Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Harga saham di pasar modal merupakan ukuran yang obyektif
mengenai nilai investasi pada sebuah perusahaan. Oleh karena itu, harga saham
merupakan harapan investor. Variasi harga saham akan dipengaruhi oleh
kinerja perusahaan yang bersangkutan disamping dipengaruhi oleh hukum
permintaan dan penawaran, kinerja perusahaan akan menentukan tinggi
rendahnya harga saham dipasar modal.
Perubahan harga saham disebabkan banyaknya perputaran saham
atau frekuensi yang match (done ) pada pasar sekunder. Saat permintaan
pada suatu saham tinggi dan penawaran relatif tetap ataupun hanya bertambah
sedikit, maka harga saham bergerak naik. Begitu pula sebaliknya, jika
permintaan rendah maka harga saham akan bergerak turun. Tetapi
kejadiannya tidak selalu berlangsung demikian, masih banyak faktor lain
yang mempengaruhi harga saham tersebut.
Investasi di pasar modal sekurang-kurangnya perlu memperhatikan
dua hal, yaitu keuntungan yang diharapkan dan risiko yang mungkin terjadi.
Ini berarti investasi dalam bentuk saham menjanjikan keuntungan sekaligus
risiko. Pemilikan saham yang baik akan dilihat seiring berjalannya waktu
dengan perbandingan pendapatan perusahaan ( earning ). Investor saham
mempunyai kepentingan terhadap informasi antara lain tentang rasio keuangan
dalam melakukan penentuan harga saham.
“Kemungkinan investor mengalami kerugian yang timbul karena
adanya fluktuasi harga saham”. Fluktuasi harga saham yang memiliki tingkat
ketidakstabilan yang tidak tetap, mendorong para investor maupun calon
investor menganalisa secara cermat saham mana yang menjanjikan keuntungan
yang tinggi (Darmadji dan Fakhruddin 2011:90). Menurut Sofyan Syarif
Harahap (2015, 550), Hal yang mendorong investor menganalisa dengan
cermat harga saham yang potensial disebabkan karena “Harga saham selalu
dianggap lebih objektif dalam mengukur nilai perusahaan atau “value of the
firm”. Nilai perusahaan sering dikaitkan dengan harga saham, di mana

1
semakin tinggi harga saham maka akan mempengaruhi nilai perusahaan dan
kemakmuran para pemegang saham pun ikut meningkat. Sehingga
meningkatnya nilai perusahaan akan berbanding lurus dengan harga saham
perusahaan tersebut.
Calon pemodal (pembeli saham) akan lebih berkepentingan dengan
prospek Earning Per Share (EPS) yang merupakan salah satu aspek penting
yang dinilai oleh kalangan investor setelah melakukan pembelian saham. Hal
ini dilandasi pemikiran bahwa mereka mengharapkan untuk memperoleh
manfaat yang lebih besar dari pada apa yang dibayarkan pada saat membeli
saham. Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang sering digunakan oleh
para investor untuk menilai harga saham.
Profitabilitas perusahaan salah satu cara untuk menilai secara tepat
sejauh mana tingkat pengembalian yang akan didapat dari aktivitas
investasinya. Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau
menjanjikan keuntungan di masa mendatang maka banyak investor yang akan
menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan tersebut. Dan hal ini
tentu saja, harga saham naik menjadi lebih tinggi.
Harga saham dapat dipengaruhi oleh beberapa variabel, di antaranya
adalah Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER). Rasio yang
menunjukkan bagian laba untuk setiap lembar saham dan EPS juga dapat
menggambarkan profitabilitas perusahaan pada setiap lembar sahamnya
(Darmadji dan Fakhruddin 2011, 154). Sehingga prospek perusahaan biasanya
akan tercermin pada laba per sahamnya Jika EPS tinggi maka investor akan
menilai kepentingan terhadap informasi EPS dalam melakukan penentuan
harga saham, mengingat pasar modal di indonesia semakin menuju kearah
yang efisien sehingga semua informasi yang relevan bisa dipakai sebagai
masukan untuk menilai harga saham. Kemampuan perusahaan untuk
mempertahankan EPS yang tinggi berarti akan meningkatkan kepercayaan
investor pada perusahaan dan akan menaikkan harga saham.
Sedangkan Price Earning Ratio (PER) adalah apresiasi pasar terhadap
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan bagi investor makin
kecil PER suatu saham makin bagus karena saham tersebut termasuk murah (
Darmadji dan Fakhruddin 2011, 156). PER digunakan untuk memprediksi

2
kemampuan perusahaan menghasilkan laba dimasa depan dari suatu
perusahaan. Investor dapat mempertimbangkan rasio ini untuk memilah-milah
saham mana yang nantinya dapat memberikan keuntungan yang besar dimasa
mendatang. Perusahaan dengan kemungkinan pertumbuhan yang tinggi
biasanya mempunyai PER yang besar, sedangkan perusahaan dengan
pertumbuhan yang rendah biasanya mempunyai PER yang rendah.

1.2. Rumusan Masalah


 Apa yang dimaksud dengan Laba Per Lembar Saham (EPS)?
 Bagaimana Perhitungan Nilai Laba Per Lembar Saham (EPS)?
 Faktor apa yang mempengaruhi Laba Per Lembar Saham (EPS)?
 Apa pengaruh Laba Per Lembar Saham (EPS) terhadap Harga Saham ?
 Bagaimana Perhitungan Laba Per Lembar Saham Pada Struktur Modal
Sederhana?
 Bagaimana Perhitungan Laba Per Lembar Saham Pada Struktur Modal
Kompleks?

1.3. Tujuan Pembahasan Masalah


 Untuk mengetahui pengertian Laba Per Lembar Saham (EPS),
 Untuk mengetahui bagaimana Perhitungan Nilai Laba Per Lembar Saham ,
 Untuk mengetahui Faktor apa yang mempengaruhi Laba Per Lembar
Saham,
 Untuk mengetahui pengaruh Laba Per Lembar Saham (EPS) terhadap Harga
Saham,
 Untuk mengetahui Perhitungan Laba Per Lembar Saham Pada Struktur
Modal Sederhana,
 Untuk mengetahui Perhitungan Laba Per Lembar Saham Pada Struktur
Modal Kompleks,

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Laba Per Lembar Saham (EPS)


Investor perlu memiliki sejumlah informasi yang berkaitan dengan
dinamika harga saham agar dapat mengambil keputusan tentang saham
perusahaan yang layak untuk dipilih. Informasi yang dimaksud dikeluarkan
oleh emiten dalam bentuk prospektus yang berisikan informasi akuntansi
maupun non-akuntansi.
Rasio keuangan yang sering digunakan oleh investor saham (atau calon
investor saham) untuk menganalisis kemampuan perusahaan mencetak laba
berdasarkan saham yang dipunyai adalah Earning Per Share (EPS) atau laba
per lembar saham.
Menurut Zaki Baridwan (2004:443) laba per lembar saham (EPS):
“Yang dimaksud dengan laba per lembar saham adalah jumlah
pendapatan yang diperoleh dalam suatu periode tertentu untuk setiap
jumlah saham yang beredar.”
Alasan menggunakan Earning Per Share menurut Eduardus Tandelilin
(2010:366) menerangkan bahwa Earning Per Share diutamakan dalam analisis
perusahaan karena tiga alasan :
 Laba Per Saham biasa dipakai untuk mengestimasi nilai intrinsik
saham
 Dividen yang dibayarkan perusahaan pada dasarnya dibayarkan dari earning
(laba)
 Adanya hubungan antara perubahan earning (laba) dengan perubahan harga
saham
Berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa EPS
adalah rasio keuangan yang sering digunakan investor saham untuk
digunakan menganalisis kemampuan perusahaan mencetak laba berdasarkan
saham.

Earning Per Share (EPS) ini diatur tersendiri di dalam PSAK No 56 Tahun
2015 (PSAK 56-10: 3) disebutkan bahwa:

4
“Laba per saham dasar adalah entitas menghitung jumlah laba per saham dasar
atas laba rugi yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas
induk dan, jika disajikan, laba rugi dari operasi yang dialnjutkan yang dapat
diatribusikan kepada pemegang saham biasa tersebut.”

2.2. Perhitungan Nilai Laba Per Lembar Saham (EPS)


Earning per Share (EPS) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba. Earning per Share (EPS) dapat dijadikan sebagai indikator
tingkat nilai perusahaan. Earning per Share (EPS) juga merupakan salah satu
cara untuk mengukur keberhasilan dalam mencapai keuntungan bagi para
pemilik saham dalam perusahaan. Hasil yang lain menyatakan bahwa informasi
terpenting bagi investor dan analisis sekuritas adalah laba per lembar saham
(Jogiyanto, 2013:24).
Dengan kata lain bila perusahaan ingin meningkatkan kesejahteraan
para pemegang sahamnya, maka harus memusatkan perhatiannya pada laba per
lembar saham (EPS), sehingga jika EPS suatu perusahaan tidak memenuhi
harapan para pemegang sahamnya, maka keadaan ini akan berdampak pada
harga saham yang rendah. Penjelasan di atas dapat diketahui bahwa hubungan
antara laba per lembar saham dengan harga saham sangat erat.
Menurut Lukman Syamsuddin (2013:74), perhitungan nilai EPS
diperoleh berdasarkan rumus sebagai berikut :

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘−𝐷𝑒𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑃𝑟𝑒𝑓𝑒𝑟𝑒𝑛𝑐𝑒


EPS = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

Sedangkan menurut Irham Fahmi (2014 : 138), perhitungan nilai EPS


diperoleh berdasarkan rumus sebagai berikut :

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘


𝐸𝑃𝑆 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

Kesimpulan : Membeli saham berarti membeli prospek


perusahaan, yang tercermin pada laba per saham. Jika laba per saham lebih

5
tinggi, maka prospek perusahaan lebih baik, sementara jika laba per saham
lebih rendah berarti kurang baik, dan laba per saham negatif berarti tidak baik.

2.3. Faktor yang Mempengaruhi Laba Per Lembar Saham (EPS)


Menurut Brigham dan Houston (2006: 33-34)ada beberapa faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi earning per share, yaitu :
1. Pengguna Hutang
Dalam menentukan sumber dana untuk menjalankan perusahaan,
manajemen dituntut untuk mempertimbangkan kemungkinan perusahaan
dalam struktur modal yang mampu memaksimumkan harga saham
perusahaannya. Menurut Brigham dan Houston yang dialihbahasakan oleh
Suharto dan Wibowo (2006: 34) bahwa “Perubahan dalam penggunaan
hutang akan mengakibatkan perubahan laba per lembar saham (EPS) dan
karena itu juga mengakibatkan perubahan harga saham”. Dari penjelasan
tersebut terlihat bahwa perubahan penggunaan hutang, ,erupakan faktor
yang mempengaruhi tingkat besaran EPS.
Selain itu,motivasi utama perusahaan memperoleh pendanaan usaha
melalui utang adalah potensi biaya yag lebih rendah. Dari sudut pandang
pemegang saham, utang lebih murah dibandingkan dengan pendanaan
ekuitas.
Pendapat tersebut didasarkan oleh karena bunga sebagian besar
jumlahnya tetap, dan jika bunga labih kecil dari pengembalian yang
diperoleh dari pendanaan utang, selisih lebih atas pengembalian akan
menjadi keuntungan bagi investor ekuitas. Selain itu, karena bunga
merupakan beban yang dapat mengurangi pajak sedangkan dividen tidak,
dampaknya adalah besarnya pajak yang ditanggung perusahaan akan
semakin kecil sebagai akibat dari penggunaan utang dalam struktur modal
perusahaan sehingga pada akhirnya adalah terjadi kanaikan pada EPS.

6
2. Tingkat Laba Bersih Sebelum Bunga dan Pajak
Dalam memenuhi sumber dananya, manajemen pun dihadapkan pada
beberapa alternatif sumber pendanaan, apakah dengan modal sendiri atau
dengan pinjaman (modal asing). Menurut Brigham dan Houston (2006:
35)“Dalam memilih alternatif sumber dananya tersebut, perlu diketahui
pada tingkat profit sebelum bunga dan pajak (EBIT=Earning Before Interest
and Tax) berapa apabila dibelanjai dengan modal sendiri atau hutang
menghasilkan EPS yang sama”. Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan
bahwa tingkat laba bersih sebelum bunga dan pajak (EBIT) merupakan
faktor yang mempengaruhi besarnya laba per lembar saham.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bagi suatu
badan usaha nilai laba per lembar saham akan meningkat apabila presentase
kenaikan laba bersihnya lebih besar deripada presentase kanaikan jumlah
lembar saham biasa yang beredar.

2.4. Pengaruh Laba Per Lembar Saham (EPS) terhadap Harga Saham
Menurut Suad Husnan (2007: 316) menjelaskan bahwa :
“semakin tinggi laba bersih, akan berpengaruh terhadap besarnya Earning Per
Shase yang menunjukkan profitabilitas suatu perusahaan. Profitabilitas yang
meningkat menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, yang
berbuah kepercayaan investor pada perusahaan sehingga harga saham akan
naik.”

Menurut Jogiyanto (2013: 230) menjelaskan bahwa :


“Perusahaan yang mempunyai reputasi baik adalah perusahaan yang
mampu memberikan deviden secara konstan kepada pemegang saham.
Pengumuman laba perusahaan dapat dengan mudah diinterprestasikan
sebagai kabar buruk, sementara jika laba meningkat maka dapat diartikan
sebagai kabar baik. Laba yang meningkat akan menunjukan sinyal
mengenai peningkatan kinerja perusahaan secara umum kepada investor,
sementara itu laba yang menurunkan akan menunjukan sinyal penurunan
kinerja perusahaan kepada investor.”

7
Menurut Eduardus Tandelilin (2010:233) menjelaskan bahwa :
“Bagi para investor, informasi EPS merupakan informasi yang dianggap paling
mendasar dan berguna, karena bisa menggambarkan prospek earning
perusahaan di masa mendatang. Apabila EPS yang dihasilkan sesuai dengan
harapan investor, maka keinginan investor untuk menanamkan modalnya juga
meningkat dan akan meningkatkan harga saham seiring dengan tingginya
permintaan akan saham.”

Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012:195) menjelaskan bahwa :


“Semakin tinggi nilai EPS tentu saja menyebabkan semakin besar laba
sehingga mengakibatkan harga pasar saham naik karena permintaan dan
penawaran meningkat.”

Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2008:7) menjelaskan bahwa :


“Memaksimalkan kekayaan pemegang saham dapat diukur dari pendapatan
perlembar saham (EarningperShare) sehingga dalam hal ini EPS akan
mempengaruhi kepercayaan investor pada perusahaan.”

Hasil penelitian yang telah membuktikan bahwa terdapat pengaruh


EPS terhadap harga saham adalah hasil penelitian Ni Putu Nova Eka Yanti dan
I Ketut Suryanawa (2013) yang diperoleh bahwa EPS berpengaruh signifikan
terhadap harga saham.

8
2.5. Laba Per Lembar Saham Pada Struktur Modal Sederhana
Perbandingan antara LPS Sederhana dan LPS yang Terdilusi

Struktur modal perusahaan dikatakan:


 Sederhana, jika hanya ada saham biasa atau tidak ada saham biasa yang
berpotensial mengurangi LPS saham biasa
 Kompleks, jika termasuk sekuritas yang dapat menimbulkan pengurangan
terhadap LPS saham biasa
LPS dasar dihitung dengan membagi laba atau rugi bersih yang tersedia bagi
pemegang saham biasa (laba bersih residual) dengan jumlah rata-rata
tertimbang saham biasa yang beredar dalam satu periode.

Jumlah Rata-rata Tertimbang Saham Beredar


Yaitu Perusahaan harus melakukan pembobotan jumlah saham beredar
berdasarkan bagian periode saham tersebut beredar.

Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar → mengalikan


jumlah saham yang beredar selama jangka waktu tertentu dengan faktor
pembobot waktu.
Faktor pembobot waktu→ jumlah hari beredarnya sekelompok saham
dibandingkan dengan jumlah hari dalam suatu periode.

9
Saham biasa dianggap sebagai saham beredar ketika :
 Saham biasa yang diterbitkan melalui penjualan dengan kas diperhitungkan
saat kas sudah bisa diterima (when cash is receivable)
 Saham biasa yang diterbitkan atas reinvestasi suka rela dari dividen saham
biasa atau sahamu tama diperhitungkan sejak tanggal pembayaran dividen.
 Saham biasa yang diterbitkan sebagai hasil dari konversi instrumen utang
(misalnya obligasi konversi) diperhitungkan sejak tanggal utang tidak lagi
berbunga (the date interest ceases accruing).
 Saham biasa yang diterbitkan sebagai pengganti bunga atau pokok bagi
instrumen keuangan lain diperhitungkan sejak tanggal utang tidak lagi
berbunga (the date interest ceases accruing).
 Saham biasa yang diterbitkan dalam rangka penyelesaian utang (settlement)
perusahaan diperhitungkan sejak tanggal penyelesaian tersebut.
 Saham biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas perolehan aset bukan
kas diperhitungkan sejak tanggal perolehan tersebut diakui, dan
 Saham biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas jasa kepada
perusahaan diperhitungkan sejak jasa yang bersangkutan diterima
perusahaan.

Kasus Dividen Saham dan Pemecahan Saham


“Apabila dalam satu periode ada perubahan jumlah saham beredar yang tidak
mengubah sumberdaya, selain peristiwa konversi efek berpotensi saham biasa,
maka jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar selama satu
periode dan untuk seluruh periode sajian harus disesuaikan.”
Contoh kasus lainnya, yaitu :
1) Kapitalisasi laba (dividen saham) dan kapitalisasi agio saham yang dikenal
sebagai penerbitan saham bonus
2) Unsur bonus dalam penerbitan saham lainnya
3) Pemecahan saham (stock split)
4) Penggabungan saham (consolidation of stocks ataureverse of stock split)

Dividen saham dan pemecahan saham dianggap telah beredar sejak


awal tahun, sehingga diperlukan penyesuaian atas transaksi saham sebelumnya.

10
Dividen saham atau pemecahan saham yang terjadi setelah akhir tahun
tetapi sebelum perusahaan menerbitkan laporan keuangan, tetap dilakukan
penyesuaian pada tahun tersebut (dan tahun sebelumnya jika ada informasi
pembanding).

Jumlah Rata-rata Tertimbang Saham Beredar (contoh)


Tanggal Perubahan jumlah saham Saham
beredar
01/01/2013 Posisi awal 60.000
01/02/2013 Menerbitkan 36.000 saham dengan kas 36.000
96.000
01/04/2013 Membeli kembali 24.000 saham (24.000)
72.000
01/06/2013 Pemecahan saham 2-1 (tambahan 72.000
72.000) 144.000
01/09/2013 Menerbitkan 12.000 saham dengan kas 12.000
156.000
31/12/2013 Menerbitkan 10.000 saham dengan kas 10.000

Posisi akhir 166.000

Jumlah Rata-rata Tertimbang Saham Beredar (contoh)

Tanggal Jumlah Penyesuain Bagian Jumlah


beredar saham tahun tertimbang
beredar saham
01 Jan –01 Feb 60.000 2 1/12 10.000
01 Feb–01 April 96.000 2 2/12 32.000
01 April–01 Juni 72.000 2 2/12 24.000
01 Juni–01 Sept 144.000 3/12 36.000
01 Sept–01 Des 156.000 4/12 52.000
Rata-rata tertimbang saham beredar 154.000

11
2.6. Laba Per Lembar Saham Pada Struktur Modal Kompleks
Penyesuaian Laba (setelah pajak)
 Dividen dari efek berpotensi saham biasa yang bersifat dilutif.
 Bunga dari efek perpotensi saham biasa yang dilutif, yang diakui pada
periode bersangkutan (1-T).
 Perubahan pendapatan atau beban dari konversi efek berpotensi saham biasa
yang sifatnya dilutif.
Penyesuaian saham biasa beredar
 Ditambah jumlah rata-rata tertimbang saham yang akan diterbitkan dengan
asumsi semua efek berpotensi saham biasa dikonversikan menjadi saham
biasa.

 Konversi tersebut diasumsikan terjadi pada awal periode, atau pada tanggal
penerbitan efek berpotensi saham biasa tersebut, jika penerbitannya lebih
akhir

2.6.1. Sekuritas yang dapat dikonversi


Menggunakan metode “jika dikonversi” dengan asumsi :
 Dikonversi pada saat penerbitan sekuritas

 Eliminasi bunga terkait setelah pajak

Dengan demikian, konversi sekuritas akan menyebabkan


peningkatan bilangan penyebut (rata-rata tertimbang saham beredar) dan
akan meningkatkan pembilang (laba bersih).
Jika tarif konversi berubah selama periode sekuritas beredar, maka
perusahaan menggunakan tarif konversi yang paling mengurangi proporsi
ekuitas (paling dilutif).

12
Sekuritas yang dapat dikonversi (contoh)

Tahun 2013, PT ABC memiliki laba bersih Rp 50 juta dengan rata-


rata tertimbang jumlah saham beredar 1 juta lembar. Perusahaan juga
memiliki 2 obligasi (A dan B) yang dapat dikonversi beredar.

Obligasi A berjumlah 200 lembar dengan total nilai Rp 60 juta dan


memiliki bunga 8 persen. Obligasi diterbitkan pada awal tahun dan dapat
dikonversi menjadi 200.000 lembar saham.

Obligasi B berjumlah 100 lembar dengan total nilai 40 juta dan memiliki
bunga 7 persen. Obligasi diterbitkan pada 1 September dan dapat
dikonversi menjadi 90.000 lembar saham.

Beban bunga tahun 2013 yang dapat diatribusikan ke komponen liabilitas


obligasi A sebesar Rp 5 juta dan obligasi B sebesar 3 juta. Tarif pajak
efektif adalah 25 persen.

Penyesuaian laba bersih

Laba bersih Rp 50.000.000


(+) penyesuaian beban bunga setelah pajak
Obligasi A (Rp 5jt x [1-.25]) 3.750.000
Obligasi B (Rp 3jt x 4/12 x [1-.25]) 750.000
Penyesuaian laba bersih Rp 54.500.000

Penyesuaian rata-rata tertimbang saham beredar

Rata-rata tertimbang saham beredar 1.000.000


(+) saham yang diasumsikan akan diterbitkan
Obligasi A (awal tahun) 200.000
Obligasi B (tanggal penerbitan, 1 Sept = 4/12 x 90.000) 30.000
Penyesuaian laba bersih 1.230.000

Laba Per Saham

Laba bersih tahun berjalan Rp 50.000.000


LPS dasar (50 juta / 1 juta) Rp 50
LPS terdilusi (54.5 juta / 1.23 juta) Rp 44.31

13
Pengurangan ekuitas akibat penggunaan opsi dan waran

Menggunakan metode “saham treasuri” dengan asumsi:

1. Dikonversi pada saat penerbitan opsi/waran

2. Perusahaan menerbitkan saham tambahan agar dapat membeli


kembali saham untuk opsi/waran.

• Opsi Saham
merupakan Kontrak yang diterbitkan in"estor untuk dijual ke in"estor
lainnya dimana kontrak tersebut memberikan opsi$hak bagi
penerimannya untuk menjual$membeli suatu saham perusahaan yang
menjadi dasar perdagangan opsi tersebut dalam jumlah dan pada harga
yangtelah ditetapkan sebelumnya tertentu% serta berlaku dalam
periode tertentu. Opsi saham memilikidua jenis yaitu opsi beli dan
opsi jual.

• waran Saham
merupakan opsi yang diberikan oleh perusahaan kepada pemilik
waran untuk membeli sahamdengan harga tertentu dalam waktu
tertentu. Perbedaannya dengan opsi saham adalah pihak
yangmengeluarkannya dan jenisnya. &aran dikeuarkaan oleh
perusahaan penerbit saham sedangkanopsi saham dikeluarkan oleh
in"estor dan waran merupakan jenis yang merupakaan call option.

2.6.2. Sekuritas Antidilutive

 Di dalam penghitungan LPS, perusahaan perlu memisahkan sekuritas


yang secara individual benar-benar dilutive dengan yang antidilutive.

 Efek berpotensi saham biasa dianggap DILUTIF jika menurunkan laba


bersih per saham dari operasi normal berkelanjutan.

 Untuk menentukan efek dilutif digunakan laba bersih dari operasi


normal dikurangi dividen saham preferen (operasi tidak dilanjutkan/
dikeluarkan

 Efek berpotensi saham biasa bersifat ANTIDILUTIF jika meningkatkan


LPS dari operasi normal yang berkelanjutan, atau menurunkan rugi per
saham dari operasi normal yang berkelanjutan.

 Perusahaan harus mengeluarkan sekuritas yang antidilutive dan tidak


boleh menggunakannya untuk menutupi sekuritas yang dilutive.

 Utang yang dapat dikonversi menjadi antidilutive jika persentase


tambahan income dari beban bunga setelah pajak lebih besar daripada
persentase tambahan saham jika utang dikonversi.

14
 Opsi atau waran menjadi antidilutive jika harga penggunaan opsi atau
waran lebih besar daripada harga pasar.

 Dalam menentukan apakah suatu efek berpotensi saham memiliki


dampak dilutif atau antidilutif, maka setiap penerbitan harus
dipertimbangkan secara terpisah, bukan secara agregat atau
keseluruhan.

 Urutan dalam mempertimbangkan efek berpotensi saham biasa dapat


mempengaruhi keputusan apakah efek tersebut digolongkan dilutif atau
tidak.

 Untuk memaksimalkan dilusi dari LPS dasar, setiap penerbitan atau


setiap seri penerbitan saham harus dipertimbangkan dalam urutan mulai
dari yang paling dilutif ke yang paling sedikit sifat dilutifnya

15
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Harga saham dapat dipengaruhi oleh beberapa variabel, di antaranya
adalah Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER). Rasio yang
menunjukkan bagian laba untuk setiap lembar saham dan EPS juga dapat
menggambarkan profitabilitas perusahaan pada setiap lembar sahamnya
(Darmadji dan Fakhruddin 2011, 154). Sehingga prospek perusahaan biasanya
akan tercermin pada laba per sahamnya Jika EPS tinggi maka investor akan
menilai kepentingan terhadap informasi EPS dalam melakukan penentuan
harga saham. Kemampuan perusahaan untuk mempertahankan EPS yang tinggi
berarti akan meningkatkan kepercayaan investor pada perusahaan dan akan
menaikkan harga saham.
EPS adalah rasio keuangan yang sering digunakan investor saham
untuk digunakan menganalisis kemampuan perusahaan mencetak laba
berdasarkan saham.
Earning Per Share (EPS) ini diatur tersendiri di dalam PSAK No 56 Tahun
2015 (PSAK 56-10: 3) disebutkan bahwa:
“Laba per saham dasar adalah entitas menghitung jumlah laba per saham dasar
atas laba rugi yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas
induk dan, jika disajikan, laba rugi dari operasi yang dialnjutkan yang dapat
diatribusikan kepada pemegang saham biasa tersebut.”

Perbandingan antara LPS Sederhana dan LPS yang Terdilusi :


 Sederhana, jika hanya ada saham biasa atau tidak ada saham biasa yang
berpotensial mengurangi LPS saham biasa
 Kompleks, jika termasuk sekuritas yang dapat menimbulkan pengurangan
terhadap LPS saham biasa

Membeli saham berarti membeli prospek perusahaan, yang


tercermin pada laba per saham. Jika laba per saham lebih tinggi, maka prospek
perusahaan lebih baik, sementara jika laba per saham lebih rendah berarti
kurang baik, dan laba per saham negatif berarti tidak baik.

16
DAFTAR PUSTAKA

Kieso, Weygandt, Walfield, IFRS edition, John Wiley, Intermediate Accounting

IAI, Standar Akuntansi Keuangan, Dewan Standar Akuntansi Keuangan,

International Financial Reporting Standards – Certificate Learning Material The


Institute of Chartered Accountants, England and Wales

Sampoerno Wibowo, S.E.,MSi, Akuntansi Keuangan 2,Politeknik Telkom 2009

https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-eps-earning-per-share-laba-per-
saham-rumus-eps/

https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-laba-per-lembar-saham-atau-
earnings-per-share/14126/2

17