lebih
melalui informasi yang ia peroleh baik dari
aktif dalam mengikuti proses pembelajaran
buku maupun diskusi antar peserta didik lain,
(Tabel 2).
meskipun beberapa peserta didik masih sulit

Tabel 2. Frekuensi aktivitas kelompok dalam diskusi kelas Siklus II


Aktivitas Bertanya Aktivitas Menjawab Jumlah Rata-rata
Pertemuan
Frekuensi % Frekuensi % Aktivitas aktivitas
1 7 18,92 2 5 9 -
2 25 67,57 24 64,86 49 12,25
3 20 54,05 18 48,65 38 12,67
Rata-Rata 17,33 46,85 14,67 37,86 32,33
Jumlah 52 44 96
230 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 2, Oktober 2014, hlm. 224-232

Berdasarkan Tabel 2 dapat terlihat adanya tipe STAD juga telah dilakukan dengan baik.
kenaikan rata-rata aktivitas peserta didik Di akhir pembelajaran guru memberikan
untuk setiap pertemuan, dimana akumulasi apresiasi bagi kelompok yang kinerjanya
aktivitas kelas mencapai 96 aktivitas di Siklus paling baik.
II. Peningkatan aktivitas bertanya maupun
a. Nilai Hasil Diskusi Kelompok
menanggapi jawaban meningkat sangat baik.
Hal ini mungkin terjadi karena diskusi kelas Data hasil penilaian kegiatan belajar
telah mendorong peserta didik untuk Siklus II menunjukkan bahwa semua
termotivasi dalam proses KBM, dimana kelompok telah dinyatakan tuntas dalam
kualitas diskusi pun cukup baik. aktivitas diskusi. Aktivitas kelas dalam
melakukan diskusi digambarkan pada Gambar
Hasil Observasi Guru: Pada prinsipnya
4.
pembelajaran yang dilakukan oleh guru telah
menerapkan prinsip pembelajaran yang cukup
baik. Prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif
100
80 Kerja sama
60
Aktif presentasi
40
Aktif bertanya
20
0 Menanggapi
Aktivitas Kelas
Gambar 4. Persentase skor aktivitas diskusi kelompok Siklus II

Berdasarkan Gambar 4 diketahui bahwa karena telah mencapai ketuntasan kelas


kegiatan belajar dalam berdiskusi pada Siklus 81,79%.
II secara klasikal sudah dapat dikatakan tuntas

b. Nilai Hasil Ulangan Siklus II

Gambar 5. Distribusi frekuensi nilai akhir Siklus II

Berdasarkan Gambar 5 dapat dijelaskan Ikhtisar hasil angket respon peserta didik
bahwa sebaran nilai akhir siklus berdistribusi terhadap proses pembelajaran di akhir siklus
normal dan rata-rata kelas telah mencapai menunjukkan bahwa respon persepsi peserta
76,76 di atas nilai KKM. Dengan demikian, didik terhadap pembelajaran IPA dengan
penerapan pembelajaran kooperatif tipe menerapkan pembelajaran kooperatif tipe
STAD dapat dikatakan telah meningkatkan STAD dapat digambarkan dengan Gambar 6.
hasil belajar peserta didik pada pembelajaran
IPA.
Supriyono, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad di SMPN 239 Jakarta 231

100
80
60 Setuju
40 Ragu-ragu
20 Tidak setuju
0
Responden

Gambar 6. Persentase tanggapan responden di akhir siklus

Berdasarkan Gambar 6 dapat terlihat Refleksi: Berdasarkan pelaksanaan


bahwa persentase responden yang menyatakan tindakan pada Siklus II dapat dijelaskan
setuju atau dapat dikatakan memberikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe
respon positif terhadap pembelajaran STAD sangat cocok diterapkan dalam
kooperatif tipe STAD yang dilakukan guru pembelajaran IPA dan proses belajar
dapat dikatakan cukup baik (mencapai 85%), mengajar berlangsung menarik. Perbandingan
dimana yang menyatakan ragu-ragu adalah tingkat ketuntasan dan daya serap Siklus I dan
10% dan yang menyatakan tidak setuju hanya Siklus II divisualisasikan pada Gambar 7.
5%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe STAD
dapat diterapkan pada materi IPA.

100
80
60 Sebelum Siklus
40
Siklus I
20
0 Siklus II
Tingkat Daya serap
Ketuntasan

Gambar 7. Perbandingan tingkat ketuntasan dan


daya serap Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan Gambar 7 dapat terlihat bahwa KESIMPULAN


telah terjadi kenaikan tingkat ketuntasan dari
Siklus I ke Siklus II, begitu pula untuk daya Penerapan pembelajaran kooperatif tipe
serap hasil ulangan akhir siklus yang STAD (Student Team Achievement Division)
mengalami kenaikan cukup berarti. Kenaikan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik
tersebut memang hanya sedikit tetapi telah pada mata pelajaran IPA di kelas IX-4 SMP
melampaui KKM yang ditetapkan. Dengan Negeri 239 Jakarta. Hal ini terlihat dari
demikian dapat dikatakan bahwa penerapan adanya kenaikan hasil keaktifan belajar
pembelajaran kooperatif tipe STAD terbukti peserta didik secara kelompok, tingkat
dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik ketuntasan belajar dan daya serap dari hasil
pada pembelajaran IPA. ulangan di setiap akhir siklus dan telah sesuai
dengan indikator yang ditetapkan di setiap
akhir siklus.
232 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 2, Oktober 2014, hlm. 224-232

DAFTAR PUSTAKA Qurtubi, A. (2009). Perencanaan sistem


pengajaran. Tangerang: PT BHS.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian
suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Slameto. (2002). Belajar dan Faktor-Faktor
Rineka Cipta yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka
Cipta
Depdiknas. (2004). Materi Pelatihan
Terintegrasi Sains. Departemen Yasin, S. (2011). Pembelajaran Kooperatif
Pendidikan Nasional. Tipe STAD (Students Team
Achievedment Devision). [Online].
Nasution, S. (1982). Berbagai Pendekatan
Diakses dari:
dalam Proses Belajar dan Mengajar.
http://www.sarjanaku.com/2011/03/pe
Jakarta: PT. Bina Aksara
mbelajaran-kooperatif-tipe-stad.html.