Anda di halaman 1dari 13

ANTI MONOPOLI DAN PERSAINGAN TIDAK SEHAT

OLEH ODEBHORA PADA MEI 17, 2011

1. Pengertian

Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, pengaturan mengenai persaingan


usaha tidak sehat didasarkan pada Pasal 1365 KUH Perdata mengenai perbuatan melawan hukum dan
Pasal 382 bis KUH Pidana.

Berdasarkan rumusan Pasal 382 bis KUH Pidana, seseorang dapat dikenakan sanksi pidana penjara
paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak tiga belas ribu lima ratus ribu
rupiah atas tindakan ‘persaingan curang’ bila memenuhi beberapa kriteria sbb:

Adanya tindakan tertentu yang dikategorikan sebagai persaingan curang

Perbuatan persaingan curang dilakukan dalam rangka mendapatkan, melangsungkan, dan memperluas
hasil dagangan atau perusahaan

Perusahaan, baik milik si pelaku maupun perusahaan lain, diuntungkan karena persaingan curang
tersebut

Perbuatan persaingan curang dilakukan dengan cara menyesatkan khalayak umum atau orang tertentu

Akibat dari perbuatan persaingan curang tersebut menimbulkan kerugian bagi konkruennya dari orang
lain yang diuntungkan dengan perbautan si pelaku

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 menyebutkan pengertian monopoli, yaitu suatu bentuk
penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku
atau satu kelompok pelaku usaha. Yang dimaksud dengan pelaku usaha adalah setiap orang-perorangan
atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri
maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang
ekonomi.

Pasal 4 ayat 2 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 menyebutkan bahwa pelaku usaha dapat dianggap
secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa jika
kelompok usaha menguasai lebih dari 75% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. Dengan
demikian praktik monopoli harus dibuktikan dahulu adanya unsur yang mengakibatkan persaingan
tidak sehat dan merugikan kepentingan umum.

2. Asas dan Tujuan

Dalam melakukan usaha di Indonesia, pelaku usaha harus berasaskan demokrasi ekonomi dengan
memperhatikan keseimbangan antara kepentingan umum dan pelaku usaha. Sementara itu tujuan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah sbb:

Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat

Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga
menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, menengah, dan
kecil

Mencegah praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha
Menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha

3. Kegiatan yang Dilarang

1. Monopoli

Monopoli adalah pengadaan barang dagangan tertentu sekurang-kurangnya sepertiganya dikuasai oleh
satu orang atau kelompok sehingga harganya dapat dikendalikan.

2. Monopsoni

Monopsoni adalah keadaan pasar yang tidak seimbang dan dikuasai oleh seorang pembeli; oligopsoni
yang terbatas pada seorang pembeli.

3. Penguasaan pasar

Penguasaan pasar merupakan proses, cara, atau perbuatan menguasai pasar yang berupa:

Menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada
pasar bersangkutan

Menghalangi konsumen untuk melakukan hubungan dengan pelaku usaha pesaing pada pasar
bersangkutan

Melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu

4. Persengkongkolan

Persekongkolan berarti berkomplot atau bersepakat melakukan kecurangan. Ada beberapa bentuk
persekongkolan yang dilarang oleh UU Nomor 5 Th. 1999 dalam Pasal 22 sampai Pasal 24, yaitu sbb:

Dilarang melakukan persekongkolan dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan
pemenang tender sehingga mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat

Dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mendapat informasi kegiatan usaha pesaingnya yang
diklasifikasikan rahasia perusahaan

Dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengahambat produksi dan atau pemasaran barang dan
atau jasa pelaku usaha pesaing dengan maksud agar barang dan atau jasa yang ditawarkan menjadi
berkurang, baik jumlah, kualitas maupun kecepatan waktu yang disyaratkan.

Pasal 1 angka 4 UU No.5 Th.1999 menyebutkan bahwa posisi dominan merupakan keadaan pelaku
usaha yang tidak adanya pesaing yang berarti di pasar ybs dalam kaitan dengan pangsa pasar yang
dikuasai atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangkutan
dalam kaitan dengan kemampuan keuangan , akses pada pasokan, penjualan, dan menyesuaikan
pasokan dan permintaan barang atau jasa tertentu.

Persentase penguasaan pasar oleh pelaku usaha sehingga dapat dikatakan menggunakan posisi dominan
sebagaimana ketentuan di atas adalah sbb:

Satu pelaku atau satu kelompok pelaku usaha menguasai 50% atau lebih pangsa pasar satu jenis barang
atau jasa tertentu

Dua atau tiga pelaku usaha satau satu kelompok pelaku usaha menguasai 75% atau lebih pangsa pasar
satu jenis barang atau jasa

6. Jabatan rangkap
Seseorang yang menduduki jabatan direksi atau komisaris suatu perusahaan dilarang merangkap
menjadi direksi atau komisaris perusahaan lain pada waktu yang bersamaan apabila:

Berada dalam pasar bersangkutan yang sama

Memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha

Secara bersama dapat menguasai pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu yang dapat menimbulkan
praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat.

7. Pemilikan saham

Pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis, melakukan
kegiatan usaha dalam bidang sama pada pasar bersangkutan yang sama, atau mendirikan beberapa
perusahaan yang sama bila kepemilikan tersebut mengakibatkan persentase penguasaan pasar yang
dapat dikatakan menggunakan posisi dominan (UU Nomor 5 Tahun 1999 Pasal 27).

8. Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan

Dalam menjalankan perusahaan, pelaku usaha yang berbadan hukum maupun yang bukan berbadan
hukum, yang menjalankan perusahaan bersifat tetap dan terus-menerus dengan tujuan mencari laba,
secara tegas dilarang melakukan tindakan penggabungan , peleburan, dan pengambilalihan yang
berakibat praktik monopoli dan persaingan tidak sehat (UU Nomor 5 Tahun 1999 Pasal 28).

Hanya penggabungan yang bersifat vertikal yang dapat dilakukan sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun
1999 Pasal 14.

4. Perjanjian yang Dilarang

Oligopoli

Oligopoli merupakan keadaan pasar dengan produsen dan pembeli barang berjumlah sedikit sehingga
dapat mempengaruhi pasar, maka:

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha dengan secara bersama-sama
melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa

Pelaku usaha patut diduga melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa bila
dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai >75% pangsa pasar satu jenis barang
atau jasa tertentu.

Penetapan harga

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian sbb:

Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas barang dan atau jasa yang
harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama

Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga
yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama

Perjanjian dengan pelaku usaha pesaing untuk menetapkan harga di bawah harga pasar
Perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa
tidak menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang diterimanya dengan harga lebih rendah
dari harga yang telah dijanjikan

Pembagian wilayah

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan membagi
wilayah pemasaran atau lokasi pasar terhadap barang dan atau jasa.

Pemboikotan

Pelaku usaha dilarang melakukan perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang dapat menghalangi
pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun
luar negeri.

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menolak menjual
setiap barang dan atau jasa dari pelaku usaha lain sehingga perbuatan tersebut berakibat:

merugikan atau dapat diduga akan merugikan pelaku usaha lain

membatasi pelaku usaha lain dalam menjaul atau membeli setiap barang dan atau jasa dari pasar
bersangkutan.

Kartel

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bermaksud
mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang atau jasa.

Trust

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama
dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar dengan tetap menjaga dan
mempertahankan kelangsungan hidup tiap perusahaan atau peseroan anggotanya yang bertujuan
mengontrol produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa.

Oligopsoni

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan menguasai
pembelian atau penerimaan pasokan secara bersama-sama agar dapat mengendalikan harga barang atau
jasa dalam pasar ybs

Pelaku usaha dapat diduga atau dianggap secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan
pasokan apabila dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai >75% pangsa pasar
satu jenis barang atau jasa tertentu.

Integrasi vertikal

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan menguasai
produksi sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu yang
mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil pengolahan atau proses lanjutan baik dalam satu
rangkaian langsung maupun tidak langsung.

Perjanjian tertutup
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa
pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang
dan atau jasa tersebut kepada pihak dan atau tempat tertentu.

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain yang memuat persyaratan bahwa pihak
yang menerima barang dan atau jasa tertentu harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari
pelaku.

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian mengenai harga atau potongan harga tertentu atas barang
dan atau jasa yang membuat persyaratan bahwa pelaku usaha yang menerima barang dan atau jasa dari
pelaku usaha pemasok, antara lain:

harus bersedia membeli barang dan atau jasa dari pelaku usaha pemasok

tidak akan membeli barang dan atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang menjadi
pesaing dari pelaku usaha pemasok.

Perjanjian dengan pihak luar negeri

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

5. Hal-Hal yang Dikecualikan dari Undang-Undang Anti Monopoli

Perjanjian yang dikecualikan

Perjanjian yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual, termasuk lisensi, paten, merk dagang,
hak cipta, desain produk industry, rangkaian elektronik terpadu, dan rahasia dagang

Perjanjian yang berkaitan dengan waralaba

Perjanjian penetapan standar teknis produk barang dan atau jasa yang tidak mengekang dan atau
menghalangi persaingan

Perjanjian dalam rangka keagenan yang isisnya tidak memuat ketentuan untuk memasok kembali
barang dan atau jasa dengan harga yang lebih rendah dari harga yang telah dijanjikan

Perjanjian kerja sama penelitian untuk peningkatan atau perbaikan standar hidup masyarakat luas

Perjanjian internasional yang telah diratifikasi oleh pemerintah

Perbuatan yang dikecualikan

Perbuatan pelaku usaha yang tergolong dalam pelaku usaha

Kegiatan usaha koperasi yang secara khusus bertujuan untuk melayani anggota

Perbuatan dan atau perjanjian yang dikecualikan

Perbuatan atau perjanjian yang bertujuan melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Perbuatan dan atau perjanjian yang bertujuan untuk ekspor dan tidak mengganggu kebutuhan atau
pasokan dalam negeri

6. Komisi Pengawas Persaingan Usaha


KPPU adalah sebuah lembaga yang mengawasi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya
melakukan praktik monopoli dan atau persaingan usaha yang tidak sehat. Hal ini diatur dalam UU
Nomor 5 Tahun 1999. Tugas dan wewenang KPPU antara lain:

Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang telah dibuat oleh pelaku usaha

Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha / tindakan pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan
usahanya

Mengambil tindakan sesuai dengan wewenang komisi

Memberikan saran dan pertimbangan kebijakan pemerintah terhadap praktik monopoli dan persaingan
usaha tidak sehat

Menerima laporan dari masyarakat/pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktik monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat

Melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha/tindakan pelaku usaha yang dapat
menimbulkan praktik monopoli / persaingan usaha tidak sehat

Melakukan penyelidikan/ pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktik monopoli/ persaingan usaha tidak
sehat yang dilaporkan masyarakat atau pelaku atau yang ditemukan oleh komisi sebagai hasil dari
penelitiannya

Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, dan setiap orang yang dianggap mengetahui
pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang

Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang yang
tidak bersedia memenuhi panggilan komisi

Menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan
undang-undang ini.

7. Sanksi

Sanksi administrasi

Sanksi ini dapat berupa penetapan pembatasan perjanjian, pemberhentian integrasi vertikal, perintah
kepada pelaku usaha untuk menghentikan posisi dominan, penetapan pembatalan atas penggabungan,
peleburan, dan pengambilalihan badan usaha, penetapan pembayaran ganti rugi, penetapan denda
serendah-rendahnya satu milyar rupiah atau setinggi-tingginya 25 milyar rupiah.

Sanksi pidana pokok dan tambahan

Sanksi ini dimungkinkan bila pelaku usaha melanggar integrasi vertikal, perjanjian dengan pihak luar
negeri, melakukan monopoli, monopsoni, penguasaan pasar, posisi dominan, pemilikan saham,
penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan dikenakan denda minimal 25 milyar rupiah dan
setinggi-tingginya seratus milyar rupiah, sedangkan untuk pelanggaran mengenai penetapan harga,
perjanjian tertutup, penguasaan pasar dan persekongkolan, jabatan rangkap dikenakan denda minimal
lima milyar rupiah dan maksimal 25 milyar rupiah.

Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran berat dikenakan pidana tambahan sesuai dengan Pasal 10
KUH Pidana berupa:

Pencabutan izin usaha


Larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini
untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris minimal dua tahun dan maksimal lima tahun

Penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain.

PERLINDUNGAN KONSUMEN

ABSTRAKSI

Konsumen adalah individu yang menggunakan suatu barang/jasa yang tersedia dalam masyarakat.
Karena konsumen adalah pengguna barang dan jasa maka perlu adanya hukum perlindungan konsumen
yang dapat menjamin kepastian hukumnya. Sebagai konsumen kita juga harus tahu alasan mengapa
konsumen harus dilindungi,hak-hak konsumen,kewajiban konsumen. Konsumen juga berkaitan erat
dengan para pelaku usaha, diman para pelaku usaha juga mempunyai hak serta kewajiban dalam
memenuhi kebutuhan konsumennya. Pelaku usaha juga harus mempunyai rasa tanggung jawab terhadap
para konsumnenya.

PENDAHULUAN

Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi
perlindungan kepada konsumen. Denga adanya perlindungan konsumen, konsumen akan merasa lebih
aman jika ingin melakukan suatu hal yang berhubunga dalam membeli dan menggunakan barang atau
jasa. Apabila konsumen merasa dirugikan oleh pelaku usaha maka pera pelaku usaha akan mendapat
sanksi seperti yang terlansir dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999. Adanya sanski yang di berikan
kepada pelaku usaha maka pelaku usaha akan lebih memperhatikan barang yang akan di jual kepada
para konsumen.

PEMBAHASAN

1. Pengertian Konsumen

Menurut Undang-undang no. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen :


Pasal 1 butir 2 : “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan
tidak untuk diperdagangkan”.

Menurut Hornby : “Konsumen (consumer) adalah seseorang yang membeli barang atau
menggunakan jasa; seseorang atau suatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan
jasa tertentu; sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang; setiap
orang yang menggunakan barang atau jasa”.

2. Pengertian Perlindungan Konsumen

Menurut Undang-undang no. 8 Tahun 1999, pasal 1 butir 1 : “Segala upaya yang menjamin
adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen”.
Menurut GBHN 1993 melalui Tap MPR Nomor II/MPR/1993, Bab IV, huruf F butir 4a: “ …
pembangunan perdagangan ditujukan untuk memperlancar arus barang dan jasa dalam rangka
menunjang peningkatan produksi dan daya saing, meningkatkan pendapatan produsen, melindungi
kepentingan konsumen…”

3. Hukum Perlindungan Konsumen

“ Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur dan melindungi konsumen dalam
hubungan dan maslahnya dengan para penyedia barang dan/ jasa konsumen”

Jadi, kesimpulan dari pengertian-pengertian diatas adalah Bahwa Hukum Perlindungan


Konsumen dibutuhkan apabila kondisi para pihak yang mengadakan hubungan hukum atau yang
bermasalah dalam keadaan yang tidak seimbang.

4. Tujuan Perlindungan Konsumen

Sesuai dengan pasal 3 Undang-undang no. 8 tahun 1999 Perlindungan Konsumen, tujuan dari
Perlindungan ini adalah :

Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri

Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif
pemakaian barang dan/atau jasa

Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-


haknya sebagai konsumen

Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan
keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi

Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan ini sehingga tumbuh
sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha

Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi
barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen

5. Azas Perlindungan Konsumen

Adapun azas perlindungan konsumen antara lain :

Asas Manfaat

Mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan ini harus memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan

Asas Keadilan

Partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada
konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil

Asas Keseimbangan

Memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti
materiil ataupun spiritual

Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen


Memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn penggunaan,
pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan

Asas Kepastian Hukum

Baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.

6. Hak-hak Konsumen

Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen, Hak-hak Konsumen adalah :

Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa

Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut

Hak atas informasi yang benar

Hak untuk didengar pendapat dan keluhan atas baran dan/jasa yang digunakan

Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan
konsumen secara patut

Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen

Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif

Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang
diterima tidak sesuai

Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya

7. Kewajiban Konsumen

Tidak hanya bicara hak, Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen juga memuat kewajiban
konsumen, antara lain :

Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang
dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan

Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa

Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati

Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

8. Hak Pelaku Usaha

Seperti halnya konsumen, pelaku usaha juga memiliki hak dan kewajiban. Hak pelaku usaha
sebagaimana diatur dalam Pasal 6 Undang-undang perlindungan konsumen adalah:

Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai
tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan

Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik
Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa
konsumen

Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen
tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan

Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

9. Kewajiban Pelaku Usaha

Sedangkan kewajiban pelaku usaha menurut ketentuan Pasal 7 Undang-undang perlindungan konsumen
adalah:

Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya

Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan

Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif

Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan
ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku

Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa
tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan

Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan,
pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan

Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang
dterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

10. Perbuatan yang Dilarang bagi Pelaku Usaha

Adapun perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha yaitu :

Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa yang:

tidak sesuai standar yang disyaratkan

tidak sesuai dengan persyaratan dalam label

tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa

tidak mengikuti ketentuan produksi yang semestinya

tidak memasnga label, barang yang dijual rusak/cacat

Dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan barang dan/atau jasa :

Secara tidak benar seperti barang tersebut tidak memenuhi standar mutu tereentu

Secara tidak benar seperti barang tersebut tidak memiliki sponsor, persetujuan dan ciri-ciri tertentu

Langsung/tidak langsung merendahkan barang tersebut

Menawarkan janji yang belum pasti

Dengan menjanjikan hadiah secara cuma-Cuma


Dalam menawarkan barang dan/atau jasa untuk diperdagangkan dilarang
mempromosikan,mengiklankan atau membuat pernyataan tidak benar atau menyesatkan mengenai :

Harga/tarifdan potongan harga atau hadiah menarik yang ditawarkan

Kondisi, tanggungan, jaminan, hak/ganti rugi atas barang dan/atau jasa

Kegunaan dan bahaya penggunaan barang dan/aatau jasa

Dalam menawarkan barang dan/atau jasa untuk diperdagangkan dengan memberikan hadiah
dengan cara undian dilarang :

Tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu dijanjikan.

Mengumumkan hasilnya tidak melalui media massa.

Memberikan hadiah tidak sesuai janji dan/atau menggantikannya dengan hadiah yang tidak setara
dengan nilai hadiah yang dijanjikan

Dalam menawarkan barang dan/atau jasa, dilarang melakukan cara pemaksaan atau cara lain
yang dapat menimbulkan gangguan kepada konsumen baik secara fisik maupun psikis.

Dalam hal penjualan melalui obral atau lelang, dilarang menyesatkan dan mengelabui konsumen
dengan :

Menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah-olah memenuhi standar mutu tertentu dan tidak
mengandung cacat tersembunyi

Tidak berniat menjual barang yang ditawarkan,melainkan untuk menjual barang lain

Tidak menyediaakan barang dan/atau jasa dalam jumlah tertentu/cukup dengan maksud menjual
barang lain

Menaikkan harga sebelum melakukan obral

11. Tanggung Jawab Pelaku Usaha

Di dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen terdapat 3 (tiga) pasal
yang menggambarkan sistem tanggung jawab produk dalam hukum perlindungan konsumen di
Indonesia, yaitu ketentuan Pasal 19 Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
merumuskan tanggung jawab produsen sebagai berikut:

Pelaku Usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/ atau
kerugian konsumen akibat mengkomsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan

Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau
penggantian barang dan/ atau jasa yang sejenis atau secara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/ atau
pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi

Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghapuskan
kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure
kesalahan. (50 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku
usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.”

12. Sanksi-sanksi Pelaku Usaha


Sanksi Bagi Pelaku Usaha Menurut Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen :

Sanski Perdata

Ganti rugi dalam bentuk :

Pengembalian uang

Penggantian barang

Perawatan kesehatan

Pemberian santunan

Sanski Pidana

Kurungan :

Penjara, 5 tahun, atau denda Rp. 2.000.000.000 (dua milyar rupiah) (Pasal 8, 9, 10, 13 ayat (2), 15,
17 ayat (1) huruf a, b, c, dan e dan Pasal 18

Penjara, 2 tahun, atau denda Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah) (Pasal 11, 12, 13 ayat (1), 14,
16 dan 17 ayat (1) huruf d dan f

Ketentuan pidana lain (di luar Undang-undang No. 8 Tahun. 1999 tentang Perlindungan Konsumen)
jika konsumen luka berat, sakit berat, cacat tetap atau kematian

Hukuman tambahan , antara lain :

Pengumuman keputusan Hakim

Pencabuttan izin usaha

Dilarang memperdagangkan barang dan jasa

Wajib menarik dari peredaran barang dan jasa

Hasil Pengawasan disebarluaskan kepada masyarakat

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlindungan konsumen adalah segala upaya yang
menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Yang di atur
dalam UU Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia. Hak dan
kewajiban konsumen serta pelaku usaha juga telah di atur di dalam Undang-Undang. Pelaku yang
melakukan kesalahan akan mendapatkan sanksi pidana atau sanski perdata.

Pernahkah terbanyang dalam pikiran kita jika barang-barang yang kita kosumsi dapat membayangkan
kesehatan baik fisik maupun mental? Pernahkah kita berfikir bagaimana jika makanan yang kita beli
mengandung racun? Bagaimana jika obat pelansing yang kita minum adalah obat yang berbahaya? Atau
rumah yang kita huni tiba-tiba roboh? Atau kendaraan umum yang biasa kita gunakan tiba-tiba sopirnya
mabuk, ugal-ugalan dan lalu menabrak serta menewaskan banyak orang?

Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai saudara kita atau tetangga kita yang
keracunan makanan. Dari layar TV maupun berita media massa kita juga sering menyaksikan anggota
masyarakat mendapat masalah dari barang yang dikosumsinya. Satu contoh dalam istilah kesehatan kita
mengenal “mall praktek”. Dan masih banyak lagi contoh di masyarakat tentang konsumen yang
dirugikan oleh peredaran barang dan jasa? Jika itu menimpa kita, apa yang akan kita lakukan?

Negara berkewajiban melindungi masyarakat (baca : konsumen) dari peredaran barang dan jasa yang
merugikan kesehatan dan bahkan mengancam jiwa. Upaya perlindungan konsumen dilakukan oleh
Negara seiring dengan globalisasi ekonomi yang saat ini membawa kita masuk dalam keterbukaan pasar
nasional maupun internasional. Sistem perdagangan kini tidak lagi mengenal pasar yang dahulu kita
kenal yakni suatu tempat bertemunya pedagang dan pembeli. Kini kita mengenal pasar yang dapat
menembus ruang batas dan waktu yakni pasar online.

Di satu sisi untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, Pemerintah Indonesia harus menjamin
suasana kondusif bagi tumbuh kembang dunia usaha namun di sisi lain Pemerintah juga harus berdiri
tegak dalam memberikan jaminan perlindungan kepada konsumen. Pada ranah ini, kita patut
mengapresiasi upaya Pemerintah dalam melakukan upaya perlindungan konsumen dengan terbitnya
UU No 8 Tahun 1999. Political will Pemerintah tersebut juga terlihat dengan adanya political action
dari setiap upaya yang dilakukan oleh Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). BPKN seperti
kita ketahui dibentuk berdasarkan amanat UU No 8 tahun 1999 tersebut.

Berdasarkan data BPKN, pada tahun 2010 tercatat 197 pengaduan yang didominasi masalah keluhan
masyarakat terhadap layanan per-bankan. Pada tahun 2011 jumlah pengaduan meningkat menjadi 240
aduan. Pada tahun 2012, tercatat ada 352 aduandan pada tahun 2013 (sampai bulan Mei) terdapat 126
aduan.

Jika melihat jumlah aduan tersebut, tentu masih belum sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia
yang pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 250 juta jiwa. Nah, bagi kita warga Negara yang juga
secara otomatis merupakan konsumen Indonesia jika menghadapi keluhan atau masalah terhadap
barang/jasa yang kita kosumsi maka segera laporkan. Caranya mudah, Pemerintah kini telah
menyediakan layanan call center 153. Layanan ini dibuka mulai pukul 09.00-22.00.