Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu.
Dalam rangka mencapai Pendidikan yang bermutu dan berkualitas tersebut,
pemerintah telah menyusun peraturan tentang standar Pendidikan yang tertuang
secara rinsi dalam Peraturan Pemerintah Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan ini adalah kriteriria minimal tentang
Pendidikan system Pendidikan diseluruh wilayah hokum Negara Kesatuan Negara
Republik Indonesia. Program standarisasi tersebut terintegrasi pada tiga program
yaitu standarisasi, akreditasi dan sertifikasi.1

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar


Nasional Pendidikan, khususnya Pasal 87 ayat (2). Sejalan dengan kegiatan
reformasi birokrasi yang ada di lingkungan Kemdiknas demi mewujudkan layanan
prima kepada publik, maka layanan akreditasi sekolah/madrasah menjadi salah
satu program dalam reformasi layanan. Reformasi layanan mengacu pada UU No.
25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.sehingga mewujudkan sistem
penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum
pemerintahan dan korporasi yang baik.2

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Akreditasi Sekolah dan Madrasah ?
2. Apa saja Ruang Lingkup Akreditasi ?
3. Apa Tujuan Akreditasi Sekolah dan Madrasah ?
4. Apa saja komponen penilaian dalam akreditasi ?
5. Bagaimana Prosedur akreditasi Sekolah dan Madrasah ?

1
Supardi, Natsir Muhammad, Analisis Kebutuhan penegmabangan Madrasah, Jurnal Penelitian
Keislaman Vol 3 nomor 1 Desember 2006

2
Peraturan pemerintah no 19 tentang Standar Nasional Pendidikan hal 39.
1.3 Tujuan
Tujuan kami dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Supervise dan Kepemimpinan Pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akreditasi Sekolah


Akreditasi adalah proses penilaian dengan indicator tertentu
berbasis fakta. Asesor melakukan pengamatan dan penilaian sesuai realitas,
tanpa ada manipulasi.3 Menurut Prof.Dr.M.Mastuhu,M.Ed, akreditasi
merupakan kebalikan arah evaluasi diri.Yang dimaksud dengan evaluasi
diri disini adalah penilaian dari pihak luar dalam rangka memberikan
pengakuan terhadap mutu pendidikan yang diselenggarakan.Jadi dengan
singkat dapat dikatakan bahwa akreditasi adalah penilaian jenjang
kualifikasi mutu sekolah swasta oleh pemerintah.Pengakuan tersebut hasil
dari akreditasi mempunyai konsekuensi pengakuan terhadap kedudukan
sekolah swasta sebagai “Terdaftar” (kurang), ”Diakui” (baik), dan
“Disamakan” (sangat baik).

Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan yang menuntut


kualitas pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, maka
pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan
tercermin melalui keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia No.087/U/2012 pada tanggal 4 Juni 2002 telah diterbitkan
ketetapan mengenai akreditasi sekolah yang baru.Kalau dulu hanya sekolah
swasta saja yang harus diakreditasi atau yang terkena peraturan tersebut,
sedangkan sekarang sekolah negeri pun harus terakreditasi pula.

Dalam buku pedoman akreditasi madrasah, akreditasi ditafsirkan


sebagai suatu proses penilaian kualifikasi dengan menggunakan kriteria
baku mutu yang ditetapkan dan bersifat terbuka.Jika proses penilaian
kualitas madrasah, baik madrasah negeri maupun madrasah swasta dengan
menggunakan kriteria baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah atau
lembaga akreditasi, hasil penelitian tersebut selanjutnya dijadikan dasar

3
Jamal Ma’mur Asmani, Tips praktis membangun dan mengolah administrasi sekolah,(Jogjakarta:Diva
Press,2011)cet.1,h.184
untuk memelihara dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan
pelayanan lembaga yang bersangkutan.

Hasil penilitian akreditasi dinyatakan dalam bentuk pengakuan


terakreditasi dan tidak terakreditasi.Sedangkan sekolah terakreditasi dapat
diperingkatkan menjadi 3 klasifikasi yaitu sangat baik (A), baik (B), dan
cukup (C).

Akreditasi adalah salah satu Usaha tuntutan pembaharuan sistem


pendidikan untuk mencapai sekolah yang berkualitas, di antaranya pembaharuan
kurikulum, yaitu diversifikasi kurikulum untuk melayani peserta didik dan potensi
daerah yang beragam, diversifikasi jenis pendidikan yang dilakukan secara
profesional, penyusunan standar kompetensi tamatan yang berlaku secara nasional
dan daerah menyesuaikan dengan kondisi setempat; penyusunan standar
kualifikasi pendidik yang sesuai dengan tuntutan pelaksanaan tugas secara
profesional; penyusunan standar pendanaan pendidikan untuk setiap satuan
pendidikan sesuai prinsip-prinsip pemerataan dan keadilan; dan pelaksanaan
manajemen pendidikan berbasis sekolah; serta penyelenggaraan pendidikan
dengan sistem terbuka dan multimakna. Pembaharuan sistem pendidikan juga
meliputi penghapusan diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah
dan pendidikan yang dikelola masyarakat, serta pembedaan antara pendidikan
keagamaan dan pendidikan umum.4
Secara istilah akreditasi diartikan sebagai satu proses penilaian kualitas
dengan menggunakan kriteria baku mutu yang ditetapkan dan bersifat terbuka.5
Dalam hal ini akreditasi memiliki makna proses pendidikan. Di samping
itu akreditasi juga merupakan penilaian hasil dalam bentuk sertifikasi formal
terhadap kondisi suatu sekolah/madrasah yang telah memenuhi standar layanan
tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa proses akreditasi dalam makna proses adalah penilaian dan pengembangan
mutu suatu sekolah/madrasah secara berkelanjutan. Akreditasi dalam makna hasil

4
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
5
Bambang Suryadi, Pedoman Akreditasi Madrasah Tsanawiyah, Jakarta: Depag RI (Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam), 2005, h. 5.
menyatakan pengakuan bahwa suatu sekolah/madrasah telah memenuhi standar
kelayakan yang telah ditentukan.

2.2 Ruang Lingkup Akreditasi


Sekolah yang terakreditasi meliputi Taman Kanak-kanak(TK), Sekolah
Dasar(SD), Sekolah Luar Biasa(SLB), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama(SLTA),
Sekolah Menengah Umum(SMU), dan Sekolah Menengah Kejuruan(SMK).6

2.3 Tujuan Akreditasi


Akreditasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran
keadaan kinerja madrasah dalam menyelenggarkan pendidikan, sebagai
dasar yang dapat digunakan sebagai alat pembinaan dan pengembangan
dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di madrasah.7

Tujuan akreditasi madrasah adalah untuk memperoleh gambaran keadaan


kinerja madrasah dan untuk menentukan tingkat kelayakan suatu madrasah dalam
menyelenggarakan pendidikan, sebgai dasar yang dapat digunakan sebagai alat
pembinaan dan pengembangan, dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di
madrasah.8

Dalam Sisdiknas tahun 2003 disebutkan pada pasal 60 ayat (1) Akreditasi
dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur
pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang pendidikan.9

Untuk Indonesia akreditasi dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

a. Mendapatkan bahan-bahan bagi usaha-usaha perencanaan pemberian


bantuan dalam rangka pembinaan sekolah yang bersangkutan.
b. Mendorong dan menjaga agar mutu pendidikan sesuai dengan
ketentuan kurikulum yang berlaku.

6
Suharasimi Arikunto,Penilaian program Pendidikan,(Jakarta,Bina Aksara,1988),h.20

7
Depag RI,Pedoman Akreditasi Madrasah,Direktorat Jendral Kelembagaan
Agama Islam,2008,H.7

8
Bambang Suryadi, Pedoman Akreditasi Madrasah Tsanawiyah, Jakarta: Depag RI (Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam), 2005, h. 6
9
UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 60 ayat 1
c. Mendorong dan menjaga mutu tenaga kependidikan.
d. Mendorong tersedianya prasarana atau sarana pendidikan yang baik.
e. Mendorong terciptanya dan menjaga terpeliharanya ketahanan sekolah
dalam pengembangan sekolah sebagai pusat kebudayaan.
f. Melindungi masyarakat dari usaha pendidikan yang kurang
bertanggung jawab.
g. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang mutu pendidikan
suatu sekolah.
h. Memudahkan pengaturan perpindahan siswa dari sekolah ke satu ke
sekulah yang lain.10

2.4 Komponen-komponen Yang Dievaluasi Dalam Akreditasi


Komponen-komponen yang harus dievaluasi (dinilai) dalam akreditasi
sekolah ada delapan meliputi:11
a. Standar Isi
Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk
mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu.Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum,
beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender
pendidikan atau akademik.
b. Standar Proses
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
c. Standar Kompetensi Lulusan
Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian
dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan
pendidikan.Standar kompetensi lulusan meliputi kompetensi untuk

10
Suharsimi Arikunto,Penilaian Program Pendidikan,(Jakarta,Bina Aksara,1988)h.260
11
Eka Prihatin,Teori Administrasi Pendidikan,Bandung:Alfabeta,2011),cet ke-1 h.42
seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran dan mata
kuliah atau kelompok mata kuliah.
d. Standar Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan
Pendidiak harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai
agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional
e. Standar Sarana Dan Prasarana
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi
perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber
belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang
diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana
yang meliputi lahan, ruangkelas, ruang pimpinan satuan
pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan,
ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang
kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat
beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, dan ruang atau
tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran.
f. Standar Pengelolaan
Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang
ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi,
keterbukaan, dan akuntabilitas.
g. Standar Pembiayaan
Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi,
dan biaya personal.Biaya investasi satuan pendidikan meliputi
biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya
manusia, dan modal kerja tetap.Biaya personal meliputi biaya
pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik. Biaya
operasi satuan pendidikan meliputi:

1. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan


yang melekat pada gaji.
2. Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan
3. Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa
telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang
lembur, transportasi, komunikasi, pajak, asuransi, dan lain
sebagainya.
h. Standar Penilaian Pendidikan
Standar penilaian Pendidikan dasar dan menengah terdiri atas :
1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik
2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dan
3. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah12

2.5 Prosedur akreditasi Sekolah dan Madrasah


Sekolah yang akan diakreditasi harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:

a. Memiliki surat keputusan kelembagaan unit pelaksana teknis(UPT) sekolah.


b. Memiliki siswa pada semua tingkatan kelas.
c. Memiliki sarana dan prasarana pendidikan.
d. Memiliki tenaga kependidikan.
e. Melaksanakan kurikulum nasional.
f. Telah menamatkan peserta didik13

Akreditasi dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut:


1. Mengajukan permohonan akreditasi dari sekolah kepada lembaga atau badan
pelaksana akreditasi yang telah ditentukan. Badan pelaksana akreditasi
sekolah terdiri dari:
a. Badan Akreditasi (BAN-S/M)
b. Badan Akreditasi Propinsi Sekolah/Madrasah(BAP-S/M)
c. Unit Pelaksana Akreditasi (UPA) Kabupaten/Kota.
Badan Akreditasi Nasional Sekolah / Madrasah (BAN-S/M) merupakan :
Badan nonstruktural yang secara teknis bersifat independen dan profesional yang

12
Eka Prihatin,Teori Administrasi Pendidikan,(Bandung:Alfabeta,2011),cet.ke -1,h.41-44
13
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor.087/U/2002,Tentang Akreditasi Sekolah dan Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional RI Nomor 039/0/2003 Tentang Badan Akreditasi Sekolah Nasional,2006 h.3
terdiri atas unsur – unsur masyarakat, organisasi penyelenggara pendidikan,
perguruan tinggi, dan organisasi yang relevan yang memliki kewenangan untuk
menetapkan kebijakan, standar, sistem, dan perangkat akrediatasi secara
nasional. Badan Akreditasi Propinsi Sekolah / Madrasah (BAP-S/M)
berkewenangan untuk melaksanakan kegiatan akreditasi SMP /MTs, SMA/MA,
SMK dan SLB.

2. Evaluasi diri oleh sekolah.


Evaluasi diri adalah upaya sistematis untuk mengumpulkan, memilih, dan
memperoleh data dan informasi yang valid dari fakta yang dilakukan oleh
sekolah yang bersangkutan, sehingga diperoleh gambaran menyeluruh tentang
keadaan sekolah untuk dipergunakan dalam rangka pengambilan tindakan
manajemen bagi pengembangan sekolah. Tujuan evaluasi diri ini adalah
untuk mendapatkan informasi yang objektif, transparan, dan akuntabel dari
sekolah yang diakreditasi. Sedangkan fungsi evaluasi diri adalah sebagai
penilaian pertama untuk menentukan kelayakan sekolah dibandingkan dengan
standar kelayakan nasional. kegiatan evaluasi diri tidak boleh dilakukan secara
sembarangan tetapi harus berdasarkan kondisi nyata sekolah. Oleh karena itu,
agar diperoleh data evaluasi diri yang akurat dan objektif maka kepala sekolah
perlu melakukan koordinasi untuk melakukan pengisian instrumen evaluasi
diri. Sebaiknya disekolah dibentuk Tim Evaluasi Diri yang bertugas untuk
mendata dan menyiapkan berbagai bukti fisik yang diperlukan guna
mendukung pengisian instrumen evaluasi diri. Pengisian instrumen evaluasi
diri disesuaikan dengan kebutuhan waktu, namun tidak melewati batas waktu
yang telah ditentukan. Setelah pengisian instrumen evaluasi diri, sekolah harus
menyerahkan kembali instrumen tersebut dengan melampirkan dokumen
pendukung yang diperlukan.
3. Pengolahan hasil evaluasi diri. Evaluasi diri untuk setiap jenjang dan jenis
sekolah terdiri dari dua bagian utama yaitu :
a. Bagian butir-butir soal untuk mengungkap sembilan kompenen sekolah,
baik komponen utama maupun komponen tambahan yang akan
diperhitungkan untuk menentukan sekor hasil akreditasi. Terdiri dari 185
pernyataan, bersiifat dikotomis(ya=1) dan (tidak=0), setiap komponen
memiliki bobot yang berbeda, skor butir untuk pernyataan terbuka jika
tidak diisi diberi skor 0 dan jika diisi diberi skor 1, dan setiap butir
memiliki skor maksimal=1. Setiap komponen disertai dengan data tentang
anlisis kelemahan dan kekuatan masing-masing komponen.
b. Berupa isian-isian data penunjang tentang keadaan sekolah. Data ini hanya
merupakan penunjang atas data yang tercantum pada bagian pertama dan
tidak akan diolah menjadi skor akreditasi.
4. Visitasi oleh Asesor
Visitasi adalah kunjungan tim asesor kesekolah dalam rangka pengamatan
lapangan, wawancara dengan warga sekolah, verifikasi data pendukung, serta
pendalaman hal-hal khusus yang berkaitan dengan komponen dan aspek
akreditasi. Visitasi ini bertujuan:
a. Meningkatkan keabsahan dan kesesuaian data/informasi
b. Memperoleh data/informasi yang akurat dan valid untuk menetapkan
peringkat akreditasi
c. Memperoleh informasi tambahan (pengamatan, wawancara, dan
pencermatan data pendukung)
d. Mendukung pengambilan keputusan yang tepat dan tidak merugikan pihak
manapun, denganberpegang pada prinsip-prinsip: objektif, efektif, efisien,
dan mandiri.
Proses visitasi merupakan rangkaian pelaksanaan akreditasi yang melekat
dengan fungsi evaluasi diri dan sekolah diharapkan untuk senantiasa
menjamin kelengkapan dan ketepatan data dan informasi yang diperlukan
dalam pelaksanaan akreditasi sekolah. Visitasi dilaksanakan oleh tim yang
terdiri dari dua orang asesor. Agar visitasi berjalan sesuai dengan tujuannya,
sehingga dapat mendukung hasil hasil akreditasi yang komprehensif, valid,
dan akurat serta dapat memberikan manfaat maka kegiatan visitasi harus
mengikuti tata cara pelaksanaan yang baku. Visitasi dilaksanakan jika suatu
sekolah dinyatakan layak berdasarkan penilaian evaluasi diri. Visitasi
dilaksanakan segera (maksimal 5 bulan) setelah sekolah mengirimkan evaluasi
diri.
5. Penetapan hasil akreditasi.
Setelah dilaksanakan visitasi terhadap sekolah/madrasah kemudian
dikeluarkanlah hasil akreditasi. Hasil akreditasi ini adalah berupa sertifikat
akreditasi sekolah, profil sekolah, kekuatan dan kelemahan serta rekomendasi.
6. Penerbitan sertifikat dan laporan akreditasi.
Sertifikat Akreditasi sekolah adalah surat yang menyatakan pengakuan dan
penghargaan terhadap sekolah atas status dan kelayakan sekolah melalui
proses pengukuran dan penilaian kinerja sekolah terhadap komponen-
komponen sekolah berdasarkan standar yang ditetapkan BAN-S/M untuk
jenjang pendidikan tertentu. Masa berlaku akreditasi adalah selama 4 tahun,
permohonan akreditasi ulang dilakukan 6 bulan sebelum masa berlaku habis.
Akreditasi ulang untuk perbaikan diajukan sekurang-kurangnya 2 tahun sejak
ditetapkan. Hasil akreditasi sekolah dinyatakan dalam peringkat akreditasi
sekolah. Peringkat akreditasi sekolah terdiri atas tiga klasifikasi sebagai
berikut yaitu: A (Amat Baik), B (baik), C (Cukup)
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dalam makalah ini dapat kami simpulkan bahwa, Agar
mutu pendidikan itu sesuai yang diharapkan oleh masyarakat perlu dilaksanakan
suatu standar mutu pendidikan, dalam hal ini pemerintah sudah melaksanakan
Akreditasi Sekolah/Madrasah bagi lembaga maupun program satuan Akreditasi
Sekolah/Madrasah adalah proses penilaian secara komprehensif terhadap
kelayakan dan kinerja satuan dan/atau program Pendidikan yang dilakukan
sebagai akuntabilitas public.
Akreditasi Sekolah/Madrasah bertujuan untuk memberikan informasi
tentang kelayakan sekolah/madrasah atau program yang dilaksanakannya
berdasarkan Standar Nasional Pendidikan memberikan rekomendasi tentang
penjaminan mutu pendidikan kepada program dan atau satuan pendidikan yang
diakreditas